Anda di halaman 1dari 156

BUPATI MANGGARAI BARAT

PROVINSI NUSA TENGGARA TDEUR


PERATURAN BUPATI MANGGARAIBARAT
NOMOR θl TAⅡ UN 2018

TENTANG
PERUBAHAN ATAS PERATURAN BUPATI NODIOR 32 TAⅡ UN 2016
TENTANG PEMANFAATAN DANA KAPITASIDAN NON KAPITASI
JAMINAN KESEEATAN NAS10NAL PADA UP¶ D DINAS KESEIIATAN
KABIIPATEN MANGGARAI BARAT
DENGAN RAHMKT TUHAN YANG ⅣLILlt ESA

BUPATI MANGGARAI BARAT,

Menimbang : a. bahwa berhubung adanya perubahan pemanfaatan Dana Non


Kapitasi Jaminan Kesehatan Nasional pada UPTD Dinas
Kesehatan sesuai ketetentuan yang berlaku, maka perlu
dilakukan penyesuaian;

b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam


huruf a, perlu menetapkan Peraturan Bupati Manggarai Barat
tertang Psrubahan Atas Peraturan Bupati Manggarai Barat
Nomor 32 Tahtru 2016 tentang Pemanfaatan Dana Kapitasi dan
Non Kapitasi Jaminan Kesehaan Nasional (JKN) pada UPTD
Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai Barat;
ヽも

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2003 tentang Pembentukan


Kabupaten Manggarai Barat di Provinsi Nusa Tenggara Timur
(Lembaran Negara Republik lndonesia Tahun 2003 Nomor 28,
Tambahan Lembaran Negara Republik lndonesia Nomor 4271];

Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan


Sosial Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2004 Nomor 150, Taurbahan Lembaran Negara Republik
lndonesia Nomor aa56);

3. Undang-Undang Nomor 36 Tahrm 2009 tentang Kesehatan


(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 114,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5063);

I
4. Undang‐ Undallg Nomor 12 Tahlll1 201l telltallg Pelmbentall
Peraturtt Pemndttg― undangan(LembaFan Negara Republik
llldollesia Tahul1 201l Nonlor 82,Tambaban Lembttratt Negara
Republik hdonesia Nomor 5234):

5 Undang‐ Undang NoIIlor 24 Tahun 201l tentang Badan


Penyelenggara Jalllunan Sosial(Lembaran Negara Republik
hdonesia Tahun 201l Nomor l16,Tambahall Lembaran Negara
Republik hdonesia Nomor 5256);

6. Undang… Undang Nomor 23 Tahlm 2014 tentang Pellnerintahan


Daerah(Lembaran Negara Republk lndo■ esia Tabun 2014
Nomor 244,Tambahall Lembaran Negara Republik hdonesia
Nomor 5587),sebagall■ ana tdah dillbah beberapa kali terthir
dengan Undang… Undang Nomor 9 Tahun 2015 telltang
Pembahan Kedlla atas Ulldallg‐ Undang Nolllor 23 TahLIn 2014
tentang PeIIIlemtahan Daerah(Lembaran Negara Republik
lndonestia Tallm 2015 Nomor 58,Talnbahan Lembaran Ne`嬰 鯰
Republik lndonesia Nomor 5679);

7 Peraman Pemenntah Nomor 32 Tahun 1996 tentallg Tenaga


聰 sehatan(Lmbaran Negam Republik lndonesia Tahun 1996
Nomor 49,Tambahan Lemb霞 田 Negara Repllblik llldollesia
Nomor 363):

8. Peraman Presiden Nolnor 12 Tahlln 2013 tentang Jaminan


Kesehatall(Lelnbarall Negara Republik lndonesia Tahm 2012
Nolllor 29)sebagaimama telah diubah dengan Peraman Pres通 範
Nomor lll Tahm 2013(Lembaran Negara Republik hdoneda
Tallun 2013 Nolllor 255);

9 Perattran Presiden Nomor 32 Tahlln 2014 tentang Pengelolaall


dan Pellnaniatan Dana Kapitasi Jaminan Kesehatan Pada
Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertalna Milik Pemerintah Daerah
(Berita Nega7ra Republik hdOllesia Tabun 2014 Nomor 81〉

10. P∝attraE Menteri Keschatan lNomor 69 Tahlm 2013 tentallg


Standar Tarif Pelayallan Kesehatan Pada Fasilitas Keseha臨
Til13kat Pertama dan Fasilitas Kesehatan Tingktt Lttjlltan
Dalam Penyelenggaraan Pro3Fam Jaminan Kesehatan(Berita
Negara Republik llldonesia Tahun 2013 Nomor 1392);

Peraturall lVenten Kesehatan Nomor 71 Tahun 2013 telltallei


Pelayallam Kesehatan Pada Jaminall Kesehatan Nadonal(Berita
Negara Republik lndonesia Tahm 2013 Nomor 1400);

12. Peraturan Menten Keschatan Nolllor 28 Tahun 2014 telltang


PcdoIIlan Pelaksanaall Pro3ram JaIIlman Kesehatall Nasiollral
(Berita Negara Republik lndonesia Tahm 2014 Nomor 874); │
13. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 75 Tahun 2014 tentang
Pusat Kesehatan Masyarakat (Berita Negara Republik Indonesia
Tahun 2014 Nomor 1676);

14. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 80 Tahun 2015 tentang


Pembentukan Produk Hukum Daerah;

15. Perahuan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 21


Tahun 2016 teotang Penggunaan Dana Kapitasi Jamfuarl
Kesehatan Nasional unfift Jasa Pelayanan Kesehatan dan
Dukungan Biaya Operasional pada Fasilitas Kesehatan Tingkat
Pertama Milik Pemerintah Daerah @erita Negara Republik
Indonesia tahun 2016 Nomor 761)

MEPIIIJTUSKAN:

Menetapkala : PERATURAN BIIPATI TENTANG PERUBAI・ IAN ATAS


PERATURAN BUPATI Ⅳ藤 GGARAI BARAT NOMOR 32
TAHUN 2016麗 WANG PEヽ [ANFAATAN DANA KAPITASI
DAN NON KAPITASI JAMINAN KESEHATAN NAS10NAL
PADA LIPTD DINAS KESEHATAN KABUPATEN MANTGGARAI
BARAT

PASAL I
Ketentuan dalam Peraturar Bupati Manggarai Barat Nomor 32 Tahrur 2016 tentang
Pemanfaatan Dana Kapitasi dan Non Kapitasi Jaminan Kesehatan Nasional Pada UPTD
Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai Barat (Berita Daerah Kabupaten Manggarai Barat
Tahun 2016 Nomor 32), diubah sebagai berikut:

1. Ketentuan Pasal6 ayat (l) diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:

Pasal 6

(1) Dana Non Kapitasi yang diterima oleli Dinas Kesehatan dari Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan dan disetor secara bruto ke Kas Daerah

dimanfaatkan unhrk:
a. pembayaran jasa pelayanan kesehatan;
b. pembiayaan manajemen operasional Dinas Kesehatan
c. pembayaran dukungan biaya operasional pelayanan kesehatan .l
t
2.' Ketentuan Pasal 7, ditambahkan ayat (3) sehingga berbunyi sebagai berikut

Pasal7
(1) Alokasi Dana Non Kapitasi untuk pembayaran jasa pelayanan kesehatan
sebagaimana dimaksud Pasal 6 ayat (1) huruf a dimanfaatkan untuk pembayaran
jasa pelayanan kesehatan bagi tenaga kesehatan dan tenaga non kesehatan di
UPTD Dinas Kesehatan.
(2) Pembagian jasa pelayanan kesehatan kepada tenaga kesehatan dan non kesehatan

sebagaimana dimaksud pada ayat (l) dapat mempertimbangkan variabel:

a.jenis ketenagaan dan/atau jabatan;


b.kehadiran;
sebagaimara tercantum dalam lampiran 1 dan merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari Peraturan Bupati ini.
(3) Alokasi Dana Non Kapitasi untrk pernbiayaan manajemen operasional Dinas
Kesehatan sebagaimana dimaksud Pasal 6 ayat (1) huruf a dimanfaatkan untuk
pembiayaan manajemen operasional Program Jaminan Kesehatan Nasional pada
Dinas Kesehatan;

3. Ketentuan Pasal9 ayatQ) diubah, sehingga berbunyi sebagai berikut:

Pasal 9
(2) Dinas Kesehatan melakukan verifikasi atas rencana pemanfaatan Dana Kapitasi
dan Non Kapitasi dengan memperhatikan ketentuan yang berlaku.

Untuk melakukan verifikasi atas rencana pemanfaatan Dana Kapitasi dan Non
Kapitasi, Kepala Dinas Kesehatan membentuk Tim Pengelola Jaminanl
Kesehatan Nasional (JKN). t
BUPATI MANGGARAI BARAT
PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR

PERATURAN DAERAH KABUPATEN MANGGARAI BARAT


NOMOR 2 TAHUN 2018

TENTANG
PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH
KABUPATEN MANGGARAI BARAT NOMOR 19 TAHUN 2012 TENTANG
RETRIBUSI PENGENDALIAN MENARA TELEKOMUNIKASI

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BUPATI MANGGARAI BARAT,

Menimbang : a. bahwa dalam rangka meningkatkan penyelenggaraan


pemerintahan, pembangunan dan pelayanan
kemasyarakatan, maka perlu dilakukan perluasan Objek
Retribusi Daerah dengan memperhatikan potensi Daerah
yang salah satunya melalui retribusi pengendalian
menara telekomunikasi

b. bahwa sesuai Amar Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor


46/PUU-XII/2014 terhadap permohonan Uji Materi
Penjelasan Pasal 124 Undang-Undang Nomor 28 Tahun
2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah,
menyatakan bahwa Penjelasan Pasal 124 bertentangan
dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum
mengikat;

c. bahwa akibat dari putusan tersebut ketentuan tentang


Retribusi Pengendalian Menara Telekomunikasi,
sebagaimana diatur dalam Pasal 9 ayat (1) Peraturan
Daerah Kabupaten Manggarai Barat Nomor 19 Tahun
2012 tentang Retribusi Pengendalian Menara
Telekomunikasi dinyatakan tidak berlaku dan tidak
mempunyai kekuatan hukum, sehingga perlu diubah;

d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud


dalam huruf a, huruf b dan huruf c, perlu membentuk
Peraturan Daerah tentang Perubahan atas Peraturan
Daerah Kabupaten Manggarai Barat Nomor 19 Tahun
2012 tentang Retribusi Pengendalian Menara
Telekomunikasi;

Mengingat : 1. Pasal 18 ayat (6) Undang-Undang Negara Republik


Indonesia Tahun 1945;
2. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2003 tentang
Pembentukan Kabupaten Manggarai Barat di Provinsi
Nusa Tenggara Timur ( Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2003 Nomor 28, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4271);
3. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak
Daerah dan Retribusi Daerah (Lembagan Negara
Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 130, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5049);
4. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang
Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5587) sebagaimana
telah diubah beberapa kali, terakhir dengan Undang-
Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang perubahan Kedua
atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang
Pemerintahan Daerah ( Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5679);
Dengan Persetujuan Bersama

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN MANGGARAI BARAT


dan
BUPATI MANGGARAI BARAT

MEMUTUSKAN :

Menetapkan : PERATURAN DAERAH TENTANG PERUBAHAN ATAS


PERATURAN DAERAH KABUPATEN MANGGARAI BARAT
NOMOR 19 TAHUN 2012 TENTANG RETRIBUSI
PENGENDALIAN MENARA TELEKOMUNIKASI.

Pasal I

Beberapa Ketentuan dalam Peraturan Daerah Kabupaten Manggarai Barat


Nomor 19 Tahun 2012 tentang Retribusi Pengendalian Menara
Telekomunikasi (Lembaran Daerah Kabupaten Manggarai Barat Tahun 2012
Nomor 19), diubah sebagai berikut :

1. Ketentuan Pasal 1 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut :

Pasal 1

Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan:


1. Daerah adalah Kabupaten Manggarai Barat.
2. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat.
3. Bupati adalah Bupati Manggarai Barat.
4. Dinas Komunikasi dan Informatika yang selanjutnya disebut Dinas
adalah Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Manggarai Barat.
5. Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika yang selanjutnya disebut
Kepala Dinas adalah Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika
Kabupaten Manggarai Barat.
6. Badan adalah sekumpulan orang dan/atau modal yang merupakan
kesatuan, baik yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan
usaha yang meliputi perseroan terbatas, perseroan komanditer, perseroan
lainnya, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), atau Badan Usaha Milik
Daerah (BUMD) dengan nama dan dalam bentuk apapun, firma, kongsi,
koperasi, dana pensiun, persekutuan, perkumpulan, yayasan, organisasi
massa, organisasi sosial politik, atau organisasi lainnya, lembaga dan
bentuk badan lainnya termasuk kontrak investasi kolektif dan bentuk
usaha tetap.

7. Telekomunikasi adalah setiap pemancaran, pengiriman dan atau


penerimaan dari setiap informasi dalam bentuk tanda-tanda, isyarat,
tulisan, gambar, suara dan bunyi melalui sistem kawat, optik, radio atau
sistem elektromagnetik lainnya.
8. Menara Telekomunikasi yang selanjutnya disebut Menara adalah
bangunan khusus yang berfungsi sebagai sarana penunjang untuk
menempatkan peralatan telekomunikasi yang desain atau bentuk
konstruksinya disesuaikan dengan keperluan penyelenggaraan
telekomunikasi.
9. Menara Telekomunikasi Bersama yang selanjutnya disebut Menara
Bersama adalah menara telekomunikasi yang digunakan secara bersama-
sama oleh penyelenggara telekomunikasi.
10. Site audit menara telekomunikasi adalah serangkaian prosedur teknis
dalam mengenali, mengidentifikasi, dan menguji secara detail informasi
dan fakta yang ada di lapangan atas keberadaan menara telekomunikasi.
11. Zona adalah kawasan atau area yang memiliki fungsi dan karakteristik
spesifik.
12. Kawasan adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta
segenap unsur terkait padanya yang batas dan sistemnya ditentukan
berdasarkan aspek fungsional serta memiliki ciri tertentu.
13. Zona menara adalah zona yang diperbolehkan terdapat menara
telekomunikasi sesuai kreteria teknis yang ditetapkan, termasuk menara
yang disyaratkan untuk bebas visual.
14. Kawasan permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup di luar
kawasan lindung, baik berupa kawasan perkotaan maupun perdesaan
yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan
hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan
penghidupan.
15. Kawasan bukan permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup di luar
kawasan lindung, baik berupa kawasan perkotaan maupun perdesaan
yang fungsinya bukan sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan
hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan
penghidupan.
16. Tim Teknis Pengawasan dan Pengendalian Menara Telekomunikasi yang
selanjutnya dapat disebut Tim Pengawasan dan Pengendalian adalah Tim
Teknis yang dibentuk oleh Bupati yang bertugas melaksanakan
Pengawasan dan Pengendalian terhadap keberadaan Menara
Telekomunikasi.
17. Jasa adalah kegiatan Pemerintah Daerah berupa usaha dan pelayanan
yang menyebabkan barang, fasilitas, atau kemanfaatan lainnya yang
dapat dinikmati oleh orang pribadi atau Badan.
18. Jasa Umum adalah jasa yang disediakan atau diberikan oleh Pemerintah
Daerah untuk tujuan kepentingan dan kemanfaatan umum serta dapat
dinikmati oleh orang pribadi atau Badan.
19. Retribusi Jasa Umum adalah Retribusi atas jasa yang disediakan atau
diberikan oleh pemerintah daerah untuk tujuan kepentingan dan
kemanfaatan umum serta dapat di nikmati orang pribadi atau badan.
20. Retribusi Pengendalian Menara Telekomunikasi selanjutnya disebut
Retribusi adalah Pungutan Daerah sebagai pembayaran atas
pemanfaatan ruang untuk menara telekomunikasi, pelayanan di bidang
pengawasan dan pengendalian baik ditinjau dari aspek tata ruang,
keamanan dan kepentingan umum yang besaran nilai retribusi dikaitkan
dengan pengawasan dan pengendalian menara telekomunikasi.
21. Wajib Retribusi adalah orang pribadi atau Badan yang menurut peraturan
perundang-undangan Retribusi diwajibkan untuk melakukan
pembayaran Retribusi, termasuk pemungut atau pemotong retribusi
tertentu.
22. Surat Ketetapan Retribusi Daerah, yang selanjutnya disingkat SKRD,
adalah surat ketetapan retribusi yang menentukan besarnya jumlah
pokok retribusi yang terutang.
23. Masa Retribusi adalah suatu jangka waktu tertentu yang merupakan
batas waktu bagi Wajib Retribusi untuk memanfaatkan jasa dan
perizinan tertentu dari Pemerintah Daerah yang bersangkutan.
24. Surat Setoran Retribusi Daerah, yang selanjutnya disingkat SSRD, adalah
bukti pembayaran atau penyetoran retribusi yang telah dilakukan dengan
menggunakan formulir atau telah dilakukan dengan cara lain ke kas
daerah melalui tempat pembayaran yang ditunjuk oleh Bupati.
25. Surat Ketetapan Retribusi Daerah Lebih Bayar, yang selanjutnya
disingkat SKRDLB, adalah surat ketetapan retribusi yang menentukan
jumlah kelebihan pembayaran retribusi karena jumlah kredit retribusi
lebih besar daripada retribusi yang terutang atau seharusnya tidak
terutang.
26. Surat Tagihan Retribusi Daerah, yang selanjutnya disingkat STRD, adalah
surat untuk melakukan tagihan retribusi dan/atau sanksi administratif
berupa bunga dan/atau denda.
27. Kas Daerah adalah tempat penyimpanan uang Daerah yang ditentukan
oleh Bupati untuk menampung seluruh penerimaan Daerah dan
digunakan untuk membayar seluruh pengeluaran Daerah.
28. Insentif pemungutan Retribusi yang selanjutnya disebut Insentif adalah
tambahan penghasilan yang diberikan sebagai penghargaan atas kinerja
tertentu dalam melaksanakan pemungutan Retribusi.
29. Penyidik adalah Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia atau Pejabat
Pegawai Negeri Sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh Undang-
undang untuk melakukan penyidikan.
30. Penyidik Pegawai Negeri Sipil yang selanjutnya disingkat PPNS adalah
Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan Pemerintah Daerah
yang diberi wewenang khusus oleh undang-undang untuk melakukan
penyidikan terhadap pelanggaran peraturan perundang-undangan yang
menjadi dasar hukumnya.

2. Ketentuan Pasal 2 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut :

Pasal 2

Dengan nama Retribusi Pengendalian Menara Telekomunikasi dipungut


retribusi atas pemanfaatan ruang untuk menara telekomunikasi,
pelayanan dibidang pengawasan dan pengendalian baik ditinjau dari
aspek tata ruang, keamanan dan kepentingan umum.

3. Ketentuan Pasal 3 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut :

Pasal 3

(1) Objek Retribusi adalah pemanfaatan ruang untuk menara


telekomunikasi dengan memperhatikan aspek tata ruang, keamanan
dan kepentingan umum.
(2) Dikecualikan dari obyek Retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
adalah :
a. Menara Telekomunikasi yang digunakan untuk kepentingan
pertahanan, keamanan dan ketertiban;
b. Menara Telekomunikasi yang dibangun dengan menggunakan dana
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara / Anggaran Pendapatan
dan Belanja Daerah;
c. Menara Telekomunikasi yang dibangun semata-mata untuk
kepentingan non komersial atau bukan untuk mendapatkan
keuntungan

4. Ketentuan Pasal 7 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut :

Pasal 7

(1) Tingkat penggunaan jasa diukur berdasarkan jumlah kunjungan dalam


pengawasan dan pengendalian menara telekomunikasi selama 1 (satu)
tahun.
(2) Jumlah kunjungan sebagaimana dimaksud ayat (1) ditetapkan
sebanyak 2 (dua) kali dalam 1(satu) tahun.
(3) Indeks variabel jarak tempuh ditetapkan sebagai berikut :
a. Dalam kota : indeks 0,9
b. Luar kota : indeks 1,1
(4) Indeks variabel jenis konstruksi menara ditetapkan sebagai berikut :
a. Menara pole : indeks 0,9
b. Menara 3 kaki : indeks 1
c. Menara 4 kaki : indeks 1,1

5. Ketentuan Pasal 8 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut :

Pasal 8

(1) Prinsip dan sasaran dalam penetapan tariff retribusi ditetapkan untuk
menutup sebagian biaya penyediaan jasa pengawasan dan
pengendalian menara telekomunikasi.
(2) penyediaan jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi biaya
operasional yang berkaitan langsung dengan kegiatan pengawasan dan
pengendalian menara telekomunikasi.
6. Ketentuan Pasal 9 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut :

Pasal 9

(1) Retribusi Pengendalian Menara Telekomunikasi ditetapkan dengan


formulasi sebagai berikut :
RPMT = Tingkat Penggunaan Jasa X Tarif Retribusi
Atau
RPMT = Hasil Perkalian indeks x Tarif Retribusi
Atau
RPMT = Nilai rata-rata indeks variabel x Tarif Retribusi
(2) Tingkat Penggunaan Jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dihitung berdasarkan frekuensi Pengawasan dan Pengendalian Menara
Telekomunikasi;
(3) Tarif dasar penarikan retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
merupakan hasil perkalian variabel penghitungan menara dengan biaya
operasional
(4) Variable perhitungan menara sebagaimana dimaksud pada ayat (3)
adalah merupakan perhitungan kooefisien seperti disebutkan pada
pasal 7 ayat (3) dan ayat (4) dalam peraturan daerah ini.
(5) Biaya Operasional sebagaimana dimaksud pada ayat (3) merupakan
biaya untuk menutup sebagian biaya yang berkaitan langsung dengan
penyelenggaraan pelayanan Pengawasan dan Pengendalian menara
telekomunikasi, dengan komponen terdiri dari Biaya Transportasi, Uang
harian, Honorarium Tenaga Teknis dan alat tulis kantor (ATK).
(6) Satuan harga untuk Biaya Operasional sebagaimana dimaksud pada
ayat (5) ditetapkan pada Peraturan Bupati yang mengatur tentang
Standar Satuan Harga dan Biaya.
(7) Masa retribusi ditetapkan untuk jangka waktu 1 (satu) tahun kalender.
Pasal II

Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya memerintahkan pengundangan Peraturan


Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kabupaten
Manggarai Barat.

Ditetapkan di Labuan Bajo


pada tanggal 19 Februari 2018

BUPATI MANGGARAI BARAT,

AGUSTINUS CH. DULA

Diundangkan di Labuan Bajo


pada tanggal 21 Februari 2018

SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN MANGGARAI BARAT,

MBON ROFINUS
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN MANGGARAI BARAT TAHUN 2018
NOMOR 2

NOREG. PERATURAN DAERAH KABUPATEN MANGGARAI BARAT PROVINSI


NUSA TENGGARA TIMUR : 02 TAHUN 2018.
PENJELASAN
ATAS
PERATURAN DAERAH KABUPATEN MANGGARAI BARAT
NOMOR 2 TAHUN 2018

TENTANG

PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN MANGGARAI BARAT


NOMOR 19 TAHUN 2012 TENTANG RETRIBUSI PENGENDALIAN MENARA
TELEKOMUNIKASI.

I. UMUM

Berdasarkan Amar Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/PUU-


XII/2014 diucapkan pada tanggal 26 Mei 2015, Peraturan Daerah tentang
Retribusi Pengendalian Menara Telekomunikasi tidak mempunyai
kekuatan hukum sebagai dasar pemungutan Retribusi.
Berdasarkan Surat Direktorat Jendral Perimbangan Keuangan
Kementerian Keuangan Republik Indonesia Nomor S-209/PK.3/2016
Perihal Pedoman Penyusunan Tarif Retribusi Pengendalian Menara
Telekomunikasi terkait Putusan Mahkamah Konstitusi (MK),
penghitungan tarif retribusi pengendalian menara telekomunikasi yang
akan diatur dalam peraturan daerah harus berpedoman pada tata cara
penghitungan tarif retribusi sebagaimana diatur dalam Pasal 151, Pasal
152, dan Pasal 161 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak
Daerah dan Retribusi Daerah.
Berdasarkan ketentuan tersebut maka penghitungan tarif retribusi
harus didasarkan pada biaya yang dikeluarkan pemerintah daerah untuk
melakukan pengawasan dan pengendalian menara telekomunikasi,
antara lain honorarium petugas pengawas, biaya perjalanan dinas, biaya
bahan bakar, serta disesuaikan dengan ketinggian menara, jarak menara
dan frekuensi pengawasan/ pengendalian.
Atas dasar pertimbangan dimaksud perlu membentuk Peraturan
Daerah Kabupaten Manggarai Barat tentang Retribusi Pengendalian
Menara Telekomunikasi.

II. PASAL DEMI PASAL

Pasal 1
Cukup jelas.
Pasal 2
Cukup jelas.
Pasal 3
Cukup jelas.
Pasal 7
Cukup jelas.
Pasal 8
Cukup jelas.

Pasal 9

Ayat (1)

Cukup jelas

Ayat (2)
Tingkat Pengguna Jasa untuk perhitungan besarnya Retribusi
ditetapkan : 2 (dua ) sesuai jumlah kunjungan dalam satu tahun.

Ayat (3)

Contoh perhitungan tariff retribusi

1. TARIF TUNGGAL
Jumlah menara : 32
jumlah kunjungan :2
Jumlah kunjungan ke menara pertahun 32 x 2 kali = 64 kunjungan
Jika dalam 1 hari = 3 kunjungan, maka 64 kunjungan dibutuhkan
21,333 hari kerja dan dibulatkan menjadi 22 hari kerja.
maka biaya operasional per tahun adalah sebagai berikut :
1 Trasportasi 1 tim 22 Rp 1.000.000 Rp 22.000.000
2 Uang Harian 3 orang 22 Rp 300.000 Rp 19.800.000
3 ATK 1 tahun Rp 6.000.000 Rp 6.000.000
Total biaya operasional per tahun Rp 47.800.000
Biaya rata-rata atau tarif permenara pertahun (32
menara) Rp 1.493.750

TARIF VARIABEL
2.
diasumsikan variabel yang digunakan sebagai berikut :
* Var jarak tempuh dalam kota ( indeks 0,9) dan Luar kota (indeks 1,1)
* Var jenis menara : menara pole (indeks 0,9), menara 3 kaki (indeks 1)
dan menara 4 kaki (indeks 1,1)

a. Pendekatan 1 : mendistribusikan biaya rata-rata sebesar Rp


1.493.750,- ke masing-masing variabel sesuai indeks

Biaya yang Distribusi


Variabel Indeks Indeks
didistribusikan Biaya
5 (2x4
1 2 3 4 atau3x4)
Dalam Kota 0.9 1.493.750 1.344.375
* Menara Pole 0.9 1.344.375 1.209.938
* Menara 3 kaki 1 1.344.375 1.344.375
* Menara 4 kaki 1.1 1.344.375 1.478.813
Luar Kota 1.1 1.493.750 1.643.125
* Menara Pole 0.9 1.643.125 1.478.813
* Menara 3 kaki 1 1.643.125 1.643.125
* Menara 4 kaki 1.1 1.643.125 1.807.438

Berdasarkan pendekatan 1, maka formulasi perhitungan dijabarkan


sebagai berikut :

RPMT = Hasil perkalian indeks x Tarif Retribusi


Untuk menara 4 kaki yang berada didalam kota :
RPMT = indeks var jarak tempuh x indeks var jenis menara x Tarif
= 0.9 x 1.1 x Rp 1.493.750,-
= Rp 1.478.813,-

Untuk menara 4 kaki yang berada


diluar kota :
= indeks var jarak tempuh x indeks var jenis menara x Tarif
= 1.1 x 1.1 x Rp 1.493.750,-
= Rp 1.807.438,-

b. Pendekatan 2 : Menggunakan rata-rata indeks

RPMT = Nilai rata-rata indeks variabel x Tarif Retribusi

Untuk menara 4 kaki yang berada didalam kota :


RPMT = indeks var jarak tempuh + indeks var jenis menara x Tarif
2
= 0.9 + 1.1 x Rp 1.493.750,-
2
= Rp 1.493.750,-

Untuk menara 4 kaki yang berada diluar kota :


RPMT = indeks var jarak tempuh + indeks var jenis menara x Tarif
2
= 1.1 + 1.1 x Rp 1.493.750,-
2
= Rp 1.643.125,-

TAMBAHAN LEMBARAN DAERAH KABUPATEN MANGGARAI BARAT NOMOR 188


BUPATI MANGGARAI BARAT
PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR

PERATURAN DAERAH KABUPATEN MANGGARAI BARAT


NOMOR 3 TAHUN 2018

TENTANG

PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN MANGGARAI BARAT


NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG PERLINDUNGAN LAHAN PERTANIAN
PANGAN BERKELANJUTAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BUPATI MANGGARAI BARAT,

Menimbang : a. bahwa Kabupaten Manggarai Barat sebagai daerah


agraris telah memberikan kontribusi yang besar
dalam penyediaan pangan nasional, bahan baku
industri sekaligus menjadi mata pencaharian pokok
dan sumber penyediaan lapangan kerja;
b. bahwa untuk mengendalikan alih fungsi lahan pertanian
pangan dan menjamin tersedianya lahan pertanian
pangan secara berkelanjutan di Kabupaten Manggarai
Barat, Pemerintah Daerah perlu melindungi dan
menetapkan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan
sesuai ketentuan pasal 22 Undang-Undang Nomor 41
Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian
Pangan Berkelanjutan;

c. bahwa semakin meningkatnya pertambahan


penduduk, perkembangan ekonomi dan industri
mengakibatkan terjadinya degradasi, alih fungsi dan
fragmentasi lahan pertanian pangan yang
berpengaruh terhadap daya dukung guna menjamin
kemandirian, ketahanan dan kedaulatan pangan di
daerah, maka Peraturan Daerah Kabupaten
Manggarai Barat Nomor 1 Tahun 2015 tentang
Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan
perlu diubah;

d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana


dimaksud dalam huruf a, huruf b dan huruf c perlu
membentuk Peraturan Daerah tentang Perubahan
atas Peraturan Daerah Kabupaten Manggarai Barat
Nomor 1 Tahun 2015 tentang Perlindungan Lahan
Pertanian Pangan Berkelanjutan;

1. Pasal 18 ayat (6) Undang-Undang Dasar Negara


Mengingat : Republik Indonesia Tahun 1945;
2. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2003 tentang
Pembentukan Kabupaten Manggarai Barat di Propinsi
Nusa Tenggara Timur (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2003 Nomor 28, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4271);

3. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang


Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan
(Lembaran Negara Republik Indonesi Tahun 2009
Nomor 149, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5068);
4. Undang–Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang
Pemerintahan Daerah ( Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587 ),
sebagaimana telah diubah beberapa kali, terakhir
dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015
tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang
Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015
Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5679);
5. Peraturan Daerah Kabupaten Manggarai Barat Nomor
1 Tahun 2015 tentang Perlindungan Lahan Pertanian
Pangan Berkelanjutan (Lembaran Daerah Kabupaten
Manggarai Barat Tahun 2015 Nomor 1, Tambahan
Lembaran Daerah Kabupaten Manggarai Barat Nomor
151);

Dengan Persetujuan Bersama

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN


MANGGARAI BARAT
dan
BUPATI MANGGARAI BARAT

MEMUTUSKAN:

PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN


Menetapkan MANGGARAI BARAT NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG
:
PERLINDUNGAN LAHAN PERTANIAN PANGAN
BERKELANJUTAN.

Pasal I

Ketentuan Pasal 29 ayat (3) dan ayat (4) dalam Peraturan Daerah
Kabupaten Manggarai Barat Nomor 1 Tahun 2015 tentang Perlindungan
Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (Lembaran Daerah Kabupaten
Manggarai Barat Tahun 2015 Nomor 1, Tambahan Lembaran Daerah
Kabupaten Manggarai Barat Nomor 151) dihapus, sehingga berbunyi
sebagai berikut :

Pasal 29

(1) Lahan yang telah ditetapkan sebagai Lahan Pertanian Pangan


Berkelanjutan dilindungi dan dilarang dialihfungsikan.
(2) Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) hanya dapat dialihfungsikan oleh Pemerintah atau
Pemerintah Daerah dalam rangka:
a. pengadaan tanah untuk kepentingan umum; atau
b. terjadi bencana alam.

(3) Dihapus.

(4) Dihapus

Pasal II
Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya memerintahkan pengundangan


Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah
Kabupaten Manggarai Barat.

Ditetapkan di Labuan Bajo


pada tanggal 19 Februari 2018

BUPATI MANGGARAI BARAT,

AGUSTINUS CH.DULA

Diundangkan di Labuan Bajo


pada tanggal 21 Februari 2018

SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN MANGGARAI BARAT,

MBON ROFINUS

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN MANGGARAI BARAT TAHUN 2017


NOMOR 3

NOREG. PERATURAN DAERAH KABUPATEN MANGGARAI BARAT PROVINSI


NUSA TENGGARA TIMUR : 03 TAHUN 2018.
PENJELASAN
ATAS
PERATURAN DAERAH KABUPATEN MANGGARAI BARAT
NOMOR 3 TAHUN 2018

TENTANG

PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN MANGGARAI BARAT


NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG PERLINDUNGAN LAHAN PERTANIAN
PANGAN BERKELANJUTAN.

I. UMUM
Salah satu upaya yang dilakukan oleh pemerintah dalam
menyelamatkan lahan pertanian pangan dari degradasi, fragmentasi
dan alih fungsi lahan pertanian pangan ke non-pertanian adalah
dengan mengeluarkan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang
Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LPPB) serta
diimplementasan dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
Nomor 1 Tahun 2011 tentang Penetapan dan Alih Fungsi Lahan
Pertanian Pangan Berkelanjutan. Dalam rangka
mengimplementasikan undang-undang tersebut, Pemerintah
Kabupaten Manggarai Barat menilai perlu untuk melakukan
identifikasi dan inventarisasi Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan
yang ada di Kabupaten Manggarai Barat, sekaligus dilakukan
pengkajian, dalam rangka, pengendalian alih fungsi lahan pertanian
pangan melalui perlindungan lahan pertanian pangan merupakan
salah satu upaya untuk mewujudkan ketahanan dan kedaulatan
pangan, dalam rangka meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan
petani dan masyarakat pada umumnya.

Kebijakan yang diatur dalam Pasal 29 ayat (3) Peraturan Daerah


Kabupaten Manggarai Barat Nomor 1 Tahun 2015 tentang
Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan, yang
menyatakan “ Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan yang dapat
dialihfungsikan selain dalam rangka pengadaan tanah untuk
kepentingan umum atau terjadi bencana sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dapat pula dialihfungsikan paling banyak seluas 300 m2 (tiga
ratus meter persegi) dalam hal Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan
yang dimiliki petani hanya satu-satunya dan akan digunakan untuk
rumah tinggal.” Kebijakan ini menuai persoalan di lapangan karena
mendorong masyarakat untuk membangun pemukiman pada daerah
irigasi.
Sehubungan dengan hal tersebut Pemerintah Kabupaten Manggarai
Barat perlu mengubah Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2015
tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan.

II. PASAL DEMI PASAL

Pasal 29

Cukup Jelas

TAMBAHAN LEMBARAN DAERAH KABUPATEN MANGGARAI BARAT NOMOR


189.
BUPATI MJttGGARAI BARAT
PROVINSI NUSA TENGG― Tm口ER

PERATURAN BUPATI MANGGARAI BARAT

NOmOR“ TAEUN 20■ 8

TENTme

TATA CARA PENGALOKASIAN,PENYALURm DAN PENHAPAN PENGHASI園


THAP XEPALA DESA,PERANGXAT DESA DAN TUNJANGAN BPD
YANG B班 薔 Ⅷ BER DARIAPBD T― N ANGGA-2018

DENGAN RAHIEAT TUHAN YANG MAHA ESA

BUPATI MANGGARAI BARAT,

Menimbang : a. bahwa dalam rarlgl<a pengalokasian Alokasi Dana Desa (ADD)


sesuai dengan ketentuan Peraturan Daerah Nomor 21 Tahun 2Ol7
tentang Penetapan APBD Kab. Manggarai Barat Tahun 2018,
maka perlu diatur dengan Peraturan Bupati;

bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaiamana dimaksud dalam


huruf a, perlu menetapkan Peraturan Bupati Manggarai Barat
tentang Tata Cara Pengalokasian, Penyaluran, Penggunaan Alokasi
Dana Desa yang Bersumber Dari APBD Tahun Anggaran 2018;

Mengingat 1 1. Undang-Undang Nomor I Tahun 2OO3 tentang Pembentukan


Kabupaten Manggarai Barat di Provinsi Nusa Tenggara Timur
(l,embaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 28,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor a27L);
2. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa (l,embaran
Negara Republik Indonesia- Tahun 2OL4 Nomor 7, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5495);
3. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2OL4 tentang Pemerintahan
Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2Ol4 Nomor
244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
5587); sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan
Undang-Undang Nomor O9 Tahun 2015 tentang Perubahan kedua
atas Undang-Undang Nomor 23 Tatrun 2Ol4 tentang Pemerintah
Daera-tr (Iembaran Negara Republik Indonesia ?ahun 2A75 Nomor
58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
soze\ )
4. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang
Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republil,
Indonesia Tahun 2OO5 Nomor 140, Tambahan l,embaran Negare
Republik Indonesia Nomor 5161);
5. Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2OL4 tentang Peraturar:
Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2AA tentang Dese
sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor
47 Tahun 2015 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintat
Nomor 43 Tahun 2Ol4 tentang Pelaksanaan Undang Undang
Nomor 6 Tahun 2OL4 tentang Desa {lembaran Negara Republili
Indonesia Tahun 2015 Nomor 157 ?ambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5717);
6. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 113 Tahun 2Ol4 tentang
Pengelolaan Keuangan Desa (l,embaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2OI4 Nomor 2O93);
7- Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 8O Tahun 2015 tentanE
Pembentukan Produk Hukum Daerah;
8. Peraturan Daerah Kabupaten Manggarai Barat Nomor 1O Tahur
2015 tentang Badan Permusyawaratan Desa (Lembaran Daerah
Kabupaten Manggarai Barat Tahun 2015 Nomor 1O);
9- Peraturan Daerah Kabupaten Manggarai Barat Nomor 21 Tahur:
2Ol7 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerat
Kabupaten Manggarai Barat Tahun 2018 (l,embaran Daerat
Kabupaten Manggarai Barat Tahun 2A17 Nomor 21);
10. Peraturan Bupati Manggarai Barat Nomor 84 Tahun 2Ol7 tentang
Penjabaran Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten
Manggarai Barat Tahun 2018 (Lembaran Daerah Kabupater:
Manggarai Barat Tahun 2Ol7 Nomor 84).

MEMUTUSKAN:

Menetapkan : PERATURAN ttPJtt TENTANG TATA CARA PENGALOKASIAN,


PENVALURAN DAN PENETAPAN PENGHASILAN TETAP
KEPALA DESA,PERANGKAT DESA DAN TUNsIANGAN BPD YANG
BERSUMBER D― APBD T― N ANGGARN 2018

BAB I


Pasal l

Dalam Peraturan Bupatiini,yang dimaksud dengan:


1. Kabupaten ad― Kabupaten Manggara■ Barat.
2.Bupati adttah Bupati Manggra■ Bご 誠 .

3.Pemerintah D策憂l adalah Pemerintah ttibttnttn M_aral Barat.


4.Dinas Pemb∝ 山vttm MaSyarakat dan Desa,p閣 嚇 至 目 a寧 氏 鴫 を電漁 dh喜 {独 ns
adalah Dinas Pemberdayaan Masyarabt dan Desa LbuF威 鑢 Manggarat Barat。
・ :慇 ぶ躙鑢盤淵瀾竃為:鍛FD addall
6. Pemerintahan Desa adalah penyelenggaraan urusa.n pemerintahan dan
kepentingan masyarakat setempat dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan
Republik Indonesia.
7. Pemerintah Desa adalah kepala Desa atau yang disebut dengan nama lain dibantu
perangkat Desa sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Desa.
8. Badan Permusyawaratan Desa adalah lembaga yang melaksanakan fungsi
pemerintahan yang anggotanya merupakan wakil dari penduduk Desa
berdasarkan keterwakilan wilayah dan ditetapkan secara demokratis.
9. Jumlah Desa adalah Jumlah Desa yang ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri.
lO.Keuangan Desa adalah semua hak dan kewajiban Desa yang dapat dinilai dengan
uang serta segala sesuatu berupa uang dan barang yang berhubungan dengan
pelaksanaan hak dan kewajiban Desa.
1l.Pengelolaan Keuangan Desa adalah keseluruhan kegiatan yang meliputi
perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan, dan pertanggungiawaban
keuangan Desa.
12. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa, selanjutnya disebut RPJMDesa,
adalah Rencana Kegiatan Pembangunan Desa untuk jangka waktu 6 (enam)
tahun.
13. Rencana Kerja Pemerintah Desa, selanjutnya disebut RKPDesa, adalah penjabaran
dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa untuk jangka waktu 1 (satu)
tahun.
14. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daeratr yang selanjutnya disebut APBD, adalah
rencana keuangan tahunan pemerintah Kabupaten Manggarai Barat yang dibahas
dan disetujui bersama pemerintah Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
dan ditetapkan dengan Peraturan Daerah.
15. Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa, selanjutnya disebut APBDesa, adalah
rencana keuangan tahunan Pemerintahan Desa.
16. Alokasi Dana Desa yang selanjutnya disingkat (ADD) adalah Dana yang bersumber
dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang diperuntukkan bagi Desa
yang ditransfer melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
Kabupaten /Kota dan digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan,
pelaksanaan pembangunan, pembinaan kemasyarakatan, dan pemberdayaan
masyarakat.
17. Alokasi Dasar adalah alokasi minimal Dana Desa yang akan diterima oleh setiap
Desa, dihitung dengan cara membagi besaran tertentu dari anggaran Dana Desa
dengan jumlah Desa lingkup Kabupaten.
18. Indeks kemahalan konstruksi, yang selanjutnya disingkat IKK, adalah indeks yang
mencerminkan tingkat kesulitan geografis yang dinilai berdasarkan tingkat
kemahalan harga prasar€rna frsik secara relatif antar Daerah.
19. Indeks kesulitan geogralis Desa, yang selanjutnya disingkat IKG Desa, adalah
angka yang mencerminkan tingkat kesulitan geografis suatu Desa berdasarkan
variabel ketersediaan pelayanan dasar, kondisi infrastruktur, transportasi dan
komunikasi.
20. Kelompok transfer adalah Dana yang bersumber dari Anggaran Pendapatan
Belanja Negara, Anggaran Pendapatan Belanja Daerah Provinsi dan Anggaran
Pendapata Belanja Daerah Kabupaten/ Kota.
21. Pemegang Kekuasaan Pengelolaan Keuangan Desa adalah Kepala Desa atau
sebutan nama lain yang karena jabatannya mempunyai kewenangan
menyelenggarakan keseluruhan pengelolaan keuangan Desa.
22. Pelaksana Teknis Pengelolaan Keuangan Desa yang selanjutnya disingkat PTPKD
adalah unsu.r perangkat Desa yang membantu Kepala Desa untuk melaksanakan
pengelolaan keuangan Desa. I
23. Selcetaris Desa adalah beJttndak selaku koordinator pdaksanaaFl pengeldL口 匡
keuangan Desa.
24.Kepala Seksi adalah unsur dari pelaksana telmis ktttan dengan bid田 疑押ya.
25.Bendahara adalah unstlr staf sekretariat Desa yang membidangi unsam
administrasi keuangan untuk menattusahakan keuangan Desa.
26.Rekening Kas Umum Dacrah y舞 lg selttutnya disebut RKUD,adalah rekening
tem.pat penppanan uang Daerah yang ditenmkan Oleh Bupati untuk
=Len―pu_seluruh pellenmtt Daerah dan membaF`r sel_h pengeluaran
Daerah Pada bank yang ditetapkan`
27.Rekening Kas Desa{RKD)adalah rekening tempat m田 甲 mpan uang Pcmerintah錮
Desa yang menmpung sdunh penerilmaan Desa dan akan untuL
mmbayar selurLIh pengeluaran Dett ptth Bank yang ditetapm. …
28。 Penerimaan Desa adalah Uang yang berasal dari seluruh pendapatan Desa yanE
masuk ke APBDesa melaluirekening kas Desa.
29. Pengeluaran Desa adalah Uang yang dikeluarkan dari APBDesa mdalui rekenin8
kas Desa.
30. Surplus Anggaran Desa adalah selisth lebih antara pendapatan Desa dengam
bёhtta Desa.
31. Densit Awaran Desa adalah selisth kurang田 ■taa pedapatan Desa de電 鋼
bel劇 可a Desa`
32. Sisa Lebih Perhitungan」 亀nggaran yang ttL蹴 電utl■ya disingat sILPA adalah settsib
lebith realisasi peneFilmaan dan pelFlgeluaran anggaran selm satu penodc
anggaran.
33.Peraturan Desa adalah peraturan perLLndang― undangan yang ditetapkan oleb
Kepala Desa setelah dibahas dan disepakati bers… Badan Pemusyawaratall
Desa.

BAB II

ASAS,MAKSUD DAN TUttAN PENOELOLAAN DAN RUAFO LINGKUP


ALOKASI DANA DESA

Bagjan Kesatu
Rueng Lingknp darr Ases kngetolaan Xeuangm Dese

Pasal 2
Pengelolaan Keuangan Desa berdasarkan asas-asas transparan, akuntabel,
partisipatif serta dilakrkan deagan tertib dan dieiplin anggararr datarn masa 1
{satu) tahun anggaran, mulai tanggat 1 Jarruari sampai deagan tunggal 31
Desember Tahun 2018.

Bagian Kedua
Maksud dan町 uan

Pasa1 3
(1)MakSud ADD, dip五 o五 taskan IIlembiayai pelaksanaan penyelenggaraan
aり は載‐m
i鳳糧鴛露L置 犠富 憮穂富藤r∫ aξ
(2)■可uan ADD:
a.Meninntkan fungsl penyelenggaraan pemerindan Desa,dalnm pemberiam
pdayanan kepada maw額 畿 ati
b.Meninntan ketersediaan sarana dan pramrana yane
dibutuhkan oleh mnw額 畿 ち
Co M… 臨 ekonomi masyarnt melalul pengettangan dan usaha
ckonomi produktif mAsyrakat;
do Meningatkan kem額 町)uaFl lembを導a kemasyaFak/atan Desa dala
peren… ,pelakSanaan dan pengendalian pembmgunan secara partisIPatil
sesuai dengan potlensi Desa;dan
e.Peninntan partisipョ 直 dan peran serta masyarakat dalnFn meWttudkall
kemmdiFian壷 独 penin3atan daya sang.

BAB II
ALOKASI DANA DESA

BagiallL Kesatu
Fengalokasian Dama Desa setiap Desa

Pasa1 4

(η ADD bcrsumbcF dari APBD yang ditransfcr olch Peme― tah Daerah kepade
DeSA.
(2)Rincian ADD setiap Desa dialokasikan secara berkeadilan berdasarkani
a. Alokasl dasar;dan
b.Alokasi Fo....ula yang dihitung dengan memperhatikan jun」 ah penduduk
Desa,arlgka kemiskinarl Desa,luas wilayah Desa dan tmgkat kesuht麺
geografls setiap Desa=
(3)Besaran alolttlsi dasar setiap Desa dihitung dengan cara membagl alokasi dasal
Kabupaten dengarlJumiah Desa.
(4)Rinctan ADD setiap Desa berdasarkan alokasi dasar sebagalIInalla dimaksud
ayat(2)huruf a adalah sebesar 90%(sembilan puluh perseratus)dari anggar田
ADD;
(5)Rincian Alokasi Dana Desa setiap Desa berdasarkan alokasi yang dihitun[
dengan memperhatikan juniah penduduk Desa, angka kelnlslcinan, lua〔
wilaytt dan tingkat kesulitan geografls setiap Desa sebagalmarla dimaksud ayat
(2)hurtlf b adalah sebesar 10%(Sepuluh perseratus)dan anggaran Dana Desa.
(6)RilnciaFI ADD sebagai=Lana dimaksud pada、 ミ (2)hunlf b IIIcnggun赫 b6bol
sebaga■ berikut:
a。 250/0(dua puluh lima per seratus)untukjunllah penduduk;

b. 35%(tiga puluh lima per seratus)untuk angka kemlslcinan


c.10%(sepuluh perseratus)untuk luas wilayah;dan
d。 300/O ltiga puluh perseratus)untuk tinょ at kesulitan geografls.
(7)Angka kemiskinarl Desa darl tingkat kesuhtan geografls Desa sebagalIIlarlc
dimaksud pada ayat(5)masing― masing dituttukkan olch jumlah penduduL
miskin Desa dan IKG Desa.
{8)Penttitungan五 ncian Alokasi Dana Desa setiap Desa sebag― arla dlmaksud
p〔 da ayat(6)dilakukan dengan mengttntt fo...lula sebagai bcrikut:

AF Setiap Dcsa={(0,25屯■)+(0,35'Z2)十 (0,10*Z3)+(0,30'Z4))'


(DD kabupaten― AD Kabupaten)■
Keterangan:

AF Setiap Desa=義 hb直 F∝mula Sttap Desa_


Zl=Rasiojumlah penduduk setiap Desa terhadap total penduduk Desa
Kabupatlen.
Z2=]R銀 菫oJulnla penduduk mitt setiap Desa terhadap tom penduduk midttn
Desa kabupaten.
Z3=Rasio luas w江 町 ah setiap Desa terhattp luns wilayah Desa Kabupaten.
Z4=]磁 鴻わ IKG“i句 p Desa terhad電 》totalIKG Desa Kabupaten.
DD=Pagu Alokasi Dana Desa Kab■ lpaten.
AD‐ Besaran… daSar untuk… Desa ttLattkan dttgan 3-lah Dcsa
dalA7n Kabupaten.

Pasal 5

(1) Penyusunan IKG Desa ditetapkan berdasarkan datadari Kementerian yang


berwenang dan/atau lembaga yang menyelenggarakan urusan pemerintah
dibidang statistik.
(2) IKG Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditentukan oleh beberapa faktor
meliputi:
a. Ketersediaan prasarana pelayanan dasar;
b. Kondisi infrastruktur; dan
c. Aksebelitas/ transportasi.

Pasal 6

t1) Rincian Alokasi Dana Desa setiap Desa berdasarkan alokasi dasar dan alokasi
yang dihitung dengan memperhatikan jumlah penduduk, angka kemiskinan,
luas wilayah dan tingkat kesulitan geogralis sebagaimana tercantum dala:rr
lampiran I yang tidak terpisahkan dari Peraturan Bupati ini.
(21 Rincian penggunaan Dana Pemilihan Kepa1a Desa (PILKADES) tercantum dalam
lampiran II yang tidak terpisahkan dari Peraturan Bupati ini.

Bagran Kedua
Mekanisme dan Tahapan Pen5raluran Alokasi Dana Desa

Pasa1 7

(1)Rnyal… Daa Dcsa出 鐵 面 crlgan― 評 菫」ndahbukuan d御 ぼ


RKUD ke …
RIO.
(2)PenyaluFan Alokasi Dana Desa seb― a dimaksud pada ayat(1)dilakukan
secara ber範 叩 paぬ tahun ttsaran ttdan dengtt ketentuan:
a. Tahap I Pada bulan」 an■Lan S/d Maret sebesar 30%(dua puluh peF Seratusl,
b.T〔 ぬ 甲 IIpada bulan tt s/d tt Sebesar 30%〔 emptt pduh per s曖 甑 sII
こ.寝 山 季 壼 繭 讚 施 戯 義 要 Stuこ 釜 疑 面 400/Olempat puluh椰 顧 sera■ 苺 ;

(勢 Penyalurm AloLsi Dtta Desa setiap tahap sebagaIInana d極 激 轟 d ayat 121
硼 議 銀 建 瓶 ptt lambatp壼 a mhggu kedua h濃 壼 静 饉 g bersan誹 磁 tan.ス
^
Pasal 8

{f} Penyalur:an Alokasi Dana Desa dari RKUD ke RKD dilaksanakan oleh BPI(D.
(2) Penyaluran Alokasi Dana Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan
setelah Kepala Desa menyampaikan:
a. Tahap I berupa Peraturan Desa tentang Rencana Kerja Pemerintalr Desa
(RKPDes), Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDesa) dan/perubahan
APBDes dan Laporan Realisasi Pelaksanaan Anggaran dan Pendapatan Desa
tahun anggaran sebelumnya;
b. Tahap II berupa laporan bukti belanja penyerapan tahap I;
c. Tahap III berupa laporan realisasi penyerapan sampai dengan tahap II;
(3) Laporan realisasi penyerapan Alokasi Dana besa sampai dengan tahap Il
menunujukan rata-rata realisasi penyerapan paling sedikit sebesar 75% (Tujuh
Puluh Lima Persen)
(4) Kepala DPMD memberikan Rekomendasi kepada Bupati melalui BPKD setelah
dokumen persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilengkapi oleh
Kepala Desa.
(5) Kepala BPKD menyalurkan ADD ke Rekening Desa setelah mendapatkar:
rekomendasi dari Dinas.

Bagian Ketiga
Penetapan Penghasilan Tetap Kepala Desa, Sekretaris,
Kepala Seksi, Kepala Urusan, Dusun, Staf Desa Tuqiangan Kepala Desa dan BPD

Pasa1 9

(1}Penl典 銀 戯an tetap{SILTAPI Kepda Desa山 腱 Perangat Desa diatur palinE


banyak 60%dari Abhtti Dana Desa;
(21 Besara■ l pemasilan tetap Kepala Des亀 象彙 鮨直 s Destt Kepala Urusan,
Keplala Seksij Dusun歯 Staf De〔 漁 sebagalmana“dinaksud pada ayat l(satul
ditetapkan sebagai berint:
a. Kepala Desa Rp.2.182.500/bulan;
b.Sel認 蜘 こs Desa,mo/。 ぃ juh puluh pers購 血 叫 daFi SILTAP藍 sal
c. Kepala Urusan,Kepala Seksi dan Dusun yakni 50%llima puluh pen
"ala lゝ
seratsl dari SILTAP Kepala Desa dan;
do Staf Desa maksima1 4・ 0%lempat puluh per seratusl tt SIHP Kepala
Desa.
(3)Kepala Dlesa dan/Kepala Desa yang hぉ al dari unsttr PNS ttibo硼 睦返
tuttangan sebesar Rp. 200.000,‐ /bulan seFta penttaan l― nya seslua
ketentuan peraturan神 剛 1&喝帥 yang berlk.
14)Rttjabat Kepda De〔 建 yang berasal dari ttnstlr PNS diberikan tuttang麺
sebett RP.540.000,― /bulan.
151 Bcsaran加 哺angan tugas dan hngsi BPD磁 もe鶴蝉 帥 :

ao Ketua BPD maksimal Rp.600.000,一 /bulan;


bo Wakil Ketua BPD maksiFnAl Rp.550.000,― /bulan;
co Sekretaris BPD maksimal Rp.500.000/bulan;dan
d.A出 崚盟ota BPD maksimal Ro.450.000っ ―/bulan.L
Keempat
… 時 BPJS

Pasa1 10
1)Kepala Desa dan Perangkat蠅 ib mengikuti program keschatan stt BPJ〔
untukj〔 通面han le∝ h轟 ;
2)Kёptta Desa■ engdokasin dalm APBDesa biaya BP」 s iiltuk Kepala醗 醸
dan perangat De毅 ;

3)Besaran biaya sebag― ana dinaksud anga l sebesar 5 0/O dengan ketentuan:
a. 30/O ltiga per seratus)dibebankan pada APBDesa;dan
b. 20/0(dua per seratus〕 dari penghasilan tetap(SILTAPl.
4)Kepesrertaan Kepala Desa dan Perurat ntta dalam program BP」 S畿
pembebanan anggaran setelah K叩 山 Desa melakukan ttattian dengal
BPJS.
島 麗〔顧 Kepala Desa dan Perangat Desa yang sudah珈 団 直 遍 icam jaminaF
kesehatan 13山 遭りa,maka menJadi kewenangan Desa untuk disepakati.

Ketentuan …han ttnas


… P2o車

Pasa1 11
(1) POttalanan dinas disesuattan kemampuan keuangan Desa.
12)Ketenman g瑚 alanan dinas diatur sebagai berint
ao Linttp Desa:
1} Kepala Desa,― 路 .50.000/haFil
2) Sekretaris Desa dan BPD.― Rp.40.000/htt dan
3) Perangkat Desa lainnya,― Rp.30.000/hari.
bo Linttp Kecanlatan:
1)Kepala De縫 Rp.100.000/hari:
,―

2) Seh“ 光a餞 s Desa dan BPD,― Rp.80000/haFil dan


3) Perangkat Desa l〔 innya,― Rp.60.000/hari.
c. L色 襲 」懸Щp Kabupaten:
1)Kepala Desa,― Rp.250.000/hari;
2) Sekretaris Desa dan BPD,― Rp.200.000/hari;dan
3〕 Perandat Desa lainnya,― Rp.150.000/hari.

d.Diluar Kabupaten Manggara■ Barat dalam Wilayah NTr


l}Uang Hrian
a´ Kep」 L DesaF‐ Rp_500.000/h逢,
bi Sekretaris Desa dan BPD,― Rp.450.000/hari;dan
c. Perangkat Desa lainnya,‐ Rp.300.000/hari.
2)Uac… ar.
a:Kepala Desaタ ーRp=500=000/haFi;
b. Sekreta己 s Desa dan BPD,‐ Rp.450.000/had;dan
c Peranrat Desalaimya,― 、 300_000/ha亜 .

鶴 Uang Transpttsi
e.Diluar Wilayah剛
1)Uang Hh畿 腱 ・
a: K● pda Desaぅ ―Rp:600.000/hari;
b. Sekrenis Desa dan BPD,― Rp.500.000/hail dan
a Perangkat Desa… RP・ 400.0001/発 直
,― .

鋤 Uang Penginttan
a. Kepala Desa,― Rp.600.000/皿 ;

bo Sehetaris Desa dan BPD,‐ Rp.550.000/haril dan

議虚憲 平
tF山 L「 Rp.450,000/hari.
a uattTr雲
N∞︼ヽ
∞め一ヽ
卜H一
ヽ 、
0卜∞ ∞崎” め“ ヽ せ0.
0 ぷ ∞● o S NO .
o N︺.
卜い ゞ 00 .
o S NO.
o ヾ N.
寺H メ “N.
Φ S nO.
0 ベ トH.
o ぷ ”0.
o ∞00︼
、 、
N一め そ∞卜 m∞製 ■く にく “ “0 卜 Z く V く O Z く Z ON

Nヨめヽ
せ∞卜、

NNO い∞“ヽ
へ0“

〇一0 い〇寸、
∞一 ぶ0め.
0 ゞ 崎N.
o S 一∞.
o 一0.
∞ト ぷめ0.
0 ぶ H”.
. 0 一H.
ト ま “o.
0 さ 0■ 0 せめ ゞ 寸0.
一 S 一H.
0 い∞N つ ぼく Z 口く ∝く ∽ 崎N

0
mm一、 ヾ∞卜ヽ
N↓め、
、 ヽ
●0め ∞︼∞ NO∞ め一0. い︼ ゞ 卜め.
o ぶ ON.
0 ま い0.
0 Φ崎.
00 × 卜〇.
o ゝ い0.
0 N0 0日 求 やo.
0 R ︹ ︼.
0 崎ヾ ゞ Oo o S “N.
o ︼いい “∞N 02〇一OV 020 α
NOい、
いON、
”0い ”“N´
︼∞寸、
卜一 S●め.
o S o一.
0 ま せ0.
0 ヾN.
0崎 S 一0.
0 ゞ ヾH.
0 NN.
め S い0.
0 ぷせ﹁0
0
ゞ ∞o 0 S m“.
0 ∞∞ト ヽ一め、 、
そ∞卜 い∞N く yく 〓 “N
“H”ヽ
寸∞卜、

0い0、 、
0い∞ いN”

せ∞卜 一卜一 Nせ ︵︼∞.
0 0 ぶON.
O ゞ ∞0.
0 守め.
一〇 ぶ Oo.
o ヽ い”.
0 ”0.
0一 ゝ 0い.
o ︵一H.
0 一 0〇一 ぷ マ“‘
0 ぷ 崎崎.
0 9〇一H め∞N 卜く にく ∞ 0 2 く ■ 0 コ0 0 NN
、 、
せ0卜 せNO 卜Nめ N∞ヾ、
0せ一、
“せ ぷ寸∞.
0 さ い一6 ぶ い0.
0 せい 0一 S No.
o ぷ 崎N 0 ヾ卜.
一 ヽ ∞せ.
o ヽ 卜m .↓ ヾ∞せ ま せ︼.
0 S 一い。
o りの゛H N゛”、 、
せ∞卜 め∞N

ZくL、薔∽0∞ΣOv
0せ0ヽ N一”ヽ
せ∞卜ヽ
、 ∞mo、
い一N、
めOO 卜H“ いい ぷ ヾ0.
0 ゝ oN.
0 よ 00.
O 一一.
一〇 ゞ No.
0 ぷ “N.
0 NN.
崎 ぶ 0め o ぷ “0.
ョ よ りO o S 一N.
o 卜∞綺 め∞N 工く O Z Ш卜 0 “ Σ O ﹀ ON
N一”ヽ
ヾ∞卜、
、 ヽ
い0●.
せ∞0.
ONめ い0い OOO 一寸 メ め∞.
0 ぷ 崎N.
0 ヽ N∞.
0 OΦ .
0ト よ0一.
0 N 00 日 NH.
”N ぶ 0い.
0 ま あ O.
︼ NOめ S N︼.
0 ふ 0い.
o い卜一゛ め∞N ︺∝002 02]卜2一∞ Φ︼
∞卜ヽ
ヽ ヽ 、 ヽ
い卜い ∞●N ︼Nめ ∞0め せΦ寸 卜“ SN卜.
O S oN 0 ぶ 崎0.
0 ︻卜.
00 S NO.
0 ヽ い‘.
O 0∞.
ヾ よ卜●o Rふ0.
一 トト“ ぷ せ一 〇 ゞ寸崎.
0 いヽNH 一日”´
Ч ∞∞N 020ZくΣ
0せ卜、 、
0日い い0め 卜めヾヽ
Nめい、
日N ゞ 一せ.
0 ま せN.
0 × 〇∞.
0 ぷヾ0.
0 ド ︼せ .
0 卜せ.
い ヽ いO .
O ぶON.
0 めい ^
ぶ nO .
0 S 一一 〇 ∞せヽ NH”ヽ
ヾ∞卜、
0∞N 02くΣO∝ 卜︼
ヽ ヽ 、
ヽい崎 ON一 せ0“ 0∞N い0¨ヽ
ON よ 0め.
0 ぷ oヽ.
0 ふ 00.
0 卜せ.
一〇 X NO.
0 ぶ 0一.
0 せ
gn. S ∞0.
0 S NN.
0 ぶ 0 一.
0 S 一“.
0 めヽ一 NHめ、 、
せ∞卜 め∞N ∝く り り Z く ヽこ っ ↑く ≧ 0一
い0∞、
一トト、
N一“
、 、
卜∞崎 卜∞い ∞N ふ 0い.
0 ゞ ∞H.
0 ま いい.
o 崎0.
せい S NO.
0 ゞ NN.
0 ∞〇 .
い × mN.
0 ヽ い0.
o OめN ざ [﹃ o ゞ 寸め.
0 N゛”ヽ ヽ
ヾ∞卜 ”∞村 卜く>P]コ
“●∞ヽ ヽ
寸︼∞ ∞Hめ
、 ヽ
一∞い O∞一 崎め ぷ∞90 ゝ oN 0 ぶ 00.
0 Oめ ︼0 ヽ NO .
O ヽNN.
o ∞0.
6 X Nい.
0 ぷい0.
0 卜N¨ ぶめ 0 R 3 一.
O 卜せNョ N一“ヽ ヽ
゛∞卜 “∞N ⊃ ∝く “⊃ 卜く ン ヾ一
N↓め、
せ∞卜、
、 、 、
守卜せ 卜のせ ヾ一め 、
NO日 “Hい Φ∞ ぶ0崎.
0 S oN.
0 ヽ ゆO o HO.
H0 S NO.
〇 ゞ 崎N.
0 一卜′
い ま せN.
0 ふ 00.
0 めヽN ,
ぶめ o ゞ”一.
0 0一一H い∞N く〓0コ

¨H
mOい、

0一崎 ゛N“ N∞0、
0トト、
卜め ぷ め卜.
0 よ い[.
0 ま “せ.
0 0卜.
いめ ヽ NO.
0 ぶ ON.
0 い0.
せ ゞ ON.
0 0︵N∞.
0 00N ,.
ヽ いN 0 求∞H.
↓ せトトN N一の、 ヽ
せ∞卜 め∞N りzく﹂ΣOo NH
0ゆ0ヽ
いONヽ
ON一 一輌0 ﹁∞寸.
N寺 ヽ N∞.
0 ぶ ON.
O ぷ Φo.
o 0“.
H0 ぶ HO.
0 ぶ Oo.
0 H
卜0. S oヾ.
0 ぶ Om.
︼ ワ0せ ぷ ”︼.
o R脅 い.
0 N一一一

N一” せ∞卜、
“∞N 9 2く コ 0 コ0 0
0めヾぃ
0一め、
ON“ 寸N一ヽ
崎∞∽ヽ
0い × H卜.
〇 ぷ めH.
O ま せ寸.
0 め∞.
0せ ド ヽ0 .
0 ヾ公∞H.
O ゞ Nめ.
0 ヽ 日0.
0 NN“ ぷ 守N.
0 ぶ ”0.
0 卜めヽN
ヽ ヽ
N︼め ヾ∞卜 め∞N ,
∝くりく ﹂ 0一


0
N一”ヽ
寺∞卜ヽ

崎い0^ 、
↓せ卜 せ一め ∞∞卜 0い0ヽ
0い ふ0 0.
0 よ 0﹁ o ま い0.
0 OH.
∞n Xぐ0.
o ゝ 0一.
0 崎“.
∞ ヽ いN.
0 ざ H卜.
0 N崎N ま N一 o ぶ 0崎.
0 ヾ卜↓H “∞N 0“Σ OY
ヽ ヽ
H卜O O卜“ 0せめ いい卜、
い∞一、
N0 ヽ 一N.
ヨ × HN.
0 S 一卜.
o NN.
00 ぷ [﹃ 0 ま ¨N.
N 一い.
一崎 ぷ ヾ0.
o ヽ せ∞.
H O崎0 0
ぷ “︼. ぶ ”崎.


N一″ せ∞卜、
“∞N ∝0 卜2 く ﹀ く O Z く Z

Φ
ヾ“め、
い0∞、
NN” 、
NNO 崎∞0、
いめ ふ 0卜.
0 X NN.
〇 ゞ “卜.
o いせ .
卜O S ︼■ 0 ふ 00.
︼ い一.
崎一 ふ 0“.
0 ま い∞.
0 求 め H.
o ゞ 一い.
o ∞NN︼

N︼” せ∞卜、
“∞べ < ●く “
∞一崎、 、
0卜い せめ“ い〇国 ∞∞].
O崎 ゞ ∞い .
o ぷ ∞可 0 ぶ0い.
0 一6.
そ一 ませ0.
0 ^HO.
“ 0 Nい 0 や公00.
O ぶ 0卜.
一 ︼00 よ OH.
0 ふ 00.
0 倒め崎H

゛日め ヾ∞卜、
“∞N 0 2 0 卜2 0 ≧
∞卜ヽ
、 ヽ
Φヾ寸.
∞“い め0め ヾめ一 せい”、
ON ぶ 0い 0 × ヾ一 〇 ぶ0せ.
O め∞.
Nぐ まNO.
O や公ON 0 寸
↓一. ま 卜o.
0 S aN.
0 いト ま ●一 o ゞ ¨0.
o “∞ヽH N一めご
ヽ め∞N 0 0 ]∝

い0卜 ∞∞0ヽ
一一め Nい●、
せO”、
∞N ぶい崎.
0 ま ∞N.
o ぷ ∞卜.
o 0一.
一ト よ い0.
0 ざ ∞∞ 0 崎寸.
ON メ H一.
0 S “め.
o 崎HH ヽ 一日、
0 ヽ ヾヾ.
o ヾめ●H N一”、 ヽ
せ∞卜 ”∞N ■く 〓 0 0 2
ヽ ヽ 、 ヽ
NOO ヾ崎∞ い︼“ 一0い い0一 0“ ぷΦ卜.
0 S NN.
0 ぷ 寸卜.
o べい.
∞Φ ま 卜0.
0 よ 0 卜.
〇 nN.
Φ゛ ま い一.
0 ゞ N∞.
0 S NH.
0 ぷ”寸.
一 Nめ↓¨
、 ヽ
゛︼” そ∞卜 崎∞N 02⊃﹀くmΣ
ON∞ヽ
N∞∞、
崎Nめ ∞ HO .

∞ い0 Nせ S 一∞.
0 ぷ せN.
o ぶ 0∞.
0 卜一.
“ト ぶ い0.
0 求 卜∞ .
o ヾ︼.
ON ゞ 一寸.
0 ゞ ∽︼.
︼ い0 そ ぷ ∞o o ぷ ““.
一 いトト 倒一め、 、
せ∞卜 い∞N LくVOに
N一”ヽ
ヾ∞卜ヽ
、 、
“mヾ、
いせΦ 崎“め 0[ヨ い0”ヽ
一崎 ふ 00.
一 ま Φ一.
o S Nい.
o ∞ H ∞せ ゞ ヾ0.
0 × やヾ 〇 りN.
OH ゝ ∞い.
0 ぶ 00.
H 崎∞め ぷ NN.
o S 一∞.
0 卜いON “∞N 一
ぼく ∞
L“OC﹂ ¨ 嘔 ●0● 巨 〓 ●“OE c●”︼
0 こ +ヽ
こ =お こ 0こ ヽ こ +F T ヽ
こ おこ 0こ 奇尋 ミこ 0こ 0こ やヽ ヽ




c コΣ

壼ぎ
゛準 ●﹄ぃ0●0 o〓0﹂む0●0 Eぎ ¨
E 〓ョ﹁●一 颯0●
C¨
3F〓 0﹂ 〓L 要 〓 ,
黎 つ0つ●OL 〓う0●﹁●0●

ヨi
“o●0● C C〓 一
●●●︼ 300¥
C晏〓一 せ0一● “ 一●●o● , 〓 ﹁コOCOL も ●●“ ご●■ヒ ョ ﹃
““〓L●∽●0﹂0● 一0●0“ 一
●一0一 一S “ 〓●一 Eξ , ‘● こ ﹃
●一●0 ,LOL o〓●つ C一0 ¨
o”〓 一〓0﹁C一 ‘C〓●●﹃ 0 ﹁ ●“ ,
O一
一●〓 ,
﹄●い0● ■ ●〓0¨
く c一o●ヽC““●E ●oo︼ ●E ●2
●一。0 ●●●● ョ”ca 3コ oξ 02

O Y一 〓●卜●〓ヽ oO●コ ●コ覇 〓2 〓0 ﹁5﹁CoL 〓C〓〓 ョ﹁ 〓●●●● ●●こ 〓0事● 5﹃

●一
ョCs﹄0﹂ “●〓﹄●い0●Lo“ 一
゛●〓oラヽ
く。
∞︼ON . 0● く ︸く 0“0 く 2く 0 一
卜͡ ∽くyO ョく   2く 一
り2 一

Eく つ 2く   い o   ¨  ョく り 0 2くト
”dON ¨

∞HON 2 つ 〓く卜   rO   ”    ∝0 〓 0 2
卜く Eくm 一
くばく 00 2く S﹂一
卜くL⊃● 2くにつ卜く ∝口L 一Zくだ一
一57コ
∞↓“、 、
Φせめ 日Hめ OO∞ヽ
崎崎一
絆倒 ぷ ”め,
o ぷ 崎N.
0 ヽ N∞.
O ヽ いo.
o Rさ い、
0 9崎.
N一 ま いH.
0 ^
S “一.
〇 ゞ ∞0.
0 S mめ.

、 、
N一め ヾ∞卜 “”N 02]0﹂0 000生 せ︼

O
めい一ヽ ヽ
︼nO 0一∞
、 ヽ
↓せ0 卜一” N¨ ぷ へ0.
0 ゞ 寺N.
一 ゞ 0卜.
0 ON めト ゞ ∞〇.
0 淑さ ∞.
0 いせ .
●︼ ぶ Φ一.
0 ぶ 0●.
0 い0日 ま せい.
O ゞ卜い.
0 め∞一H N一め、 ヽ
そ∞卜 め∞N り Z 里 メ ]0 2 0 コ0 0

N崎ヾヽ ヽ
0めN や0”

0せヨ 崎崎ヾ ON ぶ 0せ.
o ま卜 o ぶ 0崎.
o 卜め.
Nい × 一0 .
0 ぷ ∞o.
0 一い.
H ぷ 一o.
o ヽ せ0.
0 ぶ ON 0 ゞ”∞.
0 ヾ 一い一 N一”、 、
コo3 oΣ uぎ多
せ∞卜 い∞N Na
N︼”ヽ

●∞卜ヽ

0めい、 ヽ
い一0 ︼““

卜NO 日崎” 卜N ぷ せ崎.
0 ゞ ∞ヨ.
o 求 ∞一.
o ON.
せめ ド やO.
0 ヽ いい.
o せい.
∞ ゞ 卜一.
0 ゞ ∞寺.
0 い0一 ぶ 0﹁ 0 ゞ ”一.
0 “∞N ≦ 00 02くコ ”H
ヽ 、
卜や0 一い● 卜0” いめ卜ヽ
0〇一ヽ
“N ぶ 00.
o 求 ∞一.
0 ヽ いい.
0 せ卜.
●崎 ヽ せO.
0 ぷ ∞“.
0 卜0.
∞ ヽ いo .
0 ま “↓.
0 Φヾ よ ON Φ S一卜.
O NO”H 寸∞卜、
N日”ヽ “∞N





Z
2
0
0せい、 、
崎N崎 0一m ∞NO、
一せ卜、
ON S N崎.
0 ゞ Φ H.
● ぷ 一い.
o ヽ NO.
0 ゞ ”N.
o 崎”.
い ぶ 0﹁ o ヽ 卜N.
o 求 寸倒.
0 ドト0.
0 HいヽN

N゛” ヾ∞卜、
“∞N 0 2 く 卜⊃ こ 0 0 0 ﹂
NOせヽ 、
一Nい い︼“

0い0 Hヾ︼ヽ
N“ ヽ NO.
0 × 卜H.
0 ゞ 卜い.
o Nn.
N崎 ぷ “o.
0 S N“.
o ︻ぐ.
ト S aN.
o × H0 0 ヾ一N ゞ ↓N .
o ゝ m∞.
O い いい一
ヽ 、
倒H” せ∞卜 ∞∞N 0020ヘ
ヽ ヽ 、 ヽ
ヾN︼ N一卜 0日” N一∞ い0● ”∞ × せ0.
0 ド ∞■ 0 S ●m.
o On.
せn S oH o ゞ 卜い.
o NN
0”. ゞ ヾH.
0 ド Hヾ.
0 mせ一 S NN.
0 さ 00.
0 い0一N N一め、 、
せ∞卜 め∞N

D
N一”ヽ
ぐ∞卜、
”NO、 、 、
NO卜 い“∞ 一一卜 卜一一ヽ
一m ヽ NO.
0 ぶ 寸一.
一 求 0寺.
o 卜n.
Nせ ぶ OH.
0 ゞHO.
︼ いい.
“N 求 めo.
o 求 Oo o ︼∞ ゞ 崎“ 0 ぶ 0∞.
H 0卜一“ い∞N じ Z “一く ぬ
N一”ヽ
せ∞卜、
ヽ 、 ヽ ヽ
N卜そ ““め OH“ 0●一 0寸一 ON × Hめ.
0 ぷ O︼.
0 メ “崎.
0 め0、
いせ S一0.
0 S い0.
0 N
卜H. ゝ ∞0.
o ヽ NN.
0 ま 卜倒.
0 ヽ 卜一.
H 卜N崎N ”∞N VO さ 2 02 0 a
め卜0ヽ 、 ヽ
∞ヾい そ︼“ 一0卜 い0卜δ “ ぶ 0崎.
0 ヽ NH.
0 求 Nせ.
0 nO.
∞” ゞ “︼.
o 0
︵︼“.
H 00 いN S ∞0.
0 S NN.
0 ぷ ∞倒.
o ︵“H.
0 ︼ 一〇ON 、 、
N日め せ∞卜 “∞N ,
く Y0 2 く m ”く 3
0”︼ヽ ヽ
“せ0 O●m ∞H∞ ∞めN.
0崎 ヽ い0 .
一 ま ∞一6 ぶdO.
“ 0 ∞︼ 0崎 ざヾ● 0 ぷ “せ ︼ 0一.
N“ 求 “崎.
o ヽ Nめ.
ョ 卜¨m 求 めN.
0 ^
ゞ ”0 0 トト 一倒

N一” ヾ∞卜ヽ
“∞N くにく O卜2〇一
0い卜、 ヽ
0一0 OH” せ∞せヽ
ONヽヽ
n“ ゞ ∞0.
0 ぷ ∞H o ヽ いい.
o Hい.
せ崎 ぷめ0.
0 ヽヨ“.
0 0一.
ト ま H゛.
o ふ 0い.
0 ま 卜N 0 ベ トo.
H ︼め崎N NH”ご
ヽ∞卜、
い∞N く 卜2 く Y ”く 〓
ヾ崎∞、 ヽ
NON 崎Nい

“ヾい ∞卜寸、
日せ ゞ〇∞ o ゝ “N.
0 ま い0.
0 め0.
一〇 ま せ一.
0 ヾ百 ヾ .
H Nい.
N¨ S ●N0 S m∞.
o ヾいN よ 0︼.
0 ゞ い0.
0 せめいH
ヽ 、
N一” ぐ∞卜 い∞N O vく ≧′ ]く ′

﹄00E 。一 c●“●E ●00︼
N一”ヽ
寸∞卜、
ヽ 、 、 ヽ
︼め0 せ0一 せ0め 0一0 00“ ON ぶ 0い.
0 ぷ o一.
0 S No.
o 卜せ.
卜崎 S 一0.
0 ヽ 卜0 0 ︼
[崎. ゞ “日.
0 ヽ 卜“.
0 N“一 0
ま 卜0. ゞ ∞N.
o い00 い∞N くつ﹂0コ00 ON
ヽ 、
0卜N.
卜OO OOm ∞崎の 村NN、
NN ま∞せ.
O ぷ oN.
0 ま 卜0.
0 卜一.
NO SNo.
0 ×0 一.
0 ヽ い0.
0 ヽ いN.
0 ゝ “一.
0 ヽ一崎.
0 HO一H

N一” せ∞卜、
い∞N 020立 く﹀⊃∽ い一
N日”ヽ
ヾ∞卜ヽ
ヽ ヽ 、 ヽ
〇一そ NN∞ ∞゛m ∞“H ∞め0 一“ S ∞0.
0 S oN o × ∞0.
0 ︼卜.
N0 よ 0●.
0 よそO.
0 O
︺い. ヽ 卜∞.
0 ヽ 卜0.
一 よ 0日0 S 一”.
o ∞∞N 口JくV02く“
卜く≧´ ∞H
ヽ ヽ 、 ヽ
め︼〇 ∞一︼ OOm 一0卜 ∞め“ 0一 S Nめ.
〇 ぶ o一.
o × せい.
0 H卜.
いせ ぷ NO.
0 ヽ 卜“.
0 卜∞、
い ヽ 卜o.
o ぶ 0日.
o 卜0 ヽ 卜0 .
0 ぶ ON.
0 N︼め、 、
ヾ∞卜 め∞N “ ⊃ つミ ≦ 卜︻
トト崎、
い一いヽ
NH¨ 、
00N 一卜一、
いN ぶ 0一.
0 × HN.
0 N O卜.
O ぶ 一0.
0 ぷ ヾ■ 0 S NN.
o ヽ い0.
o ∞NN ヽ N︺ 0 、 卜せ.
0 ∞ H﹄一 N゛め、

寸∞卜 “∞N 0 2 5 0 ﹀ 0 2く ﹂ 一
〇め
ヽ ヽ 、
トト0 0せい 卜Hめ い0● 0崎“、
ヾ“ よ 00.
0 ぷ ∞一.
0 ぶ 0い.
0 卜∞.
ヾい ぷ No .
0 S mN.
o υN い よ め“.
0 S oO.
0 ぷ ∞﹁ o ^
ゝ ︺め.
0 ”3一一
、 ヽ
N゛” ヾ∞卜 ”∞N ∽コ つ︼ozく﹂Σ

Oo 崎H

崎N一、 、
い0そ い0∞

め一∞ ∞卜0 いN S oい.
o S oN.
o ヽ 卜O.
0 卜め.
N0 ぶ 一0 .
0 ヽお 0.
O ヽN.
H ヽ NN.
0 ︵い0.
0 0 寺 NN メトo.
o 求 卜N. ヽ 、
Nョ“ せ∞卜 い∞N
o つ Y0 2 “﹂ 寸H

N∞∞、 、
ヾい0 卜H“

〇卜崎 O卜∞ “め S い0.
o SNN.
0 ヽ せ卜.
0 卜N.
∞0 ヽ NO.
O 浪 〓 N.
0 ぷ o“.
o S n∞.
0 いいN ヽ 一︶ 0 よ 0 ●.
0 0ヽ一H N一”、 、
せ∞卜 “∞N 0200]≧´OJ0 0
NOいヽ
一00ヽ
0日め

0崎N 卜一∞、
Nめ ぷ “0.
0 ゞ ヽN.
0 ぶ ∞卜.
0 ヾ“.
∞0 × HO .
O ゞ ︼一 o ヾい.
N 求 め”.
0 ヽ せ0.
〇 一∞め 求 ∞0.
o ぶ 0¨.
0 ∞Oト
、 、
N日め 寸∞卜 “∞N くΣ く ∽ N︼

↓N一 卜∞寸ヽ
ヽ 、
N一寺 H卜 N 卜 一“ ”め ヽ い06 よ い一.
0 ヽ NO.
0 い0.
卜崎 ぶ NΦ .
0 ψ゛︺H.
0 0め.
め S ∞ヽ 0 ヽ い卜.
o ∞卜N ま 卜一.
0 ゝ ∞0.
o N00日 N︼”ヽ 、
寸∞卜 め∞N ⊃ “ ⊃ ∽ O Z Ш卜Z ]∞ HH
O“0、 N↓”ヽ
せ∞卜、
、 、 ヽ
卜いせ せ0” 一一“ いい0 ON ぶ0ヽ 0 ざ い一.
0 ぶ い0.
0 卜“ ∞ 輌 ヽ 一0.
0 求め﹁0 ぷ ゛一.
o ヽ せい.
0 O N日 S ∞0.
o ぷ ”め.
o Nせト ︹∞N くY⊃∽02く﹂Σ00

0
ヽ ヽ 、 ヽ
Hヾ0 い0日 い0め 一NO い0寸 一N S ︼●.
0 求 め一6 よ め寸.
0 0卜.
0め ド mO.
0 X3 m.
O OO ト S N一.
0 ぶ せ“.
0 ゞ 0日.
0 ゝ 寸め.
0 0卜一↓ N︼”、 、
せ∞卜 い∞N 9 2 颯⊃ ト
、 、
せい0 N崎め NNめ N守一、
∞0一、
∞“ S n卜.
0 ぷ ∞一.
o ぶ ︼0.
0 00.
On ド NO.
O 求 め可 0 卜寸.
” ヽ いい.
0 ぶ mO.
H “Om ま 0↓.
0 求 崎卜.
o ∞0卜H Nヨ″ヽ
ヾ∞卜、
い∞N Ш≧面 一 0一〇 〇
N一め、
せ∞卜、
ヽ ヽ 、 ヽ ヽ
いめ一 Nせ一 NO一 卜N∞ 卜崎¨ ∞H X ●い.
0 S N一.
0 ゝ ∞め.
0 一卜.
一め ゞ “o.
0 S 剌“.
O ∞寸.
ト ゞ ∞0.
0 よ い倒.
0 N∞ 求 め↓.
o ふ 0い.
0 卜∞=H “∞N


0
0
2
0い卜ヽ
0”日、
めN¨ 、
せせせ Nいm、
いめ よ 0卜 0 × H N.
0 ま熟卜 0 ぷ“o.
o よ ON,
o NO.
0 よ 0い.
o ^ 、
S mO 一 ぶ 0一 〇 ヽ 寸0.
0 一0崎︼ N︼0ヽ
せ∞卜、
∞∞N 彗 くコ


0
N一”ヽ
せ∞卜ヽ
、 、
ヨ︼卜 mヾΦ ∞0い O●ヾ 0﹁”.
守N ド ∞寸.
0 ゞ 寸一.
0 ぶ 0ヾ.
0 い卜.
N寺 ぷ 卜o .
o S N卜.
o 00.
0一 ゝ ∞0.
o 求 めN.
Φ Φ∞ ぶ 0日.
0 ヽ トト.
0 NO”ョ “∞N ,″u
∝⊃ ≧ コ
、 、 ヽ ヽ
卜∞寸 ”い0 O∞め 0卜一 ∞り∞ 0寸 × 一の.
0 ま 卜゛.
o ざ卜い.
O 倒め.
”崎 ま卜0.
0 ヽ 一卜 0 ∞寸.
0一 ふ 0ヾ.
0 ぶ 0一.
H い崎ヾ S︼N.
0 ヽ “∞.
0 ヾい一︼ N一め、 、
せ∞卜 い∞N く 0 02く﹂
〇一N、 、
0い゛ 卜0め い0せ、
0一0. “N ヽ い一.
0 ゞ め一.
0 ま 崎せ.
o ´
X 一0 .
0 ゞ ∞一.
o 0日.
め ゝ ∞H.
0 さ 0い.
0 ∞卜一 ゞ“︼.
0 ぶ ”め.
0 0〇一︼ N一”、 ヽ
そ∞卜 め∞N ∝ 0 一〇 〇
⊃ ≧′一
N日”、
せ∞卜ヽ

0卜0ヽ ヽ
い0一 いHめ

い0卜 ∞一卜 め” ヽ い0.
0 ま 一N.
0 ふ 0卜.
o N︼.
い0 S 一0.
0 やい0一.
0 S Nい.
0 ^
ぶ Nい 0 ま せ゛ o ゞ”叫
.o マ0い︼ ∞∞N
卜N. コく 0 0


、 ヽ
い0り、 、
卜一日 い一め “崎” ““寸 め“ ぷ ∞0.
0 よ 0”.
〇 ぷ ∞∽.
o 〇一.
∞崎 S No.
0 “
ヽ一N.
〇 S 一せ.
0 ^卜H 一
ψ N一ヾ ヽ 卜0.
0 ヽ 卜N.
o 、
゛H” 寸∞卜、
00.
ヾ い∞N 02≦ 0﹀
一5 3 ョ ︼ r ●ψ● E ●oO︼
一“∞、 ヽ
い卜崎 OOm せN崎、
い0卜ヽ
0一 SN“.
0 S 一■ Φ S い0.
0 守“.
00 ヽせ0.
0 ヽ いめ,
o ぶ ゛0 .
0 ま せo.
0 “一 ゞ ∞o.
o ま 豪 め.
0 0”ト N一”ヽ ヽ
せ∞卜 め∞N ぼく一Zく﹂ 卜H

000ヽ ヽ
∞倒一 ONめ

せON ヾ寺” 0い SO卜.
0 ぷ ∞H6 S 一0.
0 0い.
0い メ崎o.
0 ゞ ∞せ .
o OO.
︼︼ よ 寺“ 0 ぷ 卜0.
0 0
S め日. Smい.
〇 めせ一一

NH” せ∞卜

0 0020コ 02く﹂Σ 00
0一ヾ、

∞一0 一〇∞
ヽ ヽ
せOH ヾ崎∞ トヨ ゞ いめ.
0 ぷ ∞N 0 ぷ ∞卜.
0 守N.
Nト まNO.
0 ゞ ”N.
0 0∞.
い 求 め0.
o ゞ ∞0.
0 卜N よ Oo o 0
︵ON.
0 N”崎 ]一”、
せ∞卜、
め∞N つ22くにくΣ く>く∝]∽ OH

=0せ、 、
NNい n一“ 0トロ ∞め”、
N“ SNO.
0 ゞ 崎N.
0 ゞ 崎卜.
0 ∞卜.
00 ぷ∞0.
O 公0∞.
〇 一崎.
∞↓ ぶ ON.
0 S ∞い.
0 いON ぶ ”﹃ o ヽ0ヾ.
一 0 ∞卜一ョ ヽ一め、 、
そ∞卜 め∞N “く ﹂Σ 一
く 2 D ≧′〓 せ︼
、 ヽ ヽ 、 ヽ
卜いい い0卜 0めめ 崎せ0 ↓H一 いい ぷ め0.
H ぶ Oo.
o ゞ〇一.
0 ぶ り0.
0 ,
よ 0い.
o トト.
めH S ●o O ぶ ON.
0 X 一卜.
O ゞヾH.
” 00ヽト NH” ●∞卜ヽ
“∞N 0一く卜20∝0 0

0
mい0、 、
卜Nヾ せNめ ∞せ0ヽ
H∞0. 0ヾ ぶ 0卜.
0 ぶ 0一.
0 求 寸¨.
Φ せい.
一め ぶ ”0 .
0 ヽ 卜N、
0 ON.
0 ゞ ∞0 .
o ヽ せN.
0 せ∞ ぶ 卜い、
0 ぶ 0い.
N O日ヽ崎
ヽ ヽ
N一″ ヾ∞卜 “∞N 2 〓2 に]0 0■く 一 N一
卜∞一ヽ ヽ
∞OΦ ︼〇”

崎卜∞ ”∞∞、
卜一 ぶいい.
0 ゝ ∞一.
0 ま ∞い.
o ∞N.
せい ふ 00.
0 求●0.
o 明い 0 S ︺0.
0 SNo.
0 ぶ 0■ o 求寸0.
0 NO﹁ヨ N一”ヽ
せ∞卜、
い∞一 0 2 く ∝く り て ﹂く こ ↓︼
、 ヽ
0ヽい い卜H OO“ いい一、
め”0. NN ぷ ”せ.
o ×せH.
0 ま ∞せ.
o い一.
せヾ ふ 00.
O 求 い0.
o ︼0 ●” ぷ い0.
0 ざ い0.
0 ま い一.
0 ヽ トト.
一 NN∞H Naめ、
せ∞卜、
い∞N 02く∝000Z 0一

一卜∞ NO∞、
O”m

0めめ ∞0“、
卜N S Nい.
o ぶ 0﹁ 0 ぶ 0崎.
0 0い 0そ ヽ卜o.
0 ぷ ∞0 0 ΦO.
崎H S 一N.
0 よ 0一.
0 ↓一N ぶ 0日.
o よ Om.
o ●゛一 N¨”、
せ∞卜、
“∞N ∝0﹀020L Oコ0 0
ヽ ヽ ゝ“べ. ヽ ヽ
崎︹卜 ”∞0 卜ON ¨Nせ.
0●“.
ヾ︼ ゞ 卜N.
一 ま “一.
o 求 n守.
0 卜0.
“ヾ ヽ NO.
0 0 卜゛.
崎 ゞ No.
o よ 00.
o NN ぶ 0日.
0 ぷ ∞“.
o ∞0∞ ゛一“ ヾ∞卜 め∞倒 Y︺コ︺0 0 2 つ 卜く >>
、 ヽ
卜0∞ 0い0 mN∞
ヽ ヽ
崎め崎 ヽ卜∞ 一“ ヽ トト.
〇 S ︼N.
0 ま ∞0.
o せめ.
い0 よ 0一.
0 ぷ寸Φ.
一 N∞ 卜一 ゝ ∞o.
o ぷ “N.
0 S Nめ,
o ゝ ∞N. NNOm 倒Hめ、
マ∞卜ヽ
め∞N ∝ く 0 0 2 く ■ 0 2 く ︶く Σ
いせめ、 、
一崎め “N“ 卜“0、
卜0一、
0い ヽ トト.
0 より o ぷ めい.
0 ゞ o 一.
o ゞ ∞0.
o 00.
倒N ふ 00 .
o よ 0日.
0 ∞い ゞ ∞ヾ.
o ド一∞一 い崎Nヾ N一め、 、
ヾ∞卜 “∞N ∽< 翌 “ 0 一〇 〇
ヽ ヽ
0一ヾ いON 一H” ∞ヾ︼ヽ
Oa寸、
卜N ゝ めo.
0 ,
ヽ ヽ一.
0 ぶ 0崎.
0 一0.
H一 さ め︼.
0 ませ” ヨ 0”
∞0. ま せ0 .
0 ヽ N日.
O Nせ o
S 一H. S 一卜.
0 00卜一 倒一”、
守∞卜、
“∞N く︼0コぼく≧
、 、 、 、 、 ヽ
いトト m●“ い“め 卜0や On一 日め ド Q o.
一 ぶ いN.
0 ぷ “∞.
o O卜.
一ト よ0 0 ぶ ∞0.
o ”O N一 ^
ま めぐ .
O SNN.
一 ゝ NN.
0 S 一∞ .
o 卜のON N一め せ∞卜 “∞N ∝O Σ OコO o


N∞ヾヽ 、
∞いい 崎︼“ ヽ一”、
一N一〓 Nめ S NO .
0 沢め一.
O 求 トト.
0 Hめ.
一ト
,.
ま 一o 0 S H︺ 0 0寸.
N S ゛N.
0 ぶ 0い.
0 ∞ON 0
求 ∞一. よ 0卜 0 ヽ一”ヽ ヽ
●∞卜 “∞N 0 2 く ﹁Z く こ にあ く こ
ヽ ヽ 、 ヽ 、 、
∞ヾH ∞せ 崎 卜O“ 0“∞ い0卜 “N ふ 0せ .
0 ぶ ON.
0 ぶ い0.
0 崎せ.
00 まNO.
0 ゞ めN.
o いめ.
い ゞ “0.
0 ふ 0日.
O せめ ^
S aN.
0 一
ぶ 一∞.
0 Nい0一 N︼め ヾ∞ 卜 い∞N 〓一
卜⊃ ﹂ に一
のく こ
ヽ 、
∞∞卜 ∞0一 卜0“ 0卜せ、 ヽ
せ∞” ”N ぶ 崎゛.
0 よ い一.
O SNO.
0 〇い .
卜崎 S NO.
0 訳 一H.
0 崎m 一 よ Oo.
0 ま ∞H6 ゞ ∞一.
Φ ざ 寸卜.
0 Hで卜H N一”ヽ
せ∞卜、
“∞N 000ΣO﹀
oつOL﹂o︼ 〓“一●E ●o●︼

>

nOヾ、 、
∞め︼ せHい

い00 せ崎” O“ ぶ 0い.
0 × せ ヽ.
0 ぶ 0∞.
0 ”崎.
せト ぶ OΦ.
0 ド ︼Φ.
一 0 0い 的゛ ゞ NN.
0 ︵“ゆ.
0 0 一NN ヽ 卜O o ヽ卜N.
o ON0
ヽ 、
Nヨ一 ヽ∞卜 め∞N 0 2 ⊃υ Z ⊃ 2 つ ≦ ⊃ ﹂ 崎H
ヽ 、
0一ヾ い0日 ︼0め
ヽ ヽ
崎〇一 崎∞¨ 卜一 ま せめ.
0 × ∞一 .
O ヽ日0.
も 0 いO.
卜崎 S崎o.
0 S ●o.
o めヽ N一 ぷ ヾo、
0 ^
X NH.
O Nせ ゞ Oo.
o ま ¨N.


N一め せ∞卜、
め∞N 0﹂ゝ口 ︼ 0ヨ0 0 000﹂ 一H
、 、
︼∞N いNO 卜●N い0い、
∞め”ヽ
めH ぶ 0喫 O × 卜一.
0 ぷ ∞い.
0 HO.
“n ゝ“o.
0 ぶ ON.
0 OH.
0 ぷ 一0.
0 S No.
0 求 い0 0 S 一N.
o ΦΦ寸
ヽ ヽ
N︼” ヾ∞卜 め∞” 0 2 ]● 2 0 V O 一〇 〇 めH
OON、
卜め“.
NOm ∞∞∞、
Nいい、
∞“ ぶ 0“.
0 S 一N .
〇 S 一卜.
0 トト .
崎Φ 求 め0.
0 ぷ ∞N .
O 〇い 0 ヽ い0.
o さ い︼.
0 ゞ 卜o o ぷ ∞銀 o NHめ、 、
せ∞卜 め∞N 一く 0 0 2 く こ ⊃ ↑く ≧ N一
︼め0ヽ
∞HNヽ
N︼“ 0一い. 、
ヾめ寸 ∞N ざい崎.
0 よ 0一.
0 S Nい.
o め“.
∞寸 SO可 O ゞ せ0 .
H OO.
守N ぶ 0﹁ 0 ヽ せい.
0 0〇一 ぶ 0日 0 ド 一せ 0 ヾ∞卜、
N一め、 め∞N 0 2 く 0 2 ]一 O J0 0
ヽ ヽ 、 、 ヽ
トト∞ Om崎 ∞ON 崎0い 0マト せ¨ ぶ ON.
0 よ 0日.
0 S ヾ一.
o Hい.
0せ ま 銀0.
0 ゞ ”N.
o NN.
崎 ゞ ヾ0.
0 ま o“.
0 卜め ^
ぶ OO.
0 S o一.
o 000 N一” ヾ∞卜、
め∞N ∽OJOコuく≧′ 0日
寸せめ、 、
NO 一 ON∞ NめNヽ
∞一¨ヽ
0” ヽ O卜.
0 ヽ ON.
O ゞ ∞一.
o H∞.
N0 S N■ 0 ゞ “N H ∞N
Oい. ぶ ON.
0 ま せ卜 0 HON 0
ゞ NH. 太ヽ 守.
0 ヽ〇一一 N一め、
ヾ∞卜.
“∞N 0 2 く 0 0 0 Z O Zく ∽

せONヽ ヽ
OO︼ NO” Nい∞ 一N“ヽ
∞一 S n”.
0 よ い0.
0 ^
沢 Hめ 0 ∞N.
ON ゝ ∞0.
0 S N∞.
o 0い.
∞H ヽ No.
0 S い0.
0 ∞゛ ぶ 0日.
o ゞ 寸0 .
0 卜0崎H N一め、 ヽ
寸∞卜 め∞一 02リコШコ0コ00
いめ0ヽ
0一0ヽ
い0め
、 、
卜NO 崎め∞ O輌 ド ∞崎.
0 X NH.
● 根 0寸.
o NO.
一∞ ゞ ∞0.
0 S ∞卜.
0 0い.
卜︼ ぷ 寸o 0 ぶ 0一.
0 卜め ぷ 崎H.
o ぶ 00.
0 ︼H寺” Na“、 ヽ
マ∞卜 “∞N ⊃“ヽ﹂0一〇 〇
ヽ 、

0い卜 ∞0卜 NN“ 寺N寸 せ一0、
0” ド 崎卜.
0 よ 0一.
0 ぶ せい.
0 0崎 On ゞ崎一.
o ヽ いヾ.
N せ0.
0崎 ぷヨN.
0 ^“0.
も 0 求 め︼.
0 ぶ “い.
O め寸゛H N一”、 、
せ∞卜 “∞N 02く∽”く≧′
N一“ヾ ∞卜、

卜せい、 、
崎卜め Oaめ め”N 一〇い、
ON ぶ ︼崎.
0 ヽ 卜︼.
0 メ い崎.
0 ”崎.
一崎 ぶ00.
0 ゝ や0.
0 卜∞ 守H ふ 0■ 0 ヽ いN.
o HO゛ ゞ ∞H.
0 ゞ “卜.
0 ︶N卜一 い∞N ozOくΣ ∝く﹂Σくz
ヽ 、
∞“∞ 崎ヾ0ヽ
0せ”

ONい 日ON 0い ふ 00.
H ま ON.
0 S ∞0.
0 ︼m.
”0 ぷ∞ヾ.
0 ふ 0卜.
ヾ NO .
〇一H S nN.
o ヽ N卜 O
一 いいN 求 め︼.
0 ゞ 一0.

、 ヽ
Na” ぐ∞卜 “∞N 口く ≧ ′く いく ヽこ
0∞崎、 、
卜0せ い0¨ ∞ONヽ
一一卜ヽ
一N ふ 0崎.
0 ぶ ON.
0 ヽ 00.
0 めめ.
H0 XN﹁0 ゞ∞H.
一 ON.
卜N ぷ ∞0 .
0 ぷ “N.
一 ま o一.
0 没 a ●.
o 一めい Nョ″ヽ 、
ヾ∞卜 “∞N 卜Z く Σ O コ0 0
02 一
0せHヽ 、
O“い NO∞
ヽ 、
∞N∞ 崎せ” 0一 ヽ 卜∞ 〇 ぷ 一N.
0 ふ い0.
0 崎せ.
せ0 ぷ 哺o .
o ぷ ∞や、
o 一一
N一. ぶ Oo o よ 0日 o Юい ゞOO.
0 ぷ “N.
o 0いい NH”、
せ∞卜、
“∞N OαΣ ]VOコ00
︵ 、
an卜 め︼0 い0”
ヽ 、
一∞ヾ ︼め∝ ゛N ぶ Nせ.
O ヽ 卜H.
O ぶ 0い.
0 寸O.
N崎 ぷい0.
o ^
S め∞.
● ヾ0.
ト ゞ 一︼.
o S N“.
o い一日 S ︼一 o ヽ 寸ヾ.
0 ONO一 NH”ヽ
寸∞卜、
め∞N “く02 〇一〇 〇
02一
¨“ ● 0 ¨¨2 0 E ●∽ C C一●E ●oO︼

>
、 ヽ 、 ヽ ヽ ヽ “く02 〇一〇 〇

0せ0 せmO 0一め ︶めめ Oい一 ON S H崎.
0 ま せN.
o × 一∞.
〇 ON.
崎ト 求 No.
0 ゝ ︼N.
● 一∞.
寺 ヽ 卜一 〇 S 卜寸.
0 卜0一 ぷ ∞0.
一 ぷ “[.
o NH” せ∞卜 ∞∞N 0一
い0せ、 ヽ
崎め゛ “Hめ
ヽ 、
N∞H H卜一 いN ヽ卜い.
0 ゞ 卜一.
0 よ 0い.
0 H︼.
N崎 メ 一0.
0 S 一N.
o 一一.
ヾ ヽ 卜N.
0 ぷ ∞卜.
o 0卜N ヽ 一︸ o ぷ菫ヽ
.o Oせ0一 N︼”、 ヽ
せ∞卜 め∞N く夕 ]〓 崎H
ヽ ヽ
一せ∞ n卜寸 NO” ON崎、
一い0ヽ
∞H よ0め.
o ぷ 崎一.
0 ぶ 0い。
0 ∞い.
0せ ま NO.
0 ぷ “N.
o いN.
¨ ヽ 卜o.
o ぶ ON.
0 ヽN o ヽ 卜一.
o OH一H N一”、
せ∞卜ヽ
“∞N

0
0
、 、 ONせ、 N一め、 、
Nめ卜 ∞0崎 ︼H∞ マN卜、
卜N S で唆 O ゞ 一N.
0 ヽ い0.
0 ¨ N せ0 ゞ い0.
o S ︻“ o 崎〇.
ト ヽ “N.
O ゞ せ0.
0 卜NN
,0
ヽ 卜0. ヽ いN.
0 卜∞0 ヾ∞卜 め∞N に く ≧ ′Ш∽ “︼
ヽ 、
卜∞卜 一OO ∞N” ”卜せ.
卜Om.
ヾぐ ふ0∞0 ふ 0日.
0 ぷ ”め.
0 NO.
い0 ざい0.
o R ド 一.
0 Oめ.
0 ぶ “い 0 S N崎.
︼ りめめ 0
ヽ そ一. ぶ 0い.
0 ヾH一H N一め、
寸∞卜ヽ
“∞N Vイコ︺5 02くりく∝ N¨
ヽ 、 、 ヽ
0そせ、 、
一NH ON∞ 寺∞H 卜め” いせ ゞ∞∞.
0 ヽ い一.
o ゞ 崎o.
o 卜一.
0い ぶ ”0 .
0 ヽ卜N.
o 0倒.
い ぷ ∞せ.
o ざ卜め.
H メ ∞日.
0 ヽ一卜.
も 〇 トトOH NHめ せ∞卜 “∞N ШJイコ


めヽ一、

いH∞ せ︼“

H”∞ ∞NOヽ ぶ Oo.
o S NN.
0 S N卜.
o 0∞.
00 So一.
0 ヽ NO.
H めN メ oN.
0 ヽ 卜n.
o ヨON ぶ ∞0 .
O S 一”.
. 0 N︼め^

せ∞卜 ”∞N く ﹀じ Z ]﹂ O“
崎い0ヽ
ON卜、
いNめ
、 ヽ
mせ0 Nせ0 Hヾ ゞ ‘∞.
o ゞ めN.
o ぷ ∞卜.
0 m“.
Nト ド い0.
0 S ”∞.
o ︼N.
ト S Nせ.
o ぶON.
H めNヾ S N︻.
0 ぶ0一.
0 せ卜一d 卜ヽ
N一”ごゑ︺ ∞∞N ⊃ ﹂S‘⊃ ⊃ ↑く 3
倒0い、
“め日、
め︼m O∞0、
い0“ヽ
H∞ S 一0.
0 ゞ ∞一.
0 ふ 00.
0 卜∞.
一い ド めO.
O ヽ 卜N.
o ON O ヽ せN.
0 よ い0.
0 ゞ 0 日.
o ぷ ”0.
o N一”、
そ∞卜、
∞∞N ﹀く 〓 Ш∝


、 ヽ
●卜0 O∞︼ Nい一
、 ヽ
∞0卜 い0一 ∞0 S Nめ.
H ゝ ゛N.
o ヽ せ卜.
o ぶ 0一.
0 ヽ 卜0.
o 0い NN S 一∞.
o ざ Oめ N N一∞ S oN.
0 ふ 0∞.
o ∞卜∞一 N↓め、
ヾ∞卜、
∞∞N 0 25 く り
、 、
0い0 Nいい OHm せせ0.
∞00.
一め ぷ め0.
0 ぶ ON.
0 ヽ い0.
0 い0.
OO ド 一〇.
0 ヽ 卜m.
0 Φい.
∞ ヽ いN 0 ヽ せ∞.
0 いON ぶ 0日6 ヽ一せ.
0 ∞∞い べ一”、
そ∞卜ヽ
“∞N v´
L 面 ≧′ 0 2 0 ﹂
、 、 ヽ ヽ
∞卜↓ヽ
H寸N 卜0め 卜一∞ 0輸寸、
”倒 ヽ いや.
0 S N︼.
0 ^↓せ.
“ O N“.
∞一 求 ∞0.
o ゞ ON.
0 い卜.
一 ゞ ヾ一.
0 ヽ いい.
O 求 0一.
0 ゝ ∽0.
〇 H“い一 N一” せ∞卜 め∞N 020“0
、 ヽ
N∞一 い卜N いNm
、 ヽ
H卜∞ せい寸 一ぐ ぷ ∞∞.
0 ぷ o一.
o ぷ 卜一.
0 め∞.
HO ぷ せo o R O ヾ.
O 〇
NN. S 一崎.
o よ 0せ.
一 崎ヨめ ま ∞H.
0 ^
N N崎.
〇 卜︼゛H 村゛めヽ
せ∞卜、
“∞N り Z ⊃ ∝⊃ 0

い0Nヽ ヽ
””卜 ヾH∞

卜崎0 ∞ヾ一 〇め ド 00.
〇 ゞ ∞H.
o ド HO.
一 0 いい.
0い ヽ い0.
0 ヽ 卜0.
0 0寸.
めH ま でN.
0 X い0.
0 りヾN ぷ︼﹁0 ぶ 一せ.
Φ 0いい
ヽ ヽ
NH” せ”卜 め∞N く 卜2 つ 0
ロトトヽ 、
0一“ 0そ“

0崎せ O00、
0い ぶ OO .
一 ぷ 卜H.
0 ゞ ∞い.
o い0.
めい ゞ ∞0.
0 ま ∞卜.
0 ヾ︼. S∞崎0 ぶ 0一.
︻ 卜∞め ぶ ON o ぷ 寸0 .
︼ 崎めヽN N一”、
ヾ∞卜、
め∞N 02 くゝ面 ∽
崎O卜、 、
日寸一 い0一
、 ヽ
寸0め 卜崎“ いN S 一せ .
o ぷ H一.
o ヽ 卜め.
o ふ 00.
● やい0一.
0 一∞.
一N ゞ ”o.
0 ヽ い0.
0 S 一N.
0 ぶ 一0.
一 OOヽN N︻”ヽ
寸∞卜、
い∞N ↑0 0020∝ 0コ0 0


0”> CS一●E ●00︼
〓●一

>
、 ヽ ヽ ヽ ヽ ヘ
一H日 ∞ON 綺0一 00∞ め∞寸 OH S ∞め.
0 ヽ NN.
0 ゞ め卜.
0 ︼い.
卜0 ゞ No.
o S NN 0 ∞〇.
崎 ヽ 卜0.
0 さ ON o い0 メ ト● .
o ヽ 卜N‘
● NH” ゛∞ト “∞N 0 2 く こ口∽ 0 口一
い0”、 、
トトで 0一“
ヽ ヽ
卜崎O いい0 ON ヽ N崎.
〇 ゞ 寸N.
o ぶ 0卜.
0 nめ.
めト ヽ い0 .
0 ヽ百 卜 0 ヾ¨ 0日 ヽ せH.
o ド一寺.
0 りヾ゛ ぶ Oo、
o ゞ ”N.
0 O00 N一”ヽ
寸∞卜ヽ
め∞N 〇一〇 2 0コ0 0 0一
0卜●ヽ 、
ONO OO“
、 ヽ
崎00 いせ∞ NN ヽ そせ 0 ぶ ON.
o ゞ 崎0.
o NO.
00 ぷ ”o.
o S Nめ.
O ︼め.
ト ゝ oo.
0 ぷ ∞可 o 求 め“.
0 ゞ 一0.
0 ︼Nせ一 Na″r
ヽ∞卜、
“∞倒 く0一
卜 つ↑く m
0守せヽ 、
0∞0 一Nめ

∞めH NO”、
卜め ヽ N卜.
0 ぶ 0一.
0 ゞ 00.
o Nめ.
ヨ0 ヽ 日︼.
0 ゝ 卜0.
゛ ∞卜.
寸N ゞ ∞N.
0 ぶ 0∞.
0 劇∞N ま せ一.
0 ぶ 一い.
0 卜∞NH N一”、
せ∞卜、
”∞N 0 2 く ﹁⊃ コ 0 コ0 0
崎Nい、
いHN、
トヨめ せ一0.
ON寸.
∞“ さ い0.
0 よ ON.
o ゞ 崎0.
o 卜●.
00 ド nO .
〇 S いい。
o 卜N NH S ”N.
o S い0 0 ∞ ヽN 0
ヽ 卜”. ゝ 輌0.
o NH”ヽ
ヾ∞卜、
い∞N 0 2 く ﹂]∽
ヽ ヽ ヽ ヽ ヽ
せNい い0そ ∞0“ N一倒 一一0 寺 N ぷ ∞ヽ 0 ゞ ヾN.
o S N∞.
o ︼卜.
崎ト S No.
o ゞ ︼N.
o 00 ● ゞ 一o.
o S nN.
0 求 N一.
0 ヽ いヾ .
0 製Hめ、
せ∞卜 ∞∞N ﹀く2くF20﹂
卜∞卜、 ヽ
N︼H “”“
、 ヽ
崎卜せ ∞N¨ 0ヾ ヽ い一.
0 ゞ ¨H.
o ヽせせ.
0 ぶ 一∞.
〇 や
公9H.
” N卜.
︼ト ま いo.
o よ ON 0 N0 求 Nせ 0 ヽ ∞0.

ヽ ヽ
N゛” 守∞卜 “∞N 02く﹂]∽ 0一〇 〇


0
Nせい、 、
せ0い 0日m
ヽ 、
〇い0 0H”い一 ヽ せ0.
〇 ヽ 卜● 0 ぷ 卜崎.
0 一一.
“い ヽ ∞一.
0 やいヽ∞.
H ∞∞.
0” ぶ 0﹁o ぶ 卜N.
0 00 ヽ せ゛.
0 ヽ 卜0.
0 ∞卜ヽN 、 、
N日め そ∞卜 “∞N 0 2 ]コ0 一 〇 2 ⊃ ﹁Z く ﹂



いONヽ 、
mO∞ ぐ︼め め0∞ ∞卜一ヽ
Hめ ヽ 00 .
0 ゞ 寸↓.
0 ヽ 卜寸.
0 ∞卜.
“寺 ぶ ON.
0 や
公ヽ0.
同 dO
0一. S ∞o o SNN0 いト 0
S NH. ヽ 卜ぐ.
0 NO一H N゛め、 、
せ∞卜 い∞N く Y0 2 く ≧′く卜0 ﹂
ヽ ヽ
トトト O00 ︼N∞

崎0せ NN”ヽ
卜め ド “卜.
● ぶ 0一.
o ヽ 卜0.
0 ぷ ∞0.
o S N∞.
o め0.
∞H 求 ヾN.
0 ゝ ∞O.
0 メ ︼∞.
o ぷ 寸∞.
0 ”卜一︼ NH”ヽ
せ∞卜、
い∞N ︼くトロ︼ 0一〇 〇
O日め、
∞卜∞ヽ
H“め
ヽ ヽ
∞0日 ヽい0 ∞せ ぶ “0.
0 ヽ せH0 ぷ めぐ.
0 い0.
N寺 ヽ せ“.
o よ 0い.
6 卜崎.
トト S d↓.
0 ゝ ︹∞.
o い一H ゞ 寸”.
o ぷ ”め.
H い0一“ N︼めヽ
せ∞卜、
“∞N 卜一つ 一 Σ
“ C ●一o ● 〓 ●“● 〓﹄●●●︼

>
卜い卜、
卜崎寸、
ヽ ヽ
NO∞

崎ヾせ “卜り、
∞H ぶ 0“.
0 ぷ 〇一.
0 ま せ0.
o い0.
0崎 まい0.
0 ぷ H崎.
0 一卜.
一H 求 卜o.
o ふ 0一.
o ゞ no.
o ヽ ON.
〇 N∞ヽ N一” ヾ∞卜 ”∞N 0一O Σ

、 、
ヽ 、
∞OO ヾΦい せHめ
、 、
0一卜 い卜” ︼¨ ぶ 00.
o よ ON.
0 ゞ ∞0.
o トト.
N0 ぷせ0.
o ^崎せ.
一 O 卜¨.
OH ま せN o S い0.
o ヾヾN ^
X “﹁ 0 ぷ 崎寺.
o 卜一OH N︼” せ∞卜 “∞倒 00く卜 OZ]一Zu∞ ヾH
ヽ ヽ
一0い せ卜N 0一“ 0い寸、
00い. Nめ 沢い0.
o × めH.
0 ゝ 崎守.
o 00.
︼ヾ ぷ∞0.
0 さ い卜、
o 崎゛ ∞︼ 求 NN.
0 ゝ “o o せNN よ い一.
0 ヽ い卜.
0 ∞︼”︼ ヽ一め、 、
ヾ∞卜 m∞倒 一
“一■ D 卜く 〓 “d
ヽ ヽ
ヾ卜“ い0卜 mOめ

NO∞ せ∞い、
0︼ S一め.
0 よ ヾ”.
O S 卜●.
o ヾN.
“ヾ ぷ寺o.
0 ぶ 0め.
0 ヽN.
∞ ぷ mO.
. 0 よ 0一.
o ゝ ∞H.
0 ぶ ︼卜.
0 N卜一ヨ Ndめ、
せ∞卜、
“∞N 0 2 0 0 2 Шコ


ヽ 、 ヽ ヽ 、 、
い卜せ ∞せ“ 卜一“ “0︼ せ0” めい ド い0.
0 ヽ NN.
0 S ●卜.
0 ぷぐ0.
O ぷ ぐ寸.
Φ 0 S 一ヨ.
0 ゝ “寸.
o N崎H ゞ “N.
0 ぶ ︼い.
0 崎せ゛N N一の せ∞卜 “∞N 0 2 つ い ヽ一
く “ ⊃ ↑く 〓 一一
、 ヽ
0トト トト0 卜N¨ ∞一べ、
∞め●. めヾ ゞ寺∞.
0 × HN.
0 S o卜.
o 一∞.
い0 ぷせ0.
0 求 めぐ.
0 φ∞.
0 ︵
ド ︼守.
O よ 0︼.
一 い0せ 0
ゞ ∞一. ぶ “卜.
O マトOH N一″ヽ
守∞卜ヽ
“∞N く≧ 6 0 0 2 ]一Z ]“ 0︻
∞∞一ざ NOヽ 0卜∞、
崎∞”ヽ N︼め、 、
︼N∞ 卜” ド “卜.
0 ド ∞ 一.
0 よ い 崎.
0 守0.
寸崎 ふOo.
o ま 一0.
o NH O ^
X Nせ .
0 ぶ 0■ H ぷ ヾ日.
0 ︶い 0 い0い↓ せ∞卜 め∞N Ш∝ ]∞ く 0 2 く 2


い卜い、 ヽ
N∞“ N“” ∞00.
∞い一.
∞N ド 崎崎.
0 ぶ ︼一.
0 R 卜め.
0 ぷ“ O ゞ め“.
ヨ H∞ .
0め ゞ ”o.
o S o可 0 せめ ざ 卜N.
O X 一︸ 日 い∞崎N ︶∞卜、
NHめ、 め∞N 〓 “ く 02く 2

ヽ 、 ヽ 、
Hい0 崎卜” ON ぷ o●.
0 ま 崎崎.
,.
X No 0 ゞ0■o ∞卜 ∞ ゞ ∞o.
0 S せN.
0 崎∞ ゝ 守H.
o ぶ 0い.
0 OH”︼ NHめ、 、 ]∽O S﹄]く≧′
“0せ 0い0 寸0い よ 0日.
0 0 い卜.
〇い ヾ∞卜 “∞N
ヽ 、
い卜寸 ”0め いH” 寸0一、
トト一ヽ
ON ヽ 卜め o ぶ 0一.
0 ざ いヾ.
0 卜H.
哺せ ま い0.
o ま ∞ヾ.
0 ヾ一.
H↓ ぶ0日.
0 ま いせ.
0 求 N一.
o ゞ ∞∞ .
o せOON N一め、 、
寸∞卜 “∞N O z Oゴ b 一

0
卜や0、 、
卜NO 卜0” ¨ヾヽ、
0¨め. ”N S 一●.
〇 ヽ せ H.
0 ぶ 0せ .
o ざ い〇.
o S Nめ.
o 一一
00. 求 め0.
o よ Oo.
0 求 “N.
0 R■O O “崎↓N N︼め、
ヾ∞卜ヽ
“∞N “O yく ﹀
、 、 、 、 、 リニ ■2つΣ
ヨ”卜 卜一せ ∞Om 0一せ い一卜、
ヾN ま ∞せ.
0 ヽ NH.
0 ゞ 一m o 卜∞.
崎“ ぷ せo.
O ぶ いm.
o 0一 ∞ ま H● 0 × H“.
. 0 ”︼一 ゞ ︼﹃ 0 S 哺∞.
o ∞OO倒 N一″ 寸∞卜 い∞ N
ヽ ヽ
卜O∞ m00 oHめ い0せ、
0一ヽ、
いめ ぷ ∞0 .
o よ 0日.
0 S 寸Φ.
o 00 0崎 ぶ 00.
o ヽい0.
o ¨一
ヾ卜. ぷ 崎N.
O よ 0卜.
0 ゝ ∞[,
o ゝ寸卜.
0 せ“卜H N一”、
せ∞卜、
”∞N 0 2 ]“ Σ ⊃ 2 つ “ ⊃ ∽
、 ヽ ヽ
卜いい、 、
0卜い いO“ めせN 0∞“、
NN ぷ めせ.
0 よ ON O ま い0.
o 卜n.
Oo ぷ め0.
o や公りm.
〇 ま HH.
0 ^
S N∞.
0 N一゛ SいOo ヽ 卜∞.
o N卜∞ N゛” せ∞卜 ∞∞N <2 3 つし ヽ


、 ヽ
ONい い∞0 卜N“

∞00 い0一、
せ寸 よ い∞ 、
O よ 一N.
一 ぶ 0卜.
o 卜∞〓法︶ ゝ い0.
o よ う “.
0 0い 0 求 めヾ.
0 ざ いN .
一 0崎ヾ よ 0日.
o S 哺0.
o ︺∞崎一 NHめ、
そ∞卜、
い∞N 一
﹂“∝
0∽ コ ●に一●rL●o●ヱ
璧●“0一 X一
N∞0ヽ 、
∞Nい ∞゛” O卜め、
せヾ”、
N“ ぷせ00 ふ OH O S せ0.
0 OO.
い一 ぶ00.
0 ぷ∞崎.
o 0∞ “︼ ゞ せN 0 S ∞0.
0 0“N S め一 o ぶ 00.
0 0一ヽ日 N一”ヽ
ぐ∞卜ヽ
“∞N コuYOコ00 一H
ヽ ヽ
mせヾ ∞崎引 0せめ
、 、
一m日 せヽ“ 0い ぶ Oo.
H N ON.
〇 ふ 00.
0 崎ヾ.
H0 ぶ Oo.
o ヾ分ヽO O 求 い0.
0 求 い0.
日 やい0 ま oN.
0 S 一∞.
o 〇卜∞゛ NHめ、
ヾ∞卜、
い∞N ⊃∝ 0コ0 0
く・

0

0一H ∞¨め、
そNめ “∞卜、
ヾ∞∞. Oヾ ふ 0卜.
O ぷ ∞N.
O ゞ トト.
0 ざ”0.
0 ま いN.
0 トト.
0 ゝ ∞い 0 ゝ “0 一 N∞“ S m一 〇 ぶ 00.
0 N日ヽ一 N一め、
マ∞卜、
”∞N 0 2 0 エ ロト
、 ヽ 、
0ヾ︼ヽ ヽ
0“Φ せ0∞ ヾ“∞ せ崎∞、
ON S oせ.
o ざ いH.
0 ま せ0.
o 崎せ.
い0 S NO.
O ぷ めN o 0
ON. ま ︼■0 0︵一め.
O H一一 S ∞o.
o ゝ ● ”.
O ∞∞ト N一″ せ∞卜 ∞∞N 〓 つ ∽]J O Z ″いく ﹂ NH
”一∞ヽ
卜¨O、
いa∞ H00ヽ
めめ”ヽ
一め ふ00.
0 ぶ HN.
0 ま い0.
o 守0
∞︼. S No.
o ヽ ∞H.
0 寸
ヾN. ゞ 崎N.
o ぶ 0卜.
o 求 めH.
0 R 3 一.
0 ヽい一H
、 、
N一め せ∞卜 い∞N ]∝0“ 0コ0 0 ヨH
、 ヽ
0いめ、 、
い一0 Oめ∞ 崎め∞、
∞い0 . 0そ ぶ ︼0.
O ぶ “N.
0 ぷ ∞卜.
o ∞N.
Nト SNO.
0 ぶ 0一 〇 守
∞N. ま 卜崎.
o ぷ せΦ.
H 求 ∞o .
Φ ド ”m.
〇 卜ヾト N︼” せ∞卜 め∞N 0 2 く ∝く 2 0 2 0 ヘ
H一∞﹃
崎“N、

Nめm

の0寸 0ヾ寸ヽ
∞せ ヽ せ0.
0 × ∞ヨ.
0 ぷ ∞一.
o 0い.
そい ぷ 崎o.
0 ま せい.
o いい.
N” ま せ崎.
o ざ いめ.
一 0ヾい ヽ 卜H.
0 ×0 0.
0 00い︼ N︼め、
寸∞卜 “∞N い⊃ Σ ⊃ コ
ヽ 、
一せ0 00い 一一め
、 ヽ
め∞め NN” ∞N ヽ 寸崎.
0 ぶ 卜一.
0 ベ ト崎.
0 “崎
N︼. ヽ い0.
o ヾ汽 0.
〇 “い.
崎︼ 公UN.
0 ぷ 卜崎 0 NON よ 0一 〇 ゞ 一●.
o ∞∞0 NHめ、
ヾ∞卜ヽ
“∞N OΣ OΣ

、 ヽ , 、 、
ヾせい いトト ヾ一“ い0い、
NmO. 0“ ゞ Oo.
o ヽ NN.
0 ゞ “卜.
o 卜0 卜Φ 求 せ0.
o ゞ めせ.
o 日0.
い ま 一N.
0 S 像 ︶.
0 N一N S め︼.
0 × ”崎.
0 αON︼ N[” そ∞卜 い∞N く ﹀⊃ “ 暉く 3
、 ヽ 、
ヽ ヽ
000 N00 ∞Hめ

∞寸0 ∞︼N せ“ S oO.
0 ま ∞﹁ O ま 崎せ.
0 い0.
一寸 ざ いo.
o ・
S Nい.
0 mO NH ふ 0∞.
0 ぶ 0∞.
o NΦ∞ ま∞﹃o ぶ 0卜.
0 寸い0一 NH” ヾ∞卜 “∞N 0 2一
2く ≧ ′
、 、 、
一︼せ せ寸“、
ΦNめ 0い0 .
00哺.
Nぐ ヽ N∞ 0 ぷ 卜■ 0 ヽ いい.
o 崎“.
゛い ぶ0● o 一
さ卜一.
〇 0い。
NN ぶ 0め.
0 ︵N一.
゛ H い0め S 卜一.
0 ぷ ”0.
0 00崎︻ N︼” や∞卜 “∞N 0一〇〇2
卜∞[パ
︶︼め、
︼一“ 崎卜∞、
崎N卜、
卜め ヽ め卜.
0 よ い一.
0 S NO.
o O∞.
卜崎 ぶ Oo 0 ふ 0い.
0 ∞0.
“H ゞ ∞め.
o ぷ ∞o.
一 0
まO︼. ぷ”寺.
0 、 、
Na“ せ∞卜 ∞∞N 0 2 0 ∽く ﹀
ヽ 、 、 ヽ ヽ
OO∞ 卜いい 一∞∞ ∞一せ ∞一“ 0い ふ い0.
” × NN.
0 ゝ 守卜.
o 卜0.
∞0 SO“.
〇 ヽ 卜0、
0 Oい.
NN ^
ヽ NO.
0 ぶ 0卜.
H NN0 S 崎↓.
Φ ぶ 00.
Φ ∞ ↓せH N︼″ せ∞卜、
“∞N く︼く ∝
0崎せ、 、
N一N ONめ
、 、
卜せ日 ∞Nせ 0¨ ド O卜.
0 沢“︼.
O ヽ せ寸.
0 NN.
一せ ま 一o.
0 ま せ一.
0 いH.
“ ヽ 卜N、
o ぶ 0卜.
o トトヘ S ∞一.
0 0
︵“H.
H め00N
、 ヽ
NH″ ヾ∞卜 “∞N 0 2 く ↑Z ]ト
ON日、
い∞0、
ヽ 、
一せせ、 、
いΦせ 日0綺 卜︼ 、
ぷ やめ 0 ま せH.
O ゞ ∞0 .
o 一一.
せせ ド●00 一
^めヾ.
Φ 0い い ゞ 崎o .
o よ いH.
o 求 o”.
o ぷ二 せ 0 い卜一 NH” せ∞卜 “∞N 02]コ0﹂ 0一〇 〇
OoO﹁Z Ce一●“ヽ0●●︼ 〓一

LAMHRAN II PERATURAN BUPATIn山 田鐸GGARAI BARAT
NOMOR : 鋼 T-2018
■懸 GOAL
= 修 J― -2018

2011キ nttST¨
L傲鉾富Phlkades tingkat besa dia10kasikan
untuk 7 orang selama 6 bulan yang dimulai bulan Juni
2018.
Besaran honor Panitia dengan ketentuan:
● Desa dengan¬ ηjib pilih… dengan 500 orang,
honor panitia I」 腱ades:
Ketua :Maksimal Rp.500.000,― /bulan
Wakil Kem :Maksimal Rp.400.000,― /bulan
Sckre協 五s :MakSimal Rp.300.000,― /bulan
An3ota :Mak義 Rp.250.000,― /bulan
● Dettλ dengan颯 ib pilh d“ 通 501 orang smpat
denga 999 orang,honor panitia Pilkades:
Ketua Maksimal Rp.600.000,― /bularl
Wtt Kema Maksimal Rp.500.000,一 /buhn
Sekrtetts Maksimal Rp.400.000,一 /bulan
Angpta Maksirna Rp.350.000,― /bulan
● Deftt dengan walib pilih 1000 oFang sampai dengan
2000 orang,honor panitia pilkades:
Ketua :Maksimal Rp.700.000,― ノbuan
Wakil Kett■ :Maksimal Rp.6∞ .000,イ bulan
Sekretaris :Maksimal Rp.500.000,― /bulan
An3ota l Maksina Rp.450.000,‐ /bulan
● Dettl dengan walib pilih 2001 s/d3000 orang,
honor panilia Pilkades:
Ketua Maksimal Rp.800.000,― /bulan
\lirakil Ketua Maksimal Rp.700.000,… /bulan
Sekretaris Maksimal Rp.600.000,― /bulan
Anggota. Maksimal Rp.550.000,― /bulan
. Desa dengan weiib pilih lebih dari SOOL orang ke
atas, honor panitia Pilkades:
Ketua Maksimal Rp.900.000,― /bulan
Wakil Ketua Maksimal Rp.800.000,― /bulan
Sekretaris Maksimal Rp.700.000,― /bulan
Anggota Maksimal Rp.650.000,― /bulan

2. Honor Tim Per endali dan Pengawas Pilkades Tingkat


Desa d,ari unsur: BPD, Pemerintah Desa, Babinsa dan
Babinkamtibmas disesuaikan kemarnpuan keuagan
desa {dalam bentuk Paket}.
3. Insentif Satuan Linmas Pengamanan Pilkades'
4. Biaya perjalanan dinas panitia Pilkades dalam rangka
pendataan, penangallan masalah, Bimtek/ Pelatihan,
konsultasi/ koordinasi ke Kabupaten, Kecamatan dan
lingkup Desa I
BUPATI MANGGARAI BARAT
PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR

PERATURAN DAERAH KABUPATEN MANGGARAI BARAT


NOMOR 5 TAHUN 2018

TENTANG
PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN MANGGARAI BARAT
NOMOR 1 TAHUN 2016 TENTANG PENGANGKATAN DAN PEMBERHENTIAN
PERANGKAT DESA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA


BUPATI MANGGARAI BARAT,

Menimbang : a. bahwa untuk melaksanakan Putusan Mahkamah Konstitusi


dalam perkara Nomor 128/PUU-XIII/2015, ketentuan Pasal 33
huruf g Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa
dinyatakan bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945 dan tidak mempunyai kekuatan
hukum mengikat sehingga berimplikasi hukum dalam
penyelenggaraan pemilihan Kepala Desa;

b. bahwa untuk menyesuaikan dengan Ketentuan Peraturan


Menteri Dalam Negeri Nomor 67 Tahun 2017 tentang Perubahan
Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 83 Tahun 2015
tentang Pengangangkatan dan Pemberhentian Perangkat Desa
maka Peraturan Daerah Kabupaten Manggarai Barat Nomor 1
Tahun 2016 tentang Pengangangkatan dan Pemberhentian
Perangkat Desa perlu di ubah;
c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud
dalam huruf a dan huruf b, perlu membentuk Peraturan Daerah
tentang Perubahan atas Peraturan Daerah Kabupaen Manggarai
Barat Nomor 1 Tahun 2016 tentang Pengangkatan dan
Pemberhentian Perangkat Desa;

Mengingat : 1. Pasal 18 Ayat (6) Undang-Undang Dasar Negara Republik


Indonesia Tahun 1945;

2. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2003 tentang


Pembentukan Kabupaten Manggarai Barat di Provinsi
Nusa Tenggara Timur (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2003 Nomor 28, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4271);
3. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor
7, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
5495);

4. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang


Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5587); sebagaimana
telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-
Undang Nomor 09 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua
atas Undang–Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang
Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5679);

5. Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 tentang


Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 Tahun
2014 tentang Desa, (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2014 Nomor 123, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5539),sebagaimana telah
diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun
2015 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah
Nomor 43 Tahun 2014 tentang Peraturan Pelaksanaan
Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa
(Lembaran Negara Tahun 2015 Nomor 157 Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5717);

6. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 83 Tahun 2015


tentang Pengangkatan dan Pemberhentian Perangkat Desa
sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri
Dalam Negeri Nomor 67 Tahun 2017 tentang
Pengangkatan dan Pemberhentian Perangkat Desa (Berita
Negara Republik Indonesia Tahun 2017 Nomor 1223);
7. Peraturan Daerah Kabupaten Manggarai Barat Nomor 1
Tahun 2016 tentang Pengangkatan dan Pemberhentian
Perangkat Desa (Lembaran Daerah Kabupaten Manggarai
Barat Tahun 2016 Nomor 1, Tambahan Lembaran Daerah
Kabupaten Manggarai Barat Nomor 163);

Dengan Persetujuan Bersama


DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN MANGGARAI BARAT
dan
BUPATI MANGGARAI BARAT

MEMUTUSKAN:

Menetapkan: PERATURAN DAERAH TENTANG PERUBAHAN ATAS


PERATURAN DAERAH KABUPATEN MANGGARAI BARAT
. NOMOR 1 TAHUN 2016 TENTANG PENGANGKATAN DAN
PEMBERHENTIAN PERANGKAT DESA.

Pasal I

Beberapa ketentuan dalam Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2016 tentang


Pengangkatan dan Pemberhentian Perangkat Desa (Lembaran Daerah
Kabupaten Manggarai Barat Tahun 2016 Nomor1, Tambahan Lembaran
Daerah Kabupaten Manggarai Barat Nomor 163), diubah sehingga berbunyi
sebagai berikut:

1. Ketentuan Pasal 10 ayat (2) huruf c dihapus dan ayat (4) huruf b diubah
sehingga berbunyi sebagai berikut:

Pasal 10

(1) Persyaratan pengangkatan Perangkat Desa terdiri dari persyaratan


umum dan persyaratan khusus;

(2) Persyaratan Umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah


sebagai berikut:
a. berpendidikan paling rendah Sekolah Lanjutan Tingkat Atas
atau yang sederajat;
b. berusia minimal 20 (dua puluh) tahun dan maksimal 42 (empat
puluh dua) tahun;
c. dihapus;
d. memenuhi kelengkapan persyaratan administrasi; dan
(3) Persyaratan Khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari:
a. Berkelakuan baik;
b. Tidak pernah dijatuhi pidana penjara
berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai
kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana yang
diancam dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun
atau lebih, kecuali setelah 5 (lima) tahun setelah selesai pidana
penjara dan mengumumkan secara jujur dan terbuka kepada
publik bahwa yang bersangkutan pernah dipidana bukan
sebagai pelaku kejahatan berulang-ulang;
c. Tidak merangkap jabatan/pekerjaan;
d. Memahami nilai social budaya setempat;
e. Berbadan sehat, bebas narkoba.
f. Bersedia dicalonkan menjadi Perangkat Desa;
(4) Kelengkapan persyaratan administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) huruf d terdiri atas:
a. foto copy Ijazah pendidikan dari tingkat dasar sampai dengan
ijazah terakhir yang telah dilegalisir oleh pejabat yang berwenang;
b. foto copy Kartu Tanda Penduduk;
c. surat Pernyataan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa yang
dibuat oleh yang bersangkutan di atas kertas segel atau
bermaterai 6000;
d. surat Pernyataan memegang teguh dan mengamalkan Pancasila,
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945,
mempertahankan dan memelihara keutuhan Negara Kesatuan
Republik Indonesia dan Bhinneka Tunggal Ika, yang dibuat oleh
yang bersangkutan diatas kertas segel atau bermaterai cukup;
e. foto kopy Akte Kelahiran atau Surat Keterangan Kenal Lahir;
f. surat keterangan berbadan sehat dan bebas narkoba dari
Puskesmas dan Surat Permohonan menjadi Perangkat Desa yang
dibuat oleh yang bersangkutan di atas kertas segel atau
bermaterai cukup; dan
g. surat pernyataan tidak merangkap jabatan/pekerjaan.

2. Ketentuan Pasal 11 ditambah 1 ayat, sehingga berbunyi sebagai berikut :

Pasal 11

(1) Pegawai Negeri Sipil yang dicalonkan menjadi Perangkat Desa


harus mendapatkan ijin tertulis dari Pejabat Pembina
Kepegawaian;
(2) Dalam hal Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) terpilih dan diangkat menjadi perangkat Desa, yang
bersangkutan dibebaskan sementara dari jabatannya selama
menjadi Perangkat Desa tanpa kehilangan haknya sebagai pegawai
negeri sipil.
(3) Pegawai Negeri Sipil yang terpilih dan diangkat menjadi perangkat
Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berhak menerima
haknya sebagai pegawai negeri sipil, mendapatkan tunjangan
perangkat Desa dan pendapatan lainnya yang sah yang bersumber
dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa.

3. Ketentuan Pasal 23 diubah,sehingga berbunyi sebagai berikut :

Pasal 23

(1) Perangkat Desa diberhentikan sementara oleh kepala Desa setelah


berkonsultasi dengan camat.
(2) Pemberhentian sementara perangkat Desa sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) karena:
a. ditetapkan sebagai tersangka dalam tindak pidana korupsi,
terorisme, makar, dan atau tindak pidana terhadap keamanan
negara;
b. dinyatakan sebagai terdakwa yang diancam dengan pidana
penjara paling singkat 5 (lima) tahun berdasarkan register
perkara di pengadilan;
c. tertangkap tangan dan ditahan; dan
d. melanggar larangan sebagai perangkat Desa yang diatur sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(3) Perangkat Desa yang diberhentikan sementara sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) huruf a dan huruf c, diputus bebas atau
tidak terbukti bersalah berdasarkan keputusan pengadilan yang
telah memperoleh kekuatan hukum tetap, dikembalikan kepada
jabatan semula.

4. Ketentuan Pasal 24 diubah,sehingga berbunyi sebagai berikut :

Pasal 24

(1) Dalam hal terjadi kekosongan jabatan perangkat Desa maka tugas
perangkat Desa yang kosong dilaksanakan oleh pelaksana tugas
yang dirangkap oleh perangkat Desa lain yang tersedia.
(2) Pelaksana tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan
oleh kepala Desa dengan surat perintah tugas yang tembusannya
disampaikan kepada bupati melalui camat paling lambat 7 (tujuh)
hari terhitung sejak tanggal penugasan.
(3) Pengisian jabatan perangkat Desa yang kosong paling lambat 2
(dua) bulan sejak perangkat Desa yang bersangkutan berhenti.
(4) Pengisian jabatan perangkat Desa sebagaimana dimaksud pada ayat
(3) dapat dilakukan dengan cara:
a. mutasi jabatan antar perangkat Desa di lingkungan pemerintah
desa; dan
b. penjaringan dan penyaringan calon perangkat desa.
(5) Pengisian perangkat Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (4)
dikonsultasikan dengan camat.

5. Ketentuan Pasal 29 ayat (2) diubah,sehingga berbunyi sebagai berikut :

Pasal 29

(1) Selain penghasilan tetap sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28


ayat (1) perangkat Desa menerima jaminan kesehatan dan dapat
menerima tunjangan tambahan penghasilan dan penerimaan
lainnya yang sah dengan memperhatikan masa kerja dan jabatan
perangkat desa.

(2) Jaminan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sesuai


dengan ketentuan peraturan perundang - undangan.

(3) Perangkat Desa yang meninggal dunia diberikan uang duka wafat
sebesar 3 (tiga) kali gaji.

(4) Jaminan kesehatan, tunjangan tambahan penghasilan dan


penerimaan lainnya yang sah diatur lebih lanjut dengan Peraturan
Bupati.

6. Ketentuan Pasal 32 ditambah 1 ayat, sehingga berbunyi sebagai berikut :

Pasal 32
(1) Perangkat Desa yang diangkat sebelum ditetapkan Peraturan Daerah
ini tetap melaksanakan tugas sampai habis masa tugas berdasarkan
surat keputusan pengangkatannya;
(2) Perangkat Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang diangkat
secara periodisasi yang telah habis masa tugasnya dan berusia kurang
dari 60 (enam puluh) tahun dapat diangkat sampai dengan usia 60
(enam puluh) tahun.

Pasal II
Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan
Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kabupaten
Manggarai Barat.

Ditetapkan di Labuan Bajo


pada tanggal, 19 Februari 2018

BUPATI MANGGARAI BARAT,

AGUSTINUS CH. DULA

Diundangkan di Labuan Bajo


pada tanggal, 21 Februari 2018

SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN MANGGARAI BARAT,

MBON ROFINUS
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN MANGGARAI BARAT TAHUN 2018
NOMOR 5

NOREG. PERATURAN DAERAH KABUPATEN MANGGARAI BARAT


PROVINSINUSA TENGGARA TIMUR : 05 TAHUN 2018.

PENJELASAN
ATAS
PERATURAN DAERAHKABUPATEN MANGGARAI BARAT
NOMOR 5 TAHUN 2018
TENTANG

PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN MANGGARAI BARAT


NOMOR 1 TAHUN 2016 TENTANG PENGANGKATAN DAN PEMBERHENTIAN
PERANGKAT DESA

I. UMUM

Keberadaan perangkat desa menjadi sangat penting dewasa ini


dalam membantu Kepala Desa mengelola roda Pemerintahan,
Pembangunan, Pembinaan Kemasyarakatan dan Pemberdayaan
Masyarakat, maka dibutuhkan sumber daya yang memadai.
Ketersediaan sumber daya manusia lokal di desa dengan tuntutan
profesionalisme dalam bekerja belum semua desa tersedia, sehingga
kehadiran warga masyarakat di luar desa untuk menjadi perangkat desa
menjadi kebutuhan.
Menyadari kondisi dimaksud maka, ketentuan Pasal 50 ayat (1)
huruf c Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa terkait asas
domisili sudah tidak sesuai dengan perkembangan hukum saat ini
sehingga berimplikasi pada berbagai aturan yang sudah ditetapkan di
daerah termasuk Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2016 tentang
Pengangkatan dan Pemberhentian Perangkat Desa.
Atas dasar pemikiran sebagaimana diuraikan di atas, maka
keberadaan Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2016 tentang
Pengangkatan dan Pemberhentian Perangkat Desa beberapa pasalnya
disesuaikan berkaitan dengan: domisili seorang warga masyarakat yang
ingin mengabdi di Pemerintah Desa, maka pada proses pengajuan
lamaran untuk calon perangkat desa tidak harus warga desa
bersangkutan sehingga membuka ruang bagi warga dari desa lain yang
memiliki kemampuan dan mau mengabdi di desa dimana melamar jadi
perangkat desa.
II.PASAL DEMI PASAL

PASAL I
Pasal10
Ketentuan pasal 10 ayat (2) huruf c dihapus dan ayat (4) huruf b
diubah, dijelaskan bahwa persyaratan calon perangkat desa terdaftar
sebagai penduduk Desa dan bertempat tinggal di Desa paling kurang
1 (satu) tahun sebelum pendaftaran tidak digunakan sebagai salah
persyaratan, sehingga siapa saja warga masyarakat yang mempunyai
keinginan untuk mendaftar sebagai calon perangkat desa
diperbolehkan tanpa melihat apakah sebagai penduduk desa atau
bukan penduduk desa.
Ketentuan pasal 10 ayat (4) huruf b diubah, dijelaskan bahwa
persyaratan bagi bakal calon perangkat desa yang semula harus
dilengkapi dengan Foto copy Kartu Tanda Penduduk atau Surat
Keterangan bertempat tinggal paling kurang 1 (satu) Tahun sebelum
pendaftaran dari Rukun Tetangga atau Rukun Warga setempat
diubah hanya melampirkan Foto copy kartu tanda penduduk (KTP)
bagi pelamar dan boleh pelamar berasal dari luar desa.

Pasal 11
Cukup Jelas
Pasal 23
Cukup Jelas
Pasal 24
Cukup Jelas
Pasal 29
Cukup Jelas
Pasal 32
Cukup Jelas

PASAL II
CukupJelas.

TAMBAHAN LEMBARAN DAERAH KABUPATEN MANGGARAI BARAT NOMOR


191
BUPATI MANGGARAI BARAT
PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR

PERATURAN DAERAH KABUPATEN MANGGARAI BARAT


NOMOR 6 TAHUN 2018
TENTANG
BADAN PERMUSYAWARATAN DESA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA


BUPATI MANGGARAI BARAT,

Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan pasal 73


Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 110 Tahun
2016 tentang Badan Permusyawaratan Desa, perlu
membentuk Peraturan Daerah tentang Badan
Permusyawaratan Desa;

Mengingat : 1. Pasal 18 Ayat (6) Undang-Undang Dasar Negara


Republik Indonesia Tahun 1945;

2. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2003 tentang


Pembentukan Kabupaten Manggarai Barat di Provinsi
Nusa Tenggara Timur (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2003 Nomor 28, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4271);

3. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa


(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014
No.7, Tambahan Lembaga Negara Republik Indonesia
Nomor 5495);

4. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang


Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587);
sebagaimana telah diubah beberapa kali, terakhir
dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang
Perubahan Kedua atas Undang–Undang Nomor 23
Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 58,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
5679);
5. Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 tentang
Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 Tahun
2014 tentang Desa, (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2014 Nomor 123, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5539),
sebagaimana telah diubah dengan Peraturan
Pemerintah Nomor 47 Tahun 2015 tentang Perubahan
atas Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014
tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor
6 Tahun 2014 tentang Desa (Lembaran Negara Tahun
2015 Nomor 157 Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5717);

6. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 110 Tahun 2016


tentang Badan Permusyawaratan Desa (Berita Negara
Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 891);

Dengan Persetujuan Bersama

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN


MANGGARAI BARAT
dan
BUPATI MANGGARAI BARAT

MEMUTUSKAN:

Menetapkan : PERATURAN DAERAH TENTANG BADAN


PERMUSYAWARATAN DESA.

BAB I
KETENTUAN UMUM
Bagian Kesatu
Pengertian

Pasal 1

Dalam Peraturan Daerah ini, yang dimaksud dengan :


1. Daerah adalah Kabupaten Manggarai Barat.
2. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat.
3. Bupati adalah Bupati Manggarai Barat.
4. Camat adalah pemimpin dan koordinator penyelenggaraan Pemerintahan
di wilayah kerja Kecamatan yang dalam pelaksanaan tugasnya
memperoleh pelimpahan kewenangan Pemerintahan dari Bupati untuk
menangani sebagian urusan otonomi daerah dan menyelenggarakan
tugas umum pemerintahan.
5. Desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah
yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan,
kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat,
hak asal usul, dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam
sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
6. Pemerintah Desa adalah Kepala Desa dibantuperangkat Desa sebagai
unsur penyelenggara Pemerintahan Desa.
7. Pemerintahan Desa adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan dan
kepentingan masyarakat setempat dalam sistem pemerintahan Negara
Kesatuan Republik Indonesia.
8. Badan Permusyawaratan Desa yang selanjutnya disingkat BPD atau yang
disebut dengan nama lain adalah Lembaga yang melaksanakan fungsi
pemerintahan desa yang anggotanya merupakan wakil dari penduduk
desa berdasarkan keterwakilan wilayah dan ditetapkan secara
demokratis.
9. Musyawarah desa adalah musyawarah antara BPD, Pemerintah Desa dan
unsur masyarakat yang diselenggarakan oleh Badan Permusyawaratan
Desa untuk menyepakati hal yang bersifat strategis.
10. Pengawasan kinerja Kepala Desa adalah proses monitoring dan evaluasi
BPD terhadap pelaksanaan tugas Kepala Desa.
11. Laporan Keterangan Penyelenggaraan Pemerintahan Desa yang
selanjutnya disingkat LKPPD adalah laporan Kepala Desa kepada BPD
atas capaian pelaksanaan tugas Kepala Desa.
12. Wilayah adalah cakupan yang terdiri dari RT, RW, dan Dusun dalam
suatu Desa.

Bagian Kedua
Maksud, Tujuan dan Ruang Lingkup

Pasal 2

Maksud pengaturan BPD dalam Peraturan Daerah ini untuk memberikan


kepastian hukum terhadap BPD sebagai lembaga di Desa yangmelaksanakan
fungsi Pemerintahan Desa.

Pasal 3

Tujuan Pengaturan BPD dalam Peraturan Daerah ini untuk:


a. mempertegas peran BPD dalam penyelenggaraan Pemerintahan Desa;
b. mendorong BPD agar mampu menampung dan menyalurkan aspirasi
masyarakat desa;
c. mendorong BPD dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik
di desa.

Pasal 4

Ruang lingkup Peraturan Daerah ini meliputi:


a. keanggotaan BPD;
b. kelembagaan BPD;
c. fungsi dan tugas;
d. hak, kewajiban dan kewenangan BPD;
e. peraturan tata tertib BPD;
f. pembinaan dan pengawasan;

BAB II
KEANGGOTAAN BPD

Bagian kesatu
Keanggotaan BPD

Pasal 5

(1) Anggota BPD merupakan wakil dari penduduk Desa berdasarkan


keterwakilan wilayah dan keterwakilan perempuan yang pengisiannya
dilakukan secara demokratis melalui proses secara musyawarah atau
pemilihan langsung.

(2) Jumlah anggota BPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1)


ditetapkan dengan jumlah gasal, paling sedikit 5 (lima) orang dan
paling banyak 9 (sembilan) orang.

(3) Penetapan jumlah anggota BPD sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
memperhatikan jumlah penduduk dan kemampuan Keuangan Desa.

(4) Jumlah anggota BPD sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dengan
ketentuan sebagai berikut:
a. jumlah penduduk sampai dengan 750 jiwa sebanyak 5 anggota
BPD;
b. jumlah penduduk 751 jiwa sampai dengan 1000 jiwa sebanyak 7
anggota BPD;
c. jumlah penduduk 1001 jiwa ke atas sebanyak 9 anggota BPD.

(5) Wilayah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah wilayah Dusun.
Pasal 6

Pengisian anggota BPD dilakukan melalui:


a. pengisian berdasarkan keterwakilan wilayah; dan
b. pengisian berdasarkan keterwakilan perempuan.

Pasal 7

(1) Pengisian anggota BPD berdasarkan keterwakilan wilayah


sebagaimana dimaksud dalam pasal 6 huruf a dilakukan untuk
memilih calon anggota BPD dari unsur wakil wilayah pemilihan
dalam desa.
(2) Unsur wakil wilayah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah
masyarakat desa dari wilayah pemilihan dalam desa.
(3) Wilayah pemilihan dalam desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
adalah lingkup wilayah tertentu dalam desa yang telah ditetapkan
memiliki wakil dengan jumlah tertentu dalam keanggotaan BPD.
(4) Jumlah anggota BPD dari masing-masing wilayah sebagaimana
dimaksud pada ayat (3) ditetapkan secara proporsional dengan
memperhatikan jumlah penduduk.

Pasal 8

(1) Pengisian anggota BPD berdasarkan keterwakilan perempuan


sebagaimana dimaksud dalam pasal 6 huruf b ditetapkan 1 (satu)
orang dari jumlah anggota BPD sebagaimana diatur dalam pasal 5
ayat 4.

(2) Wakil perempuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah


perempuan warga desa yang memenuhi syarat calon anggota BPD
serta memiliki kemampuan dalam menyuarakan dan memperjuangan
kepentingan perempuan.

(3) Pemilihan unsur wakil perempuan sebagaimana dimaksud pada ayat


(1) dilakukan oleh perempuan warga desa yang memiliki hak pilih.

Pasal 9

Ketentuan lebih lanjut mengenai pengisian anggota BPD berdasarkan


keterwakilan wilayah dan keterwakilan perempuan sebagaimana
dimaksud dalam pasal 6 akan diatur dengan Peraturan Bupati.
Pasal 10

(1) Pengisian anggota BPD sebagaimana dimaksud dalam pasal 5 ayat (1)
dilaksanakan oleh panitia yang ditetapkan dengan Keputusan Kepala
Desa.

(2) Panitia sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling banyak


berjumlah 11 (sebelas) orang yang terdiri atas unsur Perangkat Desa
paling banyak 3 (tiga) orang dan unsur masyarakat paling banyak 8
(delapan) orang.

(3) Unsur masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) merupakan


wakil dari wilayah pemilihan dengan tetap memperhatikan
keterwakilan perempuan.

Pasal 11

(1) Panitia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (1) melakukan


penjaringan dan penyaringan bakal calon anggota BPD dalam jangka
waktu 6 (enam) bulan sebelum masa keanggotaan BPD berakhir.

(2) Bakal calon anggota BPD yang memenuhi syarat ditetapkan sebagai
calon anggota BPD.

(3) Pemilihan calon anggota BPD sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
paling lambat 3 (tiga) bulan sebelum masa keanggotaan BPD
berakhir.

Pasal 12

(1) Dalam hal mekanisme pengisian keanggotaan BPD ditetapkan


melalui proses pemilihan langsung sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 5 ayat (1), panitia pengisian menyelenggarakan pemilihan
langsung calon anggota BPD oleh unsur masyarakat yang
mempunyai hak pilih.

(2) Dalam hal mekanisme pengisian keanggotaan BPD ditetapkan


melalui proses musyawarah perwakilan sebagaimana dimaksud
dalam pasal 5 ayat (1), calon anggota BPD dipilih dalam proses
musyawarah perwakilan oleh unsur wakil masyarakat yang
mempunyai hak pilih.

(3) Calon anggota BPD terpilih adalah calon anggota BPD dengan suara
terbanyak.
Pasal 13

(1) Calon anggota BPD terpilih disampaikan oleh panitia kepada Kepala
Desa paling lama 7 (tujuh) hari kerja sejak calon anggota BPD terpilih
ditetapkan panitia.
(2) Calon anggota BPD terpilih sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
disampaikan oleh Kepala Desa kepada Bupati melalui Camat paling
lama 7 (tujuh) hari kerja sejak diterimanya hasil pemilihan dari
panitia pengisian untuk diresmikan oleh Bupati.

Pasal 14

Persyaratan calon anggota BPD adalah:


a. bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;
b. memegang teguh dan mengamalkan Pancasila, melaksanakan
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, serta
mempertahankan dan memelihara keutuhan Negara Republik
Indonesia dan Bhineka Tunggal Ika;
c. berusia paling rendah 20 (dua puluh) tahun atau sudah/pernah
menikah;
d. berpendidikan paling rendah tamat sekolah menengah pertama atau
sederajat;
e. bukan sebagai perangkat Pemerintah Desa;
f. bersedia dicalonkan menjadi anggota BPD;
g. wakil penduduk Desa yang dipilih secara demokratis; dan
h. bertempat tinggal di wilayah pemilihan.

Bagian kedua
Peresmian Anggota BPD

Pasal 15

(1) Peresmian anggota BPD ditetapkan dengan keputusan Bupati paling


lama 30 (tiga puluh) hari kerja sejak diterimanya laporan hasil
pemilihan anggota BPD dari Kepala Desa.

(2) Keputusan Bupati sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mulai


berlaku sejak tanggal pengucapan sumpah dan janji anggota BPD.
(3) Pengucapan sumpah janji anggota BPD dipandu oleh Bupati atau
pejabat yang ditunjuk paling lama 30 (tiga puluh) hari kerjasejak
diterbitkannya keputusan Bupati mengenai peresmian anggota BPD.

Pasal 16

(1) Masa keanggotaan BPD selama 6 (enam) tahun terhitung sejak


tanggal pengucapan sumpah/janji.
(2) Anggota BPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dipilih
untuk masa keanggotaan paling banyak 3 (tiga) kali secara berturut-
turut atau tidak secara berturut- turut.

Pasal 17

(1) Anggota BPD sebelum memangku jabatannya bersumpah/berjanji


secara bersama-sama di hadapan masyarakat dan dipandu oleh
Bupati atau pejabat yang ditunjuk.
(2) Susunan kata sumpah/janji anggota BPD sebagai berikut:

”Demi Allah/Tuhan, saya bersumpah/berjanji bahwa saya akan


memenuhi kewajiban saya selaku anggota Badan Permusyawaratan
Desa dengan sebaik-baiknya, sejujur-jujurnya, dan seadil-adilnya;
bahwa saya akan selalu taat dalam mengamalkan dan
mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara, dan bahwa saya
akan menegakkan kehidupan demokrasi dan Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 serta melaksanakan
segala peraturan perundang-undangan dengan selurus-lurusnya
yang berlaku bagi Desa, Daerah, dan Negara Kesatuan Republik
Indonesia”.

Pasal 18

(1) Pengucapan sumpah/janji jabatan anggota BPD sebagaimana


dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2), didampingi oleh rohaniawan sesuai
dengan agamanya masing-masing;
(2) Dalam pengucapan sumpah/janji sebagaimana dimaksud pada ayat
(1), anggota BPD yang beragama:
a. Islam, diawali dengan frasa “Demi Allah saya bersumpah”;
b. Kristen Protestan dan Kristen Katolik, diawali dengan frasa “Demi
Tuhan saya berjanji” dan diakhiri dengan frasa “Semoga Tuhan
menolong saya”;
c. Budha, diawali dengan frasa “Demi Hyang Adi Budha”; dan
d. Hindu, diawali dengan frasa “Om Atah Paramawisesa”.
(3) Setelah pengucapan sumpah/janji sebagaimana dimaksud pada ayat
(1)dilanjutkan penandatanganan berita acara pengucapan
sumpah/janji.

Pasal 19

Anggota BPD yang telah melaksanakan sumpah dan janji sebagaimana


dimaksud dalam Pasal 18 ayat (3), mengikuti pelatihan awal masa
tugas yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten.

Bagian ketiga
Larangan dan Pemberhentian Anggota BPD

Pasal 20

Anggota BPD dilarang:


a. merugikan kepentingan umum, meresahkan sekelompok
masyarakat Desa, dan mendiskriminasikan warga atau golongan
masyarakat Desa;
b. melakukan korupsi, kolusi, dan nepotisme, menerima uang,
barang, dan/atau jasa dari pihak lain yang dapat mempengaruhi
keputusan atau tindakan yang akan dilakukannya;
c. menyalahgunakan wewenang;
d. melanggar sumpah/janji jabatan;
e. merangkap jabatan sebagai Kepala Desa dan Perangkat Desa;
f. merangkap sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik
Indonesia, Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia, Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi atau Dewan Perwakilan
Rakyat Daerah, dan jabatan lain yang ditentukan dalam
peraturan perundangan-undangan;
g. sebagai pelaksana proyek desa;
h. menjadi pengurus partai politik; dan/atau
i. menjadi anggota dan/atau pengurus organisasi terlarang.

Pasal 21

(1) Anggota BPD berhenti karena:


a. meninggal dunia;
b. mengundurkan diri; atau
c. diberhentikan.
(2) Anggota BPD diberhentikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf c, apabila:
a. berakhir masa keanggotaan;
b. tidak dapat melaksanakan tugas secara berkelanjutan atau
berhalangan tetap secara berturut-turut selama 6 (enam) bulan;
c. tidak lagi memenuhi syarat sebagai anggota BPD;
d. tidak melaksanakan kewajiban;
e. melanggar larangan sebagai anggota BPD;
f. melanggar sumpah/janji jabatan dan kode etik BPD;
g. dinyatakan bersalah berdasarkan putusan pengadilan yang telah
memperoleh kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak
pidana dengan ancaman pidana penjara 5 (lima) tahun atau lebih;
h. tidak menghadiri rapat paripurna dan/atau rapat BPD lainnya
yang menjadi tugas dan kewajibannya sebanyak 6 (enam) kali
berturut-turut tanpa alasan yang sah;
i. Adanya perubahan status Desa menjadi kelurahan, penggabungan
2 (dua) Desa atau lebih menjadi 1 (satu) Desa baru, pemekaran
atau penghapusan Desa;
j. bertempat tinggal di luar wilayah asal pemilihan; dan/atau
k. ditetapkan sebagai calon Kepala Desa.

Pasal 22

(1) Pemberhentian anggota BPD diusulkan oleh pimpinan BPD


berdasarkan hasil musyawarah BPD kepada Bupati melalui Kepala
Desa.
(2) Kepala Desa menindaklanjuti usulan pemberhentian anggota BPD
kepada Bupati melalui Camat paling lama 7 (tujuh) hari kerja sejak
diterimanya usul pemberhentian.
(3) Camat menindaklanjuti usulan pemberhentian anggota BPD kepada
Bupati paling lama 7 (tujuh) hari kerja sejak diterimanya usul
pemberhentian.

(4) Bupati meresmikan pemberhentian anggota BPD paling lama 30 (tiga


puluh) hari kerja sejak diterimanya usul pemberhentian anggota BPD.

(5) Peresmian pemberhentian anggota BPD sebagaimana dimaksud pada


ayat (3) ditetapkan dengan keputusan Bupati.

Bagian Keempat
Pemberhentian Sementara

Pasal 23

(1) Anggota BPD diberhentikan sementara oleh Bupati setelah ditetapkan


sebagai tersangka dalam tindak pidana korupsi, terorisme, makar,
dan/atau tindak pidana terhadap keamanan negara.
(2) Dalam hal anggota BPD yang diberhentikan sementara berkedudukan
sebagai pimpinan BPD, diikuti dengan pemberhentian sebagai
pimpinan BPD.

(3) Dalam hal pimpinan BPD diberhentikan sebagaimana dimaksud pada


ayat (2), pimpinan BPD lainnya memimpin rapat pemilihan pimpinan
BPD pengganti antar waktu.

Bagian Kelima
Pengisian Anggota BPD Antarwaktu

Pasal 24

(1) Anggota BPD yang berhenti antarwaktu digantikan oleh calon anggota
BPD nomor urut berikutnya berdasarkan hasil pemilihan anggota BPD.
(2) Dalam hal calon anggota BPD nomor urut berikutnya sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) meninggal dunia, mengundurkan diri atau
tidak lagi memenuhi syarat sebagai calon anggota BPD, digantikan oleh
calon anggota BPD nomor urut berikutnya di wilayah.

Pasal 25

(1) Paling lama 7 (tujuh) hari kerjasejak anggota BPD yang diberhentikan
antar waktu ditetapkan, Kepala Desa menyampaikan usulan nama
calon pengganti anggota BPD yang diberhentikan kepada Bupati
melalui Camat.

(2) Paling lama 7 (tujuh) hari kerja sejak diterimanya usulan anggota BPD
yang diberhentikan antarwaktu sebagaimana dimaksud pada ayat(1),
Camat menyampaikan usulan nama calon pengganti anggota BPD yang
diberhentikan kepada Bupati.

(3) Bupati meresmikan calon pengganti anggota BPD menjadi anggota BPD
dengan keputusan Bupati paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja sejak
disampaikannya usul penggantian anggota BPD dari Kepala Desa.

(4) Peresmian anggota BPD sebagaimana dimaksud ayat (2) mulai berlaku
sejak pengambilan sumpah/janji dan dipandu oleh Bupati atau
pejabat yang ditunjuk.

(5) Setelah pengucapan sumpah/janji sebagaimana dimaksud pada ayat


(4) dilanjutkan penandatanganan berita acara pengucapan
sumpah/janji.

Pasal 26

(1) Masa jabatan anggota BPD antarwaktu melanjutkan sisa masa jabatan
anggota BPD yang digantikannya.
(2) Masa jabatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dihitung 1 (satu)
periode.

Pasal 27

(1) Penggantian antarwaktu anggota BPD tidak dilaksanakan apabila sisa


masa jabatan anggota BPD yang digantikan kurang dari 6 (enam) bulan.

(2) Keanggotaan BPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kosong sampai
berakhirnya masa jabatan anggota BPD.

BAB III
KELEMBAGAAN BPD

Pasal 28

(1) Kelembagaan BPD terdiri atas:


a. pimpinan; dan
b. bidang.
(2) Pimpinan BPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a terdiri
atas:
a. 1 (satu) orang ketua;
b. 1 (satu) orang wakil ketua; dan
c. 1 (satu) orang sekretaris.
(3) Bidang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b terdiri atas :
a. bidang Penyelenggaraan Pemerintahan Desa dan Pembinaan
Kemasyarakatan; dan
b. bidang Pembangunan Desa dan Pemberdayaan Masyarakat
Desa.
(4) Bidang sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dipimpin oleh ketua
bidang;
(5) Pimpinan BPD dan ketua bidang merangkap sebagai anggota BPD.
(6) Keanggotaan BPD yang tidak termasuk dalam unsur Pimpinan BPD
dan Ketua Bidang adalah Anggota Bidang.

Pasal 29

Untuk mendukung pelaksanaan tugas kelembagaan BPD diangkat 1 (satu)


orang tenaga staf administrasi BPD di atur dengan Peraturan Bupati.
Pasal 30

(1) Pimpinan BPD dan ketua bidang sebagaimana dimaksud dalam Pasal
28 ayat (1) dipilih dari dan oleh anggota BPD secara langsung dalam
rapat BPD yang diadakan secara khusus.
(2) Rapat pemilihan pimpinan BPD dan ketua bidang sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) untuk pertama kali dipimpin oleh anggota
tertua dan dibantu oleh anggota termuda.

(3) Rapat pemilihan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan


paling lambat 3 (tiga) hari terhitung sejak tanggal pengucapan
sumpah/janji.

(4) Rapat pemilihan pimpinan dan atau ketua bidang berikutnya karena
pimpinan dan atau ketua bidang berhenti, dipimpin oleh ketua atau
pimpinan BPD lainnya berdasarkan kesepakatan pimpinan BPD.

Pasal 31

(1) Pimpinan dan ketua bidang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30


ayat (1) yang terpilih, ditetapkan dengan keputusan BPD.

(2) Keputusan BPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mulai berlaku
setelah mendapatkan pengesahan Camat atas nama Bupati.

BAB IV
FUNGSI DAN TUGAS BPD
Bagian Kesatu
Fungsi BPD

Pasal 32

BPD mempunyai fungsi:


a. membahas dan menyepakati Rancangan Peraturan Desa bersama
Kepala Desa;

b. menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat Desa; dan

c. melakukan pengawasan kinerja Kepala Desa.

Bagian Kedua
Tugas BPD

Pasal 33

BPD mempunyai tugas:


a. menggali aspirasi masyarakat;
b. menampung aspirasi masyarakat;
c. mengelola aspirasi masyarakat;

d. menyalurkan aspirasi masyarakat;


e. menyelenggarakan musyawarah BPD;
f. menyelenggarakan musyawarah Desa;
g. membentuk panitia pemilihan Kepala Desa;
h. menyelenggarakan musyawarah Desa khusus untuk pemilihan
Kepala Desa antarwaktu;
i. membahas dan menyepakati rancangan Peraturan Desa bersama
Kepala Desa;

j. melaksanakan pengawasan terhadap kinerja Kepala Desa;


k. melakukan evaluasi laporan keterangan penyelenggaraan
Pemerintahan Desa;

l. menciptakan hubungan kerja yang harmonis dengan Pemerintah


Desa dan lembaga Desa lainnya; dan

m. melaksanakan tugas lain yang diatur dalam ketentuan peraturan


perundang-undangan.
Paragraf 1
Penggalian Aspirasi Masyarakat

Pasal 34

(1) BPD melakukan penggalian aspirasi masyarakat.

(2) Penggalian aspirasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat


dilakukan langsung kepada kelembagaan dan masyarakat Desa
termasuk kelompok masyarakat miskin, masyarakat berkebutuhan
khusus, perempuan, kelompok marjinal.
(3) Penggalian aspirasi dilaksanakan berdasarkan keputusan
musyawarah BPD yang dituangkan dalam agenda kerja BPD.

(4) Pelaksanaan penggalian aspirasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)


menggunakan panduan kegiatan yang sekurang-kurangnya memuat
maksud, tujuan, sasaran, waktu dan uraian kegiatan.

(5) Hasil penggalian aspirasi masyarakat Desa disampaikan dalam


musyawarah BPD.

Paragraf 2
Menampung Aspirasi Masyarakat

Pasal 35

(1) Pelaksanaan kegiatan menampung aspirasi masyarakat dilakukan di


sekretariat BPD.

(2) Aspirasi masyarakat sebagaimana dimaksud ayat (1) di


administrasikan dan disampaikan dalam musyawarah BPD.

Paragraf 3
Pengelolaan Aspirasi Masyarakat

Pasal 36

(1) BPD mengelola aspirasi masyarakat Desa melalui pengadministrasian


dan perumusan aspirasi.
(2) Pengadministrasian aspirasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
berdasarkan pembidangan yang meliputi bidang pemerintahan,
pembangunan, pembinaan kemasyarakatan dan pemberdayaan
masyarakat Desa.

(3) Perumusan aspirasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan


dengan cara menganalisa dan merumuskan aspirasi masyarakat Desa
untuk disampaikan kepada Kepala Desa dalam rangka mewujudkan
tata kelola penyelenggaraan pemerintahan yang baik dan
kesejahteraan masyarakat Desa.

Paragraf 4
Penyaluran Aspirasi Masyarakat

Pasal 37

(1) BPD menyalurkan aspirasi masyarakat dalam bentuk lisan dan atau
tulisan.

(2) Penyaluran aspirasi masyarakat dalam bentuk lisan sebagaimana


dimaksud pada ayat (1) seperti penyampaian aspirasi masyarakat oleh
BPD dalam musyawarah BPD yang dihadiri Kepala Desa.

(3) Penyaluran aspirasi masyarakat dalam bentuk tulisan sebagaimana


dimaksud pada ayat (1) seperti penyampaian aspirasi melalui surat
dalam rangka penyampaian masukan bagi penyelenggaraan
Pemerintahan Desa, permintaan keterangan kepada Kepala Desa, atau
penyampaian rancangan Peraturan Desa yang berasal dari usulan
BPD.

Paragraf 5
Penyelenggaraan Musyawarah BPD

Pasal 38

(1) Musyawarah BPD dilaksanakan dalam rangka menghasilkan


keputusan BPD terhadap hal-hal yang bersifat strategis.

(2) Hal yang bersifat strategis sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
seperti musyawarah pembahasan dan penyepakatan rancangan
Peraturan Desa, evaluasi laporan keterangan penyelenggaraan
Pemerintahan Desa, menetapkan peraturan tata tertib BPD, dan
usulan pemberhentian anggota BPD.
(3) BPD menyelenggarakan musyawarah BPD dengan mekanisme,
sebagai berikut:
a. musyawarah BPD dipimpin oleh pimpinan BPD;
b. musyawarah BPD dinyatakan sah apabila dihadiri oleh paling
sedikit 2/3 (dua pertiga) dari jumlah anggota BPD;
c. pengambilan keputusan dilakukan dengan cara musyawarah
guna mencapai mufakat;
d. apabila musyawarah mufakat tidak tercapai, pengambilan
keputusan dilakukan dengan cara pemungutan suara;
e. pemungutan suara sebagaimana dimaksud dalam huruf d
dinyatakan sah apabila disetujui oleh paling sedikit ½ (satu
perdua) ditambah 1 (satu) dari jumlah anggota BPD yang hadir;
dan
f. hasil musyawarah BPD ditetapkan dengan keputusan BPD dan
dilampiri notulen musyawarah yang dibuat oleh sekretaris BPD.

Paragraf 6
Penyelenggaraan Musyawarah Desa

Pasal 39

(1) Musyawarah Desa diselenggarakan oleh BPD yang difasilitasi oleh


Pemerintah Desa.

(2) Musyawarah Desa merupakan forum permusyawaratan yang diikuti


oleh BPD, Pemerintah Desa, dan unsur masyarakat Desa untuk
memusyawarahkan hal yang bersifat strategis dalam penyelenggaraan
Pemerintahan Desa.

(3) Hal yang bersifat strategis sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
meliputi:
a. penataan Desa;
b. perencanaan Desa;
c. kerja sama Desa;
d. rencana investasi yang masuk ke Desa;
e. pembentukan BUMDesa;
f. penambahan dan pelepasan Aset Desa; dan
g. kejadian luar biasa.
(4) Unsur masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terdiri atas:
a. tokoh adat;
b. tokoh agama;
c. tokoh masyarakat;
d. tokoh pendidikan;
e. perwakilan kelompok tani;
f. perwakilan kelompok nelayan;
g. perwakilan kelompok perajin;
h. perwakilan kelompok perempuan;
i. perwakilan kelompok pemerhati dan pelindungan anak; dan
j. perwakilan kelompok masyarakat tidak mapan.
(5) Selain unsur masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (4),
musyawarah Desa dapat melibatkan unsur masyarakat lain sesuai
dengan kondisi sosial budaya masyarakat.
(6) Musyawarah Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibiayai dari
Anggaran dan Pendapatan Belanja Desa;

Paragraf 7
Pembentukan Panitia Pemilihan Kepala Desa
Pasal 40

(1) BPD membentuk pantia pemilihan Kepala Desa serentak dan panitia
pemilihan Kepala Desa antarwaktu.

(2) Pembentukan panitia sebagaimana dimaksud pada ayat (1)


ditetapkan dengan keputusan BPD.

Pasal 41

(1) Panitia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 ayat (1) terdiri dari
perangkat Desa dan unsur masyarakat.

(2) Jumlah anggota panitia disesuaikan dengan beban tugas dan


kemampuan pembiayaan.

(3) Panitia sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertanggungjawab


kepada BPD.

(4) Dalam hal anggota panitia tidak melaksanakan tugas dan kewajiban
dapat diberhentikan dengan keputusan BPD.

Pasal 42

(1) Panitia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 ayat (1) melakukan


penjaringan dan penyaringan bakal calon Kepala Desa antarwaktu.

(2) Penyaringan bakal calon Kepala Desa menjadi calon Kepala Desa,
paling sedikit 2 (dua) orang dan paling banyak 3 (tiga) orang.
(3) Dalam hal jumlah bakal calon yang memenuhi persyaratan lebih dari
3 (tiga), panitia melakukan seleksi tambahan dengan menggunakan
kriteria memiliki pengetahuan mengenai Pemerintahan Desa, tingkat
pendidikan, usia dan persyaratan lain yang ditetapkan Bupati.
(4) Dalam hal bakal calon yang memenuhi persyaratan kurang dari 2
(dua) orang, panitia memperpanjang waktu pendaftaran selama 7
(tujuh) hari.

(5) Dalam hal bakal calon yang memenuhi persyaratan tetap kurang dari
2 (dua) setelah perpanjangan waktu pendaftaran sebagaimana
dimaksud pada ayat (4), BPD menunda pelaksanaan pemilihan
Kepala Desa sampai dengan waktu yang ditetapkan kemudian.

Paragraf 8
Penyelenggaraan Musyawarah Desa Khusus Untuk
Pemilihan Kepala Desa Antarwaktu

Pasal 43

(1) BPD menyelenggarakan musyawarah Desa khusus untuk pemilihan


Kepala Desa antarwaktu.

(2) Penyelenggaraan musyawarah Desa sebagaimana dimaksud pada


ayat (1) dilakukan untuk mengesahkan calon Kepala Desa yang
diajukan panitia serta memilih dan pengesahan calon Kepala Desa
terpilih.

(3) Forum musyawarah Desa menyampaikan calon Kepala Desa terpilih


sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada panitia untuk
disampaikan kepada BPD.

Pasal 44

BPD menyampaikan calon Kepala Desa terpilih sebagaimana dimaksud dalam


Pasal 43 ayat (3) kepada Bupati paling lama 7 (tujuh) hari sejak diterimanya
laporan hasil pemilihan Kepala Desa dari panitia pemilihan.
Paragraf 9
Pembahasan dan Penyepakatan
Rancangan Peraturan Desa

Pasal 45

(1) BPD dan Kepala Desa membahas dan menyepakati rancangan


Peraturan Desa yang diajukan BPD dan atau Kepala Desa.
(2) Pembahasan rancangan Peraturan Desa sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) diselenggarakan oleh BPD dalam musyawarah BPD.

(3) Rancangan Peraturan Desa yang diusulkan Kepala Desa


sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibahas terlebih dahulu dalam
musyawarah internal BPD paling lambat 10 (sepuluh) hari kerja
terhitung sejak rancangan Peraturan Desa diterima oleh BPD.

(4) Pelaksanaan pembahasan rancangan Peraturan Desa sebagaimana


dimaksud pada ayat (1) antara BPD dan Kepala Desa untuk pertama
kali dilakukan paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja sejak
pelaksanaan musyawarah internal BPD.

(5) Setiap pembahasan rancangan Peraturan Desa dilakukan pencatatan


proses yang dituangkan dalam notulen musyawarah.

Pasal 46

(1) Dalam hal pembahasan rancangan Peraturan Desa antara BPD dan Kepala
Desa tidak mencapai kata sepakat, musyawarah bersama tetap mengambil
keputusan dengan disertai catatan permasalahan yang tidak disepakati.

(2) Rancangan Peraturan Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat
diajukan oleh Kepala Desa kepada Bupati melalui Camat disertai catatan
permasalahan yang tidak disepakati paling lambat 7 (tujuh) hari sejak
musyawarah pembahasan terakhir untuk mendapatkan evaluasi dan
pembinaan.

(3) Tindaklanjut evaluasi dan pembinaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
dapat berbentuk :

a. penghentian pembahasan; atau


b. pembinaan untuk tindaklanjut pembahasan dan kesepakatan
rancangan Peraturan Desa.
(4) Tindaklanjut pembahasan dan kesepakatan sebagaimana dimaksud pada
ayat (3) huruf b dapat dihadiri Camat atau pejabat lain yang ditunjuk
Bupati.

Paragraf 10
Pelaksanaan Pengawasan Kinerja
Kepala Desa

Pasal 47

(1) BPD melakukan pengawasan terhadap kinerja Kepala Desa.


(2) Pelaksanaan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilakukan melalui:
a. perencanaan kegiatan Pemerintah Desa;
b. pelaksanaan kegiatan; dan
c. pelaporan penyelenggaraan Pemerintahan Desa.

(3) Bentuk pengawasan BPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa
monitoring dan evaluasi.

Pasal 48

Hasil pelaksanaan pengawasan kinerja Kepala Desa sebagaimana dimaksud


dalam Pasal 47 ayat (1) menjadi bagian dari laporan kinerja BPD.

Paragraf 11
Evaluasi Laporan Keterangan
Penyelenggaraan Pemerintahan Desa

Pasal 49

(1) BPD melakukan evaluasi laporan keterangan penyelenggaraan


Pemerintahan Desa.
(2) Evaluasi laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan
evaluasi atas kinerja Kepala Desa selama 1 (satu) tahun anggaran.
(3) Pelaksanaan evaluasi sebagaimana dimaksud ayat (1) dilakukan
berdasarkan prinsip demokratis, responsif, transparansi,
akuntabilitas dan objektif.
(4) Evaluasi pelaksanaan tugas Kepala Desa sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) meliputi:
a. Capaian pelaksanaan RPJM Desa, RKP Desa dan APBDesa;
b. Capaian pelaksanaan penugasan dari Pemerintah, Pemerintah
Provinsi Dan Pemerintah Kabupaten;
c. Capaian ketaatan terhadap pelaksanaan tugas sesuai peraturan
perundang-undangan; dan
d. Prestasi Kepala Desa.
(5) Pelaksanaan evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
merupakan bagian dari laporan kinerja BPD.

Pasal 50

(1) BPD melakukan evaluasi LKPPD paling lambat 10 (sepuluh) hari kerja
sejak LKPPD diterima.

(2) Berdasarkan hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) BPD
dapat:
a. membuat catatan tentang kinerja Kepala Desa;
b. meminta keterangan atau informasi;
c. menyatakan pendapat; dan
d. memberi masukan untuk penyiapan bahan musyawarah Desa.
(3) Dalam hal Kepala Desa tidak memenuhi permintaan BPD
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b, BPD tetap melanjutkan
proses penyelesaian evaluasi LKPPD dengan memberikan catatan
kinerja Kepala Desa.

(4) Evaluasi LKPPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menjadi bagian
dari laporan kinerja BPD.

Paragaraf 12
Menciptakan Hubungan Kerja Yang Harmonis Dengan
Pemerintah Desa dan Lembaga Desa Lainnya

Pasal 51

(1) Dalam rangka menciptakan hubungan kerja yang harmonis dengan


Pemerintah Desa dan lembaga Desa lainnya, BPD dapat mengusulkan
kepada Kepala Desa untuk membentuk Forum Komunikasi Antar
Kelembagaan Desa atau FKAKD.

(2) Forum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari unsur
Ketua/Kepala kelembagaan Desa yang telah terbentuk.

(3) Forum sebagaimana dimaksud pada ayat (2), ditetapkan dengan


keputusan Kepala Desa.

(4) Tugas forum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menyepakati dan
menyelesaikan berbagai permasalahan aktual di desa.

BAB V
HAK, KEWAJIBAN DAN WEWENANG BPD
Bagian Kesatu
Hak BPD

Pasal 52

BPD berhak:
a. mengawasi dan meminta keterangan tentang penyelenggaraan
Pemerintahan Desa kepada Pemerintah Desa;
b. menyatakan pendapat atas penyelenggaraan Pemerintahan Desa,
pelaksanaan pembangunan Desa, pembinaan kemasyarakatan Desa,
dan pemberdayaan masyarakat Desa; dan
c. mendapatkan biaya operasional pelaksanaan tugas dan fungsinya
dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa.

Paragraf 1
Pengawasan

Pasal 53

(1) BPD melakukan pengawasan melalui monitoring dan evaluasi


pelaksanaan tugas Kepala Desa.

(2) Monitoring dan evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)


terhadap perencanaan, pelaksanaan dan pelaporan penyelenggaraan
Pemerintahan Desa.
Paragraf 2
Pernyataan Pendapat
Pasal 54

(1) BPD menggunakan hak menyatakan pendapat berdasarkan


keputusan BPD.
(2) Pernyataan pendapat sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
merupakan kesimpulan dari pelaksanaan penilaian secara cermat dan
objektif atas penyelenggaraan Pemerintahan Desa.
(3) Penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan melalui
pembahasan dan pendalaman suatu objek penyelenggaraan
Pemerintahan Desa yang dilakukan dalam musyawarah BPD.
(4) Keputusan BPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berdasarkan
hasil musyawarah BPD.

Paragraf 3
Biaya Operasional
Pasal 55

(1) BPD mendapatkan biaya operasional yang bersumber dari APBDesa


dan sumber lain yang sah dan tidak mengikat.

(2) Biaya operasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan


untuk dukungan pelaksanaan fungsi dan tugas BPD.

(3) Alokasi biaya operasional sebagaimana dimaksud pada ayat (2)


dengan memperhatikan komponen kebutuhan operasional dan
kemampuan Keuangan Desa.

Bagian Kedua
Hak Anggota BPD
Pasal 56

(1) Anggota BPD berhak:


a. mengajukan usul rancangan Peraturan Desa;
b. mengajukan pertanyaan;
c. menyampaikan usul dan/atau pendapat;
d. memilih dan dipilih; dan
e. mendapat tunjangan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja
Desa.
(2) Hak anggota BPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a
sampai dengan huruf d digunakan dalam musyawarah BPD.
(3) Selain hak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) BPD berhak:
a. memperoleh pengembangan kapasitas melalui pendidikan dan
pelatihan, sosialisasi, pembimbingan teknis, dan kunjungan
lapangan seperti studi banding yang dilakukan di dalam negeri.
b. penghargaan dari Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi dan
Pemerintah Daerah bagi pimpinan dan anggota BPD yang
berprestasi.

Pasal 57

(1) Pimpinan dan anggota BPD mempunyai hak untuk memperoleh


tunjangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 56 ayat (1) huruf e.
(2) Tunjangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi tunjangan
pelaksanaan tugas dan fungsi dan tunjangan lainnya.
(3) Tunjangan pelaksanaan tugas dan fungsi sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) merupakan tunjangan kedudukan.
(4) Tunjangan lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (2) merupakan
tunjangan kinerja .

Pasal 58

(1) Tunjangan kedudukan anggota BPD sebagaimana dimaksud dalam


Pasal 57 ayat (3) diberikan berdasarkan kedudukan anggota dalam
kelembagaan BPD.

(2) Tunjangan kinerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 57 ayat (4),


dapat diberikan dalam hal terdapat penambahan beban kerja.

(3) Tunjangan kinerja sebagaimana dimaksud pada ayat (4) bersumber


dari Pendapatan Asli Desa.

(4) Besaran tunjangan BPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan
ayat (2) ditetapkan oleh Bupati.

Pasal 59

Pembiayaan pengembangan kapasitas sebagaimana dimaksud dalam pasal


56 ayat (3) huruf a, bersumber dari APBD Kabupaten dan APBDesa.

Pasal 60

(1) Penghargaan kepada pimpinan dan anggota BPD sebagaimana


dimaksud dalam Pasal 56 ayat (3) huruf b diberikan pada tingkat
nasional, provinsi dan kabupaten dalam 2 (dua) kategori:
a. kategori pimpinan; dan
b. kategori anggota.
(2) Pengaturan pelaksanaan penghargaan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) berpedoman pada Peraturan Perundangan yang berlaku.
Bagian Ketiga
Kewajiban Anggota BPD

Pasal 61

Anggota BPD wajib:


a. Memegang teguh dan mengamalkan Pancasila, melaksanakan
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, serta
mempertahankan dan memelihara keutuhan Negara Kesatuan
Republik Indonesia dan Bhinneka Tunggal Ika;

b. melaksanakan kehidupan demokrasi yang berkeadilan gender dalam


penyelenggaraan Pemerintahan Desa;

c. mendahulukan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi,


kelompok, dan/atau golongan;

d. menghormati nilai sosial budaya dan adat istiadat masyarakat Desa;

e. menjaga norma dan etika dalam hubungan kerja dengan lembaga


Pemerintah Desa dan lembaga desa lainnya; dan

f. mengawal aspirasi masyarakat, menjaga kewibawaan dan kestabilan


penyelenggaraan Pemerintahan Desa serta mempelopori
penyelenggaraan Pemerintahan Desa berdasarkan tata kelola
pemerintahan yang baik.

Bagian Keempat
Laporan Kinerja BPD

Pasal 62

(1) Laporan kinerja BPD merupakan laporan atas pelaksanaan tugas BPD
dalam 1 (satu) tahun anggaran.
(2) Laporan kinerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibuat dengan
sistematika:
a. dasar hukum;
b. pelaksanaan tugas; dan
c. penutup.
(3) Laporan kinerja BPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaporkan
secara tertulis kepada Bupati melalui Camat serta disampaikan
kepada Kepala Desa dan forum musyawarah Desa secara tertulis dan
atau lisan.
(4) Laporan kinerja BPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
disampaikan paling lama 4 (empat) bulan setelah selesai tahun
anggaran.

Pasal 63

(1) Laporan kinerja BPD yang disampaikan kepada Bupati sebagaimana


dimaksud dalam Pasal 62 ayat (3) digunakan Bupati untuk evaluasi
kinerja BPD serta pelaksanaan pembinaan dan pengawasan
penyelenggaraan Pemerintahan Desa.
(2) Laporan kinerja BPD yang disampaikan pada forum musyawarah Desa
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 62 ayat (3) merupakan wujud
pertanggungjawaban pelaksanaan tugas BPD kepada masyarakat
Desa.

Bagian Kelima
Kewenangan BPD

Pasal 64

BPD berwenang:
a. mengadakan pertemuan dengan mayarakat untuk mendapatkan
aspirasi;
b. menyampaikan aspirasi masyarakat kepada Pemerintah Desa secara
lisan dan tertulis;
c. mengajukan rancangan Peraturan Desa yang menjadi
kewenangannya;
d. melaksanakan monitoring dan evaluasi kinerja Kepala Desa;
e. meminta keterangan tentang penyelenggaraan Pemerintahan Desa
kepada Pemerintah Desa;
f. menyatakan pendapat atas penyelenggaraan Pemerintahan Desa,
pelaksanaan pembangunan Desa, pembinaan kemasyarakatan Desa,
dan pemberdayaan masyarakat Desa;
g. mengawal aspirasi masyarakat, menjaga kewibawaan dan kestabilan
penyelenggaraan Pemerintahan Desa serta mempelopori
penyelenggaraan Pemerintahan Desa berdasarkan tata kelola
pemerintahan yang baik;
h. menyusun peraturan tata tertib BPD;
i. menyampaikan laporan hasil pengawasan yang bersifat insidentil
kepada Bupati melalui Camat;
j. Menyusun dan menyampaikan usulan rencana biaya operasional
BPD secara tertulis kepada Kepala Desa untuk dialokasikan dalam
RAPB Desa;
k. mengelola biaya operasional BPD;
l. mengusulkan pembentukan Forum Komunikasi Antar Kelembagaan
Desa kepada Kepala Desa; dan
m. Melakukan kunjungan kepada masyarakat dalam rangka monitoring
dan evaluasi penyelenggaraan Pemerintahan Desa.

BAB VI
PERATURAN TATA TERTIB BPD

Pasal 65

(1) BPD menyusun peraturan tata tertib BPD.


(2) Peraturan tata tertib BPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dibahas dan disepakati dalam musyawarah BPD.
(3) Peraturan tata tertib BPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
paling sedikit memuat:
a. keanggotaan dan kelembagaan BPD;
b. fungsi, tugas, hak, kewajiban dan kewenangan BPD;
c. waktu musyawarah BPD;
d. pengaturan mengenai pimpinan musyawarah BPD;
e. tata cara musyawarah BPD;
f. tata laksana dan hak menyatakan pendapat BPD dan anggota
BPD; dan
g. pembuatan berita acara musyawarah BPD.

(4) Pengaturan mengenai waktu musyawarah sebagaimana


dimaksud pada ayat (3) huruf c meliputi:
a. pelaksanaan jam musyawarah;
b. tempat musyawarah;
c. jenis musyawarah; dan
d. daftar hadir anggota BPD.

(5) Pengaturan mengenai pimpinan musyawarah BPD sebagaimana


dimaksud pada ayat (1) huruf d meliputi:

a. penetapan pimpinan musyawarah apabila pimpinan dan


anggota hadir lengkap;

b. penetapan pimpinan musyawarah, apabila ketua BPD


berhalangan hadir;
c. penetapan pimpinan musyawarah apabila ketua dan wakil
ketua berhalangan hadir; dan
d. penetapan secara fungsional pimpinan musyawarah sesuai
dengan bidang yang ditentukan dan penetapan penggantian
anggota BPD antarwaktu.

(6) Pengaturan mengenai tata cara musyawarah BPD sebagaimana


dimaksud pada ayat (3) huruf e meliputi:
a. tata cara pembahasan rancangan Peraturan Desa;

b. konsultasi mengenai rencana dan program Pemerintah

Desa;

c. tata cara mengenai pengawasan kinerja Kepala Desa; dan

d. tata cara penampungan atau penyaluran aspirasi


masyarakat.

(7) Pengaturan mengenai tata laksana dan hak menyatakan


pendapat BPD sebagaimana dimaksud ayat (3) huruf f meliputi:
a. pemberian pandangan terhadap pelaksanaan Pemerintahan
Desa;

b. penyampaian jawaban atau pendapat Kepala Desa atas


pandangan BPD;

c. pemberian pandangan akhir atas jawaban atau pendapat


Kepala Desa; dan

d. tindak lanjut dan penyampaian pandangan akhir BPD


kepada Bupati.

(8) Pengaturan mengenai penyusunan berita acara musyawarah BPD


sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf g meliputi:
a. penyusunan notulen rapat;

b. penyusunan berita acara;

c. format berita acara;

d. penandatanganan berita acara; dan

e. penyampaian berita acara.


BAB VII
PEMBINAAN DAN PENGAWASAN
Pasal 66
(1) Bupati melakukan pembinaan dan pengawasaan terhadap
pelaksanaan peran BPD dalam penyelenggaran Pemerintahan
Desa.
(2) Bupati dapat mendelegasikan pembinaan dan pengawasan
sebagaimana dimaksud ayat (1) kepada Camat.

Pasal 67
Pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 66
ayat (1), meliputi:
a. memfasilitasi dukungan kebijakan tentang desa;

b. memfasilitasi penyusunan Peraturan Desa;

c. memberikan bimbingan, pemantau, evaluasi, pelaporan dan


supervisi pelaksanaan kebijakan desa;

d. melaksanakan bimbingan teknis serta pendidikan dan pelatihan


tertentu; dan

e. memberikan penghargaan atas prestasi pimpinan dan anggota


BPD.

BAB VIII
KETENTUAN PERALIHAN

Pasal 69

(1) Anggota BPD dari desa yang mengalami perubahan status desa
menjadi kelurahan, penggabungan 2 (dua) desa atau lebih menjadi 1
(satu) desa, pemekaran atau penghapusan desa diberhentikan dengan
hormat dari jabatannya.
(2) Anggota BPD sebagaimana dimaksud pada ayat 1 diberi penghargaan
dan/atau pesangon sesuai kemampuan keuangan daerah.
(3) Tata cara pemberian penghargaan dan besaran pesangon
sebagaimana dimaksud pada ayat 2 (dua) diatur dengan Peraturan
Bupati.
(4) Pada saat Peraturan Daerah ini berlaku, anggota BPD yang ada tetap
melaksanakan tugas sampai habis masa jabatan keanggotaan BPD;

BAB IX
KETENTUAN PENUTUP

Pasal 70

Pada saat Peraturan Daerah ini mulai berlaku, maka Peraturan Daerah
Kabupaten Manggarai Barat Nomor 10 Tahun 2015 tentang Badan
Permusyawaratan Desa (Lembaran Daerah Kabupaten Manggarai Barat
Tahun 2015 Nomor 10, Tambahan Lembaran Daerah Manggarai Barat
Nomor 160), dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

Pasal 72

Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan


Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah
Kabupaten Manggarai Barat.

Ditetapkan di Labuan Bajo


pada tanggal, 19 Februari 2018

BUPATI MANGGARAI BARAT,

AGUSTINUS CH. DULA

Diundangkan di Labuan Bajo


pada tanggal, 21 Februari 2018

SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN MANGGARAI BARAT,

MBON ROFINUS
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN MANGGARAI BARAT TAHUN 2018
NOMOR 6

NOREG. PERATURAN DAERAH KABUPATEN MANGGARAI BARAT PROPINSI


NUSA TENGGARA TIMUR : 06 TAHUN 2018.
PENJELASAN
ATAS
PERATURAN DAERAH KABUPATEN MANGGARAI BARAT
NOMOR 6 TAHUN 2018
TENTANG
BADAN PERMUSYAWARATAN DESA

I. UMUM.
Sesuai ketentuan Dalam penyelenggaraan Pemerintahan Desa,
keberadaan BPD sebagai lembaga yang melaksanakan fungsi
pemerintahan yang anggotanya merupakan wakil dari penduduk desa
berdasarkan keterwakilan wilayah dan ditetapkan secara demokratis
merupakan mitra kerja Kepala Desa menjalankan tugasnya untuk
menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat, melakukan
pengawasan kinerja Pemerintah Desa serta membahas dan
menyepakati berbagai Peraturan di Desa.
Secara konstitusi sudah diatur dalam Undang-undang Nomor 6
Tahun 2014 tentang Desa beserta Peraturan Pelaksanaannya yakni
Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 tentang Peraturan
Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa
sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 47
Tahun 2015 dan lebih operasional tertuang dalam Peraturan Menteri
Dalam Negeri Nomor 110 tahun 2016 tentang BPD dan di level
Pemerintah Daerah dengan Peraturan Daerah.
Pengaturan tentang BPD untuk tingkat Kabupaten Manggarai Barat
sudah diatur dengan Peraturan Daerah Kabupaten Manggarai Barat
Nomor 10 Tahun 2015 tentang BPD, akan tetapi diproses sebelum
ditetapkannya Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 110 tahun 2016
tentang BPD.
Proses ini dilakukan karena penyelenggaraan Pemerintah Desa sudah
mengacu pada UU Nomor 6 tahun 2014 tentang Desa termasuk BPD
sebagai bagian dari penyelenggaraan pemerintahan desa sudah
mengacu pada regulasi yang ada.
Setelah Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 110 tahun 2016
tentang BPD ditetapkan dan setelah dilakukan penelaahan terkait isi
dan substansi, banyak hal perlu dilakukan penyesuaian sehingga
Peraturan Daerah Kabupaten Manggarai Barat Nomor 10 Tahun 2015
tentang BPD diselaraskan dan diganti dengan Peraturan Daerah yang
baru dengan berpedoman pada Peraturan Menteri Dalam Negeri
sehingga tugas dan fungsi BPD dapat lebih optimal.
Yang dibahas dalam Rancangan Peraturan Daerah tentang BPD
mencakup beberapa aspek, terkait dengan: ketentuan umum, maksud,
tujuan dan ruang lingkup BPD, keanggotaan BPD, peresmian anggota
BPD, pemberhentian anggota BPD, pemberhentian sementara, pengisian
anggota BPD antarwaktu, larangan anggota BPD, kelembagaan BPD,
fungsi dan tugas BPD, penggalian aspirasi masyarakat, menampung
aspirasi masyarakat, pengelolaan aspirasi masyarakat, penyaluran
aspirasi masyarakat, penyelenggaraan musyawarah BPD,
Penyelenggaraan Musyawarah Desa, pengawasan kinerja Kepala Desa,
evaluasi laporan keterangan penyelenggaraan pemerintahan desa,
menciptakan hubungan kerja yang harmonis dengan pemerintah desa
dan lembaga lainnya di desa, hak, kewajiban dan wewenang BPD,
pengawasan, pernyataan pendapat, biaya, hak anggota BPD, kewajiban
anggota BPD, laporan kinerja BPD, kewenangan BPD, pendanaan,
ketentuan peralihan dan penutup.

II. PASAL DEMI PASAL

Pasal 1
Cukup jelas
Pasal 2
Cukup jelas
Pasal 3
Cukup jelas
Pasal 4
Cukup jelas
Pasal 5
Cukup jelas
Pasal 6
Cukup jelas
Pasal 7
Cukup jelas
Pasal 8
Cukup jelas
Pasal 9
Cukup jelas
Pasal 10
Cukup jelas
Pasal 11
Cukup jelas
Pasal 12
Cukup jelas
Pasal 13
Cukup jelas
Pasal 14
Cukup jelas
Pasal 15
Cukup jelas
Pasal 16
Cukup jelas
Pasal 17
Cukup jelas
Pasal 18
Cukup jelas
Pasal 19
Cukup jelas
Pasal 20
Cukup jelas
Pasal 21
Cukup jelas
Pasal 22
Cukup jelas
Pasal 23
Cukup jelas
Pasal 24
Cukup jelas
Pasal 25
Cukup jelas
Pasal 26
Cukup jelas
Pasal 27
Cukup jelas
Pasal 28
Cukup jelas
Pasal 29
Cukup jelas
Pasal 30
Cukup jelas
Pasal 31
Cukup jelas
Pasal 32
Cukup jelas
Pasal 33
Cukup jelas
Pasal 34
Cukup jelas
Pasal 35
Cukup jelas
Pasal 36
Cukup jelas
Pasal 37
Cukup jelas
Pasal 38
Cukup jelas
Pasal 39
Cukup jelas
Pasal 40
Cukup jelas
Pasal 41
Cukup jelas
Pasal 42
Cukup jelas
Pasal 43
Cukup jelas
Pasal 44
Cukup jelas
Pasal 45
Cukup jelas
Pasal 46
Cukup jelas
Pasal 47
Cukup jelas
Pasal 48
Cukup jelas
Pasal 49
Cukup jelas
Pasal 50
Cukup jelas
Pasal 51
Cukup jelas
Pasal 52
Cukup jelas
Pasal 53
Cukup jelas
Pasal 55
Cukup jelas
Pasal 55
Cukup jelas
Pasal 56
Cukup jelas
Pasal 57
Cukup jelas
Pasal 58
Cukup jelas
Pasl 59
Cukup jelas
Pasal 60
Cukup jelas
Pasal 61
Cukup jelas
Pasal 62
Cukup jelas
Pasal 63
Cukup jelas
Pasal 64
Cukup jelas
Pasal 65
Cukup jelas
Pasal 66
Cukup jelas
Pasal 67
Cukup jelas
Pasal 68
Cukup jelas
Pasal 69
Cukup jelas
Pasal 70
Cukup jelas
Pasal 71
Cukup jelas
Pasal 72
Cukup jelas

TAMBAHAN LEMBARAN DAERAH KABUPATEN MANGGARAI BARAT NOMOR


192
BUPATI MANGGARAI BARAT
PROⅥ NSI NUSA TENGGARA TIMUR
PERATURAN BUPATI MANGGARAI BARAT
NOMOR:07 TAHUN 2018
TENTANG
PERUBAHAN ATAS PERATURAN BUPATI MANGGARAI BARAT
NOMOR 53 TAHUN 2017 TENTANG BESARAN DANA
OPERASIONAL SERTA PELAKSANAAN DAN
PERTANGGUNG」 AWABAN DANA OPERAS10NAL
KETUA DPRD DAN WAKIL KETUA DPRD KABUPATEN
MANGGARAI BARAT

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA


BUPATI MANGGARAI BARAT,

Menimbang : a. bahwa berhubung adanya perrrbahan


Kemampuan Keuangan Daerah Kabupaten
Manggarai Barat maka perlu diatur Besaran Dana
Operasional serta Pelaksanaan dan
Pertanggungjawaban Dana Operasional Ketua
DPRD dan Wakil Ketua DPRD Kabupaten
Manggarai Barat sehingga Peraturan Bupati
Manggarai Barat Nomor 53 Tahun 2Ot7 perlu
diubah;

b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana


dimaksud dalam huruf a di atas, perlu menetapkan
Peraturan Bupati tentang Perubahan atas
Peraturan Bupati Manggarai Barat Nomor 53
Tahun 2OLT tentang Besaran Dana Operasional
serta Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban Dana
Operasional Ketua DPRD dan Wakil Ketua DPRD
Kabupaten Manggarai Barat;

Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2003 tentang


1■

Mengingat
Pembentukan Kabuppten Manggarai Barat Provinsi
Nusa Tenggara Timur (Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 28, Tartbahan Lembaran Negara
republik Indonesia Nomor afi \;

2. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2Ol4 tentang


Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2AA Nomor 244, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587)
sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir
dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015
tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang
Nomor 23 Tahun 2Ol4 tentang Pemerintahan
Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia
3. Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun ZOLT
tentang Hak Keuangan dan Administratif Pimpinan
dan Anggota Dewan Perwakilan Ralryat Daerah;

4. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 8O Tahun


2015 tentang Pembentukan Produk Hukum
Daerah;

5。 Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 62 Tahun


2Afi tentang Pengelompokkan Keuangan Daerah
serta Pelaksanaan Ean Pertanggungiawaban Dana
Operasional;

6. Peraturan Daerah kabupaten Manggarai Barat


Nomor 5 Tahun ZOLT tentang Hak Keuangan dan
Administratif Pimpinan dan Anggota Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Manggarai
Barat (Lembaran Daerah Kabupaten Manggarai
Barat Tahun 2017 Nomor 5, Tambahan Lembaran
Daeiah Kabupaten Manggarai Barat Nomor L72l;

7. Peraturan Daerah Kabupaten Manggarai Barat


Nomor 2l Tahun 2OL7 tentang Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten
Manggarai Barat Tahun Anggaran Tahun 2018
(lembaran Daerah Kabupaten Manggarai Barat
Tahun 2OL7 Nomor 21);

8。 Peraturan Bupati Manggarai Barat Nomor 84


Tahun 2Ol7 tentang Penjabaran Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten
Manggarai Barat Tahun Anggaran Tahun 2018
(Berita Daerah Kabupaten Manggarai Barat
Tahun 2018 Nomor 84);

9. Peraturan Bupati Manggarai Barat Nomor 53


Tahun 2017 tentang Besaran Dana Operasional
serta Pelaksanaan dan Pertanggungiawaban Dana
Operasional Ketua DPRD dan Wakil Ketua DPRD
Kabupaten Manggarai Barat (Berita Daerah
Kabupaten Manggarai Barat Tahun 2AL7 Nomor
s3);

MEMUTUSKAN:
Menetapkan: PERATURAN B UPATI TENTANG
PERUBAHAN ATAS PERATURAN BUPATI
MANGGARAI BARAT NOMOR 53 TAHUN 2017
TENTANG BESARAN DANA OPERAS10NAL
SERTA PELAKSANAAN ‐ DAN
PERTANGGUNG」 AWABAN DANA
OPERAS10NAL KETUA DPRD
DAN WAKIL KETUA DPRD KABUPATEN
MANGGARAI BARAT.
BUPATI MANGGARAI BARAT
PROⅥNSI NUSA TENGGARA TIMUR
PERATURAN BUPATI MANGGARAI BARAT
NOMOR:o∂ TAHUN 2018
TENTANG
PERUBAHAN ATAS PERATURAN BUPATI MANGGARAI BARAT
NOMOR 50 TAHUN 2017 TENTANG BESARAN TUN」 ANGAN
KOMUNIKASI INSENTIF DAN TUN」 ANGAN RESES BAGI PIMPINAN
DPR DAN ANGGOTA DPRD KABUPATEN MANGGARAI BARAT

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA


BUPATI MANGGARAI BARAT,

Menimbang : a. bahwa berhubung adanya perubahan


Kemampuan Keuangan Daerah Kabupaten
Manggarai Barat maka perlu diatur Besaran
T\rnjangan Komonikasi Intensif dan Tunjangan
Reses bagi Pimpinan DPRD dan Anggota DPRD,
sehingga Peraturan Bupati Manggarai Barat
Nomor 50 Tahun 2Ol7 perlu diubah;

b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana


dimaksud dalam huruf a di atas, perlu menetapkan
Peraturan Bupati tentang Perubahan atas
Peraturan Bupati Manggarai Barat Nomor 50
Tahun zAfi tentang Besaran T\rnjangan
Komunikasi Insentif dan Tunjangan Reses bagr
Pimpinan dan Anggota DPRD Kabupaten
Manggarai Barat;

Mengingat : L. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2OO3 tentang


Pembentukan Kabupaten Manggarai Barat Provinsi
Nusa Tenggara Timur (Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 28, Tambahan Lembaran Negara
republik Indonesia Nomor al7 \;

2. Undang*Undang Nomor 23 Tahun 2Ol4 tentang


Pemerintahan Daerah (I-embaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2OL4 Nomor 244, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587)
sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir
dengan Undang-Undang Nomor I Tahun 2015
tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang
Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan
Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran
Nesara Renrrblik Tndonesia Nomor 56791:
3. Peraturan Pemerintah Nornor 18 Tahun 2OLT
tentang Hak Keuangan dan Administratif Pimpinan
dan Anggota Dewan Perwakilan Ralqyat Daerah;

4. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 8O Tahun


2015 tentang pembentukan Prodrrk Hukum
Daerah;

5。 Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik


Indonesia Nomor 62 Tahun 2Ol7 tentang
Pengelompokkan Keuangan Daerah serta
Pelaksanaan dan Pertanggung Jawaban Dana
Operasional;

6. Peraturan Daerah Kabupaten Manggarai Barat


Nomor 5 Tahun 2OLT tentang Hak Keuangan dan
Administratif Pimpinan dan Anggota Dewan
Perwakilan Ralryat Daerah Kabupaten Manggarai
Barat (Lembaran Daeratr Kabupaten Manggarai
Barat Tahun 2017 Nomor 5 , Tambahan
Lembaran Daerah Kabupaten Manggarai Barat
Nomor L72);

7. Peraturan Daerah Kabupaten Manggarai Barat


Nomor 2l Tahun 2Al7 tentang Anggaran
pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten
Manggarai Barat Tahun Anggaran Tahun 20 18
(Lembaran Daerah Kabupaten Manggarai Barat
Tahun 2OL7 Nomor 21);

8. Peraturan Bupati Manggarai Barat Nomor 84


Tahun 2Ol7 tentang Penjabaran Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten
Manggarai Barat Tahun Anggaran Tahun 2OL8
(Berita Daerah Kabupaten Manggarai Barat
Tahun 2ALT Nomor 84);

9. Peraturan Bupati Manggarai Barat Nomor 50


Tahun 2OL7 tentang Besaran T\rnjangan
Komunikasi Insentif dan T\rnjangan Reses bagr
Pimpinan dan Anggota DPRD Kabupaten Manggarai
Barat (Berita Daerah Kabupaten Manggarai Barat
Tahun 2017 Nomor 5O);

M EMUTUSKAN:
Menetapkan : PERATURAN BUPATI TENTANG PERUBAHAN
ATAS PERATURAN BUPATI MANGGARAI BARAT
NOMOR 50 TAHUN 2017 TENTANG BESARAN
TUN」 ANGAN KOMUNIKASI INSENTIF DAN
TUN」 ANGAN RESES BAGI PIMPINAN DPRD DAN
ANGGOTA DPRD KABUPATEN MANGGARAI
D△ D△ T
BURA'H MANGGARAI BARAT
PROⅥ NSI NUSA TENGGARA TIMUR
PERATURAN BUPATI MANGGARAI BARAT
NOMOR: 03 TAHUN 2018
TENTANG
PERUBAHAN ATAS PERATURAN BUPATI MANGGARAI BARAT
NOMOR 51 TAHUN 2017 TENTANG BESARAN TUNJANGAN
PERUMAHAN DAN TUN」 ANGAN TRANSPORTASI BAGI
ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH
KABUPATEN MANGGARAI BARAT

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA


BUPATI MANGGARAI BARAT,

Menilnbang :a. bahwa berhubung adanya penyesudan BesAran


T\rnjangan Perumahan dan Tunjangan
Transportasi bagr Pimpinan DPRD dan Anggota
DPRD maka Peraturan Bupati Manggarai Barat
Nomor 51 Tahun 2OI7 perlu diubah;

b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana


dimaksud dalam huruf a, perlu menetapkan
Peraturan Bupati tentang Perubahan atas
Peraturan Bupati Manggarai Barat Nomor 51
Tahun 2A17 tentang Besaran Tfrnjangan
Perumahan dan T\rnjangan Transportasi bagi
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
Kabupaten Manggarai Barat;

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2003 tentang


Pembentukan tentang Pembentukan Kabupaten
Manggarai Barat Provinsi Nusa Tenggara Timur
(Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 28,
Tambahan Lembaran Negara republik Indonesia
Nomor a17 \;

2. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2Ol4 tentang


Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2OL4 Nomor 244, Tambahan
l,embaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587)
sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir
dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015
tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang
Nomor 23 Tahun 2Ol4 tentang Pemerintahan
Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan l,embaran
Nesara Renrrhlik Indnnesiq Nnrnnr 567qt'
3. Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2Ol7
tentang Hak Keuangan dan Administratif Pimpinan
dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah;

4. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 80 Tahun


2015 tentang Pembentukan Produk Hukum
Daerah;

5. Peraturan Daerah Kabupaten Manggarai Barat


Nomor 5 Tahun 2OLT tentang Hak Keuangan dan
Administratif Pimpinan dan Anggota Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Manggarai
Barat (Lembaran Daerah Kabupaten Manggarai
Barat Tahun 2ALT Nomor 5, Tambahan Lembaran
Daerah Kabupaten Manggarai Barat Nomor l72l;

6. Peratrrran Daerah Kabupaten Manggarai Barat


Nomor 2l Tahun 2Ol7 tentang Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten
Manggarai Barat Tahun Anggaran Tahun 2018
(Lembaran Daerah Kabupaten Manggarai Barat
Tahun 2Ol7 Nomor 21);

7. Peraturan Bupati Manggarai Barat Nomor 84


Tahun 2OL7 tentang Penjabaran Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten
Manggarai Barat Tahun Anggaran Tahun 2018
(Berita Daerah Kabupaten Manggarai Barat
Tahun 2Ol7 Nomor 84);

8. Peraturan Bupati Manggarai Barat Nomor 51


Tahun 2OI7 tentang Besaran T\rnjangan
Perumahan dan T\rnjangan Transportasi bagi
Anggota Dewan Perwakilan Ralryat Daerah
Kabupaten Manggarai Barat (Berita Daerah
Kabupaten Manggarai Barat Tahun 2Ol7 Nomor
51) ;

MEMUTUSKAN:
Menetapkan: PERATURAN B UPATI TENTANG
PERUBAHAN ATAS PERATURAN BUPATI
MANGGARAI BARAT NOMOR 51 TAHUN 2017
TENTANG BESARAN TUN」 ANGAN
PERUMAHAN DAN TUN」 ANGAN
TRANSPORTASI BAGI ANGGOTA DEWAN
PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN
MANGGARAI BARAT.

PASAL I

Ketentuan Pasal 2 Peraturan Bupati Manggarai Barat Nomor 51


Tahun 2Ol7 tentang Besaran Tunjangan Perumahan dan Tunjarlgzrn
Transportasi bagi Anggota Dewan Perwakilan Ralcyat Daerah
Kabuoaten Manssarai Barat tBerita Daerah Kabuoaten Manssarai
BUPATI MANGGARAI BARAT
PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR
PERATURAN DAERAH KABUPATEN MANGGARAI BARAT
NOMOR 10 TAHUN 2018
TENTANG
PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN MANGGARAI
BARAT NOMOR 5 TAHUN 2016 TENTANG PEMBENTUKAN DAN
SUSUNAN PERANGKAT DAERAH KABUPATEN MANGGARAI BARAT
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
BUPATI MANGGARAI BARAT,
Menimbang : a. bahwa dengan adanya pemekaran wilayah
kecamatan berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 14
Tahun 2017 Tentang Pembentukan Kecamatan Pacar
dan Peraturan Daerah Nomor 15 Tahun 2017
tentang Pembentukan Kecamatan Kuwus Barat,
maka Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2016
tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat
Daerah Kabupaten Manggarai Barat perlu diubah;
b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana
dimaksud dalam huruf a, perlu membentuk
Peraturan Daerah tentang Perubahan Atas Peraturan
Daerah Kabupaten Manggarai Barat Nomor 5 Tahun
2016 tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat
Daerah Kabupaten Manggarai Barat;
Mengingat : 1. Pasal 18 ayat (6) Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945;
2. Undang – Undang Nomor 8 Tahun 2003 tentang
Pembentukan Kabupaten Manggarai Barat di
Provinsi Nusa Tenggara Timur (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 28,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4271);
3. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang
Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587)
sebagaimana telah diubah beberapa kali,terahir
dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015
tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang
Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015
Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5679);
4. Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2016 tentang
Perangkat Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2016 Nomor 114, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5887);
5. Peraturan Daerah Kabupaten Manggarai Barat
Nomor 5 Tahun 2016 tentang Pembentukan dan
Susunan Perangkat Daerah Kabupaten Manggarai
Barat (Lembaran Daerah Kabupaten Manggarai Barat
Tahun 2016 Nomor 5);
6. Peraturan Daerah Kabupaten Manggarai Barat
Nomor 14 Tahun 2017 tentang Pembentukan
Kecamatan Pacar (Lembaran Daerah Kabupaten
Manggarai Barat Tahun 2017 Nomor 14);
7. Peraturan Daerah Kabupaten Manggarai Barat
Nomor 15 Tahun 2017 tentang Pembentukan
Kecamatan Kuwus Barat (Lembaran Daerah
Kabupaten Manggarai Barat Tahun 2017 Nomor 15);

Dengan Persetujuan Bersama

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN


MANGGARAI BARAT
dan
BUPATI MANGGARAI BARAT

MEMUTUSKAN :

Menetapkan : PERATURAN DAERAH TENTANG PERUBAHAN ATAS


PERATURAN DAERAH KABUPATEN MANGGARAI BARAT
NOMOR 5 TAHUN 2016 TENTANG PEMBENTUKAN DAN
SUSUNAN PERANGKAT DAERAH KABUPATEN
MANGGARAI BARAT.
Pasal I

Ketentuan Pasal 4 huruf f Peraturan Daerah Kabupaten Manggarai Barat


Nomor 5 Tahun 2016 tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat
Daerah Kabupaten Manggarai Barat (Lembaran Daerah Kabupaten
Manggarai Barat Tahun 2016 Nomor 5, Tambahan Lembaran Daerah
Kabupaten Manggarai Barat Nomor 5), diubah menjadi sebagai berikut :

Pasal 4

Susunan Perangkat Daerah Kabupaten Manggarai Barat sebagaimana


dimaksud Pasal 3 huruf f terdiri dari:
a. Kecamatan Komodo Tipe A;
b. Kecamatan Boleng Tipe A;
c. Kecamatan Kuwus Tipe A;
d. Kecamatan Lembor Tipe A;
e. Kecamatan Lembor Selatan Tipe A;
f. Kecamatan Macang Pacar Tipe A;
g. Kecamatan Mbeliling Tipe A;
h. Kecamatan Ndoso Tipe A;
i. Kecamatan Sano Nggoang Tipe A;
j. Kecamatan Welak Tipe A;
k. Kecamatan Kuwus Barat Tipe A; dan
l. Kecamatan Pacar Tipe A.
Pasal II
Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan dan
berlaku surut sampai dengan 1 januari 2018.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan


Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah
Kabupaten Manggarai Barat.

Ditetapkan di Labuan Bajo


pada tanggal, 12 Juli 2018
BUPATI MANGGARAI BARAT,

AGUSTINUS CH. DULA

Diundangkan di Labuan Bajo


pada tanggal, 24 Juli 2018
SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN MANGGARAI BARAT,

MBON ROFINUS,
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN MANGGARAI BARAT TAHUN 2018
NOMOR 10

NOREG. PERATURAN DAERAH KABUPATEN MANGGARAI BARAT


PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR : 10 TAHUN 2018
PENJELASAN
ATAS
PERATURAN DAERAH KABUPATEN MANGGARAI BARAT
NOMOR 10 TAHUN 2018

TENTANG

PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN MANGGARAI


BARAT NOMOR 5 TAHUN 2016 TENTANG PEMBENTUKAN DAN
SUSUNAN PERANGKAT DAERAH KABUPATEN MANGGARAI BARAT

1. UMUM
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan
Daerah membawa perubahan yang signifikan terhadap pembentukan
perangkat daerah, yakni dengan prinsip tepat fungsi dan tepat ukuran
(righhsizing) berdasarkan beban kerja yang sesuai dengan kondisi
nyata di masing-masing daerah. Hal ini sejalan dengan prinsip
penataan organisasi yang rasional, proporsional, efektif dan efisien.
Dalam rangka mewujudkan pembentukan perangkat daerah
sesuai dengan prinsip desain organisasi, pembentukan perangkat
daerah didasarkan pada asas efisiensi, efektivitas, pembagian habis
tugas, rentang kendali, tata kerja yang jelas, fleksibilitas, urusan
pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah, intensitas urusan
pemerintahan dan potensi daerah.
Berdasarkan UU Nomor 23 Tahun 2016 tentang Pemerintahan
daerah, kepala daerah dibantu oleh perangkat daerah yang terdiri dari
unsur staf dan unsur penunjang.Unsur staf diwadahi dalam
sekretariat daerah dan sekretariat DPRD, unsur pelaksana urusan
pemerintahan yang diserahkan kepada daerah diwadahi dalam dinas
daerah, unsur pelaksana daerah diwadahi dalam badan daerah.
Unsur penunjang yang khusus melaksanakan fungsi pembinaan dan
pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah diwadahi dalam
inspektorat. Disamping itu pada daerah kabupaten dibentuk
kecamatan sebagai perangkat daerah yang bersifat kewilayahan untuk
melaksanakan fungsi koordinasi kewilayahan dan pelayanan tertentu
yang bersifat sederhana dan intensitas tinggi.
Kepala dinas, kepala badan, sekretaris DPRD, kepala
inspektorat dan camat bertanggung jawab kepada Bupati melalui
Sekretaris Daerah. Fungsi sekretaris daerah dalam
pertanggungjawaban tersebut hanyalah fungsi pengendalian
administrasi untuk memverifikasi kebenaran administrasi dan
pertanggungjawaban yang disampaikan oleh kepala dinas, kepala
badan, sekretaris DPRD, inspektur, kepala satuan dan camat kepada
Bupati.
Dasar utama pembentukan perangkat daerah yaitu, adanya
urusan pemerintahan yang diserahkan kepada daerah yang terdiri atas
urusan pemerintahan wajib dan urusan pemerintahan pilihan. Urusan
Pemerintahan wajib dibagi atas urusan pemerintahan yang berkaitan
dengan pelayanan dasar dan urusan pemerintahan yang tidak
berkaitan dengan pelayanan dasar.
Pembentukan perangkat daerah mempertimbangkan faktor
luas wilayah, jumlah penduduk, kemampuan keuangan daerah serta
besaran beban tugas sesuai dengan urusan pemerintahan yang
diserahkan kepada daerah sebagai mandat yang wajib dilaksanakan
oleh setiap daerah melalui perangkat daerah.

II. PASAL DEMI PASAL


Pasal I
Cukup jelas
Pasal II
Cukup jelas.

TAMBAHAN LEMBARAN DAERAH KABUPATEN MANGGARAI BARAT TAHUN


2018 NOMOR 196
BUPATI MANGGARAI BARAT
PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR
PERATURAN DAERAH KABUPATEN MANGGARAI BARAT
NOMOR 11 TAHUN 2018

TENTANG

PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN MANGGARAI BARAT


NOMOR 12 TAHUN 2013 TENTANG TUGAS BELAJAR, IZIN BELAJAR DAN
IKATAN BELAJAR

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA


BUPATI MANGGARAI BARAT,
Menimbang : a. bahwa dalam rangka peningkatan mutu pelayanan tugas
dibidang pemerintahan, pembangunan dan pelayanan
kemasyarakatan maka perlu meningkatkan sumber daya
manusia aparatur dengan memberikan kesempatan berupa
Tugas Belajar, Izin Belajar dan Ikatan Belajar;

b. bahwa untuk melaksanakan ketentuan pasal 69 Undang-


Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil
Negara, yang bertugas untuk memberikan pelayanan kepada
masyarakat secara professional, perlu memiliki kompetensi
yang berkualitas dalam pengembangan karier sesuai tingkat
pendidikan dalam bidang tugasnya;

c. bahwa Peraturan Daerah Kabupaten Manggarai Barat


Nomor 12 Tahun 2013 tentang Tugas Belajar, Izin Belajar
dan Ikatan Belajar tidak sesuai lagi dengan
perkembangan kebutuhan maka perlu diubah;
d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud
dalam huruf a, huruf b dan huruf c, perlu membentuk
Peraturan Daerah tentang Perubahan atas Peraturan
Daerah Kabupaten Manggarai Barat Nomor 12 Tahun 2013
tentang Tugas Belajar, Izin Belajar dan Ikatan Belajar;
Mengingat : 1. Pasal 18 ayat (6) Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945);

2. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2003 tentang


Pembentukan Kabupaten Manggarai Barat di Provinsi
Nusa Tenggara Timur (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2003 Nomor 28, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4271);

3. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur


Sipil Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2014 Nomor 6, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5494);
4. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang
Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5587) sebagaimana
telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-
Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua
Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang
Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5679);
5. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 14
Tahun 2010 tentang Pendidikan Kedinasan (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 5101);
6. Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 1961 tentang
Pemberian Tugas Belajar (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 1961 Nomor 234);
Dengan Persetujuan Bersama

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN MANGGARAI BARAT

dan

BUPATI MANGGARAI BARAT

MEMUTUSKAN :

Menetapkan: PERATURAN DAERAH TENTANG PERUBAHAN ATAS


PERATURAN DAERAH KABUPATEN MANGGARAI BARAT
NOMOR 12 TAHUN 2013 TENTANG TUGAS BELAJAR, IZIN
BELAJAR DAN IKATAN BELAJAR.

Pasal I

Ketentuan dalam Pasal 16 Peraturan Daerah Kabupaten Manggarai Barat


Nomor 12 Tahun 2013 tentang Tugas Belajar, Izin Belajar dan Ikatan Belajar
(Lembaran Daerah Kabupaten Manggarai Barat Tahun 2013 Nomor 12)
diubah, sehingga berbunyi sebagai berikut :

Pasal 16

(1) PNS Tugas Belajar dan Mahasiswa/Siswa Ikatan belajar yang tidak
menyelesaikan studi dan diberhentikan statusnya sebagai mahasiswa
karena kelalaiannya wajib mengembalikan seluruh biaya sebesar yang
diterima dari Pemerintah Daerah, kecuali diberhentikan karena
gangguan kesehatan permanen.
(2) PNS dan Mahasiswa/i serta siswa/i yang melanggar ketentuan dalam
pasal 11 huruf d dikenakan sanksi administratif berupa denda yaitu
pengembalian dua kali lipat atau 2 x 100 persen dari seluruh biaya
pendidikan selama masa tugas belajar.
(3) PNS Tugas Belajar yang melanggar ketentuan dalam Pasal 11 huruf e
dikenakan sanksi administratif berupa denda yaitu pengembalian Lima
kali lipat atau 5 x 100 persen dari seluruh biaya pendidikan selama masa
tugas belajar dan dilarang membuka prakter profesi sesuai keahlian di
dalam wilayah Daerah Manggarai Barat.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengembalian biaya pendidikan
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) akan diatur dengan
Peraturan Bupati.

Pasal II

Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan


Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kabupaten
Manggarai Barat.

Ditetapkan di Labuan Bajo


pada tanggal, 12 Juli 2018

BUPATI MANGGARAI BARAT,

AGUSTINUS CH. DULA

Diundangkan di Labuan Bajo


pada tanggal, 24 Juli 2018

SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN MANGGARAI BARAT,

MBON ROFINUS
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN MANGGARAI BARAT TAHUN 2018
NOMOR 11

NOREG PERATURAN DAERAH KABUPATEN MANGGARAI BARAT PROVINSI


NUSA TENGGARA TIMUR : 11 TAHUN 2018.
PENJELASAN
ATAS
PERATURAN DAERAH KABUPATEN MANGGARAI BARAT

NOMOR 11 TAHUN 2018

TENTANG

PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN MANGGARAI BARAT


NOMOR 12 TAHUN 2013 TENTANG TUGAS BELAJAR, IZIN BELAJAR DAN
IKATAN BELAJAR

1. UMUM

Bahwa dalam rangka pelaksanaan tugas-tugas Pemerintah,


pembangunan dan pembinaan kemasyarakatan secara optimal, maka
diperlukan adanya Sumber Daya Manusia yang berkualitas dan profesional
dalam bidang tugasnya.

Tugas Belajar, Izin Belajar dan Ikatan Belajar merupakan bagian dari
Pembinaan dalam rangka meningkatkan Sumber Daya Manusia Apartur
dan Mahasiswa /i, Siswa/i yang berkualitas dan profesional.

Dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang


Aparatur Sipil Negara, maka kewenangan untuk melakukan Pembinaan
Pegawai Negeri Sipil Daerah Kabupaten menjadi Kewenangan Pejabat
Pembina Kepegawaian Daerah.

Sehubungan dengan hal tersebut, maka perlu menetapkan Peraturan


Daerah Kabupaten Manggarai Barat Tentang Tugas Belajar, Izin Belajar dan
Ikatan Belajar.

II. PASAL DEMI PASAL


Pasal I

Cukup jelas.

Pasal II

Cukup jelas.

TAMBAHAN LEMBARAN DAERAH KABUPATEN MANGGARAI BARAT


TAHUN 2018 NOMOR 197
BUPATI MANGGARAI BARAT
PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR

PERATURAN DAERAH KABUPATEN MANGGARAI BARAT


NOMOR 12 TAHUN 2018

TENTANG

PENGELOLAAN PELABUHAN PENGUMPAN LOKAL

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA


BUPATI MANGGARAI BARAT,

Menimbang : a. bahwa pelabuhan mempunyai peran penting dan


strategis dalam menunjang kelancaran arus lalu lintas
kapal/perahu motor, penumpang dan/atau barang serta
sebagai tempat perpindahan intra dan/atau antarmoda
dalam mendorong pertumbuhan perekonomian daerah;
b. bahwa sesuai ketentuan dalam lampiran Undang-Undang
Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah dan
perubahannya pada sub urusan pelayaran maka
Pengelolaan Pelabuhan Pengumpan Lokal merupakan
kewenangan Kabupaten, sehingga perlu diatur dalam
Peraturan Daerah;
c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana
dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu membentuk
Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Pelabuhan
Pengumpan Lokal;
Mengingat : 1. Pasal 18 ayat (6) Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945;
2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2003
tentang Pembentukan Kabupaten Manggarai Barat di
Provinsi Nusa Tenggara Timur (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2003 Nomor 28, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4271);
3. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang
Pelayaran (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2008 Nomor 64, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4849);
4. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang
Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5587) sebagaimana
telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-
Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua
atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang
Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5679);
5. Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2009 tentang
Kepelabuhanan (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2009 Nomor 151, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5070) sebagaimana telah
diubah dalam Peraturan Pemerintah Nomor 64 Tahun
2015 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah
Nomor 61 Tahun 2009 tentang Kepelabuhanan (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 193,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
5731);
6. Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2010 tentang
Kenavigasian (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2010 Nomor 8, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5093);
7. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2010 tentang
Angkutan di Perairan (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2010 Nomor 26, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5108) sebagaimana
telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 22
Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Peraturan
Pemerintah Nomor 20 Tahun 2010 tentang Angkutan di
Perairan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2011 Nomor 43, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5208).
Dengan Persetujuan Bersama

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN MANGGARAI BARAT

dan

BUPATI MANGGARAI BARAT

MEMUTUSKAN:

Menetapkan : PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN


PELABUHAN PENGUMPAN LOKAL.

BAB I

KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Peraturan Daerah ini, yang dimaksud dengan :


1. Daerah adalah Kabupaten Manggarai Barat.
2. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat.
3. Bupati adalah Bupati Manggarai Barat.
4. Dinas adalah Satuan Kerja Perangkat Daerah yang melaksanakan tugas
pokok dan fungsinya di bidang perhubungan.
5. Kepala Dinas adalah Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah yang
melaksanakan tugas pokok dan fungsinya di bidang perhubungan.
6. Pelabuhan adalah tempat yang terdiri atas daratan dan/atau perairan
dengan batas-batas tertentu sebagai tempat kegiatan pemerintahan dan
kegiatan pengusahaan yang dipergunakan sebagai tempat kapal
bersandar, naik turun penumpang, dan/atau bongkar muat barang,
berupa terminal dan tempat berlabuh kapal yang dilengkapi dengan
fasilitas keselamatan dan keamanan pelayaran dan kegiatan penunjang
pelabuhan serta sebagai tempat perpindahan intramoda dan antarmoda
transportasi.
7. Kepelabuhanan adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan pelaksanaan
fungsi pelabuhan untuk menunjang kelancaran, keamanan, dan ketertiban
arus lalu lintas kapal, penumpang dan/atau barang, keselamatan dan
keamanan berlayar, tempat perpindahan intra- dan/atau antarmoda serta
mendorong perekonomian nasional dan daerah dengan tetap
memperhatikan tata ruang wilayah.
8. Pelabuhan Pengumpan Lokal adalah pelabuhan yang fungsi pokoknya
melayani kegiatan angkutan laut dalam negeri, alih muat angkutan laut
dalam negeri dalam jumlah terbatas, merupakan pengumpan bagi
pelabuhan utama dan pelabuhan pengumpul, dan sebagai tempat asal
tujuan penumpang dan/atau barang, serta angkutan penyeberangan
dengan jangkauan pelayanan dalam daerah.
9. Pelabuhan Laut adalah pelabuhan yang dapat digunakan untuk melayani
kegiatan angkutan laut dan/atau angkutan penyeberangan yang terletak di
laut atau di sungai.
10. Penyelenggara Pelabuhan adalah lembaga yang dibentuk dan diberi
tanggungjawab untuk mengelola pelabuhan.
11. Unit Pengelola Pelabuhan yang selanjutnya disebut UPPel adalah lembaga
yang dibentuk oleh Pemerintah Daerah untuk melaksanakan fungsi
pengaturan, pengendalian, pengawasan kegiatan kepelabuhanan dan
pemberian pelayanan jasa kepelabuhanan pada pelabuhan lokal yang
belum diusahakan secara komersial.
12. Kelompok Pengelola Pelabuhan yang selanjutnya disebut KoPPel adalah
lembaga masyarakat yang dibentuk oleh masyarakat untuk melakukan
fungsi pengaturan, pengendalian, pengawasan kegiatan kepelabuhanan,
dan pemberian pelayanan jasa kepelabuhanan untuk tambatan perahu
dan/atau dermaga mini di Desa dan/atau Kelurahan.
13. Keselamatan dan Keamanan Pelayaran adalah suatu keadaan
terpenuhinya persyaratan keselamatan dan keamanan yang menyangkut
angkutan di perairan, kepelabuhanan dan lingkungan maritim.
14. Keselamatan Kapal adalah keadaan kapal yang memenuhi persyaratan
material, konstruksi, bangunan, permesinan, stabilitas, tata susunan serta
perlengkapan termasuk perlengkapan alat penolong dan radio, elekronik
kapal yang dibuktikan dengan sertifikat setelah dilakukan pemeriksaan
dan pengujian.
15. Syahbandar adalah pejabat Pemerintah di pelabuhan yang diangkat oleh
Menteri dan memiliki kewenangan tertinggi untuk menjalankan dan
melakukan pengawasan terhadap dipenuhinya ketentuan peraturan
perundang-undangan untuk menjamin keselamatan dan keamanan
pelayaran.
16. Badan Usaha Pelabuhan adalah badan usaha yang kegiatan usahanya
khusus di bidang pengusahaan terminal dan fasilitas pelabuhan lainnya.
17. Konsesi adalah pemberian hak oleh penyelenggara pelabuhan kepada
Badan Usaha Pelabuhan untuk melakukan kegiatan penyediaan dan/atau
pelayanan jasa kepelabuhanan tertentu dalam jangka waktu tertentu dan
kompensasi tertentu.
BAB II

ASAS, PERAN DAN FUNGSI

Pasal 2

Pengelolaan Pelabuhan Pengumpan Lokal diselenggarakan berdasarkan asas:


a. manfaat;
b. persaingan sehat;
c. kepentingan umum;
d. keterpaduan;
e. keadilan; dan
f. berwawasan lingkungan.

Pasal 3

Pelabuhan Pengumpan Lokal memiliki peran sebagai:


a. simpul dalam jaringan transportasi sesuai dengan hirarkinya;
b. pintu gerbang kegiatan perekonomian;
c. tempat kegiatan alih moda transportasi;
d. penunjang kegiatan industri dan/atau perdagangan;
e. tempat distribusi, produksi, dan konsolidasi muatan atau barang; dan
f. mewujudkan Wawasan Nusantara dan kedaulatan negara.

Pasal 4

Pelabuhan Pengumpan Lokal berfungsi sebagai tempat kegiatan:


a. pemerintahan; dan
b. pengusahaan.

BAB III

RUANG LINGKUP

Pasal 5
Ruang lingkup yang diatur dalam Peraturan Daerah ini meliputi :

a. pengelolaan kegiatan di Pelabuhan Pengumpan Lokal


b. sistim informasi Pelabuhan Pengumpan Lokal; dan
c. pembinaan dan pengawasan.
BAB IV

PENGELOLAAN KEGIATAN DI PELABUHAN PENGUMPAN LOKAL

Bagian Kesatu
Lokasi Pelabuhan

Pasal 6

(1) Pemerintah Daerah menetapkan lokasi Pelabuhan Pengumpan Lokal.


(2) Penetapan lokasi Pelabuhan Pengumpan Lokal ditetapkan dengan
Peraturan Bupati.

Bagian Kedua
Kegiatan Pemerintahan

Paragraf 1

Umum

Pasal 7

(1) Kegiatan pemerintahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf a,


paling sedikit meliputi fungsi:
a. pengaturan dan pembinaan, pengendalian dan pengawasan kegiatan
kepelabuhanan; dan
b. keselamatan dan keamanan pelayaran.
(2) Selain kegiatan pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pada
Pelabuhan Pengumpan Lokal dapat dilakukan fungsi:
a. kepabeanan;
b. keimigrasian;
c. kekarantinaan; dan/atau
d. kegiatan pemerintahan lainnya yang bersifat tidak tetap.

Pasal 8

(1) Fungsi pengaturan dan pembinaan, pengendalian dan pengawasan


kegiatan kepelabuhanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1)
huruf a, dilaksanakan oleh Penyelenggara Pelabuhan.
(2) Fungsi keselamatan dan keamanan pelayaran sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 7 ayat (1) huruf b, dilaksanakan oleh Syahbandar.
(3) Fungsi kepabeanan, keimigrasian dan kekarantinaan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2) huruf a, huruf b dan huruf c,
dilaksanakan sesuai dengan Peraturan Perundang- undangan.
Paragraf 2

Penyelenggara Pelabuhan Pengumpan Lokal

Pasal 9

(1) Penyelenggara Pelabuhan Pengumpan Lokal sebagaimana dimaksud


dalam Pasal 7 ayat (1) terdiri atas:
a. UPPel; dan
b. KoPPel.
(2) UPPel sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dibentuk dan berada
pada pelabuhan Pengumpan Lokal.
(3) KoPPel sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dibentuk di
Desa/Kelurahan yang terdapat tambatan perahu.

Pasal 10

(1) UPPel dan KoPPel sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1)
mempunyai tugas dan tanggungjawab :
a. melakukan koordinasi untuk penyediaan dan pemeliharaan penahan
gelombang, kolam pelabuhan dan alur-pelayaran, sarana bantu
navigasi-pelayaran;
b. menjamin keamanan dan ketertiban di pelabuhan;
c. menjamin dan memelihara kelestarian lingkungan di pelabuhan;
d. menjamin kelancaran arus barang;
e. melakukan koordinasi penyediaan fasilitas pelabuhan; dan
f. mengusulkan tarif pungutan atas fasilitas pelabuhan kepada Bupati
untuk ditetapkan.
(2) Selain tugas dan tanggungjawab sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
UPPel dan KoPPel melaksanakan kegiatan penyediaan dan/atau pelayanan
jasa kepelabuhanan yang diperlukan oleh pengguna jasa yang belum
disediakan oleh Badan Usaha Pelabuhan.
(3) UPPel dalam melaksanakan tugasnya selalu berkoordinasi dengan UPT
Dirjen Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan Republik Indonesia
melalui Syah Bandar.

Pasal 11

(1) UPPel dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawab sebagaimana


dimaksud dalam Pasal 10 ayat (1), dapat memberikan konsesi atau bentuk
lainnya kepada Badan Usaha Pelabuhan untuk melakukan kegiatan
pengusahaan di Pelabuhan Pengumpan Lokal yang dituangkan dalam
perjanjian.
(2) UPPel dalam memberikan konsesi sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
wajib mendapat persetujuan dari Dinas.

Pasal 12

(1) UPPel dalam melaksanakan tugasnya bertanggungjawab kepada Bupati.


(2) KoPPel dalam melaksanakan tugasnya bertanggung jawab kepada Kepala
Desa/Lurah.

Paragraf 3

Organisasi dan Tata Kerja

Pasal 13

UPPel dipimpin oleh seorang Kepala dan KoPPel dipimpin oleh seorang Ketua
yang masing-masing membawahi paling sedikit 3 (tiga) unsur yang meliputi :
a. unsur perencanaan dan pembangunan;
b. unsur usaha kepelabuhanan; dan
c. unsur operasi dan pengawasan.

Pasal 14

Susunan Organisasi dan Tata Kerja UPPel dan KoPPel sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 13 diatur lebih lanjut dengan Peraturan Bupati.

Bagian Ketiga

Kegiatan Pengusahaan

Paragraf 1

Umum

Pasal 15

Kegiatan pengusahaan di Pelabuhan Pengumpan Lokal terdiri atas:


a. penyediaan dan/atau pelayanan jasa kapal penumpang dan barang; dan
b. jasa terkait dengan kepelabuhanan.

Paragraf 2

Penyediaan Pelayanan Jasa Kapal, Penumpang, dan Barang


Pasal 16

(1) Penyediaan dan/atau pelayanan jasa kapal, penumpang dan barang


sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 huruf a terdiri atas:
a. penyediaan dan/atau pelayanan jasa dermaga untuk bertambat;
b. penyediaan dan/atau pelayanan pengisian bahan bakar dan pelayanan
air bersih;
c. penyediaan dan/atau pelayanan fasilitas naik turun penumpang
dan/atau kendaraan;
d. penyediaan dan/atau pelayanan jasa dermaga untuk pelaksanaan
kegiatan bongkar muat barang dan peti kernas;
e. penyediaan dan/atau pelayanan jasa gudang dan tempat penimbunan
barang, alat bongkar muat, serta peralatan pelabuhan;
f. penyediaan dan/atau pelayanan jasa terminal peti kemas, curah cair,
curah kering dan ro-ro;
g. penyediaan dan/atau pelayanan jasa bongkar muat barang;
h. penyediaan dan/atau pelayanan pusat distribusi dan konsolidasi
barang; dan
i. penyediaan dan/atau pelayanan jasa penundaan kapal.
(2) Kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat juga dilakukan oleh
Badan Usaha Pelabuhan.

Paragraf 3

Kegiatan Jasa Terkait dengan Kepelabuhanan

Pasal 17

(1) Penyediaan dan/atau pelayanan jasa terkait dengan kepelabuhanan


sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 huruf b meliputi:
a. penyediaan fasilitas penampungan limbah;
b. penyediaan depo peti kemas;
c. penyediaan pergudangan;
d. jasa pembersihan dan pemeliharaan gedung kantor;
e. instalasi air bersih dan listrik;
f. pelayanan pengisian air tawar dan minyak;
g. penyediaan perkantoran untuk kepentingan pengguna jasa pelabuhan;
h. penyediaan fasilitas gudang pendingin;
i. perawatan dan perbaikan kapal;
j. pengemasan dan pelabelan;
k. fumigasi dan pembersihan/perbaikan kontainer;
l. angkutan umum dari dan ke pelabuhan;
m. tempat tunggu kendaraan bermotor;
n. kegiatan industri tertentu;
o. kegiatan perdagangan;
p. kegiatan penyediaan tempat bermain dan rekreasi;
q. jasa periklanan; dan/atau
r. perhotelan, restoran, pariwisata, pos dan telekomunikasi.
(2) Kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh orang
perseorangan Warga Negara Indonesia dan/atau badan usaha.

Paragraf 4

Badan Usaha Pelabuhan

Pasal 18

(1) Badan Usaha Pelabuhan dapat melakukan kegiatan pengusahaan di


pelabuhan dan tambatan perahu.
(2) Badan Usaha Pelabuhan dalam melakukan kegiatan usahanya wajib
memiliki izin usaha yang diberikan oleh Bupati.
(3) Izin usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberikan setelah
memenuhi persyaratan :
a. memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak;
b. berbentuk Badan Usaha yang khusus didirikan di bidang
kepelabuhanan;
c. memiliki akte pendirian perusahaan; dan
d. memiliki keterangan domisili perusahaan.

Pasal 19

Dalam melakukan kegiatan pengusahaan di Pelabuhan Pengumpan Lokal dan


tambatan perahu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (1), Badan
Usaha Pelabuhan wajib :
a. menyediakan dan memelihara kelayakan fasilitas pelabuhan;
b. memberikan pelayanan kepada pengguna jasa pelabuhan sesuai dengan
standar pelayanan yang ditetapkan oleh Pemerintah;
c. menjaga keamanan, keselamatan dan ketertiban pada terminal dan
fasilitas pelabuhan yang dioperasikan;
d. ikut menjaga keselamatan, keamanan dan ketertiban yang menyangkut
angkutan di perairan;
e. memelihara kelestarian lingkungan;
f. memenuhi kewajiban sesuai dengan konsesi dalam perjanjian; dan
g. mematuhi ketentuan peraturan perundang-undangan, baik secara
nasional maupun internasional.

Paragraf 5

Konsesi atau Bentuk Lainnya

Pasal 20

(1) Konsesi diberikan kepada Badan Usaha Pelabuhan untuk kegiatan


penyediaan dan/atau pelayanan jasa kapal, penumpang, dan barang
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (1) yang dituangkan dalam
bentuk perjanjian.
(2) Perjanjian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit memuat:
a. lingkup pengusahaan;
b. masa konsesi pengusahaan;
c. tarif awal dan formula penyesuaian tarif;
d. hak dan kewajiban para pihak, termasuk resiko yang dipikul para
pihak dimana alokasi resiko harus didasarkan pada prinsip
pengalokasian resiko secara efisien dan seimbang;
e. standar kinerja pelayanan serta prosedur penanganan keluhan
masyarakat;
f. sanksi dalam hal para pihak tidak memenuhi perjanjian pengusahaan;
g. penyelesaian sengketa;
h. pemutusan atau pengakhiran perjanjian pengusahaan;
i. sistem hukum yang berlaku terhadap perjanjian pengusahaan adalah
hukum Indonesia;
j. keadaan darurat; dan
k. perubahan-perubahan.

Pasal 21

(1) Dalam hal masa konsesi telah berakhir, fasilitas pelabuhan hasil konsesi
beralih atau diserahkan kembali kepada Penyelenggara Pelabuhan.
(2) Fasilitas pelabuhan yang sudah beralih kepada Penyelenggara Pelabuhan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pengelolaannya diberikan kepada
Badan Usaha Pelabuhan untuk kegiatan penyediaan dan/atau pelayanan
jasa kapal, penumpang, dan barang berdasarkan kerjasama pemanfaatan
melalui mekanisme pelelangan.
(3) Badan Usaha Pelabuhan yang telah ditetapkan melalui mekanisme
pelelangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dalam melaksanakan
kegiatan pengusahaannya di pelabuhan tetap berpedoman pada ketentuan
Peraturan Perundang- undangan.
(4) Kerjasama pemanfaatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberikan
dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) tahun sejak perjanjian
kerjasama pemanfaatan ditandatangani.

Pasal 22

(1) Dalam kegiatan penyediaan dan/atau pelayanan jasa terkait dengan


kepelabuhanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1)
Penyelenggara Pelabuhan dapat melakukan kerjasama dengan orang
perseorangan warga negara Indonesia dan/atau badan usaha.
(2) Kerjasama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan dalam
bentuk:
a. penyewaan lahan;
b. penyewaan gudang; dan/atau
c. penyewaan penumpukan.

Pasal 23

(1) Pendapatan konsesi dan kompensasi yang diterima oleh UPPel merupakan
penerimaan Daerah.
(2) Pendapatan konsesi dan kompensasi yang diterima oleh KoPPel merupakan
penerimaan desa.
(3) Tata cara pungutan, penyetoran dan penggunaan atas pendapatan konsesi
oleh KoPPel diatur lebih lanjut dengan Peraturan Bupati.

BAB V

SISTEM INFORMASI PELABUHAN PENGUMPAN LOKAL

Pasal 24

(1) Sistem informasi Pelabuhan Pengumpan Lokal mencakup pengumpulan,


pengelolaan, penganalisaan, penyimpanan, penyajian, serta penyebaran
data dan informasi pelabuhan untuk:
a. mendukung operasional pelabuhan;
b. meningkatkan pelayanan kepada masyarakat atau publik;dan
c. mendukung perumusan kebijakan di bidang kepelabuhanan.
(2) Sistem informasi Pelabuhan Pengumpan Lokal sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) diselenggarakan oleh UPPel dan KoPPel sesuai dengan
kewenangannya berdasarkan pedoman dan standar yang ditetapkan oleh
Bupati.

Pasal 25

Sistem informasi Pelabuhan Pengumpan Lokal paling sedikit memuat:


a. kedalaman alur dan kolam pelabuhan;
b. kapasitas dan kondisi fasilitas pelabuhan;
c. arus peti kemas, barang, dan penumpang di pelabuhan;
d. arus lalu lintas kapal di pelabuhan;
e. kinerja pelabuhan;
f. operator terminal di pelabuhan;
g. tarif jasa kepelabuhanan; dan
h. Rencana Induk Pelabuhan dan/atau rencana pembangunan pelabuhan.

Pasal 26

(1) UPPel wajib menyampaikan laporan kepada Bupati yang memuat paling
sedikit mengenai :
a. kedalaman kolam pelabuhan;
b. arus kunjungan kapal;
c. arus bongkar muat peti kemas dan barang;
d. arus penumpang;
e. kinerja operasional;
f. kinerja peralatan dan fasilitas;
g. kedalaman alur; dan
h. perkembangan jumlah Badan Usaha Pelabuhan yang mengoperasikan
terminal.
(2) Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), disampaikan setiap bulan.

Pasal 27

Laporan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 diolah untuk dijadikan


sebagai bahan informasi Pelabuhan Pengumpan Lokal kepada masyarakat.

BAB VI

PEMBINAAN DAN PENGAWASAN

Pasal 28

(1) Dinas karena fungsi dan tugasnya melakukan pembinaan dan pengawasan
atas pengelolaan Pelabuhan Pengumpan Lokal.
(2) Pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
meliputi:
a. pemberian pedoman pengelolaan Pelabuhan Pengumpan Lokal;
b. pemberian petunjuk dan langkah-langkah operasional pengelolaan
Pelabuhan Pengumpan Lokal; dan
c. pemberian pelatihan bagi petugas teknis.
(3) Pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur
lebih lanjut dengan Peraturan Bupati.

BAB VII

KETENTUAN PENUTUP

Pasal 29

Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan


Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kabupaten
Manggarai Barat.

Ditetapkan di Labuan Bajo


pada tanggal, 12 Juli 2018

BUPATI MANGGARAI BARAT,

AGUSTINUS CH. DULA

Diundangkan di Labuan Bajo


pada tanggal, 24 Juli 2018

SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN MANGGARAI BARAT,

MBON ROFINUS

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN MANGGARAI BARAT TAHUN 2018


NOMOR 12

NOREG. PERATURAN DAERAH KABUPATEN MANGGARAI BARAT PROVINSI


NUSA TENGGARA TIMUR 12 TAHUN 2018.
PENJELASAN
ATAS

PERATURAN DAERAH KABUPATEN MANGGARAI BARAT


NOMOR 12 TAHUN 2018

TENTANG

PENGELOLAAN PELABUHAN PENGUMPAN LOKAL

I. UMUM

Bahwa Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 Pelayaran memberi


kewenangan kepada Pemerintah Daerah untuk melakukan pembinaan
pengoperasian khusus pada pelabuhan pengumpan lokal. Selanjutnya
Pasal 115 menyatakan Pemerintah Daerah mempunyai peran, tugas dan
wewenang antara lain mengawasi terjaminnya kelestarian lingkungan di
pelabuhan; ikut menjamin keselamatan dan keamanan pelabuhan;
menyediakan dan memelihara infrastruktur yang menghubungkan
pelabuhan dengan kawasan perdagangan, kawasan industri dan pusat
kegiatan perekonomian lainnya; membina masyarakat di sekitar
pelabuhan dan memfasilitasi masyarakat di wilayahnya untuk dapat
berperan serta secara positif terselenggaranya kegiatan pelabuhan;
menyediakan pusat informasi muatan di wilayah; memberikan izin
mendirikan bangunan di sisi darat dan memberikan rekomendasi dalam
penetapan lokasi pelabuhan dan terminal khusus.
Bahwa dari aspek topografi wilayah, Kabupaten Manggarai Barat
merupakan Kabupaten yang sebagian wilayahnya adalah wilayah
kepulauan dengan aktivitas transportasi laut cukup tinggi. Sebagai
konsekwensinya perlu ada sarana transportasi laut. Saat ini telah ada
pelabuhan kelas III Labuan Bajo yang melayani kapal penumpang, kapal
peti kemas, kapal roro, dan kapal wisata. Tambahan pula adanya dermaga
rakyat di beberapa wilayah yang menunjuang transporatasi laut antar
Kecamatan dalam wilayah Kabupaten Manggarai Barat. Kondisi ini perlu
diatur pengelolaannya guna kelancaran, ketertiban, keamanan dan
keselamatan aksesibilitas turun naiknya penumpang dan bongkar muat
barang/jasa untuk mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi daerah
dan masyarakat serta mendukung investasi daerah.
Bahwa untuk kepentingan tersebut diatas perlu adanya Peraturan Daerah
sebagai dasar legitimasi pengelolaan. Penyelenggaraan pelabuhan meliputi
UPPel untuk Pelabuhan Pengumpan Lokal dan KoPPel untuk tambatan
perahu di masing-masing Desa/Kelurahan dalam wilayah Kabupaten
Manggarai Barat.
Bahwa inti dari Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Pelabuhan
Pengumpan Lokal meliputi pengelolaan kegiatan di pelabuhan, sistem
informasi pelabuhan, keselamatan dan keamanan pelabuhan serta
pembinaan dan pengawasan.

II. PASAL DEMI PASAL


Pasal 1
Cukup jelas.
Pasal 2
Cukup jelas.
Pasal 3
Cukup jelas.
Pasal 4
Cukup jelas.
Pasal 5
Cukup jelas.
Pasal 6
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 7
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Kegiatan pemerintahan lainnya yang bersifat tidak
tetap antara lain kegiatan kehutanan dan
pertambangan yang diselenggarakan oleh instansi
yang berwenang dalam rangka mencegah
pembalakan liar (illegal logging) dan penambangan
liar (illegal minning) yang ke luar masuk melalui
pelabuhan.
Pasal 7
Ayat (1)
Kegiatan pengaturan meliputi penetapan kebijakan di bidang
kepelabuhanan.
Kebijakan di bidang kepelabuhanan merupakan kebijakan
umum dan teknis kepelabuhanan yang meliputi penentuan
norma, standar, pedoman, kriteria, perencanaan, dan
prosedur serta perizinan di bidang kepelabuhanan. Kegiatan
pembinaan dilakukan dengan memperhatikan seluruh aspek
pengaturan, pengendalian, dan pengawasan terhadap
kegiatan pembangunan, pengoperasian, dan pengembangan
pelabuhan guna mewujudkan tatanan kepelabuhanan
nasional yang diarahkan untuk:
a. memperlancar perpindahan orang dan/atau barang
secara massal dengan selamat, aman, cepat, lancar,
tertib dan teratur, dan nyaman;
b. meningkatkan penyelenggaraan kegiatan kepelabuhanan;
c. mengembangkan kemampuan dan peranan
kepelabuhanan serta keselamatan dan keamanan
pelayaran dengan menjamin tersedianya alur-pelayaran,
kolam pelabuhan dan sarana bantu navigasi-pelayaran
yang memadai; dan
d. mencegah dan menanggulangi pencemaran yang
bersumber dari kegiatan kepelabuhanan.
Kegiatan pengendalian meliputi pemberian arahan,
bimbingan dan penyuluhan kepada masyarakat pengguna
jasa kepelabuhanan, pendidikan dan pelatihan serta
sertifikasi, dan perizinan di bidang kepelabuhanan serta
petunjuk dalam melaksanakan pembangunan, operasional
dan pengembangan pelabuhan.
Kegiatan pengawasan meliputi :
a. pemantauan dan penilaian terhadap kegiatan
pembangunan, pengoperasian, dan pengembangan
pelabuhan; dan
b. tindakan korektif terhadap pelaksanaan kegiatan
pembangunan, pengoperasian dan pengembangan
pelabuhan.
Ayat (2)
Cukupjelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 8
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 9
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Pembentukan KoPPel di Desa dapat diintegrasikan dalam
kepengurusan Badan Usaha Milik Desa.
Pasal 10
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 11
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 12
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 13
Cukup jelas.
Pasal 14
Cukup jelas.
Pasal 15
Cukup jelas.
Pasal 16
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 17
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 18
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Izin dimaksud diproses melalui Dinas dan tidak dapat
didelegasikan kepada instansi lain.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 19
Cukup jelas.
Pasal 20
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 21
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Pasal 22
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 23
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 24
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 25
Cukup jelas.
Pasal 26
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 27
Cukup jelas.
Pasal 28
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 29
Cukup jelas.

TAMBAHAN LEMBARAN DAERAH KABUPATEN MANGGARAI BARAT TAHUN


2018 NOMOR 198
BUPATI MANGGARAI BARAT
PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR

PERATURAN DAERAH KABUPATEN MANGGARAI BARAT


NOMOR 13 TAHUN 2018

TENTANG

PENYELENGGARAAN PERPARKIRAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BUPATI MANGGARAI BARAT,

Menimbang : a. bahwa dalam rangka meningkatkan pelayanan kepada


masyarakat di bidang perparkiran dan untuk
mewujudkan ketertiban, keamanan serta kelancaran lalu
lintas, penyelenggaraan perparkiran di daerah perlu
dilaksanakan secara terencana dan terpadu;

b. bahwa meningkatnya jumlah kendaraan yang dapat


menimbulkan kepadatan lalu lintas serta kesadaran
masyarakat dalam menggunakan prasarana jalan, maka
Pemerintah Daerah menetapkan lokasi dan membangun
fasilitas parkir untuk umum berdasarkan rencana umum
tata ruang, analisisi dampak lalu lintas dan kemudahan
bagi pengguna jasa sesuai ketentuan Pasal 44 Undang-
Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan
Angkutan Jalan;

c. bahwa untuk memperoleh kepastian hukum, kejelasan


tanggungjawab dan kewenangan penyelenggaraan
perparkiran perlu pengaturan penataan parkir yang dapat
menjamin penyelenggaraan perparkiran secara
proporsional, efektif dan efisien;

d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana


dimaksud dalam huruf a, huruf b dan huruf c, perlu
membentuk Peraturan Daerah tentang Penyelenggaraan
Perparkiran;
Mengingat : 1. Pasal 18 ayat (6) Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945;

2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun


2003 tentang Pembentukan Kabupaten Manggarai Barat
di Provinsi Nusa Tenggara Timur (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 28, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4271);

3. Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan


(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor
132, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4444);

4. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu


Lintas dan Angkutan Jalan (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2009 Nomor 96, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5025);

5. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang


Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5587) sebagaimana
telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-
Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua
atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang
Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5679);

6. Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 1993 tentang


Prasarana dan Lalu Lintas Jalan (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 1993 Nomor 63, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3529);

7. Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2006 tentang


Jalan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006
Nomor 86, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4655);

8. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2011 tentang


Manajemen dan Rekayasa Lalu Lintas (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 61, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5221);

9. Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2014 tentang


Angkutan Jalan (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2014 Nomor 260, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5594).
Dengan Persetujuan Bersama
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH
KABUPATEN MANGGARAI BARAT
dan
BUPATI MANGGARAI BARAT

MEMUTUSKAN:

Menetapkan: PERATURAN DAERAH TENTANG PENYELENGGARAAN


PERPARKIRAN.

BAB I
KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan:


1. Daerah adalah Kabupaten Manggarai Barat.
2. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat.
3. Bupati adalah Bupati Manggarai Barat.
4. Dinas adalah Organisasi Perangkat Daerah yang mempunyai tugas
menyelenggarakan urusan Pemerintahan Daerah di bidang
Perhubungan.
5. Pejabat adalah pegawai yang diberi tugas tertentu di bidang
pengaturan pengelolaan dan penataan Parkir.
6. Jalan adalah Prasarana Transportasi darat meliputi segala bagian
jalan, termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang
diperuntukkan bagi lalu lintas, yang berada pada permukaan tanah,
diatas permukaan tanah, di bawah permukaan tanah dan/atau air
kecuali jalan kabel.
7. Jalan Umum adalah jalan yang diperuntukkan bagi lalu lintas umum.
8. Izin adalah izin pengelolaan dan penataan Parkir termasuk tempat dan
fasilitas pendukungnya.
9. Parkir adalah keadaan kendaraan berhenti atau tidak bergerak untuk
beberapa saat dan ditinggalkan oleh pengemudinya.
10. Parkir Khusus adalah suatu bentuk pelayanan jasa Parkir dengan
mengkhususkan petak Parkir tertentu untuk kendaraan bernomor
polisi tertentu dan orang yang membutuhkan fasilitas khusus.
11. Petugas Parkir adalah setiap orang yang bertugas membantu mengatur
kendaraan yang keluar dan masuk ke tempat Parkir yang terdiri dari
Koordinator Juru Parkir dan Juru Parkir.
12. Juru Parkir adalah Orang yang bertugas mengatur kendaraan yang
keluar dan masuk ke tempat Parkir dan melakukan pungutan
retribusi.
13. Tempat Parkir adalah Fasilitas Parkir kendaraan yang disediakan, baik
yang berada di tepi jalan umum, gedung, taman dan pelataran.
14. Tempat Parkir di Tepi Jalan Umum adalah fasilitas parkir kendaraan di
tepi jalan umum yang terdiri dari bahu jalan dan di badan jalan
ditentukan oleh Pemerintah Daerah.
15. Tempat Khusus Parkir Pemerintah Daerah adalah tempat Parkir
kendaraan beserta fasilitas penunjangnya yang dimiliki oleh
Pemerintah Daerah yang dapat dikelola oleh Pemerintah Daerah atau
badan usaha yang meliputi gedung Parkir, taman Parkir dan pelataran
atau lingkungan Parkir.
16. Tempat Khusus Parkir Swasta adalah tempat Parkir yang dimiliki oleh
Swasta yang dikelola oleh badan usaha.
17. Tempat Parkir Tidak Tetap adalah Tempat Parkir yang dilaksanakan
pada tempat dan waktu yang tidak tetap.
18. Rambu Parkir adalah bagian perlengkapan Parkir berupa lambang,
huruf, angka, kalimat, dan atau perpaduan yang berfungsi sebagai
peringatan, larangan, perintah, atau petunjuk bagi Pengguna Jasa
Parkir.
19. Marka Parkir adalah garis–garis di tempat Parkir yang
menunjukkancara Parkir.
20. Satuan Ruang Parkir yang selanjutnya disingkat SRP adalah ukuran
luas efektif untuk meletakkan kendaraan dalam halini mobil
penumpang, bus/truck, atau sepeda motor, baik Parkir paralel
dipinggir jalan, pelataran Parkir ataupun gedung Parkir.
21. Petak Parkir adalah bagian–bagian dari tempat Parkir untuk memarkir
kendaraan yang ditandai dengan marka Parkir.
22. Parkir Berlangganan adalah suatu cara perparkiran dimana Pengguna
Jasa Parkir membayar tarif Parkir di awal pembayaran, dan
selanjutnya bisa menggunakannya secara berlangganan pada jangka
waktu yang ditentukan.
23. Kendaraan adalah suatu sarana angkut dijalan terdiri dari kendaraan
bermotor atau kendaraan tidak bermotor.
24. Kendaraan Bermotor adalah setiap kendaraan yang digerakkan oleh
peralatan mekanik berupa mesin.
25. Badan usaha adalah sekumpulan orang dan atau modal yang
merupakan kesatuan baik yang melakukan usaha maupun yang tidak
melakukan usaha yang meliputi perseroan terbatas, perseroan
komanditer, perseroan lainnya, Badan Usaha Milik Negara atau Daerah
dengan nama dan dalam bentuk apapun, firma, kongsi, koperasi, dana
pensiun, persekutuan, perkumpulan, yayasan, atau organisasi yang
sejenis, lembaga, bentuk usaha tetap, dan bentuk badan lainnya.

26. Pengelola Parkir adalah pihak yang telah mendapatkan Izin dari Bupati
atau pejabat yang ditunjuk untuk memberikan pelayanan Parkir dan
memungut pembayaran terhadap pengguna Parkir.
27. Pemilik lahan Parkir adalah Lembaga Negara, Pemerintah Daerah atau
Badan Usaha Milik Negara atau Daerah dan Swasta yang memiliki
suatu area atau tempat yang diperuntukan tempat usaha Parkir.
28. Pengguna Jasa adalah orang yang menggunakan fasilitas pelayanan
Parkir.
29. Karcis Parkir adalah tanda bukti pembayaran Parkir untuk setiap
kendaraan bermotor yang menggunakan fasilitas pelayanan Parkir.
30. Kartu Langganan Parkir adalah tanda bukti pembayaran Parkir untuk
setiap kendaraan bermotor yang menggunakan fasilitas pelayanan
Parkir berlangganan pada waktu tertentu.
31. Pengemudi adalah orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di
jalan yang telah memiliki surat izin mengemudi.
32. Swasta adalah segala bidang yang tidak dikuasai oleh pemerintah.

BAB II
ASAS, MAKSUD DAN TUJUAN

Pasal 2

Penyelenggaraan Perparkiran di Daerah berdasarkan asas:


a. kepastian hukum;
b. transparan;
c. akuntabel;
d. seimbang; dan
e. keamanan dan keselamatan.

Pasal 3

Penyelenggaraan perparkiran dimaksudkan sebagai upaya penataan,


penertiban dan pengaturan Tempat Parkir.

Pasal 4

Penyelenggaraan perparkiran bertujuan untuk menjamin ketertiban,


keteraturan dan kenyamanan lingkungan sekitar Tempat Parkir.

BAB III
STANDARDISASI PENGELOLAAN DAN PENATAAN TEMPAT PARKIR

Pasal 5

(1) Standardisasi pengelolaan Tempat Parkir dilakukan agar pengelolaan


dan penataan Tempat Parkir tidak menimbulkan keresahan dan
ketidakpuasan masyarakat.

(2) Standardisasi pengelolaan dan penataan Tempat Parkir sebagaimana


dimaksud pada ayat (1) dapat dilihat dari:
a. pemenuhan keperluan Tempat Parkir bagi masyarakat atau usaha
pokok tertentu;
b. pemenuhan kebutuhan penyandang disabilitas;
c. estetika, keindahan dan penataan ruang kota;
d. sarana dan prasarana pelayanan Tempat Parkir;
e. keamanan Parkir;
f. manajemen pelayanan pengelolaan Tempat Parkir;
g. etika pelayanan oleh Parkir; dan
h. nilai toleransi dan analisis gangguan yang dapat ditimbulkan.

(3) Ketentuan mengenai standardisasi pengelolaan Tempat Parkir diatur


lebih lanjut dengan Peraturan Bupati.

BAB IV
KAWASAN DAN LOKASI TEMPAT PARKIR

Pasal 6

(1) Penetapan kawasan dan lokasi Tempat Parkir harus memperhatikan:


a. rencana tata ruang kota;
b. keselamatan dan kelancaran lalu lintas;
c. penataan dan kelestarian lingkungan; dan
d. kemudahan, keamanan dan keselamatan pengguna Tempat Parkir.

(2) Lokasi Tempat Parkir sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibedakan
menjadi:
a. tempat parkir di tepi jalan umum, yang meliputi:
1. di bahu jalan; dan
2. badan jalan.
b. tempat khusus parkir;
c. tempat khusus parkir swasta; dan
d. tempat parkir tidak tetap.

(3) Ketentuan mengenai penetapan Lokasi Tempat Parkir sebagaimana


dimaksud pada ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan Bupati.

BAB V
PENYELENGGARA TEMPAT PARKIR

Pasal 7

(1) PenyelenggaraTempat Parkir adalah:


a. Pemerintah Daerah; dan
b. Swasta.

(2) Penyelenggaraan Tempat Parkir yang dilaksanakan oleh Pemerintah


Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, meliputi:
a. tempat parkir di tepi jalan umum; dan
b. tempat khusus parkir.

(3) Penyelenggaraan Tempat Parkir yang dilaksanakan oleh Swasta


sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, yaitu Tempat Khusus
Parkir Swasta.
(4) Dalam hal Pemerintah Daerah tidak dapat menyelenggarakan Tempat
Khusus Parkir sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b, maka
dapat diselenggarakan oleh Badan Usaha melalui perjanjian kerjasama.

(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai penyelenggaraan Parkir oleh Badan


Usaha melalui perjanjian kerja`sama sebagaimana dimaksud pada ayat
(4) diatur dengan Peraturan Bupati.

Pasal 8

Penyelenggaraan Tempat Parkir Pemerintah Daerah meliputi :


a. Pengaturan;
b. Penataan / penempatan;
c. Penertiban; dan
d. Pemudahan informasi.

Bagian Kesatu
Penyelenggaraan Tempat Parkir oleh Pemerintah Daerah

Paragraf 1
Penyelenggaraan Tempat Parkir Di Tepi Jalan Umum

Pasal 9

(1) Penyelenggaraan Tempat Parkir di Tepi Jalan Umum dilaksanakan oleh


Dinas.
(2) Dinas mengangkat Juru Parkir pada Tempat Parkir di Tepi Jalan
Umum.

(3) Dinas dapat melakukan Penyelenggaraan Tempat Parkir di Tepi Jalan


Umum dengan cara Parkir Berlangganan.

(4) Setiap orang dilarang melaksanakan kegiatan sebagaimana tugas Juru


Parkir, tanpa Surat Tugas dari Kepala Dinas.

(5) Dinas dapat menunjuk Pihak Ketiga yang berbentuk badan usaha,
untuk mengelola Parkir di Tepi Jalan Umum.

(6) Ketentuan lebih lanjut mengenai penyelenggaraan Tempat Parkir, Juru


Parkir di Tepi Jalan Umum dan cara Parkir Berlangganan sebagaimana
dimaksud ayat (1), ayat (2) dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Bupati.

Pasal 10

(1) Parkir Kendaraan Bermotor pada Tempat Parkir di Tepi Jalan Umum
dilakukan secara sejajar atau membentuk sudut menurut arah lalu
lintas.
(2) Pada ruas Jalan tertentu Tempat Parkir Kendaraan Bermotor ditepi
Jalan Umum dapat diberlakukan hanya untuk 1 (satu) sisi.

Paragraf 2
Penyelenggaraan Tempat Khusus Parkir

Pasal 11

(1) Penyelenggaraan Tempat Khusus Parkir harus memenuhi persyaratan:


a. menjamin keselamatan dan kelancaran lalu lintas dengan
melaksanakan analisis dampak lalu lintas;
b. mudah dijangkau oleh Pengguna Jasa; dan
c. memiliki sirkulasi dan posisi Parkir Kendaraan Bermotor yang
dinyatakan dengan rambu lalu lintas dan Marka Jalan.

(2) Tempat Khusus Parkir berupa gedung Parkir harus memenuhi


persyaratan konstruksi sesuai ketentuan Peraturan Perundang-
Undangan.

(3) Taman Parkir dan pelataran atau lingkungan Parkir harus memiliki
batas-batas tertentu.

(4) Tempat Khusus Parkir sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat
dilengkapi dengan bangunan penunjang yang berupa tempat
peristirahatan pengemudi dan awak kendaraan, tempat ibadah, kamar
mandi, kios, los, fasilitas keamanan dan fasilitas kebersihan.

Pasal 12

(1) Pemerintah Daerah dapat menunjuk serta memberi Izin pada Pihak
Ketiga yang berbentuk Badan Usaha, untuk mengelola Tempat Khusus
Parkir.

(2) Pengelola Tempat Khusus Parkir wajib:


a. bertanggungjawab atas segala kegiatan yang berkaitan dengan
penyelenggaraan Tempat Parkir, termasuk kebersihan,
pemeliharaan sarana dan prasarana serta keamanan dan ketertiban
tempat Parkir;
b. bertanggungjawab atas keamanan kendaraan;
c. memenuhi kewajiban atas pungutan Daerah;
d. mencetak Karcis Parkir sesuai dengan peraturan yang berlaku
dibawah pengawasan pejabat yang ditunjuk yang kemudian
diporporasi; dan
e. Memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak Daerah.

(3) Ketentuan mengenai tata cara dan persyaratan pemberian Izin kepada
pihak ketiga yang berbentuk Badan Usaha untuk mengelola Tempat
Khusus Parkir sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan
Peraturan Bupati.

Paragraf 3
Penyelenggaraan Tempat Parkir Tidak Tetap

Pasal 13

Penyelenggaraan Tempat Parkir Tidak Tetap dapat dilakukan oleh Dinas


dengan menugaskan Juru Parkir.

Paragraf 4

Petugas Parkir

Pasal 14

(1) Setiap penyelenggara Parkir wajib menyediakan Petugas Parkir.


(2) Petugas Parkir sebagaimana dimaksud pada ayat (1), terdiri atas:
a. koordinator juru parkir; dan
b. juru parkir.
(3) Petugas Parkir sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berhak menerima:
a. penghasilan tetap; dan
b. penghasilan dengan sebutan lain berdasarkan perjanjian kerjasama.

Pasal 15

(1) Koordinator Juru Parkir wajib:


a. menggunakan pakaian seragam, tanda pengenal serta kelengkapan
lainnya yang telah ditentukan; dan
b. menjaga keamanan dan ketertiban tempat Parkir, serta
bertanggungjawab atas keamanan.
(2) Juru Parkir wajib:
a. menggunakan pakaian seragam, tanda pengenal serta kelengkapan
lainnya yang telah ditentukan;
b. menjaga kebersihan, keindahan dan kenyamanan lingkungan Parkir;
c. menyerahkan Karcis Parkir sebagai tanda bukti untuk setiap kali
Parkir pada saat memasuki lokasi Parkir dan memungut retribusi
sesuai dengan ketentuan yang berlaku;
d. menggunakan Karcis Parkir resmi yang diterbitkan oleh Pemerintah
Daerah yang disediakan untuk satu kali Parkir dan tidak boleh
digunakan lebih dari satu kali;
e. menyerahkan hasil retribusi kepada Dinas;
f. menata dengan tertib Kendaraan Bermotor yang diparkir, baik pada
waktu datang maupun pergi, dan tidak melebihi satu baris.
g. memberikan pelayanan masuk dan keluarnya kendaraan bermotor;
dan
h. menerima pembayaran atas penggunaan fasilitas Parkir sesuai tarif
yang berlaku.
Bagian Kedua
Penyelenggaraan Tempat Khusus Parkir Swasta

Pasal 16

(1) Penyelenggara Tempat Khusus Parkir Swasta wajib memiliki izin dari
Bupati melalui perangkat Daerah yang menyelenggarakan urusan
dibidang pelayanan perizinan setelah mendapatkan rekomendasi dari
Dinas.
(2) Penyelenggara Tempat Khusus Parkir Swasta sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dapat menugaskan Juru Parkir dan berhak memungut
jasa Parkir.
(3) Ketentuan mengenai besaran pungutan penyelenggaraan Tempat
Khusus Parkir Swasta sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
berpedoman pada tarif pungutan yang diselenggarakan Pemerintah
Daerah.
Pasal 17

(1) Penyelenggara Tempat Khusus Parkir Swasta wajib:


a. bertanggungjawab atas segala kegiatan yang berkaitan dengan
penyelenggaraan Tempat Parkir, termasuk kebersihan, keamanan
dan ketertiban tempat Parkir;
b. bertanggungjawab atas keamanan kendaraan bermotor;
c. memenuhi kewajiban atas pungutan Daerah;
d. memasang papan tarif Parkir dan rambu di Tempat Parkir;
e. menyediakan pakaian seragam petugas Parkir di Tempat Parkir;
f. menjaga kebersihan, keindahan dan kenyamanan lingkungan Parkir;
dan
g. menyediakan tempat sampah di lingkungan Tempat Parkir.
(2) Penyelenggara Tempat Khusus Parkir Swasta wajib membuat tata tertib
yang berlaku di Tempat Khusus Parkir Swasta, untuk diketahui oleh
Pengguna Jasa sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan
Peraturan Perundang-Undangan.

BAB VI
PERIZINAN UNTUK BADAN USAHA

Pasal 18

(1) Permohonan Izin pengelolaan Tempat Parkir wajib melampirkan


persyaratan sebagai berikut:
a. persyaratan administrasi; dan
b. persyaratan teknis.

(2) Persyaratan administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a,


meliputi:
a. surat permohonan Izin yang telah ditandatangani oleh pemohon dan
ditandatangani oleh pengurus yang berwenang atau kuasanya;
b. fotokopi Nomor Pokok Wajib Pajak;
c. fotokopi Akte Pendirian Perusahaan;
d. fotokopi Tanda Daftar Perusahaan; dan
e. fotokopi Kartu Tanda Penduduk pemilik atau penanggungjawab
perusahaan.
(3) Persyaratan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b,
meliputi:
a. tempat parkir merupakan bagian yang didukung dengan manajemen
lalu lintas pada jaringan jalan sekitarnya;
b. lokasi Tempat Parkir harus memiliki akses yang mudah ke pusat
kegiatan;
c. SRP diberi tanda yang jelas berupa kode atau nomor lantai, nomor
lajur dan Marka Parkir;
d. harus memiliki batas khusus untuk taman, pelataran dan
lingkungan Tempat Parkir;
e. setiap lokasi yang digunakan untuk Tempat Parkir kendaraan diberi
tanda berupa huruf atau angka yang memberikan kemudahan bagi
Pengguna Jasa untuk menemukan kendaraannya; dan
f. fasilitas Tempat Khusus Parkir dinyatakan dengan rambu petunjuk
yang menyatakan Tempat Parkir khusus.
(4) Pemberian Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1), berlaku selama
usaha perpakiran berjalan.
(5) Ketentuan mengenai pemberian izin pengelolaan Parkir sebagimana
dimaksud pada ayat (4) diatur dengan Peraturan Bupati.

BAB VII
PENGGUNA JASA PARKIR

Pasal 19

Setiap Pengguna Jasa Parkir berhak:


a. mendapatkan SRP;
b. mendapatkan pelayanan masuk dan keluarnya kendaraan bermotor
c. memperoleh Karcis Parkir atau Kartu Langganan atas pemakaian SRP;
d. mendapatkan rasa aman atas pemakaian SRP; dan
e. mendapatkan informasi pelayanan Parkir yang benar.

Pasal 20

(1) Pengguna Jasa Parkir wajib:


a. membayar atas pemakaian SRP;
b. menyimpan Karcis Parkir atas pemakaian SRP;
c. membawa dan menunjukkan Kartu Langganan Parkir;
d. mematuhi rambu Parkir, SRP, tanda isyarat Parkir, dan ketentuan
Parkir lain;
e. memastikan kendaraan terkunci dengan baik;
f. tidak meninggalkan barang berharga dan Karcis Parkir di dalam
Kendaraan Bermotor; dan
g. khusus bagi Pengguna Jasa Parkir yang memarkir Kendaraan
Bermotor di Tepi Jalan Umum pada jam tertentu dan lokasi tertentu
yang berlaku tarif progresif, wajib membayar retribusi progresif yang
dihitung dengan menggunakan pengukur waktu dan/atau kartu
kendali.
(2) Dalam hal Pengguna Jasa Parkir tidak membawa dan menunjukkan
Kartu Langganan Parkir sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c,
dikenai tarif Parkir yang berlaku.

Pasal 21

Setiap Pengguna Jasa Parkir dilarang:


a. parkir di luar batas SRP yang ditetapkan oleh penyelenggara parkir;
b. menempatkan kendaraan bermotor yang mengganggu keluar dan
masuk kendaraan dari dan menuju tempat parkir;
c. menempatkan kendaraan bermotor yang mengganggu kelancaran lalu
lintas; dan/atau
d. parkir kendaraan di tempat yang dinyatakan dilarang untuk parkir.

BAB VIII
PEMBAYARAN PARKIR

Pasal 22

(1) Pengadaan Karcis Parkir untuk sekali Parkir atau Kartu Langganan
Parkir pada tempat Parkir yang diselenggarakan oleh Pemerintah
Daerah dilaksanakan oleh Dinas.
(2) Pengadaan Karcis Parkir pada Tempat Khusus Parkir dan Tempat
Khusus Parkir Swasta diselenggarakan oleh pengelola perparkiran.
(3) Karcis Parkir sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), wajib
diporporasi oleh Dinas, kecuali bagi Tempat Khusus Parkir Swasta dan
tempat Parkir yang menggunakan mesin Parkir dan Parkir
berlangganan.
(4) Dalam hal Karcis Parkir hilang, Pengguna Jasa Parkir wajib
menunjukkan Surat Tanda Nomor Kendaraan atau bukti kepemilikan
Kendaraan Bermotor yang sah.

BAB IX
TATA TERTIB PARKIR

Pasal 23

Penyelenggara perparkiran wajib membuat tata tertib yang berlaku di


Tempat Parkir, untuk diketahui oleh Pengguna JasaParkir sepanjang tidak
bertentangan dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan.
Pasal 24

(1) Setiap pemilik dan/atau pengemudi Kendaraan Bermotor dilarang


Parkir di tempat yang tidak terdapat rambu Parkir dan/atau Marka
Parkir.
(2) Ruas jalan yang dapat dipergunakan sebagai Tempat Parkir dinyatakan
dengan rambu Parkir dan/atau Marka Parkir sesuai dengan ketentuan
Peraturan Perundang-Undangan.

BAB X
PEMBINAAN DAN PENGAWASAN

Bagian Kesatu
Pembinaan

Pasal 25

(1) Pembinaan terhadap pengelolaan dan penataan Parkir meliputi :


a. memberikan pedoman teknis penyelenggaraan perparkiran;
b. bimbingan dan penyuluhan kepada masyarakat;
c. bimbingan perencanaan teknis;
d. sosialisasi perparkiran kepada masyarakat; dan
e. pembinaan teknis kepada penyelenggara Parkir.
(2) Pembinaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), dilakukan
oleh Dinas berdasarkan kegiatan yang disusun dalam program jangka
panjang dan menengah perparkiran.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai pembinaan terhadap pengelolaan dan
penataan Parkir sebagaimana dimaksud pada ayat (1), diatur dengan
Peraturan Bupati.

Bagian Kedua
Pengawasan

Pasal 26

(1) Dinas dalam melakukan pengawasan berwenang untuk melakukan:


a. pemantauan;
b. membuat salinan dari dokumen dan atau catatan yang diperlukan;
c. memasuki tempat usaha dan atau tempat yang dikelola;
d. memeriksa Tenaga/Juru Parkir beserta kelengkapan yang diwajibkan;
e. meminta keterangan dari pihak yang bertanggungjawab atas
pengelolaan Parkir; dan
f. Pengelola Parkir dan/atau Juru Parkir yang diminta untuk 13ember
keterangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf f wajib
memenuhi permintaan petugas pengawas sesuai ketentuan
perundang-undangan.
(2) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Dinas
berdasarkan kegiatan yang disusun dalam program jangka panjang dan
menengah perparkiran.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai pengawasan terhadap pengelolaan dan
penataan Parkir sebagaimana dimaksud pada ayat (1), diatur dengan
Peraturan Bupati.

BAB XI
LARANGAN

Pasal 27

(1) Setiap orang atau Badan Usaha dilarang menyelenggarakan pengelolaan


Parkir tanpa Izin dan atau berada di depan rumah, rumah toko, kantor
pemerintah atau Swasta, tempat ibadah keagamaan, dan/atau tempat
lainnya yang menutup akses jalan terhadapnya dan atau disertai
dengan tindakan ancaman atau intimidasi sehingga mengakibatkan
keresahan warga.
(2) Setiap orang atau Badan Usaha dilarang menggunakan pelataran
rumah/toko, trotoar dan badan jalan sebagai tempat Parkir untuk
keperluan sendiri atau usaha pokok tertentu.
(3) Setiap orang dilarang melakukan perbuatan yang mengakibatkan
terganggunya fungsi rambu Parkir dan/atau alat pemberi isyarat Parkir
(4) Pengelola dan/atau Juru Parkir dilarang:
a. memberlakukan pungutan ganda;
b. memungut tarif melebihi ketentuan;
c. melakukan perbuatan tidak menyenangkan dan atau
mengakibatkan kerusakan terhadap kendaraan bermotor atau
barang milik pengguna Parkir;
d. melakukan perbuatan pidana terhadap kendaraan dan/atau barang
milik Pengguna Jasa Parkir;
e. menyalahgunakan sarana dan prasarana pelayanan Parkir.
f. menggunakan trotoar tempat pejalan kaki sebagai tempat pelayanan
Parkir;
g. menambah luas tempat pelayanan melebihi batas maksimal yang
ditentukan; dan
h. mengatur perparkiran yang dapat menimbulkan kemacetan arus
lalu lintas.
(5) Setiap rang dan/atau Pengguna Jasa Parkir dilarang menggunakan
tempat Parkir untuk:
a. tempat bongkar muat barang dalam jumlah besar yang mengganggu
hak-hak pengguna lainnya; dan
b. menaikkan dan menurunkan penumpang yang mengganggu hak-hak
pengguna Parkir lainnya dalam waktu tidak melebihi dari 5 menit.
BAB XII
SANKSI ADMINISTRATIF

Pasal 28

(1) Setiap orang dan/atau Badan usaha yang melanggar ketentuan Pasal
14 ayat (1), Pasal 15, Pasal 16 ayat (1), Pasal 17, Pasal 18 dan Pasal 24
ayat (1) dikenai sanksi administratif.
(2) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan,
berupa:
a. pemanggilan;
b. pemberian teguran tertulis pertama;
c. pemberian teguran tertulis kedua disertai pemanggilan;
d. pemberian teguran tertulis ketiga;
e. pemberhentian sebagai petugas/juru parkir;
f. pencabutan sementara Izin usaha perparkiran;
g. pencabutan tetap Izin;dan/atau
h. denda administratif.
(3) Kendaraan bermotor yang parkir di tempat yang dinyatakan dilarang
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (1), ayat (2) dan ayat (5)
dikenai sanksi berupa:
a. penggembokkan;
b. penderekkan;
c. penggembosan;
d. pemindahan; dan
e. denda administratif.
(4) Biaya pemindahan Kendaraan Bermotor sebagaimana dimaksud pada
ayat (3) huruf d menjadi tanggungjawab pemilik Kendaraan Bermotor.
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pelaksanaan sanksi
administratif dan besaran denda administratif sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Bupati.

BAB XIII
KETENTUAN PENYIDIKAN

Pasal 29

(1) Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan Pemerintah Daerah


diberi wewenang khusus sebagai penyidik untuk melakukan penyidikan
tindak pidana sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.
(2) Wewenang penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah:
a. menerima, mencari, mengumpulkan, dan meneliti keterangan atau
laporan berkenaan dengan tindak pidana;
b. meneliti, mencari, dan mengumpulkan keterangan mengenai orang
pribadi atau badan tentang kebenaran perbuatan yang dilakukan
sehubungan dengan tindak pidana;
c. meminta keterangan dan barang bukti dari orang pribadi atau badan
sehubungan dengan tindak pidana;
d. memeriksa buku, catatan, dan dokumen lain berkenaan dengan
tindak pidana;
e. melakukan penggeledahan untuk mendapatkan barang bukti
pembukuan, pencatatan, dan dokumen lain, serta melakukan
penyitaan terhadap barang bukti tersebut;
f. meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka pelaksanaan tugas
penyidikan tindak pidana;
g. menyuruh berhenti dan/atau melarang seseorang meninggalkan
ruangan atau tempat pada saat pemeriksaan sedang berlangsung
dan memeriksa identitas orang, benda dan atau dokumen yang
dibawa;
h. memotret seseorang yang berkaitan dengan tindak pidana;
i. memanggil orang untuk didengar keterangannya dan diperiksa
sebagai tersangka atau saksi;
j. menghentikan penyidikan; dan/atau
k. melakukan tindakan lain yang perlu untuk kelancaran penyidikan
tindak pidana sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
(3) Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1), memberitahukan
dimulainya penyidikan dan menyampaikan hasil penyidikannya kepada
Penuntut Umum melalui penyidik pejabat Polisi Negara Republik
Indonesia, sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang
Hukum Acara Pidana.

BAB XIV
KETENTUAN PIDANA

Pasal 30

(1) Setiap Orang dan/atau Badan yang melanggar ketentuan sebagaimana


dimaksud dalam Pasal 27 ayat (3) dan ayat (4) dipidana dengan pidana
kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau denda paling banyak Rp.
50.000.000.00 (lima puluh juta rupiah).
(2) Tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah
pelanggaran.
BAB XV
KETENTUAN PENUTUP

Pasal 31

Peraturan pelaksanaan dari Peraturan Daerah ini ditetapkan paling lambat


6 (enam) bulan sejak Peraturan Daerah ini diundangkan.

Pasal 32

Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan


PeraturanDaerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah
Kabupaten Manggarai Barat.

Ditetapkan di Labuan Bajo


pada tanggal, 12 Juli 2018

BUPATI MANGGARAI BARAT,

AGUSTINUS CH. DULA

Diundangkan di Labuan Bajo


pada tanggal, 24 Juli 2018

SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN MANGGARAI BARAT,

MBON ROFINUS

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN MANGGARAI BARAT TAHUN 2018


NOMOR 13

NOREG. PERATURAN DAERAH KABUPATEN MANGGARAI BARAT


PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR 13 TAHUN 2018.
PENJELASAN
ATAS
PERATURAN DAERAH KABUPATEN MANGGARAI BARAT
NOMOR 13 TAHUN 2018
TENTANG
PENYELENGGARAAN PERPARKIRAN

I. UMUM
Salah satu masalah penting yang dihadapi oleh kawasan perkotaan di
Kabupaten yang sedang bertumbuh adalah masalah kemacetan lalu
lintas dan perparkiran. Tingginya pertumbuhan penduduk yang disertai
dengan meningkatnya mobilitas masyarakat khususnya di kawasan
perkotaan itu berimplikasi pada peningkatan arus dan moda
transportasi, baik kendaraan pribadi maupun kendaraan umum. Namun
meningkatnya kepemilikan kendaraan seringkali tidak disertai
peningkatan dan penyediaan ruas jalan dan fasilitas Parkir.

Pemerintah merupakan pihak yang berwenang dan bertanggung jawab di


bidang pengelolaan perparkiran, meskipun secara operasional
pengelolaannya dapat bermitra dengan masyarakat dan badan usaha.

Dalam rangka penyelenggaraan dan pengelolaan perparkiran secara


terpadu dan komprehensif, berkaitan dengan tugas dan wewenang
pemerintahan daerah bidang perparkiran, diperlukan payung hukum
dalam bentuk Peraturan Daerah. Peraturan Daerah tentang pengelolaan
perparkiran merupakan ketentuan-ketentuan dasar yang menjadi
pedoman bagi daerah dalam pengelolaan perparkiran di wilayah
Kabupaten Manggarai Barat.

Pembentukan Peraturan Daerah ini diperlukan dalam rangka: menjamin


kepastian hukum untuk mendapatkan pelayanan pengelolaan Parkir
yang baik dan efektif dalam rangka menjamin pengawasan penataan
ruang Parkir/fasilitas Parkir agar sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan; memberikan arahan kejelasan tugas, wewenang,
dan tanggung jawab pemerintahan daerah dan Swasta/masyarakat
dalam bidang perparkiran, menjamin ketertiban dalam penyelenggaraan
pengelolaan Parkir, termasuk masalah penegakkan hukum berkaitan
dengan pelanggaran bidang perparkiran.

II. PASAL DEMI PASAL

Pasal 1
Cukup jelas.
Pasal 2
huruf a
Yang dimaksud dengan prinsip kapastian hukum adalah
penyelenggara perparkiran, pengelola perparkiran, dan
Pengguna Jasa Parkir mentaati ketentuan peraturan
perundang-undangan.

huruf b
Yang dimaksud dengan prinsip transparan adalah
keterbukaan kepada masyarakat untuk memperoleh data
dan informasi yang benar, jelas, dan jujur dalam
penyelenggaraan perparkiran.

huruf c
Yang dimaksud dengan prinsip akuntabel adalah
penyelenggaraan dan pengelolaan perparkiran dapat
dipertanggungjawabkan.

huruf d
Yang dimaksud dengan prinsip seimbang adalah
penyelenggaraan dan pengelolaan perparkiran harus
dilaksanakan atas dasar keseimbangan antara sarana dan
prasarana dengan pemenuhan hak dan kewajiban
Pengguna Jasa dan penyelenggara perparkiran.

huruf e
Yang dimaksud dengan prinsip keamanan dan
keselamatan adalah memberikan jaminan keamanan dan
keselamatan kepada pengguna jalan dan pengguna Parkir
di area perparkiran.

Pasal 3
Cukup jelas.

Pasal 4
Cukup jelas.

Pasal 5
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.

Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Pasal 6
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Ayat (6)
Cukup jelas.
Ayat (7)
Cukup jelas.
Pasal 7
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 8
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 9
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.

Pasal 10
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.

Pasal 11
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 12
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
a. Cukup jelas.
b. Cukup jelas.
c. Cukup jelas.
d. Porporasi adalah Pembuatan lubang kecil pada
kertas/Karcis Mesin Parkir adalah suatu alat yang
dipasang atau dipergunakan untuk menghitung
retribusi Parkir secara otomatis.
Ayat (3)
Cukup jelas

Pasal 13
Cukup jelas.
Pasal 14
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 15
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.

Pasal 16
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 17
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.

Pasal 18
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.

Pasal 19
Cukup jelas.
Pasal 20
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 21
Cukup jelas.

Pasal 22
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.

Pasal 23
Cukup jelas.

Pasal 24
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.

Pasal 25
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.

Pasal 26
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.

Pasal 27
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.

Pasal 28
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.

Pasal 29
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.

Pasal 30
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 31
Cukup jelas.

Pasal 32
Cukup jelas.

TAMBAHAN LEMBARAN DAERAH KABUPATEN MANGGARAI BARAT


TAHUN 2018 NOMOR 199
BUPATI MANGGARAI BARAT
PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR

PERATURAN DAERAH KABUPATEN MANGGARAI BARAT


NOMOR 15 TAHUN 2018
TENTANG
PENCABUTAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN MANGGARAI BARAT
NOMOR 5 TAHUN 2007 TENTANG PENGELOLAAN DAN PENGUSAHAAN
SARANG BURUNG WALET

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA


BUPATI MANGGARAI BARAT,

Menimbang : a. bahwa untuk melaksanakan ketentuan dalam Lampiran


I huruf BB angka 3, Undang-Undang Nomor 23 Tahun
2014 tentang Pemerintahan Daerah dan Perubahanya
yang menegaskan bahwa “ Urusan Pemerintahan di
bidang Kehutanan selain Pengelolaan Taman Hutan
Raya (Tahura), merupakan kewenangan Pemerintah
Pusat dan Pemerintah Provinsi”, maka Peraturan
Daerah Kabupaten Manggarai Barat Nomor 5 Tahun
2007 tentang Pengelolaan dan Pengusahaan Sarang
Burung Walet, perlu dicabut;

b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana


dimaksud dalam huruf a, perlu membentuk Peraturan
Daerah tentang Pencabutan Peraturan Daerah
Kabupaten Manggarai Barat Nomor 5 Tahun 2007
tentang Pengelolaan dan Pengusahaan Sarang Burung
Walet;

Mengingat : 1. Pasal 18 ayat (6) Undang-Undang Dasar Negara


Republik Indonesia Tahun 1945;

2. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2003 tentang


Pembentukan Kabupaten Manggarai Barat di Provinsi
Nusa Tenggara Timur (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2003 Nomor 28, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4271);

3. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang


Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587)
sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir
dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang
Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23
Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 58,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
5679);
Dengan Persetujuan Bersama

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH


KABUPATEN MANGGARAI BARAT
dan
BUPATI MANGGARAI BARAT

MEMUTUSKAN :

Menetapkan : PENCABUTAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN MANGGARAI


BARAT NOMOR 5 TAHUN 2007 TENTANG PENGELOLAAN DAN
PENGUSAHAAN SARANG BURUNG WALET.

Pasal 1

Peraturan Daerah Kabupaten Manggarai Barat Nomor 5 Tahun 2007 tentang


Pengelolaan dan Pengusahaan Sarang Burung Walet (Lembaran Daerah
Kabupaten Manggarai Barat Tahun 2007 Nomor 5, Seri E Nomor 2), dicabut
dan dinyatakan tidak berlaku.

Pasal 2
Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan


Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kabupaten
Manggarai Barat.

Ditetapkan di Labuan Bajo


pada tanggal, 12 Juli 2018

BUPATI MANGGARAI BARAT,

AGUSTINUS CH. DULA

Diundangkan di Labuan Bajo


pada tanggal, 24 Juli 2018

SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN MANGGARAI BARAT,

MBON ROFINUS
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN MANGGARAI BARAT TAHUN 2018
NOMOR 15

NOREG. PERATURAN DAERAH KABUPATEN MANGGARAI BARAT PROVINSI


NUSA TENGGARA TIMUR : 15 TAHUN 2018.