Anda di halaman 1dari 2

AKUNTANSI KEPERILAKUAN

Akuntansi Keperilakuan (Behaviour Accounting) merupakan bagian dari disiplin akuntansi

yang mempelajari tentang hubungan antara perilaku manusia dan system akuntansi, serta dimensi

social dari organisasi dimana manusia dan system akuntansi berada.

Terdapat 3 pilar utama akuntansi keperilakuan : Perilaku manusia, akuntansi dan organisasi.

Ruang lingkup akuntansi keperilakuan yaitu:

1. Reaksi manusia terhadap format dan isi dari pelaporan keuangan;

2. Bagaimana informasi diproses untuk keperluan pengambilan keputusan;

3. Pengembangan teknik-teknik pelaporan untuk mengkomunikasikan data kepada penggunanya;

4. Pengembangan strategi untuk memotivasi dan mempengaruhi perilaku, inspirasi, dan tujuan

orang-orang yang menjalankan organisasi;

5. Dan hal-hal yang mengaitkan akuntansi, manusia, organisasi dan masyarakat.

Dalam akuntansi keperilakuan ini yang menjadi sorotan adalah dampak dari informasi

akuntansi terhadap perilaku orang yang membaca atau menyiapkannya. Juga melihat bagaimana reaksi

manusia terhadap informasi akuntansi yang diberikan.

Dampak perilaku dari system pengawasan, dampak system budget terhadap perilaku, dampak

system responsibility accounting terhadap perilaku, dampak system desentralisasi ataupun sentralisasi.

Pengambilan keputusan terhadap perilaku, dimensi perilaku dalam system pengawasan internal,

beberapa pola perilaku auditor, aspek perilaku dalam pengambilan keputusan, factor perilaku dalam

capital budgeting, aspek perilaku dalam akuntansi dalam sumber daya manusia dan sebagainya.

Contoh kasus yaitu Perusahaan Ford pernah gagal hanya karena memproduksi mobil jenis

sedan dengan nama “NOVA” disuatu Negara Afrika. Mobil ini tidak laku sama sekali, setelah
diselidiki penyebabnya, ternyata istilah NOVA menurut bahasa setempat berarti tidak jalan. Hal ini

disebabkan karena perusahaan mengabaikan aspek Croos culture, perusahaan mengalami kerugian

yang sangat besar.

Akuntansi bukanlah sesuatu yang statis tetapi akan selalu berkembang sesuai dengan

perkembangan lingkungan akuntansi serta kebutuhan organisasi akan informasi yang dibutuhkan oleh

penggunanya (Khomsiah dalam Arfan & Ishak, 2005).

Berdasarkan pemikiran tersebut, manusia dan factor social secara jelas didesain dalam aspek-

aspek operasional utama dari seluruh system akuntansi. Dan akuntan secara berkelanjutan membuat

beberapa asumsi mengenai bagaimana mereka membuat orang termotivasi, bagaimana mereka

menginterpretasikan dan menggunakan informasi akuntansi, dan bagaimana system akuntansi mereka

sesuai dengan kenyataan manusia dan mempengaruhi organisasi. Disamping itu pihak pemakai laporan

keuangan dapat dibagi menjadi dua kelompok yaitu pihak intern (manajemen) dan pihak ekstern

(pemerintah, investor, kreditur, dan lain sebagainya).