Anda di halaman 1dari 21

Wrap Up

Skenario 2
Blok Medikolegal
“Mayat Perempuan di Kamar Kos”

Kelompok B-13

Ketua : Nevy Ulfah Hanawati (1102014192)


Sekretaris : Rizma Mudzalifah (1102014234)
Anggota : Muhammad Luthfi D (1102014158)
Muhammad Khalil Akbar (1102014169)
Muhammad Rifai Suparta (1102014171)
Nabila Kurniati (1102014181)
Raditya Prasidya (1102014217)
Santi Noor Aprilianti (1102014237)
Tri Hardi Putranto (1102014270)
Najla Quratu’ain (1102013205)

Fakultas Kedokteran
Universitas YARSI Jakarta
2017/2018
SKENARIO 2
Mayat Perempuan di Kamar Kos

Mayat seorang perempuan diduga berusia 23 tahun ditemukan meninggal di kamar kos-
kosannya di daerah Salemba. Korban ditemukan setengah telanjang dengan tangan diikat dan
mulut di sumpal. Mayat dalam keadaan mulai membusuk, berbau, ditemukan belatung pada
bagian lubang hidungnya, kulit mulai mengelupas dan tampak pembuluh darah mulai melebar
pada bagian dada dan leher. Diperkirakan kejadian sekitar 3 hari yang lalu.

Polisi menduga korban diperkosa sebelum dibunuh. Tim identifikasi mengambil sidik jari
korban dan mengambil swab vagina untuk memastikan adanya sperma pelaku.

1
KATA SULIT : -

PERTANYAAN :
1. Apa penyebab kematian pada korban?
2. Mengapa terdapat belatung pada lubang hidung korban?
3. Apa saja tanda-tanda kematian?
4. Mengapa bisa ditetapkan kematian 3 hari yang lalu?
5. Bagaimana cara menentukan korban pemerkosaan sebelum atau sesudah meninggal?
6. Bagaimana cara menentukan waktu kematian?
7. Mengapa pembuluh darah yang melebar terdapat pada bagian leher dan dada?
8. Bagaimana hukuman yang diberikan menurut pandangan islam?
9. Apa saja ciri-ciri tanda mayat yang membusuk?
10. Apa saja pemeriksaan yang dilakukan pada korban pemerkosaan?

JAWABAN :
1) - Karena ada sumbatan jalan nafas
- Karena efek dari dehidrasi atau kelaparan
- Karena punya penyakit jantung
- adanya pencekikan terjadi obstruksi sehingga pembuluh darah dibawah terdapat
tekanan dan melebar
2) Karena telur gampang menetas pada lubang-lubang tertentu, dan adanya kelembapan suhu
jadi telur bertahan hidup di dalam lubang tersebut
3) Mati batang otak, henti nafas, henti jantung
4) Ada belatung, dan lalat mempunyai nekrofagus telur 24 jam, belatung 3-6 hari, dan dewasa
12-18 hari
5) Pada yang sudah meninggal: otot tidak ada kontraksi, posisi lemas atau diam, tidak ada
tanda kekerasan
Pada yang masih hidup: pasti ada tanda bekas cekikan/perlawanan

6) Terdapat 8 tahap: Palor mortis (pucat, 2 – 4 jam), albor mortis, Rigor mortis (6 – 12 jam),
livor mortis (8 – 12 jam), purtefaction (bakteri GIT pada abdomen kanan bawah menyebar ke
rongga perut lalu wajah), dekomposisi (3 hari), skeletonization, fossilitization

7) Ada sumbatan jalan nafas, dehidrasi/kelaparan, punya penyakit jantung, adanya


pencekikan terjadi obstruksi sehingga pembuluh darah dibawah terdapat tekanan dan melebar

8) Jika ada pembuktian membunuh: Qishsah, jika tidak sengaja: membayar diyat. Pada
pemerkosaan jika sudah menikah dilakukan rajam, jika belum menikah di cambuk

9) Bau, ada belatung, kulit terkelupas, pualam, warna merah gelap. Jika keracunan sianida
atau karbonmonoksida warna merah terang, jika keracunan nitrit nitrat warna merah coklat

10) Swab vagina untuk menentukan sperma pelaku (hidup 4-5 jam, mati >48 jam),
pemeriksaan laboratorium (DNA, darah, mikrobiologi, enzim). Pada korban jangan di sentuh
dulu karena akan mempengaruhi proses sidik jari (tangan, baju, rambut, badan)

2
HIPOTESIS
Kematian di tandai dengan adanya tanda mati batang otak, henti nafas, henti jantung. Penetapan
waktu kematian dapat dilakukan dengan Palor mortis, albor mortis, Rigor mortis, livor mortis,
purtefaction, dekomposisi,skeletonization, fossilitization dan adanya belatung yang muncul.
Ciri – ciri tanda mayat yang membusuk seperti adanya bau, ada belatung, kulit terkelupas,
pualam, warna merah gelap. Pada kasus penyebab kematian dikarenakan adanya sumbatan
jalan nafas, dehidrasi/kelaparan, punya penyakit jantung. Adanya belatung karena telur
gampang menetas pada lubang-lubang tertentu, dan adanya kelembapan suhu. Adanya
pembuluh darah yang melebar pada leher dan dada karena adanya pencekikan terjadi obstruksi
sehingga pembuluh darah dibawah terdapat tekanan dan melebar. Pemeriksaan yang dilakukan
pada korban pemerkosaan dengan swab vagina untuk menentukan sperma pelaku (hidup 4-5
jam, mati >48 jam), pemeriksaan laboratorium (DNA, darah, mikrobiologi, enzim). Pada
korban jangan di sentuh dulu karena akan mempengaruhi proses sidik jari (tangan, baju,
rambut, badan). Cara menentukan korban pemerkosaan sebelum atau sesudah kematian adalah
dilihat dari tanda adanya perlawanan atau tidak. Dan hukum islam dalam membunuh adalah
qishash dan di rajam.

3
SASARAN BELAJAR

1. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN PERUBAHAN SETELAH KEMATIAN


2. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN INVESTIGASI KASUS
PEMERKOSAAN
3. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN SANKSI DAN HUKUM
PEMERKOSAAN DAN PEMBUNUHAN DALAM ISLAM

4
1. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN PERUBAHAN SETELAH KEMATIAN

Definisi Tanatologi
Tanatologi berasal dari kata thanatos (yang berhubungan dengan kematian) dan logos (ilmu).
Tanatologi adalah bagian dari Ilmu Kedokteran Forensik yang mempelajari hal-hal yang
berkaitan dengan kematian yaitu definisi atau batasan mati, perubahan yang terjadi pada tubuh
setelah terjadi kematian dan faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan tersebut (Idries,
1997). Mati menurut ilmu kedokteran didefinisikan sebagai berhentinya fungsi sirkulasi dan
respirasi secara permanen (mati klinis). Dengan adanya perkembangan teknologi ada alat yang
bisa menggantikan fungsi sirkulasi dan respirasi secara buatan. Oleh karena itu definisi
kematian berkembang menjadi kematian batang otak. Brain death is death. Mati adalah
kematian batang otak (Idries, 1997).

Manfaat
Ada tiga manfaat tanatologi ini, antara lain untuk dapat menetapkan hidup atau matinya korban,
memperkirakan lama kematian korban, dan menentukan wajar atau tidak wajarnya kematian
korban. Menetapkan apakah korban masih hidup atau telah mati dapat kita ketahui dari masih
adanya tanda kehidupan dan tanda-tanda kematian. Tanda kehidupan dapat kita nilai dari masih
aktifnya siklus oksigen yang berlangsung dalam tubuh korban. Sebaliknya, tidak aktifnya
siklus oksigen menjadi tanda kematian (AlFatih II, 2007).

Jenis Kematian
Agar suatu kehidupan seseorang dapat berlangsung, terdapat tiga sistem yang
mempengaruhinya. Ketiga sistem utama tersebut antara lain sistem persarafan, sistem
kardiovaskuler dan sistem pernapasan. Ketiga sistem itu sangat mempengaruhi satu sama
lainnya, ketika terjadi gangguan pada satu sistem, maka sistem-sistem yang lainnya juga akan
ikut berpengaruh (Idries, 1997). Dalam tanatologi dikenal beberapa istilah tentang mati, yaitu
mati somatis (mati klinis), mati suri, mati seluler, mati serebral dan mati otak (mati batang
otak).
1. Mati somatis (mati klinis) ialah suatu keadaan dimana oleh karena sesuatu sebab terjadi
gangguan pada ketiga sistem utama tersebut yang bersifat menetap (Idries, 1997). Pada
kejadian mati somatis ini secara klinis tidak ditemukan adanya refleks, elektro
ensefalografi (EEG) mendatar, nadi tidak teraba, denyut jantung tidak terdengar, tidak
ada gerak pernapasan dan suara napas tidak terdengar saat auskultasi.
2. Mati suri (apparent death) ialah suatu keadaan yang mirip dengan kematian somatis,
akan tetapi gangguan yang terdapat pada ketiga sistem bersifat sementara. Kasus seperti
ini sering ditemukan pada kasus keracunan obat tidur, tersengat aliran listrik dan
tenggelam (Idries, 1997).
3. Mati seluler (mati molekuler) ialah suatu kematian organ atau jaringan tubuh yang
timbul beberapa saat setelah kematian somatis. Daya tahan hidup masing-masing organ
atau jaringan berbeda-beda, sehingga terjadinya kematian seluler pada tiap organ tidak
bersamaan (Budiyanto, 1997).

5
4. Mati serebral ialah suatu kematian akibat kerusakan kedua hemisfer otak yang
irreversible kecuali batang otak dan serebelum, sedangkan kedua sistem lainnya yaitu
sistem pernapasan dan kardiovaskuler masih berfungsi dengan bantuan alat (Budiyanto,
1997).
5. Mati otak (mati batang otak) ialah kematian dimana bila telah terjadi kerusakan seluruh
isi neuronal intrakranial yang irreversible, termasuk batang otak dan serebelum.
Dengan diketahuinya mati otak (mati batang otak) maka dapat dikatakan seseorang
secara keseluruhan tidak dapat dinyatakan hidup lagi, sehingga alat bantu dapat
dihentikan (Budiyanto, 1997).

Cara Mendeteksi Kematian


Melalui fungsi sistem saraf, kardiovaskuler, dan pernapasan, kita bisa mendeteksi hidup
matinya seseorang. Untuk mendeteksi tidak berfungsinya sistem saraf, ada lima hal yang harus
kita perhatikan yaitu tanda areflex, relaksasi, tidak ada pegerakan, tidak ada tonus, dan elektro
ensefalografi (EEG) mendatar/ flat. Untuk mendeteksi tidak berfungsinya sistem
kardiovaskuler ada enam hal yang harus kita perhatikan yaitu denyut nadi berhenti pada
palpasi, denyut jantung berhenti selama 5-10 menit pada auskultasi, elektro kardiografi (EKG)
mendatar/ flat, tidak ada tanda sianotik pada ujung jari tangan setelah jari tangan korban kita
ikat (tes magnus), daerah sekitar tempat penyuntikan icard subkutan tidak berwarna kuning
kehijauan (tes icard), dan tidak keluarnya darah dengan pulsasi pada insisi arteri radialis.

Untuk mendeteksi tidak berfungsinya sisteim pernapasan juga ada beberapa hal yang harus kita
perhatikan, antara lain tidak ada gerak napas pada inspeksi dan palpasi, tidak ada bising napas
pada auskultasi, tidak ada gerakan permukaan air dalam gelas yang kita taruh diatas perut
korban pada tes, tidak ada uap air pada cermin yang kita letakkan didepan lubang hidung atau
mulut korban, serta tidak ada gerakan bulu ayam yang kita letakkan didepan lubang hidung
atau mulut korban (Modi, 1988).

Tanda Kematian
Kematian adalah suatu proses yang dapat dikenal secara klinis pada seseorang berupa tanda
kematian yang perubahannya biasa timbul dini pada saat meninggal atau beberapa menit
kemudian. Perubahan tersebut dikenal sebagai tanda kematian yang nantinya akan dibagi lagi
menjadi tanda kematian pasti dan tanda kematian tidak pasti.

a. Tanda kematian tidak pasti


1. Pernapasan berhenti, dinilai selama lebih dari 10 menit.
2. Terhentinya sirkulasi yang dinilai selama 15 menit, nadi karotis tidak teraba.
3. Kulit pucat
4. Tonus otot menghilang dan relaksasi.
5. Pembuluh darah retina mengalami segmentasi beberapa menit setelah kematian.
6. Pengeringan kornea menimbulkan kekeruhan dalam waktu 10 menit yang masih dapat
dihilangkan dengan meneteskan air mata (Budiyanto, 1997).

6
b. Tanda kematian pasti

a. Livor mortis
Nama lain livor mortis ini antara lain lebam mayat, post mortem lividity, post mortem
hypostatic, post mortem sugillation, dan vibices. Livor mortis adalah suatu bercak atau
noda besar merah kebiruan atau merah ungu (livide) pada lokasi terendah tubuh mayat
akibat penumpukan eritrosit atau stagnasi darah karena terhentinya kerja pembuluh
darah dan gaya gravitasi bumi, bukan bagian tubuh mayat yang tertekan oleh alas keras.
Bercak tersebut mulai tampak oleh kita kira-kira 20-30 menit pasca kematian klinis.
Makin lama bercak tersebut makin luas dan lengkap, akhirnya menetap kira-kira 8-12
jam pasca kematian klinis (Idries, 1997). Sebelum lebam mayat menetap, masih dapat
hilang bila kita menekannya. Hal ini berlangsung kira-kira kurang dari 6-10 jam pasca
kematian klinis. Juga lebam masih bisa berpindah sesuai perubahan posisi mayat yang
terakhir. Lebam tidak bisa lagi kita hilangkan dengan penekanan jika lama kematian
klinis sudah terjadi kira-kira lebih dari 6-10 jam. Ada 4 penyebab bercak makin lama
semakin meluas dan menetap, yaitu :
1. Ekstravasasi dan hemolisis sehingga hemoglobin keluar.
2. Kapiler sebagai bejana berhubungan.
3. Lemak tubuh mengental saat suhu tubuh menurun.
4. Pembuluh darah oleh otot saat rigor mortis.
Livor mortis dapat kita lihat pada kulit mayat. Juga dapat kita temukan pada organ
dalam tubuh mayat. Masing-masing sesuai dengan posisi mayat. Lebam pada kulit
mayat dengan posisi mayat terlentang, dapat kita lihat pada belakang kepala, daun
telinga, ekstensor lengan, fleksor tungkai, ujung jari dibawah kuku, dan kadang-kadang
di samping leher. Tidak ada lebam yang dapat kita lihat pada daerah skapula, gluteus
dan bekas tempat dasi.

Lebam pada kulit mayat dengan posisi mayat tengkurap, dapat kita lihat pada dahi, pipi,
dagu, bagian ventral tubuh, dan ekstensor tungkai. Lebam pada kulit mayat dengan
posisi tergantung, dapat kita lihat pada ujung ekstremitas dan genitalia eksterna. Lebam
pada organ dalam mayat dengan posisi terlentang dapat kita temukan pada posterior
otak besar, posterior otak kecil, dorsal paru-paru, dorsal hepar, dorsal ginjal, posterior
dinding lambung, dan usus yang dibawah (dalam rongga panggul).

Ada tiga faktor yang mempengaruhi livor mortis yaitu volume darah yang beredar,
lamanya darah dalam keadaan cepat cair dan warna lebam. Volume darah yang beredar
banyak menyebabkan lebam mayat lebih cepat dan lebih luas terjadi. Sebaliknya lebih
lambat dan lebih terbatas penyebarannya pada volume darah yang sedikit, misalnya
pada anemia. Ada lima warna lebam mayat yang dapat kita gunakan untuk
memperkirakan penyebab kematian yaitu (1) warna merah kebiruan merupakan warna
normal lebam, (2) warna merah terang menandakan keracunan CO, keracunan CN, atau
suhu dingin, (3) warna merah gelap menunjukkan asfiksia, (4) warna biru menunjukkan
keracunan nitrit dan (5) warna coklat menandakan keracunan aniline (Spitz, 1997).

7
Interpretasi livor mortis dapat diartikan sebagai tanda pasti kematian, tanda
memperkirakan saat dan lama kematian, tanda memperkirakan penyebab kematian dan
posisi mayat setelah terjadi lebam bukan pada saat mati. Livor mortis harus dapat kita
bedakan dengan resapan darah akibat trauma (ekstravasasi darah). Warna merah darah
akibat trauma akan menempati ruang tertentu dalam jaringan. Warna tersebut akan
hilang jika irisan jaringan kita siram dengan air (Mason, 1983).

b. Kaku mayat (rigor mortis)


Kaku mayat atau rigor mortis adalah kekakuan yang terjadi pada otot yang kadang-
kadang disertai dengan sedikit pemendekan serabut otot, yang terjadi setelah periode
pelemasan/ relaksasi primer; hal mana disebabkan oleh karena terjadinya perubahan
kimiawi pada protein yang terdapat dalam serabut-serabut otot (Gonzales, 1954).
1. Cadaveric spasme atau instantaneous rigor adalah suatu keadaan dimana terjadi
kekakuan pada sekelompok otot dan kadang-kadang pada seluruh otot, segera
setelah terjadi kematian somatis dan tanpa melalui relaksasi primer (Idries, 1997).
2. Heat Stiffening adalah suatu kekakuan yang terjadi akibat suhu tinggi, misalnya
pada kasus kebakaran (Idries, 1997).
3. Cold Stiffening adalah suatu kekakuan yang terjadi akibat suhu rendah, dapat terjadi
bila tubuh korban diletakkan dalam freezer, atau bila suhu keliling sedemikian
rendahnya, sehingga cairan tubuh terutama yang terdapat sendi-sendi akan
membeku (Idries, 1997).

Kaku mayat akan terjadi pada seluruh otot, baik otot lurik maupun otot polos. Dan
bila terjadi pada otot rangka, maka akan didapatkan suatu kekakuan yang mirip atau
menyerupai papan sehingga dibutuhkan cukup tenaga untuk dapat melawan kekakuan
tersebut , bila hal ini terjadi otot dapat putus sehingga daerah tersebut tidak mungkin
lagi terjadi kaku mayat.

Kaku mayat mulai terdapat sekitar 2 jam post mortem dan mencapai puncaknya setelah
10-12 jam pos mortem, keadaan ini akan menetap selama 24 jam dan setelah 24 jam
kaku mayat mulai menghilang sesuai dengan urutan terjadinya, yaitu dimulai dari otot-
otot wajah, leher, lengan, dada, perut, dan tungkai. Adanya kejanggalan dari postur
pada mayat dimana kaku mayat telah terbentuk dengan posisi sewaktu mayat
ditemukan, dapat menjadi petunjuk bahwa pada tubuh korban telah dipindahkan setelah
mati. Ini mungkin dimaksudkan untuk menutupi sebab kematian atau cara kematian
yang sebenarnya.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kaku mayat :

a) Kondisi otot
1) Persediaan glikogen
Cepat lambat kaku mayat tergantung persediaan glikogen otot. Pada kondisi
tubuh sehat sebelum meninggal, kaku mayat akan lambat dan lama, juga pada
orang yang sebelum mati banyak makan karbohidrat, maka kaku mayat akan
lambat.
2) Gizi

8
Pada mayat dengan kondisi gizi jelek saat mati, kaku mayat akan cepat terjadi.

3) Kegiatan Otot

Pada orang yang melakukan kegiatan otot sebelum meninggal maka kaku mayat
akan terjadi lebih cepat.

b) Usia
1) Pada orang tua dan anak-anak lebih cepat dan tidak berlangsung lama.
2) Pada bayi premature tidak terjadi kaku mayat, kaku mayat terjadi pada bayi
cukup bulan.
c) Keadaan Lingkungan
1) Keadaan kering lebih lambat dari pada panas dan lembab
2) Pada mayat dalam air dingin, kaku mayat akan cepat terjadi dan berlangsung
lama.
3) Pada udara suhu tinggi, kaku mayat terjadi lebih cepat dan singkat, tetapi pada
suhu rendah kaku mayat lebih lambat dan lama.
4) Kaku mayat tidak terjadi pada suhu dibawah 10oC, kekakuan yang terjadi
pembekuan atau cold stiffening.

d) Cara Kematian
1) Pada mayat dengan penyakit kronis dan kurus, kuku mayat lebih cepat terjadi
dan berlangsung tidak lama.
2) Pada mati mendadak, kaku mayat terjadi lebih lambat dan berlangsung lebih
lama.

Waktu terjadinya rigor mortis (kaku mayat)


1. Kurang dari 3 – 4 jam post mortem : belum terjadi rigor mortis
2. Lebih dari 3 – 4 jam post mortem : mulai terjadi rigor mortis
3. Rigor mortis maksimal terjadi 12 jam setelah kematian
4. Rigor mortis dipertahankan selama 12 jam
5. Rigor mortis menghilang 24 – 36 jam post mortem

c. Body temperature (suhu badan)


Pada saat sesudah mati, terjadi karena adanya proses pemindahan panas dari badan ke
benda benda di sekitar yang lebih dingin secara radiasi, konduksi, evaporasi dan konveksi.
Penurunan suhu badan dipengaruhi oleh suhu lingkungan, konstitusi tubuh dan pakaian.
Bila suhu lingkugan rendah, badannya kurus dan pakaiannya tipis maka suhu badan akan
menurun lebih cepat. Lama kelamaan suhu tubuh akan sama dengan suhu lingkungan.
Perkiraan saat kematian dapat dihitung dari pengukuran suhu jenazah per rektal (Rectal
Temperature/RT). Saat kematian (dalam jam) dapat dihitung rumus PMI (Post Mortem
Interval) berikut.
Formula untuk suhu dalam o Celcius PMI = 37 o C-RT o C +3
Formula untuk suhu dalam o Fahrenheit PMI = (98,6 o F-RT o F) : 1,5

9
d. Degree of decomposition (derajat pembusukan)
Pembusukan jenazah terjadi akibat proses degradasi jaringan karena autolisis
dan kerja bakteri. Mulai muncul 24 jam postmortem, berupa warna kehijauan dimulai
dari daerah sekum menyebar ke seluruh dinding perut dan berbau busuk karena
terbentuk gas seperti HCN, H2S dan lainlain. Gas yang terjadi menyebabkan
pembengkakan. Akibat proses pembusukan rambut mudah dicabut, wajah
membengkak, bola mata melotot, kelopak mata membengkak dan lidah terjulur.
Pembusukan lebih mudah terjadi pada udara terbuka suhu lingkungan yang
hangat/panas dan kelembaban tinggi. Bila penyebab kematiannya adalah penyakit
infeksi maka pembusukan berlangsung lebih cepat.
Proses-Proses Spesifik pada Jenazah Karena Kondisi Khusus
a. Mummifikasi
Mummifikasi terjadi pada suhu panas dan kering sehingga tubuh akan terdehidrasi
dengan cepat. Mummifikasi terjadi pada 12-14 minggu. Jaringan akan berubah
menjadi keras, kering, warna coklat gelap, berkeriput dan tidak membusuk.
b. Adipocere
Adipocere adalah proses terbentuknya bahan yang berwarna keputihan, lunak dan
berminyak yang terjadi di dalam jaringan lunak tubuh postmortem. Lemak akan
terhidrolisis menjadi asam lemak bebas karena kerja lipase endogen dan enzim
bakteri.
Faktor yang mempermudah terbentuknya adipocere adalah kelembaban dan suhu
panas. Pembentukan adipocere membutuhkan waktu beberapa minggu sampai
beberap bulan. Adipocere relatif resisten terhadap pembusukan.

e. Stomach Content (isi lambung)


Pengosongan lambung dapat dijadikan salah satu petunjuk mengenai saat
kematian. Karena makanan tertentu akan membutuhkan waktu spesifik untuk dicerna
dan dikosongkan dari lambung. Misalnya sandwich akan dicerna dalam waktu 1 jam
sedangkan makan besar membtuhkan waktu 3 sampai 5 jam untuk dicerna.

f. Insect activity (aktivitas serangga)


Aktivitas serangga juga dapat digunakan untuk memperkirakan saat kematian
yaitu dengan menentukan umur serangga yang biasa ditemukan pada jenazah.
Necrophagus species akan memakan jaringan tubuh jenazah. Sedangkan predator dan
parasit akan memakan serangga Necrophagus. Omnivorus species akan memakan
keduanya baik jaringan tubuh maupun serangga. Telur lalat biasanya akan mulai
ditemukan pada jenazah sesudah 1-2 hari postmortem. Larva ditemukan pada 6-10 hari
postmortem. Sedangkan larva dewasa yang akan berubah menjadi pupa ditemukan pada
12-18 hari.

g. Scene markers (tanda-tanda yang ditemukan pada sekitar tempat kejadian)

10
2. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN INVESTIGASI KASUS PEMERKOSAAN

Perkosaan merupakan peristiwa yang mengakibatkan beban masalah yang berat bagi korban
yang mengalaminya. Pada umumnya korban perkosaan akan mengalami trauma psikis yang
itensif dan berat setelah kejadian (Harsono dkk dalam Fausiah, 2002). Efek yang segera terjadi
dan berlangsung selama beberapa waktu setelah kejadian adalah serangkaian reaksi fisik dan
emosional. Korban akan dihinggapi berbagai rasa takut, antara lain takut akan reaksi keluarga
dan teman-teman, takut orang lain tidak mempercayai keterangannya, takut diperiksa oleh
dokter, takut melapor pada aparat, atau takut pemerkosa melakukan balas dendam jika ia
melapor.

Di samping itu korban juga mengalami serangkaian reaksi emosional seperti shok, rasa tidak
percaya, marah, malu, menyalahkan diri sendiri, kacau, bingung, ataupun histeris. Reaksi di
atas dianggap reaksi wajar, karena korban baru mengalami peristiwa traumatik. Bahkan sebuah
penelitian di Amerika Serikat menunjukan bahwa korban perkosaan adalah kelompok
masyarakat terbesar yang mengalami PTSD (Post traumatic Stress Disorder)
Kronologis Pemeriksaan Kasus Kejahatan Seksual:

A. Informed consent

B. Anamnesa Pasien :
Umum :
a. Umur, tempat/tanggal lahir, status perkawinan, siklus haid
b. Penyakit kelamin/penyakit kandungan/penyakit lain
c. Apa pernah bersetubuh
d. Kapan persetubuhan terakhir
e. Apakah memakai kondom
Khusus:

a. Waktu kejadian, tanggal, jam, tempat kejadian


b. Apakah korban melawan
c. Apakah korban pingsan
d. Apa ada penetrasi dan ejakulasi
e. Apa setelah kejadian korban mencuci, mandi, atau ganti pakaian

C. Memeriksa pakaian
a. Robekan
b. Kancing putus
c. Bercak darah
d. Air mani
e. Lumpur
f. Rapi atau tidak

11
D. Memeriksa tubuh korban
Umum
a. Penampilan
b. Keadaan emosional
c. Tanda bekas hilang kesadaran
d. Tanda needle mark
e. Tanda kekerasan
f. Tanda perkembangan alat kelamin sekunder, pupil, reflex cahaya, TB, BB, TD,
keadaan jantung, paru, abdomen
g. Adakah trace evidence pada tubuh korban
Khusus

a. Rambut kemaluan yang saling melekat karena air mani mengering → gunting
b. Bercak air mani → kerok/swab
c. Vulva → tanda kekerasan
d. Introitus vagina
e. Selaput dara → tentukan orifisium → perawan = 2,5cm ; persetubuhan = 9cm
f. Frenulum labiorum pudenda
g. Vagina dan cervix

E. Pemeriksaan Laboratorium
a. Tes Penyaring cairan mani → Tes fosfatase asam, visual/taktil, UV
b. Tes Penentu cairan mani → Berberio, Florence, Puranen
c. Tes Penentu spermatozoa → Sediaan langsung, Malascheet Green, Baechii
d. Tes toksikologi (urin,darah)
e. Tes kehamilan
f. Tes kuman Gonorrhea

PEMERIKSAAN BERCAK AIR MANI

A. Pemeriksaan spermatozoa:

1. Preparat tanpa pewarnaan (langsung):


- Usapkan cairan vagina yang dicurigai pada kaca objek
- Tambahkan 1-2 tetes NaCl 0,9%
- Tutup dengan kaca penutup dan lihat pada mikroskop (obyektif 40x)
Interpretasi:
- Biasanya akan terlihat spermatozoa (pada pelaku yang bukan azospermia).
- Gerakan-gerakan spermatozoa menunjukkan ejakulasi, 30-60 menit (psca senggama).

2. Preparat dengan pewarnaan


1. Malachite – Green
- Usapkan cairan yang dicurigai pada kaca objek dan keringkan
- Warnai sengan larutan malachite – green 1% selama 1 menit, lalu cuci dengan air

12
- Warnai dengan larutan Eosin Yellowish 1% selama 1 menit, lalu cuci dengan air
- Lihat pada mikroskop dengan pembesaran sedang (obyektif 40x).

Interpretasi:
Bila terdapat spermatozoa, maka kepala spermatozoa berwarna merah ungu dan lehernya
berwarna merah muda.

3. Pewarnaan Baechi (pada bercak-bercak di pakaian/ kain)


- Buat reagen Baechi dengan mencampur Acid fuschin 1% (1 tetes) + Methylene Blue (1/2
tetes) + Hcl 1% (40 tetes).
-Gunting kain yang dicurigai pada daerah yang bentuknya tebal seluas 5mm x 5mm.
-Dengan pinset, celupkan potongan kain terebut pada reagen selama 2-3 menit.
-Cuci dengan Hcl 1%

-Dehidrasi dengan mencelupkan berturut-turut pada; Alkohol 70%, Alkohol 80% dan Alkohol
absolut.
-Jernihkan dengan mencelupkan pada Xylol dan keringkan dengan kertas saring.

-Letakkan potongan kain tsb, pada kaca objek dan diambil sehelai benang dari potongan kain
tsb dengan jarum.
-Uraikan benang tsb pada kaca objek sampai menjadi serabut-serabut.
- Tetesi serabut-serabut tsb dengan balsam Kanada.

- Tutup dengan kaca penutup dan ditekan, lalu dilihat dibawah mikroskop dengan pembesaran
sedang.
Interpretasi:

Bila bercak tsb adalah semen maka akan terlihat spermatozoa diantara serabut-serabut benang.
Dengan kepala berwarna merah dan ekor berwarna biru muda.

B. Pemeriksaan cairan mani


1. Reaksi Florence :
Dasar: adanya Cholin dalam cairan mani.
- Buat reagen dengan mencampur Iodium 1gr + larutan lugol Kj 2 gr + aquadest 40ml.
-Bercak di ekstrasi pada kaca objek dan keringkan,
-Letakkan ekstrak pada kaca objek dan keringkan.
-Tutup bercak tsb dengan kaca penutup.
-Teteskan reagen dipinggir kaca penutup dan biarkan mengalir bercampur ekstrak tsb.
-Lihat dibawah mikroskop.

13
Interpretasi : (+) Bila ditemukan Kristal-kristal Choline per Iodida – (berbentuk daun bamboo
dengan warna coklat).
DD : Sekret vagina dapat memberikan reaksi positif.

2. Reaksi Berberio
Dasar: adanya sperma dalam cairan mani.
Cara: mirip dengan reaksi Florence, hanya reagen nya diganti Larutan pikrat jenuh.
Interpretasi : (+) → kristal spermin pikrat yang kekuning-kuningan berbentuk jarum dengan
ujung tumpul, kadang-kadang terdapat garis refraksi yang terletak longitudinal

C. Pemeriksaan tersangka
1. Tempelkan gland penis pada kaca objek dengan erat dan keringkan secukupnya.
2. Letakkan kaca objek tsb diatas cawan yang berisi larutan lugol Kj dan terkena uap
lugol.
3. Periksa dibawah mikroskop dengan pembesaran sedang.

Interpretasi:

 Bila memang telah terjadi persetubuhan, maka akan terlihat epitel vagina (sel yang
besar-besar berwarna coklat).
 Epitel penis akan berwarna kekuning-kuningan.

3. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN SANKSI DAN HUKUM PEMERKOSAAN


DAN PEMBUNUHAN DALAM ISLAM

KLASIFIKASI JINAYAT PEMBUNUHAN


Jinayat (tindak pidana) terhadap badan terbagi dalam dua jenis:

1. Jinayat terhadap jiwa (jinayat an-nafsi) = jinayat yang mengakibatkan hilangnya nyawa
(pembunuhan). Pembunuhan jenis ini terbagi tiga:
a. Pembunuhan dengan sengaja (al-‘amd) =

 Perbuatan yang dapat menghilangkan jiwa”,


 Pembunuhan dengan sengaja oleh seorang mukallaf secara sengaja (dan terencana)
terhadap jiwa yang terlindungi darahnya, dengan cara dan alat yang biasanya dapat
membunuh.

b. Pembunuhan yang mirip dengan sengaja (syibhu al-’amdi) = Membunuh dengan cara dan
alat yang biasanya tidak membunuh.
Sangsi Hukuman:
Diyat = 100 unta, di antaranya 40 ekor yang sedang hamil

14
c.Pembunuhan karena keliru (al-khatha’) atau pembunuhan tidak sengaja, kesalahan
semata tanpa direncanakan, dan tidak ada maksud membunuh sama sekali.

Misalnya = memanah binatang buruan atau sejenisnya, namun ternyata anak panahnya nyasar
mengenai orang hingga meninggal dunia.
Sanksi Hukuman:
Diyat berupa 100 ekor unta secara berangsur-angsur selama tiga tahun.

Dan tidaklah layak bagi seorang mukmin untuk membunuh seorang mukmin (yang lain),
kecuali karena tersalah (tidak sengaja). Dan barangsiapa membunuh seorang mukmin karena
tersalah, (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar
diyat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga
terbunuh) bersedekah. Jika ia (si terbunuh) dari kaum yang memusuhimu, padahal ia mukmin,
maka (hendaklah si pembunuh) memerdekakan hamba sahaya yang mukmin. Dan jika ia (si
terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka
(hendaklah si pembunuh) membayar diyat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh)
serta memerdekakan hamba sahaya yang mukmin. Barangsiapa yang tidak memperolehnya,
maka hendaklah ia (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut sebagai cara tobat
kepada Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.(Qs. An-Nisa`: 92)

Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannnya ialah
Jahannam.Ia kekal di dalamnya. Allah pun murka kepadanya, mengutuknya, serta
menyediakan azab yang besar baginya.” (Qs. An-Nisa`: 93)

2. Jinayat kepada badan selain jiwa = Penganiayaan yang tidak sampai menghilangkan
nyawa:

ُُ ‫جُ َو ْال َج َرا‬


1. Luka-luka ‫ح‬ ُ ‫ال‬
ُُ ‫ش َجا‬
2. Lenyapnya fungsi anggota tubuh ِ‫فُ ْال َمنَافِ ُع‬ ُُ َ‫ِإتْال‬
3. Hilangnya anggota tubuh ‫اء‬ ُِ ‫ض‬ َ ُُ َ‫ِإتْال‬
َ ‫فُاأل ْع‬

15
CARA MELAKSANAKAN QISAS
Kejahatan terhadap jiwa atau anggota badan yg diancam hukuman serupa
(qishash) atau diyat (ganti rugi dari si pelaku kepada si korban atau walinya).Pembunuhan
dengan sengaja, semi sengaja, menyebabkan kematian karena kealpaan, penganiayaan dengan
sengaja, atau menyebabkan kelukaan tanpa sengaja.Memberikan hukuman kepada pelaku
perbuatan persis seperti apa yg dilakukan terhadap korban

 Dengan pedang atau senjata


 Dengan alat dan cara yg digunakan oleh pembunuh.

Hukuman-hukuman JARIMAH QISHASH dan DIYAT


1. Pembunuhan sengaja,
2. Pembunuhan menyerupai sengaja,
3. Pembunuhan karena kesalahan, (tidak sengaja).
4. Penganiayaan sengaja,
5. Penganiayaan karena kesalahan (tidak sengaja).

Larangan membunuh
Islam melarang umatnya membunuh seseorang manusia atau seekor binatang
sekalipun, kalau itu tidak berdasarkan kebenaran hukumnya. Dalam Islam orang-orang yang
halal darah atau boleh dibunuh karena perintah hukum dengan prosedurnya adalah orang-orang
murtad, yaitu orang-orang Islam yang berpindah agama dari Islam ke agama lainnya, sesuai
dengan hadis

Rasulullah saw: Man baddala diynuhu faqtuluwhu (barangsiapa yang menukar


agamanya maka bunuhlah dia). Ketentuan ini dilakukan setelah orang murtad itu diajak
kembali ke agama Islam selama batas waktu tiga hari, kalau selama itu dia tidak juga sadar
baru dihadapkan ke pengadilan.
Yang halal darah juga adalah pembunuh, bagi dia berlaku hukum qishash yakni
diberlakukan hukuman balik oleh yang berhak atau negara melalui petugasnya. Penzina
muhshan (yang sudah kawin) adalah satu pihak yang halal darah juga dalam Islam melalui
eksekusi rajam, mengingat jelek dan bahayanya perbuatan dia yang sudah kawin tetapi masih
berzina juga. Semua pihak yang halal darah tersebut harus dieksekusi mengikut prosedur yang
telah ada dan tidak boleh dilakukan oleh seseorang yang tidak punya otaritas baginya.

Selain dari tiga pihak tersebut dengan ketentuan dan prosedurnya masing-masing tidak
boleh dibunuh, sebagaimana firman Allah swt: “...wala taqtulun nafsal latiy harramallahu illa
bilhaq...” (...jangan membunuh nyawa yang diharamkan Allah kecuali dengan kebenaran...)
(QS. al-An’am: 151). Larangan ini berlaku umum untuk semua nyawa baik manusia maupun
hewan, kecuali yang dihalalkan Allah sebagaimana terhadap tiga model manusia di atas tadi
atau hewan nakal yang mengganggu manusia dan hewan yang disembelih dengan nama Allah.

Allah memberi perumpamaan terhadap seorang pembunuh adalah: “...barangsiapa yang


membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan

16
karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia
seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah
dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya...” (QS. Al-Maidah: 32).

Hukuman bagi pembunuh


Hukuman duniawi terhadap seorang pembunuh dalam Islam sangatlah berat yaitu
dibunuh balik sebagai hukuman qishash ke atasnya. “Hai orang-orang yang beriman,
diwajibkan atas kamu qishash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka
dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa
yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti
dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diyat) kepada yang
memberi maaf dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari
Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya
siksa yang sangat pedih.” (QS. al-Baqarah: 178).

Sementara hukuman ukhrawi-nya adalah dilemparkan dalam neraka oleh Allah SWT
suatu masa nanti, sesuai dengan firman-Nya: “Dan barangsiapa yang membunuh seorang
mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah
murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (QS. an-
Nisa’: 93)

Bagi pembunuh yang sudah dimaafkan oleh keluarga terbunuh sehingga bebas dari
hukuman qishash, wajib baginya membayar diyat kepada keluarga terbunuh sebanyak 100 ekor
unta. Jumhur ulama sepakat dengan jumlahnya dan bagi wilayah yang tidak mempunyai unta
dapat diganti dengan lembu atau kerbau atau yang sejenis dengannya. Dalam Islam, qishash
diberlakukan karena di sana ada kelangsungan hidup umat manusia, sebagaimana firman Allah:
“Dan dalam qishash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang
berakal, supaya kamu bertakwa.” (QS. al-Baqarah: 179).

Qishash ini betul-betul sebuah keadilan dalam sistem hukum pidana Islam, di mana
seseorang yang membunuh orang lain tanpa salah harus dibunuh balik. Ini sama sekali tidak
melanggar hak azasi manusia (HAM) sebagaimana diklaim orang-orang yang tidak paham
hukum Islam. Bagaimana mungkin kalau seseorang membunuh orang lain tanpa dibenarkan
agama dapat diganti dengan hukuman penjara 5-9 tahun, sementara orang yang dibunuhnya
sudah meninggal. Malah yang seperti itulah melanggar HAM, karena tidak berimbang antara
perbuatan jahat yang dilakukannya dengan hukuman terhadapnya.

Ada tiga macam jenis pembunuhan dalam Islam yang mempunyai hukum qishash yang
berbeda, yaitu pembunuhan sengaja, semi sengaja dan tidak sengaja. Pembunuhan sengaja
adalah seseorang sengaja membunuh orang lain yang darah dan keselamatan jiwanya
dilindungi. Yaitu dengan menggunakan alat untuk membunuh seperti senjata api dan senjata
tajam.

Tindak pidana pembunuhan secara sengaja jika memenuhi unsur-unsur: (1) orang yang
melakukan pembunuhan adalah orang dewasa, berakal, sehat, dan bermaksud membunuh; (2)
terbunuh adalah orang yang terpelihara darahnya (tidak halal untuk dibunuh); dan (3) alat yang

17
digunakan untuk membunuh dapat mematikan atau menghilangkan nyawa orang. Jika
pembunuh sengaja dimaafkan oleh keluarga terbunuh maka sipembunuh wajib membayar diyat
berat berupa 100 ekor unta, terdiri dari 30 ekor unta betina berumur 3-4 tahun, 30 ekor unta
betina berumur 4-5 tahun, dan 40 ekor unta betina yang sedang bunting.

Pembunuhan semi sengaja adalah menghilangkan nyawa orang lain dengan alat yang
tidak biasa digunakan untuk membunuh dan tidak dimaksudkan untuk membunuh. Ia juga
harus membayar diyat berat kalau sudah dimaafkan keluarga terbunuh dengan cara
mengangsurnya selama 3 tahun. Sementara pembunuhan tidak sengaja adalah seperti orang
melempar buah mangga di pohon lalu terkena seseorang di bawah pohon mangga tersebut
sehingga mati.

Diyat bagi kasus seperti ini adalah diyat ringan, yaitu 100 ekor unta terdiri atas 20 ekor
unta betina berumur 1-2 tahun, 20 ekor unta betina berumur 2-3 tahun, 20 ekor unta jantan
berumur 2-3 tahun, 20 ekor unta betina berumur 3-4 tahun, dan 20 ekor unta betina berumur 4-
5 tahun. Pihak pembunuh wajib membayarnya dengan mengangsur selama 3 tahun, setiap
tahun wajib membayar sepertiganya. Kalau tidak dapat dibayar 100 ekor unta, maka harus
dibayar 200 ekor lembu atau 2.000 ekor kambing.

HUKUM PERKOSAAN DALAM ISLAM


Perkosaan dalam bahasa Arab disebut al wath`u bi al ikraah (hubungan seksual dengan
paksaan). Jika seorang laki-laki memerkosa seorang perempuan, seluruh fuqaha sepakat
perempuan itu tak dijatuhi hukuman zina (had az zina), baik hukuman cambuk 100 kali
maupun hukuman rajam. (Abdul Qadir Audah, At Tasyri’ Al Jina`i Al Islami, Juz 2 hlm. 364; Al
Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, Juz 24 hlm. 31; Wahbah Zuhaili, Al Fiqh Al Islami
wa Adillatuhu, Juz 7 hlm. 294; Imam Nawawi, Al Majmu’ Syarah Al Muhadzdzab, Juz 20
hlm.18).
Dalil untuk itu adalah Alquran dan sunnah. Dalil Alquran antara lain firman Allah SWT
(artinya), ”Barang siapa yang dalam keadaan terpaksa sedang dia tidak menginginkan dan
tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.” (QS Al An’aam [6] : 145). Ibnu Qayyim mengisahkan ayat ini
dijadikan hujjah oleh Ali bin Abi Thalib ra di hadapan Khalifah Umar bin Khaththab ra untuk
membebaskan seorang perempuan yang dipaksa berzina oleh seorang penggembala, demi
mendapat air minum karena perempuan itu sangat kehausan. (Abdul Qadir Audah, At Tasyri’
Al Jina`i Al Islami, Juz 2 hlm. 365; Wahbah Zuhaili, Al Fiqh Al Islami wa Adillatuhu, Juz 7
hlm. 294).
Adapun dalil sunnah adalah sabda Nabi SAW, ”Telah diangkat dari umatku (dosa/sanksi)
karena ketidaksengajaan, karena lupa, dan karena apa-apa yang dipaksakan atas mereka.” (HR
Thabrani dari Tsauban RA. Imam Nawawi berkata, ”Ini hadits hasan”). (Wahbah Zuhaili, Al
Fiqh Al Islami wa Adillatuhu, Juz 7 hlm. 294; Abdul Qadir Audah, At Tasyri’ Al Jina`i Al
Islami, Juz 2 hlm. 364).
Pembuktian perkosaan sama dengan pembuktian zina, yaitu dengan salah satu dari tiga
bukti (al bayyinah) terjadinya perzinaan berikut; Pertama, pengakuan (iqrar) orang yang
berbuat zina sebanyak empat kali secara jelas, dan dia tak menarik pengakuannya itu hingga
selesainya eksekusi hukuman zina. Kedua, kesaksian (syahadah) empat laki-laki Muslim yang

18
adil (bukan fasik) dan merdeka (bukan budak), yang mempersaksikan satu perzinaan (bukan
perzinaan yang berbeda-beda) dalam satu majelis (pada waktu dan tempat yang sama), dengan
kesaksian yang menyifati perzinaan dengan jelas. Ketiga, kehamilan (al habl), yaitu kehamilan
pada perempuan yang tidak bersuami. (Abdurrahman Al Maliki,Nizhamul Uqubat, hlm. 34-
38).
Jika seorang perempuan mengklaim di hadapan hakim (qadhi) bahwa dirinya telah
diperkosa oleh seorang laki-laki, sebenarnya dia telah melakukan qadzaf (tuduhan zina)
kepada laki-laki itu. Kemungkinan hukum syara’ yang diberlakukan oleh hakim dapat berbeda-
beda sesuai fakta (manath) yang ada, antara lain adalah sbb:
Pertama, jika perempuan itu mempunyai bukti (al bayyinah) perkosaan, yaitu
kesaksian empat laki-laki Muslim, atau jika laki-laki pemerkosa mengakuinya, maka laki-laki
itu dijatuhi hukuman zina, yaitu dicambuk 100 kali jika dia bukanmuhshan, dan dirajam hingga
mati jika dia muhshan. (Wahbah Zuhaili, Al Fiqh Al Islami wa Adillatuhu, Juz 7 hlm. 358).
Kedua, jika perempuan itu tak mempunyai bukti (al bayyinah) perkosaan, maka hukumnya
dilihat lebih dahulu; jika laki-laki yang dituduh memerkosa itu orang baik-baik yang menjaga
diri dari zina (al ‘iffah an zina), maka perempuan itu dijatuhi hukuman menuduh zina (hadd
al qadzaf), yakni 80 kali cambukan sesuai QS An Nuur : 4. Adapun jika laki-laki yang dituduh
memperkosa itu orang fasik, yakni bukan orang baik-baik yang menjaga diri dari zina, maka
perempuan itu tak dapat dijatuhi hukuman menuduh zina. (Ibnu Hazm, Al Muhalla, Juz 6 hlm.
453; Imam Nawawi, Al Majmu’ Syarah Al Muhadzdzab, Juz 20 hlm.53; Wahbah Zuhaili, Al
Fiqh Al Islami wa Adillatuhu, Juz 7 hlm. 346).

19
DAFTAR PUSTAKA
Atmadja. DS., Thanatologi;Ilmu Kedokteran Forensik;Edisi Pertama; Bagian Kedokteran
Forensik FKUI;1997:5:37-55.

Coe, John I M.D and Curran William J.LL.M,SMHyg; Definition and Time of Death;Modern
Legal Medicine, Psychiatry, and Forensic Science;F.A. Davis Company; ;1980:7:141-164.

Di Maio Dominick J. and Di Maio Vincent J.M; Time of Death; Forensic Pathology;CRC
Press,Inc;1993:2:21-41.
http://www.mediaumat.com/

Ilmu Kedokteran Forensik, Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas


Indonesia.1997. Thanatologi. Halaman 25-35.

20