Anda di halaman 1dari 5

KERANGKA ACUAN KERJA

PENANGANAN EFEK SAMPING (SUNTK, PIL, IMPLAN, IUD)

I. PENDAHULUAN

Program pembangunan kesehatan di Indonesia dewasa ini masih


diprioritaskan pada upaya peningkatan derajat kesehatan Ibu dan anak, terutama pada
kelompok yang paling rentan kesehatan yaitu ibu hamil, bersalin dan bayi pada masa
perinatal. Hal ini ditandai dengan tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka
Kematian Bayi (AKB) di Indonesia.

Keluarga berencana (KB) merupakan salah satu pelayanan kesehatan preventif


yang paling dasar dan utama bagi wanita, meskipun tidak selalu demikian. Untuk
optimalisasi manfaat kesehatan KB, pelayanan tersebut harus disediakan bagi wanita
dengan cara menggabungkan dan memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan reproduksi
utama dan yang lain. Juga responsive terhadap berbagai tahap kehidupan produksi
wanita. Peningkatan dan perluasan pelayanan keluarga berencana merupakan salah satu
usaha untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu yang sedemikian tinggi
akibat kehamilan yang dialami oleh wanita.
Dalam rangka mendukung tercapainya Visi dan Misi tersebut di atas seluruh
Karyawan Puskesmas Kedungwungu Kecamatan Tegaldlimo mempunyai komitmen
dengan menerapkan Tata nilai “BERKAH” (BERSIH, RAMAH, KONSISTEN,
HANDAL) yakni sebagai berikut:

1. Bersih : Pelayanan yang diberikan harus bersih petugas, alat dan ruangan
2. Ramah : Dalam memberikan pelayanan petugas melakukan 5S ( SENYUM,
SALAM, SAPA, SOPAN, SANTUN)
3. Konsisten : Dalam pelayanan petugas harus konsisten terhadap waktu dan
berpedoman pada SOP
4. Handal : Pelayanan yang diberikan dapat di pertanggung jawabkanj

II. LATAR BELAKANG

Sasaran pembangunan Millenium Development Goals (MDGs) 2015 yakni


mengurangi angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) dengan salah
satu program untuk menurunkan AKI dan menekan angka pertumbuhan penduduk dalam
mewujudkan suatu program Keluarga Berencana (KB). Target MDGs 2015, yakni 110
per 100.000 kelahiran hidup, maka AKI saat ini masih perlu diturunkan lagi (yanti,
2013).
Keluarga sebagai unit terkecil kehidupan bangsa diharapkan menerima Norma
Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera (NKKBS) yang berorientasi pada catur warga.
Pemerintah meluncurkan gagasan baru, yaitu keluarga berencana mandiri artinya
masyarakat memilih metode KB dengan biaya sendiri melalui KB lingkaran biru dan
lingkaran emas dan mengarahkan pada pelayanan Metode Kontrasepsi Efektif (MKE)
yang meliputi AKDR, suntikan KB, susuk KB, dan kontap (Manuaba, 2012).
Menurut World Health organization (WHO) penggunaan alat kontrasepsi adalah
tindakan yang membantu individu atau pasangan suami istri untuk mendapat objek-objek
tertentu, menghindari kelahiran yang tidak diinginkan, mendapatkan kelahiran yang
memang diinginkan, mengatur interval diantara kehamilan, mengontrol waktu saat
kelahiran dalam hubungan dengan umur suami istri, dan untuk menentukan jumlah anak
dalam keluarga (hartanto, 2008)
Keluarga Berencana (KB) adalah sarana untuk menekan jumlah pertumbuhan
penduduk selain itu merupakan salah satu usaha untuk menurunkan Angka Kematian Ibu
(AKI) akibat kehamilan yang dialami oleh wanita. Hasil evaluasi didapatkan bahwa
jumlah peserta kb aktif belum memenuhi target. Peran serta lintas sector terkait seperti
kelurahan dan kader juga belum maksimal. Dari latar belakang tersebut diharapkan
kegiatan ini akan memberikan kontribusi perbaikan dan peningkatan peserta kb aktif di
Puskesmas kalibaru kulon pada tahun – tahun berikutnya.
Di puskesmas kedungwungu jumlah kb aktif sebanyak 3146 orang (68,38 %) dari
target 70%. Cakupan peserta KB baru sebanyak 469 orang (70%). Cakupan KB dropout
364 orang (7,9%) dari target < 10%, KB yang mengalami komplikasi 0% dari target %.
Cakupan KB yang mengalami kegagalan kontrasepsi 0% dari target < 0,19%. Efek
samping KB 114 orang (2,47%) dari target <15%.
Dilihat dari jenis metode kontrasepsi yang banyak di pakai paling populer adalah
1883 orang (59%), pil 516 orang (16,4%) dan alat kontrasepsi inplan 320 orang (10%),
cara lain yang kurang peminatnya adalah iud 211 orang (6,7%) mow 108 orang (3,43%),
kondom 86 orang (2,73 %) tetapi peminat kontrasepsi pria masih sangat rendah 22orang
(0,69 %).
III. TUJUAN

 Tujuan Umum :
Sebagai pedoman petugas untuk melakukan penanganan efek samping yang benar
 Tujuan Khusus :
Memberikan pelayanan penanganan efek samping KB (suntik, pil, implan, IUD)

IV. KEGIATAN POKOK DAN RINCIAN KEGIATAN

Memberikan pelayanan penanganan efek samping KB (suntik, pil, implan, IUD)


V. CARA MELAKSANANKAN KEGIATAN

1. Memanggil pasien

2. Memasukkan ke dalam register

3. Melakukan anamesa

4. Petugas melakukan pemeriksaan terhadap klien

Bila terdapat efek samping pada KB hormonal, lakukan tindakan/pengobatan sesuai


dengan kasus yang ditemui

a. Pada hormonal :

 Bila terjadi Spotting atau pendarahan di luar haid: lakukan pemeriksaan


gynecologi untuk melihat apakah ada keganasan atau kelainan pada cervix
dan beri penjelasan keadaan tersebut hanya bersifat sementara. Bila agak
lama beri pil KB 1 – 2 tablet/ hari.
 Samai 1 minggu, ibuprofen 3 x 800 mg selama 5 hari bila tetap berlanjut
ganti dengan cara lain non hormonal
 Kenaikan Berat Badan: bila kenaikan berat badan berlebihan maka
pemakaian alat kontrasepsi hormonal dihentikan untuk sementara atau
diganti dengn cara lain (non hormonal).
 Amenorhoe : pastikan klien tidak hamil dengan pemeriksaan PP test dan bila
perlu dilakukan pemeriksaan gynecol koogi samil diberikan konseling bahwa
hal itu tidak perlu terapi.
 Hyperpigmentasi : hentikan penggunaan hormonal ganti dengan non
hormonal.
 Hipertensi : apabila lebih dari 160/105 mmHG, penggunaan hormonal
dihentikan dan ganti non hormonal, aseptor rujuk ke poli umum.

b. Pada Non Hormonal :

 Keputihan : Bila banyak beri obat vaginal dan jagalah kebersihan vagina.
Bila sampai menimbulkan bau, atau berubah warna, konsul ke dokter ahli.
 Aminorhoe : periksa kencing. Dan apabila lebih dari 2 bulan, konsul ke
dokter ahli
 Eros/infeksi : terjadi karena kekurangan perhatian terhadap asepsis dan
antisepsis. Bila ditemukan radang dapat diberikan antibiotik atas instruksi
dokter atau rujuk internal

V. SASARAN

PUS yang pasca KB, IUD, implan, suntik, pil yang mengalami efek samping
VI. JADWAL PELAKSANAAN KEGIATAN PROGRAM KB

JADWAL
NO KEGIATAN SASARAN TARGET
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Pelaksanaan Kader, Pasangan X
penyuluhana Tokoh usia subur
Efek Masyarakat
Samping Lintas
KB Sektor,
Mayarakat
(ibu hamil,
suami atau
keluarga
ibu hamil)

VII. EVALUASI PELAKSANAAN KEGIATAN DNA PELAPORAN

Evaluasi dilakukan oleh penaggung jawab program terhadap ketepatan


pelaksanaan kegiatan apakah sesuai jadwal pada saat persiapan dan pelaksanaan kegiatan.
Evaluasi dilakukan setiap akhir kegiatan oleh penanggung jawab program dan ditunjukkan
kepada kepala puskesmas dengan tembusan Dinas Kesehatan.

Evaluasi kegiatan ini akan dilakukan dalam bentuk postest dilakukan oleh
penanggung jawab program dan ditunjukan kepada kepala puskesmas dengan tembusan
Dinas Kesehatan

VIII. PENCATATAN, PELAPORAN DAN EVALUASI KEGIATAN

Penanggung jawab program harus membuat laporan tiap kegiatan paling lambat 1
bulan setelah pelaksanaan kegiatan kepada kepala puskesmas dan evaluasi akhir kegiatan
paling lambat1 bulan setelah keseluruhan kegiatan selesai dilakukan.
IX. PENUTUP

Demikian kerangka acuan ini dibuat sebagai bahan pedoman dalam


melaksanakan penanganan efek samping KB (IUD, implan, suntik, pil).

Kedungwungu, April 2018

Mengetahui Koordinator Kegiatan


Kepala UPTD Puskesmas Kedungwungu UPTD Puskesmas Kedungwungu

MOHAMMAD SALEH, S. Kep.Ners Hj. Nur Hasanah


NIP.19690111 199203 1 005 NIP. 96209061985032012