Anda di halaman 1dari 6

2.

Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index)


Terdapat tiga nilai menuju kehidupan yang lebih baik atau lebih manusiawi, yakni
kecukupan, harga diri, dan kebebasan yang merupakan tujuan pokok dan harus digapai oleh
setiap orang dan masyarakat melalui pembangunan. Program Pembangunan PBB (UNDP)
telah berusaha menyusun alat pengukuran holistis atas tingkat kehidupan manusia yang
disebut Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Indeks ini dapat dipergunakan untuk
menganalisis status pembangunan sosial ekonomi secara sistematis dan komprehensif baik
untuk negara maju maupun negara berkembang. IPM mencoba memeringkat semua negara
berdasarkan tiga tujuan atau produk akhir dari pembangunan yakni masa hidup (longevity),
yang diukur dengan usia harapan hidup, pengetahuan, yang diukur dengan kemampuan baca
tulis orang dewasa secara tertimbang, serta standar kehidupan yang diukur dengan pendapatan
riil per kapita, disesuaikan dengan paritas harga beli dari mata uang setiap negara untuk
mencerminkan biaya hidup dan untuk memenuhi asumsi utilitas marjinal yang semakin
menurun dari pendapatan. Pengukuran IPM /HDI telah mengalami beberapa perubahan sejak
pertama kali dicetuskan. Yang terpenting adalah indeks tersebut telah disederhanakan
sehingga sekarang IPM/HDI dihitung secara lebih langsung. Untuk mencerminkan indeks
pendapatan, kurangkan log natural 100 dari pendapatan saat ini , karena diyakini pendapatan
per kapita yang paing rendah adalah PPP $100. Untuk mendapatkan perspektif dari kemajuan
ini, dihubungkan dengan jumlah maksimum pendapatan yang dapat dicapai negara untuk
generasi berikut. UNDP mematok angka PPP $40.000. Dalam kasus Armenia yang
mempunyai pendapatan per kapita $2215 maka

Indeks Pendapatan = {log2215-log100}/{log40.000-log100}=0,517

Karena Indeks pendapatan berada pada pertengahan titik maksimum dan minimum maka
kasus Armenia pada th 1999 terdapat efek utilitas marjinal yang semakin menurun.

Untuk mencari Indeks Usia harapan hidup didapatkan dari usia harapan hidup negara
tersebut dikurangi 25 th. Kemudian UNDP membagi hasilnya dengan 85 dikurangi 25 atau 60
yang mencerminkan usia harapan hidup yang diharapkan. Contoh armenia pada th 1999
mempunyai usia harapan hidup 72,7. Maka

Indeks Usia Harapan Hidup = (72,7-25)/(85-25)= 0,795

Indeks Pendidikan terbag atas 2 bagian dimana bobot dua per tiga untuk baca tulis dan
sepertiga untuk masa bersekolah. Indeks ini dibatasi 100 % . di armenia kemampuan baca tulis
orang dewasa diperkirakan 98,3 % dan 79,9 % penduduk armenia diperkirakan bersekolah,
maka

Indeks kemampuan baca tulis orang dewasa = {98,3-0}/{100-0}=0,983


Indeks masa bersekolah bruto = {79,9-0}/{100-0}= 0,799

Indeks Pendidikan = 2/3(0.983) + 1/3(0,799) = 0.922

Maka IPM Armenia= 1/3 ( 0,517) + 1/3 (0,975) + 1/3 ( 0,922) = 0,745

IPM memeringkatkan semua negara menjadi 3 kelompok

- Tingkat pembangunan manusia yang rendah (0,0 hingga 0,499)


- Tingkat pembangunan manusia menengah ( 0,50 hingga 0,799)
- Tingkat pembangunan manusia tinggi ( 0,80 hingga 1)

Indeks Pembangunan Manusia Untuk 10 Provinsi dan Indonesia, 1999-2005

Provinsi Angka Harapan hidup Angka Melek Huruf Rata2 lama sekolah

‘99 ‘02 ‘04 ‘05 ‘99 ‘02 ‘04 ‘05 ‘99 ‘02 ‘04 ‘05

DKI Jakarta 1 72.3 72.4 72.5 8 98.2 98.3 98.3 9 10.4 10.4 10.6

DI Yogyakarta 9 72.4 72.6 72.9 5 85.9 85.8 88.7 7.9 8.1 8.2 8.4

Kaltim 69 69.4 69.7 70.3 6 95.2 95.0 95.3 7.8 8.5 8.5 8.7

Riau 8 68.1 69.8 70.7 7 96.5 96.4 97.8 7.3 8.3 8.2 8.4

Maluku 4 65.5 66.2 66.2 8 96.3 97.8 98.0 7.6 8.0 8.4 8.5

Sulut 5 70.9 71.0 71.7 2 98.8 99.1 99.3 7.6 8.6 8.6 8.8

Kalteng 2 69.4 69.8 70.7 8 96.4 96.2 97.5 7.1 7.6 7.8 7.9

Sumut 3 67.3 68.2 68.7 9 96.1 96.6 97.0 8.0 8.4 8.4 8.5

Sumbar 5 66.1 67.6 68.2 7 95.1 95.7 96.0 7.4 8.0 7.9 8.0

Bali 6 70.0 70.2 70.4 8 84.2 85.5 86.2 6.8 7.6 7.3 7.4

Indonesia 66.2 66.2 67.6 68.1 88.4 89.5 85.5 86.2 6.7 7.1 7.2 7.3

2.2 Strategi Pembangunan Ekonomi Indonesia


Dalam mempelajari perekonomian suatu Negara, salah satu konsep yang penting untuk
diperhatikan yaitu mengetahui strategi pembangunan ekonomi. menurut Suroso ( 1993 )
strategi pembangunan ekonomi diberi batasan sebagai suatu tindakan pemilihan atas faktor-
faktor yang akan dijadikan faktor utama yang menjadi penentu jalannya proses pertumbuhan.
adapun beberapa strategi pembangunan ekonomi yaitu :

1. Strategi pertumbuhan
Adapun inti dari konsep strategi yang pertama ini adalah :
 Strategi pembangunan ekonomi suatu negara akan terpusat pada upaya pembentukan
modal, serta bagaimana menanamkannya secara seimbang, menyebar, terarah dan
memusat, sehingga dapat menimbulkan efek pertumbuhan ekonomi.
 Selanjutnya bahwa pertumbuhan ekonomi akan dinikmati oleh golongan lemah melalui
proses merambat ke bawah (trickle–down effect ) pendistribusian kembali.
 Jika terjadi ketimpangan atau ketidakmerataan hal tersebut merupakan syarat terciptanya
pertumbuhan ekonomi.
 Kritik paling keras dari strategi yang pertama ini adalah bahwa pada kenyataan yang
terjadi adalah ketimpangan yang semakin tajam.

2. Strategi dengan Pemerataan Pembangunan


Inti dari konsep strategi ini adalah dengan ditekankannya peningkatan pembangunan
melalui teknik sosial, seperti halnya melalui penyusunan perencanaan induk, dan paket
program terpadu.

3. Strategi Ketergantungan
Tidak sempurnanya konsep strategi pertama dan kedua mendorong para ahli ekonomi
mencari alternatif lain sehingga pada tahun 1965 muncul strategi pembangunan dengan
nama strategi ketergantungan. Inti dari konsep strategi tergantungan adalah :
 Kemiskinan di negara – negara berkembang lebih disebabkan karena adanya
ketergantungan negara tersebut dari pihak / negara lainnya. oleh karena itu jika suatu
Negara ingin terbebas dari kemiskinan dan keterbelakangan ekonomi, Negara tersebut
harus mengarahkan upaya pembangunan ekonominya pada usaha melepaskan diri dari
ketergantungan dari pihak lain. langkah yang dapat ditempuh diantaranya adalah :
meningkatkan produksi nasional yang disertai dengan peningkatan kemampuan dalam
bidang produksi, lebih mencintaiproduk nasional, dan sejenisnya.
 Teori ketergantungan ini kemudian dikritik oleh Kothari dengan mengatakan “…….
Teori ketergantungan tersebut memang cukup relevanm namun sayangnya telah mnjadi
semacam dalih terhadap kenyataan dari kurangnya usaha untuk membangun masyarakat
sendiri (Self Development). sebab selalu akan gampang sekali bagai kita untuk
menumpahkan semua kesalahan pada pihak luar yang memeras, sementara pemerasan
yang terjadi di dalam lingkungan masyarakat kita sendiri dibiarkan saja …….” (Kothari
dalam Ismid Hadad, 1980).

4. Strategi yang Berwawasan Ruang


Strategi ini dikemukakan oleh Myrdall dan Hirschman, yang mengemukakan sebab –
sebab kurang mampunya daerah miskin berkembang secepat daerah yang lebih kaya / maju.
Menurut mereka kurang mampunya daerah miskin berkembang secepat daerah maju
dikarenakan kemampuan / pengaruh menyetor dari kaya ke miskin (Spread Effects) lebih kecil
daripada terjadnya aliran sumber daya dari daerah miskin ke daerah kaya (Back-wash-effects).
Perbedaan pandangan kedua tokoh tersebut adalah, bahwa Myrdall tidak percaya bahwa
keseimbangan daerah kaya dan miskin akan tercapai, sedangkan Hirschman percaya,
sekalipun baru akan tercapai dalam jangka panjang.

5. Strategi Pendekatan Kebutuhan Pokok


Sasaran dari strategi ini adalah menanggulangi kemiskinan secara masal. Strategi ini
selanjutnya dikembangkan oleh Organisasi Perburuhan Sedunia (ILO) pada tahun 1975,
dengan menekankan bahwa kebutuhan pokok manusia tidak mungkin dapat dipenuhi jika
pendapatan masih rendah akibat kemiskinan yang bersumber pada pengangguran. Oleh karena
itu sebaiknya usaha-usaha diarahkan pada penciptaan lapangan kerja, peningkatan kebutuhan
pokok dan sejenisnya.

2.2.1 Strategi Pencapaian Tujuan Pembangunan Ekonomi Indonesia

Ada dua cara untuk mencapai tujuan pembangunan ekonomi Indonesia yakni :
1. Makmur dan Adil (Growth and Equity), dan
2. Makmur dengan Adil (Growth with Equity)

1. Masyarakat Makmur dan Adil


Cara untuk mengukur masyarakat adil makmur adalah dengan cara terpisah antara
masyarakat makmur dan mayarakat adil. Dalam cara ini, semula dikejar kemakmuran (tingkat
pendapatan nasional secara maksimum), setelah kuenasionalnya besar baru dikejar keadilan
(diadakan pembagian pendapatan nasional yang lebih adil, tidak terlalu timpang. Cara ini
adalah cara yang biasa diterapkan di Negara maju. Pertumbuhan pendapatan nasional dikejar
agar terjadi penggunaan sumber produksi yang efisien, kemudian melalui berbagai
kebijaksanaan fiskal dikejar pemerataan. Tujuan pemerataan ini diusahakan melalui sistem
pajak yang progresif disertai dengan sistem kesejahteraan social yang masif untuk penduduk
yang kurang beruntung dalam proses pembangunan ekonomi. Sistem kesejahteraan sosialnya
terlihat dari pos pengeluaran dalam anggaran belanja negaranya, sangat memihak pada kaum
miskin seperti misalnya untuk pendidikan, kesehatan, bantuan untuk orang tua, dll. Karena
kebijaksanaan sosial yang masif ini kebanyakan Negara yang sebelumnya dikenal sebagai
Negara kapitalis, kemudian dikenal sebagai Negara kesejahteraan seperti Inggris, Negara-
negara Eropa Barat, Kanada, Amerika Serikat, dll. Cara pencapaian tujuan seperti ini biasanya
dianggap berhasil untuk Negara-negara maju karena sistem pajaknya diberlakukan secara
tegas, dan demikian juga sistem bantuan sosialnya. Sistem yang terpisah ini dianggap tidak
cocok untuk Negara berkembang. Pencapaian tujuan pembangunan di Negara maju biasanya
ditandai dengan tingkat pertumbuhan yang sedang ( sekitar 3 – 5 persen per tahun ) dengan
tingkat ketimpangan yang kecil.

2. Masyarakat Makmur dengan Adil

Cara pencapaian ini dikenal dengan istilah tujuan makmur dengan adil (growth with equity
objectives). Dasar logika dari pendekatan ini adalah bahwa pembangunan ekonomi terdiri dari
serangkaian proyek pembangunan. Dalam mengimplementasikan setiap proyek mestinya tidak
hanya mengutamakan pertumbuhan ekonomi, melainkan sekaligus mempertimbangkan
pembagian keuntungan dari proyek tersebut. Pendekatan ini disponsori oleh lembaga-lembaga
internasional seperti The World Bank, Organisasi Pembangunan Industri PBB, Organisasi
Negara-negara Maju, dll.
Cara pencapaian yang kedua ini telah banyak diperdebatkan di Indonesia pada tahun 1976.
Banyak menteri kabinet waktu itu lebih menghendaki cara pencapaian yang pertama
(pertumbuhan dan pemerataan). Namun, barang kali sebagian disebabkan oleh tekanan luar
negeri, terutama Bank Dunia, pendekatan kedua terpaksa disetujui dan diterapkan mulai pada
Pelita III melalui delapan jalur pemerataan. Sejak Pelita III (1979) tujuan pemerataan
ditempatkan diatas tujuan pertumbuhan. Demikianlah tujuan pembangunan diimplementasikan
pada waktu itu, namun tampaknya tidak begitu lama setelah itu sampai sekarang, tidak lagi
terdengar istilah delapan jalur pemerataan tersebut. Disamping itu, juga tidak jelas bagaimana
ukuran keberhasilan tujuan pembangunan itu diperoleh, apakah dibiarkan begitu saja terpisah
antara tingkat pertumbuhan ekonomi dengan tingkat ketimpangan pembagian pendapatan.
Setelah tahun 1979 tingkat pertumbuhan pendapatan nasional tidak secara nyata berbeda dari
periode sebelumnya. Demikian juga halnya dengan tingkat ketimpangan distribusi pendapatan
nasional.

2.2.2 Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Pemilihan Strategi Pembangunan Ekonomi


Faktor-faktor yang mempengaruhi strategi pembangunan adalah berdasarkan tujuan
yang hendak di capai. Jika yang ingin dicapai adalah tingkat pertumbuhan yang tinggi, maka
faktor yang mempengaruhi digunakannya strategi tersebut adalah tingkat pertumbuhan
ekonomi yang rendah, akumulasi kapital yang rendah, tingkat pendapatan pada kapital yang
rendah, serta masalah ekonomi yang berat ke sektor tradisional yang kurang berkembang.
Faktor – faktor yang mempengaruhi diberlakukannya strategi pembangunan yang
berorientasu pada penghapusan kemiskinan pada dasarnya dilandasi oleh keinginan
berdasarkan norma tertentu, bahwa kemiskinan harus secepat mungkin diatasi. Sementara itu,
strategi-strategi pembangunan lain ternyata sangan sulit mempengaruhi/memberikan manfaat
secara langsung kepada golongan miskin ini. Secara garis besar faktor yang mempengaruhi
strategi pembangunan ekonomi Indonesia ini dikelompokkan menjadi 2 (dua) yaitu:
1. Faktor-faktor Ekonomi, meliputi sumber daya alam, sumber daya manusia, modal,
kewirausahaan dan teknologi (faktor produksi)
2. Faktor Non-Ekonomi, seperti stabilitas ekonomi dan keamanan negara, pelayanan
birokrasi yang memihak masyarakat, etos kerja dan kondisi sosial masyarakat.