Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Di dalam sebuah pemerintahan negara, pemerintahan yang demokratis diyakini
pemerintahan yang baik dan mampu menjawab semua permasalahan rakyat dan mewakili
kepentingan rakyat demi kebaikan bersama. Sistem ini telah lama dirumuskan para
pendahulu dengan menyesuaiakan dengan nilai-nilai budaya Indonesia. Pemerintahan
demokratis merupakan pemerintahan dengan kedaulatan rakyat di mana mayoritas sebagai
subjek penentu di dalam proses pemerintahan negara.

Demokrasi dianggap sebagai pemerintahan ideal yang terbaik untuk diterapkan di negara-
negara di dunia yang diharapkan mampu menjawab permasalahan rakyat dan menegakan
kedaulatan rakyat, seperti yang ditegaskan Dahl (1982 : 7), “Demokrasi mengacu pada
suatu ideal atau tipe khusus rezim yang nyata dalam artian ideal, demokrasi merupakan
suatu kondisi tertib politik kenegaraan yang paling sempurna”. Dari ungkapan tersebut
tersirat bahwa demokrasi adalah pemerintahan yang ideal untuk diterapkan di dalam
kehidupan bernegara. (Husni Thamrin, S.Sos, MSP, 2008). Salah satu bentuk demokrasi ialah
adanya partisipasi politik warga Negara yang memiliki persentase besar dan warga negara
meyakini arti penting partisipasi politik.

Partisipasi politik merupakan hal yang sangat berbahaya di negara yang sedang dilanda
kemiskinan dan pengangguran, dan di mana komitmen kepada pemerintah kurang mantap.
Karena itu, Samuel T. Huntington berpendapat bahwa pembangunan yang cepat, dan ikut
sertanya banyak kelompok baru dalam politik dalam waktu yang singkat, dapat
mengganggu stabilitas. Selanjutnya dikatakan bahwa termobilisasinya kelompok
kelompok baru dapat saja dilihat oleh elite yang berkuasa sebagai ancaman terhadap
stabilitas nasional, padahal situasi aman sangat diperlukan untuk pelaksanakan kebijakan
publik mereka. Maka dari itu, mereka akan berikhtiar mengendalikan tingkat serta
intensitas partisipasi agar tidak terlalu mengganggu stabilitas nasional.
Persentase golput atau golongan putih di United States saat pemilihan presiden tahun 2016
mancapai 131 juta jiwa apabila dibandingkan dengan pemilihan presiden Indonesia, tingkat
golput pada tahun 2014 menurut KPU mencapai 24,89% yaitu sebanyak 41.474.204 orang
yang terus mengalami kenaikan dan sebelumnya partisipan golput pada tahun 1955
sebanyak 8,6% (Rappler Indonesia, 2017)

Meskipun begitu, Pasal 308 UU No.8 Tahun 2012 tentang Pemilu memberikan ruang bagi
penegak hukum untuk menjerat orang siapapun yang mengajak orang lain untuk golput.

“Setiap orang yang dengan sengaja menggunakan kekerasan, dan/atau menghalangi


seseorang yang akan melakukan haknya untuk memilih, melakukan kegiatan yang
menimbulkan gangguan ketertiban dan ketenteraman pelaksanaan pemungutan suara, atau
menggagalkan pemungutan suara dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua)
tahun dan denda paling banyak Rp24.000.000,00 (dua puluh empat juta rupiah).” Pasal 308
UU No.8/2012 tentang Pemilu. (Rappler Indonesia, 2017)

Sumber: http://www.academia.edu/11281794/

Tabel tersebut menyatakan bahwa jika dibandingkan dengan Negara Amerika serikat, India
dan Rusia, partisipasi politik Indonesia termasuk tinggi, namun jika dibandingkan dengan
afrika selatan masih berada di bawahnya.
Data-data lain yang menyatakan bahwa partisipasi politik Indonesia masih rendah
Data bahwa pemilih memilih calon secara kurang cerdas(missal sesuai eksistensi saja)
Data yang menyatakan karakteristik mahasiswa polban dalam partisipasi politik
Bandingkan dengan partisipasi mahasiswa POLBAN (acara pemilihan kabem kemarin)
Ringkas2in data dan urut2in lagi soalnya masih acak2an dan terlalu melebar bgt asli
*selalu cantumin web atau sumber dan pake pengutipan

Mahasiswa merupakan insan intelektual yang terus mengembangkan pemikiran dan


dirinya untuk mencari jati diri dan kebenaran. Begitu pula dalam partisipasi politik,
tentunya mahasiswa memiliki andil yang besar. Pada pilpres 2014 sebanyak 11 persen
merupakan pemilih total yang mencapai 190.307.134 orang.

Jiwa muda dan coba-coba masih mewarnai alur berpikir para pemilih pemula, sebagian
besar dari mereka hanya melihat momen pemilu sebagai ajang partisipasi dengan
memberikan hak suara mereka kepada partai dan tokoh yang mereka sukai/gandrungi.
Antusiasme mereka untuk datang ke TPS tidak bisa langsung diterjemahkan bahwa
kesadaran politik mereka sudah tinggi. Kebanyakan pemilih pemula baru sebatas
partisipasi parokial semata. Mereka masih membutuhkan pendewasaan politik sehingga
mampu berpartisipasi aktif dan dapat berkontribusi positif dalam upaya menjaga dan
menyukseskan demokratisasi. Pemilih pemula sering kali lebih cendrung memilih partai-
partai besar dan mapan.

Hasil survei yang dilakukan Litbang Kompas beberapa waktu lalu merangkum antusiasme
tersebut. Mayoritas responden (92,8 persen) yang merupakan pemilih pemula menyatakan
ingin memberikan suaranya pada 9 April 2014. Jika dilihat berdasarkan jenis kelamin,
kelompok pemilih pemula laki-laki sangat antusias memberikan suara (97 persen)
dibandingkan perempuan (88 persen). Antusiasme tidak berbeda jika menelisik kelompok
ini berdasarkan kondisi geografis baik di wilayah perkotaan maupun pedesaan. Namun,
jika dilihat berdasarkan kelas sosial, terdapat sedikit perbedaan. Antusiasme yang besar
muncul dari kelompok pemilih pemula dari kelas ekonomi menengah dan bawah, yaitu
masing-masing sebesar 96 persen dan 92 persen.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Antusiasme Pemilih Muda",
Antusiasme yang tinggi ini menunjukkan kesadaran politik semakin tumbuh di kalangan
anak muda. Hal ini menjadi harapan baru di tengah menurunnya partisipasi politik di ajang
kontestasi nasional. (Kompas, 2014)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Antusiasme Pemilih Muda",
https://nasional.kompas.com/read/2014/04/08/1946582/Antusiasme.Pemilih.Muda.
Jika kita tarik benang merah dari kerangka berpikir di atas setidaknya ada kecendrungan
partisipasi pemilih pemula menuju partisipasi mobilisasi. Jumlah mereka yang besar dan
emosi yang belum stabil membuat mereka rawan menjadi rebutan partai politik dan figur-
figur yang bertarung dalam pemilu maupun pemilukada. Mereka kemudian hanya menjadi
lumbung suara tanpa mendapatkan edukasi dan penyadaran politik dari parpol.

Potensi besar ini harus bisa dioptimalkan agar partisipasi mereka tak hanya sebatas
partisipasi parokial tanpa kontribusi untuk proses demokratisasi. Partai politik seharusnya
tidak hanya berpikir bagaimana mendulang perolehan suara, lebih dari itu parpol harus
memikirkan pula bagaimana menumbuhkan kesadaran politik bagi anak muda yang nanti
suatu saat juga akan menjadi kader-kader mereka. (Suhendro, 2014)

Fenomena generasi muda yang apatis harus segera dibenahi agar tidak berkembang karena
minimnya minat generasi muda dalam persoalan politik berbangsa dewasa ini menjadi
persoalan bersama. Keberadaan generasi muda yang mulai memasuki usia produktif secara
politik amatlah penting dalam pembangunan bangsa, sehingga kesadaran dan kepedulian
mereka terhadap perkembangan politik harus dibina sejak dini. Menjelang pelaksanaan
Pemilu 2014, suara pemilih muda sangat penting dan menentukan arah demokrasi
Indonesia. Partai politik sekarang harus mampu merebut kepercayaan para pemilih muda
dengan aktif secara politik dengan memilih mereka turut menentukan masa depan bangsa.
Karena suara mereka sangat signifikan, dan mereka adalah penerus bangsa, calon
pemimpin.

Ada satu kata yang ingin saya sampaikan bahwa sesuatu yang konstan itu adalah
perubahan, perubahan itu hanya bisa terjadi kalau kita sebagai bagian dari dunia manusia
menjadikan perubahan untuk bangsa dan negara. Tanpa partisipasi kita semua, perubahan
itu tidak akan terjadi, oleh karena itu saatnya sekarang mahasiswa dan adik-adik ikut serta
tidak hanya menjadi pemilih pasif tetapi aktif dan daftarkan diri anda sebagai relawan
pengawas pemilu, ikutlah berpartasipasi tanggal 9 April 2014 karena Anda ikut
menentukan nasib bangsa Indonesia tercinta.

Sementara itu dari pantauan di sejumlah perkampungan mahasiswa yang ada di kawasan
sekitar Kampus Universitas Indonesia, Depok, proses pemungutan suara berlangsung aman
dan lancar. Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia, Ivan Riansa
mengatakan pihaknya telah mengadvokasi ratusan mahasiswa perantau yang tidak terdaftar
dalam DPT untuk tetap dapat menggunakan hak suaranya.

“Kita telah mengadvokasi sekitar 800 orang mahasiswa rantau yang ingin menggunakan
hak suaranya di wilayah Depok,” kata Ivan Riansa, Ketua BEM UI.

Menurutnya, meski antusiasme di kalangan mahasiswa ini cukup tinggi, jumlah ini
menurun jika dibandingkan dengan pemilihan legislatif April lalu dimana mereka
mengadvokasi lebih dari 1.000 mahasiswa untuk dapat menggunakan hak suaranya.

Rizky Pratama, adalah salah seorang pemilih yang baru akan menggunakan hak pilihnya
untuk pertama kali. Awalnya ia mengaku akan golput (tidak memilih), namun akhirnya ia
memutuskan untuk memilih disaat-saat akhir jelang pelaksanaan pilpres.
“Awalnya saya ingin golput, tapi kalau golput kita gak akan berubah. Mahasiswa itu kan
istilahnya agent of change (agen perubahan). Saya coba untuk membawa perubahan
sederhana melalui Pemilu ini,” kata Rizky. (Alina Mahamel, 2014)

Maka dari itu, karena banyak sekali permasalahan yang meresahkan terutama yang berasal
dari tingkat partisipasi politik sebagai upaya akutualisasi demokrasi di Indonesia,
kelompok kami mengangkat sebuah makalah yang berjudul…………….. untuk lebih
mengkaji permasalahan ini.

2. Rumusan Masalah
3. Tujuan Penulisan
4. Manfaat Penulisan