Anda di halaman 1dari 16

LAPORANPENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN

PADA BAYI DENGAN INFEKSI NEONATRUM

I. KONSEP DASAR PENYAKIT


A. Pengertian Infeksi Neonatrum
Inkfesi Neonatorum atau Infeksi adalah infeksi bakteri umum generalisata yang
biasanya terjadi pada bulan pertama kehidupan. yang menyebar ke seluruh tubuh bayi
baru lahir.Infeksi adalah sindrom yang dikarakteristikan oleh tanda-tanda klinis dan
gejala-gejala infeksi yang parah yang dapat berkembang ke arah septisemia dan syok
septik. (Doenges, Marylyn E. 2000, hal 871).
Septisemia menunjukkan munculnya infeksi sistemik pada darah yang disebabkan
oleh penggandaan mikroorganisme secara cepat dan zat-zat racunnya yang dapat
mengakibatkan perubahan psikologis yang sangat besar. Infeksi merupakan respon tubuh
terhadap infeksi yang menyebar melalui darah dan jaringan lain. Infeksi terjadi pada
kurang dari 1% bayi baru lahir tetapi merupakan penyebab dari 30% kematian pada bayi
baru lahir. Infeksi bakteri 5 kali lebih sering terjadi pada bayi baru lahir yang berat
badannya kurang dari 2,75 kg dan 2 kali lebih sering menyerang bayi laki-laki. Pada lebih
dari 50% kasus, infeksi mulai timbul dalam waktu 6 jam setelah bayi lahir, tetapi
kebanyakan muncul dalam waktu 72 jam setelah lahir.Infeksi yang baru timbul dalam
waktu 4 hari atau lebih kemungkinan disebabkan oleh infeksi nasokomial (infeksi yang
didapat di rumah sakit).
Pembagian Inkfesi:
1. Inkfesi Dini : terjadi 7 hari pertama kehidupan.
Karakteristik :
sumber organisme pada saluran genital ibu dan atau cairan amnion,
biasanya fulminan dengan angka mortalitas tinggi.
2. Inkfesi lanjutan/nosocomial
yaitu terjadi setelah minggu pertama kehidupan dan didapat dari lingkungan pasca
lahir.
Karakteristik : Didapat dari kontak langsung atau tak langsung dengan organisme
yang ditemukan dari lingkungan tempat perawatan bayi, sering mengalami
komplikasi.

B. Etiologi
Etiologi terjadinya infeksi pada neonatus adalah dari bakteri.virus, jamur dan protozoa
(jarang). Penyebab yang paling sering dari infeksi awitan awal adalah Streptokokus grup
B dan bakteri enterik yang didapat dari saluran kelamin ibu. Infeksi awitan lanjut dapat
disebabkan oleh SGB, virus herpes simplek (HSV), enterovirus dan E.coli. Pada bayi
dengan berat badan lahir sangat rendah, Candida dan Stafilokokus koagulase-negatif
(CONS), merupakan patogen yang paling umum pada infeksi awitan lanjut.
Jika dikelompokan maka didapat :
a. Bakteri gram positif
- Streptokokus grup B → penyebab paling sering.
- Stafilokokus koagulase negatif → merupakan penyebab utama bakterimia
nosokomial.
- Streptokokus bukan grup B.
b. Bakteri gram negatif
- Escherichia coli Kl penyebab nomor 2 terbanyak.
- H. influenzae.
- Listeria monositogenes.
- Pseudomonas
- Klebsiella.
- Enterobakter.
- Salmonella.
- Bakteria anaerob.
- Gardenerella vaginalis.
Walaupun jarang terjadi, terhisapnya cairan amnion yang terinfeksi dapat
menyebabkan pneumonia dan infeksi dalam rahim, ditandai dengan distres janin atau
asfiksia neonatus. Pemaparan terhadap patogen saat persalinan dan dalam ruang
perawatan atau di masyarakat merupakan mekanisme infeksi setelah lahir.

C. Patofisiologi
Infeksi dimulai dengan invasi bakteri dan kontaminasi sistemik. Pelepasan endotoksin
oleh bakteri menyebabkan perubahan fungsi miokardium, perubahan ambilan dan
penggunaan oksigen, terhambatnya fungsi mitokondria, dan kekacauan metabolik yang
progresif. Pada infeksi yang tiba-tiba dan berat, complement cascade menimbulkan
banyak kematian dan kerusakan sel. Akibatnya adalah penurunan perfusi jaringan,
asidosis metabolik, dan syok, yang mengakibatkan disseminated intravaskuler
coagulation (DIC) dan kematian.
Faktor- factor yang mempengaruhi kemungkinan infeksi secara umum berasal dari
tiga kelompok, yaitu :
1. Faktor Maternal
a Status sosial-ekonomi ibu, ras, dan latar belakang. Mempengaruhi
kecenderungan terjadinya infeksi dengan alasan yang tidak diketahui
sepenuhnya. Ibu yang berstatus sosio- ekonomi rendah mungkin nutrisinya
buruk dan tempat tinggalnya padat dan tidak higienis. Bayi kulit hitam lebih
banyak mengalami infeksi dari pada bayi berkulit putih.
b Status paritas (wanita multipara atau gravida lebih dari 3) dan umur ibu
(kurang dari 20 tahun atua lebih dari 30 tahun.
c Kurangnya perawatan prenatal.
d Ketuban pecah dini (KPD).
e Prosedur selama persalinan.
2. Faktor Neonatatal
a. Prematurius (berat badan bayi kurang dari 1500 gram)
Merupakan faktor resiko utama untuk infeksi neonatal. Umumnya imunitas
bayi kurang bulan lebih rendah dari pada bayi cukup bulan. Transpor
imunuglobulin melalui plasenta terutama terjadi pada paruh terakhir trimester
ketiga. Setelah lahir, konsentrasi imunoglobulin serum terus menurun,
menyebabkan hipigamaglobulinemia berat. Imaturitas kulit juga melemahkan
pertahanan kulit.
b. Defisiensi imun
Neonatus bisa mengalami kekurangan IgG spesifik, khususnya terhadap
streptokokus atau Haemophilus influenza. IgG dan IgA tidak melewati
plasenta dan hampir tidak terdeteksi dalam darah tali pusat. Dengan adanya
hal tersebut, aktifitas lintasan komplemen terlambat, dan C3 serta faktor B
tidak diproduksi sebagai respon terhadap lipopolisakarida. Kombinasi antara
defisiensi imun dan penurunan antibodi total dan spesifik, bersama dengan
penurunan fibronektin, menyebabkan sebagian besar penurunan aktivitas
opsonisasi.

c. Laki-laki dan kehamilan kembar.


Insidens infeksi pada bayi laki- laki empat kali lebih besar dari pada bayi
perempuan.
3. Faktor Lingkungan
a. Pada defisiensi imun bayi cenderung mudah sakit sehingga sering memerlukan
prosedur invasif, dan memerlukan waktu perawatan di rumah sakit lebih lama.
Penggunaan kateter vena/ arteri maupun kateter nutrisi parenteral merupakan
tempat masuk bagi mikroorganisme pada kulit yang luka. Bayi juga mungkin
terinfeksi akibat alat yang terkontaminasi.
b. Paparan terhadap obat-obat tertentu, seperti steroid, bis menimbulkan resiko
pada neonatus yang melebihi resiko penggunaan antibiotik spektrum luas,
sehingga menyebabkan kolonisasi spektrum luas, sehingga menyebabkan
resisten berlipat ganda.
c. Kadang- kadang di ruang perawatan terhadap epidemi penyebaran
mikroorganisme yang berasal dari petugas ( infeksi nosokomial), paling sering
akibat kontak tangan.
d. Pada bayi yang minum ASI, spesiesLactbacillus danE.colli ditemukan dalam
tinjanya, sedangkan bayi yang minum susu formula hanya didominasi
olehE.col li.
Mikroorganisme atau kuman penyebab infeksi dapat mencapai neonatus melalui
beberapa.
cara yaitu :
 Pada masa antenatal atau sebelum lahir pada masa antenatal kuman dari ibu
setelah melewati plasenta dan umbilicus masuk kedalam tubuh bayi melalui
sirkulasi darah janin. Kuman penyebab infeksi adalah kuman yang dapat
menembus plasenta, antara lain virus rubella, herpes, sitomegalo, koksaki,
hepatitis, influenza, parotitis. Bakteri yang dapat melalui jalur ini antara lain
malaria, sifilis dan toksoplasma.
 Pada masa intranatal atau saat persalinan infeksi saat persalinan terjadi karena
kuman yang ada pada vagina dan serviks naik mencapai kiroin dan amnion
akibatnya, terjadi amnionitis dan korionitis, selanjutnya kuman melalui umbilkus
masuk ke tubuh bayi. Cara lain, yaitu saat persalinan, cairan amnion yang sudah
terinfeksi dapat terinhalasi oleh bayi dan masuk ke traktus digestivus dan traktus
respiratorius, kemudian menyebabkan infeksi pada lokasi tersebut. Selain melalui
cara tersebut diatas infeksi pada janin dapat terjadi melalui kulit bayi atau “port de
entre” lain saat bayi melewati jalan lahir yang terkontaminasi oleh kuman (mis.
Herpes genitalis, candida albican dan gonorrea).
 Infeksi pascanatal atau sesudah persalinan. Infeksi yang terjadi sesudah kelahiran
umumnya terjadi akibat infeksi nosokomial dari lingkungan diluar rahim (mis,
melalui alat-alat; pengisap lendir, selang endotrakea, infus, selang nasagastrik,
botol minuman atau dot). Perawat atau profesi lain yang ikut menangani bayi
dapat menyebabkan terjadinya infeksi nasokomial.

D. Tanda dan Gejala


1. Umum : panas, hipotermi, tampak tidak sehat, malas minum, letargi, sklerema
2. Saluran cerna : distensi abdomen, anoreksia, muntah, diare, hepatomegali
3. Saluran napas : apnea, dispnea, takipnea, retraksi, napas cuping hidung, merintih,
sianosis
4. Sistem kardiovaskuler : pucat, sianosis, kulit marmorata, kulit lembab, hipotensi,
takikardi, bradikardia.
5. Sistem saraf pusat : irritabilitas, tremor, kejang, hiporefleksi, malas minum,
pernapasan tidak teratur, ubun-ubun menonjol,high-pitched cry
6. Hematologi : ikterus,splenomegali, pucat, petekie, purpura, pendarahan.
(Kapita selekta kedokteran Jilid II,Mansjoer Arief 2008).
Gejala infeksi yang terjadi pada neonatus antara lain bayi tampak lesu, tidak kuat
menghisap, denyut jantungnya lambat dan suhu tubuhnya turun-naik. Gejala-gejala
lainnya dapat berupa gangguan pernafasan, kejang, jaundice, muntah, diare, dan perut
kembung.
Gejala dari infeksi neonatorum juga tergantung kepada sumber infeksi dan
penyebarannya :
- Infeksi pada tali pusar (omfalitis) menyebabkan keluarnya nanah atau darah dari
pusar.
- Infeksi pada selaput otak (meningitis) atau abses otak menyebabkan koma, kejang,
opistotonus (posisi tubuh melengkung ke depan) atau penonjolan pada ubun-ubun.
- Infeksi pada tulang (osteomielitis) menyebabkan terbatasnya pergerakan pada lengan
atau tungkai yang terkena.
- Infeksi pada persendian menyebabkan pembengkakan, kemerahan, nyeri tekan dan
sendi yang terkena teraba hangat.
- Infeksi pada selaput perut (peritonitis) menyebabkan pembengkakan perut dan diare
berdarah.

E. Komplikasi
1. Meningitis.
2. Hipoglikemia, asidosis metabolic.
3. Koagulopati, gagal ginjal, disfungsi miokard, perdarahan intracranial.
4. Ikterus/kernikterus.

F. Manifestasi Klinis
Hanya sebatas pada organ tunggal atau mungkin melibatkan banyak organ (setempat
atau sistemik).
- Dapat ringan, sedang atau berat.
- Akut, sub akut atau kronis.
- Atau mungkin asimtomatik.
- Ketidakmampuan mentoleransi makanan.
- Iritabilitas.
- Lesu

G. Diagnosa
Gambaran klinisnya tumpang tindih dan mungkin pada awalnya tidak dapat dibedakan.
- Penyakit mungkin tidak tampak.
- Infeksi ibu sering kali asimtomatik.
- Pemeriksaan laboratorium khusus mungkin diperlukan.
- Pengobatan spesisfik untuk toksoplasmosis, sifilis dan herpes simpleks didasarkan
pada suatu diagnosis yang akurat dan dapat menurunkan morbiditas jangka panjang
secara bermakna.

H. Penegakan Diagnosa
Diagnosis infeksi perinatal sangat penting, yaitu di samping untuk kepentingan bayi
itu sendiri juga lebih penting lagi untuk kamar bersalin dan ruang perawatannya.
Diagnosis infeksi perinatal tidaklah mudah. Tanda khas seperti yang terdapat pada bayi
sering kali tidak ditemukan. Biasanya diagnosis yang ditegakkan dengan observasi yang
teliti, amnesia kehamilan dan persalinan yang teliti, serta akhirnya dengan pemeriksaan
fisik dan laboratorium. Infeksi pada neonatus cepat sekali menjalar menjadi infeksi
umum, sehingga gejala infeksi lokal tidak menonjol lagi. Walaupun demikian, diagnosis
dini dapat kita tegakkan jika kita cukup waspada terhadap tingkah laku neonatus yang
sebagai pertanda awal dari permulaan infeksi umum.
Menegakkan diagnosis sepsis perlu dilakukan pemeriksaan penunjang sebagai
berikut :
1. Hitung darah lengkap dengan turunannya
Yang terpenting adalah jumlah sel darah merah (WBC).septik neonatus biasanya
menunjukkan penurunan jumlah white blood cell (WBC), yaitu kurang dari 500
mm. Hitung jenis darah juga menunjukkan banyak WBC tidak matang dalam
aliran darah. Banyaknya darah tidak matang dihubungkan dengan jumlah total
WBC diidentifikasikan bahwa bayi men galami respons yang signifikan.
2. Platelet
Biasanya 150.000 sampai 300.000 mm pada keadaan sepsis platelet menurun,
kultur darah gram negatif atau positif, dan tes sensitivitas. Hasil dari kultur harus
tersedia dalam beberapa jam dan akan mengindikasikan jumlah dan jenis bakteri.
Kultur darah atau sensitivitas membutuhkan waktu 24 – 48 jam untuk
mengembangkan dan mengidentifikasikan jenis patogen serta antibiotik yang
sesuai.
3. Lumbal pungsi untuk kultur dan tes sensitivitas pada cairan serebrospinal.
Hal ini dilakukan jika ada indikasi infeksi neuron.
4. Kultur urine
a. Kultur permukaan (surface culture)
Untuk mengidentifikasi kolonisasi, tidak spesifik untuk infeksi bakteri.
b. Pencegahan infeksi pada neonates
Cara pencegahan pada neonatus dapat dibagi sebagai berikut :
1) Cara umum
 Pencegahan infeksi neonatus sudah harus dimulai dari periode
antenatal infeksi ibu harus diobati dengan baik, misalnya infeksi
umum, lekorea, dan lain –lain. Di kamar bersalin harus ada
pemisahan yang sempurna antara bagian yang sepsis dengan aseptik.
Pemisahan ini mencakup ruangan, tenaga perawatan, serta alat
kedokteran dan alat perawatan. Ibu yang akan melahirkan sebelumnya
masuk kamar bersalin. Pada kelahiran bayi, pertolongan harus
dilakukan secara aseptik. Suasana kamar bersalin harus sama dengan
kamar operasi. Alat yang digunakan harus steril.
 Di kamar bayi yang baru lahir harus ada pemisahan yang sempurna
untuk bayi yang baru lahir dengan partus aseptik dan partus septik.
Pemisahan ini harus mencakup personalia, fasilitas perawatan, dan
alat yang digunakan. Selain itu juga dilakukan pemisahan terhadap
bayi yang menderita penyakit menular. Perawat harus mendapat
pendidikan khusus dan mutu perawatan harus baik, apalagi bila kamar
perawatan bayi merupakan suatu kamar perawatan yang khusus.
Sebelum dan sesudah memegang bayi harus cuci tangan. Mencuci
tangan dengan menggunakan sabun antiseptik atau sabun biasa asal
cukup lama, dalam ruangan harus memakai jubah steril, masker, dan
sandal khusus. Dalam ruangan bayi, kita tidak boleh banyak bicara,
dan bila menderita sakit saluran pernapasan atas, tidak boleh masuk
kamar bayi.
 Dapur susu harus bersih dan cara mencampur harus aspetik air susu
ibu yang dipompa sebelum diberikan kepada bayi harus
dipasteurisasi dulu. Setiap bayi harus punya tempat pakaian tersendiri,
begitu juga inkubator harus sering dibersihkan dan lantai ruangan
setiap hari harus dibersihkan serta setiap minggu dicuci dengan
menggunakan antiseptik.
2) Cara khusus
 Pemakaian antibiotik hanya untuk tujuan dan indikasi yang jelas.
 Pada beberapa keadaan, misalnya ketuban pecah lama (lebih dari 12
jam) air ketuban keruh, infeksi sistemik pada ibu, partus yang lama dan
banyak manipulasi intravaginal. Resusitasi yang berat sering timbul
dilema apakah akan digunakan antibiotik secara prokfilaksis.
Penggunaan antibiotik yang banyak dan tidak terarah dapat
menyebabkan timbulnya jamur yang berlebihan, misalnya kandida
albikans. Sebaliknya jika terlambat memberikan antibiotik pada
penyakit infeksi neonatus, sering berakibat kematian.
Berdasarkan hal diatas, dapat disimpulkan sebagai berikut :
 Bila kemampuan pengawasan klinis dan laboratoriun cukup baik, sebaiknya
tidak perlu memberikan antibiotika profilaksis, antibiotika baru diberikan
kalau sudah terdapat tanda infeksi
 Bila kemampuan tersebut tidak ada maka dapat digunakan pemberian
antibiotik profilaksis berupa ampisilin 100 mg/kgbb/hari dan gentamisin3-5
mg/kgbb/hari salama 3-5 hari. Selain hal yang telah diterapkan di atas, petugas
yang merupakan karier hukum tertentu harus hati-hati dalam menjalankan
tugas perawatan. Masih merupakan masalah yang belum terpecahkan apakah
para karier ini harus dilarang bekerja di bangsal perawatan bayi baru lahir dan
harus diobati lebih dahulu. Namun, selama syarat aseptik dan antiseptik
diperhatikan kemungkinan petugas ini untuk menularkan penyakit dapat
diatasi.
Ada dua alasan utama yang menyebabkan infeksi neonatus, yaitu perlindungan
dari uterus tidak ada lagi, dan tidak cukupnya daya tahan tubuh neonatus terhadap
penyakit. Fetus dapat terinfeksi dari uterus atau neonatus terinfeksi sepanjang
jalan lahir atau dari infeksi asendens yang mengikuti ruptur membran. Infeksi
perinatal menyebabkan transmisi vertikal infeksi. Contoh transmisi vertikal ini
adalah infeksi Toxoplasmosis Other Rubella Cytomegalo (TORCH), virus dan
herpes kongenital, serta hepatitis.

I. Pencegahan
Penatalaksanaan yang agresif diberikan pada ibu yang dicurigai menderita :
- korioamnionitis dengan antibiotika sebelum persalinan,
- persalinan yang cepat bagi bayi baru lahir,
- dan kemoprofilaksis intrapartum
- selektif nampak dapat menurunkan tingkat
- morbiditas dan mortalitas pada infeksi bekteri neonatus.
- Perawatan tali pusat,
- sterilisasi peralatan dan
- pencucian tangan adalah hal yang sangat penting.

J. Penatalaksanaan
1. Suportif
- Lakukan monitoring cairan elektrolit dan glukosa
- Berikan koreksi jika terjadi hipovolemia, hipokalsemia dan hipoglikemia
- Bila terjadi SIADH (Syndrome of Inappropriate Anti Diuretik Hormon) batasi
cairan
- Atasi syok, hipoksia, dan asidosis metabolic.
- Awasi adanya hiperbilirubinemia
- Lakukan transfuse tukar bila perlu
- Pertimbangkan nurtisi parenteral bila pasien tidak dapat menerima nutrisi enteral.
2. Kausatif
Antibiotik diberikan sebelum kuman penyebab diketahui. Biasanya digunakan
golongan Penicilin seperti Ampicillin ditambah Aminoglikosida seperti Gentamicin.
Pada infeksi nasokomial, antibiotic diberikan dengan mempertimbangkan flora di
ruang perawatan, namun sebagai terapi inisial biasanya diberikan vankomisin dan
aminoglikosida atau sefalosforin generasi ketiga. Setelah didaapt hasil biakan dan uji
sistematis diberikan antibiotic yang sesuai. Tetapi dilakukan selama 10-14 hari, bila
terjadi Meningitis, antibiotic diberikan selama 14-21 hari dengan dosis sesuai untuk
Meningitis.
a. Pada Masa Antenatal
Perawatan antenatal meliputi pemeriksaan kesehatan ibu secara berkala,
imunisasi, Pengobatan terhadap penyakit infeksi yang diderita ibu, asupan gizi
yang memadai. Penanganan segera terhadap keadaan yang dapat menurunkan
kesehatan ibu dan janin.Rujuk ke pusat kesehatan bila diperlukan.
b. Pada Masa Persalinan
Perawatan ibu selama persalinan dilakukan secara aseptik. Pada masa pasca
Persalinan Rawat gabung bila bayi normal, pemberian ASI secepatnya, jaga
lingkungan danperalatan tetap bersih, perawatan luka umbilikus secara steril.
II. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
Perawat mempunyai tugas yang penting dalam mengkaji tanda-tanda infeksi pada
neonatus, tanda dan gejala sepsis pada neonatus sering tak terlihat dan dikenali oleh
pemberi keperawatan profesional. Perawat neonatus mempunyai tanggung jawab untuk
mengenali tanda-tanda, sehingga diagnosis dan perawatannya dapat diberikan segera.
1. Biodata bayi
2. Riwayat kesehatan sekarang
a. Sistem saraf pusat
 Fontanel yang menonjol.
 Letargi.
 Temperatur yang tidak stabil.
 Hipotonia.
 Tremor yang kuat.
b. Sistem pencernaan
 Hilangnya keinginan untuk menyusui.
 Penurunan intake melalui oral.
 Muntah.
 Diare.
 Distensi abdomen.
c. Sistem integumen
 Kuning.
 Adanya lesi.
 Ruam.
d. Sistem pernapasan
 Apnea.
 Sianosis.
 Takipnea.
 Penurunan saturasi oksigen.
 Nasal memerah, mendengkur, dan retraksi dinding dada.
e. Sistem kardiovaskular
 Takikardi.
 Menurunnya denyut perifer.
 Pucat.
3. Riwayat kesehatan keluarga
Apakah ada anggota keluarga yang menderita sifilis.
4. Data psikologi
 Keluhan dan reaksi bayi terhadap penyakitnya.
 Tingkat adaptasi bayi terhadap penyakitnya.

B. Diagnosis Keperawatan
Diagnosis keperawatan yang mungkin ditemukan pada infeksi neonatus :
1. Pola napas tidak efektifnya yang berhubungan dengan meningkatnya sekret di
saluran napas.
2. Gangguan temperatur tubuh (hipertermia) yang berhubungan dengan proses infeksi.
3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
ketidak mampuan menerima nutrisi, imaturitas peristaltik gostrointestinal.
4. Kurangnya volume cairan yang berhubungan dengan diare dan malas menyusui.
5. Resiko infeksi dibuktikan dengan faktor pencetus infeksi.
6. Kesiapan meningkatkan manajemen kesehatan yang dibuktikan oleh adanya
pernyataan ingin meningkatkan kesehatan.
7. Defisiesi pengetahuan yang berhubungan dengan kurang informasi dan kurang
sumber pengetahuan.

C. Perencanaan Keperawatan
Diagnosa Tujuan & Kriteria Hasil Intervensi
No.
Keperawatan (NOC) (NIC)
1. Pola nafas tidak NOC : NIC :
efektif b.d.  Respiratory status : Airway management
penyempitan ventilation - Posisikan bayi untuk
 Respiratory status :
bronkus. memaksimalkan
Airway patency
ventilasin pemasangan
 Vital Sign status
alat jalan nafas buatan
Kriteria hasil :
- Auskultasi suara nafas,
- Menunjukan jalan nafas
catat adanya suara nafas
yang paten (klien tidak
tambahan
merasa tercekik, irama - Lakukan suction pada
nafas, frekuensi mayo
- Atur intake untuk cairan
pernafasan, dalam
dan mengoptimalkan
rentang normal, tidak
keseimbangan
ada suara nafas
- Monitor respirasi dan
abnormal)
status O2
- Tanda tanda vital dalam
Oxigen Therapy
rentang normal (nadi,
pernapasan, suhu). - Bersihkan mulut, hidung
dan secret trakea
- Pertahankan jalan nafas
yang paten
- Atur peralatan oksigenasi
- Monitor aliran oksigen
- Pertahankan posisi pasien
- Observasi adanya tanda-
tanda hipoventilasi
Vital Sign Monitoring
- Monitor nadi, suhu, dan
RR
- Monitor frekuensi dan
irama pernapasan.
2. Gangguan NOC NIC
 Termoregulasi New Born Care
temperatur tubuh
 Termogulasi Newborn - Pengaturan suhu :
(hipertermia)
Kriteria hasil : mencapai dan dapat
berhubungan
- Suhu kulit normal mempertahankan suhu
dengan terpapar - Suhu badan 36,0-37,0 ̊ C
tubuh dalam range normal
- TTV dalam batas normal
lingkungan panas.
(36,0-37,0 ͦ C).
(pernapasan dan nadi,
- Pantau suhu bayi baru
suhu)
lahir sampai stabil.
- Hidrasi adekuat - Pantau tekanan darah
- Gula darah dalam batas
nadi, dan pernafasan
normal
dengan tepat.
- Keseimbangan asam
- Pantau warna-warna dan
basa dalam batas
suhu kulit.
normal. - Pantau dan laporkan
- Bilirubin dalam batas
tanda dan gejala
normal
hipotermi dan hipertemi.
- Tingkat keadekuatan
masukan cairan dan
nutrisi.
- Tempatkan bayi baru lahir
pada ruangan isolasi.
- Pertahankan panas tubuh
bayi.
- Gunakan matras panas
dan selimut hangat yang
disesuaikan dengan
kebutuhan.
Temperature regulation
(pengaturan suhu)
- Monitor suhu minimal
setiap 2 jam.
- Rencanakan monitoring
suhu secara kontinyu.
- Monitot, nadi, suhu, dan
RR.
- Monitor warna dan suhu
kulit.
- Monitor tanda tanda
hipotermi dan hipertermi.
- Tingkatkan intake cairan
dan nutrisi.
- Selimuti pasien untuk
mencegah hilangnya
kehangatan tubuh.
- Ajarkan pada pasien cara
mencegah keletihan
akibat panas.
Temperature regulation:
intraoperatif
- Mempertahankan suhu
tubuh interaoperatif
yang di harapkan
3. Ketidakseimbangan NOC : Nutrition manajement
 Nutritional status : - Kaji kemampuan pasien
nutrisi kurang dari
food and fluid intake untuk menelan
kebutuhan tubuh
 Nutritional status : - Berikan informasi kepada
berhubungan
nutrient intake keluarga tentang
dengan ketidak  Weight intake
kebutuhan nutrisi pasien
mampuan Kriteria hasil : - Kolaborasi dengan ahli
menerima nutrisi, - Mampu gizi untuk menentukan
imaturitas mengidenrifikasi jumlah kalori dan nutrisi
peristaltik kebutuhan nutrisi. yang dibutuhkan pasien
- Tidak ada tanda tanda - Berikan nutrisi yang telah
gostrointestinal.
malnutrisi. di tentukan sesuai intruksi
- Menunjukan
ahli gizi.
peningkatan fungsi
Nutrition monitoring
pengecap dari menelan.
- Berat badan bayi sesuai
- Tidak terjadi penurunan
dengan batas normal.
berat badan yang ada
- Monitor kalori dan intake
artinya.
nitrisi.
- Monitor turgor kulit.
- Catat adanya udeme,
hiperemik, hipertonik,
papilla lidah dan cavitasi
oral.
- Monitor apakah bayi
mengalami mual ataupun
muntah.
- Monitor kadar albumin,
total protein, hb dan kadar
hematokrit.
4. Gangguan volume NOC I : Fluid balance, NIC : Fluid management
cairan tubuh Hydration, Nutrional - Timbang popok jika
berhubungan Status : Food and Fluid diperlukan.
dengan malas intake - Pertahankan catatan
menyusui. Tujuan: Setelah dilakukan intake dan output yang
tindakan kepeerawatan akurat.
selama proses keperawatan - Monitor status hidrasi
diharapkan cairan tubuh ( kelembaban membrane
pasien adekuat. mukosa, nadi adekuat,
Kriteria hasil : tekanan darah normal )
1. Mempertahankan urine - Menitor vital sign
output sesuai dengan - Monitor masukan
usia dan BB, banyak makanan / cairan.
jumlah urine normal. - Kolaborasi pemberian
2. Tekanan darah, nadi, cairan IV
suhu tubuh dalam batas - Monitor status nutrisi
normal.
3. Tidak ada tanda
dehidrasi, elastic turgor
kulit baik, membrane
mukosa lembab.
5. Resiko infeksi NOC NIC
 Immune status Infection control (control
dibuktikan dengan
 Knowledge: infection infeksi)
faktor pencetur - Pertahankan teknik
control
infeksi.  Risk control isolasi.
Kriteria hasil : - Batasi pengunjung bila

- Klien bebas dari tanda perlu.


- Intrusikan pada
gejala infeksi.
- Mendiskripsikan proses pengunjung untuk

penularan penyakit, mencuci tangan saat

factor yang berkunjung dan setelah

mempengaruhi berkunjung ketika

penularan serta meninggalkan pasien.


- Gunakan sabun
penatalaksanaannya.
- Menunjukan antimikroba untuk cuci

kemampuan untuk tangan.


- Cuci tangan setiap
mencegah timbulnya sebelum dan sesudah
infeksi. tindakan keperawatan.
- Gunakan APD yang
cukup.
- Berikan terapi antibiotic
bila perlu untuk
memproteksi terhadap
infeksi.
- Monitor tanda gejala
infeksi.

D. Implementasi Keperawatan
Implementasi merupakan tindakan yang sesuai dengan yang telah direncanakan,
mencakup tindakan mandiri dan kolaborasi. Tindakan mandiri adalah tindakan
keperawatan berdasarkan analisis dan kesimpulan perawat dan bukan atas putunjuk
tenaga kesehatan lain. Tindakan kolaborasi adalah tindakan keperawatan yang
didasarkan oleh hasil keputusan bersama dengan dokter atau petugas kesehatan lain.

E. Evaluasi Keperawatan
Merupakan hasil perkembangan ibu dengan berpedoman kepada hasil dan tujuan yang
hendak dicapai.