Anda di halaman 1dari 24

Ayat Kauniyah

Ayat kauniah adalah ayat atau tanda yang wujud di sekeliling yang diciptakan oleh Allah. Ayat-ayat ini
adalah dalam bentuk benda, kejadian, peristiwa dan sebagainya yang ada di dalam alam ini. Oleh karena
alam ini hanya mampu dilaksanakan oleh Allah dengan segala sistem dan peraturanNya yang unik, maka
ia menjadi tanda kehebatan dan keagungan Penciptanya.

QS. Nuh (41): 53

Sumber : Apa beda nya antara Ayat QAULIYAH dan Ayat KAUNIYAH ?
http://yesmuslim.blogspot.com/2015/11/apa-beda-nya-antara-ayat-qauliyah-dan.html#ixzz4u2TOHCVP.

Oleh: Ahmad Putra Dwitama

Islam, sebagai agama yang rahmatan lil'alamin memberikan "bekal" petunjuk untuk umatnya berupa
Alquran dan Hadis. Pada dasarnya, kedua-duanya berasal dari satu unsur yang Esa yaitu Allah
Subhanahu wata'ala. Hanya saja, Alquran langsung diturunkan lafadz dan maknanya dari Allah
sedangkan Hadis berasal dari Nabi sebagai ciptaan-Nya yang mendapat pengajaran juga dari-Nya. Maka,
dapat dipahami bahwa sebenarnya seluruh ajaran yang diajarkan oleh Nabi yang berupa Hadis juga
berasal dari Allah.

Di setiap masa, Allah mengutus seorang Rasul sebagai pemberi peringatan dan kabar gembira. Mulai
dari Nabi Adam sampai Nabi Muhammad. dari utusan-utusan itulah Allah menyampaikan ajarannya
yang berupa wahyu. Dengan perantara malaikat Jibril, wahyu disampaikan kepada Nabi yang kemudian
Nabi menyampaikan wahyu tersebut kepada umat manusia.

Itulah agama samawi. Agama yang murni dari ilahi Rabbi. Permasalahan yang sering ditemukan, apakah
selain Islam; Nasrani dan Yahudi termasuk agama samawi atau keduanya telah "berubah" karena
campur tangan manusia sehingga menjadi agama ardhi (berasal dari bumi).

daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. kemudian
Kami jadikan Dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling
baik."[21]

Ayat Kauniyah dan Ayat Quraniyah

Manusia di dunia ini, tidak pernah bisa melihat Allah. Lalu bagaimana manusia bisa mengetahui bahwa
Allah memang ada dan tidak ada sekutu bagi-Nya? Dan bagaimana manusia bisa mengenal-Nya.
Memang, Allah telah menetapkan bahwa manusia tidak akan bisa melihat-Nya di dunia ini, namun Allah
telah menampakkan kepada manusia ayat-ayat-Nya. Kemudian, Allah telah menganugerahkan kepada
manusia akal pikiran dan hati agar manusia bisa memahami ayat-ayat-Nya.

Allah telah menyediakan untuk manusia dua jenis ayat. Yang pertama, ayat qauliyah, yaitu ayat-ayat
yang Allah firmankan dalam kitab-kitab-Nya. Al-Qur’an adalah ayat qauliyah. Yang kedua, ayat kauniyah,
yaitu ayat-ayat dalam bentuk segala ciptaan Allah berupa alam semesta dan semua yang ada
didalamnya. Ayat-ayat ini meliputi segala macam ciptaan Allah, baik itu yang kecil (mikrokosmos)
ataupun yang besar (makrokosmos). Bahkan tubuh manusia baik secara fisik maupun psikis juga
merupakan ayat kauniyah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat Fushshilat ayat 53:

"Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan
pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup
bahwa Sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?."[22]

1. Hubungan antara ayat qouliyah dan ayat kauniyah

Antara ayat-ayat qauliyah dan ayat-ayat kauniyah terdapat hubungan yang sangat erat karena keduanya
sama-sama berasal dari Allah. Kalau manusia memperhatikan ayat qauliyah, yakni Al-Qur’an, manusia
akan mendapati sekian banyak perintah dan anjuran untuk memperhatikan ayat-ayat kauniyah. Salah
satu diantara sekian banyak perintah tersebut adalah firman Allah dalam Q.S. Adz-Dzariyat ayat 20-21:

"Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin. dan (juga) pada
dirimu sendiri. Maka Apakah kamu tidak memperhatikan?."[23]

Dalam ayat diatas, jelas-jelas Allah mengajukan sebuah kalimat retoris: “Maka apakah kamu tidak
memperhatikan?” Kalimat yang bernada bertanya ini tidak lain adalah perintah agar manusia
memperhatikan ayat-ayat-Nya yang berupa segala yang ada di bumi dan juga yang ada pada diri
manusia masing-masing. Inilah ayat-ayat Allah dalam bentuk alam semesta.

Dalam Q.S. Yusuf ayat 109, Allah berfirman:

“Maka tidakkah mereka bepergian di muka bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang
sebelum mereka?."[24]

Ini juga perintah dari Allah agar manusia memperhatikan jenis lain dari ayat-ayat kauniyah, yaitu sejarah
dan ihwal manusia (at-tarikh wal-basyariyah)

Disamping itu, sebagian diantara ayat-ayat kauniyah juga tidak jarang disebutkan secara eksplisit dalam
ayat qauliyah, yakni Alquran. Tidak jarang dalam Alquran Allah memaparkan proses penciptaan manusia,
proses penciptaan alam semesta, keadaan langit, bumi, gunung-gunung, laut, manusia, hewan, tumbuh-
tumbuhan, dan sebagainya. Bahkan ketika para ilmuwan menyelidiki dengan seksama paparan dalam
ayat-ayat tersebut, mereka terkesima dan takjub bukan kepalang karena menemukan keajaiban ilmiah
pada ayat-ayat tersebut, sementara Alquran diturunkan beberapa ratus tahun yang lalu, dimana belum
pernah ada penelitian-penelitian ilmiah.

Karena itu, tidak hanya ayat-ayat qauliyah yang menguatkan ayat-ayat kauniyah. Sebaliknya, ayat-
ayat kauniyah juga senantiasa menguatkan ayat-ayat qauliyah. Adanya penemuan-penemuan ilmiah
yang menegaskan kemukjizatan ilmiah pada Al-Qur’an tidak diragukan lagi merupakan bentuk
penguatan ayat-ayat kauniyah terhadap kebenaran ayat-ayat qauliyah.[25]

2. Kewajiban manusia terhadap kauniyah dan qauliyah

Setelah manusia mengetahui bentuk ayat-ayat Allah, yang menjadi penting untuk dipertanyakan adalah
apa yang harus manusia lakukan terhadap ayat-ayat tersebut. Atau dengan kata lain, apa kewajiban
manusia terhadap ayat-ayat tersebut? Dan jawabannya ternyata hanya satu kata: iqra’ (bacalah), dan
inilah perintah yang pertama kali Allah turunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari
segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan
perantaran qalam. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”[26]

Lalu bagaimana manusia membaca ayat-ayat Allah? Jawabannya ada pada dua kata: tadabbur dan
tafakkur.

Terhadap ayat-ayat qauliyah, kewajiban adalah tadabbur, yakni membacanya dan berusaha untuk
memahami dan merenungi makna dan kandungannya. Sedangkan terhadap ayat-ayat kauniyah,
kewajibannya adalah tafakkur, yakni memperhatikan, merenungi, dan mempelajarinya dengan seksama.
Dan untuk melakukan dua kewajiban tersebut, manusia menggunakan akal pikiran dan hati yang telah
Allah karuniakan kepadanya.

Mengenai kewajiban tadabbur, Allah memberikan peringatan yang sangat keras kepada orang yang lalai
melakukannya. Allah berfirman dalam Q.S. Muhammad ayat 24:

"Maka Apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?"[27]

Dan mengenai kewajiban tafakkur, Allah menjadikannya sebagai salah satu sifat orang-orang yang
berakal (ulul albab). Dalam Q.S. Ali ‘Imran ayat 190 – 191:

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat
tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri
atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi
(seraya berkata): "Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau,
Maka peliharalah Kami dari siksa neraka."[28]
3. Tujuan Membaca Ayat-Ayat Allah SWT.

Tujuan utama dan pertama membaca ayat-ayat Allah adalah agar semakin mengenal Allah
(ma’rifatullah). Dan ketika telah mengenal Allah dengan baik, secara otomatis akan semakin takut,
semakin beriman, dan semakin bertakwa kepada-Nya. Karena itu, indikasi bahwa manusia telah
membaca ayat-ayat Allah dengan baik adalah meningkatnya keimanan, ketakwaan, dan rasa takut
kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala

Yang semestinya terjadi pada diri manusia setelah membaca ayat-ayat qauliyah adalah sebagaimana
firman Allah berikut ini:

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman[29] ialah mereka yang bila disebut nama Allah[30]
gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya),
dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal."[31]

Dan yang semestinya terjadi pada tiap manusia setelah membaca ayat-ayat kauniyah adalah
sebagaimana firman Allah berikut ini:

“Dan mereka mentafakkuri (memikirkan) tentang penciptaan langit dan bumi (lalu berkata): ‘Ya Tuhan
kami, tiadalah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia; Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami
dari siksa neraka.”

Selanjutnya, manusia juga membaca ayat-ayat Allah agar memahami sunnah-sunnah Allah (sunnatullah),
baik itu sunnah Allah pada manusia dalam bentuk ketentuan syar’i (taqdir syar’i) maupun sunnah Allah
pada ciptaan-Nya dalam bentuk ketentuan penciptaan (taqdir kauni).

Dengan memahami ketentuan syar’i, manusia bisa menjalani kehidupan ini sesuai dengan syariat
yang ia kehendaki, dan dalam hal ini manusia bebas untuk memilih untuk taat atau ingkar. Namun,
apapun pilihannya, taat atau ingkar, memiliki konsekuensinya masing-masing.

Adapun dengan memahami ketentuan penciptaan, baik itu mengenai alam maupun sejarah dan
ihwal manusia, seseorang akan mampu memanfaatkan alam dan sarana-sarana kehidupan untuk
kemakmuran bumi dan kesejahteraan umat manusia. Dengan pemahaman yang baik mengenai
ketentuan tersebut, manusia akan mampu mengelola kehidupan tanpa melakukan perusakan.

Posisi Akal Terhadap Wahyu

Akal berasal dari bahasa Arab ‘aqala-ya’qilu yang secara lughawi memiliki banyak makna, sehingga kata
al-‘aql sering disebut sebagai lafazh musytaraq, yakni kata yang memiliki banyak makna. Dalam kamus
bahasa Arab al-munjid fi al-lughah wa al-a’lam, dijelaskan bahwa ‘aqala memiliki makna adraka
(mencapai, mengetahui), fahima (memahami), tadarraba wa tafakkara (merenung dan berfikir). Kata al-
‘aqlu sebagai mashdar (akar kata) juga memiliki arti: nurun ruhaniyyun bihi tudriku al-nafsu ma la
tudrikuhu bi al-hawas, yaitu cahaya ruhani yang dengannya seseorang dapat mencapai, mengetahui
sesuatu yang tidak dapat dicapai oleh indera. Al-‘aql juga diartikan al-qalb, hati nurani atau hati
sanubari.

Di kalangan teolog muslim, mengartikan akal sebagai daya untuk memperoleh pengetahuan, seperti
pendapat Abu al-Huzail, akal adalah daya untuk memperoleh pengetahuan, daya yang membuat
seseorang dapat membedakan dirinya dengan benda-benda lain, dan mengabstrakkan benda-benda
yang ditangkap oleh panca indera. Di kalangan Mu’tazilah akal memiliki fungsi dan tugas moral, yakni di
samping untuk memperoleh pengetahuan, akal juga memiliki daya untuk membedakan antara kebaikan
dan kejahatan, bahkan akal merupakan petunjuk jalan bagi manusia dan yang membuat manusia
menjadi pencipta perbuatannya sendiri.[32]

Letak akal Dikatakan di dalam Alqur’an:

” maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu
mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena
sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.”[33]

Sedangkan wahyu –seperti yang telah dijelaskan sebelumnya-, Kata al-wahyu berarti suara, kecepatan,
api, bisikan, isyarat, tulisan dan kitab. Wahyu adalah kata arab asli, bukan kata pinjaman dari bahasa
asing. Selanjutnya al-wahyu mengandung arti pemberitahuan secara tersebunyi dan dengan cepat.
Namun arti yang paling terkenal adalah “apa yang disampaikan Tuhan kepada Nabi-nabi”. Yakni sabda
Tuhan yang disampaikan kepada orang pilihan-Nya agar diteruskan kepada manusia untuk dijadikan
pegangan hidup.[34]

Firman Allah itu mengandung petunjuk dan pedoman yang memang diperlukan oleh umat manusia
dalam menjani hidup di dunia dan di akhirat kelak. Dalam Islam wahyu Allah itu disampaikan kepada
nabi Muhammad saw yang terkumpul semuanya dalam Alquran.

Adapun cara penyampaian wahyu, atau komunikasi Tuhan dengan nabi-nabi melalui tiga cara: (1)
Melalui jantung hati seseorang dalam bentuk ilham; (2) Dari belakang tabir, seperti yang terjadi pada
Nabi Musa dan (3) Melalui utusan yang dikirimkan Tuhan dalam bentuk malaikat sebagaimana yang
telah dijelaskan sebelumnya.
Akal menjadi faktor utama yang menempatkan manusia pada kedudukan yang lebih mulia dibandingkan
makhluk Allah lainnya. Dengan akal, manusia dapat mengembangkan ilmu pengetahuan sehingga
terwujud kebudayaan.

Alquran menempatkan akal pada posisi penting dengan banyaknya ayat yang mendorong manusia
menggunakan akalnya dalam berbagai ungkapan antara lain dengan menggunakan kata tadabbara,
tafakkara, faqiha, tadzakkara, fahima, dan sebagainya. Ungkapan-ungkapan tersebut mengandung
isyarat penempatan akal sebagai faktor yang penting dalam kehidupan seorang muslim. Bahkan hadits
Nabi menyebutkan kaitan agama dengan akal yang artinya:

"Agama adalah penggunaan akal, tiada agama bagi orang yang tidak berakal."[35]

Akal membawa manusia kepada posisi subyek di tengah alam semesta dan menempatkannya sebagai
penguasa (khalifah) yang mampu mengelola dan mendayagunakan alam.

Menurut filsafat Islam (Ibnu Sina), akal manusia pada saat tertentu dapat mencapai tingkat perolehan
(akal mustafad), yaitu akal tertinggi yang dapat mencapai alam immateri yaitu Jibril. Tetapi kemampuan
seperti ini hanya dimiliki oleh Nabi-nabi, karena Nabi dianugerahi Tuhan akal yang memiliki daya
tangkap luar biasa sehingga tanpa latihan ia dapat berkomunikasi dengan Jibril. Akal tersebut
mempunyai kekuatan suci yang diberi nama hads atau suci. Akal yang memiliki kekuatan suci itu yang
membuat Nabi dapat berkomunikasi dengan utusan Tuhan.

Akal memiliki kedudukan yang penting dalam ajaran Islam, bahkan dijadikan sebagai dasar dan sumber
hukum setelah Alquran dan Hadits. Akal sebagai dasar disebut ar-ra'yu yang dilakukan melalui ijtihad.

Dorongan penggunaan akal dalam Islam melahirkan kemajuan peradaban Islam dalam berbagai bidang
terutama berkembangannya kajian-kajian ilmu pengetahuan dan filsafat serta ilmu-ilmu keislaman,
seperti tafsir, fikih, dan sebagainya.

Kedudukan wahyu terhadap akal manusia adalah seperti cahaya terhadap indera penglihatan manusia.

[1] Hasbi As-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Alquran dan Tafsir, Semarang: PT. Pustaka Rizki
Putra, 2010, hal. 8

[2] Hafidz Abdurrahman, Ulumul Quran Praktis, Bogor: CV Idea Pustaka Utama, 2003, hal. 15

[3] Qs. Al-Qashas: 7.

[4] op. cid.


[5] Qs. An-Nahl: 68.

[6] Qs. Al-An'am: 121.

[7] Yaitu dengan menyebut nama selain Allah.

[8] Hafidz Abdurrahman, Ulumul Quran Praktis, Bogor: CV Idea Pustaka Utama, 2003, hal. 15.

[9] Hasbi As-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Alquran dan Tafsir, Semarang: PT. Pustaka Rizki
Putra, 2010, hal. 10-11.

[10] Mohammad Muslih, Pengantar Ilmu Filsafat, Ponorogo: Darussalam University Press, 2008, hal. 39.

[11] Ibid.

[12] Di belakang tabir artinya ialah seorang dapat mendengar kalam Ilahi akan tetapi Dia tidak dapat
melihat-Nya seperti yang terjadi kepada Nabi Musa a.s.

[13] Qs. As-syura: 51.

[14] Ini terjadi dua kali, saat pertama menerima wahyu di gua Hira dan ketika isra' mi'raj.

[15] Seperti ketika malaikat datang kemudian mengajarkan tentang apa itu Islam, Iman dan Ihsan
kepada Nabi.

[16] Hafidz Abdurrahman, Ulumul Quran Praktis, Bogor: CV Idea Pustaka Utama, 2003, hal. 28-31

udul Asli: Khowathir Qur’aniyah, Nazharat fi Ahdafi Suwaril Qur’an


Terjemahan: Khowathir Qur’aniyah: Kunci Memahami Tujuan Surat-surat Al-Qur’an
Penulis: Amru Khalid
Penerjemah: Khozin Abu Faqih, Lc. dkk
Penerbit: Al-I’tishom – Jakarta
Cetakan: II; Desember 2011
Tebal: 748 Halaman; 24 cm
Cover buku “Khowatir Qur’aniyah, Nazharat fi
Ahdafi Suwaril Qur’an (Khowatir Qur’aniyah: Kunci Memahami Tujuan Surat-surat al-Qur’an)”.

dakwatuna.com – Al-Quran adalah sumber cahaya kehidupan yang tak akan pernah padam
hingga akhir zaman. Karena kesucian dan keasliannya, akan terus dijaga oleh Allah yang telah
mewahyukan al-Qur’an kepada Rasulullah melalui malaikat Jibril. Keaslian ini pula yang
menjadi salah satu mukjizat dari sekian banyaknya mukjizat Kalamullah ini.

Sehingga, bagi kaum muslimin, kewajiban tidak berhenti hanya pada membacanya. Melainkan
terus membaca, menghafal, memahami dan muaranya pada mengejewantahkan apa yang terdapat
dalam al-Qur’an pada kehidupan sehari-hari.

Guna memahami makna dari wahyu Allah ini, keberadaan kitab tafsir yang ma’tsur, sangatlah
dibutuhkan. Karena, maraknya mal praktek ibadah dengan dalih al-Qur’an, mempunyai dampak
yang sangat berbahaya dalam kehidupan kita. Sayangnya, mal praktek ini bukan dilakukan oleh
mereka yang buta huruf, tetapi dilakukan oleh mereka yang memang melek informasi dan
mempunyai agenda buruk untuk menghancurkan Islam dari dalam.

Beruntungnya, kaum muslimin memiliki stok ulama’ yang mumpuni dalam menjelaskan apa
yang terkandung dalam al-Qur’an. Dimulai dari generasi sahabat, tabi’in, tabi’it tabi’in, hingga
ulama’ sepeninggal mereka. Dalam khazanah kedalaman ilmu tafsir itu, kita mengenal adanya
Imam ath-Thabari sang pakar tafsir. Selain beliau, ada juga Imam al-Qurthubi, Imam Ibnu
Katsir, dan sebagainya. Seiring berjalannya waktu, kita juga memiliki cendekiawan muslim yang
menulis tafsir dengan sangat baik, yakni Sayyid Quthb dengan Fi Dzilalil Qur’an yang
fenomenal itu.

Dengan semangat yang sama sebagaimana generasi pendahulu umat ini, Amru Khalid, seorang
cendekiawan asal negeri Kinanah yang juga banyak menulis buku, menyuguhkan kepada kita
kitab berjudul Khowatir Qur’aniyah ini. Secara ringkas, dalam kitab ini dibahas tentang 114
surat dalam al-Qur’an, agar kaum muslimin memahami maksudnya melalui uraian yang ringkas
ini; tidak panjang lebar sebagaimana kitab tafsir pada umumnya.

Al-Quran dimulai dari surah al-Fatihah yang disebut sebagai ummul kitab. Karena al-Qur’an
mempunyai 3 pokok bahasan yakni aqidah, ibadah dan manhaj hidup. Dan, ketiga hal itu,
terangkum dengan sangat sempurna dalam 7 ayat surat al-Fatihah ini. Di mana ayat ke dua dan
ke tiga menjelaskan tentang aqidah, ayat ke lima menjelaskan tentang ibadah dan ayat ke enam
dan ke tujuh menjelaskan tentang manhaj hidup. (Hal 3)

Masih tentang surat ini, Khalifah kelima umat Islam, yakni Umar bin Abdul Aziz, memiliki
kebiasaan terkait surat ini. Di mana dalam menghayatinya, beliau diam sejenak di sela-sela setiap
ayat. Ketika ada yang bertanya mengapa beliau melakukan hal itu, Khalifah yang berhasil
menyejahterakan kaum Muslimin hanya dalam 2,5 tahun pemerintahannya ini mengatakan, “Aku
ingin menikmati jawaban Tuhanku.”

Setelah tujuh ayat singkat, terdapatlah surat terpanjang dengan 286 ayat. Surat ini memiliki
beberapa keutamaan, sebagaimana surat lainnya, di antaranya; bersama surah Ali Imran, surat ini
akan memberikan syafa’at kepada orang yang menghafal, mengamalkan dan membacanya
berulang-ulang. Keutamaan yang lain, bahwa rumah yang dibacakan surat Al-Baqarah ini, tidak
akan dimasuki oleh setan. Dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa setan tidak akan memasuki
rumah tersebut dalam 3 hari.

Selanjutnya, masing-masing surat ini akan dijelaskan satu-persatu hingga surat as-Sajdah.
Lantas, digabungkanlah 6 surat di juz 22 dan 23 ke dalam satu tema tentang berserah diri
(istislam). Keenam surat itu adalah al-Ahzaab, Sabaa’, Fathir, Yasin, Ash-Shaaffaat dan Shad
(Hal 524). Penggabungan keenam surat ini, didasarkan pada alasan, bahwa pada surat-surat
sebelumnya, telah banyak disebutkan tentang syariat yang berbentuk perintah. Di mana
kesemuanya bermaksud baik dan diciptakan oleh Allah Yang maha mengetahui. Sehingga,
dalam 6 surat ini, titik tekannya ada pada kewajiban bagi kaum muslimin untuk berserah diri atas
semua perintah Allah tersebut.

Banyak sekali hikmah yang didapat ketika diri menyibukkan diri dengan mengkaji al-Qur’an
dengan maksud mengamalkannya. Di antaranya, kita bisa mengetahui sebab-sebab yang bisa
mengantarkan kita pada penyimpangan sebagaimana dijelaskan dalam surat Qaf. Yakni 3 sebab
penyimpangan yang meliputi bisikan jiwa, qarin (setan) dan kelalaian (Hal 629-630).

Dengan demikian, kajian-kajian tentang al-Qur’an ini sangat urgen untuk ditumbuhsuburkan
dalam diri masing-masing kaum muslimin, keluarga maupun komunitas. Karena, kemajuan
Islam dalam memimpin peradaban, hanya bisa digapai ketika al-Qur’an menjadi akhlak, ketika
al-Qur’an dipraktekkan ajarannya. Bukan sekedar penghias bibir atau hanya didengarkan ketika
ada yang menikah, menjelang shalat Jumat atau aktivitas-aktivitas ritual lainnya. Ya Allah,
sayangilah kami dengan al-Qur’an.

Sumber: https://www.dakwatuna.com/2014/03/25/48393/khowathir-quraniyah-nazharat-fi-ahdafi-
suwaril-quran-khowatir-quraniyah-kunci-memahami-tujuan-surat-surat-al-quran/#ixzz4u2W24EMW
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook

Keserasian Ayat-Ayat Qauliyah Dan Kauniyah

MAKALAH

Keserasian Ayat-Ayat Qauliyah Dan Kauniyah

(Disusun Guna Memenuhi tugas Mata Kuliah ilmu pendidikan islam)

Dosen pengampu: Drs. Ari Anshori. M.Ag.

Disusun Oleh:

IMAM WAHYUDI

G 000 080 063

FAKULTAS AGAMA ISLAM

JURUSAN TARBIYAH

UNIVERSITAS MUHAMADIYAH SURAKARTA

2009
A. Pendahuluan

Telah diyakini bahwa Al-Qur’an berisi petunjuk bagi manusia. Ajaran-ajarannya disampaikan secara
fariatif serta dikemas sedemikian rupa. Ada yang berupa informasi, perintah dan laranagan, dan ada
juga yang dimodifikasi dalam bentuk diskripsi kisah-kisah yang mengandung ibrah, yang dikenal dengan
istilah ayat-ayat kauliyah dan ayat-ayat qauniyah.

Pada makalah ini kami akan mencoba membahas mengenai ayat-ayat kauliyah dan ayat qauniyah yang
Allah berikan kepada manusia secara indrawi atau lewat penelitian dan observasi (al-mubasyiyah) untuk
mengungkap gejala-gejala/fenomena kauniyah. Di dalam Al-Qur’an Allah menjelaskan kekuasaannya
dengan contoh-contoh kebenaranya alam ini agar kita semua dapat mengetahui dengan jelas siapa yang
menciptakan alam semesta ini dan siapa yang berhak kita sembah semestinya, karena kita sebagai
citaanya. Dalam pembahasan ini hanya sedikit akan menjelaskan dan membuktikan bahwa alam
semesta ini memang hanya Allah lah yang mencitakan dan agar kita mengetahui apa sebenarnya tujuan
Allah menurunkan Al-Quran yang telah banyak memberikan contoh-contoh mengenai alam semesta ini.

B. Pembahasan

a. Keserasian Ayat-Ayat Qauliyah Dan Kauniyah

Allah SWT menurunkan ayat-ayat (tanda kekuasaan)-Nya melalui 2 jalur formal yaitu ayat qouliyah dan
jalurnon-formal yaitu ayat kauniyah. Ayat qouliyah adalah kalam Allah (Al-Qur’an) yang diturunkan
secara formal kepad Nabi Muhammad SAW. Sedangkan ayat kauniyah adalah fenomena alam, jalurnya
tidak formal dan manusia mengeksplorasi sendiri.

Al-Quran Al-Karim, yang terdiri dari 6.236 ayat itu, menguraikan berbagai persoalan hidup dan
kehidupan, antara lain menyangkut alam raya dan fenomenanya. Uraian-uraian sekitar persoalan sering
tersebut sering di sebut ayat-ayat kauniyah. Tidak kurang dari 750 ayat yang secara tegas menguraikan
hal-hal diatas. jumlah ini tidak termaksud ayat-ayat yang menyinggungnya secara tersirat.

b. Al-Quran Dan Alam Raya

Dalam bericara tentang alam dan fenomenanya. Paling sedikit ada dua hal yang dapat dikemukakan
menyangkut hal tersebut:

1. Al-Quran memerintah kan atau menganjurkan kepada manusia untuk memperhatikan dan
mempelajari alam rayadalam rangka memperolh manfaat dan kemudahan-kemudahan bagi
kehidupanyadan mengantarkan kepada kesadaran-kesadaran akan keesaan dan kemahakuasaan Allah
SWT.
2. alam dan segala isinya beserta hokum-hukum yang mengaturnya, diciptakan, dimiliki, dan dibawah
kekuasaan Allah SWTsertadiatut dengan sangat teliti.

Alam raya tidak bias dilepaskan dari ketetapan-ketapan tersebut, kecuali jika dikehendaki aloh Allah
SWT.

Eksplorasi terhadap ayat kauniyah inilah yang kita kenal sebagai sains, yang kemudian dalam aplikasinya
disebut teknologi. Sains dan teknologi (saintek) ini adalah implementasi dari tugas manusia sebagai
khalifah fil ardhi untukmemakmurkan bumi. Karenanya bagi seorang muslim, saintek adalah sarana
hidup untuk mengelola bumi, bukan membuat kerusakan.

Paradigma seorang muslim terhadap ayat-ayat Allah ini, baik ayat qouliyah (Al-Qur’an) maupun kauniyah
(fenomena alam) adalah mutlak benar dan tidak mungkin bertentangan, karena keduanya berasal dari
Allah. Pada faktanya sains yang telah ”proven” (qath’i) selaras dengan Al Qur’an seperti tentang
peredaran bintang, matahari dan bumi pada orbitnya. Namun sains yang masih dzanni (teori) kadang
bertentangan dengan yang termaktub dalam Al-Qur’an seperti teori evolusipada manusia.

Allah swt. menuangkan sebagian kecil dari ilmu-Nya kepada umat manusia dengan dua jalan. Pertama,
dengan ath-thariqah ar-rasmiyah (jalan resmi) yaitu dalam jalur wahyu melalui perantaraan malaikat
Jibril kepada Rasul-Nya, yang disebut juga dengan ayat-ayat qauliyah. Kedua, dengan ath-thariqah ghairu
rasmiyah (jalan tidak resmi) yaitu melalui ilham secara kepada makhluk-Nya di alam semesta ini (baik
makhluk hidup maupun yang mati), tanpa melalui perantaraan malaikat Jibril. Karena tak melalui
perantaraan malaikat Jibril, maka bisa disebut jalan langsung (mubasyaratan). Kemudian jalan ini disebut
juga dengan ayat-ayat kauniyah.

Ayat-ayat qauliyah mengisyaratkan kepada manusia untuk mencari ilmu alam semesta (ayat-ayat
kauniyah), oleh sebab itu manusia harus berusaha membacanya, mempelajari, menyelidiki dan
merenungkannya, untuk kemudian mengambil kesimpulan. Allah swt. berfirman: “Bacalah (ya
Muhammad) dengan nama Tuhanmu Yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari ‘alaq.
Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang Mengajar (manusia) dengan perantaraan alam. Dia
mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq:1-5)

Saintis muslim bukan berhenti pada observasi dan menjelaskan fenomena alam, namun mesti mencapai
level orang yang berakal ulil albab (QS Ali Imron 190-191). Akal berbeda dengan kecerdasan otak. Hewan
pun mempunyai kecerdasan, namun tidak mempunyai akal. Karenanya orang yang tidak menggunakan
akal diumpamakan binatang ternak (QS.Al-A’raf : 179). Manusia yang tidak menggunakan akal dianggap
sebagai”binatang yang cerdas”.

Akal adalah kerja qalbu yang berada dalam dada (sebagaimana disebutkan dalam QS.Al-Hajj ayat 46),
merupakan kemampuan untuk mengambil pelajaran. Kata ulil albab biasa disebut dalam Al-Qur’an
setelah pemaparan fenomena alam, untuk menunjukkan orang yang bias mengambil pelajaran. Kata
“yafqohuun” (memahami), ya’qiluun(menggunakan akal) dalam Al-Qur’an dinisbatkan pada qalbu
(QS.22:46, 7:179).
”maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi,lalu mereka mempunyai qalbu yang dengan itu
mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar ? Karena
sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah qalbu yang di dalam dada.”/ Ayat di
atas didahului dengan ayat tentang pemaparan fenomena kaum-kaum yang diadzab.

Berkaca dari makna akal dalam Al-Qur’an ini, maka semestinya penemu disket, penemu memori jika
barakal maka akan sampai pada keyakinan tentang akhirat, tentang kesaksian dan pencatatan amal-
amal manusia, dan hari pembalasan.

Dalam sejarah peradaban Islam, para ilmuwan adalah juga ahli dalam agama karena memahami
kedudukan saintek dalam Islam. Mereka belajar ayat qouliyah dan juga belajar ayat kauniyah. Kontribusi
ilmu pengetahuan para ilmuwan muslim menjadi tonggak kemajuan iptek di barat.

Dalam bidang matematika ada algorithm, algebra yang merupakan nama matematikawan muslim
(Alkhawarizm, Aljabar). Juga angka Arab yang dengannya perhitungan menjadi mudah. Dalam bidang
kimia ada istilah alkemi (chemistry), alkali, alkohol. Nama-nama ilmuwan muslim spt IbnuSina (Avicena),
Ibnu Rusyd (Averous), Ibnu Khaldun menjadi nama yang gemilang. Bidang-bidang yang sangat gemilang
pada masa kejayaan peradaban Islam adalah kedokteran, matematika, dan astronomi, karena menjadi
kebutuhan langsung seperti menentukan kiblat dan waktu-waktu ibadah.

Dalam pandangan seorang muslim ayat qauliyah akan memberikan petunjuk/isyarat bagi kebenaan ayat
kauniyah, misalnya surat An-Nur (24):43 mengisyaratkan terjadinya huja, surat Al-Mukminun (23):12-14
mengisyaratkan tetang keseimbangan dan kesetabilan pada istem tata surya, surat Al-Ankabut(29):20
mengisyaratkan adanya evolusi pada penciptaan makhluk di bumi, surat AZ-Zumar (39):5 dan surat an-
Naml (27): 28 mengisyaratkan adanyarotasi bumi dan bulatnya bumi,sebaliknya ayat kauniyah akan
menjadi bukti (Al-Burhan) bagi kebenaran ayat qauliyah (lihat surat Al-Fushshilat 41:53)

Dengan demikian,Pada pasal ini akan dijelaskan dan diberikan contoh hubungan antara ayat Qauliyah
sebagai petunjuk wahyu yang memberikan isyarat global tentang fenomena iptek, untuk membantu
menjelaskan dan mencocokkan terhadap ayat kauniyah. Banyak sekali contoh yang dapat dikemukakan,
akan tetapi karena keterbatasan ruang, maka dalam hal ini akan dikemukakan dua contoh saja yang
amat terkenal yaitu “Siklus Hidrologi” dan “Konsep Tentang Alam Semesta”.

1. Ayat/Fenomena Kauniyah

Dari hasil observasi dan penelitian yang berulang-ulang bahwa “siklus hidrologi” atau sikulasi air
(hydrologi cycle) dapat dijelaskan sebagai berikut:

Siklus hidrologi adalah sirkulasi air yang terjadi akibat radiasi/panas matahari, sehingga air yang dilaut,
sungai, dan juga air pada tumbuh-tumbuhan mengalami penguapan ke udara (transpiration), sehingga
dikenal sebagai evapotranspiration, lalu uapair tersebut pada ketinggian tertentu menjadi dinggin dan
terkondensasi menjadi awan. Akibat angin,bekumpulan awan dengan ukuran tertentu dan terbuat awan
hujan, karena pengaruh berat dan gravitasi kemudian terjadilah hujan (presipitasion). Beberapa air
hujan ada yang mengalir di atas permukaan. Tanah sebagai aliran limpasan (overland flow) dan ada yang
terserap kedalam tanah (infiltrasioan). Aliran limpasan selanjutnya dapat mengisi tampungan-cekungan
(depresioan storage). Apabila tampungan ini telah terpenuhi, air akan menjadi limpasan-permukaan
(surface runoff) yang selanjutnya mengalir kelaut. Sedangkan air yang terinfiltrasi, bisa keadaan formasi
geologi memungkinkan, sebagian dapat mengalir literal di lapisan tidak kenyang air sebagai aliran antara
(subsurface flow/interflow). Sebagian yang lain mengalir vertikal yangdisebut dengan “perkolasi”
(percolation) yang akan mencapai lapisan kenyang air (saturated zone/aquifer). Air dalam akifer akan
mengalir sebagai air tanah (grounwter flow/base flow) kesungai atau ketampungan dalm (deep storage).
Siklus hirologi ini terjadi terus-menerus atau berulang-ulang dan tidak terputus.

2. Ayat/Fenomena Qauliyah

Pada penjelasan fenomena kauliyah, dapat kita tarik kesimpulan bahwaq “siklus hidrologi” memiliki 4
(empat) macam proses yang saling menguatkan, yaitu:

a. hujan/presipitasi.

b. penguapan/evaporasi.

c. infiltrasi dan perkolasi (peresapan).

d. lipahan permukaann (surface runoff) dan limpasan iar tanah (subsurface rzrnoff)

Isyarat adanya fenomena “siklus hidrologi” dapat kata lihat pada surat An-Nur (24) ayat 43, yaitu:

Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, Kemudian mengumpulkan antara (bagian-
bagian)nya, Kemudian menjadikannya bertindih-tindih, Maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari
celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-
gumpalan awan seperti) gunung-gunung, Maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa
yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu
hampir-hampir menghilangkan penglihatan. (An Nur: 43)

Pada ayat diatas, menunjukkan adanya proses inti yang sedang berlangsung dan merupakan bagian dari
proses “siklus hidrologi.”Kedua proses itu, yaitu proses penguapan (evaparasi)yang ditunjukkan dengan
kata “awan”dan proses hujan (presipitasi)yang berupa keluarnya air dan butiran es dari awan.Diman
awan adalah massa uap air yang terkumpul akibat penguapan dan kondisi atmosfir tertentu. Menurut
Prof. Sri Harto (2000)seorang pakar biologi, awan dalam keadan ini yang kalau masih mempunyai butir-
butir air berdiameter lebih kecil dari 1mm masih akan melayang-layang di udara karena berat butir-butir
tersebut masih lebih kecil daripada gaya tekan ke atas udara. Sehingga pada kondisi ini awan masih bisa
bergerak terbawa angin, kemudian berkumpul menjadi banyak dan bertindih-tindih (bercampur), dalam
ayat lain awan menjadi bergumpal-gumpal seperti pada surat Ar-Arum(30)ayat 48:

Allah, dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di
langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan
keluar dari celah-celahnya, Maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang
dikehendakiNya, tiba-tiba mereka menjadi gembira. (Ar-Arum: 48).

Demikian jelaslah bahwa dengan terbawanya awan oleh pergerakkan angin, maka awan akan berkumpul
menjadi banyak dan bergumpal-gumpal. Akibat berbagai sebab klimatologis seperti pengaruh
kondensasi, awan tersebut dapat menjadi awan yang potensial menimbulkan hujan, yang
biasanyamnurut Sri Harto (2000) terjadi bila butir-butir berdiameter lebih besar dari pada 1mm.

Sehingga pada ayat diatas “hujan keluar dari celah-celahnya”awan, maksudnya secara ilmiah “hujan”
turun tidak seperti menggelontornya air, melainkan berupa butir-butir air kecil (lebih besar dari pada
1mm)yang turun dari awan akibat pengaruh berat dan gravitasi bumi, seperti jatuhnya tetes-tetes aur
dari celah-celah mata air. Sedangkan turunya butiran-butiran es langit, itu disebabkan apabila
gumpalan-gumpalan awan pada ketinggian tertentu dan kondisi atmosfir tertentu mengalami
kondensasi sampai mencapai kondisi titik beku, sehingga terbentuklah gunung-gunung es. Kemudian
karena pengaruh berat dan gravitasi bumi sehingga jatuh/turun ke permukaan bumi, dan dalam
perjalananya dipengaruhi oleh temperatur, pergerakan angin dan gesekan lapisan udara , maka gunung
es itu peceh menjadi butir-butir es yang jatuh ke permukaan bumi.

Bila terjadi hujan masih besar kemungkinan air teruapkan kembali sebelum sampai di permukaan bumi,
karena keadaan atmosfir tertentu. Hujan baru dusebut sebagai hujan apabila telah sampai di permukaan
bumi dapat diukur. Air hujan yang jatuh di permukaan bumi terbagi menjadi 2 bagian, yaitu sebagai air
lintasan dan sebagai air yang terinflocrsi/meresap ke dalam tanah (Sri Harto.2000). Kaidah-kaidah atas di
tunjukkan pula pada surat Al-Mukminun 23 ayat 18:

Dan kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran; lalu kami jadikan air itu menetap di bumi, dan
Sesungguhnya kami benar-benar berkuasa menghilangkannya.(Al-Mukminun :18)
Pada ayat diatas Allah menurunkan hujan menurut suatu ukuran sehingga hujan yang sampai di
permukaan bumi dapat di ukur. Hanya tinggal kemampuan manusai sampai dimana tingkat validitasnya
dalam mengukur dan memperkirakan jumlah atau kuantitas hujan. Sehingga timbul beberapa teori
pendekatan dalam analisis kuantitas hujan yang menjadikan berkembangnya ilmu hidrologi. ”Lalu Kami
jadikan air itu menetap di bumi”. Maksidnya adalah air yang jatuh dari langit itu tinggal di bumi menjadi
sumber air, sebagai mana tercantum dalam surat Az-Zumar 39 ayat 21:

Apakah kamu tidak memperhatikan, bahwa Sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, Maka
diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi Kemudian ditumbuhkan-Nya dengan air itu tanam-
tanaman yang bermacam-macam warnanya, lalu menjadi kering lalu kamu melihatnya kekuning-
kuningan, Kemudian dijadikan-Nya hancur berderai-derai. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-
benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.( Az-Zumar: 21)

Sumber-sumber air dibumi bisa berupa air sebagai aliran limpasan seperti air sungai, danau, dan laut.
Juga bisa berupa air tanah (graund water) segagai akibat dari infiltrasi seperti air sumur , air artesi dan
sungai bawah tanah.

Dan sesungguhnya kami benar-benar berkuasa menghilangkannya.maksudnya Allah berkuasa untuk


menghilangkan sumber-sumber air tadi, seperti dengan cara kemarau panjang (akibat siklus musim yang
dipengaruhi oleh pergerakan matahari disekitar equator) , sehinga tidak ada suplei air sebagai pengisian
(recharge kedalam permukaan tanah atau bawah permukaan tanah. Sedangkan, proses pengguapan,
pergerakan air permukaan dan pergerakan air tanah berlangsung terus-menerus,sehinga lapisan iar
tanah (water table) menjadi turun dan sumber mata iar menjadi berkurang, bahkan lebih drastis lagi
muka air tanah bisa turun mencapai lapisan akifer artetis yang kedap iar. Maka kondisi seprti itu
seringkaili terlihat sungai-sungai kekeringan, sumur-sumur air dangkal kekeringan, muka air danau surut
dan bahkan ada yang sdampai kering, dan pohon-pohon mengalami kerontokan dan mati kekeringan.
Kaidah-kaidan seperti ini sebagai mana telah digambarkan pad surat Az-Zumar (39) ayat 21 di atas.
Dengan demikian bahwa kajian ayat-ayat qauliyah diatas meliputi suatu sunnatullah “daur” yang terus
menerus tidak terputu, seperti lingkaraqn setan yang disebut sebagai “sijlus hidrologi”.

C. Kesimpulan

Ayat Qouliyah adalah kalam Allah (Al Qur’an) yang diturunkan secara formal kepad Nabi Muhammad
SAW. Sedangkan ayat kauniyah adalah fenomena alam, jalurnya tidak formal dan manusia
mengeksplorasi sendiri.

Ayat-ayat qauliyah mengisyaratkan kepada manusia untuk mencari ilmu alam semesta (ayat-ayat
kauniyah), oleh sebab itu manusia harus berusaha membacanya, mempelajari, menyelidiki dan
merenungkannya, untuk kemudian mengambil kesimpulan. Allah swt. berfirman: “Bacalah (ya
Muhammad) dengan nama Tuhanmu Yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari ‘alaq.
Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang Mengajar (manusia) dengan perantaraan alam. Dia
mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq:1-5)

Dalam bericara tentang alam dan fenomenanya. Paling sedikit ada dua hal yang dapat dikemukakan
menyangkut hal tersebut:

a. Al-Quran memerintah kan atau menganjurkan kepada manusia untuk memperhatikan dan
mempelajari alam rayadalam rangka memperolh manfaat dan kemudahan-kemudahan bagi
kehidupanyadan mengantarkan kepada kesadaran-kesadaran akan keesaan dan kemahakuasaan Allah
SWT.

b. Alam dan segala isinya beserta hokum-hukum yang mengaturnya, diciptakan, dimiliki, dan dibawah
kekuasaan Allah SWTsertadiatut dengan sangat telit

DAFTAR PUSTAKA

Achmad Baikuni. 1997. Al-Quan dan ilmu pengetahuan kealaman. Yogyakarta. Dana Bakti Prima Yasa.

Al-Quran terjemahnya.1998. Semarang. Asy-Syifa.

Sri Harto.2000. Hidrologi :Teori, Masalah Dan Penyelesaian. Yogyakarta: Nafiri

Yusuf Qardhawi. 1998. Al-Quran Berbicara Tentang Akal Dan Ilmu Pengetahuan, (terj).

Abdul Hayyie Al-Kattani. Jakarta: Gema Isani.

Quraish shihab,1996. membumikan Al-Quran dan peraan wahyu dalam kehidupan masyarakat,
bandung, Mizan.

Zizuddin Sardar. 1977. Sains, Teknologi Dan Pembangunan Di Dunia Isam.Bandung. Mizan.

Pembahasan tentang wahyu sangat penting karena merupakan pemahaman dasar untuk mengenal
kalam Ilahi. Al-Quran sebagai kalam Ilahi bisa diterima apabila masalah wahyu sudah jelas.

Al-Quran adalah firman Allah SWT. Buku suci ini mengandung pesan samawi yang diperantarai oleh
wahyu. Wahyu adalah ilham gaib dari sisi Malakut al-A’la yang turun ke alam materi.
Allah SWT berfirman melalui lisan Rasulullah SAW:

“Dan sesungguhnya al-Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan seluruh alam yang dibawa turun
oleh ar-Ruh al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad saw) agar engkau termasuk orang yang
memberi peringatan dengan bahasa Arab yang jelas” (QS. Al-Syu’ara:192-195).

“Itulah sebagian hikmah yang diwahyukan Tuhan kepadamu” (QS. Al-Isra:39).

“Dan al-Quran ini diwahyukan kepadaku supaya dengannya aku memberi peringatan kepadamu dan
kepada orang-orang yang sampai (al-Quran kepadanya)” (QS. Al-An’am:19).

Karenanya, masalah paling mendasar dalam keyakinan qurani adalah pembahasan tentang wahyu;
tentang mengenal wahyu, cara terjalinnya hubungan antara Yang Mahatinggi dengan materi yang
rendah, apakah mungkin terjalin hubungan antara alam fisik dengan metafisik? Apakah keterjalinan
hubungan tersebut tidak terkait dengan masalah sinkhiyyat (kesamaan)? Jawaban dari semua
pertanyaan tersebut akan membuka jalan untuk mendapat keyakinan qurani.

Wahyu Secara Etimologi

Secara kebahasaan, wahyu memiliki banyak arti yang berbeda-beda, di antaranya: isyarat, tulisan,
risalah, pesan, perkataan yang terselubung, pemberitahuan secara rahasia, bergegas, setiap perkataan
atau tulisan atau pesan atau isyarat yang disampaikan kepada orang lain.

Menurut Raghib Ishfahani, wahyu adalah isyarat yang cepat (Al-Mufradat fi Ghara’ib Al-Quran, hal.515).
Menurut Abu Ishaq, wahyu dalam pengertian semua bahasa adalah pemberitahuan secara rahasia,
karena itulah ilham disebut dengan wahyu. Menurut Ibnu Barri, wahyu adalah pembicaraan yang
dirahasiakan. Seseorang bersyair:

Wahyu telah disampaikan kepada kami

Sampai ujung jari-jemarinya meniscayakan membawa pesannya


Seorang yang lain bersyair,

Kupandang ia maka kebingungan melanda

jeli pikiranku ketika menyifati keindahannya

Sorot mataku mengiba pesan kepadanya

aku cinta kepadanya

kemudian di kedua pipinya tampak tanda-tanda pesan itu (Ibnu Manzhur, Lisan al-Arab, jld. 15,
hlm.380).

Wahyu dalam Al-Quran

Kata wahyu dalam al-Quran memiliki empat arti;

1. Isyarat secara rahasia. Ini adalah pemaknaan wahyu secara kebahasaan. Sebagaimana ayat yang
dimaktubkan dalam al-Quran berkenaan dengan Nabi Zakaria a.s.:

“Maka ia keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu ia memberi isyarat kepada mereka, “Hendaklah kamu
bertasbih di waktu pagi dan petang.” (QS. Maryam: 11).

2. Petunjuk naluriah, yaitu petunjuk-petunjuk yang bersifat naluriah yang ada di dalam diri semua
makhluk. Setiap maujud, baik itu benda padat, tumbuhan, hewan dan manusia, secara instingtif
mengetahui jalan keabadian dan keberlangsungan hidupnya. Petunjuk yang bersifat naluriah ini disebut
dalam Al-Quran dengan nama wahyu.

“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah, “Buatlah sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu dan di
tempat-tempat yang dibuat manusia. Kemudian makanlah dari segala (macam) buah-buahan dan
tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu).” Dari perut lebah itu keluar minuman
(madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi
manusia. Sungguh, dari yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang
berpikir” (QS. Al-Nahl: 68-69).
Petunjuk yang bersifat naluriah yang terdapat dalam diri segala sesuatu merupakan misteri yang
terselubung. Misteri-misteri alam itu memiliki pengaruh menakjubkan yang dapat dilihat. Meski
demikian, sumbernya tersembunyi dari semua pandangan. Fenomena ini layak disebut dengan nama
wahyu.

“Dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya…” (QS. Fushshilat: 12).

3. Ilham (bisikan gaib). Kadangkala manusia menerima pesan, tetapi tidak mengetahui dari mana asal
pesan tersebut. Biasanya pesan ini muncul dalam kondisi terdesak, ketika dia menganggap telah
menapaki jalan buntu. Tiba-tiba, muncul pancaran dari dalam hati yang memberitahu adanya jalan
terang dan memberi harapan untuk terbebas dari kesulitan. Pesan-pesan pemberitahu jalan keluar ini
adalah suara gaib yang membantu manusia dari balik layar wujud. Inilah inayah Sang Pencipta kepada
alam semesta.

Suara gaib dari inayah Ilahiah ini, disebut oleh Al-Quran dengan nama wahyu. Berkenaan dengan ibunda
Nabi Musa as al-Quran mengisahkan,

“Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa, “Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka
hanyutkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah bersedih hati, karena
sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para
rasul.” (QS. Al-Qashash: 7).

“Dan sesungguhnya Kami telah memberi nikmat kepadamu pada kesempatan yang lain, yaitu ketika
Kami mengilhamkan kepada ibumu suatu yang diilhamkan, “Letakkanlah ia (Musa) di dalam peti,
kemudian lemparkanlah ia ke sungai (Nil), maka pasti sungai itu membawanya ke tepi, supaya diambil
oleh (Fir’aun) musuh-Ku dan musuhnya.Maka Kami mengembalikanmu kepada ibumu, agar senang
hatinya dan tidak berduka cita” (QS. Thaha: 37-40).

Ketika Musa a.s. lahir, ibunya mengkhawatirkan nasibnya. Tiba-tiba dalam benak ibunya muncul
kepasrahan untuk bertawakal kepada Tuhan. Kemudian dia menyusui bayinya. Meski khawatir, dia
letakkan Musa as ke dalam peti yang kemudian dihanyutkan di aliran sungai. Namun, dalam benaknya
tersemat keyakinan bahwa bayinya kelak kembali kepadanya. Ibu Nabi Musa a.s. merasa ada yang tidak
memperbolehkannya bersedih. Pada saat itulah dia telah bertawakal dan menyerahkan nasib bayinya
kepada Allah SWT.
Itulah suara yang menyinari dan melintas dalam hati ibu Nabi Musa a.s. Ibu Nabi Musa a.s. memiliki
secercah harapan karenanya. Dia tidak memikirkan sesuatu yang lain, selain Tuhan. Pikiran yang
menerangi jalan dan menolongnya dari kesulitan dan ketakutan seperti ini adalah ilham rahmani dan
inayah rabbani yang menghampiri hamba-hamba saleh ketika berada dalam posisi terdesak.

Al-Quran juga menggunakan kata wahyu untuk menyebut bisikan setan:

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan
(dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan indah
untuk menipu (manusia)” (QS. Al-An’am: 112).

“Sesungguhnya setan-setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu”
(QS. Al-An’am: 121).

Dalam surah Al-Nas disebutkan:

“Dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada
manusia. Dari (golongan) jin dan manusia”.

4. Wahyu kerasulan (risali). Wahyu ini hanya khusus untuk Nabi. Di dalam al-Quran, wahyu risali disebut
lebih dari tujuh puluh kali:

“Demikianlah Kami wahyukan kepadamu al-Quran dalam bahasa Arab supaya kamu memberi
peringatan kepada penduduk Mekkah dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya (QS. Al-Syura: 7).

“Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan al-Quran ini kepadamu”
(QS. Yusuf:3).
Para nabi adalah orang-orang yang mencapai derajat kesempurnaan, karena mereka telah
mempersiapkan diri untuk menerima wahyu. Berkaitan pendapat ini, Imam Hasan Askari as bersabda,
“Sesungguhnya Allah mendapati hati dan jiwa Muhammad sebaik-baik hati, maka Dia memilihnya
sebagai nabi-Nya.” (Majlisi, Muhammad Baqir, Bihar al-Anwar, jilid 18, hal.205, hadis ke-36).

Karenanya menambah pengetahuan dan kesiapan menerima pesan samawi ini menjadi sangat penting.
Tujuannya adalah mengikis habis segala hiasan jasmani dari diri seseorang hingga layak menjalin
hubungan dengan para malakut. Rasulullah saw bersabda, “Allah tidak akan mengutus seorang nabi atau
rasul melainkan Dia sempurnakan akalnya dan jadilah akalnya lebih unggul dari seluruh akal umatnya.”
(Muhammad bin Ya’qub Kulaini, Ushul Al-Kafi, jld. 1, hlm.13).

Mulla Sadra berpendapat bahwa batin Nabi dihiasi dengan hakikat kenabian jauh sebelum beliau lahir.
Hal ini telah diketahui secara sempurna oleh para nabi. Nabi telah menghias batinnya secara gemilang
dengan kesempurnaan insani, jauh hari sebelum beliau menampakkannya. Pada saat itulah qalib (jasad)
menyandang predikat qalb (hati). Itulah yang muncul dan tampak dari Nabi. Pertama beliau melakukan
perjalanan dari al-khalq (makhluk) menuju Al-Haqq. Kemudian perjalanannya dilanjutkan dari sisi Al-
Haqq bersama Al-Haqq menuju al-khalq (makhluk) (Shadruddin Syirazi, Syarh_Ushul Al-Kafi, jld. 3,
hlm.454).

“Katakanlah, “Barangsiapa yang menjadi musuh Jibril, maka (ketahuilah) maka dialah yang telah
menurunkan (al-Quran) ke dalam hatimu dengan izin Allah…” (QS. Al-Baqarah: 97).

“Dia dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin ke dalam hatimu (Muhammad) agar engkau termasuk orang-
orang yang memberi peringatan” (QS. Al-Syu’ara: 193-194).

Wahyu sama seperti ilham. Keduanya menjadikan jiwa terang. Bedanya adalah sumber ilham tidak
diketahui oleh yang mendapatkannya, sementara sumber wahyu jelas bagi mereka yang
mendapatkannya. Para nabi tidak pernah merasa bingung dan salah ketika menerima pesan samawi,
karena mereka bergegas menyambutnya dengan kesadaran yang utuh dan lapang dada.

Zurarah bertanya kepada Imam Ja’far Al-Shadiq a.s., “Bagaimana Nabi bisa percaya bahwa apa yang
sampai kepadanya adalah wahyu Ilahi, bukan bisikan setan?”
Imam Al-Shadiq a.s. menjawab, “Sesungguhnya setiap Allah memilih seorang hamba sebagai nabi, maka
Dia menganugerahkan ketenangan kepadanya, sehingga apa yang sampai kepadanya dari Allah, sama
seperti yang dilihat dengan matanya.” (Muhammad bin Mas’ud Ayyasyi Samarqandi, Tafsir Al-Ayyasyi,
jld. 2, hlm.201, hadis ke-106; Bihar Al-Anwar, jld. 18, hlm. 262, hadis ke-16).

Imam Ja’far Al-Shadiq a.s. juga pernah ditanya, “Bagaimana bisa para nabi tahu kalau mereka adalah
nabi?”

Imam Al-Shadiq a.s. menjawab, “Telah disingkap tirai dari mereka.” (Bihar Al-Anwar, jld. 11, hlm. 56,
hadis ke-56).

Para nabi telah tuntas melewati jenjang ilmul yaqin, kemudian mengarungi ainul yaqin dan mencapai
haqqul yaqin ketika diutus sebagai nabi. Karenanya, tak perlu heran jika di lautan manusia, ada orang-
orang pilihan yang suci, tampil ke permukaan, mengemban risalah Ilahi, menyampaikan pesan samawi
untuk manusia supaya beruntung. Sebagaimana firman-Nya dalam al-Quran:

“Pantaskah manusia menjadi heran bahwa Kami mewahyukan kepada seorang laki-laki di antara
mereka, “Berilah peringatan kepada manusia dan gembirakanlah orang-orang beriman bahwa mereka
memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Tuhan.” Orang-orang kafir berkata, “Sesungguhnya orang ini
(Muhammad) benar-benar penyihir yang nyata.” (QS. Yunus: 2).

Untuk menghilangkan segala keheranan dan prasangka buruk, Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya Kami telah mewahyukan kepadamu (Muhammad) sebagaimana Kami telah


mewahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi setelahnya, dan Kami telah mewahyukan kepada Ibrahim,
Ismail, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya; Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur
kepada Dawud. Dan beberapa rasul yang telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu sebelumnya
dan ada beberapa rasul yang tidak kami kisahkan kepadamu. Dan kepada Musa Allah berfirman
langsung. Rasul-rasul itu adalah sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, agar tidak
ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah setelah rasul-rasul itu diutus. Allah Mahaperkasa,
Mahabijaksana. (Mereka tidak mau mengakui yang diturunkan kepadamu itu), tetapi Allah menjadi saksi
atas (al-Quran) yang diturunkannya kepadamu (Muhammad). Dia menurunkannya dengan ilmunya, dan
malaikat-malaikat pun menjadi saksi. Cukuplah Allah yang menjadi saksi. Sesungguhnya orang-orang
yang kafir dan menghalang-halangi (orang lain) dari jalan Allah, benar-benar telah sesat sejauh-jauhnya
(QS. Al-Nisa’: 163-167).
Bukan sebuah peristiwa yang mengherankan jika ada seseorang yang mendapatkan wahyu. Inilah
fenomena yang selalu berseiring bersama manusia sepanjang sejarah.

Sumber:

Muhammad Hadi Ma’rifat, Tarikh Al-Qur’an, Majma Jahani Ahl Al-Bait, Qom, 1388 HS