Anda di halaman 1dari 10

CRITICAL JURNAL REVIEW

CRITICAL JOURNAL
REVIEW
MK. KONSEP DASAR IPA
PRODI S1-PGSD

SKOR NILAI

PENGUASAAN KONSEP HAKIKAT SAINS DALAM PELAKSANAAN


PERCOBAAN PADA PEMBELAJARAN IPA DI SDN KOTA BANDA ACEH

NAMA PENGARANG: TURSINAWATI

TAHUN TERBIT :2016

NAMA MAHASISWA : ADINDA TRIANA


NIM : 1183111105
DOSEN PENGAMPU : Lidia Simanihuruk, S.Si.,M.Pd.
MATA KULIAH : KONSEP DASAR IPA

PROGRAM STUDI S1 PGSD


FAKULTAS PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
SEPTEMBER 2018
EXCECUTIVE SUMMARY

Hakikat sains adalah landasan untuk berpijak dalam mempelajari IPA.

Banyak cara yang telah dilakukan untuk mencapai aspek yang terkandung di dalam

hakikat sains, namun belum juga menunjukkan hasil yang memuaskan.guru telah

menerapkan beberapa model pembelajaran yang berorientasi pada siswa, dan

banyaknya percobaan telah dilakukan dalam pembelajaran IPA di SD, namun mutu

pendidikan IPA di SD belumlah menunjukkan hasil yang memuaskan dan hakikat

sains belumlah terwujud secara utuh. Disamping itu juga guru belum memahami

konsep hakikat sains. Hal ini sejalan yang diungkapkan Widodo (2007)

pembelajaran sains yang hanya membelajarkan fakta, konsep, prinsip,hukum, dan

teori sesungguhnya belum membelajarkan sains secara utuh. Dalam membelajarkan

sains guru hendaknya juga melatih keterampilan siswa untuk berproses

(keterampilan proses) dan juga menanamkan sikap ilmiah, misalnya rasa ingin tahu,

jujur, bekerja keras, pantang menyerah, dan terbuka.

Untuk mencapai hakikat sains secara utuh membutuhkan upaya dan

kompetensi guru untuk memuat aspek hakikat sains dalam proses pembelajaran

IPA. Percobaan pada pembelajaran IPA merupakan bentuk sederhana dari aspek

sains sebagai proses yaitu melakukan kegiatan ilmiah sehingga membangkitkan

motivasi siswa menjadi seorang ilmuan di masa akan datang. Walaupun demikian

sikap ilmiah menjadi aspek yang sangat penting dalam melaksanakan

percobaanpercobaan (kegiatan ilmiah sederhana). Sikap ilmiah siswa menjadi tolak

ukur etika penelitian para ilmuan dalam menjalani kegiatan ilmiah. Apabila sikap

ilmiah siswa dalam melaksanakan percobaan tidak dimilikinya, maka akan

berdampak negatif kepada produk sains atau teknologi yang mereka hasilkan. Oleh

sebab itu sikap ilmiah dalam melaksanakan percobaan pada proses pembelajaran

menjadi syarat mutlak yang harus diketahui dan dimiliki oleh peserta didik kita.

Hakikat sains belumlah menjadi satu kesatuan dalam proses pembelajaran IPA.
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa,karena atas berkat

dan Rahmat-Nya, saya dapat menyelesaikan tugas kuliah ini yaitu “CRITICAL

JURNAL REVIEW” dalam mata kuliah Konsep Dasar IPA.

Saya berterimakasih kepada Lidia Simanihuruk, S.Si.,M.Pd. dosen yang

sudah membimbing saya dalam menyelesaikan tugas ini,kepada semua yang sudah

memberikan saran dan kritik,dan semua yang sudah membantu saya dalam

menyelesaikan tugas ini.Saya mengharapkan agar tugas ini tidak hanya agar

terpenuhinya tugas kuliah, tetapi juga dapat bermanfaat bagi semua

pembacanya,dan semoga juga dapat menambah pengetahuan bagi saya dan

pembaca.

Saya sadar bahwa saya masih dalam proses belajar, dan tugas ini pun tidak

luput dari kesalahan.saya mohon maaf jika ada terdapat kesalahan pada penulisan

dan tata bahasa dalam makalah ini, dan saya mohon kritik dan saran membangun

untuk makalah yang saya buat ini.

Medan, 09 September 2018

Penulis

(1)
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..........................................................................................(1)

DAFTAR ISI..........................................................................................................(2)

BAB I PENDAHULUAN....................................................................................(3)

A. RASIONALISASI PENTINGNYA CJR................................................(4)

B. TUJUAN PENULISAN CJR...................................................................(4)

C. MANFAAT CJR.......................................................................................(4)

D. IDENTITAS JURNAL.............................................................................(4)

BAB II PEMBAHASAN/ANALISIS...................................................................(5)

A. PEMBAHASAN ISI JURNAL................................................................(5)

B. KELEBIHAN DAN KEKURANGAN ISI ARTIKEL JURNAL.........(7)

BAB III PENUTUP..............................................................................................(8)

A. KESIMPULAN........................................................................................(8)

B. SARAN.....................................................................................................(8)

C. REFERENSI..............................................................................................(8)

(2)
BAB I

PENDAHULUAN

Hakikat sains adalah landasan untuk berpijak dalam mempelajari IPA.

Banyak cara yang telah dilakukan untuk mencapai aspek yang terkandung di dalam

hakikat sains, namun belum juga menunjukkan hasil yang memuaskan. Guru telah

menerapkan beberapa model pembelajaran yang berorientasi pada siswa, dan

banyaknya percobaan telah dilakukan dalam pembelajaran IPA di SD, namun mutu

pendidikan IPA di SD belumlah menunjukkan hasil yang memuaskan dan hakikat

sains belumlah terwujud secara utuh.

Disamping itu juga guru belum memahami konsep hakikat sains. Hal ini

sejalan yang diungkapkan Widodo (2007) pembelajaran sains yang hanya

membelajarkan fakta, konsep, prinsip,hukum, dan teori sesungguhnya belum

membelajarkan sains secara utuh. Dalam membelajarkan sains guru hendaknya juga

melatih keterampilan siswa untuk berproses (keterampilan proses) dan juga

menanamkan sikap ilmiah, misalnya rasa ingin tahu, jujur, bekerja keras, pantang

menyerah, dan terbuka.

Untuk mencapai hakikat sains secara utuh membutuhkan upaya dan

kompetensi guru untuk memuat aspek hakikat sains dalam proses pembelajaran

IPA. Dari hasil penelitian menggambarkan pentingnya aspek hakikat sains dalam

proses pembelajaran IPA. Salah satu faktor masih rendahnya pemahaman hakikat

sains oleh guruadalah kurangnya pemahaman konsep hakikat sains yang dimiliki

guru, hal ini disebabkan guru tidak memperoleh pengetahuan yang jelas tentang

hakikat sains.

Hakikat sains belumlah menjadi satu kesatuan dalam proses pembelajaran

IPA. Pentingnya pengembangan sikap ilmiah siswa dalam melaksanakan kegiatan

ilmiah sehingga dapat membentuk sikap saintis yang tepat. Dengan demikian akan

tercapailah hakikat sains/IPA secara utuh.

(3)
Disaat kita membutuhkan sebuah referensi,yaitu jurnal sebagai

A. Rasionalisasi sumber bacaan kita selain buku dalam mempelajari mata kuliah

pentingnya Konsep Dasar IPA,sebaiknya kita terlebih dahulu mengkritisi

CJR jurnal tersebut agar kita mengetahui jurnal mana yang lebih

relevan untuk dijadikan sumber bacaan.

Tujuan review jurnal ini bertujuan

B. Tujuan 1.Mengulas isi sebuah jurnal.

penulisan 2. Mencari dan mengetahui informasi yang ada dalam jurnal.

CJR 3. Melatih diri untuk berfikir kritis dalam mencari informasi yang

diberikan oleh setiap bab dari jurnal.

1. Menambah pengetahuan kita tentang jurnal yang akan

kita review

2. Membuat saya sebagai penulis dan mahasiswa lebih


C. Manfaat CJR
terasah dalam mengkritisi sebuah jurnal.

3. Sebagai rujukan bagaimana untuk menyempurnakan

sebuah jurnal dan mencari sumber bacaan yang relevan.

D. IDENTITAS JURNAL

Penguasaan konsep hakikat sains dalam pelaksanaan percobaan


Judul
pada pembelajaran IPA di SDN kota Banda Aceh
Jurnal Pendidikan dasar dan humaniora

Download http://journal.unesa.ac.id

Volume dan Halaman Vol 2 No.4 Hal 72-84

Tahun 2016

Penulis Tursinawati

ISSN 2337-9227

Reviewer Adinda Triana

Tanggal di Review 6 September 2018


BAB II
PEMBAHASAN
A. PEMBAHASAN ISI JURNAL

Menjelaskan pentingnya aspek hakikat sains dalam proses


Tujuan Penelitian
pembelajaran sains

Penelitian ini dilaksanakanpadaSekolahDasarNegeri di

Kota Banda Aceh. Populasi dari

penelitianiniadalahsiswakelas V SDN di Kota Banda Aceh

denganjumlah 71 SDN.Sampel dari

penelitianiniadalahsiswakelas V SDN di Kota Banda Aceh


Subjek Penelitian
denganjumlah 10 SDN yang mewakilisetiapkecamatan

yang ada padaKota Banda Aceh.

Sampelpenelitiannyaadalah SDN 02, SDN 03, SDN 08, SDN

16, SDN 20, SDN 56, SDN 60, SDN 51, SDN 67, SDN 63 di

Kota Banda Aceh.

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian studi

kreatif .Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini


Assesment Data
adalah tes. Teknik analisis data menggunakan rumus

persentase.

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu

pendekatan kualitatif.Penelitian kualitatif bertujuan untuk

melihat kemunculan sikap ilmiah siswa dalam pelaksanaan


Metode Penelitian
percobaan padapembelajaran IPA di SDN Kota Banda

Aceh. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian

studi kreatif.

(5)
1. Dilakukan nya tes terhadap siswa secara obyektif

model pilihan ganda dengan 4 pilihan jawaban

2. Teknik analisis data, yaitu melakukan persentase


Langkah penelitian
Rumus : jumlah frekuensi soal biologi masing-

masing ranah dibagi jumlah seluruh instrumen

evaluasi akhir * 100%

Melakukan penelitian studi kreatif, instrumennya adalah


Teknik pengumpulan
tes dan teknik analisis data menggunakan rumus
data
persentase

Kemampuan dasar siswa dalam penguasaan konsep

hakikat sains diperoleh secara total rata-rata 40% pada

Analisa kategori tidak baik.

pembahasan/penyelesai Hendaknya siswa SD dibekali dengan pemberian materi

an masalah hakikat sains agar siswa dapat memahami IPA secara utuh.

Sehingga siswa paham terhadap setiap tujuan yang akan

dicapai dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran IPA.

hasil mengenai kemampuan dasar penguasaan konsep

hakikat sains siswa pada sepuluh SD Negeri tempat

dilakukannya penelitian di Kota Banda Aceh. Hasil


Hasil Penelitian
menunjukkan bahwa kemampuan dasar penguasaan

konsep hakikat sains siswa masih berada pada kategori

rendah yaitu rerata 40% pada 20 indikator.

(6)
B. KELEBIHAN DAN KEKURANGAN ISI ARTIKEL JURNAL

Kelebihan penelitian ini adalah membahas bagaimana cara

mengetahui seberapa besar pemahaman siswa terhadap

hakikat sains baik itu melalui tes maupun melakukan

analisis. Hasil penelitian nya juga diringkas dengan sangat

efisien,selain mencari seberapa besar nya pemahaman siswa

terhadap hakikat sains,penelitian ini juga mencari suatu


Kelebihan Penelitian
solusi mencari jalan keluar agar pemahaman siswa terhadap

hakikat sains ini sangat baik, baik itu dilihat dari faktor

pendidik yang mendorong siswa untuk lebih memahami

hakikat sains itu sebenarnya. Dalam segi tata bahasa yang

digunakan juga cukup baik sehingga pembaca penelitian ini

mudah untuk di mengerti.

Kekurangan penelitian tersebut adalah dimana peneliti

tidak menjelaskan secara lengkap mengapa pentingnya


Kekurangan
aspek hakikat sains dalam proses pembelajaran IPA.
Penelitian
Sementara aspek hakikat sains ada pengaruh nya dalam

proses pembelajaran IPA.

(7)
BAB III

PENUTUP

Penguasaan konsep IPA dapat diartikan sebagai kemampuan

kognitif siswa dalam memahami dan menguasai konsep-konsep

sains melalui suatu fenomena, kejadian, obyek, atau kegiatan

yang terkait dengan materi IPA.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan tentang relevansi sikap


A. Kesimpul
ilmiah siswa dengan konsep hakikat sains dalam pelaksanaan
an
percobaan pada pembelajaran IPA di SDN Kota BandaAceh,

setelah dianalisis dan dibahas sesuai dengan teori yang relevan,

maka diperoleh kesimpulan:Kemampuan dasar siswa dalam

penguasaan konsep hakikat sains diperoleh secara total rata-rata

40% pada kategori tidak baik.

Hendaknya siswa SD dibekali dengan pemberian materi hakikat

sains agar siswadapatmemahami IPA secarautuh.


B. Saran
Sehinggasiswapahamterhadapsetiaptujuan yang

akandicapaidalampelaksanaankegiatanpembelajaranIPA .

Tursinawati

(Dosen Program StudiPendidikanGuruSekolahDasar (PGSD)

FKIP Unsyiah).

Arikunto, S. (2006). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan


Praktik, Edisi Revisi VI. Jakarta: Rineka Cipta.
C. Referensi

National Science Foundation/NSF. (2004 ). Inquiry Thoughts,

Views, and Strategies for the K–5 Classroom. Arlington: Division

of Elementary, Secondary, and Informal Education.

(8)