Anda di halaman 1dari 178

BUKU PANDUAN PRAKTEK

LINGKAR STUDI PEKANAN (LSP)


MATA KULIAH PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN

A. LATAR BELAKANG

Indonesia adalah negara besar. Negara kepulauan yang merentang luas dari Sabang di
Aceh sampai Maroke di Papua. Indonesia memiliki kekayaan alam melimpah, baik kekayaan
sumberdaya laut, pantai dan pesisir yang indah, lahan pertanian dan perkembunan yang
subur, hutan yang lebat, keaneka ragaman flora dan fauna, kekayaan sumberdaya mineral,
tambang, sumber energi minyak, gas, panas bumi, dan lain-lain.

Indonesia adalah negara besar dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia,
setelah Cina, India, dan Amerika Serikat. Indonesia memiliki beragam suku bangsa, bahasa,
budaya, adat istiadat, busana, makanan khas, dan berbagai keunggulan lokal lainnya.
Indonesia memiliki kekayaan warisan sejarah dan budaya yang mempesona, yang berakar
pada ajaran agama dan kepercayaan, seperti Hindu, Budha, Islam, dan Kristen. Sebagian
warisan itu tercatat sebagai salah satu keajaiban dunia, seperti Candi Borobudur.

Indonesia juga tercatat sebagai negara dengan penduduk mayoritas muslim terbesar di
dunia. Agama Islam dibawa ke Nusantara oleh para dai dengan karakteristik sufi, berprofesi
sebagai pedagang, dan ramah terhadap tradisi yang hidup dan berkembang di nusantara pra-
Islam. Islam diterima sebagai agama rakyat, tumbuh dan berkembang menjadi kekuatan
perlawanan terhadap kezaliman penjajah, dan kemudian menjadi elan vital pergerakan bangsa
menuju Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Islam menjadi sumber
inspirasi dalam merumuskan dasar negara Indonesia, mulai asas Ketuhanan YME, asas
kemanusiaan yang adil dan beradab, asas persatuan dalam kemajemukan, asas
musyawarah/perwakilan, dan asas keadilan sosial.

Warisan budaya, kekayaan alam dan ketersediaan sumberdaya manusia yang melimpah
tersebut di atas, mestinya menjadi modal pembangunan yang bisa diandalkan dalam
menciptakan kemakmuran. Namun, kenyataannya, populasi yang banyak dan tersebar di
berbagai daerah itu masih dirasakan sebagai beban negara. Di sisi lain, negara belum sanggup
menciptakan lapangan kerja yang memadai, sehingga angkatan kerja muda produktif kita
memilih mencari kerja di negara lain sebagai “tenaga kerja migran” dan menghabiskan
waktu, tenaga, pikiran, dan masa muda mereka untuk membangun ekonomi negera bangsa
lain.

Negara seharusnya menguasai dan mengelola industrsi strategis dan cabang produksi
yang menguasai hajat hidup orang banyak, seperti industri pertanian, energi, baja,
pertambangan, dan telekomunikasi, dengan mengandalkan kekuatan nasional. Kenyataannya,
dewasa ini, kekayaan sumber daya alam, terutama sektor pertambangan dan energi dikelola
dan dimobilisasi oleh perusahaan transnasional dengan mengandalkan modal asing. Negara
masih nyaman dengan mengharapkan royalti yang tidak sebanding dengan beban sosial dan
[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 1
kerusakan lingkungan yang terjadi. Akibatnya, kekayaan alam yang berlimpah berujung pada
bencana sosial dan bencana alam. Bencana sosial itu berupa “wabah diskoneksi” antara
pemerintah dengan rakyat, pemerintah pusat dengan daerah, dan menyebarnya kecurigaan
antara masyarakat pendatang dengan masyarakat tempatan yang menjelma dalam bentuk
“tawuran”. Sedangkan bencana alam merupakan konsekwensi logis dari orientasi
pembangunan yang hanya mengedepankan keuntungan (profit) dan mengabaikan prinsip
kesejahteraan sosial (people) dan kelesatarian bumi (planet).

Kemiskinan terjadi karena hilangnya rasa syukur dan rasa tanggung jawab dalam
pengelolaan sumber daya yang ada. Kemiskinan dan distribusi hasil pembangunan yang tidak
merata telah memicu aksi kekerasan dalam masyarakat, mulai kekerasan dalam rumah tangga
hingga lahirnya kerumunan massa yang marah. Mismanajemen negara dalam mengurus
sumber-sumber daya negara, mulai sumberdaya alam hingga anggaran belanja negara telah
memicu lahirnya beragam ideologi dan pemikiran yang ekstrim. Dalam bidang agama,
merentang pemikiran liberalisme hingga radikalisme agama. Dalam bidang sosial politik,
merentang pemikiran yang primordial, sekterian, hingga gerakan transnasional. Ragam
pemikiran, suku bangsa, dan budaya ini jika tidak dikelola dengan baik berpotensi
menimbulkan konflik dan menjadi ancaman bagi integrasi dan masa depan bangsa.

Persemaian ideologi dan pemikiran itu sasaran utamanya adalah angkatan muda,
khususnya mahasiswa. Mahasiswa yang dibesarkan dalam kultur akademis di lingkungan
kampus dibiasakan dengan alur pikir logis, kritis, dan radikal. Aspirasi yang telah
dirumuskan secara konseptual disertai argumentasi, dalil, dan bukti diperjuangkan dalam
kerangka aktivisme, yakni gerakan perubahan. Dalam pelaksanaan gerakan ini tidak jarang
terjadi benturan dan aksi kekerasan yang diduga kuat karena kebuntuan dialog dan kegagalan
mengartikulasikan ide, gagasan, pikiran, dan aspirasi dalam bahasa yang teratur dan runut.
Namun, juga patut dicurigai, bahwa aksi kekerasan itu memiliki akar pada ideologi dan
pemikiran yang justru mengajarkan kekerasan atau konflik sebagai jalan perjuangan.

Atas dasar itu, Perguruan Tinggi memiliki tanggungjawab moral untuk menyiapkan
kepemimpinan masa depan bangsa dengan mengembangan kesadaran politis dalam jalur
akademik disertai semangat intelektual: kritis dan aktivis; mengembangkan kesadaran
kemajemukan dan sikap toleransi untuk hidup bersama sebagai warga negara; dan
mengembangkan pemahaman keagamaan yang moderat di antara dua pemahaman ekstrim,
liberalisme dan radikalisme. Dalam hal ini, Matakuliah Pengembangan Kepribadian
(Pendidikan Agama, Pancasila, PKn, Studi Ke-Banten-an, Bahasa Indonesia dan Bahasa
Inggris) memiliki kedudukan dan peran strategis dalam mengembangkan karakter JAWARA
dalam rangka melancarkan reolusi mental bangsa Indonesia.

LANDASAN YURIDIS

Pembukaan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 alinea ke-4
(empat), yang menyatakan “Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintahan
Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah
Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan
ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan
[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 2
keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan bangsa Indonesia itu dalam suatu Undang-
Undang Dasar Negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik
Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada Ketuhanan Yang Maha Esa,
Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang dipimpin oleh
hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu
Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.

Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 pasal 31, yang
merumuskan ketentuan berikut:

(1) Setiap warganegara berhak mendapatkan pendidikan.

(2) Setiap warganegara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib
membiayainya.

(3) Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang
meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa yang diatur dalam undang-undang.

(4) Negara memperioritaskan anggaran pendidikan nasional sekuarng-kurangnya 20% dari


anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) dan anggaran pendapatan dan belanja
daerah (APBD) untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional.

(5) Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-
nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat
manusia.

Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 3


yang menyatakan bahwa “fungsi pendidikan nasional adalah mengembangkan kemampuan
dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi
manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,
berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta
bertanggung jawab.”

Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen, pada pasal 6
menyatakan bahwa “Kedudukan guru dan dosen sebagai tenaga profesional bertujuan untuk
melaksanakan sistem pendidikan nasional dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yaitu
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta
menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.”

Undang-undang Nomor 12 tahun 2012 tentang Perguruan Tinggi, pasal 5 poin (a)
bahwa “Pendidikan Tinggi bertujuan berkembangnya potensi Mahasiswa agar menjadi
manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,
berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis dan
bertanggung jawab.”

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 3


MAKSUD DAN TUJUAN

Secara umum, maksud dan tujuan penyelenggaraan Mentoring Mahasiswa mengacu


pada tujuan pendidikan nasional sebagaimana tertulis dalam UU No 20 Tahun 2003 Tentang
Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3, bahwa pendidikan nasional berfungsi
mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang
bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan nasional bertujuan
untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,
mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

• Berakhlak • Cakap (PQ)


mulia (SQ)

Beriman dan
bertakwa
Sehat (PQ)
kepada Tuhan
YME (SQ)

Mandiri (EQ) Berilmu (IQ)

• Bertanggung • Kreatif (IQ)


jawab (EQ)

Berdasarkan landasan yuridis ini, maksud penyelenggaraan mentoring mahasiswa


mengacu pada penanaman dan pengembangan nilai-nilai ilahiah (seperti Keimanan dan
Ketakwaan kepada Tuhan YME) dan nilai-nilai insaniah (seperti kemandirian, demokratis,
dan tanggungjawab). Nilai-nilai tersebut merupakan esensi dari ajaran agama, Pancasila, dan
nilai-nilai luhur budaya Indonesia.

Menempatkan nilai “demokratis” pada posisi sentral dalam gambar di atas, memberi
pesan bahwa secara teologis, tujuan pengembangan kepribadian mahasiswa adalah
meneguhkan identitas mahasiswa dalam taman sari kemajemukan Indonesia. Mahasiswa
menghargai perbedaan keyakinan dan agama; menghoramti perbedaan pemikaran dan
penampilan budaya; serta bersedia bekerjasama dalam mewujudkan cita-cita bersama, yakni
terwujudnya dunia yang tertib, aman, damai, adil, dan sejahtera. Secara sosiologis,
pengembangan kepribadian mahasiswa menjadikan keragaman suku bangsa, etnis, bahasa,
dan budaya nusantara sebagai.

kekuatan dalam menciptakan sinergi nasional mewujudkan Indonesia yang mandiri,


maju, dan berdaya saing dalam pergaulan dunia internasional.

Lingkar Studi Pekanan Matakuliah Pengembangan Kepribadian melatih kader


intelektual publik yang cerdas dalam memahami Al-Qur’an dan Hadits, menghayati Pancasila
dan UUD 1945 serta mengamalkan ilmu pengetahuan dalam mengelola sumberdaya alam
demi kemakmuran bangsa. Secara lebih khusus, tujuan LSP MPK adalah:

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 4


1. Mendidik mahasiswa taat beragama melalui kegemaran membaca Al-Qur’an, pengamalan
dan penghayatan nilai-nilai ibadah, khususnya sholat, puasa, zakat, infak, dan shodakoh
dalam kehidupan nyata.

2. Mengembangkan atmosfier akademik dalam kehidupan kampus melalui forum ilmiah dan
kelompok studi mahasiswa yang secara intensif mengkaji Al-Qur’an dan haidts, Pancasila
dan UUD 1945, serta warisan khazanah intelektual bangsa secara kritis konsturuktif.

3. Membantu peningkatan kreativitas mahasiswa dalam upaya pengembangan dan


penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) berwawasan moral sesuai
keminatan dan program studi yang ditekuni mahasiswa.

4. Melatih mahasiswa melakukan pengamalan ilmu dan pemberdayaan masyarakat melalui


gerakan transformatif di lingkungan kampus dan sekitarnya.

5. Mahasiswa mampu mengamalkan ilmu melalui kegiatan pengabdian masyarakat di


lingkungan kampus dan sekitarnya.

6. Menyiapkan mahasiswa sebagai kader pemimpin bangsa yang bertanggungjawab


terhadap kemaslahatan keluarga, masyarakat, bangsa, dan negaranya dalam pergaulan
global.berdasarkan Pancasila melalui proyek pemberdayaan masyarakat – berbasis
rumah ibadah.

MATERI LSP MPK

Mentoring mahasiswa dilakukan secara sistematis, bertahap dan berkelanjutan dalam


melatih, mengembangkan, dan membudayakan nilai-nilai Agama, moral Pancasila, dan
kearifan budaya Indonesia dalam kehidupan mahasiswa di Kampus dan dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Materi LSP yang disajikan meliputi ke-Islam-an,
ke-Indonesia-an, ke-Banten-an, dan kemanusiaan.

Materi utama ke-Islam-an LSP MPK adalah tahsin Al-Qur’an dan praktikum ibadah.
Mahasiswa dilatih membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar sesuai aturan tajwid.
Mahasiswa dilatih melaksanakan sholat sesuai kayfiyat yang diteladankan Rasulullah
Muhammad SAW. Mahasiswa dibiasakan untuk rajin sholat di Masjid dan membaca Al-
Qur’an sesudah sholat lima waktu, khususnya di waktu pagi dan petang. Mahasiswa peserta
LSP MPK menjadi agen dan berperan aktif dalam mengkampanyekan “Gerakan Indonesia
Berjamaah”.

Kematangan mahasiswa dalam pemahaman keagamaan dan keindonesiaan ini menjadi


modal berharga dalam melaksanakan program pelayanan sosial di masyarakat, di lingkungan
Kampus dan sekitarnya. Mahasiswa menjadi model pembudayaaan kesadaran IMTAK yang
moderat, toleran, dan ramah sosial. Mahasiswa belajar menerapkan rasa kebangsaan
berdasarkan Pancasila melalui proyek pemberdayaan masyarakat – berbasis rumah ibadah.

METODE DAN PENDEKATAN

Metode LSP MPK dilakukan sesuai dengan materi yang dikembangkan. Tahsin Al-
Qur’an dan praktek ibadah dilakukan dengan metode latihan dan praktikum. Sedangkan
pengembangan wawasan ke-Indonesia-an dilakukan melalui kuliah umum dan diskusi
kelompok.

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 5


Dalam pelaksanaannya, kuliah umum yang ditindaklanjut dengan kelompok diskusi
diselenggarakan setiap pekan, sehingga disebut “Lingkar Studi Pekanan”. Kelompok diskusi
dirancang untuk mendalami berbagai ide, gagasan, atau isu seputar Agama, Pancasila, dan
budayaIndonesia secara mendalam. Satu kelompok diskusi umumnya ber jumlah 10 anggota
mahasiswa semester I atau II dengan satu orang pementor dari mahasiswa aktivis semester
III, IV, V, VI, atau VII.

MANAJEMEN LSP MPK

Pelaksanaan mentoring mahasiswa melibatkan tiga komponen Kampus, yakni


kelompok dosen MPK, aktivis mahasiswa, dan Masjid Kampus. Secara institusional, LSP
MPK merupakan bagian dari implementasi kebijakan pendidikan karakter JAWARA yang
dikelola oleh LP3M UNTIRTA. Namun, dalam pelaksanaan operasional, LSP MPK
merupakan bagian integral dari dan merupakan praktikum bagi Matakuliah Pengembangan
Kepribadian.

Dalam menjamin efektivitas dan produktivitas LSP MPK berikut diuraikan manajemen
LSP, mulai manajemen kurikulum, manajemen peserta, sumberdaya manusia, hubungan
masyarakat, dan penjaminan mutu.

1. Manajemen Kurikulum dan Pembelajaran

Manajemen kurikulum diarahkan dengan tolok ukur pencapaian kompetensi mahasiswa


yang diharapkan. Kurikulum disusun dan diproduk oleh LP3M secara kontekstual dengan
kebutuhan dan tantang masa depan yang dicanangkan UNTIRTA. Tahapan pelaksanaan
manajemen kurikulum meliputi: perencanaan, pengorganisasian dan koordinasi, pelaksanaan,
dan pengendalian.

Pada tahap perencanaan kurikulum disusun silabus LSP. Silabus berisi pokok-pokok
materi dan sub pokok materi ajar; standar kompetensi dasar dan standar kompetensi;
pendekatan, metode, media, dan jam pelajaran efektif untuk setiap materi ajar, serta
perangkat evaluasi yang dilakukan untuk mengetahui derajat ketercapaian tujuan
pembelajaran. Silabus kemudian dijabarkan menjadi Rencana Mutu Pembelajaran.

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 6


No Materi Kompetensi Inti Kompetensi Metode Evaluasi Nilai

1 a. Tahsin Al-Qur’an KI 1: Sikap Spiritual a. - Mahasiswa mampu Latihan Tes lisan (Sertifikat Tahsin
level 1 dan 2 membaca Al-Qur’an secara dari Korpus MPK
Bertakwa kepada lancar sesuai aturan tajwid LP3M)
dengan makhrajul huruf yang
Allah SWT Tuhan Yang baik dan benar. (A=80-100, B=68-
Maha Esa 79, C=56-67,
- Mahasiswa bangga membawa D=45-55, E=0-45)
mushaf Al-Qur’an, terbiasa dan
aktif membumikan gerakan mengkampanyekan
mengaji Al-Qur’an. gerakan mengaji

b. Tadabbur al- b. Mahasiswa terbiasa tadabbur


Qur’an al-Qur’an
(Saritilawah al-
Qur’an)
c. Mahasiswa mendawamkan
c. Hataman al-Qur’an hafalan al-Qur’an satu ayat
dan artinya setiap hari
d. Gerakan Shalat
berjama’ah d. Mahasiswa aktif memakmurkan Nilai A
Pengama Praktek
Masjid dengan berbagai
kegiatan dakwah dan amal tan Datang ke Mesjid
shalih sebelum adzan
dalam keadaan
berwudlu

Nilai B.

Datang ke Masjid
sebelum Imam
Takbir pertama

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 7


Nilai C

Melaksanakan
shalat masbuq
Nilai D

Tidak Shalat
berjama’ah di
Masjid.

2 Praktikum Ibadah KI 4. Keterampilan Mahasiswa Menampilkan Tutorial Praktek (A=80-100, B=68-


keterampilan khusus dalam dan 79, C=56-67,
Mampu mengambil bidang keagamaan, seperti Demonstra D=45-55, E=0-45)
1) Praktek keputusan yang tepat si
tilawatil Qur’an, hifdzil Qur’an,
Wudlu berdasarkan penalaran syarhil Qur’an, praktek ibadah
rasional, analisis informasi dan/atau lainnya
2) Praktek
Shalat dan data, serta mampu
mengembangkan dan
3) Praktek memanfaatkan IPTEKS
Khutbah secara mandiri dan
kelompokbagi kepentingan
4) Praktek bangsa dan negara.
Penyeleng
garaan
Jenazah

Nilai A
Hafalan Ayat-ayat
Tahlil
Hafal Surat
1) Surat Yasin dan
Yasin/Al-
al-Mulk
Waqi’ah/Ar-
2) 6 ayat pertama
Rohman
surat al-

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 8


Baqarah, ayat Nilai B
Qursi dan 3
ayat terakhir Hafal surat Al-
Mulk dan 6 ayat
pertama, ayat
Qursi dan 3 ayat
terakhir surat al-
Baqarah

Hafalan Doa-Do’a Hafal do’a-do’a


Harian dan Shalat Harian dan Shalat
Sunnah Nawafil Sunnah Nawafil

3 1). Gerakan 5 S KI 2: Sikap Sosial 1). Mahasiswa Bertutur Pengamat Praktek Kesantunan
(Senyum, Salam, an
Sapa, Semangat Memiliki moral, etika dan dan berprilaku yang santun
dan Silaturrahim) kepribadian yang baik,
peduli, empati, suka
bekerjasama, toleran, dan
bertanggungjawab.

Saling mengenal,
2). Mahasiswa menjalin menghargai dan
2). Jambore LSP menjaga
ukhuwaah Islamiyah, kerukunan

Kepekaan sosial
3). Gerakan Infak 3). Mahasiswa gemar berinfak dan yang tinggi terhadap
dan Sodakoh bersedekah

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 9


lingkungan sekitar
4). Pengabdian
Masyarakat, bina
Masjid bangkit
4). Mahasiswa melakukan
pengabdian masyarakat, bina
masjid bangkit Laporan Akhir
Kegiatan Bina Masjid
Bangkit

4 1. Gerakan KI 3. Pengetahuan 1. Menganalisis relevansi Dinamika Presentasi Aktif &


Ta’lim konsep Islam tentang Kelompok bertanggungjawab
Menguasai teori dan masyarakat madani secara (bukti absensi
konsep dasar ajaran Islam empiris berdasarkan kehadiran dan
yang bersumber dari Al- perjalanan sejarah Nabi Resume Materi)
Qur’an dan hadits serta (sirah nabawiah) dan
perkembangan Islam pada
pemikiran intelektual
masa khulafaur rasyidin.
muslim secara mendalam,
serta mampu Demonstra
2. Pendidikan mengaplikasikan dan si Praktek (Sertifikat Diklat
dan memformulasikan Muballigh dari
Latihan penyelesaian masalah dan Korpus MPK LP3M)
Mubaligh kondisi yang dihadapi.
Tingkat 1
dan 2

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 10


[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 11
TAHSIN

Jurus Membaca
Tanda-Tanda Panjang (MAD)

JURUS 1
“Di aayun aajah”
Jurus di atas dipraktekkan ketika membaca tanda-tanda bacaan panjang (mad) 2 harakat.

Tanda Bacaan Panjang (Mad) 2 Harakat


Tanda-tanda bacaan panjang 2 harakat adalah apabila bertemu dengan tanda-tanda sebagai
berikut :

LATIHAN

Paraf Paraf Nilai


Pementor Mahasiswa

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 12


LATIHAN

Paraf Paraf Nilai


Pementor Mahasiswa

Catatan :
Tanda bacaan panjang 2 harakat boleh dibaca 4 dan 6 harakat apabila bertemu dengan huruf
yang disukunkan (dimatikan) dengan syarat membacanya harus konsisten.
Contoh :

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 13


JURUS 2
“Lamaaaa-in aajah”
atau
“Dilamaaaa-in aajah”

Jurus di atas dipraktekkan ketika membaca tanda-tanda bacaan (mad) 4 harakat.

Tanda Bacaan Panjang 4 Harakat


Tanda bacaan panjang (mad) 4 harakat adalah apabila ada tanda Alis bertemu dengan
Hamzah / Alif berharakat

Contoh :

LATIHAN

Paraf Paraf Nilai


Pementor Mahasiswa

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 14


JURUS 3
“Lamaaaaaak-kan aajah”
atau
“Dilamaaaaaak-kan aajah”

Jurus di atas dipraktekan ketika membaca tanda-tanda bacaan panjang (mad) 6 harakat

Tanda Bacaan Panjang 6 Harakat


Tanda bacaan panjang (mad) 6 harakat adalah apabila ada Tanda Alis bertemu dengan
tasydid atau sukun
Contoh :

Catatan :
Contoh tanda alis bertemu sukun dalam Al-Qur’an hanya ditemukan pada Q.S. (10)
Yunus : 51 dan 91
LATIHAN

Paraf Paraf Nilai


Pementor Mahasiswa

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 15


JURUS 4
“Abaikan (Dibuang) aajah”
atau
Diabaikan ajah”

Jurus di atas dipraktekkan ketika membaca tanda-tanda sebagai berikut :

LATIHAN

Paraf Paraf Nilai


Pementor Mahasiswa

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 16


Jurus Membaca Dengung (Gunnah)

JURUS 5
“Ditahann naa Lamm maa”
Lamm maa Ditahann naa”

Jurus di atas dipraktekkan ketika membaca dengung (ghunnah).


Contoh :

Tempat –Tempat Bacaan Dengung (Ghunnah)


Bacaan ghunnah dalam Al-Qur’an terdapat pada lima (5) tempat sebagai berikut :
1. Mim dan Nun ber-Tasydid
Contoh :

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 17


LATIHAN

Paraf Paraf Nilai


Pementor Mahasiswa

2. Wad dan Ya ber-Tasydid

Wad dan Ya bertasydid “ Di tahann-naa Lamm-maa” apabila didahului oleh Nun


Sakinah (mati) atau tanwin.

Contoh :

LATIHAN

Paraf Paraf Nilai


Pementor Mahasiswa

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 18


3. Mim Sakinah (mati) Bertemu Ba
Contoh :

LATIHAN

Paraf Paraf Nilai


Pementor Mahasiswa

LATIHAN

Paraf Paraf Nilai


Pementor Mahasiswa

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 19


4. Mim Kecil Bertemu Ba
Contoh :

LATIHAN

Paraf Paraf Nilai


Pementor Mahasiswa

5. Nun sakinah (mati) atau tanwin bertemu huruf ikhfa

Contoh :

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 20


LATIHAN

Paraf Paraf Nilai


Pementor Mahasiswa

<<

LATIHAN

Paraf Paraf Nilai


Pementor Mahasiswa

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 21


Jurus Membaca Huruf Mati (Sukun)

JURUS 6
“Pantulkan Aj-jah
atau
Dipantulkan Aj-jah”

Jurus di atas dipraktekkan ketika membaca huruf-huruf yang memiliki sifat pantulan
(qolqolah), yang sifat ini akan muncul ketika huruf tersebut dibaca dalam keadaan sukun atau
disukunkan.

Huruf qolqolah ada lima (5), yaitu huruf-huruf yang terkumpul dalam kalimat JADI BATUQ

Contoh :

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 22


[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 23
LATIHAN

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 24


LATIHAN

Paraf Paraf Nilai


Pementor Mahasiswa

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 25


‫‪Q.S. Al Buruj‬‬

‫ٱلر ِح ِيمِ‬
‫نِ َ‬ ‫ٱلر ۡح َٰم ِِ‬ ‫ِب ۡس ِِمِ َِ‬
‫ٱّللِِ َ‬
‫بِ‬ ‫ود ِ‪ِ ِ ٣‬قُتِل ِأصۡ َٰح ُ‬ ‫عو ِِد ِ‪ِ ِ ٢‬وشا ِه ٖد ِوم ۡش ُه ٖ‬ ‫وجِ ِ‪ِ ِ ١‬وِ ۡٱلي ۡو ِِم ِ ۡٱلم ۡو ُ‬ ‫ت ِ ۡٱلبُ ُر ِ‬ ‫سما ٓ ِِء ِذا ِ‬ ‫وٱل َ‬
‫تِ ۡٱلوقُو ِِدِ‪ِ٥‬إِ ِۡذِ ُه ۡمِعل ۡيهاِقُعُود‪ِِ٦ِ ٞ‬و ُه ۡمِعل َٰىِماِي ۡفعلُونِبِِ ۡٱل ُم ۡؤ ِمنِينِِ‬ ‫ارِذا ِ‬‫ۡٱۡل ُ ۡخدُو ِِدِ‪ِِ٤‬ٱلنَ ِِ‬
‫تِ‬‫س َٰم َٰو ِِ‬ ‫يز ِ ۡٱلح ِمي ِِد ِ‪ِ ٨‬ٱلَذِي ِل ِهۥُ ِ ُم ۡلكُ ِٱل َ‬ ‫ٱّللِ ِ ۡٱلع ِز ِِ‬
‫َّل ِأنِيُ ۡؤ ِمنُواْ ِبِِ َِ‬ ‫ِم ۡن ُه ۡم ِإِ َ ٓ‬
‫ش ُهود‪ِ ٧ِ ٞ‬وما ِنق ُمواْ ِ‬ ‫ُ‬
‫ت ِث ُ َم ِل ۡمِ‬ ‫ن ِٱلَذِينِ ِفتنُواْ ِ ۡٱل ُم ۡؤ ِمنِينِ ِوِ ۡٱل ُم ۡؤ ِم َٰن ِِ‬ ‫ٱّللُ ِعل َٰى ِ ُك ِل ِش ۡي ٖء ِش ِهيدٌ ِ‪ِ ٩‬إِ َِ‬ ‫ض ِوِ َِ‬ ‫وِ ۡٱۡل ۡر ِ ِ‬
‫تِ‬‫ص ِل َٰح ِِ‬‫ن ِٱلَذِينِ ِءامنُوِاْ ِوع ِملُواْ ِٱل َٰ َ‬ ‫ق ِ‪ِ ١٠‬إِ َِ‬ ‫اب ِ ۡٱلح ِري ِِ‬ ‫اب ِجهنَم ِول ُه ۡم ِعذ ُ‬ ‫يتُوبُواْ ِفل ُه ۡم ِعذ ُ‬
‫ن ِب ۡطش ِربِك ِلشدِيد ٌِ‪ِِ١٢‬‬ ‫ير ِ‪ِ ١١‬إِ َِ‬ ‫يِمنِت ۡحتِهاِ ۡٱۡل ۡن َٰه ُِر ِ َٰذ ِلك ِ ۡٱلف ۡو ُِز ِ ۡٱلكبِ ُِ‬ ‫ل ُه ۡم ِج َٰنَ ‪ٞ‬ت ِت ۡج ِر ِ‬
‫ال ِِلماِ‬ ‫ش ِ ۡٱلم ِجي ِدُ ِ‪ِِ ١٥‬فعَ ‪ٞ‬‬ ‫ور ِ ۡٱلود ُو ِدُ ِ‪ِ ١٤‬ذُو ِ ۡٱلع ۡر ِ ِ‬ ‫ئ ِويُ ِعيد ُِ‪ِِ ١٣‬و ُهو ِ ۡٱلغفُ ُِ‬ ‫إِنَ ِهۥُ ِ ُهو ِيُ ۡب ِد ُ‬
‫ِيبِ‬ ‫ِيثِ ۡٱل ُجنُو ِِدِ‪ِِ١٧‬فِ ۡرع ۡونِوث ُمودِ‪ِِ١٨‬ب ِلِٱلَذِينِِكف ُرواِْفِيِت ۡكذ ٖ‬ ‫لِأت َٰىكِحد ُ‬ ‫يُ ِريدُِ‪ِ١٦‬ه ِۡ‬
‫وظ ِ‪ِ٢٢‬‬ ‫ط ِ‪ِ ِ ٢٠‬ب ۡل ِ ُهو ِقُ ۡرء ‪ٞ‬ان ِ َم ِجيد‪ِ ِ ِ ٢١ِ ٞ‬في ِل ۡو ٖح ِ َم ۡحفُ ُۢ ِ‬ ‫ٱّللُ ِ ِمن ِورآ ِئ ِهم ِ ُّم ِحي ُۢ ُ‬ ‫‪ِ ١٩‬و َِ‬
‫[سورةِالبروج‪]٢٢-١,‬‬
‫‪Paraf‬‬ ‫‪Paraf‬‬ ‫‪Nilai‬‬
‫‪Pementor‬‬ ‫‪Mahasiswa‬‬

‫‪Catatan :‬‬
‫”‪Temasuk kesalahan dalam pengucapan huruf sukun adalah ketika membunyikan suara “e‬‬
‫‪pada huruf ya sakinah (mati) setelahnya fathah.‬‬

‫]‪[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN‬‬ ‫‪26‬‬


Contoh :

LATIHAN

Paraf Paraf Nilai


Pementor Mahasiswa

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 27


Jurus Membaca Harakat Fathah-Kasrah-Dhammah

JURUS 7
“Fathah Buka a-a
Kasrah Tarik i-i
Dhammah Maju u-u
Aa ii uu”

o Jurus FATHAH BUKA A-A dipraktekkan ketika membaca tanda fathah, karena setiap
huruf berharakat fathah tidak akan sempurna fathahnya kecuali dengan cara membuka
mulut.

o Jurus KASROH TARIK I-I dipraktekkan ketika membaca kasrah, karena setiap huruf
berharakat kasrah tidak akan sempurna kasrahnya kecuali dengan cara
menarik/menurunkan rahang bawah.

o Jurus DHOMMAH MAJU U-U dipraktekkan ketika membaca tanda dhommah, karena
setiap huruf berharakat dhommah tidak akan sempurna dhammahnya kecuali dengan
cara mengumpulkan / memajukkan 2 bibir depan.
Contoh :

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 28


[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 29
LATIHAN

Paraf Paraf Nilai


Pementor Mahasiswa

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 30


‫‪LATIHAN-LATIHAN‬‬

‫‪Q.S Al Fatihah 1-7‬‬

‫يم ِ‪َٰ ِ ِ ٣‬م ِل ِك ِي ۡو ِمِ‬


‫ٱلر ِح ِِ‬
‫نِ َ‬ ‫ب ِ ۡٱل َٰعل ِمينِ ِ‪َ ِ ٢‬‬
‫ٱلر ۡح َٰم ِِ‬ ‫يم ِ‪ۡ ِ ١‬ٱلحمۡ ِدُ ِ ِ َّللِ ِر ِ‬
‫ٱلر ِح ِِ‬
‫نِ َ‬ ‫ٱلر ۡح َٰم ِِ‬ ‫ِب ۡس ِِم ِ َِ‬
‫ٱّللِ ِ َ‬
‫ص َٰرطِ ِٱلَذِينِ ِأ ۡنعمۡ تِ‬ ‫ٱلص َٰرطِ ِ ۡٱل ُم ۡست ِقيمِ ِ‪ِ ِ ٦‬‬ ‫ين ِ‪ۡ ِ ٥‬‬
‫ٱهدِنا ِ ِ‬ ‫ِين ِ‪ِ ِ ٤‬إيَاكِ ِنعۡ بُدُِو ِإيَاك ِن ۡست ِع ُ‬
‫ٱلد ِِ‬
‫ضا ٓ ِلينِِ‪ِ ِ٧‬‬
‫بِعل ۡي ِه ۡمِوَّلِٱل َ‬ ‫ضو ِِ‬‫عل ۡي ِه ۡمِغ ۡي ِرِ ۡٱلم ۡغ ُ‬
‫‪Paraf‬‬ ‫‪Paraf‬‬ ‫‪Nilai‬‬
‫‪Pementor‬‬ ‫‪Mahasiswa‬‬

‫ِ‬
‫‪Q.S Al Mu’minun : 1-11‬‬

‫ٱلر ِح ِيمِ‬
‫نِ َ‬‫ٱلر ۡح َٰم ِِ‬ ‫ِب ۡس ِِمِ َِ‬
‫ٱّللِِ َ‬
‫ضونِ‬ ‫ِخ ِشعُونِ‪ِِ٢‬وِٱلَذِينِِ ُه ۡمِع ِنِٱللَ ۡغ ِِوِ ُمعۡ ِر ُ‬ ‫ق ِۡدِأ ۡفلحِ ۡٱل ُم ۡؤ ِمنُونِِ‪١‬ٱلَذِينِِهُ ۡمِ ِفيِصَل ِت ِه ۡم َٰ‬
‫َّل ِعل َٰ ٓى ِأ ۡز َٰو ِج ِه ۡم ِأ ۡوِ‬
‫ظون ِ‪ِ ِ ٥‬إ َ ِ‬ ‫ِح ِف ُ‬
‫وج ِه ۡم َٰ‬‫لزك َٰو ِة َِٰف ِعلُون ِ‪ِِ ٤‬وِٱلَذِينِ ِ ُه ۡم ِ ِلفُ ُر ِ‬ ‫‪ِ ٣‬وٱلَذِينِ ِ ُه ۡم ِ ِل َ‬
‫ٓ‬
‫ى ِورآء َِٰذ ِلك ِفأ ُ ْو َٰل ِئك ِ ُه ُم ِ ۡٱلعادُونِ ِ‪ِ٧‬‬ ‫ن ِ ۡٱبتغ َِٰ‬‫ومين ِ‪ِ ٦‬فم ِِ‬ ‫ماِملك ۡت ِأ ۡي َٰمنُ ُه ۡم ِفإِنَ ُه ۡم ِغ ۡي ُر ِملُ ِ‬
‫ٓ‬
‫ظون ِ‪ِِ ٩‬أ ُ ْو َٰلئِكِ‬ ‫عون ِ‪ِ ٨‬و ِٱلَذِينِ ِهُ ۡم ِعل َٰى ِصل َٰوتِ ِه ۡم ِيُحافِ ُ‬ ‫وٱلَذِينِ ِ ُه ۡم ِِۡل َٰم َٰنتِ ِه ۡم ِوعهۡ ِد ِه ۡم َِٰر ُ‬
‫نسنِ ِ ِمنِ‬ ‫اِخ ِلدُون ِ‪ِ ١١‬ولق ِۡد ِخل ۡقناِ ۡ ِ‬
‫ٱۡل َٰ‬ ‫ُه ُم ِ ۡٱل َٰو ِرثُونِ ِ‪ِ ١٠‬ٱلَذِينِ ِي ِرثُون ِ ۡٱل ِف ۡرد ۡوسِ ِهُ ۡم ِفِيه َٰ‬
‫ينِ‪ِ ِ١٣‬‬ ‫ينِ‪ِِ١٢‬ث ُ َمِجع ۡل َٰنهُِنُ ۡطف ٗةِفِيِقر ٖارِ َم ِك ٖ‬ ‫نِط ٖ‬‫ِم ِ‬ ‫س َٰلل ٖة ِ‬
‫ُ‬
‫‪ِParaf‬‬ ‫‪Paraf‬‬ ‫‪Nilai‬‬
‫‪Pementor‬‬ ‫‪Mahasiswa‬‬

‫‪Q.S At – Takatsur‬‬

‫ٱلر ِح ِيمِ‬
‫نِ َ‬‫ٱلر ۡح َٰم ِِ‬ ‫ِب ۡس ِِمِ َِ‬
‫ٱّللِِ َ‬

‫]‪[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN‬‬ ‫‪31‬‬


‫ِز ۡرت ُ ُم ِ ۡٱلمقابِرِ ِ‪ِِ ٢‬ك ََلِس ۡوفِتعۡ ل ُمونِ‪ِِ٣‬ث ُ َمِك ََلِس ۡوفِتعۡ ل ُمونِ‬ ‫أ ۡله َٰى ُك ُِم ِٱلتَكاث ُ ُِرِ‪ِِ ١‬حت َ َٰى ُ‬
‫ينِ‪ِِ٥‬لتر ُو َنِ ۡٱلج ِحيمِِ‪ِ٦‬ث ُ َِمِلتر ُونَهاِع ۡينِ ۡٱلي ِق ِِ‬
‫ينِ‪ِِ٧‬ث ُ َمِلت ُ ۡسِلُ َنِ‬ ‫‪ِِ٤‬ك ََلِل ۡوِتعۡ ل ُمونِ ِع ۡلمِ ۡٱلي ِق ِِ‬
‫يمِ‪ِ ِ٨‬‬ ‫ي ۡوم ِئذٍِع ِنِٱلنَ ِع ِِ‬
‫‪Paraf‬‬ ‫‪Paraf‬‬ ‫‪Nilai‬‬
‫‪Pementor‬‬ ‫‪Mahasiswa‬‬

‫‪Q.S Al Fiil‬‬

‫ٱلر ِح ِيمِ‬
‫نِ َ‬ ‫ٱلر ۡح َٰم ِِ‬ ‫ِب ۡس ِِمِ َِ‬
‫ٱّللِِ َ‬
‫يل ِ‪ِ ِ ٢‬وأ ۡرسلِ‬ ‫ض ِل ٖ‬ ‫ل ِ‪ِ ِ ١‬أل ۡم ِي ۡجع ۡل ِك ۡيدهُ ۡم ِفِي ِت ۡ‬ ‫ب ِ ۡٱل ِفي ِِ‬
‫أل ِۡم ِتر ِك ۡيف ِفعل ِربُّك ِ ِبأصۡ َٰح ِ‬
‫فِ َم ۡأ ُكو ُۢ ِلِ‪ِ ِ٥‬‬‫يلِ‪ِِ٤‬فجعل ُه ۡمِكعصۡ ٖ‬ ‫ِمنِ ِس ِج ٖ‬ ‫عل ۡي ِه ۡمِط ۡي ًراِأبابِيلِ‪ِ٣‬ت ۡر ِمي ِهمِبِ ِحجار ٖة ِ‬

‫‪Paraf‬‬ ‫‪Paraf‬‬ ‫‪Nilai‬‬


‫‪Pementor‬‬ ‫‪Mahasiswa‬‬

‫‪Q.S Al Humazah‬‬

‫ٱلر ِح ِيمِ‬
‫نِ َ‬‫ٱلر ۡح َٰم ِِ‬ ‫ِب ۡس ِِمِ َِ‬
‫ٱّللِِ َ‬
‫ب ِأ َن ِمال ٓهِۥُ ِأ ۡخلد ِهۥُ ِ‪ِ ِ ٣‬ك َ ۖ‬
‫َلِ‬ ‫ل ِ ِل ُك ِل ِ ُهمز ٖة ِلُّمزةٍ ِ‪ِ ِ ١‬ٱلَذِي ِجمع ِم ٗاَّل ِوعدَدِهۥُ ِ‪ِ ِ ٢‬ي ۡحس ُ‬
‫و ۡي ‪ِٞ‬‬
‫ٱّللِ ِ ۡٱل ُموقدِة ُِ‪ِ ٦‬ٱلَتِي ِت َ‬
‫ط ِل ُع ِعلىِ‬ ‫ليُ ُۢنبذ َن ِفِيِ ۡٱل ُحطم ِِة ِ‪ِ ٤‬ومِا ٓ ِأ ۡدر َٰىك ِماِ ۡٱل ُحطم ِةُ ِ‪ِِ ٥‬ن ُ‬
‫ار ِ َِ‬
‫ۡٱۡل ۡفِِدةِِِ‪ِِ٧‬إِنَهاِعل ۡي ِهمِ ُّم ۡؤصد ‪ٞ‬ةِ‪ِِ٨‬فِيِعم ٖدِ ُّممدَد ُۢةِِ‪ِ٩‬‬
‫‪Paraf‬‬ ‫‪Paraf‬‬ ‫‪Nilai‬‬
‫‪Pementor‬‬ ‫‪Mahasiswa‬‬

‫]‪[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN‬‬ ‫‪32‬‬


‫‪Q.S Al Zalzalah‬‬

‫ٱلر ِح ِيمِ‬ ‫ٱلر ۡح َٰم ِِ‬


‫نِ َ‬ ‫ِب ۡس ِِمِ َِ‬
‫ٱّللِِ َ‬
‫ن ِماِلهاِ‪ِِ٣‬‬ ‫ض ِأ ۡثقالهاِ‪ِِ ٢‬وقال ِ ۡ ِ‬
‫ٱۡل َٰ‬
‫نس ُِ‬ ‫ت ِ ۡٱۡل ۡر ُِ‬ ‫ض ِ ِز ۡلزالهاِ‪ِِ ١‬وأ ۡخرج ِ‬ ‫ِإذا ِ ُز ۡل ِزل ِ‬
‫ت ِ ۡٱۡل ۡر ُِ‬
‫اس ِأ ۡشتا ٗتا ِِليُر ۡواِْ‬
‫ن ِربَك ِأ ۡوح َٰى ِلها ِ‪ِ ِ ٥‬ي ۡومئِ ٖذ ِيصۡ د ُُر ِٱلنَ ُِ‬ ‫ِث ِأ ۡخبارها ِ‪ِ ٤‬بِأ َِ‬ ‫ي ۡومئِ ٖذ ِتُحد ُ‬
‫ِم ۡثقالِذ َر ٖةِش ٗراِيرِهۥُِ‪ِ ِ٨‬‬ ‫ِم ۡثقالِذ َرةٍِخ ۡي ٗراِير ِهۥُِ‪ِِ٧‬ومنِيعۡ م ۡل ِ‬ ‫أ ۡع َٰمل ُه ۡمِ‪ِ٦‬فمنِيعۡ م ۡل ِ‬
‫‪Paraf‬‬ ‫‪Paraf‬‬ ‫‪Nilai‬‬
‫‪Pementor‬‬ ‫‪Mahasiswa‬‬

‫‪Q.S At Tin‬‬

‫يم ِ‬
‫ٱلر ِح ِِ‬
‫نِ َ‬‫ٱلر ۡح َٰم ِِ‬ ‫ِب ۡس ِِمِ َِ‬
‫ٱّللِِ َ‬
‫يِ‬‫نسنِ ِفِ ٓ‬ ‫ين ِ‪ِ ِ ٣‬لق ۡد ِخل ۡقنا ِ ۡ ِ‬
‫ٱۡل َٰ‬ ‫ور ِ ِسينِين ِ‪ِ ِ ٢‬و َٰهذا ِ ۡٱلبل ِِد ِ ۡٱۡل ِم ِِ‬ ‫ط ِ‬ ‫ون ِ‪ِ ِ ١‬و ُ‬ ‫ٱلز ۡيت ُ ِِ‬
‫ين ِوِ َ‬ ‫وٱلتِ ِِ‬
‫تِفل ُه ۡمِأ ۡج ٌرِ‬ ‫ِس ِف ِلينِ‪ِِ٥‬إِ ََّلِٱلَذِينِِءامنُواِْوع ِملُواِْٱل َٰ َ‬
‫ص ِل َٰح ِِ‬ ‫أ ۡحس ِنِت ۡق ِو ٖيمِ‪ِ٤‬ث ُ َِمِرد ۡد َٰنهُِأ ۡسفل َٰ‬
‫ٱّللُِ ِبأ ۡحك ِمِ ۡٱل َٰح ِك ِمينِِ‪ِ ِ٨‬‬
‫ِينِ‪ِِ٧‬أل ۡيسِ َِ‬ ‫ونِ‪ِ٦‬فماِيُك ِذبُكِبعۡ د ُِِِبٱلد ِِ‬ ‫غ ۡي ُرِم ۡمنُ ٖ‬
‫‪Paraf‬‬ ‫‪Paraf‬‬ ‫‪Nilai‬‬
‫‪Pementor‬‬ ‫‪Mahasiswa‬‬

‫‪Q.S Ad Dhuha‬‬

‫ٱلر ِح ِيمِ‬
‫نِ َ‬‫ٱلر ۡح َٰم ِِ‬ ‫بِ ۡس ِِمِ َِ‬
‫ٱّللِِ َ‬
‫ِمنِ‬ ‫ل ِ ِإذاِسج َٰى ِ‪ِِ ٢‬ماِودَعك ِربُّك ِوماِقل َٰى ِ‪ِِ ٣‬ول ۡۡل ٓ ِخرة ُِخ ۡي ‪ٞ‬ر ِلَك ِ‬ ‫ى ِ‪ِِ ١‬وِٱلَ ۡي ِِ‬
‫وٱلضُّح َِٰ‬
‫ى ِ‪ِ ٤‬ولس ۡوفِ ِيُعۡ ِطيك ِربُّك ِفت ۡرض َٰ ٓى ِ‪ِِ ٥‬أل ۡم ِي ِج ۡدك ِيتِ ٗيماِفِاو َٰى ِ‪ِ ٦‬ووجدكِ ِضا ٓ َّٗلِ‬ ‫ۡٱۡلُول َِٰ‬
‫سآئِلِ ِفَل ِت ۡنه ۡر ِ‪ِِ١٠‬‬ ‫فهد َٰى ِ‪ِِ ٧‬ووجدك ِعآئِ َٗل ِفأ ۡغن َٰى ِ‪ِِ ٨‬فأ َماِ ۡٱليتِيمِ ِفَل ِت ۡقه ۡر ِ‪ِ ٩‬وأ َما ِٱل َ‬
‫ِثِ‪ِ ِ١١‬‬ ‫وأ َماِ ِبنِعۡ م ِةِر ِبكِفحد ۡ‬

‫]‪[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN‬‬ ‫‪33‬‬


‫‪Paraf‬‬ ‫‪Paraf‬‬ ‫‪Nilai‬‬
‫‪Pementor‬‬ ‫‪Mahasiswa‬‬

‫ِ‬

‫‪Q.S. Asy Syam‬‬

‫ٱلر ِح ِيمِ‬
‫نِ َ‬‫ٱلر ۡح َٰم ِِ‬ ‫بِ ۡس ِِمِ َِ‬
‫ٱّللِِ َ‬
‫ل ِ ِإذاِي ۡغش َٰىهاِ‪ِِ٤‬‬ ‫ضح َٰىهاِ‪ِِ ١‬وِ ۡٱلقم ِِر ِ ِإذاِتل َٰىهاِ‪ِِ ٢‬وِٱلنَه ِِ‬
‫ار ِ ِإذاِجلَ َٰىهاِ‪ِِ ٣‬وِٱلَ ۡي ِِ‬ ‫س ِو ُ‬ ‫ش ۡم ِ ِ‬‫وٱل َ‬
‫جورهاِ‬ ‫ض ِوماِطح َٰىهاِ‪ِِ ٦‬ون ۡف ٖس ِوماِس َو َٰىهاِ‪ِ ٧‬فأ ۡلهمها ِفُ ُِ‬ ‫سما ٓ ِِء ِوماِبن َٰىهاِ‪ِ ٥‬و ۡٱۡل ۡر ِ ِ‬‫وِٱل َ‬
‫س َٰىهاِ‪ِِ ١٠‬كذَب ۡت ِث ُمود ُِ ِبط ۡغو َٰىها ِٓ‪ِِ١١‬‬ ‫وت ۡقو َٰىهاِ‪ِِ ٨‬ق ۡد ِأ ۡفلح ِمنِز َك َٰىهاِ‪ِ ٩‬وق ِۡد ِخاب ِمنِد َ‬
‫س ۡق َٰيهاِ‪ِ ١٣‬فكذَبُوِهُِفعق ُروهاِفدمۡ دمِ‬ ‫ٱّللِ ِناقة ِ َِ‬
‫ٱّللِ ِو ُ‬ ‫ِإ ِذ ِ ُۢٱنبعثِ ِأ ۡشق َٰىهاِ‪ِ ١٢‬فقالِ ِل ُه ۡم ِر ُ‬
‫سو ُل ِ َِ‬
‫ع ۡق َٰبهاِ‪ِ ِ١٥‬‬ ‫عِل ۡي ِه ۡمِربُّ ُهمِبِذ ُۢن ِب ِه ۡمِفس َو َٰىهاِ‪ِِ١٤‬وَّلِيخ ُ‬
‫افِ ُ‬
‫‪Paraf‬‬ ‫‪Paraf‬‬ ‫‪Nilai‬‬
‫‪Pementor‬‬ ‫‪Mahasiswa‬‬

‫‪Q.S. Al-Baqarah : 6-10‬‬

‫نِٱلَذِينِِكف ُرواِْسوآ ٌءِعل ۡي ِه ۡمِءأنذ ۡرت ُه ۡمِأ ۡمِل ۡمِتُنذ ِۡر ُه ۡمَِّلِيُ ۡؤ ِمنُونِ‪ِ٦‬ختمِِ َِ‬
‫ٱّللُِعل َٰىِقُلُو ِب ِه ۡمِ‬ ‫ِإ َِ‬
‫اسِمنِيقُولُِءامنَاِ‬ ‫ابِع ِظ ‪ٞ‬يمِ‪ِ٧‬و ِمنِِٱلنَ ِ ِ‬ ‫ص ِر ِه ۡمِ ِغ َٰشو ‪ۖٞ‬ةِول ُه ۡمِعذ ٌ‬ ‫وعل َٰىِسمۡ ِع ِه ۡۖمِوعل َٰ ٓىِأ ۡب َٰ‬
‫عون ِإِ َ ٓ‬
‫َّلِ‬ ‫ٱّلل ِوِٱلَذِينِ ِءامنُواْ ِوماِي ۡخد ُ‬
‫عونِ ِ َِ‬ ‫ٱّللِ ِوِِب ۡٱلي ۡو ِِم ِ ۡٱۡل ٓ ِخ ِِر ِوماِ ُهمِ ِب ُم ۡؤ ِمنِين ِ‪ِ ٨‬يُ َٰخ ِد ُ‬
‫ِِب َِ‬
‫ٱّللُ ِمرضٗ ۖا ِول ُه ۡم ِعذ ٌ‬
‫اب ِأ ِلي ُۢ ُم ِ ِبماِ‬ ‫ض ِفزاد ُه ُم ِ َِ‬ ‫أنفُس ُه ۡم ِوما ِي ۡشعُ ُرون ِ‪ِ ٩‬فِي ِقُلُو ِب ِهم ِ َمر ‪ٞ‬‬
‫كانُواِْي ۡك ِذبُونِ‪ِ ِ١٠‬‬
‫‪Paraf‬‬ ‫‪Paraf‬‬ ‫‪Nilai‬‬
‫‪Pementor‬‬ ‫‪Mahasiswa‬‬

‫]‪[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN‬‬ ‫‪34‬‬


HURUF FAWAATIHUSSUWAR
DAN CARA MEMBACANYA

Huruf Fawaatihussuwar adalah huruf Hijaiyahng yang menjadi pembuka surat-surat tertentu
dalam Al Quran, huruf tersebut disebut juga Huruf Muqaththa’ah.

Huruf Muqaththa’ah berjumlah 14 huruf yang tersebar di 29 surat dalam Al Quran dengan
rincian sebagai berikut :

Kaidah membaca huruf Fawaatihussuwar

1. Huruf tanda Alis dibaca panjang 2 harakat kecuali Alif, huruf-huruf yang masuk ke dalam
kaidah ini ada 6 huruf yang terkumpul dalam ucapan “ AYAH TOHIR”

2. Huruf bertanda Alis dibaca panjang 6 harakat, huruf-huruf yang masuk ke dalam kaidah ini
ada 8 huruf yang terkumpul dalam ucapan “ANI MASUK SAKOLA”

3. Huruf Shad dibaca disertai dengan pantulan (Qalqalah)


4. Huruf Lam menghadapi Mim berlaku hukum idgham Mitslain karena terjadi pertemuan
Mim mati dengan Mim.
5. Huruf Sin menghadapi Mim berlaku hukum idgham Bighunnah karena terjadi pertemuan
Nun mati dengan Mim.

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 35


6. Huruf ‘Ain menghadapi Sin berlaku hukum ikhfa karena terjadi pertemuan Nun mati
dengan Sin.
7. Huruf ‘Ain menghadapi Shad berlaku hukum ikhfa karena terjadi pertemuan Nun mati
dengan Shad.
8. Huruf Sin menghadapi Qaf berlaku hukum ikhfa karena terjadi pertemuan Nun mati dengan
Qaf.

Praktek Membaca Huruf Fawaatihussuwar


a. Satu huruf

b. Dua huruf

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 36


Paraf Paraf Nilai
Pementor Mahasiswa

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 37


C. Tiga huruf

Paraf Paraf Nilai


Pementor Mahasiswa

Paraf Paraf Nilai


Pementor Mahasiswa

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 38


d. Empat Huruf

Paraf Paraf Nilai


Pementor Mahasiswa

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 39


e. Lima Huruf

Paraf Paraf Nilai


Pementor Mahasiswa

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 40


HAMZAH WASHAL DI AWAL AYAT / KALIMAT
DAN CARA MEMBACANYA

Hamzah washal adalah alif-alif yang dibaca ketika berada di awal dan dibuang (tidak dibaca)
ketika berada di tengah.

Contoh :

Alif yang terdapat pada kata Al Qari’ah dinamakan hamzah washal, ia dibaca ketika tidak
disambung dengan basmalah dan dibuang ketika disambung dengan basmalah.

Tanda Hamzah Washal


Hamzah washal dalam mushaf Al Quran standar madinah ditandai dengan huruf Shad kecil di
atasnya, sedangkan dalam mushaf Al-Quran Standar Indonesia Hamzah Washal tidak diberi
tanda khusus.
Contoh :

Kaidah membaca Hamzah washal


1. Dibaca dengan fathah (a) apabila setelahnya Lam

2. Dibaca dengan dhomah (u) apabila huruf ketiganya berharakat dhamah (u)

3. Dibaca dengan kasrah (i) apabila huruf ketiganya berharkat kasrah (i) atau fathah (a)

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 41


LATIHAN

Paraf Paraf Nilai


Pementor Mahasiswa

LATIHAN

Paraf Paraf Nilai


Pementor Mahasiswa

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 42


Pengecualian
Hamzah Washal pada kata-kata di bawah ini dibaca dengan kasrah (i)

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 43


NUN KECIL DI BAWAH ALIF
DAN CARA MEMBACANYA

Cara membaca Nun Kecil di bawah Alif


a. Ketika di awal ayat
Nun kecil di bawah alif yang berada yang berada di awal ayat diabaikan/dibuang/ tidak
dibaca, kecuali apabila disambung dengan ayat sebelumnya.
Contoh :

Ketika Waqaf dibaca Alladzii jama’a … adapun ketika washal dibaca Lumazatinilladzii
jama’a…

b. Ketika ditengah ayat


Nun kecil di bawah Alif yang berada di tengah ayat senatiasa dibaca dengan harakat kasrah
menjadi ni baik berasal dari tanwin AN, IN ataupun UN.
Contoh :

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 44


LATIHAN

Paraf Paraf Nilai


Pementor Mahasiswa

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 45


ALIF BERTANDA SHIFR
DAN CARA MEMBACANYA

Shifr berarti nol/kosong, Alif bertanda shifr berarti Alif bertanda nol. Dalam Mushaf standar
Indonesia tanda Shifr ditemukan di atas huruf Alif saja, sedangkan dalam standar Madinah
Shifr ditemukan di atas huruf Alif, Waw, Ya.

Cara membaca Alif bertanda Shifr


a. Ketika Washal
Alif-alif yang bertanda shifr ketika washal dibuang/diabaikan/tidak dibaca

LATIHAN

Paraf Paraf Nilai


Pementor Mahasiswa

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 46


b. Ketika Waqaf
Alif-alif yang bertanda shifr ketika waqaf tetap dibuang / diabaikan / tidak dibaca kecuali
Alif-Alif yang terdapat pada kata-kata sebagai berikut :

Ke enam kata di atas ketika washal dibaca pendek, sedangkan ketika waqaf dibaca panjang
2 harakat.

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 47


LATIHAN

Paraf Paraf Nilai


Pementor Mahasiswa

Keterangan :
Boleh Membuang Alif atau menampakkannya ketika waqaf pada kata Salaasila yang
terdapat pada Q.S (76) Al Insan ; 4

LATIHAN

Paraf Paraf Nilai


Pementor Mahasiswa

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 48


IMALAH, ISYMAM, TASHIL, SAKTAH
DAN CARA MEMBACANYA

Bacaan Imalah

Imalah berarti (pengucapan) Fathah miring ke kasrah dan pengucapan Alif miring ke huruf YA
(Al Bayanus Sadid Fi Ahkamil Qiraati Wat Tajwid hal, 264)

Bacaan imalah terjadi ketika membaca Q.S (11) Huud : 41 pada kata Majraahaa yang dibaca
Majreehaa

Contoh :

Bacaan Isymam

Isymam berarti mengumpulkan dua bibir seperti orang yang hendak mengucapkan
dhommah sebagai isyarat bahwa harokat dhommah tapi tidak tampak pengaruhnya
dalam pengucapan. Singkatnya, praktek Isymam akan diketahui dengan cara melihat
dan tidak diketahui dengan cara mendengar (Al Bayanus Sadid Fi Ahkamil Qiraati
Wat Tajwid hal, 264)

Bacaan Isymam terjadi ketika membaca Q.S. (12) Yusuf : 11 pada kata Laa Ta Manna

Contoh :

Bacaan Tashil

Tashil berarti meringankan pengucapan huruf hamzah yang kedua yang berharokat
dengan baina-baina yang diucapkan antara bunyi hamzah dan Alif (Al Bayanus Sadid
Fi Ahkamil Qiraati Wat Tajwid hal, 264)

Bacaan Tashil tejadi ketika membaca Q.S. (41) Fushshilat : 44 pada kata Aa’jamiyyun

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 49


Contoh :

Bacaan Saktah

Saktah berarti menghentikan suara sejenak pada huruf-huruf (tertentu) dalam Al-Qur’an
tanpa bernapas ketika membaca washal dengan maksud melanjutkan bacaan (Taisirur
Rahman FI Tajwidil Quran hal, 304)

Bacaan Saktah terjadi ketika membaca kata-kata sebagai berikut :

a. Kata ‘Iwajaa yang terdapat pada Q.S (18) Al Kahfi : 1

b. Kata Marqadinaa yang terdapat pada QS (36) Yasin : 52

c. Kata Man yang terdapat pada Q.S. (75) Al Qiyamah : 27

d. Kata Bal yang terdapat pada Q.S. (83) Al Mutahaffifin : 14

e. Boleh saktah dan idghom pada kata Maaliyah yang terdapat pada QS (69) Al
Qiyamah : 28 ketika disambung dengan ayat 29

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 50


KATA–KATA KHUSUS DALAM AL-QUR’AN
DAN CARA MEMBACANYA

Dalam praktek membaca Al-Qur’an ditemukan beberapa kata yang memerlukan ketelitian
dalam membacanya karena sering terjadi kesalahan, kata-kata tersebut adalah sebagai
berikut :

1.

Kata Bi-sa dan Alismu yang terdapat pada QS. (49) Al Hujurat : 11 ketika disambung
dibaca Bi-salismu
Contoh :

2.

Hukum idgham pada kata Basathta yang terdapat pada Q.S (5) Al Maidah ayat 28
menggunakan teknik idgham naqis, yaitu sifat yang dimiliki oleh huruf Tha tidak
semuanya ke huruf Ta. Kaidah ini berlaku pada setiap huruf Tha ketika diidghamkan ke
huruf Ta disemua tempat dalam Al-Quran.
Contoh :

3.
Kata Yalhats yang terdapat pada Q.S (7) Al A’raf : 176 ketika
disambung dengan kata dzaalika dibaca idgham menjadi Yalhadzdzaalika

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 51


4. Boleh membaca Dha’fin …Dha’fin … Dha’fan (dengan Fathah) atau Dhu’fin …
Dhu’fin … Dhu’fan (dengan dhammah) ketika membaca QS. (30) Ar Rum : 54

5.

Hamzah Washal yang terdapat pada QS. (46) Al Ahqaf : 4 dibaca dengan harakat
kasrah (i) dan hamzah sukun yang berada setelahnya diganti dengan huruf Ya Sukun
menjadi iituunii
Contoh :

Apabila membacanya disambung dengan kata Fissamaawaati maka hamzah washal


diabaikan (tidak dibaca) sedangkan Hamzah sukun yang berada setelahnya tetap
berbunyi Hamzah (tidak diganti dengan Ya) menjadi Fissamaawaaati-tuunii
Contoh :

6.

Nun sakinah (mati) yang terdapat pada kata-kata Ad Dunya, Bunyaanun,


Shinwaanun, dan Qinwaanun diseluruh tempat dalam Al Quran dibaca jelas tanpa
dengung. Hukum bacaannya disebut Idzhhar Muthlaq.

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 52


Contoh :

7. Tanda Sin di atas huruf Shad


Dalam Al Quran ditemukan sebanyak empat kali tanda Sin di atas huruf Shad, berikut
adalah ayat-ayat yang dimaksud dan penjelasan tentang cara membacanya,
a. Q.S (2) Al Baqarah : 245

Berdasarkan riwayat Hafsh Thariqah Syatibiyyah di atas dibaca dengan huruf Sin

b. Q.S (7) Al A’raf : 69

Berdasarkan riwayat Hafsh Thariqah Syatibiyyah di atas dibaca dengan huruf Sin
c. Q.S (52) At Thur : 37

Berdasarkan riwayat Hafsh Thariqah Syatibiyyah di atas dibaca dengan huruf Shad

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 53


d. Q.S (88) Al Ghasyiyah : 22

Berdasarkan riwayat Hafsh Thariqah Syatibiyyah di atas dibaca dengan huruf Shad

8.

Nun kecil yang berada di antara huruf Nun dan Jim yang terdapat dengung menjadi
nungngji hukum bacaannya disebut ikhfa.

Contoh :

9.

Ya kecil yang terdapat pada Q.S. (75) Al Qiyamah : 40 dibaca dengan harakat fathah
menjadi Ayy Yuhyiya.

Contoh :

10.

Huruf Ya kecil yang terdapat pada Q.S (29) An Naml : 36 dibaca dengan harakat fathah
menjadi aa taaniya

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 54


11.

Huruf Da yang terdapat pada QS. (59) Al Hasyar : 17 dibaca dengan harakat Fathah
menjadi khaalidaini.
Contoh :

12. dan

Kata wa aatuu terdapat pada Q.S. (2) Al Baqarah : 43, 83 dan 110, Q.S. (4) An Nisa :
77, Q.S. (22) Al Hajj : 78 Q.S. (24) An Nur, Q.S. (58) Al Mujaadillah, Q.S. (73) Al
Muzzammil : 20

Kata wa aatawu terdapat pada QS. (2) Al Baqarah : 277, QS. At Taubah : 5 dan 11, QS.
(22) Al Hajj : 41
LATIHAN

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 55


Paraf Paraf Nilai
Pementor Mahasiswa

13. Tanda Panjang pada kata-kata di bawah ini ditulis tanpa tanda Alis, dibaca
bertanda Alis (dibaca lebih panjang)

Contoh :

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 56


14. Tanda Alis pada kata-kata di bawah ini ketika waqaf dianggap tidak ada (dibaca
panjang 2 harakat)

Jangan Sampai Terlupakan !


Dianjurkan melaksanakan sujud ketika membaca ayat-ayat tertentu dalam Al-Qur’an
baik di dalam ataupun diluar shalat sujudnya disebut Sujud Tilawah. Sedangkan
ayatnya disebut Ayat Sajdah.

Dalam Al-Quran ayat-ayat sajdah ditemukan sebanyak 15 kali yang tersebar di 14 surat
sebagai berikut :

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 57


[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 58
[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 59
[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 60
MAKHARIJUL HURUF
Pengertian Makharijul Huruf

Makhraj artinya tempat keluar, Makhraj artinya tempat-tempat keluar, Makharijul Huruf
berarti tempat-tempat keluarnya huruf.

Pembagian Makharijul Huruf


Makharijul Huruf secara umum terbagi kepada lima bagian, yaitu :
1. Al Jauf (rongga mulut)
2. Al Khaisyum (Pangkal hidung)
3. Al Halqu (Tenggorokan)
4. Al Lisan (Lidah)
5. As Syafatan / As Syafatain (dua bibir)

Sedangkan secara khusus, Makharijul Huruf terbagi kepada 17 tempat, dengan rincian
sebagai berikut :
1) Al Jauf, terdiri dari 1 makhraj
2) Al Khaisyum, terdiri dari 1 makhraj
3) Al Halqu, terdiri dari 3 makhraj
4) Al Lisan, terdiri dari 10 makhraj
5) Asy Syafatan, terdiri dari 2 makhraj

3 Langkah mengetahui makhrajul huruf


1) Sukunkan atau tasydidkan hurufnya
2) Masukkan hamzah washal dengan harakat apa saja
3) Baca dan dengarkan suaranya, ketika suara itu terputus dimulut, itulah tempat keluarnya
(makhrajnya).

Salah makhraj bisa salah arti


Kesalahan dalam pengucapan huruf dapat mengakibatkan Perubahan arti
Contoh :

Kelompok Huruf

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 61


Al Jauf
(Rongga Mulut)

Makhraj Al Jauf adalah tempat keluarnya bunyi bacaan panjang (mad). Tidak terjadi
bacaan panjang kecuali ketika membaca Alif sebelumnya Fathah, Ya Sukun
sebelumnya Kasrah dan Waw Sukun sebelumnya Dhammah.

LATIHAN :

Paraf Paraf Nilai


Pementor Mahasiswa

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 62


Kelompok Huruf
Al Khaisyum
(Pangkal Hidung)

Makhraj Al Khaisyum adalah tempat keluarnya huruf-huruf ghunnah (dengung).


Tidak terjadi bacaan Ghunnah kecuali ketika membaca tempat-tempat sebagai berikut :

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 63


LATIHAN

Paraf Paraf Nilai


Pementor Mahasiswa

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 64


Kelompok Huruf
Al Halq
(Tenggorokan)

1. Hamzah ( ) ‫ء‬
Makhrajnya : keluar dari tenggorokan bawah (pangkal tenggorokan)

Cara pengucapannya (sifatnya)


Yang harus diperhatikan ketika membaca huruf hamzah :
 Diucapkan tanpa keluar nafas / menahan mengalirnya nafas (jahr)
 Ketika sukun atau bertasydid suaranya tertahan (syiddah)

LATIHAN

Paraf Paraf Nilai


Pementor Mahasiswa

2. Ha ( ‫)ه‬
Makhrajnya : keluar dari tenggorokan bawah (pangkal tenggorokan)

Cara pengucapannya (sifatnya)


Yang harus diperhatikan ketika membaca huruf Ha :
 Diucapkan disertai dengan keluar / mengalirka nafas (hams)
 Ketika sukun atau bertasydid suaranya mengalir (rakhawah)

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 65


LATIHAN

Paraf Paraf Nilai


Pementor Mahasiswa

3. ‘A ( ‫) ع‬

Makrajnya : keluar dari tenggorokan tengah

Cara pengucapannya (sifatnya)


Yang harus diperhatikan ketika membaca huruf ‘Ain :
 Diucapkan tanpa keluar nafas / menahan mengalirnya nafas (jahr)
 Ketika sukun atau bertasydid suaranya antara tertahan dan mengalir (tawassuth)

LATIHAN

Paraf Paraf Nilai


Pementor Mahasiswa

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 66


4. Ha ( ‫)ح‬
Makrajnya : keluar dari tenggorokan tengah

Cara pengucapannya (sifatnya)


Yang harus diperhatikan ketika membaca huruf Ha :
 Diucapkan disertai keluar / mengalirkan nafas (Hams)
 Ketika sukun atau bertasydid suaranya mengalir (rakhawah)

LATIHAN

Paraf Paraf Nilai


Pementor Mahasiswa

5. Gha ( )‫غ‬
Makrajnya : keluar dari tenggorokan atas (ujung tenggorokan)

Cara pengucapannya (sifatnya)


Yang harus diperhatikan ketika membaca huruf Gha :
 Diucapkan tanpa keluar nafas/menahan mengalirnya nafas (jahr)
 Ketika sukun atau bertasydid suaranya mengalir (rakhawah)

LATIHAN

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 67


Paraf Paraf Nilai
Pementor Mahasiswa

6. Kha ( ‫) خ‬
Makrajnya : keluar dari tenggorokan atas (ujung tenggorokan)

Cara pengucapannya (sifatnya)


Yang harus diperhatikan ketika membaca huruf Kha :
 Diucapkan disertai keluar / mengalirkan nafas (hams)
 Ketika sukun atau bertasydid suaranya mengalir (rakhawah)

LATIHAN

Paraf Paraf Nilai


Pementor Mahasiswa

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 68


KELOMPOK HURUF
AL LISAN (LIDAH)

1. Qa ( ‫ق‬)
Makhrajnya : keluar dari pangkal lidah dengan langit-langit

Cara pengucapannya (sifatnya)


Yang harus diperhatikan ketika membaca huruf Qa :
 Diucapkan tanpa keluar nafas / menahan mengalirnya nafas (jahr)
 Diucapkan dengan mengangkat pangkal lidah ke langit-langit (Isti’la) sehingga dengan cara
itu suara menjadi tebal.
 Ketika sukun atau disukunkan suaranya memantul (Qalqalah)
 Ketika bertasydid suaranya tertahan (Syiddah)

LATIHAN

Paraf Paraf Nilai


Pementor Mahasiswa

2. Ka ( ‫ك‬
)
Makhrajnya : sama dengan makhraj Qaf namun pangkal lidahnya sedikit di bawah makhraj
Qaf.

Cara pengucapannya (sifatnya)


Yang harus diperhatikan ketika membaca huruf Ka :
 Diucapkan disertai keluar nafas / mengalirkan nafas (hams)
 Ketika sukun atau bertasydid suaranya tertahan (Syiddah)

LATIHAN

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 69


Paraf Paraf Nilai
Pementor Mahasiswa

3. Ja (‫ج‬)
Makhrajnya : keluar dari Tengah lidah dengan langit-langit

Cara pengucapannya (sifatnya)


Yang harus diperhatikan ketika membaca huruf Ja :
 Diucapkan tanpa keluar nafas / menahan mengalirnya nafas (jahr)
 Ketika sukun atau disukunkan suaranya memantul (qalqalah)
 Ketika bertasydid suaranya tertahan (Syiddah)

LATIHAN

Paraf Paraf Nilai


Pementor Mahasiswa

4. Sya ( ‫)ش‬
Makhrajnya : keluar dari Tengah lidah dengan langit-langit

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 70


Cara pengucapannya (sifatnya)
Yang harus diperhatikan ketika membaca huruf Sya
 Diucapkan disertai keluar mengalirkan nafas (jahr)
 Diucapkan dengan menyebarkan angin dalam mulut (tafasysyi)
 Ketika sukun atau bertasydid suaranya mengalir (rakhawah)

LATIHAN

Paraf Paraf Nilai


Pementor Mahasiswa

5. Ya ( ‫ي‬)
Makhrajnya : keluar dari Tengah lidah dengan langit-langit

Cara pengucapannya (sifatnya)


Yang harus diperhatikan ketika membaca huruf Ya :
 Diucapkan tanpa keluar nafas / menahan mengalirnya nafas (Jahr)
 Ketika sukun atau bertasydid suaranya mengalir (rakhawah)
LATIHAN

Paraf Paraf Nilai


Pementor Mahasiswa

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 71


5. Dha ( ‫)ض‬
Makhrajnya : keluar dari sisi lidah dengan gigi geraham sebelah kiri atau kanan

Cara pengucapannya (sifatnya)


Yang harus diperhatikan ketika membaca huruf Dha :
 Diucapkan tanpa keluar nafas / menahan mengalirnya nafas (Jahr)
 Diucapkan dengan melekatkan / menempelkan lidah pada langit-langit (ithbaq) sehingga
dengan cara itu suara menjadi tebal bahkan lebih tebal dari huruf Qa, Kha, Gha
 Ketika sukun atau bertasydid suaranya mengalir (rakhawah)

LATIHAN

Paraf Paraf Nilai


Pementor Mahasiswa

5. Lam ( ‫)ل‬
Makhrajnya : Keluar dari sisi lidah bagian bawah dengan langit-langit di bawah makhraj Dha

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 72


Cara pengucapannya (sifatnya)
Yang harus diperhatikan ketika membaca huruf La :
 Diucapkan tanpa keluar nafas / menahan mengalirnya nafas (Jahr)
 Ketika sukun atau bertasydid suaranya antara tertahan dan mengalir (Tawassuth)

LATIHAN

Paraf Paraf Nilai


Pementor Mahasiswa

5. Na ( ‫)ن‬
Makhrajnya : Keluar dari ujung lidah dengan langit-langit sedikit di bawah Makhraj Lam
ketika keadaan Nun berharkat atau nun sakinah (mati) yang dibaca jelas.

Cara pengucapannya (sifatnya)


Yang harus diperhatikan ketika membaca huruf Na :
 Diucapkan tanpa keluar nafas / menahan mengalirnya nafas (Jahr)
 Ketika sukun suaranya pertengahan antara tertahan dan mengalir (Tawassuth)
 Ketika bertasydid mendengung 2 harakat (Ghunnah)

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 73


LATIHAN

Paraf Paraf Nilai


Pementor Mahasiswa

‫ر‬
6. Ra ( )
Makhrajnya : Keluar dari ujung lidah dengan langit-langit lebih dalam dari makhraj Nun.

Cara pengucapannya (sifatnya)


Yang harus diperhatikan ketika membaca huruf Ra :
 Diucapkan tanpa keluar nafas / menahan mengalirnya nafas (Jahr)
 Suaranya terdengar berulang-ulang / bergetar (Takrir)
 Ketika sukun atau bertasydid suaranya antara tertahan dan mengalir (tawassuth)

LATIHAN :

Paraf Paraf Nilai


Pementor Mahasiswa

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 74


‫د‬
7. Da ( )
Makhrajnya : Keluar dari ujung lidah dengan pangkal gigi depan bagian atas.

Cara pengucapannya (sifatnya)


Yang harus diperhatikan ketika membaca huruf Da :
 Diucapkan tanpa keluar nafas / menahan mengalirnya nafas (Jahr)
 Ketika sukun atau disukunkan suaranya memantul (qalqalah)
 Ketika bertasydid suaranya tertahan (syiddah)

LATIHAN :

Paraf Paraf Nilai


Pementor Mahasiswa

7. Ta ( ‫ت‬)
Makhrajnya : Keluar dari ujung lidah dengan pangkal gigi depan bagian atas

Cara pengucapannya (sifatnya)


Yang harus diperhatikan ketika membaca huruf Ta :
 Diucapkan disertai keluar / mengalirkan nafas (hams)
 Ketika sukun atau bertasydid suaranya tertahan (syiddah)
LATIHAN

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 75


Paraf Paraf Nilai
Pementor Mahasiswa

‫ط‬
7. Tha ( )
Makhrajnya : Keluar dari ujung lidah dengan pangkal gigi depan bagian atas

Cara pengucapannya (sifatnya)


Yang harus diperhatikan ketika membaca huruf Tha :
 Diucapkan tanpa keluar nafas / menahan mengalirnya nafas (jahr)
 Diucapkan dengan melekatkan / menempelkan lidah pada langit-langit (ithbaq) sehingga
dengan cara itu suara menjadi tebal bahkan lebih tebal dari huruf Qa, Kha, Gha
 Ketika sukun atau disukunkan suaranya memantul (qalqalah)
 Ketika ber-Tasydid suaranya tertahan (syiddah)

LATIHAN

Paraf Paraf Nilai


Pementor Mahasiswa

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 76


7. Tsa ( ‫ث‬)
Makhrajnya : Keluar dari ujung lidah dengan ujung gigi depan bagian atas

Cara pengucapannya (sifatnya)


Yang harus diperhatikan ketika membaca huruf Tsa :
 Diucapkan disertai keluar / mengalirkan nafas (hams)
 Ketika sukun atau ber-Tasydid suaranya mengalir (rakhawah)

LATIHAN

Paraf Paraf Nilai


Pementor Mahasiswa

‫ذ‬
7. Dza ( )
Makhrajnya : Keluar dari ujung lidah dengan ujung gigi depan bagian atas

Cara pengucapannya (sifatnya)


Yang harus diperhatikan ketika membaca huruf Dza :
 Diucapkan tanpa keluar nafas / menahan mengalirnya nafas (jahr)
 Ketika sukun atau ber-Tasydid suaranya mengalir (rakhawah)

LATIHAN

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 77


Paraf Paraf Nilai
Pementor Mahasiswa

‫ظ‬
7. Zha ( )
Makhrajnya : Keluar dari ujung lidah dengan ujung gigi depan bagian atas

Cara pengucapannya (sifatnya)


Yang harus diperhatikan ketika membaca huruf Zha :
 Diucapkan tanpa keluar nafas / menahan mengalirnya nafas (jahr)
 Diucapkan dengan melekatkan / menempelkan lidah pada langit-langit (ithbaq) sehingga
dengan cara itu suara menjadi tebal bahkan lebih tebal dari huruf Qa, Kha, Gha
 Ketika sukun atau bertasydid suaranya mengalir (rakhawah)

LATIHAN

Paraf Paraf Nilai


Pementor Mahasiswa

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 78


‫ز‬
7. Za ( )
Makhrajnya : Keluar dari ujung lidah dengan ujung gigi depan bagian atas dan bawah

Cara pengucapannya (sifatnya)


Yang harus diperhatikan ketika membaca huruf Za :
 Diucapkan tanpa keluar nafas / menahan mengalirnya nafas (jahr)
 Diucapkan dengan mengeluarkan suara desis (shafir)
 Ketika sukun atau bertasydid suaranya mengalir (rakhawah)

LATIHAN

Paraf Paraf Nilai


Pementor Mahasiswa

7. Sa (‫س‬ )
Makhrajnya : Keluar dari ujung lidah dengan ujung gigi depan bagian atas dan bawah

Cara pengucapannya (sifatnya)


Yang harus diperhatikan ketika membaca huruf Sa :
 Diucapkan disertai keluar / mengalirkan nafas (hams)
 Diucapkan dengan mengeluarkan suara desis (shafir)
 Ketika sukun atau bertasydid suaranya mengalir (rakhawah)

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 79


LATIHAN

Paraf Paraf Nilai


Pementor Mahasiswa

7. Sha ( ‫)ص‬
Makhrajnya : Keluar dari ujung lidah dengan ujung gigi depan bagian atas dan bawah

Cara pengucapannya (sifatnya)


Yang harus diperhatikan ketika membaca huruf Sha :
 Diucapkan disertai keluar / mengalirkan nafas (hams)
 Diucapkan dengan mengeluarkan suara desis (shafir)
 Diucapkan dengan melekatkan / menempelkan lidah pada langit-langit (ithbaq) sehingga
dengan cara itu suara menjadi tebal bahkan lebih tebal dari huruf Qa, Kha, Gha
 Ketika sukun atau bertasydid suaranya mengalir (rakhawah)

LATIHAN

Paraf Paraf Nilai


Pementor Mahasiswa

KELOMPOK HURUF

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 80


ASY SYAFATAN
(DUA BIBIR)

1. Fa ( ‫ف‬)
Makhrajnya : Keluar dari bagian dalam dengan ujung gigi depan bagian atas.

Cara pengucapannya (sifatnya)


Yang harus diperhatikan ketika membaca huruf Fa :
 Diucapkan disertai keluar / mengalirkan nafas (hams)
 Ketika sukun atau bertasydid suaranya mengalir (rakhawah)\

LATIHAN

Paraf Paraf Nilai


Pementor Mahasiswa

‫ب‬
2. Ba ( )
Makhrajnya : Keluar dari bagian dalam dengan ujung gigi depan bagian atas.

Cara pengucapannya (sifatnya)


Yang harus diperhatikan ketika membaca huruf Ba :
 Diucapkan tanpa keluar nafas / menahan mengalirnya nafas (jahr)
 Ketika sukun atau bertasydid suaranya memantul (qalqalah)
 Ketika bertasydid suaranya tertahan (syiddah)

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 81


LATIHAN

Paraf Paraf Nilai


Pementor Mahasiswa

3. Ma ( ) ‫م‬
Makhrajnya : Keluar dari dua bibir dengan cara menempelkan / merapatkan dua bibir (bibir
dalam keadaan tertutup)

Cara pengucapannya (sifatnya)


Yang harus diperhatikan ketika membaca huruf Ma :
 Diucapkan tanpa keluar nafas / menahan mengalirnya nafas (jahr)
 Ketika sukun suaranya antara tertahan dan mengalir (tawassuth)
 Ketika bertasydid mendengung 2 harakat (ghunnah)

LATIHAN

Paraf Paraf Nilai


Pementor Mahasiswa

4. Wa ( ‫)و‬
[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 82
Makhrajnya : Keluar dari dua bibir dengan cara mengumpulkan / memonyongkan dua bibir
(bibir dalam keadaan terbuka)

Cara pengucapannya (sifatnya)


Yang harus diperhatikan ketika membaca huruf Wa :
 Diucapkan tanpa keluar nafas / menahan mengalirnya nafas (jahr)
 Ketika sukun atau bertasydid suaranya mengalir (rakhawah)

LATIHAN MEMBACA HURUF HIJAIYAH

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 83


[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 84
KLASIFIKASI SIFAT HURUF

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 85


[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 86
ISTILAH-ISTILAH
DALAM BACAAN PANJANG (MAD) 2 HARAKAT

MAD ASLI
Kaidah Praktis
Mad Asli / Thobi’I adalah : huruf mad yang tidak bertemu hamzah, sukun atau tasydid.
Contoh :

Lama Bacaannya
Mad Asli / Thabi’I dibaca panjang 2 harakat, cara membacanya “ diaayun aajah”

MAD BADAL
Kaidah Praktis
Mad Badal adalah : Hamzah / alif berharakat bertemu huruf mad

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 87


Lama Bacaannya
Mad Badal dibaca panjang 2 harakat, cara membacanya “diaayun aajah”

Catatan :
Huruf Alif pada contoh aamanuu, Ya pada contoh iimaanaa dan Waw pada contoh uutiya di
atas adalah sebagai pengganti (badal) dari hamzah sakinah.

Berikut adalah contoh perbedaan bacaan sebelum dan sesudah di Badal

MAD IWADH
Kaidah Praktis
Mad Iwadh adalah : Mad yang terjadi ketika waqaf pada huruf ber-Tanwin AN
Contoh :

Lama Bacaannya
Mad Iwad dibaca panjang 2 harakat. Cara membacanya “diaayun aajah”
Contoh :

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 88


Pengecualian!
Tidak Terjadi Mad Iwadh ketika Waqaf pada Ta Marbuthah (Jika berhenti berubah menjadi
huruf Ha Sakinah)

MAD SHILAH QASHIRAH


Kaidah Praktisnya :
Mad ShiIah Qashirah adalah: Ha Dhamir yang terletak di antara 2 huruf hidup (berharakat)
bertemu dengan huruf selain huruf Hamzah /Alif berharakat ketika bacaan Washal.

Lama Bacaannya
Mad ShiIah Qashirah dibaca panjang 2 harakat. Cara membacanya “Diaayun aajah”\

Pengecualian !

1. Ha Dhamir pada kata Yardhahu yang terdapat pada QS (39) Az Zumar: 7 dibaca pendek
walaupun terletak diantara 2 huruf hidup.
Contoh :

2. Ha Dhamir pada kata arjih yang terdapat pada QS. (7) Al A’raf: 111 dan QS (26) Asy
Syu’ara: 36 dibaca dengan cara disukunkan walaupun terletak diantara 2 huruf hidup.
Contoh :

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 89


1. Ha Dhamir pada kata Fiihii yang terdapat pada QS (25) Al Furqan: 69 dibaca panjang 2
harakat walaupun sebelumnya didahului huruf Sakinah.

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 90


MAD TAMKIN

Kaidah Praktis
Mad Tamkin adalah : Ya ber-Tasydid berharakat kasrah bertemu ya sakinah
Contoh :

Lama Bacaannya
Mad Tamkin dibaca panjang 2 harakat. Cara membacanya “diaayun aajah”
Catatan :
Istilah Mad Tamkin ditujukan juga pada bacaan panjang yang terjadi pada Waw sukun (huruf
mad) bertemu Wau atau terjadi pada Ya sukun (huruf mad) bertemu Ya

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 91


MAD THABI’I HARFI

Kaidah praktisnya :

Mad Thabi’i Harfi adalah : Huruf Mad yang tidak bertemu Hamzah, Sukun, atau Tasydid
yang terjadi pada huruf Fawaatihussuwar / muqaththa’ah tanpa tanda Alis

Lama Bacaannya :
Mad Thabi’i Harfi dibaca panjang 2 harakat, cara membacanya “Diaayun aajah”

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 92


ISTILAH-ISTILAH
DALAM BACAAN PANJANG (MAD)
4-6 HARAKAT

MAD WAJIB MUTTASHIL

Kaidah Praktis
Mad Wajib Muttashil adalah : Huruf Mad (Biasanya) bertanda Alis bertemu hamzah dalam
satu kata.
Contoh :

Lama bacaannya
Mad Wajib Muttashil dibaca panjang 4 atau 5 harakat, cara membacanya “Lamaaaa-in aajah”

Catatan :
Ketika bacaan waqaf dan hamzahnya terletak diujung kata maka Mad Wajib Muttashil dibaca
panjang 6 harakat.
Contoh :

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 93


MAD LAZIM MUTSAQQAL KALIMI

Kaidah Praktis
Mad lazim mutsaqqal kalimi adalah : Huruf Mad (Biasanya) bertanda Alis bertemu tasydid
Contoh :

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 94


Paraf Paraf Nilai
Pementor Mahasiswa

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 95


Thaharah
Wudhu, Tayamum dan Mandi
A. Wudhu

Firman Allah SWT:

ِ‫ق‬ِِ ‫ٱغ ِسلُوِاْ ِ ُو ُجوه ُك ۡم ِوأ ۡيدِي ُك ۡم ِ ِإلى ِ ۡٱلمرا ِف‬ ۡ ِ‫صل َٰو ِِة ِف‬َ ‫َٰ ٓيأيُّها ِٱلَذِينِ ِءامنُ ٓواْ ِ ِإذا ِقُمۡ ت ُ ۡم ِ ِإلى ِٱل‬
ِ‫ٱط َه ُروِاْ ِو ِإنِ ُكنتُمِ َم ۡرض َٰ ٓى‬َ ِ‫ن ِو ِإنِ ُكنت ُ ۡم ِ ُجنُبٗ اِف‬ ِِ ‫وِ ۡٱمس ُحوِاْ ِ ِب ُر ُءو ِس ُك ۡم ِوأ ۡر ُجل ُك ۡم ِ ِإلىِ ۡٱلكعۡ ب ۡي‬
ِ ِ ‫ط ِأ ۡو َِٰلم ۡست ُ ُم‬
ِْ‫ٱلنسآءِ ِفل ۡم ِت ِجدُواْ ِما ٓ ٗء ِفتي َم ُموا‬ ِِ ‫ِمن ِ ۡٱلغا ٓ ِئ‬ ِ ‫ِمن ُكم‬ ِ ٞ‫أ ۡو ِعل َٰى ِسف ٍر ِأ ۡو ِجآء ِأحد‬
ِ‫ِم ۡن ِحر ٖج‬ ِ ‫ٱّللُ ِ ِلي ۡجعل ِعِل ۡي ُكم‬َِ ِ ُ ‫ِم ۡنهُ ِما ِيُ ِريد‬ِ ‫ص ِعيدٗا ِط ِيبٗ ا ِفِٱمۡ س ُحوِاْ ِ ِب ُو ُجو ِه ُك ۡم ِوأ ۡيدِي ُكم‬
ِ ِ٦ِ‫وَِٰل ِكنِيُ ِريد ُِ ِليُط ِهر ُك ۡمِو ِليُتِ َمِنِعۡ مت ِهۥُِعل ۡي ُك ۡمِلعلَ ُك ۡمِت ۡش ُك ُرون‬
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah
mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu
sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit
atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh
perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik
(bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan
kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu,
supaya kamu bersyukur”. (QS.5 : ayat 6)

Sabda Rasulallah SAW:

)‫رواه البخا ري ومسلم ابو داود و الترمذى‬ َ ‫صالَةَ ا َ َح ُد ُك ْم اِذَا ا َ ْحد‬


َّ ‫َث َحتَى يَت َ َو‬
( ‫ضاء‬ َ ُ‫الَ يَ ْقبَ ُل هللا‬
"Allah tidak menerima shalat salah seorang diantarmu bila ia berhadats, sampai ia berwudlu
terlebih dahulu (HR. Bukhari dan Muslim, Abu Daud dan at-Tirmidz)

1). Rukun Wudhu

Rukun wudhu ada enam; pertama, niat. Berdasarkan sabda Rasulullah SAW:

ِ‫ت‬ ِ ْ ِ‫اِنَما‬
ِ ‫اَّلعْمالُِ ِبالنِيا‬
artinya:“bahwa segala perbuatan tergantung pada niat”. Menurut Imam as-Syafi’i
hadits di atas memiliki makna bahwa “Sahnya suatu perbuatan disertai dengan niat”.
Karenanya rukun wudhu menurut Imam as-Syafi’i ada 6 (enam).

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 96


Waktunya niat yang diwajibkan adalah ketika pertama kali membasuh sebagian dari
wajah atau muka1.Sebab membasuh muka merupakan permulaan ibadah yang wajib. Berikut
sunnah dan rukun wudhu:

a). Do’a sebelum berwudlu

ِ ِ‫ض ُر ْون‬ ِِ ِ‫ع ْوذُبِكِر‬


ُ ‫بِا ْنِيِ ْح‬ ُ ‫اطي ِْنِوا‬
ِ ‫شي‬ ِ ‫ع ْوذُبِك‬
َ ‫ِم ْنِهمزاتِِال‬ ُ ‫بِا‬
ِ ‫ر‬
“ Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan setan-setan, dan aku berlindung
kepada-Mu dari kehadiran mereka”.
b). Do’a mencuci telapak tangan

Pada saat mencuci telapak tangan ucapkan Bismillah sambil membaca do’a membasuh
telapak tangan yaitu:

ِ‫شؤْ ِمِو ِْالهلك ِة‬ ُ ‫ِاليُ ْمنِو ْالبركةِوا‬


ُّ ‫ع ْوذُِِبكِ ِِمنِال‬ ْ ‫اللَ ُه َمِا ِِن ْيِا ْسالُك‬

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu keberuntungan dan keberkatan, dan aku
berlindung kepada-Mu dari kesialan dan kebinasaan”.

c). Do’a berkumur

Berkumurlah untuk membersihkan sisa-sisa makanan yang tertinggal dimulut, sambil


memasukkan telunjuk tangan ke dalam mulut untuk membersihkannya sebanyak 3x

‫ت فِى اْل َحيَا ِة ال ُّد ْن َيا‬ ِ ‫علَى تِ َال َو ِة ِكتَا ِبكَ َو َكثْ َر ِة‬
ِ ِ‫الذ ْك ِر لَكَ َوث َ ِبتْنِ ْي ب ِا ْلقَ ْو ِل الثَّاب‬ َ ‫اَللَّ ُه َّم ا َ ِعنِ ْي‬
‫َو ْاالَ ِخ َر ِة‬
“Ya Allah, tolonglah aku sehingga aku bisa membaca kitab-Mu (al-Qur’an) dan bisa
banyak mengingat-Mu, teguhkanlah aku dengan kata-kata yang kukuh di dunia dan di akhirat”

d). Do’a membersihkan lubang hidung

Abdurrahman Al Jaziri, Al Fiqh ‘Ala Al Mazahib Al Arbaah, (Cairo : Mathba’ah Al Istiqomah, tt), Prof. H.
1

Chotibul Umam, Fiqih Empat Madzhab (Darul Ulum Press) hal. 99

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 97


Disunnahkan membersihkan lubang hidung dengan sedikit menghirup air, kemudian
keluarkan dengan cara menyemprotkannya dengan hidung. Sebanyak 3x sambil berdo’a
menghirup air ke hidung.

ُ‫اللَّ ُه َّم ا َ ِر ْحنِ ْي َرائِ َحةَ ا ْل َجنَّة‬

“ Ya Allah, peliharalah hidungku dengan wewangian surga”.


Mengeluarkan air dari hidung:

‫اَللَّ ُه َّم اِنِ ْي اَع ُْوذُ ِبكَ ِم ْن َر َوائِحِ النَّ ِار‬


“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dari baunya neraka”.

Kemudian membaca niat wudhu, adapun niat wudhu menurut para ahli fiqih adalah:

‫صغَ ِر فَ ْرضًا ِِلِ تَعَالَى‬ ِ ‫نَ َويْتُ ا ْل ُوض ُْو َء ِل َر ْف ِع ا ْل َح َد‬


ْ َ‫ث اْال‬
Artinya :”Niat aku berwudhu untuk menghilangkan hadast kecil fardhu karena Allah
Taala”2

Niat disertai dengan tujuan untuk menghilangkan hadast atau bersuci dari hadast. Niat
agar diperbolehkan mengerjakan shalat, dan yang lainnya yang tidak boleh dikerjakan kecuali
dengan bersuci, niat juga merupakan fardhunya wudhu.

Kedua adalah membasuh muka atau wajah.Dalam ayat di atas “Apabila kamu hendak
mengerjakan shalat, basuhlah mukamu”.3Dalam membasuh muka diwajibkan meratakan air
dimana batas-batas muka ialah mulai dari permukaan bidang dahi hingga ujung dagu, untuk
ukuran panjang.Dan mulai dari telinga sebelah kanan sampai telinga yang kiri untuk ukuran
lebarnya.4

Do’a membasuh wajah:

ُ ‫ض َو ْج ِه ْي ِبنُ ْو ِركَ يَ ْو َم تُبَ ِي‬


َ ُ ‫ض ُو ُج ْو َه ا َ ْو ِليَائِكَ َوالَ ت‬
ْ َ ‫س ِو ُد َو ْج ِه ْي يَ ْو َم ت‬
‫س َو ُّد‬ ْ ‫اَللَّ ُه َّم بَ ِي‬
َ‫ُو ُج ْو َه ا َ ْعدَائِك‬
2
Ibid.,hal. 105
3
Qs.al-Maidah: 6
4
Ibid., hal. 106

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 98


“Ya Allah, cerahkanlah wajahku dengan cahaya-Mu pada hari ketika Engkau
mencerahkan wajah-wajah para wali-Mu, dan janganlah hitamkan wajahku pada hari ketika
Engkau menghitamkan wajah-wajah para musuh-Mu”

Ketiga adalah membasuh kedua tangan sampai siku, “dan hendaknya kamu membasuh
kedua tanganmu beserta sikunya”.5Bagian siku adalah bagian yang harus dibasuh masing-
masing tiga kali.

Do’a ketika membasuh tangan kanan:

‫س ْي ًرا‬
ِ َّ‫سابًا ي‬ ِ ‫اَللَّ ُه َّم اَع ِْط ِن ْي ِكتَابِ ْي بِيَ ِم ْي ِن ْي َو َحا‬
َ ‫س ْبنِ ْي ِح‬
“Ya Allah, berikanlah catatan amalku pada tanagn kananku dan hisablah aku dengan
ringan”

Do’a ketika membasuh tangan kiri:

ِ ‫اَللَّ ُه َّم اِنِ ْي اَع ُْوذُ ِبكَ ا َ ْن ت ُ ْع ِطيَنِ ْي ِكتَابِ ْي ِب‬


‫ش َما ِل ْي ا َ ْو ِم ْن َو َرا ِء َظ ْه ِر ْي‬
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari diberi catatan amal pada tanagn kiriku atau
dibelakang punggungku”.

Keempat adalah mengusap sebagian kepala. Allah berfirman yang artinya “hendaklah
kamu mengusap kepalamu”

Untuk mengusap kepala, cukup menggunakan kedua telapak tangan yang basah
kemudian membasuhnya, tapi tidak ada salahnya bila diusap itu hanya sebagian saja, sambil
berdoa:

ِ ‫علَ َّي ِم ْن بَ َركَاتِكَ َوا َ ِظلَّنِ ْي ت َ ْحتَ ِظ ِل ع َْر‬


َّ‫شكَ يَ ْو َم الَ ِظ َّل اِال‬ َ ‫شنِ ْي ِب َر ْح َمتِكَ َوا َ ْن ِز ْل‬
ِ ‫غ‬ َ ‫اَللَّ ُه َّم‬
‫علَ َى النَّ ِار‬
َ ‫ش ْع ِر ْي َوبَش َِر ْي‬ َ ‫ِظلُّكَ َو َح ِر ْم‬
“ Ya Allah, lindungilah aku dengan rahmat-Mu, turunkanlah kepadaku keberkatan-Mu,
dan tempatkanlah aku dibawah lindungan arsy-Mu pada hari ketika tiada naungan, kecuali
naungan-Mu. Ya Allah, haramkanlah rambut dan dagingku dari neraka”.

Kelima adalah membasuh kedua kaki beserta mata kakinya. Sebagaimana firman Allah
SWT yang artinya “dan hendaklah kamu membasuh kedua kakimu sampai dengan kedua mata
5
Qs. Al-Maidah:6

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 99


kaki”. Maksudnya membasuh ujung kedua kaki sampai mata kaki, mata kaki termasuk yang
dibasahi masing-masing 3x.

Do’a membasuh kaki kanan:

َّ ‫ست َ ِق ْي ِم َم َع ا َ ْقد َِام ِعبا َ ِدكَ ال‬


‫صا ِل ِح ْي َن‬ ْ ‫اط ال ُم‬
ِ ‫الص َر‬ َ ‫اَللَّ ُه َّم ث َ ِبتْ قَد َِم ْي‬
ِ ‫علَى‬

“ Ya Allah, kukuhkanlah kakiku di jalan yang lurus bersama-sama dengan kaki hamba-
hamba-Mu yang shaleh”.

Do’a membasuh kaki kiri:

‫فى النَّ ِار يَ ْو َم ت َ ِز ُّل ا َ ْقد َِم‬


ِ ‫اط‬ َ ‫اَللَّ ُه َّم اِنِ ْي اَع ُْوذُبِكَ ا َ ْن ت َ ِز َّل قَد َِم ْي‬
ِ ‫علَى‬
ِ ‫الص َر‬
‫ا ْل ُمنَا ِف ِق ْي َن َوا ْل ُمش ِْر ِك ْي َن‬
“ Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari tergelincirnya di jalan penyebrangan ke
dalam neraka pada hari ketika Engkau menggelincirkan kaki orang-orang munafik dan orang
musyrik”.

Keenam adalah tertib yaitu melaksanakan proses wudhu sesuai dengan urutan rukun
yang telah ditetapkan. Semua urutan rukun wudhu harus terpenuhi, apabila salah satu tidak
dikerjakan, maka wudhunya tidak sah, dicontohkan Rasulullah SAW.

Do’a setelah wudhu:

‫س ْولُهُ اَلل ُه َّم‬ َ ‫ا َ َّن ُم َح َّمدًا‬


ُ ‫ع ْب ُد ُه َو َر‬ ‫ش َه ُد‬ ْ َ ‫ش َه ُد ا َ ْن آلاِلَهَ اِالَّهللاُ َو ْح َد ُه الَش َِر ْيكَ َلهُ َوا‬ ْ َ‫ا‬
َّ ‫اجعَلنِ ْي ِم ْن ِعبَا ِدكَ ا ْل‬
‫صا ِل ِح ْي َن‬ ْ ‫َو‬ ‫ط ِه َر ْي َن‬َ َ ‫اجعَ ْلنِ ْي ِم َن ا ْل ُمت‬ ْ ‫اجعَ ْلنِ ْي ِم َن الت َّ َّوابِ ْي َن َو‬ ْ
َ‫ب اِلَ ْيك‬
ُ ‫ست َ ْغ ِف ُركَ َواَت ُ ْو‬ْ َ ‫س ْب َحانَكَ اَللَّ ُه َّم َوبِ َح ْم ِدكَ ا‬ ُ
“aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah SWT Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-
Nya. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad SAW adalah hamba dan utusan-Nya. Ya Allah
jadikanlah aku golongan orang yang bertaubat, golongan orang yang suci dan jadikanlah aku
golongan hamba-hamba-Mu yang shaleh, Maha Suci Engkau wahai Tuhanku serta dengan
memuji-Mu aku memohon ampunan dari Engkau dan aku bertobat pada Engkau dari dosaku”

2). Perkara-Perkara yang membatalkan wudhu:

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 100


a. Sesuatu yang keluar dari salah satu dari dua jalan kotoran
b. Menyentuh kemaluan laki-laki atau kemaluan perempuan
c. Bersentuhan kulit antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram
d. Tidur yang tidak menetap posisinya orang yang menetap duduknya di atas bumi atau tanah
e. Hilang akal atau gila

A. Tayamum

ِ‫مِمن ِٱ ۡلغآئِ ِط‬ ِ ‫ِمن ُك‬ ِ ٞ‫ٱط َه ُرواْ ِو ِإن ِ ُكنتُمِ َم ۡرض َٰ ٓى ِأوِۡ ِعلِ َٰى ِسِف ٍر ِأ ۡو ِجِآء ِأحد‬ َ ‫و ِإنِ ُكنت ُ ۡم ِ ُجنُبٗ اِف‬
ِ ‫أ ۡو َِٰلم ۡست ُ ُم ِٱلنِسآء ِفل ۡم ِت ِجدُواْ ِما ٓ ٗء ِفتي َم ُموِاْ ِصِ ِعيدٗ ا ِط ِيبٗ اِفِٱمۡ س ُحواْ ِ ِب ُو ُجو ِه ُك ۡم ِوِأ ۡيدِي ُك‬
ُِ‫مِم ۡنه‬
ِ‫ِم ۡن ِحر ٖج ِو َٰل ِكن ِيُ ِِري ِد ُ ِ ِليُطِ ِهر ُك ۡم ِوِ ِليُتِ َم ِنِعۡ مت ۥهُ ِعلِ ۡي ُك ۡم ِلعلَ ُك ۡم‬
ِ ‫ُِٱّللُ ِ ِلي ۡجعل ِعل ۡي ُِكم‬
َ ‫ما ِيُ ِريد‬
ِ ِ٦ِ‫ت ۡش ُك ُرون‬
“….dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau
kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak
memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah
mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia
hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu
bersyukur6

Tayamum menurut bahasa adalah al qashd (niat).Al Qashd menjadi syarat dalam
tayamum, sebab ia adalah niat yaitu qashd menggunakan debu yang suci dengan sifat yang
tertentu untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Berdasarkan ayat di atas, Imam Hanafi
mendefinisikan tayamum dengan mengusap muka dan dua tangan dengan debu yang suci.
Imam Maliki mendefinisikan tayamum sebagai satu bentuk cara bersuci dengan menggunakan
debu yang suci dan digunakannya untuk mengusap muka dan dua tangan dengan niat. Imam
Syafi’i mendefinisikan tayamum sebagai mengusap debu ke wajah dan kedua tangan sebagai
ganti wudhu, mandi atau salah satu anggota dari keduanya dengan syarat-syarat yang tertentu.
Imam Hambali mendefinisikan tayamum sebagai mengusap muka dan kedua tangan dengan
debu yang suci dengan cara tertentu.7
Tayamum adalah salah satu ciri umat Islam yang disyariatkan pada waktu peperangan
Bani Al Musthaliq (peperangan al-muraisi) yaitu pada tahun ke 6 hijriyah ketika Sayyidatina

6
Qs. Al-Maidah: 6
7
Prof. Dr. Wahbah Az- Zuhaili, Fiqih Islam Wa Adillatuhu, (Jakarta : Darul fikir, 2011) hal. 55

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 101


Aisyah kehilangan kalungnya.Lalu Rasulullah SAW memerintahkan para sahabat
mencarinya.Kemudian masuklah waktu shalat, tetapi mereka tidak mempunyai air untuk
berwudhu.Oleh karena itu turunlah ayat tayamum dan ayat yang mensucikan Aisyah dari
tuduhan dusta.8
Tayamum adalah bentuk hukum rukhsoh (keringanan) yang mayoritas ahli fiqih
mengatakan bahwa tayamum dapat menggantikan wudhu, mandi junub, mandi haid, dan
nifas.Namun para ulama selain ulama Hanafi tidak membolehkan isteri yang haid disetubuhi
oleh suaminya hingga dia berhenti haidnya dan mandi terlebih dahulu.

1. Sebab-sebab tayamum
Sebab-sebab dibolehkannya tayamum berdasarkan pendapat para ahli fiqih adalah :
a. Tidak adanya air (air tidak mencukupi untuk wudhu ataupun mandi)
b. Tidak ada kemampuan untuk menggunakan air (lemah)
c. Sakit atau lambat untuk sembuh
d. Ada air, tetapi ia diperlukan untuk sekarang ataupun untuk masa yang akan datang
e. Khawatir hartanya rusak jika dia mencari air (karena rasa takut)
f. Iklim yang sangat dingin atau air menjadi sangat dingin
g. Tidak ada alat untuk mengambil air seperti tidak ada timba atau tali
h. Khawatir terlewat waktu shalat

2. Syarat Tayamum
a. Masuk waktu shalat
b. Sudah dipastikan tidak ada air

3. Rukun-Rukun Tayamum
a. Niat ketika mengusap muka

‫صالَ ِة فَ ْرضًا ِِلِ ت َعالَى‬ ْ ‫نَ َويْتُ الت َّ َي ُّم َم ِ ِال‬


َّ ‫س ِت َبا َح ِة ال‬
Artinya :“Niat aku bertayammum untuk melaksanakan solat fardu karena Allah Ta’ala”9

b. Mengusap muka dan kedua tangan serta meratakannya

8
Ibid., hal. 60
9
Ibid., hal.74

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 102


c. Tertib
d. Al Muwaalaat (kontinu/tidak terputus)
e. Debu yang suci
Menurut Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali rukun tayamum sepakat ada 5 (lima);
pertama, niat, kedua, pukulan pertama meletakkan 2 telapak tangan ke tanah dan pukulan
kedua sunnah, ketiga, mengusap wajah dan kedua tangan sampai siku, keempat
menggunakan tanah yang suci, kelima, al-Muwaalaat.10

4. Perkara yang membatalkan tayamum

Adapun hal-hal yang membatalkan tayamum pertama, setiap perkara yang


membatalkan wudhu dan mandi adalah membatalkan tayamum, karena tayamum adalah
pengganti keduanya. kedua, hilangnya udzur yang membolehkan dilaksanakan tayamum.
Ketiga adalah melihat air atau menemukan air dan sanggup menggunakan air yang
mencukupi.11

B. Mandi

Berdasarkan firman Allah dalam surat al-Maidah ayat 6 diatas maka mandi merupakan
proses thaharah yang bertujuan menghilangkan hadast besar sehingga dengan hilangnya hadast
besar tersebut mensyahkan seseorang untuk melaksanakan shalat wajib, shalat sunnah,
melaksanakan puasa dan amal ibadah lainnya.

Hal-hal yang mewajibkan mandi, yaitu berhubungan suami-istri, baik mengeluarkan


mani atau tidak, perempuan yang selesai dari haid, perempuan yang nifas dan wiladah
(melahirkan), dan orang kafir yang masuk Islam/muallaf.

1. Rukun mandi ada 3 perkara yaitu:


a. Niat menghilangkan najis jika ada padanya najis. Adapun niatnya adalah :

ِ ‫س َل ِل َر ْف ِع ا ْل َح َد‬
‫ث اْالَ ْكبَ ِر فَ ْرضًا ِِلِ تَعَلى‬ ْ ُ‫نَ َويْتُ ا ْلغ‬
Artinya : “Niat aku mandi untuk menghilangkan hadast besar fardu karena Allah taala”12

10
Ibid hal. 48-49
11
Ibid., hal 75
12
Ibid., hal. 78

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 103


b. Sebagaimana wudhu, niat mandi juga hukumnya wajib, dan dilafalkan pada permulaan
bagian tubuh yang dibasuh.
c. Meratakan air hingga ke pangkal-pangkal rambut sebagaimana Rasulullah SAW bersabda
“dibawah tiap-tiap rambut terdapat janabah untuk itu basahilah rambut-rambut itu dan
bersihkanlah kulit badanmu”.
d. Meratakan air hingga ke pangkal-pangkal kulit.

Adapun sunnah-sunnah mandi yaitu membaca basmalah, membasuh kedua tangan


sebelum dimasukkan ke dalam wadah air, berwudhu sebelum mandi, meratakan air keseluruh
anggota badannya dan mendahulukan yang kanan daripada yang kiri.13

SHALAT DAN MACAMNYA

Shalat secara bahasa adalah do’a sedangkan secara Syara’ adalah ucapan dan perbuatan
yang khusus, yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Shalat telah disyariatkan
dalam al-Qur’an, Sunnah dan Ijma.

13
Imam Taqiyyudin abu Bakar Bin Muhammad Al Husaini, Kifayatul Akhyar, Surabaya: Bina Iman, 2003, hal. 79

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 104


Firman Allah SWT:

14
َ ‫أ ِقي ُمواِْٱل‬
ِ‫صل َٰوة‬
ۡ ‫صل َٰوةِكان ۡتِعل‬
ِ 15 ‫ىِٱل ُم ۡؤ ِمنِينِ ِك َٰتبٗ اِ َم ۡوقُو ٗتا‬ َ ‫ِإ َنِٱل‬
As-Sunnah:

‫س ْو ُل هللاِ َواِ َق ِام‬


ُ ‫ش َها َد ِة ا َ ْن الَ اِلَهَ اِالَّ هللاً َوا َ َّن ُم َح َّمدًا َّر‬
َ :‫َلى َخ ْم ٍس‬َ ‫سالَ ُم ع‬ ْ ‫بُ ِن َي ِاال‬
‫سبِ ْيالً (حديث‬ َ ‫ست َ َطا‬
َ ‫ع اِلَ ْي ِه‬ ْ ‫ت َم ِن ا‬ِ ‫ان َو َح َّج ا ْل َب ْي‬
َ ‫ض‬َ ‫ص ْو ِم َر َم‬ َّ ‫اء‬
َ ‫الزكَا ِة َو‬ ِ َ ‫صالَ ِة َواِ ْيت‬
َّ ‫ال‬
16
) ‫ابن عمر المتفق عليه‬
Ijma: Berdasarkan firman Allah swt dan as-Sunnah di atas maka umat Islam sepakat bahwa
shalat fardhu lima waktu sehari semalam hukumnya WAJIB.

A. Shalat Fardhu

Shalat fardhu diperintahkan Allah SWT pada malam Isra sebelum hijrah, menurut
hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, An-Nasai dan at-Tirmidzi yang shahih dari Anas.
Shalat merupakan ibadah yang paling penting dalam Agama Islam, dan amalan yang pertama
kali akan dihisab pada hari kiamat nanti.

ِ‫ب‬ُ ِ‫ِقالِرسوِلِهللاِصعلمِِا َو ُل ِمِاِِيُحاِس‬:‫روىِالطبرانيِعنِعبدِهللاِبنِقرطِقال‬


ِ‫ت ِفسدسِائِ ُر‬ْ ‫ت ِصلِح ِسِائِ ُر ِعمِلُهُِوا ِْن ِفسد‬
ِْ ‫صَلةِِفا ِْن ِصلح‬ ْ ‫عل ْي ِه ِاْلع ْبد ُِي ْوم‬
َ ‫ِال ِقيام ِة ِال‬
ُ‫عملُ ِه‬
Shalat juga merupakan wasiat terahir Rasulallah SAW menjelang wafatnya:

17
ِْ ِ‫صَلِةِِاِتَقُواِهللاِفِِْيمِاِمِلِك‬
ِ‫تِاِِْيمِاِنُ ُِك ْم‬ َِ ‫صَلةِِاِل‬
َ ‫ال‬
Karenanya berdasarkan hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, Imam Muslim, dan
selain keduanya dari Jabir menyebutkan bahwa: “Perbedaan seseorang apakah ia muslim atau
kafir adalah meninggalkan shalat”.

1). Hikmah Shalat

14
Qs. Annisa:103 “Dirikanlah shalat
15 Qs. An-Nisa: 103 “ Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”.
16 Wahbah az-Zuhaily, Fiqhul ‘Ibadah, Kulliyat ad-Da’wah al-Islamiyyah, tth, hal.59 “ Islam dibangun di atas lima: Persaksian bahwa tidak ada

tuhan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa
ramadhan, menunaikan haji bagi yang mampu”.
17
Rasulallah SAW berpesan:” Shalat! Shalat! Dan takutilah Allah dalam apa yang kamu miliki” (yaitu orang-
orang yang lemah yang ada diantara kalian”.)

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 105


Hikmah Shalat dari sudut pandang agama dan sosial kemasyarakatan banyak
diantaranya; terjalinnya hubungan yang baik antara seorang hamba dengan Tuhannya sehingga
tercipta kedamaian hati seorang hamba karena keyakinan yang teguh terhadap Allah SWT akan
kehidupannya-akhirnya berpengaruh positif terhadap lingkungan sekitarnya (keluarga,
masyarakat dan dunia) serta gambaran kehidupan yang Falah (terciptanya masyarakat yang
sejahtera baik secara material maupun spiritual).

ِ ِ٢ِ‫شعُون‬
ِِ ‫ِخ‬ ۡ ‫ق ۡدِأ ۡفلح‬
َٰ ‫ٱلَذِينِهُ ۡمِفِيِصَلتِ ِه ۡم‬١ِ‫ِٱل ُم ۡؤ ِمنُون‬

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. (yaitu) orang-orang yang khusyu´


dalam Shalatnya”.

Khusyu menurut pentahqiqan adalah amalan hati. Suatu keadaan yang mempengaruhi
jiwa, lahir dan berbekas pada anggota seperti tenang dan menundukkan diri, tegasnya khusyu
adalah tunduk dan tawadhu serta berketenangan hati, dan segala angggota tunduk kepada Allah
SWT.

2). Hukum Shalat fardlu

Shalat fardhu 5 waktu sehari semalam diwajibkan bagi setiap mukallaf (baligh berakal),
diperintahkan juga pada anak-anak sebagai Tarbiyah (pendidikan dan pembiasaan) ketika
berusia 7 tahun, dan diperintahkan untuk memukulnya dengan tangan jika dalam usia 10 tahun
belum melakukan shalat.

ِ ‫علَ ْي َها ِلعَش ِْر‬


‫سنِ ْي َن‬ َ ‫ض ِربُ ْو ُه ْم‬
ْ ‫سنِ ْي َن َوا‬
ِ ‫س ْب ِع‬ َّ ‫لقوله صعلم ُم ُر ْوا ِص ْبيَانَ ُك ْم ِبال‬
َ ‫صالَ ِة ِل‬
‫اج ِع‬
18
ِ ‫ض‬ َ ‫َوفَ ِرقُ ْوا بَ ْينَ ُه ْم فِى اْل َم‬
Tidak mewajibkan selain shalat yang lima waktu sehari semalam kecuali nadzar berdasarkan
hadits al-A’rabiy: ”apakah ada kewajiban atasku selain yang lima waktu? Rasulallah SAW
menjawab; tidak, kecuali Thatawwu’ (Sunnah). Dan hadits Ibnu Abbas al-muttafaq ‘alaih
Rasullah SAW bersabda kepada Mu’adz ketika ia diutus ke Yaman:

‫ت فِى ك ُِل يَ ْو ٍم َولَ ْيلَ ٍة‬


ٍ ‫صلَ َوا‬ َ ‫علَ ْي ِه ْم َخ ْم‬
َ ‫س‬ َ ‫ا َ ْخبِ ْر ُه ْم ا َ َّن هللاَ تَعَالَى قَ ْد فَ َر‬
َ ‫ض‬

18Perintahkanlah anak-anakmu shalat bila telah berumur 7 tahun dan pukullah mereka jika mereka tidak melaksanakan shalat apabila
berumur 10 tahun, dan pisahkanlah diantara mereka tempat tidurnya (Hadits riwayat Ahmad, Abu Daud, dan Hakim dari Ibnu Umar,
menurut Asy-Suyuthi hadits ini bersanad Shahih)

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 106


“Beritahukanlah kepada mereka sesungguhnya Allah SWT telah memfardlukan atas mereka
shalat lima waktu sehari semalam”.

Berdasarkan firman Allah SWT, sabda Rasullah SAW dan Ijma, maka kaum muslimin
sepakat Hukum meninggalkan Shalat 5 waktu sehari semalam adalah kafir berdasarkan dalil-
dalil yang qath’i diatas. Sedangkan bagi seorang muslim yang meninggalkan shalat karena
malas, menunda-nunda dan tidak menyegerakan untuk menunaikan shalat berbeda-beda,
menurut Wahbah az-Zuhaily mereka fasiq ‘ash19. Imam Hanifah menyebut orang muslim
yang meninggalkan shalat karena malas dengan sebutan fasiq dan harus dipukul dengan
pukulan yang keras hingga ia shalat dan bertobat atau mati dipenjara dalam Neraka.20

Hukuman di dunia bagi orang yang meninggalkan shalat menurut Imam Malik, Syafi’i
dan Ahmad tidak dihukumi kafir tapi dia dikenai hukuman yang sama seperti zina, qadzaf,
mencuri dan dosa besar lainnya, karena meninggalkannya (shalat) berarti ia telah berbuat
ma’siyat (dosa)21

Allah SWT memberikan sebutan munafik22 bagi seorang muslim yang berdiri untuk
shalat dengan malas dan riya. Sedangkan balasan di akhirat bagi orang yang meninggalkan
shalat adalah neraka jahannam, Allah SWT berfirman23

ۡ ‫ِمن‬
ِ ِ٤٣ِِ‫ِٱل ُمص ِلين‬ ِ ُ‫ِقالُواِْل ۡمِنك‬٤٢ِ‫ِماِسلك ُك ۡمِ ِفيِسقر‬
“Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar? Mereka menjawab, “Kami dahulu tidak
termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat.

3). Waktu-waktu Shalat Fardhu

ۡ ‫ن ِقُ ۡرءان‬
ِ‫ِٱلف ۡج ِر ِكان‬ ِۡ ‫ق ِٱلَ ۡي ِل ِوِقُ ۡرءِان‬
َِ ‫ِٱلف ۡج ۖ ِر ِ ِإ‬ ِ ‫ش ۡم ِس ِ ِإل َٰى ِغس‬ ِ ُ‫صل َٰوة ِ ِلدُل‬
َ ‫وك ِٱل‬ َ ‫أقِ ِم ِٱل‬
ِ‫م ۡش ُهودٗ ا‬

19 Wahbah Az-Zuhaily, Fiqhul ‘Ibadah, Kuliyyat ad-Da’wah al-Islamiyyah, tth: 61


20
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik itu, bagi siapa yang
dikehendaki-Nya. Barangsiapa mempersekutukan Allah, sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (Qs.4:48)
21 Wahbah Az-Zuhaily, hal. 62
22 Qs. An-Nisa: 142
23 Qs. Al-Muddatsir: 42-43

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 107


“ Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah
pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan oleh para malaikat.

Ayat diatas dijelaskan oleh hadits Jabir bin Abdullah yang dikeluarkan oleh Imam
Ahmad, An-Nasai dan at-Tirmidzi sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Bukhari” ِ ‫ِاصح‬
ِِ‫ شيءفيِالمواقيت‬bahwa riwayat ini paling shahih di dalamnya terkandung waktu-waktu shalat
yaitu; Pertama. Waktu shalat Subuh, dimulai dari munculnya fajar shadiq dan diakhiri hingga
terbit matahari. Kedua. Waktu shalat Dzuhur, ‫ اقم ِالصَلة ِ ِلدلوك ِالشمس‬, waktunya dari
tergelincirnya matahari hingga bayangan semua benda sama panjang dengan aslinya. Ketiga..
Waktu shalat Ashar, dimulai dari saat bayangan semua benda sama panjang dengan aslinya
ْ ِ‫ِنِِتِرِكِِصَِلِةِِِاِْلع‬
hingga terbenamnya matahari.ِِ‫ِر‬
ِ‫ص‬ ْ ‫م‬, 24‫حافظواِعلىِالصلواتِوالصَلةِالوسطىِوقومواِهللِقانتين‬
”.barangsiapa meninggalkan shalat ashar, maka terhapuslah amalannya“25ُ‫ِط ِعِمِِلُ ِه‬
ِ ‫فِقِدِْ ِحِ ِب‬
Keempat. Waktu shalat Maghrib, ( ‫ )وقتِالمغربِماِلمِيغبِالشفق‬hadits tersebut diriwayatkan oleh
Imam Muslim dari Abdullah bin ‘Umar.Waktu shalat Maghrib dimulai dari terbenamnya
matahari hingga hilangnya warna kemerah-merahan pada senja. Kelima. Waktu shalat ‘Isya,
waktunya dari hilangnya merah senja hingga pertengahan malam.

4). Keutamaan Waktu Shalat fardhu

a). Shalat awal waktu

Keutamaan waktu shalat secara mutlak baik karena dzahirnya atau selainnya, sendiri
atau berjamaah dalam kondisi panas atau sebaliknya melaksanakannya termasuk dalam
keridlaan Allah SWT. Sebagaimana sabda Rasul SAW. ketika seseorang bertanya kepadanya
yang diriwayatkan oleh Daru Quthniy dari Ibnu Umar:

‫لِوِِْقتِِهِا‬ َِ ‫صَلِ ِة ُِعِلِىِوِِْقتِِهِاِاِ ِْوِاِل‬


ِِ ‫صَلِِة ُِف‬
ِِ ‫ىِاِ َِو‬ ُِ ِ‫يِِاْلعِم‬
َِ ‫لِاِحِبُِِّاِِلىِِهللا؟ِقِالِِال‬ ُِّ ِ‫ِا‬
“Amal apa yang paling dicintai Allah SWT? Rasul bersabda: Shalat tepat pada waktunya atau

shalat di awal waktu)”.

Allah SWT berfirman:

24
Peliharalah segala shalat (mu), dan (peliharalah) shalat wustha. Berdirilah karena Allah (dalam
shalatmu)dengan khusyuk (Qs.al-Baqarah:238)
25
Shahih: Shahih Sunan an-Nasai no. 497, Shahih al-Bukhari (Fathul Baari (II/31. No.553, dan Sunan an-Nasai
(I/236)

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 108


ۡ ‫صل َٰوةِكان ۡتِعل‬
ِ ً ‫ىِٱل ُم ۡؤ ِمنِينِ ِك َٰتبِا ًِ َم ۡوقُوتِا‬ َ ‫إِ َنِٱل‬
“Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang
beriman”.

Dalam suatu riwayat Siti Aisyah ra, menceritakan bahwa ketika ia membaca surat al-
Baqarah ayat 153 tentang perintah agar meminta pertolongan kepada Allah SWT dengan sabar
dan shalat, Siti Aisyah ra bertanya apa maksud ayat ini? shalat disini shalat apa ya Rasulallah?
Rasul SAW menjawab shalat disini adalah ashalatu al-maktubah yaitu shalat yang difardhukan
lima waktu sehari semalam.

Rasulallah SAW menjelaskan kepada Siti Aisyah ra tentang keistimewaan dalam shalat
fardhu; 1).Mardhatullah/ ridwanullah, Aisyah ra bertanya apa yang dimaksud dengan
mardhatullah ya Rasulallah SAW?, Rasul SAW menjawab, apabila ia berdo’a kepada Allah
SWT maka setiap do’a yang ia panjatkan dikabulkan oleh Allah SWT, Aisyah ra bertanya,
siapakah mereka Ya Rasulallah SAW? Rasul SAW bersabda yaitu mereka yang shalat tepat
pada waktunya (awal waktu). 2). Maghfiratullah, apabila ia berdo’a maka hanya do’a untuk
dirinya saja yang didengar oleh Allah SWT sedangkan yang lainnya tidak, dan hanya dosa-
dosa kecilnya saja yang diampuni sedangkan dosa yang besar tidak diampuni. Aisyah ra
bertanya, siapakah mereka Ya Rasulallah SAW,?Rasul SAW menjawab yaitu mereka yang
suka menunda-nunda waktu shalat. 3). ‘Afwullah, orang yang tidak mendapat apa-apa dari
shalatnya kecuali sekedar maaf dari Allah SWT. Siapakah mereka ya Rasulullah SAW tanya
Aisyah ra. Rasulallah SAW menjawab mereka adalah golongan orang yang shalat di akhir
waktu.

Dalam hadits yang sama tentang keistimewaan shalat fardhu, Daruquthniy dari Jariir
Rasulallah SAW. bersabda “Awal waktu itu ridwanullah dan akhir waktu itu ‘afwullah,
demikian juga hadits yang diriwayatkan oleh al-Bayhaqi dari Ibnu Umar dengan lafadzh “

‫الوقتِاَّلولِمنِصَلةِرضوانِهللاِوالوقتِاَّلخيرِعفوهللا‬
Dalam satu riwayat dijelaskan bahwa:
“Ibnu Mas’ud ra berkata; saya bertanya kepada Nabi SAW apakah amal perbuatan
yang utama?Jawab Nabi SAW, shalat pada waktunya yang tepat, saya bertanya; kemudian
apakah?Jawab Nabi SAW berbakti pada kedua orang tua. Kemudian apakah?Jawab Nabi
SAW berjuang untuk menegakkan agama Allah SWT”.(HR.Bukhari dan Muslim)

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 109


b). Shalat berjama’ah

Keutamaan shalat selain awal waktu juga shalat berjama’ah “ Shalat berjama’ah itu
lebih baik dibanding shalat sendirian dengan perbedaan 27 derajat”.26 Dalam al-Qur’an
surat al-Baqarah ayat 43, Allah SWT memerintahkan “Dirikanlah shalat, bayarlah zakat serta
ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’”. Muqatil dalam tafsir Ismail Ibnu Katsir
berpendapat, Allah SWT memerintahkan kepada mereka untuk shalat bersama Rasulallah
SAW, dan ruku’ beserta orang-orang yang ruku’ (berjama’ah) yaitu dari ummat Muhammad
SAW, yang intinya jadilah kamu beserta mereka dan termasuk dari golongan mereka.

Rasulallah SAW. bersabda yang diterima oleh Ibnu Mas’ud:

“Ibnu Mas’ud ra, berkata; siapa yang ingin bertemu Allah SWT sebagai seorang
muslim harus menjaga benar-benar shalat pada waktunya ketika terdengar adzan. Maka
sesungguhnya Allah telah mensyariatkan (mengajarkan) kepada Nabi SAW beberapa kelakuan
hidayat, dan menjaga shalat itu termasuk dari sunanul huda, kelakuan-kelakuan hidayat.
Andaikan kamu shalat di rumah sebagai kebiasaan orang yang tidak suka berjama’ah berarti
kamu meninggalkan sunnah Nabi mu, dan bila kamu meninggalkan sunnah Nabi mu pasti
kamu tersesat. Sungguh dahulu pada masa Nabi SAW tiada seorang tertinggal dari shalat
berjama’ah kecuali orang munafik yang terang-terang nifak. Sungguh adakalanya seorang itu
dihantar ke masjid didukung oleh dua orang kanan kirinya untuk ditegakkan dibarisan saff”
.(HR.Muslim)
Dalam shalat berjama’ah ada imam (pemimpin), Rasulallah SAW bersabda” jika
mereka bertiga, maka hendaklah salah seorang tampil menjadi imam, sedang yang lebih
berhak menjadi imam itu adalah yang terpandai dalam bacaan al-Qur’an”.(HR.Ahmad,
Muslim dan An-Nasai) dan juga ada ma’mum (yang dipimpin), Rasulallah SAW bersabda
“imam itu diadakan agar diikuti, maka jangan sekali-kali kamu menyalahinya! Jika ia takbir,
maka takbirlah kamu, jika ia ruku’ ruku’lah dan bila ia mengucapkan “sami’Allahhu liman
hamidah” katakanlah” Allahumma Rabbana lakal hamdu”. Jika ia sujud, sujudlah pula kamu,
bahkan jika ia duduk, duduklah kamu” (HR.Bukhari dan Muslim).

Terkait bacaan ma’mum, menurut Imam Hanafi; bacaan fatihah dan surat ditanggung
oleh imamnya baik shalat sir maupun shalat yang harus dibaca zahar (keras). Dasarnya firman
Allah SWT: “apabila dibacakan kepada kalian ayat-ayat al-Qur’an maka dengarkanlah dan
perhatikanlah agar kalian beruntung”. Asbabun nuzul ayat ini adalah ketika para sahabat baru
masuk Islam, dan bila mereka shalat di awal berjama’ah mereka saling bertanya dengan
kawannya padahal ketika itu sedang shalat. Selain itu terdapat satu riwayat yang lain:

26 ّ ‫عن ابن عمر رضي هللا عنهما‬


‫ صالة الجماعة افضل من صالة الف ّد بسبع وغشرين درجة رواه مسلم صالة الجماعة‬:‫ان رسول هللا عليه وسلم قال‬
‫تفضل على صالة الف ّد بسبع وعشرين درجة رواه البخاري‬

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 110


ُ‫ف ِاال َم ِام فَ ِق َرا َءةُ ِاال َم ِام قِ َرا َءةَ لَّه‬
َ ‫صلَّى َخ ْل‬
َ ‫َم ْن‬
“Barangsiapa yang shalat dibelakang imam maka bacaan imam menjadi bacaan
ma’mumnya”.

Menurut Imam as- Syafi’i; ma’mum wajib membaca surat al-fatihah baik shalat sir
maupun shalat yang dizaharkan. Dan ma’mum dibebaskan membaca surat.

Dasarnya hadits shahih:

ِ ‫صالَةَ ِل َم ْن لَ ْم يَ ْق َرا ْء ِبفَاتِ َح ِة ا ْل ِكتَا‬


‫ب‬ َ َ‫ال‬
“Tidak sah shalat bagi orang yang tidak membaca surat al-fatihah”.

Menurut Imam Malik dan Imam Hanbal bacaan surat al-fatihah tidak wajib pada
ma’mum. Hanya Imam Malik berkata bila dalam shalat sir ma’mum disunnahkan membaca
surat al-fatihah dan bila shalat yang dizaharkan ma’mum dimakruhkan membacanya.

Adapun hikmah yang diperoleh bagi yang mengerjakan shalat berjama’ah maupun
masyarakat muslimin lainnya diantaranya sebagai berikut:

1. Memakmurkan masjid, bila berjama’ahnya di masjid.


2. Pahalanya lebih besar, jika dibandingkan dengan shalat munfarid.
3. Mempererat persaudaraan karena pada waktu itu dapat bersilaturrahmi dengan sesama umat
Islam.
4. Dapat menambah ilmu dan tukar menukar informasi, seperti ada yang sakit, ada kematian
dan lain sebagainya.
5. Membiasakan hidup disiplin

Waktu-waktu yang dimakruhkan untuk melaksanakan Shalat berdasarkan hadits shahih


yang diriwayatkan Imam Muslim dari ‘Uqbah bin Amr al-Juhniy.:” Tiga waktu yang
Rasulallah SAW melarang kami untuk shalat atau mengubur orang-orang mati kami pada saat
itu; ketika matahari terbit hingga naik, ketika pertengahan siang hingga matahari tergelincir,
ketika matahari condong ke barat hingga tenggelam”.27

Alasan dilarangnya shalat pada waktu-waktu tersebut berdasarkan perkataan beliau


kepada Amr bin ‘Abasah:” kerjakanlah shalat shubuh. Kemudian hentikanlah shalat hingga
27
Wahbah az-Zuhaily, ibid hal. 65

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 111


matahari terbit dan naik.Karena sesungguhnya ketika terbit, matahari berada diantara dua
tanduk Syaithan.Pada waktu itu orang-orang kafir sujud kepada matahari.Setelah itu
shalatlah, karena sesungguhnya shalat tersebut disaksikan dan dihadiri.Hingga bayangan naik
setinggi tombak.Kemudian hentikanlah shalat karena waktu itu Jahannam bergolak.Jika
bayangan telah condong ke barat, maka shalatlah, karena sesungguhnya shalat itu dihadiri
dan disaksikan.Hingga engkau shalat ashar.Kemudian hentikanlah shalat hingga matahari
terbenam.Karena sesungguhnya ia terbenam diantara dua tanduk syaithan. Dan ketika itu
orang-orang kafir sujud kepada matahari.

Jika tertidur atau lupa ketika datang waktu shalat maka Rasulallah SAW menjelaskan
dalam hadits yang diriwayatkan oleh asy-Syaikhani dari Anas bahwa “ Barangsiapa yang
tidur ketika datang waktu shalat atau lupa maka shalatlah ketika dia ingat”.‫ َّلِكفارةِاَّلِذالك‬Tidak
ada kafarat baginya kecuali dengan menyegerakan shalat ketika ia ingat”..

Adzan dan Iqamah hukumnya sunnah mua’akkad bagi shalat fardhu, baik berjama’ah
maupun sendiri. Disunnahkan dengan suara yang keras kecuali di masjid yang sudah
dilakukan / sedang shalat berjama’ah, dan menghadap kiblat.

5). Syarat dan Rukun Shalat

1. Syarat sah shalat

Adapun syarat sah shalat diantaranya: a). Niat karena Allah SWT. b). Memenuhi syarat
dan rukun shalat diantaranya: mengetahui tentang masuknya waktu shalat, suci dari hadats
kecil dan besar, suci badan, pakaian dan tempat shalat dari najis yang kelihatan, menutup aurat
dan menghadap kiblat. c). Khusyu. d). Ikhlash. e). Takut akan Allah SWT, f). Menghadirkan
hati ketika shalat.

2. Rukun Shalat

Rukun shalat terdiri dari: Niat, takbiratul ihram, berdiri jika mampu, membaca surat al-
fatihah pada tiap-tiap rakaat, ruku’, tuma’ninah dalam setiap rukun, i’tidal, sujud, duduk
diantara 2 sujud, sujud dan membaca salam yang kedua; memalingkan muka ke kanan dan ke
kiri masing-masing waktu membaca salam pertama dan kedua

6). Bacaan-bacaan dalam Shalat

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 112


1) Niat Shalat karena Allah SWT28

2) Bacaan Takbiratul Ihram ِ‫اهللُِا ْكب ُر‬ (Allah Maha Besar)

3) Berdiri tegak bagi yang mampu ketika shalat fardhu29, boleh sambil duduk dan
berbaring bagi yang sedang sakit.30
4) Bacaan doa iftitah 31
a. Versi Pertama

ُ‫س ْب َح َن هللاِ بُك َْرةً َّوا َ ِص ْيالً اِنِ ْي َو َّجهْت‬ ُ ‫ا َهللُ ا َ ْك َب ُر َك ِب ْي ًرا َواْ ْل َح ْم ُد ِ َِّلِ َك ِث ْي ًرا َو‬
ْ ‫ض َح ِن ْيفًا ُّم‬
‫س ِل ًما َّو َما ا َنَا ِم َن اْل ُمش ِْر ِك ْي َن‬ َ ‫ت َو ْاالَ ْر‬ ِ ‫اوا‬ َ ‫س َم‬َّ ‫ِي فَ َط َر ال‬ ْ ‫َو ْج ِه َي ِللَّذ‬
َ‫ب اْلعَالَ ِم ْي َن الَ ش َِر ْيكَ لَهُ َوبِذَا ِلك‬ِ ‫اي َو َم َماتِ ْي ِ َِّلِ َر‬ َ َ‫س ِك ْي َو َم ْحي‬ ُ ُ‫صالَتِ ْي َون‬ َ ‫ا َِّن‬
(‫س ِل ِم ْي َن )رواه احمد ومسلم والترمذى وصحه‬ ْ ‫ا ُ ِم ْرتُ َواَنَا ِم َن اْل ُم‬
“ Allah Maha Besar lagi sempurna Kebesaran-Nya, segala puji hanya kepunyaan Allah
SWT, pujian yang banyak, dan Maha Suci Allah di waktu pagi dan petang. Kuhadapkan
wajahku kepada Dzat yang membuat langit dan bumi dengan lurus dan menyerah, dan
bukanlah aku tergolong orang-orang yang menyekutukan. Sesungguhnya Shalatku,
ibadahku, hidupku dan matiku adalah untuk Allah SWT. Tuhan yang mengatur alam
semesta.Tiada sekutu bagiNya.Dan untuk itulah aku diperintah dan aku adalah tergolong
orang-orang yang menyerah”.
b. Versi Kedua

َ َ‫اَلَّل ُه َّم بَا ِع ْد بَ ْينِ ْي َوبَ ْي َن َخ َطاَي‬


ِ ‫اي َك َما بَعَ ْدتَ بَ ْي َن ا ْل َمش ِْر ِك َواْ ْل َم ْغ ِر‬
‫ب اَلَّل ُه َّم نَ ِقنِ ْي‬
َ ‫س ْل ِن ْي ِم ْن َخ َطا َي‬
‫اي‬ ِ ‫ض ِم َن ال َّدنَ ِس اَللَّ ُه َّم ا ْغ‬ ُ ‫ي َك َما يُنَ ِقى الث َّ ْو‬
ُ ‫ب ا ْال ْب َي‬ َ َ ‫ِم ْن َخ َطايا‬
(‫اء َوا ْلبَ َر ِد )رواه الجماعة اال الترمذى‬ ِ ‫ِبالث َّ ْلجِ َوا ْل َم‬
“Ya Allah Ya Tuhanku jauhkanlah antara aku dengan dosa-dosaku, sebagaimanaa Engkau
jauhkan anara Timur dan Barat.Ya Allah ya Tuhanku, bersihkanlah aku dari dosa-dosaku,
bagaikan dibersihkannya pakaian putih dari kotoran. Ya Allah ya Tuhanku, cucilah aku dari
dosa-dosaku dengan es, air dan embun”.

28
“Dan mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah SWT dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya
dalam (menjalankan) agama dengan lurus (Qs.al-Bayyinah:5)
29
Wahbah Az-Zuhaily, fiqhul ‘ibadah, hal. 80 ‫صلِقائماِفاءِنِلمِتستطعِفقاعداِفاءنِلمِتستطعِفعلىِجنب‬
30
Qs.ali Imran: 191
31
Mukhyidin Abi Zakariyya Yahya bin Syarafi an-Nawawi ad-Damsyiqi as-Syafii,al-Adzkar, al-Maktabah al-
Asriyah, Bairut. 2000 hal.41, Nailul Authar, hal.484-488

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 113


5). Membaca surat al-Fatihah. Menurut Imam Malik, as-Syafi’i dan Ahmad membaca
surat al-fatihah dalam setiap berdiri tiap-tiap rakaat itu menjadi rukun yang tidak dapat
diganti oleh surat yang lainnya. Dasarnya

ِ‫ب‬ ْ ‫َّلِصَلةِ ِلم ْنِل ْمِي ْقر ْءِ ِبفا ِتحِ ِة‬
ِِ ‫ِال ِكتا‬
“Tidak sah shalat bagi orang yang tidak membaca al-fatihah.
(HR.Abu Daud dan at-Tirmidzi)

6). Membaca surat yang mudah dihafal.

ِ ُِ‫ِم ۡنه‬ َ ‫فِ ۡٱقر ُءوِاِْماِتي‬


ِ ‫سر‬
“Karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran”.32

7). Bacaan Ruku’ِ ‫م‬ ِِ ِ‫سِْبحِانِِرِ ِِبيِِِاْلع‬


ِِ ‫ظِْي‬ ُِ ِ (Maha Suci Tuhanku, Tuhan Yang Maha Agung
) dalam kitab Sunan bahwa Rasulallah SAW bersabda “ Apabila berkata salah seorang
diantara kalian subhana rabiyal ‘adziim tiga kali maka sungguh telah sempurna
ruku’nya. Bacaan yang lain selain di atas banyak sekali, yang bisa dibaca ketika ruku’
Rasulallah SAW bersabda “Adapun ketika ruku’ maka agungkanlah oleh kalian

Tuhanmu”. Atau bacaannya ْ ‫سبْحان ِربِي‬


ِ‫ِالع ِظي ِْم ِوبِح ْم ِد ِه‬ ُ ِ ” Maha Suci Allah

Tuhanku, Tuhan Yang Maha Agung serta memujilah aku kepada-Nya”. Dalam
Shahihain dari Aisyah ra Rasulallah SAW ketika ruku’ membaca

33
‫سبْحانكِالل ُه َمِربَناِوبِح ْمدِكِاللَ ُه َمِاْ ْغ ِف ْر ِلي‬
ُ ِ
8). Bacaan i’tidal (bangun dari ruku’)

َ‫شئْت‬ ِ ‫ت َو ِم ْل ُء االَ ْر‬


ِ ‫ض َو ِم ْل ُء َما‬ ِ ‫او‬ َّ ‫َللاُ ِل َم ْن َح ِم َد ُه َربَّنا َ َلكَ ا ْل َحم ُد ِم ْل ُء ال‬
َ ‫س َم‬ َ ‫س ِم َع‬َ
‫ِم ْن ش َْي ءٍ بَ ْع ُد‬
“Allah mendengar pujian orang yang memuji-Nya, Ya Tuhan kami!Bagi-Mu segala puji,
sepenuh langit dan bumi dan sepenuh apa yang Engkau kehendaki sesudah itu”.

9). Bacaan Sujud ِ‫سبْحان ِربِي ِاَّلعْلى ِوبِح ْمدِه‬ ْ ُّ‫س ِرب‬
ُ ِ atauِ ‫ِالمَلئِك ِة‬ ٌِ ‫ح ِقُ ِدُّ ْو‬
ٌِ ُّ‫سب‬
ُ ِِِِ
ِِِِ‫الرح‬
ُّ ‫و‬ dan masih banyak bacaan-bacaan yang lainnya dalam beberapa riwayat.

32
Qs. Al-Muzammil:20
33
Ibid hal.51

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 114


10). Bacaan duduk diantara dua sujud

ُ ‫ار ُز ْق ِن ْي َوا ْه ِد ِن ْي َوعَافِنِ ْي َواع‬


‫ْف عَنِ ْي‬ ْ ‫ارفَ ْع ِن ْي َو‬
ْ ‫اجبُ ْرنِ ْي َو‬ ْ ‫ب ا ْغ ِف ْر ِل ْي َو‬
ْ ‫ار َح ْمنِ ْي َو‬ ِ ‫َر‬
“Ya Allah Ampunilah dosaku, belas kasihanilah aku dan cukupkanlah segala
kekuranganku, dan angkatlah derajatku, dan berilah aku rizki, dan berilah aku
petunjuk, dan berilah kesehatan kepadaku dan berilah ampunan kepadaku”.

11). Bacaan Tasyahud awal

ِ‫علَ ْيكَ اَيُّ َها النَّ ِب ُّي َو َر ْح َمةُ هللا‬ َ ‫سالَ ُم‬ َّ ‫ط ِيباتُ ِ َِّلِ ال‬ َّ ‫صلَ َواتُ ال‬َّ ‫اركَاتُ ال‬ َ َ‫اَلت َّ ِحياَتُ ا ْل ُمب‬
ْ َ ‫ش َه ُد ا َ ْن الَ اِلَهَ اِالَّ هللاٌ وا‬
‫ش َه ُد ا َ َّن‬ َّ ‫علَى ِعبَا ِد هللاِ ال‬
ْ َ ‫صا ِل ِح ْي َن ا‬ َ ‫علَ ْينَا َو‬
َ ‫سالَ ُم‬َّ ‫َوبَ َركَاتُهٌ اَل‬
َ ‫علَى‬
‫س ِي ِدنَا ُم َحم ٍد‬ َ ‫ص ِل‬َ ‫سو ُل هللاِ اَلل ُه َّم‬ ُ ‫ُم َح َّمدًا َر‬
“ segala kehormatan, keberkahan, kebahagiaan dan kebaikan itu kepunyaan Allah SWT,
keselamatan atas engkau wahai Nabi Muhammad, demikian pula rahmat Allah dan
berkahNya. Keselamatan dicurahkan pula untuk kami dan atas seluruh hamba Allah yang
shaleh-shaleh. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan melainkan Allah, dan aku bersaksi bahwa
Nabi Muhammad adalah utusan Allah, Ya Allah!limpahilah rahmat kepada Nabi Muhammad
SAW”.
12). Bacaan Tasyahud akhir sama dengan bacaan di atas kemudian dilanjutkan dengan bacaan
di bawah ini:

‫ا ْبرا ِه ْي َم‬ ‫س ِي ِد َنا‬ َ ‫علَى اَا ِل‬ َ ‫علَى‬


َ ‫س ِي ِد َنا اِ ْب َرا ِه ْي َم َو‬ َ َ‫صلَّ ْيت‬ َ ‫س ِي ِدنَا ُم َح َّم ٍد َك َما‬ َ ‫ع َلى اَا ِل‬
َ ‫و‬
‫اِ ْب َرا ِه ْي َم‬ ‫سيِ ِدنَا‬ َ ‫علَى‬ َ َ‫سيِ ِدنَا ُم َح َّم ٍد َك َما ب‬
َ َ‫ار ْكت‬ َ ‫علَى اَا ِل‬ َ ‫سيِ ِدنَا ُم َح َّم ٍد َو‬ َ ‫علَى‬ َ ‫َوبَ ِار ْك‬
‫س ِي ِدنَا اِ ْب َرا ِه ْي َم فِى ا ْلعَالَ ِم ْي َن اِنَّكَ َح ِم ْي ٌد َم ِج ْي ٌد‬
َ ‫علَى اَا ِل‬َ ‫َو‬
“Sebagaimana Engkau telah beri rahmat kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya, dan
limpahilah berkah atas Nabi Muhammad SAW beserta para keluarganya, sebagaimana
Engkau telah memberi berkah kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Bahwasannya Engkau
Tuhan Yang Sangat Terpuji lagi Sangat mulia di seluruh alam”.

13). Salam

Setelah tasyahud akhir, kemudian salam. Dengan menengok ke kanan dan ke kiri dengan

membaca; ِ ُِ‫سَل ُمِعل ْي ُك ْمِور ْحمة‬


ِ‫هللا‬ َ ‫ال‬
“Keselamatan dan rahmat Allah semoga tetap pada kamu sekalian”.

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 115


14). Bacaan doa Qunut,34 lafadzh qunut banyak memiliki arti selain ithalatul qiyam (lama

berdiri) juga salah satu artinya adalah do’a ketika i’tidal yang terakhir dalam shalat. Imam

Maliki menghukumi mustahab (disunnahkan) membaca do’a qunut subuh demikian juga

Imam as-Syafi’i. Dalam suatu riwayat Ahmad dan ad-Daruquthniy dari Anas ra:

ْ ُ‫صبْحِِفل ْمِيز ْلِي ْقن‬


ِ ‫تِحتَىِفرقِال ِدُّ ْنيِا‬ ُّ ‫وا َماِفيِِال‬
"Adapun dalam shalat shubuh maka tidak putus-putusnya Rasulallah SAW berqunut
sehingga beliau meninggal dunia”. Inilah dasar Imam as-Syafi’i untuk berqunut.

Bacaan do’a qunut:

ِ ‫ن ِتولَيْت ِوب‬
ِ‫ار ْك ِِِل ْي ِفِيْما‬ ِْ ‫ولَنِ ْي ِفِيْم‬
ِ ‫اِلل ُه َم ِا ْه ِدنِ ْي ِفِيْم ْن ِهديْت ِوعافِنِ ْي ِفِيْم ْن ِعافِْيت ِوِت‬
ِ‫ض ْي ِوَِّل ِِيُ ْقضىِعلِْيك ِواِنَهَُِّل ِي ِذ ُّل ِمِن‬ ِ ِ ‫اعْطيْت ِوقِنِ ْي ِبر ْحمتِك ِش َر ِماِِقضيْت ِفاِنك ِت ْق‬
ِ‫ِالح ِْمدُ ِعلى ِما ِقضيْت‬ ْ ‫واليْت ِوَِّل ِيُ ِع ُّز ِم ْن ِعاديْت ِ ِتبار ْكت ِربَنا ِوتعِا ِلِيْت ِفِلك‬
ِ ِ‫ب ِاِليْك ِوصلَىِهللاُ ِعلىِسيِدِنا ِ ُمحِ َم ٍِد ِ ْالنَب‬
ِ‫ي ِِاَّلُ ِمي ِِوعلىِا ِل ِه ِوِص ْحبِ ِه‬ ُ ‫ا ْست ْغ ِف ُرك ِوات ُ ْو‬
ِ‫وسلَم‬
“Ya Allah berilah aku petunjuk seperti orang-orang yang telah Engkau beri petunjuk, berilah
aku kesehatan. Pimpinlah aku bersama-sama orang-orang yang telah Engkau pimpin. Berilah
berkah pada segala apa yang telah Engkau berikan kepadaku. Dan peliharalah aku dengan
Rahmat-Mu dari kejahatan yang Engkau pastikan. Karena Sesungguhnya Engkaulah yang
menetapkan dan tidak ada yang dapat menetapkan atas Engkau. Sesungguhnya tidak akan
hina orang-orang yang telah Engkau kasihi. Dan tidaklah akan mulia orang yang Engkau
musuhi. Maha Berkahlah Engkau Wahai Tuhan kami dan Maha Luhurlah Engkau.Segala puji
bagimu atas yang telah Engkau pastikan.Aku mohon ampun dan kembali (tobat) kepada
Engkau. Semoga Allah memberi rahmat berkah dan salam atas Nabi Muhammad beserta
keluarganya dan sahabatnya”.

15). Bacaan wirid setelah shalat


Setelah shalat kita disunnahkan mengingat Allah SWT dan berdo’a dengan do’a-do’a
yang ma’tsur.35 Setelah salam, membaca istighfar

ْ ‫ي‬
ُ ‫ِالقِي ُّْومِوات ُ ْو‬
ِ‫بِاِل ْي ِه‬ ُّ ‫ِيَِّلِاِلهِاَِّلِِ ُهوِا ْلح‬ ْ ‫ا ْست ْغ ِف ُرِهللا‬
ِْ ‫ِالع ِظيْمِالَذ‬ (3x) atau ‫ا ْست ْغ ِف ُِرهللا‬

34
Ibid hal. 55
35
Wahbah Az-Zuhaily, fiqhul ‘ibadah, hal. 91

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 116


‫اَّل ْكرام‬ ْ ‫سَلمِتبار ْكتِوتعاليْتِياذ‬
ِ ْ ‫اِالجَل ِلِو‬ َ ‫سَلمِو ِم ْنكِِال‬
َ ‫الل ُه َمِا ْنتِال‬
setelah itu membaca

ِ‫ش ْك ِركِو ُح ْسنِ ِعبادتِك‬


ُ ‫الل ُه َمِا ِعنِ ْيِعلىِ ِذ ْك ِركِو‬
“Ya Allah, berikanlah aku kemampuan untuk mengingatmu dan bersyukur atas segala
nikmatmu dan mempersembahkan ibadah yang terbaik kepada-Mu.”

Kemudian membaca surat al-Fatihah, surat al-ikhlas, surat al-Falak, an-Nas, dan

ayat kursi. Kemudian membaca (‫سبْحان ِهللا‬


ُ ) dan (َِ‫) ا ْلح ْمد ُِِّلل‬, (‫)اهللُِاِ ْكب ُِر‬ masing-masing

sebanyak 33x, kemudian membaca:

ً ِ‫َّلِاِلهِاَِّلَِهللاُِو ْحدهَُِّلِش ِريْكِلهُِلهُِا ْل ُم ْلكُ ِ ويُ ِم ْيتُ ِو ُهوِعلىِ ُك ِل‬


ِِِِِ‫ش ْيءٍ ِق ِديْر‬
ْ ‫وله‬
‫ُِالح ْمدُِيُ ْحي‬
kemudian membaca:

‫الَل ُه َمَِّلِمنِعِ ِلماِاعْطيْتِوَّل ُم ْع ِطيِ ِلماِمِن ْعتِوَّلِي ْنف ُعِذا‬


ْ ‫ْالج ِِدِ ِم ْنك‬
‫ِالج ِدُِّالَل ُه َمِص ِلِعلىِس ِيدِناِ ُِمح َمدٍِوعلىِا ِل ِِه‬

Dan disunnahkan setelah shalat terutama shalat subuh dan maghrib membaca:

ْ ِ‫ارِاللَ ُه َمِا ْد ِخ ْلن‬


(ِ‫ي‬ ْ ‫ِمن‬
ِ َ‫ِالن‬ ِ ‫اللَ ُه َمِا ِج ْرنِ ْي‬
‫ ) ْالجنَة‬7x
sebelum membaca

ْ ‫َّلِاِلهِاَِّلَِهللاُِو ْحدهَُِّلِش ِريْكِلهُِلهُِا ْل ُم ْلكُ ِوله‬


ً ِ‫ُِالح ْمدُِ ويُ ِم ْيتُ ِو ُهوِعلىِ ُك ِل‬
‫ش ْيءٍ ِق ِديْر‬
‫يُ ْحي‬
Setelah itu berdo’a untuk diri dan kaum muslimin agar memperoleh kebaikan dunia dan
akhirat, dan salah satu contoh do’a yang ma’tsur adalah:

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 117


ِ‫ع ْوذُِبِِكِا ْنِاردَِاِلىِا ِْرذ ِلِ ْالعُ ُم ِر‬
ُ ‫ِمنِِ ِْال ُجب ِْنِوِا‬
ِ ‫عوذُبِك‬ ْ ‫ِمن‬
ُ ‫ِالبُ ْخ ِلِوا‬ ِ ‫ع ْوذُبِك‬ ُ ‫الل ُه َمِاِنِ ْيِا‬
ِِ ‫بِا ْلقب‬
‫ْر‬ ِ ‫ِم ْنِعذا‬ ِ ‫ع ْوذُبِك‬ ِ ‫ع ْوذُبِك‬
ُِ ‫ِم ْنِفِتْن ِةِالدُّ ْنياِوا‬ ُ ‫وا‬
B. SHALAT JUM’AT

1. Dalil Shalat Jum’at

ِFirman Allah SWT:

ۡ ْ‫ِٱّللِِوذ ُروا‬
ِ‫ِٱلب ۡيع‬ َِ ‫ٱسع ۡواِْ ِإل َٰىِذ ِۡك ِر‬
ِۡ ‫ج ُمع ِةِف‬ ۡ ‫ِمنِيِ ۡو ِِم‬
ُِ ‫ِٱل‬ َ ‫َٰ ٓيأيُّهاِٱلَذِينِءامنُ ٓواِْإِذاِنُودِيِ ِلل‬
ِ ‫صل َٰو ِة‬
ِ ِ٩ِ‫رِلَ ُك ۡمِ ِإنِ ُكنت ُ ۡمِتعۡ ل ُمون‬ٞ ‫َٰذ ِل ُك ۡمِخ ۡي‬
“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum´at, maka
bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu
lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”
Sabda Rasulallah SAW:

َْ
‫ل‬ ‫َسُو‬‫ن ر‬ََّ
‫ا‬ َُ
‫ة‬‫ْب‬ ‫ََلو‬
‫ْ ص‬
‫ُح‬ ‫و‬ ‫َر‬
َّ‫ِي‬ ‫َّم‬ َْ
‫د الض‬ ‫َع‬ ْ ْ‫ِي‬
‫الج‬ ‫َب‬
‫ْ ا‬ ‫َن‬
‫َع‬‫و‬
َ َ َ
‫ثالَث‬ ‫َك‬‫تر‬َ ْ
‫من‬ َ‫َا‬
َ :‫ل‬ ‫ق‬ َ
‫لم‬ََّ‫َس‬ ‫ْه‬
‫ِ و‬ ََ
‫لي‬ ََّ
‫لىَ هللاُ ع‬ ‫هللاِ ص‬
‫(رواه‬ ِ
‫ِه‬ َْ
‫لب‬‫ق‬ َ‫َلى‬
‫ع‬ ُ‫هللا‬ َ
‫َع‬‫َب‬
‫ط‬ ً
‫ُنا‬
‫و‬ ََ
‫ها‬‫َت‬ ‫ُم‬
‫ِع‬ ‫ج‬
)‫الخمسه‬
“Dan dari ‘Abil Ja’ad adl Dlamari-dan ia adalah seorang sahabat, bahwa Rasulallah SAW
bersabda: barangsiapa meninggalkan 3 kali shalat jum’at karena meremehkan, maka Allah
akan menutup hatinya”. (HR.Imam yang Lima)
Berdasarkan firman Allah SWT dan sabda Rasulallah SAW di atas maka shalat jum’at
termasuk fardhu ‘ain. Dan para ulama sepakat atas wajibnya shalat jum’at.36

2. Syarat Wajib, Rukun Shalat dan Rukun khutbah Jum’at


a). Syarat wajib Shalat Jum’at
1. Islam, 2. Baligh, 3. Berakal, 4. Merdeka, 5. Laki-laki, 6. Sehat badan
b). Rukun Shalat jum’at
1. Adanya dua khutbah
2. Khotib dalam keadaan berdiri saat khutbah dan duduk ketika waktu pemisah antara dua
khutbah

36
Nailul Authar, __ hal. 882

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 118


3. Melakukan shalat dua rakaat.

c). Rukun Khutbah jum’at

1. Membaca hamdalah atau dengan ucapan puji syukur kepada Allah SWT
2. Membaca Syahadat
3. Membaca shalawat kepada Rasulallah SAW
4. Berwasiat dengan takwa kepada Allah, biasanya dengan lafadzh “ittaqullah” 3x
5. Mendo’akan kaum muslim dan mu’min pada khutbah kedua.

B. SHALAT JAMA’ DAN QASHAR


1. Pengertian Shalat Jama’
Shalat jama’ adalah shalat yang dikumpulkan. Artinya dua shalat fardhu yang dikerjakan
pada satu waktu, misalnya shalat dzuhur dan shalat ashar dikerjakan pada waktu dzuhur atau
pada waktu ashar secara bersamaan dan shalat Maghrib dengan shalat Isya. Sedangkan Shalat
Shubuh tidak boleh dijama’ dan harus dikerjakan pada waktunya.
Ada dua macam shalat jama’:
a). Shalat Jama’ Takdim
Jama’ takdim dikerjakan pada waktu shalat yang pertama. Maksudnya, jika akan menjama’
shalat dzuhur dan ashar, maka mengerjakannya saat waktu dzuhur. Begitupun maghrib dan isya
yang dilakukan saat waktu maghrib tiba. Urutannya, kerjakan shalat yang pertama kemudian
shalat kedua tanpa diselingi kegiatan apapun. Maksudnya, setelah salam pada shalat dzuhur
maka langsung berdiri mengerjakan shalat ashar. Keduannya dikerjakan 4 rakaat tanpa
dikurangi, berikut niatnya:
Niat shalat jama’ takdim dzuhur

‫ص ِرِادا ًءِهللِِتعالى‬
ْ ‫عاِمعِالع‬
ً ‫تِِم ْج ُم ْو‬ ُّ ‫أُص ِليِف ْرض‬
ٍِ ‫ِالظ ْه ِرأربعِِِركعا‬

“Aku sengaja shalat fardu dhuhur empat rakaat yang dijama’ dengan Ashar, fardu karena
Allah Ta’aala”
Untuk shalat asharnya, tidak perlu menggunakan niat shalat jama’ lagi, melainkan
membaca niat shalat ashar seperti biasa.
b). Shalat Jama’ Takhir
Jamak ta’khir adalah kebalikan dari jamak takdim, yakni mengerjakan dua shalat fardu
pada waktu shalat yang kedua (adalah waktu ashar dan isya).

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 119


Niat shalat zhuhur jamak ta’khir dengan ashar

‫هللِِتعالى‬
ِ ِ‫ص ِرِادا ًء‬
ْ ‫عاِمعِالع‬
ً ‫تِِم ْج ُم ْو‬ ُّ ‫أُص ِليِف ْرض‬
ٍِ ‫ِالظ ْه ِرأربعِِركعا‬
“Aku sengaja shalat fardu dhuhur empat rakaat yang dijama’ dengan Ashar, fardu karena
Allah Ta’aala”
Kedua shalat dilakukan pada waktu ashar, bisa zhuhur dulu, bisa ashar dulu.Niat shalat
ashar jama’ takhir dengan dzhuhur (Kedua shalat dilakukan pada waktu ashar)

‫هللِِتعالى‬ ُّ
ِ ِ‫اِمعِالظ ْه ِرِاِدا ًِء‬‫ع‬ ْ ‫أُص ِليِف ْرضِالع‬
ً ‫ص ِرِأربعِركعاتٍِم ْج ُم ْو‬

“Aku sengaja shalat fardu Ashar empat rakaat yang dijama’ dengan dhuhur, fardu karena
Allah Ta’aala”
2. Pengertian Shalat Qashar

ِ‫ِمن‬ ِ ْ‫ص ُروا‬ُِ ‫ح ِأنِت ۡق‬ ٌِ ‫جنا‬ ُِ ِ ‫ض ِفل ۡيس ِعل ۡي ُِك ۡم‬ ِ ِ ‫و ِإذا ِضر ۡبت ُ ۡم ِفِيِ ۡٱۡل ۡر‬
ِ‫نِ ۡٱل َٰك ِف ِرينِِكاِنُواِْل ُك ۡم‬
َِ ‫ِخ ۡفت ُ ۡمِأنِي ۡفتِن ُك ُمِٱلَذِينِِكِف ُر ِٓواِْ ِإ‬
ِ ‫صل َٰوةِِِ ِإ ۡن‬
َ ‫ٱل‬
ِ ِ١٠١ِ‫عد ُٗواِ ُّمبِ ٗينا‬
“Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah
mengapa kamu men-qashar shalat (mu), jika kamu takut diserang
orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah
musuh yang nyata bagimu37

Berbeda dengan shalat jama’ yang menggabungkan, shalat qasar artinya meringkas.
Rukhsah shalat qasar ialah meringkas 4 rakaat menjadi 2 rakaat. Contoh, shalat dzuhur
dikerjakan 2 rakaat, begitupun shalat ashar dan isya. Namun hanya shalat dengan jumlah 4
rakaat yang boleh di qasar. Maka dari itu, tidak diperbolehkan mengqasar shalat subuh dan
maghrib.
Allah SWT berfirman dalam al Qur’an surat An Nisa ayat 101 yang artinya: “Dan
apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidak mengapa kamu menqashar shalatmu, jika
kamu takut diserang orang-orang kafir, sesungguhnya orang-orang kafir itu musuh yang nyata
bagimu,” Q.S.(An Nisa: 101)
Contoh niat shalat qashar :

37
Qs. An-Nisa:101

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 120


َِّ ‫ء‬
ِ‫َلِل‬ ََ
ً‫دا‬‫ًا ا‬
‫ْر‬‫َص‬ ‫َي‬
‫ْنِ ق‬ ‫ْع‬
‫َت‬ ‫َك‬
‫ِ ر‬
‫هر‬ُّْ ‫َر‬
‫ْضَ الظ‬ َِّ
‫ِى ف‬
‫ل‬ ‫ُص‬‫ا‬
َ َ
‫الى‬ ‫تع‬َ
“Niat shalat fardhu dzuhur secara qashar dua rakaat karena Allah”

3. Shalat Jama’ Qasar


Betapa murahnya Allah S.W.T. Selain memperbolehkan hambanya menjamak atau
mengqashar ibadah shalatnya. Allah juga mengizinkan kita untuk mengerjakan shalat jamak
qashar, yakni digabung dan diringkas. Artinya anda mengerjakan 2 shalat fardu dalam satu
waktu dan juga meringkasnya. Shalat jamak qashar bisa dilakukan secara takdim maupun
takhir. Lafadzkan niat shalat jamak qashar sebagai berikut:
 Niat shalat qashar dan jamak taqdim

‫أصلي فرض الظهر جمع تقديم بالعصر قصرا‬


‫ركعتين هلل تعالى‬
“aku berniat shalat fardhu zhuhur 2 rakaat, qashar, dengan menjamak ashar kepadanya,
karena Allah ta’ala.”
Niat shalat qashar dan jamak ta’khir:

‫أصلي فرض الظهر جمع تأخير بالعصر قصرا‬


‫ركعتين هلل تعالى‬

“aku berniat shalat fardhua shar 2 rakaat, qashar, dengan menjamaknya kepada zhuhur,
karena Allah ta’ala.”

4. Syarat-Syarat Sah Shalat Jama’, Qasar dan Jama’ Qashar


Shalat jama’ dan qashar memang diperuntukkan bagi ummat muslim yang sedang
melakukan perjalanan jauh atau karena halangan lain sehingga tidak dapat mengerjakan shalat
fardu tepat pada waktunya. Hal ini meliputi:
 Melakukan perjalanan jauh minimal 81 kilometer (sesuai
kesepakatan para ulama)
 Perjalanan tidak bertujuan untuk hal negatif atau berbuat dosa

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 121


 Sedang dalam keadaan bahaya; hujan lebat disertai angin kencang,
perang atau bencana lainnya.

C. SHALAT SUNNAH

1. Shalat sunnah ada dua macam:

Shalat sunnah/nafilah adalah Shalat tambahan diluar Shalat fardhu, bila dikerjakan akan
mendapat pahala tetapi bila ditinggalkan tidak mendapat pahala/merugi. Shalat sunnah terbagi
dua yaitu:

a. Shalat sunnah yang dilaksanakan secara berjamah. Shalat sunnah jenis ini
status hukumnya adalah muakkad, contohnya: Shalat idul fitri, idul adha, terawih,
istisqa, kusuf dan khusuf.
b. Shalat sunnah yang dikerjakan secara munfarid (sendiri-sendiri). Status
hukumnya ada yang muakkad seperti: Shalat Sunnah Rawatib dan Tahajud. Ada
pula yang status hukumnya sunnah biasa (ghairu muakkad) seperti: Shalat Tahiyatul
Masjid, Shalat Dhuha, Shalat Witir, dan lain-lain.

2. Shalat sunnah yang disunnahkan dilakukan secara berjamaah

a). Shalat Idul Fitri


b). Shalat Idul Adha
Ibnu Abbas Ra. berkata: “Aku Shalat Idul Fithri bersama Rasulullah SAW dan Abu bakar dan
Umar, beliau semua melakukan Shalat tersebut sebelum khutbah.” (HR Imam Bukhari dan
Muslim).Dilakukan 2 raka’at. Pada rakaat pertama melakukan tujuh kali takbir (di luar
Takbiratul Ihram) sebelum membaca Al-Fatihah, dan pada raka’at kedua melakukan lima kali
takbir sebelum membaca Al-Fatihah.

c). Shalat Kusuf (Gerhana Matahari)


d). Shalat Khusuf (Gerhana Bulan)
Ibrahim (putra Nabi SAW) meninggal dunia bersamaan dengan terjadinya gerhana
matahari. Beliau SAW bersabda:
“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda (kebesaran)
Allah SWT.Tidak terjadi gerhana karena kematian seseorang, tidak juga karena
kehidupan (kelahiran) seseorang.Apabila kalian mengalaminya (gerhana), maka
Shalatlah dan berdoalah, sehingga (gerhana itu) berakhir.”(HR Imam Bukhari dan
Muslim).Dari Abdullah ibnu Amr, bahwasannya Nabi SAW memerintahkan seseorang
untuk memanggil dengan panggilan “ashsholaatu jaami’ah” (Shalat didirikan dengan

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 122


berjamaah).(HR Imam Bukhari dan Muslim).Dilakukan dua rakaat, membaca Al-Fatihah
dan surah dua kali setiap raka’at, dan melakukan ruku’ dua kali setiap raka’at.

e). Shalat Istisqo’


Dari Ibnu Abbas Ra., bahwasannya Nabi SAW Shalat istisqo’ dua raka’at, seperti Shalat
‘Id. (HR Imam Nasa’i, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Tirmidzi). Tata caranya seperti
Shalat ‘Id.

f). Shalat Tarawih


Dari ‘Aisyah Rda., bahwasannya Nabi Muhammad SAW Shalat di Masjid pada suatu malam.
Maka orang-orang kemudian mengikuti Shalat beliau.Nabi Shalat (lagi di Masjid) pada hari
berikutnya, jamaah yang mengikuti beliau bertambah banyak.Pada malam ketiga dan keempat,
mereka berkumpul (menunggu Rasulullah), namun Rasulullah SAW tidak keluar ke Masjid.
Pada paginya Nabi SAW bersabda: “Aku mengetahui apa yang kalian kerjakan tadi malam,
namun aku tidak keluar karena sesungguhnya aku khawatir bahwa hal (Shalat) itu akan
difardlukan kepada kalian.” ‘Aisyah Rda. berkata: “Semua itu terjadi dalam bulan
Ramadhan.” (HR Imam Muslim)
Jumlah raka’atnya adalah 20 dengan 10 kali salam, sesuai dengan kesepakatan shahabat
mengenai jumlah raka’at dan tata cara Shalatnya.

g). Shalat Witir yang mengiringi Shalat Tarawih


Adapun Shalat witir di luar Ramadhan, maka tidak disunnahkan berjamaah, karena
Rasulullah SAW tidak pernah melakukannya.

h). Shalat Sunnah Sebelum Dan Sesudah Shalat Jum'at


Dianjurkan Shalat Sunnah sebelum pelaksaan Shalat Jum'at semampunya sampai imam
naik ke mimbar, karena pada waktu itu tidak dianjurkan lagi Shalat Sunnah, kecuali
Shalat Tahiyatul Masjid dan bagi orang yang (terlambat) masuk ke dalam Masjid.
Dalam hal ini Shalat tetap boleh dilakukan sekalipun imam sedang berkhutbah dengan
catatan mempercepatkan pelaksanaannya.

Adapun setalah Shalat, maka disunnahkan Shalat empat raka'at atau dua raka'at. Ini
berdasarkan sebuah riwayat dari muslim: "Dari Abdullah bin Umar, bahwasanya beliau tidak
Shalat setalah menunaikan Shalat Jum'at sehingga beliua kembali lalu Shalat dua rakaat di
rumahnya." (HR. Muslim : 882)

3. Shalat sunnah yang tidak disunnahkan berjamaah

a). Shalat Rawatib (Shalat yang mengiringi Shalat Fardlu), terdiri dari:
1) 2 raka’at sebelum shubuh
2) 4 raka’at sebelum Dzuhur (atau Jum’at)

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 123


3) 4 raka’at sesudah Dzuhur (atau Jum’at)
4) 4 raka’at sebelum Ashar
5) 2 raka’at sebelum Maghrib
6) 2 raka’at sesudah Maghrib
7) 2 raka’at sebelum Isya’
8) 2 raka’at sesudah Isya’

Dari 22 raka’at Rawatib tersebut, terdapat 10 raka’at yang sunnah muakkad (karena tidak
pernah ditinggalkan oleh Rasulullah SAW), berdasarkan hadits:
Dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah SAW senantiasa menjaga (melakukan) 10 rakaat
(Rawatib), yaitu: 2 raka’at sebelum Dzuhur dan 2 raka’at sesudahnya, 2 raka’at sesudah
Maghrib di rumah beliau, 2 raka’at sesudah Isya’ di rumah beliau, dan 2 raka’at sebelum
Shubuh. (HR Imam Bukhari dan Muslim). Adapun 12 rakaat yang lain termasuk sunnah
ghairu muakkad, berdasarkan hadits-hadits berikut:

a). Dari Ummu Habibah, bahwa Rasulullah SAW bersabda:


“Barang siapa senantiasa melakukan Shalat 4 raka’at sebelum Dzuhur dan 4 raka’at
sesudahnya, maka Allah mengharamkan baginya api neraka.”(HR Abu Dawud dan Tirmidzi).
2 raka’at sebelum Dzuhur dan 2 raka’at sesudahnya ada yang sunnah muakkad dan ada yang
ghairu muakkad.

b). Nabi SAW bersabda:


“Allah mengasihi orang yang melakukan Shalat empat raka’at sebelum (Shalat) Ashar.” (HR
Imam Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Huzaimah). Shalat sunnah sebelum Ashar
boleh juga dilakukan dua raka’at berdasarkan Sabda Nabi SAW: “Di antara dua adzan (adzan
dan iqamah) terdapat Shalat.” (HR Imam Bazzar).

c). Anas Ra berkata:


“Di masa Rasulullah SAW kami Shalat dua raka’at setelah terbenamnya matahari sebelum
Shalat Maghrib.” (HR Imam Bukhari dan Muslim). Nabi SAW bersabda: “Shalatlah kalian
sebelum (Shalat) Maghrib, dua raka’at.” (HR Imam Bukhari dan Muslim).

d). Nabi SAW bersabda:


“Di antara dua adzan (adzan dan iqamah) terdapat Shalat.” (HR Imam Bazzar). Hadits ini
menjadi dasar untuk seluruh Shalat Sunnah 2 raka’at qobliyah (sebelum Shalat fardhu),
termasuk 2 raka’at sebelum Isya’.

b). Shalat Tahajjud (Qiyamullail)


Al-Qur’an surah Al-Israa’ ayat 79, As-Sajdah ayat 16 – 17, dan Al-Furqaan ayat 64.Dilakukan
dua raka’at-dua raka’at dengan jumlah raka’at tidak dibatasi. Dari Ibnu Umar Ra. bahwa Nabi
SAW bersabda: “Shalat malam itu dua (raka’at)-dua (raka’at), apabila kamu mengira bahwa
[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 124
waktu Shubuh sudah menjelang, maka witirlah dengan satu raka’at.” (HR Imam Bukhari dan
Muslim).

4. Shalat Witir di luar Ramadhan


Minimal satu raka’at dan maksimal 11 raka’at. Lebih utama dilakukan 2 raka’at-2 raka’at,
kemudian satu raka’at salam. Boleh juga dilakukan seluruh raka’at sekaligus dengan satu kali
Tasyahud dan salam. Dari A’isyah Rda. Bahwasannya Rasulullah SAW Shalat malam 13
raka’at, dengan witir 5 raka’at di mana beliau Tasyahud (hanya) di raka’at terakhir dan
salam. (HR Imam Bukhari dan Muslim). Beliau juga pernah berwitir dengan tujuh dan lima
raka’at yang tidak dipisah dengan salam atau pun pembicaraan. (HR Imam Muslim)

a). Shalat Dhuha


Shalat Dhuha disunnahkan 2 rakaat hingga 8 rakaat berdasarkan hadits yang
diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Daud dari Buraidah.38
Dari A’isyah Ra., adalah Nabi SAW Shalat Dhuha 4 raka’at, tidak dipisah keduanya (tiap
Shalat 2 raka’at) dengan pembicaraan.” (HR Abu Ya’la). Dari Abu Hurairah Ra.,
bahwasannya Nabi pernah Shalat Dhuha dengan dua raka’at (HR Imam Bukhari dan
Muslim). Dari Ummu Hani, bahwasannya Nabi SAW masuk rumahnya (Ummu Hani) pada
hari Fathu Makkah (dikuasainya Mekkah oleh Muslimin), beliau Shalat 12 raka’at, maka kata
Ummu Hani: “Aku tidak pernah melihat Shalat yang lebih ringan daripada Shalat (12 raka’at)
itu, namun Nabi SAW tetap menyempurnakan ruku’ dan sujud beliau.” (HR Imam Bukhari dan
Muslim).
Do’a setelah Shalat Dhuha:

َ ‫ُك َوال َج َما َل َج َمالُ َك َوالقُ َّوة َ قُ َّوت ُ َك َوالقُ ْد َرة‬


َ ‫ُك َوالبَ َها َء بَ َهاؤ‬ َ ‫ض َحاؤ‬ ُ ‫ض َحا َء‬ ُّ ‫اَللَّ ُه َّم ِإ َّن ال‬
‫اء فَأ َ ْن ِز ْلهُ َو ِإ ْن َكانَ فِي‬ َّ ‫ص َمت ُ َك اَللَّ ُه َّم ِإ ْن َكانَ ِر ْزقِي فِي ال‬
ِ ‫س َم‬ ْ ‫ص َمةَ ِع‬ ْ ‫قُ ْد َرت ُ َك َوال ِع‬
َ‫ط ِ ّه ْرهُ َو ِإ ْن َكان‬ َ َ‫س ْرهُ َو ِإ ْن َكانَ َح َرا ًما ف‬ ّ ِ ‫ض فَأ َ ْخ ِر ْجهُ َو ِإ ْن َكانَ ُم ْع ِس ًرا فَ َي‬ ِ ‫األ َ ْر‬
َ ‫ض َحا ِئ َك َو َب َها ِئ َك َو َج َما ِل َك َوقُ َّو ِت َك َوقُ ْد َر ِت َك آ ِت ِني َما آتَي‬
‫ْت‬ ُ ‫ق‬ ِ ّ ‫َب ِع ْيدًا فَقَ ِ ّر ْبهُ ِب َح‬
َ‫صا ِل ِحيْن‬ َّ ‫ِعبَا َد َك ال‬
‫صا ِو ُل َوبِ َك أ ُ َحا ِو ُل َوبِ َك أُقَاتِ ُل‬
َ ُ ‫ار َح ْمنِي َوتُبْ اَللَّ ُه َّم بِ َك أ‬ ْ ‫ث ُ َّم يَقُ ْو ُل َربّ ِ ا ْغ ِف ْر ِلي َو‬
‫الر ِح ْي ُم‬ ُ ‫ت الت َّ َّو‬
َّ ‫اب‬ َ ‫ي ِإنَّ َك أ َ ْن‬
َّ َ‫َعل‬

“Tuhanku, sungguh waktu Dhuha adalah milik-Mu. Yang ada hanya keagungan-Mu.
Tiada lagi selain keindahan-Mu. Hanya ada kekuatan-Mu. Yang ada hanya kuasa-Mu.
Tidak ada yang lain kecuali lindungan-Mu. Tuhanku, kalau rezekiku di langit,
turunkanlah. Kalau berada di bumi, keluarkanlah. Kalau sulit, mudahkanlah. Kalau
haram, gantilah jadi yang suci. Bila jauh, dekatkanlah dengan hakikat Dhuha,

38
Wahbah Az-Zuhaily, Fiqhul ‘Ibadah, hal.93-94

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 125


keagungan, kekuatan, kekuasaan-Mu. Tuhanku, berikanlah aku apa yang Kau
anugerahkan kepada hamba-hamba-Mu yang saleh.
Tuhanku, dengan-Mu aku bergerak. Dengan-Mu aku berusaha. Dengan-Mu, aku
berjuang. Tuhanku, ampunilah segala dosaku. Turunkan rahmat-Mu kepadaku.
Anugerahkanlah tobat-Mu untukku. Sungguh Engkau maha penerima tobat, lagi maha
penyayang.”39
Untuk doa di paragraf terakhir, kita dianjurkan membacanya sebanyak 40 atau 100 kali.

b). Shalat Tahiyyatul Masjid


Dari Abu Qatadah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Apabila salah seorang dari kalian
masuk Masjid, janganlah duduk sehingga Shalat dua raka’at.” (HR Jama’ah Ahli Hadits).

c). Shalat Taubat


Nabi SAW bersabda: “Tidaklah seorang hamba yang berdosa, kemudian ia bangun berwudhu
kemudian Shalat dua raka’at dan memohon ampunan kepada Allah, kecuali ia akan
diampuni.” (HR Abu Dawud, Tirmidzi, dan lain-lain).

d). Shalat Tasbih


Yaitu Shalat empat raka’at di mana di setiap raka’atnya setelah membaca Al-Fatihah dan
Surah, orang yang Shalat membaca: Subhanallah walhamdulillah wa laa ilaaha illallah
wallaahu akbar sebanyak 15 kali, dan setiap ruku’, i’tidal, dua sujud, duduk di antara dua
sujud, duduk istirahah (sebelum berdiri dari raka’at pertama), dan duduk tasyahud
(sebelum membaca bacaan tasyahud) membaca sebanyak 10 kali (Total 75 kali setiap
raka’at). (HR Abu Dawud dan Ibnu Huzaimah).

e). Shalat Istikharah


Istikharah berarti thalab al-khair (memohon kebaikan) dalam sesuatu. Disebutkan dalam
hadits “Allahumma inni astakhiiruka bi’ilmika” artinya, Ya Allah, aku memohon yang
terbaik kepada-Mu dengan segala Kemahatahuan-Mu. Secara istilah istikharah berarti
memohon pengarahan angan cita (sharaf al-Himmah) pada apa yang menjadi pilihan dan
terbaik menurut Allah SWT dengan shalat atau do’a yang telah ditetapkan dalam
istikharah.
Memperbanyak istikharah. Diriwayatkan dari Anas secara marfu’:
“ Jika kau menginginkan sesuatu, maka mintalah pilihan kepada Tuhanmu sebanyak
tujuh kali kemudian lihat apa yang paling dulu datang di dalam hatimu, sesungguhnya

39
I’anatut Thalibin, Dar Fikr, Beirut, Juz I hal. 225

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 126


kebaikan ada di dalamnya”. Dari Jabir bin Abdillah berkata: “Adalah Rasulullah SAW
mengajari kami Istikharah dalam segala hal … beliau SAW bersabda: ‘apabila salah
seorang dari kalian berhasrat pada sesuatu, maka Shalatlah dua rakaat di luar Shalat
fardhu …dan menyebutkan perlunya’ …” (HR Jama’ah Ahli Hadits kecuali Imam
Muslim).
Shalat istikharah merupakan shalat sunnah dua rakaat yang dapat dikerjakan kapan pun,
baik siang maupun malam, selama bukan di waktu-waktu yang terlarang untuk shalat.
Tata cara dan tata krama shalat istikharah, didasarkan pada sejumlah sikap hati (al-a’mal
al-qalbiyyah), diantaranya yang terpenting adalah ketulusan niat dalam memohon pilihan
yang terbaik yang didasarkan pada perilaku mengikuti petunjuk Nabi SAW, kepasrahan
diri kepada Allah SWT, keridhaan menerima apa yang dipilihkan Allah dan seterusnya.
Cara shalat istikharah, a). harus menata hati dan membangun ketulusan niat memohon
yang terbaik dari Allah SWT. b). tidak boleh ada keinginan atau kecenderungan yang
kuat sebelum istikharah untuk melakukan atau tidak melakukan. c). berwudhu dengan
baik. d). shalat dua rakaat.
Imam Nawawi dan Imam-imam yang lain menjelaskan bahwa dalam shalat istikharah,
setelah membaca al-fatihah dianjurkan membaca surat al-Kafirun pada rakaat pertama
dan surat al-Ikhlash pada rakaat kedua. e). do’a dipanjatkan setelah salam. f). sebelum
berdo’a disunnahkan membaca tasbih (subhanallah), tahmid (Alhamdulillah), takbir
(Allahu Akbar) dan tahlil (la ilaha illa Allah) sebagai bentuk pengagungan kepada Allah
SWT. g). do’a dan do’a yang ma’tsur:

ِ‫ض ِلك ِاْلع ِظي ِْم ِف ِانَك ِت ْقد ُِر ِوَّل‬ ِ ‫الَل ُه َم ِاِنِ ْي ِاسْت ِخي ُْرك ِ ِب ِع ْل ِمك ِواسْت ْقد ُِرك ِ ِبقُدْرتِك ِواسْئلُك‬
ْ ‫ِم ْن ِف‬
sebut ِ )ِ ِ ِ‫ب ِاللَ ُه َم ِا ِْن ِ ُك ْنت ِت ْعل ُم ِا َن ِهذا ِاَّل ْمر‬
ِ ‫ا ْقد ُِر ِوت ْعل ُم ِوَّل ِاعْل ُم ِوا ْنت ِعَلَ ُم ِالغُي ُْو‬
ِ ‫سرهُِ ِل ْيِث ُ َمِب‬
ِ‫ار ْك‬ ِِ ‫يِفا ْقد ُْرهُِ ِل ْيِوي‬
ْ ‫ِ(ِِ خي ٌْرِ ِل ْيِفِ ْيِدِِينيِومعا ِش ْيِوعاقِب ِةِا ْم ِر‬hajat anda
ِ (sebut hajat anda)ِِِِ‫ِل ْيِفِ ْي ِهِوا ِْنِ ُك ْنتِت ْعل ُمِا َنِهذِاِاَّْل ْمر‬
ْ ‫ص ِر ْف ِن ْي ِعِْنهُ ِو ْقد ُْر ِ ِل ْي‬
ِ‫ِالخي ُْر‬ ِْ ِ‫ص ِر ْفهُ ِعِن‬
ِْ ‫ي ِوا‬ ْ ‫ي ِفا‬
ْ ‫ش ُّر ِل ْي ِفِ ْي ِ ِد ْينِ ْي ِومعا ِش ْي ِوعاقِب ِِة ِا ْم ِر‬
ِ ‫ْثِكانِث ُ َمِا ْر‬
ِ‫ض ِن ْي‬ ُ ‫حي‬

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 127


h). Jika ada udzur syar’i yang menghalangi untuk shalat istikharah maka diperbolehkan
dengan do’a, jika udzurnya telah hilang sebelum selesainya perkara yang diistikharahi
maka hendaknya mengulangi disertai dengan shalat istikharah.40

f). Shalat Hajat


Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa mempunyai hajat kepada Allah SWT atau
kepada seseorang, maka wudhulah dan baguskan wudhu tersebut, kemudian Shalatlah
dua raka’at, setelah itu pujilah Allah, bacalah shalawat, atas Nabi SAW, dan berdoa …”
(HR Tirmidzi dan Ibnu Majah).

ُِ‫ِالع ِظي ِْم ِاِ ْلح ْمد‬


ْ ‫ِالع ْر ِش‬ ِْ ‫ب‬ ِ ‫هللا ِر‬ ِِ ِ ِ‫سبْحِان‬ ْ ‫َِّللا‬
ُ ِ ‫ِالح ِل ْي ُِم ِالك ِر ْي ُم‬ َ َ‫َّل ِاِله ِاَِّل‬
ِ‫ت ِرِ ْحمِتِكِ ِوعزائِمِ ِم ْغ ِفرتِك‬ ِ ‫ِالعال ِميْن ِا ْسئالُك ِ ُم ْو ِجبا‬ ْ ‫ب‬ ِ ‫ّلل ِر‬ َِِ
َِ‫َّل‬ ْ ‫ل ِاِِثْ ٍم َِّل ِت ِْد‬
ِ ِ‫ع ِ ِل ْي ِذ ْنبًا ِا‬ ِِ ‫سَلمةِ ِ ِم ْن ِ ُِك‬ َ ‫و ْالغنِيْمةِ ِ ِم ْن ِ ُك ِل ِ ِب ٍر ِوال‬
ِ‫ِرضا ًِاَِِّلَ ِقضيْتهاِيِا‬ ِ ‫غفِ ْرتهُِوَّل ِه ًّماِاَِّلَ ِف َر ْجتهُِوَّل ِحاجِةً ِ ِِهي ِلِك‬
ِ ِ‫اح ِميْن‬ِ ‫ِالر‬
َ ‫ا ْرحم‬

“Tidak ada tuhan selain Allah yang maha penyantun dan pemurah, Maha Suci Allah, Tuhan pemelihara ‘Arasy
yang Maha Agung. Segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam. Kepada mulah aku memohon sesuatu yang
memajibkan rahmatmu, dan sesuatu yang mendatangkan ampunanmu dan memperoleh keuntungan pada tiap2
dosa. Janganlah engkau biarkan dosa dari pd diriku, melainkan Engkau ampuni dan tidak ada sesuatu
kepentingan melainkan Engkau beri jalan keluar, dan tidak pula sesuatu hajat yang mendapat kerelaanmu,
melainkan Engkau kabulkan, Wahai Tuhan yang paling Pengasih dan Penyayang (HR. Turmudzi dan Ibnu Abi
Aufa).”

g). Shalat 2 rakaat di masjid sebelum pulang ke rumah


Dari Ka’ab bin Malik: “Adalah Nabi SAW apabila pulang dari bepergian, beliau menuju
Masjid dan Shalat dulu dua raka’at.” (HR Bukhari dan Muslim).

h). Shalat Awwabiin


Al-Qur’an surah Al-Israa’ ayat 25
Dari Ammar bin Yasir bahwa Nabi SAW bersabda: “Barang siapa Shalat setelah Shalat
Maghrib enam raka’at, maka diampuni dosa-dosanya, walaupun sebanyak buih lautan.”
(HR Imam Thabrani). Ibnu Majah, Ibnu Huzaimah, dan Tirmidzi meriwayatkan hadits
serupa dari Abu Hurairah Ra. Nabi SAW bersabda: “Barang siapa Shalat enam raka’at

40
Sanad Ali al-Baidhani, Cinta Istikharah. 2009. Amzah, Jakarta hal. 3-20

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 128


antara Maghrib dan Isya’, maka Allah mencatat baginya pahala ibadah 12 tahun” (HR
Imam Tirmidzi).

i). Shalat Sunnah Wudhu’


Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa berwudhu, ia menyempurnakan wudhunya,
kemudian Shalat dua raka’at, maka diampuni dosa-dosanya yang terdahulu.” (HR Imam
Bukhari dan Muslim).

j). Shalat Sunnah Mutlaq


Nabi SAW berpesan kepada Abu Dzar al-Ghiffari Ra.: “Shalat itu sebaik-baik perbuatan, baik
sedikit maupun banyak.” (HR Ibnu Majah). Dari Abdullah bin Umar Ra.: “Nabi SAW
bertanya: ‘Apakah kamu berpuasa sepanjang siang?’ Aku menjawab: ’Ya.’ Beliau bertanya
lagi: ‘Dan kamu Shalat sepanjang malam?’ Aku menjawab: ’Ya.’Beliau bersabda: ’Tetapi aku
puasa dan berbuka, aku Shalat tapi juga tidur, aku juga menikah, barang siapa tidak menyukai
sunnahku, maka ia tidak termasuk golonganku’.”(HR Bukhari dan Muslim).
Hadits terakhir ini menunjukkan bahwa Shalat Sunnah bisa dilakukan dengan jumlah
raka’at yang tidak dibatasi, namun makruh dilakukan sepanjang malam, karena Nabi sendiri
tidak menganjurkannnya demikian. Ada waktu untuk istirahat dan untuk istri/suami.

D. PENGURUSAN JENAZAH
Dalam Islam kewajiban bagi orang yang hidup terhadap yang meninggal dunia ada 4
(empat):

1. Memandikan, 2. Mengkafani, 3. Menshalatkan, dan 4. Menguburkan

Islam menaruh perhatian yang sangat serius dalam masalah ini, sehingga hal ini
termasuk salah satu kewajiban yang harus dipenuhi oleh umat manusia, khususnya umat
Islam.Perawatan jenazah ini merupakan hak si mayat dan kewajiban bagi umat Islam untuk
melakukannya dengan pengurusan yang terbaik.Dalam kenyataan masih banyak ditemukan
dalam kehidupan sehari-hari umat Islam yang belum mengetahui bagaimana tatacaramengurus
jenazah. Islam tidak hanya mengatur apa yang harus diperbuat kepada orang yang sudah
meninggal saja, tetapi juga kepada orang yang sedang sakit yang dimungkinkan akan
meninggal. Hal yang perlu dilakukan bagi orang yang sedang sakit di antaranya adalah:
1. Bagi yang sakit hendaknya rela dengan apa yang menimpanya dan harus sabar
menghadapinya.
2. Orang yang sakit juga harus takut dengan dosa-dosanya yang selama ini dilakukan dan
penuh harap agar Allah memberikan rahmat kepadanya. Bagaimanapun sakitnya,
seseorang tidak boleh berharap agar segera mati.
3. Kalau ada kewajiban yang harus ditunaikan hendaknya segera ditunaikan, tetapi kalau
belum ditunaikan segera diwasiatkan.
[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 129
Dalam hal menghadapi orang yang menjelang ajal (sakaratul maut), Nabi
Saw.menganjurkan kepada orang-orang Islam di sekitarnya untuk melakukan hal-hal
sebagai berikut:
1. Menengoknya dengan memberikan nasihat-nasihat terbaik bagi si sakit dan memberi
semangat kepadanya.
2. Menganjurkan untuk selalu bersabar dan selalu berbaik sangka kepada Allah.
3. Menganjurkan si sakit untuk menghindari hal-hal yang dapat merusak kemurnian
tauhid.
4. Berdoa untuk si sakit.
5. Menalqin si sakit dengan bacaan syahadat agar dapat mengakhiri hidupnya dengan baik
(husnul khatimah).
6. Menghadapkan si sakit ke arah kiblat.
Adapun hal-hal yang harus dilakukan terhadap orang yang sudah meninggal adalah
merawat jenazahnya yang dimulai sejak menyiapkannya, memandikannya, mengkafaninya,
menshalatkannya, hingga menguburkannya.Merawat jenazah termasuk salah satu kewajiban
umat Islam yang termasuk dalam wajib kifayah, artinya kewajiban yang kalau dikerjakan oleh
sebagian umat Islam maka gugurlah kewajiban sebagian umat Islam lainnya. Hal-hal yang
harus dilakukan terhadap orang yang sudah meninggal adalah sebagai berikut:
1. Segera memejamkan mata si mayat dan mendoakannya.
2. Menutup seluruh badan si mayat dengan pakaian (kain) selain pakaiannya, kecuali
bagi mayat yang sedang berihram.
3. Menyegerakan pengurusan mayat mulai dari memandikan, mengkafani
(membungkus), menshalatkan hingga menguburkannya.
4. Sebagian dari keluarganya juga hendaknya segera menyelesaikan hutang-hutang si
mayat.
Secara khusus Nabi SAW memberikan tuntunan dalam perawatan jenazah ini yang
meliputi memandikan jenazah, mengkafani, menshalatkan, sampai menguburkannya.Dalam hal
ini Nabi SAW tidak memberikan aturan yang rinci, hanya ketentuan umum saja yang
mempermudah kita umat Islam untuk mengembangkannya sendiri di tengah masyarakat yang
memiliki budaya yang berbeda-beda.Namun secara khusus Nabi SAW juga memberikan
rambu-rambu mana yang harus dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan.
Berikutnya akan diuraikan satu-persatu mengenai perawatan jenazah mulai dari
memandikan, mengkafani, menshalatkan, dan menguburkan jenazah. Uraian ini didasarkan
pada penjelasan Nabi SAW.dalam hadits-haditsnya.
[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 130
1. MEMANDIKAN JENAZAH
Hukum memandikan mayat bagi orang Muslim yang hidup adalah fardlu kifayah.Yang
wajib dimandikan adalah mayat Muslim yang tidak mati syahid, yaitu orang yang mati karena
dalam pertempuran fi sabilillah melawan orang kafir.Orang yang mati syahid tidak perlu
dimandikan, sebagaimana sabda Rasulullah Saw.tentang orang-orang yang gugur dalam
pertempuran Uhud:
“Jangan kamu mandikan mereka, karena sesungguhnya setiap luka dan darah akan semerbak
bau kesturi pada hari kiamat, dan tidak usah mereka dishalati” (HR. Ahmad dari Jabir).
Orang yang memandikan mayat sebaiknya adalah keluarga terdekat dari si mayat, kalau dia
tahu cara memandikannya. Apabila mayat itu laki-laki seharusnya yang memandikan juga laki-
laki.Apabila mayat itu perempuan yang memandikan juga perempuan.Kecuali untuk anak
kecil, maka boleh dimandikan oleh orang yang berlainan jenis kelamin.
Nabi SAW bersabda: “Apakah yang menyusahkanmu seandainya engkau mati sebelum aku,
lalu aku memandikanmu dan mengkafani, kemudian aku menshalatkan dan menguburmu”
(HR. Ahmad, Ibnu Majah, Ad-Darimi, Ibnu Hiban, Ad-Daruquthni, dan Al-Baihaqi dari
‘Aisyah).
Alat-alat yang perlu disediakan untuk memandikan mayit di antaranya adalah:
a. Tempat tidur atau meja dengan ukuran kira-kira tinggi 90 cm, lebar 90 cm, dan panjang
200 cm, untuk meletakkan mayit.
b. Air suci secukupnya di ember atau tempat lainnya (6-8 ember).
c. Gayung secukupnya (4-6 buah).
d. Kendi atau ceret yang diisi air untuk mewudukan mayit.
e. Tabir atau kain untuk menutup tempat memandikan mayit.
f. Gunting untuk melepaskan baju atau pakaian yang sulit dilepas.
g. Sarung tangan untuk dipakai waktu memandikan agar tangan tetap bersih, terutama bila
mayitnya berpenyakit menular.
h. Sabun mandi secukupnya, baik padat maupun cair.
i. Sampo untuk membersihkan rambut.
j. Kapur barus yang sudah dihaluskan untuk dicampur dalam air.
k. Kalau ada daun bidara juga bagus untuk dicampur dengan air.
l. Tusuk gigi atau tangkai padi untuk membersihkan kuku mayit dengan pelan.

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 131


m. Kapas untuk membersihkan bagian tubuh mayit yang halus, seperti mata, hidung,
telinga, dan bibir. Kapas ini juga bisa digunakan untuk menutup anggota badan mayit
yang mengeluarkan cairan atau darah, seperti lubang hidung, telinga, dan sebagainya.

Adapun cara memandikan jenazah secara singkat dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Menaruh mayat di tempat yang tinggi supaya memudahkan mengalirnya air yang telah
disiramkan ke tubuh mayat.
b. Melepaskan pakaian mayat lalu ditutup dengan kain agar auratnya tidak terlihat, kecuali
anak kecil.
c. Orang yang memandikan mayat hendaknya menggunakan sarung tangan, terutama
ketika menggosok aurat si mayat.
d. Mengurut perut si mayat dengan pelan untuk mengeluarkan kotoran-kotoran yang ada
dalam perutnya, kecuali perut perempuan yang hamil.
e. Memulai membasuh anggota badan si mayat sebelah kanan dan anggota tempat wudlu.
f. Membasuh seluruh tubuh si mayat dengan rata tiga kali, lima kali, tujuh kali, atau lebih
dengan bilangan ganjil. Di antaranya dicampur dengan daun bidara atau yang
sejenisnya yang dapat menghilangkan kotoran-kotoran di badan mayat, seperti
sabun,sampo, dan sebagainya.
g. Menyiram mayit berulang-ulang hingga rata dan bersih dengan jumlah ganjil. Waktu
menyiram tutuplah lubang-lubang tubuh mayit agar tidak kemasukan air.
h. Jangan lupa membersihkan rongga mulut mayit, lubang hidung, lubang telinga,
kukunya, dan sebagainya.
i. Yang terakhir, siramlah dengan larutan kapur barus atau cendana.

Untuk mayat perempuan setelah rambutnya diurai dan dimandikan hendaknya


dikeringkan dengan semacam handuk lalu dikelabang menjadi tiga, satu di kiri, satu di kanan,
dan satu di ubun-ubun, lalu ketiga-tiganya dilepas ke belakang. Setelah selesai dimandikan,
badan mayat kemudian dikeringkan dengan semacam handuk.
Demikian ketentuan pokok tentang cara memandikan mayat sebagaimana dijelaskan
oleh Nabi Saw. Dalam prakteknya cara-cara ini bisa berkembang sesuai dengan kebiasaan
masing-masing umat Islam didaerahnya.Selama tidak menyalahi aturan pokok ini dan
prinsipnya untuk dapat memandikan mayat dengan sebaik-baiknya, maka hal itu masih
diperbolehkan.

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 132


Di samping hal-hal di atas ada hal-hal penting yang perlu diperhatikan terkait dengan
memandikan jenazah, di antaranya adalah sebagai berikut:
a. Tidak ada perintah yang jelas tentang mewudukan mayit sebelum memandikannya.
Yang ada adalah dalam memandikan mayit hendaknya mendahulukan bagian yang
kanan dan anggota-anggota wudu.
b. Dalam keadaan tertentu mayit dapat ditayamumkan, seperti 1) bila tidak ada air, 2) bila
jasadnya akan rusak kalau kena air, dan 3) bila mayit perempuan tidak mempunyai
suami dan tidak ada orang perempuanlain di sekitarnya.
c. Jika keluar najis dari tubuh mayit setelah dimandikan, maka najis itu harus dibersihkan
dengan mencucinya dan tidak perlu diulang memandikannya, dan jika sudah dikafani,
maka tidak perlu dibongkar lagi kafannya untuk dibersihkan.
d. Orang yang selesai memandikan mayit dianjurkan untuk mandi.
e. Orang yang memandikan mayit janganlah membuka rahasia mayit yang merugikan.
Ada hal-hal penting yang harus diperhatikan dalam memandikan mayit yang terkena
kena penyakit rabies atau yang sejenisnya:
a. Mayit hendaknya direndam dulu dengan air yang dicampur rinso atau obat selama 2
jam.
b. Setelah itu mayit disiram dengan air bersih dan disabun selama kira-kira 10 menit lalu
dibilas dengan air bersih.
c. Kemudian siramlah mayit dengan air yang dicampur dengan cairan obat seperti lisol,
karbol, atau yang sejenisnya. Ukurannya 100 cc (setengah gelas cairan obat) dicampur
air satu ember. Terakhir siramlah dengan air bersih kemudian dikeringkan.

Setelah itu dikafani dengan beberapa rangkap kain kafan.Kapas yang ditempelkan pada
persendian hendaknya dicelupkan kecairan obat.Lalu masukkan ke peti dan langsung
dihadapkan ke arah kiblat.Tali-tali kain kafan tidak perlu dilepas dan dalam peti ditaburi
kaporit.Setelah peti ditutup mati lalu dishalatkan.Barang-barang bekas dipakai mayit yang kena
rabies hendaknya dimusnahkan (dibakar).Orang yang memandikan mayit yang kena rabies
hendaknya memakai sarung tangan, mengenakan kacamata renang, memakai sepatu boot, dan
setelah memandikan tangan dan kakinya dicuci dengan cairan obat seperti dettol, dan
sebagainya.

2. MENGKAFANI JENAZAH

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 133


Hukum mengkafani jenazah atau mayat juga fardlu kifayah.Mengkafani mayat berarti
membungkus mayat dengan selembar kain atau lebih yang biasanya berwarna putih, setelah
mayat selesai dimandikan dan sebelum dishalatkan serta dikubur.Mengkafani mayat
sebenarnya sudah cukup dengan satu lembar kain saja yang dapat menutup seluruh tubuh si
mayat.Namun kalau memungkinkan, hendaknya mengkafani mayat ini dilakukan dengan
sebaik-baiknya. Karena itu dalam mengkafani mayat ini ikutilah petunjuk-petunjuk yang
diberikan oleh Nabi SAW., diantaranya adalah sebagai berikut:
a. Kafanilah mayat dengan sebaik-baiknya. Nabi Saw. bersabda:
“Apabila salah seorang dari kamu mengkafani saudaranya, maka hendaklah ia
mengkafaninya dengan baik” (HR. Ahmad, Muslim, dan Abu Daud dari Jabir).
b. Pakailah kain kafan yang berwarna putih.
c. Kafanilah mayat laki-laki dengan tiga lapis dan mayat perempuan dengan lima lapis.
Lima lapis ini terdiri dari sarung, baju kurung, kerudung, lalu pembungkus dan
kemudian dibungkus satu lapis lagi.
d. Lulurlah mayat dengan semacam cendana, yaitu wangi-wangian yang biasa untuk
mayat, kecuali mayat yang sedang berihram.
Hal-hal lain yang perlu diperhatikan dalam mengkafani mayat adalah seperti berikut:
a. Jangan mengkafani mayat secara berlebihan.
b. Untuk mengkafani mayat yang sedang melakukan ihram,maka cukup dikafani dengan
kain yang dipakainya untuk ihram.
c. Bagi laki-laki tidak boleh ditutup kepalanya dan bagi perempuan tidak boleh ditutup
mukanya serta tidak boleh diberi wangi-wangian.
d. Bagi mayat yang mati syahid, cukup dikafani dengan kain yang menempel ditubuhnya
ketika dia meninggal, meskipun banyak darah yang menempel dikainnya. Jika ada
pakaian yang terbuat dari besi atau kulit, maka hendaknya ditanggalkan.
e. Biaya kain kafan yang digunakan hendaknya diambil dari pokok harta peninggalan si
mayat.
Alat-alat yang perlu disiapkan untuk mengkafani mayat diantaranya seperti berikut:
a. Kain kafan kurang lebih 12 meter.
b. Kapas secukupnya.
c. Kapur barus yang telah dihaluskan.
d. Kayu cendana yang telah dihaluskan.
e. Sisir untuk menyisir rambut.
f. Tempat tidur atau meja untuk membentangkan kain kafan yang sudah dipotong-potong.
[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 134
Cara membuat kain kafan bisa bermacam-macam. Di antara cara yang praktis adalah
seperti berikut:
a. Guntinglah kain kafan menjadi beberapa bagian :
1) Kain kafan sebanyak 3 helai sepanjang badan mayit ditambah 50 cm.
2) Tali untuk pengikat sebanyak 8 helai: 7 helai untuk tali kain kafan dan satu helai untuk
cawat. Lebar tali 5-7 cm.
3) Kain untuk cawat. Caranya dengan menggunting kain sepanjang 50 cm lalu dilipat
menjadi tiga bagian yang sama. Salah satu ujungnya dilipat kira-kira 10 cm lalu
digunting ujung kanan dan kirinya untuk lubang tali cawat. Lalu masukkanlah tali
cawat pada lubang-lubang itu.Dalam cawat ini berilah kapas yang sudah ditaburi kapur
barus atau cendana sepanjang cawat.
4) Kain sorban atau kerudung. Caranya dengan menggunting kain sepanjang 90/115 cm
lalu melipatnya antara sudut yang satu dengan yang lain sehingga menjadi segi tiga.
Sorban ini berguna untuk mengikat dagu mayit agar tidak terbuka.
5) Sarung. Caranya dengan menggunting kain sepanjang 125 cm atau lebih sesuai dengan
ukuran mayit.
6) Baju. Caranya dengan menggunting kain sepanjang 150cm atau lebih sesuai dengan
ukuran mayit. Kain itu dilipat menjadi dua bagian yang sama. Lebar kain itu juga
dilipat menjadi dua bagian sehingga membentuk empat persegi panjang.Lalu guntinglah
sudut bagian tengah menjadi segi tiga. Bukalah bukalah kain itu sehingga bagian tengah
kainakan kelihatan lubang berbentuk belah ketupat. Salah satu sisi dari lubang itu
digunting lurus sampai pada bagian tepi,sehingga akan berbentuk sehelai baju.

b. Di samping kain kafan perlu juga disiapkan kapas yang sudah dipotong-potong untuk:
1) Penutup wajah/muka. Kapas ini berbentuk bujur sangkar dengan ukuran sisi kira-kira
30 cm sebanyak satu helai.
2) Bagian cawat sepanjang kira-kira 50 cm sebanyak satu helai.
3) Bagian penutup persendian anggota badan berbentuk bujur sangkar dengan sisi kira-
kira 15 cm sebanyak 25 helai.
4) Penutup lubang hidung dan lubang telinga. Untuk ini buatlah kapas berbentuk bulat
sebanyak 4 buah. Di bagian atas kapas-kapas itu ditaburi kapur barus dan cendana yang
sudah dihaluskan.
[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 135
Adapun cara mengkafani mayat dengan baik dan praktis adalah seperti berikut:
a. Letakkan tali-tali pengikat kain kafan sebanyak 7 helai, dengan perkiraan yang akan
ditali adalah:
1) bagian atas kepala, 2) bagian bawah dagu, 3) bagian bawah tangan yang sudah
disedekapkan, 4) bagian pantat, 5) bagian lutut, 6) bagian betis, 7) bagian bawah
telapak kaki.
b. Bentangkan kain kafan dengan susunan antara lapis pertama dengan lapis lainnya tidak
tertumpuk sejajar, tetapi tumpangkan sebagian saja, sedangkan lapis ketiga bentangkan
di tengah-tengah.
c. Taburkan pada kain kafan itu kapus barus yang sudah dihaluskan.
e. Letakkan kain surban atau kerudung yang berbentuk segitiga dengan bagian alas di
sebelah atas. Letak kerudung ini diperkirakan di bagian kepala mayit.
f. Bentangkan kain baju yang sudah disiapkan. Lubang yang berbentuk belah ketupat
untuk leher mayit. Bagian sisi yang digunting dihamparkan ke atas.
g. Bentangkan kain sarung di tengah-tengah kain kafan.Letak kain sarung ini diperkirakan
pada bagian pantat mayit.
h. Bujurkan kain cawat di bagian tengah untuk menutup alat vital mayit.
i. Lalu letakkan mayit membujur di atas kain kafan dalam tempat tertutup dan terselubung
kain.
j. Sisirlah rambut mayat tersebut ke belakang.
k. Pasang cawat dan talikan pada bagian atas.
l. Tutuplah lubang hidung dan lubang telinga dengan kapas yang bulat.
m. Sedekapkan kedua tangan mayait dengan tangan kanan di atas tangan kirinya.
n. Tutuplah persendian mayit dengan kapas-kapas yang telah ditaburi kapur barus dan
cendana yang dihaluskan, seperti sendi jari kaki, mata kaki bagian dalam dan luar,
lingkaran lutut kaki, sendi jari-jari tangan, pergelangan tangan, siku, pangkal lengan
dan ketiak, leher, dan wajah/muka.
o. Lipatlah kain sarung yang sudah disiapkan.
p. Kenakan baju yang sudah disiapkan dengan cara bagian sisi yang telah digunting
diletakkan di atas dada dan tangan mayit.
q. Ikatkan surban yang berbentuk segitiga dengan ikatan di bawah dagu.
r. Lipatkan kain kafan melingkar ke seluruh tubuh mayit selapis demi selapis sambil
ditarik ujung atas kepala dan ujung bawah kaki.
[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 136
s. Kemudian talikan dengan tali-tali yang sudah disiapkan.

3. MENSHALATKAN JENAZAH
a). Pengertian Sholat Jenazah
Shalat Jenazah adalah Shalat yang dikerjakan sebanyak 4 kali takbir yang dikerjakan
pada saat seorang muslim meninggal dunia karena setiap orang muslim yg meninggal dunia
perlu dimandikan dan di Shalati terlebih dahulu sebelum jasadnya dimakamkan.
Hukum Shalat Jenazah adalah Fardu Kifayah atau kewajiban yg ditunjukan kepada
orang banyak (muslim) tetapi bila sebagian sudah melaksanakan Shalat maka gugurlah
kewajiban bagi yang lainnya.

b). Keutamaan Shalat Jenazah


Bagi mereka yang melakukannya akan mendapatkan pahala yang sangat banyak seperti
Sabda Nabi Muhammad SAW yg berbunyi: ”Barang siapa yg mengiringi Jenazah dan turut
menshalatkannya maka dia akan memperoleh pahala sebesar 1 (satu) Qirath dan siapa yg
mengiringinya sampai selesai pemakamannya maka dia akan mendapatkan 2 (dua) Qirath”
(HR. Muttafaq’ alaih) . Yang dimaksud dengan qirath adalah gunung yg sangat besar. Oleh
sebab itu mulai sekarang ada baiknya jika anda rajin-rajinlah ikut Sholat Jenazah dan
mengantar jenazah ke pemakaman jika ada seorang muslim yg meninggal dunia.

c). Rukun Shalat Jenazah


Terdiri dari 8 rukun dan Hukum menjalankannya adalah "Fardhu Kifayah" artinya jika
tidak ada yang menjalankan, semua akan berdosa. Shalat ini tidak memakai ruku’, sujud,
i’tidal dan tahiyyat, hanya dengan 4 takbir dan 2 salam, yang dilakukan dalam keadaan
berdiri saja.

d). Syarat Menyelenggarakan Sholat Mayit


Dalam melaksanakan sholat jenazah terdapat juga syarat penyelenggaraannya.Adapun
syarat yang harus dipenuhi dalam penyelenggaraan salat jenazah adalah :

 Orang yang melakukan sholat jenazah harus memenuhi syarat sah salat pada umumnya.
Misalnya yaitu menutup aurat, suci dari hadas, menghadap kiblat dll.
 Jenazah yang akan dishlati harus sudah dimandikan serta dikafani

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 137


 Jenazah diletakkan disebelah mereka yang akan menyolati, kecuali jika dilaksanakan di
atas kubur atau salat ghaib.

e). Tata cara shalat jenazah dan Doa Shalat Jenazah

1. Lafazh Niat Shalat Jenazah :

Artinya:

"Aku niat shalat atas jenazah ini, fardhu kifayah sebagai makmum/imam lillaahi ta’aalaa.."
(kalau perempuan dipakai "hazihi")

2. Setelah Takbir Pertama membaca surat al-Fatihah


3. Setelah Takbir Kedua membaca Shalawat kepada Nabi SAW

ِ‫اللَ ُه َمِص ِلِعلىِ ُمح َمدٍِوعلىِاا ِلِ ُمح َمدٍِكماِصلَيْتِعلىِاِبْرا ِهيْمِوعلى‬


ِ‫ار ْك ِعلى ِ ُمح َم ٍد ِوعلى ِاا ِل ِ ُمح َم ٍد ِكما ِبار ْكت ِعلى‬
ِ ‫ل ِاِبْرا ِهيْم ِوب‬
ِِ ‫اا‬
ْ ِ‫اِبْرا ِهيْمِوعلىِاا ِلِاِبْرا ِهيْمِف‬
ٌ‫ىِالعال ِميْنِاِنَكِح ِم ْيدٌِم ِج ْي ِد‬

4. Setelah Takbir Ketiga membaca: Do’a untuk mayit

ِ‫ْفِع ْنهُِ(ها)ِوِا ْك ِر ْم‬ ْ ‫اِللَ ُه َمِا ْغ ِف ْرِلهُِ(لها)ِو‬


ُ ‫ارح ْمهُِ(ها)ِوعافِ ِهِ(ها)ِواع‬
ِ‫اء ِوالثَلجِ ِو ْالبر ِد ِون ِق ِه‬
ِِ ‫نُ ُزلهُِ(ها)ِوو ِس ْع ِم ْدخلهُِ(ها)ِوا ْغس ِْلهُِ(ها)ِبِ ْالم‬
ِ ‫ِمن ِالدَن ِس ِوا ْبد ِْلهُِدا ًراِخي ًْر‬
ِ‫اِم ْن‬ ِ ‫ض‬ُ ‫ب ِاَّلبْي‬ ْ ‫ِمن‬
ُ ‫ِالخطاياِكماِيُنقَىِالث َ ْو‬
ْ ‫ِم ْن ِز ْو ِج ِِه ِ ِوقِ ِه ِفِتْنة‬
ِ‫ِالقب ِْر‬ ِ ‫د ِار ِه ِوا ْهَلً ِخي ًْرا‬
ِ ‫ِم ْن ِا ْه ِل ِه ِوز ْوجا ِخي ًْرا‬
ِِ َ‫ابِالن‬
ِ ‫ار‬ ً ‫وعذ‬
5. Setelah Takbir Keempat membaca: Do’a untuk mayit

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 138


ِ)‫اللَ ُه َم َِّل ِت ْح ِر ْمن ِا ْجرهُ ِ(ها) ِوَّل ِت ْفتِنَا ِب ْعدهُ ِ(ها) ِوا ْغ ِف ْرلنا ِولهُ ِ(ها‬
ِ‫ِباَّليْمانِوَّل ِت ْجع ْل ِفِىِقُلُ ْوبِناِ ِغَل ِ ِللَ ِذيْن ِاامنُوا‬
ِ ‫و َِّل ْخوانِناِالَ ِذيْن ِسبقُ ْونا‬
ِ ‫ِالر ِح ْي ٌِم‬
َ ‫ف‬ ُ ‫ربَناِاِنَكِرِؤ ُْو‬
6. Kemudian memberi salam ke kanan dan kekiri.

6. MENGUBURKAN JENAZAH

Mengubur jenazah merupakan prosesi terakhir dari perawatan jenazah.Hukumnya juga


fardlu kifayah seperti tiga perawatansebelumnya.Waktunya boleh siang dan boleh malam,
asal tidak pas waktu matahari terbit, matahari terbenam, atau matahari tepat di atas kita
(tengah hari). Hal-hal penting yang harus diperhatikan dalam rangka mengubur mayat
adalah sebagai berikut:
a. Memperdalam galian lobang kubur agar tidak tercium bau si mayat dan tidak dapat
dimakan oleh burung atau binatang pemahan bangkai.
b. Cara menaruh mayat di kubur ada yang ditaruh di tepi lubang sebelah kiblat kemudian
di atasnya ditaruh papan kayu atau yang semacamnya dengan posisi agak condong agar
tidak langsung tertimpa tanah ketika mayat ditimbuni tanah. Bisa juga dengan cara lain
dengan prinsip yang hampir sama, misalnya dengan menggali di tengah-tengah dasar
lobang kubur, kemudian mayit ditaruh di dalam lobang itu, lalu di atasnya ditaruh
semacam bata atau papan dari semen dalam posisi mendatar untuk penahan tanah
timbunan. Cara ini dilakukan bila tanahnya gembur. Cara lain adalah dengan menaruh
mayit dalam peti dan menanam peti itu dalam kubur.
c. Cara memasukkan mayat ke kubur yang terbaik adalah dengan mendahulukan
memasukkan kepala mayat dari arah kakikubur.
d. Mayat diletakkan miring ke kanan menghadap ke arah kiblat dengan menyandarkan
tubuh sebelah kiri ke dinding kubur supaya tidak terlentang kembali.
e. Para ulama menganjurkan supaya ditaruh tanah di bawah pipi mayat sebelah kanan
setelah dibukakan kain kafannya dari pipi itu dan ditempelkan langsung ke tanah.
Simpul tali yang mengikat kain kafan supaya dilepas.
f. Waktu memasukkan mayat ke liang kubur dan meletakkannya dianjurkan membaca doa
seperti:
BISMILLAAHI WA ‘ALAA MILLATI ROSUULILLAAHI.
[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 139
Artinya: “Dengan nama Allah dan atas agama Rasulullah” (HR. at-Tirmidzi dan Abu
Daud).
g. Untuk mayat perempuan, dianjurkan membentangkan kain di atas kuburnya pada waktu
dimasukkan ke liang kubur. Sedang untuk mayat laki-laki tidak dianjurkan.
h. Orang yang turun ke lobang kubur mayit perempuan untuk mengurusnya sebaiknya
orang-orang yang semalamnya tidak mensetubuhi isteri mereka.
i. Setelah mayat sudah diletakkan di liang kubur, dianjurkan untuk mencurahinya dengan
tanah tiga kali dengan tangannya dari arah kepala mayit lalu ditimbuni tanah.
j. Di atas kubur boleh dipasang nisan sebagai tanda. Yang dianjurkan, nisanini tidak perlu
ditulisi.
k. Setelah selesai mengubur, dianjurkan untuk mendoakan mayat agar diampuni dosanya
dan diteguhkan dalam menghadapi pertanyaan malaikat.
l. Dalam keadaan darurat boleh mengubur mayat lebih dari satu dalam satu lubang kubur.
m. Mayat yang berada di tengah laut boleh dikubur di laut dengan cara dilempar ke tengah
laut setelah selesai dilakukan perawatan sebelumnya.

Beberapa larangan yang perlu diperhatikan terkait dengan mengubur jenazah


diantaranya adalah:
1) Jangan membuat bangunan di atas kuburan,
2) Jangan mengapuri dan menulisi di atas kuburan,
3) Jangan menjadikan tempat shalat di atas kuburan,
4) Jangan duduk di atas kuburan dan jangan berjalan di sela-sela kuburan dengan
memakai alas kaki,
5) Jangan menyembelih binatang di sisi kubur,

PANDUAN DO’A-DO’A HARIAN

DO’A DAN ADAB MEMPEROLEH RAHMAT

Artinya:
“Ya Allah, bukakanlah bagi kami hikmah-Mu dan curahkan kepada kami rahmat-Mu dan
pintu-pintu rahmat-Mu wahai yang Maha Pengasih dan Penyayang”.

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 140


Isi pokok do’a :
1. Memohon kepada Allah agar selalu membukakan pintu rahmat.
2. Rahmat adalah perasaan rahman (pengasih) dan rahim (penyayang) Allah
3. Allah adalah Pengasih yang paling pengasih.
4. Allah adalah Pemilik Pintu-pintu Rahmat, karena itulah kita memohon rahmat kepada-Nya.

Adab memperoleh rahmat :


1. Selalu berdo’a agar memperoleh rahmat
2. Selalu memperbanyak amal shaleh.
3. Selalu menjauhi perbuatan maksiat (dosa)

DO’A DAN ADAB MEMBACA AL-QUR’AN

Artinya:
“Ya Allah, belas kasihanilah kami dengan Al-Qur’an dan jadikanlah ia bagi kami Pemimpin,
Cahaya, Petunjuk, dan Karunia. Ya Allah, ingatkanlah kami dan padanya yang kami lupa,
beritahukanlah kami dan padanya sesuatu yang kami tak tahu, limpahkanlah kami bacaannya
di tengah malam maupun tepian siang, dan jadikanlah ia bagi kami sebagai alasan, wahai
Tuhan segenap alam raya”.
(H.R. Abu Mansyur Al Mudlafar dari Abu Dzar al-Ghifari)

Isi pokok do’a:


1. Mudah-mudahan Allah menyayangi orang yang rajin membaca Al-Qur’an.
2. Mudah-mudahan Al-Qur’an menjadi pembimbing hidup bagi pembacanya.
3. Kalau lupa ketika menghafal Al-Qur’an, mudah mudahan, diingatkan oleh Allah.
4. Mudah-mudahan dengan membaca Al-Qur’an, ilmu pengetahuan semakin bertambah
banyak.
5. Mudah-mudahan Allah melimpahkan keberkahan siang malam kepada orang yang suka
membaca Al-Qur’an.
6. Mudah-mudahan Al-Qur’an selalu menjadi pegangan dalam berpendapat dan berperilaku.

Adab membaca Al-Qur’an:


1. Disunahkan membaca Al-Qur’an setelah berwudlu dalam keadaan bersih.

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 141


2. Disunahkan saat mengambil Al-Qur’an dengan tangan kanan dan memegangnya dengan
kedua belah tangan.
3. Disunahkan membaca Al-Qur’an di tempat yang bersih dan paling utama di masjid.
4. Disunahkan menghadap Kiblat dan berpakaian sopan.
5. Mengawalinya dengan “Ta’awudz”.
6. Apabila telah mengerti artinya, hendaknya membaca Al-Quran dengan penuh perhatian dan
memikirkan isi bacaannya.
7. Meresapi seruan ayat yang dibacanya. Apabila diungkapkan tentang siksaan bagi orang
yang berdosa, berusahalah untuk merasakan betapa pedihnya siksaan itu. Sedangkan
apabila berisi tentang balasan nikmat bagi orang beriman, berusahalah untuk bersikap
bahagia dan senang.
8. Hendaklah mengetahui aturan ilmu Tajwid, cara-cara berhenti dan lain-lain.

DO’A DAN ADAB MEMULAI BELAJAR

Artinya: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan” (QS. Thaha:114)

Atau

Artinya:
“Ya Allah sesungguhnya aku mohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang baik, serta
amal yang diterima.

Isi pokok do’a :


1. Mudah-mudahan Allah melimpahkan rizki yang baik.
2. Mudah-mudahan Allah memberikan ilmu yang bermanfaat.

Adab dalam belajar :


1. Niat belajar untuk mencari ridha Allah
2. Menghormati guru.
3. Tidak ribut saat guru menerangkan pelajaran.
4. Berani bertanya bila ada hal yang tidak diketahui.
5. Selalu siap mengerjakan tugas yang diperintahkan oleh guru (dalam kebaikan).
6. Selalu siap mengerjakan perbuatan kebaikan yang tata caranya telah diketahui.
7. Tidak sombong dan sok pintar.

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 142


8. Tidak menjawab pertanyaan yang ditujukan kepada orang lain disaat guru kita memberi
pertanyaan yang sengaja dikhususkan padanya, kecuali sudah diberi izin oleh guru kita.
9. Memelihara dengan baik alat-alat belajar.
10. Tidak terlambat datang ke tempat belajar.
11. Mengulang-ulang pelajaran supaya benar-benar dikuasai.

DO’A DAN ADAB BICARA

Artinya:
Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku dan mudahkanlah untukku urusanku serta
lepaskanlah kekakuan lidahku supaya mereka mengerti perkataanku.” (QS. Thaha . 25-28)

Isi pokok do’a:


1. Mudah-mudahan dada menjadi lapang ketika berbicara dan tidak grogi.
2. Mudah-mudahan lidah bisa berbicara lancar, tidak kaku.
3. Mudah-mudahan orang yang dibawa berbicara mudah memahami perkataan kita.

Adab berbicara:
1. Apabila tidak dapat berkata baik, maka sebaiknya diam.
2. Tidak mengumpat orang lain atau memfitnah.
3. Tidak mengadu domba orang lain.
4. Tidak mencela orang lain.
5. Tidak berkata kotor atau keji.
6. Mencegah orang yang mengumpat, mengadu domba, berkata kotor atau keji dan apabila
tidak mampu, jauhilah orang yang melakukan hal tersebut.
7. Berkata jujur dan tidak menipu.
8. Tidak mengutuk orang shaleh.
9. Tidak membentak-bentak orang lain.
10. Tidak menyebut ”Si Kafir” pada orang lain.
11. Tidak menjuluki orang lain dengan julukan jelek.
12. Apabila bertiga atau lebih dilarang berbisik-bisik hanya dua orang.
13. Tidak mencaci angin, hewan, atau tumbuhan.
14. Tidak membuka rahasia orang lain.
15. Hindari mencaci orang lain kecuali demi kebaikan.
16. Bebicara harus jelas sehingga orang lain faham
17. Jangan berbantah-bantah yang tidak perlu.
18. Jangan mengatakan sesuatu yang belum diketahui benar.

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 143


DO’A DAN ADAB DALAM PERTEMUAN

Artinya:
“Maha Suci Engkau ya Allah dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan
selain Engkau. Aku memohon ampun dan bertobat kepada-Mu” (HR. Tirmidzi)

Atau

Artinya:
“Maha Suci Tuhanmu yang mempunyai keperkasaan dan sesuatu yang mereka katakan, Dan
semoga kesejahteraan diimpahkan atas para Rasul. Dan segala puji bagi Allah Tuhan pemilik
alam semesta” (QS : As-Shofat. 180-182)

Isi pokok do’a:


1. Memulai belajar dengan memuji Allah agar mendapat keberkahan.
2. MenDO’Akan nabi yang telah berjasa berjuang menebarkan ilmu.
3. Memohon ampun kepada Allah agar ilmu mudah difahami dan bermanfaat.

Adab dalam pertemuan:


1. Duduk dengan tenang.
2. Memahami situasi pertemuan (berduka, bersuka ria).
3. Memberi tempat duduk bagi mereka yang baru datang.
4. Tidak merebut tempat duduk orang lain.
5. Menjauhi kebiasaan jelek, seperti memasukkan jari ke lubang hidung, membersihkan sisa
makanan di mulut, tidak menutup mulut tatkala menguap.
6. Apabila akan bersin, segera melindungi mulut dan hidung dengan sapu tangan atau dengan
kedua tangan supaya tidak memercik kepada orang lain.
7. Tidak berkumpul di tengah jalan tempat berlalu lalang manusia.

DO’A DAN ADAB SEBELUM MAKAN

Artinya:

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 144


“Ya Allah berkahilah rezeki yang Engkau berikan kepada kami dan peliharalah kami dari
siksa neraka”(Al-Muwatho Malik)

Isi pokok do’a:


1. Mudah-mudahan Allah memberkahi rizki yang akan dinikmati.
2. Mudah-mudahan apa yang dimakan selalu bermanfaat.
3. Mudah-mudahan apa yang dimakan, tidak berbahaya di dunia dan tidak berbahaya di
akhirat,

Adab sebelum makan:


1. Mencuci tangan sebelum makan dan sesudah makan.
2. Membaca Bismillah dan do’a sebelum makan.
3. Makan dengan tangan kanan.
4. Jangan mencela makanan, apabila tidak suka terhadap makanan maka tinggalkan saja.
5. Hindari makan sambil bersandar.
6. Tidak boleh membuang buang makanan,
7. Tidak terlalu kenyang.
8. Makan sambil duduk.
9. Kurang baik meniup-niup air yang panas.
10. Jika harus antri, antrilah dengan tertib.
11. Alangkah baiknya berbagi makanan dengan teman.
12. Disunahkan makan tidak menyendiri.
13. Memilih tempat yang tepat/lowong.
14. Mengambil makanan yang terdekat.
15. Tidak memandangi wajah-wajah orang yang sedang makan.
16. Makanlah makanan dari sisi wadahnya bukan dari tengah-tengahnya.
17. Tatkala mengunyah, janganlah mulutnya berbunyi.

DO’A DAN ADAB SESUDAH MAKAN

Artinya:“Segala puji bagi Allah yang telah memberi makan, memberi minum kepada kami dan
menjadikan kami sebagai umat Islam (Diriwayatkan oleh Abu Dawud)

Isi pokok do’a:


1. Bersyukur dengan memuji Allah yang telah memberi makan dan minum.
2. Mudah-mudahan Allah tetap menjadikan kita sebagai muslim, yang senantiasa memakan
makanan yang halal dan baik saja, dijauhkan dari makanan yang haram.

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 145


Adab sesudah makan:
1. Membaca do’a setelah makan.
2. Mencuci tangan setelah makan.
3. Membereskan alat-alat bekas makan.

DO’A DAN ADAB BERPAKAIN

Artinya: ”Ya Allah aku memohon kepada-Mu kebaikan pakaian ini, kebaikan dari apa yang
diperuntukkan baginya dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan dan keburukan apa
yang diperuntukkan kepadanya”(Diriwayatkan oleh Ibnu Sanni)

DO’A KETIKA MEMBUKA PAKAIAN

Artinya:“Dengan nama Allah yang tiada Tuhan selain Dia”


(Diriwayatkan oleh Ibnu Sanni)

Isi pokok do’a :


1. Mudah-mudahan pakaian yang dipakai menjadi baik, bisa menutup aurat, bagus bagi
kesehatan dan nampak indah.
2. Mudah-mudahan dijauhkan dari pakaian yang buruk, yakni jelek untuk badan, tidak
menutup aurat, dan tidak indah.

Adab berpakaian:
1. Berniat menjalankan perintah Allah swt, untuk menutupi aurat.
2. Memulai berpakaian dan anggota badan sebelah kanan.
3. Menjaga kebersihan pakaian.
4. Menyesuaikan ukuran pakaian dengan badan (tidak terlalu ketat atau kedodoran).
5. Apabila menggunakan penutup kepala (topi dan lain-lain), hendaknya tidak
menghalangi/menutupi mata.
6. Pakaian laki-laki tidak menyerupai pakaian perempuan dan pakaian perempuan tidak
menyerupai pakaian laki-laki.
7. Sebaiknya, laki-laki menghindari memakai baju sutera asli.
8. Tidak menyombongkan diri dengan pakaian.

DO’A DAN ADAB TIDUR


[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 146
Artinya: ‘Dengan nama-Mu ya Allah, aku hidup dan aku mati.”
(HR. Bukhari, Tirmidzi, Abu Dawud dan Ahmad)

Isi pokok do’a :


1. Mudah-mudahan hidupku diridhai Allah.
2. Mudah-mudahan tidurku pun diridhaiAllah.

Adab tidur :
1. Sebaiknya menggunakan pakaian yang khusus untuk tidur.
2. Tidak tidur setelah makan kecuali sekitar dua jam setelah makan.
3. Mengerjakan kewajiban terlebih dahulu (seperti: kewajiban belajar, shalat Isya’) sebelum
tidur.
4. Tidur diusahakan tidak lebih dari 8 jam.
5. Menjaga kebersihan anggota badan, seperti mulut, kaki, dan tangan sebelum tidur.
6. Apabila bermimpi buruk, ucapkan Ta’awwudz dan apabila bermimpi baik, ucapkanlah
Hamdalah.
7. Anak berusia sepuluh tahun ke atas harus berpisah tidur dan orang tuanya,
8. Setelah berusia sepuluh tahun, sebaiknya jangan tidur satu kasur bersama saudara.

DO’A DAN ADAB BANGUN TIDUR

Artinya: “Segala puji bagi Allah yang menghidupkan kami setelah mematikan kami. Kepada-
Nyalah kami akan kembali.” (Diriwayatkan oleh Bukhari)

Isi pokok do’a :


1. Bersyukur kepada Allah yang masih memberikan umur hidup kepada kita.
2. Meyakini bahwa hanya Dia Allah yang dapat mematikan dan menghidupkan kita.
3. Kepada Allah jualah kita akan kembali.

Adab Bangun Tidur :


1. Bangun di awal waktu shubuh.
2. Membaca do’a bangun tidur.
3. Mencuci kedua telapak tangan karena kita tidak tahu semalaman tangan kita dipergunakan
untuk apa.
4. Merapikan kembali tempat tidur.
5. Mandi, berkumur-kumur, dan menyikat gigi.

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 147


DO’A DAN ADAB BERCERMIN

Artinya: “Segala puji bagi Allah sebagaimana Engkau telah menciptakan aku dengan sebaik-
baiknya, maka jadikanlah pula akhlakku yang baik.”
(Diriwayatkan oleh lbnu Sanni dari Ali bin Tholib r.a)

Isi pokok do’a :


1. Bersyukur kepada Allah yang telah memberi wajah yang baik.
2. Mudah-mudahan Allah memberikan kebaikan akhlak, sebab wajah yang baik tetapi
akhlaknya buruk pasti akan hina.

Adab bercermin:
1. Membaca do’a bercermin dengan penuh harapan agar Allah menjadikan hati kita
cantik/bersih.
2. Menatap wajah dengan penuh rasa syukur kepada Allah.
3. Tidak membanggakan diri, dan tidak menghina diri sendiri..
4. Jangan dibiasakan berbicara dan tertawa-tawa sendiri di depan cermin.

DO’A DAN ADAB MASUK WC (Water Close)

Artinya: ”Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dan godaan syetan laki-laki dan
syetan perempuan” (Diriwayatkan oleh Bukhari Muslim dan Anas r.a)

Isi pokok do’a :


1. Mudah-mudahan Allah menjauhkanku dari godaan syetan.
2. Mudah-rnudahan Allah menjauhkanku dari kuman dan penyakit yang ada di WC.

Adab masukWC :
1. Membaca do’a ketika masuk WC.
2. Mendahulukan kaki kiri jika masukWC.
3. Tidak berbicara di WC, kecuali bila sangat perlu.
4. Tidak bernyanyi-nyanyi atau bersiul-siul di WC.
5. Tidak mengucapkan kalimat- kalimat dzikir ketika berada di WC
6. Menghemat air.
7. Membersihkan kotoran (istinja) hendaklah menggunakan tangan kiri.

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 148


8. Jangan dibiasakan lama berada di WC.
9. Jangan membiasakan pakaian kotor bertumpuk lama di kamar mandi.
10. Adab utama ketika berada di WC adalah menjaga kebersihan dan kesucian diri, hati dan
tempat (WC).

DO’A DAN ADAB KELUAR WC (Water Close)

Artinya: “Segala puji bagiAllah yang telah menghilangkan kotoran


dari diriku dan sehatkanlah aku” (HR. Ibnu Majah)

Isi pokok do’a :


1. Bersyukur kepada Allah yang telah menghilangkan kotoran dan tubuhku
2. Mudah-mudahanAllah tetap menyehatkanku.

Adab keluar WC :
1. Menyiram bekas buang air kecil atau air besar sampai bersih.
2. Jika lampu WC masih menyala, segera matikan.
3. Jika kran air masih mengalir, segera tutup.
4. Mendahulukan kaki kanan.
5. Membaca do’a keluar WC setelah berada diluar WC.

DO’A DAN ADAB KELUAR RUMAH

Artinya: “Dengan menyebut nama Allah, aku menyerahkan diriku pada Allah dan tidak ada
daya dan kekuatan selain dengan Allah saja.” (Diriwayatkan oleh Abu Daud dan Tirmidzi)

Atau

Artinya: “Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari tersesat atau disesatkan, terhina atau
dihina,
menganiaya atau dianiaya, menjadi bodoh atau dibodohi orang.”(Diriwayatkan oleh Abu
Daud)

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 149


Isi pokok do’a :
1. Bepergian ke manapun dengan nama Allah.
2. Menyerahkan keselamatan kepada Allah, sebab manusia yang hati-hati pun bisa celaka.
3. Mudah-mudahan kita selamat sejak pergi dari rumah sampai pulang lagi.

Adab keluar rumah :


1. Membaca do’a ketika akan keluar rumah.
2. Apabila bermain di luar, terlebih dahulu harus mamberi tahu dan minta izin orang tua.
3. Berjalan jangan terlalu lambat ataupun terlalu cepat, berjalanlah sedang-sedang saja.
4. Jaga pandangan mata, sehingga tampil sopan.

DO’A DAN ADAB DUDUK/NAIK KENDARAAN

Artinya: “Maha Suci Allah yang telah menundukkan semua ini bagi kami. Padahal kami
sebelumnya tidak mampu menguasai. Dan sesungguhnya kami akan
kembali kepada Tuhan kami” (QS : Az-Zukhruf:13-14)

Isi pokok do’a:


1. Bersyukur kepada Allah yang telah menundukkan kendaraan sehingga dapat dikendalikan.
2. Mudah-mudahan kendaraan ini selamat sampai tujuan.
3. Kalau meninggal dunia di negeri orang mudah-mudahan diterima Iman lslamnya oleh Allah
SWT.
Adab naik kendaraan:
1. Membaca do’a ketika hendak naik kendaraan.
2. Mematuhi rambu-rambu lalu lintas.
3. Tidak terlalu cepat atau terlalu lambat dalam mengendarai kendaraan.
4. Menyiapkan bekal perjalanan secukupnya supaya tidak sengsara dalam bepergian.
5. Apabila kita menggunakan sarana angkutan umum, hendaknya bertenggang rasa dengan
sesama penumpang.
6. Apabila menggunakan sarana angkutan umum,bayarlah dengan baik.
7. Turun dengan mendahulukan kaki yang kiri.

DO’A DAN ADAB MASUK DAN KELUAR MASJID

Do’a Masuk Masjid

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 150


Artinya: “ Ya Allah bukakanlah bagiku pintu-pintu rahmat-Mu.’
(HR. Ad-Darimi, Abu Dawud, Ibnu Majah)

Isi pokok do’a :


1. Dengan memasuki masjid mudah-mudahan mendapatkan rahmat yang banyak dari Allah
SWT.
2. Dengan beribadah di masjid, mudah-mudahan mendapatkan rahmat Allah, baik di dunia
maupun di akhirat.
Do’a Keluar Masjid

Artinya: “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu karunia-Mu.


(Diriwayatkan oleh Muslim, Abu Daud, An Nasai dan lbnu Majah)

Isi pokok do’a:


1. Setelah selesai beribadah di masjid, mudah-mudahan mendapatkan rahmat Allah.
2. Dengan rahmat Allah, mudah-mudahan berbahagia di dunia dan di akhirat.

Adab masuk dan keluar masjid :


1. Masuk ke masjid mendahulukan kaki kanan dan apabila keluar mendahulukan kaki kiri.
2. Bacalah do’a ketika masuk dan keluar masjid.
3. Ketika masuk masjid hendaklah shalat tahiyyatul masjid dua rakaat sebelum duduk.
4. Duduk dengan tenang tidak bersenda gurau.
5. Tidak boleh mengotori masjid, seperti membuang sampah dan meludah sembarangan di
masjid.
6. Tidak merusak alat-alat yang ada di masjid.
7. Tidak boleh mencorat-coret pintu, jendela, karpet, dan kaca masjid.
8. Tidak berebutan, tergesa-gesa, dan saling mendorong ketika keluar dari masjid.

DO’A DAN ADAB ADZAN

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 151


Artinya: “Ya Allah Tuhan yang mempunyai seruan yang sempurna dan shalat yang ditegakkan
ini, berikanlah dengan limpahan karunia-Mu kepada Muhammad kedudukan dan keutamaan
(yang paling tinggi) dan limpahkanlah kepadanya tempat yang terpuji, yang Engkau telah
janjikan kepadanya.” (HR. Bukhari,Muslim, Tirmidzi, An-Nasa’i, Abu Dawud dan lbnu Majah)

Isi pokok do’a:


1. Memuji Allah yang memiliki adzan sebagai seruan yang sangat mulia.
2. Memuji Allah yang telah memerintahkan shalat.
3. Berniat melaksanakan shalat yang dengan sebaik-baiknya.
4. Memohon agar Nabi Muhammad SAW diberi kedudukan, keutamaan, dan tempat yang
terpuji beserta umatnya.

Adab ketika adzan:


1. Adzan dengan menghadap kiblat.
2. Adzan dengan suara yang keras.
3. Apabila adzan diserukan, maka dengarkanlah dengan baik dan jawablah dengan benar,
yaitu: semua kalimat adzan sama dengan jawabannya kecuali pada kailmat “Hayya
‘alasshalah dan Hayya ‘alalfalah” dijawab dengan “La haula wala quwata illa billah.”
4. Berdo’a setelah adzan selesai

DO’A DAN ADAB MEMPEROLEH


KESEHATAN DAN AKHLAK YANG BAIK

Artinya:“ Ya Allah, kayakanlah aku dengan ilmu, hiasilah diriku dengan ketenangan jiwa, dan
muliakanlah diriku dengan taqwa, dan elokkanlah diriku dengan kesehatan.”

Isi pokok do’a:


1. Mudah-mudahan Allah memberikan kekayaan ilmu.
2. Mudah-mudahan Allah memberikan ketenangan jiwa.
3. Mudah-mudahan Allah memuliakanku dengan ketaqwaan.
4. Mudah-mudahan Allah rnembekan keelokan dan kesehatan.

Adab memperoleh kesehatan dan akhlak yang baik:


1. Menjaga kesehatan dengan gemar berolah raga.
2. Menjauhi makanan yang dapat menyebabkan kita sakit, seperti terlalu banyak makan
sambal, permen, coklat, es, dan lain-lain.
[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 152
3. Gemar berlaku sopan santun terhadap sesama teman, ustadz/ustadzah, kedua orangtua dan
lain- lain.
4. Membasmi sarang nyamuk dan membuang sampah pada tempatnya.
5. Hidup berdisiplin.

DO’A DAN ADAB TERHADAP KEDUA ORANGTUA

Artinya: “Ya Tuhanku, ampunihlah dosaku dan dosa kedua orang tuaku, serta kasihanilah
mereka sebagaimana mereka telah mengasihani kami sejak kecil.”
(Gabungan Q.S. Nuh, 71:28 dan Al-Isra’, 17:24)

Isi pokok do’a:


1. Mudah-mudahan Allah mengampuni dosa ku.
2. Mudah-mudahan Allah mengampuni dosa kedua orangtuaku.
3. Mudah-mudahan Allah menyayangi kedua orang.

Adab terhadap orang tua :


1. Berbuat ihsan (sangat baik) terhadap kedua orang tua dengan cara mentaati perintahnya dan
menjauhi perbuatan yang tidak menyenangkan.
2. Pandai mensyukuri pemberian dan orang tua sekalipun sedikit.
3. Tidak boleh memanggil namanya secara langsung.
4. Apabila meminta sesuatu kepadanya, janganlah meminta di depan banyak orang.
5. Jangan menghina ibu-bapak orang lain, sebab orang lain kelak menghina orang tua kita.
6. Apabila diperintah oleh orang tua, hendaklah segera dilaksanakan jangan ditunda-tunda.
7. Tidak boleh mengatakan “ah” apalagi membentak bentak orang tua kita.
8. Mematuhi nasehatnya.
9. Bersikaplah hormat terhadap teman ayah dan ibu kita.
10. Selalu mendo’akan mereka berdua terutama setiap setelah selesai shalat fardlu.
11. Apabila kita tidak setuju, tolaklah dengan kata-kata yang sopan.
DO’A DAN ADAB KETIKA SAKIT

Artinya: “ Ya Allah sembuhkanlah badanku, Ya Allah sembuhkanlah pendengaranku.


Ya Allah sembuhkanlah penglihatanku”. (Diriwayatkan oleh Abu Daud)

Isi pokok do’a :


1. Mudah-mudahan Allah memberikan kesehatan badan.

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 153


2. Mudah-mudahan Allah memberikan kesehatan pendengaran dan penglihatan.

Adab ketika sakit:


1. Bersabar atas penyakit yang menimpa.
2. Berusaha berobat supaya segera sembuh.
3. Tidak berobat dengan barang haram.
4. Tetap melaksanakan shalat sesuai kemampuan.
5. Mengucapkan rasa syukur kepada orang-orang yang melayat.

DO’A DAN ADAB MELAYAT ORANG SAKIT

Artinya: Ya Allah Tuhan seluruh manusia, jauhkanlah kesukaran/penyakit itu dan


sembuhkanlah (orang sakit ini) Engkaulah yang menyembuhkan, tak ada obat selain obat-Mu,
obat yang tidak meninggalkan sakit lagi.” (Diriwayatkan oleh Bukhori dan Aisyah r.a)

Isi pokok do’a:


1. Mudah-mudahan orang sakit yang dido’akan itu menjadi sehat.
2. Mudah-mudahan obat yang dimakannya mujarab.
3. Mudah-mudahan obat yang dimakannya tidak menimbulkan penyakit lain.

Adab melayat orang sakit:


1. Apabila mendengar bahwa tetangga, teman, ustadz, atau orang yang kita kenal dalam
keadaan sakit, maka segeralah melayatnya.
2. Memberikan semangat kepada orang yang sakit dengan ucapan yang dapat mendorong
kesembuhannya.
3. Memberikan dorongan orang yang sakit untuk mentaati anjuran dokter, seperti dalam
aturan makan obat dan lain-lain.
4. Mengirim makanan kesukaan orang yang sakit.

DO’A DAN ADAB MEMPEROLEH


KEBAIKAN DUNIA DAN AKHIRAT

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 154


Artinya: “Ya Tuhan kami berilah kami kebaikan di dunia dan di akhirat serta jauhkanlah kami
dan api neraka.” (QS : Al-Baqarah)

Isi pokok do’a :


1. Mudah-mudahan Allah memberikan segala kebaikan di dunia.
2. Mudah-mudahan Allah memberikan segala kebaikan di akhirat.
3. Mudah-mudahan Allah menjauhkan kita dari siksa neraka.

Adab hidup supaya memperoleh kebaikan dunia akhirat:


1. Mentaati segala perintah Allah, seperti : melaksanakan shalat, puasa, banyak bersedekah.
2. Menjauhi segala larangan Allah, seperti : berdusta, bersikap malas, dan lain-lain.
3. Bekerja keras dan berdisiplin.
4. Bersikap hemat dan menjauhi pemborosan.
5. Berfikir sebelum berbuat.
6. Tidak berputus asa manakala gagal.
7. Tidak bosan berdo’a.

DO’A DAN ADAB MENJAUHKAN KESUSAHAN


DUNIA DAN AKHIRAT

Artinya: “Dengan nama Allah atas diriku, hartaku dan agamaku. Ya Allah, berilah aku rasa
ridha terhadap keputusan-Mu dan berkatilah segala apa yang Engkau berikan kepadaku,
sehingga aku tidak suka mempercepat apa yang Engkau lambatkan dan memperlambat apa
yang Engkau cepatkan. (Diriwayatkan oleh lbnu Sanni dari Ibnu Umar r.a).

Isi pokok do’a :


1. Mudah-mudahan kita selalu ridha kepada keputusan Allah.
2. Mudah-mudahan Allah memberikan keberkahan kepada apa-apa yang telah Allah berikan
kepada kita.
3. Mudah-mudahan Allah menjadikan kita orang-orang yang bekerja dan bersabar.

Adab menjauhi kesusahan di dunia:


1. Tidak bermalas-malasan.
2. Jangan suka berdusta dan ingkar janji.

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 155


3. Hidup sederhana, tidak boros.
4. Giat bekerja dan banyak berdo’a.
5. Harus besar hati manakala bekerja.
6. Jangan sombong manakala berhasil.
7. Jangan putus asa manakala gagal.
8. Selalu mencari teman dan menghindari permusuhan.
9. Jangan banyak meminjam uang.
10. Jangan hidup kikir.

KAJIAN KHUSUS WANITA

Perempuan Teladan

A. Siti Hajar

Firman Allah : Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebahagian dari syi’ar
Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber’umrah, maka tidak
ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya. Dan barangsiapa yang mengerjakan
suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri
kebaikan lagi Maha Mengetahui. (Al Baqarah : 158)

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 156


Siti Hajar hanya seorang hamba Allah, dia bukan dari kalangan bangsawan. Dia
wanita yang luar biasa, memiliki jiwa yang tulus, lembut, tegar dan yang terpeting adalah
ketaataanya kepada sang Maha Pencipta. Karena keluarbiasaanya itu Allah memberi
penghormatan yang tinggi kepadanya, dengan mengabadikan kisahnya di dalam al-Quran,
agar dapat dipetik hikmahnya oleh umat manusia.

Kisah ini bermula ketika Nabi Ibrahim As dan Siti Hajar serta anak mereka menuju
ke Baitul Haram. Nabi Ibrahim membawa istrinya Hajar dan anaknya Isma’il menuju suatu
lembah yang tidak ada rumput yang tumbuh sekalipun dan hanya meninggalkan air (dalam
sebuah riwayat, airnya pun tinggal sedikit).

Siti Hajar adalah lambang wanita sejati yang taat kepada suami dan perintah Allah.
Segala kesukaran, kepahitan, keresahan yang ditempuh Siti Hajar bersama anak kecilnya,
Ismail ketika ditinggalkan Nabi Ibrahim di tengah-tengah padang pasir kering kerontang,
adalah lambang kesetiaan dan kepatuhan seorang isteri kepada peraturan suaminya.

Setelah Ibrahim suaminya tercinta pergi ke daerah asalnya untuk menemnui Siti
Sarah, Siti Hajar meletakan buah hatinya Isma’il pada tanah pasir, kemudian beliau
melihat ke sekelilingnya berharap bertemu dengan suatu kafilah yang lewat yang hendak
diminta pertolongannya.

Siti Hajar lalu pergi ke suatu bukit, yakni bukit Shafa. Setelah sampai di bukit,beliau
melihat ke sekelilingnya dengan harapan ada orang atau kafilah yang lewat yang ia bisa
mintakan pertolongannya. Beliau merasakan tidak adanya tanda-tanda orang atau kafilah
yang lewat.

Kemudian beliau turun menuju bukit yang satunya, ketika lewat di depan anaknya
Isma’il beliau berjalan agak cepat dan meneruskan jalannya menuju bukit satunya lagi
yakni bukit Marwah. Lagi-lagi beliau melihat ke sekelilingnya di atas bukit Marwah itu.
Hajar merasakan tidak adanya tanda-tanda orang atau kafilah yang lewat begitu pula
dengan tanda-tanda kehidupan.

Perbekalan yang cuma air itu pun sudah hampir habis, demikian pula air susunya pun
tidak keluar, beliau sangat panik dan khawatir. Siti Hajar kemudian turun dari bukit
Marwah kembali lagi menuju bukit Shafa dengan maksud yang sama. Bingung, gelisah
jiwa Hajar saat itu, tidak ada orang yang bisa ia minta bantuannya. Dan lagi sang buah
hatinya Isma’il kelihatan sangat kehausan begitu pula dengan dirinya, beliau bertambah
panik dan khawatir. Beliau berlari lagi menuju bukit Shafa berharap semoga bertemu
dengan seseorang atau suatu kafilah, merasa tidak menemukan apa-apa kemudian beliau
lari lagi menuju bukit Marwah dan seterusnya begitu sebanyak tujuh kali. Di tengah-
tengah kekalutan dan kebingungannya, (dalam suatu riwayat) muncullah mata air yang
letaknya dekat dengan Isma’il. (Dalam beberapa riwayat kemunculan air adalah ketika
Ismail menghentak-hentakan kakinya) Melihat hal itu Hajar segera bergegas menuju mata
air tersebut dan berkata. ”Zum, zum!” yang artinya ‘berkumpullah’. Hajar kemudian
minum dari mata air yang diberkahi dan memberikan pula kepada anaknya Isma’il minum
dari air tersebut, Hajar sangat bersyukur sekali atas karunia dari Allah subhanahu wa
ta’alla tersebut. Pertolongan Allah ‘azza wa jalla tidak berhenti sampai di situ saja, selang
tidak seberapa lama munculah suatu kafilah yang berjalan menuju tempat Hajar beserta
anaknya. Kafilah itu meminta izin kepada Hajar untuk mengambil air Zam-zam itu dan
mereka pun bermaksud untuk tinggal bersama dengan Hajar. Hajar tentu saja sangat

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 157


senang dan menyambut gembira tawaran baik tersebut, beliau akhirnya tidak sendirian
lagi.

Inilah gambaran seorang wanita muslim yang selalu taat kepada Allah. Ia percaya
bahwa Allah tidak akan menguji hambanya di luar batas kemampuannya. Maka dari itu ia
selalu taat dengan apa yang diperintahkan-Nya. Keyakinan bahwa, jika ia berhasil
melewati ujian itu dengan baik, maka Allah akan memberikan balasan yang sepadan
dengan apa yang telah ia jalankan bahkan mungkin lebih dari itu.

B. Ratu Balqis

Kerajaan Saba merupakan salah satu kerajaan kuno terbesar di daerah Yaman yang
hadir pada jauh sebelum Masehi dan sebelum Islam disebarkan oleh Nabi Muhammad
S.A.W. Ibu kotanya adalah Ma’rib, sebuah kota di dekat Sana’a,ibukota Yaman sekarang.
Saking besarnya kekuasaan kerajaan ini, para sejarawan menyimpulkan bahwa luas daerah
wilayahnya lebih luas dari wilayah Yaman sekarang. Banyak ahli yang menyebutkan
bahwa Habasyah yang sekarang dikenal dengan Etiopia dahulunya masuk ke dalam
kawasan kekuasaan kerajaan Saba. Yang menjadikan kerajaan ini masuk ke dalam catatan
sejarah Al-Quran adalah adanya salah satu ratu yang memerintahnya yaitu Balqis.

Ratu Saba’ Terlepas dari hal itu, Balqis menjadi orang ketujuh-belas yang
memerintah kerajaan Saba’. Yang memerintah sebelumnya adalah ayahnya, raja Hadhad
bin Syarhabil. Para sejarawan berasumsi bahwa Balqis menaiki tahta menggantikan
ayahnya disebabkan tidak adanya anak putra yang dilahirkan untuk menggantikannya.
Dalam masa pemerintahannya sebagai kepala kerajaan, Balqis banyak menerima cobaan
dan ujian berat. Semua itu kelak membuktikan kepiawaiannya sebagai ratu yang berhak
dan berkompeten untuk memimpin kaum dan rakyatnya. Pada awal diangkatnya sebagai
ratu, para ahli dan pembesar kaumnya meingingkari kepemimpinan seorang wanita. Belum
lagi hasrat yang dipendam oleh raja-raja di sekitar Saba untuk menaklukkan dan
menguasai kerajaan ini. Salah satunya adalah raja ‘Amr bin Abrahah yang dijuluki dengan
Dzul Adz’ar.

Maka datanglah Dzul Adz’ar dengan segenap bala tentaranya untuk menaklukkan
kerajaan Saba’ dan menawan ratunya. Namun berkat kelihaian dan pengawasan yang
tajam yang dimiliki Balqis, dia berhasil lolos dan kabur. Dzul Adz’ar tewas dengan
gorokan pisau di lehernya. Dan semenjak itu Balqis memerintah kaumnya dengan penuh
hikmah, adil dan bijaksana. Dalam kekuasaannya, Saba meraih kegemilangan. Salah satu
capaian yang diukir oleh Balqis adalah direnovasinya bendungan yang terkenal sad
Ma’rib. Nama kerajaan ini menjadi terkenal di kawasan Arabia dan sebagian Eropa. Dalam
sejarah Yunani kuno disebutkan bahwa pada zamannya terjadi transaksi perdagangan di
antara tajir-tajir Saba dan Yunani. Bahkan para pedagang Yunani yang telah mengunjungi
kerajaan Saba menyebutkan bahwa masyarakat Saba merupakan masyarakat berperadaban
paling maju di era itu.

Ratu Saba dan Nabi Sulaiman

Pada saat kerajaan Saba di bawah pemerintahan ratunya sedang berada dalam
puncak kegelimangan, Nabi Sulaiman alaihissalam telah menjadi salah satu raja terkenal di

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 158


antara bani Israil di kawasan Palestina (Syam). Sulaiman dikaruniai Allah kemampuan
untuk berkomunikasi dan menaklukkan golongan hewan dan jin. Oleh karena itu tidak
mengherankan jika dari skala bala tentara, jumlah yang dimiliki Sulaiman lebih besar
daripada bala tentara Saba.

Kisah ini tersebut dalam firman Allah surat An-Naml ayat 20-44. Alkisah dalam
sebuah penafsiran bahwa pada suatu kesempatan Nabi Sulaiman mengutus burung Hud –
hud untuk mencari sumber air tambahan. Lama tak kembali ternyata Hud – hud sampai ke
daerah Yaman dan menemukan sebuah kaum (rakyat Saba) yang diperintah oleh seorang
ratu. Yang menarik perhatian Hudhud adalah ketika dilihatnya kaum ini musyrik dengan
menyembah matahari.

Nabi Sulaiman naik pitam sebab keterlambatan ini dan berjanji akan menghukum
Hudhud sesegeranya ia tiba, kecuali Hud – hud terlambat dengan alasan yang masuk akal.
Maka berkata Hud – hud sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran: Maka tidak lama
kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata:

“Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa
kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini” Q.S. An-Naml: 22

“Sungguh, kudapati yang memerintah mereka ,dan dia dianugerahi segala sesuatu
serta memiliki singgasana yang besar” ” Q.S. An-Naml: 23

“Aku dapati dia dan kaumnya menyembah matahari,bukan kepada Allah dan setan
menjadikan terasa indah bagi mereka perbuatan-perbuatan (buruk) mereka,sehingga
menghalangi mereka dari jalan Allah,maka mereka tidak mendapat petunjuk” ” Q.S. An-
Naml: 24

“Mereka (juga) tidak menyembah Allah yang mengeluarkan apa yang terpendam di
langit dan di bumi dan yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan yang kamu
nyatakan” ” Q.S. An-Naml: 25

“Allah,tidak ada Tuhan melainkan Dia,Tuhan yang mempunyai ‘Arasy yang agung”
” Q.S. An-Naml: 26

Nabi Sulaiman yang terkenal dengan kematangan akal dan hikmahnya tidak
merespon kecuali dengan berkata:

“Akan kita lihat, apa kamu benar, ataukah kamu termasuk orang-orang yang
berdusta”. ” Q.S. An-Naml: 27

Lalu Nabi Sulaiman mengirimkan sebuah surat kepada Balqis ratu Saba yang berisi
ajakan untuk hanya menyembah Allah SWT. Isi surat Nabi Sulaiman ini tertera dalam
Quran sebagai berikut: “Dari SuIaiman dan sesungguhnya dengan menyebut nama Allah
yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku
sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri””
Q.S. An-Naml: 30-31

Balqis melakukan musyawarah setelah ia menerima dan membaca surat dari


Sulaiman, segera ia kumpulkan para menteri dan para pembesar di antara kaumnya. Balqis
meminta agar mereka memusyawarahkan perihal surat Sulaiman ini. Hal ini diabadikan
oleh Al-Quran sebagaimana Balqis berkata: “Hai para pembesar berilah aku pertimbangan
[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 159
dalam urusanku (ini) aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu
berada dalam majelis(ku)” ” Q.S. An-Naml: 32

Saat itu kerajaan Saba telah terkenal di antara raja-raja lainnya sebagai salah satu
kerajaan terkuat dengan bala tentaranya yang tangguh. Maka para menteri ketika membaca
surat itu menganggap bahwa Sulaiman meremehkan mereka.

Maka para menteri itu berkata: “Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan
dan (juga) memiliki keberanian yang sangat (dalam peperangan), dan keputusan berada
ditanganmu. Maka pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan”. ” Q.S. An-Naml:
33

Hal ini mengisyaratkan bahwa mereka lebih memilih perang daripada berserah diri
kepada kekuasaan Sulaiman. Namun ternyata Balqis memiliki pandangan yang lebih jauh
ke depan, tatkala dia berkata: “bahwa raja-raja apabila memasuki suatu negeri niscaya
mereka membinasakannya. Dan mereka menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina,
dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat”. ” Q.S. An-Naml: 34

Disini letak kepiawaian dan kecerdasan Balqis. Dia lebih menganjurkan untuk
terlebih dahulu mengirimkan hadiah kepada Sulaiman, dengan harapan semoga Sulaiman
bisa lunak hatinya bahkan berubah pikiran sama sekali. Para pembesar menyetujui usulan
Balqis. Maka diutuslah beberapa pembesar untuk menghadap Sulaiman seraya membawa
persembahan hadiah. Sesampainya para utusan di depan Sulaiman, utusan Allah ini
berkata: “Apakah patut kamu mengulurkan harta kepadaku? Maka apa yang diberikan
Allah kepadaku lebih baik daripada apa yang diberikan-Nya kepadamu; tetapi kamu
merasa bangga dengan hadiahmu. Kembalilah kepada mereka sungguh Kami akan
mendatangi mereka dengan balatentara yang mereka tidak kuasa melawannya” ” Q.S. An-
Naml: 36-37

Maka tatkala Balqis mendengar jawaban yang disampaikan para utusannya, tahulah
ia siapa dan betapa kuatnya Sulaiman dan bala tentaranya. Maka dikumpulkannyalah
seluruh tentara dan pengawal pribadinya untuk menuju Syam demi menemui Sulaiman.
Sementara itu ketika Sulaiman mengetahui bahwa Balqis akan datang, beliau kumpulkan
semua pembesarnya seraya meminta untuk mendatangkan singgasana Balqis ke Syam
sebelum mereka datang. Alhasil,Ifrit menyanggupi untuk mendatangkannya sebelum Nabi
Sulaiman berkedip. Setelah itu dimintanya agar singgasana itu dirubah sedemikian rupa
agar Balqis tidak mengenalinya. Hal ini untuk menguji sejauh mana kecerdikan dan
ketajaman Balqis sehingga ia memang patut untuk memerintah kaumnya. Ketika Balqis
dan tentaranya sampai dan telah duduk di singgasananya sendiri, Nabi Sulaiman bertanya:
“seperti inikah singgasanamu? ”Maka Balqis menjawab: “Seakan-akan singgasana ini
singgasanaku” ” Q.S. An-Naml: 42 Dan ini bukti lain dari kecerdikan Balqis, sebab ketika
ia menjawab dengan pertanyaan itu sesungguhnya dia tidak yakin bahwa bagaimana
mungkin singgasana dapat berpindah tempat dalam waktu yang begitu cepat. Namun
dalam keraguan itu dia tidak memungkiri bahwa singgasana itu mirip dengan
kepunyaannnya. Dan memang sesungguhnya singgasana adalah miliknya hanya telah
dirubah atas perintah Sulaiman.

Kemudian Ratu Balqis dipersilakan masuk ke istana Nabi Sulaiman. Namun, ketika
berjalan di istana itu, sekali lagi Ratu Balqis tercengang,karena mengira air pada lantai
istana nabi Sulaiman, sehingga menyingsingkan kainnya. Firman Allah : “Dikatakan
kepadanya; masuklah ke dalam istana. Maka tatkala dia (Ratu Balqis) melihat lantai istana

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 160


itu, dikiranya air yang besar dan disingkapkannya kedua betisnya.“Berkatalah Sulaiman;
sesungguhnya ini adalah istana licin yang dibuat dari kaca” ” Q.S. An-Naml: 44

Pada saat yang sama Balqis segera teringat akan sebuah kenabian yang menyebutkan
bahwa akan datang padanya seorang nabi Allah yang sanggup memindahkan
singgasananya dalam sekejap mata. Pada saat itulah Balqis segera sadar bahwa dirinya dan
kaumnya telah berlaku zalim dengan mempersekutukan Allah. Saat itu pula Balqis
menyeru seluruh kaumnya untuk memeluk agama yang dibawa oleh Sulaiman. Berkatalah
Balqis: “Ya Tuhanku, Sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku
berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam”” Q.S. An-Naml: 4441

C. Maryam

Maryam adalah wanita terbaik sepanjang masa. Wanita terbaik dalam kurun sejarah
wanita, dari Hawa hingga kelak yang terakhir, entah siapa. Banyak kaum hawa mencari
idola dan suri teladan. Namun mereka tidak tahu siapa kiranya yang pantas diteladani.
Yang lain, ada yang punya idola, tapi terkadang hanya latah dan salah langkah. Apakah
wanita muslimah tahu tentang Maryam? Tahukah wanita muslimah bahwa Allah telah
memujinya sebagai wanita dalam peradaban manusia? Allah berifman,

ِِ ِ 


ِِ ِ ِ 
ِِ ِ 
ِ ِِِِِ

“Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya Allah
telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia
(yang semasa dengan kamu).” (QS. Ali Imran: 42).

Dialah pemuka kaum wanita di surga. Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa
Rasulullah bersabda,

ْ ‫اءِأ ْه ِل‬
ِ‫ِالجنَ ِةِأ ْرب ٌع‬ ِ ‫سيِداتُ ِنِس‬: ِ‫َِّللاِِصلَى‬َ ‫سو ِل‬ ُ ‫اطمةُِبِ ْنتُ ِر‬
ِ ‫ِوف‬،‫م ْري ُمِبِ ْنتُ ِ ِع ْمران‬
ُِ‫ِوآ ِسية‬،ٍ‫ِوخدِيجةُِبِ ْنتُ ِ ُخو ْي ِلد‬،‫هللاُِعل ْي ِهِوسلَم‬
“Pemuka wanita ahli surga ada empat: Maryam binti Imran, Fatimah binti Rasulullah,
Khadijah binti Khuwailid, dan Asiyah.” (HR. Hakim 4853).

Maryam, ayahnya adalah Imran, laki-laki shaleh dari Bani Israil. Ibunya adalah
wanita shalehah yang telah menyerahkan putrinya yang masih dalam kandungan untuk
berkhdimat kepada Allah.

ِِ ِ ِ 


ِِ ِ ِ ِ ِ 
ِِ ِ ِ ِ 
ِِ ِ 
ِ ِِِِ

41
queenofsheeba.wordpress.com

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 161


(Ingatlah), ketika isteri ´Imran berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan
kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat
(di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya
Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS. Ali Imran: 35).

Dan putranya adalah seorang rasul dari kalangan ulul azmi, Isa bin Maryam

1. Masa Kecil Maryam.

Imran ayah Maryam wafat saat anaknya ini masih dalam kandungan ibunya. Atau ia
wafat bersamaan dengan kelahiran putrinya (Fabihudahum Iqtadih oleh Syaikh Utsman al-
Khomis, Hal: 442). Ibu Maryam berdoa agar anaknya tidak diganggu oleh setan. Sehingga
saat Maryam dilahirkan, setan tidak diperkenankan untuk mengganggunya. Nabi bersabda,

ِ‫اِم ْنِم ِس‬


ِ ‫ار ًخ‬
ِ ‫ِفي ْست ِه ُّلِص‬،ُ ‫ِحينِيُولد‬ ُ ‫شيْط‬
ِ ‫ان‬ ُّ ‫اِم ْنِبنِيِآدمِِم ْولُود ٌِإِ ََّلِيم‬
َ ‫سهُِال‬ ِ ‫م‬
ِ‫ِغيْرِم ْريمِوا ْبنِها‬،‫ان‬
ِ ‫شيْط‬ ِ ‫و ِإنِيِأ ُ ِعيذُهاِبِكِوذُ ِريَته‬
َ ‫ث ُ َمِيقُولُِأبُوِهُريْرةِ »ال‬: {ِ‫اِمن‬
ِ‫ِالر ِج ِيم‬
َ ‫ان‬ ِ ‫شيْط‬َ ‫}ال‬
“Setiap anak manusia pasti diganggu setan ketika dia dilahirkan, sehingga dia teriak
menangis, karena disentuh setan. Kecuali Maryam dan putranya.” (HR. Bukhari 4548 dan
Muslim 2366).

Lahirlah Maryam dalam keadaan yatim. Namun karena keberkahan dari keshalehan
kedua orang tuanya, banyak ahli ibadah di Baitul Maqdis yang hendak mengasuhnya.
Kemudian Rasulullah Zakariya yang menjadi pengasuh Maryam. Karena kedekatan
hubungan famili.

2. Wanita Shalehah Yang Menjauhi Gangguan Laki-Laki

Allah memuji Maryam dengan wanita yang benar. Allah Ta’ala berfirman,

ِِ ِ ِ ِ 


ِِ ِ ِ ِ 
ِ ……ِِِِ

“Al-Masih putera Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu
sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar…” (QS. Al-Maidah:
75).

Maryam sangat menjaga kesucian dirinya. Ia tidak sembarangan berdekatan dengan


laki-laki yang bukan mahramnya. Ia tidak menggoda laki-laki dan juga menjauhi godaan
mereka. Apakah wanita tergoda dengan laki-laki? Ya, karena secara naluri, wanita pun
memiliki ketertarikan kepada laki-laki. Dan wanita yang baik adalah yang menjaga diri
untuk membuat laki-laki tergoda dan menjaga diri dari godaan laki-laki.

Pernah suatu ketika Jibril datang kepada Maryam. Datang dalam fisik laki-laki yang
sempurna. Namun Maryam tetap menjaga dirinya. Allah Ta’ala berfirman,

ِِ ِ ِ 


ِِ ِ 
[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 162
ِِ ِ ِ 
ِِ ِ ِ ِ ِ 
ِِ ِ ِ 
ِ ِِِِ

“Maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus ruh
Kami (Jibril) kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang
sempurna. Maryam berkata: “Sesungguhnya aku berlindung dari padamu kepada Tuhan
Yang Maha pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa”. (QS. Maryam: 17-18).

Melihat laki-laki yang sangat sempurna ketampanannya, Maryam tidak terkecoh


dengan merendahkan dirinya mencoba menarik perhatian laki-laki tersebut. Ia malah
berlindung kepada Allah dan meminta laki-laki tersebut menjauh. Hingga akhirnya Jibril
mengatakan,

ِِ ِ ِ 


ِِ ِ ِ ِ 
ِ ِِِ

Ia (jibril) berkata: “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk
memberimu seorang anak laki-laki yang suci”. (QS. Maryam: 19).

Barulah Maryam tahu bahwa laki-laki tersebut tidak bermaksud menggoda dan
mengganggunya. Dan ia juga bisa menjaga diri darinya. Ternyata ia adalah malaikat yang
Allah utus untuk menemuinya.

D. Khadizah binti Khuwailid.

Mutiara itu hadir dikala kegelapan

Ia tumbuh dengan keimanan pada Rabbnya

Kemuliaan dengan kemuslimahannya

Hingga mutiara itu mendampingi Rasulullah SAW

Beliau adalah seorang sayyidah wanita sedunia pada zamannya. Dia adalah putri dari
Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushai bin Kilab al-Qurasyiyah al-Asadiyah.
Dijuluki ath-Thahirah yakni yang bersih dan suci. Sayyidah Quraisy ini dilahirkan di
rumah yang mulia dan terhormat kira-kira 15 tahun sebelum tahun fill (tahun gajah).
Beliau tumbuh dalam lingkungan keluarga yang mulia dan pada gilirannya beliau menjadi
seorang wanita yang cerdas dan agung. Beliau dikenal sebagai seorang yang teguh dan
cerdik dan memiliki perangai yang luhur. Karena itulah banyak laki-laki dari kaumnya
menaruh simpati kepadanya.

Beliau adalah seorang istri Nabi yang mencintai suaminya dan juga beriman, berdiri
mendampingi Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang dicintainya untuk menolong,
menguatkan dan membantunya serta menolong beliau dalam menghadapi kerasnya
gangguan dan ancaman sehingga dengan hal itulah Allah meringankan beban Nabi-
Nya.Tidaklah beliau mendapatkan sesuatu yang tidak disukai, baik penolakan maupun
pendustaan yang menyedihkan beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam kecuali Allah

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 163


melapangkannya melalui istrinya bila beliau kembali ke rumahnya. Beliau (Khadijah)
meneguhkan pendiriannya, menghiburnya, membenarkannya dan mengingatkan tidak
berartinya celaan manusia pada beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan ayat-ayat Al-
Qur’an juga mengikuti (meneguhkan Rasulullah), Firman-Nya:

“Hai orang-orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan!


Dan Rabb-Mu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa
tinggalkanlah, dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (belasan)
yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Rabb-Mu, bersabarlah!” (Al-
Muddatstsir:1-7).

Sehingga sejak saat itu Rasulullah yang mulia memulai lembaran hidup baru yang
penuh barakah dan bersusah payah. Beliau katakan kepada sang istri yang beriman bahwa
masa untuk tidur dan bersenang-senang sudah habis. Khadijah radhiallâhu ‘anha turut
mendakwahkan Islam disamping. Diantara buah yang pertama adalah Islamnya Zaid bin
Haritsah dan juga keempat putrinya semoga Allah meridhai mereka seluruhnya.

Mulailah ujian yang keras menimpa kaum muslimin dengan berbagai macam
bentuknya,akan tetapi Khadijah berdiri kokoh bak sebuah gunung yang tegar kokoh dan
kuat. Beliau wujudkan Firman Allah Ta’ala:

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘Kami
telah beriman’ , sedangkan mereka tidak diuji lagi?”. (Al-’Ankabut:1-2).

Allah memilih kedua putranya yang pertama Abdullah dan al-Qasim untuk
menghadap Allah tatkala keduanya masih kanak-kanak, sedangkan Khadijah tetap
bersabar. Beliau juga melihat dengan mata kepalanya bagaimana syahidah pertama dalam
Islam yang bernama Sumayyah tatkala menghadapi sakaratul maut karena siksaan para
thaghut hingga jiwanya menghadap sang pencipta dengan penuh kemuliaan.

Beliau juga harus berpisah dengan putri dan buah hatinya yang bernama Ruqayyah
istri dari Utsman bin Affan radhiallâhu ‘anhu karena putrinya hijrah ke negeri Habsyah
untuk menyelamatkan diennya dari gangguan orang-orang musyrik. Beliau saksikan dari
waktu ke waktu yang penuh dengan kejadian besar dan permusuhan. Akan tetapi
tidak ada kata putus asa bagi seorang Mujahidah. Beliau laksanakan setiap saat apa yang
difirmankan Allah Ta’ala :

“Kamu sungguh-sungguh akan duji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu
sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberikan kitab sebelum kamu
dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, ganguan yang banyak yang
menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian
itu termasuk urusan yang di utamakan “. (Ali Imran:186).

Sebelumnya, beliau juga telah menyaksikan seluruh kejadian yang menimpa


suaminya al-Amin ash-Shiddiq yang mana beliau berdakwah di jalan Allah, namun beliau
menghadapi segala musibah dengan kesabaran. Semakin bertambah berat ujian semakin
bertambahlah kesabaran dan kekuatannya. Beliau campakkan seluruh bujukan kesanangan
dunia yang menipu yang hendak ditawarkan dengan aqidahnya. Dan pada saat-saat itu
beliau bersumpah dengan sumpah yang menunjukkan keteguhan dalam memantapkan
kebenaran yang belum pernah dikenal orang sebelumnya dan tidak bergeming dari
prinsipnya walau selangkah semut. Beliau bersabda: “Demi Allah wahai paman!

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 164


seandainya mereka mampu meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan
kiriku agar aku meninggalkan urusan dakwah ini, maka sekali-kali aku tidak akan
meninggalkannya hingga Allah memenangkannya atau aku yang binasa karenannya”.

Begitulah Sayyidah mujahidah tersebut telah mengambil suaminya Rasulullah


Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai contoh yang paling agung dan tanda yang paling
nyata tentang keteguhan diatas iman. Oleh karena itu, kita mendapatkan tatkala orang-
orang Quraisy mengumumkan pemboikotan mereka terhadap kaum muslimin untuk
menekan dalam bidang politik, ekonomi dan kemasyarakatan dan mereka tulis naskah
pemboikotan tersebut kemudian mereka tempel pada dinding ka’bah; Khadijah tidak ragu
untuk bergabung dengan kaum muslimin bersama kaum Abu Thalib dan beliau tinggalkan
kampung halamannya untuk menempa kesabaran selama tiga tahun bersama Rasul dan
orang-orang yang menyertai beliau menghadapi beratnya pemboikotan yang penuh dengan
kesusahan dan menghadapi kesewenang-wenangan para penyembah berhala. Hingga
berakhirlah pemboikotan yang telah beliau hadapi dengan iman, tulus dan tekad baja tak
kenal lelah. Sungguh Sayyidah Khadijah telah mencurahkan segala kemampuannya untuk
menghadapi ujian tersebut di usia 65 tahun. Selang enam bulan setelah berakhirnya
pemboikotan itu wafatlah Abu Thalib, kemudian menyusul seorang mujahidah yang sabar
-semoga Allah meridhai beliau- tiga tahun sebelum hijrah. Di dalam melalui saat-saat
sakarat ditemani suami tercinta, Rasulullah SAW. Dalam keadaan kesakitan yang amat itu,
dia mengungkapkan kata-kata yang menyebabkan Jibril juga terkejut. Katanya, ”Wahai
rasul utusan Allah, tiada lagi harta dan hal lainnya yang bersamaku untuk aku
sumbangkan demi dakwah. Andai selepas kematianku, tulang-tulangku mampu ditukar
dengan dinar dan dirham, maka gunakanlah tulang-tulangku demi kepentingan dakwah
yang panjang ini”.

Rasulullah SAW berasa sayu mendengar semua itu. Jibril naik bertemu Allah. Jibril
bertanyakan Allah, adakah Allah mendengar kata-kata Saidatina Khadijah itu? Allah
menjawab pertanyaan Jibril – bukan hanya kata-katanya sahaja yang Allah dengari malah
bisikannya juga. Allah meminta Jibril menyampaikan salam buat Saidatina Khadijah. Jibril
turun dan memberitahu Rasulullah SAW akan hal itu. Rasulullah SAW menyampaikan
salam tersebut kepada isteri tercinta. Ustaz turut menceritakan bahawa dalam sesetengah
riwayat tangan Saidatina Khadijah seakan bersilang saat menyambut salam itu dan
Saidatina Khadijah melafazkan bacaan yang begitu masyhur yang sering kita lafazkan
selepas solat: Allaahum ma antas salaam - waminkas salaam Wa ilaika ya 'uudus salaam
Fahayyina rabbanaa bis salaam Wa adkhilnal jan nataka daaras salaam Tabaa rakta
rabbanaa wa ta 'aalaita yaa dzal jalaali wal ikraam. Ya Allah, Engkaulah kesejahteraan,
dariMulah asal kesejahteraan dan kepadaMu pula kembali kesejahteraan, maka
hidupkanlah aku dengan kesejahteraan dan masukkanlah aku kedalam surga kampung
kesejahteraan. Maha Mulia Engkau Ya Allah yang memiliki kemegahan dan
kemuliaan.Dan pergilah Saidatina Khadijah menghadap Allah SWT, kekasih yang
dirindui. Terlalu hebat wanita ini. Dialah insan pertama yang mengimani Rasulullah SAW.
Tidak cukup dengan harta, tulang-tulangnya juga ingin digunakan untuk membantu
perjuangan Rasulullah.

Begitulah Nafsul Muthmainnah telah pergi menghadap Rabbnya setelah sampai pada
waktu yang telah ditetapkan, setelah beliau berhasil menjadi teladan terbaik dan paling
tulus dalam berdakwah di jalan Allah dan berjihad dijalan-Nya. Dalam hubungannya,
beliau menjadi seorang istri yang bijaksana, maka beliau mampu meletakkan urusan sesuai
dengan tempatnya dan mencurahkan segala kemamapuan untuk mendatangkan keridhaan

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 165


Allah dan Rasul-Nya. Karena itulah beliau berhak mendapat salam dari Rabb-nya dan
mendapat kabar gembira dengan rumah di surga yang terbuat dari emas,
tidak ada kesusahan didalamnya dan tidak ada pula keributan didalamnya. Karena itu pula
Rasulullah bersabda: “Sebaik-baik wanita adalah Maryam binti Imran, sebaik-baik wanita
adalah Khadijah binti Khuwailid”.

E. Siti Aisyah

Sepeninggal Khadijah tahun 10 H, Rasulullah mengalami kesedihan yang tidak


pernah terlihat sebelumnya. Sebagai seorang manusia, tentulah kesedihan itu terjasa juga
ketika istri yang dicintainya wafat dan meninggalkan anak-anaknya yang tercinta. Abu
Bakar yang melihat kesedihan itu, ikut-ikut berduka dengan apa yang diraskan Rasululah
pada masa-masa itu. Di saat itulah Abu Bakar sebagai sahabat sejati dan penuh kesetiaan,
mengnikahkan anaknya Aisyah dengan Rasulullah, dua tahun sebelum hijrah. Dan tidak
kalah pula jasa Khaulah binti Hakim yang mengusulkan kepada Rasulullah untuk menikahi
Aisyah binti Abu Bakar. Pada saat itu Aisyah baru berumur 9 tahun. Aisyah masih
bermain-main dengan teman-temannya, lalu dua orang tua menjemputnya pulang ke
rumah. Anak itu diberikan pakaian yang rapi dan pada malam harinya, Abu Bakar
menikahkan anak itu dengan Rasulullah.

Aisyah lahir pada tahun 12 SH/614 M, hasil pernikahan Abu Bakar dengan Ummu
Ruman, sejak kecilnya ia telah didik dengan ajaran Islam dan Abu Bakar sangat sayang
dan mencintainya. Sehingga ia menempatkannya pada kedudukan yang mulia untuk
menjadi Rasulullah. Rasulullah baru berkumpul dengannya pada umur tiga belas tahun.
Aisyah adalah isteri yang paling disayangi Rasulullah.

Aisyah mendapatkan gelar ummul mukminin, karena darinyalah umat Islam


mempelajari hidup Rasulullah, Aisyah mengetahui apa yang selalu dilakukan oleh
Rasulullah di rumah beliau. Banyak sekali persoalan-persoalan fiqih yang ditemukan
pemecahannya dari Aisyah. Para fuqaha kembali padanya dalam menentukan solusi suatu
masalah. Orang yang paling banyak meriwayatkan darinya ialah Urwah bin Zubair
keponakannya dari saudara perempuannya, Asma binti Abu Bakar, dan Qasim bin
Muhammad bin Abu Bakar keponakannya dari saudara laki-lakinya. Atha’ bin Rabah
mengatakan:”Aisyah adalah termasuk orang yang paling pandai dan paling baik
pendapatnya tentang banyak hal”. Urwah berkata:”Saya tidak melihat seorang yang lebih
pandai tentang fiqih dan syair daripada Aisyah”. Ia banyak meriwayatkan hadis dari nabi
yang terkumpul dalam musnad Ahmad dalam 253 halaman, dan atas riwayat-riwayatnya.

Keutamaan Aisyah ra

1. Pribadi yang Haus Ilmu

Selama Sembilan tahun hidup dengan Rasulullah saw. Beliau dikenal sebagai
pribadi yang haus akan ilmu pengetahuan. Ketekunan dalam belajar menghantarkan beliau
sebagai perempuan yang banyak menguasai berbagai bidang ilmu. Diantaranya adalah
ilmu al-qur’an, hadist, fiqih, bahasa arab dan syair. Keilmuan Aisyah tidak diragukan lagi
karena beliau adalah orang terdekat Rasulullah yang sering mengikuti pribadi Rasulullah.
Banyak wahyu yang turun dari Allah disaksikan langsung oleh Aisyah ra. “Aku pernah
melihat wahyu turun kepada Rasulullah pada suatu hari yang sangat dingin sehingga

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 166


beliau tidak sadarkan diri, sementara keringat bercucuran dari dahi beliau.“ (HR.
Bukhari).

2. Periwayat Hadist

Aisyah juga dikenal sebagai perempuan yang banyak menghapalkan hadist-hadist


Rasulullah. Sehingga beliau mendapat gelar Al-mukatsirin (orang yang paling banyak
meriwayatkan hadist). Ada sebanyak 2210 hadist yang diriwayatkan oleh Aisyah ra.
Diantaranya terdapat 297 hadist dalam kitab shahihain dan sebanyak 174 hadist yang
mencapai derajat muttafaq ‘alaih. Bahkan para ahli hadist menempatkan beliau pada posisi
kelima penghafal hadist setelah Abu Hurairah, Ibnu Umar, Anas bin Malik, dan Ibnu
Abbas.

3. Kecerdasan dan keluasan ilmu

Yang dimiliki Aisyah ra sudah tidak diragukan lagi. Bahkan beliau dijadikan tempat
bertanya para kaum wanita dan para sahabat tentang permasalahan hukum agama, maupun
kehidupan pribadi kaum muslimin secara umum.

Hisyam bin Urwah meriwayatkan hadis dari ayahnya. Dia mengatakan: “Sungguh
aku telah banyak belajar dari ‘Aisyah. Belum pernah aku melihat seorang pun yang lebih
pandai daripada ‘Aisyah tentang ayat-ayat Al-Qur’an yang sudah diturunkan, hukum
fardhu dan sunnah, syair, permasalahan yang ditanyakan kepadanya, hari-hari yang
digunakan di tanah Arab, nasab, hukum, serta pengobatan."

4. Pribadi yang Tegas dalam Menegakkan Hukum Allah

Aisyah juga dikenal sebagai pribadi yang tegas dalam mengambil sikap. Hal ini
terlihat dalam penegakan hukum Allah, Aisyah langsung menegur perempuan-perempuan
muslim yang melanggar hukum Allah.

Suatu ketika dia mendengar bahwa kaum wanita dari Hamash di Syam mandi di
tempat pemandian umum. Aisyah mendatangi mereka dan berkata, “Aku mendengar
Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda, ‘Perempuan yang menanggalkan
pakaiannya di rumah selain rumah suaminya maka dia telah membuka tabir penutup
antara dia dengan Tuhannya.“ (HR. Ahmad, Abu Daud, dan Ibnu Majah)

Aisyah pun pernah menyaksikan adanya perubahan pada pakaian yang dikenakan
wanita-wanita Islam setelah Rasulullah wafat. Aisyah menentang perubahan tersebut
seraya berkata, “Seandainya Rasulullah melihat apa yang terjadi pada wanita (masa kini),
niscaya beliau akan melarang mereka memasuki masjid sebagaimana wanita Israel
dilarang memasuki tempat ibadah mereka.”

Di dalam Thabaqat Ibnu Saad mengatakan bahwa Hafshah binti Abdirrahman


menemui Ummul-Mukminin Aisyah. Ketika itu Hafsyah mengenakan kerudung tipis.
Secepat kilat Aisyah menarik kerudung tersebut dan menggantinya dengan kerudung yang
tebal.

5. Pribadi yang Dermawan

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 167


Dalam hidupnya Aisyah ra juga dikenal sebagai pribadi yang dermawan. Dalam
sebuah kisah diceritakan bahwa Aisyah ra pernah menerima uang sebanyak 100.000
dirham. Kemudian beliau meminta para pembantunya untuk membagi-bagikan uang
tersebut kepada fakir miskin tanpa menyisakan satu dirhampun untuk beliau. Padahal saat
itu beliau sedang berpuasa.

Harta duniawi tidak menyilaukan Aisyah ra. Meskipun pada saat itu kelimpahan
kekayaan berpihak kepada kaum muslimin. Aisyah ra tetap hidup dalam kesederhanaan
sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah saw.

6. Setelah Rasulullah meninggal dunia

Aisyah ra menghabiskan hidupnya untuk perkembangan dan kemajuan Islam.


Rumah beliau tak pernah sepi dari pengunjung untuk bertanya berbagai permasalahan
syar’iat . Sampai-sampai Khalifah Umar bin khatab dan Usman bin Affan mengangkat
beliau menjadi penasehat. Hal ini merupakan wujud penghormatan Umar dan Ustman
terhadap kemuliaan Ilmu yang dimiliki oleh Aisyah ra.

7. Kisah Qiyamullail

Diriwayatkan dari Hafas bin Maisaroh dari ibunya dari budak perempuannya,
Khaulah, pembantu Rasulullah: ”Bahwa seekor anak anjing telah masuk ke dalam rumah
Nabi lalu masuk ke kolong tempat tidur dan mati. Karenanya selama empat hari tidak
turun wahyu kepadanya. Nabi berkata:”Khaulah apa yang telah terjadi rumah Rasulullah
ini? Sehingga Jibril tidak datang kepadaku! Dalam hati aku berkata: ”Alangkah baiknya
andai aku membenahi rumah ini dan menyapunya”. Lalu aku menyapu kolong tempat
tidurnya, maka kukeluarkan seekor anak anjing. Lalu datanglah nabi sedang janggutnya
bergetar. Apabila turn wahyu kepadanya janggutnya bergetar.

Maka Allah menurunkan firman ini: ”Demi waktu Dhuha, dan demi malam apabila
telah sunyi, Tuhanmu tiada meninggalkanmu dan tidaklah benci kepadamu (QS. Adh-
Dhuha 93:1-5)” 42

Sebagai seorang nabi dan rasul, nabi Muhammad telah dipastikan menjadi manusia
yang mashum. Beliau dijauhkan dari dosa, dipastikan masuk syurga dan dijauhkan dari
neraka. Namun meskipun demikian Rasulullah tidak kurang-kurangnya beribadah setiap
malam harinya, melaksanakan shalat tahajjud. Bahkan beliau sangat sering
melaksanakannya di bulan-bulan Ramadhan.

Suatu saat Nabi saw sedang melaksanakan shalat malam sampai-sampai kakinya
membengkak, maka Aisyah berkata pada beliau: “Mengapa engkau lakukan ini, Yaa
Rasulullah? sementara engkau telah diampuni dosa-dosamu yang telah lalu maupun yang
akan datang?”. Dengan tersenyum beliau bersabda:”Apakah aku tidak senang untuk
menjadi hambaNya yang bersyukur”43.

42
HR. Bukhari Muslim).
43
Artikel "Aisyah Binti Abu Bakar - Istri Nabi Muhammad SAW" adalah bagian dari seri "Kisah Shahabiyah -
Sahabat Nabi Perempuan"

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 168


Wafatnya ‘Aisyah .ra

Aisyah .ra meninggal pada malam selasa, tanggal 17 Ramadhan setelah shalat witir,
pada tahun 58 Hijriyah. Yang demikian itu menurut pendapat mayoritas ulama. Ada juga
yang berpendapat bahwa beliau wafat pada tahun 57 H, dalam usia 63 tahun dan sekian
bulan. Para sahabat Anshar berdatangan pada saat itu, bahkan tidak pernah ditemukan satu
hari pun yang lebih banyak orang-orang berkumpul padanya daripada hari itu, sampai-
sampai penduduk sekitar Madinah turut berdatangan.

Aisyah ra dikuburkan di Pekuburan Baqi’. Shalat jenazahnya diimami oleh Abu


Hurairah dan Marwan bin Hakam yang saat itu adalah Gubernur Madinah. Sosok Aisyah
ra merupakan teladan yang tepat bagi muslimah tanpa perlu menggembar-gemborkan
masalah emansipasi yang terjadi saat ini. Keberadaan Aisyah sudah membuktikan bahwa
perempuan juga diberikan posisi yang layak di zaman Rasulullah saw dan para sahabat.

Fatimah binti Muhammad, atau lebih dikenal dengan Fatimah az-Zahra (Fatimah
yang selalu berseri) (Bahasa Arab: ‫ )الزهراء فاطمة‬putri bungsu Nabi Muhammad dari
perkawinannya dengan istri pertamanya, Khadizah.

Siti Fatimah Az Zahra r.a dilahirkan di Makkah, pada hari Jumaat, 20 Jamadil Akhir,
lebih kurang lima tahun sebelum Rasulullah SAW diangkat menjadi rasul. Siti Fatimah Az
Zahra r.a tumbuh besar di bawah naungan wahyu Ilahi, di tengah kancah pertarungan
sengit antara Islam dan jahiliyah, di kala sedang hebatnya perjuangan para perintis iman
melawan penyembah berhala.

Kelahiran Fatimah disambut gembira oleh Rasulullahu alaihi wassalam dengan


memberikan nama Fatimah dan julukannya Az-Zahra. Pemimpin wanita pada masanya ini
adalah putri ke 4 dari anak anak Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam, dan ibunya adalah
Ummul Mukminin Khadijah binti Khuwalid. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa ta’ala
menghendaki kelahiran Fatimah yang mendekati tahun ke 5 sebelum Muhammad diangkat
menjadi Rasul, bertepatan dengan peristiwa besar yaitu ditunjuknya Rasulullah sebagai
penengah ketika terjadi perselisihan antara suku Quraisy tentang siapa yang berhak
meletakan kembali Hajar Aswad setelah Ka’bah diperbaharui.

Fatimah lebih muda dari Zainab, isteri Abil Ash bin Rabi‘ dan Ruqayyah,
isteri Utsman bin Affan. Juga dia lebih muda dari Ummu Kultsum. Dia adalah anak yang
paling dicintai Nabi SAW sehingga beliau bersabda :

”Fatimah adalah darah dagingku, apa yang menyusahkannya juga menyusahkan


aku dan apa yang mengganggunya juga menggangguku.” (Ibnul Abdil Barr) 44

44
Ibnul Abdil Barr dalam "Al-Istii'aab"

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 169


Di antara anak wanita Rasulullah s.a.w, Fathimah Az-Zahra r.a, merupakan wanita
paling utama kedudukannya. Kemuliannya itu diperoleh sejak menjelang kelahirannya,
yang didampingi wanita suci sebagaiman yang diucapkan oleh Khadijah:

"Pada waktu kelahiran Fartimah r.a, aku meminta bantuan wanita-wanita Quraish
tetanggaku, untuk menolong. Namun mereka menolak mentah-mentah sambil mengatakan
bahwa aku telah menghianati mereka dengan mendukung Muhammad. Sejenak aku
bingung dan terkejut luar biasa ketika melihat empat orang tinggi besar yang tak kukenal,
dengan lingkaran cahaya disekitar mereka mendekati aku.

Ketika mereka mendapati aku dalam kecemasan salah seorang dari mereka
menyapaku: ‘Wahai Khadijah! Aku adalah Sarah, ibunda Ishhaq dan tiga orang yang
menyapaku adalah Maryam, Ibunda Isa, Asiah, Putri Muzahim, dan Ummu Kultsum,
Saudara perempuan Musa. Kami semua diperintah oleh Allah untuk mengajarkan ilmu
keperawatan kami jika anda bersedia". Sambil mengatakan hal tersebut, mereka semua
duduk di sekelilingku dan memberikan pelayanan kebidanan sampai putriku Fathimah r.a
lahir."

Meningkat usia 5 tahun, beliau telah ditinggal pergi ibunya. Tidak secara langsung
beliau mengantikan tempat ibunya dalm melayani, membantu dan memebela Rasulullah
s.a.w, sehingga beliau mendapat gelar Ummu Abiha (ibu dari ayahnya). Dan dalam usia
yang masih kanak-kanak, beliau juga telah dihadapkan kepada berbagai macam uji coba.
Beliau melihat dan meyaksikan perlakuan keji kaum kafir Quraish kepada ayahandanya,
sehingga seringkali pipi beliau basah oleh linangan air mata kerana melihat penderitaan
yang dialalmi ayahnya.

Fatimah Az-Zahra tumbuh menjadi seorang gadis yang tidak hanya merupakan putri
dari Rasulullah, namun juga mampu menjadi salah satu orang kepercayaan ayahnya pada
masa Beliau. Fatimah Az-Zahra memiliki kepribadian yang sabar,dan penyayang karena
dan tidak pernah melihat atau dilihat lelaki yang bukan mahromnya. Rasullullah sering
sekali menyebutkan nama Fatimah, salah satunya adalah ketika Rasulullah pernah berkata

" Fatimah merupakan bidadari yang menyerupai manusia" Sesungguhnya dia adalah
pemimpin wanita dunia dan penghuni syurga yang paling utama.

1. Pernikahan Fatimah

Setelah Fatimah r.a mencapai usia dewasa dan tiba pula saatnya untuk beranjak
pindah ke rumah suaminya (menikah), banyak dari sahabat-sahabat yang berupaya
meminangnya. Di antara mereka adalah Abu Bakar dan Umar. Rasulullah saw menolak
semua pinangan mereka. Kepada mereka beliau mengatakan, “Saya menunggu keputusan
wahyu dalam urusannya (Fatimah).45

Kemudian, Jibril as datang untuk mengabarkan kepada Rasulullah saw, bahwa Allah
telah menikahkan Fatimah dengan Ali bin Ali Thalib. Tak lama setelah itu, Ali datang
menghadap Rasulullah dengan perasaan malu menyelimuti wajahnya untuk meminang
Fatimah. Sang ayah pun menghampiri putri tercintanya untuk meminta pendapatnya seraya
menyatakan, “Wahai Fatimah, Ali bin Abi Thalib adalah orang yang telah kau kenali
kekerabatan, keutamaan, dan keimanannya. Sesungguhnya aku telah memohonkan pada

45
Tadzkirah Al-Khawash, hal.306

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 170


Tuhanku agar menjodohkan engkau dengan sebaik-baik mahkluk-Nya dan seorang pecinta
sejati-Nya. Ia telah datang menyampaikan pinangannya atasmu, bagaimana pendapatmu
atas pinangan ini?” Fatimah diam, lalu Rasulullah pun mengangkat suaranya seraya
bertakbir, “Allahu Akbar! Diamnya adalah tanda kerelaannya.”46

Rasulullah saw kembali menemui Ali as sambil mengangkat tangan sang menantu
seraya berkata, “Bangunlah! ‘Bismillah, bi barakatillah, masya’ Allah la quwwata illa
billah, tawakkaltu ‘alallah.”

Kemudian, Nabi saw menuntun Ali dan mendudukkannya di samping Fatimah.


Beliau berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya keduanya adalah makhluk-Mu yang paling aku
cintai, maka cintailah keduanya, berkahilah keturunannya, dan peliharalah keduanya.
Sesungguhnya aku menjaga mereka berdua dan keturunannya dari setan yang terkutuk.”
Rasulullah mencium keduanya sebagai tanda ungkapan selamat berbahagia. Kepada Ali,
beliau berkata, “Wahai Ali, sebaik-baik istri adalah istrimu”. Dan kepada Fatimah, beliau
menyatakan, “Wahai Fatimah, sebaik-baik suami adalah suamimu.”

Acara pernikahan itu berlangsung dengan kesederhanaan. Saat itu, Ali tidak
memiliki sesuatu yang bisa diberikan sebagai mahar kepada sang istri selain pedang dan
perisainya. Untuk menutupi keperluan mahar itu, ia bermaksud menjual pedangnya. Tetapi
Rasulullah saw mencegahnya, karena Islam memerlukan pedang itu, dan tidak setuju
apabila Ali menjual perisainya. Dengan mas kawin hanya 400 dirham, dia memulakan
penghidupan dengan wanita yang sangat dimuliakan Allah di dunia dan di akhirat. Dan
’Ali pun menikahi Fathimah, dengan menggadaikan baju besinya kepada Ustman bin
Affan itulah, dan rumah yang semula ingin disumbangkan ke kawan-kawannya tapi
Rosulullah berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang. Kemudian Rosulullah
bersabda: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memerintahkan aku untuk menikahkan
Fatimah puteri Khadijah dengan Ali bin Abi Thalib, maka saksikanlah sesungguhnya aku
telah menikahkannya dengan maskawin empat ratus fidhdhah (dalam nilai perak), dan Ali
ridha (menerima) mahar tersebut.”. Selanjutnya Rasulullah mendoakan keduanya:
“Semoga Allah mengumpulkan kesempurnaan kalian berdua, membahagiakan
kesungguhan kalian berdua, memberkahi kalian berdua, dan mengeluarkan dari kalian
berdua kebajikan yang banyak.”47\

Bersuamikan Ali bin Abi Thalib bukanlah satu kebanggaan yang menjanjikan
kekayaan harta. Karena Ali bin Abi Thalib adalah salah seorang daripada empat sahabat
yang sangat rapat dengan Rasulullah merupakan sahabat yang sangat miskin berbanding
dengan yang lain (Abu Bakar Shiddiq, Umar bin Khattab dan Ustman bin Affan). Namun
jauh di sanubari Rasulullah tersimpan perasaan kasih dan sayang yang sangat mendalam
terhadap Ali bin Abi Thalib. Rasulullah pernah bersabda kepada Ali bin Abi Thalib,
“Fatimah lebih kucintai daripada engkau, namun dalam pandanganku engkau lebih mulia
daripada dia.” (HR Abu Hurairah). Dengan demikian wanita pilihan untuk lelaki pilihan.
Fatimah mewarisi akhlak ibunya Siti Khadijah. Tidak pernah membebani dan menyakiti
suami dengan kata-kata atau sikap. Senantiasa senyum menyambut kepulangan suami
hingga hilang separuh masalah suaminya.

2. Buah Hati Fatimah Azzahra

46
Dzkha’irAl-Ukba, hal. 29
47
kitab Ar-Riyadh An-Nadhrah 2:183, bab 4.

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 171


Keluarga Azzahra dibangun atas dasar cinta dan kasih sayang kepada suami dan
anak-anaknya. Pada tahun ke-2 Hijriah, Fatimah melahirkan putra pertamanya yang oleh
Rasulullah saw diberi nama “Hasan”. Rasul saw sangat gembira sekali atas kelahiran
cucunda ini. Beliau pun menyuarakan azan pada telinga kanan Hasan dan iqamah pada
telinga kirinya, kemudian dihiburnya dengan ayat-ayat Al-Qur’an.

Setahun kemudian lahirlah Husain. Demikianlah Allah SWT berkehendak


menjadikan keturunan Rasulullah saw dari Fatimah Azzahra r.a. Rasul mengasuh kedua
cucunya dengan penuh kasih dan perhatian. Tentang keduanya beliau senantiasa
mengenalkan mereka sebagai buah hatinya di dunia.

Bila Rasulullah saw keluar rumah, beliau selalu membawa mereka bersamanya.
Beliau pun selalu mendudukkan mereka berdua di haribaannya dengan penuh kehangatan.
Suatu hari Rasul saw lewat di depan rumah Fatimah r.a. Tiba-tiba beliau mendengar
tangisan Husain. Kemudian Nabi dengan hati yang pilu dan sedih mengatakan, “Tidakkah
kalian tahu bahwa tangisnya menyedihkanku dan menyakiti hatiku.”

Satu tahun berselang, Fatimah r.a melahirkan Zainab. Setelah itu, Ummu Kultsum
pun lahir. Sepertinya Rasul saw teringat akan kedua putrinya Zainab dan Ummu Kultsum
ketika menamai kedua putri Fatimah itu dengan nama-nama tersebut. Dan begitulah Allah
SWT menghendaki keturunan Rasul saw berasal dari putrinya Fatimah Zahra.

Dalam suatu kisah menceriterakan tentang keadaan rumah tangga Ali bin Abi Thalib
yang hidup miskin dan serba kekurangan setelah menikah dengan Fatimah binti Rosulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai
anakku bersabarlah. Sesungguhnya sebaik-baik wanita adalah yang bermanfaat bagi
keluarganya”.

Itulah jawaban Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika Fatimah mengadukan


keadaan keluarganya. Suatu ketika, Rosulullah keluar dari rumah Fatimah dengan tanda-
tanda kemarahan di wajahnya. Padahal beliau baru saja sampai di rumah Fatimah. Sikap
itu sebagai reaksi beliau atas penampilan anaknya yang mengenakan giwang dan rantai
terbuat dari perak, serta selot pintu rumah yang terbuat dari bahan sejenis perak. Karena
memahami sifat Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Fatimah segera mencopot
perhiasan dan selot pintu dan menyerahkannya kepada Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam, seraya berkata. : “Jadikanlah semua ini di jalan Allah, ya ayahku”. Rosulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat terharu, dan bersabda; “Sungguh kamu telah
melakukannya, wahai anakku. Ketahuilah, dunia ini bukan untuk Muhammad dan
keluarganya. Seandainya dunia ini bernilai di sisi Allah sebesar sayap nyamuk, tak akan
ada orang kafir diberi minum setetespun”.

Bukannya Ali bin Abi Thalib tidak mau menyediakan seorang pembantu untuk
isterinya tetapi memang keadaan kefakiranlah yang sedemikian rupa. Ali bin Abi Thalib
pun cukup memaklumi isterinya yang setiap hari menguruskan anak-anak, memasak,
membasuh dan menggiling tepung, dan yang lebih memenatkan lagi bila terpaksa
mengambil air melalui jalan yang berbatu-batu jauhnya sehingga kelihatan tanda di bahu
kiri dan kanannya. Suami mana yang tidak saying kepada isterinya. Pada suatu ketika bila
Ali bin Abi Thalib berada di rumah turut menyinsing lengan membantu istrinya
menggiling tepung di dapur. “Terima kasih suamiku,” bisik Fatimah kepada suaminya.
Usaha sekecil itu, di celah-celah kesibukan sudah cukup berkesan dalam membelai
perasaan seorang isteri.

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 172


Suatu hari, Rasulullah masuk ke rumah anaknya, didapati puterinya (Fatimah) yang
berpakaian kasar itu sedang mengisar biji-biji gandum dalam linangan air mata. Fatimah
segera mengesat air matanya tatkala menyedari kehadiran ayahanda kesayangannya itu.
Lalu ditanya oleh baginda, “Wahai buah hatiku, apakah yang engkau tangiskan itu?
Semoga Allah menggembirakanmu.”. Dalam nada sayu, Fatimah berkata, “Wahai
ayahanda, sesungguhnya anakmu ini terlalu penat kerana terpaksa mengisar gandum dan
menguruskan segala urusan rumah seorang diri. Wahai ayahanda, kiranya tidak
keberatan bolehkah ayahanda meminta suamiku menyediakan seorang pembantu
untukku?”.

Rosulullah tersenyum seraya bangun mendapatkan kisaran tepung itu. Dengan lafaz
Bismillah, Rosulullah meletakkan segenggam gandum ke dalam kisaran itu. Dengan izin
Allah, maka berpusinglah kisaran itu dengan sendirinya. Hati Fatimah sangat terhibur dan
merasa sangat gembira dengan hadiah istimewa dari ayahandanya itu. Habis semua
gandumnya dikisar dan batu kisar itu tidak akan berhenti selagi tidak ada arahan untuk
berhenti, sehingga Rasulullah menghentikannya. Bersabdalah Rasulullah dengan kata-kata
yang masyhur, “Wahai Fatimah, Gunung Uhud pernah ditawarkan kepadaku untuk
menjadi emas, namun ayahanda memilih untuk keluarga kita kesenangan di akhirat.” Jelas,
Rasulullah mau mendidik puterinya bahawa kesusahan bukanlah penghalang untuk
menjadi solehah.

Ayahanda yang penyayang terus merenung puterinya dengan pandangan kasih


sayang, “Puteriku, mahukah engkau kuajarkan sesuatu yang lebih baik daripada apa yang
kau pinta itu?”. “Tentu sekali ya Rasulullah,” jawab Siti Fatimah kegirangan. Rasulullah
bersabda: “Jibril telah mengajarku beberapa kalimah. Setiap kali selesai sembahyang,
hendaklah membaca ‘Subhanallah’ sepuluh kali, Alhamdulillah’ sepuluh kali dan ‘Allahu
Akbar’ sepuluh kali. Kemudian ketika hendak tidur baca ‘Subhanallah’, ‘Alhamdulillah’
dan ‘Allahu Akbar’ ini sebanyak tiga puluh tiga kali.”

Ternyata amalan itu telah memberi kesan kepada Fatimah. Semua pekerjaan rumah
tangga dapat dilaksanakan dengan mudah dan sempurna meskipun tanpa pembantu rumah.
Itulah hadiah istimewa dari Allah buat hamba-hamba yang hatinya sentiasa
mengingatiNya.

Suatu hari masuklah Rasulullah menemui anandanya Fatimmah az-Zahra radhiallahu


‘anha didapati anandanya sedang menggiling syair (sejenis padi-padian) dengan
menggunakan sebuah penggilingan tangan dari batu sambil menangis. Rasulullah bertanya
kepada anandanya, “Apa yang menyebabkan engkau menangis wahai Fathimah?, Semoga
Allah tidak menyebabkan matamu menangis”. Fathimah berkata, “Ayahanda,
penggilingan dan urusan-urusan rumahtanggalah yang menyebabkan ananda menangis”.
Lalu duduklah Rasulullah di sisi anandanya. Fathimah melanjutkan perkataannya,
“Ayahanda sudikah kiranya ayahanda meminta ‘ali (suaminya) mencarikan ananda
seorang jariah untuk menolong ananda menggiling gandum dan mengerjakan pekerjaan-
pekerjaan di rumah”.

Mendengar perkataan anandanya ini maka bangunlah Rasulullah mendekati


penggilingan itu. Beliau mengambil syair dengan tangannya yang diberkati lagi mulia dan
diletakkannya di dalam penggilingan tangan itu seraya diucapkannya
“Bismillaahirrahmaanirrahiim”. Penggilingan tersebut berputar dengan sendirinya dengan
izin Allah. Rasulullah meletakkan syair ke dalam penggilingan tangan itu untuk anandanya
dengan tangannya sedangkan penggilingan itu berputar dengan sendirinya seraya bertasbih

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 173


kepada Allah dalam berbagai bahasa sehingga habislah butir-butir syair itu digilingnya.
Rasulullah berkata kepada gilingan tersebut, “Berhentilah berputar dengan izin Allah”,
maka penggilingan itu berhenti berputar. Lalu penggilingan itu berkata-kata dengan izin
Allah yang berkuasa menjadikan segala sesuatu dapat bertutur kata.

Maka katanya dalam bahasa Arab yang fasih, “Ya Rasulullah, demi Allah, Tuhan
yang telah menjadikan baginda dengan kebenaran sebagai Nabi dan Rasul-Nya. Kalaulah
baginda menyuruh hamba menggiling syair dari Masyriq dan Maghrib pun niscaya hamba
gilingkan semuanya. Sesungguhnya hamba telah mendengar dalam kitab Allah suatu ayat
yang berbunyi : “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari
api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya para malaikat
yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang dititahkan-Nya
kepada mereka dan mereka mengerjakan apa yang dititahkan”.

Maka hamba takut, ya Rasulullah kelak hamba menjadi batu yang masuk ke dalam
neraka. Rasulullah kemudian bersabda kepada batu penggilingan itu, “Bergembiralah
karena engkau adalah salah satu dari batu mahligai Fathimah az-Zahra di dalam
syurga”. Maka bergembiralah penggilingan batu itu mendengar berita itu kemudian
diamlah ia. Rasulullah bersabda kepada anandanya,

“Jika Allah menghendaki wahai Fathimah, niscaya penggilingan itu berputar


dengan sendirinya untukmu. Akan tetapi Allah menghendaki dituliskan-Nya untukmu
beberapa kebaikan dan dihapuskan oleh Nya beberapa kesalahanmu dan diangkat-Nya
untukmu beberapa derajat.

Ya Fathimah, perempuan mana yang menggiling tepung untuk suaminya dan anak-
anaknya, maka Allah menuliskan untuknya dari setiap biji gandum yang digilingnya suatu
kebaikan dan mengangkatnya satu derajat.

Ya Fathimah perempuan mana yang berkeringat ketika ia menggiling gandum untuk


suaminya maka Allah menjadikan antara dirinya dan neraka tujuh buah parit.

Ya Fathimah, perempuan mana yang meminyaki rambut anak-anaknya dan menyisir


rambut mereka dan mencuci pakaian mereka maka Allah akan mencatatkan baginya
ganjaran pahala orang yang memberi makan kepada seribu orang yang lapar dan
memberi pakaian kepada seribu orang yang bertelanjang.

Ya Fathimah, perempuan mana yang menghalangi hajat tetangga-tetangganya maka


Allah akan menghalanginya dari meminum air telaga Kautshar pada hari kiamat.

Ya Fathimah, yang lebih utama dari itu semua adalah keridhaan suami terhadap
istrinya. Jikalau suamimu tidak ridha denganmu tidaklah akan aku do’akan kamu.
Tidaklah engkau ketahui wahai Fathimah bahwa ridha suami itu daripada Allah dan
kemarahannya itu dari kemarahan Allah?.

Ya Fathimah, apabil seseorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya


maka beristighfarlah para malaikat untuknya dan Allah akan mencatatkan baginya tiap-
tiap hari seribu kebaikan dan menghapuskan darinya seribu kejahatan. Apabila ia mulai
sakit hendak melahirkan maka Allah mencatatkan untuknya pahala orang-orang yang
berjihad pada jalan Allah yakni berperang sabil.

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 174


Apabila ia melahirkan anak maka keluarlah ia dari dosa-dosanya seperti
keadaannya pada hari ibunya melahirkannya dan apabila ia meninggal tiadalah ia
meninggalkan dunia ini dalam keadaan berdosa sedikitpun, dan akan didapatinya
kuburnya menjadi sebuah taman dari taman-taman sorga, dan Allah akan
mengkaruniakannya pahala seribu haji dan seribu umrah serta beristighfarlah untuknya
seribu malaikat hingga hari kiamat.

Perempuan mana yang melayani suaminya dalam sehari semalam dengan baik hati
dan ikhlas serta niat yang benar maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya semua dan
Allah akan memakaikannya sepersalinan pakaian yang hijau dan dicatatkan untuknya dari
setiap helai bulu dan rambut yang ada pada tubuhnya seribu kebaikan dan dikaruniakan
Allah untuknya seribu pahala haji dan umrah.

Ya Fathimah, perempuan mana yang tersenyum dihadapan suaminya maka Allah


akan memandangnya dengan pandangan rahmat.

Ya Fathimah perempuan mana yang menghamparkan hamparan atau tempat untuk


berbaring atau menata rumah untuk suaminya dengan baik hati maka berserulah untuknya
penyeru dari langit (malaikat),

“Teruskanlah amalmu maka Allah telah mengampunimu akan sesuatu yang telah
lalu dari dosamu dan sesuatu yang akan datang”.

Ya Fathimah, perempuan mana yang meminyakkan rambut suaminya dan


janggutnya dan memotongkan kumisnya serta menggunting kukunya maka Allah akan
memberinya minuman dari sungai-sungai sorga dan Allah akan meringankan
sakarotulmaut-nya, dan akan didapatinya kuburnya menjadi sebuah taman dari taman-
taman syurga seta Allah akan menyelamatkannya dari api neraka dan selamatlah ia
melintas di atas titian Shirat”.48

Sekarang apa rahasia Ali bin Abi Thalib mencintai Fathimah? Fathimah adalah
teman karib semenjak kecil, puteri tersayang Rosulullah, sedangkan Ali bin Abi Thalib
adalah sepupu Rosulullah yang mempesona, baik kesantunannya, ibadahnya, kecekatan
kerjanya, parasnya maupun kecerdasannya. Ali bin Abi Thalib sejak Fatimah masih
kanak-kanak sudah memperhatikan sifat dan tingkah lakunya, yaitu pada suatu hari ketika
ayahnya (Rosulullah) pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi
perut unta. Ia bersihkan dengan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta. Ia bakar perca, ia
tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya. Semuanya dilakukan dengan mata
gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ’Abdullah tidak layak diperlakukan demikian
oleh kaumnya! Maka gadis cilik (Fatimah) itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka’bah,
di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya
pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam. Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu
berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali.

3. Fatimah as digelari Az-Zahra’49

48
(Syarah ‘Uquudil lijjaiin-Syaikh Muhammad Nawawi Al-Bantani).

49
Mustadrak Ash-Shahihayn 3: 156

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 175


Abban bin Tughlab pernah bertanya kepada Imam Ja’far Ash-Shadiq as: Mengapa
Fathimah digelari Az-Zahra’? Ia menjawab: “Karena Fathimah as memacanrkan cahaya
pada Ali bin Abi Thalib tiga kali di siang hari. Ketika ia melakukan shalat sunnah di pagi
hari, dari wajahnya memancar cahaya putih sehingga cahayanya memancar dan menembus
ke kamar banyak orang di Madinah dan dinding rumah mereka diliputi cahaya putih.
Mereka heran atas kejadian itu, lalu mereka datang kepada Rasulullah saw dan
menanyakan apa yang mereka saksikan. Kemudian Nabi saw menyuruh mereka datang ke
rumah Fathimah. Lalu mereka mendatanginya, ketika sampai di rumahnya mereka melihat
Fathimah sedang shalat di mihrabnya. Mereka melihat cahaya di mihrabnya, cahaya itu
memancar dari wajahnya, sehingga mereka tahu bahwa cahaya yang mereka saksikan di
rumah mereka adalah cahaya yang terpancar dari wajah Fathimah as.

Ketika Fathimah as melakukan shalat sunnah di tengah hari cahaya kuning


memancar dari wajahnya, cahaya itu menembus ke kamar rumah orang banyak, sehingga
pakaian dan tubuh mereka diliputi oleh cahaya berwarna kuning. Lalu mereka datang
kepada Rasulullah saw dan bertanya tentang apa yang mereka saksikan. Nabi saw
menyuruh mereka datang ke rumah Fathimah as, saat itu mereka melihat dia sedang berdiri
dalam shalat sunnah di mihrabnya, cahaya kuning itu memancar dari wajahnya pada
dirinya, ayahnya, suaminya dan anak-anaknya, sehingga mereka tahu bahwa cahaya yang
mereka saksikan itu adalah berasal dari cahaya wajah Fathimah as.

Ketika Fathimah as melakukan shalat sunnah di punghujung siang saat mega merah
matahari telah tenggelam wajah Fathimah memancarkan cahaya merah sebagai tanda
bahagia dan rasa syukur kepada Allah Azza wa Jalla. Cahaya itu menembus ke kamar
orang banyak sehingga dinding rumah mereka memerah. Mereka heran atas kejadian itu.
Kemudian mereka datang lagi kepada Rasulullah saw menanyakan kejadian itu. Nabi saw
menyuruh mereka datang ke rumah Fathimah as. Ketika sampai di rumah Fathimah
mereka melihat ia sedang duduk bertasbih dan memuji Allah, mereka melihat cahaya
merah memancar dari wajahnya. Sehingga mereka tahu bahwa bahwa cahaya yang mereka
saksikan itu berasal dari cahaya wajah Fathimah as. Cahaya-cahaya itu selalu memancar di
wajahnya, dan cahaya itu diteruskan oleh putera dan keturunannya yang suci hingga hari
kiamat.”50

4. Fatimah as digelari penghulu semua perempuan

Fatimah as mendapat gelar penghulu semua perempuan (sayyidatu nisâil `alamîn).


Aisyah berkata: Fatimah as datang kepada Nabi saw dengan berjalan seperti jalannya Nabi
saw. Kemudian Nabi saw mengucapkan: “Selamat datang duhai puteriku.” Kemudian
beliau mempersilahkan duduk di sebelah kanan atau kirinya kemudian beliau berbisik
kepadanya lalu Fatimah menangis. Kemudian Nabi saw bersabda kepadanya: “Mengapa
kamu menangis?” Kemudian Nabi saw berbisik lagi kepadanya. Lalu ia tertawa dan
berkata: Aku tidak pernah merasakan bahagia yang paling dekat dengan kesedihan seperti
hari ini. Lalu aku (Aisyah) bertanya kepada Fatimah tentang apa yang dikatakan oleh Nabi
saw. Fatimah menjawab: Aku tidak akan menceritakan rahasia Rasulullah saw sehingga
beliau wafat. Aku bertanya lagi kepadanya, lalu ia berkata: (Nabi saw berbisik kepadaku):
“Jibril berbisik kepadaku (Rasulullah saw), Al-Qur’an akan menampakkan padaku setiap
setahun sekali, dan ia akan menampakkan padaku tahun ini dua kali, aku tidak melihatnya

50
Bihârul Anwar 43: 11, hadis ke 2

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 176


kecuali datangnya ajalku, dan engkau adalah orang pertama dari Ahlul baitku yang
menyusulku.” Lalu Fatimah menangis. Kemudian Rasulullah saw bersabda: “Tidakkah
kamu ridha menjadi penghulu semua perempuan ahli surga atau penghulu semua isteri
orang-orang yang beriman?” Kemudian Fatimah tertawa.51

5. Fatimah as menyerupai Nabi saw

Aisyah Ummul mukminin berkata: Aku tidak pernah melihat seorangpun yang
paling menyerupai Rasulullah saw dalam sikapnya, berdiri dan duduknya kecuali Fatimah
puteri Rasulullah saw. Selanjutnya Aisyah berkata: Jika Fatimah datang kepada Nabi saw,
beliau berdiri menyambut kedatangannya, dan mempersilahkan duduk di tempat
duduknya. Demikian juga jika Nabi saw datang kepadanya ia berdiri menyambut
kedatangan beliau dan mempersilahkan duduk di tempat duduknya…” (Shahih At-
Tirmidzi 2: 319, bab keutamaan Fathimah; Shahih Bukhari, bab Qiyam Ar-Rajul liakhihi,
hadis ke 947; Shahih Muslim, kitab Fadhil Ash-Shahabah, bab Fadhail Fathimah) Marah
Fatimah as Marah Rasulullah saw Rasulullah saw bersabda: “Fatimah adalah bagian dari
diriku, barangsiapa yang membuatnya marah ia telah membuatku marah.” (Shahih
Bukhari, kitab awal penciptaan, bab manaqib keluarga dekat Rasulullah saw; Kanzul
Ummal 6: 220, hadis ke 34222) Sakit Fatimah as Sakit Rasulullah saw Rasulullah saw
bersabda: “Fatimah adalah bagian dari diriku, menggoncangkan aku apa saja yang
menggoncangkan dia, dan menyakitiku apa saja yang menyakitinya.” (Shahih Bukhari,
kitab Nikah; Shahih Muslim, kitab Fadhil Ash-Shahabah, bab Fadhail Fathimah; Musnad
Ahmad bin Hanbal 4: 328, hadis ke 18447) Sebagian Karamah Fatimah Az-Zahra’ as Jabir
Al-Anshari, salah seorang sahabat Nabi saw berkisah bahwa beberapa hari Rasulullah saw
tidak makan sedikit pun makanan sehingga diriku lemas, kemudian beliau mendatangi
isteri-isteriku untuk mendapatkan sesuap makanan, tapi tidak mendapatkannya di rumah
mereka. Lalu beliau mendatangi Fatimah as dan berkata: “Wahai puteriku, apakah kamu
punya makanan untuk aku? aku lapar. Fatimah as berkata: Demi Allah, demi ayahku dan
ibuku, aku tidak punya makanan. Ketika Rasulullah saw keluar dari rumah Fatimah as, ada
seorang perempuan mengirimkan dua potong roti dan sepotong daging, lalu Fatimah as
mengambilnya dan meletakkannya dalam mangkok yang besar dan menutupinya. Fatimah
as berkata: Sungguh makanan ini aku akan utamakan untuk Rasulullah saw daripada diriku
dan keluargaku. Padahal mereka juga membutuhkan sesuap makanan.

Fatimah as berkata: Lalu aku mengutus Al-Hasan dan Al-Husein kepada kakeknya
Rasulullah saw. Kemudian Rasulullah saw datang padaku. Aku berkata: Ya Rasulallah,
demi ayahku dan ibuku, Allah telah mengkaruniakan kepada kami sesuatu, lalu aku
menyimpannya untuk kupersembahkan kepadamu. Fatimah as berkata: Ada seseorang
mengantarkan makanan padaku, lalu aku meletakkannya dalam mangkok besar dan aku
menutupinya. Saat itu juga dalam mangkok itu penuh dengan roti dan daging. Ketika aku
melihatnya aku takjub. Aku tahu bahwa itu adalah keberkahan dari Allah swt, lalu aku
memuji Allah swt dan bershalawat kepada Nabi-Nya. Rasulullah saw bertanya: “Dari
mana makanan ini wahai puteriku?” Fatimah menjawab: Makanan ini datang dari sisi
Allah, sesungguhnya Allah mengkaruniakan rizki kepada orang yang dikehendaki-Nya
dari arah yang tak terduga. Kemudian Rasulullah saw mengutus seseorang kepada Ali as
lalu ia datang. Rasulullah saw, Ali, Fatimah, Al-Hasan, Al-Husein as dan semua isteri
Nabi saw makan makanan itu sehingga mereka merasa kenyang, dan makanan itu tetap

51
(Shahih Bukhari, kitab Awal penciptaan, bab tanda-tanda kenabian dalam Islam; Musnad Ahmad 6: 282, hadis
ke 25874)

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 177


penuh dalam mangkok itu. Fatimah as berkata: Lalu aku juga mengantarkan makanan itu
pada semua tetanggaku, Allah menjadikan dalam makanan itu keberkahan dan kebaikan
yang panjang waktunya. Padahal awalnya makanan dalam mangkok itu hanya dua potong
roti dan sepotong daging, selebihnya adalah keberkahan dari Allah swt. Dalam hadis yang
lain disebutkan bahwa Rasulullah saw pernah bersabda kepada Fatimah dan Ali as:
“Segala puji bagi Allah yang tidak mengeluarkan kalian berdua dari dunia sehingga Allah
menjadikan bagimu (Ali) apa yang telah terjadi pada Zakariya, dan menjadikan bagimu
wahai Fatimah apa yang telah terjadi pada Maryam. Inilah yang dimaksudkan juga dalam
firman Allah swt: “Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrabnya, ia dapati
makanan di sisinya.” (Ali-Imran: 37).52

52
1.Tafsir Al-Kasysyaf, Az-Zamakhsyari, tentang tafsir surat Ali-Imran: 37.
2.Tafsir Ad-Durrul Mantsur, tentang ayat ini.

[BUKU PANDUAN PRAKTEK IBADAH LINGKAR STUDI PEKANAN] 178