Anda di halaman 1dari 13

ANATOMI SISTEM URINARIA HEWAN VERTEBRATA

LAPORAN

UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH

Struktur Perkembangan Hewan 1

Yang dibina oleh Sofia Ery Rahayu, S.Pd, M.Si

Anggota kelompok :

1. Ainun Nadzifatun A. (160342606232)


2. Rima Girinita S. (160342606230)
3. Sumardi (160342606238)
4. Yulia Dwi A. (160342606269)
Oleh kelompok 4
Offering H

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI

APRIL 2017
I. Tujuan Praktikum

Untuk mengamati sistem urinaria pada hewan vertebrata (Pisces, amphibi, reptile,
aves dan mamalia).
II. Dasar Teori
Tubuh melakukan begitu banyak proses metabolisme, seperti pencernaan,
respirasi dan sebagainya. Proses-proses seperti itu pada akhirnya akan
menghasilkan limbah yang tidak dikeluarkan jika tidak dikeluarkan akan
menyebabkan penyakit. Limbah yang dihasilkan beraneka ragam bentuknya,mulai
dari gas, cair, sampai padat. Untuk itu, kita memerlukan organ pengeluaran yang
berbeda-beda pula. Proses pembebasan sisa-sisa metabolisme dari tubuh disebut
ekskresi. Kelebihan air, gas, garam-garam dan material-material organik
(termasuk sisa-sisa metabolisme) diekskresikan keluar tetapi substan yang
esensial untuk fungsi-fungsi tubuh disimpan. Material-material yang dikeluarkan
ini biasanya terdapat dalam bentuk terlarut dan ekskresinya melalui suatu proses
filterisasi selektif. Alat-alat tubuh yang berfungsi dalam hal ekskresi secara
bersama-sama disebut sistem ekskresi. Manusia dan hewan memiliki sistem
ekskresi yang berbeda (Budiyanto, 2013).

Sistem ekskresi disebut juga sistem pembuangan atau sistem urinaria. Pada
vertebrata, sistem ini terdiri atas sepasang ginjal dan saluran pembuangan yang
berupa saluran urine dalam ureter, kantung urine (vesika urinaria) yang berfungsi
untuk menampung urine sementara dan saluran urine luar (uretra).

Ekskresi merupakan proses pengeluaran zat sisa metabolisme tubuh,seperti


CO2, H2O, NH3, zat warna empedu dan asam urat. Zat hasil metabolisme yang
tidak diperlukan oleh tubuh akan dikeluarkan melalui alat ekskresi. Alat ekskresi
yang dimiliki oleh mahluk hidup berbeda-beda, semakin tinggi tingkatan mahluk
hidup, semakin kompleks alat ekskresinya. Beberapa istilah yang erat kaitannya
dengan ekskresi (Sugiarti, 2010).
Sistem urinaria terdiri dari ginjal, ureter, kantung kemih dan uretra. Saat
mengeluarkan urine, ginjal menggunakan air untuk produk limbbah metabolisme
(Ernis,2009:75).
Ginjal vertebrata dan saluran pembuangan vertebrata terbentuk dari
mesoderm intermedier atau mesomer yang memanjang di sebelah dorsal selom.
Mesoderm intermedier yang membentuk ginjal disebut mesoderm nefrogenik.
Secara evolusi pembentukan ginjal terjadi melalui urutan pronefros, mesonefros,
dan metanefros. Duktus pengeluaran pada pronefros dan mesonefros adalah
duktus pronefros dan duktus mesonefros, sedangkan pada metanefros adalah
ureter.
Alat ekskresi yang utama pada vertebrata adalah ginjal. Pada prinsipnya,
terdapat beberapa ginjal pada vertebrata, yaitu pronefros, opistonefros, mesonefro
s,dan metanefros. Pronefros adalah ginjal yang berkembang pada fase embrio atau
larva. Selanjutnya pronefros akan berubah menjadi mesonefros, kemudian setelah
hewan dewasa berubah lagi menjadi metanefros. Opistonefros terdapat pada
kelompok hewan Anamniota (Cyclostoma, Pisces, Amphibi), sedangkan
mesonefros terdapat pada fase embrio Amniota (Repti, Aves, dan
Manusia). Namun, setelah dewasa mesonefros itu berubah menjadi metanefros (A
mbeng,2012).

Alat dan Bahan


Alat Bahan
1. Pinset 1. Kelinci
2. Gunting 2. Katak
3. Papan bedah 3. Merpati
4. Scapel 4. Kadal
5. Jarum sonde 5. Ikan
6. Pisau 7. Obat bius
8. Kapas

III. Prosedur
1. Ikan
Disembelih dengan pisau
Dibersihkan sisiknya
Digunting kulit dan dagingnya pada salah satu sisinya
Dibersihkan darahnya dengan kapas
Diamati ginjalnya
2. Katak
Dilakukan single pith untuk melemahkan saraf katak dengan
menancapkan jarum sonde ke bagian kepalanya yang terdapat
sarafnya
Digunting kulit dan dagingnya pada bagian sekitar perut hingga
bawah lehernya
Diamati ginjalnya
3. Kadal
Dibius dengan obat bius
Digunting kulit dan dagingnya pada bagian sekitar perutnya hingga
bawah lehernya
Digunting bagian tepi-tepi perutnya hingga bawah lehernya
Diamati ginjalnya
4. Burung Merpati
Disembelih dengan menggunakan pisau
Dicabuti bulu sekitar perut hingga bawah lehernya
Ditancapkan jarum sonde pada bagian kaki dan sayapnya
Digunting kulit dan daging bagian atas anusnya
Digunting bagian tepi-tepi perut hingga bawah lehernya
Diamati ginjalnya
5. Kelinci
Dibius dengan menggunakan obat bius
Dicabuti bulu sekitar perut hingga bawah lehernya
Ditancapkan jarum sonde pada bagian kaki depan dan kaki
belakangnya
Digunting kulit dan dagingnya pada bagian atas anusnya
Digunting bagian tepi-tepi perutnya hingga bawah lehernya
Dibersihkan darahnya dengan kapas
Diamati ginjalnya
IV. Hasil Pengamatan
1.Ikan (Pisces)
Gambar Ginjal Ikan

Sumber dari internet

2. Katak (Amphibi)
Gambar ginjal katak

Sumber dari internet


3. Kadal (Reptil)

Gambar ginjal kadal

Sumber dari internet

4. Burung Merpati (Aves)


Gambar ginjal burung

Sumber dari inernet


5. Kelinci (Mamalia)

Gambar struktur ginjal kelinci

Sumber dari internet

VI.Analisis dan Pembahasan

1. Sistem Urinaria Pada Ikan (Pisces)

Alat ekskresi pada ikan berupa sepasang ginjal mesonefros yang


memanjang dan berwarna kemerah-merahan. Pada beberapa jenis ikan,
sepertiikan mas saluran ginjal (kemih) menyatu dengan saluran kelenjar kelamin
yangdisebut saluran urogenital. Saluran urogenital terletak dibelakang anus,
sedangkan pada beberapa jenis ikan yang lain memiliki kloaka (Romansah, 2012).

Sistem ekskresi pada ikan seperti halnya pada hewan kelas vertebrata yang
lain, yaitu berfungsi untuk mengeluarkan sisa-sisa metabolisme, terutama yang
mengandung nitrogen yang berasal dari metabolisme protein di dalam tubuh
ikan.alat ekskresi yang utama pada ikan adalah ginjal (ren). pada ikan berkembang
dua tipe ginjal yaitu:
1. Pronefros, merupakan tipe ginjal yang paling primitif. ginjal ini
terdapat pada perkembangan embrional sebagian besar ikan, tetapi saat ber
kembang menjadi ikan dewasa, ginjal ini menjadi tidak fungsional dan
fungsinya digantikan mesonefros.
2. Mesonefros, memiliki fungsi fungsi seperti opistonefros
yang terdapat pada embrio amniota.
Ginjal ikan terdiri atas dua bagian, yaitu ginjal dan saluran-salurannya:

1.Ginjal (ren)

Merupakan tipe ginjal mesonefros. Berjumlah sepasang, memiliki bentuk


yang tidak begitu jelas. Ginjal terletak di luar ruang peritoneum, menempel di
bawah tulang punngung dan memanjang dari dekat anus menuju ke arah depan
hingga mencapai ujung rongga perut.

2. Saluran - saluran ginjal

Ureter (ductus mesonephridicus) merupakan saluran yang mengalirkan


urin yang berasal dari ginjal. terletak di bagian pinggir dorsal rongga tubuh dan
menuju ke belakang. Pada ikan jantan , kedua saluran ini tampak berupa tabung
(tubulus) yang pendek, terentang dari ujung belakang ginjal sampai kantong urin,
sedangkan pada ikan betina saluran ini menuju ke sinus urogenitalia.

Vesica urinaria( kantong urin) merupakan lanjutan dari ureter kiri dan
kanan, terletak di dekat anusdan berbentuk seperti kantong kecil. kantong urin ini
berfungsi sebagai tempat penampungan urin sebelum dikeluarkan.

Uretra, berupa saluran pendekyang berasal dari vesica urinaria danmenuju


ke porus urogenitalia. urethra berfungsi sebagai saluran keluarnya urin dari dalam
tubuh.

Ikan memiliki sepasang ginjal yang memanjang sepanjang selom, terletak


diantara gelembung renang dan tulang punggung. Ginjal ikan jantan umumnya
lebih panjang daripada betina. Pada beberapa jenis ikan terdapat kantung urine
(vesika urinaris) yang merupakan persatuan antara bagian posterior duktus
mesonefros kiri dan kanan , terletak di sebelah anterior sinus urogenitalia.
Pada pisces jantan, beberapa tubulus mesonefros bagaian anterior
mengalami modifikasi menjadi duktus eferens, yang menghubungkan testis
dengan duktus mesonefros di bagian anterior .Urine maupun sperma ditamung
dalam sinus urogenitalia dan dikeluarkan dari tubuh melalui porus urogenitalia.

Pada pisces betina, duktus mesonefros bermuara di dalam sinus urinaria,


yang selanjutnya bermuara ke kloaka atau langsung keluar tubuh melalui porus
urinaria. Duktus mesonefros pada pisces betina hanya berfungsi sebagai penyalur
urin. Pada beberapa spesies bagian posterior duktus mesonefros melebar
membentuk vesika urinaria, yang berfungsi untuk menyimpan urin sementara.

2.Sistem Urinaria Pada Katak (Amphibi)

Amphibi memiliki ginjal sepasang ginjal mesonefros, terletak di


retroperitoneal, hampir sepanjang selom, pipih dorsoventral. Pada sisi ventral
ginjal terdapat kelenjar adrenal, yang merupakan bagian dari sistem endokrin.

Katak jantan memiliki saluran ginjal dan saluran kelamin yang bersatu dan
berakhir di kloaka. Namun, hal tersebut tidak terjadi pada katak betina. Pada
hewan jantan, tubulus mesonefros bagian anterior termodifikasi menjadi duktus
eferons ( Vasa eferensia), yang menghubungkan antara testis dan duktus
mesonefros. Duktus mesonefros berfungsi sebagai ureter juga sebagai duktus
deferens (penyalur sperma) dan bermuara di dalam kloaka. Sedangkan pada betina
, duktus mesonefros hanya berfungsi sebagai uroter, yaitu sebagai penyalur urin.
Muara saluran ini pada kloaka terpisah dari muara saluran genital.

Hewan-hewan amphibi mempunyai sebuah kantong urine yang merupakan


penonjolan dari kloaka, untuk menampung urin sementara, sebelum dikeluarkan
dari tubuh.

Ginjal amphibi sama dengan ginjal ikan air tawar yaitu berfungsi untuk
mengeluarkan air yang berlebih. Karena kulit katak permeable terhadap air, maka
pada saat ia berada di air, banyak air yang masuk ke tubuh katak secara osmosis.
Pada saat ia berada di darat harus melakukan konservasi air dan tidak
membuangnya. Katak menyesuaikan dirinya terhadap kandungan air sesuai
dengan lingkungannya dengan cara mengatur laju filtrasi yang dilakukan oleh
glomerulus, sistem portal renal berfungsi untuk membuang bahan – bahan yang
diserap kembali oleh tubuh selama masa alirandarah melalui glomerulus dibatasi.
Katak juga menggunakan kantung kemih untuk konservasi air. Apabila sedang
berada di air, kantung kemih terisi urine yang encer. Pada saat berada di darat air
diserap kembali ke dalam darah menggantikan air yang hilang melalui evaporasi
kulit. Hormon yang mengendalikan adalah hormon yang sama dengan ADH. Saat
amphibia mengalami metamorfosis, hasil ekskresi amphibia juga berubah. Larva
amphibia mengekskresikan amonia, sedangkan berudu dan hewan dewasa
mengekskresikan urea (Budiyanto, 2013).

3.Sistem Urinaria Pada Kadal (Reptil)


Alat ekskresi pada reptilia adalah sepasang ginjal metanefros, ukurannya
kecil, sepanjang setengah rongga perut, permukaannya berlobus, letaknya
retroperitoneal di daerah pelvis. Dari sisi ventral masing-masing ginjal keluar
ureter.
Metanefros berfungsi setelah pronefros dan mesonefros yang merupakan a
lat ekskresi padastadium embrional menghilang. Ginjal dihubungkan oleh ureter
ke vasika urinaria(kandung kemih). Vesika urinaria bermuara langsung ke kloaka
(Lubis, 2012).Bentuk ureter menyempit ke bagian posterior, ukurannya kecil,
dan permukaannya beruang-ruang.

Pada hewan jantan sebelum bermuara ke kloaka,ureter bersatu dulu


dengan duktus deferens. Sedangkan pada betina bermuara langsung ke dalam
kloaka. Ginjal tidak berhubungan dengan gonad. Kantong urin pada kadal dan
kura-kura berkembang baik, kantong ini berupa kantong tipis, tonjolan dari
dinding ventral kloaka. Sedangkan pada golongan ular dan buaya tidak memiliki
kantung urin.
4.Sistem Urinaria Pada Burung (Aves)

Aves memiliki sepanjang ginjal metanefros, terletak retroperitoneal,di


daerah pelvis pada lekukuan tulang kelangkang. Ginjal umumnya terdiri dari tiga
lobus. Sepasang ureter pendek keluar dari ginjal, menuju ke kaudal dan bermuara
langsung ke dalam kloaka. Ginjal tidak berhubungan dengan gonad.
Saluran ekskresi terdiri dari ginjal yang menyatu dengan saluran kelamin
pada bagian akhir usus (kloaka). Ginjal dihubungkan oleh ureter ke kloaka.
Tabung ginjal membentuk lengkung Henle kecil. Di dalam kloaka terjadi
reabsopsi air yang menambah jumlahair dalam tubuh. Burung mengekskresikan
zat berupa asam urat dan garam.

Jenis burung laut juga memiliki kelenjar ekskresi garam yang bermuara pa
da ujungmatanya. Hal tersebut untuk mengimbangi pola makannya yang
memangsa ikanlaut dengan kadar garam tinggi. Aves tidak memiliki kantung
urine, kecuali burung unta. Zat ekskresi berbentuk agak bulat (seperti pasta) ,
dikeluarkan bersama feses.

5.Sistem Urinaria Pada Kelinci (Mamalia)

Sistem ekskresi pada kelinci (Lepus nigricollis) berupa ginjal


yang berbentuk seperti biji kacang. Ruang median ginjal disebut pelvis renalis
dan berhubungan dengan kandung kemih melalui ureter. Urin dikeluarkan oleh
duaginjal yang di salurkan di ureter dan ditampung di kantung urinaria
(urinaria bladder), dinding otot bekerja secara voluntery sehingga memaksa urin
keluar dariuretra (Boolotion, 1979).

Mamalia memiliki sepasang ginjal metanefros yang terbentuk seperti biji


kacang buncis, terletak di retroperitoneal, melekat pada dinding tubuh bagian
dorsal. Permukaan ginjal relatif licin , tidak berlobus. Ginjal tidak berhubungan
dengan gonad.
Ureter sepasang, panjang, dan menyalurkan urin ke dalam kantung urin.
Urin keluar dari kantung urin ke dalam uretra. Otot sfingter pada perbatasan
kantung urin dan uretra mengatur jalannya urin.
Pada hewan jantan, uretra melintas di dalam penis dan mengeluarkan urin
melalui orifisium uretra eksternum. Uretra juga berfungsi sebagai penyalur
segmen. Pada hewan betina, uretra lebih pendek dan hanya berfungsi untuk
menyalurkan urin keluar tubuh.
Kesimpulan
1. Sistem ekskresi disebut juga sistem pembuangan atau sistem urinaria. Pada
vertebrata, sistem ini terdiri atas sepasang ginjal dan saluran pembuangan
yang berupa saluran urine dalam ureter, kantung urine (vesika urinaria)
yang berfungsi untuk menampung urine sementara dan saluran urine luar
(uretra).
2. Alat ekskresi pada ikan berupa sepasang ginjal mesonefros yang
memanjang dan berwarna kemarah-merahan. Pronefros merupakan tipe
ginjal yang paling primitif. Ginjal ini terdapat pada perkembangan
embrional sebagian besar ikan, tetapi saat berkembang menjadi ikan
dewasa, ginjal ini menjadi tidak fungsional dan fungsinya digantikan
mesonefros.
3. Amphibi memiliki ginjal sepasang ginjal mesonefros, terletak di
retroperitoneal, hampir sepanjang selom, pipih dorsoventral. Pada sisi
ventral ginjal terdapat kelenjar adrenal, yang merupakan bagian dari
sistem endokrin.
4. Alat ekskresi pada reptilia adalah sepasang ginjal metanefros,ukurannya
kecil, sepanjang setengah rongga perut,permukaannya berlobus, letaknya
retroperitoneal di daerah pelvis.Dari sisi ventral masing-masing ginjal
keluar ureter. Metanefros berfungsi setelah pronefros dan mesonefros yang
merupakan alat ekskresi pada stadium embrional menghilang.
5. Aves memiliki sepanjang ginjal metanefros, terletak retroperitoneal,di
daerah pelvis pada lekukuan tulang kelangkang. Aves tidak memiliki
kantung urine, kecuali burung unta. Zat ekskresi berbentuk agak bulat
(seperti pasta) , dikeluarkan bersama feses.
6. Mamalia memiliki sepasang ginjal metanefros yang terbentuk seperti biji
kacang buncis, terletak di retroperitoneal, melekat pada dinding tubuh
bagian dorsal. Permukaan ginjal relatif licin , tidak berlobus. Ginjal tidak
berhubungan dengan gonad.
Daftar rujukan
 Ernis, U.2009 AC Comparision of the uranary system. Journal of turkish,
vol 3(9): 122-167
 Ambeng. 2012. Materi Pembelajaran Matakuliah Anatomi Perbandingan
Hewan.Universitas Hasanuddin. Makassar
 Budiyanto.2013.Organ Sistem Ekskresi pada
Hewan. http:// budisma.web.id/organ-sistem-ekskresi-pada-hewan.html.
 Boolotion,1979, Zoologi. New York Maemillan: Publising
 Tenzer, A. Lestari, A. Gofur, A. Rahayu, S.E. Masjhudi. Handayani, N.
Wulandari, N. Maslikah, S.I. Buku Struktur Perkembangan Hewan SPH
1(Bagian 2).Universitas Negeri Malang.