Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Hubungan antara kesehatan dan pariwisata sendiri sudah lama diketahui
terutama yang berhubungan dengan berbagai risiko kesehatan yang potensial
muncul akibat kontak antara pengunjung dengan lingkungan dan masyarakat
penjamu.
Wisatawan melakukan perjalanan karena berbagai alasan seperti bisnis,
kongres, pengenalan budaya, eksplorasi lingkungan, pertemuan keluarga, reuni
dengan teman, dan yang paling sering adalah untuk kesehatan. Dalam hal ini,
pariwisata mampu memenuhi salah satu kebutuhan dasar manusia untuk
mengembalikan kesehatan dan kebugaran mental dan fisik. Konferensi PBB
tentang Perjalanan dan Pariwisata tahun 1963 juga mengidentifikasi bahwa
kesehatan merupakan salah satu alasan utama untuk melakukan perjalanan
wisata. Berbagai masalah kesehatan yang berhubungan dengan perjalanan dan
pariwisata juga telah berhasil menjembatani World Health Organization (WHO)
dan WTO yang kemudian mengembangkan pedoman dalam pengendalian
kualitas air untuk minum dan rekreasi, kesehatan transportasi udara dan sanitasi
dalam pengembangan pariwisata.
Meskipun demikin aktivitas pariwisata tidak bebas dari risiko terhadap
kesehatan. Pariwisata dapat mempengaruhi tidak hanya kesehatan pengunjung
tetapi juga kesehatan masyarakat penjamu. Kondisi lingkungan tempat wisata
memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kesehatan wisatawan. Wisatawan
umumnya rentan tehadap mikroorganisme karena mereka tidak pernah terpapar di
daerah tempat mereka berasal. Kejadian yang muncul umumnya berhubungan
dengan konsumsi makanan atau minuman yang tidak higienis yang
mengakibatkan gangguan saluran pencernaan.
Masalah tersebut bisa dikontrol secara adekuat melalui penerapan prosedur
standar untuk pengelolaan makanan dan sanitasi lingkungan. Lingkungan yang
bersih dijadikan indikator kualitas oleh wisatawan karena menunjukkan perhatian
otoritas setempat terhadap masalah kesehatan lingkungan.

1
Kelompok penyakit lain yang berisiko didapatkan oleh wisatawan adalah
yang berhubungan atau disebarkan melalui vektor perantara seperti demam
berdarah, malaria, dan penyakit infeksi tropis yang lain. Namun, meskipun
terdapat begitu banyak risiko kesehatan pada perjalanan dan pariwisata, banyak
pula cara yang bisa diterapkan untuk mengurangi atau mengeliminasi risiko
tersebut. Hal ini memerlukan usaha sungguh-sungguh oleh pemerintah yang
didukung oleh masyarakat sekitar dan wisatawan yang berkunjung. Upaya
kedokteran pencegahan, pendidikan dan promosi kesehatan masyarakat termasuk
kesehatan lingkungan adalah fundamental dan dapat membawa perubahan sikap
dan perilaku yang dapat mengurangi risiko-risiko tersebut.
Uraian-uraian tersebut menunjukkan bahwa meskipun didasari oleh keinginan
untuk mengembalikan kebugaran atau kesehatan, aktivitas pariwisata tidak bebas
dari risiko terhadap kesehatan itu sendiri. Pariwisata dapat mempengaruhi tidak
hanya kesehatan pengunjung tetapi juga kesehatan masyarakat penjamu. Akan
tetapi kebanyakan risiko yang muncul dapat dihindari atau dikurangi secara
signifikan melalui penerapan konsep-konsep kesehatan lingkungan, pendidikan
kesehatan masyarakat dan pencegahan penyakit. Pemerintah, pelaku pariwisata
dan profesional di bidang kesehatan semuanya memiliki tanggung jawab untuk
menjadikan pariwisata sebagai a life-enriching experience di mana wisatawan
dapat memanfaatkan waktu secara berkualitas di lingkungan yang sehat serta
membangun kenangan dan kesan yang baik. Promosi kesehatan wisatawan
haruslah menjadi komponen vital dari promosi pariwisata. Meskipun dalam
beberapa hal upaya ke arah itu sudah ada, tetapi masih jauh dari posedur standar.
Juga sangat penting bagi para profesional kesehatan untuk menjadi pelopor dan
advokat dalam promosi kesehatan wisatawan. Sudah seharusnya pariwisata
berorientasi kesehatan di mana penyakit-penyakit dan risiko yang ada bisa
dikontrol sebaik mungkin. Sudah saatnya pula Bali memiliki pusat
pengembangan kesehatan pariwisata yang melibatkan sektor pemerintah terkait,
akademisi, pelaku pariwisata dan profesional kesehatan.
Kesehatan adalah salah satu faktor yang penting dalam menunjang usaha
peningkatan arus wisata. Jika kesehatan makanan dalam perjalanan kurang

2
terjamin dan kesehatan lingkungan di tempa tujuan tidak memenuhi standar,
maka wisatawan tidak akan memperpanjang lama tinggalnya.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari Pariwisata ?
2. Apa pengertian dari Wisatawan ?
3. Apa penegertian wisatawan perorangan, kelompok dan bisnis ?
4. Bagaimana masalah kesehatan sebelum aktifitas wisata ?
5. Bagaimana masalah kesehatan selama aktifitas wisata ?
6. Bagaiman masalah kesehatan setelah aktifitas wisata ?

C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Dengan membuat makalah ini, mahasiswa mampu memahami masalah-
masalah kesehatan wisatawan
2. Tujuan Khusus
a. Untuk memahami masalah kesehatan wisatawan perorangan,
kelompok, dan bisnis.
b. Untuk memahami masalah kesehatan sebelum aktifitas wisata
c. Untuk memahami masalah kesehatan selama aktifitas wisata
d. Untuk memahami masalah kesehatan setelah aktifitas wisata

D. Metode Penulisan
Metode penulisan yang digunakan dalam pembuatan makalah ini adalah
small group discussion dan studi pustaka. Pengkajian studi mengenai materi
tersebut di-telaah melalui studi pustaka dengan menggunakan beberapa literatur
dan pencarian data dari internet. Penulis mencari literatur-literatur baik dari buku
literatur maupun dari internet yang berkaitan dengan topik dan sumbernya bisa
dipercaya. Literatur tersebut kemudian dianalisis dengan cara berdiskusi dalam
small group discussion dan diinterpretasikan dengan topik tentang masalah
kesehatan wisatawan.

3
E. Sistematika Penulisan
Makalah ini kami susun dengan sistematika dasar yaitu sebagai berikut :
BAB I : Pendahuluan yang berisikan latar belakang, rumusan masalah,
tujuan penulisan, dan sistematika penulisan.
BAB II : Tinjauan Teori yang berisikan, definisi teori, penjelasan teori,
serta penerapan dalam keperawatan.
BAB III : Penutup yang berisikan kesimpulan dan saran serta daftar
pustaka.

4
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Pariwisata
Pengertian pariwisata menurut (bukart dan medlik, 1990; Soekadijo 1997)
menyatakan bahwa: pariwisata adalah perpindahan orang untuk sementara dan
dalam jangka waktu pendek ke tujuan–tujuan di luar tempat dimana mereka
biasanya hidup dan bekerja, dan kegiatan–kegiatan mereka selama tinggal di
tempat–tempat tujuan itu.
Menurut Wahab (1995, dalam Pitana, 2005), pariwisata didifinisikan sebagai
aktivitas manusia yang dilakukan secara sadar, yang mendapat pelayanan secara
bergantian diantara orang–orang dalam suatu negara itu sendiri, meliputi tempat
tinggal orang–orang dari daerah lain untuk sementara mencari kepuasan yang
beraneka ragam dan berbeda dengan apa yang dialami dimana ia memperoleh
pekerjaan tetap.
Menurut Suwantoro (1997), memberikan pengertian pariwisata sebagai suatu
proses kepergian sementara dari seseorang atau lebih menuju tempat lain di luar
tempat tinggalnya. Dorongan kepergiannya adalah karena berbagai kepentingan,
baik karena kepentingan ekonomi, sosial, kebudayaan, politik, agama, kesehatan
maupun kepentingan lain seperti seperti sekedar ingin tahu, menambah
pengalaman atau pun untuk belajar.
Menurut Freuler dalam (Pendit, 1994), merumuskan pariwisata ini sebagai
berikut: pariwisata dalam arti modern adalah merupakan gejala jaman sekarang
yang didasarkan atas kebutuhan akan kesehatan dan pergantian hawa, penilaian
yang sadar terhadap keindahan alam, kesenangan dan kenikmatan alam semesta,
dan pada khususnya disebabkan oleh bertambahnya pergaulan berbagai bangsa
dan kelas dalam masyarakat manusia sebagai hasil perkembangan perniagaan,
industri dan perdagangan serta penyempurnaan alat–alat pengangkutan.
Dari beberapa pendapat di atas, maka pariwisata dapat katakan suatu kegiatan
atau aktivitas untuk sementara waktu dalam rangka menambah wawasan bidang
sosial kemasyarakatan, sistem perilaku dari manusia itu sendiri dengan berbagai
dorongan kepentingan sesuai dengan budaya yang berbeda–beda yang

5
berhubungan dengan wisata termasuk pengusahaan objek dan daya tarik wisata
serta usaha yang terkait di bidang tersebut.

B. Pengertian Wisatawan
Wisatawan adalah orang yang bepergian dari tempat tinggalnya untuk
berkunjung ke tempat lain dengan menikmati perjalanan dari kunjungannya itu.
(Spillane, 1993). Sedangkan UU RI Nomor 9 tahun 1990 dalam Yoeti (1997),
mendifinisikan wisatawan adalah orang yang melakukan kegiatan wisata. Pada
kontek penelitian ini, bukan definisi yang harus diperdebatkan tetapi ingin dicari
apa hubungannya dengan konsep penelitian yang akan dilakukan.
Aspek sosiologis wisatawan justru akan menjadi bahasan yang penting karena
pada penelitian ini akan meneliti persepsi wisatawan terhadap suatu objek wisata
dalam konteks sosiologis wisatawan perubahan persepsi serta motivasi wisatawan
dalam melakukakan perjalanan wisata terus menerus mengalami perubahan.
Menurut Plog, 1972 dalam Pitana (2005), menjelaskan konsep sosiologi
tentang wisatawan menjadi sangat penting, kemudian Plog mengelompokkan
tipologi wisatawan sebagai berikut:
1. Allocentris, yaitu wisatawan hanya ingin mengunjungi tempat-tempat yang
belum diketahui, bersifat petualangan, dan mau memanfaatkan fasilitas yang
disediakan oleh masyarakat local.
2. Psycocentris, yaitu wisatawan yang hanya ingin mengunjungi daerah tujuan
wisata sudah mempunyai fasilitas dengan standar yang sama dengan di
negaranya.
3. Mid-Centris, yaitu terletak diantara tipologi Allocentris dan Psycocentris
Menurut Pitana (2005), tipologi wisatawan perlu diketahui untuk tujuan
perencanaan, termasuk dalam pengembangan kepariwisataan, tipologi yang lebih
sesuai adalah tipologi berdasarkan atas kebutuhan riil wisatawan sehingga
pengelola dalam melakukan pengembangan objek wisata sesuai dengan
segmentasi wisatawan. Pada umumnya kelompok wisatawan yang datang ke
Indonesia terdiri dari kelompok wisatawan psikosentris (Psycocentris). Kelompok
ini sangat peka pada keadaan yang dipandang tidak aman dan sangsi akan

6
keselamatan dirinya, sehingga wisatawan tersebut enggan datang atau
membatalkan kunjungannya yang sudah dijadualkan (Darsoprayitno, 2001)

C. Pengertian Wisatawan Perorangan, Kelompok, dan Bisnis


Bentuk perjalanan wisata berdasarkan jumlah peserta ini ada tiga macam
sebagai berikut :
1. Tour Perorangan (Individual Tour)
Jumlah peserta tour tidak menjadi ukuran tetapi cirri utamanya adalah tidak
adanya pimpinan rombongan di antara peserta, misalnya Simon & Party
Bali Tour.
2. Tour Kelompok (Group Tour)
Pada bentuk tour ini sebenarnya tidak ada batasan yang pasti untuk
menentukan kapan sekumpulan wisatawan itu dinyatakan rombongan, akan
tetapi karena perusahaan penerbangan menetapkan 15 orang sebagai
rombongan (orang ke 16 bebas pembayaran), maka banyak tour operator
mengambil 15 orang peserta tour sebagai batas rombongan itu. Ciri utama
dari tour rombongan ini adalah di dalam kelompok tersebut terdapat seorang
atau lebih pimpinan rombongan perjalanan wisata (tour leader). Misalnya,
Holland International Group Java Tour.
3. Bentuk Perjalanan Wisata Berdasarkan Tujuan Bisnis
Orang mengadakan perjalanan wisata selain untuk tujuan berlibur, juga
bertujuan untuk bisnis. Perjalanan wisata yang termasuk dalam kelompok
tersebut di atas adalah sebagai berikut :
a. Trade Fair Tour / Expo Tour
Acara perjalanannya mengunjungi kegiatan pameran dagang yang ada
kaitannya dengan kegiatan dengan kegiatan usaha dari wisatawan.
Diharapkan setelah mengikuti tour usaha dagangnya akan lebih
meningkat. Kunjungan kepada fair itu dimanfaatkan sebagai ajang
promosi atau penjualan.
b. Incentive Tour
Perjalanan wisata yang diadakan oleh perusahaan bagi para
karyawannya sebagai insentif untuk meningkatkan produktivitas kerja

7
para karyawan agar hasil produksi dapat ditingkatkan. Misalnya para
karyawan pabrik gula setelah selesai menggiling tebu mengadakan tour
atas biaya perusahaan. Hal ini dilaksanakan dengan harapan setelah tour
para karyawan mampu meningkatkan produksi. Dengan adanya
perjalanan wisata seperti itu para karyawan akan mempunyai perasaan
senang atau bahagia bekerja pada perusahaan tadi. Mereka tanpa
mengeluarkan biaya sendiri dapat menikmati suatu perjalanan.
Sebenarnya karyawan sendiri kurang mempunyai motivasi untuk
mengadakan perjalanannya, motivasinya lebih besar dari perusahaan
tersebut. Dalam hal ini, perusahaan mengharapkan adanya dampak yaitu
meningkatnya produksi.
c. Familirization tour
Perjalanan khusus bagi para tour operator atau perusahaan perjalanan
yang dirancang untuk lebih mengenal berbagai tujuan wisata beserta
fasilitas yang tersedia yang merupakan produk terbaru dari tour operator
setempat, dengan harapan agar produk tersebut dapat dibeli atau
dipromosikan kepada wisatawan di negara peserta tour.

D. Masalah Kesehatan Sebelum Aktifitas Wisata


Bagi kebanyakan orang melakukan perjalanan wisata telah menjadi sesuatu
hal yang biasa dilakukan di sela-sela waktu luangnya. Perjalanan wisata bukan
lagi menjadi sesuatu hal mewah yang memiliki harga mahal untuk dilakukan.
Bahkan sebagian orang telah menjadikan perjalanan wisata atau traveling sebagai
rutinitas yang biasa dilakukan dengan tempo waktu tertentu.
Selain pentingnya memiliki referensi tempat tujuan perjalanan wisata yang
akan dikunjungi. Melakukan perencanaan perjalanan yang baik juga menjadi
sesuatu hal yang layak diprioritaskan, ketika kita hendak memulai sebuah
perjalanan wisata. Dengan melakukan perencanaan perjalanan yang baik, maka
tujuan dari kegiatan perjalanan wisata yang kita lakukan akan didapatkan secara
maksimal. Salah satunya adalah kesehatan.
Sebelum memulai aktifitas wisata, kesehatan wisatawan harus di cek sebagai
salah satu syarat mendapatkan ijin untuk melakukan aktifitas wisata. Setelah

8
dinyatakan lulus tes maka akan diberikan health certificate. Pengertian dan
Fungsi Health Certificate adalah salah satu dokumen resmi yang menunjukkan
bahwa pemegangnya telah memperoleh vaksinasi yang disetujui oleh Badan
Kesehatan Dunia (W.H.O), sehingga diperkenankan untuk memasuki wilayah
suatu negara. Vaksinasi yang dimaksud disini adalah vaksinasi yang diberikan
agar orang tersebut terhindar dari beberapa penyakit, khususnya penyakit
menular.
Terdapat beberapa negara yang sangat peduli dengan kesehatan, melarang
setiap orang masuk ke negaranya yang ternyata belum memperoleh vaksinasi.
Pemberian vaksinasi tersebut adalah bertujuan agar seseorang terhindar dari
penyakit-penyakit berikut ini :
1. Cacar (small pox)
2. Kolera (cholera)
3. Demam kuning (yellow fever)
4. Malaria
5. Aids
6. Meningitis
7. Serta beberapa penyakit menular lainnya

E. Masalah Kesehatan Selama Aktifitas Wisata


Ini berarti bahwa wisatawan sudah berada pada daerah wisata yang dimana
daerah tersebut berbeda dengan kondisi pada daerahnya seperti perbedaan cuaca
atau lingkungan sekitar. Oleh sebab itu wisatawan harus beradaptasi agar aktifitas
wisatanya tidak terganggu. Salah satunya dengan kesehatannya. Banyak factor
dapat mempengaruhi kesehatan para wisatawan jika wisatawan tidak
memperhatikan kesehatannya seperti memilih makanan atau tempat tinggal.
Wisatawan bisa juga bisa mendadak mengalami perubahan penting dalam hal
ketinggian, kelembaban, temperatur, dan terekspos penyakit-penyakit menular
yang akan mempengaruhi kesehatannya selama perjalanan. Resiko mengalami
permasalahan kesehatan semakin mengingkat ketika mengunjungi obyek wisata
di negara berkembang. Karena sejauh ini negara-negara berkembang dianggap
sebagai daerah tujuan wisata yang mempunyai risiko kesehatan tertentu.

9
Permasalahan kesehatan para wisatawan yang berkunjung ke negara berkembang
dengan iklim tropis diantanranya adalah sebagai berikut :
1. Malaria
Malaria merupakan penyakit yang disebabkan karena infeksi empat spesies
protozoa yang berasal dari genus Plasmodium yang ditularkan oleh nyamuk
Anopheles. Gejala penyakit malaria adalah sakit kepala, nyeri perut, demam,
rasa dingin, peluh, lelah, lemah, anorexia atau disertai muntah. Komplikasi
terburuk yang bisa ditimbulkan dari penyakit malaria adalah kematian.
Sehingga diperlukan pencegahan terhadap penykit ini. Negara Indonesia
sebagai salah satu negara yang memiliki endemik malaria yang harus
diwaspadai. Apalagi ketika berwisata ke wilayah Indonesia timur yang paling
banyak angka kejadian. Pencegahan penyakit malaria adalah dengan
menghindari gigitan nyamuk Anopheles dan mengkonsumsi obat anti malaria
sebelum perlajanan wisata ke daerah endemik.
2. Demam Berdarah
Demam berdarah adalah penyakit akut yang disebabkan oleh virus dengue,
yang ditularkan oleh nyamuk. Nyamuk demam bedarah hanya menggigit pada
waktu tertentu yaitu pada pagi hari pukul 06.00-09.00 dan sore hari pukul
15.00-17.00. Penyakit ini banyak dijumpai pada daerah tropis dan sub-tropis,
dan menjangkit luas di banyak negara di Asia Tenggara. Demam berdarah
umumnya ditandai oleh demam tinggi mendadak, sakit kepala hebat, rasa sakit
di belakang mata, otot dan sendi, hilangnya napsu makan, mual-mual dan ruam.
Demam berdarah yang lebih parah ditandai dengan demam tinggi yang bisa
mencapai suhu 40-41◦C selama dua sampai tujuh hari, wajah kemerahan, dan
gelaja lainnya yang menyertai demam berdarah ringan. Berikutnya dapat
muncul kecenderungan pendarahan, seperti memar, hidung dan gusi berdarah,
dan juga pendarahan dalam tubuh. Pada kasus yang sangat parah, mungkin
berlanjut pada kegagalan saluran pernapasan, shock dan kematian. Timnul pula
bercak-bercak merah pada daerah wajah dan dada. Saat ini, tidak tersedia vaksin
untuk demam berdarah. Pencegahan terbaik adalah dengan menghindari gigitan
nyamuk. Seseorang yang terjangkit penyakit ini sebaiknya segera dirawat, dan
terutama dijaga jumlah cairan tubuhnya.

10
3. Diare
Diare adalah kelainan irama usus yang ditandai dengan peningkatan
frekuensi buang air besar dan wujudnya cair. Dikatakan mengalami diare jika
telah buang air besar 3 kali atau lebih dalam sehari yang tidak dapat ditahan,
dan timbul nyeri pada perut. Diare terbagi menjadi diare Akut dan Kronik.
Diare akut berdurasi 2 minggu atau kurang, sedangkan diare kronis lamanya
lebih dari 2 minggu. Penyebab diare adalah menurunnya absorbsi normal
larutan dalam air, meningkatnya sekresi elektrolit kedalam lumen intestinal,
adanya absorbsi yang buruk secara osmosis larutan aktif di lumen usus,
meningkatnya motilitas intestinal, penyakit inflamasi yang menghasilkan darah,
pus dan mucus. Makanan yang dikonsumsi juga menjadi salah satu faktor
penyebab diare. Kurang hygienis atau makanan terlalu pedas, sehingga
mengiritasi saluran pencernaan. Sehingga pencegahannya adalah menjaga
asupan makanan yang dikonsumsi oleh para wisatawan.
4. Hepatitis A
Hepatitis A merupakan penyakit hati yang ditularkan oleh virus. Hepatitis
A ditularkan melalui air minum dan makanan yang tidak bersih, yang tercemar
oleh kotoran manusia yang mengandung virus. Gejala Hepatitis A ialah demam
ringan, nafsu makan hilang, mual-mual, urin berwarna gelap mengandung
bilirubin, ikterus meningkat, pembesaran hati ringan, dan sering terasa nyeri25.
Pencegahan yang bisa dilakukan adalah dengan menjaga hygienitas minuman
dan makanan yang dikonsumsi.
5. Kecelakaan di obyek wisata
Kecelakaan yang biasa dialami wisatawan di negara berkembang yang
dikunjungi ada 2 yaitu kecelakaan di jalan, dan karena mengalami kekerasan.
Selain itu ada kecelakaan wisatawan di obyek wisata air. Kecelakaan wisatawan
di obyek wisata air diasosiasikan dengan aktivitas berenang, menyelam,
berlayar dan aktivitas yang lain. Tindakan pencegahan terjadinya kecelakaan di
jalan diantaranya memastikan kendaraan yang digunakan memenuhi standar,
pengemudi kendaraan tidak dalam keadaan mabuk atau mengkonsumsi alkohol,
dan saat perjalanan mematuhi peraturan lalu lintas. Sedangkan kecelakaan
karena mengalami kekerasan biasanya berhubungan dengan kondisi daerah

11
wisata yang sedang ada konflik. Sehingga demi keamanan wisatawan tidak
mengujungi dulu daerah tersebut. Kecelakaan yang wisatawan di obyek wisata
air dapat dicegah dengah mematuhi peraturan yang ada pada obyek wisata dan
selalu berhati-hati.

F. Masalah Kesehatan Setelah Aktifitas Wisata


Adapun masalah-masalah kesehatan yang di alami oleh wisatawan setelah
melakukan kegiatan wisata. Berikut ini adalah masalah-masalah kehetahan yang
dialami oleh wisatawan :
1. Kram Otot Karena Aktifitas Berat
Kram otot adalah kontraksi otot yang sangat menyakitkan setelah
melakukan aktifitas berat di suhu yang panas. Gangguan ini biasanya mulai
terjadi satu jam setelah berhenti aktifitas dan bagian tubuh yang paling sering
mengalami kram otot adalah betis, paha dan perut. Kesemuanya itu adalah
bagian otot yang memiliki tugas yang sangat berat. Kondisi kram paling sering
dialami oleh traveler yang hobi hiking dan wisata ekstrim lainnya. Meski
sangat menyakitkan namun solusi mengatasi gangguan kesehatan yang satu ini
cukup mudah dilakukan dan oatnyapun tidak mahal. Cukup melakukan
istirahat dan peregangan otot secukupnya. Untuk mempercepat pemulihan ada
baiknya juga mengonsumsi cairan yang mengandung garam dengan cara
menambahkan garam ke dalam air mineral.
2. Edema atau Kaki Bengkak
Ternyata edema atau pembengkakan pada kaki tidak hanya terjadi pada
wanita yang sedang hamil saja. Traveler juga bisa mengalami edema,
khususnya para traveler wanita yang notabene memiliki kulit yang lebih
sensitif. Karena paparan panas sinar matahari dalam waktu yang lama maka
memungkinkan traveler mengalami gangguan kesehatan ini.
3. Biang Keringat
Masih seputar gangguan kesehatan yang disebabkan karena suhu yang
panas. Biang keringat juga dapat menjadi masalah yang dapat mengganggu
kenyamanan traveling. Rasa gatal yang ditimbulkan dari jenis gangguan ini
cukup menjengkelkan. Biang keringat juga bermanifestasi terhadap

12
munculnya bintik-bintik merah pada kulit dan lecet jika di garuk. Gejala ini
disebabkan oleh terhalangnya saluran keringat oleh pakaian yang tidak sesuai.
Aktifitas seperti hiking, trekking, panjat tebing atau segala aktifitas pecinta
alam adalah beberapa hal yang dapat beresiko mengalami biang keringat.
Pencegahannya cukup simpel yaitu dengan memakai pakaian yang longgar
dan menghindari aktifitas berat di bawah terik matahari dalam jangka waktu
yang lama.
4. Hiponatremia
Hiponatremia adalah istilah medis untuk gangguan kesehatan karena
kebanyakan minum air sehingga disebut juga sebagai keracunan air. Kondisi
ini dapat menimpa olahragawan berat dan juga traveler yang suka menjelajahi
alam. Hiponatremia ini juga erat kaitannya dengan dehidrasi. Ketika seseorang
mengalami dehidrasi biasanya langsung minum air putih yang sangat banyak,
kondisi ini juga kurang baik karena dapat mengencerkan darah sehingga kadar
natrium dalam darah sangat berkurang. Bagi traveler yang hobi trekking
jangan lupa membawa bekal berupa minuman elektrolit yang mengandung
natrium yang cukup dan juga makanan ringan. Sebab mengkonsumsi makanan
ringan adalah salah satu cara terbaik untuk mencegah hiponatremia.
5. Hipotermia
Hipotermia secara umum dapat didefinisikan sebagai keadaan seseorang
yang memiliki suhu inti tubuh dibawah 35 derajat selsius. Hal ini dapat terjadi
ketika orang dihadapkan pada lingkungan di mana mereka tidak bisa tetap
hangat kemudian merasakan dingin yang mengakibatkan tubuh mulai
menggigil. Jika hal ini terus terjadi dan suhu tubuh tetap turun hingga di
bawah 30 derajat selsius maka orang akan jatuh koma bahkan meninggal.
Untuk traveler yang berencana berkunjung ke negara-negara bermusim dingin
sebaiknya carilah informasi terlebih dahulu mengenai kondisi musim yang
sedang terjadi.
6. Luka Lecet dan Melepuh Pada Kulit
Keluhan yang sering menimpa para traveler pecinta hiking dan wisatawan
belanja adalah lecet pada kulit. Hal ini disebabkan karena adanya gesekan dan

13
suhu panas. Pemilihan perlengkapan traveling yang tidak tepat biasanya
menjadi faktor yang menyebabkan terjadinya luka lecet maupun melepuh.
7. Mengalami Jetlag
Gangguan ini sering dialami para wisatawan yang traveling ke suatu
tempat yang memiliki perbedaan zona waktu yang sangat mencolok. Masalah
perbedaan zona waktu akan dapat menghancurkan rencana liburan jika tidak
tahu cara mengatasi jet lag ini. Secara sederhana jet leg diartikan sebagai
mabuk pasca terbang. Lebih spesifik didefinisikan sebagai sebuah gangguan
sementara yang menyebabkan kelelahan, insomnia, dan gejala lain akibat dari
perjalanan udara melintasi zona waktu yang berbeda.

14
BAB III
PENUTUP

A. Simpulan
Pengertian pariwisata menurut (bukart dan medlik, 1990; Soekadijo 1997)
menyatakan bahwa: pariwisata adalah perpindahan orang untuk sementara dan
dalam jangka waktu pendek ke tujuan–tujuan di luar tempat dimana mereka
biasanya hidup dan bekerja, dan kegiatan–kegiatan mereka selama tinggal di
tempat–tempat tujuan itu.
Wisatawan adalah orang yang bepergian dari tempat tinggalnya untuk
berkunjung ke tempat lain dengan menikmati perjalanan dari kunjungannya itu.
(Spillane, 1993). Sedangkan UU RI Nomor 9 tahun 1990 dalam Yoeti (1997),
mendifinisikan wisatawan adalah orang yang melakukan kegiatan wisata. Pada
kontek penelitian ini, bukan definisi yang harus diperdebatkan tetapi ingin dicari
apa hubungannya dengan konsep penelitian yang akan dilakukan.
Adapun masalah-masalah kesehatan yang dialami wisatawan sebelum,
selama, dan setelah melakukan kegiatan wisata baik di dalam negeri maupun di
dalam negeri. Berikut ini masalah-masalah kesehatan wisatawan yaitu diare,
malaria, demam berdarah, meningitis, kolera, dan lain-lain.

B. Saran
Diharapkan mahasiswa dapat mengatasi masalah-masalah kesehatan yang
dialami oleh para wisatawan yang berkunjung ke tempat wisata agar para
wisatawan merasa nyaman dengan perjalanan wisatanya.

15
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2012. Macam-Macam Gangguan Kesehatan Saat Travelling. Available


at http://travelingyuk.com/macam-macam-gangguan-kesehatan-saat-
traveling-dan-cara-mengatasinya/. Diakses pada tanggal 24 Maret 2015

Anonim. 2013. Kesehatan Perjalanan. Available at http://gosehat.com/kesehatan-


perjalanan. Diakses pada tanggal 24 Maret 2015

Anonim. 2013. Gangguan Kesehatan Saat Wisata. Available at


http://www.readersdigest.co.id/travel/traveler/gangguan.kesehatan.saat.wisa
ta/006/002/75. Diakses pada tanggal 24 Maret 2015

Anonim. 2013. Kumpulan Makalah Kesehatan Dalam Pariwisata. Bali : FK


UNUD

Pita. 2013. Masalah Kesehatan Selama Perjalanan. Available at


http://pitajeng.blogspot.com/2013/10/masalah-kesehatan-selama-
perjalanan.html. Diakses pada tanggal 24 Maret 2015

16