Anda di halaman 1dari 50

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT atas segala rahmat-
Nya sehingga modul ini dapat tersusun hingga selesai. Tidak lupa kami juga
mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dari pihak yang telah
berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik materi maupun pikirannya.

1. Bapak/Ibu Dosen Poltekkes Kemenkes Palembang, Jurusan Gizi yang


memberikan dorongan, masukkan kepada penyusun
2. Teman-teman yang telah membantu dalam penyelesaian modul ini
3. Pihak-pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu-persatu yang telah
membantu proses penyelesaian modul ini.

Dan harapan kami semoga modul ini dapat menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi para pembaca. Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk
maupun menambah isi modul agar menjadi lebih baik lagi.

Ibarat peribahasa “Tiada gading yang tak retak” karena keterbatsan


pengetahuan maupun pengalaman kami. Kami yakin masih banyak kekurangan
dalam modul ini. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan saran dan kritik
yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan modul ini.

Palembang, September 2018


BAB I
PENGERTIAN ADVOKASI

Dalam buku terbitan Insist Pers (2002) yang berjudul "Kisah-kisah


advokasi di Indonesia" secara eksplisit membenarkan pengertian advokasi
sebagai aksi-aksi sosial, politik dan kultural yang dilakukan secara sistematis,
terencana dan dilakukan secara kolektif, melibatkan berbagai strategi termasuk
lobby, kampanye, bangun koalisi, tekanan aksi massa serta penelitian yang
ditujukan untuk mengubah kebijaksan dalam rangka melindungi hak-hak rakyat
dan menghindari bencana buatan manusia.

Kaminski dan Walmsley (1995) menjelaskan bahwa advokasi adalah satu


aktivitas yang menunjukkan keunggulan pekerjaan social berbanding profesi lain.
Selain itu, banyak defenisi yang diberikan mengenai advokasi. Beberapa di
antaranya mendefinisikan advokasi adalah adalah suatu tindakan yang ditujukan
untuk mengubah kebijakan, kedudukan atas program dari suatu institusi.

Zastrow (1982) memberikan pengertian advokasi sebagai aktivitas menolong


klien untuk mencapai layanan ketika mereka ditolak suatu lembaga atau suatu
system layanan, dan mebantu dan memperluas pelayanan agar mencakup lebih
banyak orang yang mebutuhkan.

Dalam pengantar buku “Pedoman Advokasi”, 2005, mengutip Webster’s New


Collegiate Dictionary, memberikan pengertian advokasi sebagai tindakan atau
protes untuk membela atau memberi dukungan. Dalam makna memberikan
pembelaan atau dukungan kepada kelompok masyarakat yang lemah itu
advokasi digiatkan oleh individu, kelompok, lembaga swadaya masyarakat atau
organisasi rakyat yang mempunyai kepedulian terhadap masalah-masalah hak
asasi manusia (HAM), lingkungan hidup, kemiskinan, dan berbagai bentuk
ketidakadilan.

Topatimasang (2000) mengatakan bahwa advokasi adalah upaya untuk


memperbaiki, membela (confirmatio) dan mengubah (policy reform) kebijakan
sesuai dengan kepentingan prinsip-prinsip keadilan.

Sheila Espine-Villaluz berpendapat bahwa advokasi diartikan sebagai aksi


strategis dan terpadu yang dilakukan perorangan dan kelompok untuk
memasukkan suatu masalah (isu) kedalam agenda kebijakan, mendorong para
pembuat kebijakan untuk menyelesaikan masalah tersebut, dan membangun
basis dukungan atas kebijakan publik yang diambil untuk menyelesaikan
masalah tersebut.

Menurut Dr. Wolf Wolfensberger, Advokasi adalah berbicara, bertindak dan


menulis dengan sedikit konflik kepentingan atas nama kepentingan dianggap
tulus dari orang atau kelompok yang kurang beruntung untuk mempromosikan,
melindungi dan mempertahankan kesejahteraan dan keadilan oleh: 1). Berada di
pihak mereka dan tidak ada orang lain, 2). yang terutama berkaitan dengan
kebutuhan dasar mereka, 3). tetap setia dan bertanggung jawab kepada mereka
dengan cara yang tegas dan penuh semangat dan yang, atau mungkin, mahal
untuk advokat atau kelompok advokasi.
Scheneider (2001) mengatakan bahwa pengertian terbaru mengenai advokasi
harus terdiri dari beberapa criteria yaitu; kejelasan (clarify), dapat diukur
(measurable), pembatasan (limited), berorinetasi tindakan (action – oriented),
focus kepada aktivitas bukan peranan atau hasil advokasi (focus on activity$, not
rules or outcomes of advocacy) dan bersifat mendefinisikan advokasi pekerjaan
social sebagai “the exclusive and mutual representation of clients or a cause in a
form, attempting to systematically influence decision making in an unjust or
unresponsive systems.

Advokasi: Sebuah Definisi

Berbicara advokasi, sebenarnya tidak ada definisi yang baku. Pengertian


advokasi selalu berubah-ubah sepanjang waktu tergantung pada keadaan,
kekuasaan, dan politik pada suatu kawasan tertentu. Advokasi sendiri dari segi
bahasa adalah pembelaan. Setidaknya ada beberapa pengertian dan penjelasan
terkait dengan definisi advokasi, yaitu:

1. Usaha-usaha terorganisir untuk membawa perubahan-perubahan secara


sistematis dalam menyikapi suatu kebijakan, regulasi, atau
pelaksanaannya (Meuthia Ganier).
2. Advokasi adalah membangun organisasi-organisasi demokratis yang kuat
untuk membuat para penguasa bertanggung jawab menyangkut
peningkatan keterampilan serta pengertian rakyat tentang bagaimana
kekuasaan itu bekerja.
3. Upaya terorganisir maupun aksi yang menggunakan sarana-sarana
demokrasi untuk menyusun dan melaksanakan undang-undang dan
kebijakan yang bertujuan untuk menciptakan masyarakat yang adil dan
merata (Institut Advokasi Washington DC).

Dari beberapa definisi di atas, setidaknya advokasi dapat difahami sebagai


bentuk upaya melakukan pembelaan rakyat (masyarakat sipil) dengan cara yang
sistematis dan terorganisir atas sikap, perilaku, dan kebijakan yang tidak
berpihak pada keadilan dan kenyataan.

Advokasi: Alasan, Tujuan, dan Sasaran

Bagi sebagian orang yang telah berkecimpung dalam dunia advokasi, tentu
mereka tidak akan menanyakan kembali mengapa mereka melakukan hal itu.
Namun, bagi sebagian lainnya yang belum begitu memahami, atau bahkan
belum pernah mengenal, seluk-beluk advokasi, jawaban atas pertanyaan
“Mengapa beradvokasi?” menjadi cukup relevan dan urgen untuk dijawab.

Ada banyak sekali alasan mengapa seseorang harus, dan diharuskan, untuk
melakukan kerja-kerja advokasi. Secara umum alasan-alasan tersebut antara
lain adalah:

1. Kita selalu dihadapkan dengan persoalan-persoalan kemanusiaan dan


kemiskinan
2. Perusakan dan kekejaman kebijakan selalu menghiasi kehidupan kita
3. Keserakahan, kebodohan, dan kemunafikan semakin tumbuh subur pada
lingkungan kita
4. Yang kaya semakin gaya dan yang melarat semakin sekarat

Dari beberapa poin di atas ini kemudian melahirkan kesadaran untuk melakukan
perubahan, perlawanan, dan pembelaan atas apa yang dirasakan olehnya. Salah
satu bentuk perlawanan dan pembelaan yang “elegan” adalah advokasi.

Tujuan dari kerja-kerja advokasi adalah untuk mendorong terwujudnya


perubahan atas sebuah kondisi yang tidak atau belum ideal sesuai dengan yang
diharapkan. Secara lebih spesifik, dalam praksisnya kerja advokasi banyak
diarahkan pada sasaran tembak yaitu kebijakan publik yang dibuat oleh para
penguasa.

Mengapa kebijakan publik? Kebijakan publik merupakan beberapa regulasi yang


dibuat berdasarkan kompromi para penguasa (eksekutif, legislatif, dan yudikatif)
dengan mewajibkan warganya untuk mematuhi peraturan yang telah dibuat.
Setiap kebijakan yang akan disahkan untuk menjadi peraturan perlu dan harus
dikawal serta diawasi agar kebijakan tersebut tidak menimbulkan dampak negatif
bagi warganya. Hal ini dikarenakan pemerintah ataupun penguasa tidak mungkin
mewakili secara luas, sementara kekuasaannya cenderung sentralistik dan
mereka selalu memainkan peranan dalam proses kebijakan.

Siapa Pelaku Advokasi?

Advokasi dilakukan oleh banyak orang, kelompok, atau organisasi yang dapat
diklasfikan sebagai berikut:

1. Mahasiswa atau organisasi kemahasiswaan (PMII, HMI, KAMMI, FMN,


LMND, dan lain-lain)
2. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) atau disebut juga organisasi non-
pemerintah
3. Komunitas masyarakat petani, nelayan, dan lain-lain
4. Organisasi-organisasi masyarakat atau kelompok yang
mewakili interest para anggotanya, termasuk organisasi akar rumput
5. Organisasi masyarakat keagamaan (NU, Muhammadiyah, MUI, PHDI,
PWI, PGI, Walubi, dan lain-lain)
6. Asosiasi-asosiasi bisnis
7. Media
8. Komunitas-komunitas basis (termasuk klan dan asosiasi RT, Dukuh,
Lurah, dan lain-lain). Contoh: FBR, Pandu, Apdesi, dan Polosoro
9. Persatuan buruh dan kelompok-kelompok lain yang peduli akan
perubahan menuju kebaikan

Kerja-kerja Advokasi: Tantangan dan Strategi

Advokasi selamnya menyangkut perubahan yang mengubah beberapa


kebijakan, regulasi, dan cara badan-badan perwakilan melakukan kebijakan.
Dalam melakukan perubahan kebijakan pun tidak semudah yang kita bayangkan;
ada beberapa lapisan yang harus kita lewati untuk melakukan perubahan
tersebut.

Lapisan pertama mencakup permintaan, tuntutan, atau desakan perubahan


dalam praktik kelembagaan dan program-programnya. Contoh, sekelompok anak
jalanan dan “gepeng” menolak Raperda yang telah dirancang kepada anggota
dewan dan pejabat pemerintahan. Lapisan kedua, mengembangkan kemampuan
individu para warga, ormas, dan LSM. Dengan penolakan dan penentangan
adanya Raperda, anggota komunitas belajar bagaimana mengkomunikasikan
pesan mereka pada segmentasi yang lebih luas untuk memperkuat basis
dukungan kelembagaan mereka. Lapisan ketiga, menata kembali masyarakat.
Kita mengubah pola pikir dan memberdayakan masyarakat marjinal (gepeng dan
anjal) untuk berinisiatif melakukan perjuangan hak-haknya secara mandiri.
Advokasi dikatakan berhasil apabila kita mampu membuat komunitas kita lebih
berdaya dan mampu meneriakkan aspirasinya sendiri.

Oleh karena itu, ada beberapa langkah yang harus kita lakukan untuk
memetakan dan mengawal jalannya sebuah kebijakan sebelum disahkan
menjadi hukum formal, yaitu:

1. Mengerti dan memahami isi dari kebijakan beserta konteksnya, yaitu


dengan memeriksa kebijakan apa saja tujuan dari lahirnya kebijakan
tersebut
2. Pelajari beberapa konsekuensi dari kebijakan tersebut. Siapa saja yang
akan mendapat manfaat dari kebijakan tersebut
3. Siapa yang akan dipengaruhi baik itu sifatnya merugikan ataupun
menguntungkan
4. Siapa aktor-aktor utama, siapa yang mendorong dan apa kepentingan
serta posisi mereka
5. Tentukan jaringan formal maupun informal melalui mana kebijakan
sedang diproses. Jaringan formal bisa termasuk institusi-institusi seperti
komite legislatif dan forum public hearing. Jaringan informal melalui
komunikasi interpersonal dari individu-individu yang terlibat dalam proses
pembentukan kebijakan
6. Mencari tahu apa motivasi para aktor utama dan juga jaringan yang ada
dalam mendukung kebijakan yang telah dibuat

Perlu kita pahami bahwa advokasi tidak terjadi seketika. Advokasi butuh
perencanaan yang matang. Agar advokasi yang dilakukan dapat terwujud secara
maksimal, maka kita perlu menggunakan beberapa strategi. Berikut beberapa
strategi dalam melakukan advokasi:

1. Membangun jaringan di antara organisasi-organisasi akar rumput


(grassroots), seperti federasi, perserikatan, dan organisasi pengayom
lainnya
2. Mempererat kokmunikasi dan kerjasama dengan para pejabat dan
beberapa partai politik yang berorientasi reformasi pada pemerintahan
3. Melakukan lobi-lobi antar instansi, pejabat, organisasi kemahasiswaan,
organisasi kemasyarakatan (NU dan Muhammadiyah)
4. Melakukan kampanye dan kerja-kerja media sebagai ajang publikasi
5. Melewati aksi-akasi peradilan (litigasi, class action, dan lain-lain)
6. Menerjunkan massa untuk melakukan demonstrasi

Manajemen Aksi

Menerjunkan massa untuk melakukan aksi ataupun demonstrasi adalah


merupakan strategi akhir dalam mengadvokasi setiap kebijakan yang telah
disahkan ataupun merugikan banyak kalangan. Berikut beberapa aturan main
ataupun perencanaan dalam melakukan aksi ataupun melakukan demonstrasi.

Sebelum menentukan apakah kita akan melakukan aksi, kita harus menjawab
dulu poin-poin pertanyaan berikut:

 Pemetaan isu ataupun wacana apa yang akan kita gaungkan?


 Apa yang kita inginkan atas isu yang telah kita gaungkan; menolak atau
mendukung?
 Apa persoalannya kemudian kita berinisiatif untuk melakukan aksi?
 Bagaimana kita hendak mengaksesnya?
 Apa sasaran dan tujuan kita (siapa yang membuatnya)?
 Apa yang sedang ditargetkan perundang-undangan ataupun peraturan
adminstratif?
 Pada dasarnya, berbagai program advokasi yang dilakukan oleh banyak
kalangan (NGO, Organisasi Massa, dsb), seperti aksi protes, selebaran-
selebaran, unjuk rasa, protes, dsb. Mempunyai kesamaan sasaran, yakni
suatu kebijakan tertentu dari pemerintah yang menyangkut kepentingan
publik (publik policy). Meskipun sangat mungkin hasil dari kegiatan yang
mereka nyatakan itu berbeda, namun tujuan atau sasaran akhirnya
sebenarnya sama saja, yakniterjadinya perubahan peraturan atau
kebijakan publik (policy reform).
 Dengan demikian advokasi tidak lain adalah merupakan upaya untuk
memperbaiki atau merubah kebijakan publik sesuai dengan
kehendak atau kepentingan mereka yang mendesakkan terjadinya
perbaikan atau perubahan tersebut.
 Sekarang, pertanyaannya adalah “apakah yang dimaksud dengan
kebijakan publik itu” ?. Salah satu kerangka analisis yang dapat
digunakan untuk memahami suatu kebijakan publik adalah dengan
melihat kebijakan tersebut sebagai suatu ‘sistem hukum’ (system of law)
yang terdiri dari :
 ü Isi hukum (content of law); yakni uraian atau penjabaran tertulis dari
suatu kebijakan yang tertuang dalam bentuk perundang-undangan,
peraturan-peraturan dan keputusan-keputusan pemerintah.
 ü Tata laksana hukum (structure of law); yakni semua perangkat
kelembagaan dan pelaksana dari isi hukum yang berlaku (lembaga
hukum dan para aparat pelaksananya).
 ü Budaya Hukum (culture of law) ; yakni persepsi, pemahaman, sikap
penerimaan, praktek-praktek pelaksanaan, penafsiran terhadap dua
aspek sistem hukum diatas isi dan tata laksana hukum. Dalam pengertian
ini juga tercakup bentuk-bentuk tanggapan (reaksi, response) masyarakat
luas terhadap pelaksanaan isi dan tatalaksana hukum yang berlaku.

 Sebagai suatu kesatuan sistem (systemic). Tiga aspek hukum tersebut
saling jumbuh dan berkait satu sama lain. Karena itu, idealnya, suatu
kegiatan atau program advokasi harus juga mencakup sasaran
perubahan ketiganya. Karena, dalam kenyataannya perubahan yang
terjadi pada salah satu aspek saja tidak dengan serta merta membawa
perubahan pada aspek lainnya. Dengan demikian sasaran perubahan
terhadap suatu kebijakan publik mestilah mencakup ketiga aspek hukum
atau kebijakan tersebut sekaligus. Dengan kata lain, suatu kegiatan atau
program advokasi yang baik adalah yang secara sengaja dan
sistematis memang dirancang untuk mendesakkan terjadinya
perubahan baik dalam isi, tata laksana maupun budaya hukum yang
berlaku. Kaidah ini tidak menafikan bahwa perubahan bisa terjadi secara
bertahap atau berjenjang, dimulai terlebih dahulu dari salah satu aspek
hukum tersebut yang memang dianggap sebagai titik tolak paling
menentukan (crucial starting point), kemudian berlanjut (atau diharapkan
membawa pengaruh dan dampak perubahan) ke aspek-aspek lainnya.
Tetapi ini hanyalah masalah penentuan strategi dan prioritas dari kegiatan
advokasi, tanpa harus mengorbankan prinsip dasarnya sebagai suatu
upaya kearah perubahan kebijakan secara menyeluruh.

 KERANGKA DASAR KERJA
 Kebijakan publik (sistem hukum) sebagai sasaran advokasi, ketiga
aspeknya terbentuk melalui suatu proses-proses yang khas. Isi
hukum dibentuk melalui proses-proses legislasi dan jurisdiksi,
sementara tata laksana hukum dibentuk melalui proses-proses politik
dan manajemen birokrasi, dan budaya hukum terbentuk melalui proses-
proses sosialisasi dan mobilisasi. Masing-masing proses ini memiliki tata
caranya sendiri, karena itu, kegiatan advokasi juga harus didekati secara
berbeda, dalam hal ini harus mempertimbangkan dan menempuh proses-
proses yang sesuai dengan asal-usul ketiga aspek sistem hukum ini
dibentuk.
 Ø Proses-proses legislasi dan jurisdiksi ; proses ini meliputi seluruh
proses penyusunan rancangan undang-undang atau peraturan
(legal drafting) sesuai dengan konstitusi dan sistem ketatanegaraan yang
berlaku,mulai dari pengajuan gagasan, atau tuntutan tersebut,
pembentukan kelompok kerja dalam kabinet dan parlemen, seminar
akademik untuk penyusunan naskah awal (academic draft), penyajian
naskah awal kepada pemerintah, pengajuan kembali ke-parlemen sampai
pada akhirnya disetujui atau disepakati dalam pemungutan suara
diparlemen.
 Ø Proses-proses politik dan birokrasi; proses ini meliputi semua
tahap formasi konsolidasi organisasi pemerintah sebagai perangkat
kelembagaan dan pelaksana kebijakan publik. Bagian terpenting dan
paling menentukan dalam keseluruhan proses ini adalah seleksi,
rekruitment dan induksi para aparat pelaksana pada semua tingkatan
birokrasi yang terbentuk. Karena itu, seluruh tahapan tersebut sangat
diwarnai oleh kepentingan-kepentingan diantara berbagai kelompok yang
terlibat didalamnya, mulai dari lobby, mediasi, negosiasi dan (dalam
pengertiannya yang buruk) bahkan sampai pada praktek-praktek intrik,
sindikasi, konspirasi dan manipulasi.
 Ø Proses-proses sosialisasi dan mobilisasi; proses ini meliputi
semua bentuk kegiatan pembentukan kesadaran dan pendapat umum
(opini) serta tekanan massa terorganisir yang, akhirnya akan membentuk
suatu pola perilaku tertentu dalam mensikapi suatu masalah bersama.
Karena itu, proses-proses ini terwujud dalam berbagai bentuk tekanan
politik (politica pressure), mulai dari penggalangan pendapat dan
dukungan (kampanye, debat umum, rangkaian diskusi dan seminar,
pelatihan), pengorganisasian (pembentukan basis basis massa dan
konstituen, pendidikan politik kader) sampai ke tingkat pengerahan
kekuatan (unjuk rasa, mogok, boikt, dan blokade).
 Skema itu juga memperlihatkan bahwa suatu sistem kegiatan advokasi,
walaupun sasarannya adalah perubahan kebijakan publik sebagai bagian
dari sistem hukum, namun tidak berarti hanya dapat dilakukan melalui
jalur-jalur ‘legal’ (proses-proses legitasi dan jurikdiksi) saja, tetapi juga
melalui jalur-jalur ‘paralegal’ (proses politik dan birokrasi serta proses-
proses sosialisasi dan mobilisasi).
 Barangkali memang perlu diperingatkan kembali disini bahwa salah satu
tujuan kegiatan advokasi, khususnya dalam rangka pembentukan opini
(pendapat umum) dan penggalangan dukungan massa, bukanlah
semata-mata membuat orang ‘sekeda tahu’ tetapi juga ‘mau terlibat dan
bertindak’. Hal yang terakhir ini jelas lebih menyangkut soal afeksi
(perasaan, keprihatinan, sikap, dan perilaku) ketimbang soal kognisi
(pengetahuan, dan wawasan) seorang. Jelasnya advokasi bukan cuma
urusan mempengaruhi’isi kepala’, tetapi juga ‘isi hati’ orang banyak.
 Advokasi juga dapat diartikan sebagai suatu kegiatan mendesakkan
terjadinya perubahan sosil (sosial movement) secara bertahap maju
melalui serangkaian perubahan kebijakan publik.Asumsi yang
mendasarinya adalah bahwa suatu perubahan sosial yang lebih besar
dan luas bisa terjadi (atau paling tidak, bisa dimulai) dengan merubah
satu persatu kebijakan-kebijakan publik yang memang strategis atau
sangat menentukan dalam kehidupan masyarakat luas. Maka, suatu
kegiatan advokasi yang baik adalah yang memang terfokus hanya pada
satu masalah atau issu strategis kebijakan publik tertentu. Dengan
demikian, langkah awal terpenting dalam kegiatan advokasi adalah
memilih dan menetapkan issu kebijakan publik apa yang benar – benar
strategis dijadikan sebagai sasaran advokasi. Untuk menetapkan
strategis atau tidaknya sebuah issu kebijakan publik, paling tidak dapat
dilakukan atas dasar beberapa indikator sebagai berikut :
 1. Taraf penting dan mendesaknya (urgensi) tuntutan masyarakat luas
yang mendesakkan perlunya segera perubahan kebijakan publik tersebut.
 2. Kaitan dan relevansi perubahan perubahan tersebut terhadap
kepentingan atau kebutuhan nyata masyarakat luas, terutama lapisan
atau kalangan mayoritas yang memang sering tidak diuntungkan oleh
kebijakan negara.
 3. Besaran dan luasnya dampak positif yang dapat dihasilkan jika
perubahan kebijakan itu terjadi.
 4. Kesesuaian dengan agenda kerja utama jaringan organisasi
advokasi yang memang menjadikan issu kebijakan publik tersebut
sebagai sasaran utamanya.
Kuis

1. upaya untuk memperbaiki, membela (confirmatio) dan mengubah


(policy reform) kebijakan sesuai dengan kepentingan prinsip-
prinsip keadilan adalah pengertian advokasi menurut..
a. Kaminski dan Walmsley (1995)
b. Zastrow (1982)
c. Topatimasang (2000)
d. Scheneider (2001)

2. Siapa yang bukan termasuk pelaku advokasi dibawah ini


a. Mahasiswa
b. Balita
c. masyarakat
d. komunitas

3. proses yangi meliputi semua bentuk kegiatan pembentukan


kesadaran dan pendapat umum (opini) serta tekanan massa
terorganisir yang, akhirnya akan membentuk suatu pola perilaku
tertentu dalam mensikapi suatu masalah bersam adalah proses…
a. proses legalislasi
b. proses politik
c. proses mobilisasi
BAB II
PROSES ADVOKASI

Advokasi adalah kombinasi antara pendekatan atau kegiatan individu dan


sosial, untuk memperoleh komitmen politik, dukungan kebijakan, penerimaan
sosial, dan adanya sistem yang mendukung terhadap suatu program kesehatan.
Untuk mencapai tujuan advokasi ini, dapat diwujudkan dengan berbagai kegiatan
atau pendekatan. Untuk melakukan kegiatan advokasi yang efektif memerlukan
argumen yang kuat. Oleh sebab itu, prinsip-prinsip advokasi ini akan membahas
tentang tujuan, kegiatan, dan argumentasi-argumentasi advokasi.

Dari batasan advokasi tersebut, secara inklusif terkandung tujuan-tujuan


advokasi, yakni:, political commitment policy support, social aceptance dan
sistem support.
a. Komitmen politik (political comitment)
Komitmen para pembuat keputusan atau alat penentu kebijakan di tingkat dan
disektor manapun terhadap permasalahan kesehatan tersebut. Pembangunan
nasional tidak terlepas dari pengaruh kekuasaaan politik yang sedang berjal.
b. Dukungan kebijakan (policy support)
Dukungan kongkrit yang diberikan oleh para pemimpin institusi disemua tingkat
dan disemua sektor yang terkait dalam rangka mewujudkan pembangunan di
sektor kesehatan. Dukungan politik tidak akan berarti tanpa dilanjutkan dengan
dikeluarkannya kebijakan kongkret dari para pembuat keputusan tersebut.
c. Penerimaan Sosial ( social acceptance)
Penerimaan sosial, artinya diterimanya suatu program oleh masyarakat. Suatu
program kesehatan apapun hendaknya memperoleh dukungan dari sasaran
utama program tersebut, yakni masyarakat, terutama tokoh masyarakat.
d. Dukungan Sistem (System Support)
Adanya sistem atau organisasi kerja yang memasukkan uinit pelayanan atau
program kesehatan dalam suatu institusi atau sektor pembangunan adalah
mengindikasikan adanya dukungan sistem
METODE DAN TEHNIK ADVOKASI
Seperti yang diuraikan di atas, bahwa tujuan utama advokasi di sektor
kesehatan adalah memperoleh komitmen dan dukungan kebijakan para penentu
kebijakan atau pembuat keputusan di segala tingkat.
Metode atau cara dan tehnik advokasi untuk mencapai tujuan itu semua
ada bermacam-macam, antara lain:
1. Lobi Politik (political lobying)
Lobi adalah bincang-bincangsecara informal dengan para pejabat untuk
menginformasikan dan membahas masalah dan program kesehatan yang
dilaksanakan
2. Serminar / Presentasi
Seminar / presentasi yang di hadiri oleh para pejabat lintas program dan sektoral.
Petugas kesehatan menyajikan maslah kesehatan diwilayah kerjanya, lengkap
dengan data dan ilustrasi yang menarik, serta rencana program pemecahannya.
Kemudian dibahas bersama-sama, yang akhirnya dharafkan memproleh
komitmen dan dukungan terhadap program yang akan dilaksanakan tersebut.
3. Media
Advokasi media (media advocacy)adalah melakukan kegiatan advokasi dengan
mengumpulkan media, khususnya media massa.
4. Perkumpulan (asosiasi) Peminat
Asosiasi atau perkumpulan orang-orang yang mempunyai minat atau interes
terhadap permaslahan tertentu atau perkumpulan profesi, juga merupakan
bentuk advokasi.

E. ARGUMENTASI UNTUK ADVOKASI


Secara sederhana, advokasi adlah kegiatan untuk meyakinkan para
penentu kebijakan atau para pembuat keputusan sedemikian rupa sehingga
mereka memberikan dukungan baik kebijakan, fasilitas dan dana terhadap
program yang ditawakan.
Meyakinkan para pejabat terhadap pentingnya program kesehatan
tidaklah mudah, memerlukan argumentasi – argumentasi yang kuat. Dengan kata
lain, berhasil tidaknya advokasi bergantung pada kuat atau tidaknya kita
menyiapkan argumentasi. Dibawah ini ada beberapa hal yang dapat memperkuat
argumen dalam melakukan kegiatan advokasi, antara lain:
a. Kredibilitas (Creadible)
Kredibilitas (Creadible) adalah suatu sifat pada seseorang atau institusi yang
menyebabkan orang atau pihak lain mempercayainya atau meyakininya.
Orang yang akan melalukan advokasi (petugas kesehatan) harus Creadible.
Seseorang itu Creadible apabila mempunyai 3 sifat, yakni:
1) Capability (kapabilitas), yakni mempunyai kemampuan tentang bidangnya.
2) Autority ( otoritas), yakni adanya otoritas atau wewenang yang dimiliki
seseorang berdasarkan aturan organisasi yang bersangutan.
3) Integrity (integritas), adalah komitmen seseorang tehadap jabatan atau
tanggung jawab yang diberikan kepadanya.

b. Layak (Feasible)
Artinya program yang diajukan tersebut baik secara tehnik, politik, maupun
ekonomi dimungkinkan atau layak. Secara tehnik layak (feasible) artinya program
tersebut dapat dilaksanakan. Artinya dari segi petugas yang akan melaksanakan
program tersebut, mempunyai kemampuan yang baik atau cukup.
c. Relevan (Relevant)
Artinya program yang yang diajukan tersebut tidak mencakup 2 kriteria, yakni :
memenuhi kebutuhan masyarakat dan benar-benar memecahkan masalah yang
dirasakan masyarakat.
d. Penting dan Mendesak (Urgent)
Artinya program yang diajukan harus mempunyai urgensi yang tinggi: harus
segera dilaksanakan dan kalau tidak segera dilaksanakan akan menimbulkan
masalah

F. UNSUR DASAR ADVOKASI


Ada 8 unsur dasar advokasi yaitu:
1. Penetapan tujuan advokasi
2. Pemanfaatan data riset untuk advokasi
3. Identifikasi khalayak sasaran advokasi
4. Pengembangan dan penyampaian pesan advokasi
5. Membangun koalisi
6. Membuat presentasi yang persuasif
7. Penggalangan dana untuk advokasi
8. Evaluasi upayaadvokasi

G. PENDEKATAN UTAMA ADVOKASI


Ada 5 pendekatan utama dalam advokasi (UNFPA dan BKKBN 2002) yaitu:
1. Melibatkan para pemimpin
Para pembuat undang-undang, mereka yang terlibat dalam penyusunan hukum,
peraturan maupun pemimpin politik, yaitu mereka yang menetapkan kebijakan
publik sangat berpengaruh dalam menciptakan perubahan yang terkait dengan
masalah sosial termasuk kesehatan dan kependudukan. Oleh karena itu sangat
penting melibatkan meraka semaksimum mungkin dalam isu yang akan
diadvokasikan.
2. Bekerja dengan media massa
Media massa sangat penting berperan dalam membentuk opini publik. Media
juga sangat kuat dalam mempengaruhi persepsi publik atas isu atau masalah
tertentu. Mengenal, membangun dan menjaga kemitraan dengan media massa
sangat penting dalam proses advokasi.
3. Membangun kemitraan
Dalam upaya advokasi sangat penting dilakukan upaya jaringan, kemitraan yang
berkelanjutan dengan individu, organisasi-organisasi dan sektor lain yang
bergerak dalam isu yang sama. Kemitraan ini dibentuk oleh individu, kelompok
yang bekerja sama yang bertujuan untuk mencapai tujuan umum yang
sama/hampir sama.
4. Memobilisasi massa
Memobilisasi massa merupakam suatu proses mengorganisasikan individu yang
telah termotivasi ke dalam kelompok-kelompok atau mengorganisasikan
kelompok yang sudah ada. Dengan mobilisasi dimaksudkan agar termotivasi
individu dapat diubah menjadi tindakan kolektif
5. Membangun kapasitas
Membangu kapasitas disini di maksudkan melembagakan kemampuan untuk
mengembangakan dan mengelola program yang komprehensif dan membangun
critical mass pendukung yang memiliki keterampilan advokasi. Kelompok ini
dapat diidentifikasi dari LSM tertentu, kelompok profesi serta kelompok lain.

H. LANGKAH-LANGKAH ADVOKASI
Advokasi adalah proses atau kegiatan yang hasil akhirnya adalah
diperolehnya dukungan dari para pembuat keputusan terhadap program
kesehatan yang ditawarkan atau diusulkan. Oleh sebab itu, proses ini antara lain
melalui langkah-langkah sebagai berikut:
1. Tahap persiapan
Persiapan advokasi yang paling penting adalah menyusun bahan (materi) atau
instrumen advokasi.
2. Tahap pelaksanaan
Pelaksanaan advokasi sangat tergantung dari metode atau cara advokasi. Cara
advokasi yang sering digunakan adalah lobbi dan seminar atau presentasi.
3. Tahap penilaian
Seperti yang disebutkan diatas bahwa hasil advokasi yang diharafkan adalah
adanya dukungan dari pembuat keputusan, baik dalam bentuk perangkat lunak
(software) maupun perangkat keras (hardware). Oleh sebab itu, untuk menilai
atau mengevaluasi keberhasilan advokasi dapat menggunakan indikator-
indikator seperti dibawah ini:
a. Software (piranti lunak): misalnya dikeluarkannya:
- Undang-undang
- Peraturan pemerintah
- Peraturan pemerintah daerah (perda)
- Keputusan menteri
- Surat keputusan gubernur/ bupati
- Nota kesepahaman(MOU), dan sebagainya
b. Hardware (piranti keras): misalnya:
- Meningkatnya anggaran kesehatan dalam APBN atau APBD
- Meningkatnya anggaran untuk satu program yang di prioritaskan
- Adanya bantuan peralatan, sarana atau prasarana program dan sebagainya.

Kuis

1. Tujuan dari advokasi adalah…


a. Komitmen politik
b. Dukungan social
c. Penerimaan system
d. Penerimaan kebijakan

2. Lobi politik adalah salah satu dari …


a. Prinsip advokasi
b. Metode advokasi
c. Unsur advokasi
d. Teknik advokasi

3. Hal yang tidak dapat memperkuat argument dalam kegiatan advokasi


dibawah ini adalah ..
a. Kredibilitas
b. Layak
c. Relavan
d. Labilitas

4. Unsur pertama advokasi adalah …


a. Identifikasi khalayak sasaran advokasi
b. Penetapan tujuan
c. Membangun koalisi
d. Evaluasi upaya advokasi

5. Dibawah ini yang termasuk hardware hasil advokasi adalah…


a. Undang-undang
b. Keputusan menteri
c. Peraturan daerah
d. Adanya bantuan sarana dan prasarana
BAB III

PELAKSANAAN ADVOKASI

Arus komunikasi advokasi Kesehatan. Komunikasi dalam rangka advokasi


kesehatan memerlukan kiat khusus agar komunikasi tersebut efektif antara lain
sebagai berikut:

1. Jelas (clear): pesan yang disampaikan kepada sasaran harus disusun


sedemikian rupa sehingga jelas, baik isinya maupun bahasa yang digunakan.

2. Benar (correct): apa yg disampaikan (pesan) harus didasarkan kepada


kebenaran. Pesan yang benar adalah pesan yang disertai fakta atau data
empiris.

3. Kongkret (concrete): apabila petugas kesehatan dalam advokasi


mengajukan usulan program yang dimintakan dukungan dari para pejabat terkait,
maka harus dirumuskan dalam bentuk yang kongkrit (bukan kira-kira) atau dalam
bentuk operasional.

4. Lengkap (complete): timbulnya kesalahpahaman atau mis komunikasi


adalah karena belum lengkapnya pesan yang disampaikan kepada orang lain.

5. Ringkas (concise) : pesan komunikasi harus lengkap, tetapi padat, tidak


bertele-tele.

6. Meyakinkan ( convince) : agar komunikasi advokasi kita di terima oleh para


pejabat, maka harus meyakinkan, agar komunikasi advokasi kita diterima

7. Kontekstual ( contextual): advokasi kesehatan hendaknya bersifat


kontekstual. Artinya pesan atau program yang akan diadvokasi harus diletakkan
atau di kaitkan dengan masalah pembangunan daerah bersangkutan. Pesan-
pesan atau program-program kesehatan apapun harus dikaitkan dengan upaya-
upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat pemerintah setempat.

8. Berani (courage): seorang petugas kesehatan yang akan melakukan


advokasi kepada para pejabat, harus mempunyai keberanian berargumentasi
dan berdiskusi dengan para pejabat yang bersangkutan.

9. Hati-hati ( contious): meskipun berani, tetapi harus hati-hati dan tidak boleh
keluar dari etika berkomunikasi dengan para pejabat, hindari sikap "menggurui"
para pejabat yang bersangkutan.

10. Sopan (courteous): disamping hati-hati, advokator harus bersikap sopan,


baik sopan dalam tutur kata maupun penampilan fisik, termasuk cara berpakaian.
Dalam melakukan kerja-kerja advokasi ada beberapa prinsip yang harus
dipenuhi yaitu: Demokratis, Transparan, Anti kekerasan, Kesetaraan, Keadilan
gender, dan Partisipatif.

Bentuk - Bentuk advokasi

Ada beberapa bentuk advokasi yang secara garis besar dibagi pada advokasi
lewat pengadilan atau advokasi non pengadilan, namun secara rinci advokasi
bisa dilakukan antara lain dalam bentuk:

§ Litigasi : penyelesaian permasalahan lingkungan hidup melalui jalur pengadilan

§ Mediasi: ada beberapa kekurangan menyelesaikan kasus lingkungan lewat


jalur pengadilan, disamping itu kredibilitas pengadilan yang memang sampai saat
ini masih buruk, untuk itu mediasi atau jalur perundingan lebih dipilih dengan
memakai mediator yang ditunjuk oleh dua belah pihak.

§ Legal drafting : Draft kebijakan

§ Negosiasi: Penyelesaian kasus-kasus lingkungan antara dua pihak

§ Pengorganisasian rakyat

Unsur-unsur dalam advokasi

§ Rakyat, dalam hal ini lebih banyak sebagai korban terutama yang bersentuhan
langsung dengan kawasan dimana terjadi eksploitasi yang dilakukan oleh pihak
pengusaha dan pemerintah. Dan kerap kali dalam terjadinya kerusakan
lingkungan rakyat dituding sebagai kelompok perusak dan penjarah.

§ Lembaga pelaksana, dalam hal ini adalah lembaga yang melakukan kerja-kerja
advokasi

§ Kebijakan, perundang-undangan yang merupakan produk yang dihasilkan oleh


pemerintah yang sering kali bersifat eksploitatif.

§ Aliansi atau berjaringan, dalam melakukan kerja-kerja advokasi kita


membutuhkan jaringan atau aliansi yang akan mendukung kerja-kerja advokasi

Prinsip dasar advokasi

1. Suatu tindakan penyadaran dan pengorganisasian

2. Sebuah proses bukan tujuan

3. Alat pendidikan politik rakyat

Ciri-ciri dasar advokasi


1. Mempertanyakan sesuatu tentang individu, kelompok maupun
lembaga/instansi tertentu

2. Menuntut hal tertentu dengan prosedur politik yang ada

3. Memunculkan isu tertentu

4. Menciptakan isu tertentu

5. Menarik perhatian, yang akhirnya menarik perhatian orang atau pihak lain
untuk bergabung

6. Mencetuskan prakarsa atau ide-ide baru

Dalam melakukan advokasi dimana rakyat dimungkinkan melakukan perubahan


atas kebijakan tertentu maka harus dalam pengertian:

1. Mengadakan dari yang belum ada

2. Memperbaiki

3. Memperkuat yang ada- agar lebih fungsional dalam melindungi rakyat

4. Mengubah yang ada

Karena advokasi merupakan sebuah proses, maka dalam menjalankan proses


tersebut tahapan-tahapan pokok harus menjadi pegangan kita, yakni:

1. Melihat/mengkaji masalah yang dihadapi

2. Merumuskan masalah untuk diambil tindakan

3. Tindakan

4. Hasil

Dalam melakukan langkah-langkah advokasi kita juga mesti memahami


beberapa kaidah, yakni:

1. Mulailah dengan berbaik sangka.

2. Temukan kemenangan-kemenangan kecil

3. Kerjakan apa yang telah direncanakan

4. Tetap pada inti soal/ isu utama

5. Bersedia berunding

6. Jangan mau ditakut-takuti dan juga jangan menakuti-nakuti


7. Bersikaplah kreatif dan selalu kreatif dalam menghadapi perubahan

Bentuk-bentuk kegiatan yang biasanya dilakukan oleh kelompok-kelompok


masyarakat antara lain:

1. Temu warga/ temu kampung

2. Dengar pendapat

3. Petisi (pernyataan sikap atau dukungan)

4. Membuat selebaran

5. Mogok atau boikot sipil / massa

6. Lobby

7. Kampanye media massa

8. Demonstrasi

Hambatan Dalam Advokasi

Dalam melakukan kerja-kerja advokasi tidak selamanya berjalan sesuai dengan


harapan, bahkan kerap kali advokasi kita berhenti di tengah jalan atau bahkan
menemui kegagalan. Terlebih pada masa orde baru dimana hegemoni negara
sangat dominan terhadap pengelolaan lingkungan hidup di Indonesia yang
berakibat terjadinya berbagai permasalahan, ketidakadilan, penindasan HAM
dalam berbagai bentuk.

ada beberapa hambatan dalam advokasi antara lain:

1. Pemerintah yang otoriter, yang tidak pernah melibatkan rakyat dalam


membuat kebijakan lingkungan hidup

2. Pemerintah yang tidak pernah berpihak kepada rakyat

3. Pemerintah yang hanya berkiblat pada kepentingan industri Dan


pengembangan ekonomi (lebih berpihak pada pemodal)

Saat ini hambatan terbesar dalam advokasi adalah kepentingan globalisasi,


dimana kepentingan kapitalisme yang telah berhasil “mengebiri” kekuatan
negara, dalam hal ini lewat pemerintah yang telah menjual sumber daya alam
kepada pemilik modal di negara-negara utara, dan telah berhasil menjadikan
“boneka imperialisme” untuk memenuhi kepentingan mereka, sehingga
paradigma yang diciptakan oleh mereka telah menghancurkan lingkungan hidup
dan keberlanjutannya.
KUIS

1. Prinsip kerja advokasi yang harus dipenuhi adalah..


a. Utamakan kepentingan kelompok
b. Pasif
c. Demokratis
d. Tertutup

2. Penyelesaian permasalahan lingkungan hidup melalui jalur pengadilan


adalah salah satu bentuk advokasi yaitu…
a. Negosiasi
b. Litigasi
c. Mediasi
d. Pengorganisasian

3. Yang bukan termasuk hambatan advokasi adalah …


a. Pemerintah yang otoriter, yang tidak pernah melibatkan rakyat dalam
membuat kebijakan lingkungan hidup
b. Pemerintah yang tidak pernah berpihak kepada rakyat
c. Pemerintah yang tidak hanya berkiblat pada kepentingan industri Dan
pengembangan ekonomi (lebih berpihak pada pemodal)
BAB IV
STRATEGI PELAYANAN GIZI

Pelayanan gizi adalah suatu upaya memperbaiki, meningkatkan gizi, makanan,


dietetik masyarakat, kelompok, individu atau klien yang merupakan suatu
rangkaian kegiatan yang meliputi pengumpulan, pengolahan, analisis, simpulan,
anjuran, implementasi dan evaluasi gizi, makanan dan dietetik dalam rangka
mencapai status kesehatan optimal dalam kondisi sehat atau sakit (Kemenkes
RI, 2013).

Masalah gizi dinilai sesuai kondisi perorangan yang secara langsung maupun
tidak langsung mempengaruhi proses penyembuhan. Kecenderungan
peningkatan kasus penyakit yang terkait gizi (nutrition-related disesae),
memerlukan penatalaksanaan gizi secara khusus. Oleh karena itu dibutuhkan
pelayanan gizi yang bermutu untuk mencapai dan mempertahankan status gizi
yang optimal dan mempercepat penyembuhan (Kemenkes RI, 2013).

Dalam pelaksanaan pelayanan gizi dibutuhkan pendekatan dan strategi advokasi


untuk mencapai tujuan utama dari pelayanan gizi yakni mencapai kesehatan
optimal. Advokasi ditujukan kepada penentu kebijakan dalam upaya persuasive
untuk memeroleh dukungan dan kepedulian oleh karena itu dibutuhkan strategi
dan pendekatan bertujuan untuk membangun kepercayaan, menjalin hubungan
atau bekerjasama dan mengembangkan lebih lanjut.

Pendekatan advokasi dapat dilakukan dengan pendekatan grass root (dari akar)
dan top down (dari atas ke bawa), selain itu untuk terjaidnya pendekatan
diperlukan media. Media mempunyai peranan penting dalam melakukan
advokasi.

Advokasi media adalah melakukan kegiatan advokasi dengan media, khusunya


media massa maupun media elektronik yang disajikan dalam berbagai bentuk.
Selain dengan strategi media terdapat juga strategi dengan kekuatan fisik. Oleh
karena itu, makalah ini berisi mengenai pendekatan dan strategi advokasi dalam
pelayanan gizi.

Untuk seorang akademisi bidang gizi dan ahli gizi, advokasi harus dilakukan
mengingat dukungan penentu kebijakan pelaksanaannya tidaklah signifikan
menyangkut masalah – masalah gizi yang ada di Negara ini. Advokasi sendiri
ditujukan kepada penentu kebijakan dalam upaya persuasive untuk memperoleh
dukungan dan kepedulian dari para pemegang kebijakan terkait gizi. Desain
advokasi ini mencakup stakeholder dan para pemegang kebijakan, melalui
komunikasi aktif, pendekatan politik, dan media, kegiatan advokasi ini dapat
dilakukan. Cara pandang dan pemahaman mengenai permasalahan gizi,
komitmen terhadap kesehatan masyarakat adalah informasi kunci untuk menrik
dukungan dari legislative dan eksekutif.

Gizi merupakan aspek terpenting dari Indeks Pembangunan Manusia, para


practitioner menempatkan gizi sebagai pondasi dari beberapa bidang seperti
pendidikan, kesehatn, politik, social, ekonomi, gender, dan hak – hak asasi.
Dengan peranan gizi yang multi dimensi dan lintas sector seharusnya dukungan
untuk gizi ini besar. Berdasarkan data IPM, Indonesia menempati urutan 111
untuk tingkat gizi dan kualitas SDMnya. Di Indonesia banyak pihak yang belum
mengetahui pentingnya gizi bagi kehidupan, gizi seringkali masih klah prioritas
bila dibandingkan dengan bidang ekonomi, pendidikan dan lainnya. Oleh karena
itu, jika ingin meningkatkan tingkat IPM Indonesia di mata dunia, diperlukan
kesadaran dari semua pihakdan semua sector serta upaya khusus untuk
menopang masalah gizi.

Bercermin dari fakta diatas, maka salah satu upaya khusus untuk mencapai itu
semua adalah dengan melakukan upaya pendekatan – pendekatan yang
persuasive, komunikatif, dan inovatif serta memperhatikan setiap segmen
sasaran perbaikan. Sehubungan dengan itu semua, advokasi gizi kepada semua
pihak. Kata kunci dalam proses atau kegiatan advokasi adalah pendekatan
persuasive, secara dewasa dan bijak.

Menurut Smith Stanley dan shores (1957) pendekatan advokasi terbagi menjadi
dua yaitu pendekatan line staff atau pendekatan top down dan pendekatan grass
root (akar rumput).

Pendekatan Top Down


Pendekatan line staff atau top down adalah sebuah pendekatan dengan system
komando dari atas ke bawah. Dengan melibatkan para pemimpin dalam hal ini
para pembuat undang – undang dalam penyusunan hukum, peraturan maupun
pemimpin politik yaitu mereka yang menetapkan kebijakan public sangat
berpengaruh dalam menciptakan perubahan terkait dengan masalah social
termasuk kesehatan terutama masalah gizi. Salah satu bahan yang dapat
dijadikan rujukan atau informasi agar penentu kebijakan tertarik dan peduli
adalah meyakinkan bahwa gizi merupakan hak asasi manusia dan investasi bagi
Negara karena dengan meningkatkan status gizi, IPM bisa meningkat sehingga
kualita SDM Negara juga tinggi. Dengan adanya dukungan dari penentu
kebijakan dan masyarakat, tentunya tidak akan dianak tirikan, sehingga tahap
demi tahap banyak orang dapat sadar akan pentingnya aspek gizi ini.
Perlu diketahui bersama bahwa tujuan umum kegiatan advokasi gizi ini tidak lain
adalah untuk memperoleh dukungan dan komitmen dalam upaya perbaikan gizi
masyarakat yang merupakan hak setiap warga Negara Indonesia yang wajib
dipenuhi baik kebijakan yang pro rakyat, dana, bantuan sarana dan prasarana,
kemudahan, tindakan riil, dan segala bentuk dukungan sesuai kondisi yang ada.

Pendekatan Grass Roots


Pendekatan grass roots (akar rumput) adalah pengembangan yang di awali
dengan inisiatif dari bawah kemudian disebarluaskan kepada tingkatan yang
lebih luas (dari bawah ke atas). Adapun target yang ingin dicapai yakni
kesadaran masyarakat akan pentingnya gizi, penyediaan anggaran untuk
program gizi, perubahan prilaku masyarakat menuju gizi seimbang, perbaikan
status gizi masyarakat dan komitmen para pengambil keputusan untuk bersama
– sama memecahkan masalah gizi di Indonesia. Advokasi kepada pihak yang
menentang juga diperlukan untuk meminimalisir adanya konflik kepentingan dan
politik diantara pihak – pihak yang potensial untuk itu.
Untuk melihat keberhasilan advokasi ini, ada beberapa indicator yakni output
berupa keterlibatan, dukungan, dukungan dan kesinambungan yang diberikan
oleh sasaran advokasi yang diimplementasikan ke dalam action, dukungan dana,
sarana dan kemudahan. Salah satu contoh keberhasilah advokasi gizi ini adalah
dukungan anggaran APBD, BOK untuk kegiatan pelayanan gizi.

Strategi Advokasi Melalui Media


Media mempunyai peranan penting dalam melakukan advokasi. Media adalah
salah satu alat strategis untuk mengungkap suatu masalah masyarakat.
Advokasi media adalah melakukan kegiatan advokasi dengan menggunakan
media, khususnya media massa seperti media cetak maupun media elektronik
permasalahan kesehatan disajikan baik dalam bentuk lisan, artikel, berita,
diskusi, dan sebagainya.

Adapun sarana advokasi pada media massa, bisa menggunakan :

Rilis Berita /News Release


Merupakan laporan koran setebal 2-4 halaman yang biasanya melaporkan
peristiwa yang pantas diberitakan. News release harus singkat dan padat,
dengan judul atau headline yang ringkas namun menarik perhatian. Kalimat
pembuka menarik perhatian sekaligus menekankan pentingnya peristiwa yang
diberitakan.

Konferensi Pers
Merupakan sebuah peristiwa yang dikhususkan bagi awak pers. Peristiwa ini
merupakan cara yang paling praktis untuk menyampaikan isu kita ke media

Website dan Internet


Website yang dikelola sendiri dan linklink yang disediakan bagi pengakses
website, sehingga berguna bagi upaya advokasi kita. Website dapat digunakan
sebagai fasilitas posting paper, fact sheet dan publikasi lainnya

Radio dan TV
Biasanya dengan wawancara, talkshow, iklan dan lain-lain.Dengan strategi
advokasi yang dilakukan lewat media massa secara tepat, maka diharapkan
dapat mendukung keberharsilan dari tujuan advokasi itu sendiri, yakni sebuah
perubahan. Di samping itu menjalin hubungan yang baik dengan pihak media
massa menjadi sangat penting, dengan mengadakan kontak secara reguler. Hal
ini mengingat advokasi yang dilakukan biasanya jangka panjang, dan terus
menerus, sehingga ketika menjalin hubungan kerja dengan media massa pun
jangan semata-mata melakukan transaksi singkat demi sebuah publisitas sesaat.

Strategi Berdasarkan Kekuatan Fisik

Ada 5 pendekatan utama dalam advokasi yaitu:

1. Melibatkan para pemimpin


Para pembuat undang-undang, mereka yang terlibat dalam penyusunan hukum,
peraturan maupun pemimpin politik, yaitu mereka yang menetapkan kebijakan
publik sangat berpengaruh dalam menciptakan perubahan yang terkait dengan
masalah sosial termasuk kesehatan dan kependudukan. Oleh karena itu sangat
penting melibatkan meraka semaksimum mungkin dalam isu yang akan
diadvokasikan.

2. Bekerja dengan media massa


Media massa sangat penting berperan dalam membentuk opini publik. Media
juga sangat kuat dalam mempengaruhi persepsi publik atas isu atau masalah
tertentu. Mengenal, membangun dan menjaga kemitraan dengan media massa
sangat penting dalam proses advokasi.

3. Membangun kemitraan
Dalam upaya advokasi sangat penting dilakukan upaya jaringan, kemitraan yang
berkelanjutan dengan individu, organisasi-organisasi dan sektor lain yang
bergerak dalam isu yang sama. Kemitraan ini dibentuk oleh individu, kelompok
yang bekerja sama yang bertujuan untuk mencapai tujuan umum yang
sama/hampir sama.

4. Memobilisasi massa
Memobilisasi massa merupakam suatu proses mengorganisasikan individu yang
telah termotivasi ke dalam kelompok-kelompok atau mengorganisasikan
kelompok yang sudah ada. Dengan mobilisasi dimaksudkan agar termotivasi
individu dapat diubah menjadi tindakan kolektif

5. Membangun kapasitas
Membangu kapasitas disini di maksudkan melembagakan kemampuan untuk
mengembangakan dan mengelola program yang komprehensif dan
membangun critical mass pendukung yang memiliki keterampilan advokasi.
Kelompok ini dapat diidentifikasi dari LSM tertentu, kelompok profesi serta
kelompok lain.

KUIS

1. Tercapainya kesadaran masyarakat akan pentingnya gizi, penyediaan


anggaran untuk program gizi, perubahan prilaku masyarakat menuju gizi
seimbang adalah target dari pendekatan…
a. Top down
b. Line staff
c. Grass root
d. Left right
2. kata kunci dalam proses kegiatan advokasi adalah…
a. pendekatan komunikatif
b. pendekatan persuasive
c. pendekatan inovatif
d. pendekatan intensive
3. salah satu bentuk strategi pelayanan gizi dalam membentuk opini public
mempengaruhi persepsi public terhadap isu atau masalah gizi adalah…
a. bekerjasama dengan media massa
b. membangun kemtiraan
c. memobilisasi massa
d. melibatkan para pemimpin

BAB V

STRATEGI SOSIAL MARKETING

Social marketing atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan pemasaran sosial
merupakan suatu adaptasi dari teori-teori pemasaran dalam rangka mendesain
suatu program untuk mempengaruhi seseorang merubah perilakunya secara
sukarela dalam rangka meningkatkan kesejahteraan individu dan juga
masyarakat dimana individu tersebut menjadi bagian (Andreassen, 1994).
Secara umum social marketing bukan merupakan sains tetapi lebih kepada
kegiatan professional yang bergantung pada beragam disiplin ilmu dalam rangka
menciptakan program-program intervensi untuk merubah perilaku manusia
(Smith, 2006).

Walaupun social marketing menggunakan teori-teori dari pemasaran komersial


dalam aplikasinya, target yang ingin dicapai oleh social marketing berbeda
dengan pemasaran komersial. Jika dalam pemasaran komersial, konsumen
diminta untuk membeli suatu produk, beralih ke merk lain atau membicarakan
mengenai keunggulan perusahaan, maka pada sosial marketing konsumen
diminta untuk membeli perilaku baru yang sering kali target audiens tidak
menyadari bahwa mereka memiliki masalah dan perilaku baru tersebut
merupakan solusi dari permasalahan tersebut.

Pemasaran sosial juga dapat diartikan sebagai perancangan, penerapan, dan


pengendalian program yang ditujukan untuk meningkatkan penerimaan suatu
gagasan atau praktik tertentu pada suatu kelompok sasaran. Pemasaran sosial
adalah penerapan konsep dan teknik pemasaran untuk mendapatkan manfaat
sosial. Penggunaan prinsip dan teknik pemasaran untuk masalah sosial, ide atau
perilaku.

Teori STP ( Segmentasi, Targeting, Positioning )

Ada tiga elemen dalam strategi pemasaran yaitu :

 Segmentation ( segmentasi )

Segmentasi pada dasarnya adalah suatu strategi untuk memahami struktur


pasar. Kotler, mendefinisikan segmentasi pasar sebagai suatu proses untuk
membagi pasar menjadi kelompok-kelompok konsumen yang lebih homogen,
dimana tiap kelompok konsumen dapat dipilih sebagai target pasar untuk dicapai
perusahaan dengan strategi bauran pemasarannya, sedangkan Murphy,
mendefinisikan segmentasi pasar sebagai suatu proses membagi sekeluruhan
pasar (lingkungan) yang heterogen menjadi kelompok-kelompok yang lebih kecil
dan homogen dengan kebutuhan yang relatif serupa yang diharapkan dapat
dipenuhi oleh suatu perusahaan dengan baik.

Segmentasi pasar membantu perusahaan untuk membuat suatu produk yang


spesifik dan memenuhi kebutuhan sebagian pasar yang menjadi targetnya,
sehingga kegunaan segmentasi pasar untuk desain strategi pemasaran adalah
sebagai berikut :

1. Memperoleh posisi bersaing yang lebih efektif bagi merek-merek yang


ada
2. Lebih mengefektifkan lagi posisi merek saat ini dengan bertumpu pada
pasar yang terbatas
3. Memisahkan posisi dua atau lebih merek dari perusahaan yang sama
untuk meminimalisasi kanibalisme
4. Mengidentifikasi gap dalam pasar yang menunjukkan peluang untuk
mengembangkan produk baru.

 Targeting ( Target )

Targeting adalah persoalan bagaimana memilih, menyeleksi dan menjangkau


pasar untuk dimasuki atau cara perusahaan mengoptimalkan suatu pasar dan
dalam penentuan target pasar perusahaan harus menggunakan konsep prioritas,
variabilitas dan fleksibilitas.

 Positioning ( Posisi )

Setelah pasar sasaran dipilih, maka proses selanjutnya adalah melakukan


positioning. Positioning pada dasarnya adalah suatu strategi untuk memasuki
jendela otak konsumen. Positioning biasanya tidak menjadi masalah dan tidak
dianggap penting selama barang-barang yang tersedia dalam suatu masyarakat
tidak begitu banyak dan persaingan belum menjadi sesuatu yang penting.
Positioning baru akan menjadi penting bilamana persaingan suda sangat sengit.

Pengertian positioning diberikan oleh beberapa ahli sebagai berikut :

1. Menurut Kotler : Sebuah tindakan dalam mendesain penawaran


perusahaan dan image sehingga menciptakan tempat dan nilai tersendiri
dalam pikiran konsumen.
2. Menurut Don E. Schwitz : Positioning adalah bagaimana untuk
meningkatkan sekaligus menempatkan produk yang kita buat terhadap
pesaing kita dalam pikiran konsumen, dengan kata lain positioning
dipakai untuk mengisi dan memenuhi keinginan konsumen dalam kategori
tertentu
3. Menurut Al Ries dan Jack Trout : Positioning adalah segala sesuatu
yang anda lakukan terhadap pikiran dari prospek, dengan kata lain anda
menempatkan produk ke dalam alam pikiran proses anda
4. Menurut David A. Aaker : Positioning merupakan kata lain dari “kesan”,
dan kesan itu ditujukan kepada sejumlah obyek yang membentuk
persaingan satu sama lain.

Jadi dapat disimpulkan positioning merupakan suatu usaha yang dilakukan oleh
perusahaan dalam mendesain produk-produk mereka sehingga dapat
menciptakan kesan dan image tersendiri dalam pikiran konsumennya sesuai
dengan yang diharapkan.

Kaitannya dengan promosi pada pekerja

Strategi social marketing dalam sebuah perjaan untuk mempengaruhi kelompok


sasaran agar secara sukarela menerima, menolak, atau mengubah suatu sikap
dan perilaku bagi kemajuan individu, kelompok dan keseluruhan
masyarakat. Tentu saja social marketing berperan penting karena dapat
menganalisa perilaku berdasarkan nilai-nilai yang berlaku, memilih kelompok
sasaran dan perilaku yang perlu diubah serta “menjual” gagasan perubahan.
selain itu dalam sebuah perusahaan juga memutuhkan strategi social marketing
untuk menyampaikan sebuah promosi baik kepada pekerja maupun kepada
konsumen. Sehingga pada dasarnya promosi pada pekerjaan sangat berkaitan
erat dengan adanya strategy social marketing .

Kuis

1. Pemasaran social dapat diartikan sebagai, kecuali …


a. Perancangan
b. Penerapan
c. Pengendalian
d. Penggunaan
2. proses untuk membagi pasar menjadi kelompok-kelompok
konsumen yang lebih homogen, dimana tiap kelompok konsumen
dapat dipilih sebagai target pasar untuk dicapai perusahaan
dengan strategi bauran pemasarannya merupakan definisi
segmentasi menurut …
a. kotler
b. muphy
c. David A.aaker
d. Don.E. Schwiz

3. persoalan bagaimana memilih, menyeleksi dan menjangkau


pasar untuk dimasuki atau cara perusahaan mengoptimalkan
suatu pasar dan dalam penentuan target pasar perusahaan harus
menggunakan konsep prioritas, variabilitas dan fleksibilitas adalah
pengertian dari …
a. segmentation marketing
b. targeting marketing
c. positioning marketing
d. social marketing
BAB VI

KEMITRAAN

Kemitraan secara umum akan terjalin bilamana terdapat pihak yang merasakan
adanya kelemahan implementasi bila sebuah pembangunan hanya menjadi
focus of interest satu pihak saja. Dengan kata lain bahwa kemitraan sejatinya
merupakan solusi yang tepat bagi pihak yang mencita-citakan adanya
percepatan progres

pembangunan. Kemitraan merupakan model pengelolaan sumber daya yang


tepat bila terkait dengan barang publik (public goods) misalnya dalam hal
pemeliharaan dan pelestarian lingkungan seperti program menabung
pohon dimana baik masyarakat maupun pemerintah memiliki kepentingan
dengan keberadaannya. Masyarakat sekitar lahan yang ditanami pohon baik
secara ekonomi maupun sosial sangat berharap banyak terhadap pohon yang
ditanam. Sementara, disisi yang lain pemerintah memiliki kepentingan yang lebih
besar terhadap penanaman kembali lahan kritis, tidak hanya dari sisi ekonomi
tetapi juga dari sisi ekologi.

Dalam kemitraan, seluruh elemen mendapatkan apa yang menjadi


kebutuhannya. Sinergi antar elemen menjadi kunci dalam memainkan perannya
masing-masing. Bangunan kemitraan harus didasarkan padahal-hal berikut:
kesamaan perhatian (common interest) atau kepentingan, adanya sikap saling
mempercayai dan saling menghormati, tujuan yang jelas dan terukur, dan
kesediaan untukberkorban baik, waktu, tenaga, maupun sumber daya yang lain.
Secara umum, prinsip-prinsip kemitraan adalah persamaan atau equality,
keterbukaan atau transparancy dan saling menguntungkan atau mutual benefit.

Sejatinya membangun kemitraan sangatlah penting untuk membuka akses


menuju kemandirian masyarakat terutama dalam memasarkan hasil produksinya
atau bermitra dalam program menabung pohon . Disamping itu, membangun
kemitraan merupakan salah satu mata tugas dari seorang Fasilitator program
menabung pohon selain komunikasi dialogis dan mengorganisasikan
masyarakat.

Hal-hal yang harus difahami oleh Fasilitator tentang Membangun Jaringan


Kemitraan

1. Memahami hakikat jaringan kemitraan


2. Memiliki kesadaran akan pentingnya membangun jaringan kemitraan.
3. Mengidentifikasi/memetakan posisi jaringan kemitraan
4. Memahami tujuan membangun jaringan kemitraan.
5. Memahani prinsip dalam membangun jaringan kemitraan.
6. Menerapkan Strategi dalam membangun jaringan kemitraan.
7. Menguasai pola-pola jaringan kemitraan.
MEMAHAMI JARINGAN KEMITRAAN
Pengertian
Jejaring kerja dan kemitraan pada lazimnya juga dikenal dengan istilah
“partnership”. Secara etimologis, istilah “partnership” berasal dari kata “partner”
yang berarti pasangan, jodoh, sekutu atau kompanyon. Sedangkan “partnership”
diterjemahkan sebagai persekutuan atau perkongsian. Dengan demikian,
kemitraan dapat dimaknai sebagai suatu bentuk persekutuan antar dua pihak
atau lebih yang membentuk satu ikatan kerjasama di suatu bidang usaha tertentu
atau tujuan tertentu sehingga dapat memperoleh manfaat hasil yang lebih baik.
Jaringan atau Networking adalah proses kebersamaan. Selain itu, networking
juga diartikan sebagai jalinan hubungan yang bermanfaat dan
salingmenguntungkan. Dalam arti kata lain, membangun networking haruslah
berlandaskan prinsip saling menguntungkan dan komunikasidua arah (dialogis).
Pada kenyataannya di lapangan, jejaring kerja dan kemitraan dapat dimaknai
menjadi dua: pertama, bahwa walaupun pada tataran konseptual terdapat
sentuhan kesamaan, namun pada praktiknya antara membangun jejaring kerja
dengan kemitraan terdapat perbedaan. Jejaring kerja merupakan bentuk kerja
sama yang masih belum konkret wujudnya karena peran para pihak belum bisa
dimainkan. Sementara di sisi yang lain, kemitraan merupakan wujud yang lebih
konkret dari jalinan kerjasama karena semua pihak yang terlibat dalam kemitraan
mengetahui dan mampu memainkan perannya masing-masing sesuai dengan
aturan ataupun batasan yang telah disepakati bersama. Kedua, bahwa jaringan
kemitraan merupakan awal dari jalinan kemitraan atau dengan kata lain bahwa
tindak lanjut dari jaringan kemitraan. Pada titik ini, antara Fasilitator dan Jaringan
kemitraan dapat diibaratkan sebagai sebuah mata uang dimana masing-masing
sisinya tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

Hakikat Membangun Jaringan Kemitraan


Dalam era modern saat ini dimana segala sesuatunya dapat dikendalikan
dengan teknologi mutakhir, kesuksesan lembaga atau organisasi masih tetaplah
sangat tergantung pada keberhasilan menciptakan kemitraan. Secara garis
besar, kita sangat membutuhkan kemitraan untuk menjadikan kehidupan kita
lebih sukses. Demikianpula bagi fasilitator, jika mau dikatakan profesional dan
kompeten di bidangnya maka sudah barang tentu dalam melaksanakan kegiatan
fasilitasi dan pendampingan semua program seharusnya sudah terkoneksi
dengan berbagai sumber dalam suatu kemitraan. Harus disadari bahwa menjalin
hubungan sosial dengan siapapunmerupakan bagian penting dalam menjalankan
segala aktivitas kehidupan. Bagi seorang fasilitator membangun kemitraan
merupakan hal yang esensial mengingat peran yang harus dimainkan sebagai
garda terdepan pihak yang melakukan pendampingan program menabung
pohon. Sementara aktivitas program menabung pohon itu sendiri memiliki misi
jangka panjang sebagai pemantik agar masyarakat tahu dan mau serta mampu
menolong dirinya sendiri dalam menyelesaikan setiap permasalahan lingkungan
serta ekonomi yang dihadapi. Semua itu ditempuh agar masyarakat mampu
bertransformasi menjadi komunitas peduli lingkungan yang berbasis usaha di
bidang lingkungan.
Membangun jaringan kemitraan pada hakikatnya adalah sebuah proses
membangun komunikasi atau hubungan, berbagi ide, informasi dan sumber daya
atas dasar saling percaya (trust) dan saling menguntungkan di antara pihak-
pihak yang bermitra, yang dituangkan dalam bentuk nota kesepahaman atau
perjanjian kontrak tertentu guna mencapai kesuksesan bersama yang lebih
besar. Dari definisi tersebut dapat dijelaskan bahwa membangun jejaring kerja
dan kemitraan pada dasarnya dapat dilakukan jika pihak-pihak yang bermitra
memenuhi persyaratan sebagai berikut:

 Ada dua pihak atau lebih organisasi;


 Memiliki kesamaan visi dalam mencapai tujuan organisasi;
 Ada kesepahaman atau kesepakatan;
 Saling percaya dan membutuhkan;
 Komitmen bersama untuk mencapai tujuan yang lebih besar.

MEMBANGUN JARINGAN KEMITRAAN


Pentingnya Membangun Jaringan Kemitraan
Membangun jaringan kemitraan dalam pelaksanaan program menabung pohon
menjadi sangat penting baik secara individu atau organisasi. Kemitraan tersebut
digalang dengan maksud untuk memfasilitasi atau membuka akses masyarakat
kepada sumberinformasi, teknologi dan sumber daya lainnya yang dibutuhkan.

Tujuan Membangun Jaringan Kemitraan


Ada beberapa tujuan yang ingin dicapai membangun jaringan kemitraan, yaitu
sebagai berikut :

 Meningkatkan Partisipasi Masyarakat Pemanfaat


Salah satu tujuan membangun jaringan kemitraan adalah membangun
kesadaran masyarakat pelaku utama dalam pemeliharaan dan pelestarian
lingkungan melalui program menabung pohon. Dalam jangka panjang, kemitraan
yang terjalin antara fasilitator dengan masyarakat pemanfaat memiliki nilai
strategis dalam Menumbuhkan minat dan meningkatkan partisipasi masyarakat
dalam program menabung pohon.

 Mensinergikan Program
Program menabung pohon sebetulnya bisa disinergikan dengan program
peningkatan ekonomi masyarakat dengan syarat bila terbangun komunikasi dua
arah (komunikasi dialogis) yang baik antara satu pihak dengan pihak yang lain,
antara lain gerakan penghijauan yang dilakukan oleh berbagai pihak baik oleh
instansi pemerintah, swasta, sekolah, perguruan tinggi, perbankan maupun
industri. Fasilitator dapat memfasilitasi pengadaan bibit dan teknik penanaman
yang baik agar gerakan penghijauan dapat dijaga
aspek keberlanjutannya.Juga Anggaran yang telah diprogramkan untuk
rehabilitasi dan konservasi lahan dan tanah kritis bisa disinergikan dalam
program menabung pohon.
Prinsip Membangun Jaringan Kemitraan
Dalam membangun jaringan kemitraan diperlukan adaya prinsip-prinsip yang
harus disepakati bersama agar terjalin kuat dan berkelanjutan. Prinsip-prinsip
tersebut di antaranya adalah:

 Kesamaan Visi-Misi
Kemitraan hendaknya dibangun atas dasar kesamaan visi dan misi, serta tujuan
organisasi. Kesamaan visi dan misi menjadi motivasi dan perekat pola kemitraan
tersebut.

 Kepercayaan (trust)
Setelah adanya kesamaan visi dan misi maka prinsip berikutnya yang tidak kalah
penting adalah adanya rasa saling percaya antar pihak yang bermitra.
Kepercayaan adalah modal dasar dalam membangun kemitraan yang sinergis
dan mutualis. Untuk dapat dipercaya, maka komunikasi yang dibangun harus
dilandasi oleh itikad (niat) yang baik dan menjunjung tinggi kejujuran.

 Saling Menguntungkan
Asas saling menguntungkan merupakan pondasi yang kuat dalam membangun
kemitraan. Jika dalam bermitra ada salah satu pihak yang merasa dirugikan
ataupun merasa tidak mendapat manfaat lebih, maka akan mengganggu
keharmonisan dalam bekerja sama. Antara pihak yang bermitra harus saling
memberi kontribusi sesuai peran masing-masing dan harus saling merasa
diuntungkan dengan adanya jalinan kemitraan.

 Efisiensi dan Efektifitas


Dengan mensinergikan beberapa sumber untuk mencapai tujuan yang sama
diharapkan mampu meningkatkan efisiensi waktu, biaya dan tenaga. Efisiensi
tersebut tentu saja tidak mengurangi kualitas proses dan hasil, justru sebaliknya
malah dapat meningkatkan kualitas proses dan poduk yang dicapai. Tingkat
efektifitas pencapaian tujuan menjadi lebih tinggi jika proses kerja kita melibatkan
mitra kerja. Dengan kemitraaan dapat dicapai kesepakatan-kesepakatan dari
pihak yang bermitra tentang siapa melakukan apa sehingga pencapaian tujuan
diharapkan akan menjadi lebih efektif.

 Komunikasi Dialogis
Komunikasi timbal balik dilaksanakan secara dialogis atas dasar saling
menghargai satu sama lainnya. Komunikasi dialogis merupakan pondasi dalam
membangun kerjasama. Tanpa komunikasi dialogis akan terjadi dominasi pihak
yang satu terhadap pihak yang lainnya yang pada akhirnya dapat merusak
hubungan yang sudah dibangun.

 Komitmen yang Kuat


Kemitraan akan terbangun dengan kuat dan permanen jika ada komitmen satu
sama lain terhadap kesepakatan-kesepakatan yang dibuat bersama.
Kuis

1. Bangunan kemitraan harus didasarkan dengan…


a. Kesamaan perhatian
b. Kecurigaan
c. Keacuhan
d. Ketidaktersediaan waktu dan tenaga

2. Hal-hal yang tidak harus difahami oleh Fasilitator tentang Membangun


Jaringan Kemitraan adalah …
a. Memahami hakikat jaringan kemitraan
b. Memiliki kesadaran akan pentingnya membangun jaringan
kemitraan.
c. Menguraikan posisi jaringan kemitraan
d. Memahami tujuan membangun jaringan kemitraan.

3. Tujuan Membangun Jaringan Kemitraan


a. Menurunkan partisipasi masyarakat pemanfaatan
b. Mensinergikan program
c. Meguraikan program
d. Menggabungkan program
BAB VII

NEGOSIASI

Negosiasi mengandung banyak pengertian dan sebaiknya anda yang sering


melakukan negoasiasi asal-asalan memahami beberapa istilah dalam negosiasi
dan artinya.

Berikut beberapa pengertian dari negosiasi:


• Pertemuan bisnis antara satu pihak dengan pihak lainnya untuk mencapai
kesepakatan bersama
• Negosiasi bukan hanya untuk keperluan bisnis namun juga untuk kepentingan
lainnya

• Negosisasi sangat penting bagi kehidupan manusia untuk bertahan hidup


• Semua bidang kehidupan membutuhkan negosiasi
• Negosiasi bisa berbentuk formal maupun informal
• Negosiasi merupakan perundingan kedua belah pihak untuk saling member dan
menerima serta terjadi tawar menawar untuk mencapai kesepakatan bersama
• Disebut juga sebagai ijab kabul yang terjadi dalam proses interaksi kedua belah
pihak dengan tujuan salaing menerima dan memberi
• Negosiasi untuk mendapatkan kesamaan tujuan dari berbagai konflik yang
ditimbukan saat proses tawar menawar

2. Konsep Negotiation

Negosiasi bisa terjadi ketika anda melihat orang lain memiliki sesuatu yang anda
inginkan. Namun untuk mendapatkan barang tersebut hanya menginginkan saja
tidak mungkin, anda perlu melakukan negosiasi dengan pemiliknya.

Negosiasi bisa berjalan ketika seseorang bisa merelakan apa yang dia miliki
untuk barang tersebut. Anda juga bisa melakukan barter atau pertukaran barang
atau jasa untuk mendapatkan sesuatu yang anda inginkan tersebut.

Karakteristik negosiasi:
• Melibatkan orang lain
Dalam negosiasi selalu melibatkan orang lain baik secara individu, bagian dari
organisasi tertentu atau perwakilannya, perseorangan maupun kelompok. Jika
tidak anda bagian-bagian tersebut tentu tidak akan mungkin terjadi negosiasi
bahkan tidak akan menemukan titik terang. Kadang negosiasi hanya dilakukan
oleh dua orang saja dan ini dilakukan antar pimpinan atau pihak yang penting
dalam suatu perusahaan, namun banyaik juga negosiasi yang dilakukan oleh
beberapa orang yang memiliki kesamaan misi dan visi.

• Adanya konflik
Tiap negosiasi yang terjadi tidaklah mulus dan menghasilkan kesepakatan
bersama, Dalam negosiasi tersebut selalu ada beberapa konflik yang timbul saat
negosiasi dilakukan kedua belah pihak. Kadang konflik tersebut menimbulkan
ancaman terjadinya konflik bisa terjadi dari awal hingga akhir negosiasi sampai
dengan kesepakatan didapatkan kedua belah pihak.

Konflik bisa timbul ketika beberapa pendapat dari masing-masing pihak tidak bisa
disatukan dengan baik. Pihak satu mungkin bersikeras dengan pendapatnya dan
pihak dua tetap kukuh pada pendiriannya. Jika hal ini tetap dibiarkan maka
konflik dalam negosiasi tersebut akan semakin besar dan tidak ada kesepakatan
yang bisa dihasilkan dalam kesempatan tersebut.

• Menggunakan barang atau jasa


Dalam suatu negosiasi selalu menggunakan barang atau jasa untuk
pertukarannya atau untuk sistem barternya. Barang atau jasa tersebut akan
menjadi taruhan kedua belah pihak dan kadang konflik timbul karena ketidak
sesuaian penawaran yang dilakukan terhadap barang tersebut.

• Dalam negosiasi selalu mengunakan bahasa yang lisan, ekspresi wajah


dan gerak tubuh yang jelas antar kedua belah pihak
Kedua belah pihak akan melakukan negosiasi dengan bahasa yang lisan dan
mudah dimengerti. Selain itu anggota negosiasi juga akan menggunakan
ekspresi wajah dan tubuh yang jelas untuk memenangkan proses negosiasi.

• Berkaitan dengan masa depan


Dalam negosiasi biasanya kesepakatan yang didapatkan menyangkut beberapa
hal dimasa depan. Hal yang belum terjadi namun diharapkan terjadi dimasa
mendatang. Pembahasan dalam negosiasi biasanya adalah perjanjian mengenai
suatu hal yang akan terjadi di masa mendatang namun harus dipertimbangkan
saat ini. Biasanya negosiasi tersebut adalah mengenai rencana kerja atau
pembagian kerja dalam perusahaan.

• Adanya kesepakatan kedua pihak


Setiap negosiasi selalu terjadi kesepakatan kedua belah pihak sekalipun banyak
konflik yang terjadi saat berlangsungnya negosiasi tersebut. Negosiasi yang baik
tentu akan menimbulkan kesepakatan oleh kedua belah pihak. Secara langsung
kadang salah satu pihak harus mengalah terhadap hasil negosiasi tersebut.
Negosiasi yang baik akan menghasilkan kesepakatan yang tidak merugikan
kedua belah pihak.

Siapapun bisa melakukan negosiasi bahkan seorang ibu rumah tangga juga bisa
melakukan negosiasi. Negosiasi tersebut bisa terjadi ketika ada beberapa hal
didalamnya. Berikut beberapa hal yang bisa menimbulkan suatu negosiasi:

• Ada dua orang


Negosiasi yang dilakukan atasan terhadap bawahannya, antara ayah dan anak
atau kedua pihak yang saling membutuhkan. Jika tidak ada satu orang lebih
maka bukan negosiasi namanya. Minimal ada dua orang yang melakukan
negosiasi baik itu dalam satu organisasi maupun oleh satu organisasi dengan
organisasi lainnya.
• Dalam suatu kelompok untuk pengambilan keputusan kelompok tersebut
Negosiasi tidak hanya dilakukan oleh satu organisasi dengan organisasi lainnya
atau dengan pihak intern, negosiasi juga bisa terjadi antar anggota atau dengan
pihak intern. Jika terjadi negosiasi intern hal ini sering digunakan untuk
pengambilan keputusan dalam perusahaan.

• Antar kelompok
Negosiasi yang dilakukan antara pembeli dan penjual untuk kesepakatan harga
yang sesuai dengan kualias dan jumlah produknya. Negosiasi antar kelompok ini
kadang menimbulkan konflik dan kerugian satu sama lain bila tidak terjadi
kesepakatan yang baik diantara keduanya.

Jenis-jenis negosiator
• Value Creators
Proses negosiasi ini lebih mengutamakan proses yang akan menguntungkan
kedua belah pihak, jadi tidak ada yang dirugikan dalam negosiasi tersebut.
Proses negosiasi ini akan menciptakan nilai positif bagi kedua belah pihak yang
menguntungkan.

Dalam negosiasi ini akan mengembangkan hubungan antar kedua negosiator


yang yang kolaboratif. Negosiasi yang mengutamakan kepentingan kedua belah
pihak yang besifat lebih ramah dan lebih koorperatif.

• Value Claimer
Menilai negosiasi yang dilakukan adalah proses pertengkaran sehingga masing-
masing negosiator berusaha untuk memenangkan perundingan. Masing-masing
negosiator akan memberikan sedikit ruang untuk memenangkan negosiasi. Cara
yang dilakukan oleh negosiator adalah argumen yang lebih memaksakan
kehendak, taktik yang lebih manipulatif dan juga proses tawar menawar yang
lebih sulit.

3. Unsur Negosiasi

3.1 Faktor Penentu Keberhasilan Negosiasi

Waktu
Mempersiapkan waktu yang baik untuk melakukan negosiasi agar efektif dan
lebih efisien. Kadang para negosiator tidak memperhitungkan waktu yang tepat
untuk melakukan negosiasi padahal waktu juga menjadi hal yang sangat vital
terhadap hasil negosiasi tersebut. Ada baiknya masing-masing negosiator
mencari waktu yang tepat untuk bernegosiasi yang tidak mengganggu jadwal
kerja atau jadwal apapun.

Menentukan sasaran yang tepat


Jika suatu negosiasi tidak ada sasaran yang akan dirundingkan tentu saja akan
sulit bagi kedua belah pihak untuk memutuskan hasil negosiasi. Karena itu
sebaiknya kedua belah pihak harus menentukan sasaran negosiasi terlebih dulu
sebelum negosiasi tersebut dilaksanakan.
Mendapatkan informasi yang tepat dan akurat tentang lawan negosiasi
Bila anda akan bernegosiasi dengan salah satu perusahaan ternama, maka
jangan lupa untuk mencari tahu tentang perusahaan bersangkutan. Anda bisa
mencari tahu sejah mana perusahaan tersebut berjalan dan apa saja keunggulan
perusaaan. Hal ini bisa menjadi masukan bagi anda ketika nanti anda
menghadapi perusahaan tersebut dalam negosiasi yang akan dilaksanakan.

Menyusun strategi yang tepat untuk melakukan negosiasi


Dalam bernegosiasi harus ditentukan strategi yang benar-benar tepat masing-
masing negosiator. Bila salah satu negosiator tidak memiliki strategi yang tepat
mereka akan dikalahkan oleh lawan negosiasi. [Baca: Informasi Lengkap
Pelatihan Negosiasi]

Memilih taktik untuk menentukan waktu yang efektif dalam bernegosiasi


Taktik disini bisa membuat salah satu negosiator kalah, bila salah satu
negosiator memiliki taktik yang bagus untuk mengalahkan lawannya maka
kemenangan akan berada di pihaknya.

Keterbukaan kedua negosiator


Jika masing-massing negosiator tidak terbuka dan tidak mau menyampaikan
informasi atau pendapat yang terbuka, maka sangat sulit bagi mereka untuk
mendapatkan kesepakatan bersama. Dalam negosiasi sangat diperlukan
keterbukaan dari masing-masing pihak. Keterbukaan ini akan memudahkan
pemecahan masalah yang dihadapi dan membuat kesepakatan bersama.

Kemauan kedua belah pihak untuk berkompromi


Kompromi adalah bagian penting dari negosiasi, bila masing-masing pihak mau
melakukan kompromi maka negosiasi akan berjalan dengan mudah.

Tercapai kesepakatan kedua negosiator


Setelah melakukan kompromi kedua belah pihak bisa mendapatkan kesepakatan
bersama. Kesepakatan tersebut kadang memberatkan salah satu negosiator
bahkan merugikannya. Karena itu sebaiknya pengambilan kesepakatan harus
menguntungkan kedua belah pihak.

Hasil negosiasi yang jelas


Negosiasi yang baik akan memutuskan hasil negosiasi yang jelas dan bisa
dilaksanakan dengan mudah oleh kedua negosiator. Jika hasil kesepakatan
bersama tidak jelas maka sangat sulit bagi negosiator untuk menjalankan
keputusan tersebut.

Pelaksanaan hasil negosiasi yang jelas


Masing-masing negosiator harus melaksanakan hasil negosiasi yang jelas.
Pelaksanaan hasil tersebut juga harus dilakukan dengan jelas dan bisa
dipertanggung jawabkan nantinya.

3.2 Faktor Penghambat Negosiasi

 Informasi yang kurang tepat dari lawan negosiasi


 Saling menutup diri atua tidak terbuka
 Adanya manipulasi salah satu negosiator
 Adanya negosiator yang melakukan kecurangan
 Kurang bisa menjaga emosi dan saling egois
 Waktu negosiasi yang tidak tepat
 Hasil negosiasi yang memberatkans alah satu negosiator
 Hasil negosiasi tidak dilaksanakan dengan baik

3.3 Jenis Negosiasi

Negosiasi win-win
Negosiasi yang menghasilkan keputusan yang saling menguntungkan kedua
belah pihak. Negosiasi ini paling banyak dilakukan oleh perusahaan dalam
bentuk kerjasama untuk jangka waktu yang lama.

Negosiasi win lose


Negosiasi yang hanya dimenangkan oleh satu pihak saja sedangkan pihak
lainnya mengalami kekalahan. Bentuk negosiasi ini sering menimbulkan konflik
kedua belah pihak.

Negosiasi koersif
Dalam negosiasi ini satu pihak akan menggunakan kekuatannya untuk menekan
lawan agar terkalahkan

Negosiasi manipulative
Dalam negosiasi ini ada pihak yang menggunakan janji-janji untuk membujuk
lawan diskusinya.

4. Proses Negosiasi

Persiapan

Mulai bernegosiasi

 Mulai negosiasi dengan lawan negosiasi


 Membicarakan hal-hal yang utama
 Salah satu negosiator memimpin negosiasiJika terjadi konflik harus ada
pihak penengah
 Menyelesaiakan konflik dengan kepala dingin

Mencari kesepakatan bersama

o Banyak konflik harus diselesaikan dengan cepat


o Kesepekatan harus dicapai kedua belah pihak
o Menindak lanjuti hasil kesepakatan negosiasi
5. Jurus-jurus dalam Negosiasi

Membuat Target Pencapaian Negosiasi Yang Akan Dilakukan

 Adanya syarat minimum dan maksimum yang harus diperoleh untuk


negosiasi. Setelah itu kedua belah pihak bisa menentukan beberapa jalan
alternatif untuk solusi yang akan ditawarkan saat negosiasi. Jalan
tersebut harus saling terbuka dan tidak menimbulkan masalah kedua
belah pihak.
 Lakukan cara lain untuk keberhasilan negosiasi jika negosiasi yang
pertama tidak berhasil mencapai kesepakatan
Banyak bentuk negosiasi yang saat dilakukan kedua belah pihak tidak
mampu membuat keputusan bersama karena masing-masing negosiator
memiliki pendirian yang kuat dan tidak mau berubah.

Jika hal ini terjadi maka dalam proses negosiasi berikutnya kedua belah pihak
harus bisa menentukan jalan yang berbeda untuk mendapatkan kesepakatan
bersama.

Memilih Riset yang Terbaik

 Mempelajari keinginan, kelemahan dan keunggulan lawan negosiasi


 Bekerjalah sendiri untuk mengetahui semua informasi dari lawan
negosiasi
 Mencari bukti yang cukup banyak tentang lawan negosiasi tersebut
 Membuat riset yang efektif untuk mengetahui semua yang ada pada
lawan negosiasi

Memikirkan tujuan utama dalam bernegosiasi

 Menjaga emosi sangat tepat untuk mencapai tujuan bersama


 Bersikap kepala dingin dan tidak egois terhadap lawan negosiasi
 Pencapaian tujuan negosiasi yang efektif dan menguntungkan kedua
pihak

Membicarakan Tujuan Utama


Sampaikan hanya tujuan utama atau hal-hal yang penting dalam bernegosiasi
dan tidak perlu berbelit-belit dan menyimpang dari masalah. Hindari
membicarakan masalah pribadi saat negosiasi dan pisahkan tim untuk
benegosiasi sesuai dengan keahliannya.

Bersikap Adil
Sikap adil yang dimaksudkan adalah memikirkan kebaikan dan keuntungan dari
semua pihak tanpa ada manipulasi. Menghindari hal-hal yang bisa menimbulkan
persaingan yang kurang sehat kedua belah pihak.

Win-win solution
Bersikap flesibel terhadap segala kemungkinan yang terjadi saat proses
negosiasi. Fleksibel akan membantu mencegah jalan buntu saat negosiasi.
Kemudian tim mencari beberapa alternatif pilihan yang saling menguntungkan
kedua belah pihak.

Menyelesaikan Proses Negosiasi Dengan Cepat


Hindari proses negosiasi yang lama dan segera menyelesaikan proses
negosiasi. Selain itu anda bisa memilih fasilitas negosiasi yang bagus agar
proses negosiasi berjalan dengan cepat.

6. Manfaat Negosiation Skill

Menjalin hubungan baik kedua belah pihak

 Adanya kesepakatan bersama untuk tujuan bersama


 Mencapai tujuan bersama untuk kerjasama yang lebih baik
 Tercipta bisnis yang saling menguntungkan kedua negosiator

Menjalin hubungan bisnis yang lebih luas

 Untuk mengembangkan pasar bisnis yang lebih luas


 Meningkatkan penjualan bisnis ataupun peningkatan tujuan bersama
 Menciptakan hasil yang lebih baik dan lebih efisien
 Mendapatkan keuntungan yang besar pada perusahaan

KUIS

1. Salah satu karakteristik negosiasi adalah…


a. Melibatkan satu orang
b. Adanya kesepakatan
c. Berkaitan dengan masa lalu
d. Menggunakan barang atau jasa
2. Proses negosiasi ini lebih mengutamakan proses yang akan
menguntungkan kedua belah pihak, jadi tidak ada yang dirugikan dalam
negosiasi tersebut. Pengertian ini merupakan define dari jenis
negosiator…
a. Value creators
b. Value claimer
c. Creator file
d. Claimer file
3. Yang merupakan factor penentu keberhasian negosiasi adalah…
a. Waktu
b. Dana
c. Relasi
d. Kawan
4. Salah satu factor penghambat negosiasi adalah …
a. Informasi lengkap
b. Saling terbuka
c. Waktu negosiasi yang tidak tepat
d. Adanya negosiator yang disiplin
5. Ciri dari jenis negosiasi koersif adalah …
a. Menghasilkan keputusan yang saling menguntungkan
b. Menghasilkan keputusan yang salah satu pihak saja diuntungkan
c. menggunakan kekuatannya untuk menekan lawan agar
terkalahkan
d. menggunakan janji-janji untuk membujuk lawan diskusi
BAB VIII

TEKNIK KOLABORASI

Alwasilah (2007:25) mengatakan bahwa, pengertian kolaborasi adalah suatu


teknik pengajaran menulis dengan melibatkan sejawat untuk saling mengoreksi.
Kolaborasi adalah ajang bertegur sapa dan bersilaturahmi ilmu pengetahuan.
Selain itu ada pembelajaran berjamaah/bersama (social learning). Salah satu
prinsipnya adalah bahwa setiap orang memiliki kelebihan tersendiri.

Dalam kolaborasi setiap orang dibiarkan mengembangkan potensi dan


kesenangannya masing-masing, di antaranya: menulis puisi, fiksi, atau artikel
opini. Komitmen dan niat masing-masing siswa menetukan pula keberhasilan
mereka dalam menulis teks pidato.

Metode ini biasa digunakan utuk melatih dan memberdayakan siwa dalam
kegiatan belajar mengajar. Pada kelas besar, biasanya dibuat menjadi kelompok-
kelompok kecil untuk berkolaborasi. Dalam setiap kelompoknya, siswa membaca
tulisan hasil menulis teks pidato temannya, kemudian mengoreksinya. Kolaborasi
ini bukan arena untuk mencari kesalahan orang lain, tetapi untuk belajar dari
kesalahan-kesalahan itu, kemudian sama-sama memperbaikinya supaya
kesalahan serupa bisa dihindari.

Dalam metode kolaborasi ini, pendekatan proses lebih ditekankan kepada


bagaimana siswa menuangkan gagasan menjadi sebuah tulisan. Setelah
mendapat komentar dan saran dari guru dan teman berupa coret-coretan
perbaikan, siswa menulis dan memperbaiki hasil tulisannya itu. Begitu
seterusnya sampai tulisan itu layak dianggap sebagai tulisan yang baik.

Pendekatan proses telah mengubah fokus dari produk tulisan kepada proses
menulis yang lebih menjanjikan siswa untuk lebih terampil dalam menulis. Proses
menulis lebih menitikberatkan pengembangan gagasan yang dicurahkan untuk
mendapatkan hasil tulisan yang optimal. Dalam kesempatan ini, guru sebaiknya
memberikan motivasi kepada siswa untuk lebih berani mengembangkan gagasan
yang dimilikinya.

Kelebihan Metode Kolaborasi

Metode digunakan sebagai kelancaran kegiatan pembelajaran. Keberhasilan


guru dalam pembelajaran bergantung pada metode apa yang digunakan dalam
pembelajaran tersebut. Setiap metode pasti ada kelebihan dan kelemahannya. Di
bawah ini akan diuraikan mengenai kelebihan metode kolaborasi Alwasilah
(2007: 109). Kelebihan metode kolaborasi ini diantaranya sebagai berikut.
1) Menanamkan kerjasama dan toleransi terhadap pendapat orang lain dan
meningkatkan kemampuan menyatakan gagasan.

2) Menanamkan sikap akan menulis sebagai suatu proses karena kerja


kelompok menekankan revisi, memungkinkan siswa mengajari sejawat, dan
memungkinkan penulis yang agak lemah mengenal tulisan karya sejawat yang
lebih kuat (Lunsford: 1986).

3) Mendorong siswa saling belajar dalam kerja kelompok dan menyajikan


suasana kerja yang akan mereka alami dalam dunia professional di masa
mendatang (Allen: 1986).

4) Membiasakan koreksi diri dan menulis draf secara berulang, siswa menjadi
pembacanya yang paling setia (Brookes dan Grundy, 1990: 21).

Jadi, dengan menggunakan metode kolaborasi dapat merangsang


kreativitas siswa, dapat mengembangkan sikap, dan dapat memperluas
wawasan. Dengan menggunakan metode kolaborasi ini proses pembelajaran
dapat berjalan dengan baik.

Berdasarkan uraian di atas, penulis simpulkan bahwa dengan metode


kolaborasi menanamkan kerjasama dan toleransi terhadap pendapat orang lain,
menanamkan sikap akan menulis sebagai suatu proses, mendorong siswa saling
belajar dalam kerja kelompok, dan membiasakan koreksi diri atas kesalahannya.

2.4.4 Kelemahan Metode Kolaborasi

Selain memiliki kelebihan dalam proses pembelajaran, metode kolaborasi juga


memiliki kelemahan. Menurut Alwasilah (2007:47) Beberapa kelemahan dari
metode kolaborasi sebagai berikut.

1) Memerlukan pengawasan yang baik dari guru, karena jika tidak


dilakukan pengawasan yang baik, maka proses kolaborasi tidak akan efektif.

2) Ada kecenderungan untuk saling mencontoh pekerjaan orang lain.

3) Memakan waktu yang cukup lama, karena itu harus dilakukan dengan
penuh kesabaran.

4) Sulitnya mendapatkan teman yang dapat bekerjasama.

Kelemahan dalam metode kolaborasi adalah diperlukannya pengawasan dari


guru, ada kecenderungan mencontoh pekerjaan orang lain, memekan waktu
yang cukup lama, sulitnya mendapatkan teman yang dapat bekerjasama.
Berdasarkan uraian di atas, penulis simpulkan bahwa kelemahan metode
kolaborasi yaitu memakan waktu yang cukup lama dan memerlukan pengawasan
yang baik dari guru.

Kolaborasi melibatkan kerjasama yang erat, tujuan bersama yang jelas, dan
sistem yang terstruktur untuk berdiskusi dan beraksi untuk mencapainya. Metode
kolaboratif berguna untuk segala sesuatu dari proyek-proyek kelompok di
sekolah untuk inisiatif masyarakat yang melibatkan beberapa organisasi. Apakah
Anda sedang mencoba untuk membentuk sebuah kolaborasi antara dua
kelompok atau mencoba untuk mendapatkan anggota individu untuk
menanggung beban, ada banyak cara yang dapat ditetapkan untuk
menyelesaikan konflik dan mencapai hasil.

Metode1

Berpartisipasi Dalam Sebuah Kolaborasi

Pahamilah tujuan dan jadwalnya. Tujuan dari kerjasama harus jelas bagi semua
peserta. Bahkan jika Anda hanya bekerja untuk tugas sekolah atau tujuan jangka
pendek lainnya, pastikan Anda mengetahui ruang lingkup yang tepat dari proyek.
Apakah Anda berkomitmen di akhir pekan untuk bekerja? Apakah setiap orang
memahami pekerjaan khusus yang diperlukan?

Membantu mendelegasikan tugas. Daripada mencoba untuk melakukan segala


sesuatu, yang terbaik adalah untuk membagi dan menyelesaikannya. Biarkan
semua orang menemukan kekuatannya dan bekerja di dalamnya untuk
berkontribusi pada tujuan bersama. Jika Anda merasa kewalahan atau berpikir
orang lain bisa menggunakan bantuan Anda, cobalah untuk mengatakannya.
Menetapkan peran yang lebih umum seperti "peneliti" atau "fasilitator pertemuan"
kepada setiap anggota akan membuat delegasi tugas tertentu lebih cepat dan
tidak secara sembarangan.

Biarkan semua orang berpartisipasi dalam diskusi. Berhenti dan mendengarlah


jika Anda merasa Anda berbicara lebih banyak dari kebanyakan peserta lain.
Mempertimbangkan ide-ide lain sebelum merespon secara otomatis. Kolaborasi
akan menjadi lebih lancar ketika setiap anggota mengakui nilai setiap anggota
lainnya. Jika beberapa anggota berbicara terlalu banyak, sesuaikan sistem
diskusinya. Di dalam sebuah kelompok kecil, tiap anggota dapat diberikan waktu
berbicara secara bergantian searah jarum jam. Di dalam kelompok besar, dapat
diberlakukan pemembatasan sejumlah waktu untuk seseorang berbicara atau
sejumlah kalimat per rapat. Untuk mendorong anggota pemalu untuk berbicara,
tanyalah mereka beberapa masukan pada subjek yang ia ketahui atau tertarik.

Asumsikan itikad baik. Kerja kolaboratif paling efektif menghasilkan dalam


suasana yang saling percaya. Jika Anda berpikir seseorang tidak bertindak demi
kepentingan kelompok, Anda harus mencoba untuk membahas alasan di balik
tindakan mereka. Jika Anda menuduh secara keliru, semangat kolaborasi dapat
dengan mudah berubah menjadi tidak baik. Diskusikan masalah secara terbuka,
bukan di belakang teman se-tim.

Sarankan cara untuk berkomunikasi. Kolaborator harus memiliki kesempatan


untuk bertukar ide dan informasi antara pertemuan. Gunakan wiki online, diskusi
melalui email, atau layanan sharing dokumen untuk menjaga anggota tetap up-
to-date. Sesekali berkumpullah dengan anggota kelompokmu untuk pertemuan
santai juga. Anda akan bekerja lebih baik bersama-sama jika Anda lebih
mengenal satu sama lain.

Meminta pertanggungjawaban anggota dan saling bertukar umpan


balik.Berkumpullah untuk membahas cara agar dapat menjadi lebih baik. Miliki
batu loncatan jangka pendek dan mendiskusikan bagaimana untuk mencapainya
jika Anda tertinggal di belakang. Untuk kolaborasi jangka panjang, adakan
pemeriksaan secara teratur untuk melihat apakah semua orang senang dengan
kemajuan menuju tujuan akhir tertentu.

Carilah konsensus bila memungkinkan. Ketidak sepakatan sering terjadi setiap


kerja sama di kelompok. Ketika konflik muncul, carilah konsensus dari semua
anggota pada keputusan. Jika Anda tidak dapat mencapai konsensus dan perlu
untuk bergerak maju, setidaknya pastikan anggota setuju menerima bahwa
kelompok itu telah melakukan upaya yang wajar untuk berkompromi. Jika Anda
mengabaikan anggota, itu akan membuat kerjasama lebih lanjut jauh lebih sulit.

Jangan membakar penjembatan. Kalaupun ada perbedaan pendapat serius


antara kolaborator, cobalah untuk menjaga emosi Anda dan mengampuni orang-
orang yang berdebat dengan Anda . Gunakan waktu untuk bercanda atau
melakukan beberapa humor untuk meredakan situasi. Gunakan humor yang
mencela diri atau lelucon ofensif saja dan yang tidak menyinggung seseorang
dengan bercanda ketika mereka serius marah.

Metode2

Berurusan dengan Masalah Sebagai Sebuah Group

Diskusi secara terbuka. Sifat kolaborasi melibatkan orang-orang dengan prioritas


yang berbeda-beda. Masalah akan timbul dan Anda harus membicarakan
dengan jujur, bukannya diam saja. Jelaskan bahwa resolusi konflik bukan
tentang menentukan siapa yang benar atau salah. Berdiskusilah dengan
berfokus pada bagaimana cara terbaik untuk menyesuaikan proses atau tindakan
yang bersangkutan untuk menghapus konflik dan memajukan kolaborasi. Jika
Anda melihat anggota mengembangkan tanda-tanda apatis atau permusuhan,
diskusikan secara pribadi tentang apa yang menyebabkan perubahan.
Diskusikanlah penyebabnya pada pertemuan berikutnya jika hal itu berkaitan
dengan kolaborasi.

Jangan mencoba untuk menyelesaikan setiap perbedaan. Tujuan dari kerjasama


ini adalah untuk mencapai suatu tujuan, bukan untuk menanamkan setiap
anggota dengan sudut pandang yang sama. Anda harus mendiskusikan
perbedaan-perbedaan ini, tapi kadang-kadang Anda harus setuju bahwa konflik
tidak akan hilang dan memilih kompromi atau jalan alternatif.

Cari penyebab rendahnya partisipasi. Jika ada anggota yang nyaris tidak
menghadiri pertemuan atau tidak memenuhi peran yang ditugaskan, cari tahu
mengapa dan perbaikilah. Tanyakan anggotamu jika ada masalah dengan
anggota lain atau proses kolaborasi sehingga Anda dapat mendiskusikannya
secara terbuka. Jika anggota adalah perwakilan dari organisasi lain, pastikan
bahwa organisasi tidak melemburkan mereka. Ingatkan bosnya dengan
komitmen yang diharapkan dan meminta tugas pekerjaan anggota di catat. Jika
anggota hanya menolak untuk berpartisipasi atau tidak memiliki kualifikasi yang
diperlukan, cari penggantinya. Ini berisiko, tapi sangat penting untuk
menyukseskan sebuah kolaborasi.

Selesaikan argumen dengan kebiasaan, bahasa dan pilihan gaya. Jika anggota
digunakan untuk hal-hal tertentu yang ditangani dengan cara yang berbeda, atau
memiliki definisi yang berbeda dari sebuah istilah, sisihkan waktu untuk
membahas dan menyelesaikan ini. Taruh beberapa definisi kontroversi secara
tertulis. Sesuaikan bahasa surat atau pernyataan misi Anda ke semua orang
dengan kata-kata yang dapat disetujui.

Perbaiki pertemuan membosankan atau tidak efektif. Perhatikan bagaimana cara


menjalankan pertemuan yang efektif dan membagikan hasil Anda dengan
fasilitator atau pemimpin pertemuan. Berusaha untuk meningkatkan kepercayaan
dan keterlibatan antara anggota. Bahkan perbuatan yang kecil seperti membawa
minuman ke pertemuan dapat membuat banyak anggota mencontohnya. Jika
pertemuan berjalan lambat karena fasilitator, pilihlah seseorang yang baru dan
yang memiliki keterampilan untuk mengelola diskusi tanpa menyinggung siapa
pun.

Berurusan dengan anggota manipulatif dan argumentatif. Ada banyak cara untuk
mengatasi masalah ini sebelum beralih ke upaya untuk menghapus mereka dari
tim yang dapat menyebabkan dampak buruk. Controlling atau perilaku
manipulatif dapat disebabkan oleh rasa takut. Jika anggota yang mewakili
organisasi lain, mereka mungkin khawatir tentang kehilangan otonominya.
Cobalah untuk menemukan masalah mendasar dan membicarakannya dengan
anggota yang berkolaborasi - atau, jika masalah pribadi, mintalah mereka untuk
mengurusinya di waktu mereka sedang sendiri. Jika anggota menahan benturan
kepentingan atau tidak berbicara ketika mereka menentang keputusan, gunakan
waktu pertemuan untuk membahas perspektif masing-masing orang secara
bergantian. Gunakan sistem diskusi yang lebih terstruktur untuk memastikan
anggota argumentatif tidak mendominasi pertemuan.

Kurangi argument tujuan atau strategi. Tentukan tujuan yang jelas dan metode
yang dapat dipahami misalnya menulis untuk mengurangi kebingungan. Jika
anggota masih berdebat dengan itu, habiskan waktu tambahan mereka. Ini
mungkin menandakan keinginan untuk berpartisipasi, daripada perselisihan yang
sebenarnya atas tujuan akhir. Coba menyetujui hasil tertentu yang dapat dicapai,
strategi jangka pendek sejalan dengan piagam Anda.

Memanage tekanan dari anggota organisasi. Jika pimpinan anggota organisasi


yang menekan kolaborasi untuk tindakan yang cepat, ingatkan mereka bahwa
kolaborasi memiliki otoritas sendiri. Perencanaan merupakan langkah penting
dalam upaya kolaboratif.

Carilah sebuah mediator untuk masalah serius. Kadang-kadang, Anda harus


secara kolektif memilih mediator sebagai pihak ketiga. Mediator akan
memfasilitasi satu atau dua pertemuan untuk menyelesaikan konflik, dan harus
diganti jika ia menjadi terlibat secara pribadi. Gunakan mediator dalam situasi di
bawah ini :

Ketika pemimpin kelompok terlibat langsung dalam konflik.

Ketika ada ketidak sepakatan mengenai ada atau tidak ada konflik.

Ketika perbedaan budaya yang terlibat dan mediator yang mengerti kedua
perspektif.

Ketika ketidak berpihakan sangat penting, seperti ketika konflik kepentingan


timbul.

Jika kelompok kekurangan resolusi konflik. Pertimbangkan mediator yang dapat


melatih kelompok dalam resolusi konflik daripada meminta satu setiap kali
masalah muncul.

Metode3

Membentuk Kolaborasi

Pilih kelompok yang tepat. Anda dapat berkolaborasi dengan orang-orang dari
organisasi nirlaba, bisnis, sektor publik, atau individu, tetapi telitilah mereka
terlebih dahulu. Diskusikan secara terbuka apakah kelompok dapat berkomitmen
untuk jenis kolaborasi yang Anda bayangkan. Jika Anda mencari mitra keuangan
juga, jangan mengundang organisasi yang berjuang secara finansial atau
organisasi pemerintah selama periode pemotongan budget. Jika sebuah
kelompok atau individu terkenal untuk hubungan kerja yang buruk, masalah
kepercayaan, atau pengkhianatan, arahkan secara jelas.

Buatlah tujuan yang jelas. Pastikan semua kelompok yang terlibat mengerti
mengapa kerjasama harus dibentuk dan tujuan yang tepat akan dimiliki. Apakah
masing-masing kelompok berkomitmen untuk meningkatkan keterlibatan mereka
sebelum Anda mulainya. Tentukan batas waktu untuk kolaborasi. Anda akan
segera mengalami masalah jika satu kelompok mengharapkan beberapa
pertemuan dan lainnya diasumsikan sebagai proyek sepanjang tahun. Membuat
ekspektasi yang jelas. Demikian pula, organisasi yang terlibat harus tahu berapa
banyak orang dan berapa banyak waktu yang diharapkan dari mereka dan
sejauh mana kepemimpinan akan terlibat. Pilih anggota yang dapat
berkomitment untuk tujuan. Kolaborasi ini harus fokus pada tujuan yang tumpang
tindih bagi semua anggota, bukan pernyataan misi satu organisasi.

Libatkan individu yang tepat. Cari orang yang memiliki pengalaman yang relevan
dan kredibilitas yang cukup dan kepercayaan untuk membawa pekerjaan rumah
dalam organisasi mereka. Jangan melibatkan orang-orang yang tidak memenuhi
syarat hanya karena mereka secara sukarela atau teman pribadi Anda sendiri.
Jangan mengisi kolaborasi dengan terlalu banyak anggota. Semakin banyak ada,
semakin lambat akan bergerak, jadi pilihlah jumlah yang cukup untuk mencapai
tujuan Anda dan menangani masalah khusus yang mungkin muncul. Jika
tujuannya untuk melibatkan perubahan organisasi yang luas untuk sekelompok
anggota, Anda perlu kepemimpinan dari masing-masing kelompok yang terlibat.
Sertakan penasehat hukum jika Anda berencana untuk melakukan penggalangan
dana dalam kolaborasi. Pertimbangkan membawa orang lain dari luar organisasi
inti jika diperlukan. Seorang anggota dewan sekolah, pemerintah kota, atau
sektor bisnis mungkin dapat memberikan wawasan yang Anda mungkin belum
ketahui.

Buat peran masing-masing anggota yang jelas. Apakah setiap orang memiliki hal
yang sama dalam pengambilan keputusan? Apakah satu orang memberikan
otonomi di daerah khusus, dan orang itu anggota penuh juga? Biarkan setiap
orang tahu berapa banyak waktu yang diharapkan dari mereka dalam suatu
pertemuan yang dihadiri dan pekerjaan lainnya. Bahaslah juga setiap proses di
mana anggota baru yang akan diterima dan anggota yang ada akan dihapus dari
kolaborasi ini.

Tulis surat kerjasama. Jangan terburu-buru; Anda akan menghemat waktu dan
meningkatkan efektifitas dengan terlebih dahulu menetapkan sifat dari kerjasama
secara tertulis. Lakukan ini dalam diskusi pada pertemuan pertama Anda.

Berikut adalah element tersebut:


Misi dan tujuan. Ini harus telah ditetapkan, tetapi Anda mungkin perlu untuk
menghabiskan waktu membahas rincian atau kata-kata. Sertakan timeline dan
tonggak gol.

Kepemimpinan dan proses pengambilan keputusan. Ini adalah elemen yang


sangat penting. Setiap orang harus setuju pada siapa yang memiliki peran
kepemimpinan dan apa yang sebenarnya menjadi kekuatan mereka. Termasuk
apakah keputusan yang dibuat oleh konsensus (diskusi sampai tercapai mufakat)
atau sistem lainnya?

Nilai-nilai dan asumsi. Jika seorang anggota organisasi memiliki batasan yang
"tidak ingin dilewati" atau mengasumsikan jalan tertentu dari sebuah aksi yang
akan diikuti, sekarang adalah waktu untuk meresmikannya. Cobalah untuk
mengidentifikasi skenario berisiko bagi setiap kelompok dan mendiskusikan apa
yang harus dilakukan jika salah satunya muncul.

Kebijakan Etika. Jika konflik kepentingan muncul, bagaimana seharusnya


kolaborasi mengatasi masalah itu? Dengan siapa kolaborasi akan masuk ke
dalam sebuah hubungan finansial? Apakah kebijakan masing-masing organisasi
anggota ini berlaku untuk tindakan kolaborasi ini, dan jika tidak, bagaimana Anda
akan menyelesaikan perbedaan.

Menjaga lingkungan kolaboratif. Selamat, Anda telah mempunyai hubungan


kolaborasi yang berjalan. Tentunya pekerjaan masing-masing anggota dan
pekerjaan fasilitator khususnya untuk memastikan kolaborasi tetap sehat.
Gunakan surat Anda sebagai panduan dalam diskusi dan konflik. Diskusikan
kemungkinan perubahan surat dalam tujuan Anda atau perubahan waktu.
Membangun suasana saling percaya. Jika masalah pribadi muncul atau
beberapa orang tidak didengar, modifikasi proses diskusi sehingga setiap orang
memiliki kesempatan untuk berkontribusi dan untuk membahas konflik secara
terbuka. Menetapkan sistem untuk memberikan umpan balik dan menjaga agar
anggota tetap mempertanggungjawabkan peran mereka. Berkomunikasi sesering
mungkin. Merekam semua keputusan yang dibuat dan memberitahu anggota
tidak hadir. Memberikan kesempatan bagi anggota untuk berbicara lebih santai,
lingkungan informal,pada pertemuan.

Kuis

1. teknik pengajaran menulis dengan melibatkan sejawat


untuk saling mengoreksi. Merupakan pengertian kolaborasi
menurut…
a. Alwasillah (2010 :50)
b. Alwasillah (2007 : 50)
c. Alwasillah (2007 : 25)
d. Alwasillah (2010 : 25)

2. Salah satu kelebihan metode kolaborasi adalah …


a. Menanamkan kerjasama dan kolerasi
b. Menanamkan sikap egoism
c. Menanamkan sikap individualis
d. Membiasakan kemandirian

3. Salah satu kelemahan kolaborasi adalah …


a. Tidak memerlukan pengawasan
b. Kecenderungan mencontoh orang lain
c. Sedikit waktu yang digunakan
d. Sulitnya mendapat lawan

KUNCI JAWABAN

BAB I

1. C
2. B
3. C

BAB II

1. A
2. B
3. D
4. B
5. D

BAB III

1. C
2. B
3. C

BAB IV
1. C
2. B
3. B

BAB V

1. D
2. A
3. B

BAB VI

1. A
2. C
3. B

BAB VII

1. D
2. A
3. A
4. C
5. C

BAB VIII

1. C
2. A
3. B