Anda di halaman 1dari 82

LAPORAN AKHIR

PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER (PKPA)


DI PT. TRIMAN PHARMACEUTICAL INDUSTRY

Laporan ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat guna memperoleh
gelar Apoteker pada Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran

Oleh
Fitriani Jati Rahmania, S. Farm
260112170572

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS PADJADJARAN
JATINANGOR
2018
LEMBAR PENGESAHAN LAPORAN AKHIR
PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER (PKPA)
DI PT. TRIMAN PHARMACEUTICAL INDUSTRY

Jatinangor, Agustus 2018


Disetujui oleh:

Pembimbing Fakultas Farmasi


Pembimbing
Universitas Padjadjaran

Ikhsan Rambia, S.Si., Apt Dr. Nyi Mekar Saptarini, M.Si., Apt
Sertifikat Kompetensi Apoteker No. : NIP. 19761016 200604 2 001
13.8037/PP.IAI/XII/2013
PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa:

1) Laporan Akhir Studi Profesi Apoteker ini adalah asli dan belum pernah
diajukan untuk mendapatkan gelar akademik apapun baik di Universitas
Padjadjaran maupun di perguruan tinggi lain,

2) Laporan Akhir Studi Profesi Apoteker ini adalah murni gagasan,


rumusan, dan penelitian saya sendiri, tanpa bantuan pihak lain, kecuali
arahan Tim Pembimbing dan masukan Tim Penelaah/Tim Penguji,

3) Dalam Laporan Akhir Studi Profesi Apoteker ini tidak terdapat karya atau
pendapat yang telah ditulis atau dipublikasikan orang lain, kecuali secara
tertulis dengan jelas dicantumkan sebagai acuan dalam naskah dengan
disebutkan nama pengarang dan dicantumkan dalam daftar pustaka,

4) Pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan apabila di kemudian


hari terdapat penyimpangan dan ketidakbenaran dalam pernyataan ini,
maka saya bersedia menerima sanksi akademik berupa pencabutan gelar
yang telah diperoleh karena karya ini, serta sanksi lainnya sesuai dengan
norma yang berlaku di perguruan tinggi ini.

Jatinangor, Agustus 2018

Yang membuat pernyataan,

Fitriani Jati Rahmania, S.Farm


260112170572

iii
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan yang Maha Esa atas
segala rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan
akhir Praktik Kerja Profesi Apoteker di PT. Triman Pharmaceutical Industry yang
berlangsung dari tanggal 2 Juli hingga 31 Juli 2018. Laporan ini disusun untuk
memenuhi salah satu syarat untuk menyelesaikan Program Studi Profesi Apoteker
di Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran.
Penyusunan laporan akhir praktik kerja profesi apoteker ini tidak lepas
dari bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis menyampaikan ucapan
terima kasih kepada:
1. Ibu Prof. Dr. Ajeng Diantini, M.Si., Apt., selaku Dekan Fakultas Farmasi,
Universitas Padjadjaran.
2. Ibu Dr. Ida Musfiroh, M.Si., Apt., selaku Ketua Program Studi Profesi
Apoteker, Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran.
3. Bapak Ikhsan Rambia, S.Si., Apt., selaku pembimbing PKPA PT. Triman
Pharmaceutical Industry
4. Ibu Dr. Nyi Mekar Saptarini, M.Si., Apt selaku pembimbing dari Universitas
Padjadjaran.
5. Ibu Diana Erosita S.Farm., Apt selaku pembimbing teknis PKPA dan seluruh
karyawan di PT. Triman Pharmaceutical Industry atas bimbingan dan kerja
samanya.
6. Seluruh keluarga dan sahabat yang selalu memberikan doa dan semangat.
7. Seluruh pihak yang telah membantu penulis hingga laporan ini selesai.
Penulis mohon maaf apabila masih terdapat kekurangan dalam laporan akhir
studi profesi apoteker serta membutuhkan saran – saran yang membangun.
Penulis berharap laporan ini bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan
penulis pada khususnya.
Jatinangor, Agustus 2018

Penulis
DAFTAR ISI

Halaman
LEMBAR PENGESAHAN…………………………………………… ii
PERNYATAAN………………………………………………………. iii
KATA PENGANTAR………………………………………………… iv
DAFTAR ISI………………………………………..………………… v
DAFTAR GAMBAR…………………………………………………. vii
DAFTAR TABEL……………………………………………………. viii
DAFTAR LAMPIRAN………………………………………………. ix
BAB I PENDAHULUAN………………………………………….…. 1
1.1 Latar Belakang………………………………………….… 1
1.2 Tujuan Pkpa Industri……………………………………… 2
1.3 Manfaat Pkpa Industri…………………………………….. 3
BAB II KEGIATAN PKPA DAN PEMBAHASAN………………….. 4
2.1 PROFIL TEMPAT PKPA…………………………………. 4
2.1.1 Sejarah Pt. Triman Pharmaceutical
Industry…………………………….......………….... 4
2.1.2 Struktur Organisasi………………...............………... 4
2.1.3 Visi Dan Misi………………………....…………...... 5
2.2 KEGIATAN PKPA INDUSTRI…………………………… 6
2.2.1 Personalia…………………………………………… 6
2.2.2 Bangunan Dan Fasilitas…………………………...… 7
2.2.3 Air Untuk Industri Farmasi…………………………. 9
2.2.4 Sarana Penunjang…………………………………… 12
2.2.5 Flow Material………………………………….…… 15
2.2.6 Pemastian Mutu………………………………..…… 15
2.2.7 Produksi…………………………………………..… 17
2.2.8 PPIC Dan Pergudangan……………………………… 21
2.2.9 Research And Development………………………… 22
2.2.10 Pengawasan Mutu…………………………..……... 23
2.2.11 Validasi……………………………………….....… 29
2.2.12 Penanganan Limbah……………………….………. 36
2.2.13 Registrasi………………………………………….... 39
BAB III SIMPULAN DAN SARAN…………………………………... 41
3.1 Simpulan…………………………………………………… 41
3.2 Saran……………………………………………………….. 41
BAB IV TUGAS KHUSUS………………………………………......... 42
4.1. Validasi Proses Produk (VPP) Tablet Antasida Doen 400
Mg………………………………………………………… 42
4.1.1 Pendahuluan VPP……………………..…………….. 42
4.1.2 Tujuan VPP…………………………………………. 42
4.1.3 Jenis VPP...………………………………………...... 43
4.1.4 Protokol VPP...……………………………………… 43
4.1.5 Hasil VPP……………………………………….….... 44

v
4.1.6 Analisis Statistik Validasi Proses………….………. 49
4.2. Validasi Metode Analisis (VMA) Meffu Dmp Kaplet……. 53
4.2.1 Pendahuluan VMA………………………….………. 53
4.2.2 Hasil VMA…………………………………………... 54
4.2.3 Kesimpulan VMA…………………………………… 66
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………. 67
LAMPIRAN…………………………………………………………… 68

vi
DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman
2.1 Logo PT. Triman Pharmaceutical Industry…………………….…….... 4
2.2 Alur Pengolahan Air Murni.......................................................…………...........10
2.3 Diagram alir instalasi pengolahan air limbah…………………..…….. 37
4.1 Pola Pengambilan Sampel pada V-Mixer.......…………………..…….......48
DAFTAR TABEL

Tabel Halaman
2.1 Kelas Kualitas Udara menurut ISO 8573-1:2010…………........…...........14
2.2 Kriteria Penerimaan Akurasi………………………………….......…........32
2.3 Kriteria Penerimaan Presisi…………………………………….......….....34
2.4 Kriteria Penerimaan Spesifitas………………………………….....…......34
2.5 Kriteria Penerimaan Kesesuaian Sistem………………………......…......35
2.5 Atribut Kualitas Udara Bertekanan…………………………….......…......20
4.1 Hasil Perolehan Tahap Pengemasan………………………….......….........49
4.2 Rekapan Statistik Validasi Proses Antasida Doen…………........…...........52
4.3 Elemen Data Untuk Validasi Metode Analisis……………….......….........54
4.4 Hasil Uji Akurasi Sampel Meffu DMP Kaplet……………….......…........55
4.5 Hasil Uji Keterulangan Sampel Meffu DMP Kaplet……..….......…..........57
4.6 Hasil Uji Presisi Sampel Meffu DMP Kaplet……...............….....…...........58
4.7 Hasil Uji Linearitas Standar Meffu DMP Kaplet…….............….....….......59
4.8 Hasil Uji Kekuatan Standar Meffu DMP Kaplet…….............….....….......60
4.9 Hasil Uji Kekuatan Sampel Meffu DMP Kaplet…….............…...................62
4.10 Hasil Uji Ruggedness Sampel Meffu DMP Kaplet…….......….......…......64
4.11 Hasil Uji Spesifisitas Meffu DMP Kaplet…….....…...…......….......…......65
4.12 Hasil Uji Batas Deteksi dan Batas Kuantifikasi Standar Meffu
DMP Kaplet…….............................................................................….....…......65
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman
1 STRUKTUR ORGANISASI PT. TRIMAN………………….... 68
2 ALUR PROSES PRODUKSI…………………....………….….. 69
3 ALUR PENERIMAAN BARANG PPIC…………………........ 71
4 ALUR PENYIAPAN BAHAN AWAL UNTUK PRODUKSI... 72
5 ALUR PEMBUATAN PRODUK BARU ATAU
PENGEMBANGAN PRODUK…………………...................... 73
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Menurut Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 36 disebutkan


bahwa kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual maupun
sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan
ekonomis. Obat adalah suatu zat yang dimaksudkan untuk dipakai dalam
diagnosis, mengurangi rasa sakit, serta mengobati atau mencegah penyakit.
Semakin banyaknya permasalahan kesehatan yang dialami masyarakat
meyebabkan peningkatan kebutuhan obat sehingga industri farmasi memiliki
peranan penting sebagai bentuk pelayanan kepada masyarakat dengan
menyediakan dan memproduksi obat.

Menurut Surat Keputusan Menteri Kesehatan No. 1799/Menkes/XII/2010


tentang Industri Farmasi, industri farmasi adalah badan usaha yang memiliki izin
dari Menteri Kesehatan untuk melakukan kegiatan pembuatan obat atau bahan
obat. Pembuatan obat adalah seluruh tahapan kegiatan dalam menghasilkan obat
yang meliputi pengadaan bahan awal dan bahan pengemas, produksi,
pengemasan, pengawasan mutu, dan pemastian mutu sampai diperoleh obat untuk
didistribusikan. Industri farmasi harus membuat yang bekhasiat (efficacy), aman
(safety), dan bermutu (quality) agar sesuai dengan tujuan penggunaannya,
memenuhi persyaratan, dan tidak menimbulkan risiko yang membahayakan
penggunanya. Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah untuk menjamin
tersedianya obat yang bermutu, aman dan berkhasiat yaitu dengan mengharuskan
setiap industri farmasi untuk menerapkan Cara Pembuatan Obat Yang Baik
(CPOB).

CPOB adalah suatu pedoman yang harus dilaksanakan oleh seluruh


sumber daya manusia yang berkenaan langsung dengan seluruh proses pembuatan
pembuatan obat dalam industri farmasi. CPOB bertujuan untuk menjamin obat
dibuat secara konsisten, memenuhi persyaratan yang ditetapkan dan sesuai dengan

10
tujuan penggunaannya. Aspek dalam CPOB meliputi seluruh kegiatan produksi
dan pengendalian mutu untuk memastikan obat yang dihasilkan mencapai standar
mutu yang dipersyaratkan dalam izin edar serta spesifikasi produksi.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 51 tahun 2009 tentang pekerjaan
kefarmasian, Industri Farmasi menjadi salah satu tempat bagi apoteker untuk
melaksanakan pekerjaan kefarmasian yang meliputi pembuatan obat,
pengendalian mutu, pengawasan, pengadaan, penyimpanan, dan distribusi obat.
Pekerjaan kefarmasiaan dalam produksi sediaan farmasi harus memenuhi
ketentuan CPOB yang ditetapkan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Pelaksanaan CPOB di industri merupakan tugas dan tanggung jawab seorang
Apoteker. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2009 tentang
pekerjaan kefarmasian, Industri Farmasi harus memiliki tiga orang Apoteker
sebagai penanggung jawab masing-masing pada bidang pemastian mutu,
produksi, dan pengawasan mutu. Selain dalam tiga bidang tersebut, Apoteker di
industri farmasi juga berperan dalam berbagai bidang lainnya, diantaranya bidang
Research and Development (R&D) dan bidang Production Planning and
Inventory Control (PPIC) (BPOM RI, 2012).
Peran Apoteker dalam hal ini diantaranya adalah melakukan penerapan
prinsip-prinsip CPOB dan menangani permasalahan yang terjadi di industri
farmasi yang berkaitan dengan produk yang akan diproduksi. Oleh karna itu
diperlukan apoteker yang memiliki kompetensi yang baik dan dapat bersifat
profesional maka diperlukan pengetahuan, pengalaman, serta kompetensi di
bidang industri farmasi maka Program Studi Profesi Apoteker Universitas
Padjadjaran menjalin kerjasama dengan PT Triman Pharmaceutical Industry
dalam menyelenggarakan Praktek Kerja Profesi Apoteker yang dilaksanakan pada
tanggal 2 Juli 2018 hingga Agustus 2018.

1.2 Tujuan PKPA di Industri


Tujuan PKPA di industri bagi mahasiswa profesi Apoteker adalah:

11
1. Meningkatkan pemahaman calon apoteker tentang peran, fungsi, posisi dan
tanggung jawab apoteker dalam industri farmasi.
2. Membekali calon apoteker agar memiliki pengetahuan, keterampilan, wawasan, dan
pengalaman praktis untuk melakukan pekerjaan kefarmasian di industri farmasi.
3. Memberi kesempatan kepada calon apoteker untuk melihat dan mempelajari
penerapan Good Manufacturing Practice (GMP) dan Cara Pembuatan Obat yang
Baik (CPOB) baik dari segi teori dan penerapannya.
4. Memberi gambaran nyata tentang permasalahan pekerjaan kefarmasian di industri.
5. Mempersiapkan calon apoteker dalam memasuki dunia kerja sebagai tenaga
farmasi yang profesional.

1.3 Manfaat PKPA di Industri


Adapun manfaat penyelenggaraan PKPA di industri adalah:
1. Mengetahui dan memahami tugas serta tanggung jawab apoteker dalam
menjalankan pekerjaan kefarmasian di industri baik dalam kemapuan
manajerial (soft skills) dan technical skills.
2. Mendapatkan pengalaman praktis mengenai pekerjaan kefarmasian di
industri.
3. Memahami konsep sistem mutu (quality system) dan penjaminan mutu
(quality assurance) dalam upaya penerapan good manufacturing practice
(GMP).
4. Meningkatkan rasa percaya diri untuk menjadi apoteker yang profesional.
.

12
BAB II KEGIATAN PKPA DAN PEMBAHASAN

2.1 Profil Tempat PKPA


2.1.1 Sejarah PT. Triman Pharmaceutical Industry
PT. Triman Pharmaceutical Industry adalah perusahaan farmasi nasional
yang memproduksi obat dan vitamin yang telah memiliki izin industri farmasi
yang dikeluarkan oleh Kementrian Kesehatan dan izin dari Badan Pengawas Obat
dan Makanan (BPOM) untuk memproduksi produk dengan kualitas terbaik sesuai
dengan pedoman CPOB. PT. Triman Pharmaceutical Industry didirikan pada
tanggal 09 April 1968 oleh Drs. Iswanto Wangsaputra, Apt. PT. Triman berlokasi
pertama kali di Jl. Sirnamanah Bandung. Pada tahun 1980 pabrik dan kantor
pindah lokasi ke Jl. Banten No. 6 Bandung, kemudian pada tahun 1997 pabrik dan
fasilitas PT. Triman berpindah lokasi ke Jl. Pendeuy Bojongsalam Rancaekek
Bandung, sedangkan lokasi kantor tetap di Jl Banten No. 6 Bandung hingga
sekarang. Logo PT. Triman Pharmaceutical Industry dapat dilihat pada Gambar
2.1.

Gambar 2.1 Logo PT. Triman Pharmaceutical Indusrty

2.1.2 Struktur Organisasi


Berdasarkan ketentuan yang disebutkan dalam CPOB, struktur organisasi
di suatu industri farmasi minimal terdapat 3 apoteker yang memimpin di bagian
Produksi, Quality Assurance (QA), dan Quality Control (QC). Pada penerapan
CPOB di PT. Triman Pharmaceutical Industry hal tersebut telah dilakukan.
Masing – masing bagian dipimpin oleh apoteker yang bekerja independen antara

13
5

satu dengan lain, diberi wewenang penuh, dan sarana yang cukup agar dapat
melakukan tugasnya secara efektif dan efisien.
PT. Triman Pharmaceutical Industry dipimpin oleh Direktur Utama Bapak
Drs. Iswanto Wangsaputra, Apt. yang dibantu oleh Direktur Operasional Bapak
James Setia Darma. Terdapat 2 bagian yang bertanggung jawab kepada Direktur
Operasional yaitu Plant Manager Bapak Ikhsan Rambia, S.Si., Apt. dan Kepala
Bagian Umum dan Personalia Bapak Usep Gunawan.
Terdapat 7 bagian yang dibawahi oleh Plant Manager Bapak Ikhsan
Rambia, S.Si., Apt. yaitu bagian Quality Assurance (QA) yang dikepalai oleh Ibu
Luly Ginayanti, S.Farm., Apt., bagian Produksi yang dikepalai oleh Ibu Aidah,
S.Farm., Apt., bagian Quality Control yang dikepalai oleh Ibu Linda J. S.,
S.Farm., Apt., bagian Research and Development yang dikepalai oleh Ibu Diana
E.P., S.Farm., Apt., bagian Production Planning and Inventory Control yang
dikepalai oleh Ibu Innarti S., S.Farm., Apt., bagian Registrasi yang dikepalai oleh
Bapak Amir S., A.Md., dan bagian Teknik yang dikepalai oleh Bapak Ujang
Supriatno. Untuk bagan struktur organisasi PT. Triman Pharmaceutical Industry
dapat dilihat pada Lampiran 1.

2.1.3 Visi dan Misi


A. Visi
1. Untuk menjadi industri yang diakui di Wilayah ASEAN dan Global dengan
membawa obat yang inovatif dan berkualitas.
2. Untuk meningkatkan tingkat kesehatan masyarakat dengan menyediakan
obat berkualitas dengan harga terjangkau.

B. Misi
1. Meningkatkan kepatuhan ke c-GMP.
2. Membangun jaringan yang kuat di seluruh dunia untuk memperluas pasar.
3. Memiliki teknologi dan proses efisiensi tinggi dengan kepatuhan penuh
terhadap standar terkini dan regulasi.

14
6

4. Menjadi pemasok nasional dengan komitmen untuk memenuhi persyaratan


nasional obat-obatan esensial.
5. Memiliki hubungan dengan akademik (Universitas) dan badan riset untuk
membawa obat inovatif ke pasaran..

2.2 Kegiatan PKPA di Industri


2.2.1 Personalia
Industri farmasi hendaklah memiliki personil yang terkualifikasi dan
berpengalaman serta memiliki jumlah yang memadai untuk melaksanakan semua
tugas. Jumlah personil di setiap bagian hendaklah cukup serta memiliki
pengetahuan dan keterampilan yang sesuai dengan tugasnya. Personalia dalam
industri farmasi harus memiliki kesadaran tinggi untuk mewujudkan CPOB. Hal
ini tidak terlepas dari dukungan industri farmasi untuk mengadakan pelatihan
awal dan berkesinambungan termasuk intruksi mengenai hygiene sehingga
personil yang berkerja dalam lingkungan industri farmasi tersebut memiliki sikap
dan perilaku sesuai CPOB.
Berdasarkan CPOB 2012, personil kunci industri farmasi adalah kepala
bagian produksi, kepala bagian quality assurance, dan kepala bagian quality
control. PT Triman Pharmaceutical Industry memiliki personil yang terkualifikasi
dan independen satu terhadap yang lain. Tiap-tiap kepala merupakan apoteker
terkualifikasi yang memiliki keterampilan praktis, profesional dan manajerial
yang baik serta yang memiliki wewenang penuh terhadap bagiannya. Serangkaian
pelatihan telah diadakan untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman terkait
CPOB. Program pelatihan tersebut ditujukan untuk seluruh karyawan yang
berhubungan dengan produksi, baik langsung maupun tidak langsung secara terus
– menerus. Pelatihan dilakukan 1 tahun sekali atau bila ditemukan penyimpangan.
Semua kegiatan yang dilakukan bedasarkan SOP (standard operational procesure)
yang dibuat oleh supervisor bidang yang bersangkutan, disepakati oleh kepala
bidang dan QA untuk memastikan isi dalam SOP bersifat valid dan wajib diikuti.

15
7

2.2.2 Bangunan dan Fasilitas


Seperti halnya aspek personalia, bangunan PT. Triman Pharmaceutical
Industry telah memenuhi persyaratan CPOB. Di dalam pedoman CPOB dijelaskan
mengenai ketentuan bangunan dan fasilitas mulai dari desain, konstruksi, tata
letak, kondisi hingga perawatan untuk memudahkan pelaksanaan produksi yang
benar. Bangunan yang digunakan industri farmasi dirancang untuk memperkecil
terjadinya kekeliruan, pencemaran silang hingga penumpukan debu-debu yang
berdampak terhadap kualitas mutu obat, serta mempermudah dalam hal
pembersihan, atau sanitasi, dan perawatan. Memiliki perlindungan terhadap efek
cuaca, lembab dan hewan-hewan liar yang dapat menganggu mutu obat.
Pencahayaan juga diatur untuk memberikan kenyamanan operasional personil dan
menghindari kekeliruan visual. Ruang produksi bukanlah ruangan yang dengan
bebas dapat dilewati personil dan harus dipisah dengan ruang pennyimpanan
bahan atau produk jadi. Area penimbangan juga dirancang terpisah dari area
produksi maupun penyimpanan. Hal ini bertujuan untuk memberikan ruang bagi
personil serta penempatan alat sehingga teratur dan mencegah kontaminasi silang.
Selain itu, letak bangunan juga harus diperhatikan untuk menghindari pencemaran
dari dan ke lingkungan di sekitarnya.
Menurut CPOB klasifikasi kelas kebersihan ruang untuk pembuatan obat
di industri farmasi terdiri dari kelas Kelas A, B, C dan D untuk pembuatan produk
steril dan kelas E untuk pembuatan produk nonsteril. Kelas kebersihan ruang yang
terdapat pada PT Triman adalah kelas E, F, dan G. Kelas E yang merupakan area
produksi terdiri dari ruang penimbangan, ruang staging, ruang pencampuran
basah, ruang pencampuran kering, ruang produk antara, ruang cetak tablet, ruang
produk ruahan, ruang In Process Control (IPC), ruang pengemasan primer (strip
dan blister), ruang produksi suppositoria, ruang penyimpanan alat bersih, ruang
pembersihan. Tata letak ruang produksi ini dirancang sehingga kegiatan produksi
dapat dilakukan di area yang saling berhubungan satu ruangan dengan ruangan
lain mengikuti urutan tahap produksi dan menurut kelas kebersihan yang
dipersyaratkan, serta mencegah kesesakan dan ketidak teraturan, dan

16
8

memungkinkan komunikasi dan pengawasan yang efektif dapat terlaksana. Kelas


F terdiri dari ruang laboratorium, gudang karantina, gudang penyimpanan bahan
awal dan bahan kemas, serta ruang kemas sekunder. Untuk melakukan
pemindahan bahan awal dan bahan kemas primer dari kelas F ke kelas E
dilakukan melalui ruang antara. Kelas G yang merupakan kantor terdiri dari ruang
quality assurance, ruang registrasi, ruang R&D, ruang plant manager dan direktur
operasional. Ruang pendukung seperti ruang istirahat, toilet, ruang ganti pakaian
dan kantin didesain dalam jumlah yang cukup sesuai kebutuhan dan mudah
diakses, namun peletakannya terpisah dan tidak boleh berhubungan langsung
dengan area produksi, pengawasan mutu dan penyimpanan. Tiap kelas tersebut
memiliki syarat jumlah partikel tertentu dan tekanan udara yang berbeda
mencegah terjadinya kontaminasi ulang. Pengaturan perbedaan tekanan udara
dilakukan dengan membedakan volume udara yang dimasukkan ke dalam ruangan
oleh Air Handling Unit (AHU). Ruangan yang memiliki tekanan udara yang
tinggi memperoleh suplai udara yang lebih besar dibandingkan dengan ruangan
yang memiliki tekanan udara rendah. Pengaturan jumlah partikel dilakukan
dengan pembedaan penggunaan penyaringan dalam AHU.
Gudang bahan baku, Gudang kemasan, dan Gudang produk jadi ditata
sedemikian rupa sehingga memudahkan penyimpanan dan penelusuran barang.
Untuk Gudang bahan baku dan Gudang kemasan diatur dengan kondisi khusus
seperti suhu dan kelembaban ruang yang terkendali.
PT Triman Pharmaceutical Indusrty telah merancang bangunan pabrik
dengan mengikuti ketentuan CPOB dimana ruang produksi disusun dengan sudut
melengkung dan lantai diplester dengan epoksi hal ini dengan tujuan menghindari
kontaminasi akibat adanya partikel yang tertinggal di pori-pori lantai dan debu
yang sulit dibersihkan apabila menggunakan sudut ruangan meruncing. Selain itu
peralatan untuk pembuatan obat hendaklah memiliki desain dan konstruksi yang
tepat, ukuran yang memadai serta ditempatkan dan dikualifikasi dengan tepat agar
mutu obat terjamin sesuai serta seragam dari bets ke bets dan untuk memudahkan
pembersihan serta perawatan. Permukaan peralatan yang bersentuhan dengan
bahan baku, produk antara, produk ruahan atau obat jadi tidak boleh menimbulkan

17
9

reaksi, adisi atau absorpsi yang dapat mempengaruhi identitas, mutu atau
kemurnian di luar dari batas yang telah ditentukan. Peralatan yang digunakan oleh
PT Triman Pharmaceutical Industry sudah terkualifikasi dan terkalibrasi sehingga
memenuhi persyaratan CPOB.

2.2.3 Air Untuk Industri Farmasi


Air untuk produksi (Air untuk Penggunaan Farmasi/APF atau Water for
Pharmaceutical Use WPU) memegang peranan penting dan kritis dalam industri
farmasi. Hal ini disebabkan beberapa hal, antara lain :
a. Air merupakan bahan baku, dalam jumlah besar, terutama untuk produk
Sirup, Obat suntik cair, cairan infus, dan lain-lain sehingga apabila
tercemar, beresiko sangat fatal bagi pemakai.
b. Untuk memastikan produksi obat yang bermutu dan aman bagi para
pengguna (Priyambodo, 2007).
Air yang dihasilkan PT. Triman Pharmaceutical Industry melalui
pengolahan adalah purified water (PW) atau air murni untuk keperluan produksi
obat dan aquadenim untuk keperluan laboratorium. Sistem pengolahan air murni
diawali dengan air baku (sumber air tanah dengan kedalaman 150 m) ditampung
dalam tangki penampungan air tanah yang terbuat dari stainless steel dengan
3
kapasitas ± 31 m . Kemudian air baku dilewatkan berturut-turut melalui : tabung
sand filter 1, 2, 3 dan 4, tabung sedimen filter 1µm, resin kation dan anion
rangkaian 1, resin kation dan anion rangkaian 2, tabung mix bed, sistem
ultraviolet. Selanjutnya hasil tahap 2 kemudian ditampung ke dalam dua tempat,
antara lain : tangki grade 1 (dengan conductivity ≤ 1,3 µs) berkapasitas 11.000
liter. Air yang berada di tangki grade 1 tersebut digunakan sebagian untuk di
laboratorium; tangki grade 2 (dengan conductivity >1,3 µs) berkapasitas 11.000
liter. Air yang berada di tangki grade 2 tersebut digunakan sebagai air minum dan
proses regenerasi. Selanjutnya air yang berada di tangki grade 1 dilewatkan
melalui sistem reverse osmosis kemudian di tampung di tangki penampungan
untuk looping sistem atau receiver tank (kapasitas 2500 liter), dimana sebelum
digunakan, dilewatkan terlebih dahulu melalui filter 0,45 µm kemudian filter

18
10

0,2µm, selanjutnya dialirkan ke beberapa titik penggunaan antara lain: ruang


granulasi basah, ruang granulasi kering dan ruang cuci alat. Alur pengolahan Air
murni di PT. Triman Pharmaceutical Industry dapat dilihat pada Gambar 2.2.

Air Sumur Sand Filter Tangki 31 KL Sand and


Sedimen Filter

Reverse Osmosis UV Mix Bed Anion dan


Kation

Looping Titik (Produksi Tangki 1 Tangki 2


dan air memenuhi air tidak
Laboratorium) kriteria memenuhi kriteria

Gambar 2.2 Alur Pengolahan Air Murni

Pengambilan sampel pada instalasi pengolahan air murni terdiri dari 9 titik
antara lain :
a. titik 1 (air tanah, sebelum masuk tangki penampungan air tanah), diperiksa
setiap 6 bulan sekali.
b. titik 2 (setelah masuk tangki penampung air tanah), diperiksa setiap 1 bulan
sekali.
c. titik 3 (air keluar sistem ultraviolet sebelum masuk tangki penampung aqua
demineralisata grade 1), diperiksa setiap 1 bulan sekali
d. titik 4 (air keluar tangki penampungan aqua demineralisata grade 1 sebelum
masuk sitem reverse osmosis), diperiksa setiap 1 bulan sekali)
e. titik 5 (setelah sistem reverse osmosis), diperiksa setiap 1 bulan sekali.
f. titik 6 (ruang granulasi basah titik 1), diperiksa setiap 1 bulan sekali (lengkap)
dan diperiksa setiap hari (pH dan konduktivitiasnya).
g. titik 7 (ruang granulasi basah titik 2), diperiksa setiap 1 bulan sekali (lengkap),
dan diperiksa setiap hari (pH dan konduktivitiasnya)
h. titik 8 (ruang granulasi kering), diperiksa setiap 1 bulan sekali (lengkap) dan
diperiksa setiap hari (pH dan konduktivitiasnya)

19
11

i. titik 9 (ruang cuci alat), diperiksa setiap 1 bulan sekali (lengkap), dan diperiksa
setiap hari (pH dan konduktivitiasnya).
Pemeriksaan parameter air dilakukan rutin harian (pH dan konduktivitas)
dan bulanan (lengkap). Berikut merupakan persyaratan air murni:
1. Parameter Kimia
a. pH 5,0 – 7,0
b. Tidak terdapat klorida, sulfat, kalsium, karbon dioksida, zat mudah
teroksidasi dan logam berat dalam air
c. Total organik karbon, syarat <500 ppb
d. Amonia < 0,3 bpj

i. Untuk titik sampling 2, 3, 4, dan 5 dilakukan pemeriksaan pH saja.


ii. Untuk titik sampling 1, 6, 7, 8, dan 9 dilakukan pemeriksaan kimia secara
keseluruhan.
iii. Jika hasil pemeriksaan tidak memenuhi syarat atau TMS, maka dilakukan
regenerasi pada air yang akan disampling dan dilakukan pemeriksaan
ulang
2. Parameter Fisika
a. Air tidak berbau, jernih dan tidak berwarna
b. Jumlah zat padat terlarut (TDS) harus < 0,001%
c. Konduktivitas ≤ 1,3 µs
Keterangan: dilakukan pemeriksaan pada semua titik sampling
3. Parameter Mikrobiologi
a. Hasil uji Angka Lempeng Total (ALT) harus < 100 cfu/mL
b. Hasil uji bakteri Escherichia coli dan Salmonella
negatif Keterangan :
i. Pada titik 1 dilakukan pengenceran 10-1, 10-2, 10-3.
ii. Pada titik 2 – 9 hanya dilakukan pengenceran 100.
Pengenceran tersebut ditentukan berdasarkan hasil pengujian mikrobiologi
air yang telah dilakukan.

20
12

2.2.4 Sarana Penunjang


Sarana penunjang yang terdapat di PT. Triman Pharmaceutical Industry
antara lain : sistem tata udara atau air handling unit (AHU) atau heating
ventilation and air conditioning (HVAC), sistem udara bertekanan dan sisrem
pengolahan air.
1. Sistem Udara Bertekanan
Sistem udara bertekanan termasuk kedalam sarana penunjang kriteria
kritis dalam industri farmasi. kualitas dari Sistem Udara bertekanan yang
digunakan dalam pembuatan produk farmasi, terutama udara bertekanan yang
berkontak langsung dengan produk, penting dikendalikan agar mutu obat yang
diterima oleh pasien terjaga. Udara bertekanan dan gas lain seperti nitrogen
yang digunakan dalam proses pembuatan bahan aktif dan pembuatan obat, jika
tidak ditangani dengan tepat, akan mengontaminasi produk.
Udara bertekanan yang keluar dari sebuah kompresor dapat
mengandung semua atau sebagian dari kontaminan, seperti partikel debu, air
dan uap air, aerosol oli dan uap oli, partikel (akibat gesekan) dan
mikroorganisme. Sistem hendaklah didesain untuk menghilangkan kontaminan
dan hendaklah dapat dikendalikan sampai ke hilir terhadap semua kontaminan
tersebut, begitu udara bertekanan dihasilkan. Pemantauan secara rutin
hendaklah dilakukan sebelum didistribusikan, untuk memastikan kebersihan
baik secara fisis maupun mikrobiologi. Mekanisme pengendalian mencakup:
a) Penyaringan partikel debu dan serpihan
b) Pemisahan yang dilanjutkan dengan pengeringan terhadap air dan uap air
c) Pemisahan yang dilanjutkan dengan filter adsorpsi aerosol oli dan uap oli
Spesifikasi kualitas udara bertekanan ditentukan oleh 3 komponen yang
dikenal sebagai PWO, yaitu:
1.P (Particle)

2.W (Water)/moisture content


3.O (Oil)/oil vapor

21
13

2. Sistem Tata Udara


Sistem tata udara adalah suatu sistem yang mengondisikan lingkungan
melalui pengendalian suhu, kelembaban, arah pergerakan udara dan mutu
udara termasuk pengendalian partikel dan pembuangan kontaminan yang ada
di udara. Disebut “sistem” karena terdiri dari beberapa mesin/alat yang
masing-masing memiliki fungsi yang berbeda, yang terintegrasi sedemikian
rupa sehingga membentuk suatu sistem tata udara yang dapat mengontrol suhu,
kelembaban, tekanan udara, tingkat kebersihan, pola aliran udara serta jumlah
pergantian udara di ruang produksi sesuai dengan persyaratan ruangan yang
telah ditentukan. Sistem tata udara yang digunakan yaitu HVAC yang berfungsi
untuk menjaga temperatur ruangan yang nyaman, bersih, dan kering. Setiap
ruangan memiliki sistem instalasi dan filtrasi yang berbeda sesuai dengan
persyaratannya. Temperatur ruang produksi yaitu 25˚C. Kelembaban relatif di
ruang produksi yaitu 50%. Udara yang disirkulasi di ruang produksi harus
bersih ssehingga sebelum masuk ke HVAC dilakukan proses pre filter, medium
filter dan HEPA filter baru disuplai untuk udara kembalian dimana udara akan
disedot kembali dan disaring kembali dengan HEPA filter.
Sistem tata udara memegang peran penting dalam industri farmasi.
Fungsi dari sistem tata udara antara lain:
a) Untuk memberikan perlindungan terhadap lingkungan pembuatan produk
b) Untuk mengendalikan suhu dan kelembaban ruangan
c) Untuk menjaga kebersihan ruangan melalui sistem penyaringan udara
d) Mencegah kontaminasi silang
e) Memberikan lingkungan kerja yang nyaman bagi personil
f) Memberikan perlindungan pada Iingkungan di mana terdapat bahan
berbahaya melalui pengaturan sistem pembuangan udara yang efektif dan
aman dari bahan tersebut.
Tekanan Udara pada ruang antara (airlock system) terbagi menjadi 3
yaitu:
1. Sink airlock, sistem airlock dengan tekanan pada ruang antara lebih kecil
dari pada dua ruangan disebelahnya (udara kedalam)

22
14

2. Bubble airlock, sistem airlock dengan ruang antara memiliki tekanan


lebih besar dari pada dua ruangan disebelahnya (udara keluar)
3. Cascade airlock, sistem airlock dengan ruang pertama memiliki tekanan
terendah, ruang antara memiliki tekanan sedang dan ruang kedua
memiliki tekanan paling tinggi (contoh: tekanan ruang pertama 5P, kedua
7,5P dan ketiga 10P).
PT. Triman Pharmaceutical Industry menggunakan sistem sirkulasi
100% fresh air dengan menggunakan sistem Clean Corridor dan Cascade,
sehingga debu yang dihasilkan dari proses produksi tidak keluar dari ruangan.
Filter yang digunakan dalam sistem tata udara yaitu prefilter (30-35%),
medium filter (60-65%) dan final filter (H10 95%). Kelas Kualitas Udara
menurut Iso 8573-1:2010 dapat dilihat pada Tabel 2.1. Parameter kritis dalam
sistem tata udara antara lain:
a. Perbedaan tekanan antar ruang minimal 5 Pa untuk satu kelas kebersihan
dan minimal 10 Pa untuk kelas kebersihan yang berbeda
o
b. Suhu 20 – 27 C dan kelembaban 45 – 70%
c. Jumlah partikel ruangan ≤ 3.520.000 (0,5 µm) dan ≤ 29.000 (5 µm)
3
d. Jumlah mikroba ≤ 100 cfu/m
e. Pertukaran udara 5 – 20 kali/ jam

Tabel 2.1 Kelas Kualitas Udara menurut ISO 8573-1:2010


Kelas Partikulat X Oli dan
3
Kulitas Jumlah Maksimum Partikel per m Uap Oli
o o 3
0,1 – 0,5 0,5 – 1,0 1,0 – 5,0 F C mg/m
µm µm µm
0 Sesuai Spesifikasi Kebutuhan Pengguna atau pembuat alat dan lebih
ketat daripada Kelas 1
1 ≤ 20.000 ≤ 400 ≤ 10 -100 -70 ≤ 0,01
2 ≤ 400.000 ≤ 6.000 ≤ 100 -40 -40 ≤ 0,1
3 - ≤ 90.000 ≤ 1.000 -4 -20 ≤1
4 - - ≤ 10.000 37,5 3 ≤5
5 - - ≤ 100.000 44,6 7 >5
6 - - - 50 10 >5
Keterangan : X = Air Titik Pengem-bunan Tekanan (Pressure Dew Point [PDP])
(pada tekanan atmosfer)

23
15

3. Sistem Pengolahan Air


Sistem pengolahan air yang dilakukan dimulai dari air sumur kemudian
dilakukan treatment sampai diperoleh air murni / purified water (PW). Sistem
pengolahan air di PT. Triman Phamaceutical Industry telah dijelaskan di
bagian 2.2.3 air untuk industri farmasi.

2.2.5 Flow Material


Pengadaan, penerimaan dan pengeluaran bahan awal obat dan bahan
kemas harus berjalan secara baik dan benar. Sistem penerimaan dan pengeluaran
bahan awal (bahan baku dan bahan kemas) di PT. Triman Pharmaceutical
Industry yaitu:
1. Bahan awal (bahan baku dan bahan kemas) dari pemasok yang di terima
oleh bagian PPIC
2. Kemudian bahan awal tersebut dimasukan kedalam ruangan karantina
untuk dilakukan sampling oleh bagian QC.
3. QC akan melakukan uji sesuai yang tercantum pada CoA, kemudian akan
diperoleh hasil diterima (release), atau ditolak (rejected).
4. Bahan yang tidak memenuhi syarat akan dikembalikan ke pemasok,
sedangkan bahan awal yang memenuhi syarat bisa diberi label release.
5. Bahan awal yang sudah release ditempatkan pada gudang bahan baku dan
bahan kemas untuk keperluan produksi.
6. Barang dikeluarkan dari gudang perusahaan menggunakan gabungan
metode FEFO (FirstEexpired First Out) atau FIFO (First In First Out).

2.2.6 Pemastian Mutu atau Quality Assurance (QA)


Quality assurance (pemastian mutu) merupakam departemen yang
memastikan proses yang terkait dengan mutu yang diterapkan sesuai dengan
peraturan yang berlaku. Kegiatan utama dari Quality assurance adalah memeriksa
dokumen yang berhubungan dengan produk obat, kemudian memastikannya
sesuai dengan spesifikasi dan prosedur yang telah ditetapkan

24
16

sehingga kualitas produk-produk yang didistribusikan terjamin. Rincian


tanggungjawab dari bagian Quality assurance diantaranya:
1. Ikut serta dalam memprakarsai pembentukan mutu perusahaan,
2. Memprakarsai dan memimpin inspeksi diri, mendampingi tim audit Badan
POM dan mengkoordinasikan tindakan / tanggapan terhadap temuan,
mendampingi auditor eksternal dan mengkoordinasikan tindakan/tanggapan
terhadap temuan
3. Melakukan pengawasan terhadap fungsi bagian QC (Quality control),
4. Memprakarsai dan berpartisipasi dalam pelaksanaan audit pemasok, serta
memberikan persetujuan dan melakukan pemantauan terhadap pemasok dan
produsen bahan awal
5. Memastikan pelatihan awal dan berkesinambungan bagian personil di
bagiannya dilaksanakan sesuai kebutuhan
6. Memprakarsai dan berpartisipasi dalam program validasi
7. Memastikan pemenuhan persyaratan teknik atau peraturan badan POM yang
berkaitan dengan mutu produk jadi serta terhadap persyaratan CPOB
8. Mengevaluasi/mengkaji catatan batch, meluluskan atau menolak produk jadi
untuk penjualan dengan mempertimbangkan semua faktor terkait
9. Mengevaluasi dan mengotorisasi semua prosedur tertulis dan dokumen lain
yang berkaitan dengan / berdampak pada mutu produk termasuk amandemen,
bersama bagian produksi dan bagian teknik bertanggung jawab dalam
pemantauan dan pengendalian lingkungan pembuatan obat
10. Menetapkan dan memantau pelaksanaan hygiene/ sanitasi / kebersihan pabrik
11. Mengevaluasi protokol dan laporan kualifikasi / validasi serta menyetujui /
mengotorisasinya bersama bagian – bagian bersangkutan
12. Memberi persetujuan dan melakukan pemantauan kondisi penyimpanan
bahan dan produk
13. Menentukan dan mengawasi penerapan sistem penyimpanan catatan dari
semua kegiatan pengendalian dokumen

25
17

14. Bertanggungjawab dalam melakukan inspeksi penyelidikan dan pengambilan


sampel yang diperlukan untuk penentuan faktor yang mungkin berdampak
terhadap mutu produk
15. Memberikan persetujuan terhadap pengolahan ulang setelah
mengidentifikasikan tindakan korektif dan preventif untuk menghindarkan
pengulangan insiden
16. Membantu menangani semua keluhan mengenai mutu dan membantu
melaksanakan penarikan obat
17. Memberikan persetujuan akhir terhadap seluruh perubahan bersangkutan
dengan sistem, dokumen, produk, bangunan dan sarana penunjang,
mengevaluasi hasil pengkajian mutu produk dengan membuat tren analisis
dan menentukan tindakan perbaikan.
Selain tanggungjawab yang telah disebutkan diatas, adapun wewenang dari
bagian Quality assurance diantaranya : memutuskan menerima atau menolak
produk jadi, memutuskan dilanjutkan atau dihentikannya proses di produksi,
memutuskan tindakan perbaikan dan pencegahan diproses produksi, mengusulkan
perubahan formula dan spesifikasi bahan awal, bahan kemas, produk setengah jadi
dan produk jadi, memutuskan perubahan proses produksi berdasarkan hasil
validasi, melakukan penarikan CPB dan CKB yang sudah tidak berlaku,
memutuskan kelayakan peralatan produksi, laboratorium dan sarana penunjang
berdasarkan hasil kualifikasi dan kalibrasi, menentukan jadwal kegiatan validasi,
kualifikasi dan kalibrasi, merekomendasikan tindakan pencegahan dan perbaikan
terhadap temuan hasil audit, merekomendasikan expired date produk jadi sesuai
dengan uji stabilitas, menentukan terbukti atau tidak terbuktinya hasil investigasi
yang dilakukan dalam penanganan keluhan pelanggan, merekomendasikan
investasi sarana dan prasarana yang terkait dengan kegiatan pemastian mutu.

2.2.7 Produksi
Produksi merupakan kegiatan utama dari perusahaan industri farmasi.
Produksi harus sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan dan harus memenuhi
kriteria dan ketentuan CPOB sehingga menjamin produk yang dihasilkan

26
18

memenuhi syarat dan memenuhi ketentuan izin edar (registrasi). Produksi


dilakukan dan diawasi oleh personil yang telah terkualifikasi dan berkompeten.
Area produksi di PT. Triman Pharmaceutical Industry termasuk dalam
area kelas E dengan persyaratan Non-Operasional jumlah partikel/m3 yang
diperbolehkan ≥ 0.5 μm adalah 3.520.000 dan ≥ 5 μm adalah 29.000 sedang
persyaratan Operasional ≥ 0.5 dan ≥ 5 tidak ditetapkan. Untuk personal
flow,personil masuk area produksi melalui locker room. Locker room terdiri dari
locker room untuk pria, locker room wanita yang masuk melalui grey area untuk
proses produksi dan black area untuk proses pengemasan. Personil produksi harus
mematuhi ketentuan sebelum memasuki area produksi, diantaranya :
a) Alas sepatu harus dilepas
b) Mencuci tangan dengan menggunakan sabun dan dibilas hingga bersih,
keringkan tangan dengan tisu hingga benar-benar kering.
c) Mengganti pakaian dengan baju khusus untuk produksi dan memakai
sepatu khusus produksi.
d) Saat masuk ke dalam area produksi, personel tidak boleh menggunakan
aksesoris seperti jam tangan, perhiasan serta wewangian karena
dikhawatirkan akan menambah kontaminan.
Bahan awal yang akan digunakan dalam proses produksi harus sesuai
dengan spesifikasi yang telah ditetapkan dan sesuai dengan CoA dan telah
mendapatkan label release bagian QC. Semua penerimaan dan pengeluaran harus
dicatat, antara lain keterangan mengenai persediaan, nomor batch, tanggal
penerimaan dan pengeluaran, tanggal diluluskan dan tanggal kadaluarsa. Alur
produksi terdiri atas beberapa tahap, antara lain:
1. Perencanaan produksi
Produksi dilakukan ketika sudah ada permintaan dari bagian marketing
dan PPIC yang dibuat dalam bentuk jadwal produksi.
2. Penimbangan
Penimbangan dilakukan oleh personil penimbangan dan karyawan yang
terlatih. Pada saat sebelum melakukan proses penimbangan maka langkah pertama
yang dilakukan adalah pengecekan bahan baku oleh personil QC yaitu:

27
19

kesesuaian bahan, identitas, GMP, nomor analisa, dan memastikan status bahan
release, selanjutnya jika telah memenuhi syarat personil penimbangan akan
melakukan verifikasi yaitu mengecek kesesuaian bahan dengan permintaan
pada CPB (catatan pengolahan batch), identitas bahan, label release). Bahan
yang akan ditimbang sesuai tercantum pada batch produk yang akan
diproduksi. Timbangan yang akan digunakan harus memiliki label kalibrasi
alat dan dilakukan verifikasi tiap harinya terhadap timbangan, suhu, dan RH
ruangan setiap hari di ruang penimbangan dengan kondisi kebersihan ruangan
yang terjaga dan alat yang bersih dan label bersih. Bahan awal yang telah
selesai ditimbang simpan diruangan staging.
3. Pencampuran
Hal harus diperhatikan dalam tahap awal pencampuran yaitu kesiapan
jalur, kebersihan ruangan, suhu dan kelembaban ruangan dan alat yang
digunakkan terdapat label bersih. Pencampuran terbagi atas dua tahap,
pencampuran basah dan pencampuran kering. Khusus pada pencampuran
basah, air yang digunakan adalah air murni yang telah melewati proses
pengolahan. Sebelum dicampur, personil bagian pencampuran akan mengecek
kembali berat bahan awal.
Parameter pada tahap pencampuran antara lain suhu, kelembaban,
pemerian dan berat larutan (larutan pengikat pada pencampuran basah),
keseragaman ukuran partikel, distribusi ukuran partikel, dan hasil perolehan
granul kering. Kemudian dilakukan sampling oleh IPC untuk pemeriksaan
kadar air dan kadar zat aktif produk antara, dan jika memenuhi spesifikasi dan
pemberian keputusan released oleh QC dan dilanjutkan ke tahap pencetakkan.
4. Pencetakan
Hal yang perlu diperhatikan sebelum pencetakkan yaitu massa cetak
harus telah mendapatkan label release dari QC. Pada proses pencetakan terdiri
dari tablet, kaplet dan suppositoria dilakukan oleh operator yang sudah terlatih,
sebab pencetakan merupakan bagian kritis dalam suatu produksi sediaan padat.
Parameter yang diperhatikan, antara lain suhu, kelembaban, kecepatan
kompresi tablet/kaplet, gaya tekanan kompresi. Untuk suppositoria perhatikan

28
20

kekentalan basis yang digunakan. Dari proses pencetakan dilakukan sampling


dan diserahkan ke bagian bagian QC untuk dilakukan pemeriksaan kadar zat
aktif. Hasil dari proses pencetakan disimpan di ruang produk ruahan dan diberi
label karantina untuk menunggu keputusan Released dari bagian bagian QC.
5. Pengemasan Primer
Pengemasan primer dilakukan oleh personil terlatih di ruang
pengemasan primer. Jenis pengemasan primer yang digunakan: strip, blister,
dan BP (botol plastik). Beberapa parameter yang diperlu diperhatikan dalam
pengemasan primer, antara lain jenis foil yang digunakan, suhu sealing dan
moulding, kecepatan cutting, kualitas stripping, kebocoran strip, kelengkapan
penandaan (harga eceran tertinggi, nomor batch, expired date), dan kesesuaian
jumlah dalam kemasan. Pada kemasan BP, sebelum pengemasan dilakukan
pencucian botol dengan menggunakan udara bertekanan.
6. Pengemasan Sekunder
Kemas sekunder dilakukan pemeriksaan, tentunya menggunakan
kemasan yang telah release oleh QC yang siap digunakan. Bahan kemas yang
digunakan harus sudah sesuai dengan spesifikasi yang telah ditetapkan
perusahaan dengan pemasok yang kemudian dilakukan pemeriksaan kembali
oleh bagian QC. Parameter untuk kemas sekunder, antara lain, kualitas
kemasan, kelengkapan kemasan, kerapihan penandaan, dan hasil perolehan.
Setelah proses produksi selesai, produk jadi diperiksa kembali oleh bagian
QA sebelum dipindahkan ke gudang obat jadi. Bila telah disetujui oleh bagian QA
maka produk bisa untuk dipasarkan. Setiap bets produk yang diproduksi diambil
sampel pertinggal, selain itu dilakukan pengujian stabilitas real time (suhu 30 ±
o
2 C, RH 75 ± 5%) terhadap minimal 1 bets per tahun sampai masa expired date
untuk produk existing. Sedangkan untuk produk baru dilakukan pengujian
o
stabilitas dipercepat (suhu 40 ± 2 C, RH 75 ± 5%) selama 6 bulan. Alur Proses
Produksi dapat dilihat pada Lampiran 2.

29
21

2.2.8 PPIC dan Pergudangan


PPIC (Production Planning and Inventory Control) merupakan
departemen dari suatu perusahaan yang merencanakan, dan mengendalikan
rangkaian proses produksi agar berjalan sesuai dengan rencana yg ditetapkan,
serta mengendalikan inventory agar sesuai dengan jumlah yg ada. PPIC
merupakan bagian dari organisasi perusahaan yang menjembatani 2 department
yaitu: marketing & produksi. PPIC menterjemahkan kebutuhan marketing
kedalam bentuk rencana produksi & ketersediaan bahan baku dan kemampuan
produksi yang akan dijalankan agar order yang diterima marketing bisa dikirim
tepat waktu dan tepat jumlah.
Tugas - tugas PPIC adalah sebagai berikut :
1. Menerima order dari Marketing dan membuat rencana produksi sesuai order
yang diterima.
2. Memenuhi permintaan sample dari Marketing dan memantau proses
pembuatan sample sampai terkirim ke pelanggan.
3. Membuat rencana pengadaan bahan berdasarkan forecast dari marketing
dengan memperhatikan kondisi stock dengan menghitung kebutuhan material
produksi menurut standard stock yang ideal.
4. Memonitor semua inventory baik untuk proses produksi, stock yang ada di
gudang maupun yang akan didatangkan sehingga proses produksi dan
penerimaan order bisa berjalan lancar dan seimbang.
5. Menyusun jadwal proses produksi pada waktu, routing & quantity yang tepat
sehingga barang bisa dikirim tepat waktu dan sesuai dengan permintaan
pelanggan.
6. Menjaga keseimbangan lini kerja di produksi agar tidak ada mesin yang
overload sementara mesin lain tunggu order.
7. Menginformasikan ke bagian marketing jika ada masalah di proses produksi
yang menyebabkan delay delivery.
8. Aktif berkomunikasi dengan semua pihak yang terkait sehinggga diperoleh
informasi akurat dan up to date.

30
22

Bagian PPIC bertugas untuk membuat MPS (Master Production Schedule)


yaitu gambaran besar proses produksi yang akan dilakukan berdasarkan forecast.
Bagian Master Planning menyusun jadwal produksi setiap 1 – 3 bulan untuk 1
tahun. Alur penerimaan Barang PPIC dapar dilihat pada Lampiran 3 dan Alur
Penyiapan Bahan Awal untuk Produksi dapat dilihat pada Lampiran 4.

2.2.9 Research and Development (R&D)


Tugas bagian Research and Development yaitu mengembangkan produk
yang sudah ada permintaan dari Direktur atau bagian pemasaran, mencari solusi
atas permasalahan produksi, proyek penelitian khusus, menentukan spesifikasi
bahan baku, mencari metode analisa untuk produk yang sedang dikembangkan,
menentukan shelf-life produk, dan memberikan data penunjang yang dibutuhkan
dalam penyusunan dokumen registrasi (formula, data stabilitas, dan kemasan).
Alur kerja dalam departemen Research and Development yaitu :
1. Adanya permintaan pengembangan produk (baik produk baru maupun produk
berjalan atau yang sudah diproduksi)
2. Studi literatur formula untuk mencari sifat zat aktif dan eksipien serta metode
analisis yang akan digunakan.
3. Menentukan formula yang hendak digunakan kemudian dibuat permintaan ke
bagian pembelian terkait bahan – bahan yang diperlukan baik zat aktif maupun
eksipien serta reagen yang dibutuhkan untuk metoda analisa.
4. Dilanjutkan ke tahap trial skala laboratorium dengan pengujian parameter fisik
seperti bobot, ketebalan, diameter, kekerasan, keregasan, kerapuhan dan waktu
hancur untuk menentukan formula yang akan digunakan dan optimasi metode
analisis.
5. Setelah didapat formula terpilih, dilanjut ke tahap trial skala pilot yang
didahului dengan pembuatan catatan pengolahan batch (CPB). Parameter
pengujian trial skala pilot diantaranya fisik, kadar, disolusi dan stabilitas. Pada
trial skala pilot dilakukan validasi proses dan validasi metode analisis.
6. Validasi metode analisis dilakukan pada sampel hasil skala pilot yang diuji
dengan metode sesuai (HPLC atau Spektrofotometri).

31
23

7. Bila trial skala pilot berhasil, produk dapat didaftarkan ke BPOM untuk
mendapatkan izin edar melalui tahap pra-registrasi dan registrasi dengan
melengkapi dokumen yang dibutuhkan yaitu laporan validasi proses, laporan
validasi metode analisis, CoA produk trial skala pilot dan dokumen lainnya
jika dibutuhkan seperti data produk inovator, inkompatibilitas dan
pengembangan produk. Setelah tahap registrasi berhasil, akan didapat
Approveable Letter (AL).
8. Setelah mendapatkan AL dapat dilanjut ke trial skala produksi minimal 3 bets
dengan pembuatan CPB dan validasi proses produksi. Hasil trial skala
produksi dilaporkan ke BPOM dan jika disetujui akan didapat Nomor Izin
Edar (NIE).
Bagian Research and Development juga bertugas untuk membuat
spesifikasi bahan aktif baru, bahan tambahan (eksipien), dan produk baru serta
laporan pemeriksaannya. Apabila terdapat penambahan spesifikasi produk, maka
bagian Research and Development akan melakukan pengujian kembali dari skala
lab dan akan diamsukkan ke spesifikasi sebagai tambahan untuk data pengujian.
Selain validasi proses dan validasi metode analisis, bagian R&D juga bertugas
dalam melakukan validasi pembersihan.
Uji stabilitas juga dilakukan pada saat skala pilot yaitu uji stabilitas
dipercepat yang dilakukan selama 6 bulan diharapkan dapat memperkirakan masa
kadaluarsa obat tersebut. Umumnya menggunakan 2 batch skala pilot. Data
stabilitas juga dibutuhkan untuk registrasi, sehingga bagian Research and
Development selalu menyediakan dokumen untuk registrasi serta berperan dalam
pembuatan CPB untuk bagian produksi. Alur Pembuatan Produk Baru atau
Pengembangan Produk dapat dilihat pada Lampiran 5.

2.2.10 Pengawasan Mutu atau Quality Control (QC)


Pengawasan mutu adalah bagian dari CPOB yang berhubungan dengan
pengambilan sampel, spesifikasi dan pengujian, dokumentasi dan prosedur
pelulusan yang memastikan bahwa proses pengujian yang diperlukan telah
dilakukan secara benar. Bahan yang belum diluluskan tidak dapat digunakan

32
24

untuk proses produksi serta tidak dijual atau dipasok sebelum mutunya dinilai dan
dinyatakan memenuhi syarat. Pengawasan mutu di PT. Triman Pharmaceutical
Industry memiliki tugas antara lain:
a. Sampling dan pemeriksaan bahan baku
Bahan baku terdiri dari zat aktif dan bahan tambahan (eksipien) digunakan
dalam proses produksi suatu produk farmasi. Pengambilan sampel dan
pemeriksaan bahan baku bertujuan untuk memastikan mutu bahan baku yang
merupakan hal yang sangat berpengaruh pada mutu produk, tahapan untuk
pengambilan sampel yaitu :
1. Pemeriksaan pada saat penerimaan dari supplier secara fisik diperiksa
kesesuaiannya dengan CoA (Certificate of Analysis) berupa nama
material, synonym, no bets, tanggal kadaluarsa dan nama pembuat sesuai
dengan list supplier di PT.Triman Pharmaceutical Industry, jika sudah
sesuai, maka bahan baku dapat digunakan untuk sampling.
2. Pengambilan sampel yang dilakukan di gudang penyimpanan bahan awal
diruangan khusus pengambilan sampel (sampling booth) oleh personil
dari lab QC,
3. Untuk bahan baku (zat aktif dan eksipien), sampel diambil dari setiap
wadah untuk uji identitas sedangkan untuk penentuan kadar diambil
1+√N dari jumlah sampel yang datang. Sampel diambil menggunakan
sample thief pada bagian atas, tengah, dan bawah pada posisi diagonal.
Setelah sampel diambil kemudian dimasukan kedalam wadah yang diberi
label dan disimpan di lab QC ditempat penyimpanan sampel bahan awal
yang belum dianalisa dan untuk bahan awal yang telah diambil
sampelnya di simpan kembali ke gudang penyimpanan bahan awal dan
diberi label sampel telah diambil. Bahan awal yang belum atau sedang
diperiksa oleh QC diberi label identitas dengan status “Karantina”.
4. Pemeriksaan terhadap sampel bahan baku tersebut dilakukan sesuai
dengan parameter dan spesifikasi yang telah ditetapkan. Adapun
parameter yang diperiksa diantaranya yaitu identifikasi, penetapan kadar,

33
25

logam berat, loss on drying, sulfated ash, bulk density, tapped density,
reaksi warna, ukuran partikel, impurities, dan mikrobiologi.
5. Jika bahan baku yang telah memenuhi spesifikasi maka QC akan
menyetujui dan memberi label „Released‟ warna hijau. Bahan baku yang
sudah diberi label hijau tersebut selanjutnya dapat digunakan untuk
proses produksi. Namun jika tidak memenuhi spesifikasi maka QC akan
memberikan label „rejected‟ warna merah pada bahan awal. Bahan baku
dengan status „rejeceted‟ tidak dapat digunakan untuk proses produksi,
harus dikembalikan ke supplier atau dimusnahkan.
b. Pemeriksaan Bahan Kemas
Bahan Kemas berfungsi sebagai identitas produk dan untuk melindungi
produk dari pengaruh lingkungan agar stabilitas dan kualitas produk tetap
terjaga. Kemas Primer yaitu bahan pengemas yang bersentuhan langsung
dengan produk dan dapat mempengaruhi stabilitas serta kualitas produk
secara langsung misalnya botol, blister, dan strip. Sedangkan Kemas
Sekunder yaitu bahan pengemas yang tidak bersentuhan langsung dengan
produk misalnya outer box, brosur, dan lain sebagainya.
Sama halnya dengan bahan baku, bahan kemas juga harus diperiksa
terlebih dahulu sebelum digunakan. Pengambilan sampel untuk bahan kemas,
apabila jumlah kemasan ≤ 4 maka pengambilan sampel dilakukan pada setiap
kemasan, jika > 4 maka pengambilan sampel dilakukan berdasarkan jumlah
yang telah ditentukan. Bahan kemas diambil secara acak/random. Adapun
parameter yang diperiksa yaitu:
1) Brosur dan label, meliputi jumlah, ukuran, warna, gambar, dan kebenaran
redaksional.
2) Karton pengemas, meliputi jumlah, ukuran, tekstur bahan, warna,
gambar, tulisan.
3) Botol, meliputi jumlah, kebocoran, ketebalan, kebersihan, dan ukuran.
4) foil, meliputi jumlah dan ukuran, ketebalan, dan tekstur bahan.
Jika bahan kemas telah memenuhi spesifikasi maka bagian QC
langsung memberikan status „Released‟ dengan label hijau pada masing –

34
26

masing wadah bahan kemas tersebut. jika ditemukan kecacatan > 10% angka
pelulusan maka bahan kemas direject. Namun, terdapat kemungkinan
diluluskan dengan penyimpangan jika parameter yang menyimpang tidak
mempengaruhi kualitas produk obat.
c. Pemeriksaan produk antara, produk ruahan dan produk jadi
Sebelum dilakukan pemeriksaan produk jadi, pemeriksaan produk
antara dan produk ruahan yang dilakukan sampling setelah proses
pencampuran dan sebelum dilakukan proses pengemasan. Produk antara dan
ruahan diambil setiap lot saat awal produksi dan akhir produksi.
Sampling produk ruahan pada produk rutin dilakukan pada 3 titik
(atas, tengah, dan bawah), sedangkan untuk produk yang sedang divalidasi
diambil pada 10 titik. Sampling produk ruahan dilakukan sekali setiap
pengerjaan produk ruahan selesai dilakukan. Kemudian diperiksa kadar air
dan keseragaman kandungannya. Jika reject maka diberitahukan kepada
operator agar dilakukan rework. Jika release maka dilanjutkan ke proses
pencetakan. Untuk pemeriksaan produk antara yang dilakukan terdiri dari
pemeriksaan kadar air dan kadar zat aktif. Sedangkan pemeriksaan produk
ruahan yang dilakukan adalah IPC (organoleptis, keseragaman bobot,
ketebalan, keregasan, kekerasan, waktu hancur) dan pada pengemasan primer
(pemeriksaan kebocoran strip dan penandaan). Untuk uji kebocoran pada
kemas primer, sampling dilakukan setiap jam dan diambil secara acak
sebanyak 5 kemasan. Jika terdapat kebocoran pada mouthseal botol plastik
maka dilakukan sealing ulang. Jika terdapat kebocoran pada strip atau blister
maka dilakukan sampling ulang dan jika 2 kali pengujian ditemukan
kebocoran maka proses pengemasan primer dihentikan kemudian dilakukan
perbaikan pada mesin sebelum melanjutkan proses pengemasan.
Untuk pemeriksaan produk jadi, pengambilan sampel dilakukan pada
saat proses pengemasan. Sampel dibawa ke laboratorium QC untuk dilakukan
analisis. Pemeriksaan yang dilakukan terdiri dari kebenaran proses dan
kelengkapan kemasan (jumlah isi, cetakan nomor bets, dan tanggal
kadaluarsa). Disamping itu juga dilakukan pemeriksaan pada tablet yaitu:

35
27

kadar zat aktif, keseragaman bobot, kekerasan, ketebalan, keregasan, waktu


hancur, disolusi tablet.
Setelah produk obat jadi yang telah memenuhi syarat spesifikasi
diperoleh maka dibuat sertifikat analisis untuk obat jadi yang telah
diluluskan. Jika terdapat hasil analisis yang menunjukkan suatu hasil uji
diluar spesifikasi (HULS) maka tahapan yang harus dilakukan adalah sebagai
berikut:
1. Uji ulang (verifikasi) oleh analis kedua
2. Jika masuk spesifikasi maka akan diluluskan
3. Jika tidak masuk spesifikasi akan uji ulang dengan sampel baru
4. Jika masuk spesifikasi akan diluluskan
5. Jika tidak masuk spesifikasi kembali dilakukan investigasi, mulai dari
prosedur, pereaksi dan pelarut yang digunakan, instrument, dan proses
produksi
6. Dilakukan treatment terhadap produk atau bahan yang memiliki hasil
uji diluar spesifikasi (bahan awal dikembalikan ke supplier, dilakukan
rework pada produk ruahan atau produk obat jadi, pemusnahan, dan
lain-lain)
d. Pemeriksaan air (Purified Water)
Untuk memastikan bahwa air yang digunakan dalam proses produksi
memenuhi persyaratan maka QC juga melakukan pemeriksaan kualitas air
secara kimia dan mikrobiologi. Pemeriksaan air secara kimia meliputi pH,

konduktivitas, kadar klorin, sulfat, nitrat, ammonia, kalsium, CO 2, logam


berat, zat yang teroksidasi, dan Total Dissolved Solid (TDS). Sedangkan
pemeriksaan air secara mikrobiologi meliputi pemeriksaan E.coli,
Salmonella, dan Pseudomonas aeruginosae.
e. Pemeriksaan mikrobiologi
Pemeriksaan mirkobiologi dilakukan terhadap raw material, air dan
ruangan. Terdapat 4 mikroorganisme yang dijadikan parameter pemeriksaan
mikrobiologi yaitu Staphylococcus aureus, Esherichia coli, Pseudomonas
aeruginosae, dan Salmonella.

36
28

Pemeriksaan mikrobiologi air dilakukan 6 bulan sekali. Untuk


pemeriksaan mikrobiologi ruangan dilakukan terhadap udara dalam ruangan
produksi dan laboratorium mikrobiologi itu sendiri dengan menggunakan
metode usap dan slit to agar.
Setiap pemeriksaan mikrobiologi harus dilakukan dalam kondisi
lingkungan yang didesain sedemikian rupa untuk mencegah kontamiansi
terhadap produk yaitu dilakukan di bawah Laminar Air Flow (LAF) cabinet
dengan menggunakan sarung tangan, masker, dan semua material atau
peralatan yang digunakan kontak langsung dengan bahan yang diuji harus
dalam keadaan steril.
f. Uji stabilitas
Uji stabilitas dilakukan untuk menjamin kualitas suatu produk obat
terjaga sampai waktu kadaluarsanya, untuk mengetahui waktu kadaluarsa
obat, serta menentukan shelf life suatu produk dan periode waktu
penyimpanan produk pada kondisi spesifik dimana produk masih memenuhi
spesifikasi. Uji stabilitas yang dilakukan yaitu satbilitas dipercepat
(accelerated) dan jangka panjang (real time). Produk stabilitas dipercepat
o
(suhu 40 ± 2 C, RH 75 ± 5%) disimpan dalam climatic chamber, sedangkan
o
produk stabilitas jangka panjang suhu (30 ± 2 C, RH 75 ± 5%) disimpan
dalam room chamber. Uji stabilitas dipercepat dilakukan selama 6 bulan,
minimal 3 titik uji mencakup titik awal dan akhir uji (0, 3, dan 6 bulan). Uji
stabilitas jangka panjang dilakukan minimal hingga waktu kadaluarsa, pada
tahun pertama dilakukan per 3 bulan, pada tahun kedua dilakukan per 6
bulan, dan tahun selanjutnya dilakukan per tahun. Jumlah produk yang
disampling untuk uji stabilitas disesuaikan dengan parameter pengujian
masing-masing obat, diantaranya kekerasan, ketebalan, panjang, friabilitas,
waktu hancur, kadar zat aktif, dan disolusi. Pada produk rutin diambil 1 bets
pertahun, sedangkan produk validasi diambil 3 bets untuk diuji stablitasnya.
g. Penanganan Retained Sample
Retained sample atau sampel pertinggal merupakan sampel unit
lengkap dari setiap bets bahan baku, bahan kemas dan produk jadi yang

37
29

disimpan untuk tujuan identifikasi dan kebutuhan analisa selama periode


waktu shelf life produk. Divisi QC harus menyimpan setiap produk yang
diproduksi beberapa item sebagai sampel pertinggal (retained sample) yang
dapat digunakan untuk investigasi keluhan produk atau penarikan produk
kembali, seperti :
i. Memperkirakan kondisi produk selama berada di pasaran.
ii. Sebagai dokumentasi sehingga jika terjadi komplain dapat dilakukan
pemeriksaan untuk memastikan kerusakan produk disebabkan oleh
kualitas produk yang kurang baik atau karena kesalahan penyimpanan
obat di distributor.
iii. Mengetahui ED yang sebenarnya dari suatu produk karena penentuan
ED sebelumnya menggunakan hasil uji stabilitas dipercepat.
Jumlah retained sample yang disimpan tidak boleh kurang dari dua
kali jumlah yang dibutuhkan untuk keseluruhan analisa sesuai dengan
spesifikasinya. Untuk kondisi penyimpanan disesuaikan dengan yang
tertera pada label wadahnya. Retained sample produk jadi disimpan satu
tahun setelah ED berakhir sedangkan bahan kemas disimpan selama 7
tahun dari tanggal pengujian.
Ruang pengawasan mutu terdiri dari dua tempat yaitu laboratorium
pengawasan mutu dan ruang IPC yang berada di ruang produksi. Ruang lab
digunakan untuk analisis kadar, disolusi, keseragaman sediaan (keseragaman
kandungan / keragaman bobot), uji kualitas air (fisika, kimia, mikrobiologi),
pemeriksaan bahan kemas, dan pemeriksaan lainnya. Sementara ruang IPC
digunakan untuk pemantauan selama proses produksi, antara lain pengujian
organoleptis, kekerasan, dimensi, keregasan, bobot, waktu hancur, kadar air,
kebocoran kemas primer, dan penandaan strip.

2.2.11 Validasi
Validasi adalah suatu tindakan pembuktian dengan cara yang sesuai bahwa
setiap bahan, proses, prosedur kegiatan, sistem, perlengkapan atau mekanisme
yang digunakan dalam produksi dan pengawasan akan senantiasa mencapai hasil

38
30

yang diinginkan yaitu sesuai CPOB. Validasi merupakan bagian penting dari
program pemastian mutu sebagai upaya untuk memberikan jaminan terhadap
khasiat, kualitas dan keamanan setiap produk-produk industri farmasi. CPOB
mensyaratkan industri farmasi untuk mengidentifikasi validasi yang perlu
dilakukan sebagai bukti pengendalian terhadap aspek kritis dari kegiatan yang
dilakukan. Perubahan signifikan terhadap fasilitas, peralatan, dan proses yang
dapat mempengaruhi mutu obat hendaklah divalidasi. Seluruh kegiatan validasi
dilakukan secara terencana. Perencanaan validasi dirinci dengan jelas dan
didokumentasikan dalam Rencana Induk Validasi (RIV). Terdapat 3 Jenis validasi,
yaitu:
A. Validasi Proses
Validasi proses merupakan tindakan pembuktian bahwa proses yang
dilakukan dalam batas parameter yang ditetapkan dapat bekerja secara efektif
dan memberikan hasil yang dapat terulang, dengan begitu produk jadi yang
dihasilkan dapat memenuhi spesifikasi dan atribut mutu yang ditetapkan
sebelumnya. Setiap perubahan terjadi dalam proses, peralatan, dan bahan
hendaklah dilakukan validasi ulang untuk menjamin produk yang dihasilkan
tetap memenuhi persyaratan mutu meskipun terjadi perubahan. Proses dan
prosedur produksi secara rutin divalidasi kembali dan atau peninjauan ulang
secara kritis untuk memastikan bahwa proses dan prosedur tersebut tetap
mampu memberikan hasil yang diinginkan. Terdapat 3 jenis validasi
berdasarkan waktu pelaksanaanya, yaitu :
1) Validasi Prospektif, validasi proses dilakukan sebelum produk diproduksi
dengan persyaratan hasil pengolahan 3 batch berurutan memenuhi
parameter yang disetujui.
2) Validasi Retrospektif, validasi proses dilakukan pada produk yang telah
beredar dipasaran. Validasi retrospektif tidak berlaku bila terjadi
perubahan pada formula produk, peralatan yang digunakan dan prosedur
pembuatannya. Validasi proses dilakukan terhadap 10 – 30 batch
berurutan yang dapat mewakili semua bets yang telah dibuat untuk
menjamin konsistensi proses.

39
31

3) Validasi Konkuren, validasi proses dilakukan pada ketika terdapat


perubahan minor dan non-impact untuk produk rutin saat proses
produksi.
B. Validasi Pembersihan
Validasi pembersihan merupakan tindakan pembuktian yang
didokumentasikan secara tertulis bahwa prosedur pembersihan yang disetujui
akan senantiasa menghasilkan peralatan yang bersih yang sesuai untuk
pengolahan obat (BPOM RI, 2012). Proses validasi yang dilakukan untuk
membersihkan residu-residu dari bahan cleaning agent sehingga jumlah
mikroba berada di bawah batas yang diperbolehkan. Sebelum pelaksanaan
validasi, perlu menentukan matriks yaitu produk mana yang akan dijadikan
indikator pada mesin yang digunakan untuk banyak produk. Penentuan
matriks pada mesin dilakukan dengan cara menentukan produk mana yang
memiliki nilai risk value yang paling besar, maka produk tersebut yang akan
dijadikan sebagai matriks dalam menentukan kebersihan alat. Proses validasi
pembersihan dilakukan 3 kali secara berturu-turut.
Terdapat 3 metode yang digunakan pada validasi pembersihan yaitu metode
apus, bilasan akhir dan plasebo.
1) Metode Apus, dilakukan dengan cara mengambil sampel menggunakan
bahan apus yang dibasahi dengan pelarut yang langsung menyerap residu
dari permukaan alat yang dibersihkan.
2) Metode Bilasan Akhir
Umumnya dilakukan untuk alat mesin yang sulit dijangkau dengan
menggunakan metode apus. Pada metode ini menggunakan pelarut
organik (metanol, alkohol) atau hanya air demineralisasi. Sampel diambil
dari pelarut yang ditampung. Kelebihan dari metode bilasan akhir adalah
ketika dilakukan dengan benar maka hasil pemeriksaan mencerminkan
kondisi seluruh permukaan alat dan kekurangan dari metode bilasan
akhir adalah tidak seluruh residu larut dalam bahan pelarut sehingga
terdapat residu yang tidak dapat terdeteksi.

40
32

3) Metode Plasebo
Metode plasebo dilakukan dengan cara membuat produk tanpa zat aktif
dengan peralatan yang sudah dibersihkan kemudian dianalisa. Metode ini
tidak disarankan karena reprodusibilitasnya rendah.
C. Validasi Metode Analisis
Validasi metode analisis merupakan cara untuk mengkonfirmasi prosedur
analisis, yang didasarkan pada pengujian parameter-parameter pengujian yang
digunakan sudah sesuai dengan tujuan penelitian dan memenuhi persyaratan
yang telah ditetapkan. Validasi metode analisis berlaku untuk identifikasi,
penetapan kadar dan pengujian impuritas (BPOM RI, 2012). Validasi metode
analisis berlaku untuk proses baru, perubahan proses dan validasi ulang.
Parameter Validasi Metode Analisis yaitu:
a. Akurasi
Akurasi adalah ukuran yang menunjukkan derajat kedekatan hasil analisis
dengan kadar analit yang sebenarnya. Cara penentuan Akurasi dapat
dilakukan dengan berbagai metode yaitu:
1) Metode simulasi (Spiked-placebo recovery): Sampel dibuat dengan
menambahkan analit yang ke dalam matriks sampel (plasebo) kemudian
dianalisis kadarnya.
2) Metode penambahan baku (Standard addition method): untuk sampel
yang tidak tersedia atau memungkinkan dibuat matriks. Akurasi
dinyatakan sebagai recovery kadar analit yang ditambahkan pada
produk jadi yang sudah mengandung analit.
3) Analisis kadar analit dengan metode yang sudah divalidasi terhadap
sampel (larutan baku) yang telah diketahui kadarnya.
4) Membandingkan hasil analisis analit dengan metode yang divalidasi
terhadap hasil dengan metode standar (cara grafik).
Kriteria penerimaan untuk uji akurasi dapat dilihat pada Tabel 2.2.

41
33

Tabel 2.2 Kriteria Penerimaan Akurasi


Pengujian Level Konsentrasi Rentang Kriteria
Penetapan 3 level dengan 70%, 100%, Bias: ± 2%
kadar 3 kali pengujian 130% Recovery:
98,0 – 102,0%
Disolusi 3 level dengan 20– 35% Bias: ± 5%
3 kali pengujian 50– 80% Recovery:
100– 130% 95.0 – 105,0%
Penetapan 1 level dengan Bias: ± 20,0%
kadar cemaran 3 kali pengujian LOQ – 1% Recovery:
80,0 – 120.0%

b. Presisi
Presisi adalah tingkat kesesuaian antara hasil analisis yang dilakukan
berulang kali terhadap sampel ganda atau beberapa sampel yang homogen.
Presisi metode analisis dinyatakan sebagai simpangan baku relatif (SBR)
atau koefisien variasi (KV). Terdapat 3 jenis presis, yaitu:
a. Keterulangan (Repeatability)
Keterulangan adalah kemampuan metode untuk memberikan hasil
analisis yang sama untuk beberapa sampel yang kadarnya sama yang
dilakukan oleh satu orang analis pada waktu tertentu. Keterulangan
diukur terhadap 6 jenis sampel dengan konsentrasi sama (100% dari
konsentrasi sebenarnya) atau 3 jenis sampel dengan konsentrasi 80, 100
dan 120% dari konsentrasi sebenarnya yang ditetapkan masing-masing
sebanyak 3 kali.
b. Presisi antara (Intermediate precision)
Presisi antara adalah pengukuran kinerja metode di mana sampel-sampel
diuji dan dibandingkan oleh analisis yang berbeda, menggunakan
peralatan berbeda dan pada hari yang berbeda. Presisi antara tidak perlu
diuji jika kajian reprodusibilitas telah dilakukan.
c. Ketertiruan (Reprodusibilitas)
Uji ketertiruan dilakukan dengan cara menyiapkan sampel yang homogen
dan stabil, lalu diuji oleh beberapa laboratorium. Hasil ini akan
memperlihatkan adanya galat acak yang disebabkan oleh sampel dan

42
34

laboratorium serta galat sistematik. Kriteria penerimaan untuk uji presisi


dapat dilihat pada Tabel 2.3.
Tabel 2.3 Kriteria Penerimaan Presisi
Pengujian Rentang Konsentrasi Kriteria
3 level dengan 3 kali pengujian (70,
Penetapan kadar SBR ≤ 2,0%
100, 130%) atau 6 kali pada 100%
Disolusi 12 sampel kadar rendah SBR ≤ 20,0%
Penetapan kadar
6 replikat pada LOQ SBR ≤ 20,0%
cemaran

c. Spesifitas
Spesifitas adalah kemampuan suatu metode analisis untuk mendeteksi analit
dengan komponen lain yang menyertai misalnya hasil penguraian atau
ketidakmurnian yang dilakukan secara kuantitatif. Uji spesifitas dilakukan
dengan mengukur 3 larutan dengan konsentrasi yang berbeda masing-
masing sebanyak 3 kali. Konsentrasi yang digunakan adalah 75, 100 dan
150%. Kriteria penerimaan untuk uji spesifisitas dapat dilihat pada Tabel
2.4.
Tabel 2.4 Kriteria Penerimaan Spesifitas
Parameter Konsetrasi Analit Kriteria Penerimaan
10%≤ x ≤ 100% 98,0 – 102,0%
1%≤ x ≤ 10% 97,0 – 103,0%
Presisi 0,1% ≤ x ≤ 1% 95,0 – 105,0%
0,01%≤ x ≤ 0,1% 90,0 – 107,0%
0,001%≤ x ≤ 0,01% 80,0 – 110,0%

d. Linieritas
Uji linearitas bertujuan untuk mengetahui apakah dua variabel
mempunyai hubungan yang linear atau tidak secara signifikan. Penentuan
linieritas dilakukan dengan mengukur minimal 5 konsentrasi masing-masing
dengan 3 kali pengujian. Derajat Linieritas dihitung dengan persamaan
Y = a + bx, dimana kriteria penerimaan sebagai berikut:
i. Koefisien korelasi (r) ≥ 0,99
ii. Intersep Y < 2%
iii. Plot konsentrasi vs area < 5%.

43
35

e. Batas deteksi/Limit of Detection (LOD) dan Batas Kuantifikasi/Limit of


Quantification (LOQ)
Batas deteksi merupakan kemampuan metode analisis untuk mendeteksi
konsentrasi analit terendah dari suatu sampel. Sedangkan batas kuantifikasi
merupakan kemampuan metode analisis untuk mendeteksi konsentrasi
terkecil sampel secara kuantitatif. Penentuan LOD dan LOQ dapat
dilakukan dengan SD dan slope kurva kalibrasi.
LOD ditentukan melalui perhitungan

LOQ ditentukan melalui perhitungan

Dimana: = SD; s = slope

f. Ketangguhan metode (Ruggedness)


Ketangguhan merupakan derajat keterulangan hasil pengujian yang
diperoleh dari sampel yang sama dan diuji pada kondisi yang berbeda yaitu
laboratorium, analis, alat, suhu ruangan, waktu pengujian dan lain-lain.

g. Kekuatan metode (Robustness)


Kekuatan merupakan kapasitas dari metode analisis untuk tetap tidak
terpengaruh oleh variasi kecil yang sengaja dilakukan pada parameter
pemeriksaan atau metode analisisnya. Variasi tersebut dapat dilakukan pada
pH, suhu kolom, laju alir, volume injeksi, panjang gelombang deteksi,
komposisi fase gerak dan lain-lain.

h. Kesesuaian sistem (System Suitability)


Kesesuaian sistem bertujuan untuk mengetahui apakah suatu sistem yang
digunakan (HPLC) memenuhi syarat yang telah ditetapkan dan berada

44
36

dalam kondisi prima dan hasilnya dapat dipercaya sehingga data analisis
yang dihasilkan valid. Uji kesesuaian sistem dilakukan dengan melakukan
pengukuran minimal 5 kali terhadap sampel dengan konsentrasi 100%.
Kriteria penerimaan untuk uji kesesuaian sistem dapat dilihat pada Tabel
2.5.

Tabel 2.5 Kriteria Penerimaan Kesesuaian Sistem


Parameter Persyaratan
Repeatabillity area, tinggi, Rt RSD ≤ 1,0%
Resolusi R > 2,0
Tailing Factor T ≤ 2,0
Faktor Retensi k' > 2,0
Lempeng Teoritis N > 2000

2.2.12 Penanganan Limbah


Limbah merupakan produk sampingan hasil proses produksi yang dihasilkan
oleh setiap industri farmasi dimana memiliki karakteristik yang berbeda-beda.
Pada industri farmasi, limbah berupa senyawa kimia toksik maupun non toksis,
dimana berdasarkan bentuknya dibedakan menjadi limbah padat, cair, dan uap.
Berdasarkan PP No. 101 Tahun 2014 mengenai Pengolahan Limbah Bahan
Berbahaya dan Beracun (B3), limbah yang dihasilkan oleh indsutri farmsi (obat
dan limbah kimia) termasuk dalam limbah B3.
Limbah yang dihasilkan PT. Triman Pharmaceutical Industry berupa limbah
B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) dan non-B3. Limbah B3 padat bisa diolah
menggunakan insenerator, namun di PT. Triman Pharmaceutical Industry baik
limbah padat yang dihasilkan dari debu produksi, produk reject, retained sample
yang telah kadaluarsa, sampel uji stabilitas yang telah kadaluarsa dan limbah cair
B3 hasil sisa analisis atau pelaruty yang digunakan masuk ke Pengolahan Limbah
B3. Limbah B3 disimpan pada gudang penyimpanan limbah B3 dan akan
diserahkan untuk diolah oleh pihak ketiga yang memiliki izin pengolahan limbah
B3. Sedangkan limbah non B3, diantaranya hasil dari granulasi basah, cuci alat
dan laundry seragam diolah melalui Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).

45
37

Proses pengolahan air limbah di PT. Triman Pharmaceutical Industry pada


saat ini dapat dilihat pada Gambar 2.3.

Sumber NaOH
air limbah atau HCl

bak bak
bak aerasi bak sedimentasi bak penampungan
ekualisasi netralisasi

filter

Water
Treatment
Plan (WTP) Utility

Gambar 2.3 Diagram Alir Instalasi Pengolahan Air Limbah

Sistem instalasi pengolahan air limbah (IPAL) PT. Triman Pharmaceutical


Industry:
1. Sumber air limbah, berasal dari kegiatan pencucian alat-alat produksi,
laboratorium dan laundry seragam. Air limbah kemudian dialirkan melalui
saluran air limbah menuju IPAL.
2. Bak penenang (bak ekualisasi), yang berfungsi sebagai :
i. Mengumpulkan serta menyeragamkan sifat serta karakter polutan dari air
limbah, sehingga memudahkan pada proses pengolahan berikutnya
ii. Membagi dan meratakan volume pasokan air limbah untuk masuk pada
proses selanjutnya
iii. Menstabilkan karakteristik limbah (meratakan variable) dan fluktuasi dari
beban organik untuk menghindari shock loading pada sistem pengolahan
biologi.

46
38

iv. Meratakan pH untuk meminimalkan kebutuhan chemical pada proses


netralisasi.
3. Bak Netralisasi, bertujuan untuk menetralkan air limbah dengan memberikan
larutan berupa cairan/larutan NaOH atau HCl bergantung suasana air limbah
yang dihasilkan sehingga memudahkan penanganan air limbah pada proses
selanjutnya.
4. Bak Aerasi, bertujuan untuk melepaskan gas-gas yang terkandung dalam air
limbah yang dapat mengganggu proses penanganan air limbah serta
meningkatkan kadar oksigen dalam air limbah (DO) dengan bantuan mikroba
aerobik. Blower digunakan untuk mensuplai oksigen agar mikroba tetap hidup
dengan baik sehingga dapat menguraikan bahan organik dalam limbah.
5. Bak Sedimentasi, berfungsi untuk mengendapkan partikel-partikel secara
gravitasi kemudian dilakukan penambahan klorin untuk membunuh bakteri.
Cairan dan endapan di pompa untuk melalui filter press dengan tujuan
memisahkan padatan dengan cairan. Cairan akan masuk ke bak penampungan
sedangkan padatan akan bertahan di filter press yang selanjutnya akan
dikeringkan sehingga menjadi lumpur kering B3.
6. Bak Penampung, menampung air limbah yang telah mengalami pemisahan
dari partikel-partikel air limbah setelah melalui berbagai proses sebelumnya.
7. Filter, air dari bak penampung di proses lebih lanjut ke filter. Filter tersebut
terdiri dari Sand filter, Karbon aktif dan Zeolite. Setelah melalui filter air di
tamping pada toren penampungan dan selanjutnya digunakan untuk aktivitas
pabrik lainnya.
Debu merupakan dampak yang ditimbulkan dari adanya kegiatan proses
produksi, yaitu pada saat menuangkan bahan awal yang berupa powder/tepung
kedalam mesin pengaduk, proses granulasi, proses cetak tablet dan proses
pengemasan primer. Untuk pengelolaan debu pada saat proses produksi, setiap
ruangan produksi dilengkapi sistem udara keluar (exhaust) yang berfungsi
menghisap debu dan menampungnya di dust collector. Selain dengan exhaust,
ruang produksi yang menghasilkan banyak debu seperti ruang mesin cetak
tablet/kaplet dan ruang granulasi kering n dilengkapi vaccum central yang

47
39

dapat menghisap dan menyimpan debu yang dapat digunakan sesuai kebutuhan.
Selain itu tersebut diatas debit angin masuk dan pertukaran udara diatur untuk
menjamin bahwa debu yang ada di ruangan selalu mengalir keluar melalui sistem
udara keluar (exhaust). Sistem pengendalian udara pun dibuat/ didesain
sedemikian rupa agar koridor bertekanan lebih tinggi dari pada ruang-ruang
produksi sehingga debu dari dalam ruang produksi tidak akan keluar ke koridor
dan mengkontaminasi ruangan lain.

2.2.13 Registrasi
Registrasi merupakan proses pendaftaran dan evaluasi obat untuk
mendapatkan izin edar. Sebelum obat diedarkan, obat wajib memiliki izin edar
yang didapat dengan melakukan registrasi obat yang diajukan kepala badan oleh
perusahaan pendaftar. Ada 3 macam registrasi obat, yaitu :
1. Registrasi baru, merupakan registrasi obat yang belum mendapat izin edar di
Indonesia.
2. Registrasi ulang, merupakan registrasi produk lama yang ingin
memperpanjangan masa berlaku izin edar. Diajukan 6 bulan sebelum nomor
izin edar produk tersebut berakhir.
3. Registrasi variasi, merupakan registrasi untuk produk yang telah memiliki
izin edar namun terjadi perubahan aspek seperti : perubahan formulasi,
metode, proses pembuatan, spesifikasi untuk obat dan bahan baku, wadah,
kemasan dan penandaan. Permohonan registrasi variasi diajukan dengan
mengisi formulir dan melampirkan dokumen registrasi variasi terkait
perubahan yang diajukan.
Alur Registrasi Obat terdiri dari 2 tahap:
1. Tahap Pra Registrasi, permohonan registrasi baru obat copy khususnya untuk
obat wajib uji Bioekivalensi harus melewati tahap pra registrasi yaitu dengan
pengajuan izin edar beserta memberikan dokumen yang dibutuhkan seperti
spesifikasi zat aktif dan eksipien, spesifikasi produk jadi, Certificate of
Analysis (CoA) zat aktif, protokol validasi proses produksi, CPB skala pilot
dan protokol validasi metode analisis. Bila dokumen yang dibutuhkan

48
40

kurang, BPOM akan memberikan waktu 20 hari untuk melengkapi dokumen.


Bila dokumen sudah lengkap maka akan diproses selama 40 hari kerja.
2. Tahap Registrasi
Bila dokumen pada tahap Pra-Registrasi lengkap, lanjut ke tahap registrasi
dengan melengkapi dokumen yang dibuthkan pada tahap registrasi.
Kemudian akan dievaluasi oleh BPOM dalam rentang waktu 150 hari kerja.
Bila dokumen yang dibutuhkan kurang, maka BPOM akan memberikan
waktu 100 hari kerja untuk melengkapi dokumen. Setelah dokumen lengkap
maka BPOM akan mengeluarkan Approvable Letter (AL) yang berlaku
selama 2 tahun dan pihak pendaftar menyerahkan Dokumen Tambahan
Seperti : Desain Kemasan, Laporan Produksi 3 Batch Pertama (Dokumen
Validasi Proses) Dan Dokumen Hasil Stabilitas, dilakukan pemeriksaan oleh
BPOM jika memenuhi syarat, BPOM akan mengeluarkan NIE.

49
BAB III
SIMPULAN DAN SARAN

3.1 Simpulan
Berdasarkan hasil kegiatan Praktek Kerja Profesi Apoteker yang telah
dilaksanakan di PT. Triman Pharmaceutical Industry pada periode Maret – April
2018, maka dapat disimpulkan bahwa:
1. Mahasiswa memahami tentang peran, fungsi, posisi dan tanggung jawab
apoteker dalam industri farmasi khususnya posisi 3 personil kunci
berdasarkan CPOB yaitu di bidang produksi, pengawasan mutu dan
pemastian mutu.
2. Mahasiswa mendapatkan pengalaman praktis, pengetahuan serta wawasan
untuk melakukan pekerjaan kefarmasian di industri farmasi.
3. Mahasiswa mempunyai kesempatan untuk mempelajari prinsip CPOB dari
segi teori dan penerapannya.
4. Mahasiswa memiliki gambaran nyata tentang permasalahan pekerjaan
kefarmasian di industri farmasi.
5. Mahasiswa mempunyai persiapan dalam menghadapi dunia kerja sebagai
tenaga farmasi yang profesional.

3.2 Saran
Berdasarkan kegiatan Praktik Kerja Profesi Apoteker yang telah dilakukan,
disarankan PT. Triman Pharmaceutical Industry untuk terus mempertahankan
kualitas produk, personil, maupun lingkungannya dengan tetap menerapkan
CPOB. Serta terus berupaya meningkatkan kesadaran seluruh personel akan
pentingnya penerapan CPOB dalam segala aspek yang berkaitan dengan proses
produksi dan menjalin kerjasama dalam bidang pendidikan untuk kemajuan dan
perkembangan industri farmasi di Indonesia.

41

50
BAB IV
TUGAS KHUSUS

4.1 Validasi Proses Produk Tablet Antasida Doen 400 mg


4.1.1. Pendahuluan Validasi Proses Produk (VPP)
Prinsip dari pemastian mutu adalah bahwa obat diproduksi harus sesuai
dengan tujuan penggunannya, tidak hanya sekedar lulus pengujian namun mutu
harus dibentuk ke dalam produk tersebut. Untuk itu dibutuhkan tindakan
pembuktian untuk memastikan langkah dalam proses pembuatan obat terkendali
sehingga dapat memastikan obat yang dihasilkan senantiasa memenuhi
persyaratan. Validasi diartikan sebagai suatu tindakan pembuktian dengan cara
yang sesuai bahwa tiap bahan, proses, prosedur, kegiatan, sistem, perlengkapan
atau mekanisme yang digunakan dalam produksi dan pengawasan akan senantiasa
mencapai hasil yang diinginkan. CPOB mensyaratkan industri farmasi untuk
mengidentifikasi validasi yang perlu dilakukan sebagai bukti pengendalian
terhadap aspek kritis dari kegiatan yang dilakukan. Tiap perubahan signifikan
terhadap fasilitas, perlatan dan proses yang dapat mempengaruhi mutu produk
hendaklah divalidasi (BPOM, 2012).
Validasi proses merupakan tindakan pembuktian bahwa proses yang
dilakukan dalam batas parameter yang diterapkan dapat bekerja secara efektif dan
memberi hasil yang dapat terulang untuk menghasilkan produk yang memenuhi
spesifikasi dan atribut mutu yang ditetapkan sebelumnya.

4.1.2. Tujuan
Tujuan pelaksanaan validasi proses:
a. Memberikan dokumentasi secara tertulis bahwa prosedur produksi yang
berlaku dan digunakan dalam proses produksi (Batch Processing
Record), senantiasa mencapai hasil yang diinginkan terus menerus.
b. Mengurangi problem yang terjadi selama proses produksi
c. Memperkecil kemungkinan terjadinya proses ulang (reworking process).

42

51
43

4.1.3. Jenis Validasi Proses


Validasi proses terdiri dari 3 macam yaitu :
1. Validasi Prospektif
Umumnya validasi proses dilakukan sebelum produk dipasarkan.
Umumnya digunakan 3 batch berurutan yang memenuhi parameter yang
disetujui dapat diterima telah memenuhi persyaratan validasi proses.
Validasi ini merupakan tahap dari pengembangan menuju produksi.
2. Validasi Konkuren
Dalam keadaan tertentu, jika tidak memungkinkan melakukan validasi
prospektif, validasi dapat juga dilakukan selama proses produksi rutin
dilakukan. Validasi ini mencakup pengawasan proses dari langkah-langkah
proses yang dianggap kritis (critical processing step) dan melibatkan
pengujian produk dari tiap langkah proses untuk memastikan bahwa
produk yang dihasilkan dalam setiap proses (produk antara) memenuhi
syarat.
3. Validasi Retrospektif
Validasi ini hanya dapat dilakukan untuk proses yang sudah mapan, namun
tidak berlaku jika terjadi perubahan formula produk, prosedur pembuatan
dan peralatan yaitu dengan pencatatan (recording) variabel-variabel dan
serangkaian langkah yang telah dilakukan dari keseluruhan proses
produksi (sampai produk akhir). Umumnya 10-30 batch berurutan untuk
menilai konsistensi proses.

4.1.4. Protokol Validasi Proses


Sebelum validasi proses dilakukan, alat yang digunakan telah terkalibrasi
dan personil yang terlibat telah terkualifikasi. Selain itu hendaklah membuat
protokol validasi proses produk. Protokol merupakan suatu panduan untuk
melakukan validasi proses pengolahan sediaan farmasi yang berisikan:
1. Spesifikasi bahan awal: bahan baku (zat aktif dan tambahan) dan bahan
kemas (kemas primer dan sekunder).

52
44

2. Prosedur produksi berserta peralatan dan parameter kritis tiap tahapan


produksi.
3. Pengujian yang dilakukan untuk tiap tahapan produksi.
4. Pola pengambilan sampel untuk pengujian.
5. Format dokumentasi untuk kualifikasi alat produksi dan personil produksi,
kalibrasi alat produksi dan kalibrasi alat ukur.
6. Lampiran tahap produksi mencangkup alat dan bahan yang digunakan,
parameter kritis, titik pengujian validasi dan kriteria penerimaan tahap
produksi.
Pembuatan protokol mengacu pada master batch yang dibuat departemen R&D
dan lembar Spesifikasi Pemeriksaan Obat Jadi (SPOJ) yang dibuat oleh
departemen QC yang berisi spesifikasi yang tidak tercantum dalam master batch
seperti kadar. Selama proses validasi, setiap spesifikasi yang tercantum dalam
protokol akan disesuaikan dengan yang sebenarnya terjadi selama proses produksi
dan penyimpangan juga dicatat. Validasi proses dilakukan pada 3 batch berturut-
turut.

4.1.5. Hasil Validasi Proses Produk Antasida Doen 400 mg


1. Pencampuran Bahan Kering
Pencampuran bahan berkhasiat dengan pengisi dalam pengaduk dan dilakukan
pendataan parameter pencampuran yaitu: Pemerian, Waktu pengadukan,
Kecepatan pengadukan dan Berat Massa.

2. Pembuatan Larutan Pengikat


Pembuatan larutan pengikat dengan mencampurkan pengikat, pengawet,
0
pemanis, dan pewarna ke dalam air dengan suhu 70 dan dilakukan pendataan
parameter yaitu: Pemerian, Berat larutan pengikat, Waktu pembuatan dan
Suhu.

53
45

3. Pencampuran Basah
Pengadukan hasil pencampuran bahan kering dengan larutan pengikat dan
dilakukan pendataan parameter yaitu: Pemerian, Waktu mixing dan Kecepatan
putar.

4. Pembuatan Granulat Basah


Pembuatan granulat basah dengan menggunakan granulator dan dilakukan
pendataan parameter yaitu: Pemerian, Berat Massa Granul dan Ukuran
Penyaring.

5. Pengeringan Granulat Basah


Air yang terkandung dalam granul dalam jumlah berlebih dapat menyebabkan
terganggunya sifat granul, antara lain timbulnya ikatan antar partikel yang
menyebabkan aliran serbuk kurang baik, kekompakan serbuk terlalu tinggi,
adanya kemungkinan berperannya cairan sebagai katalisator dalam reaksi
kimia (penguraian, oksidasi, reduksi). Kadar air dalam tablet berhubungan
dengan kompresibilitas, karena kadar air juga berperan sebagai pengikat yang
akan mengisi kosong antar tablet sehingga kadar air haruslah dalam batas
tertentu yang telah ditetapkan. Pengeringan granul lembab di dalam Fluid Bed
Dryer (FBD) dan dilakukan pengujian kadar air granul dengan mengambil
sampel pada 3 titik yaitu atas, tengah dan bawah FBD. Kadar air granul harus
masuk dalam rentang persyaratan yang diterima untuk produk Antasida Doen
yaitu 7.00%-10.00%. Selain itu dilakukan pendataan parameter: Waktu
pengeringan, suhu inlet dan outlet, hasil perolehan granul (berat dan persen).

6. Penyaringan dan Milling


Pengayakan granul kering menggunakan ayakan mesh 12 dan untuk granul
yang tidak lolos ayakan mesh 12 dilewatkan dengan Fitzmill menggunakan
ayakan mesh 14. Kemudian dimasukkan dalam V-Mixer dan mengambil
sampel pada 5 titik untuk menentukan distribusi granul. Kemampuan mengalir
granul dari hopper ke die tergantung pada ukuran partikel dan distribusi granul
yang mana memiliki pengaruh langsung terhadap berat dan keras tablet.

54
46

7. Lubrikasi
Pencampuran granul dengan fase luar dalam V-Mixer kemudian diambil
sampel pada 10 titik dalam V-Mixer untuk dilakukan penentuan kadar air dan
keseragaman kadar granul tiap zat aktif (Aluminium Hidroksida dan
Magnesium Hidroksida) untuk tiap batch. Titik pengambilan dapat dilihat
pada Gambar 4.1.

Gambar 4.1. Pola pengambilan sampel pada V-Mixer


Uji keseragaman kadar yang dilakukan pada 10 titik terhadap ketiga batch
menghasilkan rata-rata kadar Aluminium Hidroksida 102.26% (SBR 0.69%) untuk
batch pertama, 104.77% (SBR 1.05%) untuk batch kedua dan 105.23% (SBR
0.35%) untuk batch ketiga dan rata-rata kadar Magnesium Hidroksida 96.01%
(SBR 0.49%) untuk batch pertama, 98.01% (SBR 0.63) untuk batch kedua dan
98.03% (SBR 0.94) untuk batch ketiga. Batasan kadar zat aktif (Aluminium
Hidroksida dan Magnesium Hidroksida) dalam granul massa cetak Tablet Antasida
Doen adalah 90.00%-110.00% (dengan simpangan baku 6%). Dengan demikian
perolehan rata-rata dan simpangan baku kadar granul massa cetak Tablet Antasida
Doen (zat aktif Aluminium Hidroksida dan Magnesium Hidroksida) dalam
campuran kering yang diuji masih dalam rentang yang dipersyaratkan. Rata-rata
kadar Aluminium Hidroksida ketiga batch adalah 104.09% ± 1.52 dengan
simpangan baku relatif 1.47% dan kadar Magnesium Hidroksida ketiga batch
adalah 97.35% ± 1.17 dengan simpangan baku relatif 1.12%, menunjukan proses
pencampuran memberikan keterulangan yang baik

55
47

dan adanya proses lubrikasi yang dilakukan menghasilkan massa cetak yang
homogen.

8. Pencetakan Tablet
Dilakukan pencetakan tablet yang diikuti dengan pengujian evaluasi tablet
diantaranya:
a. Kadar zat aktif Alumunium Hidroksida dan Magnesium Hidroksida
(dilakukan per hari pencetakan, kanan dan kiri alat @ 20 Tablet)
Kadar zat aktif Aluminium Hidroksida dalam Tablet Antasida Doen pada
ketiga batch berturut-turut adalah 106.23% (SBR 0.45%), 104.76% (SBR
0.27%) dan 103.20% (SBR 0.31%) dan kadar zat aktif Magnesium
Hidroksida pada ketiga batch berturut-turut adalah 97.95% (SBR 0.87%),
97.35% (SBR 0.30%) dan 98.23% (SBR 0.66%). Simpangan baku kadar
pada masing-masing batch kurang dari 2%, menunjukkan bahwa kadar
zat aktif yang dihasilkan seragam. Rata-rata kadar Aluminium
Hidroksida tablet dari ketiga batch adalah 104.73% ± 1.35 dengan
simpangan baku relatif 1.29% dan Magnesium Hidroksida dari ketiga
batch adalah 97.49% ± 0.68 dengan simpangan baku relatif 0.69%.
Simpangan baku kadar dari ketiga batch kurang dari 2%, menunjukan
proses pencetakan memberikan keterulangan yang baik.
b. Keseragaman sediaan (dilakukan per hari pencetakan, kanan dan kiri
alat @ 10 Tablet). Keseragaman Sediaan dibagi 2, yaitu:
i. Keragaman bobot, bila tablet mengandung zat aktif 50 mg atau
lebih yang merupakan 50% atau lebih dari bobot satuan sediaan
ii. Keseragaman kandungan, untuk tablet dengan dosis kecil yaitu <
50 mg atau < 50% dari bobot satuan sediaan.
Produk Antasida Doen memiliki kandungan zat aktif Alumunium
Hidroksida 200 mg dan Magnesium Hidroksida 200 mg sehingga
dilakukan pengujian keragaman bobot.
c. Bobot Tablet (dilakukan tiap 1 jam pencetakan, kanan dan kiri alat @ 20
Tablet)

56
48

d. Kekerasan dan Dimensi Tablet (dilakukan tiap 1 jam pencetakan,


kanan dan kiri alat @1 Tablet dan per hari pada awal dan akhir
pencetakan, kanan dan kiri alat @ 5 Tablet)
e. Friability (dilakukan per hari awal dan akhir pencetakan, kanan dan kiri
alat @ 10 Tablet), untuk mengetahui ketahanan permukaan tablet
terhadap gesekan yang dialami ketika tablet mengalami pengemasan,
penyimpanan atau pengiriman dimana persyaratan tablet dianggap rusak
bila friability > 1.00 %
f. Pemerian (dilakukan tiap 1 jam pencetakan, kanan dan kiri alat @ 1
Tablet)
Antasida Doen merupakan tablet kunyah, sehingga tidak dilakukan
pengujian Waktu Hancur (untuk melihat seberapa lama tablet dapat hancur
dalam tubuh) dan Disolusi Tablet (mengetahui banyaknya zat aktif yang
melarut dalam cairan tubuh).

9. Pengemasan Primer dan Penandaan


Pengemasan primer dengan menggunakan mesin strip dan dilakukan
penandaan meliputi Nomor Batch, Expired Date dan Harga Eceran Tertinggi
(HET) pada strip. Kemudian dilakukan uji kebocoran strip dan pemeriksaan
kelengkapan isi strip (1 strip @ 10 Tablet) lalu dihitung hasil perolehan jumlah
strip yang dihasilkan per batch.

10. Pengemasan Sekunder


Pengemasan strip dalam dus (@ 10 strip) beserta pemberian brosur dan
dikemas lagi dalam karton (@200 Dus). Dilakukan pemeriksaan kesesuaian
isi, kelengkapan dan kejelasan penandaan, segel lalu dihitung hasil perolehan
karton yang dihasilkan per batch. Hasil Perolehan dapat dilihat pada Tabel
4.1.

57
49

Tabel 4.1. Hasil Perolehan Tahap Pengemasan


Hasil Perolehan
Tahap Batch
Jumlah Persen (%)
I 80.505 strip 99.75
Pengemasan Primer II 80.625 strip 99.71
III 79.795 strip 99.38
65 karton @ 123 dus
I 99.96
+ 52 dus = 8047 dus
Pengemasan
65 Karton @ 123 Dus +
II 99.96
Sekunder 64 Dus = 8059 dus
64 Karton @ 123 Dus +
III 98.70
102 Dus = 7947 dus

4.1.6. Analisis Statistik Validasi Proses (Analisis Kemampuan Proses)


Untuk mengetahui suatu proses berjalan sebagaimana mestinya atau tidak
(menghasilkan produk yang sesuai spesifikasinya) maka digunakan Analisis
Kemampuan Proses. Kemampuan proses adalah suatu perhitungan melalui
perbandingan antara output produk dengan spesifikasi desain. Jika peralatan
mempunyai kemampuan secara konsisten memenuhi batas rentang kualitas yang
diharapkan, maka kualitas dan biaya produksi dapat optimal. Jika mesin tidak
mampu secara konsisten memenuhi tingkat kualitas yang diharapkan, maka biaya
akan menjadi tinggi karena produk cacat (reject) dan pengerjaan ulang (rework).
Penggunaan analisa kemampuan proses, antara lain:
1) Memperkirakan variasi output dari proses.
2) Mempermudah pemilihan proses produksi.
3) Menentukan pemilihan mesin.
4) Membantu program pengendalian kualitas.
Hubungan antara kemampuan proses dengan batas spesifikasi dapat
dinyatakan dengan rasio kemampuan (Cp). Penggunaan Cp dalam menilai
kemampuan proses berdasarkan asumsi bahwa rata-rata proses tepat berada di
pertengahan batas spesifikasi. Dalam kenyataan, hal ini jarang tercapai. Untuk
memperbaiki kelemahan diatas, digunakan rasio Cpk, yang menyatakan posisi

58
50

rata-rata proses dibandingkan dengan batas spesifikasi. Makin tinggi nilai Cpk
makin kecil presentasi produk yang terletak di luar batas spesifikasi. Perhitungan
Cp dan Cpk menggunakan program Minitab®. Interpretasi hasil dari Kapabilitas
proses yaitu:
1. Kapabilitas Proses Potential (Cp) :
Cp > 1.33 : Kapabilitas proses sangat baik
1.0≤ Cp ≤ 1.33 : Kapabilitas proses baik
Cp < 1.00 : Kapabilitas proses rendah / kurang baik
2. Kapabilitas Proses Real (Cpk) :
Cpk > 1.33 : Jika terjadi peningkatan variasi di masa mendatang, kecil
kemungkinannya menyimpang dari spesifikasi (proses menjadi lebih murah
untuk diproduksi)
1.1 ≤ Cpk < 1.3 : Kondisi ideal, variasi dalam batas yang diizinkan
1.0 ≤ Cpk < 1.1 : Perubahan sedikit dalam proses produksi mengakibatkan
munculnya penyimpangan.
0.9 ≤Cpk < 1.0 : Produk cacat (penyimpangan produk) kadang kala
muncul,proses harus diperiksa lebih ketat untuk mengeliminasi produk cacat.
Cpk < 0.9 : Produk cacat (penyimpangan produk) terjadi secara teratur,
proses tidak terkontrol, harus diperiksa bagaimana proses kerja, atau desain
spesifikasi perlu ditinjau ulang.

A. Hasil Validasi Pencampuran Basah


Hasil validasi menunjukkan proses pencampuran basah Tablet Antasida
Doen memberikan kandungan yang seragam di setiap bentuk granul yang
dihasilkan. Hal ini didukung dari hasil perhitungan statistik yang diperoleh dari
Keseragaman Kadar Granul zat aktif Aluminium Hidroksida dan Magnesium
Hidroksida baik untuk setiap batch maupun dari ketiga batch, nilai Cp dan Cpk
nya adalah sangat baik. Hasil Cp dan Cpk yang sangat baik menunjukkan
bahwa mesin-mesin yang digunakan memiliki kapabilitas proses yang baik
dalam menghasilkan granul yang seragam kadarnya.

59
51

B. Hasil Validasi Pencetakan Tablet


Hasil proses pencetakan Tablet Antasida Doen juga memberikan kandungan
yang seragam disetiap bentuk tablet yang dihasilkan. Hal ini didukung dari
perhitungan statistik yang diperoleh dari Keseragaman Kadar Tablet dan
Keseragaman sediaan untuk zat aktif Aluminium Hidroksida dan Magnesium
Hidroksida baik untuk setiap batch maupun dari ketiga batch nilai Cp dan Cpk
nya adalah sangat baik dan baik. Hasil Cp dan Cpk yang sangat baik dan baik
menunjukan bahwa mesin dalam hal ini Mesin Cetak memiliki kapabilitas proses
yang sangat baik dalam menghasilkan tablet yang seragam kadarnya.
Hasil pemeriksaan fisik tablet secara umum menghasilkan nilai Cp dan Cpk
yang bervariasi seperti untuk Keseragaman Kadar Granul, Keras Tablet, Tebal
Tablet dan Friability nilai Cp nya sangat baik, namun untuk Keseragaman bobot
Tablet nilai Cp nya ada yang baik dan ada yang rendah/kurang baik. Untuk nilai
Cpk untuk Keseragaman Bobot Tablet, Tebal Tablet dan Friabiliy ada yang baik,
kurang dan sangat kurang. Sedangkan untuk Keseragaman Kadar Granul dan
Keras Tablet nilai Cpk nya ada yang baik dan sangat baik. Untuk nilai Cp dan Cpk
yang masuk kategori rendah, kurang dan sangat kurang dikarenakan variasi output
atau tidak meratanya nilai yang dihasilkan dari pengujian parameter tersebut,
walaupun jika dilihat dari masing - masing nilainya masih memenuhi rentang
persyaratan. Untuk memperbaiki nilai Cp yang kurang dari 1.33, hal yang dapat
dilakukan diantaranya dengan merevisi spesifikasi produk atau mencari tau akar
permasakahan yang dihadapi oleh proses produksi dengan bantuan fishbone
diagram atau diagram Ikhigawa. Bila permasalahan terjadi akibat komponen man,
maka dapat dilakukan training rutin agar meningkatkan awareness dan skill personil produksi dan
bila terjadi akibat komponen mesin dapat dilakukan perbaikan mesin agar produk sesuai dengan
spesifikasi. Data Statistik hasil evaluasi tablet dapat dilihat pada Tabel 4.2.

60
52

Tabel 4.2. Rekapan Statistik Validasi Proses Antasida Doen


No. Batch
No. Parameter Batch 1 Batch 2 Batch 3 Per 3 Batch
Ketera Ketera Ketera Ketera Ketera Ketera Ketera Ketera
Cp Cpk Cp Cpk Cp Cpk Cp Cpk
ngan ngan ngan ngan ngan ngan ngan ngan
Keseragaman Kadar Granul
Sangat Sangat Sangat Sangat Sangat Sangat Sangat
Zat Aktif Al(OH)3 4.57 3.53 2.94 1.54 8.77 4.19 2.16 1.28 Baik
1. Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik
Zat Aktif Sangat Sangat Sangat Sangat Sangat Sangat Sangat Sangat
6.88 4.14 5.21 4.18 3.51 2.82 2.81 2.06
Mg(OH)2 Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik
Rendah/ Rendah/
Keseragaman Sangat
2. 1.26 Baik 1.21 Baik 0.73 Kurang 0.71 1.29 Baik 1.24 Baik 0.99 Kurang 0.96 Kurang
Bobot Tablet Kurang
Baik Baik
Sangat Sangat Sangat Sangat Sangat Sangat Sangat Sangat
3. Keras Tablet 2.53 1.68 2.67 1.62 2.57 1.83 2.46 1.63
Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik
Sangat Sangat Sangat Sangat Sangat Sangat Sangat Sangat
4. Tebal Tablet 1.47 0.62 1.36 0.69 1.40 0.70 1.40 0.67
Baik Kurang Baik Kurang Baik Kurang Baik Kurang
Sangat Sangat
5. Friability Tablet 10.24 0.20 - - - - - - - - - - - -
Baik Kurang
Keseragaman Kadar Tablet
Sangat Sangat Sangat Sangat Sangat Sangat Sangat
Zat Aktif Al(OH)3 6.19 2.30 10.44 4.58 9.13 6.21 2.39 1.26 Baik
7. Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik
Zat Aktif Sangat Sangat Sangat Sangat Sangat Sangat Sangat Sangat
3.47 2.76 9.84 7.24 4.52 3.73 4.75 3.73
Mg(OH)2 Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik
Keragaman Bobot
Sangat Sangat Sangat Sangat Sangat Sangat Sangat
Zat Aktif Al(OH)3 4.13 2.71 4.03 2.84 3.31 2.70 3.03 2.19 Baik
8. Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik
Zat Aktif Sangat Sangat Sangat Sangat Sangat Sangat Sangat Sangat
4.50 3.72 5.29 4.37 3.21 2.74 4.06 3.40
Mg(OH)2 Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik

61
53

4.2 Validasi Metode Analisis Meffu DMP Kaplet


4.2.1. Pendahuluan Validasi Metode Analisis
Validasi metode analisis merupakan cara untuk mengkonfirmasi prosedur
analisis, yang didasarkan pada pengujian parameter-parameter pengujian yang
digunakan sudah sesuai dengan tujuan penelitian dan memenuhi persyaratan yang
telah ditetapkan.
Pada pelaksanaan validasi metode, terdapat beberapa kategori yang
diklasifikasikan menurut elemen data yang dibutuhkan dalam proses validasi.
Oleh karena itu, penting untuk melihat tujuan dilakukannya validasi serta data
yang dibutuhkan untuk melakukan validasi terhadap suatu metode agar dapat
mengetahui jenis parameter validasi yang perlu dilakukan. Kategori dalam
parameter validasi metode analisis yang diklasifikasikan berdasarkan United
States Pharmacopeia ed 37 (2014) :
1. Kategori tipe I yaitu prosedur analitik yang digunakan untuk menghitung

senyawa mayor dari suatu obat atau senyawa aktif yang meliputi

pengawet, dalam suatu sediaan farmasetika.

2. Kategori tipe II yaitu prosedur analitik untuk menentukan kemurnian dari

substansi suatu obat atau komponen terdegradasi dalam suatu sediaan

farmasetika. Pada kategori ini, prosedur analitik terbagi menjadi dua tipe,

yaitu uji batas dan uji yang dilakukan secara kuantitatif.

3. Kategori tipe III yaitu prosedur analitik yang dilakukan untuk mengetahui

karakteristik kinerja dari suatu sediaan, meliputi kemampuan untuk

berdisolusi dan kemampuan untuk melepaskan obat.

4. Kategori tipe IV yaitu prosedur analitik yang ditujukan untuk uji

identifikasi.

Elemen data yang dibutihkan untuk Validasi Metode Analisis dapat dilihat pada
Tabel 4.3.

62
54

Tabel 4.3. Elemen Data untuk Validasi Metode Analisis (USP ed 37, 2014)

Analisis Kategori Kategori II Kategori Kategori


Karakteristik I Uji Batas Kuantitatif III IV
Performa
Akurasi Ya Ya/Tidak Ya Ya/Tidak Tidak
Presisi Ya Tidak Ya Ya Tidak
Spesifisitas Ya Ya Ya Ya/Tidak
Batas Deteksi Tidak Ya Tidak Ya/Tidak Tidak
Batas Tidak Tidak Ya Ya/Tidak Tidak
Kuantifikasi
Linearitas Ya Tidak Ya Ya/Tidak Tidak
Rentang Ya Ya/Tidak Ya Ya/Tidak Tidak
*Ya: Dipersyaratkan
Tidak: Tidak dipersyaratkan

4.2.2. Hasil Validasi Metode Analisa


Validasi metode analisa penetapan kadar dilakukan untuk menjamin bahwa
metode yang digunakan sudah valid yang berarti menjamin bahwa hasil perolehan
kadar yang didapat adalah kadar yang sebenarnya dari sampel. Validasi yang
dilakukan merupakan validasi metode penetapan kadar zat aktif Paracetamol,
Dextromethorphan HBr, Chlorphenamine Maleat, dan Phenylephrine HCl dalam
Meffu DMP Kaplet dengan metode HPLC didasarkan pada In House Method
Analysis dan Method Agilent Technologies LC and LC/MS halaman 628.
Kondisi HPLC:
Kolom : Inertsil CN-3 / L10 5 µm
Dimensi : 4.6 x 250 mm
0
Suhu Kolom : 35 C
Fase gerak : Asetonitril pro HPLC : Dapar Sitrat pH 2.6 (20:80)
Kecepatan alir : 1.0 mL/menit
Volume injeksi : 10 µL (untuk kadar)
Deteksi : UV 270 nm

63
55

1. Akurasi
Uji akurasi atau kecermatan dilakukan untuk mengetahui apakah metode
analisis yang digunakan dapat menghasilkan perolehan kembali (recovery)
yang memenuhi syarat. Dengan kata lain, uji akurasi dilakukan untuk
mengetahui kedekatan antara konsentrasi sampel yang diuji dengan
konsentrasi analit yang terdeteksi pada instrumen. Pengujian dilakukan
dengan menggunakan larutan sampel dengan kadar 80%, 100% dan 120%.
Larutan sampel dibuat dengan menambahkan sejumlah Paracetamol standar,
Chlorphenamine Maleate standar, Dextromethorphan HBr standar dan
Phenylephrine HCl standar yang ditimbang ke campuran plasebo sehingga
menghasilkan campuran kadar yang diinginkan. Plasebo yang dibuat sesuai
dengan bobot per kaplet. Kriteria penerimaan dimana nilai recovery 98-102%.
Uji Akurasi dilakukan 3 kali untuk masing-masing konsentrasi. Hasil uji
akurasi dapat dilihat pada Tabel 4.4.

Tabel. 4.4. Hasil Uji Akurasi Sampel Meffu DMP Kaplet


Konsentrasi
Larutan Konsentrasi Recovery Rata-rata
Teoritis AUC
Sampel (mg/mL) (%) recovery
(mg/mL)
Parasetamol
0.7970667 9428.4814 0.8089106 101.49
80% 0.7970667 9436.1406 0.8095744 101.57
0.7970667 9395.0225 0.8060112 101.12
100.18%
1.0040000 11676.2236 1.0036929 99.97
100% 1.0040000 11682.2422 1.0042144 100.02
SD: 0.992
1.0040000 11683.3838 1.0043134 100.03
SBR:0.99%
1.2060000 13870.9141 1.1938778 98.99
120% 1.2060000 13891.7803 1.1956860 99.14
1.2060000 13913.1455 1.1975375 99.30
Chlorphenamine Maleate
0.0031883 28.6723 0.0032519 101.99
80% 0.0031883 28.4109 0.0032225 101.07
0.0031883 28.5237 0.0032352 101.47 101.36%
0.0040160 35.9125 0.0040662 101.25
100% 0.0040160 36.0050 0.0040766 101.51 SD: 0.332
0.0040160 35.8980 0.0040645 101.21 SBR: 0.32%
0.0048240 43.2783 0.0048946 101.46
120%
0.0048240 43.0145 0.0048649 100.85

64
56

Konsentrasi
Larutan Konsentrasi Recovery Rata-rata
Teoritis AUC
Sampel (mg/mL) (%) recovery
(mg/mL)
0.0048240 43.2565 0.0048921 101.41
Dextromethorphan HBr
0.0239120 42.3049 0.023541 98.45
80% 0.0239120 42.2180 0.023493 98.25
0.0239120 42.1163 0.023436 98.01
98.42%
0.0301200 53.1765 0.029570 98.17
100% 0.0301200 53.3502 0.029666 98.49
SD: 0.280
0.0301200 53.3565 0.029670 98.50
SBR: 0.28%
0.0361800 64.1784 0.035671 98.59
120% 0.0361800 64.0203 0.035583 98.35
0.0361800 64.4349 0.035813 98.99
Phenylephrine HCl
0.0119560 52.9675 0.011890 99.45
80% 0.0119560 53.0678 0.011912 99.63
0.0119560 52.7415 0.011839 99.02
99.62%
0.0150600 66.7579 0.014967 99.38
100% 0.0150600 67.0413 0.015030 99.80
SD: 0.289
0.0150600 67.0845 0.015040 99.87
SBR: 0.29%
0.0180900 80.4716 0.018027 99.65
120% 0.0180900 80.5914 0.018054 99.80
0.0180900 80.6984 0.018078 99.93
Hasil dari uji akurasi sampel menunjukkan metode yang digunakan telah
memenuhi persyaratan akurasi dengan besaran nilai recovery untuk parameter
akurasi antara 98-102%.

2. Presisi Keterulangan
Keterulangan adalah suatu keadaan dimana hasil uji yang diperoleh
dengan menggunakan metode yang sama pada laboratorium yang sama
dikerjakan oleh operator yang sama serta peralatan yang sama pada interval
waktu yang singkat. Keterulangan dilakukan dengan menggerus 20 tablet dan
ditimbang sebanyak 10 kali seberat 60 mg kemudian diperiksa larutan sampel
sebanyak 1 kali dari masing-masing larutan. Kriteria penerimaan yaitu nilai
RSD ≤ 2.0 %. Uji keterulangan dapat dilihat pada Tabel 4.5. Dari hasil yang
didapat dengan nilai RSD < 2% menunjukkan metode yang digunakan
memenuhi persyaratan keterulangan.

65
57

Tabel 4.5. Hasil Uji Keterulangan Sampel Meffu DMP Kaplet


Konsentrasi
Konsentrasi Recovery Rata-rata
Penimbangan Teoritis AUC
(mg/mL) (%) kadar
(mg/mL)
Parasetamol
60.25 1.0041667 11621.9673 0.9989912 99.48
59.96 0.9993333 11621.2686 0.9989307 99.96
60.04 1.0006667 11614.3516 0.9983312 99.77
60.31 1.0051667 11602.4551 0.9973003 99.22 99.83%
60.04 1.0006667 11673.1240 1.0034243 100.28
59.89 0.9981667 11603.9316 0.9974283 99.93 SD: 0.257
60.27 1.0045000 11626.5811 0.9993910 99.49 SBR:0.257%
60.44 1.0073333 11603.5576 0.9973959 99.01
59.93 0.9988333 11552.6465 0.9929841 99.41
60.14 1.0023333 11619.3809 0.9987671 99.64
Chlorphenamine Maleate
60.25 0.0040167 36.0799 0.0040850 101.70
59.96 0.0039973 35.8178 0.0040555 101.46
60.04 0.0040027 35.7945 0.0040529 101.25
101.70%
60.31 0.0040207 35.8037 0.0040539 100.83
60.04 0.0040027 36.2553 0.0041047 102.55
SD: 0.522
59.89 0.0039927 35.8356 0.0040575 101.62
SBR:
60.27 0.0040180 35.9356 0.0040688 101.26 0.514%
60.44 0.0040293 36.1314 0.0040908 101.52
59.93 0.0039953 35.6419 0.0040357 101.01
60.14 0.0040093 35.9838 0.0040742 101.8544
Dextromethorphan HBr
60.25 0.0301250 53.5575 0.029781 98.86
59.96 0.0299800 53.6560 0.029836 99.52
60.04 0.0300200 54.1603 0.030115 100.32
99.07%
60.31 0.0301550 53.2915 0.029634 98.27
60.04 0.0300200 53.5269 0.029764 99.15
SD: 0.561
59.89 0.0299450 53.3229 0.029651 99.02
SBR:
60.27 0.0301350 53.4123 0.029701 98.56 0.566%
60.44 0.0302200 53.1267 0.029542 97.76
59.93 0.0299650 53.1446 0.029552 98.62
60.14 0.0300700 53.2948 0.029635 98.55
Phenylephrine HCl
60.25 0.0150625 66.7879 0.014974 99.41
59.96 0.0149900 66.8734 0.014993 100.02 99.77%
60.04 0.0150100 66.5005 0.014910 99.33
60.31 0.0150775 66.7709 0.014970 99.29 SD: 0.303
60.04 0.0150100 66.8917 0.014997 99.91 SBR:
59.89 0.0149725 66.5504 0.014921 99.65 0.304%
60.27 0.0150675 67.0009 0.015021 99.69

66
58

Konsentrasi
Konsentrasi Recovery Rata-rata
Penimbangan Teoritis AUC
(mg/mL) (%) kadar
(mg/mL)
60.44 0.0151100 66.6569 0.014944 98.90
59.93 0.0149825 66.4432 0.014897 99.43
60.14 0.0150350 67.0124 0.015024 99.93

3. Presisi Antara
Presisi antara menyatakan presisi yang dilakukan pada laboratorium yang
sama pada hari yang berbeda oleh analis yang berbeda. Tujuan parameter ini
adalah untuk memastikan pada laboratorium yang sama metode akan
menyediakan hasil yang tidak berbeda nyata. Uji presisi antara dilakukan
pada larutan sampel konsentrasi 100% sebanyak 6 kali pemeriksaan dengan
dua analis berbeda. Kriteria penerimaan dengan nilai RSD ≤ 2.0%. Hasil uji
presisi antara dapat dilihat pada Tabel 4.6.

Tabel. 4.6. Hasil Uji Presisi Antara sampel Meffu DMP Kaplet
Analis I Analis II
Konsentrasi Konsentrasi
AUC RSD AUC AUC RSD AUC
(mg/mL) (mg/mL)
Paracetamol
1.003667 11599.1748 1.0113333 11758.5342
1.0036667 11631.2041 1.0113333 11728.332
1.0036667 11646.0723 1.0113333 11721.6641
0.147 0.145
1.0036667 11644.7178 1.0113333 11725.6328
1.0036667 11636.3203 1.0113333 11712.5332
1.0036667 11633.2323 1.0113333 11712.6729
Chlorphenamine Maleate
0.0040147 35.8453 0.0040453 35.7318
0.0040147 35.7565 0.0040453 35.5175
0.0040147 36.0173 0.0040453 35.6561
0.248 0.202
0.0040147 35.8649 0.0040453 35.5838
0.0040147 35.8104 0.0040453 35.6083
0.0040147 35.9014 0.0040453 35.6163
Dextromethorphan HBr
0.0301100 53.5237 0.0303400 55.5002
0.0301100 53.7089 0.0303400 55.1984
0.0301100 53.8936 0.260 0.0303400 55.3558 0.286
0.0301100 53.8674 0.0303400 55.5423
0.0301100 53.8644 0.0303400 55.5045

67
59

Analis I Analis II
0.0301100 53.7793 0.0303400 55.6494
Phenylephrine HCl
0.0150550 66.6370 0.0151700 66.4929
0.0150550 66.7751 0.0151700 66.5331
0.0150550 66.6320 0.0151700 66.4484
0.165 0.043
0.0150550 66.8928 0.0151700 66.5068
0.0150550 66.8490 0.0151700 66.4789
0.0150550 66.8190 0.0151700 66.5018

4. Linearitas dan Rentang


Uji linearitas bertujuan untuk mengetahui apakah dua variabel mempunyai
hubungan yang linear atau tidak secara signifikan. Uji linearitas dilakukan
dengan menggunakan larutan standar pada konsentrasi 70%, 80%, 90%,
100%, 110%, 120% dan 130% dimana kriteria penerimaan dengan nilai r ≥
0,999. Hasil analisis variasi konsentrasi yang telah dibuat kemudian diplotkan
dalam suatu kurva, dengan sumbu x merupakan konsentrasi (mg/mL) dan
sumbu y merupakan luas daerah di bawah puncak pola kromatogram (area
under curve). Hasil uji linearitas dapat dilihat pada Tabel 4.7.

Tabel 4.7. Hasil Uji Linearitas Standar Meffu DMP Kaplet


Parasetamol Chlorphenamine Maleate
Larutan Konsentrasi Larutan Konsentrasi
AUC AUC
baku (mg/mL) baku (mg/mL)
0% 0.0000000 0.0000 0% 0.0000000 0.0000
70% 0.7084000 8318.1426 70% 0.0029064 25.2603
80% 0.8116000 9557.3477 80% 0.0033216 29.0561
90% 0.9080000 10686.4590 90% 0.0037368 33.0888
100% 1.0096000 11767.3574 100% 0.0041520 36.4596
110% 1.1092000 12886.8398 110% 0.0045672 40.3646
120% 1.2128000 14016.3184 120% 0.0049824 44.3787
130% 1.3092000 15090.5420 130% 0.0053976 47.8808
Y = 11539.77X + 93.83864 Y = 8891.425089X – 0.24143485
Dextromethorphan HBr Phenylephrine HCl
Larutan Konsentrasi Larutan Konsentrasi
AUC AUC
baku (mg/mL) baku (mg/mL)
0% 0.0000000 0.0000 0% 0.0000000 0.0000
70% 0.0210532 37.5628 70% 0.0104916 46.2031
80% 0.0240608 43.1614 80% 0.0119904 53.0456
90% 0.0270684 48.8708 90% 0.0134892 60.6714

68
60

100% 0.0300760 53.767 100% 0.0149880 66.2656


110% 0.0330836 59.4666 110% 0.0164868 73.3646
120% 0.0360912 65.2483 120% 0.0179856 81.1067
130% 0.0390988 70.4045 130% 0.0194844 86.9933
Y = 1803.213821X – 0.14410152 Y = 4481.212X – 0.31257

Kurva kalibrasi untuk masing-masing zat dapat dilihat pada lampiran 1. Dari hasil
2
uji liniearitas didapat nilai r untuk masing-masing zat yaitu Parasetamol =
0.9998333, Chorphenamine Maleate = 0.999871, Dextromethorphan HBr =
0.9999499 dan Phenylephrine HCl = 0.999824 sehingga uji linearitas memenuhi
persyaratan yang ditetapkan.

5. Robustness/Kekuatan
Robustness merupakan ukuran kemampuan metode untuk tak terpengaruh
dan bertahan terhadap pengaruh kecil. Uji kekuatan dilakukan dengan
menguji larutan standar dan sampel pada konsentrasi 100% dengan
mengganti kondisi HPLC yang dapat mempengaruhi hasil analisis seperti
komposisi fase gerak atau laju alir yang digunakan. Uji ini untuk mengetahui
apakah metode masih dapat digunakan bila terjadi perubahan dalam kondisi
yang digunakan. Hasil uji kekuatan larutan standar dapat dilihat pada Tabel
4.8 dan Hasil uji kekuatan larutan sampel dapat dilihat pada Tabel 4.9. Warna
merah pada tabel menandakan hasil masuk dalam rentang persyaratan.
Kriteria penerimaan yaitu nilai recovery antara 98-102%. Perubahan kondisi
yang dilakukan yaitu:
a. Komposisi fase gerak
asetonitril : dapar sitrat pH 2.6 (15:85) dan asetonitril : dapar sitrat pH
2.6 (25:75)
b. Laju alir 1.5 ml/menit dan 2.0 ml/menit.

Tabel 4.8. Hasil Uji Kekuatan Larutan Standar Meffu DMP


Konsentrasi Konsentrasi
Kondisi AUC Recovery (%)
Teoritis (mg/mL) (mg/mL)
Parasetamol
Fase gerak 1.0044000 11423.4766 0.9817906 97.749

69
61

Konsentrasi Konsentrasi
Kondisi AUC Recovery (%)
Teoritis (mg/mL) (mg/mL)
(15:85) 1.0044000 11419.8564 0.9814769 97.718
1.0044000 11390.3359 0.9789188 97.463
1.0044000 11820.1465 1.0161648 101.171
Fase gerak
1.0044000 11826.0039 1.0166724 101.222
(25:75)
1.0044000 11830.0352 1.0170217 101.257
1.0044000 9151.3887 1.029265 102.476
Laju alir
1.0044000 9212.4863 1.036136 103.160
1.5 ml/min
1.0044000 9256.4053 1.041076 103.652
1.0044000 8628.0117 0.7395445 73.630
Laju alir
1.0044000 8668.8496 0.7430834 73.983
2.0 ml/min
1.0044000 8680.0049 0.7440500 74.079
Chlorphenamine Maleate
0.0041000 41.1978 0.004661 113.673
Fase gerak
0.0041000 41.3709 0.004680 114.148
(15:85)
0.0041000 41.3966 0.004683 114.218
0.0041000 41.0934 0.004649 113.386
Fase gerak
0.0041000 40.8198 0.004618 112.636
(25:75)
0.0041000 40.8179 0.004618 112.631
0.0041000 26.8536 0.003047 76.183
Laju alir
0.0041000 26.9471 0.003058 76.446
1.5 ml/min
0.0041000 27.0815 0.003073 76.824
0.0041000 25.1942 0.002861 71.517
Laju alir
0.0041000 25.1545 0.002856 71.406
2.0 ml/min
0.0041000 25.2847 0.002871 71.772
Dextramethophan HBr
0.0301200 55.2537 0.030722 101.998
Fase gerak
0.0301200 55.2004 0.030692 101.900
(15:85)
0.0301200 54.9302 0.030542 101.402
0.0301200 92.1723 0.051195 169.972
Fase gerak
0.0301200 91.7167 0.050943 169.133
(25:75)
0.0301200 102.4341 0.056886 188.866
0.0301200 41.6948 0.023202 77.033
Laju alir
0.0301200 41.7769 0.023248 77.184
1.5 ml/min
0.0301200 42.2361 0.023503 78.030
0.0301200 38.6062 0.021490 71.347
Laju alir
0.0301200 38.7728 0.021582 71.653
2.0 ml/min
0.0301200 38.9613 0.021687 72.000
Phenylephrine HCl
0.0151440 66.1926 0.014841 97.998
Fase gerak
0.0151440 66.0882 0.014818 97.845
(15:85)
0.0151440 65.5350 0.014694 97.029
0.0151440 67.7710 0.015193 100.324
Fase gerak
0.0151440 67.8217 0.015204 100.399
(25:75)
0.0151440 67.8159 0.015203 100.390

70
62

Konsentrasi Konsentrasi
Kondisi AUC Recovery (%)
Teoritis (mg/mL) (mg/mL)
0.0151440 53.3342 0.011971 79.051
Laju alir
1.5 ml/min 0.0151440 54.8582 0.012312 81.297
0.0151440 54.5646 0.012246 80.864
0.0151440 51.2871 0.011515 76.035
Laju alir
2.0 ml/min 0.0151440 50.0853 0.011246 74.264
0.0151440 51.8941 0.011650 76.929

Tabel 4.9. Hasil Uji Kekuatan Larutan Sampel Meffu DMP Kaplet
Konsentrasi Konsentrasi
Kondisi AUC Recovery (%)
Teoritis (mg/mL) (mg/mL)
Parasetamol
1.0036667 11401.1416 0.9798551 97.628
Fase gerak
1.0036667 11403.625 0.9800703 97.649
(15:85)
1.0036667 11389.4141 0.9788389 97.526
1.0036667 11845.9834 1.0184037 101.468
Fase gerak
1.0036667 11829.2861 1.0169568 101.324
(25:75)
1.0036667 11837.4043 1.0176603 101.394
1.0036667 9284.2793 1.044211 104.040
Laju alir
1.0036667 9293.5000 1.045248 104.143
1.5 ml/min
1.0036667 9301.2578 1.046120 104.230
1.0036667 8728.1182 0.7482194 74.549
Laju alir
1.0036667 8749.4492 0.7500679 74.733
2.0 ml/min
1.0036667 8772.6846 0.7520814 74.933
Chlorphenamine Maleate
0.0040147 41.3024 0.004672 116.382
Fase gerak
0.0040147 41.1549 0.004656 115.969
(15:85)
0.0040147 41.2999 0.004672 116.375
0.0040147 40.7779 0.004613 114.913
Fase gerak
0.0040147 40.8255 0.004619 115.046
(25:75)
0.0040147 40.8555 0.004622 115.130
0.0040147 26.9979 0.003064 76.309
Laju alir
0.0040147 26.9775 0.003061 76.252
1.5 ml/min
0.0040147 27.0372 0.003068 76.419
0.0040147 25.2289 0.002865 71.353
Laju alir
0.0040147 25.2905 0.002872 71.526
2.0 ml/min
0.0040147 25.3979 0.002884 71.827
Dextramethophan HBr
0.0301100 54.6760 0.030401 101.338
Fase gerak
0.0301100 54.7007 0.030415 101.383
(15:85)
0.0301100 54.2823 0.030183 100.610
0.0301100 91.3881 0.050761 169.202
Fase gerak
0.0301100 93.3805 0.051866 172.885
(25:75)
0.0301100 91.6428 0.050902 169.673

71
63

Konsentrasi Konsentrasi
Kondisi AUC Recovery (%)
Teoritis (mg/mL) (mg/mL)
0.0301100 41.9278 0.023332 77.772
Laju alir
0.0301100 42.0393 0.023393 77.978
1.5 ml/min
0.0301100 42.0667 0.023409 78.029
0.0301100 44.0034 0.024483 81.609
Laju alir
0.0301100 43.2212 0.024049 80.163
2.0 ml/min
0.0301100 39.1555 0.021794 72.647
Phenylephrine HCl
0.0150550 65.1623 0.014611 97.051
Fase gerak
0.0150550 65.792 0.014751 97.984
(15:85)
0.0150550 65.1668 0.014612 97.057
0.0150550 67.3900 0.015108 100.353
Fase gerak
0.0150550 67.4114 0.015113 100.384
(25:75)
0.0150550 67.4785 0.015128 100.484
0.0150550 54.1940 0.012163 80.793
Laju alir
0.0150550 53.8233 0.012081 80.243
1.5 ml/min
0.0150550 54.0357 0.012128 80.558
0.0150550 52.6852 0.011827 78.556
Laju alir
0.0150550 52.0458 0.011684 77.609
2.0 ml/min
0.0150550 50.1853 0.011269 74.851

Dari hasil pengujian kekuatan, tidak ada kondisi yang memenuhi persyaratan
recovery untuk ke-empat zat aktif baik pada larutan standar maupun sampel. Hal
ini menunjukkan bahwa metode peka terhadap variasi kondisi analisis sehingga
kondisi tersebut harus dikendalikan dan bila terjadi perubahan kondisi pada
metode yang digunakan maka hasil yang didapat tidak dapat diterima.

6. Ruggedness/ketangguhan
Ruggedness dilakukan dengan menganalisis larutan sampel 100% yang
dianalisis selama 5 hari berturut-turut. Kriteria penerimaan dengan melihat
RSD kadar yaitu ≤ 2.0 %. Analisis ruggedness untuk mengetahui hingga
berapa hari metode masih memberikan hasil yang diinginkan dengan
menggunakan larutan sampel yang sama. Hasil uji ruggedness dapat dilihat
pada Tabel 4.10. Warna merah pada tabel menandakan hasil masuk dalam
rentang persyaratan.

72
64

Tabel 4.10. Hasil Uji Ruggedness Larutan Sampel Meffu DMP Kaplet
Hari 1 Hari 2 Hari 3 Hari 4 Hari 5
Parasetamol
AUC 11699.116 11719.498 11942.633 11895.689 11804.414
Konsentrasi
1.005677 1.007443 1.026779 1.022711 1.014801
(mg/ml)
Recovery
100.487 100.664 102.596 102.189 101.399
(%)
Chlorphenamine Maleate
AUC 35.1107 34.8084 35.3236 35.1534 34.9318
Konsentrasi
0.003976 0.003942 0.004000 0.003981 0.003956
(mg/ml)
Recovery
99.599 98.737 100.199 99.719 99.095
(%)
Dextromethorphan HBr
AUC 53.8312 53.3278 53.6159 53.1534 53.0799
Konsentrasi
0.029933 0.029654 0.029813 0.029557 0.029516
(mg/ml)
Recovery
99.803 98.872 99.378 98.549 98.414
(%)
Phenylephrine HCl
AUC 65.9777 65.6714 74.7864 73.9922 78.135
Konsentrasi
0.014793 0.014725 0.016759 0.016581 0.017506
(mg/ml)
Recovery
98.699 98.242 111.814 110.631 116.799
(%)

Hasil dari pengujian Ruggedness pemeriksaan kadar Paracetamol,


Chlorphenamine Maleate, Dextromethorphan HBr dan Phenylephrine HCl
pada Meffu DMP Kaplet yang divalidasi memenuhi persyaratan untuk
pengujian dua hari.

7. Spesifisitas/Selektifitas
Uji spesifisitas dilakukan dengan tujuan untuk melihat kemampuan
metode analisis yang digunakan untuk membedakan antara zat atau senyawa
yang dianalisis dengan senyawa lainnya yang terdapat dalam matriks sampel.
Pengujian dilakukan dengan melihat kromatogram yang dihasilkan pada
pengukuran larutan standar, larutan sampel, blanko pelarut dan plasebo. Hasil
uji spesifisitas dapat dilihat pada Tabel 4.11.

73
65

Tabel 4.11. Hasil Uji Spesifikasi Meffu DMP Kaplet


AUC
Pengujian Chlorphenamin Dextromethor Phenylephrine
Paracetamol
e Maleate phan HBr HCl
Larutan
Standar 11756.0361 35.8630 54.0583 66.2672
100%
Larutan
Sampel 11774.9346 35.5987 53.9132 66.3077
100%
Plasebo -
Blanko/
-
Pelarut

Dari hasil pengujian spesifisitas disimpulkan bahwa metode cukup spesifik


dapat memisahkan zat aktif Paracetamol, Chlorphenamine Maleate,
Dextromethorphan HBr dan Phenylephrine HCl dari zat tambahan.

8. Batas deteksi (LOD) dan Batas Kuantitasi (LOQ)


Batas deteksi adalah jumlah terkecil analit dalam sampel yang dapat
dideteksi yang masih memberikan respon signifikan dibandingkan dengan
blanko. Batas deteksi merupakan parameter uji batas. Batas kuantitasi diartikan
sebagai kuantitas terkecil analit dalam sampel yang masih dapat memenuhi
kriteria cermat dan seksama. Hasil uji batas deteksi dan batas kuantifikasi
dapat dilihat pada Tabel 4.12.

Tabel 4.12. Hasil Uji Batas Deteksi dan Kuantifikasi Larutan Standar Meffu DMP
X Y Yi Y-Yi (Y-Yi)2 LOD LOQ
Parasetamol
0 0 93.83864 -93.8386 8805.6904
0.7084 8318.1426 8268.6117 49.53089 2453.3093
0.8116 9557.3477 9459.5160 97.83173 9571.047 2.10 x
0.9080 10686.460 10571.950 114.5092 13112.357 0.0242 10-5
mg/ml
1.0096 11767.357 11744.390 22.96697 527.48162 mg/mL
1.1092 12886.840 12893.751 -6.91172 47.771929
1.2128 14016.318 14089.272 -72.9533 5322.1834

74
66

X Y Yi Y-Yi (Y-Yi)2 LOD LOQ


1.3092 15090.542 15201.70 -111.163 12357.329
Chlorphenamine Maleate
0 0 -0.241435 0.241435 0.0582908
0.002906 25.2603 25.600603 -0.34030 0.1158061
0.003322 29.0561 29.292323 -0.23622 0.0558012
8.783 9.828 x
0.003737 33.0888 32.984042 0.104758
0.0109741
x 10-5 10-8
0.004152 36.4596 36.675762 -0.21616
0.0467261
mg/ml mg/mL
0.004567 40.3646 40.367482 -0.00288 8.3049E-06
0.004982 44.3787 44.05920 0.319499 0.1020793
0.005398 47.8808 47.750921 0.129879 0.0168685
Dextromethorphan HBr
0 0 -0.144101 0.144101 0.0207652
0.021053 37.5628 37.819320 -0.25652 0.0658024
0.024061 43.1614 43.242666 -0.08127 0.0066041
0.0003 2.198 x
0.027068 48.8708 48.666011 0.204788 0.0419383
96 10-6
0.030076 53.767 54.089357 -0.32236 0.1039143
mg/ml mg/mL
0.033084 59.4666 59.512703 -0.04610 0.0021255
0.036091 65.2483 64.936049 0.312251 0.0975006
0.039099 70.4045 70.359395 0.045105 0.0020345
Phenylephrine HCl
0 0 -0.31257 0.31257 0.0977
0.010492 46.2031 46.702514 -0.49941 0.2494142
0.011990 53.0456 53.418954 -0.37335 0.1393935
0.0003 8.261 x
0.013489 60.6714 60.135395 0.536005 0.2873015
0.014988 66.2656 66.851835 -0.58623 0.343672 70 10-7
mg/ml mg/mL
0.016487 73.3646 73.568276 -0.20368 0.0414839
0.017986 81.1067 80.284717 0.821983 0.6756568
0.019484 86.9933 87.001157 -0.00786 6.173E-05
Keterangan: X = Konsentrasi zat; Y = AUC; Yi = nilai y bila dimasukkan ke
dalam persamaan garis untuk masing-masing zat

4.2.3. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisa yang diperoleh, metode analisa untuk penetapan
kadar Paracetamol, Chlorphenamine Maleate, Dextromethorphan HBr dan
Phenylephrine HCl pada Meffu DMP Kaplet memenuhi persyaratan parameter
validasi dan dinyatakan telah valid.

75
DAFTAR PUSTAKA

Badan Pengawas Obat dan Makanan RI. 2012. Cara Pembuatan Obat yang Baik.
Jakarta: Badan Pengawas Obat dan Makanan RI.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2009. Undang-undang Republik
Indonesia No.36 Tahun 2009 Tentan Tenaga Kesehatan. Departemen
Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Surat Keputusan Menteri Kesehatan
No.1799/Menkes/XII/2010 tentang Industri Farmasi. Jakarta: Kementerian
Kesehatan RI.
Priyambodo B. 2007. Manajemen Farmasi Industri. Global Pustaka Utama.
Yogyakarta.

67

76
LAMPIRAN 1
STRUKTUR ORGANISASI PT. TRIMAN

Drs. Iswanto Wangsaputra, Apt


Direktur utama

James Setia Darma


Direktur Operasional

Ikhsan Rambia, S.Si., Apt


Plant Manager

Luly G., S.Farm, Apt Aidah, S.Farm, Apt Linda J.S, S.Farm, Apt Diana E.P, S.Farm, Apt Innarti S, S.Farm, Apt Amir S, A.Md Ujang Supriatno Usep Gunawan
Kepala Bagian Kepala Bagian Kepala Bagian Kepala Bagian Kepala Bagian Kepala Bagian Kepala Bagian Kepala Bagian
QA Produksi QC R&D PPIC Registrasi Teknik Umum & Personalia

68

77
LAMPIRAN 2
ALUR PROSES PRODUKSI

Pemeriksaan Ruang Sampling Bahan


Barang
Dokumen Karantina Baku dan Bahan

Released Rejected*

Penyiapan Gudang PBF


Bahan Baku Bahan Baku
Serah Terima
Bahan PPIC
Penimbangan

Pencampuran
Kadar Air 3 Titik
Basah
Kadar Air dan
kadar zat aktif Pencampuran Released Rejected*
Kering
Kekerasan,
Setiap 60
Rejected* Released Bobot dan
menit Ketebalan
IPC
Awal dan
Friabilitas
Pencetakan tengah danWH

Bobot dan Fisik


Operator
setiap 30 menit

Kadar, Keseragaman
Sampling
Sediaan dan Disolusi

Released Rejected*

Ruang Produk Ruahan


Keterangan: * = dilakukan investigasi

69

78
Produk Ruahan

Uji Kebocoran
Pengemasan Primer IPC
Setiap 60 menit

Released Rejected*

Penandaan dan IPC Pengemasan


Indentitas

Rejected* Released

Penandaan, Indentitas
Pemeriksaan QA
dan Catatan Pengolahan

Released Rejected*

Gudang Obat Jadi

Pemasaran

70

79
LAMPIRAN 3
ALUR PENERIMAAN BARANG PPIC

Barang Masuk

Bahan

Ruang Karantina

Bahan Kemas

Sampling Dilakukan Pengujian Oleh


Bagian Quality Control (QC)

Kembalikan Reject Release Area Release


ke suplier
Penanganan
Bahan Awal
Reject

- PPIC menyiapkan
Batch Record
- Diberi No. Batch, Expired
Pengeluaran Bahan
date, Manufacturing date,
Baku, Bahan Kemas
Harga eceran tertinggi
- Menyiapkan Form
Pengeluaran bahan
baku dan bahan kemas
- Form tersebut diberi Yang telah release
nomor analisa oleh QC

71

80
LAMPIRAN 4
ALUR PENYIAPAN BAHAN AWAL UNTUK PRODUKSI

Form pengeluaran
Diperiksa dan bahan baku
ditandatangani
kepala bagian
PPIC, Produksi,
QC dan Plant
Manager
Dikembalikan
Pelaksana gudang
kepada bagian
mempersiapkan
PPIC
bahan baku dan
bahan kemas

Yang telah
diluluskan oleh
QC :
- Kesesuaian Diserahkan pada Kelebihan bahan
fisik bagian penimbangan baku
- Nomor analisa
- Jumlah
- identitas bahan
- Status Release

Form pengeluaran
bahan baku dan Bahan baku: 3
bahan kemas rangkap
ditandatangani oleh Bahan kemas: 2
petigas gudang yang rangkap
menyerahkan barang.

Bagian barang yang


menerima bahan
baku
Bagian kemas yang
menerima bahan

72
LAMPIRAN 5
ALUR PEMBUATAN PRODUK BARU ATAU PENGEMBANGAN
PRODUK

FRPB Surat Permintaan


Permintaan Formulir Rancangan Bahan ke Bagian
Produk Baru Produk Baru Pembelian

FIP Studi Literatur Formula Ketersediaan Bahan


Formulir Informasi dan Metode Analisis (zat aktif, eksipien
Produk dan reagen)

Pengujian Parameter Trial Skala


Fisik (bobot, ketebalan, Laboratorium
diameter, kekerasan,
keregasan, kerapuhan
dan waktu hancur) Formula Terpilih

Pengujian Parameter Fisik, Validasi Proses dan


Trial Skala Validasi Metode Analisis
Kadar, Disolusi dan
Stabilitas
Protokol VP, Protokol
Pra-registrasi
VMA, CPB Skala Pilot,
Spesifikasi Bahan
Laporan VP, Awal, Spesifikasi
Laporan VMA, Registrasi
Produk Jadi, CoA
CoA Produk Skala Bahan Awal
Pilot
Approveable

Validasi Proses
Pengujian Parameter Fisik, Produksi 3
Kadar, Disolusi dan Bets
Stabilitas Skala Produksi

Nomor Izin
Edar

73