Anda di halaman 1dari 22

E.4.

KONSEP PEMBANGUNAN SUNGAI


BERWAWASAN EKOLOGI-HIDRAULIK (EKO-
HIDRAULIK) SEBAGAI SOLUSI

Konsep yang dapat digunakan dalam pengembangan wilayah sungai di Indonesia. Konsep
tersebut adalah konsep pendekatan integralistik Eko-Hidraulik, konsep Harmonis dan
keseimbangan, konsep kesatuan antara development dan konservation, konsep drainasi
kawasan ramah lingkungan, konsep distribusi banjir dan konsep Eko-Hidraulik untuk
penanggulangan banjir.

Konsep pembangunan sungai tersebut di atas berbeda dengan konsep konvensional


penanganan masalah sungai yang selama ini banyak dianut seperti misal pembuatan talud,
ndinding parapet, pembanguan tanggul, pelurusan, sudetan, relokasi sungai, pembangunan
bendung tanpa fishway dll. Konsep yang akan dibahas ini merupakan landasan utama yang
perlu dipakai untuk mengelola wilayah sungai di Indonesia selanjutnya.

E.4.1Pendekatan Integralistik Ekologi dan Hidraulik, Harmonis Antara


Perilaku Alamiah dan Pembangunan dan Kesatuan Antara Konservasi dan
Pembangunan

E.4.1.1Integralistik Ekologi dan Hidraulik (Eko-Hidraulik)

Holistic concept: River is a complex system, therefore, it's development and restoration needs
holistic approach by giving considerations due to all corresponding fields (Konsep holistik;
Sungai adalah suatu sistem yang komplek, oleh karena itu pengembangannya dan
restorasinya memerlukan pendekatan holistik dengan mempertimbangkan seluruh faktor yang
berhubungan dengan sungai).

Definisi lama mengenai sungai, bahwa sungai adalah suatu alur di permukaan bumi yang
berfungsi sebagai saluran drainasi dan terdiri dari aliran air dan sedimen terangkut, perlu
diadakan koreksi secara subtansial. Sungai dalam konsep integralistik didefinisikan sebagai
suatu sistem keairan terbuka yang padanya terjadi interaksi antara faktor biotis dan abiotis
yaitu flora fauna disatu sisi dan hidraulika air dan sedimen disisi yang lain, serta seluruh
aktivitas manusia yang berhubungan langsung atau tidak langsung dengan sungai.

Jadi pada pembangunan wilayah sungai dengan konsep integralistik, semua faktor yang
terkait perlu mendapatkan perhatian dengan porsi yang sesuai, sehingga tidak ada komponen
dalam ekosistem sungai yang hancur. Kehancuran salah satu rantai ekosistem sungai (misal
flora) maka akan menyebabkan kehancuran komponen yang lain misal fauna, retensi
hidraulis dan erosi tebing sungai. Gambar dibawah ini menunjukkan komponen-komponen
penyusun suatu sungai.
Gambar E. 32 Integralistik komponen ekologi-hidraulik (profit sungai)

Konsekuensi dari konsep integralistik ini adalah bahwa perencanaan dan pelaksanaan
pembangunan maupun pengembangan sungai harus melibatkan seluruh tenaga ahli yang
kompeten pada masing-masing komponen ekosistem sungai tersebut. Sungai yang selama ini
hanya dikelola oleh salah satu instansi (KIMPRASWIL) perlu sesegera mungkin diadakan
perombakan dengan memasukkan pengelola yang terkait lainnya seperti kehutanan,
pertanian, lingkungan hidup (ekologi), perindustrian dan Sosial. KIMPRASWIL atau Dinas
PU yang ada nampaknya tidak pernah akan mampu melaksanakan tugas pengelolaan sungai
secara multisektor.

E.4.1.2Harmonis Antara Karakteristik Alamiah dan Pembangunan

Harmony concept: Technical river developments must be harmoniously conducted with


consideration of natural riverbehaviors (Konsep keseimbangan: Teknik rekayasa pada sungai
harus diharmoniskan dengan kondisi dan perilaku alam). Dalam pembangunan di wilayah
sungai, perilaku sistem alamiah sungai perlu didefinisikan terlebih dulu secara mendetail
(lihat Bab I Sungai Sebagai Sistem Komplek dan Teratur).

Sungai dengan segala karakteristik alamiahnya telah membentuk komposisi yang paling
stabil dibandingkan dengan komposisi buatan. Sehingga perubahan terhadap karakteristik
alamiah akan menurunkan kemampuan sungai untuk menjaga keseimbangannya. Perubahan
karakteristik sungai oleh bangunan teknis pertama akan direspon oleh sungai dengan berbagai
perubahan karakteristik yang tidak hanya terjadi di daerah yang diubah namun juga terjadi di
bagian lainnya dialur sungai yang bersangkutan.
Konsep keseimbangan adalah upaya yang perlu dilakukan dalam penanganan sungai sehingga
tidak mengganggu keseimbangan yang sudah ada. Justru keseimbangan sungai tersebut perlu
dimanfaatkan dalam rangka pengembangan sekaligus konservasi.

Sebagai contoh dalam upaya mengatasi longsoran tebing dapat digunakan dua pilihan
penyelesaian yaitu dengan membangun talud memanjang alur sungai dan dengan menanam
vegetasi yang cocok di sepanjang alur sungai yang tererosi tersebut. Pilihan pertama
dipandang dari keseimbangan sungai sangat kontradiktif. Karena dengan pembuatan talud,
sungai akan mengalami destabilisasi. Di bagian yang ditalud mengalami kenaikan kecepatan
arus sehingga mengakibatkan erosi dasar dan di bagian hilir setelah talud akan menerima
energi yang tinggi yang dapat menyebabkan erosi maupun banjir. Destabilisasi ini
berlangsung bersamaan dengan proses menuju stabilitas baru. Stabilitas barn akan
memerlukan kompensasi berupa erosi dan endapan di tempat-tempat tertentu yang
sebelumnya tidak ada. Stabilitas baru juga memerlukan waktu yang sulit diprediksi. Dengan
mengaktifkan kembali komponen ekologi vegetasi alamiahnya maka baik longsor, banjir di
hilir, mekanisme outflow inflow, kekeringan musim kemarau dll. dapat dihindarkan. Gambar
E.33 menyajikan perbandingan antara konstruksi yang harmonis antara karakteristik sungai
dan yang tidak harmonis.

Gambar E. 33 Perkuatan Tebing; bagian kanan harmoni antara pembangunan dan


karaktistik sungai (talud ramah lingkungan) sedang bagian kiri tidak harmoni antara
pembangunan dan karakteristik sungai (talud tidak ramah lingkungan).

E.4.1.3Kesatuan Antara Konservasi din Pembangunan (conservation and development)

Integrated view of river development and conservation: Let rivers be natural rivers, if their
potentials must be exploited, measures must be taken to eliminate all negative impacts from
such developments (Eksplorasi dan konservasi sungai; Sungai harus dipelihara seperti sungai
alamiah, jika akin dibangun atau dimanfaatkan potensinya, harus diusahakan sejauh mungkin
untuk menanggulangi dampak negatif yang muncul secara integral dari pembangunan ini).
Konsep exploitation-conservation ini merupakan konsep tunggal yang dalam setiap
penyelesaian permasalahan di wilayah keairan perlu digunakan secara integral. Philosofi din
metode yang dikembangkan harus secara otomatis mengandung unsur development din
conservation. Dalam hal ini konservasi tidak hanya dipandang sebagai kegiatan pasif jika
dampak negatif telah muncul, namun sebagai kegiatan aktif yang dikembangkan secara
bersama-sama dengan development.

Sebagai misal sekali lagi ketika terjadi longsoran tebing sungai, penyelesaian masalah bisa
dilakukan dengan membuat talud beton atau pasangan batu atau dengan membuat talud
ramah lingkungan yang terbuat dari tumpukan batu kosong din vegetasi. Dalam konsep river
development and conservation maka dipilih talud ramah lingkungan bukan talud beton atau
pasangan batu karena talud ramah lingkungan merupakan kombinasi dari pembangunan din
konservasi sungai.

E.4.2Drainasi Bebas Banjir dan Ramah Lingkungan

Drainage and resistance concept: Release of access waterto the rivers at an optimal time
which doesn't cause hygienic problems and flood problems such as increase of river 'peak
discharge' and accelerate of river 'peak time' (Konsep drainasi din retensi; Drainasi air
kelebihan ke sungai harus diusahakan sedemikian sehingga tidak menyebabkan masalah
kesehatan din tidak meningkatkan kemungkinan banjir di hilir seperti meningkatkan banjir
puncak din memendeknya waktu mencapai puncak).

Konsep drainasi konvensional (lama) menekankan pada upaya membuang atau mengatuskan
air kelebihan, dalam hal ini air hujan secepatcepatnya ke sungai. Konsep ini jika ditinjau
lebih jauh akan menimbulkan dampak negatif yang sangat besar. Dengan diatuskannya air
kelebihan ke sungai kemudian ke laut akan menyebabkan berbagai dampak negatif
diantaranya

a. Konservasi air di kawasan yang didrain rendah, dengan kata lain terjadi penurunan resapan
air permukaan ke dalam tanah

b. Banjir di bagian hilir di musim hujan, karena akumulasi air drainasi yang dibuang secepat-
cepatnya ke sungai. Sedang pada musim kemarau terjadi kekeringan, karena tidak ada suplai
air dari air tanah ke dan dari sungai.

c. Fluktuasi debit sungai dan termasuk air tanah yang terkait akan sangat tinggi pada musim
hujan dan kemarau. Hal ini dapat meningkatkan kelongsoran tanah.

d. Flukstuasi alamiah debit dan muka air sungai berubah, sehingga dapat mengganggu
ekosistem atau ekologi sepanjang sungai

e. Muka air tanah akan cenderung turun karena infiltrasi rendah. Penurunan ini membawa
akibat pada gangguan ekologi dan juga dimungkinkan terjadi penurunan muka tanah (land
subsidence). Pada musim penghujan seluruh air permukaan didrain dan juga pada musim
kemarau. Akibat proses ini muka air tanah turun terbentuk ruang-ruang kosong dalam
struktur tanah. Ruang kosong dalam tanah ini memungkinkan terjadinya penurunan tanah
diatasnya. Cara penanggulangan penurunan tanah ini adalah dengan cara membuat kanal-
kanal yang membagi-bagi daerah menjadi kawasan-kawasan yang dikelilingi kanal. Kanal
tersebut tidak berfungsi sebagai pengatus air dari kawasan yang dibuang ke laut, namun
berfungsi sebagai kolam drainasi kawasan, yang padanya terkumpul air hujan kelebihan.
Tekanan air di kanal-kanal tersebut selanjutnya dapat mempertahankan daya dukung tanah
sekaligus mencegah terjadinya pori-pori kosong.
Solusi masalah konsep drainasi ini adalah dengan menetapkan konsep drainasi ramah
lingkungan. Dalam hal ini drainasi harus didefinisikan sebagai usaha untuk mengalirkan air
kelebihan (air hujan) dengan cara meresapkan air kedalam tanah, menyimpan dipermukaan
tanah untuk menjaga kelembaban udara dan mengalirkan ke sungai secara proposional
sehingga tidak menyebabkan tambahan beban banjir di sungai.

Dalam segala aspek konsep drainasi konvensional perlu segara direvisi dengan konsep
drainasi ramah lingkungan, missal drainasi perkebunan, pertanian (irigasi), drainasi kawasan,
perkotaan dan perumahan. Drainasi yang sampai sekarang digunakan untuk masalah tersebut
adalah drainasi konsvensional.

Untuk perumahan misalnya, seluruh saluran drainasi perumahan mengatuskan air dari
wilayah perumahan tersebut dan dialirkan secepatnya ke sungai. Dalam irigasi teknis, selalu
dibangun saluran drainasi yang berfungsi mengatuskan kawasan ketika musim hujan. Pada
areal perkebunan dibuat drainasi memotong kontur tanah untuk secepatnya mengatuskan air
yang mungkin tergenang. Pada wilayah perkotaan, semua mater plan kota mengguanakan
konsep drainasi konvensional dengan menarik garis terpendek dari wilayah yang
bersangkutan menuju sungai terdekat. Pola drainasi konvensional tersebut secara simultan
akan menjadi penyebab banjir dan kekeringan yang serius.

Gambar E.34 dan E.35 di bawah ini menyajikan revisi drainasi konsvensional menjadi
drainasi ramah lingkungan.
Gambar E. 34 Drainasi konvensional (atas) dan drainasi ramah lingkungan (bawah)

Gambar E. 35 Drainasi perumahan ramah lingkungan dengan kolam drainasi (kolam


konservasi air hujan)

Hal lain yang memperparah dampak drainasi konvensional serta memperparah dan
mempercepat kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah konsep penyebaran pemukiman
yang sangat distruktif bagi DAS yang bersangkutan.

Penyebaran pemukiman yang terjadi di hampir seluruh wilayah di Indonesia adalah


"penyebaran merata"., dimana perumahan dan pemukiman menyebar secara hortizontal ke
seluruh DAS. Sehingga dalam waktu relatif pendek hampir seluruh DAS terpenuhi
pemukiman. Contoh penyebaran merata ini dapat kits jumpai di wilayah Medan, Jakarta,
Bandung, Bogor, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Malang, Makasar dll. Penyebaran
horizontal ini mempunyai dampak terhadap lingkungan yang sangat distruktif, karena DAS
akan rusak total setelah hanya sepertiga dari lugs DAS tersebut didirikan pemukiman. Hal ini
disebabkan karena setiap luasan perumahan membutuhkan areal 3 kali lipat dari luasan fisik
perumahan tersebut. Misalnya rumah tipe 36 biasanya membutuhkan lugs tanah 100 m2,
rumah tipe 25 membutuhkan luas tanah 90 m2, dst.
Jika DAS telah dikuasai pemukiman, sedang drainasi pemukiman dan sekitarnya
menggunakan konsep drainasi konvensional seperti diuraikan sebelumnya, maka banjir di
hilir akan terjadi dengan intensitas tinggi dan konservasi air di huiu menurun. Cara
penyelesaian masalah ini adalah mengembangkan konsep pemukiman ramah lingkungan,
dengan cara membangun daerah-daerah satelit dengan mengkonsentrasikan perumahan hanya
di sekitar daerah satelit tersebut. Perumahan harus didesain vertikal (rumah tingkat) sehingga
areal yang dibutuhkan mengecil. Berikut ini disajikan ilustrasi penyebaran pemukiman tidak
ramah lingkungan (penyebaran jamur) dan yang ramah lingkungan (penyebaran satelit).

Gambar E. 36 Penyebaran pemukiman tidak ramah lingkungan (A) dan ramah


lingkungan, penyebaran satelit terkonsentrasi dan vertikal (B)
Disamping secara drainasi sangat tidak direkomendasi, penyebaran pemukiman merata dan
horizontal ini akan menyebabkan pencemaran lingkungan wilayah keairan yang lebih lugs
dan sulit untuk dilokalisir. Demikian juga polo merata ini akan memakan dana yang sangat
tinggi untuk pembangunan sarana-prasarana dan seluruh infrastruktur pemukiman tersebut.
Polo tersebut merupakan polo yang sangat tidak efisien baik ditinjau dari sisi ekologi dan
ekonomi.

E.4.3Konsep Distribusi Banjir Eko-Hidraulik


Flood distribution concept: Disperse the local large floods into many small floods along the
river systems (Konsep distribusi banjir; Banjir lokal yang besar sebaiknya bisa dibagi-bagi
menjadi banjir kecil-kecil di sepanjang alur sungai). Sebenarnya banjir diperlukan oleh
ekosistem sepanjang sungai sebagai faktor penting kelangsungan hidup flora dan fauna
sungai. Sedang flora dan fauna sungai merupakan komponen sungai yang sangat vital
kaitannya dengan peredaman banjir dan erosi disepanjang alur sungai.

Kegiatan penanggulangan banjir dengan mengadakan normalisasi, sudetan dan pelurusan


sungai pada dasarnya hanya memindahkan banjir tersebut ke bagian hilir. Jika dibagian hulu
dan tengah dilakukan usaha penanggulangan banjir dengan metode tersebut maka dapat
dipastikan bahwa secara simultan akan terjadi banjir besar di hilir. Banjir alamiah adalah
banjir yang terjadi di sepanjang alur sungai, yang sudah barang tentu debitnya relatif kecil
karena didistribusi merata sepanjang sungai.

Gambar E. 37 Ilustrasi banjir terdistribusi sepanjang aliran sungai

Distribusi banjir sepanjang sungai ini berfungsi sekaligus sebagai metode konservasi air,
karena distribusi berarti juga memperpanjang waktu meresap air ke tanah. Dengan distribusi
banjir di sepanjang sungai dapat memperkecil fluktuasi debit sepanjang sungai. Fluktuasi
debit yang stabil berarti menghindarkan banjir musim hujan dan kekeringan di musim
kemarau. Tentu saja perlu perbaikan di daerah aliran sungainya.
Gambar E. 38 Banjir besar terkonsentrasi di satu tempat (bagian hulu ditanggul,
disudet ataun diluruskan)

E.4.4Konsep Penanganan Sungai Kecil

Development, conservation and restoration of rivers muss be started from the small rivers
("In the small thing hide the big thing') (pembangunan, konservasi dan restorasi sungai;
pembangunan dan restorasi sungai harus dimulai dari sungai yang paling kecil, di dalam yang
kecil itu tersimpan rahasia hal yang besar).

E.4.4.1Kekeringan di Daerah dan di Perkotaan

Kekeringan sebenarnya tidak hanya melanda daerah-daerah lahan pertanian, namun di


perkotaanpun sebenarnya dilanda kekeringan. Keringan perkotaan umunya ditandai dengan
rendahnya debit sungai-sungai kecil yang melintasi kota yang bersangkutan atau bahkan tidak
ada aliran air sama sekali. Sungai kecil dan menengah di perkotaan biasanya menjadi
keranjang sampah dan saluran comberan kota yang "mambek", baunya menyengat tanpa ada
penggelontoran.

Lebih dari 50 tahun pembangunan fisik Indonesia, khususnya pada pembangunan wilayah
keairan, melupakan pengelolaan dan pelestarian sungai kecil. Ribuan bahkan jutaan sungai
kecil yang sebenarnya dapat berfungsi untuk menanggulangi kekeringan, mengendalikan
banjir, mengkonservasi air dan ekologi dari suatu kawasan, telah hancur total. Sungai kecil di
hampir diseluruh daerah perkotaan dan pinggiran telah dirubah menjadi saluran pembuangan
limbah cair dan padat serta dirubah bentuknya dari sungai alamiah dengan komponen
ekologis dan hidrologisnya menjadi kanal comberan yang busuk baunya dengan kualitas yang
sangat rendah.

E.4.4.2Kesalahan Pemahaman Tentang Sungai Kecil

Kesalahan fatal ini terjadi jelas karena keawaman masyarakat terhadap filosofi dan kegunaan
sungai kecil. Pemahaman bahwa sebenarnya sungai kecil merupakan bagian terpenting dari
sistem sungai dan padanya tersimpan rahasia kejadian kekeringan, banjir dan kerusakan
wilayah keairan secara menyeluruh dari suatu kawasan, sama sekali belum berkembang.
Maka perlu dibuka fenomena barn tentang pentingnya sungai kecil, berikut usaha yang
diperlukan untuk melestarikan dan merepitalisasikan fungsinya, sebelum kekeringan, banjir
dan kehancuran lingkungan yang lebih fatal terjadi.

Sungai dapat dibedakan secara sederhana menjadi kelompok sungai kecil, sungai sedang dan
sungai besar. Contoh sungai besar di Jawa misalnya; Bengawan Solo, Ciliwung, Citandui,
Brantas, dll, di Sumatra misalnya; Musi, Siak, Indragiri dll., di Kalimantan misalnya;
Mahakam, Kapuas, dll. Sungai sedang adalah anak sungai langsung dari sungai-sungai besar
tersebut. Sedangkan sungai kecil adalah seluruh sungai setelah sungai sedang. Untuk lebih
mudahnya, sungai kecil dapat didefinisikan sebagai sungai yang umumnya melintas di sekitar
kits yang lebarnya hanya sekitar 0,5 m sampai 20 m saja baca Buku Eko-Hidraulika
Pembangunan Sungai, Maryono,A. 2002).

E.4.4.3Akibat Keterlantaran dan Pembangunan Sungai Kecil

Aktivitas manusia (antropogenik activities) dalam menangani sungai kecil (juga pada sungai
sedang dan besar) merupakan faktor yang sangat penting pada perubahan ekologi maupun
hidraulik sungai yang bersangkutan. Pembangunan pada sungai kecil, misalnya; pembuatan
talud pasangan batu dan beton, pengurugan tebing sungai, penyempitan tampang sungai,
menggunakan daerah bantaran sungai kecil untuk fasilitas umum dll. Tanpa disadari bahwa
kegiatan tersebut sangat kontra produktif dan bahkan berpengaruh dapat menyebabkan
terjadinya kekeringan, banjir dan kerusakan ekologi lingkungan.

Dengan pembetonan tebing sungai misalnya, berarti menutup seluruh suplai air tanah dari
tebing sungai yang bersangkutan. Perlu disadari bahwa di sepanjang tebing sungai
terdapatjutaan mata air baik yang berskala mikro (kecil) maupun makro (besar). Mata air ini
lah sebagai pensuplai air utama di sungai kecil. Dengan matinya jutaan mata air ini, maka
debit sungai di musim kemarau akan mengecil secara drastis. Kekeringan akan terjadi karena
pasokan air dari dan ke sungai tidak ado lagi. Lahan di sekitar sungai menjadi kering karena
tidak dapat lagi terjangkau air sungai kecil ini. Demikian juga, debit yang kecil ini jelas tidak
mampu lagi menjadi faktor pengencer air kotor sungai tersebut. Sehingga sungai-sungai kecil
di daerah perkotaan dan pinggiran pada musim kemarau dipenuhi oleh air limbah perkotaan
yang hampir tidak mengalir dan bahkan mengendap di badan sungai yang bersangkutan. Pada
musim penghujan, karena tampang alirannya yang mengecil dan banyak endapan sampahnya,
maka sungai kecil perkotaan ini tidak mampu lagi meresapkan dan mengalirkan air yang ado
di ingkungannya. Akibatnya adalah terjadinya banjir dan genangan sampah di lingkungan
tersebut.

Akibat lain dari pembuatan talud dinding sungai kecil ini adalah matinya ekosistem sungai
secara total. Berbagai jenis plankton, mikroorganisme air, biota air, amphibi dan seluruh
vegetasi tebing sungai mengalami kepunahan masal. Seluruh amphibi sungai misalnya punch
karena mereka tidak bisa naik dan turun ke sungai lagi, sebagian besar ikon, kepiting, udang
dan kerang punch karena habitatnya berubah total. Dalam ilmu ekologi, kepunahan satu mata
rantai utama suatu ekosistem pasti berakibat kematian seluruh pendukung ekosistem lainnya.
Dengan hancurnya ekologi sungai kecil ini, maka sungai tidak mampu lagi untuk
menguraikan limbah yang ada. Sisasisa bahan organik sama sekali tidak dapat diuraikan dan
akan tetap membusuk dan tertahan di sungai tersebut. Inilah penyebab utama kenapa sungai
kecil di kota dan terutama yang telah dibeton atau ditalud justru mengalami kehancuran total
menjadi saluran comberan hitam dan berbau.

Akibat yang sama, yaitu kekeringan di musim kemarau, banjir di musim hujan dan rusaknya
lingkungan, juga akan terjadi jika aktivitas pengurugan sungai kecil, penyimpitan tampang
sungai kecil, penjarahan bantaran sungai kecil dan aktivtas lain yang tidak didasari dengan
konsep kelestarian ekologishidraulis dilakukan terus-menerus.

E.4.4.4Solusi Revitalisasi Sungai Kecil

Dengan kondisi sungai kecil di kota dan daerah pinggiran diseluruh Indonesia yang sudah
hancur ini, tidak ada upaya lain yang lebih penting untuk dilakukan kecuali memperbaiki
kembali kondisi ekologi dan hidrologi sungai kecil tersebut. Perlu dikembangkan talud ramah
lingkungan yang mampu menahan erosi dan longsoran tebing namun sekaligus tidak merusak
ekosistem pinggir sungai. Mengadakan pelarangan terhadap pengurugan, penyempitan dan
penutupan total alur sungai kecil. Sesegera mungkin menetapkan daerah bantaran sungai
kecil yang tidak boleh dieksploatasi. Memperbaiki kondisi ekologi-hidraulik sungai kecil
berarti juga memperbaiki kondisi DAS secara keseluruhan. Perhatian pemerintah yang
selama ini hanya ditujukkan ke sungai-sungai besar saja perlu dikoreksi secara substansial.
Harus disediakan dana cukup untuk mengelola sungai kecil perkotaan dan pinggiran,
mengembalikannya lagi ke fungsi vitalnya sebagai komponen tata air utama dari suatu
kawasan. Memberdayakan masyarakat dan meningkatkan perannya dalam pengelolaan
sungai kecil dengan berwawasan lingkungan.

E.4.5Implementasi Penentuan Batas Wilayah Sungai


Gambar E. 39 Wilayah Sungai (Daerah memanjang jari-jari sungai dari hilir hingga
hulu selebar lebar sempadan sungai)

Wilayah sungai pada dasarnya adalah wilayah yang berbatasan langsung dengan sungai
beserta komponen-komponen yang terkait langsung dengan sungai. Secara lateral
(memanjang) wilayah sungai adalah seluruh wilayah yang dilewati alur sungai selabar daerah
sempadan sungai. Secara melintang wilayah sungai adalah daerah sempadan sungai yang
terdiri dari seluruh daerah yang pada waktu banjir maksimal di tergenang air (bantaran
banjir), ditambah daerah tebing sungai dan longsoran serta daerah ekologi penyangga
ekosistem sungai. Wilayah sungai dapat digambarkan seperti pada Gambar E.39 di atas.

Dalam penentuan wilayah sungai, yang paling penting adalah bagaimana menentukan lebar
bantaran sungai. Penentuan lebar bantaran ini sangat penting kaitannya dengan penetapan
batas dimana bangunan fisik tidak boleh dibangun di dalam batas tersebut.

Hal ini mengakibatkan tidak tegasnya aparat dan pemerintah daerah tidak bisa secara tegas
menentukan lebar bantaran sungai. Kerancuan ini berakibat kebingungan para penduduk
sejauh mans mereka masih bisa mendirikan bangunannya di tepi sungai. Sehingga sekarang
ini banyak masyarakat yang membangun rumahnya di pinggir sungai dengan alasan tidak ado
ketentuan yang jelas lebar bantaran sungai yang harus dibebaskan dari bangunan permanen
atau semi permanen. Di bawah ini ilustrasi pembangunan perumahan di tepi sungai dewasa
ini marak dkerjakan di Indonesia.

Gambar E. 40 Kecenderungan Pembangunan Perumahan di bantaran Sungai


Gambar E. 41 Tipe umum sungai dan penentuan lebar daerah bantaran sungai

Gambar E.41 menunjukkan 3 buah tipe sungai, yaitu tipe A adalah sungai dengan bantaran
banjir (flood plain) sempit terutama ditemukan pada sungai di daerah tengah (midstream)
sampai memasuki daerah hilir (downstream), Tipe B adalah sungai dengan bantaran banjir
lebar terutama ditemukan di daerah tengah bagian akhir sampai hilir; sedang Tipe C
merupakan sungai tanpa bantaran banjir atau tebing sungai cukup terjal pada umumnya
ditemukan di daerah hulu (upstream) sampai masuk ke daerah tengah.

Pada dasarnya penentuan lebar bantaran sungai harus didasarkan pada peta kontur geografis
morphologis (geo-morpho) sungai, tinggi muka air banjir maksimum dan garis sliding
(longsoran). Sehingga lebar bantaran untuk sepanjang sungai sebenarnya tidak bisa diambil
secara seragam. Demikian juga lebar bantaran sungai satu dengan yang lain. Lebar bantaran
secara ekologis, geomorphologis dan hidraulis ditentukan sebagai berikut:

a. Untuk sungai tipe A dan B (dengan bantaran banjir, pada umumnya sungai di bagian hilir
dan tengah); lebar bantarannya adalah selebar muka air pada waktu banjir maksimal yang
melimpah ke kedua sisi sungai. Jika secara geomorphologis masih ada tebing setelah batas
muka air banjir maksimal ini, maka lebar bantaran harus ditambahkan lebar kemungkinan
sliding (longsoran tebing).

b. Untuk sungai tipe C (tanpa bantaran banjir, pada umumnya sungai di bagian
hulu/pegunungan). Lebar bantaran adalah diukur dari batas akhir tebing bagian atas ditambah
dengan lebar kemungkinan sliding (longsoran).
Lebar bantaran tersebut merupakan lebar minimal secara teknis. Untuk menentukan lebar
sempadan sungai perlu dipertimbangkan/ditambahkan lebar ekologi penyangga dan lebar
keamanan sungai. Lebar ekologi penyangga adalah lebar daerah sempadan sungai di luar
daerah bantaran banjir dan bantaran longsor yang secara ekologi masih punya keterkaitan
dengan ekologi sungai yang bersangkutan. Untuk menentukan lebar ekologi penyangga perlu
dilakukan penelitian flora dan fauna pinggir sungai. Lebar ekologi tidak dapat dibuat seragam
untuk setiap sungai atau untuk satu sungai dari hulu sampai hilir, perlu diadakan pembagian
zone hulu tengah dan hilir.

Secara teknis lebar keamanan sungai ini diambil sesuai dengan tingkat resiko banjir. Di
daerah dengan padat penduduk lebar keamanan lebih besardari pada di daerah jarang
penduduknya. Namun secara sosial justru berkebalikan. Karena desakan pemukiman di
daerah padat justru para umumnya sulit diterapkan lebar keamanan sungai yang lebih besar
dari pada di daerah tanpa penghuni. Untuk menentukan lebar keamanan perlu kebijakan yang
memasukkan pertimbangan soisal, ekonomi dan geografi setempat.

Berdasarkan uraian tersebut di atas maka dapat dirangkum bahwa lebar sempadan sungai
terdiri dari lebar bantaran banjir (flood plain), lebar bantaran longsor (sliding zone), lebar
bantaran ekologi penyangga (ecological buffer zone) dan lebar kemanan (safety zone).
Berikut ini disajikan lebar sempadan sungai yang dikembangkan dari konsep eko-hidraulik.
Gambar E. 42 Lebar sempadan sungai dengan pendekatan konsep ekohidraulik

E.4.6Implementasi Konsep ORPIM (One River One Plan One Integrated


Management)

E.4.6.1Konsep Integralistik Dalam ORPIM

Gambar E. 43 Kesatuan sungai dalam menejemen (ORPIM) termasuk kesatuan dalam


pengelolaan DAS.

Resep penanganan sungai tidak bisa dilakukan secara partial, sepotong-sepotong.


Penyelesaian harus secara integral, jika tidak maka hanya gali lubang tutup lobang, artinya
penanganan sungai malahan dapat menimbulkan masalah sungai baru. Dalam penanganan
banjir misalnya, balk penanganan banjir jangka pendek, menengah dan panjang diperlukan
implementasi konsep One river one plan and one integrated management, ORPIM (satu
sungai satu perencanaan dan satu menejemen dari hulu sampai hilir). Artinya bahwa dalam
menangani segala masalah yang berkaitan dengan sungai atau wilayah keairan baik masalah
banjir, masalah pencemaran lingkungan dan kualitas air, masalah pemanfaatan sumber daya
air untuk irigasi, listrik, air minum dan pengembangan sungai untuk wisata, harus
direncanakan dan ditangani secara integral dari daerah di hulu sampai di hilirsungai secara
bersama-sama.

Cara integral juga dimaksudkan dengan mengikut sertakan seluruh komponen yang terkait
dengan sungai atau wilayah keairan tersebut dari hulu sampai ke hilir dengan mengelola
segala aspek yang berpengaruh, baik aspek sosial budaya, kelembagaan, ekologi, hidrologi,
hidraulika, kualitas air, geologi, geografi, maupun rencana tats ruang dll. Dalam konsep ini
berlaku sistem sharing dana dan tanggung jawab antara hulu tengah dan hilir.

E.4.6.2Penanganan Wilayah Sungai

Untuk penanganan wilayah sungai jangka panjang, di samping solusi teknis dan ekologis juga
perlu solusi sosial budaya. Konsep solusi teknis adalah dengan mengembangkan sistem
peringatan dini dengan mengkonversikan data hujan ke debit banjir di sungai di bagian
tengah dan hilir. Konsep solusi ekologis dengan meningkatkan fungsi retensi ekologis (Eko-
hidraulis) disepanjang alur sungai dari hulu hingga hilir untuk redaman banjir. Menahan air di
bagian hulu dan hilir. Membagi air kelebihan (banjir) di sepanjang alur sungai dari hulu
sampai hilir menjadi banjir kecil-kecil (flood distributions concept) dari pada terkumpul
banjir besar di suatu tempat tertentu. Secara berkala membebaskan daerah bantaran sungai
dari hunian atau konstruksi lain (re-naturalisation). Menerapkan konsep drainasi baru (free
flood drainage concept) untuk bagian tengah dan hulu yaitu upaya membuang air kelebihan
selambat-lambatnya ke sungai dengan syarat tidak menimbulkan masalah kesehatan
lingkungan. Membuat sistem monitoring dan perencanaan integral dari hulu sampai hilir
terhadap segala kegiatan yang dapat menyebabkan banjir (holistic concept). Sehingga setiap
kegiatan yang akan dilakukan misal pendirian lapangan Golf, pusat industri dll. Harus
dianalisis

banjir yang akan ditimbulkannya. Dari aspek sosial perlu diadakan kampanye pembelajaran
sosial penanggulangan banjir masal dengan sasaran masyarakat lugs dengan melibatkan ahli-
ahli sosial dan antropologi sehingga tercipta kesadaran masal masyarakat.

E.4.7Konsep Eko-Hidraulik dalam Penanggulangan Banjir

Penanganan banjir, nampaknya tidak bisa diselesaikan dengan mertode-metode konvensional


lagi. Metode konvensional penyelesaian banjir yang sering dipakai di Indonesia adalah
dengan membuat sudetan sungai, normalisasi sungai, pembuatan tanggul, pembuatan talud
dan segala macam konstruksi sipil keras konvensional lainnya. Kiranya para ahli banjir dan
dings terkait harus berfikir keras untuk lebih konverhensif dalam penyelesaian banjir ini dan
tidak terfokus dengan metode konvensional di atas, sehingga secara berkelanjutan
banjirdapatdikurangi atau dihindarkan.

E.4.7.1Konsep Eko-Hidraulik (Eco-hydraulics) dan Konsep Hidraulik Murni


(Convensiona/ Hidraulic)

Metode penyelesaian banjir yang ingin diketengahkan disini adalah metode ecological
hydraulics (Eko-hidraulik). Konsep Eko-hidraulik dalam penyelesaian banjir sangat berbeda
dengan konsep konvensional atau cara hidraulik murni yang disebutkan di atas. Konsep Eko-
hidraulik dalam penyelesaian banjir bertitik tolak pada penanganan penyebab banjir secara
integral, sedang konsep konvensional hidraulik murni bertitik tolak pada penanganan secara
lokal akibat dari banjir.

Gambar E. 44 Ilustrasi ideal penanggulangan banjir dengan konsep ekohidraulik (FAO


& Prinz, 1999)

Konsep Eko-Hidraulik memasukkan dan mengembangkan unsur ekologi atau lingkungan


dalam penyelesaian banjir, sementara konsep hidraulik murni justru merusak dan
menghancurkan lingkungan dalam menyelesaikan banjir. Konsep hidraulik murni melihat
banjir sebagai bukti munculnya daya rusak air yang hebat, sementara Eko-Hidraulik melihat
fenomena banjir bukan sebagai munculnya daya rusak air, namun banjir diartikan sebagai
akibat kerusakan lingkungan sehingga daya retensi lingkungan terhadap banjir hilang. Dalam
konsep Eko-hidraulik tidak dikenal istilah daya rusak air untuk memberi julukan banjir.
Namun dikenal dengan rusaknya retensi lingkungan atau daya dukung lingkungan yang
berakibat sering munculnya debit sungai yang ekstrim atau banjir. Gambar E.44
menunjukkan konsep Eko-hidraulik komprehensif dalam menanggulangi banjiratau
mengelola DAS.

E.4.7.2Dampak Penanganan Banjir dengan Konsep Hidraulik Murni

Penyelesaian dengan konsep konvensional yaitu dengan sudetan, pelurusan, pembuatan


tanggul, perkerasan tebing (taludisasi), normalisasi, pembabatan vegetasi bantaran dll. telah
diakui oleh sebagian besar ahli hidro di dunia baik di Amerika, Jepang, Australia, dan Eropa
dan juga di Indonesia justru akan menciptakan bahaya banjiryang lebih besardan frekuensi
banjiryang lebih sering. Disamping itu cara ini menyebabkan kerusakan yang sangat serius
dan dasyat bagi ekologi sungai secara keseluruhan, sehingga fungsi hidraulik dan ekologi
sungaiya hancur. Pelurusan, sudetan dan tanggul misalnya akan menyebebakan terjadinya
tendensi banjir di hilir lebih tinggi dan menurunkan tingkat retensi di sepanjang sungai
sehingga konservasi air akan menurun drastis. Kekeringan akan lebih intensif karena
membangun pelurusan, tanggul dan sudetan berarti pengatusan air secepatnya ke hilir,
sehingga air tidak berkesempatan meresap ke tanah. Tata air disepanjang sungai yang
dilurusakan, disudet atau ditanggul akan rusak total. Bekas-bekas sungai atau sungai lama
yang terpotong (oxbow) akan menimbulkan masalah baru, misalnya sebagai sarang nyamuk
dan lambat laun menjadi dangkal. Biasanya masayarakat akan menyerang daerah oxbow ini
untuk dijadikan daerah hunian atau pertanian, karena derah ini biasanya merupakan daerah
tak bertuan. Banjir dapat mengancam lagi di daerah oxbow ini, karena di daerah oxbow
praktis tidak ada air yang mengalir keluar. Sementara sudetan di daerah hilir (wilayah pantai)
telah menyebabkan terjadinya instabilitas garis pantai. Daerah muara sungai lama akan terjadi
abrasi besar-besaran dan daerah muara sudetan baru akan terbentuk reklamasi yang cepat
(contoh konkret adalah masalah abrasi di pantai utara Jawa missal di daerah Cirebon).
Dampak negatif metode konvensional hidraulik murni ini kiranya sudah sangat jelas dan
mudah dicerna oleh masyarakat awam sekalipun (baca buku Eko-Hidraulik Pengembangaan
Sungai, Maryono, 2002 dan Buku Konsep Penanggulangan Banjir dan Kekeringan Untuk
Masyarakat Luas, Maryono 2003).

E.4.7.3Pendekatan Program Penyelesaian Banjir dengan Konsep EkoHidraulik

Di Jerman dan beberapa negara Eropa lainnya serta Jepang, sudah meninggalkan konsep
kuno hidraulik murni ini, dan memulai era baru yaitu ecological hydraulic. Konsep
ecological hydraulic (Eko-Hidraulik) yang dimulai tahun 80-an, dewasa ini di Eropa,
Amerika dan Jepang dan sudah sampai tahap implementasi yaitu dengan banyaknya proyek-
proyek renaturalisasi atau restorasi sungai. Program renaturalisasi diantaranya adalah dengan
membelokbelokkan lagi sungai yang dulunya telah diluruskan; mengganti usulan pelurusan,
sudetan, tanggul dan pembuatan talud sungai dengan proyek reboisasi dan renaturalisasi
sempadan sungai; menghidupkan oxbow sungai lama dengan membuka tanggul pelurusan
yang membatasinya, memelihara kealamiahan sungai-sungai menengah dan kecil dan
mengkonservasi sungaisungai besar yang masih alami, mengganti talutisasi sungai dengan
membebaskan areal sempadan sungai untuk konservasi; dan masih banyak lagi metode
lainnya. Sementara itu, sangat ironis sekali kita di Indonesia justru sedang ramai-ramainya
menyudet, meluruskan, menanggul dan membeton dinding sungai secara besar-besaran
(contoh konkrit Bengawan Solo, Citandui, Cimeneng, Citarum, Brantas, Code dan masih
banyak lagi.).
E.4.7.4Program Penanggulangan Banjir Dengan Konsep EkoHidraulik

Dalam penanggulangan banjir dengan konsep eko-hidraulik dikenal kunci pokok


penyelesaian banjir, yaitu bahwa Daerah Aliran Sungai (DAS) dan Wilayah Sungai (WS),
Sempadan Sungai (SS) dan Badan Sungai (BS) harus dipandang sebagai kesatuan sistem dan
ekosistem ekologi-hidraulik yang integral. Penyelesaian banjir harus dilakukan secara
konverhensif dengan metode menahan atau meretensi air di DAS bagian hulu, tengah dan
hilir; serta menahan air di sepanjang wilayah sungai, sempadan sungai dan badan sungai di
bagian hulu tengah dan hilir. Jadi dalam konsep dasar penaggulangan banjir eko-hidraulik
adalah dengan meretensi air dari hulu hingga hilir secara merata. Cara ini sekaligus
merupakan cara menanggulangi kekeringan suatu kawasan atau DAS, karena sebenarnya
banjir dan kekeringan ini merupakan kejadian yang saling-susul dan saling memperparah.
Dalam menahan air ini diberlakukan konsep keseimbangan alamiah, dalam arti mengacu pada
kondisi kharakteristik alamiah sebelumnya.

Penanganan banjir dengan konsep ekologi-hidraulik secara konkrit dimulai dari:

1.
DAS bagian hulu dengan reboisasi atau konservasi hutan untuk meningkatkan retensi
dan tangkapan di hulu. Selanjutnya reboisasi juga mengarah ke DAS bagian tengah
dan hilir. Secara selektif membangun atau mengaktifkan situ atau embung-embung
alamiah di DAS yang bersangkutan.
2.
Penataan tataguna lahan yang meminimalisir limpasan langsung dan mempertinggi
retensi dan konservasi air di DAS.
3.
Di sepanjang wilayah sungai serta sempadan sungai, tidak perlu diadakan pelurusan
dan sudetan atau pembuatan tanggul, karena caracara ini bertentangan dengan kunci
utama retensi banjir.
4.
Sungai yang bermeander justru di dipertahankan sehingga dapat menyumbangkan
retensi, mengurangi erosi dan meningkatkan konservasi.
5.
Komponen retensi alamiah di wilayah sungai, di sepanjang sempadan sungai dan
badan sungai justru ditingkatkan, dengan cara menanami atau merenaturalisasi kebali
sempadan sungai yang telah rusak.
6.
Erosi tebing-tebing sungai harus ditangani dengan teknologi EcoEngineeringdengan
menggunakan vegetasi setempat.
7.
Memfungsikan daerah genangan atau polder alamiah disepanjang sempadan sungai
dari hulu sampai hilir untuk menampung air.
8.
Mencari berbagai alternatif untuk mengembangkan kolam konservasi alamiah
disepanjang sungai atau di lokasi-lokasi yang memungkinkan baik di perkotaan-
hunian atau di luar perkotaan. Genangan-genangan alamiah ini berfungsi meretensi
banjir tanpa menyebabkan banjir lokal karena banjir dibagi-bagi di DAS dan
disepanjang wilayah, sempadan dan badan sungai.
9.
Konsep drainasi konvensional yang mengalirkan air buangan secepatcepatnya ke hilir
perlu direvisi dengan mengalirkan secara alamiah (lambat) ke hilir, sehingga waktu
untuk konservasi air cukup memadahi dan tidak menimbulkan banjirdi hilir.

10. Disamping solusi eko-hidro-teknis tersebut, sangat diperlukan juga pendekatan sosio-
hidraulik sebagai bagian dari eko-hidraulik dengan meningkatkan kesadaran masyarakat
secara terus menerus akan peran mereka dalam ikut mengatasi banjir.

E.4.7.5Implementasi Konsep Ekohidraulik

Melihat kejadian baniir, kekeringan dan longsor yang bertubi-tubi akhirakhir ini, maka perlu
sesegara mungkin mengimplementasikan konsep ekohidraulik dalam penanggulangan banjir
di Indanesai ini. Pemerintah dan pemerintah daerah perlu sesegara mengadopsi metode Eko-
Hidraulik ini guna membuat masterplan penanggulangan banjir sekaligus untuk
mengkonservasi lingkungan. Penanggulangan banjir dengan cara Eko-Hidraulik secara
ekonomi sangat jauh Iebih murah dibandingkan dengan metode penggulangan banjir
konvensional. Apalagi jika dihitung dampak positif konsep Eko-hidraulik dalam
meningkatkan kualitas lingkungan dan suatainabilitas hasil pembangunannya.

E.4.8Restorasi Sungai di Indonesia

Masalah restorasi sungai (disebut juga renaturalisasi atau revitalisasi sungai) di Indonesia
sampai penghujung tahun 2002 belum banyak ditertariki. Karena ide ini masih dianggap
mengada-ada, sementara usaha pembangunan sungai dengan konsep hidraulik murni yang
distruktif sedang gencar berjalan. Ide renaturalisasi sungai dimaksudkan untuk memberi
gambaran ke depan tentang pengulangan sejarah pembangunan sungai di Eropa oleh para
insinyur sungai di Indonesia. Sehingga kesadaran kehati-hatian akan tumbuh dalam
pengelolaan sungai, sehingga restorasinya dikemudian hari tidak diperlukan lagi.

Renaturalisasi di beberapa negara seperti Jerman dan Jepang dilakukan secara selektif, dalam
anti lokas sungai yang akan direnaturalisasi atau restorasi dipilih dengan pertimbangan
hidraulis dan ekologis. Renturaisasi tidak dilkaukan secara serentak disepanjang sungai
misalnya.

Sungai Bengawan Solo dan sungai Citarum misalnya, bisa direnaturalisasi dengan membuka
kembali beberapa tangul Oxbow hasil sudetan. Ekosistem kawasan Oxbow akan hidup
kembali dan konservasi air meningkat. Demikian juga sungai-sungai kecil di berbagai kota
dan pinggiran kota yang sudah ditalud tanpa alasan kuat, dapat direnaturalisasi secara selektif
dengan membongkat talud yang ada dan menanami bantaran bekas talud tersebut dengan
vegetasi setempat yang cocok. Pulau-pulau buatan dapat diinisiasi pada sungai-sungai kecil
dan menengah di daerah pinggiran kota. Pembangunan pulau-pulau ini akan meningkatkan
deversivikasi ekologi sekaligus meningkatkan retensi hidraulis sungai dan konservasi.
Meandering sungai dapat dikembalikan dengan menginisiasi terbentuknya meander. Struktur
untuk menginisiasi dapat dipilih vegetatif atau gabungan bronjong batu dan vegetasi.
Sehingga secara dinamis sungai akan berubah berkelok-kelok lagis sesuai dengan kondisi
awalnya.
Gambar E. 45 Ilustrasi renaturalisasi sungai yang telah dibangun.

Renaturalisasi dilaksanakan secara selektif dengan pertimbangan hidraulik dan ekologis dan
sosial.Untuk sungai-sungai yang bermuara di dataran rendah seperti Jakarta dan Semarang,
dapat direnaturalisasi dengan memperlebar bantaran sungai di bagian hulu. Pelebaran sungai
ini akan berfungsi sebagai kolam retensi hulu ketika terjadi banjir, sehingga banjir ditahan di
hulu dan dilepaskan secara perlahan ke hilir.

Cara analisis Eko-hidraulis diatas kedepan menjadi salah satu analisis yang paling
komprehensif, yang akan dipakai pada setiap penyelesaian masalah keairan.