Anda di halaman 1dari 39

I.

Judul
Redesign Daerah Pengolahan Sirtu PT. Cipta Jaya Mulia Kabupaten
Jayawijaya Provinsi Papua.

II. Latar Belakang


Usaha pertambangan adalah kegiatan dalam rangka pengusahaan mineral
atau batubara yang meliputi tahapan kegiatan penyelidikan umum, eksplorasi,
studi kelayakan, konstruksi, penambangan, pengolahan dan pemurnian,
pengangkutan dan penjualan serta pasca tambang. (UU Nomor 4 Tahun 2009).
Salah satu tahapan kegiatan pertambangan yang penting adalah pengolahan
dan pemurnian, pengolahan dan pemurnian merupakan kegiatan usaha untuk
meningkatkan mutu mineral dan/atau batubara serta memanfaatkan dan
memperoleh mineral ikutan.
Kegiatan pengolahan dan pemurnian harus didukung oleh beberapa kriteria
berikut :
1. Memiliki izin usaha pengolahan mineral dan/atau batubara.
2. Memiliki luas lokasi yang memadai didalam wilayah izin usaha
penambangan (WIUP).
3. Memiliki infrastruktur serta peralatan penunjang pengolahan dan pemurnian
yang memadai.
4. Melakukan kegiatan pemantauan dan pengurangan terhadap pencemaran
yang akan dihasilkan oleh kegiatan pengolahan dan pemurnian.
PT. Cipta Jaya Mulia (CJM) adalah sebuah perusahaan yang memiliki
lingkup kegiatan usaha pertambangan yang melakukan kegiatan penambangan
dengan menggunakan sistem kontrak lokasi dari Pemerintah Kabupaten
Jayawijaya di Wamena, lokasi penambangannya berada di pinggiran sungai
Wouma, bahan galian yang ditambang berupa pasir dan batuan (mineral non
logam) atau yang dikenal dengan sirtu.
Dalam tahapan pengolahan dan pemurnian PT. Cipta Jaya Mulia hanya
melakukan kegiatan pengolahan terhadap sirtu guna penyeragaman ukuran
material batuan, karena batuan yang ditambang dari alam memiliki bentuk dan
ukuran yang tidak seragam, batuan ini diolah untuk memenuhi kebutuhan

1
perusahaan maupun pasar dalam penggunaan material batuan sebagai bahan dasar
konstruksi dan pembuatan jalan.
Berdasarkan informasi yang didapatkan dari Site Manager PT. Cipta Jaya
Mulia (tahun 2017) bahwa dengan bertambanya pengerjaan konstruksi dan jalan
yang sedang digarap PT. Cipta Jaya Mulia berencana untuk memperluas daerah
pengolahan sirtu ke bagian utara untuk menampung material hasil pengolahan.
Dengan adanya rencana ini, maka dibutuhkan suatu perencanaan ulang secara
teknis dari daerah pengolahan yang telah ada saat ini agar dalam pelaksanan
kegiatan pengolahan PT. Cipta Jaya Mulia dapat memanfaatkan lokasi dengan
baik serta dapat menunjang peralatan mekanis yang bekerja di daerah tersebut.

III. Permasalahan
Berdasarkan latar belakang di atas, adapun permasalah yang akan dibahas
dalam penelitian ini yaitu:
1. Berapa luas dan volume penambahan lahan baru pada daerah pengolahan
sirtu?
2. Berapa produksi alat berat untuk kegiatan penimbunan lahan baru?
3. Berapa besar biaya produksi dari penggunaaan alat untuk penimbunan
lahan?
4. Berapa geometri jalan angkut material pada lokasi pengolahan?
5. Bagaimanana menentukan tata letak stockpile ?
6. Bagaimana rencana sistem penyaliran saluran terbuka di daerah
pengolahan?

IV. Batasan Masalah


Penelitian ini dibatasi pada perencanaan ulang pada daerah pengolahan sirtu
PT. Cipta Jaya Mulia yang bersangkutan dengan produksi penimbunan luasan
baru, biaya produksi penimbunan luasan baru, penentuan kemiringan jalan angkut
untuk membawa material dari stockyard menuju alat pengolahan, penentuan
penempatan dan kapasitas material hasil pengolahan pada stockpile dan
merancang sistem penyaliran yang berupa saluran terbuka didaerah pengolahan.

2
V. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Menghitung penambahan luasan dan volume pada lahan baru daerah
pengolahan sirtu PT. Cipta Jaya Mulia,
2. Menghitung produksi alat berat untuk kegiatan penimbunan lahan baru,
3. Menghitung biaya produksi alat berat untuk penimbunan,
4. Menghitung geometri jalan angkut pada daerah pengolahan sirtu,
5. Mendesign daerah penempatan material stockpile,
6. Mendesign saluran didaerah pengolahan sirtu PT. Cipta Jaya Mulia
Sedangkan manfaat dari penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan acuan
dan sebagai bahan referensi bagi perusahaan untuk lebih mengoptimalkan daerah
pengolahan sirtu PT. Cipta Jaya Mulia.

VI. Tinjauan Pustaka


6.1 Penelitian Terdahulu
1. Penelitian yang dilakukan oleh Apriyanti Sisca dengan judul “Perencanaan
stockpile sirtu”. Dari hasil pengamatan peneliti maka dapat diambil
beberapa kesimpulan yaitu volume untuk setiap fraksi adalah: fraksi
1(ukuran 3-5 cm)=1026,67 m3 , fraksi 2(ukuran 2-3 cm)=175,5 m3 , fraksi
3(ukuran 1-2 cm)=274,286 m3 , fraksi 4(ukuran 0,5-1 cm)=243,61 m3 ,
fraksi 5(ukuran 0-0,5 cm)=1310,56 m3 . Luas yang dibutuhkan untuk
penempatan semua fraksi adalah 8352 m3 . Penempatan tiap fraksisi dengan
fraksi lainnya adalah: fraksi 4 dengan fraksi 5= 31,83 m, fraksi 3 dengan
fraksi 4= 36,32 m, fraksi 2 dengan fraksi 3= 33,50 m, fraksi 1 dengan fraksi
2= 31,11 m. Perbedaan penelitian terdahulu dengan penelitian ini adalah
pada penelitian terdahulu membahas tentang perencanaan dan menghitung
volume kapasitas stockpile, sedangkan pada penelitian ini akan melakukan
perencanaan ulang pada daerah pengolahan serta mendesign daerah
penempatan stockpile.

2. Penelitian yang dilakukan oleh Rustam Kamoda dengan Judul “Perencanaan


Teknis Penambangan Andesit Pada PT. Pro Intertech Indonesia Distrik

3
Sorong Barat Kotamadya Sorong”. Dari hasil pengamatan peneliti maka
dapat diambil beberapa kesimpulan yaitu: perhitungan cadangan sebesar
421.520,280 bcm dengan total faktor kehilangan (mine loss) sebesar 23-
.338,658 bcm. Nilai faktor keamanan lereng (FK) adalah 1,425, 4,872 untuk
lereng tanah andesit. Dimensi saluran yang dapat diterapkan DTH 1 dengan
tinggi muka air 0,421 m, lebar dasar saluran 0,486 m, luas penampang 0,307
m2, lebar permukaan 0,975 m, daerah jagaan air 0,316 m, kedalaman saluran
0,737 m, keliling basah 1,460 m, dimensi saluran DTH 2 dengan tinggi
muka air 0,334 m, lebar dasar saluran 0,385 m, luas penampang 0,193 m2,
lebar permukaan 0,772 m, daerah jagaan air 0,250 m, kedalaman saluran
0,584 m, keliling basah 1,157 m. Geometri jalan tambang dengan lebar jalan
lurus 9,5 m, lebar jalan tikungan 14m, dengan kemiringan pada masing-
masing segmen jalan yaitu 15,190%. Produksi peralatan mekanis yang dapat
digunakan yaitu bulldozer CAT DS85EC sebesar 29.815,048 bcm, backhoe
Volvo EC 330 BCL sebesar 90.122,760 bcm dan dumptruck Nissan
CWB450 sebesar 40.377,209 bcm. Volume setara pemboran yaitu sebesar
3,969 m3/m dengan jumlah produksi Crawler Drill Furkawa PCR200
adalah sebesar 82.621 bcm tahun I, 165.242 bcm tahun II – tahun IV,
60.163,11 bcm pada tahun V dan metode penambangan yang akan
diterapkan adalah metode penambangan quarry dengan tipe side hill.
Perbedaan penelitian terdahulu dengan penelitian ini adalah pada penelitian
terdahulu melakukan perencanan penambangan terhadap bahan galian
andesit dengan memperhitungkan cadangan, kestabilan lereng, penyaliran,
geometri penambangan, penjadwalan, perhitungan produksi alat, penentuan
jumlah alat dan penentuan metode penambangan yang akan diterapkan,
sedangkan penelitian ini merencanakan ulang daerah pengolahan sirtu
dengan memperhitungkan volume timbunan lahan, biaya timbunan,
geomteri jalan angkut, penempatan stockpile dan penyaliran tambang.

4
6.2 Dasar Teori
6.2.1 Sirtu
A. Pengertian Sirtu
Sirtu adalah singkatan dari pasir batu. Sirtu terjadi karena akumulasi pasir
dan batuan yang terendapkan di daerah-daerah relatif rendah atau lembah. Sirtu
biasanya merupakan bahan yang belum terpadukan dan biasanya tersebar di
daerah aliran sungai. Sirtu juga bisa diambil dari satuan konglomerat atau breksi
yang tersebar di daerah daratan (daerah yang tinggi). Sirtu berasal dari dua bagian
yang berukuran besar merupakan material dari batuan beku, metamorf dan
sedimen. Sedangkan berukuran halus terdiri pasir dan lempung. Seluruh material
tersebut tererosi dari batuan induknya bercampur menjadi satu dengan material
halus. Kuatnya proses ubahan atau pelapukan batuan dan jauhnya transportasi
sehingga material batuan berbentuk elips atau bulat dengan ukuran mulai kerikil
sampai bongkah.
Penggunaan sirtu terbatas sebagai bahan bangunan terutama untuk
campuran beton, penggalian sering dilakukan dengan cara tradisional tanpa
memperhatikan dampak lingkungan. Sirtu yang lepas sangat baik untuk bahan
pengeras jalan biasa maupun jalan tol, dan airport. Selain itu, dapat pula
dipergunakan dalam campuran beton, aspal/hotmix, plester, bahan bangunan, dan
tanah urug.

B. Asal Mula Sirtu


Sirtu adalah singkatan dari pasir batu, karena komposisi ukuran butir yang
tidak seragam. Sirtu terjadi karena akumulasi pasir dan batuan yang terendapkan
di daerah-daerah relatif rendah atau lembah. Sirtu yang terdapat di beberapa
wilayah umumnya berasal dari pasir dan batuan gunung api, bersifat andesitik dan
sering bercampur dengan pasir batu apung.
Sirtu biasanya merupakan bahan yang belum terpadukan dan biasanya
tersebar di daerah aliran sungai. Sirtu juga bisa diambil dari satuan konglomerat
atau breksi yang tersebar di daerah daratan (daerah yang tinggi).
Sirtu berasal dari dua bagian yang berukuran besar merupakan material dari
batuan beku, metamorf, dan sedimen. Sedangkan berukuran halus terdiri pasir dan

5
lempung. Seluruh material tersebut tererosi dari batuan induknya bercampur
menjadi satu dengan material halus. Kuatnya proses ubahan atau pelapukan
batuan dan jauhnya transportasi sehingga material batuan berbentuk elips atau
bulat dengan ukuran mulai kerikil sampai bongkah.
Biasanya sirtu diendapkan pada lingkungan air seperti sungai, danau
maupun laut dikenal dengan sebutan aluvium. Kenampakan sirtu saat ini adalah
sesuatu yang tidak padu antara material batuan dengan halusnya. Bila endapan
aluvium ini sudah terbentuk dengan ketebalan dan penyebaran yang sangat luas,
bersamaan dengan berjalannya waktu dan proses geologi yang berkerja sehingga
kenampakan batuan ini sudah berada pada daerah ketinggian atau bukit. Nama
sirtu pun beralih menjadi konglomerat karena batuan tersebut sudah padu menjadi
satu antara material batuan dengan material halusnya.

C. Batu Split
Batu split adalah salah satu jenis batu material bangunan yang diperoleh
dengan cara membelah atau memecah batu yang berukuran besar menjadi ukuran
kecil-kecil. Batu Split juga sering disebut dengan nama batu belah, karena
disesuaikan dengan proses mendapatkannya yaitu dengan cara membelah batu.
Secara umum fungsi utama batu split adalan sebagai bahan campuran utama
untuk pembuatan beton cor. Selaian batu split, bahan pembuatan beton cor adalah
pasir dan semen. Proses pembuatan beton cor ini adalah dengan mencampur batu
split, pasir dan semen dengan menggunakan media air. Setelah tercampur maka
adonan ini dicetak sesuai dengan peruntukannya. Meskipun demikian setelah
melihat jenis ukuran batu split, ternyata fungsinya tidak hanya sebagai bahan
campuran beton cor saja tetapi juga berfungsi untuk keperluan yang lain.
Untuk mendapatkan batu split, bongkahan batu yang diperoleh dari hasil
penambangan akan dibelah dengan mesin penghancur (crusher machine).
Bongkahan batu yang dihancurkan tersebut akan menghasilkan batu split berbagai
macam ukuran. Batu yang sudah dihancurkan (crushed) tersebut kemudian akan
dikelompokkan dan disortir berdasarkan ukurannya. Berikut adalah jenis ukuran
batu split dan fungsinya. Jenis-jenis ukuran batu split yang umum diperjualbelikan
di pasaran :

6
1. Batu Split Ukuran 0 - 5 mm (mili meter). Jenis ini sering disebut juga
dengan istilah Abu Batu. Ukuran ini merupakan jenis ukuran yang
paling lembut, ukuran partikelnya menyerupai pasir lembut. Batu split
jenis ukuran ini banyak dibutuhkan untuk campuran dalam proses
pengaspalan atau dapat digunakan sebagai pengganti pasir. Material
batu split ukuran ini merupakan bahan utama untuk pembuatan
gorong-gorong dan batako press.
2. Batu Split Ukuran 5 - 10 mm (mili meter) atau disebut juga dengan
batu split ukuran 3/8 cm (centi meter). Material batu split jenis ini
banyak digunakan untuk campuran dalam proses pengaspalan jalan,
mulai dari jalan yang ringan sampai jalan kelas 1. Batu split jenis
ukuran ini akan dicampur dengan aspal menjadi Aspal Mixed Plant
atau secara umum disebut dengan aspal hot mixed (AHM).
3. Batu Split Ukuran 10 - 20 mm (mili meter). Material batu split jenis
ini banyak digunakan untuk bahan pengecoran segala macam
konstruksi, mulai dari konstuksi ringan sampai konstruksi berat.
Bangunan-bangunan yang menggunakan beton cor dari bahan batu
split ukuran ini antara lain jalan tol, bangunan, landasan pesawat
udara, bantalan kereta api, pelabuhan dan dermaga, tiang pancang dan
jembatan dan sebagainya.
4. Batu Split Ukuran 20 - 30 mm (mili meter). Material batu split jenis
ini banyak digunakan untuk bahan pengecoran lantai dan pengecoran
atau pembetonan horizontal yang lain.
5. Batu Split Ukuran 30 - 50 mm (mili meter). Material batu split jenis
ini biasanya digunakan untuk dasar badan jalan sebelum
menggunakan material yang lain, penyangga bantalan kereta api,
penutup atau pemberat pipa di dasar laut, beton cor pemecah ombak
dan lain-lain.
6. Batu Split Jenis Agregat A. Material batu split ini termasuk dalam
jenis sirtu. Batu split jenis Agregat A ini merupakan campuran antara
beberapa jenis ukuran baru split. Bahan campurannya terdiri dari abu
batu, pasir, batu split ukuran 10-20 mm, batu split ukuran 20-30 mm

7
dan batu split ukuran 30-50 mm. Pencampuran bahan ini tidak ada
pedoman komposisi yang pasti atau baku dari masing-masing bahan.
Komposisi disesuaikan dengan jenis penggunaannya. Batu split jenis
Agregat A ini pada umumnya digunakan sebagai bahan pengecoran
dinding, pembuatan dinding dan campuran bahan beton cor.
7. Batu Split Jenis Agregat B. Materialal batu split ini termasuk dalam
jenis sirtu. Batu split jenis Agregat B ini merupakan campuran antara
beberapa jenis ukuran baru split. Bahan campurannya terdiri dari
tanah, abu batu, pasir, batu split ukuran 10-20 mm, batu split ukuran
20-30 mm dan batu split ukuran 30-50 mm. Bahan Tanah merupakan
pembeda komposisi dengan batu split jenis Agregat A. Pencampuran
bahan ini tidak ada pedoman komposisi yang pasti atau baku dari
masing-masing bahan. Komposisi disesuaikan dengan jenis
penggunaannya. Batu split jenis Agregat B ini pada umumnya
digunakan untuk bahan timbunan awal pengerasan jalan dengan tujuan
untuk meratakan dan mengikat lapisan batu split yang digelar pada
lapisan di atasnya.
8. Batu Split Jenis Agregat C. Campuran material batu split ini sering
disebut batu asalan. Batu split jenis Agregat C ini merupakan
campuran antara beberapa jenis ukuran baru split. Bahan campurannya
terdiri dari tanah, abu batu, pasir, batu split apa saja dan dengan
komposisi yang tidak beraturan. Batu split jenis Agregat C ini pada
umumnya digunakan untuk bahan timbunan untuk pengurukan lahan,
reklamasi dan lain-lain.
9. Batu Gajah. Batu jenis ini sering disebut dengan boulder elephant
stone. Batu gajah merupakan salah satu jenis batu split yang
mempunyai ukuran paling besar dibandingkan dengan jenis batu split
yang lain. Batu gajah berfungsi untuk menimbun lahan atau lokasi
yang berdekatan dengan pantai. Batu gajah ini biasanya digunakan
untuk membuat bahan beton pemecah ombak, bahan reklamasi pantai,
bahan untuk membuat dermaga kecil atau yang paling umum
digunakan untuk bahan pondasi bangunan.

8
6.2.2 Perencanaan Timbunan Tanah
A. Pengertian Perencanaan Timbunan Tanah
Perencanaan adalah penentuan persyaratan teknik pencapaian sasaran
kegiatan serta urutan teknik pelaksanaan dari berbagai macam anak kegiatan yang
harus dilaksanakan untuk pencapaian tujuan dan sasaran kegiatan. Fungsi dari
perencanaan antara lain pengarahan kegiatan, perkiraan terhadap masalah
pelaksanaan, usaha untuk mengurangi ketidakpastian serta untuk memilih
kemungkinan terbaik dari beberapa alternatif yang ada (Arif dan Adisoma, 2008).
Sedangkan timbunan tanah adalah kegiatan pemindahan dan pemadatan
sejumlah volume tanah akibat adanya perbedaan ketinggian muka tanah asli
dengan ketinggian rencana trase disuatu tempat.
Dengan kata lain perencanaan timbunan tanah merupakan penentuan
persyaratan pencapaian sasaran kegiatan pemindahan dan pemadatan sejumlah
volume tanah di suatu tempat.

B. Tahapan Perencanaan Timbunan


Dalam sebuah pembangunan atau pembukaan lokasi baru baik untuk
pertambangan, pembangunan gedung, perkebunan atau beragam kegiatan
konstruksi lainnya selalu berkaitan dengan proses penimbunan tanah dan
pengurugan/penimbunan tanah. Dalam hal ini, maka pekerjaan tanah dapat
diklasifikasikan menjadi dua jenis contoh data permukaan tanah yaitu permukaan
tanah asli (original ground) dan permukaan tanah yang direncanaakn (design
ground). Berikut merupakan tahapan perencanaan penggalian dan penimbunan
suatu lahan yang akan dikerjakan :

9
Surveying/
Perhitungan
Original Ground Pengukuran
Volume Lahan
Lokasi

Perencanaan
Perencanaan
Lahan (Design Penggalian
Biaya
Ground)

Penimbunan Pemadatan Pelaksanaan

Gambar 6.1 Tahapan Perencanaan Timbunan


1. Original Ground
Peninjauan lahan lokasi yang akan dilakukan penimbunan, hal ini agar
diketahui lokasi tersebut berada dimana, akses jalan ataupun prasarana yang ada
disana seperti apa, kondisi lingkungan, kondisi tanah serta data-data pendukung
lainnya bagaimana, yang kemudian akan digunakan untuk perencanaan lahan
(design ground) serta faktor inilah yang akan menjadi penentu awal yang
mempengaruhi besar kecilnya biaya yang akan dibutuhkan untuk kegiatan
penimbunan lahan tersebut.

2. Surveying/ Pengukuran Lokasi


Surveying/ pengukuran lahan adalah kegiatan yang sangat penting untuk
dilakukan, karena pada tahap ini pengukuran bertujuan untuk menentukan posisi
sembarang bentuk yang berbeda di atas permukaan bumi, menentukan letak
ketinggian (elevasi) segala sesuatu yang berbeda di atas atau di bawah suatu
bidang yang berpedoman pada permukaan air laut rata-rata/ mean sea level
(MSL), menentukan bentuk atau relief permukaan tanah beserta benda-benda
yang ada dipermukaan tanah tersebut, menentukan panjang, arah, sudut dan
koordinat suatu titik (posisi) dari titik lain yang terdapat pada permukaan bumi,
dan menghitung luas daerah yang telah dibatasi suatu areal tertentu.

10
3. Perhitungan Volume Lahan
Dalam survei rekayasa, penentuan volume tanah adalah suatu hal yang
sangat lazim. Seperti halnya pada perencanaan pondasi, galian dan timbunan pada
rencana irigasi, jalan raya, jalan kereta api, penanggulangan sepanjang aliran
sungai, perhitungan volume tubuh bendung, dan lain-lain, tanah harus digali dan
dibuang ke tempat lain atau sebaliknya. Semua kegiatan menggali, mengangkut
dan menimbun serta memadatkannya memerlukan biaya yang cukup besar. Biaya
tersebut dapat dirancang apabila perencanaan dapat menghitung terlebih dahulu
berapa volume tubuh tanah yang dibutuhkan atau harus dibuang.
Pada dasarnya penentuan volume tubuh tanah dapat dilakukan dengan 3
metode yaitu:
Metode irisan melintang (cross section),
Metode borrow pit/spot level,
Metode Kontur.
Masing-masing metode di atas akan dijelaskan lebih lanjut di bawah ini.
 Metode Irisan Melintang (Cross Section)
Irisan melintang diambil tegak lurus terhadap sumbu proyek dengan interval
jarak tertentu dalam metode ini. Metode ini cocok digunakan untuk pekerjaan
yang bersifat memanjang seperti perencanaan jalan raya, jalan kereta api, saluran,
penanggulan sungai, penggalian pipa dan lain-lain. Cara penentuan volume
dengan metode melintang dibagi menjadi beberapa metode yaitu:
 Metode potongan melintang rata-rata
Dalam rumus ini volume didapat dengan mengalikan luas rata-rata
dari irisan yang ada dengan jarak antara irisan awal dan akhir.
Apabila irisan-irisan tersebut A1, A2, A3,……….. An-1, An dan jarak
antara irisan A1 ke An = L maka:

A1+A2+ A3+……….. An-1+An


Volume (V) = ( )× L (7.1)
n

 Metode jarak rata-rata


Metode ini digunakan untuk perhitungan volume yang memiliki
tampang irisan yang hampir sama antara A1, A2, A3,……….. An-1, An
dengan jarak irisan yang berbeda-beda yang dinyatakan dengan L1, L2,

11
L3 dan seterusnya. Rumus perhitungan volumenya dinyatakan dengan
persamaan:
L1+L2
Volume (V) = A. ( 2 ) (7.2)

 Metode prismoida
Metode ini adalah metode yang paling baik di antara metode-metode
yang lain. Prisma adalah sebuah bangun yang bidang sisi-sisinya
berupa bidang datar, sedangkan bidang alas dan atasnya sejajar.
Rumus prismoida dinyatakan dengan persamaan:

h
Volume (V) =
6
× (A1+4AM+A2) (7.3)

Dengan h adalah tinggi prisma, A1 dan A2 adalah luas alas dan atas
dan AM adalah luas penampang tengah yang diperoleh dari:

A1+A2
AM = (7.4)
2

 Metode Borrow Pit/Spot Level


Metode ini banyak dipakai pada pekerjaan penggalian yang besar dan
luas. Pelaksanaanya di lapangan meliputi pembuatan jaring-jaring grid yang
berbentuk bujur sangkar atau empat persegi panjang dengan panjang sisi
yang tertentu, misalnya 10 meter, 15 meter atau yang lain. Titik-titik grid di
lapangan ditandai dengan patok kayu, kemudian diadakan pengukuran sipat
datar untuk mengetahui ketinggian setiap patok.
Selisih tinggi untuk setiap patok dapat dihitung apabila penggalian
akan dikerjakan hingga pada level yang tertentu, atau apabila penggalian
dilakukan terlebih dahulu baru dihitung volume tanah yang telah digali,
maka setelah penggalian dilakukan pengukuran sipat datar lagi pada patok-
patok tersebut untuk mengetahui kedalaman penggalian di setiap patok. Dari
selisih-selisih ketinggian tersebut kemudian dihitung volumenya dengan
rumus prismoida dengan alas prisma berupa empat persegi panjang atau
segitiga, sedangkan tinggi prisma di ambil dari rata-rata dalamnya
penggalian di titik-titik grid.

12
 Metode Kontur
Garis kontur pada peta adalah garis-garis yang menghubungkan
tempat-tempat yang sama tinggi sehingga bidang yang terbentuk oleh
sebuah garis kontur akan berupa bidang datar. Apabila kita mempunyai peta
yang bergaris kontur, maka volumenya dapat dihitung sebagaimana
menghitung volume pada peta yang memiliki penampang melintang. Luas
setiap penampang di sini adalah luasan yang dibatasi oleh suatu garis
kontur, sedangkan tinggi atau jarak antar penampang adalah besarnya
interval garis kontur, yaitu beda harga antara dua garis kontur yang
berurutan.
Penentuan luas dengan metode ini dilakukan dengan cara planimeter
karena bangun atau bidang yang dibatasi oleh sebuah garis kontur
bentuknya tidak teratur. Volumenya dapat dihitung dengan rumus end area
untuk setiap dua buah tampang yang berurutan, rumus prismoida untuk tiga
buah tampang, atau rumus simpson untuk tampang yang banyak.

4. Design Ground
Data yang telah didapatkan dari hasil survey atau pengukuran lapangan dan
telah diketahui volumenya berdasarkan perhitungan disajikan secara visual
sehingga memudahkan dalam tahap perencanaan penimbunan maupun biaya. Data
luasan didapat dengan pengukuran menggunakan Waterpass, Theodolite maupun
Kompas Geologi, kemudian data tersebut diinput kedalam software yang dapat
menyajikan kontur seperti surfer, autoCAD dan GIS. Hasil dari pengolahan data
tersebut dapat digunakan untuk merencanakan timbunan, serta perencanaan ulang
untuk penempatan stockpile, geometri jalan angkut dan sistem penyaliran.

5. Perencanaan Biaya
Perencanaan biaya adalah biaya-biaya yang termasuk biaya pengeluaran alat
berat adalah biaya penyewaan alat, biaya mobilisasi dan demobilisasi dan biaya
upah tenaga operator. Peralatan konstruksi yang digerakkan oleh motor bakar
(internal combustion engine) memerlukan solar, yang juga harus diperhitungkan
sebagai biaya operasional. Perhitungan biaya kebutuhan alat berat didapatkan dari

13
perkalian antara volume masing-masing pekerjaan, jumlah alat yang digunakan
serta harga satuan pekerjaan.

6. Galian dan Timbunan


Galian dan timbunan atau yang lebih dikenal oleh orang-orang lapangan
dengan Cut and Fill adalah bagian yang sangat penting baik pada pekerjaan
pembuatan lahan, jalan, bendungan, bangunan dan reklamasi. Galian dan
timbunan dapat diperoleh dari peta situasi yang dilengkapi dengan garis-garis
kontur atau diperoleh langsung dari lapangan melalui pengukuran sipat datar
profil melintang sepanjang jalur proyek. Perhitungan galian dan timbunan dapat
dilakukan dengan menggunakan peta situasi dengan metode penggambaran profil
melintang sepanjang jalur proyek atau metode grid-grid (griding) yang meninjau
galian dan timbunan dari tampak atas dan menghitung selisih tinggi garis kontur
terhadap ketinggian proyek ditempat perpotongan garis kontur dengan garis
proyek.
Galian dan timbunan berdimensi volume (meter kubik). Volume dapat
diperoleh secara teoritis melalui perkalian luas dengan panjang. Galian dan
timbunan untuk keperluan perencanaan diperoleh melalui perolehan luas rata-rata
galian atau timbunan di dua buah profil melintang yang dikalikan dengan jarak
mendatar antara kedua profil melintang tersebut.
Teknologi pengukuran dan pemetaan yang digunakan saat ini sudah sangat
demikian berkembang. Survei lapangan dapat diperoleh secara cepat dan tepat
menggunakan perlatan Kompas Geologi, Waterpass atau GPS (Global
Positioning System) dan diikuti oleh sistem perekaman data yang dapat langsung
diolah oleh komputer dan dengan menggunakan berbagai macam perangkat lunak
autoCAD dapat langsung disajikan.

7. Pemadatan
Pemadatan adalah suatu proses dimana udara pada pori-pori tanah
dikeluarkan dengan salah satu cara mekanis (menggilas/ memukul/ mengolah).
Selain tanah digunakan untuk fondasi bangunan tanah juga digunakan sebagai
bahan timbunan lahan, jalan, tanggul dan bendungan, tanah membutukan

14
perbaikan guna mendukung bangunan di atasnya atau tanah akan digunakan
sebagai bahan timbunan, maka pemadatan harus sering dilakukan, tujuan
pemadatan tanah antara lain untuk mempertinggi kuat geser tanah, mengurangi
sifat mudah mampat (kompresibilitas), mengurangi premeabilitas dan mengurangi
perubahan volume sebagai akibat peruahan kadar air dan lain-lain.
Tujuan tersebut dapat tercapai dengan pemilihan tanah bahan timbunan, cara
pemadatan, pemilihan mesin pemadat dan jumah lintasan yangs sesuai.

6.2.3 Produktivitas Peralatan Penimbunan


Produktivitas adalah kemampuan alat untuk berproduksi. Produktivitas alat
tergantung pada kapasitas, waktu siklus alat, dan efisinsi alat. Perhitungan
produktivitas alat biasanya dilakukan dengan metode perhitungan perkiraan
(guesstimating), yaitu suatu cara perhitungan dengan memperhatikan tiap-tiap
faktor yang mempengaruhi produksi untuk menentukan volume asli (pay load)
atau ton yang dapat dihasilkan oleh masing-masing alat yang dipergunakan. Agar
diperoleh nilai yang mendekati dengan kenyataan di lapangan, maka dalam
kalkulasi harus dimasukkan faktor koreksi yang meliputi:
1. Faktor Efisiensi Waktu
Efisiensi waktu merupakan salah satu faktor yang harus diperhitungkan
dalam penentuan taksiran produksi alat yang digunakan, yang dinilai berdasarkan
kondisi pekerjaan seperti pada tabel 6.1.
Tabel 6.1 Efisiensi Waktu Berdasarkan Kondisi Kerja

Kondisi Kerja Efisiensi

Menyenangkan 0,90
Normal 0,83
Buruk/ Jelek 0,75
(Sumber: Tenriajeng, 2003)

2. Faktor Efisiensi Kerja


Sebagaimana efisiensi waktu, efisiensi kerja pun mutlak diperhitungkan
untuk menentukan taksiran produksi alat dengan memperhatikan keadaan medan
dan keadaan alat. Nilai efisiensi kerja ditunjukkan pada tabel 6.2.

15
Tabel 6.2 Nilai Efisiensi Kerja Alat
Keadaan Keadaan Alat
Medan Memuaskan Bagus Biasa Buruk
Memuaskan 0,84 0,81 0,76 0,70
Bagus 0,78 0,75 0,71 0,65
Biasa 0,72 0,69 0,65 0,60
Buruk 0,63 0,61 0,57 0,52
(Sumber: Tenriajeng, 2003)

3. Faktor Efisiensi Operator


Seperti efisiensi waktu dan efisiensi kerja, efisiensi operator mutlak
diperhitungkan dalam penentuan taksiran produksi alat. Nilai efisiensi di sini
sangat dipengaruhi oleh keterampilan operator yang mengoperasikan alat
bersangkutan. Nilai efisiensi operator dapat dilihat pada tabel 6.3.
Tabel 6.3 Nilai Efisiensi Operator

Kondisi Kerja Efisiensi

Menyenangkan 0,90 – 1,00


Normal 0,83
Buruk/ Jelek 0,50-1,60
(Sumber: Tenriajeng, 2003)

Taksiran produktivitas peralatan yang akan dihitung yaitu alat-alat utama


yang akan digunakan pada kegiatan penimbunan yang meliputi:
A. Produksi Excavator
Alat ini dapat berfungsi sebagai alat gali serbaguna (multipurpose) berjalan
memakai roda putaran rantai/ track crawler. Dapat juga difungsikan untuk
menumpuk stockpile, mengangkat/ memuat tanah, bahan material keatas dump
truck untuk dibawa ke lokasi pekerjaan.
Taksiran produksi excavator dapat dihitung secara empiris dengan
menggunakan persamaan seperti di bawah ini:
𝐹𝐾 ×𝐼 ×𝐻
𝑃= (7.5)
𝐶𝑡

16
Dengan P adalah produksi excavator (m3/jam), FK adalah faktor koreksi, I adalah
swell factor material, H adalah kapasitas bucket (m3), dan Ct adalah cycle time
(menit).

B. Produksi Dumptruck
Taksiran produksi dump truck dapat dihitung dengan menggunakan formula
sebagai berikut:
𝐹𝐾 ×𝐼 ×𝐻
𝑃= (7.6)
𝐶𝑡

Dengan P adalah produksi dump truck (m3/jam), FK adalah faktor koreksi, I


adalah swell factor material, H adalah kapasitas bak (m3), dan Ct adalah cycle time
(menit).

C. Produksi Bulldozer
Dalam hal ini yang dimaksud adalah produksi bulldozer bila dipergunakan
untuk mendorong tanah dengan gerakan-gerakan yang teratur, misalnya pada
penggalian selokan, pembuatan jalan raya, penimbunan kembali (back filling) dan
penumpukan atau penimbunan (stock filling). Persamaan untuk menghitung
produksi bullduzer yaitu:
𝐹𝐾 ×𝐼 ×𝐻
𝑃= 𝐽 𝐽 (7.7)
( ) + ( ) +𝑍
𝐹 𝑅

Dengan P adalah produksi bulldozer (m3/jam), FK adalah faktor koreksi, I adalah


swell factor material, Ct adalah cycle time alat (menit), H adalah kapasitas alat
(m³), J adalah jarak kerja (m), F adalah kecepatan maju (forward velocity),
(m/menit), R adalah kecepatan mundur (reverse velocity) (m/menit) dan Z adalah
waktu tetap (fixed time) (menit).

D. Produksi Compactor
Compactor digunakan untuk memadatkan tanah atau material sehingga
tercapai tingkat kepadatan yang diinginkan. Jenis rodanya bisa terbuat dari besi
seluruhnya atau ditambahkan pemberat berupa air atau pasir, bisa terbuat dari
karet (berupa roda ban) dengan bentuk kaki kambing (sheep foot), ada juga yang

17
ditarik dengan alat penarik seperti bulldozer, atau bisa menggunakan mesin
penarik sendiri, yang berukuran kecil bisa menggunakan tangan dengan
mengendalikannya ke arah yang akan dipadatkan. Untuk pemadatan pengaspalan
biasanya menggunakan road roller, tire roller atau drum roller, tetapi untuk
pemadatan tanah biasanya menggunakan sheep foot roller atau drum roller.
Pada dasarnya tipe dan jenis compactor adalah sebagai berikut :
 Smooth steel rollers (penggilas besi dengan permukaan halus). Jenis ini
dibedakan lagi menjadi beberapa macam, jika ditinjau dari cara pengaturan
rodanya, diantaranya : three wheel rollers (penggilas roda tiga) dan tandem
rollers (penggilas tandem),
 Pneumatic tired rollers (penggilas roda ban angin),
 Sheep foot type rollers (penggilas kaki kambing),
 Vibratory rollers (penggilas getar),
 Vibratory plate compactor (alat pemadat-getaran).
Jenis-jenis compactor di atas mempunyai spesifikasi tersendiri untuk
dipakai dalam usaha pemadatan bagi berbagai jenis tanah, atau dengan
memperhatikan berbagai faktor, seperti pada tabel 6.4 dibawah ini.
Tabel 6.4 Pembagian Fungsi Alat Pemadat
Steel Tamping
Material Pneumatic Vibratory Grid
Wheel Foot
Batuan 1 3 1 1 1
Kerikil bersih atau
1 2 1 1 1
berlumpur
Kerikil, berlempung 1 2 2 1 2
Pasir bersih atau berlumpur 3 3 1 2 2
Pasir, berlempung 3 2 2 1 3
Lempung, berpasir atau
3 1 2 1 3
berlumpur
Lempung, berat 3 1 2 1 3
(Sumber : Fatena, 2008 kutipan Condtruction Methods and Management, 1998)
Keterangan :
1 = direkomendasikan
2 = dapat dipakai
3 = kurang direkomendasikan

18
Untuk kategori compactor lebih lanjut hanya dibahas mengenai vibration
roller karena alat inilah yang digunakan untuk pemadatan tanah timbunan.
Jenis lain dari tandem roller adalah vibrating roller (penggilas getar).
Vibrating roller mempunyai efisiensi pemadatan yang sangat baik. Alat ini
memungkinkan digunakan secara luas dalam tiap jenis pekerjaan pemadatan. Efek
yang diakibatkan oleh vibration roller adalah gaya dinamis terhadap tanah. Butir-
butir tanah cenderung mengisi bagian-bagian kosong yang terdapat di antara butir-
butirnya. Sehingga akibat getaran ini tanah menjadi padat dengan susunan yang
lebih kompak (Tenrisukki, 2003).
Dalam proses pemadatan yang dilakukan dengan menggunakan vibrating
roller, perlu diperhatikan faktor-faktor berikut : (1) frekuensi getaran, (2)
amplitude getaran, dan (3) gaya sentrifugal yang bekerja. Sistem pendorong,
vibrasi dan sistem mengemudi dioperasikan oleh tekanan hidrostatis, untuk
menjamin penanganan yang termudah. Produksi vibrating roller biasanya
dinyatakan dalam luasan (m2) yang dapat dipampatkan oleh penggilas sampai
kepampatan yang dikehendaki per satuan waktu. Untuk menghitung dapat
digunakan persamaan berikut :
( 𝑉 ×((𝐿𝑒−𝐿𝑜)+𝐿𝑜)×𝐻 ×𝐸)
𝑄= (7.8)
𝑛

Dimana, V adalah kecepatan kerja (m/jam), Le adalah lebar blade efektif


(m), Lo adalah lebar overlap (m), E adalah efisiensi kerja, W adalah lebar
pemadatan (m), H adalah tebal lapisan yang dikerjakan (m), n adalah jumlah
lintasan (n = W/(Le-Lo)) dan Q adalah produksi (m3/jam).
Yang dimaksud satu pass adalah satu lintasan dengan roda gilas melewati
satu jalur tertentu. Agar dicapai hasil penggilasan dengan permukaan yang rata,
maka tiap pass dengan pass yang berikutnya harus saling menindih (overlap)
antara 15-30 cm.

6.2.4 Biaya Pemilikan dan Operasi Alat Berat


Secara umum, biaya pemilikan dan operasi suatu alat besar dapat
digambarkan sebagai berikut :

19
Depresiasi (Penyusutan)
Biaya
Pemilikan Bunga Modal/ Pajak dan
Asuransi

Fuel (Bahan Bakar)

Biaya Kepemilikan
dan Operasi Lubricent/ Grease/ Filter

Biaya Ban
Operasi
Perbaikan/ Reparasi

Upah Operator

Hal-Hal Khusus

(Sumber : Seri Diklat Pemindahan Tanah Mekanis, Andi Tenrisuki (2003))


Gambar 6.2 Biaya Pemilikan dan Biaya Operasi Alat Besar
Tinggi rendahnya biaya pemilikan suatu alat tidak hanya tergantung dari harga
alat tersebut, tetapi juga dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu :
 Kondisi Medan Kerja
 Tipe Pekerjaan
 Harga Lokal Dari Bahan-Bahan dan Minyak Pelumnas
 Tingkat Bunga
 Pajak dan Asuransi
 Biaya Rupa-Rupa
A. Biaya Pemilikan
Yang dimaksud dengan biaya pemilikan adalah biaya yang menunjukan
jumlah antara penyusutan (depresiasi) alat, bunga dan asuransi alat.
1. Biaya Penyusustan (Depresiasi)
Penyusutan (depresiasi adalah harga modal yang hilang pada suatu peralatan
yang disebabkan oleh umur pemakaian. Guna menghitung besarnya biaya

20
penyusutan perlu diketahui terlebih dahulu umur kegunaan dari alat yang
bersangkutan dan nilai sisa alat pada batas akhir umur kegunaanya. Terdapat
banyak cara yang digunakan untuk menentuan biaya penyusutan. Salah satu
metoda yang banyak digunakan adalah “straight line method” yaitu turunya nilai
modal dilakukan dengan pengurangan nilai penyusutan yang sama besarnya
sepanjang umur kegunaan dari alat tersebut sebagai berikut :
Harga Mesin-(Harga Ban*)-Harga Sisa (Rp)
Depresiasi = Umur Kegunaan Ban (Jam)
(7.9)

(*) Untuk alat-alat yang menggunakan crawler, harga ban tidak ada.

2. Bunga Modal, Pajak dan Asuransi


Bunga modal tidak hanya berlaku bagi peralatan yang dibeli dengan sistem kredit,
tetapi dapat juga dari uang sendiri yang dianggap sebagai pinjaman. Jangka waktu
peminjaman jarang yang lebih dari 2 (dua) tahun pada saat ini. Besar kecilnya
nilai asuransi tergantung pada baru tidaknya peralatan, kondisi medan kerja dan
tipe pekerjaan yang ditangani. Perhitungan bunga modal, pajak dan asuransi dapat
disatukan dengan menggunakan rumus :
Faktor x Harga Mesin x Bunga Per Tahun
Bunga Modal + Pajak + Asuransi = Jam Pemakaian Per Tahun
(7.10)
1 - (n -1) (1 - r)
Faktor = 2n
(7.11)
Dimana, n adalah umur ekonomis/life time alat (tahun) dan r adalah nilai
sisa alat (%).
Biaya pemakaian alat mempunyai nilai yang tetap walau alat tidak dioperasikan.

B. Biaya Operasi Alat


Biaya operasi peralatan adalah biaya yang dikeluarkan hanya apabila alat
tersebut dioperasikan. Biaya ini terdiri atas :
1. Bahan Bakar
Kebutuhan bahan bakar dan pelumas perjam berbeda untuk setiap alat atau
merk dan mesin. Data-data ini biayanya dapat diperoleh dari pabrik produsen alat
atau dealer alat yang bersangkutan atau dari data lapangan. Pemakaian bahan
bakar dan pelumnas perjam akan bertambah bila mesin bekerja berat dan
berkurang bila bekerja ringan. Biaya bahan bakar dapat dihitung dengan rumus :

21
Biaya Bahan Bakar (BB) = Kebutuhan BB Per Jam x Harga BB/liter (7.12)

2. Bahan Pelumnas, Gemuk, Saringan (Filter)


Untuk kebutuhan bahan-bahan tersebut, seperti pada kebutuhan bagan bakar,
masing-masing alat besar dalam kebutuhan perjam berbeda sesuai dengan kondisi
pekerjaan, bahan pelumas terdiri atas :
 Oli Mesin,
 Oli Transmisi,
 Oli Hidrolis,
 Oli Final Drive,
 Gemuk.
Biaya Bahan Pelumas (BP) = Kebutuhan BP x Harga BP/liter (7.13)
Sedangkan biaya filter biasanya diambil 50% dari jumlah biaya pelumas
diluar bahan bakar atau dalam rumus dihitung :
Jumlah Filter x Harga Filter
Biaya Filter Per Jam= Lama Pergantian Filter (Jam) (7.14)

3. Ban
Umur ban dari alat sangat dipengaruhi oleh medan kerjanya di samping
kecepatan dan tekanan angina. Selain itu kualitas ban yang digunakan juga
berpengaruh. Umur ban biasanya diperkirakan sesuai kondisi medan kerjanya.
Harga Ban (Rupiah)
Ban = Umur Kegunaan (Jam) (7.15)

4. Perbaikan (Reparasi)
Biaya perbaikan ini merupakan biaya perbaikan dan perawatan alat sesuai dengan
kondii operasinya. Makin ekras alat bekerja perjam makin besar pula biaya
operasinya. Biaya perbaikan (reparasi) alat dapat ditentukan dengan menggunakan
rumus berikut :
Faktor Perbaikan x ( Harga Mesin - Harga Ban)
Biaya Reparasi= (7.16)
Umur Kegunaan Alat (Jam)
Dimana faktor perbaikan biasanya ditentukan berdasarkan pengalaman.

22
5. Hal-Hal Khusus
Beberapa parts yang keausannya lebih cepat di banding parts lainnya tidak
termasuk dalam biaya perbaikan (reparasi), tetapi dimasukan dalam hal-hal
khusus.

6. Upah Operator
Salah satu cara untuk menghitung upah operator perjam adalah:
Upah Operator + Pembantu Per Bulan (Rupiah)
Upah Operator = (7.17)
Jam Operasi Per Bulan (Jam)

7. Biaya Tidak Langsung (Indirect Cost)


Biaya tidak langsung terdiri atas: biaya pool, biaya kantor, biaya resiko,
keuntungan dan sebagainya. Biaya ini biasanya dihitung sebesar 15% - 25% dari
total biaya penggunaan peralatan bersangkutan.

8. Biaya Satuan Perkerjaan (BSP)


Dari uraian diatas sudah dapat dihitung masing-masing: jumlah presentase
(produksi) peralatan dan biaya pemakaian peralatan, jika jumlah presentase
(produksi) dinyatakan sebagai: P m3 atau ton/jam dan biaya pemakaian peralatan
dinyatakan sebagai: B Rp/jam, maka biaya satuan pekerjaan (BSP) adalah:
B
BSP = P Rp/m3 atau Rp/ton (7.18)

6.2.5 Geometri Jalan Angkut


Geometri jalan angkut merupakan bagian dari pada perencanaan yang lebih
ditekankan pada rencana bentuk fisik jalan sehingga bisa memenuhi fungsi dasar
jalan, yakni memberikan pelayanan yang optimal pada aktivitas lalu lintas yang
beroperasi, karena tujuan perencanaan geometri jalan angkut adalah menghasilkan
infrastruktur yang aman, memaksimalkan pelayanan, dan memaksimalkan rasio
tingkat penggunaan dan atau biaya pelaksanaan. Bentuk, ukuran dan ruang jalan
dikatakan baik, jika memberikan rasa nyaman dan aman kepada pengguna jalan.

23
A. Lebar Jalan Angkut
Jalan angkut yang lebar diharapkan akan membuat lalulintas pengangkutan
lancar dan aman. Namun, karena keterbatasan dan kesulitan yang muncul di
lapangan, maka lebar jalan minimum harus diperhitungkan dengan cermat.
Perhitungan lebar jalan angkut yang lurus dan belok (tikungan) berbeda, karena
pada posisi membelok kendaraan akan membutuhkan ruang gerak yang lebih
lebar akibat jejak ban depan dan belakang yang ditinggalkan di atas jalan melebar.
Di samping itu, perhitungan lebar jalan pun harus mempertimbangkan jumlah
lajur, yaitu lajur tunggal untuk jalan satu arah atau lajur ganda untuk jalan dua
arah.
1. Lebar Jalan Angkut Pada Jalan Lurus
Lebar jalan minimum pada jalan lurus dengan jalur ganda atau lebih
menurut Asho Manual Rural High Way Design, harus ditambah dengan
setengah lebar alat angkut pada bagian tepi kiri dan kanan jalan (gambar
7.1).

(Sumber : Diklat Tambang Terbuka 2014)


Gambar 6.3 Lebar Jalan Angkut Dua Jalur Pada Jalan Lurus
Lebar jalan angkut dapat dihitung dengan menggunakan rumus:
1
𝐿𝑚𝑖𝑛 = (𝑛 𝑥 𝑊𝑡) + ((𝑛 + 1)(2 𝑊𝑡)) (7.19)

Dimana, L adalah lebar jalan angkut minimum (m), n adalah jumlah jalur
dan Wt adalah lebar jalan angkut total (m).

24
2. Lebar Jalan Angkut Pada Belokan
Lebar jalan angkut pada belokan atau tikungan lebih besar dari pada lebar
jalan lurus. Untuk lajur ganda, maka lebar jalan minimum pada belokan
didasarkan atas:
a. Lebar jejak ban,
b. Lebar juntai atau tonjolan (overhang) alat angkut bagian depan dan
belakang pada saat membelok,
c. Jarak antar alat angkut atau kendaraan pada saat bersimpangan,
d. Jarak dari kedua tepi jalan.
Dengan menggunakan ilustrasi pada gambar 7.2, dapat dihitung lebar jalan
minimum pada belokan yaitu:
Wj = 2 (U + Fa + Fb + Z ) + C (7.20)
C=Z = ½ (U + Fa + Fb) (7.21)
Dengan Wj adalah lebar jalan angkut pada tikungan (m), U adalah jarak
jejak roda (m), Fa adalah lebar juntai depan (m), Fb adalah lebar juntai
belakang (m), Z adalah lebar bagian tepi jalan (m), dan C adalah jarak
antara alat angkut saat bersimpangan (m).

(Sumber : Diklat Tambang Terbuka 2014)


Gambar 6.4 Lebar Jalan Angkut Dua Lajur Pada Jalan Belokan
B. Kemiringan Jalan
Kemiringan (grade) jalan angkut berhubungan langsung dengan kemampuan
alat angkut dalam pengereman atau mengatasi tanjakan. Biasanya kemiringan

25
jalan dinyatakan dalam persen (%). Kemiringan jalan angkut dapat dihitung
dengan rumus berikut:
𝛥ℎ
Grade = x 100 % (7.22)
𝛥𝑥
Dengan Δh adalah beda tinggi antara 2 titik yang diukur (m), dan Δx adalah
jarak datar antara 2 titik yang diukur (m).

6.2.6 Stockpile
Stockpile atau tempat penyimpanan digunakan untuk menyimpan material
hasil pengolahan yang dapat dimanfaatkan pada saat yang akan datang. Bentuk
tempat penyimpanan ini bermacam-macam, didasarkan oleh jumlah material yang
akan disimpan. Timbunan terdiri dari berbagai bentuk misalnya kerucut dan limas,
pada umumnya yang sering digunakan adalah kerucut. Stockpile digunakan
sebagai tempat penyimpanan.
Ukuran dan jenis penyimpanan akan sangat tergantung pada bahan tambang,
lokasi tambang, transportasi dan bentuk dari produk yang akan dijual. Pada area
stockpile dapat dilakukan di daerah terbuka dan terdiri dari beberapa timbunan
sehingga dapat membedakan jenis material berdasarkan ukurannya pada akhir dari
pengolahan.
Pada tempat penyimpanan/area stockpile perlu diperhitungkan masalah
drainage (penyaliran), dikarenakan air yang tergenang pada area/lokasi
pengolahan dapat ditanggulangi sehingga tidak terjadi genangan air yang
berlebihan. Peletakan timbunan harus memperhatikan arah mata angin karena
dapat berpengaruh pada material yang ditampung pada stockpile terutama untuk
material yang ringan karena dapat terbawa oleh angin.

A. Analisis Kelayakan Lokasi Stockpile


Analisis kelayakan lokasi pembangunan stockpile bertujuan untuk menilai
alternatif lokasi yang layak/ sesuai untuk penempatan stockpile. Metode analisis
yang digunakan adalah metode analisis deskriptif kuantitatif dengan teknik
analisis skoring. Skoring dilakukan terhadap kriteria yang berpengaruh terhadap
kelayakan lokasi penempatan stockpile.

26
Berdasarkan kajian teori, proses penyimpanan pada stockpile dapat dilakukan
di:
1. Dekat lokasi penambangan
2. Dekat pelabuhan
3. Ditempat pengolahan
Kriteria pembangunan stockpile adalah:
a. Kesesuaian lahan dengan rencana tata ruang
b. Kesesuaian lahan dengan kebijakan atau rencana pengembangan
c. Daya dukung lahan adalah kondisi topografi dan rawan bencana pada
alternatif lokasi
d. Jarak dengan tambang yaitu jarak antara tambang dengan alternatif lokasi
stockpile
e. Jarak dengan pelabuhan adalah jarak lokasi pembangunan stockpile dengan
pelabuhan
f. Kemudahan aksebilitas adalah tersedianya jaringan jalan yang memadai
untuk dilalui kendaraan pengangkut
g. Keserasian dan keseimbangan dengan kegiatan lain disekitarnya

B. Analisis Kelayakan Teknis Stockpile


Analisis kelayakan teknis pembangunan stockpile bertujuan untuk
memberikan arahan teknis pembangunan stockpile. Metode analisis yang
digunakan adalah metode analisis deskriptif kualitatif dan kuantitatif, kebutuhan,
serta prediksi tumpukan. Pembangunan stockpile diharapkan dapat mendukung
kontinuitas pasokan untuk kelancaran usaha pertambangan dan mendukung
kegiatan industri jangka panjang.
1. Kapasitas Penyimpanan
a. Kapasitas penyimpanan di stockpile menentukan desain suatu
stockpile. Stockpile yang berkapasitas kecil dengan material dengan
kapasitas besar mungkin berbeda khususnya dalam penyiapan lahan
dan preparasi lahan tersebut.
b. Pada stockpile dengan kapasitas yang besar dasar stockpile harus
benar-benar kuat dan kokoh menahan beban yang besar, kalau tidak

27
base stockpile tersebut akan turun dibagian tengah dan juga akan ikut
menurunkan material yang ada diatasnya. Dalam kondisi seperti itu
akan terjadi kehilangan material di stockpile.
2. Jumlah Produk yang dipisahkan
Banyaknya jumlah produk yang akan dipisahkan menentukan luasan
stockpile yang diperlukan. Semakin banyak jumlah produk yang dipisahkan maka
semakin besar areal yang diperlukan. Alat yang digunakan dalam sistem
penumpukan dan pemuatan di stockpile juga mempengaruhi desain atau areal
stockpile yang digunakan.

6.2.7 Sistem Penirisan Tambang


Pengertian penyaliran adalah suatu usaha untuk mencegah, mengeringkan,
dan mengeluarkan air yang masuk atau menggenangi suatu daerah tertentu.
Penyaliran diterapkan di daerah penambangan yang bertujuan untuk mencegah
masuknya air atau mengeluarkan air yang telah masuk menggenangi daerah
penambangan yang dapat mengganggu aktivitas penambangan.
Dalam upaya merencanakan sistem penyaliran yang akan diterapkan untuk
mengendalikan air yang dapat mengganggu aktivitas suatu kegiatan
penambangan, maka akan dilakukan kajian yang meliputi analisa curah hujan,
penentuan daerah tangkapan hujan, waktu konsentrasi, intensitas curah hujan, dan
perencanaan saluran terbuka.
A. Analisa Curah Hujan Rencana
Analisa curah hujan dilakukan dengan menggunakan metode Gumbel,
dimana terlebih dahulu kita ambil data curah hujan bulanan yang ada, kemudian
ambil curah hujan maximum setiap bulannya dari data tersebut, untuk sample bisa
dibatasi jumlahnya sebanyak n data. Tahapan-tahapan berikutnya adalah :
1. Tentukan rata-rata curah hujan (X) maximum dengan rumus :
∑𝐶𝐻
Ẍ= (7.23)
𝑛

2. Tentkan standar deviasi dengan rumus:


∑(𝑋𝑖−𝑋)2
𝑆𝐷 = (7.24)
(𝑛−1)

3. Tentukan koreksi variasi, dengan rumus :

28
𝑇−1
𝑌𝑡 = − ln [ln ( )] (7.25)
𝑇

4. Tentukan koreksi rata-rata dengan rumus:


(𝑛+1)−𝑚
𝑌𝑛 = −𝑙𝑛 [ln ( )] (7.26)
𝑛+1

Rata-Rata Yn :
∑𝑌𝑛
𝑌𝑁 = (7.27)
𝑛

5. Tentukan koreksi simpangan dengan rumus:


∑(𝑌𝑛−𝑌𝑁)2
𝑆𝑛 = (7.28)
(𝑛−1)

6. Tentukan curah hujan tencana dengan rumus:


𝑆𝐷
𝐶𝐻𝑅 = 𝑋 + (𝑆𝑛 𝑥 (𝑌𝑡 − 𝑌𝑛)) (7.29)

Dari ke-6 (enam) persamaan di atas dengan ,X. adalah rata-rata curah hujan,
CH adalah curah hujan bulanan (mm), n adalah jumlah data, SD adalah standar
deviasi, Xi adalah data curah hujan per bulan (mm), Yt adalah koreksi variansi,
T adalah periode ulang hujan (tahun), Yn adalah koreksi rata-rata, YN adalah rata-
rata, Sn adalah koreksi simpangan, dan CHR adalah curah hujan rencana (mm).

B. Catchment Area/ Water Divide


Catchment area merupakan suatu areal atau daerah tangkapan hujan dimana
batas wilayah tangkapannya ditentukan dari titik-titik elevasi tertinggi sehingga
akhirnya membentuk suatu poligon tertutup yang mana polanya disesuaikan
dengan kondisi topografi, dengan mengikuti kecenderungan arah gerak air.
Dengan pembatasan catchment area, maka diperkirakan setiap debit hujan yang
tertangkap akan terkonsentrasi pada elevasi terendah pada catchment tersebut.
Pembatasan catchment area biasa dilakukan pada peta topografi dan untuk
perencanaan sistem penyaliran dianjurkan dengan menggunakan peta rencana
penambangan dan peta situsi tambang.

C. Waktu Konsentrasi
Waktu konsentrasi (Tc) adalah waktu yang diperlukan hujan untuk mengalir
dari titik terjauh ke tempat penyaliran. Waktu konsentrasi dapat dihitung dengan
rumus dari Kirpich yaitu:

29
0,385
0,87 𝑥 𝐿2
𝑇𝑐 = ( 1000 𝑥 𝐿 ) (7.30)

Dengan Tc adalah waktu terkumpulnya air (menit), L adalah jarak terjauh


sampai titik pengaliran (meter, dan S adalah kemiringan rata-rata daerah
pengaliran (%).

D. Intensitas Curah Hujan


Besarnya intensitas hujan yang kemungkinan terjadi dalam kurun waktu
tertentu dihitung berdasarkan persamaan Mononobe, yaitu:
𝑅24 𝑅24 2/3
𝐼= ( 𝑇𝑐 ) (7.31)
24

Dengan I adalah intensitas curah hujan (mm/jam), R24 adalah curah hujan
rencana per hari (24 jam), dan Tc adalah waktu konsentrasi (jam).

E. Debit Air
Metode yang biasa digunakan untuk menghitung debit air rencana puncak
adalah metode rasional. Metode rasional berasumsi bahwa intensitas curah hujan
merata di seluruh daerah aliran sungai dengan lama hujan (durasi) sama dengan
waktu konsentrasi. Persamaan yang digunakan pada metode rasional yaitu:
Qp = 0,278 C x I x A (7.32)
Dengan Qp adalah debit puncak (m3/detik), C adalah koefisian air
limpasan, I adalah intensitas hujan (mm/jam), dan A adalah luas daerah tangkapan
hujan (km²).

F. Saluran Terbuka
Masalah yang cukup penting dalam merancang sistim penyaliran tambang
adalah penentuan dimensi saluran terbuka. Untuk itu, perhitungan dasar untuk
menentukan dimensi saluran dilakukan dengan menggunakan rumus Manning
yaitu:
1
𝑄𝑝 = 𝑅 2/3 𝑆 1/2 𝐴 (7.33)
𝑛

Dengan Qp adalah debit aliran (m3/detik), n adalah koefisien kekasaran


saluran, A adalah adalah luas penampang saluran (m2), R adalah jari-jari hidrolis
(m) dan S adalah kemiringan dasar saluran (%).

30
Air yang menggenangi suatu daerah penambangan harus segera dialirkan
keluar dari daerah tersebut melalui saluran penyaliran menuju keluar daerah
penambangan. Ada beberapa bentuk saluran penyaliran yaitu bentuk trapesium,
segitiga, dan setengah lingkaran. Namun bentuk saluran yang sering digunakan
yaitu bentuk trapesium. Gambar 6.5 adalah penampang melintang bentuk saluran
trapesium.

(Sumber :Rustam Kamoda, 2016 )


Gambar 6.5 Bentuk Saluran Terbuka

Perhitungan dimensinya menggunakan persamaan:


1
𝑍= (7.34)
tan∝
2
𝑏= 𝑥 ℎ√3 (7.35)
3

𝐴 = (𝑏 + 𝑍ℎ)𝑥 ℎ (7.36)
𝐵 = 𝑏+2𝑥𝑍𝑥ℎ (7.37)
𝑃 = 𝑏 + 2ℎ (𝑍 2 + 1)1/2 (7.38)
3
𝑤= (7.39)

𝐻 =ℎ+ℎ (7.40)
Dengan A adalah luas penampang (m2), b adalah lebar dasar saluran (m), Z
adalah kemiringan dinding (m), B adalah lebar permukaan saluran (m), ∝ adalah

31
kemiringan saluran (°), h adalah tinggi muka air (m), dan w adalah tinggi
jagaan (m).

VII. Metode Penelitian


Metode penelitian yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah metode
deskriptif kuantitatif, metode deskriptif kuantitatif bertujuan untuk memberikan
gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta,
sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki dengan menggunakan
data berupa angka sebagai alat menganalisis keterangan mengenai apa yang ingin
diketahui. (Sukandarumidi 2006).

7.1 Waktu dan Tempat


Waktu penelitian ini direncanakan berlangsung selama ± 1 bulan, yaitu
bulan Desember 2017, yang bertempat di PT. Cipta Jaya Mulia (Kabupaten
Jayawijaya, Provinsi Papua). Di bawah ini adalah tabel rencana penelitiannya.
Tabel 7.1 Waktu Pelaksanaan Penelitian
Waktu (Minggu)
No Jenis Kegiatan November 2017 Desember 2017 Januari 2018
1 2 3 4 1 2 3 4 5 1 2 3 4
1 Studi Literatur
2 Pengambilan Data
3 Analisis Data
4 Penyususnan Laporan

: Waktu Pelaksanaan

7.2 Bahan dan Alat


Penelitian ini tidak menggunakan bahan, sedangkan alat yang digunakan
adalah:
1. Papan data,
2. Kamera,
3. Kompas geologi,
4. Thedolite,
5. GPS (Global Position Sistem),
6. Pita ukur,

32
7. ATK dan
8. Software AutoCAD.

33
7.3 Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian yang akan dilakukan dalam penyusunan laporan
penelitian ini dapat dilihat pada gambar 7.1.

Studi Literatur
dan Orientasi

Perumusan Masalah

Pengambilan Data

Data Utama : Data Pendukung :


1. PetaTopografi 1. Sejarah Perusahaan
2. Luas Penambahan Lahan 2. Data Geologi
3. Spesfikasi Alat Berat 3. Lokasi dan Kesampaian Daerah
4. Biaya-biaya
5. Sketsa Daerah Pengolahan
6. Produksi Sirtu
7. Curah Hujan

Pengolahan Data dan


Analisis

Penyusunan
Laporan

Gambar 7.1 Bagan Alir Rencana Prosedur Penelitian

34
7.4 Variabel Pengamatan
Variabel pengamatan adalah semua objek yang akan diamati di lapangan.
Pada penelitian ini variabel pengamatan yang akan diamati meliputi:
1. Keadaan topografi,
2. Kondisi daerah pengolahan terdiri dari:
a. Penempatan stockyard,
b. Penempatan alat pengolahan,
c. Penempatan stockpile,
d. Produksi sirtu.
3. Luas perbesaran daerah pengolahan,
4. Spesifikasi alat berat untuk pekerjaan penimbunan,
5. Biaya yang terdiri dari :
a. Biaya kepemilikan
b. Biaya operasi.
6. Cycle time alat berat,
7. Volume stockpile,
8. Curah hujan.

7.5 Pengolahan dan Analisis Data


Pengolahan data merupakan usaha untuk menyusun data dalam suatu
organisasi dan diolah menurut statistik kemudian mengklasifikasikannya sesuai
dengan kegunaannya. Pada penelitian ini, data yang diperoleh baik data primer
dari perusahaan (toporafi, penambahan luasan pengolahan, kemiringan jalan
angkut, tata letak stockpile, dan kapasitas stockpile) ataupun data sekunder (data
dari referensi lain) yang dijadikan sebagai data primer (spesifikasi alat angkut,
spesifikasi alat pemadatan, cycle time, dan data curah hujan) akan diolah dengan
melakukan perhitungan dan dengan menggunakan software yang dibutuhkan.
Hasil data selanjutnya dianalisis untuk dibandingkan dengan teori yang
terdapat dalam literature yang digunakan. Selain itu, hasil pengolahan data juga
akan dibandingkan dengan keadaan lapangan atau berdasarkan pekerjaan yang
sudah dilakukan oleh perusahaan sebelumnya. Setelah data dianalisis, maka

35
dilakukan penarikan kesimpulan serta memberikan saran terhadap hasil
pengolahan dan analisis data.

Data-data yang digunakan:

Peta topografi, Data luasan Spesifikasi Biaya- Data


sketsa lokasi, perbesaran alat berat biaya curah
dan batas lahan dan untuk hujan
wilayah hasil penimbunan
pengolahan pengolahan

Perhitungan volume Perhitungan Perhitungan analisa


penambahan lahan produktivitas alat berat, curah hujan dan
baru untuk daerah besarnya biaya peralatan debit air puncak
pengolahan dan yang digunakan untuk
penempatan stockpile kegiatan penimbunan
dan geometri jalan
angkut material
Perencanaan
dimensi saluran
terbuka untuk
menangan genangan
Jumlah volume Penentuan waktu
air yang dapat
luasan penimbuanan pengerjaan timbunan
menganggu
dan design dan biaya timbunan.
kegiatan
penempatan stockpile Perencanaan dimensi
pengolahan
jalan angkut material

Merancang ulang daerah pengolahan sirtu.

Gambar 7.2 Bagan Alir Pengolahan Data dan Analisis

36
7.6 Outline Penelitian
HALAMAN JUDUL
HALAMAN TUJUAN
HALAMAN PENGESAHAN
PERNYATAAN KEASLIAN PENELITIAN
ABSTRAK
HALAMAN PERSEMBAHAN
KATA PENGANTAR
RIWAYAT HIDUP
DAFTAR ISI
DAFTAR LAMPIRAN
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR TABEL
DAFTAR LAMPIRAN
DAFTAR SINGKATAN DAN SIMBOL
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
1.2. Masalah Penelitian
1.3. Batasan Masalah
1.4. Tujuan dan Manfaat Penelitian

II. TINJAUAN UMUM DAERAH


2.1. Keadaan Umum Daerah
2.2. Lokasi dan Kesampaian Daerah
2.3. Vegetasi
2.4. Kondisi Geologi
2.5. Sejarah Singkat Perusahaan

III. TINJAUAN PUSTAKA


3.1. Penelitian Terdahulu
3.2. Sirtu
3.3. Metode Perhitungan Luasan
3.4. Metode Cut and Fill

37
3.5. Produktivitas Peralatan
3.6. Biaya Produksi Penimbunan
3.7. Kemiringan Jalan Angkut
3.8. Stockpile
3.9. Sistem Penirisan Tambang

IV. METODE PENELITIAN


4.1. Waktu dan Tempat
4.2. Alat dan Bahan
4.3 Prosedur Penelitian
4.4 Variabel Pengamatan
4.5 Analisis Data

V. HASIL DAN PEMBAHASAN


5.1. Hasil
5.2. Pembahasan

VI. PENUTUP
6.1 Kesimpulan
6.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

38
DAFTAR PUSTAKA

Christady Hardiyatmo Hary, 2006. Mekanika Tanah Edisi Keempat. Gadjah


Mada University Press, Yogyakarta

Horman Juanita Rosalia, 2014. Modul Praktikum Tambang terbuka. Jurusan


Teknik Pertambangan Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan
Universitas Papua, Manokwari. (Tidak Untuk Dipublikasikan).

Taufiqulah, 2017. Tujuan Survey dan Pemetaan Lahan.


https://www.tneutron.net/sipil/tujuan-survei-dan-pemetaan-tanah/ (18
November 2017)

Tenrisukki T, Andi. 2008 Pemindahan Tanah Mekanis. Seri Diklat Kuliah.


Gunadarma. Jakarta.

Kamoda Rustam 2016. Perencanaan Teknis Penambangan Andesit Pada PT.


Pro Intertech Indonesia Distrik Sorong Barat Kotamadya Sorong,
Skripsi S1 Teknik Pertambangan Universitas Papua Manokwari (tidak
diterbitkan)

Rais, Jacub, 1977. Route Surveying. Jurusan Teknik Geodesi ITB Bandung

Rostiyanti F., Susy. 2008. Alat Berat Untuk Proyek Konstruksi. Cetakan I,
Edisi 2. Jakarta: Rineka Cipta.

S. Hadi, 1989. Metodologi Riset. Fakultas Physokologi Universitas Gajah


Madha, Yogyakarta.

Sisca Aprianti 2011. Perencanaan Stockpile Sirtu Pada PT. Pulau Lemon
Distrik Manokwari Selatan Kabupaten Manokwari Provinsi Papua
Barat. Tugas Akhir D3 Teknik Pertambangan Universitas Papua
Manokwari (tidak diterbitkan)

Sukandarrumidi. 1988. Bahan Galian Industry. Gadjah madha University Press.


Yogyakarta.

Sweet K. 1984. Quarrying 1. A. Trust Publication

39