Anda di halaman 1dari 46

(QUIZ dan Forum Pertemuan 2)

NAMA : Gunawan Adam

NIM : 55117120041

KODE MK : 35040

DOSEN : Prof. Dr. Ir. H. Hapzi Ali, Pre-MSc, MM, CMA

PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS MERCU BUANA

JAKARTA

2018
Executive Summary

1. PERSONAL ETHICS AND BUSINESS ETHICS

Personal Ethics

Personal ethics (Etika Pribadi) Menyangkut kewajiban dan perilaku manusia


terhadap diri sendiri untuk mencapai kesucian kehidupan pribadi, kebersihan hati
nurani dan yang berakhlak luhur. Perlu diperhatikan bahwa etika individual dan
etika sosial tidak dapat dipisahkan satu sama lain dengan tajam, karena
kewajiban manusia terhadap diri sendiri dan sebagai anggota umat manusia
saling berkaitan.Contoh etika pribadi seperti seseorang yang berhasil dalam
bidang usaha (wiraswasta) dan menjadi sesseorang yang kaya raya (jutawan). Ia
disibukan dengan usahanya sehingga lupa akan dirinya untuk keperluan hal-hal
yang tidak terpuji dimata masyarakat (mabuk-mabukan, suka menggangu
ketentraman keluarga, dan orang lain). Dari segi usaha, memang ia berhasil
memperkembangkan usahanya sehingga ia menjadi jutawan,tetapi ia tidak
berhasil (gagal) dalam mengembangkan etika pribadinya

Etika individual ini adalah etika yang berkaitan dengan kewajiban dan
sikap manusia terhadap dirinya sendiri, misalnya:
1). Memelihara kesehatan dan kesucian lahiriah dan batiniah;
2). Memelihara kerapian diri, kamar, tempat tingggal, dan lainnya;
3). Berlaku tenang;
4). Meningkatkan ilmu pengetahuan;
5). Membina kedisiplinan dan lainnya.

Disamping itu dalam hubungannya dengan Allah SWT, manusia memiliki


beberapa kewajiban antara lain:
1). Beriman;
2). Taat;
3). Ikhlas;
4). Tawadhu’ dan khusuk;
5). Berdo’a dan berpengharapan/optimis;
6). Baik sangka;
7). Tawakal;
8). Bersyukur;
9). Qana’ah;
10). Malu/alhaya’u;
11). Bertobat, istighfar

Business Ethick

Etika bisnis yang lahir di Amerika Serikat sekitar tahun 1970-an dan
menjadi isu utama yang mengglobal sejak tahun 1990-an, selanjutnya menjadi
isu yang ramai di bicarakan oleh berbagai kalangan masyarakat. Pada awalnya
hanya kalangan ahli agama dan filsafat saja yang fokus dengan etika ini, Itu pun
masih pada hal-hal yang bersifat makro dan universal. Dewasa ini isu dan topik
etika bisnis menjadi hangat dibicarakan mulai dari masyarakat awam,
pemerintah, praktisi (manajer, konsultan dan investor), para akademisi dari
berbagai disiplin ilmu, lembaga swadaya, sampai kepada para politisi. Walaupun
dibahas oleh banyak kalangan dan diamini oleh para pelaku bisnis, namun etika
juga terlihat masih sangat langka diterapkan secara sepenuh hati. Bagi
pemerintah dan negara Amerika sebagai pelopor etika bisnis, mengakui bahwa
etika bisnis adalah sebagai suatu tanggapan tepat atas krisis moral yang meliputi
dunia bisnis mereka. Ironisnya justru Amerika yang paling gigih menolak
kesepakatan Bali pada pertemuan negara-negara dunia tahun 2007. Ketika
sebagian besar negara-negara peserta mempermasalahkan etika industri
negara-negara maju yang menjadi sumber penyebab global warning, Amerika
menolaknya. (Eldine, Achyar: 2008).

Sebagai cabang dari filsafat etika, maka etika bisnis tidak lain merupakan
penerapan prinsip-prinsip etika dengan pendekatan filsafat dalam kegiatan dan
program bisnis. Karenanya semua teori tentang etika dapat dimanfaatkan untuk
membahas tentang etika bisnis. Aspek yang dominan
dari semua kata etika bisnis bermuara pada perilaku bermoral dalam
kegiatan bisnis.

Etika dalam arti sebenarnya dianggap sebagai acuan yang menyatakan


apakah tindakan, aktivitas atau perilaku individu bisa dianggap baik atau tidak.
Karenanya etika bisnis sudah tentu mengacu dan akan berbicara mengenai
masalah baik atau tidak baiknya suatu aktivitas bisnis. Dalam etika bisnis akan
diuji peran-peran dan prinsip etika dalam konteks komersial/bisnis (Rudito dan
Famiola, 2007: 4). Moral selalu berkaitan dengan tindakan manusia yang baik
dan yang buruk sesuai dengan ukuran-ukuran yang diterima umum dalam suatu
lingkungan sosial tertentu. Dalam hal ini ukuran baik dan buruk manusia adalah
manusia bukan sebagai pelaku peran tertentu, dengan menggunakan norma
moral, bukan sopan santun atau norma hukum (Sumodiningrat dan Agustian,
2008: 58)

Moralitas adalah khas manusia dan karenanya moralitas merupakan


dimensi nyata dalam hidup manusia, baik perorangan maupun sosial
(masyarakat).Tanpa moralitas dalam menjalan usaha bisnis maka kehidupan
bisnis menjadi chaos, tiada keteraturan dan ketenteraman dan pada giliran-nya
dunia bisnis menjadi sadis dan saling mematikan.
Mengacu kepada batasan etika dari berbagai pandangan ahli yang telah
dikemukakan, maka peran etika bisnis adalah membahas dan menunjuk
alternatif pemecahan masalah bisnis yang berlandaskan nilai-nilai moralitas
dalam suatu kegiatan bisnis. Landasan yang digunakan dalam hal ini adalah
prinsip-prinsip, nilai dan norma-moral yang terwujud dalam sikap dan perangai
(akhlak) para pelaku bisnis dalam penyelenggaraan usaha bisnisnya dengan
menjunjung tinggi partisipan bisnisnya.

Penelitian yang dilakukan Mauro et al. (1999) tentang etika bisnis dan
pengambilan keputusan perusahaan menggunakan definisi etika dan etika bisnis
yang dikembangkan oleh Walton. Menurut Walton (1977 dalam Mauro, 1999):

Ethics. A critical analysis of human acts to determine their tightness or


wrongness in terms of two major: truth and justice Business ethics. A range of
criteria whereby human actions are judge to include such things as societal
expectations: fair competition; the aesthetics or advertising and the used public
relations; the meaning of social
responsibilities; reconciling corporate behavior at home with behavior
abroad; the extent of consumer sovereignty; the relevance of corporate size; the
handling communications, and the like

Maksudnya, etika merupakan analisis kritis tentang tindakan manusia


untuk menentukan kebenarannya atau kesalahannya dalam kerangka 2 kriteria
utama: kebenaran dan keadilan. Sementara etika bisnis merupakan sekumpulan
kriteria di mana tindakan manusia di nilai berdasarkan harapan masyarakat.
Hasil penelitian Mouro (1999) menemukan bahwa “that personal and business
ethics are not separate entities, that they coexist in the behavior of managers
within the corporation, is supported in the current literature“. Maksudnya adalah
etika personal dan etika bisnis merupakan kesatuan yang tidak terpisahkan dan
keberadaannya saling melengkapi dalam mempengaruhi perilaku manajer.
Banyak literatur terbaru yang mendukung perayataan dan hasil penelitian Mauro
ini. Bagi mereka yang tidak mempunyai etika dalam berbisnis adalah mereka
yang hanya tergiur dengan keuntungan jangka pendek. Mereka yang menjadikan
keuntungan sebagai satu-satunya tujuan bisa menyebabkan perusahaan
menghalalkan segala macam cara untuk mengejar keuntungannya. Akibatnya
merekapun sering mengabaikan nilai-nilai etika bisnis. Bisnispun dijalankan
secara tidak jujur, tidak adil, melanggar kewajaran, penuh mark-up.

Pada Seminar Manajemen Profetik (Profesional Etik) yang


diselenggarakan Universitas Paramadina Mulya (1999), Nurcholis Madjid
menyimpulkan bahwa etika subjektif seseorang akan terefleksikan dalam
aktivitas bisnisnya. Dengan kata lain etika bisnis seseorang merupakan
perpanjangan moda-moda tingkah lakunya atau tindakan-tindakan konstan, yang
membentuk keseluruhan citra diri atau akhlak orang itu. Hal ini didukung dengan
pernyataan Fritzche (1995) yang mengatakan bahwa:

Tampak tidak ada pemisahan antara etika bisnis dengan etika sehari-hari.
Dengan kata lain kita berketetapan bahwa tidak mungkin kita etis dalam
berbisnis dan tidak etis dalam hal yang lainnya, atau sebaliknya. Secara
sedeerhan etika adalah sesuatu yang tidak terpisahkan dari individu, hal ini tidak
dapat berubah pada setiap kesempatan. Pada tingkat praktis, ini memunculkan
tiga pernyataan dasar. Pertama, orang yang etis harus menghormati orang lain.
Kedua, etika itu dipelajari, tidak muncul secara langsung dari lahir. Ketiga, akar
dari semua hubungan etik yang sebenarnya adalah kehidupan spiritual dari
Islam, Kristen, Budha, Hindu ataupun yang tidak beragama sekalipun.

Etika bisnis merupakan salah satu bagian dari prinsip etika yang
diterapkan dalam dunia bisnis (Lozano, 1996). Istilah etika bisnis mengan-dung
pengertian bahwa etika bisnis merupakan sebuah rentang aplikasi etika yang
khusus mempelajari tindakan yang diambil oleh bisnis dan pelaku bisnis. Epstein
(1989) menyatakan etika bisnis sebagai sebuah perspektif analisis etika di dalam
bisnis yang menghasilkan sebuah proses dan sebuah kerangka kerja untuk
membatasi dan mengevaluasi tindakan-tindakan individu, organisasi, dan
terkadang seluruh masyarakat sosial. Menurut David (1998), etika bisnis adalah
aturan main prinsip dalam organisasi yang menjadi pedoman membuat
keputusan dan tingkah laku. Etika bisnis adalah etika pelaku bisnis. Pelaku bisnis
tersebut bisa saja manajer, karyawan, konsumen, dan masyarakat.

Etika bisnis merupakan produk pendidikan etika masa kecil, namun tetap
dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya. Sebagian besar pakar psikologi
berkeyakinan bahwa penanaman awal nilai-nilai kedisiplinan, moral, etika yang
dilakukan pada masa balita akan sangat berpengaruh terhadap pembentukan
persepsi hati nurani seseorang tatkala ia mulai beranjak dewasa (Faisal Afiff,
2003). Lingkungan bisnis dapat merontokkan etika individu dan sebaliknya etika
individu dapat mempengaruhi lingkungan bisnis tergantung mana yang kuat.
Terjadinya krisis multi dimensional beberapa tahun terakhir menjadikan etika
bisnis sebagai sorotan dan perhatian dari masyarakat dan para pengamat.
Tuntutan masyarakat akan etika dan tolok ukur etika meningkat, hal ini
disebabkan pula oleh pengungkapan dan publikasi, kepedulian publik, regulasi
pemerintah, kesadaran CEO akan etika dan profesionalisme bisnis meningkat
(Hoesada, 1997). Etika bisnis adalah bisnis setiap orang di setiap hari, sehingga
etika bisnis termasuk semua manajer dan hubungan bisnis mereka serta
tindakan-tindakan mereka. Etika bisnis adalah tuntutan harkat etis manusia dan
tidak bisa ditunda sementara untuk membenarkan tindakan dan sikap tidak adil,
tidak jujur dan tidak bermoral.
Sebagai cabang dari filsafat etika, maka etika dalam aktivitas bisnis tidak
lain merupakan penerapan prinsip-prinsip etika dengan pendekatan filsafat
dalam kegiatan dan program bisnis. Karenanya semua teori tentang etika dapat
dimanfaatkan untuk membahas tentang etika dalam aktivitas bisnis. Aspek yang
dominan dari semua kata etika dalam aktivitas bisnis bermuara pada perilaku
bermoral.

Etika dalam arti sebenarnya dianggap sebagai acuan yang menyatakan


apakah tindakan, aktivitas atau perilaku individu bisa dianggap baik atau tidak.
Karenanya etika bisnis sudah tentu mengacu dan akan berbicara mengenai
masalah baik atau tidak baiknya suatu aktivitas bisnis. Dalam etika bisnis akan
diuji peranperan dan prinsip etika dalam konteks komersial/bisnis. Moral selalu
berkaitan dengan tindakan manusia yang baik dan yang buruk sesuai dengan
ukuran-ukuran yang diterima umum dalam suatu lingkungan sosial tertentu.
Dalam hal ini ukuran baik dan buruk manusia adalah manusia bukan sebagai
pelaku peran tertentu, dengan menggunakan norma moral, bukan sopan santun
atau norma hukum.

Mengacu kepada batasan etika dari berbagai pandangan ahli yang telah
dikemukakan, maka peran etika adalah membahas dan menunjuk alternatif
pemecahan masalah bisnis yang berlandaskan nilai-nilai moralitas dalam suatu
kegiatan bisnis. Landasan yang digunakan dalam hal ini adalah prinsip-prinsip,
nilai dan norma-moral yang terwujud dalam sikap dan perangai (akhlak) para
pelaku bisnis dalam penyelenggaraan usaha bisnisnya dengan menjunjung tinggi
partisipan bisnisnya.

Pada dasarnya etika bisnis menyoroti moral perilaku manusia yang


mempunyai profesi di bidang bisnis dan dimiliki secara global oleh perusahaan
secara umum, sedangkan perwujudan dari etika bisnis yang ada pada masing-
masing perusahaan akan terbentuk dan terwujud sesuai dengan kebudayaan
perusahaan yang bersangkutan. Etika bisnis ini akan muncul ketika masing-
masing perusahaan berhubungan dan berinteraksi satu sama lain sebagai
sebuah satuan stakeholder. Tujuan etika bisnis disini adalah menggugah
kesadaran moral para pelaku bisnis untuk menjalankan bisnis dengan “baik dan
bersih“.

Etika bisnis dapat dibagi ke dalam 2 (dua) pandangan, yaitu:

 Normative ethics:

Concerned with supplying and justifying a coherent moral system of thinking and
judging. Normative ethics seeks to uncover, develop, and justify basic moral
principles that are intended to guide behavior, actions, and decisions.

 Descriptive ethics:

Is concerned with describing, characterizing, and studying the morality of a


people, a culture, or a society. It also compares and contrasts different moral
codes, systems, practices, beliefs, and values.

Banyak yang mempertanyakan apakah ada bukti bahwa etika dalam


berbisnis secara sistematis berkorelasi dengan keuntungan? Contoh yang paling
sederhana coba kita sajikan disini. Jika bisnis berusaha mengambil keuntungan
dari karyawan, pelanggan, pemasok, dan kreditur melalui perilaku yang sekarang
tidak etis, maka kemungkinan mereka akan menemukan cara untuk membalas
dendam kepada kita ketika bertemu lagi. Balas dendam dapat berbentuk
sederhana seperti menolak untuk membeli, menolak untuk bekerja, menolak
berbisnis dengan pihak yang bersangkutan.
Secara empiris sebuah studi selama 2 tahun yang dilakukan The
Performance Group, sebuah konsorsium yang terdiri dari Volvo, Unilever,
Monsanto, Imperial Chemical Industries, Deutsche Bank, Electrolux, dan Gerling,
menemukan bahwa pengembangan produk yang ramah lingkungan dan
peningkatan environmental compliance bisa menaikkan EPS (earning per share)
perusahaan, mendongkrak profitability, dan menjamin kemudahan dalam
mendapatkan kontrak atau persetujuan investasi. Di tahun 1999, jurnal Business
and Society Review menulis bahwa 300 perusahaan besar yang terbukti
melakukan komitmen dengan publik yang berlandaskan pada kode etik akan
meningkatkan market value added sampai dua-tiga kali dan pada perusahaan
lain yang tidak melakukan hal serupa. Bukti lain, seperti riset yang dilakukan oleh
DePaul University di tahun 1997, menemukan bahwa perusahaan yang
merumuskan komitmen korporat mereka dalam menjalankan prinsip-prinsip etika
memiliki kinerja finansial (berdasar penjualan) yang lebih bagus dari perusahaan
lain yang tidak melakukan hal serupa.

Beberapa pebisnis berpendapat bahwa terdapat hubungan simbiosis


antara etika dan bisnis dimana masalah etik sering dibicarakan pada bisnis yang
berorientasi pada keuntungan. Dalam hal ini terdapat versi yang lemah dan versi
yang kuat mengenai pendekatan ini. Versi yang lemah mengatakan bahwa etika
yang baik dihasilkan dari bisnis yang baik, secara sederhana praktik bisnis yang
bermoral adalah praktik bisnis yang menguntungkan.

Kebutuhan aspek moral dalam bisnis adalah:

 Praktik bisnis yang bermoral hanya akan memberikan keuntungan ekonomis


dalam jangka panjang. Bagi bisnis yang didesain untuk keuntungan jangka
pendek hanya akan memberikan insentif yang kecil. Dalam kompetisi bisnis
di pasar yang sama, keuntungan jangka pendek merupakan keputusan yang
diambil oleh kebanyakan perusahaan untuk dapat bertahan.
 Beberapa praktik bisnis yang bermoral mungkin tidak memiliki nilai ekonomis
bahkan dalam jangka panjang sekalipun. Sebagai contoh, bagaimana
mengkampanyekan kerugian merokok, sebagai lawan dari promosi rokok itu
sendiri.
 Praktik bisnis yang bermoral akan menghasilkan keuntungan akan sangat
tergantung pada saat bisnis tersebut dijalankan. Pada pasar yang berbeda,
praktik yang sama mungkin tidak memberikan nilai ekonomis. Jadi masalah
tumpang tindih antara eksistensi moral dan keuntungan sifatnya terbatas dan
insidental (situasional)

Versi yang kuat mengenai pendekatan keuntungan mengungkapkan


bahwa dalam pasar yang kompetitif dan bebas, motif keuntungan akan terkait
dengan lingkungan yang sesuai dengan isu moral tersebut. Itulah sebabnya, jika
pelanggan menginginkan produk yang aman, atau para pekerja menginginkan
privasi, maka mereka akan memperolehnya dari bisnis yang memenuhi
kebutuhannya tersebut. Bisnis yang tidak memenuhi harapan tersebut maka
mereka tidak akan bertahan. Sejak adanya pandangan bahwa dorongan untuk
memperoleh keuntungan akan menciptakan moralitas, versi yang kuat
mengemukakan bahwa bisnis yang baik dihasilkan dalam etika yang baik.

Dalam etika bisnis, kewajiban moral dalam bisnis dibatasi oleh


persyaratan hukum. Aspek yang paling universal dalam moralitas barat telah
digunakan pada sistem legal bangsa kita, yaitu hukum yang menegaskan
mengenai sangsi bagi pembunuhan, pencurian, penipuan, pelecehan dan
perilaku yang membahayakan lainnya. Terlebih lagi jika masalah etika itu sudah
berkaitan dengan nilai budaya, politik dan agama. Tuntutan masyarakat
internasional terutama berkaitan dengan mutu barang atau jasa yang dijual.
Banyak kasus dimana pengusaha sangat mengabaikan lingkungan, dan
masyarakat pun kadangkala miris melihat pemerintah seolah tidak ada upaya
yang tegas terhadap perilaku pengusaha yang bandel ini. Kasus yang terjadi
beberapa tahun yang lalu yaitu ditolaknya pengiriman kayu kita ke Skotlandia
karena dinyatakan tidak berekolabel, hal ini menunjukkan bahwa terdapat hal-hal
yang perlu diperhatikan dalam berbisnis, tidak hanya memperhatikan
keuntungan saja, namun juga perlu memperhatikan etika dalam pengolahan.
Disini kita melihat bahwa etika bisnis menjadi suatu hal yang sangat mendesak
untuk diterapkan, sebab dengan etika pertimbangan mengenai baik atau buruk
dapat distandardisasi secara tepat dan benar. Namun perlu juga dicatat bahwa
etika bisnis tidak akan berfungsi jika praktik-praktik bisnis yang curang
dilegalkan. Di sinilah diperlukan dua perangkat utama yaitu moral dan legal
politis.

Indikator Etika Bisnis

Dari berbagai pandangan tentang etika bisnis, beberapa indikator yang


dapat dipakai untuk menyatakan apakah seseorang dan suatu perusahaan telah
melaksanakan etika bisnis dalam kegiatan usahanya antara lain adalah: Indikator
ekonomi; indikator peraturan khusus yang berlaku; indikator hukum; indikator
ajaran agama; indikator budaya dan indikator etik dari masing-masing pelaku
bisnis.

1. Indikator Etika bisnis menurut ekonomi adalah apabila perusahaan atau


pebisnis telah melakukan pengelolaan sumber daya bisnis dan sumber daya
alam secara efisien tanpa merugikan masyarakat lain. Indikator etika bisnis
menurut peraturan khusus yang berlaku. Berdasarkan indikator ini seseorang
pelaku bisnis dikatakan beretika dalam bisnisnya apabila masing-masing
pelaku bisnis mematuhi aturan-aturan khusus yang telah disepakati
sebelumnya.
2. Indikator etika bisnis menurut hukum. Berdasarkan indikator hokum
seseorang atau suatu perusahaan dikatakan telah melaksanakan etika bisnis
apabila seseorang pelaku bisnis atau suatu perusahaan telah mematuhi
segala norma hukum yang berlaku dalam menjalankan kegiatan bisnisnya.
3. Indikator etika berdasarkan ajaran agama. Pelaku bisnis dianggap beretika
bilamana dalam pelaksanaan bisnisnya senantiasa merujuk kepada nilai-nilai
ajaran agama yang dianutnya.
4. Indikator etika berdasarkan nilai budaya. Setiap pelaku bisnis baik secara
individu maupun kelembagaan telah menyelenggarakan bisnisnya dengan
mengakomodasi nilai-nilai budaya dan adat istiadat yang ada disekitar
operasi suatu perusahaan, daerah dan suatu bangsa.

Indikator etika bisnis menurut masing-masing individu adalah apabila masing-


masing pelaku bisnis bertindak jujur dan tidak mengorbankan

2. MORALITY AND LAW

Morality ( Moralitas)

Berbicara tentang Moralitas, mari kita lihat terlebih dahulu di dalam


Kamus Bahasa Indonesia apa definisi tentang moralitas, Moralitas berarti Budi
Pekerti, Sopan Santun, Adat Kesopanan. Sementara kata Moralitas, berasal dari
kata “Moral” dan moral di dalam kamus didefinisikan sebagai ajaran tentang baik
buruk yang diterima umum mengenai budi pekerti. Moralitas adalah sifat moral
atau keseluruhan asas dan nilai yang berkenaan dengan baik dan buruk
(Bertens,2002:7). Jadi, jika kita berbicara tentang ”Moralitas atau Moral” pasti
kita merujuk kepada cara berfikir dan bertindak yang dilandasi oleh budi pekerti
yang luhur. Istilah moral juga biasanya dipergunakan untuk menentukan batas-
batas suatu perbuatan, kelakuan, sifat dan perangkai dinyatakan benar, salah,
baik, buruk, layak atau tidak layak, patut maupun tidak patut. Moralitas dapat
berasal dari sumber tradisi atau adat, agama atau sebuah ideologi atau
gabungan dari beberapa sumber.

Ditinjau dari sudut etimologis, kata moral berasal dari kata mos, bentuk
jamaknya mores yang berarti adat istiadat atau kebiasaan. Kata mores ini
mempunyai sinonim mos, moris, manner mores atau manners, morals. Moral
(Bahasa Latin Moralitas) adalah istilah manusia menyebut ke manusia atau
orang lainnya dalam tindakan yang memiliki nilai positif. Moral juga dapat
diartikan sebagai sikap, perilaku, tindakan, kelakuan yang dilakukan seseorang
pada saat mencoba melakukan sesuatu berdasarkan pengalaman,
tafsiran, suara hati, serta nasihat, dan lain-lain. Dalam bahasa Indonesia,kata
moral berarti akhlak (bahasa Arab) atau kesusilaan yang mengandung makna
tata tertib batin atau tata tertib hati nurani yang menjadi pembimbing tingkah laku
batin dalam hidup. Moral merupakan kondisi pikiran, perasaan, ucapan, dan
perilaku manusia yang terkait dengan nilai-nilai baik dan buruk. Istilah moralitas
kita kenal secara umum sebagai suatu sistem peraturan-peraturan perilaku
sosial, etika hubungan antar-orang.

Manusia yang tidak memiliki moral disebut amoral artinya dia tidak bermoral
dan tidak memiliki nilai positif di mata manusia lainnya. Sehingga moral adalah
hal mutlak yang harus dimiliki oleh manusia. Moral secara ekplisit adalah hal-hal
yang berhubungan dengan prosessosialisasi individu tanpa moral manusia tidak
bisa melakukan proses sosialisasi.

Penilaian terhadap moral diukur dari kebudayaan masyarakat


setempat.Moral adalah perbuatan/tingkah laku/ucapan seseorang dalam ber
interaksi dengan manusia. Moral adalah produk dari budaya dan Agama. Setiap
budaya memiliki standar moral yang berbeda-beda sesuai dengan sistem nilai
yang berlaku dan telah terbangun sejak lama.
Ciri manusia bermoral atau manusia tidak bermoral, jika dilihat dari
pengertian dan beberapa istilah terkait pengertian moral ciri orang bermoral dan
tidak bermoral adalah jika seseorang melakukan tindakan sesuai dengan nilai
rasa dan budaya yang berlaku ditengah masyarakat tersebut dan dapat diterima
dalam lingkungan kehidupan sesuai aturan yang berlaku maka orang tersebut
dinilai memiliki moral. Kata moral atau akhlak sering kali digunakan untuk
menunjukkan pada suatu perilaku baik atau buruk, sopan santun dan
kesesuaiannya dengan nilai-nilai kehidupan pada seseorang.

Sanksi moral itu sendiri berupa sanksi dari Tuhan yang ditimpakan kelak
diakhirat, sanksi pada diri sendiri yang bersifat kejiwaan (sedih, resah, malu,dsb),
dan sanksi yang berasal dari keluarga atau masyarakat (dicemooh, dicela,
dikucilkan,dsb).

Fungsi Moral

Adapun fungsi dari moral adalah sebagai berikut:


 Mengingatkan manusia untuk melakukan kebaikan demi diri sendiri dan
sesama sebagai bagian dari masyarakat.
 Menarik perhatian pada permasalahan-permasalahan moral yang kurang
ditanggapi manusia.

Ada beberapa unsur dari kaidah moral yaitu :


 Hati Nurani Merupakan fenomena moral yang sangat hakiki.
Hati nurani merupakan penghayatan tentang baik atau buruk mengenai perilaku
manusia dan hati nurani ini selalu dihubunngkan dengan kesadaran manusia dan
selalu terkait dalam dengan situasi kongkret. Dengan hati nurani manusia akan
sanggup mererfleksikan dirinya terutama dalam mengenai dirinya sendiri atau
juga mengenal orang.
 Kebebasan dan tanggung jawab.
Kebebasan adalah milik individu yang sangat hakiki dan manusiawi dankarena
manusia pada dasarnya adalah makhluk bebas. Tetapi didalam kebebasan itu
juga terbatas karena tidak boleh bersinggungan dengan kebebasan orang lain
ketika mereka melakukan interaksi. Jadi, manusia itu adalah makhluk bebas
yang dibatasi oleh lingkungannya sebagai akibat tidak mampunya ia untuk hidup
sendiri.

Pentingnya Moralitas

Masalah moral merupakan masalah kemanusiaan, jadi sudah


sewajarnya apabila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara
masalah moralitas menjadi masalah penting yang harus diperhatikan dalam
rangka meningkatkan hubungan sosialnya dengan masyarakat sekitar yang
merupakan realitas kehidupan yang harus dihadapi. Pada tahap awal
pembentukan kepribadian misalnya, seorang bayi mulai mempelajari pola
perilaku yang berlaku dalam masyarakat dengan cara mengadakan hubungan
dengan orang lain. Dalam hal ini pertama-tama dengan orang tua dan saudara-
saudaranya. Lambat laun setelah menjadi anak-anak dia mulai membedakan
dirinya dengan orang lain. Dia mulai menyadari perbuatan yang boleh dilakukan
dan yang tidak. Bila ia melakukan perbuatan yang benar dia akan disukai oleh
lingkungan dan bila berbuat salah dia akan ditegur. Tahap demi tahap seorang
anak akan mempunyai konsep tentang dirinya, kesadaran itu dapat diamati dari
tingkah laku dalam interaksinya dengan lingkungan. Maka dalam proses interaksi
tersebut diperlukan nilai-nilai moral sebagai petunjuk arah, cara berfikir,
berperasaan dan bertindak serta panduan menentukan pilihan dan juga sebagai
sarana untuk menimbang penilaian masyarakat terhadap sebuah tindakan yang
akan diambil, dan nilai-nilai moralitas juga penting untuk menjaga rasa solidaritas
di kalangan kelompok atau masyarakat serta dapat menjadi benteng
perlindungan atau penjaga stabilitas budaya kelompok atau masyarakat tertentu.
Faktor-faktor yang mengakibatkan seseorang menjadi tidak beramoral
adalah:
Faktor pertama, yaitu pengajaran tentang moral yang terlambat. Pada
dasarnya, pendidikan moral harus diajarkan dan diterapkan mulai usia dini,
karena potensi anak-anak yang lebih mudah mencontoh suatu perilaku
baik/buruk dibandingkan pada saat dewasa. Ketika pendidikan moral dilakukan
sejak usia dini, maka pendidikan moral tersebut akan menjadi kerangka berpikir
atau kebiasaan anak tersebut ketika beranjak dewasa.
Faktor kedua, yaitu proses transformasi pendidikan moral yang tidak
diimbangi oleh pendidik yang bermoralitas. Bagaimana seorang anak atau murid
mampu menyerap dengan baik pendidikan moral yang diajarkan oleh orang tua
atau gurunya, jika pendidiknya sendiri tak mampu menunjukkan perilaku yang
bermoral. Ibarat peribahasa, buah jatuh tak jauh dari pohonnya atau guru
kencing berdiri, murid kencing berlari. Seseorang akan mampu menyerap
dengan baik informasi yang diterimanya jika informasi tersebut berlangsung
dikehidupan nyata. Oleh sebab itu mengapa murid lebih suka melakukan praktek
daripada hanya mendengarkan teori-teori saja.
Faktor ketiga, yaitu kesadaran diri pada manusia itu sendiri. Pada
dasarnya orang-orang yang tidak/kurang bermoral bisa belajar untuk jadi
bermoral jika orang tersebut memiliki keinginan, kemauan, kesadaran dan
harapan. Oleh sebab itu tidak ada salahnya, jika orang tersebut dibekali oleh
pendidikan agama (spiritual) dan contoh-contoh nyata perilaku yang bermoral
dari orang-orang disekitarnya.

Law (Hukum)

Untuk terciptanya keteraturan diperlukan aturan yang disebut Hukum.


Hukum dalam masyarakat merupakan tuntunan, mengingat bahwa kita tidak
mungkin menggambarkan hidupnya manusia tanpa atau diluar masyarakat.
Maka, manusia-masyarakat-dan hukum merupakan pengertian yang tidak dapat
dipisahkan, sehingga pemeo “Ubi societas ibi ius” (di mana ada masyarakat di
sana ada hukum) adalah tepat.

Hukum yang baik adalah hukum yang sesuai dengan hukum yang hidup
(the living law) dalam masyarakat, yang tentunya sesuai pula atau merupakan
pencerminan dari nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat tersebut.

Untuk mewujudkan keteraturan, maka mula-mula manusia membentuk suatu


struktur tatanan (organisasi) di antara dirinya yang dikenal dengan istilah tatanan
sosial (social order) yang bernama: masyarakat. Guna membangun dan
mempertahankan tatanan sosial masyarakat yang teratur ini, maka manusia
membutuhkan pranata pengatur yang terdiri dari dua hal: aturan (hukum) dan si
pengatur(kekuasaan).

Kaidah yang mengatur kehidupan manusia adalah hukum, yang biasanya


dibuat dengan sengaja danmempunyai sanksi yang jelas. Hukum dibuat dengan
tujuan untuk mengatur kehidupan masyarakat agar terjadi keserasian diantara
warga masyarakat dan sistem sosial yang dibangun oleh suatu
masyarakat. Pada masyarakat modern hukum dibuat oleh lembaga- lembaga
yang diberikan wewenang oleh rakyat.

Pada umumnya hukum bertujuan menjamin adanya kepastian hukum dalam


masyarakat. Selain itu, menjaga dan mencegah agar setiap orang tidak menjadi
hakim atas dirinya sendiri, namun tiap perkara harus diputuskan oleh hakim
berdasarkan dengan ketentuan yang sedang berlaku.
Fungsi Hukum

Ada empat fungsi hukum dalam masyarakat, yaitu sebagai berikut:

1. Sebagai Alat Pengatur Tertib Hubungan Masyarakat


Hukum sebagai norma merupakan petunjuk untuk kehidupan. Hukum
menunjukan mana yang baik dan mana yang buruk. Hukum juga memberi
petunjuk apa yang harus diperbuat dan mana yang tidak boleh, sehingga
segala sesuatunya dapat berjala tertib dan teratur. Kesemuanya itu dapat
dimungkunkan karena hukum mempunyai sifat mengatur tingkah laku
manusia serta mempunyai ciri memerintah dan melarang. Begitu pula hukum
mempunyai sifat memaksa agar hukum ditaati oleh anggota masyarakat.
2. Sebagi Sarana Untuk Mewujudkan Keadilan Sosial
 Hukum mempunyai ciri memerintah dan melarang.
 Hukum mempunyai sifat memaksa.
 Hukum mempunyai daya yang mengikat secara psikis dan fisik.

Karena hukum mempunyai sifat, cirri dan daya mengikat tersebut,


maka hukum dapat member keadilan, yaitu menentukan siapa yang benar.
Hukum dapat menghukum siapa yang salah, hukum dapat memaksa agar
peraturan ditaati dan siapa yang melanggar diberi sanksi hukuman.

3. Sebagai Penggerak Pembangunan


Daya mengikat dan memaksa dari hukum dapat digunakan atau
didayagunakan untuk menggerakkan pembangunan. Hukum dijadikan alat
untuk membawa masyarakat ke arah yang lebih maju dan lebih sejahtera.
4. Fungsi Kritis Hukum
Dewasa ini, sering berkembang suatu pandangan bahwa hukum
mempunyai fungsi kritis, yaitu daya kerja hukum tidak semata-mata
melakukan pengawasan pada aparatur pengawasan (petugas) saja, tetapi
aparatur penegak hukum termasuk di dalamnya.

Tujuan Hukum

Banyak teori atau pendapat mengenai tujuan hukum. Berikut teori-teori dari para
ahli :
a) Prof. Subekti, SH: Hukum itu mengabdi pada tujuan negara yaitu mencapai
kemakmuran dan kesejahteraan rakyatnya dengan cara menyelenggarakan
keadilan. Keadilan itu menuntut bahwa dalam keadaan yang sama tiap orang
mendapat bagian yang sama pula
b) Prof. Mr. Dr. LJ. van Apeldoorn: Tujuan hukum adalah mengatur hubungan
antara sesama manusia secara damai. Hukum menghendaki perdamaian
antara sesama. Dengan menimbang kepentingan yang bertentangan secara
teliti dan seimbang.
c) Geny : Tujuan hukum semata-mata ialah untuk mencapai keadilan. Dan ia
kepentingan daya guna dan kemanfaatan sebagai unsur dari keadilan.
d) Roscoe Pound berpendapat bahwa hukum berfungsi sebagai alat
merekayasa masyarakat (law is tool of social engineering)
e) Muchatr Kusumaatmadja berpendapat bahwa tujuan pokok dan utama dari
hukum adalah ketertiban. Kebutuhan akan ketertiban ini merupakan syarat
pokok bagi adanya suatu masyarakat manusia yang teratur.

Tujuan hukum menurut hukum positif Indonesia termuat dalam pembukaan


UUD 1945 alinea keempat yang berbunyi “..untuk membentuk suatu
pemerintahan Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia
dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan
umum, mencerdaskan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang
berdasarkan perdamaian abadi dan keadilan sosial”.

Hukum bertujuan menjamin kepastian hukum dalam masyarakat dan hukum


itu harus bersendikan pada rasa keadilan di masyarakat. Dalam literature ilmu
hukum, dikenal ada dua teori tentang tujuan hukum, yaitu teori etis dan utilities.
Teori etis mendasarkan pada etika, hukum bertujuan untuk semata-mata
mencapai keadilan, memberikan kepada setiap orang apa yang menjadi haknya.
Hukum tidak identik dengan keadilan. Peraturan hukum tidaklah selalu untuk
mewujudkan keadilan. Contohnya, peraturan lalu lintas. Mengendarai mobil di
sebelah kiri tidak bias dikatakan adil karena sesuai aturan. Sedangkan berjalan
di sebelah kanan dikatakan tidak adil karena bertentangan dengan aturan. Jadi,
teori ini tidak sepenuhnya benar.

Agar tujuan kaidah hukum itu dapat terwujud dengan semestinya, atau
sesuai dengan harapan seluruh anggota masyarakat/ Negara maka harus ada
kepatuhan kepada kaidah hukum tersebut. Masyarakat perlu patuh dan
menerima secara positif adanya kaidah hukum. Tidak dapat kita bayangkan
bagaimana kehidupan manusia tanpa adanya kaidah hukum.

Hubungan antara Hukum dan Moralitas

Dalam kehidupan bermasyarakat tidak akan terlepas dari ikatan nilai-


nilai, baik nilai-nilai agama, moral, hukum, keindahan, dan sebagainya.
Hubungan antara hukum dan moralitas sangat erat sekali. Tujuan hukum ialah
mengatur tata tertib hidup bermasyarakat sesuai dengan aturan hukum yang
berlaku. Sedangkan moral bertujuan mengatur tingkah laku manusia sesuai
dengan tuntutan nilai-nilai moral yang berlaku di masyarakat. Hukum berisikan
perintah dan larangan agar manusia tidak melanggar aturan-aturan hukum baik
yang tertulis maupun tidak tertulis. Moral menuntut manusia untuk bertingkah
laku baik dan tidak melanggar nilai-nilai etika atau moral. Berbeda dengan
hukum, maka hakikat moralitas pertama-tama terletak dalam kegiatan batin
manusia. Moral berkaitan dengan masalah perbuatan manusia, pikiran serta
pendirian tentang apa yang baik dan apa yang tidak baik, mengenai apa yang
patut dan tida patut untuk dilakukan seseorang. Dikatakan moralnya baik apabila
sikap dan perbuatannya sesuai dengan pedoman sebagaimana digariskan oleh
ajaran Tuhan, hukum yang ditetapkan pemerintah serta kepentingan umum.
Pelanggaran terhadap norma hukum sekaligus juga melanggar norma moral.
Karena itu bagi pelanggar norma hukum akan mendapat dua sanksi sekaligus,
yaitu sanksi hukum dan sanksi moral. Sanksi hukum berupa hukuman sesuai
dengan aturan-aturan yang ditetapkan pemerintah. Sedangkan sanksi moral
berupa: (1) sanksi dari Tuhan, (2) sanksi pada diri sendiri, dan (3) sanksi yang
berasal dari keluarga atau masyarakat.

Nilai moral dan hukum mempunyai keterkaitan yang sangat erat sekali.
Nilai dianggap penting oleh manusia itu harus jelas, harus semakin diyakini oleh
individu dan harus diaplikasikan dalam perbuatan. Moralitas diidentikan dengan
perbuatan baik dan perbuatan buruk(etika) yang mana cara mengukurannya
adalah melalui nilai- nilai yang terkandung dalam perbuatan tersebut.

Pada dasarnya nilai, moral, dan hukum mempunyai fungsi yaitu untuk
melayani manusia.pertama, berfungsi mengingatkan manusia untuk melakukan
kebaikan demi diri sendiri dan sesama sebagai bagian dari
masyarakat. kedua, menarik perhatian pada permaslahan-permasalahan moral
yang kurang ditanggapi manusia. Ketiga, dapat menjadi penarik perhatian
manusia kepada gejala “Pembiasaan emosional”
Selain itu fungsi dari nilai, moral dan hukum yaitu dalam rangka untuk
pengendalian dan pengaturan. Pentingnya system hukum ialah sebagai
perlindungan bagi kepentingan-kepentingan yang telah dilindungi agama, kaidah
kesusilaan dan kaidah kesopanan karena belum cukup kuat untuk melindungi
dan menjamin mengingat terdapat kepentingan-kepentingan yang tidak teratur.
Untuk melindungi lebih lanjut kepentingan yang telah dilindungi kaidah-kaidah
tadi maka diperlukanlah system hukum.

K. Bertens menyatakan ada setidaknya empat perbedaan antara hukum


dan moral,pertama, hukum lebih dikodifikasikan daripada moralitas (hukum lebih
dibukukan daripada moral),kedua, meski hukum dan moral mengatur tingkah
laku manusia, namun hukum membatasi diri pada tingkah laku lahiriah saja,
sedangkan moral menyangkut juga sikap bathin seseorang, ketiga, sanksi yang
berkaitan dengan hukum berbeda dengan sanksi yang berkaitan dengan
moralitas, keempat, hukum didasarkan atas kehendak masyarakat dan akhirnya
atas kehendak negara sedangkan moralitas didasarkan pada norma-norma
moral yang melebihi para individu dan masyarakat.

3. MORALITY

Morality

Moral berasal dari bahas latin mores yang berarti adat kebiasaan. Kata
mores ini mempunyai sinonim mos, moris, manner more atau manners, dan
morals. Moral bisa diartikan nilai atau norma yang menjadi pegangan suatu
individu maupun kelompok dalam mengatur tingkah laku, sedangkan Moralitas
merupakan keseluruhan dari sifat moral tentang baik dan buruk.
Dalam bahasa Indonesia, kata moral berarti akhlak (basah arab) atau
kesusilaan yang mengandung makna tata tertib batin atau tata tertib hati nurani
yang menjadi pembimbing tingkah laku batin dalam hidup. Makna moral yang
terkandung dalam kepribadian seseorang itu tercermin dari sikap dan tingkah
lakunya. Bisa dikatakan manusia yang bermoral adalah manusia yang sikap dan
tingkah lakunya sesuai dengan nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku dalam
masyarakat.

Moral secara ekplisit adalah hal-hal yang berhubungan dengan proses


sosialisasi individu tanpa moral manusia tidak bisa melakukan proses sosialisasi.
Moral dalam zaman sekarang mempunyai nilai implisit karena banyak orang
yang mempunyai moral atau sikap amoral itu dari sudut pandang yang sempit.
Moral itu sifat dasar yang diajarkan di sekolah-sekolah dan manusia harus
mempunyai moral jika ia ingin dihormati oleh sesamanya. Moral adalah nilai ke-
absolutan dalam kehidupan bermasyarakat secara utuh. Penilaian terhadap
moral diukur dari kebudayaan masyarakat setempat.

Moral adalah perbuatan/tingkah laku/ucapan seseorang dalam ber


interaksi dengan manusia. apabila yang dilakukan seseorang itu sesuai dengan
nilai rasa yang berlaku di masyarakat tersebut dan dapat diterima serta
menyenangkan lingkungan masyarakatnya, maka orang itu dinilai mempunyai
moral yang baik, begitu juga sebaliknya.Moral adalah produk dari budaya dan
Agama. Jadi moral adalah tata aturan norma-norma yang bersifat abstrak yang
mengatur kehidupan manusia untuk melakukan perbuatan tertentu dan sebagai
pengendali yang mengatur manusia untuk menjadi manusia yang baik.

Moral bisa diartikan nilai atau norma yang menjadi pegangan suatu
individu maupun kelompok dalam mengatur tingkah laku, sedangkan Moralitas
merupakan keseluruhan dari sifat moral tentang baik dan buruk.
4. ETIQUETTE AND PROFESSIONAL LAW

Dua istilah, yaitu etika dan etiket dalam kehidupan sehari-hari kadang-
kadang diartikan sama, dipergunakan silih berganti. Kedua istilah tersebut
memang hampir sama pengertiannya, tetapi tidak sama dalam hal titik berat
penerapan atau pelaksanaannya, yang satu lebih luas dari pada yang alin.

Istilah etiket berasal dari kata Prancis etiquette, yang berarti kartu
undangan, yang lazim dipakai oleh raja-raja Prancis apabila mengadakan pesta.
Dalam perkembangan selanjutnya, istilah etiket berubah bukan lagi berarti kartu
undangan yang dipakai raja-raja dalam mengadakan pesta. Dewasa ini istilah
etiket lebih menitikberatkan pada cara-cara berbicara yang sopan, cara
berpakaian, cara menerima tamu dirumah maupun di kantor dan sopan santun
lainnya. Jadi, etiket adalah aturan sopan santun dalam pergaulan.

Dalam pergaulan hidup, etiket merupakan tata cara dan tata krama yang
baik dalam menggunakan bahasa maupun dalam tingkah laku. Etiket merupakan
sekumpulan peraturan-peraturan kesopanan yang tidak tertulis, namun sangat
penting untuk diketahui oleh setiap orang yang ingin mencapai sukses dalam
perjuangan hidup yang penuh dengan persaingan.

Etiket juga merupakan aturan-aturan konvensional melalui tingkah laku


individual dalam masyarakat beradab, merupakan tatacara formal atau tata
krama lahiriah untuk mengatur relasi antarpribadi, sesuai dengan status social
masing-masing individu. Etiket didukung oleh berbagai macam nilai, antara lain;
1. nilai-nilai kepentingan umum
2. nilai-nilai kehjujuran, keterbukaan dan kebaikan
3. nilai-nilai kesejahteraan
4. nilai-nilai kesopanan, harga-menghargai
5. nilai diskresi (discretion: pertimbangan) penuh piker. Mampu membedakan
sesuatu yang patut dirahasiakan dan boleh dikatakan atau tidak dirahasiakan.

Diatas dikatakan bahwa etiket merupakan kumpulan cara dan sifat


perbuatan yang lebnih bersifat jasmaniah atau lahiriah saja. Etiket juga sering
disebut tata krama, yakni kebiasaan sopan santun yang disepakati dalam
lingkungan pergaulan antarmanusia setempat. Tata berarti adat, aturan, norma,
peraturan. Sedangkan krama berarti sopan santun, kebiasaan sopan santun atau
tata sopan santun. Sedangkan etika menunjukkan seluruh sikap manusia yang
bersikap jasmaniah maupun yang bersikap rohaniah. Kesadaran manusia
terhadap kesadaran baik buruk disebut kesadaran etis atau kesadaran moral.
Beberapa definisi Etiket adalah sebagai berikut:
1. Etiket adalah kumpulan tata cara dan sikap yang baik dalam
pergaulan antarmanusia yang beradab.
2. Etiket adalah tata krama, sopan santun atau aturan-aturan yang
disetujui oleh masyarakat tertentu dan menjadi norma serta
anutan dalam bertingkah laku.
3. Etiket adalah tata peraturan pergaulan yang disetujui oleh
masyarakat tertentu dan menjadi norma dan anutan dalam
bertingkah laku anggota masyarakat.
Dari ketiga definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa pengertian
dari etiket adalah tata aturan pergaulan yang disetujui oleh masyarakat tertentu
dan menjadi norma serta anutan dalam bertingkahlaku pada anggota
masyarakat tersebut.

Dalam buku “Bahan Diskusi Customer Service Group (CSG) dan Allround
Teller (ART)” yang diterbitkan oleh Urusan Operasional KAntor Pusat BRI,
menjelaskan bahwa: “etiket adalah ketentuan tidak tertulis yang mengatur tindak
dan gerak manusia yang berkaitan dengan:
 sikap dan perilaku, yaitu bagaimana anda bersikap dan berperilaku dalam
menghadapi suatu situasi.
 ekspresi wajah, yaitu bagaimana raut muka yang harus anda tampilkan
dalam menghadapi suatu situasi, misalnya dalam melayani tamu.
 Penampilan, yaitu sopan santun mengenai cara anda menampilkan diri,
misalnya: cara duduk, cara berdiri adalah wajar dan tidak dibuat-buat dan
sebagainya.
 cara berpakaian, yaitu cara mengatur tentang sopan santun anda dalam
mengenakan pakaian, baik menyangkut gaya pakaian, tata warna,
keserasian model yang tidak menyolok dan lain-lain.
 cara berbicara, yaitu tata cara/sopan santun anda dalam berbicara caik
secara langsung maupun tidak langsung.
 gerak-gerik, yaitu sopan santun dalam gerak-gerik badan dalam berbicara
secara langsung berhadapan dengan tamu.

Pekerjaan tidak sama dengan profesi. Istilah yang mudah dimengerti oleh
masyarakat awam adalah sebuah profesi sudah pasti menjadi sebuah pekerjaan,
namun sebuah pekerjaan belum tentu menjadi sebuah profesi.Profesi memiliki
mekanisme serta aturan yang harus dipenuhi sebagai suatu ketentuan,
sedangkan kebalikannya, pekerjaan tidak memiliki aturan yang rumit seperti itu.
Hal inilah yang harus diluruskan di masyarakat, karena hampir semua orang
menganggap bahwa pekerjaan dan profesi adalah sama
.
PENGERTIAN ETIKA PROFESI MENURUT PARA AHLI YAITU :

Menurut Kaiser dalam ( Suhrawardi Lubis, 1994:6-7 )


Etika profesi merupakan sikap hidup berupa keadilan untuk memberikan
pelayanan professional terhadap masyarakat dengan penuh ketertiban dan
keahlian sebagai pelayanan dalam rangka melaksanakan tugas berupa
kewajiban terhadap masyarakat.

Menurut (Anang Usman, SH., MSi.)


Etika profesi adalah sebagai sikap hidup untuk memenuhi kebutuhan pelayanan
profesional dari klien dengan keterlibatan dan keahlian sebagai pelayanan dalam
rangka kewajiban masyarakat sebagai keseluruhan terhadap para anggota
masyarakat yang membutuhkannya dengan disertai refleksi yang seksama,

Definisi Etika Profesi


Etika profesi adalah sikap etis sebagai bagian integral dari sikap hidup dalam
menjalankan kehidupan sebagai pengemban profesi serta mempelajari
penerapan prinsip-prinsip moral dasar atau norma-norma etis umum pada
bidang-bidang khusus (profesi) kehidupan manusia.Etika profesi Berkaitan
dengan bidang pekerjaan yang telah dilakukan seseorang sehingga sangatlah
perlu untuk menjaga profesi dikalangan masyarakat atau terhadap konsumen
(klien atau objek).Etika profesi memilikikonsep etika yang ditetapkan atau
disepakati pada tatanan profesi atau lingkup kerja tertentu, contoh : pers dan
jurnalistik, engineering (rekayasa), science, medis/dokter, dan sebagainya.

Prinsip dasar di dalam etika profesi :


 Tanggung jawab
Terhadap pelaksanaan pekerjaan itu dan terhadap hasilnya.
Terhadap dampak dari profesi itu untuk kehidupan orang lain atau masyarakat
pada umumnya.
 Keadilan
 Prinsip ini menuntut kita untuk memberikan kepada siapa saja apa yang
menjadi haknya.
 Prinsip Kompetensi,melaksanakan pekerjaan sesuai jasa profesionalnya,
kompetensi dan ketekunan
 Prinsip Prilaku Profesional, berprilaku konsisten dengan reputasi profesi
 Prinsip Kerahasiaan, menghormati kerahasiaan informasi

5. MANAGEMENT AND ETHICS

Pelanggaran etika bisa terjadi di mana saja, termasuk dalam dunia bisnis.
Untuk meraih keuntungan, masih banyak perusahaan yang melakukan berbagai
pelanggaran moral. Praktik curang ini bukan hanya merugikan perusahaan lain,
melainkan juga masyarakat dan negara. Praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme
(KKN) tumbuh subur di banyak perusahaan.

Pelanggaran etik bisnis di perusahaan memang banyak, tetapi upaya


untuk menegakan etik perlu ditegakkan. Contohnya, perusahaan tidak perlu
berbuat curang untuk meraih kemenangan. Hubungan yang tidak transparan
dapat menimbulkan hubungan istimewa atau kolusi dan memberikan peluang
untuk korupsi.

Banyak perusahaan-perusahaan yang melakukan pelanggaran, terutama


dalam kinerja keuangan perusahaan karena tidak lagi membudayakan etika
bisnis agar orientasi strategik yang dipilih semakin baik. Sementara itu hampir
61.9% dari 21 perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di BEJ tidak
lengkap menyampaikan laporan keuangannya (not avaliable).

Tingkat perhatian perusahaan terhadap perilaku etis juga sangat


menentukan karena dalam jangka panjang bila perusahaan tidak concern
terhadap perilaku etis maka kelangsungan hidupnya akan terganggu dan akan
berdampak pula pada kinerja keuangannya. Hal ini terjadi akibat manajemen dan
karyawan yang cenderung mencari keuntungan semata sehingga terjadi
penyimpangan norma-norma etis. Segala kompetensi, keterampilan, keahlian,
potensi, dan modal lainnya ditujukan sepenuhnya untuk memenangkan
kompetisi

Pengaruh budaya organisasi dan orientasi etika terhadap orientasi


strategik secara simultan sebesar 65%. Secara parsial pengaruh budaya
organisasi dan orientasi etika terhadap orientasi strategik masing-masing
sebesar 26,01% dan 32,49%. Hal ini mengindikasikan bahwa kombinasi
penerapan etika dan budaya dapat meningkatkan pengaruh terhadap orientasi
strategik. ‖Hendaknya perusahaan membudayakan etika bisnis agar orientasi
strategik yang dipilih semakin baik. Salah satu persyaratan bagi penerapan
orientasi strategik yang inovatif, proaktif, dan berani dalam mengambil risiko
adalah budaya perusahaan yang mendukung,‖.

Dari mana upaya penegakkan etika bisnis dimulai? Etika bisnis paling
mudah diterapkan di perusahaan sendiri. Pemimpin perusahaan memulai
langkah ini karena mereka menjadi panutan bagi karyawannya. Selain itu, etika
bisnis harus dilaksanakan secara transparan. Pemimpin perusahaan seyogyanya
bisa memisahkan perusahaan dengan milik sendiri. Dalam operasinya,
perusahaan mengikuti aturan berdagang yang diatur oleh tata cara undang-
undang

Etika bisnis tidak akan dilanggar jika ada aturan dan sangsi. Jika semua
tingkah laku salah dibiarkan, maka lama kelamaan akan menjadi kebiasaan.
Pada akhirnya, norma yang salah ini akan menjadi budaya. Oleh karena itu bila
ada yang melanggar aturan diberikan sangsi untuk memberi pelajaran kepada
yang bersangkutan. Upaya yang dapat dilakukan oleh perusahaan untuk
menegakkan budaya transparansi antara lain:
a. Penegakkan budaya berani bertanggung jawab atas segala tingkah lakunya.
Individu yang mempunyai kesalahan jangan bersembunyi di balik institusi. Untuk
menyatakan kebenaran kadang dianggap melawan arus, tetapi sekarang harus
ada keberanian baru untuk menyatakan pendapat.
b. Ukuran-ukuran yang dipakai untuk mengukur kinerja jelas. Bukan berdasarkan
kedekatan dengan atasan, melainkan kinerja.
c. Pengelolaan sumber daya manusia harus baik.
d. Visi dan misi perusahaan jelas yang mencerminkan tingkah laku organisasi.

Etika bisnis, selanjutnya disingkat EB, merupakan etika khusus (terapan)


yang pada awalnya berkembang di Amerika Serikat. Sebagai cabang filsafat
terapan, etika bisnis menyoroti segi-segi moral perilaku manusia yang
mempunyai profesi di bidang bisnis dan manajemen. Oleh karena itu, etika bisnis
dapat dilihat sebagai usaha untuk merumuskan dan menerapkan prinsip-prinsip
etika dibidang hubungan ekonomi antar manusia. Secara terperinci, Richard T.de
George menyebut bahwa etika bisnis menyangkut empat kegiatan sebagai
berikut:
1. penerapan prinsip-prinsip umum dalam praktik bisnis. Berdasarkan prinsi-
prinsip etuka bisnis itu kita dapat menyoroti dan menilai apakah suatu
keputusan atau tindakan yang diambil dalam dunia bisnis secara moral
dapat dibenarkan atau tidak. Dengan demikian etik bisnis membantu pra
pelaku bisnis untuk mencari cara guna mencegah tindakan yang dinilai
tidak etis.
2. etika bisnis tidak hanya menyangkut penerapan prinsip-prinsip etika pada
dunia bisnis, tetapi juga metaetika. Dalam hubungan ini, etika bisnis
mengkaji apakah perilaku yang dinilai etis pada individu juga dapat
berlaku pada organisais atau perusahaan bisnis. Selanjutnya etika bisnis
menyoroti apakah perusahaan mempunyai tanggung jawab sosial atau
tidak.
3. bidang telaah etika bisnis menyangkut pandangan – pandangan
mengenai bisnis. Dalam hal ini, etika bisnis mengkaji moralitas sistem
ekonomi pada umumnya dan sistem ekonomi publik pada khususnya,
misalnya masalah keadilan sosial, hak milik, dan persaingan.
4. etika bisnis juga menyentuh bidang yang sangat makro, seperti operasi
perusahaan multinasional, jaringan konglomerat internasional, dan lain-
lain.

Tujuan etika bisnis adalah menggugah kesadaran moral para pelaku


bisnis untuk menjalankan good business dan tidak melakukan monkey business
atau dirty business. Etika bisnis mengajak para pelaku bisnis mewujudkan citra
dan manajemen bisnis yang baik (etis) agar bisnis itu pantas dimasuki oleh
semua orang yang mempercayai adanya dimensi etis dalam dunia bisnis. Hal ini
sekaligus menghalau citra buruk dunia bisnis sebagai kegiatan yang kotor, licik,
dan tipu muslihat. Kegiatan bisnis mempunyai implikasi etis, dan oleh karenanya
membawa serta tanggungjawab etis bagi pelakunya

Kendala-kendala Pelaksanaan Etika Bisnis


Pelaksanaan prinsip-prinsip etika bisnis di Indonesia masih berhadapan
dengan beberapa masalah dan kendala. Keraf(1993:81-83) menyebut beberapa
kendala tersebut yaitu:
1) Standar moral para pelaku bisnis pada umumnya masih lemah. Banyak di
antara pelaku bisnis yang lebih suka menempuh jalan pintas, bahkan
menghalalkan segala cara untuk memperoleh keuntungan dengan mengabaikan
etika bisnis, seperti memalsukan campuran, timbangan, ukuran, menjual barang
yang kadaluwarsa, dan memanipulasi laporan keuangan.

2) Banyak perusahaan yang mengalami konflik kepentingan. Konflik kepentingan


ini muncul karena adanya ketidaksesuaian antara nilai pribadi yang dianutnya
atau antara peraturan yang berlaku dengan tujuan yang hendak dicapainya, atau
konflik antara nilai pribadi yang dianutnya dengan praktik bisnis yang dilakukan
oleh sebagian besar perusahaan lainnya, atau antara kepentingan perusahaan
dengan kepentingan masyarakat. Orang-orang yang kurang teguh standar
moralnya bisa jadi akan gagal karena mereka mengejar tujuan dengan
mengabaikan peraturan.
3) Situasi politik dan ekonomi yang belum stabil. Hal ini diperkeruh oleh
banyaknya sandiwara politik yang dimainkan oleh para elit politik, yang di satu
sisi membingungkan masyarakat luas dan di sisi lainnya memberi kesempatan
bagi pihak yang mencari dukungan elit politik guna keberhasilan usaha
bisnisnya. Situasi ekonomi yang buruk tidak jarang menimbulkan spekulasi untuk
memanfaatkan peluang guna memperoleh keuntungan tanpa menghiraukan
akibatnya.

4) Lemahnya penegakan hukum. Banyak orang yang sudah divonis bersalah di


pengadilan bisa bebas berkeliaran dan tetap memangku jabatannya di
pemerintahan. Kondisi ini mempersulit upaya untuk memotivasi pelaku bisnis
menegakkan norma-norma etika.

5) Belum ada organisasi profesi bisnis dan manajemen untuk menegakkan kode
etik

6) bisnis dan manajemen. Organisasi seperti KADIN beserta asosiasi


perusahaan di bawahnya belum secara khusus menangani penyusunan dan
penegakkan kode etik bisnis dan manajemen. Di Amerika Serikat terdapat
sebuah badan independen yang berfungsi sebagai badan register akreditasi
perusahaan, yaitu American Society for Quality Control (ASQC).

Antara Keuntungan dan Etika


Tujuan utama bisnis adalah mengejar keuntungan. Keuntungan adalah
hal yang pokok bagi kelangsungan bisnis, walaupun bukan merupakan tujuan
satu-satunya, sebagaimana dianut pandangan bisnis yang ideal. Dari sudut
pandang etika, keuntungan bukanlah hal yang buruk. Bahkan secara moral
keuntungan merupakan hal yang baik dan diterima. Karena :
a. Keuntungan memungkinkan perusahaan bertahan dalam usaha bisnisnya.

b. Tanpa memeperoleh keuntungan tidak ada pemilik modal yang bersedia


menanamkan modalnya, dan karena itu berarti tidak akan terjadi aktivitas
ekonomi yang produktif demi memacu pertumbuhan ekonomi yang menjamin
kemakmuran nasional.

c. Keuntungan memungkinkan perusahaan tidak hanya bertahan melainkan juga


dapat menghidupi karyawan-karyawannya bahkan pada tingkat dan taraf hidup
yang lebih baik.
d. Ada beberapa argumen yang dapat diajukan disini untuk menunjukkan bahwa
justru demi memperoleh keuntungan etika sangat dibutuhkan , sangat relevan,
dan mempunyai tempat yang sangat strategis dalam bisnis`dewasa ini :

o Pertama, dalam bisnis modern dewasa ini, para pelaku bisnis dituntut menjadi
orang-orang profesional di bidangnya.

o Kedua dalam persaingan bisnis yang ketat para pelaku bisnis modern sangat
sadar bahwa konsumen adalah benar-benar raja. Karena itu hal yang paling
pokok untuk dapat untung dan bertahan dalam pasar penuh persaingan adalah
sejauh mana suatu perusahaan bisa merebut dan mempertahankan
kepercayaan konsumen.

o Ketiga, dalam sistem pasar terbuka dengan peran pemerintah yang bersifat
netral tak berpihak tetapi efektif menjaga agar kepentingan dan hak semua
pemerintah dijamin, para pelaku bisnis berusaha sebisa mungkin untuk
menghindari campur tangan pemerintah, yang baginya akan sangat merugikan
kelangsungan bisnisnya. Slaah satu cara yang paling efektif adalah dengan
menjalankan bisnisnya bisnisnya secara secara baik dan etis yaitu dengan
menjalankan bisnis sedemikian rupa tanpa secara sengaja merugikan hak dan
kepentinga semua pihak yang terkait dengan bisnisnya.

o Keempat, perusahaan-perusahaan modern juga semakin menyadari bahwa


karyawan bukanlah tenaga yang siap untuk eksploitasi demi mengeruk
keuntunga yang sebesar-besarnya. Justru sebaliknya, karyawan semakin
dianggap sebagai subjek utama dari bisnis suatu perusahaan yang sangat
menentukan berhasil tidaknya, bertahan tidaknya perusahaan tersebut.
Bisnis sangat berkaitan dengan etika bahkan sangat mengandalkan etika.
Dengan kata lain, bisnis memang punya etika dan karena itu etika bisnis
memang relevan untuk dibicarakan. Argumen mengenai keterkaitan antara
tujuan bisnis dan mencari keuntungan dan etika memperlihatkan bahwa dalam
iklim bisnis yang terbuka dan bebas, perusahaan yang menjalankan bisnisnya
secara baik dan etis, yaitu perusahaan yang memperhatikan hak dan
kepentingan semua pihak yang terkait dengan bisnisnya, akan berhasil dan
bertahan dalam kegiatan bisnisnya.
Alasan Meningkatnya Perhatian Dunia Usaha Terhadap Etika Bisnis, diantaranya
:
a. Krisis publik tentang kepercayaan

b. Kepedulian terhadap kualitas kehidupan kerja

c. Hukuman terhadap tindakan yang tidak etis

d. Kekuatan kelompok pemerhati khusus

e. Peran media dan publisitas

f. Perubahan format organisasi dan etika perusahaan


g. Perubahan nilai-nilai masyarakat dan tuntutan terhadap dunia bisnis
mengakibatkan adanya kebutuhan yang makin meningkat terhadap standar etika
sebagai bagian dari kebijakan bisnis.
Daftar Pustaka

1. Hapzi Ali, 2018. Modul BE & GG, Univeristas Mercu Buana.


http://anton44n.wordpress.com/2009/02/01/hubungan-antara-etika-norma-dan-
hukum/ (diakses 12.09.18)

2. http://massofa.wordpress.com/2008/11/17/pengertian-etika-moral-dan-etiket/
(diakses 12.09.18)

3. Alma, Dr. Buchari. (2003). Pengantar Bisnis. Bandung : Alfabeta.

4. Zainal Asikin,2013,Pengantar ilmu hukum,RajaGrafindo Persada,Depok

5. http://tanggungjawabsosialdanetikamanajemen.blogspot.co.id/(diakses
12.09.18)

6. http://anton44n.wordpress.com/2009/02/01/hubungan-antara-etika-norma-dan-
hukum/ (diakses 12.09.18)

7. Setiadi, Elly M. dkk., 2006. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Jakarta: Kencana
Predana Media Group.

8. Ghaffa. “Moralitas dan Norma Masyarakat dan Negara”.http://tugas


isbd-ghaffa.blogspot.co.id/2011/06/moralitas-dan-norma-masyarakat-
dan.html.(diakses 12.09.18)

9. http://purwoko-hadi.mhs.narotama.ac.id/tugas-makalah-csr/(diakses 12.09.18)

10. http://auliayoel.blogspot.com/2011/12/etika-manajerial-dan-tanggung-jawab.html
http://alfianmuzaki.blogspot.co.id/2014/10/pengertian-etikaprofesi-
etika-profesi.html(diakses 12.09.18)
FORUM Pertemuan ke 2

Berdasarkan soal pada Quiz di atas bagaimanakah implemtasinya pada


perusahaan saudara atau pada suatu perusahaan yang saudara amati.
Note: Buat Daftar Pustaka yang benar kalau saudara mengutif tulisan author lain,
baik dari buku atau pun dari internet/web.
Selamat menjawab Quiz & Forum

Business ethics dan Work ethics PT. Krakatau Steel

PT Krakatau Steel (Persero) Tbk sebagai salah satu BUMN strategis di


Indonesia yang sekaligus merupakan Perusahaan terbuka, harus tunduk dan
patuh terhadap segala ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku,
diantaranya Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas,
Undang-Undang No. 19 Tahun 2003 tentang BUMN termasuk ketentuan hukum
dibidang pasar modal. Sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada seluruh
stakeholders, Perseroan berkomitmen untuk melaksanakan prinsip-prinsip Good
Corporate Governance atau Tata Kelola Perusahaan Yang Baik dengan
mengacu pada Pedoman Etika Bisnis dan Etika Kerja.

Pedoman etika bisnis dan etika kerja merupakan seperangkat aturan


sebagai acuan perilaku karyawan krakatau steel. Dari pihak internal maupun
eksternal dalam upaya membangun budaya dan lingkungan kerja yang beretika
di seluruh lingkungan bisnis perusahaan. Pedoman etika bisnis dan etika kerja ini
juga disosialisasikan kepada seluruh dewan komisaris, dewan pendukungnya,
direksi, pejabat seta seluruh karyawan melalui berbagai macam cara seperti :

1. website perusahaan
2. Induction couse bagi karyawan
3. Banner – banner dan famplet serta sosial media laiinyya
Demi untuk mentaati semua aturan etika kerja dan etika bisnis diwajibkan
mentandatangani komitmen setiap tahunnya. Ini berlaku untuk semua pihak di
Krakatau Steel , baik itu dari petinggi sampai jabatan terbawah

Tujuan penerapan Etika Bisnis dan Etika Kerja di Krakatau Steel adalah:
1. Mewujudkan standar kerja yang sesuai dengan Tata Kelola Perusahaan yang
baik dan tepat bagi Insan Krakatau Steel dengan tetap berpedoman kepada
aturan yang berlaku, sebagai komitmen bersama untuk mewujudkan Visi dan
melaksanakan Misi Perusahaan secara profesional dan beretika, dengan
memperhatikan seluruh Stakeholders.
2. Meminimalisir segala risiko yang mengakibatkan terjadinya konflik
kepentingan maupun kelalaian yang dilakukan oleh Insan Krakatau Steel.
3. Menjabarkan Tata Nilai sebagai landasan etika yang harus diikuti oleh seluruh
Insan Krakatau Steel dalam melaksanakan tugas.

Sedangkan Manfaat Etika Bisnis dan Etika Kerja Krakatau Steel :


1. Sebagai acuan perilaku Insan Krakatau Steel dalam melaksanakan tugas dan
tanggung jawabnya masing-masing serta dalam berinteraksi dengan seluruh
stakeholders.
2. Menciptakan suasana kerja yang kondusif, sehat dan nyaman di dalam
lingkungan Perseroan. 3. Sebagai acuan untuk membentuk karakter tiap individu
didalam Perseroan yang berintegritas dan beretika ketika berinteraksi dengan
sesama individu

FALSAFAH : Partnership For Sustainable Growth Semangat, keinginan,


dan janji untuk tumbuh dan berkembang secara berkesinambungan bagi PT
Krakatau Steel (Persero) Tbk dan seluruh stakeholdersnya bersama-sama.
Penetapan kalimat “Partnership For Sustainable Growth” menjadi falsafah atau
motto Perseroan tidak lepas dari visi PT Krakatau Steel (Persero) Tbk yang telah
ditetapkan sebelumnya. Latar belakang penggunaan kata “Partnership” tidak
lepas dari pemahaman bahwa pengembangan bisnis PT Krakatau Steel
(Persero) Tbk menuntut dilakukannya kerjasama bisnis strategis baik dengan
pelanggan/konsumen, pemasok, mitra, dan seluruh stakeholders lainnya.
Sementara itu, kata ’’’For Sustainable Growth’’ yang terdapat dalam falsafah
Perseroan, mengandung makna penting yakni tumbuh dan berkembangnya
Perseroan akan berlangsung secara berkesinambungan yang tidak hanya akan
dialami oleh PT Krakatau Steel (Persero) Tbk tetapi akan dialami pula oleh
Perseroan pelanggan/konsumen, pemasok, karyawan, mitra, dan seluruh
pemangku kepentingan lainnya.

Berikut beberapa standar etika bisnis bagi karyawan :


Etika Perusahaan dengan Karyawan Karyawan mempunyai peranan yang
sangat penting bagi Perseroan, sehingga dalam hubungan kerja perlu
diperhatikan komitmen sebagai berikut:

1. Tunduk kepada peraturan perundang-undangan, Perjanjian Kerja Bersama


(PKB) dan ketentuan lainnya yang berlaku di Perseroan.
2. Menghormati Hak Azasi Manusia, Hak Profesional serta hak dan kewajiban
karyawan dalam bidang ketenagakerjaan.
3. Memberikan kesempatan yang sama kepada karyawan untuk mendapatkan
promosi, mutasi, maupun penghargaan tanpa membedakan gender, suku, ras,
agama, alumni, kedekatan emosional, dan antar golongan bila memiliki
kompetensi yang tepat dan memiliki rekam jejak kinerja yang positif.
4. Memperlakukan Karyawan sebagai modal utama, karena itu perlu dihargai
dan ditingkatkan kompetensinya dan kesempatan berkembang selaras dengan
tujuan Perseroan.
5. Membangun situasi kerja untuk mendukung disiplin, kerjasama, saling
menghargai dan Keterbukaan.
6. Memberi sanksi tegas kepada karyawan yang melanggar peraturan
perundang-undangan, Perjanjian Kerja Bersama dan/atau peraturan lain yang
berlaku di Perseroan.

Etika Perusahaan dengan Masyarakat Perseroan dalam berinteraksi dengan


masyarakat berkomitmen:
1. Mengembangkan dan memelihara hubungan yang baik.
2. Menghormati Tata Nilai Daerah.
3. Melaksanakan program pemberdayaan potensi dan kondisi, sosial dan
lingkungan masyarakat sekitar dan meningkatkan kualitas hidup melalui Program
Kemitraan untuk meningkatkan kemampuan usaha kecil agar menjadi tangguh
dan mandiri dan Program Bina Lingkungan/Corporate Social Responsibility
(CSR) yang dalam pelaksanaannya bersinergi dengan
Pemerintah/Instansi/Lembaga terkait.
4. Mensosialisasikan kepada masyarakat tentang Program Kemitraan & Bina
Lingkungan (PKBL) dan CSR serta kebijakan-kebijakan yang relevan.
5. Memberi kesempatan kepada masyarakat yang ingin mengetahui kegiatan-
kegiatan Perseroan dalam batas tertentu dan untuk mempromosikan produk
dalam acara-acara Perseroan.
6. Mengoptimalkan penyaluran program-program bantuan Perseroan kepada
masyarakat.
7. Memberikan pelayanan kepada masyarakat secara cepat, tepat, terbuka dan
adil serta tidak melakukan tindakan-tindakan yang mengarah kepada
diskriminasi masyarakat berdasar suku, agama, ras dan antar golongan, serta
senantiasa tanggap terhadap keluhan masyarakat.
8. Bina lingkungan lebih diprioritaskan pada peningkatan nilai tambah bagi
masyarakat, khususnya masyarakat yang tidak mampu di lingkungan terdekat
dengan Perseroan.

Etika Kerja adalah standar perilaku kerja, sistem nilai atau norma yang
digunakan oleh Dewan Komisaris, Direksi dan Karyawan dalam pelaksanaan
kerja untuk dan atas nama Perseroan, maupun berinteraksi dan berhubungan
dengan sesama rekan kerja, dengan atasan maupun bawahan.

Etika Kerja Sebagai Karyawan (Sesuai Nilai-Nilai Perusahaan) Etika kerja


sesuai nilai-nilai (values) Perusahaan merupakan penjabaran dari Competence,
Integrity, Reliable, Innovative, yang harus dilaksanakann oleh seluruh karyawan.

Competence (Self Confidence, Excellent, Learner, Capable) : Dalam


melaksanakan aktivitas sehari-hari karyawan dituntut untuk selalu:
1. Berani mengungkapkan ide-ide/pemikiran yang bermanfaat bagi Perseroan
dan dapat dipertanggungjawabkan.
2. Percaya dan yakin atas kemampuan diri untuk menjalankan tanggung jawab
dan perannya.
3. Berusaha mencapai target kinerja jauh di atas standar.
4. Selalu berusaha meningkatkan pengetahuan (knowledge) dan keterampilan
(skill) keahlian kerja, melalui program Perseroan dan secara mandiri.
5. Bersedia berbagi pengetahuan dan pengalaman (experience & knowledge
sharing).
6. Mempelajari pengetahuan baru dan memperluas wawasan untuk
pengembangan potensi diri. 7. Melakukan evaluasi kinerja sebagai proses
pembelajaran (learning process) untuk perbaikan berkelanjutan.
8. Mampu melaksanakan setiap tugas yang diberikan untuk mencapai kinerja
terbaik.
Integrity (Honesty, Loyalty, Transparency, Discipline, Responsible,
Professional): Karyawan selalu berupaya menjunjung tinggi nilai Integrity
dengan cara melaksanakan hal- hal sebagai berikut:
1. Mematuhi peraturan perundang-undangan, peraturan yang berlaku di
Perseroan dan Kesepakatan Kerja yang telah ditetapkan (compliance).
2. Mendahulukan kepentingan Perseroan daripada kepentingan pribadi atau
golongan.
3. Menjaga citra dan reputasi Perseroan baik di dalam maupun di luar lingkungan
Perseroan.
4. Taat mengerjakan perintah atasan sesuai kepentingan Perseroan, serta
berkomunikasi secara baik dan santun kepada atasan.
5. Bersungguh-sungguh dalam melaksanakan setiap tugas yang menjadi
tanggungjawabnya.
6. Selalu tepat dalam berperilaku kerja (tepat waktu kerja, tepat waktu
penyelesaian pekerjaan, tepat kualitas, dan lain-lain).
7. Menjaga rahasia Perseroan.
8. Memberikan informasi atau laporan secara benar dan akurat (dalam setiap
pengambilan tindakan, keputusan) sesuai dengan ketentuan.
9. Melakukan Komunikasi antara Atasan dan Bawahan, serta sesama tanpa
hambatan psikologis dan mudah dilakukan.
10. Memberikan sanksi secara obyektif kepada karyawan yang melanggar.
11. Memberikan penghargaan secara obyektif kepada karyawan yang
berprestasi.
12. Memisahkan antara kepentingan pribadi dan Perseroan untuk mencegah
benturan kepentingan (conflict of interest).
13. Bekerja sesuai dengan etika dan standar profesi.
Reliable (Responsive, Team Work, Focus to Customer) : Guna menjawab
tantangan kedepan dalam memenuhi kepuasan dan kepercayaan pelanggan,
Insan Krakatau Steel berkomitmen untuk melakukan hal-hal sebagai berikut:
1. Antusias, sigap, tanggap dan peduli terhadap setiap ancaman dan peluang
secara tepat dan cepat dalam aktivitas kerja.
2. Berusaha menyelesaikan suatu masalah Perseroan secara dini.
3. Tidak menunda-nunda pekerjaan yang seharusnya bisa segera diselesaikan.
4. Membina komunikasi dan kerjasama antar Karyawan dan unit kerja lain
dalam mewujudkan tujuan Perseroan.
5. Melakukan koordinasi dan tanggung jawab peran dalam melakukan kerja
bersama.
6. Selalu mengupayakan nilai tambah bagi pelanggan (eksternal dan internal)
dalam setiap proses yang dilakukan dan biaya yang dikeluarkan.
7. Menyederhanakan proses untuk mempercepat waktu penciptaan nilai (value
creation) bagi Pelanggan.

Innovative (Respect Each Other, Proactive, Creative, Enabler): Perbaikan


berkesinambungan dapat dicapai melalui penerapan perilaku kerja sebagai
berikut:
1. Bekerja dengan penuh inisiatif untuk mencari peluang perbaikan di tempat
kerja.
2. Memberikan berbagai alternatif solusi permasalahan, berdasarkan informasi
yang diberikan untuk menghasilkan sesuatu yang baru, berbeda, dan orisinal.
3. Selalu bersikap terbuka dalam mengembangkan ide perubahan menuju
perbaikan berkelanjutan dan peningkatan prestasi kerja.
4. Bersifat rendah hati, mendengarkan dan memperhatikan apa yang
disampaikan bawahan, atasan maupun mitra kerja untuk mendorong munculnya
ide, proses improvement dan inovasi. 5. Mampu mengimplementasikan setiap
ide atau gagasan dalam upaya perbaikan kinerja.
6. Berani untuk berubah serta tidak mudah menyerah dalam menghadapi
berbagai kendala.
7. Selalu memperbaiki mekanisme kerja dengan mekanisme kerja yang lebih
baik (efisien), setidaknya setiap 1 (satu) tahun.

Etika Kerja Sebagai Pimpinan Etika kerja sebagai pimpinan ditujukan untuk
mendorong internalisasi nilai-nilai budaya Perseroan yang selaras dengan
prinsip-prinsip Tata Kelola Perusahaan Yang Baik (Good Corporate
Governance).
1. Berusaha menutup gap (kesenjangan) antara kompetensi yang dituntut
dengan yang dimilikinya dengan cara belajar sendiri, mengikuti program
pelatihan yang dirancang Perseroan, dan lain-lain.
2. Menetapkan target kerja yang menantang untuk diri sendiri dan berusaha
mencapainya.
3. Melakukan pengukuran secara periodik atas hasil yang dicapai dan
melakukan analisa dan evaluasi terhadap semua faktor yang berpengaruh.
4. Menjadi suri tauladan dalam menjalankan prinsip-prinsip kebenaran.
5. Menjunjung tinggi kejujuran, contohnya: mau mengakui dan
mempertanggung-jawabkan setiap kesalahan dan kegagalan yang dilakukan
secara terbuka.
6. Melakukan pemantauan dan evaluasi secara terus menerus atas ketepatan
dan keandalan peralatan, sistem, proses dan prosedur yang digunakan.
7. Menjalin komunikasi dan kerjasama yang harmonis baik horizontal maupun
vertikal untuk meningkatkan sinergi antar unit kerja.
8. Mau mendengarkan, memperhatikan dan menerima masukan untuk menggali
ide-ide baru dalam mendorong proses improvement dan inovasi.
9. Mewujudkan setiap ide atau gagasan yang telah disepakati

Sanksi, Bagi pelanggar berat etika bisnis maupun etika kerja


1. Setiap pelanggaran yang dilakukan karyawan atas Etika Bisnis dan Etika Kerja
ini termasuk kategori pelanggaran yang dapat diancam Pengakhiran Hubungan
Kerja (PHK).
2. Sanksi yang dijatuhkan adalah sebagaimana yang telah diatur dalam
Perjanjian Kerjasama antara PT Krakatau Steel (Persero) Tbk dan Serikat
Karyawan Krakatau Steel (SKKS) yaitu mulai dari Surat Peringatan hingga PHK.
Sedangkan penjatuhan sanksi dilakukan setelah melalui mekanisme Bipartit
berdasarkan ketentuan yang berlaku di Perseroan.
3. Setiap pelanggaran yang dilakukan Dewan Komisaris dan Direksi maka
mengikuti ketentuan yang ditetapkan oleh Kementerian BUMN RI.

Penjabaran hal hal seperti diatas adalah berupa rangkuman kecil yang
mengambarkn kondisi kerja di perusahaan Krakatau Steel yang kurang lebih
mem=ncakup soal soal pada kuis pertemuan ke 2 ini.

Salam terimakasih
Gunawan Adam

55117120041

Sumber :

www. Krakatausteel.com (Dikases 11.09.2018)

http://fizlak.blogspot.com/2010/08/beberapa-contoh-budaya-
perusahaan.html (Dikases 12.09.2018)
https://www.coursehero.com/file/14749100/Strategi-Cost-Leadership-PT-
Krakatau-Steel/ (Dikases 11.09.2018)

http://digilib.uinsgd.ac.id/1639/ (Dikases 12.09.2018)