Anda di halaman 1dari 14

Laporan Praktikum

Fisiolgi Tumbuhan

STOMATA

Disusun Oleh :

NAMA : AWALUDDIN
NIM : G011171023
KELOMPOK : 19
KELAS : FISIOLOGI TUMBUHAN F

ASISTEN : SRIBULAN HENDRIK

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI


DEPARTEMEN BUDIDAYA TANAMAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2018
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Stomata berasal dari bahasa Yunani yaitu stoma (lubang atau poros), jadi
stomata adalah lubang-lubang kecil yang berbentuk lonjong yang kecil terbentuk
oleh dua sel epidermis khusus yang disebut sel penjaga (Guard cell). Sel penjaga
tersebut adalah sel-sel epidermis yang telah mengalami perubahan bentuk dan
fungsinya dapat mengatur besarnya.
Stomata daun adalah sarana utama pertukaran gas pada tumbuhan. Stomata
berbentuk pori-pori kecil, biasanya di sisi bawah daun, yang dibuka atau ditutup
di bawah kendali sepasang sel berbentuk pisang yang disebut sel penjaga. Ketika
terbuka, stomata memungkinkan CO2 untuk memasuk ke daun untuk melakukan
sintesis glukosa, dan juga memungkinkan untuk air (H2O) dan oksigen bebas (O2)
untuk keluar. Selain membuka dan menutup stomata (perilaku stomata), tanaman
menggunakan kontrol atas pertukar gas mereka dengan memvariasikan kepadatan
stomata dalam daun ketika mereka baru diproduksi (seperti pada musim semi atau
musim panas). Stomata per satuan luas (kepadatan stomata) bisa mengambil
banyak O2, dan semakin banyak air yang dapat dilepaskan. Jadi, lebih tinggi
kerapatan stomata dapat sangat memperkuat potensi untuk kontrol perilaku atas
kehilangan kadar air dan penyerapan CO2.
Stomata membuka jika tekanan turgor sel penutup tinggi, dan menutup jika
tekanan turgor sel penutup rendah. Ketika air dari sel tetangga memasuki sel
penutup, sel penutup akan memiliki tekanan turgor yang tinggi. Sementara itu, sel
tetangga yang telah kehilangan air akan mengerut, sehingga menarik sel pennutup
kebelakang, maka stomata terbuka. Sebaliknya, ketika air meninggalkan sel
penutup dan menuju ke dalam sel tetangga, maka tekanan turgor di dalam sel
penutup akan menurun (rendah). Sementara itu, sel tetangga yang mengakumulasi
lebih banyak air akan menggelembung, sehingga mendorong sel penutup ke
depan, maka stomata tertutup.
Berdasarkan uraian di atas maka perlu dilakukannya pengamatan tentang
stomata pada daun tanaman.
1.2 Tujuan

Setelah melakukan percobaan ini, diharapkan mahasiswa dapat:


1. Menentukan fakta mengenai letak stomata pada daun.
2. Dapat menghitung kerapatan stomata pada daun tanaman.
3. Dapat mengukur dan menghitung luas bukaan stomata.
4. Mendeskripsikan mekanisme membuka dan menutupnya stomata

1.3 Kegunaan

Kegunaan dari praktikum ini yaitu kita dapat mengetahui proses buka tutup
stomata yang mempengaruhi proses fotosintesis dan transpirasi dan jumlah
kepadatan stomata pada suatu daun yang sangat berpengaruh terhadap tingkat
kehilangan air dan serapan CO2.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Deskripsi Umum Komoditi

Rhoeo discolor atau perahu Adam Hawa adalah tanaman hias dengan daun
berwarna ungu di bagian bawahnya. Rhoeo discolor biasa ditanam orang sebagai
tanaman hias, tumbuh subur di tanah yang lembab. Tanaman ini termasuk anggota
suku gawar-gawaran, berasal dari Meksiko dan Hindia Barat. Menurut
Pudmaningrum (2011), klasifikasi tumbuhan Rhoeo discolor adalah sebagai
berikut :
Kingdom : Plantae
Subkingdom : Tracheobionta
Superdivisio : Spermatophyta
Divisio : Magnoliophyta
Class : Liliopsida
Ordo : Commelinales
Famili : Commelinaceae
Genus : Rhoeo
Spesies : Rhoeo discolor

Tumbuhan ini berupa semak, dengan tinggi 40-60 cm dengan batang yang
kasar, pendek, arah tumbuh tegak lurus (erectus), warna cokelat. Daun berupa
daun tunggal, bangun daun seperti pedang (ensiformis), ujung daun runcing
(acutus), pangkal daun rata (truncatus) memeluk batang, tepi daun rata (integer),
panjang daun 25-30 cm, lebar 3-6 cm, daging daun tipis lunak (herbaceous),
permukaan daun licin suram (laevis opacus), tulang daun sejajar (rectivernis),
permukaan atas daun hijau, permukaan bawah daun berwarna merah kecokelatan
(ungu). Daun dari tanaman adam hawa ini biasa dijadikan preparat segar untuk
pengamatan sel dan jaringan (Pudmaningrum, 2011).
Adam Hawa (Rhoeo discolor) merupakan tanaman yang memiliki tingkat
adaptasi yang baik pada berbagai kondisi lingkungan. Tanaman adam hawa juga
merupakan tanaman hias yang sering kita jumpai di berbagai taman maupun
pekarangan. Di beberapa daerah terdapat banyak tanaman adam hawa baik di
taman atau di pekarangan rumah namun hanya dimanfaatkan sebagai tanaman
hias. Oleh karena itu, tanaman adam hawa perlu dimanfaatkan sebagai pengobatan
sehingga tanaman ini mempunyai nilai ekonomi yang lebih tinggi disamping
sebagai tanaman hias (Viana, 2017).

2.2 Mekanika Stomata

Mekanisme membuka dan menutupnya stomata merupakan peristiwa yang


kompleks. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa stomata sangat penting sebagai
jalan untuk difusi air dan gas dari daun ke atmosfir ataupun sebaliknya. Umumnya
stomata tersusun atas dua sel penutup dan beberapa sel tetangga yang
mengelilinya. Pada sebelah dalam sel penutup (sel penjaga) terdapat rongga atau
stomata. Membuka dan menutupnya stomata terjadi karena perubahan atau
pengaturan turgor sel penutup. Tekanan turgor terbentuk oleh adanya aliran air
dari sel-sel sekitarnya. Keluar masuknya air dari dan ke sel penutup pada dasarnya
adalah peristiwa osmosis (difusi air melalui membran). Masuknya air secara
osmotik ke sel penutup membuat stoma membuka. Sebaliknya, stoma akan
menutup seiring dengan keluarnya air dari sel penutup menuju ke sel-sel yang ada
di sekitar sel tersebut (Advinda, 2018).
Banyak faktor yang mempengaruhi aktivitas membuka menutupnya stoma.
Kondisi lingkungan tersebut antara lain seperti konsentrasi CO2, suhu,
kelembaban udara, intensitas pencahayaan, dan kecepatan angin. Pada umumnya
stoma membuka pada siang hari, kecuali tumbuhan gurun. Membukanya stoma
pada malam hari untuk tumbuhan gurun merupakan bentuk adaptasi fisiologis
untuk mengurangi resiko hilangnya air berlebihan (Advinda, 2018).
Menurut Advinda (2018), terbukanya rongga atau ruang stomata dapat
disebabkan karena dua faktor struktural sel penutup yaitu :
1. Ujung dari sel penutup saling menempel/berdekatan satu sama lain, sehingga
pada saat terjadi peningkatan tekanan turgor maka sel penutup akan
melengkung dan membentuk rongga (stoma) yang dibatasi oleh kedua sel
penutup tersebut.
2. Adanya benang-benang mikrofobil selulosa yang terorientasi secara radial.
Hal ini memungkinkan sel tumbuh memanjang dan bukan tumbuh membesar
ke arah samping. Dengan demikian bila turgor kedua sel penutup memanjang,
sementara bagian ujung-ujungnya saling bertautan di tempatnya, maka akan
tumbuh melegkung dan membentuk rongga (stoma) yang dibatasi oleh kedua
sel penutupnya.
Sel penutup dari stomata umumnya mengandung amilum. Kandungan amilum
sel penutup lebih tinggi pada waktu malam hari daripada siang hari, karena
sebagian telah berubah menjadi glukosa. Pada waktu siang hari, cahaya matahari
menstimulasi klorofil yang ada pada jaringan pagar dan bunga karang
melangsungkan fotosintesis. Fotosintesis mengakibatkan kadar CO2 di dalam sel-
sel tersebut menurun, karena sebagian CO2 direduksi menjadi CH2O. Peristiwa
reduksi ini mengakibatkan ion-ion H+ berkurang, yang mengakibatkan pH dalam
sel bertamabh (menuju ke basa). Kenaikan pH dalam sel-sel ini sangat membantu
kerja enzim fosforilase dalam mengubah amilum (pati) menjadi glukosa-1-P. Hal
ini mengakibatkan nilai osmosis sel-sel penutup mengikat, sehingga air masuk
dari sel-sel tetangga ke dalam sel-sel penutup (Advinda, 2018).

2.3 Mekanisme Pengendalian Stomata

Untuk membuat makanan, sebuah tumbuhan harus membentangkan daunnya


pada matahari dan mendapatkan CO2 dari udara. Karbon dioksida akan berdifusi
ke dalam daun, dan oksigen yang dihasilkan sebagai hasil sampingan fotosintesis
akan berdifusi keluar dari daun melalui stomata. Stomata menghubungkan ruang
udara yang berbentuk sarang lebah, sehingga CO2 dapat berdifusi ke sel-sel
fotosintetik mesofil. Luas permukaan internal daun mencapai 10 sampai 30 kali
lebih besar dibandingkan dengan luas permukaan eksternal yang kita lihat ketika
kita memandang daun. Ciri struktur daun ini akan meningkatkan fotosintesis
dengan cara memperbesar pendedahan terhadap CO2, akan tetapi pada saat yang
bersamaan ia juga meningkatkan luas permukaan untuk penguapan air yang keluar
dari tumbuhan secara bebas melalui stomata yang terbuka (Campbell, 2002).
Sekitar 90% air yang dikeluarkan oleh tumbuhan menghilang melalui
stomata, meskipun pori itu hanya meliputi 1% sampai 2% permukaan luar daun.
Katikula berlilin membatasi kehilangan air melaui permukaan daun yang tersisa.
Stomata pada sebagian besar tumbuhan lebih terkonsentrasi pada permukaan
bawah daun, yang mengurangi transpirasi karena permukaan bawah menerima
lebih sedikit cahaya matahari dibanding permukaan atas (Campbell, 2002).
Cahaya bisa merangsang pembukaan stomata dengan cara mendorong
fotosintesis dalam kloroplas sel penjaga, untuk menyediaka ATP agar terjadi
transfor aktif ion hidrogen. Sel-sel penjaga adalah satu-satunya sel epidermal yang
dilengkapi dengan kloroplas. Faktor kedua yang menyebabkan pembukaan
stomata adalah kehilangan CO2 di dalam ruangan udara pada daun yang terjadi
ketika fotosintesis dimulai di mesofil. Tumbuhan dapat diakali sehingga
stomatanya membuka dimalam hari dengan cara menempatkannya dalam ruangan
yang tidak memiliki CO2. Faktor ketiga dalam pembukaan stomata adalah suatu
jam internal yang terletak di dalam sel penjaga. Bahkan jika tumbuhan
ditempatkan pada ruangan yang gelap, stomata akan terus melakukan ritme
hariannya untuk membuka dan menutup (Campbell, 2002).
Berbagai jenis cekaman lingkungan dapat menyebabkan stomata menutup
pada siang hari. Ketika tumbuhan sedang kekurangan air, sel penjaga bisa
kehilangan turgornya. Selain itu, hormon yang disebut asam absisat yang
dihasilkan di dalam sel mesofil sebagai tanggapan terhadap kekurangan air akan
memberikan sinyal pada sel penjaga untuk menutup stomata. Respon ini
mengurangi kelayuan dan memperlambat fotosintesis, inilah alasannya mengapa
kekeringan atau musim kemarau menurunkan produktivitas tanaman. Suhu tinggi
juga merangsang penutupan stomata, kemungkinan melalui perangsangan
respirasi seluler dan peningkatan konsentrasi CO2 di dalam ruangan udara pada
daun. Suhu tinggi dan transpirasi yang berlebih bisa menyebabkan penutupan
stomata untuk beberapa saat pada tengah hari. Dengan demikian sel-sel penjaga
melanggar kompromi fotosintesis-transpirasi atas dasar waktu ke waktu dengan
cara memadukan berbagai stimulus internal dan eksternal (Campbell, 2002).

2.4 Pengaruh Lingkungan Terhadap Stomata

Menurut Nasaruddin (2010), beberapa faktor lingkungan yang dapat


mempengaruhi proses membuka dan menutupnya stomata yaitu sebagai berikut :
1. Karbondioksida (CO2). Tekanan parsial CO2 yang rendah dalam daun akan
menyebabkan pH sel menjadi tinggi. Pada pH yang tinggi (6-7) akan
merangsang penguraian pati menjadi gula sehingga stomata terbuka.
2. Cahaya. Dengan adanya cahaya maka fotosintesis akan berjalan, sehingga
CO2 dalam daun akan berkurang dan stomata akan terbuka.
3. Stres. Apabila tumbuhan menderita kekurangan air, maka potensial air
padadaun akan turun, termasuk sel penutupnya sehingga stomata akan
tertutup.
4. Suhu. Naiknya suhu akan meningkatkan laju respirasi sehingga kadar CO2
dalam daun meningkat, pH akan turun dan stomata tertutup.
5. Angin. Angin berpengaruh terhadap membuka dan menutupnya stomata
secara tidak langsung. Dalam keadaan angin bertiup kencang, pengeluaran air
melalui transpirasi sering kali melebihi kemampuan tumbuhan untuk
menggantinya, akibatnya dau dapat mengalami kekurangan air sehingga
turgornya turun dan stomata akan tertutup.
6. Air tanah. Air terikat dalam tanah dengan daya absorbs atau tekanan
hidrostatik. Air dapat meninggalkan tanah dengan penguapan gravitasi atau
diabsorbsi oleh akar tumbuhan. karena penyerapan air oleh akar tumbuhan
terjadi melaui osmosis, maka potensial osmotik air tanah akan merupakan
factor penting dalam hubungan tumbuhan dengan air tanah
tersebut.sehubungan dengan air tanah, kita dapat menentukan status air tanah
dalam tanah tersebut dengan beberapa cara sebagai berikut.
7. Potensial air tanah. Potensial air tanah sangat bervariasi, nilai potensial air
tanah yang jenuh dengan air murni pada tekanan atmosfir sama dengan nol.
Meskipun demikian secara normal air tanah berada dalam bentuk larutan, dan
oleh karenanya nilai potensial osmotic akan dibawah nol. Hubungan potensial
air tanah dengan komponen-komponen lainnya di dalam tanah adalah sebagai
berikut :
PA = PO + PT + PM
Potensial matriks (PM) adalah suatu nilai yang disebabkan oleh adanya
berbagai daya tarik (attraction) secara kimia dan fisika antara air dan partikel
tanah yang menimbulkan kekuatan menahan air oleh tanah. Terutama kedalam
potensial matriks ini adalah daya tarik kapilerdan kekuatan intermolekul
dalam mengikat air hidrasi dalam koloida tanah.
Pembukaan stomata sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan,
antara lain intensitas cahaya, temperatur dan air. Faktor-faktor lingkungan tersebut
menangalami perubahan harian (diurnal) seiring dengan bergantinya waktu
pagi,siang dan sore hari. Pada pagi hari stomata akan mulai membuka lebar
karena intensitas cahaya dan temperatur yang tidak terlalu tinggi serta kelembaban
yang cukup menyebabkan turgor sel penjaga meningkat (Taiz, 2011)
Distribusi stomata sangat berhubungan dengan kecepatan dan intensitas
transpirasi pada daun, yaitu misalnya letak satu sama lain dengan jarak tertentu.
Dalam batas tertentu, maka makin banyak porinya makin cepat penguapan. Jika
lubang-lubang terlalu berdekatan maka penguapan dari lubang yang satu akan
menghambat penguapan lubang dekatnya (Hariyanti,2010).

2.5 Peran Stomata Dalam Fotositesis Dan Transpirasi

Kegiatan transpirasi berpengaruh oleh banyak faktor, baik faktor-faktor


internal (dalam) maupun faktor-faktor eksternal (luar). Farktor-faktor internal
yang berpengaruh terhadap transpirasi yaitu besar kecilnya daun, tebal tipisnya
daun, berlapiskan lilin atau tidaknya permukaan daun, banyak sedikitnya bulu
pada permukaan daun, banyak sedikitnya stomata, bentuk dan lokasi stomata.
Faktor-faktor eksternal atau factor dalam yaitu seperti radiasi, temperatur atau
suhu, kebebasan udara, tekanan udara, angin, serta keadaan air di dalam tanah.
Semua ini merupakan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap banyak atau
sedikitnya transpirasi yang terjadi pada suatu tumbuhan. Laju transpirasi
mempunyai relasi dengan jenis tanaman dan populasi tanaman. Perbedaan jenis
tanaman berpengaruh terhadap laju transpirasinya. Setiap vegetasi mempunyai
struktur akar dan tajut yang berbeda-beda. Struktur tajuk, fisiologi tanaman, dan
indeksluas daun berpengaruh terhadap transpirasi (Asriyani, 2017).
Fotosintesis merupakan pengubahan energi cahaya matahari menjadi energi
kimia. Proses ini adalah suatu proses biokimia yang sangat komplek, untuk
memproduksi energi terpakai atau nutrisi dimana karbon dioksida (CO2) dan air
(H2O) di bawah pengaruh cahaya yang diubah ke dalam persenyawaan organik
yang berisi karbon dan kaya energi. Fotosintesis hanya dapat dilakukan saat
stomata terbuka. Stomata memberikan respon pada cahaya melalui efek
fotosintesis dari konsentrasi. Kloroplas mempunyai membran luar dan membran
dalam. Membran dalam mengelilingi suatu stroma yang mengandung enzim yang
larut dalam struktur membran yang disebut tilakoid. Proses fotosintesis
dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain air (H2O), konsentrasi CO2, suhu,
umur daun, translokasi karbohidrat, dan cahaya. Faktor utama fotosintesis agar
dapat berlangsung adalah cahaya, air, dan karbondioksida (Asriyani, 2017).
Stomata berfungsi sebagai jalan masuknya CO2 dari udara pada proses
fotosintesis, sebagai jalan penguapan (transpirasi), dan sebagai jalan pernapasan
(respirasi). Stomata sangat penting bagi kehidupan tumbuhan karena pori stomata
merupakan tempat terjadinya pertukaran gas dan air antara atmosfer dengan
system ruang antar sel yang berada pada jaringan mesofil di bawah epidermis. Hal
ini sangat menyebabkan stomata sangat berperan dalam proses transpirasi dan
fotosintesis (Haryanti, 2010).
BAB III
METODOLOGI

3.1 Tempat Dan Waktu

Praktikum pengamatan stomata ini dilakukan di ruangan E 11 dan


Laboratorium Fisiologi dan Nutrisi Tanaman, Departemen Budidaya Pertanian,
Prodi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Hasanuddin, Makassar pada
hari Kamis, 30 Agustus 2018, pukul 15:00-17:30 WITA.

3.2 Alat Dan Bahan

Alat-alat yang digunakan dalan praktikum ini adalah kotak alat, mikroskop,
handphone dan bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah daun
jeruk, kuteks selotip bening.

3.3 Prosedur Kerja

Pengamatan stomata dilakukan dilakukan dengan menggunakan Mikroskop


Elektron yang harus dikerjakan di dalam Laboratorium, tetapi pengambilan
sampel untuk dijadikan preparat harus dikerjakan di luar Laboratorium.
1. Teknik pengambilan preparat
a. Pengambilan sampel preparat dilakukan antara jam 08:00 - jam 10:00
b. Siapkan alat (deg gelas dan isolasi bening) dan bahan utama kuteks
bening
c. Pilih daun muda, daun dewasa dan daun tua
d. Bersihkan daun menggunakan lap kasar dan lap halus
e. Oleskan kuteks secara merata menggunakan kuas kuteks pada permukaan
bawah daun jeruk,
f. Tunggu hingga kering kemudian tempelkan isolasi bening pada olesan
kuteks
g. Urut isolasi hingga kuteks betul-betul lengket merata pada permukaan
isolasi
h. Biarkan 15-30 menit melekat di daun kemudian cabut isolasi tersebut.
i. Tempelkan isolasi rapi pada deg gelas, beri label keterangan pada deg
gelas
2. Pengamatan pada mikroskop
a. Bersihkan mikroskop dengan menggunakan lap halus
b. Hubungkan mikroskop dengan sumber listrik kemudian nyalakan
mikroskop
c. Tempatkan preparat sampel pada meja preparat di bawah mikroskop dan
posisikan tepat di bawah lensa
d. Jepit preparat dengan alat penjepit yang ada pada meja preparat
e. Atur lensa mikroskop hingga mendapatkan gambar stomata
f. Apabila telah menemukan gambar stomata, atur mikrometer persis
memotong dan membelah stomata pada permukaan stomata.
g. Hitung panjang dan lebar bukaan stomata berdasarkan skala pada
mikrometer okuler
h. Hitung jumlah stomata yang terlihat pada bidang pandang mikroskop
i. Geser pengmatan pada stomata yang lain lalu ukur kembali panjang dan
lebar bukaannya.
j. Hitunglah kerapatan stomata dan luas bukaan stomata.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, telah didapatkan hasil sebagai


berikut :
Tabel.1 perhitungan kerapatan stomata
Tanaman Adam Hawa Komoditi 2 Komoditi 3
Parameter Pengamatan ke-
Daun Muda Daun Dewasa Daun Tua Daun Muda Daun Dewasa Daun Tua Daun Muda Daun Dewasa Daun Tua
1 60 µm 60 µm 90 µm
Panjang 2 70 µm 60 µm 60 µm
Rata-Rata 65 µm 60 µm 75 µm
1 60 µm 50 µm 70 µm
Lebar 2 40 µm 40 µm 70 µm
Rata-Rata 50 µm 45 µm 70 µm
1 3 2 3
Jumlah 2 3 3 3
Rata-Rata 3 2,5 3
Kerapatan Stomata 149,28 mm2 124,40 mm2 149,28 mm2
Lebar Bukaan Stomata 9,75 x 10 -3 8,478 x 10 -3 1,6485 x 10 -2
Sumber : data primer setelah diolah, 2018

4.2 Pembahasan

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

5.2 Saran
Daftar Pustaka

Advinda, linda. 2018. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan. Yogyakarta:Deepublish.

Asriyani, Lia. 2017. Identifikasi Penentuan Waktu Optimal PembukaanStomata


Alang-Alang (Im Perata CylindricaL.) di UinRaden Intan Lampung.
Universitas Islam Negeri Raden Intan. Lampung
Campbell, Neil A. 2002. Biologi Edisi Kelima Jilid I. Jakarta : erlangga.
Haryanti, Sri. 2010. Jumlah daun distribusi pada daun beberapa spesies tanaman
dikotil dan monokotil. Jurnal Buletin Anatomi dan Fisiologi. Vol XVIII,
No 2 . UNDIP: Semarang.
Nasaruddin. 2010. Dasar-dasar Fisiologi Tumbuhan. Yayasan Forest Indonesia.
Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin.
Padmaningrum, Regina Tutik. 2011. Karakter Ekstrak Zat Warna Daun Rhoeo
discolor Sebagai Indikator Titrasi Asam Basa. Jurusan Pendidikan Kimia
FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta
Taiz, L. & Zeiger, E. 2011. Plant Physiology. Massachussent: Sinauer Associates,
Inc Publichers.
Viana, Jeni Eri, dkk. 2017. Gel “Madam”mEkstrak Daun “Adam Hawa” (Rhoe
discolor) sebagai Gel Antiinflamasi. Farmasi D3 Falkutas Ilmu Kesehatan
Universitas Muhammadiyah Magelang.

Anda mungkin juga menyukai