Anda di halaman 1dari 6

TUGAS FARMAKOEKONOMI

‘COST-BENEFIT ANALYSIS AND ASSESSMENT OF QUALITY OF


CARE IN PATIENTS WITH HEMOPHILIA UNDERGOING
TREATMENT AT NATIONAL RURAL HEALTH MISSION IN
MAHARASHTRA, INDIA’
PriyankaSingh, BHMS, Msc, MPH, Kanchan Mukherjee, MBBS, MSc, MD

OLEH :
Kelompok : 9
1. Nadia Mifta Hurohmah (141501057)
2. Icha Nanda Saraswati TB (141501058)
3. Maria Ros Videlis Sitinjak (141501059)
4. Rikky Permadi (141501060)
5. Steven Tandiono (141501061)
6. Marselina Purnama Sari (141501062)

Kelas: VII A

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2018
RINGKASAN JURNAL

Latar Belakang
Hemofilia adalah suatu kelainan genetic dengan beban perawatan
kesehatan yang tinggi. Di India, kebanyakan pasien penderita hemophilia mencari
perawatan melalui biaya sendiri dan menghabiskan pengeluaran yang besar. Pada
Maret 2013, pemerintah India menerapkan program hematologi melalui Misi
Kesehatan Nasional di Pedesaan untuk menyediakan pelayanan kesehatan secara
gratis kepada pasien hemophilia di Maharashtra.

Tujuan
Untuk memperkirakan benefit-cost ratio program dari perspektif pasien,
untuk memperkirakan pengurangan pengeluaran pasien dan keluarganya, dan
untuk menilai kualitas pelayanan yang diberikan dan hambatan untuk mengakses
pelayanan diantara pasien dengan hemophilia.

Metode
Studi cross-sectional ini mengevaluasi intervensi pelayanan gratis ke
pasien hemophilia di empat rumah sakit sipil kabupaten Maharashtra. Sampel
studi mencakup 232 pasien hemophilia (193 orang dengan hemophilia A, 31
orang dengan hemophilia B, 6 orang dengan penyakit von Willebrand dan 2
lainnya) dibawah empat kelompok studi selama periode studi 1 tahun. Cost-
benefit analysis dilakukan untuk pasien yang menjalani pengobatan di rumah sakit
pemerintah dan melalui organisasi non pemerintah.

Hasil
Benefit-cost ratio untuk program pemerintah adalah 1.89. Ada
pengurangan pengeluaran pasien sebanyak 21% per pasien per tahun untuk
keluarga. Sekitar 98% pasien sangat puas dengan pelayanan, dimana hambatan
terbesar untuk mengakses pelayanan adalah kesulitan dalam bolak balik selama
episode perdarahan aktif.
Kesimpulan
Intervensi pemerintah melalui misi kesehatan nasional di pedesaan adalah
cost benefit terhadap pasien hemophilia. Program ini membantu mengurnagi
pengeluaran out-of-pocket sebesar 21%.

INTERPRETASI JURNAL

Ada 4 tujuan utama dari studi ini: (1) untuk memperkirakan benefit-cost
ratio (BCR) dari program yang didanai pemerintah dari perspektif pasien. (2)
untuk menilai dampak yang menguntungkan dari program pada pasien hemophilia
dan keluarganya dalam hal pengurangan pengeluaran OOP. (3) untuk
membandingkan biaya pengobatan yang dikeluarkan oleh pasien sendiri ketika
mencari pengobatan dari NGO (organisasi non pemerintah) atau menggunakan
CAM (pengobatan komplementer dan alternative) dengan pengeluaran dari pasien
yang menerima pengobatan dari rumah sakit pemerintah. (4) untuk menilai
kualitas pelayanan dan hambatan untuk mengakses pasien hemofilik yang diobati
di rumah sakit pemerintah.
Adapun sampel studi mencakup 232 pasien hemophilia (193 hemofilia A,
31 hemofilia B, 6 penyakit von Willebrand, 1 kekurangan factor II, 1 kekurangan
factor XIII). Pasien-pasien ini kemudian dibagikan kedalam 4 kelompok studi
berdasarkan skema dibawah ini:

Pasien pada kelompok studi 1 dan 2 digunakan untuk cohort untuk tujuan
studi (1). Pasien pada kelompok studi 2 dan 4 digunakan untuk cohort untuk
tujuan studi (2). Untuk tujuan studi (3) dievaluasi dengan semua kelompok studi.
Untuk tujuan studi (4), menggunakan data 145 pasien yang menjalani pengobatan
di rumah sakit pemerintah.
Kalkulasi biaya dari keempat kelompok studi mencakup direct cost dari
factor concentrate, biaya pengeluaran kertas di rumah sakit sipil, biaya
menanamkan factor concentrate secara pribadi oleh perawat/dokter, dan biaya
pengobatan homeophatic untuk kelompok studi 3. Indirect cost mencakup biaya
transport, kehilangan gaji bagi pasien dan penjaga pasien, dan dalam kasus
penjaga pasien yang tidak bekerja, terutama ibu rumah tangga, kehilangan waktu
bagi ibu rumah tangga melakukan caregiving dikonversikan kedalam nilai
moneter. Sedangkan benefit diukur melalui biaya yang terselamatkan dalam factor
concentrate oleh pasien dan keluarga selama 1 tahun.
Direct dan indirect cost pada kelompok studi 1, 2 dan 3 dapat dilihat pada
tabel dibawah ini:

Pada tujuan studi (1) yang menghitung benefit-cost ratio atau BCR maka
digunakan data dari kelompok studi 1 dan 2. Untuk data benefit dari kelompok
studi 1 dan 2 dapat dilihat dari gambar dibawah ini:

Dari data tabel 1 dan 2 maka dapat diperoleh data untuk tabel 3 sebagai
berikut:
Kemudian dari data tabel 3 dapat dihitung nilai BCR sebagai berikut:

Sehingga berdasarkan perhitungan antara kelompok studi yang menerima


pengobatan di rumah sakit non pemerintah dibandingkan dengan kelompok studi
yang menerima pengobatan di rumah sakit sipil/ pemerintah diperoleh nilai BCR
sebesar 1.89 yang berarti bahwa program pemerintah dalam memberikan
pelayanan gratis kepada pasien hemophilia di Maharashtra India memberikan
benefit dibandingkan dengan tanpa program tersebut, sehingga program tersebut
direkomendasikan untuk dilaksanakan dengan nilai BCR diatas 1.

Berdasarkan cost benefit plane dapat dilihat bahwa pada kelompok studi
1 (Study arm 1) termasuk kedalam kuadran III dengan less benefit but more cost
jika dibandingkan dengan study arm 2 yang lebih less cost but more benefit
(lihat data C1 dan C2 serta B1 dan B2 pada tabel 3 diatas).
Pada tujuan studi (2) untuk menilai dampak yang menguntungkan dari
program pada pasien hemophilia dan keluarganya dalam hal pengurangan
pengeluaran OOP dapat dilihat pada tabel 4 dibawah ini:
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa program NRHM (National Rural
Health Mission) mampu mengurangi pengeluaran OOP (Out-of-Pocket) per
pasien sebesar 44,569 Rupee untuk periode studi 1 tahun. Jika tidak ada program,
maka pasien harus membayar sendiri jumlah tersebut untuk menjalani
pengobatan.
Pada tujuan studi (3) untuk membandingkan biaya pengobatan yang
dikeluarkan oleh pasien sendiri ketika mencari pengobatan dari NGO (organisasi
non pemerintah) atau menggunakan CAM (pengobatan komplementer dan
alternative) dengan pengeluaran dari pasien yang menerima pengobatan dari
rumah sakit pemerintah, dapat dilihat dari data tabel 1 bahwa biaya pengobatan
pada pasien yang paling murah adalah pada study arm 2 (pasien yang menjalani
pengobatan di rumah sakit sipil/pemerintah) sedangkan yang paling mahal adalah
pada study arm 1 (pasien yang menjalani pengobatan di rumah sakit non
pemerintah) dengan perincian peringkat adalah C2 < C3 < C1.
Pada tujuan studi (4) untuk menilai kualitas pelayanan dan hambatan
untuk mengakses pasien hemofilik yang diobati di rumah sakit pemerintah,
diperoleh hasil bahwa kualitas pelayanan yang diberikan kepada pasien
memberikan kepuasan kepada kebanyakan pasien. Pasien dan keluarga
mengatakan bahwa jarak dari rumah ke pusat pelayanan sebagai hambatan dalam
menjalani perawatan karena menjadi sulit untuk bolak-balik pada waktu
perdarahan aktif.