Anda di halaman 1dari 3

TELAAH KRITIS JURNAL

Tingkat Aktivitas Fisik Pasien Stroke yang Diopname di Unit Rehabilitasi

PICO

a. Patient of Problem
Rekomendasi pada penelitian ini tersedia untuk promosi aktivitas fisik (PA)
untuk menjaga kesehatan dan mengurangi kambuh setelah stroke. Literatur pendukung
bahwa setidaknya 30 menit dari PA dilakukan per hari dalam sesi yang berlangsung 10
menit berturut-turut. PA harus dimulai lebih awal setelah stroke terjadi jika subjek
parameter medis stabil. Namun, rekomendasi ini mungkin tidak layak untuk pasien
yang berada di rumah tanpa pengawasan yang berkualitas. Situasi ini menyebabkan
kinerja kurang optimal dari berbagai aspek PA, Singkatnya, ada kesenjangan antara apa
yang dicapai dengan selama rawat inap dengan bantuan profesional kesehatan dan apa
yang benar-benar dilakukan orang di rumah.

b. Intervention
Semua pasien di unit PRM Rumah Sakit Jean Rebeyrol di Limoges, Prancis,
yang menderita stroke kurang dari 6 bulan sebelumnya (kisaran, 9-171 hari)
dimasukkan selama periode 7 bulan. setiap pasien diberitahu tentang prosedur
penelitian, dan setelah periode diskusi dan refleksi, memberikan persetujuan tertulis
Pada saat waktu PA, yang diperkirakan menggunakan accelerometer triaksial,
merupakan pemakaian alat berupa armband mencapai keandalan pengukuran yang baik
dibandingkan dengan pengukuran oksigen menggunakan penganalisis gas (r = 0,787; r
= 0,715 [24]). dan dicatat dengan karakteristik pasien (usia, tinggi badan, berat badan,
jenis kelamin, status merokok, dan tangan kanan atau kiri). Aktivitas dicatat sebagai
pengeluaran energi (dalam kkal) dan durasi PA (dalam menit) dan dihitung
menggunakan algoritma perangkat lunak sensor. Empat tingkat aktivitas diidentifikasi:
aktivitas menetap (<3 MET), aktivitas sedang (antara 3 dan 6 MET), aktivitas yang kuat
(antara 6 dan 9 MET) dan aktivitas yang sangat kuat (> 9 MET). PA mencakup semua
kegiatan > 3 MET. setiap tanggapan berkisar dari 1 hingga 5, memberikan skor global
antara 8 dan 40. 4 pertanyaan pertama berhubungan dengan aktivitas harian dan 4
pertanyaan lainnya berhubungan dengan kegiatan olahraga dan rekreasi. Skor akhir
memungkinkan kami untuk menentukan apakah pasien tidak aktif (<16), aktif (>16)
atau sangat aktif (>32) sebelum kejadian stroke. Skor ini juga memungkinkan kami
untuk mempelajari korelasi potensial antara aktivitas sebelum dan selama rawat inap.

Untuk semua pasien rawat inap, tingkat otonomi selama kegiatan kehidupan
sehari-hari setelah stroke terjadi dihitung dengan menggunakan Indeks Barthel (BI)
pada skala 0-100, dengan 100 mewakili otonomi lengkap. Seorang ahli medis yang
berpengalaman menentukan skor BI pada inklusi studi dan setelah dipulangkan. Kami
juga menyatakan tingkat otonomi pasien pada dimasukkannya penelitian sebagai
persentase dari BI ditentukan pada akhir rawat inap, menggunakan rumus berikut:% BI
¼ (BI pada saat pendaftaran / BI saat pulang) x 100.

Pasien diinstruksikan untuk mengenakan armband pada lengan nonparetik


selama 2 hari berturut-turut. Alat dipasangkan di bagian atas lengan dan diposisikan
pada otot trisep pada pagi hari pertama sebelum jam 9 pagi dan keesokan harinya
setelah jam 4:30 sore. Kami menganalisis pada catatan yang diperoleh antara jam 9 pagi
dan 4:30 sore pada hari yang sama, yang merupakan waktu ketika kegiatan rehabilitasi
harian. Protokol ini memberi kami 2 catatan harian per pasien yang mencakup masing-
masing 450 menit. Perangkat menyala sendiri secara otomatis ketika bersentuhan
dengan kulit pasien.

c. Compare
Dalam penelitian ini tidak ada membandikan

d. Outcome
 Skor PA kuesioner aktivitas analisis tingkat populasi skor aktivitas pra stroke
secara signifikan berkorelasi (r = 0,345, P <.0001)
 durasi PA selama rawat inap, PA juga berkorelasi dengan indeks massa tubuh
(BMI) (r = -0,440, P <.0001), waktu untuk rilis rumah sakit (r = -0,183, P = 0,0194)
dan skor BI (r = 0,284, P = .0002)
 Dalam populasi khusus mencapai Rekomendasi PA selama rawat inap, secara
signifikan berkorelasi dengan BMI (r = -0.272, P = .0483) dan skor aktivitas
prestroke (r = 0,465, P = 0,002)
VIA

a. Validity
1. Metode Penelitian
Metode penelitian berupa penelitian cross-sectional.
2. Subjek penelitian
Semua pasien (N = 88) yang menderita stroke dalam 6 bulan sebelumnya
dimasukkan selama 7 bulan.
3. Tujuan Penelitian
Untuk menentukan tingkat aktivitas fisik pasien rawat inap yang telah mengalami
stroke untuk mengetahui apakah mereka mencapai 30 menit aktivitas fisik yang
direkomendasikan per hari (setara dengan 142 kkal) selama sesi 10 menit berturut-
turut
4. Analisa Statistik
Penelitian menggunakkan Uji korelasi sederhana Fisher dan tes nonparametrik
Mann-Whitney.

b. Important

Dari Penelitian ini percaya bahwa menignkatkan intensitas sesi terapi untuk melatih
pergerakan pasien sangatlah penting. Rehabilitasi stroke adalah terapi yang intensif dan
salah satu yang masuh menjadi perdebatan yang beum terselesaikan mengenai kualitas
dan kuantitas. Bukti menunjukan bahwa intensitas terapi sangatlah penting. Intensitas
memiliki definisis yang berbeda – beda untuk setiap penulis literatur. Orientasi latihan
sebagai tugas yag spesifik harus merespon 2 tujuan ; kualitas dan juga intensitas yang
secara spesifik dapat mempengaruhi adaptasi metabolik. Dalam hal ini, intensitas dapat
didefinisikan sebagai pengulngan dari suatu aktivitas. Penelitian sebelumnya oleh
Lohse dkk, menyimpulkan bahwa intensitas dapat didefinisikan sebagai pengulangan
dari suatu gerakan.

c. Applicabality
Hasil penelitian ini dapat diterapkan pada pasien penderita stroke di RSUD
Raden Mattaher Provinsi Jambi khususnya di bagian neurologi untuk dilakukan
pengamatan terhadap aktifitas fisik para penderita stroke.