Anda di halaman 1dari 36

i

LAPORAN PRAKTIKUM
MATERIAL TEKNIK

UJI IMPAK

Disusun Oleh:
Nama Praktikan : Peris Gultom
NPM : 3333170032
Kelompok :4
Rekan : 1. Firyal Aqilla Putri Alivani
2. Lula Salsabila
3. Muhammad Syaifullah
Ramadhan
Tanggal Praktikum : 15 September 2018
Tanggal Pengumpulan Lap. : 19 September 2018
Asisten : Ridwan Kurniawan

LABORATORIUM METALURGI FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
CILEGON–BANTEN
2018

i
ii

LEMBAR PENGESAHAN

Tanggal Masuk Laporan Tanggal Revisi Tanda Tangan

1.

2.

Disetujui untuk Laboratorium Metalurgi FT. UNTIRTA

Cilegon, September 2018

(Ridwan Kurniawan)

ii
iii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ................................................................................................i

LEMBAR PENGESAHAN .................................................................................... ii

DAFTAR ISI ......................................................................................................... iii

DAFTAR GAMBAR ............................................................................................... v

DAFTAR LAMPIRAN .......................................................................................... vi

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .................................................................................... 1
1.2 Tujuan Percobaan ................................................................................ 2
1.3 Batasan Masalah ................................................................................. 2
1.4 Sistematika Penulisan .......................................................................... 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Uji Impak ............................................................................................ 3
2.2 Pengujian Impak Metode Charpy ........................................................ 4
2.3 Prinsip Dasar Alat Uji Impak Charpy .................................................. 5

BAB III METODE PERCOBAAN


3.1 Diagram Alir Percobaan .................................................................... 10
3.2 Alat dan Bahan.................................................................................. 11
3.2.1 Alat-Alat yang Digunakan ........................................................ 11
3.2.2 Bahan-Bahan yang Digunakan .................................................. 11
3.3 Prosedur Percobaan ........................................................................... 11

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil Percobaan ................................................................................ 13
4.2 Pembahasan ...................................................................................... 13

iii
iv

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN


5.1 Kesimpulan ....................................................................................... 20
5.2 Saran ................................................................................................. 20
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................ 21

LAMPIRAN
LAMPIRAN A. CONTOH PERHITUNGAN ......................................................... 22
LAMPIRAN B. JAWABAN PERTANYAAN DAN TUGAS KHUSUS ................ 24
LAMPIRAN C. GAMBAR ALAT DAN BAHAN .................................................. 28
LAMPIRAN D BLANKO PERCOBAAN .............................................................. 31

iv
v

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

Gambar 2.1 Pembebanan Metode Charpy dan Metode Izod ..................................... 4


Gambar 2.2 Ilustrasi Skematis Pengujian Impak ...................................................... 5
Gambar 3.1 Diagram Alir Percobaan Uji Impak .................................................... 11
Gambar 4.1 Temperatur transisi yang berbeda-beda............................................... 14
Gambar 4.2 Perbedaan tipe perpatahan pada temperatur yang berbeda ................... 15
Gambar 4.3 Grafik efek temperatur terhadap kekuatan impak ................................ 16
Gambar 4.4 Pengaruh kandungan karbon pada kurva DBTT .................................. 17
Gambar 4.5 Pengaruh ukuran butir terhadap kurva DBTT ..................................... 17
Gambar 4.6 Pengaruh suhu temper terhadap kurva DBTT ..................................... 18
Gambar 4.7 Pengaruh orientasi spesimen terhadap kurva DBTT ............................ 18
Gambar 4.8 Struktur yang tebal memiliki ketangguhan lebih rendah ...................... 19
Gambar C.1 Specimen ........................................................................................... 29
Gambar C.2 Alat Charpy ....................................................................................... 29
Gambar C.3 Penjepit ............................................................................................. 29
Gambar C.4 Sarung Tangan .................................................................................. 29
Gambar C.5 Piala Gelas ........................................................................................ 30
Gambar C.6 Penggaris ........................................................................................... 30

v
vi

DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
LAMPIRAN A. CONTOH PERHITUNGAN ......................................................... 22
LAMPIRAN B. JAWABAN PERTANYAAN DAN TUGAS KHUSUS ................ 24
LAMPIRAN C. GAMBAR ALAT DAN BAHAN .................................................. 28
LAMPIRAN D BLANKO PERCOBAAN .............................................................. 31

vi
1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dewasa ini kebutuhan akan material terutama logam sangatlah penting. Besi
dan baja merupakan salah satu kebutuhan yang mendasar untuk suatu konstruksi.
Dengan berbagai macam kebutuhan sifat mekanik yang dibutuhkan oleh suatu
material ialah berbeda-beda. Sifat mekanik tersebut terutama meliputi kekerasan,
keuletan, kekuatan, ketangguhan, sifat mampu las serta sifat mampu mesin yang baik.
Dengan sifat pada masing-masing material berbeda, maka banyak metode untuk
menguji sifat apa sajakah yang dimiliki oleh suatu material tersebut. Uji impak
merupakan salah satu metode yang digunakan untuk mengetahui kekuatan, kekerasan,
serta keuletan material. Oleh karena itu uji impak banyak dipakai dalam bidang
menguji sifat mekanik yang dimiliki oleh suatu material tersebut. Untuk menilai
ketahanan material terhadap patah getas perlu adanya pengujian serta
mempertimbangkan faktor-faktor dinamis yang dapat mempengaruhi patah getas
antara lain kecepatan regang, takik, tebal pelat, tegangan sisa dan lain-lain.
Ketangguhan (impak) merupakan ketahanan bahan terhadap beban kejut. Inilah yang
membedakan pengujian impak dengan pengujian tarik dan kekerasan dimana
pembebanan dilakukan secara perlahan-lahan. Pengujian impak merupakan suatu
upaya untuk mensimulasikan kondisi operasi material yang sering ditemui dalam
perlengkapan transportasi atau konstruksi dimana beban tidak selamanya terjadi
secara perlahan-lahan melainkan datang secara tiba-tiba. Untuk menampung
dinamika ini perlu pengujian dalam skala besar, baik jumlah maupun dimensinya.
Tetapi dipandang dari sudut ekonomi hal ini tidak mungkin dilakukan. Karena itu,
dibuat pengujian dalam skala kecil yang distandarkan yang disebut pengujian takik.

1
2

Pengujian yang dilakukan dalam skala kecil pada umumnya adalah uji impact metode
charpy.
1.2 Tujuan Percobaan
Tujuan Percobaan dari uji impak ini adalah untuk mengetahui pengaruh
temperature terhadap Harga Impak (HI) serta jenis patahan dan sifat patahan
berdasarkan persen patahan.
1.3 Batasan Masalah
Pada praktikum uji impak ini terdapat batasan masalah yang terdiri dari dua
variabel, yaitu:
variabel bebas dan variabel terikat. Adapun variabel terikatnya adalah harga impak
(HI) energi. serta persen (%) patahan. Sedangkan untuk variabel bebasnya adalah
bahan material yang akan diuji dan temperatur pengujian.
1.4 Sistematika Penulisan
Untuk memahami lebih jelas laporan ini, maka materi-materi yang terdapat
pada laporan ini dikelompokkan menjadi beberapa bab dengan sistematika penulisan.
Sistematika penulisan pada laporan ini terdiri dari lima bab.
BAB 1 PENDAHULUAN menjelaskan mengenai latar belakang, tujuan
percobaan, batasan masalah dan sistematika penulisan.
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA menjelaskan mengenai pengertian metode uji
impak, macam-macam metode yang dibagi menjadi metode 1 dan metode 2, yang
berisi teori-teori yang dapat mendukung percobaan yang telah dilakukan.
BAB 3 METODE PERCOBAAN menjelaskan mengenai metode percobaan
yang berupa diagram alir percobaan, alat dan bahan, dan prosedur percobaan.
BAB 4 DATA DAN PEMBAHASAN menjelaskan mengenai data-data
percobaan yang telah dicatat saat melakukan praktikum beserta pembahasannya.
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN memaparkan kesimpulan percobaan
dan saran untuk praktikum selanjutnya. Di akhir laporan juga disertakan lampiran
yang berisi contoh perhitungan, jawaban pertanyaan dan tugas khusus, gambar alat
dan bahan, dan blanko percobaan.

2
3

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Uji Impak

Menurut Dieter, George E (1988) uji impak digunakan dalam menentukan

kecenderungan material untuk rapuh atau ulet berdasarkan sifat ketangguhannya.

Hasil uji impak juga tidak dapat membaca secara langsung kondisi perpatahan batang

uji, sebab tidak dapat mengukur komponen gaya-gaya tegangan tiga dimensi yang

terjadi pada batang uji. Hasil yang diperoleh dari pengujian impak ini, juga tidak ada

persetujuan secara umum mengenai interpretasi atau pemanfaatannya. Sejumlah uji

impak batang uji bertakik dengan berbagai desain telah dilakukan dalam menentukan

perpatahan rapuh pada logam. Metode yang telah menjadi standar untuk uji impak ini

ada 2, yaitu uji impak metode Charpy dan metode Izod. Metode Charpy banyak

digunakan di Amerika Serikat, sedangkan metode izod lebih sering digunakan di

sebagian besar dataran Eropa. Batang uji metode Charpy memiliki spesifikasi, luas

penampang 10 mm x 10 mm, takik berbentuk V. Proses pembebanan uji impak pada

metode Charpy dan metode izod dengan sudut 45° , kedalaman takik 2 mm dengan

radius pusat 0.25 mm. Batang uji Charpy kemudian diletakkan horizontal pada

batang penumpu dan diberi beban secara tiba-tiba di belakang sisi takik oleh

pendulum berat berayun (kecepatan pembebanan ±5 m/s). Batang uji diberi energi

3
4

untuk melengkung sampai kemudian patah pada laju regangan yang tinggi hingga

orde 10 3 s -1. Batang uji izod, lebih banyak dipergunakan saat ini, memiliki luas

penampang berbeda dan takik berbentuk v yang lebih dekat pada ujung batang. Dua

metode ini juga memiliki perbedaan pada proses pembebanan. (Dieter, George E.,

1988).

Gambar 2.1 Pembebanan Metode Charpy dan Metode Izod

2.2 Pengujian Impak Metode Charpy

Pengujian impak Charpy (juga dikenal sebagai tes Charpy v-notch)

merupakan standar pengujian laju regangan tinggi yang menentukan jumlah energi

yang diserap oleh bahan selama terjadi patahan. Energi yang diserap adalah ukuran

ketangguhan bahan tertentu dan bertindak sebagai alat untuk belajar bergantung pada

suhu transisi ulet getas. Metode ini banyak digunakan pada industri dengan

keselamatan yang kritis, karena mudah untuk dipersiapkan dan dilakukan. Kemudian

hasil pengujian dapat diperoleh dengan cepat dan murah. Tes ini dikembangkan pada

1905 oleh ilmuwan Perancis Georges Charpy. Pengujian ini penting dilakukan dalam

memahami masalah patahan kapal selama Perang Dunia II. Metode pengujian

material ini sekarang digunakan di banyak industri untuk menguji material yang

4
5

digunakan dalam pembangunan kapal, jembatan, dan untuk menentukan bagaimana

keadaan alam (badai, gempa bumi, dan lain-lain) akan mempengaruhi bahan yang

digunakan dalam berbagai macam aplikasi industri. Tujuan uji impact Charpy adalah

untuk mengetahui kegetasan atau keuletan suatu bahan (spesimen) yang akan diuji

dengan cara pembebanan secara tiba-tiba terhadap benda yang akan diuji secara

statik. Dimana benda uji dibuat takikan terlebih dahulu sesuai dengan standar ASTM

E23 05 dan hasil pengujian pada benda uji tersebut akan terjadi perubahan bentuk

seperti bengkokan atau patahan sesuai dengan keuletan atau kegetasan terhadap

benda uji tersebut. Percobaan uji impact Charpy dilakukan dengan cara pembebanan

secara tiba-tiba terhadap benda uji yang akan diuji secara statik, dimana pada benda

uji dibuat terlebih dahulu sesuai dengan ukuran standar ASTM E23 05 [2].

2.3 Prinsip Dasar Alat Uji Impak Charpy

Secara skematik alat uji impak Charpy seperti gambar 2.2 dibawah ini:

Gambar 2.2 Ilustrasi Skematis Pengujian Impak

5
6

Bila pendulum pada kedudukan h1 dilepaskan, maka akan mengayun sampai

kedudukan fungsi akhir pada ketinggian h2 yang juga hampir sama dengan tinggi

semula h1 dimana pendulum mengayun bebas.

Usaha yang dilakukan pendulum waktu memukul benda uji atau energi yang diserap

benda uji sampai patah didapat rumus yaitu:

Energi yang Diserap (Joule) = Ep – Em

= m. g. h1 – m. g. h2

= m . g (h1 – h2)

= m . g (λ (1- cos α) - λ (cos β – cos α)

= m. g . λ (cos β – cos α)

Energi yang diserap = m . g. λ (cos β – cos α) ........................................................ (1)

Keterangan: Ep = Energi Potensial

Em = Energi Mekanik

m = Berat Pendulum (Kg)

g = Gravitasi 9,81 m/s2

h1 = Jarak awal antara pendulum dengan benda uji (m)

h2 = Jarak akhir antara pendulum dengan benda uji (m)

λ = Jarak lengan pengayun (m)

cos α = Sudut posisi awal pendulum

cos β = Sudut posisi akhir pendulum

dari persamaan rumus diatas didapatkan besarnya harga impak yaitu :

6
7

𝑊 𝑚
K= (𝐾𝑔. 𝑚𝑚2 ) ............................................ (2)
𝐴

Bila pendulum dengan berat G dan pada kedudukan h1 dilepaskan, maka akan

mengayun sampai kedudukan fungsi akhir 4 pada ketinggian h3 yang juga hampir

sama dengan tinggi semula h1 dimana pendulum mengayun bebas. Pada mesin uji

yang baik, skala akan menunjukkan usaha lebih dari 0,05 kilogram meter (kg m),

pada saat pendulum mencapai kedudukan 4.

Bila batang uji dipasang pada kedudukannya dan pendulum dilepaskan, maka

pendulum akan memukul batang uji dan selanjutnya pendulum akan mengayun

sampai kedudukan 3 pada ketinggian h2. Usaha yang dilakukan pendulum waktu

memukul benda uji atau usaha yang diserap benda uji sampai patah yaitu:

W1 = G x h 1 (kg m) ........................................(3)

Dan dapat juga dengan menggunakan persamaan berikut:

Dimana: W1 = Usaha yang dilakukan (kg m).

G = Berat pendulum (kg).

h1 = Jarak awal antara pendulum dengan benda uji (m).

Λ = Jarak lengan pengayun (m).

cos α = Sudut posisi awal pendulum.

Sedangkan sisa usaha setelah mematahkan benda uji adalah sebagai berikut. dan

dapat juga dengan menggunakan persamaan berikut:

cos α = Sudut posisi awal pendulum.

cos β = Sudut posisi akhir pendulum.

7
8

dan besarnya harga impak dapat digunakan persamaan berikut:


𝑊 𝑚
K= (𝐾𝑔. 𝑚𝑚2 ) .............................................(4)
𝐴

Dimana: K = nilai impact (Kg m/mm2)

W = Usaha yang diperlukan mematahkan uji (Kg m)

Ao = Luas penampang dibawah tatikan (mm2)

Takik (notch) dalam benda uji standar ditujukan sebagai suatu konsentrasi

tegangan sehingga perpatahan diharapkan akan terjadi di bagian tersebut. Selain

berbentuk V dengan sudut 45o, takik dapat pula dibuat dengan bentuk lubang kunci

(key hole). Pengukuran lain yang biasa dilakukan dalam pengujian impak Charpy

adalah penelaahan permukaan perpatahan untuk menentukan jenis perpatahan yang

terjadi. Secara umum sebagaimana analisis perpatahan pada benda hasil uji tarik

maka perpatahan impak digolongkan menjadi 3 jenis, yaitu:

1. Perpatahan berserat (fibrous fracture), yang melibatkan mekanisme pergeseran

bidang-bidang kristal di dalam bahan (logam) yang ulet (ductile). Ditandai dengan

permukaan patahan berserat yang berbentuk dimple yang menyerap cahaya dan

berpenampilan buram.

2. Perpatahan granular/ kristalin, yang dihasilkan oleh mekanisme pembelahan pada

butir-butir dari bahan (logam) yang rapuh (brittle). Ditandai dengan permukaan

patahan yang datar yang mampu memberikan daya pantul cahaya yang tinggi

(mengkilat).

8
9

3. Perpatahan campuran (berserat dan granular). Merupakan kombinasi dua jenis

perpatahan di atas.

Informasi lain yang dapat dihasilkan dari pengujian impak adalah temperatur

transisi bahan. Temperatur transisi adalah temperatur yang menunjukkan transisi

perubahan jenis perpatahan suatu bahan bila diuji pada temperatur yang berbeda-

beda. Pada pengujian dengan temperatur yang berbeda-beda maka akan terlihat

bahwa pada dideformasi pergerakan dislokasi menjadi lebih mudah dan benda uji

menjadi lebih mudah dipatahkan dengan energi yang relatif lebih rendah serta

temperatur tinggi material akan bersifat ulet sedangkan pada temperatur rendah

material akan bersifat rapuh atau getas. Fenomena ini berkaitan dengan vibrasi atom-

atom bahan pada temperatur yang berbeda dimana pada temperatur kamar vibrasi itu

berada dalam kondisi kesetimbangan dan selanjutnya akan menjadi tinggi bila

temperatur dinaikkan. Vibrasi atom inilah yang berperan sebagai suatu penghalang

terhadap pergerakan dislokasi pada saat terjadi deformasi kejut/impak dari luar.

Dengan semakin tinggi vibrasi itu maka pergerakan dislokasi menjadi relatif sulit

sehingga dibutuhkan energi yang lebih besar untuk mematahkan benda uji.

Sebaliknya pada temperatur di bawah nol derajat celcius, vibrasi atom relatif sedikit

sehingga pada saat bahan dideformasi pergerakan dislokasi menjadi lebih mudah dan

benda uji menjadi lebih mudah dipatahkan dengan energi yang relatif lebih rendah [3].

9
10

BAB III

METODE PERCOBAAN

3.1 Diagraam Percobaan

Berikut adalah diagram alir pengujian impak metode Charpy:

Benda Uji

Diukur kedalaman takik dan luar penampang benda uji

Diatur bandul pada posisi skala 300 joule

Diturunkan temperatur benda uji dengan meletakannya di es selama 30 menit

Diletakkan benda uji pada mesin uji impak charpy

Dilepaskan bandul dan mencatat energi yang diserap untuk mematahkan


benda uji

Menghitung harga impak (HI) yang didapatkan

Mengamati dan mengukur bentuk patahan yang terjadi

Ditentukan persen (%) patahan yang didapatkan pada benda uji

10
11

Data Pengamatan

Pembahasan

Gambar 3.1 Diagram Alir Percobaan Uji Impak

3.2 Alat dan Bahan

3.2.1 Alat-alat yang Digunakan

Berikut adalah alat-alat yang digunakan dalam praktikum uji impak:

1. Mesin uji impak Charpy

2. Termometer

3. Jangka sorong

4. Palu

5. Es batu yang diisi dengan air di dalam ember

3.2.2 Bahan-bahan yang Digunakan

Berikut adalah bahan-bahan yang digunakan dalam prakikum uji

impak:

1. Bahan uji BSN- 375

3.3 Prosedur Percobaan

Berikut adalah prosedur percobaan uji impak:

1. Menyiapkan benda uji sesuai ukuran standar

2. Mengukur kedalaman takik dan luas penampang benda uji

11
12

3. Mengatur bandul pada posisi skala 300 joule

4. Meletakkan benda uji pada mesin uji impak Charpy

5. Melepaskan bandul dan mencatat energi yang diserap untuk mematahkan

benda uji

6. Melakukan percobaan pada kondisi temperatur yang berbeda sesuai yang

ditentukan oleh asisten

7. Menghitung harga impak (HI) yang didapatkan pada setiap benda uji

8. Mengamati dan mengukur bentuk patahan yang terjadi

9. Menentukan % (persen) patahan yang didapatkan pada setiap benda uji

12
13

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Percobaan

Berikut adalah data hasil percobaan dari praktikum uji impak

Tabel 4.1 Data Hasil Percobaan

Luas Harga Bentuk


Suhu Energi
No Bahan Penampang Impak Patahan
o
( C) (Joule)
(mm2) (J/mm2) (%)

1. 95 125 1,5625 47

2. BSN-375 80 30 86 1,025 69

3. 0 80 1 75

4.2 Pembahasan

Pengukuran yang bisa dilakukan dalam pengujian impak Charpy adalah penelaahan
permukaan perpatahan untuk menentukan jenis perpatahan (fractografi) yang terjadi.
Secara umum perpatahan impak digolongkan menjadi 3 jenis perpatahan, yaitu :
1. Perpatahan berserat (fibrous fracture), yang melibatkan mekanisme pergeseran
bidang-bidang kristal di dalam material / logam (logam) yang ulet (ductile).
2. Perpatahan granular/kristalin, yang dihasilkan oleh mekanisme pembelahan
(cleavage) pada butir-butir dari material / logam (logam) yang rapuh (brittle).

13
14

3. Perpatahan campuran, merupakan kombinasi kedua jenis perpatahan di atas.


Informasi lain yang dapat diperoleh dari pengujian impak adalah temperatur
transisi bahan. Temperatur transisi adalah temperatur yang menunjukkan transisi
perubahan jenis perpatahan suatu bahan bila diuji pada temperatur yang berbeda-
beda. Pada pengujian dengan temperatur yang berbeda-beda maka akan terlihat
bahwa pada temperatur tinggi material akan bersifat ulet (ductile) sedangkan pada
temperatur rendah material akan bersifat rapuh atau getas (brittle). Temperatur
transisi umumnya ditemui pada material yang memiliki struktur kristal BCC.
Temperatur transisi ini dapat ditentukan dari grafik hasil plotan energi yang diserap
oleh material terhadap perubahan temperature (kurva DBTT) [4].
Terdapat 5 jenis temperatur transisi pada suatu kurva DBTT:
1. Temperatur transisi T1 yaitu temperatur ketika perpatahan 100% berupa
perpatahan ulet (berserat).
2. Temperatur transisi T2 yaitu temperatur ketika perpatahan 50% cleavage dan
50% ulet.
3. Temperatur transisi T3 yaitu temperatur ketika energi absorpsi rata-rata antara
shelf bagiana atas dan bagian bawah..
4. Temperatur transisi T4 didefinisikan Cv = 20J.
5. Temperatur transisi T5 yaitu temperatur ketika perpatahan 100% cleavage
(brittle).

Gambar 4.1 Temperatur transisi yang berbeda-beda

14
15

Gambar 4.2 Perbedaan tipe perpatahan pada temperatur yang berbeda

Fenomena ini berkaitan dengan vibrasi atom-atom bahan pada temperatur


yang berbeda dimana pada temperatur kamar vibrasi itu berada dalam kondisi
kesetimbangan dan selanjutnya akan menjadi tinggi bila temperatur dinaikkan
(ingatlah bahwa energi panas merupakan suatu driving force terhadap pergerakan
partikel atom bahan). Dengan meningkatnya vibrasi vacancy akan semakin tinggi dan
dengan begitu dislokasi akan sangat mudah bergerak. Dengan semakin mudahnya
dislokasi bergerak deformasi menjadi lebih tinggi dimana derajat deformasi yang
tinggi merupakan salah satu ciri keuletan.
Sebaliknya pada temperatur di bawah 0OC, vibrasi atom relatif sedikit
sehingga pada saat bahan dideformasi pergerakan dislokasi tidak terlalu berperan
dalam terjadinya perpatahan ketika uji impak dilakukan. Ketika beban terjadi tiba-tiba
pada material dengan temperatur rendah maka patahan terjadi karena putusnya ikatan
antar atom, mode perpatahan yang terjadi adalah patahan getas dengan begitu
perpatahan energi yang relatif lebih rendah.
Informasi mengenai temperatur transisi menjadi demikian penting bila suatu
material akan didisain untuk aplikasi yang melibatkan rentang temperatur yang besar,

15
16

misalnya dari temperatur dibawah 0oC hingga temperatur tinggi di atas 100oC.
Contoh sistem penukar panas (heat exchanger). Hampir semua logam berkekuatan
rendah dengan struktur kristal FCC seperti tembaga dan aluminium bersifat ulet pada
semua temperatur sementara bahan dengan kekuatan luluh yang tinggi bersifat rapuh.
Bahan keramik, polimer dan logam-logam BCC dengan kekuatan luluh yang
rendah dan sedang memiliki transisi rapuh-ulet bila temperatur dinaikkan. Hampir
semua baja karbon yang dipakai pada jembatan, kapal, jaringan pipa dan sebagainya
bersifat rapuh pada temperatur rendah [5].
Bentuk dan posisi kurva DBTT menetukan letak titik temperatur transisi, yang
mana memegang peranan penting dalam pertimbangan desain suatu struktur/
komponen. Sedangkan bentuk dan posisi kurva DBTT dipengaruhi oleh:
1. Struktur kristal
Hanya material yang memiliki struktur kristal BCC yang dapat mengalami
temperatur transisi. Hal ini dikarenakan slip system yang terbatas pada temperatur
rendah. Semakin tinggi suhu, semakin leluasa slip systemnya. Pada material dengan
struktur kristal HCP maupun FCC, ketangguhan relatif sama diseluruh temperatur
(tidak ada perbedaan mencolok sebagaimana BCC)

Gambar 4.3 Grafik efek temperatur terhadap kekuatan impak

16
17

2. Interstisi atom
Atom interstisi disini biasanya adalah karbon. Walaupun mangan juga dapat
memengaruhi kurva DBTT, semakin sedikit kandungan karbon, semakin curam kurva
DBTT, atau dengan kata lain semakin ulet perpatahannya pada temperatur tinggi.

Gambar 4.4 Pengaruh kandungan karbon pada kurva DBTT

3. Ukuran butir
Semakin kecil ukuran butir, kurva DBTT semakin bergeser ke kiri. Sehingga
memiliki temperatur transisi yang lebih rendah yang berarti lebih aplikatif (makin
tinggi temperatur transisi, makin jelek suatu materialk karena pada saat digunakan
makin mudah mencapai perpatahan ductile yang mana dibenci orang-orang material).

Gambar 4.5 Pengaruh ukuran butir terhadap kurva DBTT

17
18

4. Perlakuan panas
Semakin tinggi temperatur temper, semakin tinggi ketangguhan sehingga
kurva DBTT makin bergeser keatas.

Gambar 4.6 Pengaruh suhu temper terhadap kurva DBTT


5. Orientasi specimen
Sifat anisotropik terutama ditunjukkan oleh logam yang sudah di coldwork.
Sampel yang arah memanjangnya sama dengan arah rolling memiliki ketangguhan
yang lebih tinggi dibandingkan sampel yang tegak lurus arah rolling. Hal ini ada
katannya dengan susunan atom yang terdeformasi jadi panjang-panjang dan arah
perambatan crack pada uji impak.

Gambar 4.7 Pengaruh orientasi spesimen terhadap kurva DBTT

18
19

6. Ketebalan specimen
Semakin tebal spesimen, semakin susah untuk berdeformasi plastis sehingga
semakin brittle.

Gambar 4.8 Struktur yang tebal memiliki ketangguhan lebih rendah

19
20

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Berikut adalah kesimpulan yang didapat dari hasil praktikum uji impak yaitu:
1. Adanya pengaruh suhu terhadap Harga Impak (HI) yang didapat, semakin
tinggi suhu yang dipakai maka semakin besar pula Harga Impak (HI) yang
didapat.
2. Harga Impak pada temperature 95oC adalah 1,5625 J/mm2 dengan persen
patahan sebesar 47%
Harga Impak pada temperature 30oC adalah 1,025 J/mm2 dengan persen
patahan sebesar 69%
Harga Impak pada temperature 0oC adalah 1 J/mm2 dengan persen patahan
sebesar 75%
Ketiga harga impak menggunakan bahan dengan luas penampang 80 mm2
3. Jenis patahan yang didapat dari uji impak yaitu jenis patahan ulet

5.2 Saran
Berikut adalah saran yang dapat diberikan dari praktikum uji impak, yaitu:
1. Asisten dapat menyediakan specimen dengan jenis logam yang berbeda
2. Asisten dapat memberikan kesempatan kepada praktikum untuk mencoba
melakukan praktikum dengan transisi temperature yang telah ditentukan

20
21

DAFTAR PUSTAKA

[1] FT UNTIRTA] Fakultas Teknik, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Modul

Praktikum Material Teknik. Tempat terbit: FT UNTIRTA; 2018

[2] Modul Praktikum Pengujian Material (Destructive Test) Departemen Teknik

Metalurgi dan Material FTUI 2014

[3] Anonimus. Modul Praktikum Metalurgi (Logam). 2012. Fakultas Teknik

Mesin. Universitas Muhammadiyah Surakarta

[4] Tanpa nama. 2018. Material Teknik Pengujian Impak. . [terhubung berkala]

http://materialteknikafcoo19.blogspot.com/2015/01/ [16 September 2018]

[5] Tanpa nama. 2018. Sifat-sifat Material. [terhubung berkala]

https://www.astm.org/Standards/E23 [17 September 2018]

21
22

LAMPIRAN A

CONTOH PERHITUNGAN

22
23

Lampiran A. Contoh Perhitungan

Harga Impak (HI) dengan kode bahan BSN-375

 Pada suhu 0oC

𝐸 80 𝐽𝑜𝑢𝑙𝑒
𝐻𝐼 = = 2
= 1 𝐽𝑜𝑢𝑙𝑒/𝑚𝑚2
𝐴 80 𝑚𝑚

 Pada suhu 95oC

𝐸 86 𝐽𝑜𝑢𝑙𝑒
𝐻𝐼 = = = 1.025 𝐽𝑜𝑢𝑙𝑒/𝑚𝑚2
𝐴 80 𝑚𝑚2

 Pada suhu 30oC

𝐸 125 𝐽𝑜𝑢𝑙𝑒
𝐻𝐼 = = = 1.5625 𝐽𝑜𝑢𝑙𝑒/𝑚𝑚2
𝐴 80 𝑚𝑚2

23
24

LAMPIRAN B

JAWABAN PERTANYAAN DAN TUGAS KHUSUS

24
25

B.1 Jawaban Pertanyaan

1. Ketangguhan adalah jumlah energi yang diserap material sampai terjadi patah,

yang dinyatakan dalam Joule. Energi yang diserap digunakan untuk berdeformasi,

mengikuti arah pembebanan yang dialami. Pada umumnya ketangguahan

menggunakan konsep yang sukar dibuktikan atau didefinisikan..Terdapat beberapa

pendekatan matematik untuk menentukan luas daerah dibawah kurva tegangan-

regangan. Kekuatan, menyatakan kemampuan bahan untuk menerima tegangan tanpa

menyebabkan bahan menjadi patah. Kekuatan ini ada beberapa macam, tergantung

pada jenis beban yang bekerja atau mengenainya. Contoh kekuatan tarik, kekuatan

geser, kekuatan tekan, kekuatan torsi, dan kekuatan lengkung. Kekerasan adalah

ukuran ketahanan suatu material terhadap deformasi plastis lokal. Nilai kekerasan

tersebut dihitung hanya pada tempat dilakukannya pengujian tersebut (lokal),

sedangkan pada tempat lain bisa jadi kekerasan suatu material berbeda dengan tempat

yang lainnya. Tetapi nilai kekerasan suatu material adalah homogen dan belum

diperlakupanaskan secara teoritik akan sama untuk tiap-tiap titik.

2. Temperatur dapat mempengaruhi hasil pengujian impak karena temperetuar

dapat merubah suatu specimen dari getas menjadi ulet ataupun sebaliknya

3. Temperatur transisi adalah perubahan temperature, dimana semakin tinggi

temperature maka sifat suatu logam akan semakin ulet.

25
26

4.

a. Kriteria pertama adalah T1 dimana temperatur transisi ini diperoleh dari

temperatur pada saat material bersifat 100% ductile menuju brittle. Suhu

transisi ini sering disebut fracture ductility temperature (FDT).

b. Kriteria kedua adalah T2 yaitu temperatur transisi ada pada titik dimana

fracture appearance berada pada 50% ductile – 50% brittle.

c. Kriteria ketiga T3 adalah kriteria yang umum dipakai. Temperatur

transisinya diperoleh dari rumus : (ls tertinggi + ls terendah) / 2.

d. Kriteria keempat T4 yaitu perubahan material bersifat ductile-brittle

menuju brittle 100%.

e. Kriteria kelima T5 dimana suhu transisinya diperoleh dari temperatur pada

saat material bersifat ductile-brittle menuju brittle 100%. Temperatur

transisi ini sering disebut nil ductility temperature (NDT).

5. Takik tipe A (V notch) Takik tipe ini memiliki satu sudut sehingga takik ini

merupakan jenis takik yang paling efektif untuk melakukan uji impak.

26
27

Takik tipe B (key hole) Takik ini memiliki bentuk seperti lubang kunci. Takik tipe C

(U notch) Takik ini berbentuk seperti huruf U.

6. Bentuk takikan, temperature, beban, transisi ulet rapuh, kadar karbon.

B.2 Tugas Khusus

27
28

LAMPIRAN C

GAMBAR ALAT DAN BAHAN

28
29

Lampiran C. Gambar Alat dan Bahan

Gambar C.1 Specimen Gambar C.2 Alat Charpy Gambar C.3 Penjepit

Gambar C.4 Sarung Tangan Gambar C.5 Piala Gelas Gambar C.6 Penggaris

Gambar C.7 Termometer Gambar C.8 Kompor Listrik

29
30

LAMPIRAN D

BLANKO PERCOBAAN

30