Anda di halaman 1dari 25

Refleksi Kasus Mei 2018

G6P5A0 + gravid 34-35 minggu + Plasenta Previa parsialis

Disusun Oleh :

IKA KURNIA FAIZIN,S.Ked

N 111 16 063

Pembimbing Klinik :

dr. Daniel Saranga, Sp.OG (K)

BAGIAN ILMU OBTETRIK DAN GINEKOLOGI


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TADULAKO
PALU

2018
BAB I

PENDAHULUAN

Plasenta adalah organ yang dibentuk selama kehamilan untuk memberikan


nutrisi, membuang hasil metabolisme, dan menghasilkan hormon untuk
mempertahankan kehamilan. Umumnya plasenta telah lengkap pada kehamilan
lebih kurang 16 minggu dengan ruang amnion telah mengisi seluruh cavum uteri.
Letak plasenta umumnya di depan atau di belakang dinding uterus, agak ke atas
ke arah fundus uteri. Hal ini adalah fisiologis karena permukaan bagian atas
korpus uteri lebih luas, sehingga lebih banyak tempat untuk berimplantasi1
Plasenta merupakan bagian dari kehamilan yang penting, mempunyai bentuk
bundar dengan ukuran 15 x 20 cm dengan tebal 2,5 sampai 3 cm dan beratnya 500
gram. Plasenta merupakan organ yang sangat aktif dan memiliki mekanisme
khusus untuk menunjang pertumbuhan dan ketahanan hidup janin. Hal ini
termasuk pertukaran gas yang efisien, transport aktif zat-zat energi, toleransi
imunologis terhadap imunitas ibu pada allograft dan akuisisi janin. Melihat
pentingnya peranan dari plasenta maka bila terjadi kelainan pada plasenta akan
menyebabkan kelainan pada janin atau pun mengganggu proses persalinan. Salah
satu kelainan pada plasenta adalah kelainan implantasi atau disebut dengan
plasenta previa.1
Perdarahan obstetrik yang terjadi pada kehamilan trimester ketiga perdarahan
obstetrik yang terjadi pada kehamilan trimester ketiga dan yang terjadi setelah
anak atau plasenta lahir pada umumnya adalah perdarahan yang berat, dan jika
tidak mendapat penanganan yang cepat bisa mendatangkan syok yang fatal. Salah
satu sebabnya adalah plasenta previa2
Morbiditas dan mortalitas fetal maupun maternal dari placenta previa
dihubungkan dengan kebutuhan yang tinggi terhadap sumber daya pelayanan
kesehatan. Dengan meningkatnya insiden sectio cesarea bersama dengan
bertambahnya usia ibu, jumlah kasus terjadinya placenta previa beserta
komplikasinya, termasuk placenta akreta, akan terus berlanjut.Kejadian plasenta
previa bervariasi antara 0,3-0,5% dari seluruh kelahiran. Dari seluruh kasus

1
perdarahan antepartum, plasenta previa merupakan penyebab yang terbanyak.
Oleh karena itu, pada kejadian perdarahan antepartum, kemungkinan plasenta
previa harus dipikirkan lebih dahulu.2
Diagnosis plasenta previa jarang dapat ditegakkan dengan pemeriksaan klinis,
kecuali jika jari dimasukkan melalui serviks dan plasenta teraba. Pemeriksaan
serviks semacam ini tidak boleh dilakukan, kecuali jika wanita bersangkutan
sudah berada di ruang operasi dengan semua persiapan untuk sesar segera, karena
pemeriksaan paling lembut pun dapat menyebabkan perdarahan hebat.3
Secara umum klasifikasi plasenta previa adalah : plasenta previa totalis,
plasenta previa parsialis, plasenta previa marginalis dan plasenta letak rendah.3

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFENISI
Plasenta previa adalah komplikasi kehamilan di mana plasenta terletak di
bagian bawah rahim, sebagian atau seluruhnya menutupi leher rahim. Hal ini
menyebabkan perdarahan vagina tanpa rasa sakit dan beberapa mengarah ke
perdarahan. Perdarahan yang mungkin cukup besar untuk mengancam kehidupan
ibu janin membuat persalinan segera, baik secara elektif atau darurat.2
Plasenta previa adalah keadaan dimana plasenta berimplantasi pada tempat
abnormal, yaitu pada segmen bawah rahim (SBR) sehingga menutupi sebagian
atau seluruh pembukaan jalan lahir (ostium uteri internal) dan oleh karenanya
bagian terendah sering kali terkendala memasuki pintu atas panggul (PAP) atau
menimbulkan kelainan janin dalam rahim. Pada keadaan normal plasenta
umumnya terletak dikorpus uteri bagian depan atau belakang agak ke arah fundus
uteri.1

B. EPIDEMIOLOGI
Plasenta previa lebih banyak pada kehamilan dengan paritas tinggi dan pada
usia di atas 30 tahun. Juga sering terjadi pada kehamilan ganda daripada
kehamilan tunggal. Pada beberapa Rumah Sakit Umum Pemerintah dilaporkan
insidennya berkisar 1,7% - 2,9%. Di negara maju insidennya lebih rendah yaitu
kurang dari 1% kemungkinan disebabkan berkurangnya wanita hamil dengan
paritas tinggi. Dengan meluasnya penggunaan ultrasonografi dalam obstetrik yang
memungkinkan deteksi lebih dini insiden plasenta previa dapat lebih tinggi.6

C. ETIOLOGI
Plasenta previa meningkat kejadiannya pada keadaan-keadaan yang
endometriumnya kurang baik, misalnya karena atrofi endometrium atau kurang
baiknya vaskularisasi desidua.2

3
Keadaan endometrium yang kurang baik menyebabkan plasenta harus
tumbuh menjadi luas untuk mencukupi kebutuhan janin. Plasenta yang tumbuh
meluas akan mendekati atau menutup ostium uteri internum.2
Endometrium yang kurang baik juga dapat menyebabkan zigot mencari
tempat implantasi yang lebih baik, yaitu di tempat yang rendah dekat ostium uteri
internum. 2
D. KLASIFIKASI
Secara umum plasenta previa dapat dibagi menjadi :
1. Plasenta previa totalis, ostium uteri internum seluruhnya tertutup oleh
plasenta.
2. Plasenta previa parsialis, hanya sebagian ostium uteri internum tertutup
oleh plasenta.
3. Plasenta previa marginalis, hanya tepi plasenta yang menutupi ostium uteri
internum.
4. Plasenta letak rendah, plasenta berimplantasi di segmen bawah uterus
tetapi tidak ada bagian yang menutupi ostium uteri internum.4

4
E. PATOFISIOLOGI
Pada usia kehamilan yang lanjut, umumnya pada trimester ketiga dan
mungkin juga lebih awal, telah terbentuk segmen bawah rahim, tapak plasenta
akan mengalami pelepasan. Sebagaimana diketahui tapak plasenta terbentuk dari
jaringan maternal yaitu bagian desidua basalis yang bertumbuh menjadi bagian
bagian dari plasenta. Dengan melebarnya isthmus uteri menjadi segmen bawah
rahim, maka plasenta yang berimplantasi pada bagian itu akan mengalami laserasi
akibat pelepasan pada desidua sebagai tapak plasenta. Demikian pula pada saat
serviks mendatar (effacement) dan membuka (dilatation) ada bagian tapak
plasenta yang terlepas. Pada tempat laserasi akan terjadi perdarahan yang berasal
dari sirkulasi maternal yaitu dari ruangan intervillus dari plasenta. Perdarahan
pada plasenta previa mudah terjadi dan dalam jumlah yang banyak karena segmen
bawah rahim dan serviks memiliki elemen otot yang sangat minimal sehingga
tidak mampu berkontraksi dengan kuat, akibatnya pembuluh darah pada daerah
tersebut tidak akan tertutup sempurna.6
Darah yang keluar berwarna merah segar tanpa rasa nyeri. Pada plasenta yang
menutupi seluruh ostium uteri internum perdarahan terjadi lebih awal dalam
kehamilan oleh karena segmen bawah rahim terbentuk lebih dahulu pada bagian
terbawah yaitu pada ostium uteri internum. sebaliknya, pada plasenta previa
parsialis atau letak rendah, perdarahan baru terjadi pada waktu mendekati atau
mulai persalinan. perdarahan pertama biasanya sedikit tetapi cenderung lebih
banyak pada perdarahan selanjutnya. Perdarahan pertama sudah bisa terjadi pada
kehamilan di bawah 30 minggu tetapi lebih separuh kejadiannya pada umur
kehamilan 34 mingu atau lebih. Berhubung tempat perdarahan terletak dekat
dengan ostium uteri internum, maka perdarahan lebih mudah mengalir keluar
rahim.6
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah dinding segmen bawah rahim yang
tipis mudah diinvasi oleh pertumbuhan vili dari trofoblas, akibatnya plasenta
melekat lebih kuat pada dinding uterus. Lebih sering terjadi plasenta akreta dan
plasenta inkreta, bahkan plasenta perkreta yang pertumbuhan vilinya bisa sampai
menembus buli-buli dan ke rektum bersama plasenta previa. Plasenta akreta dan

5
inkreta lebih sering terjadi pada uterus yang sebelumnya pernah bedah sesar.
Segmen bawah rahim dan serviks yang rapuh dan mudah robek oleh sebab
kurangnya elemen otot yang terdapat disana. kedua kondisi ini berpotensi
meningkakan kejadian perdarahan pascapersalinan pada plasenta previa, misalnya
dalam kala tiga karena plasenta sukar terlepas (retensi plasenta), atau setelah
plasenta lepas karena segmen bawah rahim tidak mampu berkontraksi dengan
baik.6

F. MANIFESTASI KLINIK
Gambaran klinik plasenta previa adalah sebagai berikut2 :
1. Perdarahan pervaginam. Darah berwarna merah terang pada umur kehamilan
akhir trimester kedua atau awal trimester ketiga merupakan tanda utama
plasenta previa. Perdarahan pertama biasanya tidak banyak sehingga tidak
akan berakibat fatal, tetapi perdarahan berikutnya hampir selalu lebih banyak
dari perdarahan sebelumnya.
2. Tanpa nyeri. Kejadian yang paling khas pada plasenta previa adalah
perdarahan tanpa nyeri yang biasanya baru terlihat setelah kehamilan
mendekati akhir trimester kedua atau sesudahnya.
3. Pada ibu, tergantung keadaan umum dan jumlah darah yang hilang,
perdarahan yang sedikit demi sedikit atau dalam jumlah banyak dengan
waktu yang singkat, dapat menimbulkan anemia sampai syok.
4. Pada janin, turunnya bagian terbawah janin ke dalam pintu atas panggul
(PAP) akan terhalang, tidak jarang terjadi kelainan letak janin dalam rahim,
dan dapat menimbulkan asfiksia sampai kematian janin dalam rahim

G. DIAGNOSIS
Anamnesis perdarahan tanpa keluhan, perdarahan berulang. Klinis kelainan
letak dari perabaan fornises teraba bantalan lunak pada presentasi kepala.
Pemeriksaan dalam pada plasenta previa hanya dibenarkan di kamar operasi yang
telah siap untuk melakukan operasi segera.2

6
Diagnosis plasenta previa (dengan perdarahan sedikit) ditegakkan dengan
pemeriksaan ultrasonografi (USG). Dengan pemeriksaan USG transabdominal
ketepatan diagnosisnya mencapai 95-98%. Dengan USG transvaginal atau
transperitoneal (translabial), ketepatannya akan lebih tinggi lagi.2
Plasenta previa telah diklasifikasikan oleh tingkat perambahan pada os.
servikal internal. Dalam plasenta previa, perdarahan lebih mungkin terjadi selama
trimester ketiga, sebagai konsekuensi dari perkembangan segmen bawah rahim
dan pelebaran leher rahim yang disebabkan oleh kontraksi uterus, pemeriksaan
vagina juga dapat menyebabkan perdarahan antepartum. Faktor risiko untuk
pengembangan plasenta previa termasuk pengiriman sebelum seksio sesarea,
terminasi kehamilan, operasi intrauterine, merokok, kehamilan multifetal,
peningkatan paritas, usia ibu dan peningkatan tingkat seksio caesar. Plasenta
previa berhubungan dengan konsekuensi yang merugikan bagi ibu dan anak,
seperti Intra-Uterine Growth Restriction (IUGR), kelahiran prematur, antenatal
dan intrapartum perdarahan, transfusi darah ibu dan histerektomi darurat.7

H. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan pada plasenta previa dapat dibagi dalam 2 golongan, yaitu :
1. Konservatif
Semua wanita hamil yang mengalami perdarahan pada trimester kedua
atau trimester ketiga harus dirawat di rumah sakit. Pasien diminta istirahat
baring dan dilakukan pemeriksaan darah lengkap. Jika kemudian ternyata
perdarahan tidak banyak dan berhenti serta janin dalam keadaan sehat dan
masih prematur dibolehkan pulang dilanjutkan dengan rawat jalan dengan
syarat telah mendapat konsultasi yang cukup terhadap keluarga agar segera
kembali ke rumah sakit bila terjadi perdarahan ulang, walaupun kelihatan
tidak mencemaskan.6
Pada usia kehamilan antara 24 minggu sampai 34 minggu diberikan
steroid dalam perawatan antenatal untuk pematangan paru janin. Pada
keadaan yang tampak stabil saat rawat jalan, hubungan suami istri dan
mengerjakan pekerjaan rumah tangga harus dihindari.6

7
Selama rawat inap mungkin diperlukan transfusi darah dan pemantauan
kesehatan janin dan observasi kesehatan maternal. Dalam keadaan janin
masih prematur dipertimbangkan pemberian tokolitik untuk menekan his
sementara waktu sembari memberi steroid untuk mempercepat pematangan
paru janin.6

2. Aktif
Dilakukan dengan segera mengakhiri kehamilan sebelum terjadi
perdarahan yang dapat menimbulkan kematian, misalnya: kehamilan telah
cukup bulan, perdarahan banyak, dan anak telah meninggal.2
Dengan cara seksio sesarea, yang dimaksud untuk mengosongkan rahim
sehingga rahim dapat berkontraksi dan menghentikan perdarahan. Selain itu
seksio sesarea juga dapat mencegah terjadinya robekan serviks dan segmen
bawah rahim yang sering terjadi pada persalinan pervaginam. Kebanyakan
seksio sesarea pada plasenta previa dapat dilakukan melalui insisi melintang
pada segmen bawah rahim bagian anterior terutama jika plasentanya terletak
dibelakang dan segmen bawah rahim telah terbentuk dengan baik.2,6
Histerektomi dilakukan jika terjadi perdarahan setelah pengeluaran bayi
melalui insisi pada segmen bawah rahim ataupun saat tindakan manual
plasenta pada retensio plasenta, dimana perdarahan tersebut di atas tidak
dapat terkendali dengan cara seperti penjahitan segmen bawah rahim, ligasi
arteri uterina, ligasi arteri ovarika, ligasi arteri hipogastrik.6

8
I. KOMPLIKASI
Ada beberapa komplikasi yang bisa terjadi pada ibu hamil yang menderita
plasenta previa, yaitu : 5,6
1. Komplikasi pada ibu
a. Dapat terjadi anemia, syok hipovolemik bahkan kematian
b. Dapat terjadi robekan pada serviks dan segmen bawah rahim yang
rapuh
c. Infeksi karena perdarahan yang banyak.

2. Komplikasi pada janin


a. Kelainan letak janin.
b. Prematuritas dengan morbiditas dan mortalitas tinggi

9
c. Asfiksia intra uterin sampai dengan kematian

J. PROGNOSIS
Prognosis ibu pada plasenta previa saat ini lebih baik jika dibandingkan
dengan masa lalu. Hal ini dikarenakan diagnosa yang lebih dini, ketersediaan
transfusi darah, dan infus cairan yang telah ada di hampir semua rumah sakit
kabupaten. Demikian juga dengan kesakitan dan kematian anak mengalami
penurunan, namun masih belum terlepas dari komplikasi kelahiran prematur
baik yang lahir spontan maupun karena intervensi seksio cesarea. Karenanya
kelahiran prematur belum sepenuhnya bisa dihindari sekalipun tindakan
konservatif diberlakukan. 6

10
BAB III

STATUS OBSTETRI

Tanggal Masuk Rumah Sakit : 6 April 2018 Tanggal Pemeriksaan : 6-04-2018


Ruangan : K. Bersalin Jam : 14.00 WITA

IDENTITAS
Nama : Ny. w
Umur : 41 tahun
Alamat : jl. Irigasi
Pekerjaan : IRT
Agama : Islam
Pendidikan : SMP

ANAMNESIS
G6P5A0 Usia Kehamilan : 34-35 minggu
HPHT :?-09-2017 Menarche : 13 tahun
TP : ?-06-2018 Perkawinan : Pertama (28 tahun)

Keluhan Utama : Keluar darah dari jalan lahir


Riw. Penyakit Sekarang :
Pasien Ny. W 41 tahun, G6P5A0 usia kehamilan 34-35 minggu masuk ke
RS Undata dengan keluhan keluar darah dari jalan lahir sejak ±.5jam yang
lalu. Darah berwarna merah segar, bergumpal sedikit, tanpa disertai rasa
nyeri perut tembus belakang, serta tidak ada pelepasan lendir dan air. Darah
merembes terus-menerus sampai menghabiskan 1 pembalut. Pasien
mengaku masih merasakan gerakan janinnya. mual (-), muntah (-), pusing (-
), sakit kepala (-). BAB 2 hari belumdan BAK lancar.
Riwayat ANC 4 kali dengan bidan pasien belum pernah mengontrol
kehamilannya ke dokter dan melakukan USG kehamilan. Tidak ada riwayat

11
jatuh ataupun terbentur pada bagian perut, riwayat urut pada perut
disangkal.

Riwayat Penyakit Dahulu :


Riwayat menstruasi sebelumnya teratur (+) tiap bulan dengan durasi 5-7 hari.
Riwayat Hipertensi (-), Riwayat Diabetes Mellitus (-), Asma (-), Alergi (-).

Riwayat Obstetri :
1 Melahirkan tahun 1990, partus per vaginam, di rumah di tolong dukun bayi
meninggal umur 1 tahun
2 Melahirkan tahun 1994, partus pervaginam, di Rumah, di tolong oleh dukun jk
perempuan, hidup
3 Melahirkan dirumah di tolong oleh bidan, partus pervaginam
4 Melahirkan dirumah di tolong oleh bidan, partus pervaginam
5 Melahirkan dirumah di tolong oleh bidan, partus pervaginam
6 Kehamilan sekarang , 2018

Riwayat ANC : 4x di bidan


Riwayat Imunisasi :-

PEMERIKSAAN FISIK
1. KU : Sakit sedang
2. Kesadaran : Kompos mentis
3. Vital sign : Tekanan darah : 120/80 mmHg
Nadi : 80 kali/menit
Respirasi : 20 kali/menit
Suhu : 36,5ºC
4. Kepala – Leher :
Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterus (-/-), edema palpebra (-/-),
pembesaran KGB (-), pembesaran kelenjar tiroid (-)
5. Thorax :

12
I : Pergerakan thoraks simetris, sikatrik (-)
P : Nyeri tekan (-), massa tumor (-)
P : Sonor pada kedua lapang paru, pekak pada area jantung, batas jantung
DBN
A : Bunyi pernapasan vesikular +/+, rhonki -/-, wheezing -/-. Bunyi jantung
I/II murni reguler
6. Abdomen :
I : Tampak cembung, stria gravidarum, linea nigra
A : Peristaltik usus (+) kesan normal
P : Timpani diseluruh kuadran
P : Nyeri tekan (-)
7. Ekstremitas :
Atas : Akral hangat, edema -/-
Bawah : Akral hangat, edema -/-

8. Ginekologi
Pemeriksaan luar :
1. Vulva : Dalam batas normal
2. Vagina : Tidak ada kelainan
3. Kelenjar bartolini : Tidak ada pembesaran
4. Kelenjar skene : Tidak ada pembesaran
Pelepasan : Darah (+)

PEMERIKSAAN OBSTETRI :
Leopold I : 3 jari di bawah processus xhypoideus TBJ : 3255 gr
Leopold II : punggung kanan
Leopold III : presentasi kepala
Leopold IV : belum memasuki pintu atas panggul
HIS :-
Pergerakan Janin : Aktif
Janin Tunggal :+

13
Denyut Jantung Janin : 139 kali/menit
Pemeriksaan dalam tidak dilakukan

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Darah rutin:
 WBC : 9,7 x 103/uL
 RBC : 3,96 x 106/uL
 HCT : 37,4 %
 HGB : 11,8 g/dL
 PLT : 193 x 103/uL
HbSAg : non reaktif
RT HIV : non reaktif
RESUME
Pasien Ny. W 41 tahun, G6P5A0 usia kehamilan 34-35 minggu masuk ke
RS Undata dengan keluhan keluar darah dari jalan lahir sejak ±.5jam yang
lalu. Darah berwarna merah segar, bergumpal sedikit, tanpa disertai rasa
nyeri perut tembus belakang, serta tidak ada pelepasan lendir dan air. Darah
merembes terus-menerus sampai menghabiskan 1 pembalut. Pasien
mengaku masih merasakan gerakan janinnya
Riwayat ANC 4 kali dengan bidan pasien belum pernah mengontrol
kehamilannya ke dokter dan melakukan USG kehamilan. Tidak ada riwayat
jatuh ataupun terbentur pada bagian perut, riwayat urut pada perut
disangkal.
Tekanan darah : 120/80 mmHg
Nadi : 80 kali/menit
Respirasi : 20 kali/menit
Suhu : 36,5ºC

Riwayat Penyakit Dahulu :


Riwayat menstruasi sebelumnya teratur (+) tiap bulan dengan durasi 5-7 hari.

14
Riwayat Hipertensi (-), Riwayat Diabetes Mellitus (-), Asma (-), Alergi (-).
DIAGNOSIS
G6P5A0 + gravid 34-35 minggu + perdarahan antepartum ec. Susp. Plasenta
Previa

PENATALAKSANAAN
- Bed Rest total
- IVFD RL 18 tpm
- Inj. As. Tranexamat 500 mg amp 5 ml /8 jam
- Inj. Dexamethason 5 mg / 1 ml ,1 amp/12 jam
- Hystolan 20 mg 4x1
- Nefedipin 10 mg 3x1
- Rencana USG

Follow Up Hari 1 (07 april 2018)


S: PPV (+) sedikit, pusing (+), nyeri perut (+), mual (-), muntah (-). BAB (-) 2
hari dan BAK lancar.
O: Sakit sedang/komposmentis
TD 120/80 mmHg
N 78 x/mnt
R 20x/mnt
S 36,5
BJF 138 x menit
A: G6P5A0 + gravid 34-35 minggu + perdarahan antepartum ec. Susp. Plasenta
Previa
P: - Bed Rest total
- IVFD RL 18 tpm
- Inj. As. Tranexamat 500 mg amp 5 ml /8 jam
- Inj. Dexamethason 5 mg / 1 ml ,1 amp/12 jam
- Hystolan 20 mg 4x1
- Nefedipin 10 mg 3x1

15
Follow Up Hari 2, (08 april 2018)
S: PPV (+) sedikit-sedikir, pusing (-), nyeri perut (-), mual (-), muntah (-), BAB (-
) dan BAK lancar.
O: Sakit sedang/komposmentis
TD 120/70 mmHg
N 76 x/mnt
R 20x/mnt
S 36,5
BJF 131 x menit
A G6P5A0 + gravid 34-35 minggu + Plasenta Previa parsialis
P: - Bed Rest total
- IVFD RL 18 tpm
- Inj. As. Tranexamat 500 mg amp 5 ml /8 jam
- Hystolan 20 mg 4x1
- Nefedipin 10 mg 3x1

Follow Up Hari 3, (09 april 2018)


S: PPV (+) sedikit-sedikir, pusing (-), nyeri perut (-), mual (-), muntah (-), BAB (-
) dan BAK lancar.
O: Sakit sedang/komposmentis
TD 120/80 mmHg
N 80 x/mnt

16
R 20x/mnt
S 36,5
BJF 138 x menit
A G6P5A0 + gravid 34-35 minggu + Plasenta Previa parsialis
P: - Bed Rest total
- IVFD RL 18 tpm
- Inj. As. Tranexamat 500 mg amp 5 ml /8 jam
- Hystolan 20 mg 4x1
- Nefedipin 10 mg 3x1

Follow Up Hari 4 (10 april 2018)


S: PPV (+) sedikit-sedikir, pusing (-), nyeri perut (-), mual (-), muntah (-), BAB
(+) dan BAK lancar.
O: Sakit sedang/komposmentis
TD 110/70 mmHg
N 70 x/mnt
R 20x/mnt
S 36,5
BJF 140 x menit
A G6P5A0 + gravid 34-35 minggu + Plasenta Previa parsialis
P: - Bed Rest total
- IVFD RL 18 tpm
- Inj. As. Tranexamat 500 mg amp 5 ml /8 jam
- Hystolan 20 mg 4x1
- Nefedipin 10 mg 3x1
- Pro sc Elektif 11/04/2018
- Konsul kardiologi
- Konsul Anasthesi

17
Follow Up Hari 5 (11 april 2018)
S: Nyeri luka post op (+) PPV (+) sedikit-sedikir, pusing (-), nyeri perut (-), mual
(-), muntah (-), BAB (-) dan BAK lancar.
O: Sakit sedang/komposmentis
TD 110/70 mmHg
N 70 x/mnt
R 20x/mnt
S 36,5
BJF 140 x menit
A G6P5A0 + gravid 34-35 minggu + Plasenta Previa parsialis
P: Dilakukan Sectio Caesarea Transperitoneal + Tubektomi bilateral

Instruksi post SCTP + Tubektomi bilateral

- IVFD RL: Dextrose 5 %: Futrolit (1:1:1) 20 tpm


- Injeksi ceftriaxone 1 gr/12 jam
- Drips Oxytosin 1 amp/kolf
- Drips metronidazole 500mg/8 jam
- Injeksi Ketorolac 30 mg/8 jam
- inj. Asam Tranexamat 500 mg /8 jam
- Inj. Ranitidin 50 mg/12 jam
- cek HB 2 jam post op
-Obeservasi TTV
Laporan operasi:
1. Pasien dibaringkan dengan posisi supine, dibawah pengaruh spinal
anasthesi
2. Disinfeksi area operasi dengan kassa steril dan betadine
3. Pasang doek steril
4. Insisi abdomen dengan metode pfannenstiel, lapis demi lapis
menembus rongga perut secara tajam dan tumpul, menembus kulit,
lemak, otot, fascia, dan peritoneum, kontrol perdarahan
5. Eksplorasi cavum abdomen, insisi uterus dengan segmen bawah
Rahim lapis demi lapis, menembus plika vesicouterina, myometrium,
endomentrium, secara tajam dan tumpul, kontrol perdarahan
6. Pecahkan ketuban, ketuban tampak berwarna jernih, volume cukup

18
7. Bayi dilahirkan dengan keadaan hidup, bayi G1 lahir dengan presentasi
kepala dengan jenis kelamin, laki-laki
8. Plasenta dilahirkan secara manual dan lengkap, pasang gastrula 4 tab
per-rektal
9. Jahit uterus lapis demi lapis, kontrol perdarahan
10. Identifikasi kedua tuba
11. Dilakukan tubektomi pada tuba kira dan tuba kanan
12. Dilakukan eksplorasi dan bersihkan cavum abdomen, kontrol
perdarahan
13. Jahit abdomen lapis demi lapis, dari peritoneum, otot, fascia, lemak
dan kulit, kontrol perdarahan
14. Bersihkan luka dan tutup dengan kassa steril dan betadine
15. Vagina toilet
16. Operasi selesai

Follow Up Hari 6 (12 april 2018)


S: Nyeri luka post op (+) PPV (+) sedikit-sedikir, pusing (-), nyeri perut (-), mual
(-), muntah (-), BAB (-) dan BAK lancar.
O: Sakit sedang/komposmentis
TD 120/70 mmHg Peristaltik (+)
N 80 x/mnt
R 20x/mnt
S 36,5
A P6A1 post SCTP Atas Indikasi Placenta previa parsialis + Tubektomi Bilateral
H1
P: - IVFD RL: Dextrose 5 %: Futrolit (1:1:1) 20 tpm
- Injeksi ceftriaxone 1 gr/12 jam
- Drips Oxytosin 1 amp/kolf
- Drips metronidazole 500mg/8 jam
- Injeksi Ketorolac 30 mg/8 jam
- inj. Asam Tranexamat 500 mg /8 jam
- Inj. Ranitidin 50 mg/12 jam

19
Follow Up Hari 7 (13 april 2018)
S: Nyeri luka post op (+) PPV (-) pusing (-), nyeri perut (-), mual (-), muntah (-
), BAB (-) dan BAK lancar.
O: Sakit sedang/komposmentis
TD 120/80 mmHg peristaltik (+)
N 80 x/mnt
R 20x/mnt
S 36,5
A P6A1 post SCTP Atas Indikasi Placenta previa parsialis + Tubektomi Bilateral
H2
P:
 Aff infus dan kateter
 Cefadroxyl 2x500 mg
 Asam mefenamat 3x500 mg
 Sf 1x1 tab

Follow Up Hari 8 (14 april 2018)


S: Nyeri luka post op (+) PPV (-) pusing (-), nyeri perut (-), mual (-), muntah (-
), BAB (-) dan BAK lancar.
O: Sakit sedang/komposmentis
TD 120/70 mmHg peristaltik (+)
N 80 x/mnt Flatus (+)
R 20x/mnt Luka post op kering
S 36,5
A P6A1 post SCTP Atas Indikasi Placenta previa parsialis + Tubektomi Bilateral
H2
P:
 Cefadroxyl 2x500 mg
 Asam mefenamat 3x500 mg
 Sf 1x1 taab
 Rawat jalan kontrol poli

20
BAB IV

PEMBAHASAN

Plasenta previa adalah keadaan dimana plasenta berimplantasi pada tempat


abnormal, yaitu pada segmen bawah rahim sehingga menutupi sebagian atau
seluruh pembukaan jalan lahir (ostium uteri internal). Klasifikasi jenis plasenta
previa:
- Plasenta previa totalis, ostium uteri internum seluruhnya tertutupi oleh
plasenta.
- Plasenta previa parsialis, sebagian ostium uteri internum tertutupi oleh
plasenta.
- Plasenta previa marginalis, tepi plasenta terletak di batas ostium uteri
internum.
- Plasenta letak rendah, plasenta berimplantasi di segmen bawah uterus
sedemikian rupa sehingga tepinya berada pada jarak ≤ 3-4cm dari ostium
uteri internum.

1. Diagnosis
Pada kasus ini, hal yang mendukung diagnosis plasenta previa adalah dari
anamnesis diperoleh adanya keluhan keluarnya darah dari jalan lahir, tanpa
disertai nyeri perut, tidak ada riwayat trauma sebelumnya dan adanya riwayat
perdarahan sebelumnya yang dialami pada usia kehamilan 34 minggu/ 8 bulan,
namun dalam jumlah yang sedikit, berwarna merah segar. Hal ini sesuai dengan
teori yang menyatakan bahwa pendarahan pada plasenta previa awalnya dapat
berhenti sendiri karena terjadi pembekuan darah kecuali jika laserasi cukup besar
misalnya ada laserasi yang mengenai sinus yang besar dari plasenta sehingga
perdarahan akan berlangsung lebih lama dan lebih banyak. Pendarahan pada
plasenta previa dapat berulang disebabkan karena pembentukan segmen bawah
rahim yang berlangsung progresif dan bertahap, maka munculnya laserasi baru
akan mengulang terjadinya perdarahan tanpa suatu penyebab lain yang jelas
misalnya trauma. Dari pemeriksaan fisik ditemukan kedua konjungtiva bulbi tidak

21
anemis. Pemeriksaan Obstetri: Leopold IV diperoleh janin belum masuk PAP.
Dari pemeriksaan genitalia juga ditemukan keluarnya darah dari vagina.
Pada plasenta previa akan terjadi perdarahan berwarna merah segar pada awal
kehamilan karena terjadi pembentukan segmen bawah rahim yang lebih dahulu
terbentuk pada bagian terbawah yaitu pada ostium uteri internum. Plasenta yang
berimplantasi di daerah tersebut akan sedikit mengalami laserasi akibat pelepasan
pada desidua basalis.6
Plasenta previa meningkat kejadiannya pada keadaan-keadaan yang
endometriumnya kurang baik. Keadaan ini bisa ditemukan pada2 :
1. Multipara, terutama jarak antara kehamilannya pendek.
2. Mioma uteri
3. Kuretase yang berulang
4. Usia lanjut
5. Bekas seksio sesarea
6. Hipoksemi yang terjadi akibat karbonmonoksida dengan hipertrofi plasenta.
Hal ini terjadi terutama pada perokok berat.

Dari keadaan-keadaan yang diuraikan di atas. Pasien ini ditemukan beberapa


keadaan yang meningkatkan kemungkinan keadaan endometrium kurang baik,
yaitu multipara.
Keadaan endometrium yang kurang baik menyebabkan plasenta harus tumbuh
menjadi luas untuk mencukupi kebutuhan janin. Plasenta yang tumbuh meluas
akan mendekati atau menutup ostium uteri internum. Endometrium yang kurang
baik juga dapat menyebabkan zigot mencari tempat implantasi yang lebih baik,
yaitu di tempat yang rendah dekat ostium uteri internum.3
Perdarahan pertama sudah bisa terjadi pada kehamilan di bawah 30 minggu
tetapi lebih separuh kejadiannya pada umur kehamilan 34 mingu atau lebih.
Berhubung tempat perdarahan terletak dekat dengan ostium uteri internum, maka
perdarahan lebih mudah mengalir keluar rahim. Pada plasenta previa, perdarahan
pertama biasanya sedikit-sedkit tetapi cenderung bertambah pada perdarahan
berikutnya. Namun, jika dibandingan dengan solusio plasenta, tempat perdarahan

22
terletak dengan ostium uteri internum, maka perdarahan lebih mudah mengalir ke
luar rahim dan tidak membentuk hematoma retroplasenta yang mampu merusak
jaringan lebih luas dan melepaskan tromboplastin ke dalam sirkulasi maternal.
Dengan demikian, sangat jarang terjadi koagulopati pada plasenta previa.
Perdarahan pada plasenta previa dapat diperberat karena struktur segmen bawah
rahim yang lebih banyak terdiri dari jaringan ikat daripada otot seperti pada
segmen atas uterus, sehingga segmen bawah rahim tidak dapat berkontraksi
optimal dalam menjepit cabang pembuluh darah yang memvaskularisasi plasenta.8
Mengalami perdarahan dalam trimeseter kedua dan ketiga harus dirawat di
rumah sakit. Jika kemudian perdarahan tidak banyak dan berhenti serta janin
dalam kedaan sehat dan prematur, dibolehkan pulang dengan syarat segera
kembali ke rumah sakit jika terjadi perdarahan ulang. Pada keadaan yang stabil
dalam rawatan di rumah sakit hubungan suami istri dan kerja rumah tangga
dihindari kecuali jika setelah pemeriksaan USG, minimal setelah 4 minggu,
menunjukkan ada migrasi plasenta menjauhi ostium uteri internum. Selama rawat
inap mungkin diperlukan transfusi darah dan dilakukan pemantauan kesehatan
janin dan observasi kesehatan maternal yang ketat, karena waktu terjadinya
perdarahan ulang tidak dapat diprediksi. Pada pasien ini, untuk mengatasi
perdarahan yang terjadi diberikan asam tranexamat tiap 8 jam yang bekerja
sebagai agen antiplasminogen yang dapat mengoptimalkan pembekuan darah
untuk menghentikan perdarahan. Pemberian SF 1x1 dimaksudkan untuk
meningkatkan hemopoiesis 9

23
DAFTAR PUSTAKA

1. Triana, A., Kegawatdaruratan Maternal dan Neonatal. Sleman: Deepublish;


2015
2. Sastrawinata, S., Ilmu Kesehatan Reproduksi: Obstetri Patologi. Jakarta: EGC;
2004
3. Leveno, K.J., Obstetri Williams: Panduan Ringkas. Jakarta: EGC; 2009
4. Achadiat, C.M., Prosedur Tetap Obstetri dan Ginekologi. Jakarta: EGC; 2004
5. Manuaba, I.B.G., Pengantar Kuliah Obstetri. Jakarta: EGC; 2007
6. Prawiroharjo, Sarwono, 2010. Ilmu Kandungan ; Plasenta Previa. Jakarta :
Yayasan Bina Pustaka.
7. Bari AS. Ilmu Kebidanan Sarwono Prawiroharjo (4th ed). Jakarta: Bina
Pustaka Sarwono Prawirohardjo, 2008; p. 495-502. 5.
8. Adigun TA, Eyelade O. Choice of anaesthetic technique for delivery of
pregnancy complicated by placenta previa in Ibadan. OMICS Publishing
Group, 2012. 6.
9. Genovese F, et al. Management and time of delivery in asymptomatic complete
placenta previa: a case report and review of literature. OMICS Publishing
Group; 2012.

24