Anda di halaman 1dari 33

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA I

“SEDIMENTASI”

GROUP M

1. Muhammad Fayrus 1631010017


2. Rif’atul Firda Erfani 1631010041

Tanggal Percobaan : 22 Februari 2018

LABORATORIUM RISET DAN OPERASI TEKNIK KIMIA


PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA
FAKULTAS TEKNIK
UPN “VETERAN” JAWA TIMUR
SURABAYA
2018
Laporan Praktikum OTK I “Sedimentasi”

LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN PRAKTIKUM

OPERASI TEKNIK KIMIA 1

“SEDIMENTASI”

GROUP M

1. MUHAMMAD FAYRUS 1631010017

2. RIF’ATUL FIRDA ERFANI 1531010041

Tanggal Percobaan : 22 Februari 2018

Kepala Laboratorium OTK Dosen Pembimbing

(Ir. CaeciliaPujiastuti, MT) (Ir. Nurul Widji Triana, MT)

NIP 19630305 198803 2 001 NIP 19610301 198903 2 0

PraktikumOperasiTeknik Kimia I i
Laporan Praktikum OTK I “Sedimentasi”

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan yang Maha Esa, atas berkat dan
rahmat-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikanLaporan Resmi Operasi Teknik
Kimia I ini dengan judul “ Sedimentasi”.
Laporan Resmi ini merupakan salah satu tugas mata kuliah praktikum Operasi
Teknik Kimia I yang diberikan pada semester IV. Laporan ini disusun berdasarkan
pengamatan, perhitungan dan dilengkapi dengan teori dari literatur serta petunjuk
asisten pembimbing yang dilaksanakan pada tanggal 22 Februari 2018 di
Laboratorium Operasi Teknik Kimia Universitas Pembangunan Nasional
‘VETERAN’ Jawa Timur.
Laporan hasil praktikum ini tidak dapat tersusun sedemikian rupa tanpa
bantuan baik sarana, prasarana, pemikiran, kritik dan saran. Oleh karena itu, tidak
lupa kami ucapkan terima kasih kepada:
1. Ir. C. Pujiastuti,MT selaku Kepala Laboratorium Operasi Teknik Kimia
Universitas Pembangunan Nasional ‘VETERAN’ Jawa Timur.
2. Ir. Nurul Widji Triana, MT pelaku Dosen pembimbing praktium.
3. Seluruh asisten dosen yang membantu dalam pelaksanaan praktikum.
4. Rekan – rekan mahasiswa yang membantu dalam memberikan masukan-
masukan dalam praktikum.
Kami sangat menyadari dalam penyusunan laporan ini masih banyak
kekurangan. Maka dari itu, kami selalu mengharapkan kritik dan saran, seluruh
asisten dosen yang turut membantu dalam kesempurnaan laporan ini. Sehingga
penyusun berharap penyusun mengharapkan semua laporan praktikum yang telah
disusun ini dapat bermanfaat bagi mahasiswa Fakultas Teknik khususnya jurusan
Teknik Kimia.
Surabaya, 24 Februari 2018

Penyusun

PraktikumOperasiTeknik Kimia I ii
Laporan Praktikum OTK I “Sedimentasi”

DAFTAR ISI
Lembar Pengesahan ................................................................................................. i
Kata Pengantar…………………………………………………………………….ii
Daftar Isi................................................................................................................. iii
Daftar Tabel ........................................................................................................... iv
Daftar Grafik ............................................................................................................v
Intisari .................................................................................................................... vi
Bab 1 Pendahuluan
I.1 Latar Belakang ............................................................................................1
I.2 Tujuan ..........................................................................................................1
I.3 Manfaat ........................................................................................................2
Bab 2 Tinjauan Pustaka
II.1 Secara Umum .............................................................................................3
II.2 Sifat Bahan .................................................................................................9
II.3 Hipotesa .....................................................................................................9
II.4 Diagram Alir ............................................................................................10
Bab 3 Pelaksaan Praktikum
III.1 Bahan ......................................................................................................11
III.2 Alat .........................................................................................................11
III.3 Gambar Alat............................................................................................11
III.4 Rangkaian Alat .......................................................................................12
III.5 Prosedur ..................................................................................................12
Bab 4 Hasil dan Pembahasan
IV.1 Tabel Hasil Pengamatan .........................................................................13
IV.2 Hasil Perhitungan, Tabel, dan Pembahasan ...........................................15
Bab 5 Kesimpulan dan Saran
V.1 Kesimpulan ..............................................................................................23
V.2 Saran ........................................................................................................23
Daftar Pustaka ........................................................................................................24
Appendix ................................................................................................................25

PraktikumOperasiTeknik Kimia I iii


Laporan Praktikum OTK I “Sedimentasi”

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Pengamatan tinggi slury pada konsentrasi 3% ......................................13


Tabel 2. Pengamatan tinggi slury pada konsentrasi 5% ......................................13
Tabel 3. Pengamatan tinggi slury pada konsentrasi 7% ......................................14
Tabel 4. Pengamatan tinggi slury pada konsentrasi 9% ......................................14
Tabel 5 perhitungan C0, C1, v, Q, Ap, D, dan h pada konsesntrasi 3% ..............15
Tabel 6 perhitungan C0, C1, v, Q, Ap, D, dan h pada konsesntrasi 5% ..............16
Tabel 7 perhitungan C0, C1, v, Q, Ap, D, dan h pada konsesntrasi 7% ..............18
Tabel 8 perhitungan C0, C1, v, Q, Ap, D, dan h pada konsesntrasi 9% ..............20

PraktikumOperasiTeknik Kimia I iv
Laporan Praktikum OTK I “Sedimentasi”

DAFTAR GRAFIK

Grafik 1 Hubungan antara waktu pengendapan (t,menit) dengan tinggi


slury (Z2,Cm) pada konsentrasi 3% ...................................................... 15
Grafik 2 Hubungan antara konsentrasi slury (C1, gr/cm3) dengan
kecepatan pengendapan (v, cm/menit) pada konsentrasi 3% ............... 16
Grafik 3 Hubungan antara waktu pengendapan (t,menit) dengan tinggi
slury (Z2,Cm) pada konsentrasi 5% ...................................................... 17
Grafik 4 Hubungan antara konsentrasi slury (C1, gr/cm3) dengan
kecepatan pengendapan (v, cm/menit) pada konsentrasi 5% ............... 18
Grafik 5 Hubungan antara waktu pengendapan (t,menit) dengan tinggi
slury (Z2,Cm) pada konsentrasi 7% ...................................................... 19
Grafik 6 Hubungan antara konsentrasi slury (C1, gr/cm3) dengan
kecepatan pengendapan (v, cm/menit) pada konsentrasi 7% ............... 20
Grafik 7 Hubungan antara waktu pengendapan (t,menit) dengan tinggi
slury (Z2,Cm) pada konsentrasi 9% ............................................ …….21
Grafik 8 Hubungan antara konsentrasi slury (C1, gr/cm3) dengan
kecepatan pengendapan (v, cm/menit) pada konsentrasi 9% . ………..22

PraktikumOperasiTeknik Kimia I v
Laporan Praktikum OTK I “Sedimentasi”

INTISARI

Sedimentasi adalah proses pemisahan larutan suspensi atau campuran antara


padat cair menjadi cairan bening atau jernih dan suspensi yang lebih padat. Tujuan
dari percobaan sediementasi yaitu untuk menentukan kecepatan pengendapan
slurry dari campuran. Manfaat dari percobaan sedimentasi yaitu untuk mengetahui
faktor faktor yang mempengaruhi sedimentasi.
Percobaan sedimentasi ini menggunakan slurry dari campuran tepung
tapioka dengan konsentrasi 3%, 5%, 7%, dan 9% dengan melarutkannya pada air.
Setiap selang waktu 10 menit selama 60 menit, ketinggian slurry dan cairan bening
dihitung dan diamati. Pengamatan dihentikan ketika tinggi slurry konstan dan
mencapai critical settling point, yaitu kurang lebih setelah 180 menit. Dari
pengamatn tersebut maka didapatkan data untuk menentukan kecepatan
pengendapan, luas permukaan dan tinggi continuous thickner.
Dari hasil percobaan yang dilakukan, didapatkan bahwa pada konsentrasi
tertinggi yaitu 9%,bdidapatkan tinggi slurry tertinggi yaitu 3,8 cm. Sedangkan pada
konsentrasi 3% tinggi slurry yaitu 1,9 cm. Dari data tersebut, maka dapat diplotkan
hubungan antara waktu pengendapan dengan tinggi slurry. Dimana tinggi slurry
bertambah dengan bertambahnya waktu. Dari grafik antara konsentrasi slurry dan
kecepatan pengendapan, dapat disimpulkan bahwa semakin besar konsentrasi maka
semakin besar kecepatan pengendapan.

PraktikumOperasiTeknik Kimia I vi
Laporan Praktikum OTK I “Sedimentasi”

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Sedimentasi adalah proses pemisahan larutan suspensi atau campuran
antara padat cair menjadi cairan bening atau jernih dan suspensi yang lebih
padat atau sludge. Proses pemisahan ini terjadi karena perbedaan densitas antar
partikel padatan dalam liquid bersama adanya gaya gravitasi. Sedimentasi
berlangsung secara batch dan continue, pada proses batch sering digunakan
pada skala laboratorium, sedangkan proses continue digunakan pada skala
komersil. Proses sedimentasi dalam industri kimia salah satunya untuk proses
pemisahan buangan nira yang akan diolah lagi menjadi gula.
Prosedur dari percobaan sedimentasi, yang pertama membuat campuran
tepung tapioka dengan konsentrasi 3%, 5%, 7%, dan 9% dengan melarutkan
pada air, lalu masukkan ke dalam gelas ukur hingga mencapai volume 500 ml.
Yang kedua yaitu mencatat tinggi permukaan slury setiap selang waktu 10, 20,
30 ,40, 50, 60 menit, hingga terjadi critical setling point. Setelah semua data
diperoleh, maka membuat grafik hubungan antara tinggi permukaan dengan
waktu dan grafik kecepatan pengendapan dengan konsentrasi slury.
Tujuan dari percobaan sedimentasi adalah untuk menentukan kecepatan
pengendapan suatu slury dari campuran. Selain itu untuk mengetahui hubungan
antara konsentrasi slury dengan kecepatan pengendapan. Serta untuk
merancang continous thickener berdasarkan data yang diperoleh. Dan tujuan
akhirnya yaitu agar dapat merancang alat sedimentasi.

I.2 Tujuan
1. Untuk menentukan kecepatan pengendapan suatu slury dari campuran
2. Untuk mengetahui hubungan antara konsentrasi slury dengan kecepatan
pengendapan
3. Untuk merancang continous thickener berdasarkan data percobaan yang
diperoleh

PraktikumOperasiTeknik Kimia I 1
Laporan Praktikum OTK I “Sedimentasi”

I.3 Manfaat
1. Agar praktikan dapat mengaplikasikan percobaan sedimentasi dalam skala
industri
2. Agar praktikan dapat membedakan antara proses sedimentasi secara batch
dan continue
3. Agar praktikan dapat mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pada
proses sedimentasi

PraktikumOperasiTeknik Kimia I 2
Laporan Praktikum OTK I “Sedimentasi”

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1.Secara Umum
Sedimentasi merupakan proses pemisahan larutan suspensi menjadi fluida
jernih (supernatant) dan slurry yang mengandung padatan. Larutan suspensi terdiri
dari campuran fase cair dan fase padatyang bersifat settleable ( dapat diendapkan
karena perbedaan densitas antara fasenya). Proses sedimentasi dapat dilakukan
secara batch dan continue. Proses batch sering digunakan untuk skala laboratorium
sedangkan proses continue dipergunakan dalam proses komersil dengan
mempertimbangkan kecepatan pengendapan terminal dari partikel-partikelnya.
Percobaan skala laboratorium dilakukan pada suhu uniform untuk menghindari
gerakan fluida untuk konveksi karena perbedaan densitas yang dihasilkan dari
perbedaan suhu.
Pada proses sedimentasi terdapat beberapa factor yang mempengaruhi
proses sedimentasi diantaranya adalah konsentrasi. Semakin besarnya konsentrasi,
gaya gesek yang dialami partikel karena partikel lain semakin besar sehingga drag
force-nya semakin besar. Hal ini disebabkan karena dengan semakin besarnya
konsentrasi suatu suspensi yang menyebabkan bertambah gaya gesek antara suatu
partikel dengan partikel yang lain. Drag force atau gaya seret ini bekerja pada arah
yang berlawanan dengan gesekan partikel dalam fluida. Dalam hal ini gaya drag
keatas dan gerakan partikel yang lain kebawah. Gaya seret ini disebabkan oleh
adanya transfer momentum yang arahnya tegak lurus permukaan partikel dalam
bentuk gesekan. Maka dengan adanya drag force yang arahnya berlawanan dengan
rah partikel ini menyebabkan gaya total u tuk mengendapkan partikel. Gerakan
partikel menjadi semakin lambat karena semakin kecilnya gaya total kebawah
sehingga kecepatan pengendapan semakin turun.
(Silvia, 2013)
Pada mekanisme sedimentasi, ketika slurry diendapkan akibat gravitasi
menjadi fluida jernih dan slurry dengan konsentrasi lebih tinggi, proses ini
dinamakan sedimentasi atau disebut juga thickening. Untuk menggambarkan

PraktikumOperasiTeknik Kimia I 3
Laporan Praktikum OTK I “Sedimentasi”

metode penentuan kecepatan pengendapan serta mekanisme pengendapan,uji batch


dapat dilakukan dengan menempatkan konsentrasi seragam slurry ke dalam sebuah
silinder. Pada awalnya, semua partikel padatan memisah dengan pemisahan bebas
di suspensi zona B. Partikel di zona B mengendap pada tingkat yang seragam dan
cairan jernih pada zona A muncul. Tinggi z turun pada zona konstan. Demikian
pada zona D mulai muncul padatan partikel padatan dibawah. Zona C adalah
transisi yang mana berisi macam-macam padatan dari zona B dan zona D,
pemisahan selanjutnya zona B dan zona C tidak tampak. Setelah itu tekanan
pertama kali muncul dan keadaan ini disebut critical settling point. Selama terjadi
tekanan, cairan dikeluarkan keatas dari zona D dan ketebalan zona D menurun.

Gambar 1. Hasil sedimentasi batch


Pada gambar A menunjukkan keseragaman suspense yang asli. Gambar B
menunjukkan zona pengendapan setelah beberapa selang waktu. Gambar C
menunjukkan tekanan pada zona D setelah zona A dan B menghilang.
Pada penetuan kecepatan pengendapan, ketinggian Z dari ketinggian jarak
inteface zat cair jernih dihubungkan sebagai fungsi waktu seperti yang ditunjukkan.
Kecepatan pengendapan yang mana adalah slope menunjukkan angka konstan.
Critical point ditunjukkan pada titik C. Ketika lumpur dengan bermacam-macam
pada larutan maka percobaan kecepatan pengendapan dari tiap-tiap lumpur
diperlukan. Kynch (k1) dan Talmage (T1) menguraikan cara untuk memikirkan
ukuran pengentalan dari pemisahan secara batch.

PraktikumOperasiTeknik Kimia I 4
Laporan Praktikum OTK I “Sedimentasi”

Gambar 2. Grafik kertinggian interface cairan jernih verusu waktu pengendapan


Kecepatan pengendapan (v) ditentukan dengan menggambarkan kurva pada
gambar (1.d) dengan memberi waktu (t) dan slope –dz/dt = v1 pada point ini
ketinggian z1 dan zi adalah intersep dari tangen pada kurva. Ini dapat dihitung
dengan menggunakan rumus:
zi−z1
v1 = ..........................................................................................................(1)
t−0

Keterangan :
v1 = laju pengendapan (cm/menit)
zi = tinggi suspensi mula-mula (cm)
z1 = tinggi slurry tiap selang waktu (cm)
t = waktu (menit)
Konsentrasi adalah C1. Untuk itu rata-rata konsentrasi dari suspensi jika z1 adalah
ketinggian dari slurry ini dapat dihitung:
z0
C1 . z1 = Co . z0 atau C1 = zi
. Co........................................................................(2)

Keterangan :
C1 = konsentrasi slurry (gr/cm3)
Zi = tinggi slurry tiap selang waktu (cm)
Co = konsentrasi awal (gr/cm3)
Z0 = tinggi suspensi mula-mula (cm)
Dimana Co adalah konsentrasi slurry asli dalam kg/m3 pada ketinggian Zo
sat t=0. Ini digunakan untuk waktu lain dan plot dari kecepatan pemisahan dengan
konsentrasi yang dibuat.
(Geankoplis, 1993)

PraktikumOperasiTeknik Kimia I 5
Laporan Praktikum OTK I “Sedimentasi”

Banyak metode pemisahan mekanik yang didasarkan pada sedimentasi


partikel padat atau tetesan zat cair melaui fluida,yang didorong oleh gaya gravitasi
atau gaya sentrifugal.hal ini berhubungan dengan pengendapan gravitasi dan
selanjutnya dengan sedimentasi sentrifugal. Itu mungkin gas atau zat cair dan
mungkin berada pada keadaan mengalir atau keadaan diam. Dalam beberapa
situasi, tujuan dari proses itu adalah untuk mengeluarkan partikel dari arus fluida
dan untuk mengeluarkan pengotor yang terdapat didalam fluida atau untuk
memulihkan partikel sebagaimana dalam pembersihan udara atau gas buang
terhadap debu dan uap racun atau untuk membuang zat padat dari air limbah. Dalam
masalah ini partikel itu sengaja ditangguhkan didalam fluida supaya dapat
dipisahkan menjadi fraksi-fraksi yang berbeda ukuran atau densitasnya.
Apabila suatu partikel mulai diam terhadap fluida tempat partikel itu
terendam dan kemudian dipindahkan melalui fluida itu karena adanya gaya-gaya
luar,hal itu dapat dibagi menjadi 2 tahap. Tahap pertama merupakan satu periode
singkat dimana berlangsung percepatan, yaitu selama waktu kecepatan itu
meningkat dari nol sampai kecepatan terminal. Tahap kedua ialah periode dimana
partikel itu berada dalam kecepatan terminalnya.
Karena periode percepatan awal pendek, biasanya sepersepuluh detik atau
kurang, maka efek percepatan awal berjarak pendek. Kecepatan terminal, disisi
lain, dapat dipertahankan selama partikel berada dibawah perawatan pada peralatan.
Beberapa metode pemisahan, seperti jigging dan tabbling, tergantung pada
perbedaan sifat partikel selama perode percepatan. Yang paling umum digunnakan
adalah metode yang hanya menggunakan periode kecepatan terminal saja.
Partikel-partikel yang lebih besar dari fluida tempat partikel itu tersuspensi
dapat dikeluarkan di dalam kotak pengendap atau tangki pengendap (settling tank)
dimana kecepatan fluida itu cukup kecil dan partikel itu mendapat waktu yang
cukup untuk mengendap keluar. Peralatan sederhana itu terbatas kegunaannya
karena pemisahannya tidak lengkap disamping memerlukan tenaga kerja untuk
mengeluarkan padatan.
(McCabe, 1993)

PraktikumOperasiTeknik Kimia I 6
Laporan Praktikum OTK I “Sedimentasi”

Terdapat tiga daerah utama dalam continuous thickener yaitu daerah


klasifikasi dimana liquida jernih keluar sebagai aliran overflow, daerah suspension
settling dan daerah thickener, dalam perhitungan diameter digunakan persamaan:
Q
v = Ap....................................................................................................................(3)

Dimana Ap = ¼ π D

Sehingga diperoleh persamaan continuous thickener adalah

4Ap
D=√ π
..............................................................................................................(4)

Persamaan tinggi continuous thickener

Q.r
h= ..................................................................................................................(5)
A

Dimana:

V = kecepatan (cm/s)

Q = demit (cm3/s)

Ap = luas penampang bak pengendap (cm2)

Π = phi (3,14)

D = diameter bak pengendap (cm)

r = jari-jari (cm)

h = ketinggian (cm)

Dalam suatu batch tert diambil sebuah lapisan dengan konsentrasi C dan
solid seolah-olah mempunyai konsentrasi (C-dt) dan kecepatan (v +dv) terhadap
lapisan. Bila lapisan ini mempunyai yang konstan maka material balancenya

(C-dc)s dv + dv + Vt = (S Q (V+Vt)...................................................................(7)

Dimana S adalah area normalnya pada aliran solid hingga persamaan diatas dapat
ditulis

PraktikumOperasiTeknik Kimia I 7
Laporan Praktikum OTK I “Sedimentasi”

V−dv
Vt = C dv − dc
................................................................................................(9)

Bila diabaikan didapat persamaan

Vt = (F’(C) – F(C))..............................................................................................(10)

Dimana :

Vt = velocity of capacity limiting layer (m/s)

V = settling velocity of particle in layer (m/s)

F’(C) dan F(C) = konstanta

(Modul OTK, 2018)

PraktikumOperasiTeknik Kimia I 8
Laporan Praktikum OTK I “Sedimentasi”

II.2.Sifat bahan
1. Air
A. Sifat fisika
1. Wujud : cairan
2. Warna : bening
3. Bau : tidak berbau
B. Sifat Kimia
1. Rumus molekul : H2O
2. Berat molekul : 18,02 gr/mol
3. Densitas : 1 gr/cm3
4. Titik didih : 100oC
(MSDS, 2013 “Water”)
2. Tepung Tapioka
A. Sifat fisika
1. Wujud : padatan
2. Warna : putih
3. Bau : tidak berbau

B. Sifat Kimia
1. Rumus molekul : (C6H10O5)n
2. Kereaktifan : reaktif dengan zat oksidator
3. Korosivitas : tidak korosif
4. Densitas : 1 gr/cm3
(MSDS, 2013 “Starch Soluble”)

II.3. Hipotesa
Kecepatan sedimentasi dipengaruhi oleh konsentrasi slurry, semakin besar
konsentrasi slurrymaka kecepatan sdimentasi semakin kecil.

PraktikumOperasiTeknik Kimia I 9
Laporan Praktikum OTK I “Sedimentasi”

II.4 Diagram Alir

Membuat slurry dengan dari campuran tepung


tapioka 3%, 5%, 7%, dan9% dengan air

Mengaduk slurry hingga homogen

Memasukkan slurry kedalam gelas ukur

Mencatat tinggi permukaan slurry dan air setiap


selang waktu 10, 20, 30, 40, 50, dan 60 menit hingga
dicapai tinggi permukaan slurry yang konstan dan
terjadi critical settling point

Membuat grafik hubungan tinggi permukaan dengan


waktu serta hubungan kecepatan pengendapan
dengan konsentrasi

PraktikumOperasiTeknik Kimia I 10
Laporan Praktikum OTK I “Sedimentasi”

BAB III
PELAKSANAAN PRAKTIKUM

III.1 Bahan
1. Tepung tapioka 3%, 5%, 7%, dan 9%
2. Aquadest

III.2 Alat
1. Gelas ukur
2. Spatula
3. Neraca analitis
4. Beaker glass
5. Stopwatch
6. Penggaris
7. Kaca arloji

III.3 Gambar Alat

Gelas Ukur Spatula Beaker Glass

PraktikumOperasiTeknik Kimia I 11
Laporan Praktikum OTK I “Sedimentasi”

Stopwatch Neraca Analitis Kaca Arloji


III.4 Rangkaian Alat

III.5 Prosedur
1. Buat slurry dari campuran tepung tapioka dengan konsentrasi 3%, 5%, 7%
dan 9% dengan air aduk hingga homogen, masukkan kedalam gelas ukur
sampai 500 ml
2. Catat tinggi permukaan slurry dan air setiap selang waktu 10, 20, 30, 40, 50,
dan 60 menit hingga dicapai tinggi permukaan slury yang konstan. Catat
pula tinggi slury setelah selang waktu yang ditentukan hingga terjadi critical
settling point
3. Buat grafik hubungan antara tinggi permukaan dengan waktu dan grafik
kecepatan pengendapan dengan konsentrasi slury

PraktikumOperasiTeknik Kimia I 12
Laporan Praktikum OTK I “Sedimentasi”

BAB 1V
HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1 Tabel Pengamatan


Tabel 1. Pengamatan tinggi slury pada konsentrasi 3%
t (menit) Z0 (Cm) Z1 (Cm) Z2 (Cm) Z3 (Cm)

10 25,4 0,5 0,3

20 25,2 0,8 0,4

30 25 1 0,6

40 25 1,8 0,9

50 25 2 1,1

60 24,9 2,4 1,4

t (~) = 182 menit 1,4

Tabel 2. Pengamatan tinggi slury pada konsentrasi 5%


t (menit) Z0 (Cm) Z1 (Cm) Z2 (Cm) Z3 (Cm)

10 25,8 0,3 0,3


20 25,6 0,8 0,8
30 25,6 0,3 1
40 25,5 2 1,3
50 25,4 2,3 1,7
60 25,4 3,1 2,1
t (~) = 182 menit 2,2

PraktikumOperasiTeknik Kimia I 13
Laporan Praktikum OTK I “Sedimentasi”

Tabel 3 Pengamatan tinggi slury pada konsentrasi 7%


t (menit) Z0 (Cm) Z1 (Cm) Z2 (Cm) Z3 (Cm)

10 26,8 0,2 0,6

20 26,4 0,6 1,1

30 26,3 0,2 1,6

40 26,3 1,5 2

50 26,1 2 2,5

60 26 2,1 2,7
t (~) = 182 menit 2,9

Tabel 4 Pengamatan tinggi slury pada konsentrasi 9%


t (menit) Z0 (Cm) Z1 (Cm) Z2 (Cm) Z3 (Cm)

10 27 0,4 0,7

20 26,8 0,8 1,3

30 26,5 1 2,1

40 26,4 1,5 2,8

50 26,4 1,7 3

60 26,4 1,9 3,5


t (~) = 182 menit 3,8

PraktikumOperasiTeknik Kimia I 14
Laporan Praktikum OTK I “Sedimentasi”

IV.2 Hasil Perhitungan, Grafik, dan Pembahasan


Tabel 5 perhitungan C0, C1, v, Q, Ap, D, dan h pada konsesntrasi 3%

C0 C1 v Q A D h
(gr/cm3) (gr/cm3) (Cm/menit) (Cm3/menit) (Cm2) (Cm) (Cm)
0,03 0,0294 2,49 50 20,0803 5,0577 24,9
0,03 0,0290 2,44 50 20,4918 5,1092 48,8
0,03 0,0288 2,4 50 20,8333 5,1516 72
0,03 0,0278 2,32 50 21,5517 5,2397 92,8
0,03 0,0276 2,3 50 21,7391 5,2624 115
0,03 0,0271 2,25 50 22,2222 5,3206 135

1.6

1.4 y = 0.0226x - 0.0067


R² = 0.9815
1.2
Tinggi Slury (Z2) (cm)

0.8

0.6

0.4

0.2

0
0 10 20 30 40 50 60 70
Waktu Pengendapan (t) (menit)

Grafik 1 Hubungan antara waktu pengendapan (t,menit) dengan tinggi slury


(Z2,Cm) pada konsentrasi 3%

Pada grafik diatas pada menit ke-10 diperoleh tinggi slury 0,3 cm; pada menit
ke-20 diperoleh tinggi slury 0,4 cm; pada menit ke-30 diperoleh tinggi slury 0,6 cm;
pada menit ke-40 diperoleh tinggi slury sebesar 0,9 cm; pada menit ke-50 diperoleh
tingi slury 1,1 cm; pada menit ke-60 diperoleh tinggi slury 1,4 cm. Dapat
disimpulkan bahwa tinggi slury mengalami kenaikan seiring berjalannya waktu.

PraktikumOperasiTeknik Kimia I 15
Laporan Praktikum OTK I “Sedimentasi”

2.55
Kecepatan Pengendapan (v) (cm/menit)

2.5
y = 99.844x - 0.459
R² = 0.9892
2.45

2.4

2.35

2.3

2.25

2.2
0.0265 0.027 0.0275 0.028 0.0285 0.029 0.0295 0.03
Konsentrasi Slury (C1) (gr/cm3)

Grafik 2 Hubungan antara konsentrasi slury (C1, gr/cm3) dengan kecepatan


pengendapan (v, cm/menit) pada konsentrasi 3%

Pada grafik diatas pada konsentrasi slury terendah 0,0271 gram/cm3


diperoleh kecepatan pengendapan sebesar 2,25 cm/menit. Pada konsentrasi slury
tertinggi 0,0294 gram/cm3 diperoleh kecepatan pengendapan sebesar 2,49
cm/menit. Sehingga dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi konsentrasi slury
maka semakin besar pula kecepatan pengendapannya.

Tabel 6 perhitungan C0, C1, v, Q, Ap, D, dan h pada konsesntrasi 5%

C0 C1 v Q A D h
(gr/cm3) (gr/cm3) 3
(Cm/menit) (Cm /menit) (Cm2) (Cm) (Cm)
0,05 0,0494 2,55 50 19,6078 4,9978 25,5
0,05 0,0484 2,48 50 20,1613 5,0679 24,8
0,05 0,0494 2,53 50 19,7628 5,0175 25,3
0,05 0,0461 2,35 50 21,2766 5,2061 23,5
0,05 0,0455 2,31 50 21,6450 5,2510 23,1
0,05 0,0439 2,23 50 22,4215 5,3444 22,3

PraktikumOperasiTeknik Kimia I 16
Laporan Praktikum OTK I “Sedimentasi”

2.5

y = 0.0343x + 7E-16
2 R² = 0.989
Tinggi Slury (Z2) (cm)

1.5

0.5

0
0 10 20 30 40 50 60 70
Waktu Pengendapan (t) (menit)

Grafik 3 Hubungan antara waktu pengendapan (t,menit) dengan tinggi slury


(Z2,Cm) pada konsentrasi 5%

Pada grafik diatas pada konsesntrasi 5% . Pada saat menit ke-10 diperoleh
tinggi slury 0,4 cm; pada menit ke-20 diperoleh tinggi slury 0,8 cm; pada menit ke-
30 diperoleh tinggi slury 1 cm; pada menit ke-40 diperoleh tinggi slury sebesar 1,3
cm; pada menit ke-50 diperoleh tingi slury 1,7 cm; pada menit ke-60 diperoleh
tinggi slury 2,1 cm. Dapat disimpulkan bahwa tinggi slury mengalami kenaikan
seiring berjalannya waktu.

PraktikumOperasiTeknik Kimia I 17
Laporan Praktikum OTK I “Sedimentasi”

2.6
Kecepatan Pengendapan (v) (cm/menit)
2.55 y = 56.55x - 0.2563
R² = 0.997
2.5

2.45

2.4

2.35

2.3

2.25

2.2
0.0430 0.0440 0.0450 0.0460 0.0470 0.0480 0.0490 0.0500
Konsentrasi Slury (C1) (gr/ml)

Grafik 4 Hubungan antara konsentrasi slury (C1, gr/cm3) dengan kecepatan


pengendapan (v, cm/menit) pada konsentrasi 5%

Pada grafik diatas pada konsentrasi slury terendah 0,0439 gram/cm3


diperoleh kecepatan pengendapan sebesar 2,23 cm/menit. Pada konsentrasi slury
tertinggi 0,0494 gram/cm3 diperoleh kecepatan pengendapan sebesar 2,55
cm/menit. Sehingga dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi konsentrasi slury
maka semakin besar pula kecepatan pengendapannya.

Tabel 7 perhitungan C0, C1, v, Q, Ap, D, dan h pada konsesntrasi 7%

C0 C1 v Q A D h
(gr/cm3) (gr/cm3) 3
(Cm/menit) (Cm /menit) (Cm2) (Cm) (Cm)
0,07 0,0695 2,66 50 18,797 4,8934 26,6
0,07 0,0684 2,58 50 19,3798 4,9687 25,8
0,07 0,0695 2,61 50 19,1571 4,9400 26,1
0,07 0,0660 2,48 50 20,1613 5,0679 24,8
0,07 0,0646 2,41 50 20,7469 5,1409 24,1
0,07 0,0643 2,39 50 20,9205 5,1624 23,9

PraktikumOperasiTeknik Kimia I 18
Laporan Praktikum OTK I “Sedimentasi”

3
y = 0.0431x + 0.24
R² = 0.9886
2.5
Tinggi Slury (Z2) (cm)

1.5

0.5

0
0 10 20 30 40 50 60 70
Waktu Pengendapan (t) (menit)

Grafik 5 Hubungan antara waktu pengendapan (t,menit) dengan tinggi slury


(Z2,Cm) pada konsentrasi 7%

Pada grafik diatas pada saat menit ke-10 diperoleh tinggi slury 0,6 cm; pada
menit ke-20 diperoleh tinggi slury 1,1 cm; pada menit ke-30 diperoleh tinggi slury
1,6 cm; pada menit ke-40 diperoleh tinggi slury sebesar 2 cm; pada menit ke-50
diperoleh tingi slury 2,5 cm; pada menit ke-60 diperoleh tinggi slury 2,7 cm. Dapat
disimpulkan bahwa tinggi slury mengalami kenaikan seiring berjalannya waktu.

PraktikumOperasiTeknik Kimia I 19
Laporan Praktikum OTK I “Sedimentasi”

2.7
Kecepatan Pengendapan (v) (cm/menit)
2.65 y = 46.662x - 0.6073
R² = 0.9785
2.6

2.55

2.5

2.45

2.4

2.35
0.0640 0.0650 0.0660 0.0670 0.0680 0.0690 0.0700
Konsentrasi Slury (C1) (gr/ml)

Grafik 6 Hubungan antara konsentrasi slury (C1, gr/cm3) dengan kecepatan


pengendapan (v, cm/menit) pada konsentrasi 7%

Pada grafik diatas pada konsentrasi slury terendah 0,0643 gram/cm3


diperoleh kecepatan pengendapan sebesar 2,39 cm/menit. Pada konsentrasi slury
tertinggi 0,0695 gram/cm3 diperoleh kecepatan pengendapan sebesar 2,66
cm/menit. Sehingga dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi konsentrasi slury
maka semakin besar pula kecepatan pengendapannya.

Tabel 8 perhitungan C0, C1, v, Q, Ap, D, dan h pada konsesntrasi 9%

C0 C1 v Q A D h
(gr/cm3) (gr/cm3) 3
(Cm/menit) (Cm /menit) (Cm2) (Cm) (Cm)
0,09 0,0887 2,66 50 18,797 4,8934 26,6
0,09 0,0873 2,6 50 19,2308 4,9495 26
0,09 0,0866 2,55 50 19,6078 4,9978 25,5
0,09 0,0849 2,49 50 20,0803 5,0577 24,9
0,09 0,0842 2,47 50 20,2429 5,0781 24,7
0,09 0,0835 2,45 50 20,4082 5,0988 24,5

PraktikumOperasiTeknik Kimia I 20
Laporan Praktikum OTK I “Sedimentasi”

4
y = 0.0566x + 0.2533
3.5 R² = 0.9734
3
Tinggi Slury (Z2) (cm)

2.5

1.5

0.5

0
0 10 20 30 40 50 60 70
Waktu Pengendapan (t) (menit)

Grafik 7 Hubungan antara waktu pengendapan (t,menit) dengan tinggi slury


(Z2,Cm) pada konsentrasi 9%

Pada grafik diatas pada saat menit ke-10 diperoleh tinggi slury 0,7 cm; pada
menit ke-20 diperoleh tinggi slury 1,3 cm; pada menit ke-30 diperoleh tinggi slury
2,4 cm; pada menit ke-40 diperoleh tinggi slury sebesar 2,8 cm; pada menit ke-50
diperoleh tingi slury 3 cm; pada menit ke-60 diperoleh tinggi slury 3,5 cm. Dapat
disimpulkan bahwa tinggi slury mengalami kenaikan seiring berjalannya waktu.

PraktikumOperasiTeknik Kimia I 21
Laporan Praktikum OTK I “Sedimentasi”

2.7
Kecepatan Pengendapan (v) (cm/menit)
y = 40.951x - 0.9796
2.65
R² = 0.9849

2.6

2.55

2.5

2.45

2.4
0.0830 0.0840 0.0850 0.0860 0.0870 0.0880 0.0890
Konsentrasi Slury (C1) (gr/ml)

Grafik 8 Hubungan antara konsentrasi slury (C1, gr/cm3) dengan kecepatan


pengendapan (v, cm/menit) pada konsentrasi 7%

Pada grafik diatas pada konsentrasi slury terendah 0,0835 gram/cm3


diperoleh kecepatan pengendapan sebesar 2,45 cm/menit. Pada konsentrasi slury
tertinggi 0,0887 gram/cm3 diperoleh kecepatan pengendapan sebesar 2,66
cm/menit. Sehingga dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi konsentrasi slury
maka semakin besar pula kecepatan pengendapannya

PraktikumOperasiTeknik Kimia I 22
Laporan Praktikum OTK I “Sedimentasi”

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

V.1 Kesimpulan
1. Endapan paling tinggi diperoleh pada larutan tepung tapioka 9% dengan
tinggi endapan 3,8 cm dan tinggi cairan bening 1,9 cm
2. Endapan paling rendah diperoleh pada larutan tepung tapioka 3% dengan
tinggi endapan 1,4 cm dan tinggi cairan bening 2,4 cm
3. Semakin bertambahnya waktu pengendapan maka tinggi endapan yang
dihasilkan semakin tinggi
4. Semakin tinggi konsentrasi slurry maka kecepatan pengendapan semakin
besar

V.2 Saran
1. Sebaiknya praktikan lebih teliti saat mengamati tinggi endapan dan cairan
bening
2. Sebaiknya praktikan terlebih dahulu memahami prosedur percobaan
3. Sebaiknya praktikan terlebih dahulu memahami konsep dasar sedimentasi

PraktikumOperasiTeknik Kimia I 23
Laporan Praktikum OTK I “Sedimentasi”

DAFTAR PUSTAKA

Geankoplis,Cristie J. 1997. “Transport Process and Unit Operations”. Newdelhi :


Prantice-Hall of India
McCabe,Warren L,dkk. 1985. “Unit Operations of Chemical Engineering”.
Newyork : McGraw Hill Company
Modul OTK 1. 2018. “Sedimentasi”. Surabaya : Jurusan Teknik Kimia Universitas
Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur
MSDS. 2013. “Starch Soluble” (www.scienclab.com/msds). Diakses pada tanggal
16 Februari 2018 pukul 20.00 WIB
MSDS. 2013. “Water” (www.scienclab.com/msds). Diakses pada tanggal 16
Februari 2018 pukul 20.20 WIB
Silvia, Tivany. 2013. “ Studi Pengaruh Konsentrasi CaCO3 Terhadap Kecepatan
Sedimentasi Secara Batch” (www.scribd.com/doc/sedimen-jurnal-nih).
Diakses pada tanggal 16 Februari 2018 pukul 16.00 WIB

PraktikumOperasiTeknik Kimia I 24
Laporan Praktikum OTK I “Sedimentasi”

APPENDIX

1. Perhitungan pembuatan larutan


a. Massa tepung tapioka konsentrasi 3%
massa terlarut
% berat = × 100%
massa larutan
massa terlarut
3% = × 100%
500 ml
Massa terlarut = 15 gram
Jadi, 15 gram tepung tapioka dilarutkan dengan air hingga 500 ml
b. Massa tepung tapioka konsentrasi 5%
massa terlarut
% berat = × 100%
massa larutan
massa terlarut
5% = × 100%
500 ml
Massa terlarut = 25 gram
Jadi, 25 gram tepung tapioka dilarutkan dengan air hingga 500 ml
c. Massa tepung tapioka konsentrasi 7%
massa terlarut
% berat = × 100%
massa larutan
massa terlarut
7% = × 100%
500 ml
Massa terlarut = 35 gram
Jadi, 35 gram tepung tapioka dilarutkan dengan air hingga 500 ml
d. Massa tepung tapioka konsentrasi 9%
massa terlarut
% berat = × 100%
massa larutan
massa terlarut
9% = × 100%
500 ml
Massa terlarut = 45 gram
Jadi, 45 gram tepung tapioka dilarutkan dengan air hingga 500 ml

PraktikumOperasiTeknik Kimia I 25
Laporan Praktikum OTK I “Sedimentasi”

2. Perhitungan konsentrasi larutan 3%


a. Konsentrasi supernatant (Co)
massa terlarut 15 gr
Co = = = 0,03 gr/ml
volume 500 ml
b. Konsentrasi slurry (C1)
Z0 − Z1 (24,5 − 0,5)cm gr
C1 = × Co = × 0,03 = 0,0294 gr/ml
Z0 25,4 cm ml
c. Kecepatan pengendapan (v)
Z0 − Z1 ( 25,4 − 0,5 )cm
v= = = 2,49 cm/menit
∆t 10 menit
d. Debit (Q)
volume 500 cm3
Q= = = 50 cm3 /menit
∆t 10 menit
e. Luas Permukaan (Ap)
Q 50 cm3 /menit
Ap = = = 20,0803 cm2
v 2,49 cm/menit
f. Diameter (D)

4 Ap 4 × 20,0803 cm2
D= √ = √ = 5,0577 cm
π 3,14

g. Tinggi continuous thickener (h)


Q ∆t 50 cm3 ⁄menit × 10 menit
h= = = 24,9 cm
Ap 20,0833 cm2

PraktikumOperasiTeknik Kimia I 26