Anda di halaman 1dari 30

TESIS

MAGISTER TERAPAN TEKNIK ELEKTRO


Spesialisasi: Teknologi Telekomunikasi dan Informasi

Desain Maximum Power Point


Tracking (MPPT) Pada Sistem Wind
Turbin Menggunakan Metode P&O
dan IC

Oleh:

Arddy Awangga Kusuma

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO


POLITEKNIK NEGERI MALANG
September, 2018
Lembar Pengesahan

Tesis dengan judul Desain Maximum Power Point Tracking (MPPT) Pada
Sistem Wind Turbin Menggunakan Metode P&O dan IC yang disusun oleh
Arddy Awangga Kusuma (NIM:1651180008) adalah untuk memenuhi salah satu
syarat memperoleh gelar Magister Sains Terapan (M.ST) di Politeknik Negeri
Malang.
Tesis telah diuji dihadapan komite ujian Tesis pada tanggal 26 September 2018

Disetujui oleh:

Pembimbing Utama: Dr. Setiawan

NIP: XXXXXXXXX Tanggal TTD

Pembimbing Pendamping: Dr. Hartoko

NIP: XXXXXXXXX Tanggal TTD

Penelaah I: Dr. Rudy

NIP: XXXXXXXXX Tanggal TTD

Penelaah II: Dr. Rahmad

NIP: XXXXXXXXX Tanggal TTD

Mengetahui:

Ketua Jurusan Teknik Elektro Ketua Program Studi MTTE


Supriatna Adi Suwignjo, ST., MT Indrazno Siradjuddin, ST., MT., PhD
NIP: XXXXXXXX NIP: XXXXXXXXXX

i
Pernyataan Hak Cipta Tesis

Saya dengan ini menyatakan bahwa Tesis saya, baik secara keseluruhan maupun
sebagaian adalah bebas dari unsur plagiasi, dan apabila pernyataan ini terbukti tidak
benar maka saya bersedia menerima sanksi sesuai ketentuan yang berlaku dan saya
memberikan hak kepada Politeknik Negeri Malang untuk menyimpan dan
mempublikasikan Tesis saya baik secara keseluruhan maupun sebagian dalam
segala format media publikasi mulai saat ini dan seterusnya, dengan mengikuti
peraturan dan perundang-undangan Hak Cipta Republik Indonesia

Tanggal:

Arddy Awangga Kusuma


NIM: 1651180008

ii
Abstrak

Berkembang pesat energi terbarukan adalah tenaga angin. Pertumbuhan cepat


ini disebabkan oleh fakta bahwa dunia memiliki sumber daya yang besar energi
angin. energi angin diperkirakan telah mampu menekan hingga 10% energi listrik
di dunia. Ketersediaan pasti angin menjadi masalah utama pada energi angin.
Karena sistem tenaga angin, daya dikeluarkan pada sistem tenaga angin bergantung
pada kecepatan angin. Salah satu peneliti mengembangkan metode umum adalah
kontrol maksimum Power Point pelacakan (MPPT). Umumnya, metode MPPT
secara luas dapat digolongkan ke dalam orang-orang yang tidak menggunakan
sensor dan orang-orang yang menggunakan sensor. Metode tanpa sensor melacak
MPP dengan pengawasan kekuatan variasi. Metode menggunakan sensor luas
dibagi menjadi gangguan dan pengamatan (P & O) dan inkremental aliran (IC).
Penggunaan metode P & O tidak memerlukan informasi dan parameter kecepatan
angin angin turbin yang membuatnya lebih efisien dan memiliki harga terendah.
Metode ini memiliki saran sederhana dan pengukuran beberapa parameter. IC
memiliki tingkat kinerja dekat P & O, tetapi pada umumnya biaya implementasi
yang lebih tinggi dibandingkan dengan P & O tidak akan dibenarkan oleh
peningkatan kinerja. Ini kertas, peneliti berarti Bandingkan MPPT metode antara P
& O dan sistem IC. IC dan P & O yang menghasilkan output daya P & o memiliki
tertinggi dari IC yaitu 1050 watt. untuk pada kondisi mulai, kekuatan terkecil
diserap berkendara torsi adalah m N P & O metode yaitu sekitar 25. Tapi nominal
kondisi saat itu, namun, metode P & O tertinggi dalam menyerap kekuatan daripada
N IC yaitu 4 m.

Kata kunci: MPPT, IC dan P&O

iii
Dedikasi

Tesis ini kupersembahkan buat Ayahku dan Ibuku serta saudara-saudaraku yang
telah mensupport aku dari awal hingga tesis ini kelar.

iv
Kata Pengantar
Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas kasih karuniaNya
sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini yang berjudul “Analisis Numerik
Dan Desain Antena L Terbalik Pada Aplikasi Penerima TV UHF” yang
dimaksudkan untuk memenuhi salah satu syarat guna mencapai gelar Master Sains
Terapan (S2). Terselesaikannya penulisan ini tidak terlepas dari bantuan berbagai
pihak. Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih yang tak
terhingga kepada semua pihak yang telah membantu baik dalam proses penelitian
maupun selama penulisan . Ucapan terima kasih ini disampaikan kepada :
1. Bapak Prof. Drs. Langkah Sembiring, M.Sc., Ph.D, selaku dosen
pembimbing 1 yang telah meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan
dan arahan selama penyusunan tesis ini serta atas ilmu yang diberikan
selama masa studi pada Jurusan Elektro Program Studi Magister Terapan
Teknik Elektro, Politeknik Negeri Malang.
2. Ibu Prof. Dr. Ir. Endang S. Rahayu, MS, selaku dosen pembimbing 2 yang
telah meluangkan waktu untuk membimbing dan memberikan semangat
serta motivasi selama penyusunan tesis.
3. Ibu Dr. Rarastoeti Pratiwi, M.Sc., selaku dosen penguji yang telah
meluangkan waktu untuk menguji tesis ini.
Bapak/Ibu dosen yang tidak dapat disebutkan satu per satu atas ilmu yang
telah diberikan selama masa studi.
4. Kedua orang tua ku (Mama dan Papa), Kakak, keluarga di Makassar dan
Toraja atas kepercayaan, kesabaran, dukungan moril dan materi serta
semangat yang tak pernah berhenti sehingga menjadi kekuatanku selama
menyelesaikan tesis ini. Kalian adalah orang yang paling berarti dalam
hidupku.
5. Yohan Jati Waloeyo, atas kesabaran, motivasi dan menemai penulis selama
lembur di Laboratorium. “I am thankful cos I met someone like you”.
6. Sahabat baikku Titin dan keluarga kecilnya, buat dukungan dan
persahabatan yang selalu menemaniku. Thank’s for being my best friend.
7. Teman-teman seperjuangan Program Magister Terapan Teknik Elektro,
Politeknik Negeri Malang angkatan 2016 untuk keceriaan dan kenangannya
serta telah menjadi bagian dalam perjalanan studiku.
8. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu-persatu

Ibarat tiada gading yang tak retak, penulis menyadari bahwa dalam tesis ini masih
terdapat banyak kekurangan. Untuk itu masukan berupa kritik dan saran yang
membangun sangat penulis harapkan.
Akhir kata penulis berharap semoga tesis ini dapat memberikan manfaat bagi
pembaca dan semua pihak.

Malang, Juli 2018

Penulis
v
Daftar Isi
Cover .....................................................................................................................................
Lembar Pengesahan ........................................................................................................... ii
Pernyataan Hak Cipta Tesis ............................................................................................... ii
Abstrak .............................................................................................................................. iiii
Dedikasi .............................................................................................................................. v
Kata Pengantar ................................................................................................................. viv
Daftar Isi .......................................................................................................................... viv
Daftar Tabel ...................................................................................................................... iix
Daftar Gambar ................................................................................................................... x
Nomenklatur ...................................................................................................................... xi
1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ............................................................................................................ 1
1.2 Pokok Permasalahan dan Tujuan Penelitian ............................................................... 3
1.3 Kontribusi Penelitian ................................................................................................... 3
1.4 Organisasi Tesis .......................................................................................................... 4
2. STUDI LITERATUR
2.1 Fundamental Antena ................................................................................................... 5
2.2 Antena Inverted L ....................................................................................................... 6
2.3 Parameter Antena ........................................................................................................ 7
2.3.1 as
3. DESAIN ANTENA INVERTED L UNTUK PENERIMA TV UHF
3.1 Pendahuluan .............................................................................................................. 15
4. PENGARUH PERUBAHAN TINGGI ANTENA
4.1 Pendahuluan .............................................................................................................. 24
5. PERUBAHAN DIMENSI BIDANG KONDUKTOR
5.1 Pendahuluan .............................................................................................................. 31
5.2 Hasil dan Pembahasan............................................................................................... 31
5.3 Kesimpulan ............................................................................................................... 36
Daftar Pustaka ................................................................................................................ 37
Lampiran ........................................................................................................................... 36

vi
vii
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Desain Antena Inverted L Untuk Penerima TV UHF ....................................... 15

viii
Nomenklatur

IBVS Image Based Visual Servoing

MTTE Magister Terapan Teknik Elektro

θ Sudut antara sumbu


γ Intensitas sinar radiasi

ix
1
Pendahuluan

1.1 Latar Belakang


Penggunaan listrik di indonesia terus mengalami peningkatan setiap tahunnya, dari
data Kementerian ESDM, konsumsi listrik Indonesia tahun 2017 mencapai 1.012
Kilowatt per Hour (KWH)/kapita. Hal ini mengalami kenaikan yakni 5,9% [1].
Sedangkan setiap tahunnya, bahan bakar minyak bumi (fosil) Indonesia mengalami
penurunan 10% dan tingkat konsumsi minyak bumi rata-rata naik 6% per tahun[2].
Hal ini menjadikan pemerintah terus mengupayakan untuk mencari solusi dengan
mencari sumber daya lain yang nanti bisa digunakan sebagai energi alternatif.
Setiap tahun energi terbarukan diperkirakan akan mengalami peningkatan.
Berbagai pembangkit listrik terbarukan yang telah hadir yaitu: energi angin, energi
matahari, energi ombak, tenaga air dan kecanggihan sistem berdasarkan hidrogen.
Energi terbarukan yang tumbuh dengan cepat adalah tenaga angin dan telah
memberikan peran penting dalam mengurangi emisi penggunaan energi di seluruh
dunia di Green House Gas [3][4]. Pertumbuhan yang cepat ini disebabkan oleh fakta
bahwa dunia memiliki sumber energi angin yang luar biasa. Energi angin
diperkirakan mampu menekan hingga 10% dari seluruh energi listrik dunia[5].
Energi angin memiliki kelebihan dibandingkan energi matahari, yaitu biaya
instalasi yang lebih rendah dibandingkan dengan energi matahari[6][7].
Negara Indonesia juga menjadi salah satu negara yang memiliki potensi energi
angin yang besar. Salah satu wilayahnya yang berpotensi menghasilkan energi
listrik dari angin hingga lebih dari 200 megawatt (MW) yakni Sidrap dan Jeneponto
di Sulawesi Selatan. Wilayah lain berpotensi menghasilkan energi listrik dari angin
yakni Sukabumi (170 MW), Garut (150 MW), Lebak dan Pandeglang (masing-
masing 150 MW) serta Lombok (100 MW). Wilayah lain yang memiliki potensi
energi angin di bawah 100 MW antara lain, Gunung Kidul (10 MW) dan Bantul (50
MW) di DIY Yogyakarta, Belitung Timur (10 MW), Tanah Laut (90 MW), Selayar
(5 MW), Buton (15 MW), Kupang (20 MW), Timur Tengah Selatan (20 MW),dan
Sumba Timur (3 MW) di Nusa Tenggara Timur serta Ambon (15 MW) Kei Kecil
(5 MW) dan Saumlaki (5 MW) di Ambon[8].
Begitu besar manfaat angin untuk dijadikan sebagai sumber energi alternatif, sisi
lain energi angin juga tidak bisa begitu diharapkan. Hal initerkait ketersediaan
angin yang tidak menentu menjadi isu utama pada energi angin. Karena sistem
tenaga angin, daya yang dikeluarkan pada sistem tenaga angin bergantung pada
kecepatan angin. Itu membuat para peneliti merasa tertantang untuk mencari
metode untuk memaksimalkan daya effiensi pada pembangkit energi angin. Salah
satu metode umum yang dikembangkan peneliti adalah Kontrol Pelacakan Titik

1
Daya Maksimum (MPPT). MPPT adalah metode yang digunakan untuk
mengoptimalkan output daya sebagai pembangkit listrik. MPPT dalam sistem
operasi kecepatan variabel, seperti generator umpan induksi ganda (DFIG) dan
sistem generator sinkron magnet permanen[9].
Umumnya, metode MPPT dapat secara luas diklasifikasikan ke dalam mereka yang
tidak menggunakan sensor dan mereka yang menggunakan sensor. Metode tanpa
sensor melacak MPP dengan memantau variasi daya. Metode menggunakan sensor
secara luas dibagi menjadi gangguan dan observasi (P & O) dan tambahan
konduktansi (IC) [10][11][12]. Metode P & O memiliki algoritma sederhana
sehingga mudah diterapkan pada sistem turbin angin. Penggunaan metode P & O
tidak memerlukan informasi dan parameter turbin angin kecepatan angin sehingga
lebih efisien dan memiliki harga terendah di antara metode yang ada. Metode ini
memiliki umpan balik yang sederhana dan pengukuran beberapa parameter.
Kekurangan metode ini menghasilkan osilasi pada kondisi perubahan siklus tugas
steady state karena konstan [13][14]. IC memiliki tingkat kinerja yang mendekati P
& O, tetapi secara umum biaya implementasi yang lebih tinggi dibandingkan
dengan P & O tidak akan dibenarkan oleh peningkatan kinerja[15] dan metode IC
mencari kekuatan puncak [16]. Pada tesis ini, peneliti membandingkan metode
MPPT antara P & O dan sistem IC. Peneliti berniat ingin membandingkan beberapa
metode MPPT untuk mengetahui jenis MPPT yang memiliki efektivitas terbaik.
Perbandingan ini dengan kinerja yang diketahui dari dua sistem dalam pembangkit
tenaga angin.

1.2 Pokok Permasalahan dan Tujuan Penelitian


Salah satu faktor penghambat dari pemanfaatan energi baru terbarukan pada
pembangkit listrik tenaga angin ialah rancangan sistem pembangkit yang kurang
responsif saat kecepatan berubah-ubah. Metode PSO mampu memberikan respon
yang baik untuk sistem turbin angin dengan kecepatan angin yang berubah-ubah.
Peneliti membandingkan metode MPPT antara P & O dan sistem IC. Peneliti
berniat ingin membandingkan beberapa metode MPPT untuk mengetahui jenis
MPPT yang memiliki efektivitas terbaik. Perbandingan ini dengan kinerja yang
diketahui dari dua sistem dalam pembangkit tenaga angin.

1.3 Kontribusi Penelitian


Menghasilkan sebuah desain MPPT dengan tipe P&O dan IC sehingga diketahui
jenis MPPT yang memiliki efektivitas terbaik dari keduanya. Perbandingan ini
meliputi kinerja yang diketahui dari dua sistem dalam pembangkit tenaga angin.

2
1.4 Organisasi Tesis
BAB 2 Pada bab ini menjelaskan teori sebagai penunjang dalam penelitian.
BAB 3 Menjelaskan pembahasan terhadap perbandingan antara metode MPPT
P&O dan IC
BAB 4 Kesimpulan terhadap hasil penelitian.

3
2
Studi Literatur
2.1. Teori Angin
Tujuan dari turbin angin adalah untuk menangkap energi kinetik yang terkandung
dalam angin dan mengubahnya menjadi energi listrik yang berguna. Energi angin
merupakan penyebab langsung energi surya karena matahari memanaskan atmosfer
tidak sama. Sebagai lapisan udara dapat memiliki suhu yang berbeda, daerah
tekanan atmosfer yang berbeda muncul dan udara mulai bergerak dari tinggi ke
daerah-daerah tekanan rendah menyebabkan fenomena angin. Prosees
pembentukan angin ditunjukkan pada Gambar 2.1

Gambar 2.1. Pembentukan angin perbedaan suhu lokal[17]


Gambar 2.1 menunjukkan pembentukan angin karena perbedaan suhu lokal. Ketika
matahari menyinari tanah, udara akan mengalami panas dan Udara hangat akan naik
karena lebih ringan Kemudian di tempat itu, tekanan akan lebih kecil daripada
tempat yang tidak tersinari, karena tertutup awan, badan air, vegetasi, tidak merata
permukaan seperti pegunungan dan lembah. Menurut fisika , udara akan lebih suka
untuk bergerak dari tekanan tinggi ke tekanan rendah untuk menyeimbangkan
perbedaan, pergerakan udara ini biasanya kita sebut sebagai angin[18]. Fenomena
ini disebut konveksi saat ini.

4
(a) (b)
Gambar 2.2. Perbedaan Turbin Angin Sumbu Horisontal dan Vertikal (a) Sumbu
Vertikal (b) Sumbu Horizontal

2.2. Sistem Konversi Tenaga angin


Peran turbin angin adalah untuk mengekstrak energi dari angin dan mengubahnya
menjadi listrik energi. Ketika angin mengalir di sekitar bilah turbin, hal ini
menciptakan aerodinamis menggerakkan bilah turbin tersebut. Hal ini
menghasilkan torsi pada rotor yang dapat mendorong beban. kekuatan yang
terkandung dalam aliran angin adalah produk dari aliran massa dengan energi
kinetik. dirumuskan sebagai berikut[19]:
1 1
P0  Av. v 2  Av3 (2.1)
2 2
di mana,
- A : Bilah turbin yang menyapu wilayah turbin (m2)
-  : Kepadatan udara (Kg/m)
- v : kecepatan angin (m/s)

Tentu saja, tidak semua kekuatan tersedia yang terkandung dalam aliran dapat
ditangkap dan ditransfer ke generator. Output daya turbin ditentukan oleh koefisien
Daya CP, dimana CP adalah perbandingan antara daya turbin Pt dan daya P0 yang
terkandung dalam aliran udara[19]:
Pt Pt
CP   (2.2)
P0 1
Av3
2
Ekstraksi ini terkena batasan-batasan tertentu yang diwakili oleh batas Betz's yang
merupakan energi maksimum yang memungkinkan untuk mengubah energi kinetik

5
menjadi mekanik energi tanpa ada kerugian[19]. Nilai ini dihitung dalam[20],
menggunakan prinsip-prinsip aerodinamis dan dirumuskan sebagai berikut:
16
C P ,max   0.593 (2.3)
27
Secara umum, sistem turbin angin modern, Koefisien daya maksimum adalah 0,45.
Semakin tinggi koefisien daya, semakin tinggi efisiensi aerodinamis bilah turbin
angin. Bilah dari turbin angin dirancang sedemikian rupa sehingga sistem bekerja
optimal pada perbandingan kecepatan ujung (TSR). Ini adalah perbandigan
kecepatan ujung pisau untuk kecepatan angin:
vtip r
  (2.4)
v v
Dimana,
- r : Jari-jari rotor turbin (m)
- v : Kecepatan sudut poros (rad/s)

Koefisien daya tergantung pada perbandingan kecepatan ujung dan memiliki nilai
maksimal untuk opt tertentu. Turbin angin besar nilai TSR optimal adalah sekitar
6. Seperti turbin juga mampu mengubah sudut pitch pada rotor bilah. Sudut pitch
 mempengaruhi koefisien daya dan diadaptasi oleh controller untuk membatasi
output daya kecepatan angin tinggi. Untuk turbin kecil, kontrol ini ini sering tidak
tersedia karena kompleksitas mekanik dan biaya tambahan. Hubungan CP ,  
dapat ditentukan melalui eksperimen, tetapi ada juga banyak korelasi dalam
literatur berdasarkan kurva pas dari data eksperimental. Korelasi tersebut
tergantung pada aplikasi, tetapi secara global kurva semua memiliki bentuk yang
sama. Contoh seperti CP(  ) kurva ditunjukkan pada Gambar 2.3.

Gambar 2.3. Hubungan antara kekuatan koefisien dan perbandingan kecepatan


ujung.
Sebuah turbin angin hanya dapat beroperasi dalam rentang yang terbatas dari
kecepatan angin. Di bawah angin kecepatan tertentu, dipotong dalam kecepatan vci,
turbin tidak akan mampu memulai karena gesekan statis dan torsi cogging Magnet
6
Generator. Mesin tetap di berdiri dan  adalah nol. Ketika kecepatan angin
meningkat di atas vci, turbin mulai berputar dan sistem menghasilkan listrik. Untuk
beroperasi pada koefisien kekuatan optimal CP,max. mekanisme kontrol turbin harus
mendapatkan di nilai optimal opt . Kecepatan rotor sekarang akan meningkat
secara linear dengan kecepatan angin. Jika angin terlalu kuat dimana kecepatan
angin lebih besar dari kecepatan angin yang ternilai (vnom), kecepatan poros akan
terbatas karena sebaliknya memaksakan sentrifugal akan merusak rotor. Poros
kecepatan akan digelar konstanta pada nilai nominal  nom , yang menghasilkan
batas untuk  yakni :

r nom
 (2.5)
v
Jika kecepatan angin lebih tinggi dari kecepatan potong keluar (vco), maka rotor
diberhenti dari dua (elektrik dan mekanik) untuk tetap berdiri, ini untuk mencegah
kerusakan pada turbin angin karena kelebihan kecepatan. Jika mungkin, juga
nacelle akan berubah sedemikian rupa sehingga rotor tidak lagi menunjuk ke arah
angin. Untuk setiap wilayah kecepatan angin, nilai TSR optimal lain ada yang dapat
ditunjukkan dengan skema dalam Gambar 2.4.

Gambar 2.4. Kontrol strategi untuk TSR dengan fungsi kecepatan angin

2.3. Konversi Energi Listrik


Pada Gambar 2.5. menunjukkan tata letak secara umum dari sistem turbin angin.
Bagian pertama, rotor turbin angin, telah dibahas dalam bagian sebelumnya.
Bagian berikut sangat penting untuk mengkonversi energi mekanik yang disediakan
oleh poros turbin untuk energi listrik. Setiap bagian memiliki kerugian sendiri, yang
menghasilkan dalam global efisiensi pada sistem. Antara rotor dan generator,
pilihan gearbox dapat diinstal yang meningkatkan kecepatan rotor turbin untuk
berbagai kecepatan generator. Kehadiran gearbox tergantung pada jumlah kutub di
generator, yang menentukan kecepatan sinkron. Induksi dan mesin sinkron dapat
digunakan sebagai generator, masing-masing dengan karakteristik tertentu dan
aplikasinya. Generator dapat dihubungkan ke daya converter tergantung pada
7
apakah turbin angin dirancang untuk memutar pada kecepatan tetap atau kecepatan
variabel. Kecepatan tetap turbin adalah sederhana dan murah, tetapi tidak mampu
beroperasi secara terus-menerus pada output daya optimalnya. Dalam variabel
kecepatan turbin, Konverter perubahan kecepatan poros fungsi dari kecepatan angin
untuk menggerakkan turbin angin terus ke titik operasi yang optimal. Selain
efisiensi aerodinamis turbin. Konverter merupakan komponen utama yang sangat
menentukan efisiensi keseluruhan sistem, karena komponen ini yang akan
menentukan operasi titik turbin angin. Converter juga memiliki pengaruh besar
pada efisiensi generator karena akan mengontrol arus stator.

Gambar 2.5Komponen utama dari sistem turbin angin[21].

2.4. Permanent Magnet Synchronous Self Generator


Pada Permanent Magnet Synchronous Self Generator (PMSG) medan magnet yang
diberikan tidak melaui elektromangetik melainkan melaui magnet permanen.
Dalam hal ini fluks medan tetap konstan dan supply untuk mengekstasi kumparan
medan tidak diperlukan begitu pula dengan keberadaan slip ring. Penggunaan
PMSG dalam sistem mesin listrik memiliki beberapa keuntungan sebagai
berikut[22]:
1. Tidak ada energi listrik yang diserap oleh sistem eksitasi medan, dengan
demikian tidak akan ada rugi-rugi eksitasi sehingga efisensi akan meningkat.
2. Torsi dan daya keluaran yang dihasilkan lebih besar dibandingkan dengan
eksitasi elektromagnetik.
3. Respon dinamis yang lebih baik dibanding dengan menggunakn ekesitasi
elektromagnatik, dikarenakan rapat fluks pada air gap lebih tinggi.
4. Rugi-rugi tembaga yang lebih kecil.
5. Acoustic noise kecil.

2.5. Rectifier
Penyerah atau rectifier berfungsi untuk merubah listrik AC mnejadi listrik DC. Hal
ini sangat diperlukan dalam sistem turbin angin mengingant frekuensi listrik AC
keluaran dari sistem sangat berpengaruh oleh kecepatan angin. Semakin besar
kecepatan angin maka frekuensi keluaran juga semakin besar. Oleh karena itu
penyerah akan merubah listrik ac ke dc untuk kemudaian disalurkan ke beban atau
8
diubah kembali menjadi listrik AC dengan frekuensi yang diatur sesui dengan
kebutuhan dengan bantuan inverter [23]. Listrik AC keluaran PMSG akan
disearahkan oleh penyerah diode gelobang penuh tiga fase menggunakan sistem
jembatan dengan enam buah diode. Berikut persamanan (2.6) tegangan rata-rata
(𝑉0) atau DC keluaran penyerah tiga fase yang mana berbading lurus dengan AC
maksimum Vm.

V0  1 2 (2.6)
 3Vm

3 3
 Vm sin (t )d (t ) 
3

 0,955Vm

2.6. Converter DC-DC


Conventer DC-DC atau DC Choper merupakan suatu rangkaian elektronika yang
berfungsi untuk mengkonversi tegangan DC masukan menjadi tegangan DC
keluaran yang dapat divariasikan dengan mengatur duty cycle pada rangkaian
kontrolnya[23]. Komponen yang biasa digunakan untuk menjalankan fungsi
switching adalah tysrsitor, metal oxide semicondoctor fieldd effect transisitr
(MOSFET) dan insulted gate bipolar trassistor (IGBT).

2.7. Buck Converter


DC buck converter dapat mengubah suatu nilai tegangan DC tertentu menejadi
tegangan DC yang lebih rendah[23]. Prinsip kerja DC Choper tipe buck terbagi
menjadi dua yaitu ketika switch MOSFET on dan dioada off arus mengalir dari
sumber menuju induktor sehingga terjadi proses pengisian induktor, kemudian
pemfilteran oleh kapasitor lalu beban dan kembali ke sumber, selanjutnya saat
switch MOSFET off dan dioda on arus tersimpan pada induktor akan dikeluarkan
dan menuju ke beban lalau ke dioda freewheeling dan kembali lagi ke induktor.
Dengan mengatur duty cycle (D) maka bisa dapatkan tegangan keluaran (𝑉out)
dimana nilai tegangan rata-ratanya lebih rendah dibanding tegangan masukan.

Vout  D Vin (2.7)

Dengan nilai:
- D = Duty Cycle
- 𝑉in = Tegangan masuk
- 𝑉𝑜𝑢𝑡 = Tegangan keluaran

9
2.8. Boost Converter
DC chopper tipe boost dapat mengubah suatu nilai tegangan DC tertentu menjadi
tegangn DC yang lebih tinggi[24]. Untuk rangkaian DC choper tipe boost maka
komponen MOSFET berguna sebagai switch-nya. Ketika MOSFET on dan dioda
off maka arus mengalir menuju induktor dan menjadi proses pengisian arus pada
induktor. Selanjunya saat MOSFET off dan dioda on arus yang ada di induktor akan
dikeluarkan. Sehinga arus yang mengalir pada dioda dan beban adalah arus nilai
penjumlahan antara arus pada sumber dan induktor. Pada saat yang bersamaan
terjadi pula proses pengsisan tegangan pada kapasitor sehingga ripple akan
berkurang. Hubungan antara tegangan masukan dan keluaran DC choper tipe boost
dapat digambarkan melalui persamaan berikut:
Vout 1
 (2.8)
Vin 1  D
Sehingga dihasilkan gelombang keluaran dari proses perubahan nilai tegangan
seperti dibawah:

Gambar 2.6. Tegangan keluaran boost converter

10
Dari gambar 2.6 diatas bahwa arus pada beban (IL) akan naik ketika MOSFET
dalam kondisi off dan turun ketika MOSFET kondisi on. Dengan begitu ketika nilai
duty cycle besar maka semakin besar juga tegangan yang dihasilkan boost
converter. Sedangkan nilai tegangan keluaran selalu lebih besar atau sama dengan
tegangan masukan boost converter. Semakin besar nilai duty cycle maka area
berwarna biru muda diatas juga semakin besar.

2.9. Buck Boost Converter


Dapat menghasilkan tegangan keluaran yang lebih rendah atau lebih tinggi daripada
sumbernya. Rangkain kontrol daya penyaklaran akan meberikan sinyal kepada
MOSFET seperti pada gambar. Jika MOSFET on maka arus akan mengalir ke
induktor, energi di induktor ini akan naik. Saat saklar MOSFET off energi di
induktor akan turun dan arus mengalir menuju beban sebagaimana terlihat pada
gambar, dengan cara seperti ini nilai ratarata tegangan keluaran akan sesuai dengan
rasio antara waktu pembukaan dan waktu penutupan saklar. Hal inilah membuat
topologi tersebut dapat membuat nilai rata-rata tegangan keluaran lebih tinggi
maupun lebih rendah daripada tegangan sumbernya[24].
D
Vout   Vin (2.8)
1 D

(1  D) 2
Lmin  R (2.9)
2f

D
C  Vout  (2.8)
Vout R. f

Dimana,
- 𝑉𝑜𝑢𝑡 : Tegangan Keluaran
- 𝐿mn : Induktansi Induktor
- R : Resistansi resisitor (Ω)
- f : Frekuensi
- C : Kapasitas kapasitor (F)
- ∆𝑉𝑜𝑢𝑡 : Ripple tegangan (V)

2.10. Maximum Power Point Tracking


MPPT merupakan suatu metode yang digunakan untuk mengoptimalkan daya
keluaran suatu sistem. Pada sistem turbin angin variabel speed, turbin angin
dimungkinkan untuk beroperasi pada kecepatan yang optimal sebagai fungsi
kecpatan angin. Konverter power electronic dapat mengendalikan kecepatan putar
turbin untuk mendaptkan daya maksimum. yang dimungkinkan dengan
menggunakan algortima MPPT sehingga daya keluaran dari turbin angin dapat
11
optimal. Terdapat metode MPPT yang dapat digunakan dalam rangka mencapai
efesinsi setinggi mungkin sesuai dengan kecepatan angin[21].

12
3
Pembahasan

Gambar 3.1 Arsitektur sistem tenaga angin.

Gambar 3.2 Meningkatkan-Konverter diagram.

Gambar 3.1 menunjukkan angin arsitektur sistem kekuasaan. Generator yang


digunakan adalah jenis magnet permanen sinkron generator (PMSG). PMSG
digabungkan dengan turbin angin yang terhubung ke satu set Penyearah. Perubahan
rectifier Generator AC menjadi DC. Sinyal tegangan DC dan arus yang diperoleh
dan sinyal dihubungkan DC-DC meningkatkan konverter. MPPT fungsi untuk
sinyal kontrol dan penyesuaian dari siklus perpindahan pulse width modulation
(PWM). Meningkatkan Konverter DC-DC terhubung ke beban, dan daya output
sistem adalah diukur. Gambar 3.2 menunjukkan struktur dasar dari meningkatkan
konverter. Ketika beralih "pada", sistem tenaga angin biaya induktor melalui
switch. Ketika beralih "off", sistem tenaga angin rilis induktansi energi untuk beban
melalui dioda. Tegangan output dan saat ini dapat diubah oleh tegangan input yang
berbeda dan arus dengan menyesuaikan rasio kewajiban . Untuk desainnya
ditunjukkan pada Gambar 3.3.

13
(a)

(b)
Gambar 3.3. Arsitektur sistem energi angin () desain bebas-MPPT Controller (b)
desain P & O dan IC Controller.

3.1 Hasil dan Analisa


Penelitian ini menggunakan perangkat lunak 9,0 PSIM untuk membangun
model dan controller sistem tenaga angin. Simulasi dibandingkan MPPT bebas, P
& O dan IC. Tes pertama dengan kecepatan konstan menyesuaikan 12,2 m/s.
berikutnya melakukan perbandingan antara bebas-MPPT, IC dan P & O. Hasil ini
pengujian ditunjukkan pada gambar 9. Pengujian ini dilakukan untuk menganalisis
dan membandingkan metode ketiga dalam kondisi angin kecepatan yang sama.
Spesifikasi desain yang diusulkan ditampilkan pada Tabel 2.

Gambar 9. Perbandingan antara MPPT bebas, IC dan P & O dengan


kecepatan konstan 12,2 m/s.

14
Gambar 10. Menunjukkan karakteristik rotor torsi awal di bebas MPPT, IC
dan IC P & O. menyerap tenaga paling tinggi atas mulai daripada P & O kondisi.
Tetapi pada waktu Kapan nominal kondisi, IC fewest menyerap kekuasaan daripada
P & O. sedangkan pada P & O pada saat memulai proses kondisi menyerap adalah
paling sedikit kekuatan Namun, pada kondisi nominal P & O paling tinggi daya
menyerap.

Gambar 11. Perbandingan hasil output MPPT bebas, IC dan P & O pada
sistem tenaga angin.

Output dari P & O terbesar dibandingkan IC dan bebas MPPT. Tercatat mendekati
1050 watt. Nilai ini adalah output daya terbesar. Sementara output mendekati nilai
500 watt. Jadi output daya dari sistem turbin menggunakan bebas MPPT, IC dan P
& O memperoleh yang nilai P & O adalah daya output tertinggi. Pada bebas MPPT
dihasilkan nilai yang mendekati 200 watt. MPPT bebas memiliki nilai terkecil
daripada metode P & O dan IC.
Tabel 1. Parameter Sistem Tenaga Angin
Wind Generator Wind Turbine
Parameters Value Parameters Value

Power Rating 30 kW Power rating 28 Kw

15
Wind Generator Wind Turbine
Poles 8 Radius 1m

Rs 56 mΩ Gear Ratio 1:1


Base
Ls 1.6 mH rotational 180 rpm
speed

Ld 1.6 mH Ρ 1.205 kg/ m2


Moment of
Moment of inertia 0.02 kg.m2 0.025 kg. m2
inertia

16
4
Kesimpulan
Dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa MPPT kontrol tipe P & O
memiliki hasil output daya lebih besar daripada jenis IC. P & O menghasilkan
output daya yang nilai adalah 1050 watt sementara IC menghasilkan output daya
550 Watts. Perbandingan antara IC dan P & O pada kondisi mulai, pindah torsi pada
daya penyerapan, P & O hasil daya penyerapan terkecil dari IC yang 25 Nm
sementara IC 29 Nm. sedangkan dalam kondisi normal, IC hasil terkecil daya
penyerapan yang IC 3 Nm dan O P & 4.5 Nm.

17
Daftar Pustaka
[1] katadata.com, “Inilah Konsumsi Listrik Nasional,” Katadata, 2016.
[Online]. Available:
https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2018/01/11/inilah-konsumsi-
listrik-nasional.
[2] V. D. Sadewo, “Permasalahan bahan bakar minyak Indonesia,” 2018.
[Online]. Available:
https://blogs.uajy.ac.id/deansadewo24/2014/05/21/permasalahan-bahan-
bakar-minyak-indonesia/.
[3] J. Zhou, “Status and Trends Of New Power Generation Technology.”
[4] C. Paper, F. Ronilaya, and T. State, “-Distribution Systems and Dispersed
Generation - CIGRE SC C6 COLLOQUIUM Yokohama 2013 Frequency
and Voltage Droop Contr ....,” no. April, 2014.
[5] E. Adzic, Z. Ivanovic, M. Adzic, and V. Katic, “Maximum power search in
wind turbine based on fuzzy logic control,” Acta Polytech. Hungarica, vol.
6, no. 1, pp. 131–149, 2009.
[6] E. Koutroulis and K. Kalaitzakis, “Design of a Maximum Power Tracking
System for,” vol. 53, no. 2, pp. 486–494, 2006.
[7] F. Valenciaga, S. Member, P. F. Puleston, and P. E. Battaiotto, “Power
control of a solar / wind generation system without wind measurement : A
passivity / sliding mode approach,” IEEE Trans. Energy Convers., vol. 18,
no. 4, pp. 501–507, 2003.
[8] F. Y. Intan Pratiwi, “Potensi Tenaga Angin di Indonesia Bisa
Dikembangkan,” 2018. [Online]. Available:
https://www.republika.co.id/berita/ekonomi/migas/18/09/21/pfeotv370-
potensi-tenaga-angin-di-indonesia-bisa-dikembangkan.
[9] K. Vigneswaran and P. S. Kumar, “Maximum Power Point Tracking (
MPPT ) Method in Wind Power System,” pp. 680–687, 2016.
[10] K. Shah, V. Gaur, S. Joshi, and N. Patel, “Maximum Power Point Tracking
Methods for Wind and Solar Conversion Systems for Standalone
Generation PSIM based Perturb and Observe Method,” no. April, pp. 46–
54, 2015.
[11] S. M. Raza Kazmi, H. Goto, H.-J. Guo, and O. Ichinokura, “A Novel
Algorithm for Fast and Efficient Speed-Sensorless Maximum Power Point
Tracking in Wind Energy Conversion Systems,” Ind. Electron. IEEE
Trans., vol. 58, no. 1, pp. 29–36, 2011.
[12] D. P. Hohm and M. E. Ropp, “Comparative study of maximum power point
tracking algorithms using an experimental, programmable, maximum
power point tracking test bed,” Photovolt. Spec. Conf. 2000. Conf. Rec.
Twenty-Eighth IEEE, pp. 1699–1702, 2000.
[13] Z. M. Dalala, Z. U. Zahid, W. Yu, Y. Cho, and J. S. Lai, “Design and
analysis of an MPPT technique for small-scale wind energy conversion
systems,” IEEE Trans. Energy Convers., vol. 28, no. 3, pp. 756–767, 2013.
[14] T. Lei, X. Wei, Z. Chengbi, L. Jinhu, and H. Jinwei, “One novel variable
step-size MPPT algorithm for photovoltaic power generation,” IECON
2012 - 38th Annu. Conf. IEEE Ind. Electron. Soc., pp. 5750–5755, 2012.
18
[15] Y. Huang, M. Shen, S. Member, F. Z. Peng, and J. Wang, “Z -Source
Inverter for Residential Photovoltaic Systems,” IEEE Trans. Power
Electron., vol. 21, no. 6, pp. 1776–1782, 2006.
[16] T. Salma and R. Yokeeswaran, “Incremental Conductance Technique for a
Hybrid Wind - Solar Energy System,” vol. 3, no. 5, pp. 2012–2015, 2014.
[17] M. Pidwirny, “Forces Acting to Create Wind,” 2008. [Online]. Available:
http://www.physicalgeography.net/fundamentals/7n.html.
[18] M. Office, “What is wind?,” 2018. [Online]. Available:
https://www.metoffice.gov.uk/learning/wind.
[19] J. F. Manwell, J. G. McGowan, and A. L. Rogers, Wind Energy Explaind:
Theory, Design and Application. 2009.
[20] A. Abdulrazek, “Design and Power Characterization of a Small Wind
Turbine Model in Partial Load,” 2012.
[21] Z. Chen, J. M. Guerrero, F. Blaabjerg, and S. Member, “A Review of the
State of the Art of Power Electronics for Wind Turbines,” IEEE Trans.
Power Electron., vol. 24, no. 8, pp. 1859–1875, 2009.
[22] N. Madani, “Design of a Permanent Magnet Synchronous Generator for a
Vertical Axis Wind Turbine Design of a Permanent Magnet Synchronous
Generator for a Vertical Axis Wind Turbine,” pp. 5–46, 2011.
[23] E. Rogers, “Understanding Buck Power Stages in Switchmode Power
Supplies Application Report,” no. March, p. 36, 1999.
[24] E. Rogers, “Understanding Buck-Boost Power Stages in Switch Mode
Power Supplies,” Power, vol. 18, no. November, pp. 1–32, 2002.

19
Lampiran
asdadd

20