Anda di halaman 1dari 27

Meet The Expert

INFERTILITAS

Oleh:

Aida Juniati Syafni 1740312246

Rey Mas Fakhrury 1740312074

Novia Nadhira 1410311022

Preseptor:

dr. Mutiara Islam, Sp.OG (K)

BAGIAN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS

RSUD PARIAMAN
2018

1
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan pada Allah karena berkat rahmat dan

hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan Meet the Expert (MTE) yang berjudul

“Infertilitas”. MTE ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat dalam

mengikuti kepaniteraan klinik di Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas

Kedokteran Universitas Andalas.

Terima kasih penulis ucapkan kepada dr. Pasca Alfajra, Sp.OG (K) selaku

pembimbing yang telah memberikan arahan dan petujuk, dan semua pihak yang

telah membantu dalam penulisan MTE ini.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa MTE ini masih memiliki banyak

kekurangan. Untuk itu kritik dan saran sangat penulis harapkan. Akhir kata,

semoga MTE ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Pariaman, Mei 2018

Penulis

2
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Infertilitas merupakan suatu permasalahan yang cukup lama dalam dunia

kedokteran. Sesuai dengan definisi fertilitas yaitu kemampuan seorang istri untuk

menjadi hamil dan melahirkan anak hidup oleh suami yang mampu

menghamilinya, maka pasangan infertil haruslah dilihat sebagai satu kesatuan.

Infertilitas dibagi atas dua, yaitu infertilitas primer dan infertilitas

sekunder, disebut infertilitas primer kalau istri belum pernah hamil walaupun

bersenggama dan dihadapkan kepada kemungkinan hamil selama 12 bulan,

disebut infertilitas sekunder bila istri pernah hamil, akan tetapi kemudian tidak

terjadi kehamilan lagi walaupun bersenggama dan dihadapkan kepada

kemungkinan hamil selama 12 bulan.(1)

Penyebab infertilitaspun harus dilihat pada kedua belah pihak yaitu isteri

dan suami. Salah satu bukti bahwa pasangan infertil harus dilihat sebagai satu

kesatuan adalah adanya faktor imunologi yang memegang peranan dalam fertilitas

suatu pasangan. Faktor imunologi ini erat kaitannya dengan faktor semen/sperma,

cairan/lendir serviks dan reaksi imunologi isteri terhadap semen/sperma suami.


1,2
Termasuk juga sebagai faktor imunologi adanya autoantibodi. Infertilitas dapat

juga tidak diketahui penyebabnya yang dikenal dengan istilah infertilitas

idiopatik. (2)

Menurut data National Survey of Family Growth sekitar 10% - 15%

pasangan infertil, banyak terjadi pada pasangan yang lebih tua. Lebih kurang

seperlima pasangan usia subur di Amerika Serikat adalah pasangan infertil. Lima

3
belas persen diantaranya tergolong infertil yang tidak jelas penyebabnya

(unexplained infertility).(3) Berdasarkan persentase perempuan umur 15-49 tahun

yang mengalami infertilitas primer di Asia, prevalensi infertilitas idiopatik

bervariasi antara 22-28 %, studi terbaru menunjukkan di antara pasangan yang

berkunjung ke klinik fertilitas, sebesar 21 % perempuan berumur di bawah 35

tahun dan 26% perempuan berumur di atas 35 tahun.(2)

Masalah infertilitas dapat memberikan dampak besar bagi pasangan

suami-istri yang mengalaminya, selain menyebabkan masalah medis, infertilitas

juga dapat menyebabkan masalah ekonomi maupun psikologis.(2)

1.2 Batasan Masalah

Makalah ini membahas tentang definisi, klasifikasi, etiologi, pemeriksaan

dan tatalaksana infertilitas.

1.3 Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui definisi, klasifikasi,

etiologi, pemeriksaan dan tatalaksana infertilitas.

1.4 Metode Penulisan

Penulisan makalah ini disusun berdasarkan tinjauan kepustakaan yang

merujuk kepada literatur.

4
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Infertilitas

Infertilitas adalah suatu keadaaan pasangan suami istri yang telah kawin

satu tahun atau lebih dan telah melakukan hubungan seksual secara teratur

minimal 2-3 kali dalam seminggu tanpa memakai kontrasepsi tapi tidak

memperoleh kehamilan atau keturunan. Dari pengertian infertil ini terdapat tiga

faktor yang harus memenuhi persyaratan yaitu lama berusaha, adanya hubungan

seksual secara teratur dan adekuat, tidak memakai kontrasepsi.1,2

2.2 Klasifikasi Infertilitas

Infertilitas dapat dibagi atas primer dan sekunder. Infertilitas dikatakan

sebagai primer jika sebelumnya pasangan suami istri belum pernah mengalami

kehamilan. Sementara itu, infertilitas dikatakan sekunder jika pasangan suami istri

gagal memperoleh kehamilan setelah satu tahun pascapersalinan atau pasca

abortus, tanpa menggunakan kontrasepsi apapun. Sebanyak 84% perempuan akan

mengalami kehamilan dalam kurun waktu satu tahun pertama pernikahan bila

mereka melakukan hubungan suami istri secara teratur tanpa menggunakan

konrasepsi. Angka kehamilan kumulatif akan meningkat menjadi 92% ketika lama

pernikahan menjadi dua tahun.3

2.3 Epidemiologi

Berdasarkan laporan WHO, secara global diperkirakan adanya kasus

infertilitas pada 8-10% pasangan, yaitu sekitar 50 juta hingga 80 juta pasangan. Di

Amerika sekitar 5 juta orang mengalami permasalahan infertilitas, sedangkan di

Eropa angka kejadiannya mencapai 14%. Pada tahun 2002, dua juta wanita usia

5
reproduktif di Amerika merupakan wanita infertil. Sedangkan di Indonesia,

berdasarkan survei kesehatan rumah tangga tahun 1996, diperkirakan ada 3,5 juta

pasangan (7 juta orang) yang infertile. Di Indonesia, angka infertilitas telah

meningkat mencapai 15-20 persen dari sekitar 50 juta pasangan. Infertilitas dapat

disebabkan oleh pihak istri maupun suami. Kondisi yang menyebabkan infertilitas

dari faktor istri didapatkan sebanyak 65%, faktor suami 20%, kondisi lain-lain dan

tidak diketahui 15%. Suatu penelitian menunjukkan penyebab infertilitas terkait

dengan permasalahan dari pihak istri adalah tuba (27,4%), tidak diketahui

(24,5%), masalah menstruasi (20%), uterus (9,1%), ovarium (3,6%), kelainan

seksual (2,7%). Angka kejadian infertilitas pada wanita terjadi pada berbagai

rentang umur, 20-29 tahun (64,5%), 30-39 tahun (20%), 40-49 tahun (11,8%),

diatas 50 tahun (3,7%). Penelitian lain nya menemukan 54,4% wanita infertile

merupakan wanita yang bekerja penuh waktu, 33,3 % wanita yang bekerja paruh

waktu, 3,5% merupakan ibu rumah tangga. Sebanyak 84% perempuan akan

mengalami kehamilan dalam kurun waktu satu tahun pertama pernikahan bila

mereka melakukan hubungan suami istri secara teratur tanpa menggunakan alat-

alat kontrasepsi. Angka kehamilan kumulatif akan meningkat menjadi 92% ketika

lama usia pernikahan dua tahun.2

2.4 Etiologi/Faktor Penyebab

Secara garis besar penyebab infertilitas dapat dibagi menjadi faktor tuba

dan pelvik (35%), faktor lelaki (35%), faktor ovulasi (15%), faktor idiopatik

(10%), dan faktor lain (5%).

6
Penelitian yang dilakukan Vang 2003, berdasarkan pengamatan terhadap

518 pasangan suami istri yang berusia antara 24 - 34 tahun dijumpai 50%

kehamilan terjadi di dalam dua siklus haid pertama dan 90% kehamilan terjadi di

dalam enam siklus haid pertama. Vang menemukan bahwa angka fekunditas per

bulan adalah berkisar antara 30 - 35%.3

1. Non-Organik

a. Usia

Usia, terutama usia istri, sangat menentukan besarnya kesempatan

pasangan suami istri untuk mendapatkan keturunan. Terdapat hubungan yang

terbalik antara bertambahnya usia istri dengan penuruman kemungkinan untuk

mengalami kehamilan. Sembilan puluh empat persen (94%) perempuan subur di

usia 35 tahun atau 77% perempuan subur di usia 38 tahun akan mengalami

kehamilan dalam kurun waktu tiga tahun lama pernikahan. Ketika usia istri

mencapai 40 tahun maka kesempatan untuk hamil hanya sebesar lima persen per

bulan dengan kejadian kegagalan sebesar 34 - 52%.3

Akibat masalah ekonomi atau adanya keinginan segolongan perempuan

untuk meletakkan kehamilan sebagai prioritas kedua setelah upaya mereka untuk

meraih jenjang jabatan yang baik di dalam pekerjaannya, merupakan alasan bagi

perempuan untuk menunda kehamilannya sampai berusia sekitar 30 tahun atau

bahkan lebih tua lagi. Hal ini menyebabkan usia rata-rata perempuan masa kini

melahirkan bayi pertamanya 3,5 tahun lebih tua dibandingkan dengan usia

perempuan yang dilahirkan pada 30 tahun yang lalu. Tentu hal ini akan

memberikan pengaruh yang kuat terhadap penurunan kesempatan bagi perempuan

masa kini untuk mengalami kehamilan. 3

7
b. Frekuensi Senggama

Angka kejadian kehamilan mencapai puncaknya ketika pasangan suami

istri melakukan hubungan suami istri dengan frekuensi 2 - 3 kali dalam seminggu.

Upaya penyesuaian saat melakukan hubungan suami istri dengan terjadinya

ovulasi, justru akan meningkatkan kejadian stres bagi pasangan suami istri

tersebut, upaya ini sudah tidak direkomendasikan lagi. 3

c. Pola Hidup

o Alkohol

Pada perempuan tidak terdapat cukup bukti ilmiah yang

menyatakan adanya hubungan antara minuman mengandung alkohol

dengan peningkatan risiko kejadian infertilitas. Namun, pada lelaki

terdapat sebuah laporan yang menyatakan adanya hubungan antara minum

alkohol dalam jumlah banyak dengan penunrnan kualitas sperma. 3

o Merokok

Dari beberapa penelitian yang ada, dijumpai fakta bahwa merokok

dapat menurunkan fertilitas perempuan. Oleh karena itu sangat dianjurkan

untuk menghentikan kebiasaan merokok jika perempuan memiliki masalah

infertilitas. Penurunan fer tilitas perempuan juga terjadi pada

perempuan perokok pasif. Penurunan fertilitas juga dialami oleh lelaki

yang memiliki kebiasaan merokok. 3

o Berat Badan

Perempuan dengan indeks massa tubuh yang lebih dari 29, yang

termasuk di dalam kelompok obesitas, terbukti mengalami keterlambatan

hamil. Usaha yang paling baik untuk menurunkan berat badan adalah

8
dengan cara menjalani olahraga teratur serta mengurangi asupan kalori di

dalam makanan. 3

2. Organik

a. Masalah Vagina

Vagina merupakan hal yang penting di dalam tata laksana infertilitas.

Terjadinya proses reproduksi manusia sangat terkait dengan kondisi vagina yang

sehat dan berfungsi normal. Masalah pada vagina yang memiliki kaitan erat

dengan peningkatan kejadian infertilitas adalah sebagai berikut. 3

o Dispareunia: merupakan masalah kesehatan yang ditandai dengan rasa

tidak nyaman atau rasa nyeri saat melakukan sanggama. Dispareunia dapat

dialami perempuan ataupun lelaki. Pada perempuan dapat disebabkan oleh

beberapa faktor, antara lain adalah sebagai berikut.

- Faktor infeksi, seperti infeksi kandida vagina, infeksi klamidia

trakomatis vagina, infeksi trikomonas vagina, dan pada saluran

berkemih.

- Faktor organik, seperti vaginismus, nodul endometriosis di

vagina, endometriosis pelvik, atau keganasan vagina.

Dispareunia pada lelaki dapat disebabkan oleh beberapa faktor berikut.

- Faktor infeksi, seperti uretritis, prostitis, atau sistitis. Beberapa

kuman penyebab infeksi antara lain adalah Niseria Gonore.

- Faktor organik, seperti prepusium yang terlampau sempit, luka

parut di penis akibat infeksi sebelumnya, dan sebagainya.

o Vaginismus: merupakan masalah pada perempuan yang ditandai dengan

adanya rasa nyeri saat penis akan melakukan penetrasi ke dalam vagina. Hal

9
ini bukan disebabkan oleh kurangnya zat lubrikans atau pelumas vagina,

tetapi terutama disebabkan oleh diameter liang vagina yang terlalu sempit,

akibat kontraksi refleks otot pubokoksigeus yang terlalu sensitif, sehingga

terjadi kesulitan penetrasi vagina oleh penis. Penyempitan liang vagina ini

dapat disebabkan oleh faktor psikogenik atau disebabkan oleh kelainan

anatomik. Faktor anatomi yang terkait dengan vaginismus dapat disebabkan

oleh operasi di vagina sebelumnya seperti episiotomi atau karena luka

trauma di vagina yang sangat hebat sehingga meninggalkan jaringan parut.

o Vaginitis. Beberapa infeksi kuman seperti klamidia trakomatis, Niseria

Gonore, dan bakterial vaginosis seringkali tidak menimbulkan gejala klinik

sama sekali. Namun, infeksi klamidia trakomatis memiliki kaitan yang erat

dengan infertilitas melalui kerusakan tuba yang dapat ditimbulkannya.

b. Masalah Uterus

Uterus dapat menjadi penyebab terjadinya infertilitas. Faktor uterus yang

memiliki kaitan erat dengan kejadian infertilitas adalah serviks, kavum uteri, dan

korpus uteri. 3

o Faktor serviks

- Servisitis. Memiliki kaitan yang erat dengan teriadinya infertilitas.

Servisitis kronis dapat menyebabkan kesulitan bagi sperma untuk

melakukan penetrasi ke dalam kavum uteri. Adanya tanda infeksi

klamidia trakomatis di serviks seringkali memiliki kaitan erat dengan

peningkatan risiko kerusakan tuba melalui reaksi imunologi.

10
- Trauma pada serviks. Tindakan operatif tertentu pada serviks seperti

konisasi atau upaya abortus profokatus sehingga menyebabkan cacat

pada serviks, dapat menjadi penyebab terjadinya infertilitas.

o Faktor kavum uteri.

Faktor yang terkait dengan kavum uteri meliputi kelainan anatomi kavum

uteri dan faktor yang terkait dengan endometrium.

- Kelainan anatomi kavum uteri. Adanya septum pada kavum uteri,

tentu akan mengubah struktur anatomi dan struktur vaskularisasi

endometrium. Tidak terdapat kaitan yang erat antara septum uteri ini

dengan peningkatan kejadian infertilitas. Namun, terdapat kaitan yang

erat antara septum uteri dengan peningkatan kejadian kegagalan

kehamilan muda berulang. Kondisi uterus bikornis atau uterus

arkuatus tidak memiliki kaitan yalg erat dengan kejadian infertilitas.

- Faktor endometriosis. Endometriosis kronis memiliki kaitan yang

erat dengan rendahnya ekspresi integrin (avb3) endometrium yang

sangat berperan di dalam proses implantasi. Faktor ini yang dapat

menerangkan tingginya kejadian penyakit radang panggul subklinik

pada perempuan dengan infertilitas. Polip endometrium merupakan

pertumbuhan abnormal endometrium yang seringkali dikaitkan

dengan kejadian infertilitas. Adanya kaitan antara kejadian polip

endometrium dengan kejadian endometrium kroniks tampaknya

meningkatkan kejadian infertilitas.

11
o Faktor miometrium

Mioma uteri merupakan tumor jinak uterus yang berasal dari

peningkatan aktivitas proliferasi sel-sel miometrium. Berdasarkan lokasi

mioma uteri terhadap miometrium, serviks dan kavum uteri, maka mioma

uteri dapat dibagi menjadi 5 klasifikasi sebagai berikut. Mioma

subserosum, mioma intramural, mioma submukosum, mioma serviks, dan

mioma di rongga peritoneum. Pengaruh mioma uteri terhadap kejadian

infertilitas hanyalah berkisar antara 30 - 50%. Mioma uteri mempengaruhi

fertilitas kemungkinan terkait dengan sumbatan pada tuba, sumbatan pada

kanalis servikalis, atau mempengaruhi implantasi.

- Adenomiosis, adenomiosis uteri merupakan kelainan pada

miometrium berupa susupan jaringan stroma dan kelenjar yang sangat

menyerupai endometrium. Sampai saat ini masih belum diketahui

dengan pasti patogenesis dari adenomiosis uteri ini. Secara teoritis,

terjadinya proses metaplasi jaringan bagian dalam dari myometrium

(the junctional zona) yang secara ontogeni merupakan sisa dari duktus

Muller. Adenomiosis memiliki kaitan yang erat dengan nyeri pelvik,

nyeri haid, perdarahan uterus yang abnormal, deformitas bentuk

uterus, dan infertilitas.

c. Masalah Tuba

Tuba Fallopii memiliki peran yang besar di dalam proses fertilisasi, karena

tuba berperan di dalam proses transpor sperma, kapasitas sperma proses fertilisasi,

dan transport embrio. Adanya kerusakan/kelainan tuba tentu akan berpengaruh

terhadap angka fertilitas. Keiainan tuba yang seringkali dijumpai pada penderita

12
infertilitas adalah sumbatan tuba baik pada pangkal, pada bagian tengah tuba,

maupun pada uiung distal dari tuba. Berdasarkan bentuk dan ukurannya, tuba

yang tersumbat dapat tampil dengan bentuk dan ukuran yang normal, tetapi dapat

pula tampil dalam bentuk hidrosalping. Sumbatan tuba dapat disebabkan oleh

infeksi atau dapat disebabkan oleh endometriosis. Infeksi klamidia trakomatis

memiliki kaitan yang erat dengan terjadinya kerusakan tuba. 3

d. Masalah Ovarium

Ovarium memiliki fungsi sebagai penghasil oosit dan penghasil hormon.

Masalah utama yang terkait dengan fertilitas adalah terkait dengan fungsi ovulasi.

Sindrom ovarium poIikistik merupakan masalah gangguan ovulasi utama yang

seringkali dijumpai pada kasus infertilitas. Saat ini untuk menegakkan diagnosis

sindrom ovarium polikistik iika dijumpai dari tiga gejala di bawah ini. 3

. Terdapat siklus haid oligoovulasi atau anovulasi.

. Terdapat gambaran ovarium polikistik pada pemeriksaan ultrasonografi (USG).

. Terdapat gambaran hiperandrogenisme baik klinis maupun biokimiawi.

Empat puluh sampai tujuh puluh persen kasus sindrom ovarium polikistik

ternyata memiliki kaitan erat dengan kejadian resistensi insulin. Penderita

infertilitas dengan obesitas seringkali menunjukkan gejala sindrom ovarium

polikistik. Masalah gangguan ovulasi yang lain adalah yang terkait dengan

pertumbuhan kista ovarium non-neoplastik ataupun kista ovarium neoplastik.

Kista ovarium yang sering dijumpai pada penderita infertilitas adalah kista

endometrium yang sering dikenal dengan istilah kista cokelat. Kista endometriosis

tidak hanya mengganggu fungsi ovulasi, tetapi juga dapat mempengaruhi fungsi

maturasi oosit.

13
Untuk menilai derajat keparahan endometriosis, saat ini digunakan klasifikasi

berdasarkan revisiAmerican Fertility Sociery (AFS). Pada kista endometriosis

dengan AFS derajat sedang atau berat kejadian infertilitas dapat dikaitkan dengan

kegagalan ovulasi, kegagalan maturasi oosit, dan kegagalan fungsi tuba akibat

deformitas tuba. Tindakan operatif untuk pengangkatan kista ovarium jika tidak

dilakukan dengan hati-hati dapat berakibat meningkatnya kejadian kegagalan

fungsi ovarium, yang akan semakin memperbumk prognosis fertilitasnya.

e. Masalah Peritoneum

Masalah yang sering dikaitkan antara faktor peritoneum dengan infertilitas

adanya faktor endometriosis. Endometriosis dijumpai sebesar 25 - 40% pada

perempuan dengan masalah infertilitas dan dijumpai sebesar 2 - 5% pada populasi

umum. Endometriosis dapat tampil dalam bentuk adanya nodul-nodul saja di

permukaan peritoneum atau berupa jaringan endometriosis yang berinfiltrasi

dalam di bawah lapisan peritoneum. Endometriosis dapat terlihat dengan mudah

dalam bentuk yang khas yaitu nodul hitam, nodul hitam kebiruan, nodul cokelat,

nodul putih, nodul kuning, dan nodul merah yang seringkali dipenuhi pula oleh

sebaran pembuluh darah. Bercak endometriosis juga dapat tampil tersembunyi

tipis di bawah lapisan peritoneum yang dikenal dengan istilah nodul powder burn,

dan ada pula bercak endometriosis yang tertanam dalam di bawah lapisan

peritoneum (deep infiltrating endometriosis). 3

3. Faktor Laki-laki(1-3)

Infertilitas dapat juga disebabkan oleh faktor laki-laki, dan setidaknya sebesar 30-

40% dari infertilitas disebabkan oleh faktor laki-laki, sehingga pemeriksaan pada

laki-laki penting dilakukan sebagai bagian dari pemeriksaan infertilitas.

14
Tabel 2.1. Faktor-faktor yang berhubungan dengan infertilitas laki-laki dan

distribusi persentase pada pasien

2.5 Pemeriksaan Infertilitas

Pemeriksaan dasar merupakan hal yang sangat penting dalam tata laksana

infertilitas. Dengan melakukan pemeriksaan dasar yang baik dan lengkap, maka

terapi dapat diberikan dengan cepat dan tepat, sehingga penderita infertilitas dapat

15
terhindar dari keterlambatan tata laksana.infertilitas yang dapat memperburuk

prognosis dari pasangan suami istri tersebut. 3

2.5.1 Anamnesis

Pada awal pertemuan, penting sekali untuk memperoleh data apakah

pasangan suami istri atau salah satunya memiliki kebiasaan merokok atau minum,

minuman beralkohol. Perlu juga diketahui apakah pasutri atau salah satunya

menjalani terapi khusus seperti antihipertensi, kartikosteroid, dan sitostatika.

Siklus haid merupakan variabel yang sangat penting. Dapat dikatakan siklus haid

normal jika berada dalam kisaran antara 21 - 35 hari. Sebagian besar perempuan

dengan siklus haid yang normal akan menunjukkan siklus haid yang berovulasi.

Untuk mendapatkan rerata siklus haid perlu diperoleh informasi haid dalam kurun

3 - 4 bulan terakhir. Perlu juga diperoleh informasi apakah terdapat keluhan nyeri

haid setiap bulannya dan perlu dikaitkan dengan adanya penurunan aktivitas fisik

saat haid akibat nyeri atau terdapat penggunaan obat penghilang nyeri saat haid

terjadi. Perlu dilakukan anamnesis terkait dengan frekuensi sanggama yang

dilakukan selama ini. Akibat sulitnya menentukan saat ovulasi secara tepat, maka

dianjurkan bagi pasutri untuk melakukan sanggama secara teratur dengan

frekuensi 2 - 3 kali per minggu. Upaya untuk mendeteksi adanya olulasi seperti

pengukuran suhu basal badan dan penilaian kadar luteinizing bormone (LH) di

dalam urin seringkali sulit untuk dilakukan dan sulit untuk diyakini ketepatannya,

sehingga hal ini sebaiknya dihindari saja. 3

2.5.2 Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik yang perlu dilakukan pada pasutri dengan masalah

infertilitas adalah pengukuran tinggi badan, penilaian berat badan, dan

16
pengukuran lingkar pinggang. Penentuan indeks massa tubuh perlu dilakukan

dengan menggunakan formula berat badan (kg) dibagi dengan tinggi badan (m2).

Perempuan dengan indeks massa tubuh (IMT) lebih dari 25kg/m2 termasuk ke

dalam kelompok kriteria berat badan lebih. Hal ini memiliki kaitan erat dengan

sindrom metabolik. IMT yang kurang dari 19 kg/m2 seringkali dikaitkan dengan

penampilan pasien yang terlalu kurus dan perlu dipikirkan adanya penyakit kronis

seperti infeksi tuberkulosis (TBC), kanker, atau masalah kesehatan jiwa seperti

anoreksia nervosa atau bulimia nervosa. Adanya pertumbuhan rambut abnormal

seperti kumis, jenggot, jambang, bulu dada yang lebat, bulu kaki yang lebat dan

sebagainya (hirsutisme) atau pertumbuhan jerawat yang banyak dan tidak normal

pada perempuan, seringkali terkait dengan kondisi hiperandrogenisme, baik klinis

maupun biokimiawi. 3

2.5.3 Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan dasar yang dianjurkan untuk mendeteksi atau mengonfirmasi

adanya ovulasi dalam sebuah siklus haid adalah penilaian kadar progesteron pada

fase luteal madia, yaitu kurang lebih 7 hari sebelum perkiraan datangnya haid.

Adanya ovulasi dapat ditentukan jika kadar progesteron fase luteal madia

dijumpai lebih besar dari 9,4 mg/ml (30 nmol/l). 3

Penilaian kadar progesteron pada fase luteal madia menjadi tidak memiliki

nilai diagnostik yang baik jika terdapat siklus haid yang tidak normal seperti

siklus haid yang jarang (lebih dari 35 hari), atau siklus haid yang terlalu sering

(kurang dari 21 hari). Pemeriksaan kadar thyroid stimulating hormone (TSH) dan

prolactin hanya dilakukan jika terdapat indikasi berupa siklus yang tidak

17
berovulasi, terdapat keluhan galaktore atau terdapat kelainan fisik atau gejala

klinik yang sesuai dengan kelainan pada kelenjar tiroid. 3

Pemeriksaan kadar luteinizing hormone (LH) dan follicles stimulating

hormone (FSH) dilakukan pada fase proliferasi awal (hari 3 - 5) terutama jika

dipertimbangkan terdapat peningkatan LH/FSH pada kasus sindrom ovarium

polikistik (SOPK). Jika dijumpai adanya tanya klinis hiperandrogenisme, seperti

hirsutisme atau akne yang banyak, maka perlu dilakukan pemeriksaan kadar

testosteron atau pemerlksaan free androgen index (FAI), yaitu dengan melakukan

kajian terhadap kadar testosteron yang terikat dengan sex bormone binding

(SHBG) dengan formula FAI= 100 x testosterone total/SHBG. Pada perempuan

kadar FAI normal jika dijumpai lebih rendah dari 7. Pemeriksaan uji

pascasanggama atau postcoital test (PCT) merupakan metode pemeriksaan yang

bertujuan untuk menilai interaksi antara sperma dan lendir serviks. Metode ini

sudah tidak dianjurkan untuk digunakan karena memberikan hasil yang sulit untuk

dipercaya. 3

a. Pemeriksaan Analisis Sperma

Pemeriksaan analisis sperma sangat penting dilakukan pada awal

kunjungan pasutri dengan masalah infertilitas, karena dari berbagai penelitian

menunjukkan bahwa faktor lelaki turut memberikan kontribusi sebesar 40%

terhadap kejadian infertilitas. 3

Beberapa syarat yang harus diperhatikan agar menjamin hasil analisis

sperma yang baik adalah sebagai berikut. 3

o Lakukan abstinensia (pantang sanggama) selama 2 - 3 hari.

18
o Keluarkan sperma dengan cara masturbasi dan hindari dengan cara sanggama

terputus.

o Hindari penggunaan pelumas pada saat masturbasi.

o Hindari penggunaan kondom untuk menampung sperma.

o Gunakan tabung dengan mulut yang lebar sebagai tempat penampungan

sperma.

o Tabung sperma harus dilengkapi dengan nama jelas, tanggal, dan waktu

pengumpulan sperma, metode pengeluaran sperma yang dilakukan (masturbasi

atau sanggama terputus).

o Kirimkan sampel secepat mungkin ke laboratorium sperma. Hindari paparan

temperature yang terlampau tinggi (>38’C) atau terlalu rendah (<15'C) atau

menempelkannya ke tubuh sehingga sesuai dengan suhu tubuh. 3

Kriteria yang digunakan untuk menilai normalitas analisis sperma adalah

kriteria normal berdasarkan kriteria WHO (Tabel 1). Hasil dari analisis sperma

tersebut menggunakan terminologi khusus yang diharapkan dapat menjelaskan

kualitas sperma berdasarkan konsentrasi, mortalitas dan morfologi sperma

(Tabel 2). 3

Tabel 2.2 Nilai normal analisis sperma berdasarkan kriteria WHO

19
Tabel 2.3 Terminologi dan definisi analisis sperma berdasarkan kualitas sperma

Dua atau tiga nilai analisis sperma diperlakukan untuk menegakkan

diagnosis adanya anaiisis sperma yang abnormal. Namun, cukup hanyak

melakukan analisis sperma tunggal jika pada pemeriksaan telah dijumpai hasil

analisis sperma normal, karena pemeriksaan analisis sperma yang ada merupakan

metode pemeriksaan yang sangat sensitif. Untuk mengurangi nilai positif palsu,

maka pemeriksaan analisis sperma yang berulang hanya dilakukan jika

pemeriksaan analisis sperma yang pertarna menunjukkan hasil yang abnormal.

Pemeriksaan analisis sperma kedua dilakukan dalam kurun waktu 2 – 4 minggu. 3

20
b. Uji Pasca Senggama (UPS)

Apabila telah diyakini bahwa analisis spermanya normal, maka UPS bisa

dijadwalkan. Ini akan memperlihatkan apakah semen sudah terpancar dengan baik

ke puncak vagina selama senggama. UPS dilakukan sekitar 2-3 hari sebelum

perkiraan ovulasi. Pasien diminta datang 2-8 jam setelah senggama normal. Getah

servik dihisap dari kanal endoserviks yang pada tahap ini harus banyak dan

bening. Pemeriksaan dilakukan dengan mikroskop. Jika dijumpai 20 sperma per

lapang pandang, harapan untuk kehamilan cukup besar jika 1-20 sperma aktif per

lapang pandang. Uji ini harus dilakukan sekurang-kurangnya pada dua keadaan

yang terpisah, hasil negative bias disebabkan oleh teknik senggama. 4

c. Uji Pakis

Di bawah pengaruh estrogen, getah serviks yang dikeringkan pada obyek

glass akan mengalami kristalisasi dan menghasilkan suatu pola daun pakis yang

cukup khas. Ini terjadi antara hari ke-6 sampai hari ke-22 dari siklus haid dan

kemudian akan dihambat oleh progestron. Hambatan ini biasanya akan tampak

pada hari ke-23 hingga haid berikutnya. Menetapnya pola pakis setelah hari ke-

23 ini menunjukan bahwa ovulasi tidak terjadi. Darah dan semen juga dapat

menghambat pembentukan lukisan pakis itu sehingga hasil yang salah sering

dijumpai pada uji ini. 4

d. Suhu Basal Badan (SBB)

Pada beberapa wanita, SBB meningkat selama fase progesterone dari

siklus haid. Cara ini juga dapat menentukan apakah telah terjadi ovulasi. SBB

diambil setiap hari pada saat terjaga pagi hari, sebelum bangkit dari tempat tidur,

21
ataupun makan dan minum. Nilainya ditandai pada kertas grafik. Jika wanita

ovulasi, grafik akan memperlihatkan pola bifasik yang khas (tipikal). 4

Meskipun grafik bifasik berarti bahwa ovulasi telah terjadi, suatu grafik

monofasik belum memastikan bahwa ovulasi tidak terjadi. SBB bisa dipakai

untuk menentukan kemungkinan hari ovulasi, sehingga senggama bias diarahkan

sekitar saat itu. Dalam praktek penggunaan SBB tidak selalu mudah untuk

dipercaya (seperti umumnya sebagian besar pasien di Negara kita). 4

e. Sitologi vagina atau endoserviks

Epitel dari sepertiga lateral atas dinding vagina memberikan respon yang

ada pada hormon ovarium. Pemeriksaan ini dilakukan secara serial. Sekarang

telah dikembangkan pemeriksaan dari endoserviks pada fase pasca ovulasi dengan

pengambilan tunggal (tanpa serial). Perubahan sitologik dengan melihat indeks

kariopiknotik dapat dipakai untuk menentukan ada tidaknya ovulasi. 4

f. Biopsi Endometrium

Biopsi endometrium bias dilakukan secara poliklinis tanpa anastesi,

dengan memakai sendok kurret kecil tanpa dilatasi serviks. Saat yang tepat adalah

fase sekresi, yaitu 5-7 hari sebelum hari haid berikutnya. 4

g. Laparaskopi

Cara ini memungkinkan visualisasi langsung secara endoskopik baik

ovulasi yang baru saja terjadi dengan adanya bintik ovulasi, maupun adanya

korpus luteum sebagai hasil ovulasi diwaktu yang lebih dini dari siklus itu. 4

22
2.6 Penanganan infertilitas

a. Inseminsi Buatan

Inseminasi adalah suatu teknik untuk membantu spermatozoa pria sampai

pada tempat untuk membuahi sel telur wanita dalam organ reproduksi wanita.

Pada inseminasi, terdapat beberapa tahapan penting yang baik untuk diketahui

oleh setiap pasangan yang akan menjalani teknik tersebut. Antara lain:

a. Pengumpulan sperma pria,

b. Pemisahan spermatozoa dari bahan-bahan lain yang terkandung dalam sperma

(isolasi),

c. Penempatan spermatozoa pada zat tertentu yang dapat menjaga kelangsungan

hidup spermatozoa sementara di luar tubuh pria (medium),

d. Penyuntikan spermatozoa ke dalam rahim wanita (Intrauterine Insemination:

IUI).5

b. Fertilisasi In Vitro (FIV)

Fertilisasi = pembuahan sel telur oleh spermatozoa; In vitro = di luar

tubuh; atau dalam masyarakat dikenal dengan istilah “bayi tabung” merupakan

salah satu jalan keluar bagi pasangan suami istri yang belum memiliki anak. Pada

teknik ini, sel telur matang yang dihasilkan akan dipertemukan dengan

spermatozoa dalam suatu wadah berisi cairan khusus di laboratorium. Cairan yang

digunakan untuk merendam serupa dengan cairan yang terdapat pada tuba wanita

dengan tujuan untuk membuat suasana pertemuan antara sel telur matang dan

spermatozoa senormal mungkin. Dengan demikian, keaktifan gerak spermatozoa

dan kondisi optimal sel telur dapat terjaga. Proses-proses utama dalam fertilisasi

in vitro5:

23
1) Pengambilan sel telur matang dan spermatozoa oleh dokter ahli untuk

kemudian ditempatkan pada sebuah tabung khusus yang steril.

2) Proses fertilisasi sel telur oleh spermatozoa dalam sebuah cawan khusus di

laboratorium. Embrio yang dihasilkan akan ditumbuhkan hingga cukup usia (pada

umumnya 2—3 hari).

3) Embrio yang telah siap (sekitar 2—3 hari pascafertilisasi) ditanamkan kembali

ke dalam rahim sang ibu oleh dokter ahli. Embrio tersebut diharapkan terus

tumbuh dan barkembang hingga menjadi bayi yang pada akhirnya dilahirkan oleh

sang ibu.

c. Intra Cytoplasmic Sperm Injection (ICSI)

ICSI merupakan teknik untuk membantu pembuahan dengan cara

menyuntikan satu sel sperma langsung ke sel telur. Keistimewaan dari teknik ini

adalah jumlah spermatozoa yang dibutuhkan untuk melakukan fertilitas sel telur

di laboratorium hanya satu spermatozoa. Oleh karena itu, teknik tersebut sangat

bermanfaat bagi pria yang hanya memiliki sedikit spermatozoa normal dan aktif. 5

d. Gamete Intrafallopian Transfer (GIFT)

GIFT merupakan teknik untuk membantu pembuahan dengan cara

mengambil sel telur dari ovarium, lalu dipertemukan dengan sel sperma yang

sudah dibersihkan. Dengan menggunakan alat yang bernama laparoscope, sel

telur dan sperma yang sudah dipertemukan tersebut dimasukkan kedalam tuba

falopi melalui irisan kecil di bagian perut wanita melalui operasi laparoskopik.6

e. Zygote Intrafallopian Transfer (ZIFT)

24
ZIFT merupakan teknik pemindahan zigot (sel telur yang telah dibuahi).

Proses ini dilakukan dengan cara mengumpulkan sel telur dari indung telur

seorang wanita lalu dibuahi di luar tubuhnya. Kemudian setelah dibuahi,

dimasukkan kembali ke tuba falopii melalui pembedahan di bagian perut dengan

operasi laparoskopik. Teknik ini merupakan kombinasi antara teknik FIV dan

GIFT. 6

BAB 3

PENUTUP

Infertilitas merupakan masalah yang serius bagi pasangan suami-istri.

Infertilitas dapat dibagi menjadi infertilitas primer dan infertilitas sekunder.

Infertilitas memberikan dampak yang serius bagi pasangan suami istri, mulai dari

dampak medis, ekonomi dan psikologis. Infertilitas dapat terjadi baik oleh karena

faktor istri maupun faktor suami dan dapat juga tidak diketahui penyebabnya

(idiopatik). Oleh sebab itu, dalam menangani kasus infertilitas, pasangan suami

istri harus diperlakukan sebagai satu kesatuan sehingga penyebab infertilitas dapat

diketahui. Baik suami dan istri harus sama-sama bekerja sama dan diperiksa untuk

25
mengetahui apakah ada kelainan yang menyebabkan infertilitas. Penatalaksanaan

infertilitas dapat dilakukan sesuai dengan temuan penyebab infertilitasnya, apakah

faktor istri atau suami.

26
DAFTAR PUSTAKA

1. Khaidir M. Penilaian tingkat fertilitas dan penatalaksanaannya pada pria.

Jurnal Kesehatan Masyarakat. 2006;I(1):30-4.

2. Oktarina A, Abadi A, Bachsin R. Faktor-faktor yang Memengaruhi

Infertilitas pada Wanita di Klinik Fertilitas Endokrinologi Reproduksi.

MKS. 2014;46(4):295-300.

3. Anwar M, Baziad A, Prabowo P. Ilmu Kandungan (edisi ketiga). Jakarta:

PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo; 2011.

4. Widyastuti Y. Kesehatan Reproduksi. Yogyakarta: Fitramaya; 2009.

5. Djuwantono T. Hanya 7 hari Memahami Infertilitas. Bandung: PT Refika

Aditama; 2008.

6. Reeder. Keperawatan Maternitas. Jakarta: EGC; 2012.

27