Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PERENCANAAN JEMBATAN MITIGASI BENCANA

RANGKA BAJA

Diajukan untuk memenuhi syarat kelulusan mata kuliah Struktur Baja 2


(Steel Structure 2)

INDAH EVA YUASHARI WIDYA ASTUTI


1122004004

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL


FAKULTAS TEKNIK DAN ILMU KOMPUTER
UNIVERSITAS BAKRIE
JAKARTA
2015
DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................... 3


1.1 Latar Belakang .............................................................................................. 3
1.2 Gambaran Umum Desain Jembatan .............................................................. 3
1.3 Gambar Tampak ............................................................................................ 3
1.4 Spesifikasi Jembatan ..................................................................................... 4
1.5 Acuan Peraturan dan Software ...................................................................... 4
BAB II PEMBEBANAN ............................................................................................ 6
2.1 Beban Mati (D) ............................................................................................. 6
2.2 Beban Hidup (L) ........................................................................................... 6
2.3 Beban Angin (W) .......................................................................................... 7
2.4 Kombinasi Pembebanan ................................................................................ 8
BAB III PEMODELAN STRUKTUR ....................................................................... 9
3.1 Pembuatan Grid ............................................................................................ 9
3.2 Pedefinisian Material .................................................................................. 10
3.3 Pendefinisian Section Properties ................................................................. 11
3.4 Pembuatan Model........................................................................................ 12
3.5 Pendefinisian Beban .................................................................................... 13
3.6 Assign Beban ............................................................................................... 15
3.7 Assign Perletakan ........................................................................................ 16
3.8 Run Analysis ................................................................................................ 16
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN .................................................................. 18
4.1 Pengecekan Overstress................................................................................ 18
4.2 Output Momen ............................................................................................. 19
4.3 Output Shear ............................................................................................... 22
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Jembatan merupakan bagian dari jalan, yang menghubungkan antar dua


wilayah yang dipisahkan oleh sungai, laut, saluran air, atau pun lembah.
Sebagaimana jalan yang merupakan alat penghubung yang sangat penting bagi
penyelenggaraan pemerintahan, ekonomi, kebutuhan sosial, perniagaan, kebudayaan,
dan pertahanan.
Di salah satu wilayah Kabupaten Aceh Tengah, tepatnya di kampung Mungkur,
Kecamatan Linge, jembatan yang menghubungkan desa dengan area pertanian dan
peternakan telah hancur diterjang banjir. Hal ini menyebabkan warga sekitar terpaksa
menggunakan seutas tali baja seukuran jari kelingking orang dewasa yang di antara
tali tersebut terpasanga tiga unit snap block (roda) yang menjadi motor penggerak
untuk mengangkut warga.
Adanya jembatan darurat dari tali baja tersebut cukup bermanfaat bagi warga
sekitar sebagai akses menuju ke daerah pertanian dan perternakan, utamanya untuk
mengangkut hasil bumi. Adapun jembatan yang sering digunakan warga masih
dalam kondisi perbaikan, namun masih terkendala dengan material yang sangat sulit
untuk didapatkan, salah satunya material batu yang diambil dari sungai.
Berdasarkan adanya kondisi di atas, maka direncanakan dibuat suatu jembatan
sementara dari rangka baja untuk menggantikan fungsi jembatan utama yang tengah
rusak ditengah banjir, sehingga akses warga menuju area perkebunan dan
perternakan menjadi lebih mudah, utamanya saat mengangkut hasil bumi.

1.2 Gambaran Umum Desain Jembatan


Pada laporan tugas desain jembatan ini akan dirancang suatu jembatan mitigasi
bencana yang mengggunakan material baja dan kayu dengan panjang bentang 24 m
dan lebar jembatan 3 m. Adapun rangka jembatan didesain menggunakan material
baja dan lantai jalan jembatan menggunakan kayu.

1.3 Gambar Tampak


Berikut gambar tampak dari jembatan rangka yang dirancang :

Gambar 1.1 Tampak Samping Jembatan


Gambar 1.2 Tampak Bawah Jembatan

Gambar 1.3 Tampilan 3D Jembatan

1.4 Spesifikasi Jembatan


1. Jenis jembatan : Konstruksi baja
2. Peruntukkan : Jembatan mitigasi bencana (sementara)
3. Bentang : 24 m
4. Lebar lantai jembatan :2x3m
5. Spesifikasi material
Adapun spesifikasi material yang akan digunakan yaitu :

Spesifikasi Material
Bajauntuk Rangka Jembatan
Tegangan leleh fy 400 Mpa
Tegangan ultimate fu 400 Mpa
Modulus elastisitas Es 200000
Massa Jenis ys 7850 kg/m3
Kayu Kelas 1 untuk Lantai Jembatan
Modulus elastisitas Ew 1225.8313 Mpa
Massa Jenis yw 90 kg/m3

1.5 Acuan Peraturan dan Software


Acuan peraturan yang digunakan dalam perencanaan jembatan mitigasi
bencana rangka baja ini yaitu:

a. SNI 03-1729-2002 untuk Peraturan Perencanaan Struktur Baja Untuk Bangunan


Gedung.
b. RSNI T-03-2005 untuk Perencanaan Struktur Baja Untuk Jembatan.
c. Peraturan Pembebanan Jembatan Jalan Raya (PPJJR) 1987.
Adapun untuk software yang digunakan untuk membantu dalam perencanaan
jembatan mitigasi bencana rangka baja ini, yaitu:
1. SAP 2000
2. Ms. Excel 2007
BAB II
PEMBEBANAN

2.1 Beban Mati (D)


Beban mati adalah berat dari semua bagian struktur yang bersifat tetap,
termasuk segala unsur tambahan, penyelesaian-penyelesaian, serta hal lainnya yang
merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari suatu struktur (PPURG, 1989). Dalam
laporan ini, beban yang dikelompokkan dalam beban mati adalah:
1. Beban Struktur Baja
2. Beban Pelat Lantai Kayu 9 kg/m2

Hasil perhitungan beban mati :


a. Untuk beban mati rangka baja dihitung sendiri oleh program SAP 2000 secara
otomatis.
b. Untuk beban mati pelat dihitung dengan menggunakan persamaan equivalen
sehingga beban mati pelat ditransfer langsung ke batang-batang rangka.

Diketahui dimensi pelat kayu 2 m x 3 m dengan tebal 10 cm dan berat pelat


sendiri 90 kg/m3.

Leq Beban mati pelat (kg/m)


Leq segitiga
Ukuran Lx (m) Ly(m) trapesium Beban Beban
(m)
(m) segitiga trapesium
2mx3m 2 3 0.67 0.85 6 7.67

2.2 Beban Hidup (L)


Beban hidup adalah semua beban yang terjadi akibat penggunaan suatu
struktur, termasuk pada lantai struktur yang berasal dari suatu komponen yang dapat
berpindah dan bukan bagian dari suatu struktur yang tidak terpisahkan, sehingga
mengakibatkan perubahan dalam pembebanan pada lantai ataupun atap suatu struktur
(PPURG, 1989). Termasuk beban hujan.
Adapun beban hidup yang digunakan dalam perencanaan jembatan mitigasi
bencana rangka baja ini ditetapkan:
1. Beban manusia dan beban kendaraan roda dua (motor): 250 kg/m2
Hasil perhitungan:
Leq Beban hidup(kg/m)
Leq segitiga
Ukuran Lx (m) Ly(m) trapesium Beban Beban
(m)
(m) segitiga trapesium
2mx3m 2 3 0.67 0.85 166.67 212.96

2. Beban hujan : 40 kg/m2


Hasil perhitungan beban hujan:
Leq Beban hujan(kg/m)
Leq segitiga
Ukuran Lx (m) Ly(m) trapesium Beban Beban
(m)
(m) segitiga trapesium
2mx3m 2 3 0.67 0.85 26.67 34.07

2.3 Beban Angin (W)


Beban angin adalah semua beban yang bekerja pada struktur atau bagian
struktur yang disebabkan oleh selisih tekanan udara.
Muatan angin, disebabkan oleh tekanan angin pada sisi jembatan yang
langsung berhadapan dengan datangnya angin. Pengaruh beban angin sebesar 150
kg/m2 pada jembatan ditinjau berdasarkan bekerjanya beban angin horizontal terbagi
pada bidang vertikal jembatan dalam arah gerak lurus sumbu memanjang jembatan
(PPPJJR, 1987).
Berdasarkan PPPJJR 1987, untuk jembatan rangka (keadaan tanpa beban
hidup), beban angin diambil 30% luas bagian sisi jembatan yang langsung terkena
angin, ditambah 15% luas bidang sisi lainnya.
Adapun perhitungan beban angin:
a. Sisi yang terkena langsung angin

HW1 = 30% x 100 kg/m2 x luas bidang


= 30% x 100 kg/m2 x (1/2 x (24 m+ 20 m) x 2m)
= 1320 kg

HW1 x 1 m – RHA x 2 m = 0
RHA = (1320 kg.m/ 2m) = 660 kg
Pada 1 joint = ½ x 660 = 330 kg
Pada joint di tepi = ½ x 330 = 165 kg

b. Sisi lainnya
HW2 = 15% x 100 kg/m2 x luas bidang
= 15% x 100 kg/m2 x (1/2 x (24 m+ 20 m) x 2m)
= 660 kg
HW2 x 1 m – RHA x 2 m = 0
RHA = (660 kg.m/ 2m) = 330 kg
Pada 1 joint = ½ x 330 = 165 kg
Pada joint di tepi = ½ x 165 = 82.5 kg

2.4 Kombinasi Pembebanan


Adapun beban kombinasi pembebanan yang digunakan yaitu :
1. 1.4D
2. 1.2D +1.6L
3. 1.2D + 1L + 0.5R + 1WX1 + WY1
4. 1.2D + 1L + 0.5R + 1WX1 + WY2
5. 1.2D + 1L + 0.5R + 1WX2 + WY1
6. 1.2D + 1L + 0.5R + 1WX2 + WY2

Beban angin (W) dihitung terhadap arah x dan y. Angin yang dikenakan pada
struktur jembatan diperkirakan untuk tiap arah datangnya angin sehingga WX1 dan
WY1 adalah angin arah positif dan WX2 dan WY2 adalah angin arah sebaliknya.
BAB III
PEMODELAN STRUKTUR

3.1 Pembuatan Grid


Setelah masuk ke dalam program SAP 2000, klik File lalu pilih New Model.
Maka akan muncul tampilan sebagai berikut :

Gambar 3.1 Membuat Grid Baru

Setelah tampilan di atas muncul, tentukan unit yang akan digunakan. Di


tampilan tersebut akan muncul beberapa contoh template yang bisa dipilih. Untuk
kasus ini pilih Grid Only. Untuk spasi grid yang seragam, cukup dengan menu Quick
Grid Lines untuk mengatur jumlah dan spasi grid. Pilih jumlah grid dan spasi grid
arah sumbu x, y, dan z yang diinginkan lalu klik OK.
Sedangkan untuk spasi grid yang beragam, data grid bisa diubah dengan menu
Edit Grid Data. Caranya dengan klik kanan pada layar model lalu pilih Edit Grid
Data. Lalu akan muncul menu Edit Grid Data seperti tampilan di bawah ini.
Gambar 3.2 Edit Data Grid

3.2 Pedefinisian Material


Untuk mendefinisikan material, langkah yang dilakukan adalah :
Klik menu Define  material  add new material, tampilannya sebagai
berikut :

Gambar 3.3 Define Material


Pada menu material property data seperti ditunjukkan pada gambar di bawah
ini, masukkan Data Material Type, Weight per unit volume, Modulus elasticity,
posson’s ratio, minimum tensile stress (fu), minimum yield stress (fy), dan lain-lain.
Setelah selesai memasukkannya, klik Ok.
Gambar 3.4 Material Property Data

3.3 Pendefinisian Section Properties


Klik Define  Section Properties  Frame Sections
Lalu klik pilihan add new properties untuk menambahkan properti baru. Pada
menu add frame property pilihlah jenis material yang akan digunakan yaitu steel
(baja). Maka akan muncul beberapa contoh penampang baja seperti yang ditunjukkan
Gambar 2.5. Pilihlah penampang yang diinginkan.

Gambar 3.5 Berbagai Macam Penampang Baja


Setelah penampang dipilih, tentukan dimensi penampang yang diinginkan
seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2.6 di bawah ini, lalu klik OK.
Gambar 3.6 Menentukan Dimensi Penampang

3.4 Pembuatan Model


Untuk menggambar model frame, klik Draw lalu pilih Draw
Frame/Cable/Tendon. Lalu akan muncul tampilan Properties untuk memilih jenis
section yang diinginkan dan properti lainnya. Lalu gambar frame sesuai dengan
desain rencana. Desain yang akan direncanakan adalah sebagai berikut :
Lebar : 3 meter
Panjang bentang : 24 meter
Jarak antar joint : 2 meter
Tinggi : 2 meter

Gambar 3.7 Pemodelan Struktur


Untuk bracing, perlu adanya partial fixity dikarenakan bracing hanya berfungsi
sebagai pengaku, bukan untuk memikul momen. Pilih menu assign  frame 
release partial fixity. Lalu momen 33 (start dan end).

Gambar 3.8 Partial Fixity untuk Bracing

3.5 Pendefinisian Beban

a. Define Load Cases


Masukkan semua kemungkinan jenis beban yang akan membebani struktur
beserta tipe dari beban tersebut apakah termasuk beban mati, hidup, angin, atau
gempa. Lalu untuk masing-masing beban tersebut masukkan Self Weight Multiplier.
Nilai self weight multiplier adalah 1 untuk beban struktur dan 0 untuk beban selain
beban struktur.

Gambar 3.9 Define Load Cases


b. Define Load Combinations
Untuk menambahkan kombinasi baru pilih Define - Load Combinations - Add
New Combo. Masukkan semua kombinasi beban yang mungkin beserta scale factor,
seperti yang ditunjukkan pada gambar 2.10 di bawah ini.

Gambar 3.10 Load Combination Data

Berikut ini beberapa kombinasi beban yang mungkin :


1. 1.4D
2. 1.2D +1.6L
3. 1.2D + 1L + 0.5R + 1WX1 + WY1
4. 1.2D + 1L + 0.5R + 1WX1 + WY2
5. 1.2D + 1L + 0.5R + 1WX2 + WY1
6. 1.2D + 1L + 0.5R + 1WX2 + WY2

Gambar 3.11 Define Load Combinations


3.6 Assign Beban
Setelah mendefinisikan beban apa saja yang membebani struktur, yang harus
dilakukan adalah memasukkan besaran dari beban-beban tersebut. Caranya dengan
mengklik bagian struktur yang akan dibebani lalu pilih menu assign untuk
memasukkan besaran beban lalu pilih submenu yang sesuai dengan jenis beban
tersebut apakah termasuk joint loads atau frame loads. Khusus untuk berat sendiri
(self weight) tidak perlu di-assign karena sudah dimasukkan dari properti material.
a. Joint loads
Salah satu beban yang termasuk adalah beban angin yang langsung ditransfer
ke joint-nya.
Klik assign → joint loads → forces untuk meng-assign beban joint.

Gambar 3.12 Joint Forces

b. Frame Loads
Beban yang termasuk frame loads di antaranya beban hujan dan beban angin.
Klik assign → frame loads → distributed (untuk beban yang terdistribusi).
1. Beban hidup (beban manusia dan beban kendaraan)
Untuk beban hidup pilih koordinat global dengan arah sesuai percepatan
gravitasi.
2. Beban hujan
Untuk beban hujan juga pilih koordinat global dengan arah sesuai
percepatan gravitasi.
Gambar 3.13 Frame Distributed Loads

3.7 Assign Perletakan


Pilih joint yang akan digunakan sebagai joint perletakan.
Klik assign → joint → restraints lalu pilih tipe perletakan yang akan
digunakan. Tipe perletakan yang digunakan adalah perletakan sendi dan rol.

Gambar 3.14 Joint Restraints

3.8 Run Analysis


Setelah semua beban dimasukkan, maka dijalankan run analysis untuk
mendapatkan hasil analisis struktur. Setelah selesai, maka dilakukan pengecekan
terhadap profil baja yang digunakan apakah ada yang overstress atau tidak. Jika tidak
maka profil yang digunakan sudah OK.
Selain cek kekuatan, kenyamanan dari bangunan tersebut juga harus
diperhatikan. Cek kenyamanan dilakukan dengan memeriksa apakah lendutan yang
terjadi masih dalam batas lendutan izin yang ditentapkan SNI atau tidak. Lendutan
yang terjadi bisa didapatkan dari tabel di SAP2000. Tabel bisa dimunculkan dengan
cara memilih menu display lalu pilih submenu show table. Ceklis displacement untuk
memunculkan tabel lendutan.
Klik Analyze lalu pilih Run Analysis untuk menganalisis struktur. Setelah
tampilan di bawah ini keluar klik OK.

Gambar 3.15 Run Analysis


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Pengecekan Overstress


Setelah dilakukan input beban, maka dilakukan run analysis. Kemudian
dilakukan pengecekan terhadap profil baja yang digunakan apakah mampu menahan
beban yang diberikan atau tidak. Adapun profil baja yang digunakan dalam
perancangan awal yaitu profil aja W8x10 pada rangka vertikal dan W8x24 pada
rangka horizontal, yang tersedia pada list profil baja di SAP 2000, namun
menggunakan spesifikasi material baja 400. Profil baja yang digunakan dapat dilihat
pada Gambar 4.1.

Gambar 4.1 Profil Baja W8x10 dan W8x24

Setelah dilakukan pengecekan, ditemukan terjadinya overstress pada batang 3,4,5


dan 19 dari struktur rangka jembatan. Hal ini dapat dilihat pada Gambar 4.2. Oleh
karena itu, perlu dilakukan penggantian profil baja yang digunakan.
Gambar 4.2 Pengecekan Overstress Pada Profil W8x10 dan W8x24

Profil baja W8x24 untuk vertikal diganti dengan profil W10x49, sehingga tidak
terjadi lagi ovestress pada batang struktur rangka jembatan yang didesain.

Gambar 4.3 Pengecekan Overstress Pada Profil W8x24 dan W10x49

4.2 Output Momen

Berdasarkan hasil analisis SAP 200, diperoleh momen maksimum pada batang
19 untuk kombinasi pembebanan ULT 4. Adapun momen pada batang 19 dapat
dilihat pada Tabel 4.1.

Table 1 Element Forces- Frame


Frame Station OutputCase P V2 V3 T M2 M3
19 3 ULT4 -0.967 -11.413 -19.614 0.0072 29.418 18.6427
19 2.5 ULT4 -0.967 -11.842 -19.614 0.0072 19.611 12.8288
Frame Station OutputCase P V2 V3 T M2 M3
19 2 ULT4 -0.967 -12.271 -19.614 0.0072 9.804 6.8005
19 1.5 ULT4 -0.967 -12.7 -19.614 0.0072 -0.003 0.5576
19 1 ULT4 -0.967 -13.129 -19.614 0.0072 -9.8099 -5.8999
19 0.5 ULT4 -0.967 -13.558 -19.614 0.0072 -19.6169 -12.5718
19 0 ULT4 -0.967 -13.987 -19.614 0.0072 -29.4239 -19.4583

Gambar 4.4 Diagram Momen, Shear, dan Defleksi

Adapun momen yang terjadi pada batang 19 diakibatkan oleh beban angin arah x
yang dilangsung dikenakan pada joint, sehingga bentuk momen yang terjadi
merupakan fungsi linear.

Berikut momen yang terjadi bentang panjang jembatan akibat beban kombinasi:

Gambar 4.5 Momen Akibat Kombinasi Beban Ultimate 1


Gambar 4.6 Momen Akibat Kombinasi Beban Ultimate 2

Gambar 4.7 Momen Akibat Kombinasi Beban Ultimate 3

Gambar 4.8 Momen Akibat Kombinasi Beban Ultimate 4

Gambar 4.9 Momen Akibat Kombinasi BebanUltimate 5

Gambar 4.10 Momen Akibat Kombinasi Beban Ultimate 6

Berdasarkan gambar diagram momen di atas untuk bentang panjang pada jembatan,
diketahui bahwa momen maksimum terjadi diakibatkan oleh kombinasi pembebanan
Ultimate 4 dan Ultimate 6.
Gambar 4.11 Diagram Momen, Shear dan Defleksi Bentang Panjang

Berdasarkan gambar di atas diketahui defleksi yang terjadi sebesar 0.000082 m atau
0.082 mm.

Kontrol lendutan:
fmax = 1/500 x L
= 1/500 x 200 = 0.4 cm = 4 mm
f = 5ML2/ (384EIx)
(Margareth & Gunawan, 1999)

Adapun untuk nilai lendutan yang terjadi 0.082 mm lebih kecil dari syarat lendutan
maksimum 4 mm, sehingga lendutan yang terjadi memenuhi persyaratan.

Lendutan maksimum yang terjadi yaitu 0.000109 m atau 0.109 mm, yang kurang dari
syarat lendutan maksimum 4 mm.

4.3 Output Shear


Berdasarkan hasil analisis SAP 2000, diketahui bahwa besar geser maksimum
yaitu 48.314 kN, yang terjadi pada batang 4 akibat kombinasi beban ultimate 4.

Berikut diagram geser untuk setiap kombinasi pembebanan :


Gambar 4.12 Diagram Geser Pada Bentang Panjang Akibat Beban Ultimate 1

Gambar 4.13 Diagram Geser Pada Bentang Panjang Akibat Beban Ultimate 2

Gambar 4.13 Diagram Geser Pada Bentang Panjang Akibat Beban Ultimate 3

Gambar 4.14 Diagram Geser Pada Bentang Panjang Akibat Beban Ultimate 4

Gambar 4.15 Diagram Geser Pada Bentang Panjang Akibat Beban Ultimate 5

Gambar 4.16 Diagram Geser Pada Bentang Panjang Akibat Beban Ultimate 6
DAFTAR PUSTAKA

Doloksaribu, Hiram M., & Okataga, Andreas T. (2008). Perencanaan Jembatan


Rangka Baja Sungai Ampel Kabupaten Pekalongan. Semarang: Universitas
Katolik Soegijapranata.
Margareth & Gunawan. (1999). Teori soal dan Penyelesaian Konstruksi Baja II jilid
1. Jakarta: Delta Teknik Group.
PPJJR 1987. (1987). Peraturan Pembebanan Jembatan Jalan Raya. Badan
Standarisasi Nasional
RSNI T-03-2005. (2005). Perencanaan Struktur Baja Untuk Jembatan. Badan
Standarisasi Nasional.
SNI.03-1729-2002. (2002). Peraturan Perencanaan Struktur Baja Untuk Bangunan
Gedung. Badan Standarisasi Nasional.