Anda di halaman 1dari 4

KOEFISIEN SERAP BUNYI PAPAN PARTIKEL DARI BAHAN

KARDUS
Gideon Saputra, Gagas Praja Mukti, Riski Fitra Finazis

Teknik Fisika, Faktultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Kampus Keputih Sukolilo Surabaya

Emailgideon,emailgagas, riskifitrafinazis@gmail.com

Abstrak
Telah dilakukan penelitian untuk mengetahui koefisien serap bunyi pada papan partikel yang
berbahan serutan kardus. Peneliti menggunakan Sound Level Meter untuk mengetahui
intensitas sebelum dan sesudah dilewatkan pada papan kardus. Proses pengujian dilakukan
dengan mengatur frekuensi sumber bunyi. Bunyi akan dipancarkan oleh speaker pada
ruangan terbuka. Pada jarak tertentu arah depan speaker kita pasang partisi atau papan
partikelnya. Sebelum diberi partisi, diukur nilai tingkat tekanan bunyi pada jarak tertentu,
kemudian setelah diberi partisi, tingkat tekanan bunyi kembali diukur pada jarak yang sama,
pengukuran tersebut menggunakan sound level meter. Dari hasil pengujian dan analisis data
diperoleh koefisien serap masing-masing bahan sebagai berikut: koefisisen serap rata-rata
gypsum 0.19 cm-1, triplek 0.18 cm-1, styrofoam 0.07 cm-1.

PENDAHULUAN perkantoran, sekolah dan ruang lain untuk


mengurangi kebisingan yang umumnya sangat
Kebisingan adalah suatu masalah besar
mengganggu.
yang tengah dihadapi oleh masyarakat
Selain itu tidak sedikit dari masyarakat
Indonesia saat ini, terutama yang tinggal di
yang hidup di wilayah perkotaan membuat
daerah perkotaan yang sangat ramai dan sibuk
partisi ruangan dengan bahan yang sederhana
oleh berbagai macam aktivitas masyarakat.
seperti triplek, gypsum atau triplek yang
Suara keras yang dihasilkan oleh berbagai jenis
dilapisi dengan styrofoam. Mereka mengambil
kendaraan dapat mengganggu konsentrasi dan
bahan-bahan tersebut salah satunya karena
juga merusak kesehatan manusia. Apabila
faktor ekonomis. Triplek, gypsum dan
pengaruh ini tidak ditangani dengan baik, maka
styrofoam merupakan material yang memiliki
akan menimbulkan dampak buruk terhadap
daya serap berbeda-beda. Terkait pemaparan
lingkungan, dan mahkluk hidup. Gangguan
tersebut peneliti mencoba melakukan penelitian
kebisingan bisa menyebabkan gangguan
pendengaran seperti ketulian. tentang “Koefisien Serap Bunyi Papan
Saat ini telah banyak upaya yang Partikel Dari Bahan Kardus” yang
dilakukan orang untuk dapat mereduksi dinilai mempunyai potensi yang hampir
kebisingan yang terjadi pada suatu ruangan sama terhadap bahan bahan di atas.
yaitu dengan menggunakan bahan-bahan Permasalahan yang akan diteliti
peredam bunyi dan penyerap bunyi. Bahan dalam penelitian yaitu 1). Bagaimana
tersebut dalam suatu bangunan biasanya tingkat redam bunyi dari triplek, gypsum
berperan sebagai panel-panel akustik yang dan strerofoam? 2). Manakah yang paling
dipasang pada dinding pemisah (partisi) dan baik tingkat redamnya dari ketiga bahan
plafon. Peredam suara atau absorber adalah tersebut?.
suatu bahan yang dapat menyerap energi suara
Penelitian ini bertujuan 1).
dari suatu sumber. Material penyerap bunyi
mempunyai peranan penting dalam akustik Menentukan tingkat redam dari triplek,
ruangan, perancangan studio rekaman, ruang gypsum dan styrofoam 2). Menentukan
tingkat redam yang paling baik dari ketiga 2. material penghalang bunyi
bahan tersebut. (barrier material).
Manfaat penelitian ini adalah 1). 3. material peredam bunyi (damping
Mengetahui tingkat redam dari triplek, material).
gypsum dan styrofoam. 2). Memberikan Pada umumnya material penyerap
informasi kepada masyarakat tentang secara alami bersifat resistif, berserat
tingkat redam bunyi dari triplek, gypsum (fibrous), berpori (porous) atau dalam
dan styrofoam 3). Mendapatkan kasus khusus bersifat resonator aktif.
pengetahuan tentang tingkat redam bunyi Ketika gelombang bunyi menumbuk
dari triplek, gypsum dan styrofoam. material penyerap, maka energi bunyi
Akustika adalah ilmu yang sebagian akan diserap dan diubah menjadi
mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan panas. Bunyi akan masuk ke dalam material
bunyi, berkenaan dengan indera melalui pori-pori. Bunyi akan menumbuk
pendengaran serta keadaan ruangan yang partikel-partikel di dalam material tersebut,
mempengaruhi bunyi. (Gabriel, 2001 :163) kemudian oleh partikel di pantulkan ke
Kata bunyi mempunyai dua partikel lain, begitu seterusnya sehingga
definisi, yaitu: (1) secara fisis, bunyi adalah bunyi terkurung di dalam material.
penyimpangan tekanan, pergeseran partikel Kejadian ini disebut proses penyerapan.
dalam medium elastik seperti udara dan (2) Besarnya penyerapan bunyi pada material
secara fisiologis, bunyi adalah sensasi penyerap dinyatakan dengan koefisien
pendengaran yang disebabkan serapan (α). Koefisien serapan (α)
penyimpangan fisis yang digambarkan di dinyatakan dalam bilangan antara 0 dan 1.
atas (Doelle, 1993). Ketika bunyi Nilai koefisien serapan 0 menyatakan tidak
menumbuk suatu batas dari medium yang ada energi bunyi yang diserap dan nilai
dilewatinya, maka energi dalam gelombang koefisien serapan 1 menyatakan serapan
bunyi dapat diteruskan, diserap atau yang sempurna. Nilai koefisien serapan
dipantulkan oleh batas tersebut. Pada dihitung menggunakan rumus :
umumnya ketiganya terjadi pada derajat (1)
tingkat yang berbeda, tergantung pada jenis Dimana :
batas yang dilewatinya (Lord, 1980). I = intensitas akhir .
Manusia mendengar bunyi saat I0 = intensitas awal .
gelombang bunyi sampai ke gendang α = koefisien absorbsi bunyi.
telinga manusia. Batas frekuensi bunyi x = ketebalan sampel.
yang dapat didengar oleh telinga manusia Menurut Gabriel (2001), bising atau
dari 20 Hz sampai 20 kHz. Suara di atas 20 noise dalam konteks akustik memiliki
kHz disebut ultrasonik dan di bawah 20 Hz beberapa arti yaitu :
disebut infrasonik. 1. Bunyi atau suara yang keras,
Bunyi kereta lebih nyaring daripada tidak disenangi, tidak terprediksi, tidak
bunyi bisikan, sebab bunyi kereta diinginkan.
menghasilkan getaran lebih besar di udara. 2. Gangguan dalam bentuk acak dan
Kenyaringan bunyi juga bergantung pada terus menerus, yang membuat sinyal
jarak kita ke sumber bunyi. Kenyaringan menjadi tidak jelas atau tereduksi.
diukur dalam satuan desibel (dB) yaitu Menurut Keputusan Menteri
satuan untuk mengukur intensitas suara. Negara Lingkungan Hidup No. Kep
Menurut Lewis dan Douglas (1993) 48/MENLH/11/1996 tentang baku tingkat
material akustik dapat dibagi ke dalam tiga kebisingan menyebutkan bahwa kebisingan
kategori dasar, yaitu: adalah bunyi yang tidak diinginkan dari
1. material penyerap bunyi suatu usaha atau kegiatan dalam tingkat dan
(absorbing material). waktu tertentu yang dapat menimbulkan
gangguan kesehatan manusia dan kenyamanan Langkah-langkah perecobaan ini adalah
lingkungan. sebagai berikut:
1. Membuat papan partikel sebagai
Jenis – jenis kebisingan: partisi beserta sekat-sekatnya seperti
a. Kebisingan yang terus-menerus dengan pada gambar di bawah ini :
jangkauan frekuensi yang sempit, misalnya,
mesin gergaji. Rautan
b. Kebisingan yang terputus-putus, misalnya,
suara arus lalu lintas atau pesawat terbang. kardus
c. Kebisingan impulsif, misalnya, tembakan,
bom, atau suara ledakan. Rautan Rautan
d. Kebisingan impulsif berulang, misalnya, kardus kardus
suara mesin tempa.

Untuk mengetahui intensitas suatu Rautan


kebisingan atau noise di suatu lingkungan atau kardus
daerah digunakan alat Sound Level Meter
(SLM). Nilai ambang untuk batas kebisingan
adalah 85 dB dan waktu bekerja maksimum Gambar 1 desain partisi.
adalah 8 jam per hari. Sound Level Meter dengan ukuran papan kardus 60x60 cm dibagi
(SLM) adalah alat pengukur suara. Mekanisme menjadi 9 bagian 20 cm per sisinya. Kemudian
kerja SLM apabila ada benda bergetar, maka rautan kardus potongan kecil-kecil dibuat dan
akan menyebabkan terjadinya perubahan diletakkan pada posisi yang ditentukan pada
tekanan udara yang dapat ditangkap oleh alat gambar. Kemudian ditutup lagi dengan papan
ini, selanjutnya akan menggerakkan meter kardus yang berukuran sama.
penunjuk. 2. Merangkai alat seperti pada sketsa
dibawah ini.

Sumber bunyi SLM


METODE
Penelitian ini termasuk jenis penelitian
eksperimen dengan menggunakan Sound Level Gambar 2 sketsa rangkaian
Meter. Penelitian ini dilakukan pada ruang pengujian
terbuka lantai 2 selasar TU jurusan Teknik
Fisika ITS. Dengan jark slm sampai sumber bunyi 85
Alat dan bahan yang digunakan antara cm.
lain : 3. Mengatur frekuensi 1000 Hz pada
1. Papan Kardus software generator sound
2. Speaker 4. Mengukur TTB pada jarak 85 cm
3. Sound Level Meter (SLM) menggunakan SLM.
4. Laptop
5. software Audio Frekuensi Generator (AFG)
Hasil dan Pembahasan
Variabel dalam penelitian ini adalah Setela melakukan pengujian
sebagai berikut : didapatkan hasil koefisien serap dari
1. Variabel bebas adalah bahan penyekat kardus dengan nilai 0,108 dan kita
ruangan dan frekuensi sumber. bandingkan dengan data penelitian yang
2. Variabel kontrol adalah ketebalan dari sudah dilakukan oleh M. Aji
bahan penyekat. Fatkhurrohman*, Supriyadi Jurusan
Pendidikan IPA Konsentrasi Fisika, PPs
3. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah UNNES sebagai berikut
nilai tingkat tekanan bunyi akhir setelah
dilewatkan dengan bahan penyekat.
Bahan TTB TTB Koefisien
awal akhir Serap
Triplek 85.2 64 0.29
Gypsum 85.2 66.9 0.24
Styrofoam 85.2 79.6 0.07
Kardus 94 79.9 0.108

Dari data di atas menunjukkan bahwa


bahan triplek mempunyai daya serap yang
baik sebagai peredam daripada bahan yang
lain nilai koefisien serap tiplek gypsum
dan kardus tidak mengalami perbedaan
nilai yang terlalu signifikan sedangkan
styrofoam sangat mengalami perbedaan
nilai koefisien.