Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam metabolisme sekunder yang terjadi pada tumbuhan akan


menghasilkan beberapa senyawa yang tidak digunakan sebagai cadangan energi
melainkan untuk menunjang kelangsungan hidupnya seperti untuk pertahanan dari
predaptor. Beberapa senyawa seperti alkaloid, triterpen dan golongan fenol
merupakan senyawa-senyawa yang dihasilkan dari metabolisme skunder.
Golongan fenol dicirikan oleh adanya cincin aromatik dengan satu atau dua gugus
hidroksil. Kelompok fenol terdiri dari ribuan senyawa, meliputi flavonoid,
fenilpropanoid, asam fenolat, antosianin, pigmen kuinon, melanin, lignin, dan
tanin, yang tersebar luas di berbagai jenis tumbuhan.

Tanin merupakan senyawa fenolik yang mengandung protein. Tanin terdiri


atas bermacam-macam kelompok oligomer dan polimer. Oleh karena itu ada
beberapa kesimpangsiuran tentang terminologi yang digunakan untuk
mengidentifikasi ataupun mengelompokkan senyawa tanin. Salah satu definisi
yang paling baik yang diberikan oleh Horvath (1981), Tanin adalah suatu senyawa
fenolik dengan berat molekul cukup tinggi yang mengandung hidroksil dan
kelompok lain yang cocok (seperti karboksil) untuk membentuk komplek yang
efektif dengan protein dan makro molekul yang lain dibawah kondisi lingkungan
tertentu yang dipelajari. Tanin merupakan bentuk kompleks dari protein, pati,
selulosa dan mineral. Tanin mempunyai struktur dengan formula empiris
C72H52O46.

Tanin terdapat luas dalam tumbuhan berpembuluh, dalam angiospermae


terdapat khusus dalam jaringan kayu. Secara kimia terdapat dua jenis utama tanin,
yaitu tanin terkondensasi dan tanin terhidrolisis. Tanin terkondensasi atau flavolan
secara biosintesis dapat dianggap terbentuk dengan cara kondensasi katekin
tunggal (galokatekin) yang membentuk senyawa dimer dan kemudian oligomer
yang lebih tinggi. Ikatan karbon-karbon menghubungkan satu flavon dengan

Makalah Farmasi Tumbuhan Obat 1


satuan berikutnya melalui ikatan 4-6 atau 6-8. Kebanyakan flavolan mempunyai
2-20 satuan flavon.

Tanin memiliki peranan biologis yang kompleks. Hal ini dikarenakan sifat
tannin yang sangat kompleks mulai dai pengendap protein hingga pengkhelat
logam. Maka dari itu efek yang disebabkan tanin tidak dapat diprediksi. Tanin
juga dapat berfungsi sebagai antioksidan biologis.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka dapat dirumuskan


masalah sebagai berkut.

1. Apa yang dimaksud dengan senyawa tanin?


2. Bagaimana klasifikasi dari senyawa tanin?
3. Apa saja manfaat dari senyawa tanin?
4. Apa saja contoh tanaman yang mengandung tanin?
5. Bagaimana proses biosintesis senyawa tanin?
6. Uji aktivitas yang dapat dilakukan pada senyawa tanin?
7. Bagaimana proses isolasi senyawa tanin?

C. Tujuan

Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah diatas, maka tujuan


penulisan makalah ini adalah:

1. Mengetahui pengertian senyawa tanin.


2. Mengetahui klasifikasi dari senyawa tanin.
3. Mengetahui manfaat dari senyawa tanin.
4. Mengetahui contoh tanaman yang mengandung tanin.
5. Mengetahui proses biosintesis senyawa tanin
6. Mengetahui uji aktivitas yang dapat dilakukan pada senyawa tanin.
7. Mengetahui proses isolasi senyawa tanin.

Makalah Farmasi Tumbuhan Obat 2


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Senyawa Tanin

Tanin merupakan komponen zat organik derivat polimer glikosida yang


terdapat dalam bermacam-macam tumbuhan, terutama tumbuhan berkeping dua
(dikotil). Monomer tannin adalah digallic acid dan D-glukosa. Ekstrak tanin
terdiri dari campuran senyawa polifenol yang sangat kompleks dan biasanya
tergabung dengan karbohidrat rendah. Oleh karena adanya gugus fenol, maka
tannin akan dapat berkondensasi dengan formaldehida. Tanin terkondensasi
sangat reaktif terhadap formaldehida dan mampu membentuk produk kondensasi,
berguna untuk bahan perekat termosetting yang tahan air dan panas. Tanin
diharapkan mampu mensubsitusi gugus fenol dari resin fenol formaldehid guna
mengurangi pemakaian fenol sebagai sumberdaya alam tak terbarukan. Tanin
merupakan metabolit sekunder tanaman yang bersifat astrigen dengan rasa khas
yang sepat.
Tanin secara ilmiah didefinisikan sebagai senyawa polipenol yang
mempunyai berat molekul tinggi dan mempunyai gugus hidroksil dan gugus
lainnya (seperti karboksil) sehingga dapat membentuk kompleks dengan protein
dan makromolekul lainnya di bawah kondisi lingkungan tertentu.
Tanin merupakan substansi yang tersebar luas dalam tanaman , seperti
daun, buah yang belum matang , batang dan kulit kayu. Pada buah yang belum
matang ,tanin digunakan sebagai energi dalam proses metabolisme dalam bentuk
oksidasi tannin. Tanin yang dikatakan sebagai sumber asam pada buah.
Berikut adalah gambar struktur tanin

Makalah Farmasi Tumbuhan Obat 3


 Sifat-sifat Tanin :
1. Dalam air membentuk larutan koloidal yang bereaksi asam dan sepat.
2. Mengendapkan larutan gelatin dan larutan alkaloid.
3. Tidak dapat mengkristal.
4. Larutan alkali mampu mengoksidasi oksigen.
5. Mengendapkan protein dari larutannya dan bersenyawa dengan protein
tersebut sehingga tidak dipengaruhi oleh enzim protiolitik.
 Sifat kimia Tanin :
1. Merupakan senyawa kompleks dalam bentuk campuran polifenol yang
sukar dipisahkan sehingga sukar mengkristal.
2. Tanin dapat diidentifikasikan dengan kromotografi.
3. Senyawa fenol dari tanin mempunyai aksi adstrigensia, antiseptic dan
pemberi warna.
 Identifikasi Tanin dapat dilakukan dengan cara :
1. Diberikan larutan FeCl3 berwarna biru tua / hitam kehijauan.
2. Ditambahkan Kalium Ferrisianida + amoniak berwarna coklat.
3. Diendapkan dengan garam Cu, Pb, Sn, dan larutan Kalium Bikromat
berwarna coklat.
 Kegunaan Tanin :
1. Sebagai pelindung pada tumbuhan pada saat masa pertumbuhan bagian
tertentu pada tanaman, misalnya buah yang belum matang, pada saat
matang taninnya hilang.
2. Sebagai anti hama bagi tanaman sehingga mencegah serangga dan
fungi.
3. Digunakan dalam proses metabolisme pada bagian tertentu tanaman.
4. Efek terapinya sebagai adstrigensia pada jaringan hidup misalnya pada
gastrointestinal dan pada kulit.
5. Efek terapi yang lain sebagai anti septic pada jaringan luka, misalnya
luka bakar, dengan cara mengendapkan protein.
6. Sebagai pengawet dan penyamak kulit.
7. Reagensia di Laboratorium untuk deteksi gelatin, protein dan alkaloid.

Makalah Farmasi Tumbuhan Obat 4


8. Sebagai antidotum (keracunan alkaloid) dengan cara mengeluarkan
asam tamak yang tidak larut.

Hidrolisa Tanin : Tanin apabila dihidrolisa akan menghasilkan fenol polihidroksi


yang sederhana. Hidrolisa :
1. Asam Gallat terurai pirogalol
2. Asam Protokatekuat Katekol
3. Asam Ellag dan Tenol-fenol lain.
(Asam Ellag dapat disamak kulit bentuk bunga)

B. Klasifikasi Senyawa Tanin

Senyawa tanin termasuk kedalam senyawa poli fenol yang artinya


senyawa yang memiliki bagian berupa fenolik. Senyawa tanin dibagi menjadi dua
yaitu tanin yang terhidrolisis dan tanin yang terkondensasi.

1. Tanin Terhidrolisis (hydrolysable tannins)

Tanin ini biasanya berikatan dengan karbohidrat dengan membentuk


jembatan oksigen, maka dari itu tanin ini dapat dihidrolisis dengan menggunakan

Makalah Farmasi Tumbuhan Obat 5


asam sulfat atau asam klorida. Salah satu contoh jenis tanin ini adalah gallotanin
yang merupakan senyawa gabungan dari karbohidrat dengan asam galat. Selain
membentuk gallotanin, dua asam galat akan membentuk tanin terhidrolisis yang
bisa disebut Ellagitanins. Berat molekul galitanin 1000-1500,sedangkan Berat
molekul Ellaggitanin 1000-3000. Ellagitanin sederhana disebut juga ester asam
hexahydroxydiphenic (HHDP). Senyawa ini dapat terpecah menjadi asam galic
jika dilarutkan dalam air. Asam elagat merupakan hasil sekunder yang terbentuk
pada hidrolisis beberapa tanin yang sesungguhnya merupakan ester asam
heksaoksidifenat.

2. Tanin terkondensasi (condensed tannins).

Tanin jenis ini biasanya tidak dapat dihidrolisis, tetapi dapat terkondensasi
meghasilkan asam klorida. Tanin jenis ini kebanyakan terdiri dari polimer
flavonoid yang merupakan senyawa fenol. Oleh karena adanya gugus fenol, maka
tannin akan dapat berkondensasi dengan formaldehida. Tanin terkondensasi
sangat reaktif terhadap formaldehida dan mampu membentuk produk kondensasi
Tanin terkondensasi merupakan senyawa tidak berwarna yang terdapat pada
seluruh dunia tumbuhan tetapi terutama pada tumbuhan berkayu. Tanin
terkondensasi telah banyak ditemukan dalam tumbuhan paku-pakuan. Nama lain
dari tanin ini adalah Proanthocyanidin. Proanthocyanidin merupakan polimer dari
flavonoid yang dihubungan dengan melalui C8 dengan C4. Salah satu contohnya
adalah Sorghum procyanidin, senyawa ini merupakan trimer yang tersusun dari
epiccatechin dan catechin.

Makalah Farmasi Tumbuhan Obat 6


Secara umum tannin terbagi atas tannin (proanthocyanidins) hidrolisis dan
tannin kondensasi. Tannin hidrolisis diprekursor oleh asam dehydroshikimic
sedangkan tannin kondensasi disintesis dari prekursor flavonoid. Tingginya
kandungan tannin dari kalus yang dihasilkan secara in vitro dapat dipahami
karena produksi metabolit sekunder pada kalus in vitro dipengaruhi oleh berbagai
faktor di antaranya komposisi media yang digunakan dan zat pengatur tumbuh
yang diaplikasikan.
Tanin terhidrolisis terdiri atas dua kelas, yang paling sederhana ialah
depsida galoiglukosa. Pada senyawa ini, inti yang berupa glukosa dikelilingi oleh
lima atau lebih gugus ester galoil. Pada jenis yang kedua, inti molekul berupa
senyawa dimer asam galat yaitu asam heksahidroksidifenat, yang berikatan
dengan glukosa. Bila dihidrolisis, elagitanin ini menghasilkan asam elagat.

C. Manfaat Senyawa Tanin

Tanin diketahui dapat digunakan sebagai antivirus, antibakteri, dan


antitumor. Tanin tertentu dapat menghambat selektivitas replikasi HIV dan juga
digunakan sebagai diuretik (Heslem, 1989). Tanaman yang mengandung tanin
telah diakui memiliki efek farmakologi dan dikenal agar membuat pohon-pohon
dan semak-semak sulit untuk dihinggapi/dimakan oleh banyak ulat
(Heslem,1989).
Tanin merupakan senyawa aktif metabolit sekunder yang
diketahui mempunyai beberapa khasiat yaitu sebagai astringen, anti diare, anti
bakteri dan antioksidan (Desmiaty et al., 2008). Tanin memiliki peranan

Makalah Farmasi Tumbuhan Obat 7


biologis yang kompleks mulai dari pengendap protein hingga
pengkhelat logam. Tanin juga dapat berfungsi sebagai antioksidan biologis
(Hagerman, 2002). Antioksidan dalam pengertian kimia, merupakan senyawa
pemberi elektron. Antioksidan bekerja dengan cara mendonorkan satu
elektronnya kepada senyawa yang bersifat oksidan sehingga aktivitas
senyawa oksidan tersebut bisa terhambat. Antioksidan menstabilkan
radikal bebas dengan melengkapi kekurangan elektron yang dimiliki radikal
bebas, dan menghambat terjadinya reaksi berantai dari pembentukan radikal
bebas (Winarsi, 2007). Salah satu metode yang digunakan untuk uji aktivitas
antioksidan adalah metode 1,1-difenil-2-pikrilhidrazil (DPPH). Interaksi
antioksidan dengan DPPH baik secara transfer elektron atau radikal
hidrogen pada DPPH, akan menetralkan karakter radikal bebas dari DPPH dan
membentuk DPPH tereduksi. Jika semua elektron pada radikal bebas
DPPH menjadi berpasangan, maka warna larutan berubah dari ungu tua
menjadi kuning terang dan absorbansi pada panjang gelombang 517 nm
akan hilang (Rohman et al., 2010).
Di dalam tumbuhan letak tanin terpisah dari protein dan enzim sitoplasma,
tetapi bila jaringan rusak, misalnya bila hewan memakannya, maka reaksi
penyamakan dapat terjadi. Reaksi ini menyebabkan protein lebih sukar dicapai
oleh cairan pencernaan hewan. Pada kenyataanya, sebagian besar tumbuhan yang
banyak bertanin dihindari oleh hewan pemakan tumbuhan karena rasanya yang
sepat. Kita menganggap salah satu fungsi utama tanin dalam tumbuhan ialah
sebagai penolak hewan pemakan tumbuhan. Fungsi tanin pada tanaman biasanya
sebagai senjata pertahanan untuk menghindari terjadinya over grazing oleh hewan
ruminansia dan menghindari diri dari serangga, sebagai penyamak kulit,bahan
untuk pembuatan tinta (+ garam besi(III) → senyawa berwarna tua),sebagai
reagen untuk deteksi gelatin, protein, alkaloid (karena sifat mengendap),
sebagaiantidotum keracunan alkaloid (membentuk tannat yang mengendap),
sebagaiantiinflamasi saluran pencernaan bagian atas,obat diare karena inflamasi
saluran gastro intestinal, dan sebagai obattopikal (lesi terbuka, luka, hemoroid).
Tanin terutama dimanfaatkan orang untuk menyamak kulit agar awet dan
mudah digunakan. Tanin juga digunakan untuk menyamak (mengubar) jala, tali,

Makalah Farmasi Tumbuhan Obat 8


dan layar agar lebih tahan terhadap air laut. Selain itu tanin dimanfaatkan sebagai
bahan pewarna, perekat, dan mordan.
Tanin yang terkandung dalam minuman seperti teh, kopi, anggur, dan bir
memberikan aroma dan rasa sedap yang khas. Bahan kunyahan seperti gambir
(salah satu campuran makan sirih) memanfaatkan tanin yang terkandung di
dalamnya untuk memberikan rasa kelat ketika makan sirih. Sifat pengelat atau
pengerut (astringensia) itu sendiri menjadikan banyak tumbuhan yang
mengandung tanin dijadikan sebagai bahan obat-obatan. Tanin yang terkandung
dalam teh memiliki korelasi yang positif antara kadar tanin pada teh dengan
aktivitas antibakterinya terhadap penyakit diare yang disebabkan oleh
Enteropathogenic Esclierichia coli (EPEC) pada bayi. Hasil penelitian Yulia
(2006) menunjukkan bahwa daun teh segar yang belum mengalami pengolahan
lebih berpotensi sebagai senyawa antibakteri, karena seiring dengan pengolahan
menjadi teh hitam, aktivitas senyawa-senyawa yang berpotensi sebagai antibakteri
pada daun teh menjadi berkurang.
Senyawa tanin juga bersifat sebagai astringent, yaitu melapisi mukosa usus,
khususnya usus besar dan menciutkan selaput lendir usus, misalnya asam samak.
Serta sebagai penyerap racun (antidotum) dan dapat menggumpalkan protein.
Oleh karena itu, senyawa tanin dapat digunakan sebagai obat diare.

D. Contoh Tanaman yang Mengandung Tanin

Sebagian besar masyarakat memanfaatkan alpukat pada buahnya


saja sedangkan bagian lain seperti biji kurang dimanfaatkan. Biji alpukat
memiliki efek hipoglikemik dan dapat digunakan untuk pengobatan
secara tradisional dengan cara dikeringkan kemudian dihaluskan,
dan air seduhannya dapat diminum. Biji alpukat dipercaya dapat mengobati
sakit gigi, maag kronis, hipertensi dan diabetes melitus (Monica, 2006).
Beberapa penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa biji alpukat
memiliki kandungan berbagai senyawa berkhasiat, salah satunya adalah efek
antidiabetes melalui kemampuannya menurunkan kadar glukosa darah
(Zuhrotun,2007). Hasil Skrining fitokimia yang dilakukan oleh Zuhrotun
(2007) terhadap simplisia dan ekstrak etanol biji alpukat menunjukkan

Makalah Farmasi Tumbuhan Obat 9


bahwa biji alpukat mengandung polifenol, flavonoid, triterpenoid, kuinon,
saponin, tanin dan monoterpenoid dan seskuiterpenoid.

Jenis tanaman yang mengandung tanin antara lain adalah daun sidaguri
(Sida rhombifolia L.) yang diketahui mengandung tanin cukup tinggi dan telah
digunakan sebagai pestisida nabati pembunuh ulat (larvasidal) (Kusuma et al.,
2009; Islam et al., 2003). Daun melinjo (Gnetum gnemon L.) juga mengandung
tanin. Daun gamal (Gliricidia sepium Jacq.) dan lamtoro (Leucaena leucocephala
Lamk.) mempunyai kandungan tanin 8-10% (Suharti, 2005; Sulastri, 2009). Biji
pinang (Areca catechu L.) dan simplisia gambir (Uncaria gambir Roxb.) telah
dikenal luas sebagai penghasil tanin dengan kandungan tanin masing-masing
sebesar 26,6% dan 30-40% (Pambayun, 2007; Hadad et al., 2007).

Pegagan (Centella asiatica) atau antanan (Sunda), daun kaki kuda (Melayu),
gagan-gagan, rendeng (Jawa), taidah (Bali) sandanan (Papua) broken copper coin,
buabok (Inggris), paardevoet (Belanda), gotu kola (India), ji xue cao (Hanzi) juga
diduga memiliki kandungan senyawa tanin beserta asiaticoside, thankuniside,
isothankuniside, madecassoside, brahmoside, brahmic acid, brahminoside,
madasiatic acid, meso-inositol, centelloside, carotenoids, hydrocotylin, vellarine,
serta garam mineral seperti kalium, natrium, magnesium, kalsium dan besi. Zat
vellarine dan tanin yang ada dapat memberikan rasa pahit.

Tanaman sirih merah (Piper crocatum) termasuk dalam famili Piperaceae,


tumbuh merambat dengan bentuk daun menyerupai hati dan bertangkai, yang
tumbuh berselang-seling dari batangnya serta penampakan daun yang berwarna
merah keperakan dan mengkilap. Dalam daun sirih merah terkandung senyawa
fitokimia yakni alkoloid, saponin, tanin dan flavonoid.

Buah, daun, dan kulit batang pohon jambu biji (Psidium guajava)
mengandung tanin, sedang pada bunganya tidak banyak mengandung tanin. Daun
jambu biji juga mengandung zat lain kecuali tanin, seperti minyak atsiri, asam
ursolat, asam psidiolat, asam kratogolat, asam oleanolat, asam guajaverin dan
vitamin (IPTEKnet, 15 Januari, 2007).

Makalah Farmasi Tumbuhan Obat 10


Daun dewa (Gynura divaricata) mengandung zat saponin, minyak atsiri,
flavonoid, dan tanin. Efek farmakologis daun dewa adalah antikoagulan (koagulan
= zat yang mempermudah dan mempercepat pembekuan darah), mencairkan
bekuan darah,
stimulasi sirkulasi, menghentikan perdarahan, menghilangkan panas, dan
membersihkan racun.

Ciplukan (Physalis minina) temasuk ke dalam famili tumbuhan Solanaceae.


Nama lain dari ciplukan antara lain adalah morel berry (Inggris), ceplukan
(Jawa), cecendet (Sunda), yoryoran (Madura), lapinonat (Seram), angket, kepok-
kepokan, keceplokan (Bali), dedes (Sasak), leletokan (Minahasa). Tumbuhan ini
mempunyai kandungan kimia berupa chlorogenik acid, asam citrun, fisalin,
flavonoid, saponin, polifenol. Buah mengandung asam malat, alkaloid, tanin,
kriptoxantin, vitamin C dan gula. Biji mengandung elaidic acid. Sifat tumbuhan
ini analgetik (penghilang rasa sakit), peluruh air seni (diuretik), menetralkan
racun, meredakan batuk, mengaktifkan fungsi kelenjar-kelenjar tubuh dan anti
tumor.

E. Biosintesis Tanin

Biosintesa dari Tanin secara umum :

Biosintesa asam galat dengan precursor senyawa fenol propanoid

Makalah Farmasi Tumbuhan Obat 11


Contoh :

- Asam gallat merupakan hasil hidrolisa tannin

- Dari jalur asam siklimat melalui asam 5-D-hidroksisiklimat

- Dengan precursor senyawa fenol propanoid. (Rhus thypina)

- Katekin dibentuk dari 3 molekul as. Asetat , as. Sinamat & as. Katekin

1) Tannin-terkondensasi atau flavolan secara biosintesis dapat dianggap


terbentuk dengan cara kondensasi katekin tunggal (atau galotanin) yang
membentuk senyawa dimer dan kemudian oligomer yang lebih tinggi. Ikatan
karbon-karbon menghubungkan satu satuan flavon dengan satuan berikutnya
melalui ikatan 4-8 atau 6-8. Kebanyakan flavolan memiliki 2 sampai 20
satuan flavon. Nama lain untuktanin-terkondensasi adalah proantosianidin
karena bila direaksikan dengan asam panas, beberapa ikatan karbon-karbon
penghubung satuan terputus dan dibebaskanlah monomer antosianidin.
Kebanyakan proantosianidin adalah prosianidin, ini berarti bila direaksikan
dengan asam akan menghasilkan sianidin.
2) Tannin-terhidrolisiskan terutama terdiri atas dua kelas, yang paling sederhana
adalah depsida galoilglukosa. Pada senyawa ini, inti yang berupa glukosa
dikelilingi oleh lima gugus ester galoil atau lebih. Pada jenis kedua, inti
molekul berupa senyawa dimer asam galat, yaitu asam heksahidroksidifenat,
disini pun berikatan dengan glukosa. Bila dihidrolisis elagitanin ini
menghasilkan asam elagat. Tannin terhidolisiskan ini pada pemanasan dengan
asam klorida atau asam sulfat menghasilkan gallic atau ellagic. Hydrolyzable
tanin yang terhidrolisis oleh asam lemah atau basa lemah untuk menghasilkan
karbohidrat dan asam fenolat. Contoh gallotannins adalah ester asam gallic
glukosa dalam asam tannic (C76H52O46), ditemukan dalam daun dan kulit
berbagai jenis tumbuhan.

Makalah Farmasi Tumbuhan Obat 12


F. Uji Aktivitas Senyawa Tanin

Uji Aktivitas Antioksidan

Uji aktivitas antioksidan dari ekstrak etanol biji alpukat diukur dengan
metode Gaulejac et al. dalam Kiay et al. (2011). Sebanyak 0,5 mL ekstrak
200 mg/L biji alpukat ditambahkan dengan 2 mL larutan DPPH dan
divortex selama 2 menit. Tingkat berkurangnya warna dari larutan
menunjukkan efisiensi penangkap radikal. Absorbansi dibaca dengan
spektrofotometer pada λ 517 nm setelah diinkubasi selama 30 menit.
Aktivitas penangkap radikal bebas dihitung sebagai persentase
berkurangnya warna DPPH dengan menggunakan persamaan: Aktivitas
penangkap radikal bebas % (Liberty, dkk., 2010)

G. Isolasi Senyawa Tanin

Belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.) merupakan salah satu jenis tanaman
yang seringdigunakan sebagai obat tradisional. Tanaman inibanyak dimanfaatkan
mengatasi berbagaipenyakit seperti batuk, diabetes, rematik,gondongan, sariawan,
sakit gigi, gusi berdarah,jerawat, diare sampai tekanan darah tinggi.
Ekstrak daun belimbing wuluh mengandung flavonoid, saponin, triterpenoid
dantanin (Faharani, 2009; Hayati, et al., 2010).Bahan aktif pada daun belimbing
wuluh yang dapat dimanfaatkan sebagai obat adalah tanin. Tanin merupakan suatu
senyawa fenol yang memiliki berat molekul besar yang terdiri dari gugus hidroksi
dan beberapa gugus yang bersangkutan seperti karboksil untuk membentuk
kompleks kuat yang efektif dengan protein dan beberapa makromolekul (Horvart,
1981). Tanin terdiri dari dua jenis yaitu tanin terkondensasi dan tanin terhidrolisis.
Kedua jenis tanin ini terdapat dalam tumbuhan, tetapi yang paling dominan
terdapat dalam tanaman adalah tanin terkondensasi. Kadar tanin yang tinggi pada
daun belimbing wuluh muda sebesar 10,92% (Ummah, 2010).
Secara kualitatif pengujian fitokimia senyawa tanin terhadap esktrak aseton-
air (7:3) daun belimbing wuluh dengan reagen FeCl3, gelatindan campuran

Makalah Farmasi Tumbuhan Obat 13


formalin: HCl menunjukan adanya golongan senyawa tanin. Ekstrak tanin pada
daun belimbing wuluh mempunyai aktivitas antibakteri terhadap bakteri
Escherichia coli, Staphylococcus aureus, (Hayati, et al., 2009), Pseudomonas
fluorescens, dan Micrococcus luteus (Hayati, et al., 2010). Adanya potensi aktif
terhadap beberapabakteri dapat dimanfaatkan sebagai obat diaredan pengawet
alami.
Tanin dapat diisolasi dari daunbelimbing wuluh menggunakan
metodemaserasi, sedangkan salah satu cara untuk memisahkan senyawa tanin
adalah dengan kromatografi lapis tipis preparatif. Bahan utama yang digunakan
adalahdaun belimbing wuluh, dipilih daun muda yangsegar dan diambil diujung
ranting dari daerah Malang. Bahan-bahan kimia yang digunakanberderajat pa
meliputi: aseton, akuades, asamaskorbat 10 mM, kloroform, etil asetat,
gelatin,formaldehid 3 %, natrium asetat, HCl pekat,FeCl3 1 %, FeCl3 5 %, toluen,
ferri sulfat, asamasetat glasial, asam asetat, n-butanol, metanol,NaOH 2 M, AlCl3
5 %, AlCl3 1 %, H3BO3, peletKBr, plat KLT silika G60 F254 (Elok, dkk., 2010).
Alat penelitian yang digunakan padapenelitian ini meliputi seperangkat alat
gelas,vacum rotary evaporator, bejana pengembang,lampu UV 254 dan 366 nm,
seperangkat alat UV-Vis merk Shimadzu, seperangkat alat FTIRmerk IR Buck
M500 Scientific (Elok, dkk., 2010).
Daun belimbing wuluh yang mudadicuci bersih dengan air dan diiris kecil-
kecilkemudian dikeringkan di dalam oven pada suhu30-37 ºC selama 5 jam dan
diblender sampaidiperoleh serbuk. Hasil yang diperolehdigunakan sebagai sampel
penelitian.Serbuk daun belimbing wuluh ditimbangsebanyak 50 gram kemudian
direndam dengan400 mL pelarut aseton: air (7:3) denganpenambahan 3 mL asam
askorbat 10 mM (Elok, dkk., 2010).
Ekstrak tanin dipekatkan dengan menggunakanvakum rotary evaporator dan
pemanasan di ataswaterbath pada suhu 40-50°C. Cairan hasilekstrak kemudian
diekstraksi dengan kloroform(4x25 mL) menggunakan corong pisah
sehinggaterbentuk 2 lapisan. Lapisan kloroform (bawah)dipisahkan dan lapisan
air 1 (atas) diekstraksidengan etil asetat (1x25 mL) dan terbentuk 2lapisan.
Lapisan etil asetat 1 (atas) dipisahkandan lapisan air 2 (bawah) dipekatkan
denganvacum rotary evaporator (Makkar, 1998).

Makalah Farmasi Tumbuhan Obat 14


Pada pemisahan dengan KLT analitikdigunakan plat silika G 60 F254 yang
sudahdiaktifkan dengan pemanasan dalam oven pada suhu 100oC selama 10
menit. Masing-masingplat dengan ukuran 1 cm x 10 cm. Ekstrak taninditotolkan
pada jarak 1 cm dari tepi bawah platdengan pipa kapiler kemudian dikeringkan
dandielusi dengan fase gerak toluen: etil asetat (3:1)dengan pendeteksi ferri sulfat
(Yuliani, 2008),forestal (asam asetat glasial : H2O : HCl pekat)(30:10:3) (Nuraini,
2002), etil asetat : metanol :asam asetat (6:14:1) dengan pendeteksialuminium
klorida 5% (Olivina, 2005), n-butanol: asam asetat : air (4:1:5), metanol : etil
asetat(4:1) dengan pendeteksi AlCl3 1% (Lidyawati,2006), etil asetat : kloroform :
asam asetat 10%(15:5:2). Setelah gerakan larutan pengembangsampai pada garis
batas, elusi dihentikan. Nodayang terbentuk masing-masing diukur harga Rfnya,
selanjutnya dengan memperhatikan bentuknoda pada berbagai larutan
pengembangditentukan perbandingan larutan pengembangyang paling baik untuk
keperluan preparatif (Elok, dkk., 2010).
Noda yang terbentuk diperiksa dengan lampuUV-Vis pada panjang
gelombang 254 nm dan366 nm.Pada pemisahan dengan KLT preparatifdigunakan
plat silika G 60 F254 dengan ukuran 10cm x 20 cm. Ekstrak pekat hasil
ekstraksidilarutkan dengan aseton-air, kemudianditotolkan sepanjang plat pada
jarak 1 cm darigaris bawah dan 1 cm dari garis tepi. Selanjutnyadielusi dengan
menggunakan eluen n-butanol :asam asetat : air (BAA) (4:1:5) yangmemberikan
pemisahan terbaik pada KLTanalitik. Setelah gerakan larutan pengembang sampai
pada garis batas, elusi dihentikan. Nodayang terbentuk masing-masing diukur
nilai Rfnya. Noda-noda diperiksa di bawah sinar UVpada panjang gelombang 254
nm dan 366 nm.Isolat-isolat yang diperoleh dari hasilKLT preparatif, dilarutkan
dengan aseton : airdan disentrifuge kemudian dianalisis denganspektrofotometer
UV-Vis merk Shimadzu.Masing-masing isolat sebanyak 2 mLdimasukkan dalam
kuvet dan diamatispektrumnya pada bilangan gelombang 200-800 nm (Elok, dkk.,
2010).
Identifikasi dilanjutkan dengan penambahan pereaksi geser NaOH 2 M,
AlCl3 5%, AlCl35%/HCl, NaOAc, NaOAc/H3BO3. Kemudiandiamati pergeseran
puncak serapannya. Tahapankerja penggunaan pereaksi geser adalah
sebagaiberikut:

Makalah Farmasi Tumbuhan Obat 15


a. Isolat yang dapat diamati pada panjanggelombang 200-800 nm, direkam dan
dicatatspektrum yang dihasilkan.
b. Isolat dari tahap 1 ditambah 3 tetes NaOH 2M kemudian dikocok hingga
homogen dandiamati spektrum yang dihasilkan. Sampeldidiamkan selama 5
menit dan diamatispectrum yang dihasilkan.
c. Isolat dari tahap 1 kemudian ditambah 6tetes pereaksi AlCl3 5 % dalam
metanolkemudian dicampur hingga homogen dandiamati spektrumnya.
Sampel ditambahdenga 3 tetes HCl kemudian dicampurhingga homogen dan
diamati spektrumnya.
d. Isolat dari tahap 1 ditambah serbuk natriumasetat kurang lebih 250 mg.
Campurandikocok sampai homogen menggunakanfortex dan diamati lagi
spektrumnya.Selanjutnya larutan ini ditambah asam boratkurang lebih 150
mg dikocok sampaihomogen dan diamati spektrumnya (Elok, dkk., 2010).
Isolat hasil KLT preparatif yang didugasenyawa tanin diidentifikasi
denganmenggunakan spektrofotometer FTIR. 0,2 gpelet KBr ditambahkan dengan
satu tetes isolatyang diduga senyawa tanin, dikeringkankemudian diidentifikasi
dengan spektrofotometerFTIR merk IR Buck M500 Scientific denganpanjang
gelombang 4000-400 cm-1 (Elok, dkk., 2010).

Makalah Farmasi Tumbuhan Obat 16


BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari hasil pembahasan, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

1. Tanin secara ilmiah didefinisikan sebagai senyawa polipenol yang


mempunyai berat molekul tinggi dan mempunyai gugus hidroksil dan gugus
lainnya (seperti karboksil) sehingga dapat membentuk kompleks dengan
protein dan makromolekul lainnya di bawah kondisi lingkungan tertentu

2. Secara umum tannin terbagi atas tannin (proanthocyanidins) hidrolisis dan


tannin kondensasi.
3. Tanin merupakan senyawa aktif metabolit sekunder yang
diketahui mempunyai beberapa khasiat yaitu sebagai astringen, anti
diare, anti bakteri dan antioksidan.
4. Ada beberapa jenis tumbuh – tumbuhan atau tanaman yang dapat
menghasilkan tanin, antara lain : tanaman pinang, tanaman akasia, gabus,
bakau, pinus dan gambir, alpukat, dan belimbing wuluh.
5. Biosintesa asam galat dengan precursor senyawa fenol propanoid.

6. Uji Aktivitas antioksidan DPPH dengan menggunakan persamaan:


Aktivitas penangkap radikal bebas %

7. Tanin dapat diisolasi dari daunbelimbing wuluh menggunakan


metodemaserasi, sedangkan salah satu cara untuk memisahkan senyawa
tanin adalah dengan kromatografi lapis tipis preparatif

Makalah Farmasi Tumbuhan Obat 17


B. Saran

Demikian makalah ini kami buat, terima kasih atas partisipasi saudara
serta teman-teman, adapun kritik dan saran dari saudara serta teman-teman
sekalian kami ucapkan banyak terima kasih.

Makalah Farmasi Tumbuhan Obat 18


DAFTAR PUSTAKA

Argoforestry Systems, h. 59-68 Markham, R. K., 1988, Cara Mengidentifikasi


Asriyah Firdausi, Tri Agus Siswoyo, dan Soekandar Wiryadiputra (2013).
Identifikasi Tanaman Potensial Penghasil Tanin-Protein Kompleks untuk
Penghambatan Aktivitas α-Amilase Kaitannya Sebagai Pestisida Nabati.
Dari Imelda Fajriati (2006). Optimasi Metode Penetuan Tanin (Analisis
Tanin secara Spektrofotometri dengan Pereaksi Orto-Fenantrolin).
Carter, F. L., A. M. Carlo and J. B. Stanley. 1978. Termiticidal Components of
Wood Extracts : 7-Methyljuglone from Diospyros virginia. Journal
Agriculture Food Chemistry.
Departemen Kesehatan. 1997. Inventaris Tanaman Obat Indonesia Edisi IV.
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Jakarta.
Desmiaty, Y.; Ratih H.; Dewi M.A.; Agustin R. Penentuan Jumlah
Tanin Total pada Daun Jati Belanda (Guazuma ulmifolia Lamk)
dan Daun Sambang Darah (Excoecaria bicolor Hassk.) Secara
Kolorimetri dengan Pereaksi Biru Prusia. Ortocarpus. 2008. 8, 106-
109.
Edwin Haslam (1989). Plant Polyphenols: Vegetable Tannins Revisited. Dari
http://books.google.co.id/books?hl=id&id=Zyc9AAAAIAAJ&q=tannin#v
=snippet&q=tannin&f=false, 23 Mei 2015
Elok Kamilah Hayati, A. Ghanaim Fasyah, dan Lailis Sa’adah (2010).
Fraksinansi dan Identifikasi Senyawa Tanin pada Daun Belimbing Wuluh
(Averrhoa bilimbi L.). Jurnal Kimia. Vol 4 (2).
Faharani, G. B., 2009, Uji Aktifitas Antibakteri Daun Belimbing Wuluh
Terhadap Bakteri Streptococcus Aureus dan Achercia Coli
secara Bioautografi, FMIPA UI, Jakarta
Flavonoid, ITB, Bandung Nuraini, F., 2002, Isolasi Dan Identifikasi Tannin Dari
Daun Gamal (Gliricidia sepium (Jackquin) kunth ex walp.),
Skripsi, Jurusan Kimia Universitas Brawijaya, Malang
Hagerman, A. E. Tannin Handbook. Department of Chemistry and
Biochemistry, Miami University.2002.
Harborne, J. B., 1987, Metode Fitokimia Penuntun Cara Modern
Menganalisis Tumbuhan, ITB, Bandung
Harborne, J.B.1996.Metode Fitokimia.Edisi ke-2.ITB Bandung.Bandung.
Hayati E. K., Jannah A., dan Mukhlisoh W., 2010, Pengaruh Ekstrak
Tunggal dan Gabungan Daun Belimbing Wuluh (Averrhoa

Makalah Farmasi Tumbuhan Obat 19


bilimbi Linn) Terhadap Efektivitas Antibakteri Secara In Vitro,
Kimia, UIN Malang, Malang
Hayati, E. K., Jannah, A., dan Fasya, A. G., 2009, Aktivitas Antibakteri
Komponen Tanin Ekstrak Daun Blimbing Wuluh (Averrhoa Billimbi L)
Sebagai Pengawet Alami, Penelitian Kompetitif Depag. Malang,
UIN, Malang
Horvart,1981.Tannins: Definition. http://www.ansci.cornell.edu/plants/toxic
agents/tannin/definition.html Animal science webmaster, Cornert
University
Hudayani, Miftakhul. 2008. Efek antidiare ekstrak etanol rimpang kunyit
(Curcuma domestica val) Pada mencit jantan Galur swiss Webster.
Skripsi. Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Kiay, N.; Suryanto E.; Mamahit L. Efek Lama Perendaman Ekstrak
Kalamansi (Citrus microcarpa) terhadap Aktivitas
Antioksidan Tepung Pisang Goroho (Musa spp.). Chemistry Progress.
2011. 4, 27-33
Liberty P Malangngi, Meiske S. Sangi, dan Jessy J.E. Paendong. Penentuan
Kandungan Tanin dan Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Biji Buah
Alpukat (Persea americana Mill.). Jurnal MIPA UNSRAT. Vol 1(1). Hlm
5-10
Lidyawati, et al., 2006, Karakterisasi Simplisia dan Daun Belimbing Wuluh
(Averrhoa bilimbi L.). http://bahan-alam.fa.itb. ac.id., 24 Mei 2015
Makkar, H. P. S. dan Becker, K., 1998, Do Tannins In Leaves Of Trees And
Shrubs From African And Himalayan Regions Differ In Level
And Acactivity,
Monica, F. Pengaruh Pemberian Air Seduhan Serbuk Biji Alpukat (Persea
americana Mill) terhadap Kadar Glukosa Darah Tikus Wistar yang
diberi Beban Glukosa. Skripsi. Universitas Diponegoro,Semarang. Juli
2006.
Novitasari, Ayuningtyas. 2009. Pengaruh Penggunaan Amprotab® Sebagai
Bahan Penghancur Terhadap Sifat Fisik Tablet Ekstrak Daun Jambu Biji
(Psidium Guajava L.). Skripsi. Fakultas Farmasi Universitas
Muhammadiyah Surakarta.
O.O. AiyelaagbeandPaul M. Osamudiamen (2009). Phytochemical Screening for
Active Compounds in Mangifera indica Leaves. Dari
http://www.medwelljournals.com/fulltext/?doi=psres.2009.11.13, 24 Mei
2015

Makalah Farmasi Tumbuhan Obat 20


Olav Smidsrød, Størker Moe, & Størker T. Moe (2008). Biopolymer Chemistry.
Dari
http://books.google.co.id/books?id=qDWZiFcbS0EC&pg=PA117&dq=Ta
nnin,+Cellulose,+Lignin&hl=id&sa=X&ei=yqqEU6m3PMm2uATI9IDgB
A&ved=0CHUQ6AEwCQ#v=onepage&q=tannin&f=false, 24 Mei 2015
Olivina, P., et al., 2005, Telaah Fitokimia Dan Aktivitas Penghambatan Xantin
Oksi- dase Ekstrak Kulit Batang Salam (Syzygium polyanthum
(Weight) Walp.), Skripsi, Jurusan Farmasi, ITB, Bandung
Rohman, A.; Riyanto S.; Yuniarti N.; Saputra W.R.; Utami R.; Mulatsih W.
Antioxidant Activity, Total Phenolic and Total Flavaonoid of
Extracts and Fractions of Red Fruit (Padanus conoideus Lam).
International Food Research Journal. 2010. 17, 97-106.
Shahin Hassanpour, Naser MaheriSis, Behrad Eshratkhah, & Farhad Baghbani
Mehmandar (2011). Plants and Secondary Metabolites (Tannins): A Review.
Ummah Mk., Ekstraksi Dan Pengujian Aktivitas Antibakteri Senyawa Tanin
Pada Daun Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L.) (Kajian Variasi
Pelarut), Skripsi, Kimia UIN Malang, Malang
Utami, Indah Wahyuni. 2008. Efek Fraksi Air Ekstrak Etanol Daun Salam
(Syzygium Polyanthum Wight.) Terhadap Penurunan Kadar Asam Urat
Pada Mencit Putih (Mus Musculus) Jantan Galur Balb-C Yang Diinduksi
Dengan Kalium Oksonat. Skripsi. Fakultas Farmasi Universitas
Muhammadiyah Surakarta.
Winarsi, H. Antioksidan Alami dan Radikal Bebas. Kanisius, Yogyakarta.
2007.
Yuliani, 2008, Kadar Tanin Dan Querestin Tiga Tipe daun Jambu Biji
(Psidium Guajava), Balai Penelitian Tanaman Rempah Dan Obat,
http:www.balitro.go.id, 27 Maret 2009
Zuhrotun, A. Aktivitas Antidiabetes Ekstrak Etanol Biji Buah Alpukat (Persea
americana Mill.) Bentuk Bulat. Universitas Padjadjaran, Bandung.
(tidak dipublikasikan) Oktober 2007.

Makalah Farmasi Tumbuhan Obat 21