Anda di halaman 1dari 81

BAB I

GAMBARAN UMUM

A. ISTILAH DISKRESI

Diskresi didefinisikan discretion (Inggris),


discretionair (Perancis), Freies Ermessen (Jerman)
sebagai kebebasan bertindak atau mengambil
keputusan dari para pejabat administrasi negara
yang berwenang dan berwajib menurut pendapat
sendiri. Menurut Kamus Hukum, Diskresi berarti
kebebasan mengambil keputusan dalam setiap
situasi yang dihadapi menurut pendapatnya
sendiri.1 Sedangkan menurut KBBI diskresi ialah
kebebasan mengambil keputusan sendiri dalam
setiap situasi yang dihadapi.2

1
Mustamu, Julia. 2011. DISKRESI DAN TANGGUNG JAWAB
ADMINISTRASI PEMERINTAHAN. Maluku. Vol. 17 No. 2, April-Juni. Diambil dari
https://ejournal.unpatti.ac.id/ppr_iteminfo_lnk.php?id=94 (13 Maret 2018,
pukul 22.30)
2
KBBI, Diambil dari http://kbbi.web.id/diskresi pada hari Kamis, 15 Maret 2018
pukul 20.19 WITA.

1
Adapun pengertian diskresi menurut
pendapat para ahli, yaitu:

1. Prof. Benyamin

Diskresi didefinisikan sebagai kebebasan


pejabat mengambil keputusan menurut
pertimbangannya sendiri. Dengan demikian,
menurutnya setiap pejabat memiliki kewenangan
diskresi.3

2. Gayus T. Lumbun
Diskresi adalah kebijakan dari pejabat negara
dari pusat sampai daerah yang intinya
membolehkan pejabat publik melakukan sebuah
kebijakan yang melanggar dengan undang-undang,
dengan tiga syarat. Yakni, demi kepentingan umum,
masih dalam batas wilayah kewenangannya, dan
tidak melanggar asas-asas umum pemerintahan
yang baik (AUPB).4

3
Mustamu, Julia. Ibid.
4
Mustamu, Julia. Ibid.

2
Dari pernyataan di atas bisa dikatakan bahwa
diskresi ialah kebebasan pejabat negara publik
melakukan sebuah kebijakan yang melanggar
dengan undang-undang sesuai dengan syarat-
syarat tertentu karena itu adalah hak dari pejabat
tersebut. Sebagai contoh, Kapolri sebut konvoi
moge boleh terabas rambu lalu lintas selama
dikawal oleh polisi.
Adapun menurut Sjachan Basah, diskresi
dipenuhi oleh suatu unsur-unsur, yaitu:
a. Karena adanya tugas-tugas Public Service
yang diemban oleh administratur Negara;
b. Dalam menajalankan tugas tersebut, para
administrator Negara diberikan keleluasaan
dalam menentukan kebijakan-kebijakan;
c. Kebijakan-kebijakan tersebut dapat
dipertanggungjawabkan baik secara moral
maupun hukum.

3
Tujuan diskresi pejabat pemerintahan
menurut pasal 22 ayat 2 Undang-undang Nomor 30
tahun 2014 :

a. Melancarkan penyelenggaraan pemerintahan;


b. Mengisi kekosongan hukum;
c. Memberikan kepastian hukum; dan
d. Mengatasi stagnasi pemerintahan dalam
keadaan tertentu guna kemanfaatan dan
kepentingan umum.

Diskresi Pejabat Pemerintahan menurut pasal


24 Undang-undang nomor 30 tahun 2014 meliputi :

a. Pengambilan Keputusan dan/atau Tindakan


berdasarkan ketentuan peraturan perundang-
undangan yang memberikan suatu pilihan
Keputusan dan/atau Tindakan;
b. Pengambilan Keputusan dan/atau Tindakan
karena peraturan perundang-undangan tidak
mengatur;

4
c. Pengambilan Keputusan dan/atau Tindakan
karena peraturan perundang-undangan tidak
lengkap atau tidak jelas;
d. Pengambilan Keputusan dan/atau Tindakan
karena adanya stagnasi pemerintahan guna
kepentingan yang lebih luas.

Menurut pasal 24 Undang-undang nomor 30


tahun 2014 pejabat pemerintahan yang
menggunakan diskresi harus memenuhi syarat
sebagai berikut :

a. Sesuai dengan tujuan diskresi sebagaimana


dimaksud dalam pasal 22 ayat (2);
b. Tidak bertentangan dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan;
c. Sesuai dengan AUPB;
d. Berdasarkan alasan-alasan yang objektif;
e. Tidak menimbulkan konflik kepentingan;
f. Dilakukan dengan itikad baik.

5
Adapun batas batasan dalam diskresi, yaitu adalah
sesuatu yang tak bisa dipungkiri bahwa pemberian
diskresi kepada pemerintah merupakan sebuah
kemestian, seiring dengan munculnya konsepsi
Negara kesejahteraan (welfare state) menjelang
perang dunia kedua, dan sejalan dengan kelemahan
atau keterbatasan peraturan perundang-undangan
sebagaimana disebutkan diatas, serta sesuai
dengan dinamisnya kegiatan pemerintah dalam
melaksanakan tugas pelayanan publik ditengah
masyarakat yang berkembang pesat.

Konsepsi Negara ini menempatkan


pemerintah selaku pihak yang berkewajiban
mewujudkan kesejahteraan sosial, yang dalam
rangka itu pemerintah banyak terlibat dengan
kehidupan ekonomi dan sosial warga Negara.
Meskipun pemberian diskresi kepada pemerintah itu
merupakan kemestian dalam suatu Negara hukum,
namun penggunaan diskresi itu bukan tanpa batas.
Rambu-rambu dalam penggunaan diskresi dan

6
pembuatan kebijakan pemerintah berdasarkan
Hukum Administrasi Negara adalah Asas-Asas
Umum Pemerintahan Yang Baik (AAUPB),
khususnya asas larangan penyalahgunaan
wewenang (detournement de pouvoir) dan asas
larangan sewenang-wenang (willekeur). Dengan
kata lain, kebijakan pemerintah akan dikategorikan
sebagai kebijakan yang menyimpang jika
didalamnya ada unsur sewenang-wenang.

Selain itu kebijakan dianggap menyimpang


jika bertentangan dengan kepentingan umum. Ada
tidaknya unsur penyalahgunaan wewenang diuji
dengan asas spesialitas (specialiteitsbeginsel) yakni
asas yang menentukan bahwa wewenang itu
diberikan kepada organ pemerintahan dengan
tujuan tertentu (L.J.A.Damen, 2005:57). Jika
menyimpang dari tujuan diberikannya wewenang
ini dianggap sebagai penyalahgunaan wewenang.
Unsur sewenang-wenang diuji dengan asas
rasionalitas atau kepantasan (redelijk). Suatu

7
kebijakan dikategorikan mengandung unsur
willekeur jika kebijakan itu nyata-nyata tidak masuk
akal atau tidak beralasan (kennelijk onredelijk).

Rancangan Undang-Undang Administrasi


Pemerintahan Draft bulan Juli 2008 dalam pasal 6
ayat (1) memberi batasan terhadap diskresi dengan
menyebutkan bahwa Pejabat pemerintahan dan
atau badan hukum lainnya yang menggunakan
diskresi dalam mengambil keputusan wajib
mempertimbangkan tujuan diskresi itu sendiri,
peraturan perundangundangan yang menjadi dasar
diskresi dan asas-asas umum pemerintahan yang
baik. Selanjutnya ayat (2) dan ayat (3)
menyebutkan bahwa penggunaan diskresi wajib
dipertanggungjawabkan kepada pejabat atasannya
dan masyarakat yang dirugikan akibat keputusan
diskresi yang telah diambil serta dapat diuji melalui
upaya administrative atau gugatan di Peradilan Tata
Usaha Negara. Ketentuan tersebut berarti bahwa
Rancangan Undang-Undang Administrasi

8
Pemerintahan Pemerintahan bukan hanya akan
memberi batasas-batas penggunaan diskresi oleh
Badan/Pejabat administrasi Pemerintah akan tetapi
juga mengatur mengenai pertanggungjawaban
Badan/Pejabat Administrasi Pemerintahan terhadap
penggunaan diskresi yang tidak hanya bersifat pasif
dalam arti menunggu adanya gugatan dari
masyarakat melalui Pengadilan Tata Usaha Negara
akan tetapi juga bersifat aktif dengan adanya
kewajiban mempertanggungjawabkan penggunaan
diskresi kepada Pejabat atasannya mengingat hal
tersebut merupakan suatu kewajiban yang sifatnya
melekat pada kewenangan yang menjadi dasar
adanya diskresi itu sendiri.

Tetapi yang disayangkan adalah meskipun


Pasal 6 RUU Administrasi Pemerintahan telah
mengatur tentang kewajiban melaporkan tindakan
diskresi kepada atasan dalam bentuk tertulis
dengan memberikan alasan-alasan pengambilan
keputusan diskresi, namun apabila ketentuan

9
tersebut tidak dilaksanakan tidak ada sanksinya
sehingga hal tersebut dapat menyebabkan
Badan/Pejabat Administrasi Pemerintahan yang
menerbitkan keputusan diskresi berdalih bahwa
keputusan yang diambilnya bukan keputusan
diskresi ataupun berdalih ia tidak tahu bahwa
keputusan yang diambilnya adalah keputusan
diskresi.

Walaupun demikian paling tidak dengan akan


dijadikannya batas-batas penggunaan diskresi
sebagai suatu norma yang mengikat, maka hal
tersebut sudah cukup untuk menghindari
dilaksanakannya penyalahgunaan wewenang
(detournement de pouvoir) dan perbuatan
sewenang-wenang (willekeur) oleh Badan/Pejabat
Administrasi Pemerintahan, sebab tujuan utama
dari normatifisasi adalah menciptakan dan
menjadikan Hukum Administrasi Negara menunjang
kepastian hukum yang memberi jaminan dan
perlindungan hukum baik bagi warga Negara

10
maupun administrasi Negara (Rusli K Iskandar
dalam SF Marbun dkk, 2001:87).

Menurut Anna Erliyana, penggunaan freies


ermessen oleh Badan/Pejabat administrasi Negara
dimaksudkan untuk menyelesaikan tidak mendesak
untuk segera diselesaikan. Ada pula kemungkinan
muncul persoalan mendesak, tapi tidak terlalu
penting untuk diselesaikan. Suatu persoalan baru
dapat dikualifikasi sebagai persoalan penting
apabila persoalan tersebut menyangkut
kepentingan umum, sedangkan kriteria kepentingan
umum harus ditetapkan oleh suatu peraturan
perundang-undangan (AnnaErliyana, 2005:138).
Berdasarkan hal tersebut diatas dapat disimpulkan
bahwa penggunaan kewenangan diskresi oleh
Badan/Pejabat administrasi pemerintahan hanya
dapat dilakukan dalam hal tertentu dimana
peraturan perundang-undangan yang berlaku tidak
mengaturnya atau karena peraturan yang ada yang
mengatur tentang sesuatu hal tidak jelas dan hal

11
tersebut dilakukan dalam keadaan
darurat/mendesak demi kepentingan umum yang
telah ditetapkan dalam suatu peraturan perundang-
undangan.5

B. SEJARAH DISKRESI
1) Sebab Adanya Pokok Bahasan Diskresi

Sebab adanya pokok bahasan Diskresi ialah,


diskresi lahir karena diberikannya kebebasan
bertindak (freies ermessen) kepada administrasi
negara dalam melakukan tugasnya mewujudkan
welfare state atau social rechtstaat di Belanda,
timbul kekhawatiran bahwa akibat dari freies
ermessen akan menimbulkan kerugian bagi warga
masyarakat. Karena itu untuk meningkatkan
perlindungan hukum bagi warga masyarakat, tahun
1950 panitia de Monchy di Nederland membuat

5
Mustamu, Julia. 2011. DISKRESI DAN TANGGUNG JAWAB
ADMINISTRASI PEMERINTAHAN. Maluku. Vol. 17 No. 2, April-Juni. Diambil dari
https://ejournal.unpatti.ac.id/ppr_iteminfo_lnk.php?id=94 (13 Maret 2018,
pukul 22.30)

12
laporan tentang asas-asas umum pemerintahan
yang baik atau algemene beginselen van behorlijk
bestuur atau the general principles of good
administration. Jadi lahirnya istilah asas umum
pemerintahan yang baik ini dapat ditunjuk pada
pelaporan panitia de Monchy.

Pada mulanya timbul keberatan terhadap


konsep de Monchy tersebut, terutama dari
pejabat-pejabat dan pegawai-pegawai pemerintah
di Nederland, karena ada kekhawatiran bahwa
hakim atau peradilan administrasi kelak akan
mempergunakan istilah itu untuk memberikan
penilaian terhadap kebijaksanaan yang diambil
pemerintah. Namun keberatan demikian sekarang
ini telah lenyap ditelan masa karena kehilangan
relevansinya. Freies ermessen tetap dapat
dilaksanakan pemerintah dalam melakukan
fungsinya. Bahkan untuk masa sekarang ini asas-
asas umum pemerintahan yang baik itu telah
diterima dan dimuat dalam berbagai Undang-

13
Undang di Nederland serta yurisprudensinya.
Misalnya Pasal 8 Wet AROB menegaskan agar
hakim melakukan pengujian, demikian pula
Undang-Undang Peradilan administrasi organisasi
perusahaan dan Undang-Undang umum mengenai
pajak negara.

Istilah freies ermessen berasal dari bahasa


Jerman. Kata freies diturunkan dari kata frei dan
freie yang ratinya bebas, merdeka, tidak terikat,
lepas, dan orang bebas. Sedangkan kata ermessen
mengandung arti mempertimbangkan, menilai,
menduga, penilaian, pertimbangan, dan
keputusan.

Selain itu istilah freies ermessen ini sepadan


dengan kata discretionair, yang artinya menurut
kebijaksanaan, dan sebagai kata sifat, berarti
menurut wewenag atau kekuasaan yang tidak
atau tidak seluruhnya terikat pada undang-
undang.

14
Dalam kepustakaan ilmu hukum administrasi
negara telah banyak pakar yang memberikan
batasan mengenai istilah ini Prajudi Atmosudirjo
mengatakan “asas diskresi (discretie: freies
ermessen), artinya para pejabat penguasa tidak
boleh menolak mengambil keputusan dengan
alasan ‘tidak ada peraturannya’ dan oleh karena
itu diberi kebebasan untuk mengambil keputusan
menurut pendapat sendiri asalkan tidak
melanggar asa yuridiktas dan asas legalitas”

Amrah muslimin mengartikan freies


ermessen sebagai “lapangan bergerak selaku
kebijaksanaannya” atau “kebebasan kebijaksana
‘an.”

Dari beberapa pendapat yang dikutip


sebelumnya, pada hakikatnya tidak terdapat
perbedaan yang prinsip, sebab inti hakikat yang
dikandung adalah sama, yaitu adanya kebebasan
bertindak bagi administrasi negara untuk
menjalankan fungsinya secara dinamis guna

15
menyelesaikan persoalan-persoalan penting yang
mendesak, sedangkan aturan untuk itu belum ada.
Namun, harus diingat pula bahwa kebebasan
bertindak administrasi negara tersebut bukan
kebebasan dalam arti seluas-luasnya dan tanpa
batas, melainkan tetap terikat kepada batas-batas
tertentu yang diperkenankan oleh hukum
administrasi negara.6

2) BAGAIMANA DISKRESI ADA DI INDONESIA?


Diskresi adalah keputusan dan/atau tindakan
yang ditetapkan dan/atau dilakukan oleh Pejabat
Pemerintahan untuk mengatasi persoalan konkret
yang dihadapi dalam penyelenggaraan
pemerintahan dalam hal peraturan perundang-
undangan yang memberikan pilihan, tidak
mengatur, tidak lengkap atau tidak jelas, dan/atau
adanya stagnasi pemerintahan.

6
SF. Marbun et. all, dimensi-dimensi pemikiran hukum administrasu Negara.
Diambil dari https://www.scribd.com/doc/95855007/PENGGUNAAN-ASAS-
DISKRESI pada hari Kamis, 15 Maret 2018 pukul 21.30 WITA

16
Hukum selalu tertinggal satu langkah dari
peradaban manusia. Hukum -yang karena sifatnya-
tertulis dan statis, bersifat kaku, tidak dapat dengan
mudah mengikuti perkembangan dan kemajuan
masyarakat. Sementara masyarakat selalu bergerak
dinamis seiring dengan perkembangannya, dan
hukum seringkali terlambat untuk mengakomodasi
kepentingan masyarakat.
Tindakan pemerintah lebih mengutamakan
pencapaian tujuan atau sasarannya dari pada
sesuai dengan hukum yang berlaku. Selain itu,
Freies ermessen ini muncul sebagai alternatif untuk
mengisi kekurangan dan kelemahan di dalam
penerapan asas legalitas (wetmatigheid van
bestuur). Sebab, bagi negara yang bersifat Welfare
State, asas legalitas saja tidak cukup untuk dapat
berperan secara maksimal dan melayani
kepentingan masyarakat, yang berkembang pesat
sejalan dengan perkembangan ilmu dan teknologi.
Undang-undang tidak dapat menjawab semua
hal, tetapi menyerahkannya kepada organ

17
pemerintah untuk secara praktis mengambil
tindakan mengenai penyelesaian apapun yang
terbaik terhadap hal konkret yang terjadi.
Wewenang diskresi yang diberikan kepada
organ pemerintahan tersebut digunakan untuk
melaksanakan tugas-tugas dan fungsi-fungsi
pemerintahan yang tidak ditentukan secara tegas
dalam undang-undang.
Peraturan yang dibuat – baik kewenangan
maupun materi muatannya – tidak berdasar pada
peraturan perundang-undangan, delegasi, atau
mandat, melainkan berdasarkan wewenang yang
timbul dari freies ermessen yang dilekatkan pada
administrasi negara untuk mewujudkan suatu
tujuan tertentu yang dibenarkan oleh hukum.
Penggunaan diskresi yang berlebihan tentu
tidak dapat dibenarkan secara hukum, hal ini
berpeluang untuk terjadinya penyalahgunaan
wewenang yang akan menimbulkan pelanggaran
hak dan/atau kerugian bagi warga negara Oleh
karena itu, perlu untuk diberikan suatu batasan

18
yang jelas sebagai tolok ukur penggunaan diskresi,
agar dapat digunakan secara proporsional.
“Prinsip-prinsip “doelmatigheid” tidak boleh
digunakan untuk mengesampingkan prinsip
“rechtmatigheid”, kecuali benar-benar dapat
ditunjukkan bahwa hal tersebut sangat diperlukan
sebagai sesuatu yang terpaksa (compelling interest)
untuk mencapai tujuan pemerintahan yang sah
menurut prinsip negara berdasar atas hukum.
Penggunaan prinsip “freies Ermessen” atau
“discretionary power”, harus dibatasi pada hal yang
tidak melanggar asas penyelengaraan administrasi
negara yang baik (algemene beginselen van
behoorlijk bestuur) yang tetap menjamin kepastian
hukum, persamaan perlakuan, tidak bisa (karena
ada conflict of interest), dan lain-lain”.
Selanjutnya, pada dasarnya segala tindakan
pemerintahan itu mengandung
pertanggungjawaban termasuk pula didalamnya
penggunaan diskresi. Namun demikian dalam
praktek penegakan hukum di Indonesia, sepertinya

19
belum ada lembaga peradilan yang mempunyai
kompetensi absolut untuk memeriksa dan menguji
diskresi.
Meski demikian, menyerahkan pengujian
diskresi yang menyimpang dan merugikan warga
negara melalui Peradilan Umum itu sesungguhnya
tidak tepat karena 2 (dua) alasan; Pertama,
kompetensi absolut Peradilan Umum adalah di
bidang Hukum Pidana dan Hukum Perdata,
sementara diskresi itu merupakan tindakan
pemerintahan yang didasarkan pada norma-norma
Hukum Administrasi, sehingga seharusnya akan
lebih tepat jika menyerahkan bandul kewenangan
ini kepada Peradilan Tata Usaha Negara (PTUN);
Kedua, dasar pengujian (toetsingsgrond) terhadap
diskresi itu bukan onrechtmatige overheidsdaad
(OOD), tetapi asas-asas umum pemerintahan yang
baik (AAUPB) terutama asas larangan
menyalahgunakan wewenang (verbod van
detourtement de pouvoir) dan asas larangan
bertindak sewenang-wenang (verbod van

20
willekeur), disamping peraturan perundang-
undangan. Terlebih, ketidaktepatan menyerahkan
pengujian diskresi kepada Peradilan Umum adalah
karena pada dasarnya wewenang diskresi itu
merupakan wewenang pemerintah yang melekat
pada pejabat publik dalam rangka menjalankan
tugasnya, bukan dimensi privat yang mengatur
hubungan orang perseorangan seperti yang ada di
dalam hubungan keperdataan.

Kedudukan hukum diskresi dalam


penyelenggaraan pemerintahan merupakan
”kekecualian” dari asas legalitas (wet matigheid van
bestuur), yang bermakna bahwa kepada
administrasi negara itu diberikan kebebasan untuk
dan atas inisiatif sendiri melakukan perbuatan-
perbuatan guna menyelesaikan persoalan-
persoalan yang mendesak dan peraturan
penyelesaiannya belum ada yaitu belum dibuat oleh

21
badan kenegaraan yang diserahi tugas membuat
undang-undang secara formal.7

C. SITUASI SAAT INI DI MASYARAKAT

Diskresi atau Freies Ermessen sebagai suatu


kebebasan bertindak sudah barang tentu akan
rentan dengan kompleksitas masalah karena
sifatnya menyimpangi asas legalitas dalam arti sifat
”pengecualian”. Bahkan ketika implementasinya
sarah arah, maka kebijakan jenis ini tidak jaranng
justru menimbulkan kerugian yang lebih besar
kepada warga masyarakat. Pengalaman selama ini
menunjukkan bahwa banyak diantara aparat
pemerintahan yang mengeluarkan diskresi tidak
sesuai dengan aturan main yang telah ditentukan.8

Apakah karena minimnya pemahaman atau


karena faktor kesengajaan, namun yang pasti

7
Widhasinulingga, Diambil dari https://www.kompasiana.com/wishasinuli
ngga/tinjauan-diskresi-dalam-penyelenggaraan-pemerintahan_58a17bced
17e62ef059c62da pada hari Kamis, 15 Maret 2018 pukul 21.42 WITA.
8
T.M. Taufik Alamsyah, “Efektifitas Penggunaan Diskresi dalam Rangka
Mewujudkan Pemerintahan Yang Baik”, Universitas Antakusuma, Juristek, Vol.
2, No. 1, Juli 2013, Hal. 255-256.

22
bahwa ada banyak kebijakan yang bernama diksresi
justru menimbulkan beban bagi rakyat. Diskresi
tidak jarang dimanfaatkan sebagai sarana untuk
meraup keuntungan pribadi atau pihak-pihak
tertentu. Oleh karena itu, maka terhadap diskresi
perlu ditetapkan adanya batas toleransi.

Pembatasan diskresi mutlak diperlukan, karena


pengguna diskresi adalah manusia biasa, yang
dapat setiap saat berbuat keliru atau salah. Katakan
saja misalnya seorang polisi lalu lintas yang
memerintahkan pengendara sepeda, becak, motor,
mobil dan lain-lain, untuk berlalu ketika lampu
pengatur lalu lintas menunjukkan merah, dengan
memberi tanda-tanda supaya mereka tetap berlalu.
Ini dilakukan polisi tadi, karena dia punya diskresi.
Demi kepentingan umum, keamanan masyarakat,
kelancaran pelayanan publik, kesejahteraan
masyarakat dan lain-lain, polisi (sesuai amanat UU
Nomor 2 Tahun 2000 tentang Polri) berhak
menerapkan diskresi dalam tugasnya.

23
Contoh lain terlihat di ruang tunggu poliklinik
sebuah rumah sakit. Di papan terpampang rapi di
dinding ruang tunggu itu tertulis "Kami melayani
pasien berdasarkan sifat darurat sakit, bukan atas
dasar datang terlebih dahulu". Pernyataan ini
berkesan sangat berbeda dengan pelayanan publik
secara rata-rata, yang dikenal dengan sebutan first
come, first serve, mereka yang datang lebih dahulu,
mendapatkan pelayanan terlebih dahulu.

Pengguna jasa pelayanan publik di sana, boleh


mencemoohkan isi papan tadi. Mereka berhak
menuntut prinsip pelayanan prima konsumen, yang
berlaku di tempat lain. Mereka boleh memprotes
kepada pejabat publik di sana, karena
menganggapnya di luar kelaziman. Tetapi
sebaliknya, sama dengan polisi lalu lintas disebut
terdahulu, dokter atau jururawat (dalam kapasitas
sebagai pejabat publik) yang bertugas di sana,
memiliki hak untuk menyatakan kewenangan
dimaksud sebagai penerapan diskresi, yang berada

24
di balik tugas, sekaligus merefleksikan penerapan
manajemen krisis di balik tanggung jawab
profesinya.

Dalam hal ini, ketika diskresi memang benar-


benar dijalankan untuk kepentingan umum
sebagaimana dijelaskan pada kedua contoh diatas,
maka tidak ada yang menjadi persoalan. Yang
kemudian menjadi masalah adalah apabila diskresi
justru dimanfaatkan sebagai sarana untuk
kepentingan lain. Katakan saja misalnya, masalah
pengaturan lalu lintas oleh polisi. Dalam hal ini,
tidak jarang seorang polisi menyuruh pengendara
untuk tetap berlalu walau sudah lampu merah, atau
menutup sebagian ruas jalan dan mengalihkannya
ke jalan lainnya hanya karena factor kemalasan
untuk beraktivitas.

Sering terjadi bahwa akibat dari diskresi yang


dilakukan justru telah terjadi macet di wilayah
lainnnya. Dalam kondisi yang demikian, maka
diksresi yang dilakukan oleh kepolisian tadi

25
sangatlah tidak tepat, Karena sesungguhnya yang
terjadi adalah hanyalah pemindahan persoalan
semata, memindahkan kemacetan dari yang
seharusnya menjadi tanggung jawabnya,
dipindahkan ke tempat lain dengan harapan agar si
pelaku diskresi bisa terbebas dari masalah
kemacetan.

Oleh sebab itulah, maka batasan terhadap


diksresi menjadi sangat urgen dan mendesak.
Batasan toleransi dari diskresi ini dapat disimpulkan
dari pemahaman yang diberikan oleh Sjahran Basah
sebelumnya, yaitu adanya kebebasan atau
keleluasaan administrasi negara untuk bertindak
atas inisiatif sendiri; untuk menyelesaikan
persoalan-persoalan yang mendesak yang belum
ada aturannya untuk itu; tidak boleh
mengakibatkan kerugian kepada masyarakat, harus
dapat dipertanggungjawabkan secara hukum dan
juga secara moral.

26
 Sebab diskresi dijadikan bahasan dalam karya
tulis

Diskresi dijadikan bahasan dalam karya tulis


disebabkan karena ingin menitikberatkan
pembahasan mengenai “diskresi” pada Hukum
Admnistrasi Negara karena diskresi diperlukan
dalam menyelasaikan persoalan dimana peraturan
perundang-undangan belum mengaturnya atau
hanya mengatur secara umum. Disamping itu
diskresi juga diperlukan dalam hal terdapat
prosedur yang tidak dapat diselesaikan menurut
administrasi yang normal. Dengan demikian
penataan Hukum Administrasi Negara menjadi
sangat penting dan tentunya bukan sekedar melihat
dari sisi pembentukan atau penataan peraturan
perundang-undangan terkait administrasi negara,
tetapi lebih jauh dari itu adalah penataan tatanan

27
hukum yang terdiri dari struktur, substansi, dan
kultur masyarakat, birokrasi, dan penegak hukum.9

9
Arfan Faiz Muhlizi, “Reformulasi Diskresi dalam Penataan Hukum
Administrasi”, Media Pembinaan Hukum Nasional, Vol. 1 No. 1, April 2012, Hal.
94

28
BAB II

PEMBAHASAN PENGATURAN

Diskresi implementatifnya diatur dalam


peraturan perundang-undangan Indonesia. Salah
satunya dalam Undang-Undang Nomor 30 Tahun
2014 tentang Administrasi Pemerintahan, yakni
dalam:

Pasal 1 angka 9:

 “Diskresi adalah Keputusan dan/atau


Tindakan yang ditetapkan dan/atau dilakukan
oleh Pejabat Pemerintahan untuk mengatasi
persoalan konkret yang dihadapi dalam
penyelenggaraan pemerintahan dalam hal
peraturan perundang-undangan yang
memberikan pilihan, tidak mengatur, tidak
lengkap atau tidak jelas, dan/atau adanya
stagnasi Pemerintahan.”

29
Pasal 4 ayat (2) menyangkut ruang lingkup dan asas
(BAB III):
 “Pengaturan Administrasi Pemerintahan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
mencakup tentang hak dan kewajiban pejabat
pemerintah, kewenangan pemerintahan,
diskresi, penyelenggaraan administrasi
pemerintahan, prosedur administrasi
pemerintahan, keputusan pemerintahan,
upaya administratif, pembinaan dan
pengembangan administrasi pemerintahan,
dan sanksi pemerintahan.”
Pasal 6 ayat (2) huruf e menyangkut hak dan
kewajiban Pejabat Pemerintahan (BAB IV):
 (e) Menggunakan Diskresi sesuai dengan
tujuannya;

Pasal 7 ayat (2) huruf d menyangkut Kewajiban


Pejabat Pemerintah:

 (d) Mematuhi Undang-undang ini dalam


menggunakan diskresi.

30
Kemudian, di dalam BAB VI Undang-Undang
Nomor 30 Tahun 2014 tentang Administrasi
Pemerintahan yang mengatur khusus tentang
Diskresi (Pasal 22 sampai dengan Pasal 32):

Bagian kesatu (umum) dalam BAB VI (Diskresi),


Pasal 22:

 (1) Diskresi hanya dapat dilakukan oleh


Pejabat Pemerintahan yang berwenang.
 (2) Setiap penggunaan Diskresi Pejabat
Pemerintahan bertujuan untuk:
a. Melancarkan penyelenggaraan pemerintah
-an;
b. Mengisi kekosongan hukum;
c. Memberi kepastian hukum;
d. Mengatasi stagnasi pemerintahan dalam
keadaan tertentu guna kemanfaatan dan
kepentingan umum.

31
Bagian kedua (lingkup diskresi dalam BAB VI
(Diskresi), Pasal 23:

 Diskresi Pejabat Pemerintahan meliputi:


a. Pengambilan keputusan dan/atau Tindakan
berdasarkan ketentuan peraturan
perundang-undangan yang memberikan
suatu pilihan Keputusan dan/atau
Tindakan;
b. Pengambilan keputusan dan/atau Tindakan
karena peraturan Perundang-Undangan
tidak mengatur;
c. Pengambilan keputusan dan/atau Tindakan
karena peraturan perundang-undangan
tidak lengkap atau tidak jelas;
d. Pengambilan keputusan dan/atau tindakan
karena adanya stagnasi pemerintahan guna
kepentingan yang lebih luas.

32
Bagian Ketiga (Persyaratan Diskresi) dalam BAB VI
(Diskresi), Pasal 24 sampai dengan Pasal 25:

Pasal 24

 Pejabat Pemerintahan yang menggunakan


Diskresi harus memenuhi syarat:
a. Sesuai dengan tujuan Diskresi sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2);
b. Tidak bertentangan dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan;
c. Sesuai dengan AUPB;
d. Berdasarkan alasan-alasan yang objektif;
e. Tidak menimbulkan konflik kepentingan;
f. Dilakukan dengan itikad baik.

Pasal 25

 (1) penggunaan diskresi yang berpotensi


mengubah alokasi anggaran wajib
memperoleh persetujuan dari atasan pejabat
sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.

33
(2) Persetujuan sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1) dilakukan apabila penggunaan
diskresi berdasarkan ketentuan pasal 23 huruf
a, huruf b, dan huruf c serta menimbulkan
akibat hukum yang berpotensi membebani
keuangan Negara.
(3) Dalam hal penggunaan diskresi
menimbulkan keresahan masyarakat,
keadaan darurat, mendesak dan/atau terjadi
bencana alam, Pejabat Pemerintahan wajib
memberitahukan kepada atasan pejabat
sebelum penggunaan diskresi dan
melaporkan kepada atasan pejabat setelah
penggunaan diskresi.
(4) pemeritahuan sebelum penggunaan
diskresi sebagaimana dimaksud pada ayat (3)
dilakukan apabila penggunaan diskresi
berdasarkan ketentuan dalam Pasal 23 huruf
d yang berpotensi menimbulkan keresahan
masyarakat.

34
(5) Pelaporan setelah penggunaan diskresi
sebagaimana dimaksud pada ayat (3)
dilakukan apabila penggunaan diskresi
berdasarkan ketentuan dalam Pasal 23 huruf
d yang terjadi dalam keadaan darurat,
keadaan mendesak, dan/atau terjadi bencana
alam.
Bagian keempat (Prosedur Penggunaan Diskresi)
dalam BAB VI (Diskresi), Pasal 26 sampai dengan
pasal 29:
Pasal 26
 (1) Pejabat yang menggunakan diskresi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat
(1) dan ayat (2) wajib menguraikan maksud,
tujuan, substansi, serta dampak administrasi
dan keuangan.
(2) Pejabat yang menggunakan diskresi
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib
menyampaikan permohonan persetujuan
secara tertulis kepada Atasan Pejabat.

35
(3) Dalam waktu 5 (lima) hari kerja setelah
berkas permohonan diterima, atasan pejabat
menetapkan persetujuan, petunjuk
perbaikan, atau penolakan.
(4) Apabila atasan pejabat sebagaimana
dimaksud pada ayat (3) melakukan
penolakan, atasan pejabat tersebut harus
memberikan alasan penolakan secara tertulis.
Pasal 27
 (1) Pejabat yang menggunakan diskresi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat
(3) dan ayat (4) wajib menguraikan maksud,
tujuan, substansi, dan dampak administrasi
yang berpotensi mengubah pembebanan
keuangan Negara.
(2) Pejabat yang menggunakan diskresi
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib
menyampaikan laporan secara tertulis kepada
atasan pejabat setelah penggunaan diskresi.

36
(3) pelaporan sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) disampaikan paling lama 5 (lima) hari
kerja terhitung sejak penggunaan diskresi.
Pasal 28
 (1) Pejabat yang menggunaan diskresi
sebagaimana dimaksud dalam pasal 25 ayat
(3) dan ayat (5) wajib menguraikan maksud,
tujuan, substansi, dan dampak yang
ditimbulkan.
(2) Pejabat yang menggunakan diskresi
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib
menyampaikan laporan secara tertulis kepada
atasan pejabat setelah penggunaan diskresi.
(3) Pelaporan sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) disampaikan paling lama 5 (lima) hari
kerja terhitung sejak penggunaan Diskresi.
Pasal 29
 Pejabat yang menggunakan diskresi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26, Pasal
27, dan Pasal 28 dikecualikan dari ketentuan
memberitahukan kepada Warga Masyarakat

37
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2)
huruf g.

Bagian Kelima (Akibat Hukum Diskresi), BAB VI


(Diskresi) Pasal 30 sampai dengan Pasal 32:

Pasal 30

 (1) Penggunaan Diskresi dikategorikan


melampaui wewenang apabila:
a. Bertindak melampaui batas waktu
berlakunya wewenang yang diberikan
oleh ketentuan peraturan perundang-
undangan;
b. Bertindak melampaui batas wilayah
berlakunya wewenang yang diberikan
oleh ketentuan peraturan perundang-
undangan; dan/atau
c. Tidak sesuai dengan ketentuan Pasal
26, Pasal 27, dan Pasal 28.
(2) Akibat hukum dari penggunaan diskresi
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menjadi
tidak sah.

38
Pasal 31
 (1) Penggunaan diskresi dikategorikan
mencampuradukkan wewenang apabila:
a. Menggunakan diskresi tidak sesuai dengan
tujuan wewenang yang diberikan;
b. Tidak sesuai dengan ketentuan pasal 26,
Pasal 27, dan pasal 28; dan/atau
c. Bertentangan dengan AUPB.
(2) Akibat hukum dari penggunaan diskresi
dikategorikan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dapat dibatalkan.
Pasal 32
 (1) Penggunaan diskresi dikategorikan
sebagai tindakan sewenang-wenang apabila
dikeluarkan oleh pejabat yang tidak
berwenang.
(2) Akibat hukum dari penggunaan diskresi
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menjadi
tidak sah.

39
Pasal 55 ayat (3) BAB IX tentang keputusan
pemerintahan
Pasal 55
 (1) Setiap keputusan harus diberi alasan
pertimbangan yuridis, sosiologis, dan filosofis
yang menjadi dasar penetapan keputusan.
(2) pemberian alasan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) tidak diperlukan jika
keputusan tersebut diikuti dengan penjelasan
terperinci.
(3) ketentuan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dan ayat (2) berlaku juga dalam hal
pemberian alasan terhadap keputusan
diskresi.
Penjelasan dari Undang-undang Nomor 30
tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan
yang menyangkut Diskresi diatas ialah sebagai
berikut:
Pasal 1
 Cukup Jelas
Pasal 4

40
 Cukup Jelas
Pasal 6
 Cukup Jelas
Pasal 7
 Ayat (2)
Huruf d
Cukup Jelas
Pasal 22
 Ayat (1)
Cukup Jelas
Ayat (2)
Huruf a
Cukup Jelas
Huruf b
Cukup Jelas

Huruf c
Cukup Jelas
Huruf d
Yang dimaksud dengan “stagnasi
pemerintahan” adalah tidak dapat dilaksanakannya

41
aktivitas pemerintahan sebagai akibat kebuntuan
atau disfungsi dalam penyelenggaraan pemerintah,
contohnya: keadaan bencana alam atau gejolak
politik.
Pasal 23
 Huruf a
Pilihan keputusan dan/atau tindakan
pemerintahan dicirkan dengan kata dapat, boleh
atau diberikan kewenangan, berhak, seharusnya,
diharapkan, dan kata-kata lain yang sejenis dalam
ketentuan peraturan perundang-undangan.
Sedangkan yang dimaksud pilihan keputusan
dan/atau Tindakan adalah respon atau sikap
pejabat pemerintahan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.

Huruf b
Yang dimaksud dengan “peraturan
perundang-undangan tidak mengatur” adalah
ketiadaan atau kekosongan hukum yang mengatur

42
penyelenggaraan pemerintahan dalam suatu
kondisi tertentu atau diluar kelaziman.
Huruf c
Yang dimaksud dengan “peraturan
perundang-undangan tidak lengkap atau tidak
jelas” apabila dalam peraturan perundang-
undangan masih membutuhkan penjelasan lebih
lanjut, peraturan yang tumpang tindih (tidak
harmonis atau tidak sinkron), dan peraturan yang
membutuhkan peraturan pelaksanaan, tetapi belum
dibuat.
Huruf d
Yang dimaksud dengan “kepentingan yang
lebih luas” adalah kepentingan yang menyangkut
hajat hidup orang banyak, penyelamatan
kemanusiaan dan keutuhan negara, antara lain:
bencana alam, wabah penyakit, konflik sosial,
kerusuhan, pertahanan, dan kesatuan bangsa.
Pasal 24
 Huruf a
Cukup Jelas

43
Huruf b
Cukup Jelas
Huruf c
Cukup Jelas
Huruf d
Yang dimaksud dengan “alasan-alasan
objektif” adalah alasan-alasan yang diambil
berdasarkan fakta dan kondisi faktual, tidak
memihak, dan rasional serta berdasarkan AUPB.
Huruf e
Cukup Jelas
Huruf f
Yang dimaksud dengan “itikad baik” adalah
keputusan dan/atau tindakan yang ditetapkan
dan/atau dilakukan didasarkan atas motif kejujuran
dan berdasarkan AUPB.
Pasal 25
 Ayat (1)

Yang dimaksud dengan “memperoleh


persetujuan dari atasan pejabat” adalah

44
memperoleh persetujuan dari atasan langsung
pejabat yang berwenang menetapkan dan/atau
melakukan keputusan dan/atau tindakan.

Bagi pimpinan satuan kerja perangkat daerah


(SKPD) mengajukan persetujuan kepada kepala
daerah.

Bagi bupati/walikota mengajukan persetujuan


kepada gubernur.

Bagi Gubernur mengajukan persetujuan


kepada menteri yang menyelenggarakan urusan
pemerintahan dalam negeri.

Bagi pimpinan unit kerja pada


kementerian/lembaga mengajukan persetujuan
kepada menteri/pimpinan lembaga.
Sistem Pengalokasian anggaran sebagai
dampak dari persetujuan Diskresi dilaksanakan
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
Ayat (2)

45
Yang dimaksud dengan “Akibat Hukum”
adalah suatu keadaan yang timbul sebagai akibat
ditetapkannya Diskresi.
Ayat (3)
Pelaporan kepada atasan digunakan sebagai
instrumen untuk pembinaan, pengawasan, dan
evaluasi serta sebagai bagian dari akuntabilitas
pejabat.
Ayat (4)
Cukup Jelas
Ayat (5)
Yang dimaksud dengan “keadaan mendesak”
adalah suatu kondisi objektif dimana dibutuhkan
dengan segera penetapan dan/atau pelaksanaan
Keputusan dan/atau Tindakan oleh Pejabat
Pemerintahan untuk menangani kondisi yang dapat
mempengaruhi, menghambat, atau menghentikan
penyelenggaraan pemerintahan.
Pasal 26
 Cukup Jelas
Pasal 27

46
 Cukup Jelas
Pasal 28
 Cukup Jelas
Pasal 29
 Cukup Jelas
Pasal 30
 Cukup Jelas
Pasal 31
 Cukup Jelas
Pasal 32
 Cukup Jelas
Pasal 55
 Ayat (3)
Cukup Jelas10

10
Kelembagaan ristekdikti, Diambil dari http://kelembagaan.ristekdikti
.go.id/wpcontent/uploads/2016/12/12373585807.pdf pada hari Kamis, 15
Maret 2018 23.12WITA.

47
BAB III
CONTOH KASUS DISKRESI

1. Diskresi, Anggaran Daerah dan


Penyalahgunaan Wewenang

Di media massa, baik itu televisi, koran, media


sosial dan lainnya, kita sering mendengar dan
melihat banyak kepala daerah dan pejabat
pemerintahan yang dijadikan tersangka korupsi.

Hal ini menyebabkan banyak kepala daerah


dan pejabat pemerintahan khawatir dan takut untuk
menggunakan anggaran negara. Padahal,
pembangunan seyogyanya tetap harus berjalan.

Untuk menepis ketakutan kepala daerah dan


pejabat pemerintahan menjalankan proyek
pembangunan dalam penggunaan Anggaran
Pendapatan Belanja Daerah (APBD), pemerintah
pusat memberikan jaminan bahwa setiap temuan

48
yang berpotensi merugikan negara tidak serta-
merta dipidana.

Pejabat pemerintahan memiliki hak untuk


menggunakan kewenangan dalam mengambil
keputusan atau tindakan. Dalam melaksanakan
kewenangan ini tentulah berdasarkan ketentuan
peraturan perundang-undangan dan asas-asas
umum pemerintahan yang baik (AUPB).

Adapun AUPB meliputi asas: kepastian hukum,


kemanfaatan, ketidakberpihakan, kecermatan,
tidak menyalahgunakan kewenangan, keterbukaan,
kepentingan umum dan pelayanan yang baik.

Bahkan, diskresi ataupun kebijakan yang


dibuat kepala daerah untuk mempercepat program
pembangunan tidak masuk unsur pidana,
sepanjang tidak merugikan negara. Kalaupun ada
proses yang dinilai tidak tepat, sepanjang hal itu
tidak ada niat korupsi, sanksinya hanyalah sanksi

49
administrasi oleh pengawas internal pemerintah
(APIP).

Diskresi adalah keputusan atau tindakan yang


ditetapkan atau dilakukan pejabat pemerintahan
untuk mengatasi persoalan konkret yang dihadapi
dalam penyelenggaraan pemerintahan dalam hal
peraturan perundang-undangan yang memberikan
pilihan, tidak mengatur, tidak lengkap atau tidak
jelas, atau adanya stagnasi pemerintahan.

Dalam mengambil setiap kebijakan,


pemerintah perlu melakukan diskresi. Ada penilaian
terhadap diskresi itu, apakah diperlukan, melanggar
hukum atau tidak. Jika ada indikasi kerugian
negara, harus ada audit investigasi internal untuk
menilainya. Baru setelah ada fakta bahwa
perbuatan diskresi itu melawan hukum, diajukanlah
ke tahap penyidikan.

Dengan ditetapkannya Undang-Undang RI


Nomor 30 Tahun 2014 tentang Administrasi

50
Pemerintahan tanggal 17 Oktober 2014 lalu,
menjadi pembicaraan dan diskusi di kalangan
penegak hukum dan akademisi tentang gugurnya
kapasitas penyidik dalam menilai suatu perbuatan,
termasuk dalam ranah penyalahgunaan wewenang
karena telah beralih kepada Pengadilan Tata Usaha
Negara untuk diuji terlebih dahulu.

Pasal 21 Undang-Undang Nomor 30 Tahun


2014 tentang administrasi pemerintahan
menyatakan:

(1) Pengadilan berwenang menerima,


memeriksa, dan memutuskan ada atau tidak
ada unsur penyalahgunaan wewenang yang
dilakukan oleh pejabat pemerintahan.

(2) Badan dan/atau pejabat pemerintahan


dapat mengajukan permohonan kepada
pengadilan untuk menilai ada atau tidak ada
unsur penyalahgunaan wewenang dalam
keputusan dan/atau tindakan.

51
(3) Pengadilan wajib memutus permohonan
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) paling
lama 21 (dua puluh satu) hari kerja sejak
permohonan diajukan.

Frasa menyalahgunakan kewenangan atau


penyalahgunaan wewenang dapat kita temukan
dalam rumusan Pasal 3 UU Nomor 20 Tahun 2001
tentang Perubahan Atas UU Nomor 31 Tahun 1999
tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi,
yang bunyi lengkapnya sebagai berikut: Setiap
orang yang dengan tujuan menguntungkan diri
sendiri atau orang lain atau suatu korporasi,
menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau
sarana yang ada padanya karena jabatan atau
kedudukan yang dapat merugikan keuangan negara
atau perekonomian negara, dipidana dengan pidana
penjara seumur hidup atau pidana penjara paling
singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 20 (dua
puluh) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp

52
50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dan paling
banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

Dengan demikian unsur “menyalahgunakan


kewenangan” sebagaimana dimaksud dalam Pasal
3 UU Nomor 20 Tahun 2001, diartikan memiliki
pengertian yang sama dengan “penyalahgunaan
kewenangan”, sebagaimana disebut dalam Pasal 21
ayat (1) UU RI Nomor 30 Tahun 2014 tentang
Administrasi Pemerintahan. Atau lebih jauh lagi
bahwa ketentuan dalam Pasal 21 ayat (1) UU RI
Nomor 30 Tahun 2014 tersebut dianggap telah
mencabut kewenangan yang dimiliki penyidik dalam
melakukan penyidikan dalam rangka mengetahui
apakah telah terjadi penyalahgunaan wewenang
yang dilakukan seorang tersangka selaku pejabat
pemerintahan, yang mana menurut hal tersebut

53
seharusnya menjadi objek untuk diuji terlebih
dahulu di Peradilan Tata Usaha Negara. (*/udi)11

2. Diskresi dalam Kasus Dahlan Iskan

Dahlan Iskan meruppakan sosok yang dikenal


pernah menjabat sebagai menteri BUMN. Beliau
ditetapkan tersangka kasus aset PWU berdasarkan
surat perintah penyidikan bernomor Print-
1198/0.5/Fd.1/10/2016 tertanggal 27 Oktober
2016. Beliau diduga melakukan pelanggaran pada
penjualan aset PWU di Kediri dan Tulungagung
pada tahun 2003 lalu.

Awalnya, 16 tahun silam Dahlan Iskan diminta


oleh Gubernur Jawa Timur untuk menyelamatkan
perusahaan BUMD milik Jawa Timur itu dari
kebangkrutan. Gubernur Jawa Timur memintanya
untuk mengubah kondisi PT PWU secara drastis dan

11
Diambil dari http://berau.prokal.co/read/news/47875-
diskresi- anggaran-daerah-dan penyalahgunaan-wewenang.html Tanggal 15
Maret 2018, pukul 11.03 WITA

54
dijalankan seperti perusahaan swasta. Berdasarkan
keputusan DPRD Jatim, akhirnya pengolahan
perusahaan BUMD itu berubah menjadi Perseroan
Terbatas (PT). Kendati telah berubah menjadi PT,
Dahlan mengaku tetap berhati-hati dalam
pelaksanaan pelepasan aset.

Dahlan Iskan mengaku telah meminta


persetujuan ke DPRD Jatim melalui surat yang
dikirmkan pada 2 Maret 2002 dan baru dibalas di
bulan September 2002. Dalam jawabannya, DPRD
Jatim meminta Dahlan Iskan untuk menjalakan roda
perusahaan dengan berpegang pada undang-
undang perseroan dan tanpa persetujuan DPRD
Jatim lagi. Selain itu, dalam menjalankan roda PT
PWU, Dahlan mengklaim tidak pernah digaji.

Dahlan Iskan juga tidak mau diberi fasilitas


apapun termasuk perjalanan dinas baik dalam
negeri maupun di luar negeri. Untuk menjalankan
roda PT PWU, Dahlan menjaminkan harta
pribadinya ke Bank BNI sebesar Rp 40 miliar. Hal itu

55
dilakukan Dahlan karena tidak ada lagi dana dari
Pemprov Jatim dan adanya krisis kepercayaan dunia
perbankan terhadap PT PWU.

Jika dilihat dari sudut pandang hukum tata


usaha negara, Dahlan Iskan telah menggunakan
diskresi. Diskresi dalam kamus besar bahasa
Indonesia diartikan sebagai kebebasan mengambil
keputusan sendiri dalam setiap situasi yang
dihadapi. Menurut Pasal 1 Ayat 9 UU 30/2014,
diskresi adalah keputusan atau tindakan dan/atau
dilakukan oleh pejabat pemerintahan untuk
mengatasi persoalan konkret yang dihadapi dalam
hal peraturan perundang-undangan yang
memberikan pilihan, tidak mengatur, tidak lengkap
atau tidak jelas, dan/ atau adanya stagnasi
pemerintahan. Menggunakan diskresi sesuai
dengan tujuannya merupakan salah satu hak yang
dimiliki oleh pejabat pemerintahan dalam
mengambil keputusan dan/atau tindakan. Demikian

56
yang diatur dalam Pasal 6 ayat (2) huruf e jo ayat
(1) UU 30/2014.

Berdasarkan prosedur penggunakan diskresi


yang diatur dalam Pasal 26 ayat 2 yang berbunyi:
Pejabat yang menggunakan diskresi sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) wajib menyampaikan
permohonan persetujuan secara tertulis kepada
atasan pejabat, dalam hal ini Dahlan Iskan telah
meminta persetujuan kepada DPRD “DPRD Jatim
meminta Dahlan Iskan untuk menjalankan roda
perusahaan dengan berpegang pada undang-
undang perseroan dan tanpa persetujuan DPRD
Jatim lagi” dari pernyataan tersebut tentunya DPRD
Jatim telah menyetujui penggunaan diskresi
tersebut.

Hal ini karena DPRD meminta Dahlan Iskan


untuk menjalankan roda PT PWU tanpa persetujuan
DPRD lagi. Walaupun BUMD Jawa Timur telah
berubah statusnya menjadi Perseroan Terbatas,
akan tetapi hak milik PT PWU itu masih dimiliki oleh

57
Jawa Timur, karena PT PWU merupakan badan
usaha milik daerah. Jadi dalam hal ini Dahlan Iskan
memiliki keleluasaan dalam mengelola PT PWU
tersebut, selama tidak melampaui batas waktu
berlakunya wewenang yang diberikan oleh
ketentuan peraturan perundang-undngan hal ini
berdasarkan pasal 30 ayat 1 huruf a UU 30 Tahun
2004. Jika melampaui batas berlakunya wewenang
maka diskresi menjadi tidak sah.12

3. Kapolri Soal Diskresi, Antara Kasus


Lubuklinggau dan Aiptu Sunaryanto

Kapolri Jenderal Tito Karnavian


menyayangkan insiden penembakan satu keluarga
penumpang mobil Honda City di Lubuklinggau,
Sumatera Selatan oleh anggotanya. Dua dari
delapan orang tewas dalam kejadian itu, sementara
lainnya mengalami luka.

12
Zia Aisha. Kompasiana. Diambil
darihttps://www.kompasiana.com/zia_aisha/diskresi-dalam-kasus-dahlan-
iskan_58ab06d0337b61a2048b4569

58
"Saya menyayangkan insiden itu. Dimana
kewenangan diskresi ini memang dimiliki oleh setiap
anggota polisi, seharusnya sebelum menembak
(Brigadir K) pastikan dulu tepat, serta tindakan apa
yang akan dilakukan sebelum menembak ke arah
korban," ujar Tito Karnavian di Mapolda Sumsel usai
me-launching aplikasi Polisi Wong Kito, Jumat
(28/4/2017).

Dikatakan Tito, akar masalahnya anggota


kepolisian dalam menembak adalah kewenangan
kemampuan diskresi, yaitu kewenangan untuk
menilai suatu peristiwa dan mengambil tindakan
yang cepat dan tepat dinilai kurang tepat. Belajar
dari insiden di Lubuklinggau, Sekolah Kepolisian
harus menambahkan kurikulum untuk penguasaan
diskresi.

"Tidak semua anggota Polri memiliki


kemampuan diskresi. Sehingga dalam pendidikan

59
perlu ditambahkan kurikulum untuk penguasaan
kapan diskresi itu diperbolehkan. Terkadang ini
yang kurang, meskipun tidak semua," kata Tito.

Langkah diskresi yang tidak tepat juga dialami


oleh Aipda Bekti Sutikno. Anggota Polres Bengkulu
ini menembak anaknya karena dikira pencuri.
Akibatnya Bagas Alvravigo (14) tewas saat dibawa
ke Rumah Sakit Bhayangkara Polda Bengkulu.

Tidak hanya Brigadir K dan Aipda Bekti Sutikno,


dalam kesempatan tersebut Tito mencontohkan
kasus penyanderaan dalam angkot yang dapat
ditangani oleh anggota Satlantas Jakarta Timur
Aiptu Sunaryanto saat mendengar teriakan korban
penyanderaan di angkot. Polantas yang hendak
berangkat dinas itu lalu bergegas menuju ke
sumber suara, sebuah angkot berwarna merah.
Melihat situasi yang begitu rawan, Sunaryanto
tidak lantas mengambil tindakan gegabah, ia
khawatir pelaku melukai korban. Kemudian dirinya
bernegosiasi dengan pelaku.

60
Setelah setengah jam melakukan negosiasi,
saat pelaku lengah Sunaryanto menarik pistolnya
dan menembak ke arah tangan pelaku.

"Ada juga yang diskresinya tepat. Contoh saja


Aiptu Sunaryanto, dia menembak tepat di tangan
pelaku penyanderaan tanpa melukai korban. Ini
juga harus diapresiasi, berarti langkah dan insting
dia dalam memanfaatkan diskresi itu tepat,"
tutupnya.13

3. Diskresi dan Tindakan Pejabat Pemerintah

Nama Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja


Purnama alias Ahok, kembali menjadi pemberitaan
di media massa dalam beberapa minggu terakhir.
Kali ini Ahok harus berurusan dengan komisi
antirasuah, KPK, terkait kicauan Ariesman Widjaya,
Direktur PT. Agung Padomoro Land, yang telah

13
Diambil dari https://news.detik.com/berita/d-3487140/kapolri-soal-
diskresi-antara-kasus-lubuklinggau-dan-aiptu-sunaryanto Pada hari Kamis, 15
Maret 2018 23.30 WITA

61
ditetapkan sebagai tersangka suap dalam kasus
pembahasan Raperda tentang Rencana Zonasi dan
Pulau-Pulau Kecil dan Raperda tentang Rencana
Tata Ruang (RTR) Kawasan Strategis Pantai Utara
Jakarta. Dalam keterangannya, Ariesman
memberikan informasi tentang penertiban
penertiban Kalijodo yang “dibarter” dengan proyek
reklamasi. Ada 13 proyek DKI – salah satunya
penggusuran kawasan Kalijodo di Penjariman –
yang dikerjakan PT. Muara Wisesa Samudra, anak
perusahaan Agung Podomoro. Biaya proyek yang
dikeluarkan Agung Podomoro tersebut selanjutnya
dijadikan pengurang kontribusi tambahan proyek
reklamasi. Pasalnya, Perjanjian tersebut dibuat
tanpa dasar hukum.

Menurut Ahok, proyek pengurang kontribusi


tambahan tersebut dilakukan berdasarkan
wewenang diskresi yang dimilikinya selaku
Gubernur DKI Jakarta, karena pada saat hal
tersebut diputuskan pada tahun 2014 belum ada

62
ketentuan hukum yang mengatur. Permasalahan
perihal diskresi ini tidak hanya berhenti di KPK,
diberitakan bahwa DPR berencana memanggil Ahok
perihal diskresi ini.

Terlepas dari kontroversi permasalahan


pengurang kontribusi tambahan proyek reklamasi di
atas, menarik ditinjau adalah perihal Diskresi
sebagai dasar tindakan pejabat pemerintah. Dalam
konsep Negara Kesejahteraan – Welfare State,
tujuan negara adalah kesejahteraan rakyat, dan
tidak sekedar sebagai penjaga ketertiban.
Indonesia pun menempatkan “kesejahteraan
umum” sebagai salah satu tujuan negara
sebagaimana diamanatkan dalam Pembukaan UUD
1945. Untuk mencapai tujuan negara tersebut,
Pemerintah memerlukan instrumen-instrumen, alat-
alat atau sarana-sarana, baik yang bersifat yuridis
maupun nonyuridis. Instrumen yuridis pemerintah
dalam hal ini memiliki dua peran, yaitu di satu sisi
sebagai alat yang menterjemahkan kewenangan

63
pemerintah, melalui pejabat pemerintah yang
menerbitkan, dan di satu sisi sebagai pagar untuk
menghindari penyalahgunaan kewenangan oleh
Pemerintah.

Kebijakan atau Diskresi, merupakan salah satu


bentuk instrumen yuridis pemerintah. Pembahasan
mengenai kebijakan selalu dikaitkan dengan apa
yang disebut sebagai kewenangan bebas/Freies
Ermessen (discretion power). Freies Ermessen
diartikan sebagai salah satu sarana yang
memberikan ruang bergerak bagi pejabat atau
badan-badan administrasi negara untuk melakukan
tindakan tanpa harus terikat sepenuhnya pada
undang-undang. Menurut Bachsan Mustafa, Freies
Ermessen diberikan kepada Pemerintah mengingat
fungsi Pemerintah atau administrasi negara yaitu
menyelenggarakan kesejahtaraan umum yang
berbeda dengan fungsi kehakiman untuk
menyelesaikan sengketa kependudukan. Keputusan
pemerintah lebih mengutamakan pencapaian

64
tujuan (doelmatigheid) daripada sesuai dengan
hukum yang berlaku (rechmatigheid).

Undang-undang No. 30/2014 tentang


Administrasi Negara mengatur secara eksplisit
perihal diskresi. Diskresi, diartikan dalam Pasal 1
ayat (9) UU No.30/2014, sebagai keputusan
dan/atau tindakan yang ditetapkan dan/atau
dilakukan oleh pejabat pemerintah untuk mengatasi
persoalan konkret yang dihadapi dalam
penyelenggaraan pemerintahan dalam hal
peraturan perundang-undangan yang memberikan
pilihan, tidak mengatur, tidak lengkap atau tidak
jelas dan/atau adanya stagnasi pemerintahan.
Dengan demikian, suatu diskresi hanya dapat
dikeluarkan apabila tujuan penerbitan diskresi
tersebut adalah: (i) melancarkan penyelenggaraan
pemerintahan; (ii) mengisi kekosongan hukum; (iii)
memberikan kepastian hukum; dan (iv) mengatasi
stagnasi pemerintahan dalam keadaan tertentu
guna kemanfaatan dan kepentingan umum.

65
Namun demikian, pemenuhan tujuan diskresi
sebagaimana diuraikan di atas saja tidaklah cukup.
UU No.30/2014 mensyaratkan bahwa diskresi
hanya dapat digunakan apabila penggunaanya
memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

1. Sesuai dengan tujuan diskresi yang tercantum


dalam UU No.30/2014;
2. Tidak bertentangan dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan;
3. Sesuai dengan asas-asas Umum
Pemerintahan Yang Baik (AAUPB);
4. Berdasarkan alasan-alasan yang objektif;
5. Tidak menimbulkan konflik kepentingan; dan
6. Dilakukan dengan itikad baik.

Selain memenuhi syarat-syarat material di


atas, suatu diskresi juga wajib memenuhi
persyaratan formil yang ditetapkan dalam UU
No.30/2014 dimana pada intinya pejabat
pemerintah yang menggunakan diskresi wajib
memperoleh persetujuan Atasan dengan terlebih

66
dahulu menguraikan maksud, tujuan, substansi
serta dampak administrasi dan keuangan.

Bagaimana pengujian atas diskresi? Alat uji


atas diskresi merupakan suatu hal penting bagi
pejabat pemerintah karena hasil akhir dari
pengujian adalah apakah disreksi yang dikeluarkan
oleh pejabat pemerintah tersebut merupakan suatu
tindakan/keputusan yang berada dalam
kewenangannya atau tidak berada dalam
kewenangannya atau dengan kata lain apakah
termasuk dalam kategori penyalahgunaan
wewenang. Mengacu pada latar belakang dan
tujuan dari munculnya diskresi, alat uji dari suatu
diskresi seyogianya adalah asas-asas umum
pemerintahan yang baik (AAUPB), selain
pemenuhan syarat-syarat materiil dan formil lain
yang ditetapkan oleh undang-undang. Namun
demikian, dalam UU No. 30/2014, salah satu syarat
yang harus dipenuhi oleh suatu diskresi adalah
“tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan

67
perundang-undangan”, sehingga dengan demikian
dapat ditafsirkan bahwa alat uji dari suatu diskresi
berdasarkan UU No.30/2014 adalah undang-
undang dan AAUPB.

Terlepas dari pembahasan mengenai alat uji


diskresi, dengan dicantumkannya diskresi secara
eksplisit dalam ketentuan peraturan hukum yang
berlaku, diharapkan dapat dijadikan pijakan bagi
pejabat pemerintah untuk dapat melakukan
berbagai tindakan yang diperlukan guna
kesejahteraan rakyat tanpa perlu khawatir hal
tersebut menjadi polemik di masa yang akan datang
selama diyakini bahwa diskresi yang diambilnya
adalah untuk kesejahteraan rakyat dan dapat
dipertanggungjawabkan.14

14
Diambil dari http://business-law.binus.ac.id/2016/05/29/diskresi-dan-
tindakan-pejabat-pemerintah/ Pada hari Kamis, 15 Maret 2018 pukul
23.24WITA

68
5. KPK: Perbuatan Gubernur Sultra
Bertentangan dengan UU

Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi


(KPK) Laode M Syarief menyebut penetapan
tersangka terhadap Gubernur Sulawesi Tenggara
(Sultra), Nur Alam bukan merupakan diskresi dari
kebijakan yang dikeluarkan Nur Alam dalam
menerbitkan izin usaha pertambangan (IUP) untuk
PT Anugrah Harisma Barakah (AHB).

Menurut Laode, perbuatan yang dilakukan Nur


Alam dinilai bertentangan dengan peraturan
perundang-undangan yang ada. Pasalnya Nur Alam
dalam kasus ini disangkakan menerima kick back
atau fee (komisi) dari izin yang dikeluarkannya itu.

Diskresi diketahui merupakan kebijakan yang


diambil pemimpin daerah atau pengambil kebijakan
di suatu pemerintahan karena adanya kekosongan
dan keterbatasan dari undang-undang yang ada
sebelumnya. Diskresi dimaksudkan untuk

69
mengatasi terjadinya stagnasi pemerintahan dan
mengefektifkan pelaksanaan tanggung jawab
pemerintah dalam melaksanakan pelayanan publik.

"Itu salah satu contoh pengeluaran kebijakan


dimana salah satunya bertentangan UU. Iya itu
bukan diskresi, kedua ada kick back yang masuk ke
yang bersangkutan," jelas Laode di Kantor MMD
Initiative, Matraman, Jakarta Timur, Senin
(29/8/2016).

Laode mengungkapkan, pemanggilan terhadap


Nur Alam untuk diminta keterangannya akan segera
dilakukan setelah pimpinan KPK menerima laporan
dari penyidik di lapangan.

"Tergantung kebutuhan setelah pulang


lapangan mereka melakukan gelar perkara, setelah
gelar perkara mereka manggil (Nur Alam),
tergantung perkembangan kasus," tutur Laode.

Nur Alam sendiri telah dicegah berpergian ke


luar negeri oleh pihak Imigrasi atas permintaan

70
KPK. Pencegahan dilakukan untuk enam bulan ke
depan demi kepentingan penyidikan. Surat
pencegahan itu telah dikirim per 22 Agustus 2016.

Selain Nur Alam, KPK juga mencegah Direktur


PT Billy Indonesia, Widi Aswindi, Pemilik PT Billy
Indonesia, Emi Sukiati Lasimon, dan Kepala Dinas
(Kadis) Pertambangan dan Energi Pemprov Sultra,
Burhanuddin bepergian ke luar negeri selama enam
bulan ke depan.

Sekadar diketahui, Nur Alam ditetapkan


menjadi tersangka oleh KPK atas kasus izin usaha
pertambangan. Dia diduga melakukan
penyalahgunaan wewenang dalam pemberian izin
pertambangan nikel di Kabupaten Buton dan
Bombana, Sultra, selama periode 2009-2014.

Penyalahgunaan wewenang dilakukan dengan


menerbitkan SK Persetujuan Pencadangan Wilayah
Pertambangan dan Persetujuan Izin Usaha
Pertambangan (IUP) Eksplorasi, SK Persetujuan

71
Peningkatan Izin Usaha Pertambangan Eksplorasi
menjadi Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi
kepada PT Anugrah Harisma Barakah (AHB).

Atas perbuatannya Nur Alam dijerat Pasal 2


Ayat (1) atau Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31
Tahun 1999, sebagaimana telah diubah dalam
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55
ayat (1) KUHP.15

15
https://news.okezone.com/read/2016/08/29/337/1475
927/kpk-perbuatan-gubernur-sultra-bertentangan-dengan-uu pada hari
Kamis, 15 Maret 2018 pukul 23.27 WITA.

72
BAB IV

PENUTUP

1. Kesimpulan

Diskresi ialah kebebasan pejabat negara


publik melakukan sebuah kebijakan yang
melanggar dengan undang-undang sesuai
dengan syarat-syarat Yakni, demi kepentingan
umum, masih dalam batas wilayah
kewenangannya, dan tidak melanggar asas-asas
umum pemerintahan yang baik (AUPB).

2. Saran
Buku ini dibuat diperuntuk agar teman-
teman mahasiswa atau masyarakat luas dapat
mengetahui fungsi dari setiap putusan Diskresi,
dasar hukum dalam membuat suatu putusan
Diskresi, dan apa yang menjadi penyelewengan
saat memberikan putusan Diskresi oleh Pejabat
Pemerintah.

73
Memaknai Diskresi sebenarnya cukup luas
cakupannya dalam sudut pandang keilmuan,
sehingga memberikan batasan bagi penulis
dalam memaparkan atau mendefinisikan
Diskresi itu sendiri. Dan didalam buku ini kami
sangat meyakini masih sangat banyak
kekurangan-kekurangan yang belum tertutupi
baik dalam segi pembahasan, teori yang
dipaparkan, memberikan definisi umum, bahkan
dalam penulisan buku ini. Sehingga kritik dan
saran yang sifatnya membangun sangat
dibutukan penulis kedepannya agar menjadikan
buku ini sebagai pijakan agar bisa memberikan
yang lebih baik lagi.
Menyangkut suatu putusan Diskresi dapat
dimaknai bahwa Pemerintah dapat memberikan
suatu keputusan walaupun tidak/belum diatur
dalam peraturan perundang-undangan sendiri
asalkan menyangkut Asas Kepentingan Umum
dalam masyarakat. Hal ini membuktikan bahwa
tidak ada sesuatu yang sempurna di dunia ini

74
apalagi suatu peraturan atau ketentuan yang
notabenenya merupakan ciptaan atau produk
manusia, sehingga sama dengan Penulis yang
masih memiliki banyak sekali kekurangan
terutama dalam pembuatan Buku ini. Namun,
semua kembali lagi ke masyarakat agar buku ini
dapat membantu masyarakat atau teman-teman
mahasiswa dalam memahami suatu keputusan
Diskresi oleh Pejabat Pemerintah. Kami sebagai
penulis meminta maaf atas segala kekurangan
Buku ini dan menerima segala kritik dan saran
dari teman-teman yang membaca buku ini agar
bisa membangun kami juga sebagai penerus
tonggak estafet pemerintahan di masa yang
akan datang dan bisa berguna bagi Nusa dan
Bangsa.

75
GLOSARIUM
Administratief recht Hukum Administrasi Negara

Algemene maatregel van bestuur  Peraturan pemeritah

Begroting  Anggaran

Belangenafweging  Pertimbangan kepentingan

Beschikking  Keputusan Tata Usaha


Negara

Bestuursorgaan  Badan tata usaha negara

Detournement de pouvoir  Penyalahgunaan wewenang

Detournement de procedure  Penyalahgunaan prosedur

Doelmatigheid  Pencapaian tujuan

Evenredigheidsbeginsel  Asas keseimbangan

Feitelijke handelingen  Tindakan-tindakan nyata

Gedoogverklaring  Perbuatan tutup mata

Gelijkheidsbeginsel  Asas persamaan

Heroverweging Mempertimbangkan kembali

Herziening  Peninjauan kembali

Kennelijke onredelijkheid  Tidak beralasan

Kracht van gewijsde  Kekuatan hukum tetap

Overlegging van stukken  Penyerahan berkas

Rechtmatigheid  Hukum yang berlaku

Rechtsbeginselen  Asas-asas hukum

Rechtsbescherming  Perlindungan hukum

Rechtsstaat  Negara hukum

Redelijk  Kepantasan

76
Specialiteitsbeginsel  Asas spesialitas

Toetsingsgronden  Dasar-dasar pengujian

Van behoorlijk bestuur  Menjamin kepastian hukum

Verdedigingsbeginsel  Asas membela hak

Versnelde behandeling  Penanganan dipercepat

Vertrouwensbeginsel  Asas kepercayaan

Walfare state  Negara kesejahteraan

Wetgeving  Membuat undang-undang

Wetgevende bevoegdheid  Kekuasaan perundang-


undangan

Willekeur  Sewenang-wenang

77
DAFTAR PUSTAKA

A. Buku-buku :

HR, Ridwan. 2011. Hukum Administrasi Negara


Edisi Revisi. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Huda, Ni’matul. 1999. Hukum Tata Negara Kajian
Teoritis dan Yuridis Terhadap Konstitusi Indonesia.
Yogyakarta: Gama Media.
Manan, Bagir. 2004. Hukum Positif Indonesia
(Suatu Kajian Teoritik). Yogyakarta: FH UII Press.
MD, Moh. Mahfud. 2011. Politik Hukum di
Indonesia Edisi Revisi. Jakarta: Rajawali Pers.
SF. Marbun et. All. 2002. Dimensi-dimensi
pemikiran hukum Administrasi Negara. Yogyakarta: Uii
press.
Yulikshan, Eri. 2016. Keputusan Diskresi dalam
Dinamika Pemerintahan. Yogyakarta: Deepublish.
B. Jurnal :

Muhlizi, Arfan Faiz. 2012. “Reformulasi Diskresi


dalam Penataan Hukum Administrasi”, Media Pembinaan
Hukum Nasional. Vol. 1 No. 1, April. Hal. 94.
Mustamu, Julia. 2011. DISKRESI DAN TANGGUNG
JAWAB ADMINISTRASI PEMERINTAHAN. Maluku. Vol.
17 No. 2, April-Juni.
T.M. Taufik Alamsyah, “Efektifitas Penggunaan
Diskresi dalam Rangka Mewujudkan Pemerintahan Yang
Baik”, Universitas Antakusuma, Juristek, Vol. 2, No. 1,
Juli 2013, Hal. 255-256.
C. Undang-undang :

78
UU No. 30 tahun 2014 tentang Administrasi
Pemerintahan.
Pasal 5 ayat (1) jo. Pasal 10 ayat (1) Undang-
Undang RI No. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan
Kehakiman.
UU No. 9 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas UU
No. 5 Tahun 1986 tentang PTUN; UU No. 25 Tahun 2009
tentang Pelayanan Publik, UU No. 28 Tahun 1999
tentang Penyelenggaraan Pemerintahan yang Bersih
dan Bebas dari KKN.

D. Website :

https://www.kompasiana.com/kukuhtirtas/hukum-
selalu-tertinggal-satu-langkah-dari-peradaban-
manusia_5500b142813311501afa7abf pada hari Ju’mat,
16 Maret 2018 pukul 13.52
http://repository.unair.ac.id/32702/ pada hari
Ju’mat, 16 Maret 2018 pukul 13.00
https://www.kompasiana.com/widhasinulingga/tin
jauan-diskresi-dalam-penyelenggaraan-
pemerintahan_58a17bced17e61ef059c62da pada hari
Kamis, 15 Maret 2018 pukul 21.42 WITA.
https://www.scribd.com/doc/95855007/PENGGUN
AAN-ASAS-DISKRESI pada hari Kamis, 15 Maret 2018
pukul 21.30 WITA
https://ejournal.unpatti.ac.id/ppr_iteminfo_lnk.ph
p?id=94 pada hari selasa, 13 Maret 2018, pukul 22.30
WITA
http://kbbi.web.id/diskresi pada hari Kamis, 15
Maret 2018 pukul 20.19 WITA.

79
http://berau.prokal.co/read/news/47875-diskresi-
anggaran-daerah-dan penyalahgunaan-wewenang.html
Tanggal 15 Maret 2018, pukul 11.03 WITA
https://www.kompasiana.com/zia_aisha/diskresi-
dalam-kasus-dahlan-
iskan_58ab06d0337b61a2048b4569 pada tanggal 15
Maret 2018, pukul 12.50 Wita
https://news.detik.com/berita/d-3487140/kapolri-
soal-diskresi-antara-kasus-lubuklinggau-dan-aiptu-
sunaryanto Pada hari Kamis, 15 Maret 2018 23.30 WITA
http://business-
law.binus.ac.id/2016/05/29/diskresi-dan-tindakan-
pejabat-pemerintah/ Pada hari Kamis, 15 Maret 2018
pukul 23.24 WITA
https://news.okezone.com/read/2016/08/29/337/
1475927/kpk-perbuatan-gubernur-sultra-bertentangan-
dengan-uu pada hari Kamis, 15 Maret 2018 pukul 23.27
WITA.
http://kelembagaan.ristekdikti.go.id/wpcontent/up
loads/2016/12/12373585807.pdf pada hari Kamis, 15
Maret 2018 23.12WITA.

80
81