Anda di halaman 1dari 3

Farmakoterapi

A. Tujuan Pengobatan
 Mengurangi gejala yang diderita oleh pasien
 Mencegah adanya komplikasi penyakit
 Menunda urgensi pasien untuk operasi
B. Terapi untuk Retensi Urin Kronis
 Katerisasi : Dilakukan pada kasus retenso urin yang butuh dekompresi kandung
kemih segera
 Tindakan Operasi dibagi menjadi dua yaitu Sistostomy dan prostatektomi.
Sistostomy yaitu tindakan mengeluarkan urine melalui perut bawah dengan
bantuan selang ataupun jarum yang dimasukan ke kandung kemih . sedangkan
Prostatektomi adalah mengangkan seluruh atau sebagian kelenjar prostat biasanya
dilakukan bila residual volume lebih dari 1000cc.
 Farmakologi
- Alpha blockers (AB) (doxazosin, prazosin, tamsulosin, terazosin, alfuzosin,
silodosin); 5-Alpha Reductase Inhibitors (5-ARI): dutasteride, finasteride; AB
+ 5- ARI combination therapy: tamsulosin/dutasteride
(AHRQ,2013)
- Alfa Adrenergik Receptor Blockers Memiliki kemampuan untuk
merelaksasikan otot polos yang terletak disekitar uretra dan kandung kemih.
(Paolone, 2010)
- 5 alfa-Reductase Inhibitor Menghambat konversi testosterone menjadi
dihydrotestosterone (DHT) oleh enzim 5 alfa-reductase. Keberadaan DHT
akan mengikat reseptor androgen yang menimbulkan efek pembesaran
kelenjar prostat dan apopotosis sel pada kelenjar prostat. (Paolone, 2010)
C. Terapi yang Digunakan
 Terazosin
Terazosin bekerja dengan cara merelaksasi otot polos pada prostat dari
leher kandung kemih, dengan demikian terjadi peningkatan kecepatan aliran
urinari 2-3 ml/s dan menurunkan volume urin residual postvoid atau jumlah urin
yang tersisa di kandung kemih. Dibandingkan obat antagonis a- adrenergik
lainnya terazosin memiliki kecepan absorpsi yang lebih tinggi dan menghasilkan
respon tahan lama untuk 3-4 tahun selain itu juga memiliki efek samping yang
lebih sedikit (Sukandar dkk, 2008).
Dosis yang digunakan yaitu 1 mg 1 kali sehari sebelum tidur. Ditingkatkan
bertahap s/d 10 mg 1 kali sehari. Digunakan sebelum tidur untuk meminimalkan
hipotensi ortostatik (Dipiro, 2015)
D. Terapi Non Farmakologi
Salah satu terapi non farmakologis yang efektif adalah bladder training. Bladder
trining adalah latihan yang dilakukan untuk mengembalikan tonus otot kandung kemih
agar fungsinya kembali normal.Bladder training adalah salah satu upaya untuk
mengembalikan fungsi kandung kemih yang mengalami gangguan ke keadaan normal
atau ke fungsi optimal neurogenik. Tujuan dari bladder training adalah untuk melatih
kandung kemih dan mengembalikan pola normal perkemihan dengan menghambat atau
menstimulasi pengeluaran air kemih (Shenot, 2014)
Terdapat tiga macam metode bladder training, yaitu kegel exercises (latihan
pengencangan atau penguatan otot-otot dasar panggul), Delay urination (menunda
berkemih), dan scheduled bathroom trips (jadwal berkemih). Latihan kegel (kegel
execises) merupakan aktifitas fisik yang tersusun dalam suatu program yang dilakukan
secara berulang-ulang guna meningkatkan kebugaran tubuh. Latihan kegel dapat
meningkatkan mobilitas kandung kemih dan bermanfaat dalam menurunkan gangguan
pemenuhan kebutuhan eliminasi urin. Latihan otot dasar panggul dapat membantu
memperkuat otot dasar panggul untuk memperkuat penutupan uretra dan secara refleks
menghambat kontraksi kandung kemih (IUGA, 2011).
E. Fitoterapi
Terapi dengan bahan dari tumbuh-tumbuhan poluler diberikan di Eropa dan baru-
baru ini di Amerika. Obat-obatan tersebut mengandung bahan dari tumbuhan seperti
Hypoxis rooperis, Pygeum africanum, Urtica sp, Sabal serulla, Curcubita pepo, Populus
temula, Echinacea purpurea, dan Secale cerelea. Masih diperlukan penelitian untuk
mengetahui efektivitas dan keamanannya (Arthur, 2006).
Daftar Pustaka

• DiPiro J.T., Wells B.G., Schwinghammer T.L. and DiPiro C. V., 2015, Pharmacotherapy
Handbook, Ninth Edition, McGraw-Hill Education Companies, Inggris.

• Paolone, D.R., 2010. Benign prostatic hyperplasia. Clinics in geriatric medicine, 26(2),
pp.223-239.

• Sukandar, E., Retnosari., Joseph., I Ketut., Adji., dan Kusnandar. 2008. ISO
Farmakoterapi. Jakarta : ISFI Penerbit

• Agency for Healthcare research and Quality. 2013. Chronic Urinary Retention (CUR)
Treatment. Available online at www.effectivehealthcare.ahrq.gov [Diakses 17 September
2018}

• Arthur C. Guyton, dkk. 2006. “Buku Ajar Fisiologi Kedokteran”. Edisi 9. Jakarta : EGC

• IUGA. 2011. Bladder training. Article of International Gynecologycal Ascosiation.


Available from: www.iuga.org/resource/resmgr/.../eng_btraining.pdf

• Shenot,MD.2014. Neurogenic bladder. Article of Merck Manual Home Health


Handbook Neurogenic Bladder. Available from:
http://www.merckmanuals.com/professional/genitourinary_disorders/voiding_
disorders/neurogenic_bladder.html