Anda di halaman 1dari 15

SANITARY LANDFILL DAN OPEN DUMPING

MAKALAH

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Rekayasa Lingkungan yang diampu oleh:

Dr. Rina Marina, M.P.

Oleh :

Faradila Aprilia Jatnika (1600870)

Naufal Ariq P (1601363)

Clarin Sabita H (1604285)

Irsan Nurdiyansyah (1605954)

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL


DEPARTEMEN PENDIDIKAN TEKNIK SIPIL
FAKULTAS PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN KEJURUAN
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2018

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah swt. Karena berkat rahmat dan hidayah-Nya
penulis telah mampu menyelesaikan makalah tentang "Sanitary Landfill dan Open Dumping”.
Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Rekayasa Lingkungan.
Penulis menyadari bahwa selama penulisan makalah ini kami banyak mendapatkan
bantuan dari berbagai pihak. Penulis mengucapkan terimakasih kepada Ibu Dr. Dra. Rina Marina
Masri, M.P selaku dosen mata kuliah yang telah memberikan kepercayaan kepada penulis untuk
menangani tugas ini dan seluruh pihak terkait lainnya.
Makalah ini bukanlah karya yang sempurna karena masih memiliki banyak kekurangan,
baik dalam hal isi maupun sistematika dan teknik penulisannya. Oleh sebab itu, penulis sangat
mengharapkan saran dan kritik yang membangun demi kesempurnaan makalah ini.

Bandung, Mei 2018

Tim Penulis

2
DAFTAR ISI

Kata Pengantar..............................................................................................................................i

Daftar Isi.......................................................................................................................................ii

BAB 1 Pendahuluan.....................................................................................................................1

BAB 2 Pembahasan......................................................................................................................3

BAB 3 Penutup.............................................................................................................................11

Daftar Pustaka..............................................................................................................................12

3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) tidak dapat begitu saja
ditimbun, dibakar atau dibuang ke lingkungan, karena mengandung bahan yang dapat
membahayakan manusia dan makhluk hidup lain.

Terdapat dua cara penimbunan sampah yang umum dikenal, yaitu metode penimbunan
terbuka (open dumping) dan metode sanitary landfill. Pada metode penimbunan terbuka,
sampah dikumpulkan dan ditimbun begitu saja dalam lubang yang dibuat pada suatu lahan,
biasanya dilokasi tempat pembuangan akhir (TPA). Gas metan yang dihasilkan oleh pembusukan
sampah organic dapat menyebar ke udara sekitar dan menimbulkan bau busuk serta mudah
terbakar. Cairan yang tercampur dengan sampah dapat merembes ke tanah dan mencemari tanah
serta air.
Berbagai permasalahan yang ditimbulkan oleh metode open dumping menyebabkan
dikembangkan metode penimbunan sampah yang lebih baik, yaitu sanitary landfill. Pada landfill
yang lebih medrn lagi, biasanya dibuat system lapisan ganda (plastic – lempung – plastic –
lempung) dan pipa-pipa saluran untuk mengumpulkan cairan serta gas metan yang terbentuk dari
proses pembusukan sampah. Gas tersebut kemudian dapat digunakan untuk menghasilkan listrik.
Kelemahan utama penanganan sampah dengan cara penimbunan adalah cara ini
menghabiskan lahan. Sampah akan terus terproduksi sementara lahan untuk penimbunan akan
semakin berkurang, meskipun telah menggunakan sanitary landfill, masih ada kemungkinan
terjadi kebocoran lapisan sehingga zat-zat berbahaya dapat merembes dan mencemari tanah serta
air.

4
1.2 Rumusan Masalah

1. Apa itu Sanitary Landfill?


2. Bagaimana proses Sanitary Landfill?
3. Apa yang dimaksud dengan Open Dumping?
4. Bagaimana proses Open Dumping?

1.3 Tujuan Masalah

1. Mengetahui tentang Sanitary Landfill


2. Mengetahui proses Sanitary Landfill
3. Mengetahui tentang Open Dumping
4. Mengetahui proses Open Dumping

5
BAB II

PEMBAHASAN
2.1 Sanitary Landfill

Sanitary Landfill (Lahan Urug) adalah sistem pengelolaan (pemusnahan) sampah dengan
cara membuang dan menumpuk sampah di lokasi cekung, memadatkannya, dan kemudian
menimbunnya dengan tanah.

1. Sampah dimasukkan ke dalam lubang, dipadatkan (compacted), dan ditutup dengan tanah
2. Mengurangi jumlah tikus, lalat, dan vermin lain.
3. Mengurangi bau
4. Mengurangi bahaya pencemaran air permukaan dan air tanah
5. Mengurangi bahaya kebakaran
6. Sistem baru dilengkapi dengan pengumpul air lindi (leachate) dan gas yang dihasilkan selama
dekomposisi.

2.1.1. Pemilihan Lokasi Lahan Urug

Pemilihan Lokasi Lahan Urug, di antaranya :

▧ Lahan bukan merupakan daerah banjir

▧ Permeabilitas tanah maksimum 10-7 cm/detik

▧ Sesuai dengan rencana tata ruang

▧ Merupakan daerah yang stabil secara geologi

▧ Bukan merupakan daerah resapan air tanah

▧ Ketebalan lapisan tanah liat minimum 1 meter

2.1.2. Rekayasa dan Konstruksi

Rekayasa dan Konstruksi

6
▧ Sistem pelapisan

▧ Sistem pengaturan aliran air permukaan

▧ Sistem pengumpulan air lindi

▧ Sistem pengolahan air lindi

▧ Sistem sumur pemantauan

2.1.3. Elemen Sanitary Landfill

Elemen Sanitary Landfill

▧ Lining System

▧ Leachate Collection System

▧ Cover / Cap System

▧ Gas Ventilation System

▧ Monitoring System

7
Gambar 1.Sistem Sanitary Landfill

2.1.4. Permasalahan beserta Manajemen Pasca Operasa

Permasalahan Lahan Urug

▧ Gas Metana

Dapat terkumpul di dalam tanah dan menyebabkan terjadinya ledakan

▧ Air Lindi

Kontaminasi air permukaan dan air tanah oleh air lindi dari lahan urug yang tidak dilengkapi
dengan sistem saluran yang baik

▧ Waktu Operasi

8
Lahan urug bukanlah cara penanganan sampah untuk jangka panjang karena ada saatnya lahan
urug akan terisi penuh oleh sampah, dan tidak ada tempat lain untuk digunakan sebagai lahan
urug baru

▧ PascaOperasi

Pengawasan harus tetap dilakukan untuk mencegah kontaminasi air permukaan dan air tanah
serta bahaya ledakan. Rumah atau bangunan lain tidak boleh dibangun di atas lahan dan sekitar
lahan urug untuk jangka waktu yang lama. Namun, lahan urug tetap diperlukan untuk menimbun
sampah atau limbah yang tidak dapat dibakar atau yang tidak dapat digunakan lagi

ManajemenPascaOperasi :

1. Monitoring
2. Securing

2.1.5. Kelebihan dan Kekurangannya

Kelebihan :

▧ Murah : tidak memerlukan investasi besar dalam bentuk peralatan. Pengelolaan hanya
memerlukan lahan yang luas dan jauh dari pemukiman selain peralatan operasional

▧ Dapat menampung berbagai jenis sampah

▧ Dapat dipersiapkan dalam waktu yang singkat

▧ Dapat dirubah menjadi penghasil energi listrik karena sampah akan mengeluarkan gas metana
yang bisa dijadikan bahan bakar penggerak turbin

▧ Mengurangi polusi udara karena sampah-sampah tersebut berada di dalam tanah

Kekurangan :

▧ Pencemaran air : sampah-sampah , terutama bahan organik atau kimia sering menghasilkan
cairan yang dapat merembes ke dalam tanah dan bisa mencemari tanah dan air.

9
▧ Gas metana yang keluar dari proses pembusukan sampah, jika tidak dialirkan dapat
menimbulkan bahaya ledakan seperti pernah terjadi di TPA Leuwigajah beberapa tahun yang lalu
yang menimbulkan korban jiwa

▧ Membutuhkan lahan yang luas dan hal ini sulit tersedia di kota-kota yang sudah padat
penduduknya

▧ Mendapat tentangan dari warga : masalah sosial yang timbul karena lokasi TPA yang dulunya
jauh dari lokasi peukiman menjadi dekat akibat berkembangnya pemukiman penduduk

▧ Butuh biaya transportasi yang mahal dan juga menghasilkan polusi udara

2.1.6. PengoperasianbesertaKeadaanTanahnya

Pengoperasian Lahan Urug

 Manajemen Air Lindi


 Manajemen Air Tanah
 Manajemen Air Permukaan

Macam-macam Keadaan Tanah

Ada bermacam-macam keadaan tanah yang dapat menampung sampah. Cara-cara


pengurungan bermacam-macam dan penggunaan tanah yang telah terurug oleh sampah
bermacam-macam pula, di antaranya ialah :

1. Pengurugan tanah rendah dekat pantai

Tanah-tanah dekat pantai yang rendah cukup banyak dan ini biasanya tergenang oleh air,
sehingga merupakan sarang bertelurnya nyamuk. Kalau tanah ini diurug maka keuntunganny aja
diberlipat. Keberatannya ialah tanah-tanah ini terletak jauh dari tempat permukiman dan jalan
menuju tanah-tanah tersebut mungkin tak ada kalau ada kurang sesuai, sehingga perlu dibuat
rencana jalan dulu. Keberatan lain ialah tanah yang selalu tergenang air bila ditimbun dengan
sampah, sampahnya akan segera membusuk dan menyebarkan bau yang menusuk hidung. Untuk
menghindari ini sebagian dari tanah tersebut dikeringkan dulu dan setelah penuh pindah kebagian
lainnya. Sampah mula-mula dilempar di tepi kemudian berangsur-angsur maju kedalam.

10
Bersamaan dengan pekerjaan penimbunan sampah, sampah yang sudah didropter dahulu
segera berangsur-angsur pula ditimbun dengan lapisan tanah agar tidak dikerumuni lalat dan
pembusukan pun lebih sempurna. Sebaiknya sampah dari kaleng digepengkan dahulu dan botol-
botol dipecahkan.

2. Pengurangan tanah daerah pegunungan


Di sekitar kota-kota pedalaman, seperti bandung, banyak terdapat tanah rendah yang
membentuk sebuah wadah, sehingga bila dipergunakan tempat pembuangan sampah dari kota
merupakan tempah yang baik. Akan tetapi untuk menentukan tempat yang baik ini ada syarat-
syaratnya:
a) Letak di luar kota, tetapi tidak terlalu jauh, yaitu antara 5-15 km
b) Letak tidak kurang dari 5 km dari tempat permukaan (desa atau kampung)
c) Dekat dengan jalan umum, sehingga menuju tempat penimbunan sampah tidak usah membuat
jalan sendiri atau bila harus membuat jalan sendiri tidak terlalu panjang (± 5 km)
d) Lokasi penimbunan sampah tidak dibatasi oleh sungai-sungai atau badan-badan air lainnya,
sebab dikhawatirkan dengan sengaja atau tidak sampah masuk kebadan air tersebut.
e) Tanah harus betul-betul rendah jangan datar atau sama datar dengan jalan masuk, sebab
sampah yang telah ditimbun dan diratakan harus diurug dengan tanah (sanitary landfill). Kalau
keadaan tanahnya datar terpaksa harus digali dahulu dan tanah ini kemudian untuk mengurug
kembali. Menggali tanah ini biayanya cukup tinggi. Karena itu bila tanah semakin rendah
(legok) semakin baik. Karena dapat memuat banyak sampah tetapi tanah untuk keperluan
mengurug sedikit.
f) Tanah untuk keperluan mengurug lebih baik diambil dari tanah perbukitan sekitarnya, tempat
penggalian dan pemindahan tanah ini untuk mengurug lebih mudah dan sekaligus
mendatarkan seluruh area.

Sampah yang sudahditimbun di tempat penimbunan terakhir ini janganlah dibiarkan begitu
saja. Sebab proses pembusukan akan lebih lama, menarik banyak lalat dan binatang-
binatanglainnya, pandangan yang tidak sedap dan menyebarkan bau busuk. Sekurang-kurangnya
prinsip sanitary landfill harus dipenuhi.
Prinsip dari sanitary landfill (pengurugan tanah dengan sampah secara sehat) ialah sampah
yang telah ditimbun kemudian segera diurug dengan lapisan tanah padat setebal 30 cm.
Pengurugan sampai padat perlu karena lalat akan bertelur disini. Telur menjadi tempayak,
tempayak menembus tanah urugan dan lapisan sampah tampayakan jadi kepompong dan sebagai
lalat muda akan keluar.

11
Jadi tanah urug betul-betul padat dan minimum tebal 30 cm agar tempayak tak dapat
menembus lapisan tanah urug. Tanah yang sudah datar dari hasil sanitary landfill dapat
dipergunakan untuk:
a) Lapangan olah raga
b) Taman-taman
c) Perkebunan
d) Pembuatan jalan-jalan setapak
e) Menutup rawa-rawa
f) Dan lain-lain, tetapi harap diperhatikan tanah lapangan tersebut jangan untuk tanah bangunan

2.2 Open Dumping

Open Dumping adalah sistem pembuangan sampah terbuka di tanah rendah/TPA yang hanya
dibiarkan menggunung tanpa ada upaya pengolahan lebih lanjut. Besarnya timbunan sampah RT
untuk kota-kota di Indonesia berkisar antara 1.75-2.5 liter/orang/hari atau sekitar 0.25-0.4
kg/orang/hari.

2.2.1. Konsep Pengelolaan Sampah

Hierarki Pengelolaan Sampah, ditetapkan untuk mengidentifikasi elemen kunci dalam


pengelolaan persampahan. Konsep pengelolaan adalah :

1. Reduction yaitu pencegahan dan design ulang produk atau melakukan perubahan pola
konsumsi dan penggunaan produk.

2. Refuse adalah penggunaan produk lebih dari satu kali untuk tujuan penggunaan yang sama
seperti penggunaan ulang botol minuman.

3. Resource Recovery yaitu pemulihan material dan energi, antara lain melalui :

a.) Recycling yaitu pengumpulan, pemrosesan ulang untuk diolah dan digunakan kembali.

b.) Composting yaitu dekomposisi biologis sampah organic dalam kondisi aerobik.

c.) Energy Recovery yaitu konversi energi, pembuatan biogas, penggunaan pembakaran
sampah untuk menghasilkan energi.

4. Landfilling yaitu pembuangan sisa sampah dengan penimbunan yang tidak membahayakan
kesehatan manusia dan lingkungan.

12
2.2.2. Dampak-Dampakdari Open Dumping

Dampak Bagi Lingkungan

▧ Lindi merupakan limbah cair yang berasal dari sampah basah atau sampah organik yang
terkena air hujan. Jika lindi tersebut tidak ditata dengan baik, maka dapat menyebar ke dalam
tanah dan masuk ke aquifer air tanah yang dapat menyebabkan pencemaran air tanah

▧ Penyumbatan badan air.

▧ Cairan yang dihasilkan akibat proses penguraian (leachate) dapat mencemari sumber air.

▧ Lahan yang luas akan tertutup oleh sampah dan tidak dapat digunakan untuk tujuan lain.

▧ Gas yang dihasilkan dalam proses penguraian akan terperangkap di dalam tumpukan sampah
dapat menimbulkan ledakan jika mencapai kadar dan tekanan tertentu.

▧ Sungai dan pipa air minum mungkin teracuni karena bereaksi dengan zat-zat atau polutan
sampah.

Dampak Bagi Manusia

▧ Lindi mengandung zat-zat berbahaya bagi tubuh seperti adanya kandungan Hg (merkuri atau
air raksa), H2S (Hidrogen Sulfide), tergantung jenis sampah yang dibuang di TPA tersebut.

▧ Merupakan sumber dan tempat perkembangbiakan organisme penyebar penyakit.

13
BAB III

PENUTUP
3.1 Kesimpulan

Sanitary Landfill (LahanUrug) adalah sistem pengelolaan (pemusnahan) sampah dengan


cara membuang dan menumpuk sampah di lokasi cekung, memadatkannya, dan kemudian
menimbunnya dengan tanah. Sementara, Open Dumping adalah system pembuangan sampah
terbuka di tanah rendah/TPA yang hanya dibiarkan menggunung tanpa ada upaya pengolahan
lebih lanjut. Besarnya timbunan sampah RT untuk kota-kota di Indonesia berkisar antara 1.75-2.5
liter/orang/hari atau sekitar 0.25-0.4 kg/orang/hari.

3.2 Saran

Ketika menggunakan sanitary landfill sebaiknya hati-hati karena sanitary landfills


mempunyai kelemahannya yaitu :
 Biaya operasi tinggi
 Mungkin mengalami kebocoran
 Bukan solusi jangka panjang karena limbah terus menump

14
DAFTAR PUSTAKA

Masri, Rina Marina dan Iskandar Muda P. 2018. Rekayasa Lingkungan. Bandung : FPTK UPI

15