Anda di halaman 1dari 8

Volume 18, Nomor 1, Hal.

56-63 ISSN:0852-8349
Januari – Juni 2016

DINAMIKA PENULARAN DAN FAKTOR RISIKO KEJADIAN FILARIASIS


DI KECAMATAN KUMPEH KABUPATEN MUARO JAMBI TAHUN 2014

Dwi Noerjoedianto
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Jambi
Kampus Pinang Masak, Mendalo-Darat Jambi 36361
Email : masyudi_psik99@yahoo.com

ABSTRAK

Penyakit Kaki Gajah merupakan penyakit kecacatan menetap dan waktu lama, kerugian
ekonomis, serta mempunyai dampak psikologis. Provinsi Jambi merupakan daerah endemis
penyakit kaki gajah, kecuali Kota Sungai Penuh dan Kabupaten Kerinci. Kabupaten Muaro
Jambi jumlah penderita tahun 2012 sebanyak 151 orang dan Kabupaten Batang Hari
sebanyak 78 orang. Puskesmas Muaro Kumpeh merupakan Puskesmas di Kabupaten Muaro
Jambi yang beresiko filariasis, baik pada tahun 2011 maupun tahun 2012. Tujuan penelitian
ini adalah untuk mengetahui bagaimana dinamika penularan Filariasis dan faktor risiko
kejadian Filariasis di Kecamatan Kumpeh Kab. Muaro Jambi. Rancangan penelitian case
control study, dengan sampel kelompok kasus 31 orang dan kelompok kontrol 62 orang,
dengan matching umur dan jenis kelamin. Cara pengambilan sampel melalui data primer,
dan data sekunder, variable independent terdiri kebiasaan tidur menggunakan kelambu,
pekerjaan, kebiasaan keluar rumah pada malam hari, adanya genangan air dan keberadaan
tumbuhan air, sedangkan variable dependentnya adalah kejadian filariasis, Instrumen
menggunakan kuesioner dan check list. Analisa univariat untuk melihat gambaran variabel
independent dan variabel dependen, sedangkan analisa bivariat untuk menilai hubungan antar
variabel menggunakan asosiasi odds ratio dengan uji statistik Chi-Square. Responden
dengan pekerjaan di malam hari (petani sawah/kebun dan pedagang) merupakan faktor
risiko tinggi dibandingkan adanya perindukan nyamuk di sekitar rumah dan genangan air
disekitar rumah, karena wilayah yang dilalui merupakan wilayah rawa dan sungai. Diduga
gigitan nyamuk yang mengandung filaria mengigit di lingkungan rumah dan diperjalanan
yang dilalui selama ke tempat kerja. Pengunaan kelambu, adanya genangan air dan tumbuhan
air di sekitar rumah merupakan resiko rendah kejadian filaria disekiar rumah responden.

Kata Kunci : Filariasis, dinamika penularan, faktor resiko.


PENDAHULUAN tersebar luas hampir di seluruh
kabupaten/kota. Jumlah penderita kaki
Penyakit Kaki Gajah (filariasis) gajah yang dilaporkan dari 231
merupakan penyakit yang menyebabkan kabupaten/kota sebanyak 6233 orang telah
kecacatan menetap dan dalam waktu lama terinfeksi, tersebar di 674 Puskesmas dan
menyebabkan kecacatan mental, kerugian 1153 Desa. Data ini belum mencakup
ekonomis, serta mempunyai dampak seluruh wilayah, karena tidak semua
psikologis terhadap penderita kronis kabupaten/kota melaporkannya yaitu
karena diasingkan oleh keluarga dan hanya 42,16 %. (Depkes RI, 2001).
masyarakat, bersifat endemis di lebih dari Provinsi Jambi merupakan salah satu
80 negara di dunia. daerah yang terjangkit penyakit kaki gajah,
Berdasarkan Rapid Mapping filariasis kecuali Kota Sungai Penuh dan Kab.
pada tahun 2000, angka kesakitan penyakit Kerinci. Jumlah penderita Kab. Muaro
kaki gajah di Indonesia masih tinggi dan Jambi tahun 2012 sebanyak 151 orang dan

56
Jurnal Penelitian Universitas Jambi Seri Sains

Kab. Batang Hari sebanyak 78 orang. Kab. list, teknik analisis data univariat
Muaro Jambi kasus yang sama terjadi di dilakukan untuk melihat gambaran dari
Puskesmas Muaro Kumpeh. Rumusan variabel independent dan variabel
masalahnya adalah Bagaimana dinamika dependen, sedangkan analisa bivariat
penularan dan faktor resiko kejadian dilakukan untuk menilai hubungan antara
Filariasis di Kecamatan Kumpeh Kab. variabel independen dengan variabel
Muaro Jambi ? Tujuan penelitian adalah dependen menggunakan asosiasi odds
untuk mengetahui hubungan tidur ratio dengan uji statistik Chi-Square,
mengunakan kelambu dengan kejadian dengan derajat kebebasan 5%. Penolakan
filariasis, hubungan pekerjaan penderita terhadap hipotesa apabila p-Value < 0,05
dengan kejadian filariasis, hubungan artinya ada hubungan yang bermakna (Ho
kebiasaan keluar malam hari dengan ditolak). Sedangkan apabila p-Value >
kejadian Filariasis, hubungan tempat 0,05 artinya tidak ada hubungan yang
genangan air dengan kejadian Filariasis bermakna (Ho diterima)
dan hubungan keberadaan tumbuhan air
dengan kejadian Filariasis, dengan manfaat HASIL DAN PEMBAHASAN
penelitian diketahuinya penularan
Filariasis dan faktor resiko sebagai bahan Karakteristik Responden
masukan bagi masyarakat dalam upaya Jika ditinjau dari usia, responden untuk
pemberantasan dan pencegahan penularan kelompok kasus usianya yang paling
infeksi filariasis. banyak adalah 51-60 tahun (45,1%),
sedangkan yang paling kecil lebih dari 81
METODE PENELITIAN tahun (3,2%), sangat berbalik dengan
kelompok kontrol yang paling banyak
Rancangan Penelitian design Case usianya 31-40 tahun (31,6%). Sedangkan
Control Study, sebagai populasi dibagi menurut jenis kelamin, untuk kelompok
dalam 2 kelompok yaitu populasi kasus kasus lebih banyak laki-laki (67,7%),
(semua penderita penyakit filariasis) di untuk kelompok kontrol didominasi
wilayah penelitian didiagnosa oleh petugas perempuan (56,45%).
berdasarkan survei darah jari dari tahun Lain halnya jika dilihat dari tingkat
2013 dan populasi control (semua orang pendidikan, untuk kelompok kasus rata-
yang tidak terdapat microfilaria didalam rata pendidikannya SD sederajad ( 67,7%),
darahnya berdasarkan survei darah jari sedangkan untuk kelompok kontrol SMP
oleh petugas kesehatan, yang tinggal di sederajad (24,2%), hanya sedikit yang
sekitar rumah penderita ), jumlah sampel mempunyai tingkat pendidikan Perguruan
kasus (31 orang) dan sampel kontrol (62 Tinggi (4,8%). Termasuk dalam lama
orang) dengan rasio 1:2, teknik tinggal, mengingat sebagian besar
pengambilan sampel dilakukan matching penduduk yang sudah lama tinggal, maka
(pencocokan) pada kelompok umur dan dalam kelompok kasus mereka rata-rata
jenis kelamin, cara pengambilan sampel tinggal berkisar 51-60 tahunan (22,%),
data primer (secara langsung) dan data sedangkan kelompok control kurang dari
sekunder, variable penelitian terdiri 10 tahun ( 20,9%). Hal ini dibuktikan
variabel independent (kebiasaan tidur dengan keluarga yang terkena filariasis,
menggunakan kelambu, pekerjaan, jumlah anggota keluarga yang terkena
kebiasaan keluar rumah malam hari, filariasis pada kelompok kasus ada 10
tempat genangan air di sekitar rumah, orang (32,3%), sedangkan yang kelompok
keberadaan tumbuhan air di sekitar rumah) control yang terkena kasus sebanyak 7
dan variabel dependen (kejadian filariasis), orang (11,3%).
instrument berupa kuesioner dan check

63
Dwi Noerjoedianto: Dinamika Penularan dan Faktor Risiko Kejadian Filariasis di Kecamatan
Kumpeh Kabupaten Muaro Jambi

Gambaran distribusi Variabel seperti tabel berikut :


dependent terhadap variable independent,
Tabel 1. Distribusi Frekuensi Variabel dependen terhadap variable independent
Penelitian Filariasis di Kec Kumpeh Kab Muara Jambi Tahun 2014.
Jumlah
No Variabel Indikator
Kasus % Kontrol %
Kasus 31 100 0 0
1 Resiko Filariasis Bukan kasus 0 0 62 100
Jumlah 31 100 62 100
Beresiko 15 48,4 34 54,8
2 Penggunaan Kelambu
Tidak beresiko 16 51,6 28 45,2
Jumlah 31 100 62 100
Beresiko 28 90,3 56 90,3
3 Pekerjaan
Tidak beresiko 3 9,7 6 9,7
Jumlah 31 100 62 100
Beresiko 9 29,0 9 14,5
4 Kebiasaan Keluar rumah
Tidak beresiko 22 71,0 53 85,5
Jumlah 31 100 62 100
Data Perindukan Beresiko 2 6,4 6 9,7
5
Nyamuk Tidak beresiko 29 93,6 56 90,3
Jumlah 31 100 62 100
Beresiko 2 6,4 1 1,6
6 Genangan Air
Tidak beresiko 29 93,6 61 98,4
Jumlah 31 100 62 100
Tumbuhan Air dan Beresiko 2 6,4 3 4,8
7
Jentik Tidak Beresiko 29 93,6 59 95,2
Jumlah 31 100 62 100

2. Hubungan Kebiasaan Tidur Menggunakan Kelambu dengan Kasus Filariasis


Berdasarkan hasil penelitian didapatkan data sbb :

Tabel 2. Distribusi Frekuensi Kebiasaan Tidur Menggunakan Kelambu terhadap


Kasus Filariasis di Kec Kumpeh Kab Muara Jambi Tahun 2014.
Filariasis OR
No Penggunaan Kelambu ∑ % P Value
Kasus Non Kasus 95% CI
1 Beresiko 15 34 49 52,6
2 Tidak Beresiko 16 28 44 47,4 0,93 0,00
Jumlah 31 62 93 100

Kebiasaan menggunakan kelambu pada hari. Menghindari diri dari gigitan nyamuk
waktu tidur secara teoritis mempunyai yaitu dengan menutup ruangan dengan
kontribusi untuk mencegah penularan kasa kawat, memakai kelambu pada
filariasis, karena pada umumnya aktivitas tempat tidur, upaya yang dianjurkan sesuai
menggigit nyamuk tertinggi pada malam dengan saran kementerian kesehatan, pada

62
Jurnal Penelitian Universitas Jambi Seri Sains

daerah yang bersiko tertulah filaria tidur oleh nyamuk aman dari gigitan nyamuk
menggunakan kelambu. Hasil penelitian di penular penyakit filaria dan nyamuk-
dapat kebiasaan tidur dengan mengunakan nyamuk penular penyakit lainnya.
kelambu pada kasus (penderita filaria) Upaya lain yang dapat dilakukan selain
52,6% tidur tidak menggunakan kelambu, tidur menggunakan kelambu yaitu
hasil uji statistik dengan di dapat P value menggunakan kawat kassa yang dipasang
0,00 artinya ada hubungan kebiasaan tidur di bagian ventilasi rumah ini berfungsi
dengan menggunakan kelambu dengan untuk mencegah nyamuk masuk ke dalam
kejadian filaria. Penelitian ini tidak sejalan rumah sehingga terhindar dari gigitan
dengan penelitian Febrianto et al. 2008, nyamuk dan tanpa disadari dapat
yang menyatakan bahwa tidak ada menjauhkan diri dari risiko terkena
hubungan antara kebiasaan menggunakan filariasis. (Febrianto B et.al 2008)
kelambu dengan kejadian filariasis. Hasil Pemasangan kawat kassa di rumah salah
penelitian ini sejalan dengan penelitian satunya dipengaruhi juga oleh faktor
yang dilakukan oleh Depkes bahwa pengetahuan tentang upaya menghindari
menghindari penyakit filaria tidur dari gigitan nyamuk dan binatang lainnya.
menggunakan kelambu baik kelambu biasa Kelambu berinsektisida tidak berbahaya
atau belambu berinsektisida (long lasting bagi kesehatan manusia karena sebelum
insecticide nets) adalah kelambu yang dipakai sudah diteliti oleh WHO dan
sudah dilapisi dengan anti nyamuk oleh dinyatakan aman untuk dipakai walaupun
pabrik kelambu. Kelambu ini tidak tergigit atau terjilat oleh anak-anak.
berbahaya bagi kesehatan manusia karena Namun demikian orang tua harus
anti nyamuk yang melekat pada kelambu mengawasi agar hal tersebut tidak terjadi.
tersebut tidak dapat meracuni manusia. Responden tidak menggunakan kelambu
Memakai kelambu berinsektisida berarti saat tidur akan berisiko 0,93 kali lebih
melindungi masyarakat, terutama bayi, menderita filariasis dibandingkan
anak balita dan ibu hamil yang sangat responden yang menggunakan kelambu.
rentan terhadap penyakit yang disebabakan

1. Hubungan Pekerjaan dengan Kasus Filariasis

Tabel 3. Distribusi Frekuensi Pekerjaan Terhadap Kasus Filariasis di Kec Kumpeh


Kab Muara Jambi Tahun 2014.
Filariasis OR 95%
No Pekerjaan ∑ % CI P Value
Kasus Non Kasus
1 Beresiko 28 56 84 90,3
2 Tidak Beresiko 3 6 9 9,7 9,33 0,00
Jumlah 31 62 93 100

Kebiasaan bekerja di luar rumah wawancara diketahui responden yang


seperti di kebun, sawah atau pekerjaan terindikasi filaria sebelumnya (saat muda)
yang dimungkinkan kontak vektor nyamuk usia 10-20 tahun sudah terindikasi filaria,
pada malam hari, dari hasil analisis data ini dibuktikan dari jawaban bahwa
responden yang bekerja di malam hari karakteristik pekerjaan sebelumnya adalah
menjual sayur saat malam ke pasar lebih sebagai petani dan penyadap kebun karet.
beresiko di bandingkan dengan mereka Hasil uji statistik dengan nilai P
yang jarang keluar malam hari, hasil value 0,00 maka secara statistik dapat

63
Dwi Noerjoedianto: Dinamika Penularan dan Faktor Risiko Kejadian Filariasis di Kecamatan
Kumpeh Kabupaten Muaro Jambi

dikatakan ada hubungan pekerjaan di umumnya laki-laki sering kontak dengan


malam hari dengan kejadian filaria, hasil vektor pada saat bekerja (Depkes RI,
penelitian ini sejalan dengan penelitian 2008). Penyakit kaki gajah merupakan
yang dilakukan oleh Sarungu et al 2012 penyakit zoonosis yang dapat menular dan
terdapat pola kebiasaan masyarakat di telah banyak ditemukan di wilayah tropika
Papua pada umumnya dan Kabupaten tiga macam, berdasarkan bagian tubuh atau
Kepulauan Yapen khususnya, yaitu jaringan yang seluruh dunia. Kaki gajah
ngobrol, bahkan tidur di para-para yang biasanya dikelompokkan menjadi menjadi
berada di luar rumah pada waktu malam. tempat bersarangnya: kaki gajah limfatik,
Ada kebiasaan lain masyarakat dalam kaki gajah subkutan (bawah jaringan
memenuhi kebutuhan pokok (pangan) kulit), dan kaki gajah rongga serosa
adalah menebang dan menokok sagu (serous cavity). R.Uloli et al 2008,
(Metroxylon sp) di hutan sagu yang menyatakan bahwa terdapat lima unsur
berawa-rawa. Kebiasaan masyarakat utama yang menjadi sumber penularan
tersebut menyebabkan peluang kontak penyakit filariasis yaitu sumber penular
antara manusia dengan vektor filariasis (manusia dan hewan sebagai reservoir),
menjadi semakin besar sehingga potensi parasit (cacing), vektor (nyamuk), manusia
untuk menularkan filariasis. yang rentan (host), lingkungan (fisik,
Insiden filariasis pada laki-laki biologik, ekonomi, dan sosial budaya).
lebih tinggi daripada perempuan karena

3. Hubungan Kebiasaan Keluar Rumah malam Hari dengan Kasus Filariasis

Tabel 4. Distribusi Frekuensi Kebiasaan Keluar Rumah Malam Hari


terhadap kasus Filariasis di Kec Kumpeh Kab Muara Jambi Tahun 2014
Filariasis OR
No Kebiasaan Keluar ∑ % 95% CI P Value
rumah Kasus Non Kasus
1 Beresiko 9 9 18 19,4
2 Tidak Beresiko 22 53 75 80,6 4,09 0,00
Jumlah 31 62 93 100
2014, di duga positif filaria ini, responden
Responden yang sebelumnya memiliki telah mengidap namun diketahui saat ini
kebiasan keluar rumah sebelum terindikasi dari hasil pemeriksaan rapid test.
filaria merupakan prilaku yang pernah Kebiasaan dan waktu menggigit
dilakukan, perilaku di sini merujuk nyamuk dewasa yang membentuk dua kali
kepada kebiasaan keluar rumah pada
malam hari. Responden yang memiliki puncak pada malam hari yaitu sesaat
kebiasaan keluar rumah pada malam hari setelah matahari terbenam dan menjelang
memiliki resiko lebih besar untuk matahari terbit, pola mengigit nyamuk ini
menderita penyakit filariasis dibandingkan dipahami karena suhu dan kelembaban
dengan responden yang tidak memiliki udara yang dapat menambah atau
kebiasaan keluar rumah, hasil analisis, mengurangi aktivitas menggigit nyamuk
diketahui nilai P value sebesar 0,00 dewasa, responden memiliki kebiasaan
artinya ada hubungan yang signifikan untuk keluar pada malam hari lebih
kebiasaan keluar rumah dengan kejadian berisiko dibandingkan dengan responden
filaria. Hasil pengumpulan data kasus yang tidak memiliki kebiasaan tersebut.
filaria iketahu adanya penderita baru tahun

62
Jurnal Penelitian Universitas Jambi Seri Sains

Penularan filariasis tergolong lambat lambat karena penderita baru akan


karena penderita baru akan terinfeksi terinfeksi.
cacing mikrofilaria setelah mengalami Responden yang memiliki kebiasaan
gigitan nyamuk vektor filariasis yang keluar rumah pada malam hari memiliki
mengandung larva cacing filaria stadium 3 peluang 4,9 kali lebih besar untuk
berkali-kali.(supali, 2008) Filariasis menderita penyakit filariasis dibandingkan
bersifat kronis dan bila tidak mendapatkan dengan responden yang tidak memiliki
pengobatan akan menimbulkan kecacatan. kebiasaan seperti itu, hal ini diketahui
Gejala Penularan filariasis tergolong kebiasaan.
4. Hubungan Perindukan Nyamuk dengan Kasus Filariasis

Tabel 5. Distribusi Frekuensi Perindukan Nyamuk di Sekitar Rumah terhadap Kasus


Filariasis di Kec Kumpeh Kab Muara Jambi Tahun 2014
Filariasis
No Perindukan Nyamuk ∑ % OR 95% CI P Value
Kasus Non Kasus
1 Beresiko 2 6 8 8,6
2 Tidak Beresiko 29 56 85 91,4 1,03 0,00
Jumlah 31 62 93 100

Lingkungan merupakan media yang Kebiasaan masyarakat di lokasi penelitian


baik untuk perkembangbiakan nyamuk masih ada yang menampung air pada drum
penular filaria, lingkungan biologi dapat dan tempaya yang terbuka baik dalam dan
menjadi rantai penularan filariasis. diluar rumah, keberadaan tanaman
Misalnya, adanya media disekitar rumah disekitar rumah juga potensial menjadi
kebun, air yang tergenang, selokan tempat istirahat (resting) dan tempat
mampet dan SPAL yang kurang memenuhi pekembangbiakan (breeding place) vektor
syarat. Adanya perindukan nyamuk nyamuk.
disekitar rumah responden sebagai faktor Kebersihan lingkungan memegang
resko terjadinya filaria, kondisi daerah peranan penting terhadap terjadinya
responden merupan daerah rural dimana penularan filariasis di suatu wilayah,
sebagian daerah adanya kolam dan lagon, sebagian responden tidak memiliki saluran
maupun sumur yang tidak di manfaatkan penampungan limbah, sehingga air limbah
oleh penduduk akibat dari kualitas airnya yang dihasilkan mengalir begitu saja. Hal
yang kurang memenuhi syarat kesehatan. ini juga akan menimbulkan pencemaran
Hasil uji statistik dengan chi square di lingkungan disamping dapat menjadi
dapat nilai P 0,00 secara statistik dikatakan tempat berkembangbiaknya nyamuk.
adanya hubungan yang signifikan tempat Perilaku buruk penderita ini akan
perindukan di sekitar rumah responden meningkatkan risiko terjadinya penularan
dengan adanya penderita filaria. Hasil penyakit khususnya filariasis karena akan
penelitian ini sejalan dengan penelitian menimbulkan adanya tempat untuk
yang dilakukan oleh Santoso (2011), jenis nyamuk berkembang biak yang merupakan
tempat penampungan air limbah yang vektor filariasis.Responden disekitar
banyak dimiliki oleh penderita filariasis rumahnya memiliki tempat perindukan
berupa penampungan terbuka di nyamuk memiliki peluang 1,03 kali lebih
pekarangan. Sebagian besar penderita juga besar untuk menderita penyakit filariasis
tidak memiliki saluran pembuangan air dibandingkan dengan responden yang
limbah (42,2%) sementara yang memiliki tidak memiliki tempat perindukan nyamuk.
saluran tetapi kondisinya terbuka (40,8%).

63
Dwi Noerjoedianto: Dinamika Penularan dan Faktor Risiko Kejadian Filariasis di Kecamatan
Kumpeh Kabupaten Muaro Jambi

5. Hubungan Genangan Air dengan Kasus Filariasis

Tabel 6. Distribusi Frekuensi Hubungan Genangan Air terhadap Kasus Filariasis di


Kec Kumpeh Kab Muara Jambi Tahun 2014
Filariasis OR 95%
No Genangan Air ∑ % P Value
Kasus Non Kasus CI
1 Beresiko 2 1 3 3,2
2 Tidak Beresiko 29 61 90 96,8 0,68 0,00
Jumlah 31 62 93 100

Kondisi lingkungan tempat tinggal terjadinya perkembang biakan dari


masyarakat berpengaruh terhadap nyamuk. Namun jawaban responden
terjadinya penularan filariasis di suatu menyatakan sebelumnya berdomisili di
daerah, kondisi lingkungan wilayah daerah seperti di hutan, tanaman air, got
penelitian saat ini merupakan permukiman atau saluran air, rawa-rawa, dan sawah.
berkelompok, namun sebelumnya daerah Menurut Hendrik L. Blum (1974)
tersebut merupakan kebun karet dan kebun dalam Budiarto 2003 ada empat faktor
palawija. Hasil analisis kondisi lingkungan yang yang mempengaruhi status kesehatan
tempat tinggal penderita SPAL dan limbah manusia,yaitu lingkungan, perilaku,
cair tidak dikelola dengan baik. Ada pelayanan kesehatan dan keturunan.
hubungan genangan air disekitar rumah Diantara keempat faktor tersebut, faktor
dengan penderita filaria dengan p= 0,00. lingkungan memiliki pengaruh besar
Hasil observasi disekitar rumah terhadap penyebaran penyakit menular
ditemukan sebagian genagan air seperti termasuk filariasis. Responden disekitar
saluran yang tidak lancar, merupakan rumahnya memiliki genangan air memiliki
potensi untuk perkembangan dari nyamuk, peluang 0,68 kali lebih besar untuk
dilingkungan nyamuk membutuhkan air menderita penyakit filariasis dibandingkan
untuk meletakan telurnya, keberadaan dengan responden yang tidak ada
genangan air sebagai faktor risiko genangan air disekitar rumah responden .

6. Hubungan Tumbuhan Air dan Jentik dengan Kasus Filariasis

Tabel 7. Distribusi Frekuensi Tumbuhan Air dan Jentik terhadap Kasus Filariasis di
Kec Kumpeh Kab Muara Jambi Tahun 2014
Tumbuhan Air dan Filariasis OR 95% CI
No Jentik ∑ % P Value
Kasus Non Kasus
1 Beresiko 2 3 5 5,4
2 Tidak Beresiko 29 59 88 94,6 0,08 0,00
Jumlah 31 62 93 100

Keberadaan penderita filaria saat ini sehingga factor lingkungan sangat


merupakan penderita yang terinfeksi antara berpengaruh terhadap kejadian
1-40 tahun yang lalu, lingkungan tempat filariasis(Hendrik L. Blum, 1974).
tinggal responden kondisinya tidak sama Keberadaan beberapa jenis tumbuhan
dengan keadaan sekarang ini. Berdasarkan air tertentu di suatu perairan erat kaitannya
uji statisti didapat nilai p = 0,00, artinya dengan keberadaan nyamuk sebagai
ada hubungan antara keberadaan tumbuhan tempat hidupnya (inangnya) seperti
air dan jentik terhadap kejadian filariasis, nyamuk Mansonia sp. yang telur, larva dan

62
Jurnal Penelitian Universitas Jambi Seri Sains

pupanya tidak terlepas dari keberadaan DAFTAR PUSTAKA


tumbuhan air (tumbuhan inang) di
perairan. Hasil observasi dan investigasi Budiarto,E.& Dewi A. 2003 Pengantar
dilapangan pada tumbuhan air ditemukan Epidemiologi. Edisi 2. Penerbit
telur Mansonia yang melekat pada Buku Kedokteran, Jakarta.
permukaan bawah daun tumbuhan inang Depkes RI, Dirjen PP dan PL. 2008.
dalam bentuk kelompok yang terdiri dari Pedoman Program Eliminasi
11-16 butir. Telurnya berbentuk lonjong Filariasis di Indonesia, Jakarta.
dengan salah satu ujungnya meruncing. Depkes RI, Dirjen PP dan PL. 2008a
Larva dan pupa Mansonia melekat pada Epidemiologi Filariasis, Jakarta.
akar atau batang tumbuhan air. Responden Direktorat Jenderal PPM & PL, 2001.
disekitar rumahnya memiliki tumbuhan air Pedoman Penatalaksanaan Kasus
memiliki peluang 0,08 kali lebih besar Klinis Penyakit Kaki Gajah
untuk menderita penyakit filariasis (filariasis) di Indonesia. Depkes RI,
dibandingkan dengan responden yang Jakarta
tidak ada tumbuhan air disekitar rumah Direktorat Jenderal PPM & PL, 2002.
responden . Epidemiologi Penyakit Filariasis di
Indonesia. Depkes RI, Jakarta.
KESIMPULAN DAN SARAN Febrianto B, Astri M, Maharani, Widiarti.
2008. Faktor Risiko Filariasis di
Kesimpulan Desa Samborejo, Kecamatan Tirto,
Responden dengan pekerjaan di malam Kabupaten Pekalongan Jawa
hari sebagai petani disawah dan dikebun Tengah.
serta pedagang yang keluar di malam hari Noor N. Nur, 2006.Pengantar
menjual dagangan ke pasar merupakan Epidemiologi Penyakit Menular,
faktor risiko tinggi dibandingkan adanya Edisi Kedua. Rineka Cipta, Jakarta
perindukan nyamuk di sekitar rumah dan R.Uloli, S.Soeyoko, and S. Sumami,2008
genangan air diseitar rumah responden, “Analisis Faktor-faktor Risiko
karena wilayah yang dilalui merupakan Kejadian Filariasis”, Berita
wilayah rawa dan sungai. Diduga gigitan Kedokteran Masyarakat vol. 24 .
nyamuk yang mengandung filaria mengigit Santoso, 2011 Hubungan Kondisi
di lingkungan rumah dan diperjalanan Lingkungan dengan Kasus Filariasis
yang dilalui selama ke tempat kerja. di Masyarakat (Analisis Lanjut
Pengunaan kelambu, adanya genangan air Hasil Riskesdas 2007) Aspirator,
dan tumbuhan air di sekitar rumah Aspirator Vol. 3 No. 1 Tahun
merupakan resiko rendah kejadian filaria 2011 :1-7
disekitar rumah respomden. Sarungu Y, Onny Setiani, Sulistiyani
2012 Faktor Risiko Lingkungandan
Saran Kebiasaan Penduduk Berhubungan
Perlu dilakukan penelitian lanjutan dengan Dengan Kejadian Filariasis di Distrik
mengetahui faktor risiko nyamuk sebagai Windesi Kabupaten Kepulauan
vektor filaria dengan melakukan bedah Yapen Provinsi Papua. Jurnal
seksi (cacing mikrofilaria) pada nyamuk Kesehatan Lingkungan Indonesia
guna mengetahui nyamuk siang hari lebih Vol. 11 No. 1 / April 2012
beresiko dibanding dengan nyamuk Supali T, Agnes Kurniawan, Sri Oemijati.
malam hari. 2008 Parasitologi Kedokteran. Edisi
Keempat. Editor: Sutanto I., Ismid
IS., Sjarifudin PK., Sungkar S.
FKUI. Jakarta.

63