Anda di halaman 1dari 19

JURNAL PRAKTIKUM KESETIMBANGAN KIMIA

KESETIMBANGAN UAP-CAIR SISTEM BINER

Oleh :

Nama : Nur Rizkiyatuz Saidah


NIM : 161810301033
Kelompok/Kelas : 3/A
Nama Asisten : Ummu Salamah

LABORATORIUM KIMIA FISIK


JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS JEMBER
2018
BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Larutan ideal adalah larutan yang gaya tarik antara molekul-molekulnya
sama, artinya gaya tarik antar molekul pelarut dan zat terlarut, memiliki nilai yang
sama dengan gaya tarik molekul pelarutnya atau molekul zat terlarutnya. Larutan
dikatakan ideal jika larutan tersebut mengikuti hukum Roult pada seluruh kisaran
komposisi sistem. Hukum Roult dalam bentuknya yang lebih umum didefinisikan
sebagai fugasitas dari tiap komponen dalam larutan yang sama dengan keadaan
serta fraksi molnya dalam larutan tersebut. Campuran dapat digambarkan
menggunakan diagram fasa pada tekanan dan temperatur yang stabil. Batas dari
dua fase dapat menggambarkan keadaan kesetimbanngan dari masing-masing
komponen (Dogra, 1990).
Kesetimbangan uap cair sistem biner dapat diaplikasikan dalam kehidupan
sehari-hari, misalnya pembuatan tabung gas LPG. Tabung gas LPG dapat dibuat
menggunakan prinsip destilasi yang berpengaruh pada tekanan uap dalam tabung
yang apabila semakin besar akan mengakibatkan gas di dalam tabung mengalami
perubahan fase menjadi cair. Hal ini akan didapatkan nilai densitas dan fraksi mol
dari larutan biner sehingga dapat diketahui kesetimbangan uap cair larutan
binernya.
Percobaan yang dilakukan yaitu kesetimbangan uap cair pada sistem biner
yang bertujuan untuk mengetahui sifat larutan biner dan menentukan indeks
biasnya. Penentuan sifat larutan biner dapat diketahui dari diagram temperatur
versus komposisi. Perlakuan pada percobaan ini yaitu menggunakan prinsip dari
destilasi untuk mengetahui kadar alkohol dan titik didih etanol 99,8% dengan
variabel terikat ialah konsentrasi yang bervariasi. Konsentrasi yang ditetapkan
yaitu sebesar 10, 15, 20, 25, dan 30%. Pengukuran kadar alkohol dapat dibantu
dengan software logger lite yang menghubungkan larutan dengan komputer,
sehingga hasil yang didapat akan terbaca oleh komputer.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah percobaan kali ini adalah bagaimana sifat larutan biner
dengan membuat diagram temperatur versus komposisi dan menentukan indeks
biasnya?

1.3 Tujuan
Tujuan percobaan kali ini adalah mempelajari sifat larutan biner dengan
membuat diagram temperatur versus komposisi dan menentukan indeks biasnya.
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Material Safety Data Sheets (MSDS)


2.1.1 Aquadest
Aquadest memiliki rumus molekul H2O dengan berat sebesar 18,02 g/mol.
Sifat fisika dan kimia dari aquadest yaitu tidak berwarna, tidak berbau, memiliki
titik didih 100 oC (212 oF), titik leleh 0 oC, tekanan uap sebesar 2,3 kPa dan massa
jenis uap sebesar 0,62 g/ml. Bahan ini tidak berbahaya jika kontak dengan mata,
kulit maupun inhalasi. Aquadest tidak akan mengakibatkan korosif atau iritasi
untuk kulit, iritasi untuk mata dan tidak berbahaya bagi pencernaan serta inhalasi
(Sciencelab, 2018).
2.1.2 Etanol (C2H5OH)
Etanol merupakan bahan kimia yang berwujud cair, mempunyai bau
seperti alkohol dari yang ringan sampai kuat. Etanol mempunyai titik didih
sebesar 78,5°C atau setara dengan 173,3°F dan titik lelehnya sebesar -114,1°C
atau setara dengan -173,4°F. Temperatur kritis yang dimiliki oleh etanol adalah
243°C setara dengan 469,4°F. Massa jenis etanol yang yaitu 0,8 dan massa jenis
uap etanol sebesar 1.59 serta mempunyai tekanan uap 5,7 kPa (@ 20°C).
Kelarutan etanol terdapat dalam beberapa medium antara lain air, metanol, dietil
eter, aseton. Bahan jika tejadi kontak mata dan kulit segera siram dengan air
bersih yang banyak selama 15 menit. Bahan jika terhirup segera cari tempat yang
segar, jika pingsan diberi nafas buatan dan sulit bernafas berikan nafas buatan.
Etanol tertelan diberikan air minum yang banyak dan longgarkan pakaian yang
ketat, dapatkan bantuan medis jika gejala muncul (Sciencelab, 2018).

2.2 Dasar Teori


2.2.1 Larutan Ideal
Larutan adalah campuran yang homogen dari dua atau lebih zat. Zat yang
jumlahnya lebih sedikit disebut dengan zat terlarut, sedangkan zat yang jumlahnya
lebih banyak disebut dengan pelarut. Larutan bisa berwujud gas (seperti udara),
padat (seperti paduan logam), atau cair (air laut). Zat terlarut yang awalnya adalah
zat cair atau zat padat dan pelarutnya adalah air adalah larutan berair. Zat yang
terlarut dalam air termasuk kedalam salah satu dari dua golongan elektrolit dan
non elektrolit (Chang, 2005).
Larutan ideal adalah larutan yang gaya tarik antara molekul-molekulnya
sama, artinya gaya tarik antar molekul pelarut dan zat terlarut, sama dengan gaya
tarik molekul pelarutnya atau molekul zat terlarutnya. Sifat larutan salah satunya
bergantung pada tekanan suatu komponen yang terdapat dalam larutan pada
permukaan larutan. Hal ini dapat diketahui besarnya kecenderungan suatu
komponen untuk menguap yang dipengaruhi oleh temperatur dan konsentrasi
(Bird, 1993).
Larutan dikatakan ideal jika larutan tersebut mengikuti hukum Roult pada
seluruh kisaran komposisi sistem. Hukum Roult dalam bentuknya yang lebih
umum didefinisikan sebagai fugasitas dari tiap komponen dalam larutan yang
sama dengan keadaan serta fraksi molnya dalam larutan tersebut, yakni :
f1 = X1 × f1∗ (2.1)
Hubungan antara tekanan parsial dan komposisinya dalam larutan merupakan
pendekatan dalam hal larutan yang mempunyai komponen tekanan parsial kecil.
P1 = X1 × P10 (2.2)
Dimana : P1 = tekanan uap larutan
P 0 = tekanan uap larutan murni
X1 = mol fraksi larutan
Potensial kimia dari tiap komponen dalam larutan didefinisikan sebagai :
μ1 = μ10 + R T ln X1 (2.3)
(Dogra, 1990).
Komponen (pelarut dan zat terlarut) dalam larutan ideal mengikuti hukum
Roult pada seluruh selang konsentrasi. Larutan encer yang tak mempunyai
interaksi kimia di antara komponen-komponennya. Hukum Roult berlaku bagi
pelarut, baik ideal maupun tak ideal, tetapi hukum Roult tak berlaku pada zat
terlarut pada larutan tak ideal encer. Perbedaan ini bersumber pada kenyataan
bahwa molekul-molekul pelarut yang luar biasa banyaknya. Kondisi ini
menyebabkan lingkungan molekul terlarut sangat berbeda dalam lingkungan
pelarut murni. Zat terlarut dalam larutan tak ideal encer mengikuti Hukum Henry,
bukan Hukum Roult (Petrucci, 1992).
Komposisi larutan dalam percobaan ini merupakan harga mol fraksi
larutan untuk membuat diagram T – X maka harga X ditentukan pada tiap titik
didih dengan mengukur indeks biasnya pada beberapa komposisi tertentu dari
larutan. Hal ini dapat dilakukan dengan membuat grafik standar komposisi vs
indeks bias terlebih dahulu. Contoh perlakuan yaitu mencampurkan a ml aseton
dengan berat jenis ρ1 dengan b ml. Kloroform dengan berat jenis ρ2, maka
komposisinya:
X1 = (a ρ1 / M1) / {( a ρ1 / M1) + (b ρ2 / M2) (2.4)
M1 menyatakan berat molekul aseton sedangkan M2 berat jenis kloroform. Bentuk
grafik yang diperoleh dari penurunan grafik standart dapat dilihat pada gambar 2.1
dibawah ini:

(a)Benzene-toluena (b)Aseton-Karbon disulfida (c) Aseton-Kloroform


Gambar 2.1 Diagram Suhu Versus Komposisi
(Tim Kimia Fisik, 2018).
Diagram fase suatu zat diatas memperlihatkan daerah-daerah tekanan dan
temperatur dimana berbagai fase bersifat stabil secara termodinamis. Batas-batas
antara daerah-daerah itu, yaitu batas-batas fase memperlihatkan nilai P dan T
dimana dua fase berada dalam kesetimbangan. Kimia memberi notasi kuantitatif
yang berhubungan dengan zat murni dengan superskrip, sehingga potensial kimia
campuran A adalah μA, karena tekanan uap cairan murni pada kesetimbangan
kedua potensial kimiawi sama besar, sehingga keduanya dapat dieliminasi
(Atkins, 1999).
2.2.2 Larutan Biner
Larutan biner atau campuran biner merupakan larutan yang berisikan dua
komponen atau lebih yang memilki tingkat kelarutan yang tinggi, larutan tersebut
mampu mencapai kesetimbnagan larutan. Kesetimbangan merupakan suatu
keadaan dimana tidak terjadi perubahan sifat makroskopis dari sistem terhadap
waktu. Kesetimbangan terjadi ketika dua komponen direaksikan dan
menghasilkan produk. Hasil produk dan reaktan dapat terjadi reaksi bolak-balik
sehingga komponen tersebut dapat mengalami mekanisme kesetimbangan (Bird,
1993).
2.2.3 Campuran azeotrop
Campuran azeotrop adalah campuran dari dua atau lebih komponen yang
tidak dapat dipisahkan dengan distilasi sederhana. Campuran cairan non-idealistis
dan satu titik di mana komposisi cairan dan komposisi uap adalah sama.
Campuran yang membentuk azeotrop memiliki karakteristik komposisi, suhu dan
tekanan di mana titik azeotrop itu berada. Azeotrop yang titik didihnya lebih
tinggi dari komponen penyusunnya maka disebut negatif azeotrop, dan jika titik
didih lebih rendah dari komponen penyusunnya disebut azeotrop positif. Hal ini
paling sering disajikan dalam hal Tx diagram (di mana T adalah suhu dan x adalah
fraksi mol) ( Castellan, 1983).
2.2.4 Destilasi
Destilasi atau penyulingan adalah suatu proses pemisahan komponen yang
berdasarkan pada perbedaan titik didih dimana komponen yang mempunyai titik
didih yang rendah terlebih dahulu keluar dibandingkan dengan titik didih yang
tinggi. Destilasi merupakan suatu perubahan cairan menjadi uap dan uap tersebut
didinginkan kembali menjadi cairan. Unit operasi destilasi merupakan metode
yang digunakan untuk memisahkan komponen-komponen yang terdapat dalam
suatu larutan atau campuran dan tergantung pada distribusi komponen-komponen
tersebut antara fasa uap dan fasa air. Semua komponen tersebut terdapat dalam
fasa cairan dan uap. Fasa uap terbentuk dari fasa cair melalui penguapan
(evaporasi) pada titik didihnya. Syarat utama dalam operasi pemisahan
komponen-komponen dengan cara destilasi adalah komposisi uap harus berbeda
dari komposisi cairan dengan terjadi keseimbangan larutan-larutan, dengan
komponen-komponennya cukup dapat menguap (Amrin, 2015).
Prinsip penyulingan destilasi merupakan suatu proses pemisahan
komponen-komponen suatu campuran yang terdiri atas dua cairan atau lebih
berdasarkan perbedaan tekanan uap atau berdasarkan perbedaan titik didih
komponen-komponen senyawa tersebut. Dua jenis penyulingan pada dasarnya
yaitu hidrodestilasi dan fraksinasi. Hidrodestilasi adalah penyulingan suatu
campuran yang berwujud cairan yang tidak saling bercampur, hingga membentuk
dua fasa atau dua lapisan. Proses ini dilakukan dengan bantuan air maupun uap
air. Hidrodestilasi memiliki 3 jenis metode yang didasarkan pada cara penanganan
bahan yang diproses yaitu destilasi air, destilasi uap dan air serta destilasi uap
langsung. Fraksinasi adalah penyulingan suatu cairan yang tercampur sempurna
hingga hanya membentuk satu lapisan. Proses ini dilakukan tanpa menggunakan
uap air. Fraksinasi memiliki 3 jenis metode yaitu kohobasi, rektifikasi dan
destilasi fraksinasi (Sastrohamidjojo, 2004).
2.2.5 Logger Lite
Logger Lite merupakan suatu perangkat lunak yang digunakan dalam
pengumpulan data yang diproduksi oleh software Vernier. Perangkat lunak ini
dirancang untuk digunakan di K-8. Logger Lite mampu membuat pengumpulan
data sains dan matematika lebih mudah dari sebelumnya. Perangkat lunak yang
mudah digunakan sebagai sarana belajar menjadi lebih intuitif dengan bantuan
sains visual. Software ini sangat diandalkan dalam hal kegunaan dan
pemakaiannya yang cukup mudah sejalan dengan kemajuan teknologi yang
semakin pesat (Vernier, 2018).
Prinsip kerja logger lite ini adalah sensor menghisap zat alkohol yang
sifatnya volatil atau mudah menguap serta zat lain yang juga menguap sehingga
uap tersebut akan mengakibatkan hambatan sensor turun serta membuat tegangan
beban naik. Sensor alkohol dihubungkan dengan PC atau komputer dengan
bantuan software logger lite tersebut. Gas yang semakin besar konsentrasinya
maka meyebabkan nilai potensial yang dihasilkan juga akan naik (Achmad, 1996).
BAB 3. METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Alat dan Bahan


3.1.1 Alat
- Labu leher tiga
- Leher angsa
- Kondensor
- Termometer 100 °C
- Pipet Mohr
- Pipet tetes
- Beaker glass 50 mL
- Beaker gelas 150 mL
- Erlenmeyer
- Mantel distilasi
- Sensor alkohol/ Logger Lite
- Labu ukur
- Gelas ukur
- Statif
- Ball pipet
- Plastik dan gelang karet
- Botol semprot
3.1.2 Bahan
- Akuades
- Etanol 99,8%
3.2 Prosedur Kerja

Etanol 99,8%
- diencerkan dengan konsentrasi 10, 15, 20, 25, 30% masing-
masing dalam 25 mL.
- dimasukkan ke dalam labu leher tiga
- dilakukan distilasi
- diukur titik didih pada tetesan pertama
- dihentikan destilat ketika mencapai 10 tetesan
- ditambahkan akuades 12,5 ml pada distilat
- diambil residu 1 ml kemudian diencerkan menjadi 25 mL
- diukur kadar alkoholnya pada software logger lite
- dilakukan triplo untuk pengukuran
- dibuat grafik komposisi vs temperatur

Hasil
BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
No Konsentrasi TD (0C) X (%)
(%) Distilat Residu
1 10 93 0,746 0,017
2 15 88,5 5,413 0,057
3 20 86 2,585 0,146
4 25 87 1,811 0,094
5 30 84 1,624 0,167

4.2 Pembahasan
Percobaan kali ini adalah kesetimbangan uap-cair pada sistem biner yang
bertujuan untuk mengetahui sifat larutan biner dengan membuat diagram
temperatur versus komposisi dan juga menentukan indeks biasnya. Sistem biner
merupakan sebuah larutan yang terdiri dari dua komponen yaitu pelarut dan zat
terlarut. Pelarut dan zat terlarut ini dapat membentuk kesetimbangan di dalam
reaksinya bergantung dengan komponen di dalamnya. Komponen zat yang
terdapat dalam larutan biner memiliki sifat-sifat yang berbeda-beda, salah satunya
adalah titik didih. Percobaan ini menggunakan metide distilasi yang berdasarkan
pada titik didih suatu senyawa.
Larutan biner yang digunakan pada praktikum kali ini yaitu etanol 99,8%
dan akuades. Larutan diencerkan dengan aquades dengan variasi konsentrasi 10%,
15%, 20%, 25%, 30%. Variasi konsentrasi dibuat agar dapat mengetahui
bagaimana pengaruh pada konsentrasi larutan yang berbeda. Konsentrasi bisa
didapatkan dengan menggunakan metode pengenceran. Pengenceran dilakukan
untuk menurunkan konsentrasi (kadar) larutan.
Larutan etanol dijadikan sebagai zat terlarut jarena memiliki titik didih
yang lebih rendah dibandingkan dengan akuades, sehingga akuades dijadikan
sebagai pelarutnya. Etanol yang memiliki tiitk didih lebih rendah dibandingkan air
akan menguap terlebih dahulu dan membentuk kesetimbangan uap-cair. Larutan-
larutan tersebut akan berinteraksi dan membentuk ikatan hydrogen. Hal ini
mengakibatkan kedua larutan etanol dan akuades saling melarutkan karena sama-
sama memiliki sifat polar sehingga akan membentuk sistem yang homogen.
Kepolaran suatu senyawa dapat dilihat berdasarkan struktur senyawanya. Atom O
dan H pada senyawa etanol dan akuades memiliki perbedaan keelektronegatifan
sehingga momen dipolnya tidak sama dengan nol (polar). Ikatan antara atom
oksigen dan hidrogen dalam suatu senyawa akan membentuk ikatan hidrogen.
Larutan antara etanol dan akuades bersifat homogen sehingga tidak mempunyai
nilai entalpi pencampuran (∆H=0), dan tidak terdapat nilai volume pencampuran
(∆V=0) serta tekanan uap larutan yang dimiliki akan sebanding dengan fraksi mol
larutan.
Perlakuan selanjutnya adalah larutan etanol yang telah diencerkan pada
konsentrasi tertentu kemudian dilakukan proses destilasi untuk memisahkan
senyawa etanol dengan akuades berdasarkan perbedaan titik didihnya. Etanol
yang memiliki titik didih rendah akan menguap terlebih dahulu. Uap yang
dihasilkan akan memasuki kondensor yang berfungsi sebagai pendingin uap,
sehingga akan mengubah uap dari komponen yang lebih volatil menjadi menjadi
wujud cair kembali. Uap yang telah cair lalu akan menuju dan tertampung pada
labu destilat atau erlenmeyer. Proses detilasi ini dilakukan dengan mengamati
suhu ketika cairan yang telah melalui proses destilasi menetes ke dalam
erlenmeyer sebanyak satu tetes. Suhu tersebut merupakan titik didih komponen
volatil. Tetesan yang dihasilkan ini merupakan etanol. Hal ini disebabkan karena
etanol lebih dulu menguap dibanding dengan akuades. Ikatan antara etanol dan
akuades saat distilasi akan terputus sehingga etanol dalam campuran akan
menguap. Komposisi etanol dalam campuran semakin banyak, maka akan
semakin mudah poduk etanol murni untuk dihasilkan.
Titik didih yang diperoleh bergantung pada konsentrasi larutan yang
digunakan. Konsentrasi etanol yang semakin tinggi akan mengakibatkan titik
didih yang dihasilkan akan semakin kecil sehingga nilai persentasi etanol dalam
distilat akan semakin besar. Hal ini dikarenakan adanya pengaruh dari jumlah
partikel etanol dalam larutan yang semakin banyak, sehingga larutan akan
mendidih lebih cepat (titik didih kecil). Penurunan titik didih dari larutan biner
disebabkan karena adanya jumlah etanol yang lebih banyak teruapkan sebagai uap
dibandingkan jumlah mol etanol dalam sistem larutan.
Titik didih yang dihasilkan yaitu pada konsentrasi etanol berturut-turut
variasi konsentrasi 10 %,15%, 20%, 25% 30% yaitu 93 oC, 88,5 oC, 86 oC, 87 oC,
dan 84 oC. Hasil titik didih sesuai percobaan dapat disimpulkan bahwa pada
konsentrasi etanol 25% tidak sesuai dengan teori. Teori menyatakan bahwa
komposisi yang semakin besar akan mengakibatkan titik didih akan semakin
kecil. Proses destilasi dapat dihentikan ketika telah didapatkan 10 tetes dari
destilat yang kemudian diukur kadarnya menggunakan sensor alkohol yang telah
dihubungkan pada komputer (software logger lite) dengan erlenmeyer yang telah
berisi destilat. Residu pada proses destilasi juga diukur kadarnya menggunakan
sensor alkohol seperti perlakuan pada pengukuran kadar etanol dari destilat.
Residu yang dihasilkan untuk diukur kadar etanol nya sebelumnya diencerkan
menggunakan akuades. Hal ini bertujuan agar tidak terlalu pekat pada saat diukur
kadarnya menggunakan sensor alkohol.
Prinsip kerja alat sensor alkohol yaitu dengan cara menghisap zat etanol
yang volatil atau mudah menguap serta zat lain yang juga menguap sehingga uap
tersebut akan mengakibatkan hambatan sensor turun serta membuat tegangan
beban naik. Sensor ini digunakan dengan cara mencelupkan alat sensor ke larutan
yang akan diuji, tetapi jangan sampai menyentuh larutan karena akan
mempengaruhi sensor sehingga data yang dihasilkan akan tidak sesuai. Sensor
alkohol dihentikan ketika persen kadar alkohol yang ditampilkan pada laptop telah
mencapai konstan. Sensor alkohol dilakukan pada masing-masing larutan pada
variasi konsentrasi. Hasil uji kadar etanol yang didapatkan, dibuat grafik
temperatur versus kompisisi yang dapat dilihat sebagai berikut:
Kurva Kesetimbangan Uap-Cair etanol dan Air
94.0
93.0 y = -128,11x + 92,115
92.0 R² = 0,1651
91.0 y = 47,326x + 79,42
Titik Didih (oC)

90.0 R² = 0,841
89.0 Destilat
88.0 Residu
87.0
Linear (Destilat)
86.0
85.0 Linear (Residu)
84.0
83.0
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5 5 5.5 6
Konsentrasi Etanol (%)

Gambar 4.1 Kesetimbangan Uap-Cair Etanol dan Air


Gambar 4.1 menunjukkan bahwa kadar atau konsentrasi etanol yang
didapatkan berbeda-beda pada destilat dan residunya. Persentase kadar etanol
pada residu menurut grafik lebih rendah dibandingkan dengan destilatnya. Hal ini
dikarenakan pada residu masih dalam bentuk campuran antara etanol dan akuades
sedangkan pada destilatnya hanya mengandung etanol murni. Persentase kadar
etanol yang didapatkan mengalami kenaikan dan penurunan seiring meningkatnya
titik didih larutan. Teori mengatakan bahwa jika konsentrasi larutan yang
digunakan semakin besar maka kadar alkohol yang dihasilkan juga semakin besar.
Konsentrasi larutan etanol yang digunakan semakin besar maka kadar alkohol
dalam destilat juga akan makin besar karena titik didihnya makin rendah.
Hubungan antara konsentrasi etanol dengan kadar alkohol dalam destilat adalah
berbanding lurus. Percobaan yang dilakukan tidak sesuai dengan teori, hal ini
dimungkinkan karena pada saat pengukuran kadar etanol terdapat lubang diantara
erlenmeyer dengan gabus pada sensor alkohol. Lubang yang tidak tertutup dengan
sempurna mengakibatkan etanol yang dihasilkan pada destilat dan residu tidak
sesuai. Kondisi ini diakibatkan etanol menguap ke ruangan sehingga hasil yang
didapatkan menyimpang dari teori.
Titik azeotrop adalah campuran dari suatu zat atau lebih yang saling terikat
sangat kuat untuk dipisahkan dengan distilasi biasa. Campuran kedua zat tersebut
memiliki titik didih yang konstan atau sama, sehingga ketika dididihkan fasa uap
yang dihasilkan memiliki titik didih yang sama dengan fasa cairnya karena adanya
gaya antar molekul dalam larutan tersebut. Percobaan yang dilakukan tidak
ditemukan titik azeotrop nya. Kondisi dimana terbentuk titik azeotrop yaitu ketika
didapatkan etanol dalam keadaan murni nya. Titik azetrop yang tidak ditemukan
terjadi karena destilat tidak mengandung etanol dalam keadaan murninya
melainkan adanya campuran akuades dengan etanol. Pemisahan menggunakan
destilasi sederhana untuk menghasilkan etanol dalam keadaan murni nya sangat
susah dengan metode ini. Penggunaan metode destilasi sederhana ini
menghasilkan etanol dengan campuran sedikit akuades sehingga etanol yang
dihasilkan tidak murni.
BAB 5. PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang didapatkan dari percobaan ini adalah campuran etanol-
air merupakan campuran biner yang akan membentuk kesetimbangan uap cair.
Sifat larutan biner berhubungan dengan titik didih maupun persentase kadar atau
komposisi etanolnya. Kadar etanol yang semakin besar diakibatkan karena
konsentrasi larutan yang semakin besar dengan titik didih yang semakin rendah
sedangkan pada residu nilai kadar alkohol yang dihasilkan mengalami penurunan
maka kadar alkohol dalam residu yang didapatkan sangat sedikit.
5.2 Saran
Saran untuk praktikum selanjutnya adalah pengenceran harus dilakukan
dengan berhati-hati agar tidak melewati batas yang tertera pada labu ukur. Karet
pada sensor alkohol sebaiknya tidak berlubang dan sebaiknya disesuaikan dengan
ukuran mulut erlenmeyer agar etanol yang telah dihasilkan tidak menguap. Sensor
alkohol jangan sampai mengenai dasar erlenmeyer agar tidak merusak sensor dan
data yang didapatkan sesuai dengan literatur.
DAFTAR PUSTAKA

Achmad, H. 1996. Kimia Larutan. Bandung: PT Citra Aditya Bakti.


Amrin, Abdul Rasyid. 2015. Isolasi Minyak Atsiri Daun Jaraka. Pekanbaru:
Universitas Riau
Atkins, P.W. 1994. Kimia Fisika. Jakarta : Erlangga
Bird, Tony. 1993. Kimia Untuk Universitas. Jakarta: PT Gramedia Pustaka
Utama.
Castellan, G.W. 1983. Physical Chemistry. New York. General Graphics Services.
Chang, Raymond. 2005. Kimia Dasar. Jakarta: Erlangga
Dogra, S.K. 1990. Kimia Fisika dan Soal-soal. UI-Press. Jakarta.
Petrucci, Ralph H. 1999. General Chemistry, Principle and Modern Application
7th edition. New York : Collier-McMillan.
Sastrohamidjojo. 2004. Kimia Minyak Atsiri. Yogyakarta: Gadjah Mada
Universoty Press
Sciencelab. 2018. MSDS Akuades.
http://www.sciencelab.com/msds.php?msdsId=9924923. Diakses tanggal 11
Mei 2018.
Sciencelab. 2018. MSDS Etanol.
http://www.sciencelab.com/msds.php?msdsId=9922902. Diakses tanggal 11
Mei 2018.
Tim Penyusun. 2018. Penuntun Praktikum kimia Fisik II. Jember: Universitas
Jember.
Vernier. 2018. Logger Lite [serial online].
https://www.vernier.com/products/software/logger-lite/ (diakses tanggal 11
Mei 2018)
LAMPIRAN

1. Pengenceran
1. Pembuatan Etanol 10% dari etanol 99,8%
𝑀1 𝑥𝑉1 = 𝑀2 𝑥𝑉2
25 𝑚𝐿 𝑥 10% = 99,8% 𝑥 𝑉2
𝑉2 = 2,50 𝑚𝐿
2. Pembuatan Etanol 15% dari etanol 99,8 %
𝑀1 𝑥𝑉1 = 𝑀2 𝑥𝑉2
25 𝑚𝐿 𝑥 15% = 99,8% 𝑥 𝑉2
𝑉2 = 3,75 𝑚𝐿
3. Pembuatan Etanol 20% dari etanol 99,8%
𝑀1 𝑥𝑉1 = 𝑀2 𝑥𝑉2
25 𝑚𝐿 𝑥 20% = 99,8% 𝑥 𝑉2
𝑉2 = 5,01 𝑚𝐿
4. Pembuatan Etanol 25% dari etanol 99,8%
𝑀1 𝑥𝑉1 = 𝑀2 𝑥𝑉2
25 𝑚𝐿 𝑥 25% = 99,8% 𝑥 𝑉2
𝑉2 = 6,26 𝑚𝐿
5. Pembuatan Etanol 30% dari etanol 99,8%
𝑀1 𝑥𝑉1 = 𝑀2 𝑥𝑉2
25 𝑚𝐿 𝑥 30% = 99,8% 𝑥 𝑉2
𝑉2 = 7,51 𝑚𝐿
2. Perhitungan Kesetimbangan Uap Cair

Kurva Kesetimbangan Uap-Cair etanol dan Air


94.0
93.0 y = -128,11x + 92,115
92.0 R² = 0,1651
91.0 y = 47,326x + 79,42
Titik Didih (oC)

90.0 R² = 0,841
89.0 Destilat
88.0 Residu
87.0
Linear (Destilat)
86.0
85.0 Linear (Residu)
84.0
83.0
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5 5 5.5 6
Konsentrasi Etanol (%)

1. Konsentrasi 10 %
1,053+1,088+0,0985
a. Destilat = = 0,746
3
0,017+0,017+0,017
b. Residu = = 0,017
3

2. Konsentrasi 15 %
5,528+5,412+5,301
a. Destilat= = 5,413
3
0,057+ 0,058+0,058
b. Residu= = 0,057
3

3. Konsentrasi 20 %
2,735+2,536+2,483
a. Destilat= = 2,585
3
0,165+0,143+0,132
b. Residu = = 0,146
3

4. Konsentrasi 25 %
1,846+1,768+1,819
a. Destilat = = 1,811
3
0,088+0,094+0,099
b. Residu = = 0,094
3

5. Konsentrasi 30 %
1,687+1,604+1,582
a. Destilat = = 1,624
3
0,160+0,169+0,174
b. Residu = = 0,167
3

Beri Nilai