Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN

PADA PASIEN Ny. S DENGAN HAEMORRHAGIC POST PARTUM (HPP)


DI RUANG FLAMBOYAN (VK) RSUD MARDI WALUYO BLITAR

OLEH :
SELLA WINDAYANI
NIM 1712B0049

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
SURYA MITRA HUSADA
KEDIRI
2018
STIKES SURYA MITRA HUSADA KEDIRI
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS
DEPARTEMEN MATERNITAS

LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN PENDAHULUAN HAEMORRHAGIC POST PARTUM (HPP)
DI RUANG FLAMBOYAN (VK) RSUD MARDI WALUYO BLITAR

Blitar, April 2018


Mahasiswa

Sella Windayani
NIM:1712B0049

Di Setujui Oleh:

Pembimbing Akademik Pembimbing Klinik

( ...................................................................) (....................................................................)
LAPORAN PENDAHULUAN HAEMORRHAGIC POST PARTUM (HPP)

A. Definisi
Perdarahan pasca partum adalah perdarahan yang terjadi setelah kelahiran bayi, sebelum,
selama dan sesudah keluarnya plasenta (Harry Oxorn, 2010).
Perdarahan pascapersalinan adalah perdarahan melebihi 500 ml pasca persalinan setelah bayi
lahir (Ambar Dwi, 2010). Perdarahan post partum adalah perdarahan lebih dari 500-600 ml
selama 24 jam setelah anak lahir. Dalam menentukan jumlah perdarahan pada saat
persalinan sulit karena sering bercampurnya darah dengan air ketuban serta rembesan dikain
pada alas tidur.
B. Etiologi
1. Atonia Uteri
2. Retensi Plasenta
3. Sisa Plasenta dan selaput ketuban
a. Pelekatan yang abnormal
b. Tidak ada kelainan perlekatan
4. Trauma jalan lahir
a. Episiotomi yang lebar
b. Lacerasi perineum, vagina, serviks, forniks dan rahim
c. Rupture uteri
5. Penyakit darah
Kelainan pembekuan darah misalnya afibrinogenemia /hipofibrinogenemia. Tanda yang
sering dijumpai:
a. Perdarahan yang banyak
b. Solusio plasenta.
c. Pre eklampsia dan eklampsia.

C. Manifestasi Klinis
Gejala Klinis umum yang terjadi adalah kehilangan darah dalam jumlah yang banyak (>
500 ml), nadi lemah, pucat, lochea berwarna merah, haus, pusing, gelisah, letih, dan dapat
terjadi syok hipovolemik, tekanan darah rendah, ekstremitas dingin, mual. Gejala Klinis
berdasarkan penyebab:
1. Perdarahan post partum akibat Atonia uteri.
Perdarahan post partum dapat terjadi karena terlepasnya sebagian plasenta dari
rahim dan sebagian lagi belum; karena perlukaan pada jalan lahir. Atonia uteri dapat
terjadi karena proses persalinan yang lama; pembesaran rahim yang berlebihan pada
waktu hamil seperti pada hamil kembar atau janin besar; persalinan yang sering
(multiparitas) atau anestesi yang dalam.
Atonia uteri juga dapat terjadi bila ada usaha mengeluarkan plasenta dengan
memijat dan mendorong rahim ke bawah sementara plasenta belum lepas dari rahim.
Perdarahan yang banyak dalam waktu pendek dapat segera diketahui. Tapi bila
perdarahan sedikit dalam waktu lama tanpa disadari penderita telah kehilangan banyak
darah sebelum tampak pucat dan gejala lainnya. Pada perdarahan karena atonia uteri,
rahim membesar dan lembek.
Pada perdarahan yang timbul setelah janin lahir dilakukan upaya penghentian
perdarahan secepat mungkin dan mengatasi akibat perdarahan. Pada perdarahan yang
disebabkan atonia uteri dilakukan tamponade utero vaginal, yaitu dimasukkan tampon
kasa kedalam rahim sampai rongga rahim terisi penuh. Adapun Faktor predisposisi
terjadinya atonia uteri, yaitu umur, partus lama dan partus terlantar.
2. Perdarahan post partum akibat Retensio plasenta.
Retensio plasenta adalah keadaan dimana plasenta belum lahir selama 1 jam setelah
bayi lahir. Penyebab retensio plasenta :
a. Plasenta belum terlepas dari dinding rahim karena melekat dan tumbuh lebih
dalam.
b. Plasenta sudah terlepas dari dinding rahim namun belum keluar karena atonia
uteri
Bila plasenta belum lepas sama sekali tidak akan terjadi perdarahan tetapi bila
sebagian plasenta sudah lepas maka akan terjadi perdarahan. Ini merupakan indikasi
untuk segera mengeluarkannya. Plasenta mungkin pula tidak keluar karena kandung
kemih atau rektum penuh. Oleh karena itu keduanya harus dikosongkan.
3. Perdarahan post partum akibat Subinvolusi.
Subinvolusi adalah kegagalan uterus untuk mengikuti pola normal involusi, dan
keadaan ini merupakan salah satu dari penyebab terumum perdarahan pascapartum.
Biasanya tanda dan gejala subinvolusi tidak tampak, sampai kira-kira 4 hingga 6
minggu pascapartum. Fundus uteri letaknya tetap tinggi di dalam abdomen/ pelvis dari
yang diperkirakan. Keluaran lokhea seringkali gagal berubah dari bentuk rubra ke bntuk
serosa, lalu ke bentuk lokhea alba. Lokhea yang tetap bertahan dalam bentuk rubra
selama lebih dari 2 minggu pasca patum sangatlah perlu dicurigai terjadi kasus
subinvolusi. Jumlah lokhea bisa lebih banyak dari pada yang diperkirakan. Leukore,
sakit punggung, dan lokhea berbau menyengat, bisa terjadi jika ada infeksi. Ibu bisa
juga memiliki riwayat perdarahan yang tidak teratur, atau perdarahan yang berlebihan
setelah kelahiran.
4. Perdarahan post partum akibat Inversio uteri.
Inversio Uteri adalah keadaan dimana fundus uteri terbalik sebagian atau
seluruhnya masuk ke dalam kavum uteri. Uterus dikatakan mengalami inverse jika
bagian dalam menjadi di luar saat melahirkan plasenta.
Reposisi sebaiknya segera dilakukan dengan berjalannya waktu, lingkaran
konstriksi sekitar uterus yang terinversi akan mengecil dan uterus akan terisi darah.
5. Perdarahan post partum akibat Hematoma.
Hematoma terjadi karena kompresi yang kuat disepanjang traktus genitalia, dan
tampak sebagai warna ungu pada mukosa vagina atau perineum. Hematoma yang kecil
diatasi dengan es, analgesik dan pemantauan yang terus menerus. Biasanya hematoma
ini dapat diserap kembali secara alami.
6. Perdarahan post partum akibat laserasi /robekan jalan lahir.
Robekan jalan lahir merupakan penyebab kedua tersering dari perdarahan post
partum. Robekan dapat terjadi bersamaan dengan atonia uteri. Perdarahan post partum
dengan uterus yang berkontraksi baik biasanya disebabkan oleh robekan servik atau
vagina.
D. Patofisiologi
Pada dasarnya perdarahan terjadi karena pembuluh darah didalam uterus masih terbuka.
Pelepasan plasenta memutuskan pembuluh darah dalam stratum spongiosum sehingga sinus
sinus maternalis ditempat insersinya plasenta terbuka.
Pada waktu uterus berkontraksi, pembuluh darah yang terbuka tersebut akan menutup,
kemudian pembuluh darah tersumbat oleh bekuan darah sehingga perdarahan akan terhenti.
Adanya gangguan retraksi dan kontraksi otot uterus, akan menghambat penutupan pembuluh
darah dan menyebabkan perdarahan yang banyak. Keadaan demikian menjadi faktor utama
penyebab perdarahan paska persalinan. Perlukaan yang luas akan menambah perdarahan
seperti robekan servix, vagina dan perinium.
Dalam persalinan pembuluh darah yang ada di uterus melebar untuk meningkatkan
sirkulasi ke sana, atonia uteri dan subinvolusi uterus menyebabkan kontraksi uterus menurun
sehingga pembuluh darah yang melebar tadi tidak menutup sempura sehingga terjadi per
darahan terus menerus. Trauma jalan terakhir seperti epiostomi yang lebar, laserasi
perineum, dan rupture uteri juga menyebabkan perdarahan karena terbukanya pembuluh
darah, penyakit darah pada ibu; misalnya afibrinogemia atau hipofibrinogemia karena tidak
ada kurangnya fibrin untuk membantu proses pembekuan darah juga merupakan penyabab
dari perdarahan dari postpartum. Perdarahan yang sulit dihentikan bisa mendorong pada
keadaan shock hemoragik.
Lepasnya plasenta tidak terjadi bersamaan sehingga sebagian masih melekat pada
tempat implementasinya yang akan menyebabkan terganggunya retraksi dan kontraksi otot
uterus, sehingga sebagian pembuluh darah terbuka serta menimbulkan perdarahan.
Perdarahan placenta rest dapat diterangkan dalam mekanisme yang sama dimana akan
terjadi gangguan pembentukan thrombus di ujung pembuluh darah, sehingga menghambat
terjadinya perdarahan. Pemebentukan epitel akan terganggu sehingga akan menimbulkan
perdarahan berkepanjangan. (I.B.G Manuaba, 2007).
E. PATHWAY
F. Klasifikasi
Perdarahan Post partum diklasifikasikan menjadi 2, yaitu:
1. Early post partum hemorhagic
Early post partum terjadi 24 jam pertama setelah bayi lahir
2. Late post partum hemorhagic
Late post partum terjadi lebih dari 24 jam pertama setelah bayi lahir.perdarahan yang
terjadi antara hari kedua sampai enam minggu paska persalinan.
G. Penatalaksanaan
1. Penatalaksanaan Medis
Terapi Medis yang dapat digunakan
a. Methergine 0,2 mg peroral setiap 4 jam sebanyak 6 dosis. Dukung dengan analgesik
bila terjadi kram.
b. Pitocin 10 - 20 unit dalam 1000 cc cairan IV
c. Methergine 0,2 mg IM bila tidak ada riwayat hipertensi
d. Prostin supositoria pervagina, uterus atau rectum
e. Bila perdarahan terus berlanjut beri Hernabate 1 ampul per IM setiap 5 menit
sebanyak tiga kali. Berikan dosis pertama 10 menit setelah pemberian Prostin (Geri
Morgan, 2009).
2. Penatalaksanaan Keperawatan Penunjang Medis
a. Tekan bagian segmen uterus bagian bawah dan keluarkan bekuan darah
b. Periksa konsistensi uterus
o Bila terjadi atonia, pijat uterus
o Bila tidak ada respon, lakukan kompresi bimanual
o Berikan oksitoksik dan atau ergot, seperti berikut :
 Pitocin 10 - 20 unit dalam 1000 cc cairan IV
 Methergine 0,2 mg IM bila tidak ada riwayat hipertensi
 Prostin supositoria pervagina, uterus, atau rectum
 Bila perdarahan uterus berlanjut berikan Hernabate 1 ampul per IM setiap 5
menit sebanyak tiga kali. Beri dosis pertama 10 menit setelah pemberian
prostin.
 Lanjutkan kompresi bimanual
c. Pantau TTV dan tanda syok
o Bila uterus terus berkontraksi dan perdarahan terus berlanjut, perhatikan
apakah ada laserasi.
 Bila laserasi vagina atau perineum derajat pertama atau kedua, segera
perbaiki
 Bila laserasi serviks atau laserasi vagina atau laserasi perineum
derajat tiga atau empat: jepit perdarahan dan lakukan perbaikan bila
terjadi hemostasis
o Bila terjadi tanda - tanda syok:
 Berikan infuse RL dengan cepat
 Baringkan pasien dengan kaki sedikit dinaikkan
 Berikan oksigen melalui masker
 Jaga pasien agar tetap hangat, beri selimut
 Pantau tanda - tanda vital
o Pada kasus yang ekstrem, pertimbanngkan untuk melakukan hal-hal berikut:
 Injeksi oksitosin secara langsung ke uterus dengan trompet lowa
 Lakukan kompresi aorta
 Lakukan histerektomi atau D&C bila diperlukan
o Penatalaksanaan tindak lanjut
o Lakukan uji hemotokrit :
 Saat 12 jam setelah pelahiran
 Saat 24 jam sesudah pelahiran
 Pertimbangkan pemberian suplemen zat besi ( Geri Morgan, 2009).

H. Komplikasi

Komplikasi perdarahan postpartum adalah


1. Anemia yang dapat memperlemah kondisi klien, menurunkan daya tahan dan menjadi
faktor predisposisi terjadinya infeksi nifas.
2. Kematian akibat kehilangan darah yang tidak dapat ditangani. (Harry Oxorn, 2010)
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian Keperawatan
1. Pengkajian
Identitas klien : Sering terjadi pada ibu usia dibawah 20 tahun dan diatas 35 tahun
2. Riwayat Kesehatan
a. Keluhan utama
Keluhan utama yang sering didapatkan dari klien dengan perdarahan post partum
adalah perdarahan dari jalan lahir, badan lemah, limbung, keluar keringat dingin,
kesulitan nafas, pusing, pandangan berkunang-kunang.
b. Riwayat kehamilan dan persalinan
Riwayat hipertensi dalam kehamilan, preeklamsi / eklamsia, bayi besar, gamelli,
hidroamnion, grandmulti gravida, primimuda, anemia, perdarahan saat hamil.
Persalinan dengan tindakan, robekan jalan lahir, partus precipitatus, partus lama/kasep,
chorioamnionitis, induksi persalinan, manipulasi kala II dan III. (Reza Syahbandi,
2013)
c. Riwayat kesehatan dahulu
Dikaji untuk mengrtahui apakah seorang ibu perah menderita penyakit yang lain yang
menyertai dan bisa memperburuk keadaan atau mempersulit penyambuhan. Seperti
penyakit diabetus mellitus dan jantung (hipertensi)
d. Riwayat kesehatan keluarga
Meliputi penyakit yang diderita pasien dan apakah keluarga pasien ada yang
mempunyai riwayat yang sama

3. Pengkajian Fisik
a. Tanda-tanda vital
 Tekanan darah : Normal/turun ( kurang dari 90-100 mmHg)
 Nadi : Normal/meningkat ( 100-120 x/menit)
 Pernafasan : Normal/ meningkat ( 28-34x/menit )
 Suhu : Normal/ meningkatn
 Kesadaran : Normal / turun (Barbara R.Stright, 2004)
b. Inspeksi
 Inspeksi perineum apakah ada memar, bengkak, dan karakteristik episiotomi
 Kaji karakter lokia, yakni warna, bau dan jumlah
 Pervaginam: keluar darah, robekan
 Inspeksi kaki apakah ada edema atau goresan merah
 Inspeksi payudara adakah area kemerahan
 Inspeksi putting susu apakah ada pecah-pecah, memepuh dan perdarahan( Barbara
R. Stright, 2004)
c. Palpasi
 Palpasi apakah uterus lembek, lokasi dan nyeri tekan
 Palpasi adakah nyeri tekan, hangat, benjolan, dan nyeri pada kaki
 Palpasi payudara untuk memeriksa bengkak, benjolan dan nyeri tekan
 Kulit apakah dingin, berkeringat, kering, hangat, pucat, capilary refil memanjang
 Kandung kemih : distensi, produksi urin menurun/berkurang ( Barbara R. Stright,
2004)
d. Pola pengkajian keluarga
 Aktivitas istirahat : Insomia mungkin teramat.
 Sirkulasi : kehilangan darah selama proses post portum
 Integritas ego : Peka rangsang, takut atau menangis sering terlihat kira-kira 3hari
setelah melahirkan “post portum blues”
 Eliminasi : BAK tidak teratur sampai hari ke 2dan ke 5
 Makan dan cairan : Kehilangan nafsu makan mungkin dikeluhkan kira-kira sampai
hari ke 5
 Persepsi sensori: Tidak ada gerakan dan sensori
 Nyeri dan ketidaknyamanan: Nyeri tekan payudara dan pembesaran dapat terjadi
diantara hari ke 3 sampai hari ke 5 post partum
 Seksualitas:
o Uterus diatas umbilikus pada 12 jam setelah kelahiran menurun satu jari
setiap harinya
o Lochea rubra berlanjut sampai hari ke 2
o Payudara produksi kolostrum 24 jam pertama
4. Pengkajian Psikologis
a. Apakah pasien dalam keadaan stabil
b. Apakah pasien biasanya cemas sebelum persalinan dan masa penyembuhan
5. Pemeriksaan Diagnostik
a. Biakan dan uji sensitivitas (pada luka, drainase atau urine) digunakan untuk
mendiagnosis infeksi
b. Venografi adalah metode yang paling akurat untuk mendiagnosis thrombosis vena
profunda
c. Ultrasonografi Doppler real-time dan Ultrasonografi Doppler berwarna adalah metode
diagnostik untuk mendiagnosis adanya tromboflebitis dan thrombosis.
d. Urinalisis : Memastikan kerusakan kandung kemih
e. Profil koagulasi : Peningkatan degeradasi kadar produk fibrin/ produk spilit fibrin
(SDP/FSP)
f. Sonografi : Menentukan adanya jaringan plasenta yang tertahan. ( Barbara R. Stright,
2004)

B. Diagnosa Keperawatan
1. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan perdarahan pervaginam
2. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan perdarahan pervaginam
3. Nyeri berhubungan dengan terputusnya inkontinuitas jaringan
4. Ansietas berhubungan dengan perubahan keadaan dan ancaman kematian
5. Resiko infeksi berhubungan dengan perdarahan dan prosedur yang kurang steril
6. Resiko syok hipovolemik berhubungan dengan perdarahan

C. Rencana Keperawatan
1. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan perdarahan pervaginam
Tujuan: Mencegah disfungsional bleeding dan memperbaiki volume cairan
Rencana tindakan :

1. Tidurkan pasien dengan posisi kaki lebih tinggi sedangkan badannya tetap terlentang
R/: Dengan kaki lebih tinggi akan meningkatkan venous return dan memungkinkan darah keotak
dan organ lain.
2. Monitor tanda vital
R/: Perubahan tanda vital terjadi bila perdarahan semakin hebat
3. Monitor intake dan output setiap 5-10 menit
R/: Perubahan output merupakan tanda adanya gangguan fungsi ginjal
4. Evaluasi kandung kencing
R/: Kandung kencing yang penuh menghalangi kontraksi uterus
5. Lakukan masage uterus dengan satu tangan serta tangan lainnya diletakan diatas
simpisis
R/: Massage uterus merangsang kontraksi uterus dan membantu pelepasan placenta, satu tangan
diatas simpisis mencegah terjadinya inversio uteri
6. Batasi pemeriksaan vagina dan rectum
R/: Trauma yang terjadi pada daerah vagina serta rektum meningkatkan terjadinya perdarahan
yang lebih hebat, bila terjadi laserasi pada serviks / perineum atau terdapat hematom
7. Bila tekanan darah semakin turun, denyut nadi makin lemah, kecil dan cepat, pasien
merasa mengantuk, perdarahan semakin hebat, segera kolaborasi. Berikan infus atau cairan
intravena
R/: Cairan intravena mencegah terjadinya shock
8. Berikan uterotonika ( bila perdarahan karena atonia uteri )
R/: Uterotonika merangsang kontraksi uterus dan mengontrol perdarahan
9. Berikan antibiotic
R/: Antibiotik mencegah infeksi yang mungkin terjadi karena perdarahan pada subinvolusio
10. Berikan transfusi whole blood ( bila perlu )
R/: Whole blood membantu menormalkan volume cairan tubuh.
2. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan perdarahan pervaginam
Tujuan : Tanda vital dan gas darah dalam batas normal
Rencana keperawatan :

1. Monitor tanda vital tiap 5-10 menit


R/: Perubahan perfusi jaringan menimbulkan perubahan pada tanda vital
2. Catat perubahan warna kuku, mukosa bibir, gusi dan lidah, suhu kulit
R/: Dengan vasokontriksi dan hubungan keorgan vital, sirkulasi di jaingan perifer berkurang
sehingga menimbulkan cyanosis dan suhu kulit yang dingin
3. Kaji ada / tidak adanya produksi ASI
R/: Perfusi yang jelek menghambat produksi prolaktin dimana diperlukan dalam produksi ASI
4. Tindakan kolaborasi :
 Monitor kadar gas darah dan PH ( perubahan kadar gas darah dan PH
merupakan tanda hipoksia jaringan )
 Berikan terapi oksigen (Oksigen diperlukan untuk memaksimalkan
transportasi sirkulasi jaringan)
3. Nyeri berhubungan dengan terputusnya inkontinuitas jaringan
Tujuan: skala nyeripada pasien berkurang
Rencana Tindakan :

1. Pertahankan tirah baring selama fase akut


R/: meminimalkan stimulasi dan mengurangi intensitas nyeri
2. Ajarkan teknik relaksasi nafas dalam atau teknik distraksi
R/: untuk mengurangi intensitas nyeri
3. Hindar atau minimalkan aktivitas yang berat
R/: Aktivitas berat dapat memperparah kondisi dan menyebabkan nyeri bertambah
4. Kolaborasi dengan pemberian analgetik
R/: Menurunkan atau mengontrol nyeri dan menurunkan rangsang sistem saraf simpatis
4. Ansietas berhubungan dengan perubahan keadaan dan ancaman kematian
Tujuan: Klien dapat mengungkapkan secara verbal rasa cemasnya dan mengatakan perasaan
cemas berkurang atau hilang.
Rencana tindakan :

1. Kaji respon psikologis klien terhadap perdarahan paska persalinan


R/: Persepsi klien mempengaruhi intensitas cemasnya
2. Kaji respon fisiologis klien ( takikardia, takipnea, gemetar )
R/: Perubahan tanda vital menimbulkan perubahan pada respon fisiologis
3. Perlakukan pasien secara kalem, empati, serta sikap mendukung
R/: Memberikan dukungan emosi
4. Berikan informasi tentang perawatan dan pengobatan
R/: Informasi yang akurat dapat mengurangi cemas dan takut yang tidak diketahui
5. Bantu klien mengidentifikasi rasa cemasnya
R/: Ungkapan perasaan dapat mengurangi cemas
6. Kaji mekanisme koping yang digunakan klien
R/: Cemas yang berkepanjangan dapat dicegah dengan mekanisme koping yang tepat.
5. Resiko infeksi berhubungan dengan perdarahan dan prosedur yang kurang steril
Tujuan: Tidak terjadi infeksi ( lokea tidak berbau dan TV dalam batas normal )
Rencana tindakan :

1. Catat perubahan tanda vital


R/: Perubahan tanda vital ( suhu ) merupakan indikasi terjadinya infeksi
2. Catat adanya tanda lemas, kedinginan, anoreksia, kontraksi uterus yang lembek, dan
nyeri panggul
R/: Tanda-tanda tersebut merupakan indikasi terjadinya bakterimia, shock yang tidak terdeteksi
3. Monitor involusi uterus dan pengeluaran lochea
R/: Infeksi uterus menghambat involusi dan terjadi pengeluaran lokea yang berkepanjangan
4. Perhatikan kemungkinan infeksi di tempat lain, misalnya infeksi saluran nafas,
mastitis dan saluran kencing
R/: Infeksi di tempat lain memperburuk keadaan
5. Tindakan kolaborasi
 Berikan zat besi ( Anemi memperberat keadaan )
 Beri antibiotika ( Pemberian antibiotika yang tepat diperlukan untuk keadaan
infeksi ).
6. Resiko syok hipovolemik berhubungan dengan perdarahan
Tujuan : tidak terjadi syok dan kondisi klien dalam batas normal
Rencana keperawatan :

1. Monitor tanda vital tiap 5-10 menit


R/: Perubahan perfusi jaringan menimbulkan perubahan pada tanda vital
2. Catat perubahan warna kuku, mukosa bibir, gusi dan lidah, suhu kulit
R/: Dengan vasokontriksi dan hubungan keorgan vital, sirkulasi di jaingan perifer berkurang
sehingga menimbulkan cyanosis dan suhu kulit yang dingin
3. Berikan transfusi whole blood ( bila perlu )
R/: Whole blood membantu menormalkan volume cairan tubuh.

D. Evaluasi Tindakan
Semua tindakan yang dilakukan diharapkan memberikan hasil :

1. Tanda vital dalam batas normal :


1. Tekanan darah : 110/70-120/80 mmHg
2. Denyut nadi : 70-80 x/menit
3. Pernafasan : 20 – 24 x/menit
4. Suhu : 36 – 37 Celcius
2. Kadar Hb : Lebih atau sama dengan 10 g/dl
3. Gas darah dalam batas normal
4. Klien dan keluarganya mengekspresikan bahwa dia mengerti tentang komplikasi dan
pengobatan yang dilakukan
5. Klien dan keluarganya menunjukkan kemampuannya dalam mengungkapkan perasaan
psikologis dan emosinya
6. Klien dapat melakukan aktifitasnya sehari-hari
7. Klien tidak merasa nyeri
8. Klien dapat mengungkapkan secara verbal perasaan cemasnya (Reza Syahbandi, 2013)