Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN

ANALISIS KEUANGAN

Analisis Aktivitas Investasi

Disusun Oleh :

 Widya Astuti (150810301010)


 Irsa Azizah Afkarina (150810301016)
 Safira Damayanti (150810301026)

Kelompok 4

Kelas B

JURUSAN AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS JEMBER

TAHUN 2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan kesehatan,
kekuatan, dan kesempatan bagi kami sehingga kami dapat menyusun laporan yang berjudul
“Analisis Aktivitas Investasi”. Serta kami ucapkan terimakasih kepada Bapak Dr. Agung Budi
Sulistiyo SE, M.Si, Ak. yang telah membimbing kami dari awal penyusunan sampai
terselesaikannya laporan ini. Dan tak lupa kami ucapkan terima kasih juga kepada teman-teman
serta seluruh pihak yang terlibat dalam pembuatan laporan ini.
Laporan ini berisi tentang penjelasan mengenai definisi aset lancar dan relevansinya
terhadap analisis, manajemen kas dan implikasinya terhadap analisis, piutang, penyisihan piutang
tak tertagih, sekuritas piutang, interpretasi dampak alternatif metode persediaan dalam berbagai
kondisi usaha, konsep aset jangka panjang serta implikasinya terhadap analisis, interpretasi
penilaian dan alokasi biaya aset tetap dan sumber daya alam, penganalisisan aset tak berwujud serta
pengungkapannya.
Kami menyadari masih banyak kekurangan pada laporan ini, dan kami harap kepada dosen
pembimbing dan kepada pembaca sekalian dapat memberikan kritik dan saran yang sifatnya
konstruktif, sehingga dapat menjadi pelajaran bagi kami, dan semoga dapat diperbaiki pada
kesempatan yang lain dan dalam laporan yang lain pula.
Semoga laporan ini berguna untuk menambah wawasan serta pengetahuan bagi para
pembaca dan kami selaku penyusun laporan ini mohon maaf apabila ada kesalahan dalam penulisan
laporan ini. Selanjutnya semoga kami bisa menyusun laporan di waktu lain dengan lebih sempurna.

Jember, Juni 2017

Penulis
TINJAUAN PUSTAKA

Aset (assets) merupakan sumber daya yang dikuasai oleh suatu perusahaan dengan tujuan
menghasilkan laba. Aset dapat digolongkan ke dalam dua kelompok yakni lancar dan tidak lancar.
Aset lancar (current assets) merupakan sumber daya atau klaim atas sumber daya yang dapat
langsung diubah menjadi kas sepanjang siklus operasi perusahaan. Aset jangka panjang, juga
disebut aset tetap atau aset tidak lancar merupakan sumber daya atau klaim atas sumber daya yang
diharapkan dapat memberikan manfaat pada perusahaan selama periode melebihi periode kini. Aset
keuangan (financial Assets) terutama terdiri atas efek (surat berharga atau sekuritas) dan investasi.
Aset operasi (operating assets) terdiri atas sebagian besar aset perusahaan. Aset ini dinilai pada
biayanya dan merupakan aset operasi produktif yang diharapkan memberikan imbal hasil diatas
laba normal.
A. PENGENALAN ASET LANCAR
Asset lancar merupakan sumberdaya atau klaim atas sumberdaya yang langsung dapat diubah
menjadi kas. Asset lancar adalah adalah asset yang diharapkan akan dijual, ditagih atau digunakan
selama satu tahun atau satu siklus operasi, tergantung dari mana yang akan menjadi lebih panjang.
Selisih antara asset lancar dengan kewajiban lancar disebut modal kerja. Perusahaan
memerlukan modal kerja untuk beroperasi dengan efektif, namun modal kerja mahal karena akan
menggunakan investasi yang paling menguntungkan. Banyak perusahaan berusaha meningkatkan
profitabilitas dan arus kas nya dengan mengurangi investasi pada asset lancar melalui metode
seperti pengelolaan penjaminan kredit dan penagihan yang efektif, serta persediaan tepat waktu.
Perusahaan lain berusaha untuk mendanai asset lancar mereka dengan kewajiban lancar, seperti
utang dagang, sebagai usaha mengurangi modal kerja.

1.1 Kas dan Setara Kas


Kas merupakan asset yang paling likuid, mencakup mata uang, deposito
dana, money orders dan cek. Sedangkan setara kas tergolong asset yang sangat lancar,
investasi jangka pendek yang siap dikonversi menjadi kas, dan hampir jatuh tempo
sehingga risiko perubahan harga yang disebabakan pergerakan tingkat bunga minimal.
Kosep likuidasi penting dalam analisis laporan keuangan. Likuiditas berarti
jumlah kas atau setara kas yang dimiliki perusahaan dengan jumlah kas yang dapat
diperoleh dalam waktu singkat. Jumlah asset likuid yang dilaporkan perusahaan pada
neraca sangat beragam. Umumnya perusahaan dalam industri yang dinamis
membutuhkan likuiditas yang lebih tinggi untuk memanfaatkan kesempatan atau untuk
bereaksi terhadap perubahan yang cepat pada lingkungan yang kompetitif.
Selain memeriksa jumlah asset likuid untuk perusahaan, analisis juga harus
mempertimbangkan hal berikut :
1. Sejauh mana setara kas diinvestasikan pada efek ekuitas, perusahaan dapat
mengalami penurunan likuiditas jika nilai pasar dari efek investasi tersebut
turun.
2. Kas dan setara kas sering kali dibutuhkan sebagai saldo kompensasi untuk
mendukung suatu perjanjian pinjaman atau sebagai jaminan hutang.
1.2 Piutang
Piutang merupakan nilai jatuh tempo yang berasal dari penjualan barang atau jasa
atau dari pemberian pinjaman uang. piutang usaha mengacu pada janji lisan untuk
membayar yang perasal dari penjualan produk dan jasa secara kredit. Wesel tagih
mengacu pada janji tertulis untuk membayar. Piutang diklasifikasikan ke dalam asset
lancar jika diharapkan akan direalisasi atau ditagih dalam waktu satu tahun atau satu
siklus operasi, tergantung dari mana yang lebih panjang.
a. Penilaian Piutang
Analisis piutang sangat penting karena dampaknya terhadap posisi asset dan arus
laba yang saling terkait. Realitanya banyak perusahaan yang tidak mampu menagih
semua piutangnya. Kerugian piutang dapat menjadi sangat berarti dan mengurangi
asset lancar serta laba bersih sekarang dan masa depan. Resiko analisis ini adalah
pengalaman masa lalu kurang bisa memprediksi kerugian masa depan, atau mungkin
kita gagal mencerminkan kondisi terkini.
b. Analisis Piutang
Kita harus waspada terhadap insentif manajemen dan auditor dalam melaporkan
laba dan asset. Dengan memperhatikan hal tersebut, terdapat dua pertanyaan penting
dalam analisis piutang.
Resiko kolektabilitas. Manajemen sering kali lebih mementingkan pengalaman
masa lalu karena kondisi ekonomi sulit diprediksi. Analisis harus
mempertimbangkan bahwa meskipun pendekatan dengan rumus untuk menghitung
penyisihan piutang tak tertagih sangat mudah dan praktis, penghitungan ini
mencerminkan penilaian mekanik yang menghasilkan kesalahan. Informasi yang
berguna harus diperoleh dari sumber atau perusahaan lain. Alat analisis untuk
memeriksa kolektabilitas mencakup:
1. Membandingkan presentase piutang terhadap penjualan perusahaan pesaing
dengan perusahaan yang sedang dianalisis.
2. Memeriksa konsentrasi pelangggan-resiko meningkat jika piutang terkosentrasi
pada satu atau sedikit pelanggan.
3. Menghitung menyelidiki tren periode rata-rata kolektabilitas piutang
disbanding dengan syarat kredit pelanggan untuk industri yang bersangkutan.
4. Menentukan bagian piutang yang merupakan pengalihan dari piutang atau
wesel tagih masa lalu.
Keaslian piutang. Pemahaman mengenai praktik industri dan sumber informasi
tambahan digunakan untuk menambah keyakinan. Pelanggan pada industri tertentu
mengembalikan hak untuk mengembalikan barang. Analisis harus
mempertimbangkan hak pengembalian tersebut. Hak pengembalian yang bebas
dapat menurunkan kualitas piutang.
Sekuritisasi piutang. Salah satu masalah analisis penting adalah saat perusahaan
menjual semua atau sebagian piutanganya pada pihak ketiga yang disebut anjak
piutang atau sekuritisasi, piutang dapat dijual dengan ataupun tanpa recourse pada
pembeli jaminan kolektabilitas.
Sekuritisasi piutang sering kali dilakukan dengan menciptakan entitas
bertujuan kusus seperti perwalian pembelian piutang dari perusahaan dan mendanai
pembelian ini melalui penjualan obligasi ke pasar.
Piutang usaha disajikan sebesar jumlah neto setelah dikurangi dengan
penyisihan piutang tidak tertagih, yang diestimasi berdasarkan penelaahan atas
kolektibilitas saldo piutang. Piutang dihapuskan pada saat piutang tersebut
dipastikan tidak akan tertagih.

1.3 Beban Dibayar Dimuka


Beban dibayar dimuka merupakan pembayaran dimuka atas barang atau jasa yang
belum diterima. Beban dibayar dimuka digolongkan ke dalam asset lancar karena
mencerminkan jasa yang diberikan jika tidak ada membutuhkan penggunaan asset
lancar lain.

B. PERSEDIAAN
2.1. Akuntansi Dan Penilaian Persediaan
Persediaan merupakan barang yang dijual dalam aktivitas operasi normal
perusahaan. Pentingnya metode akumulasi biaya dalam penilaian persediaan
disebabakan oleh dampaknya pada laba bersih dan penilaian asset. Metode persediaan
digunakan untuk mengalokasikan biaya barag tersedia untuk dijual pada harga pokok
penjualan atau persediaan akhir.
Persamaan persediaan dapat digunakan untuk memahami arus persediaan. Untuk
perusahaan:
persediaan awal + pembelian bersih – harga pokok penjualan = persediaan akhir.
Persamaan ini menekankan arus biaya dalam perusahaan. Arus ini secara alternatif
dapat dinyatakan pada grafik sebelah kiri.
Biaya persediaan awalnya dicatat pada neraca. Saat persediaan terjual, biaya ini
dipindahkan dari neraca dan mengalir pada laporan laba rugi sebagai harga pokok
penjualan. Biaya tidak dapat berada pada dua tempat yang sama pada waktu bersamaan,
melainkan dapat dicatat pada neraca sebagai beban masa depan, atau diakui saat ini
pada lapiran laba rugi profitabilitas untuk dikaitkan dengan pendapatan penjualan.
Konsep penting akuntansi persediaan adalah arus biaya. Jika seluruh persediaan
diperoleh pada periode terjualnya, maka HPP akan sama dengan biaya pembelian
barang. Namun jika persediaan tersedia pada akhir periode akuntansi, penting untuk
menentukan persediaan mana yang telah terjual dan iaya mana yang tersdia pada neraca.
Arus Biaya Persediaan:
First- in, first-out (FIFO). Metode ini mengasumsikan bahwa yang dibeli
pertama merupakan yang pertama dijual.
Last-in, first-out (LIFO). Metode ini mengasumsikan bahwa yang dibeli terakhir
merupakan yang pertama dijual.

Average Cost (Biaya persediaan rata-rata). Unit dijual tanpa memperhatikan


urutan pembeliannya dan menghitung HPP serta persediaan akhir sebagai rata-rata
tertimbang sederhana.

2.2. Analisis Persediaan


a. Dampak Biaya Persediaan Terhadap Profitabilitas
Laba kotor dapat dipengaruhi oleh pilihan metode penghitungan biaya
perusahaan.
Pada periode dimana harga meningkat, FIFO memberikan laba kotor yang lebih
tinggi dibanding LIFO karena biaya persediaan yang lebih rendah dikaitkan dengan
pendapatan penjualan dengan harga pasar terkini. Hal ini sering dinyatakan sebagai
keuntungan fiktif FIFO karena laba kotor sebenarnya merupakan penjumlahan dari laba
ekonomi dan laba kepemilikan.
Laba ekonomi sesuai dengan jumlah yang terjual dikalikan dengan selisish antara
harga jual dan biaya penggantian persediaan.
Laba kepemilikan merupakan kenaikan biaya penggantian karena persediaan
telah diperoleh dan sama dengan jumlah unit terjual dikalikan dengan selisih biaya
penggantian terkini dengan biaya perolehan awal.
Laba kepemilikan merupakan fungsi dari perpuratan persediaan – berapa lama
persediaan tersimpan- dan tingkat inflasi. Salah satu masalah serius adalah bahwa
keuntungan ini telah hilang selama beberapa dekade terakhir karena inflasi yang lebih
rendah dan pengawasan manajemen atas kuantitas persediaan melalui proses
manufaktur yang lebih baik, serta pengendalian persediaan yang lebih baik pada negara
yang tingkat inflasinya lebih tinggi dibanding Amerika Serikat, keuntungan
kepemilikan FIFO masih menjadi masalah.

b. Dampak Biaya Persediaan Terhadap Neraca


Pada periode harga meningkat, dan dengan asumsi persediaan belum melikuidasi
laporan persediaan lamanya, LIFO melaporkan persediaan akhir pada harga yang jauh
lebih rendah dibandingkan dengan biaya penggantian. Sehingga, neraca perusahan yang
menggunakan LIFO, tidak secara akurat mencerminkan investasi lancar yang dimiliki
perusahaan dalam persediaan.

c. Dampak Biaya Persediaan Terhadap Arus Kas


Peningkatan laba kotor dengan metode FIFO juga menyebabkan laba sebelum
pajak yang lebih tinggi, sehingga menimbulkan utang pajak yang lebih tinggi. Pada
periode ini di mana harga meningkat, perusahaan dapat terjebak pada penguranagan
arus kas karena membeyar pajak yang lebih tinggi dan perlu mengganti persediaan yang
terjual pada biaya penggantian yang lebih tinggi dibandingkan dengan biaya pembelian
awal.
Salah satu alasan digunakannya LIFO adalah pengurangan kewajiban pajak pada
periode harga meningkat. Namun IRS mengharuskan bahwa perusahaan yang
menggunakan LIFO untuk tujuan pajak harus menggunakan metode ini untuk laporan
keuangan. Ini merupakan aturan ketaatan LIFO (LIFO conformity rule).

Perusahaan yang menggunakan biaya persediaan LIFO diharuskan untuk


mengungkapkan jumlah yang akan dilaporkan jika perusahaan menggunakan metode
FIFO. Selisih antara kedua metode ini dinamakan cadangan LIFO. Hal ini dapat
digunakan untuk menghitung jumlah yang akan memengaruhi arus kas kumulatif
maupun periode berjalan karena penggunaan LIFO.

d. Masalah Penilaian Persediaan Lainnya


Likuidasi LIFO. Perusahaan diwajibkan mencatat setiap tingkat biaya sebagai
kelompok npersediaan terpisah. Untuk biaya persediaan LIFO, persediaan akhir
diloaporkan pada biaya pembelian terdahilu yang dapat lebih rendah atau lebih tinggi
secara signifikan dari biaya saat ini. Pada periode harga meningkat
pengurangan kuantitas masalah disebut sebagai likuidasi LIFO menghasilkan
peningkatan pada laba kotor seperti penggunaan pada biaya persediaan FIFO begitu
juga sebaliknya. Dampak likuidasi LIFO dapat dilihat pada catatan kaki persediaan
laporan tahunan. Perusahaan mengindikasikan bahwa pengurangan kuantitas persediaan
menyebabkan penjualan barang yang dicatat dengan biaya masa lalu yang berbeda
dengan biaya sekarang. Seorang analis LIFO harus hati-hati terhadap dampak likuidasi
LIFO pada profitabilitas.
Penyajian Kembali (Restatement) Analisis Dari LIFO ke FIFO. Metode LIFO
merupakan metode yang diharapkan oleh penganalisis, karena laporan laba rugi tidak
membutuhkan penyesuaian besar disebabakan harga pokok penjualan telah mendekati
biaya terkini. Namun metode ini menyebabkan persediaan neraca tidak mencerminkan
harga saat ini-sering kali dinyatakan lebih rendah. Hal ini dapat mengurangi kegunaan
berbagai pengukuran seperti rasio lancar atau rasio perputaran persediaan. Hal ini
menyebabkan kemampuan perusahaan dalam membayar utang terlalu rendah,
perputaran persediaan terlalu tinggi. Untuk mengatasinya, dapat menggunakan teknik
analisis untuk menyesuaikan LIFO agar lebih mendekati situasi performa dengan
mengasumsikan FIFO.
Umumnya saat harga meningkat, laba LIFO lebih kecil pada laba FIFO. Namun,
dampak bersih dari penyajian kembali pada tahun manapun tegantung pada dampak
kombinasi dari perubahan persediaan awal dan akhir serta faktor lain termasuk likuidasi
lapisan LIFO.
Penyajian Kembali (Restatement) Analisis Dari FIFO ke LIFO. Penyesuaian
ini membutuhkan asumsi penting sehingga bisa menimbulkan kesalahan. Laba LIFO
mencakup laba kepemilikan atas persediaan awal.

e. Biaya Persediaan Perusahaan Manufaktur dan Dampak Peningkatan Produksi


Biaya manufaktur terdiri atas tiga komponen :
1. Bahan baku atau bahan mentah – biaya dari bahan dasar yang digunakan untuk
membuat produk.
2. Tenaga kerja – biaya tenaga langsung yang dibutuhkan untuk menyelesaikan
produk jadi.
3. Overhead – biaya tidak langsung pada proses manufaktur.
Overhead sering kali merupakan komponen biaya produk terbesar dan paling sulit
diukur untuk tingkat produksi. Total overhead harus dialokasikan pada seluruh hasil
produksi. Analisis biaya ini harus waspada bahwa alokasi biaya overhead bukan
merupakan ilmu pasti dan sangat tergantung pada asumsi yang digunakan. Jika
peningkatan pada tingkat produksi menyebabkan persediaan akhir meningkat, lebih
banyak biaya overhead yang tinggal di neraca dan profitabilitas meningkat. Kemudian
saat kuantitas persediaan menurun, laporan laba rugi tidak hanya terbebani biaya
overhead periode berjalan tetapi juga biaya overhead perode sebelumnya yang berasal
dari persediaan tahun berjalan, karenanya laba menjadi turun. Oleh karena itu analisi
harus waspada terhadap dampak perubahan tingkat prduksi terhadap laba yang
dilaporkan

f. Biaya Perolehan atau Nilai Pasar, Mana yang Lebih Rendah

Prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum atau valuasi adalah menilai pada
biaya perolehan atau nilai pasar, dinilai dari mana yang lebih rendah (lower of cost or
market - LOCOM). Nilai atau harga pasar (market) dijabarkan sebagai biaya
penggantian terkini melalui pembelian atau reproduksi. Meskipun begitu, nilai pasar
tidak boleh melebihi nilai realisasi bersih atau kurang dari nilai realisasi bersih setelah
dikurangi margin keuntungan normal. Batas atas nilai pasar, atau nilai realisasi bersih,
mencerminkan biaya oenyelesaian dan penyerahan yang terkait dengan penjualan
barang. Batas bawah memastikan bahwa jika nilai persediaan diturunkan dari biaya
perolehan awal menjadi nilai pasar, angka penurunan yang terjadi telah mencakup
realisasi laba kotor normal atas penjualan ayng akan dilakukan.
Biaya (cost) merpakan biaya perolehan persediaan. Biaya ini dihitung dengan
salah satu dari metode biaya persediaan. Misalnya, FIFO, LIFO, atau Biaya Rata-rata.
Analisis persediaan kita harus memperhatikan dampak aturan LOCOM. Saat harga
meningkat, aturan ini cenderung menilai persediaan terlalu rendah tanpa memperhatikan
pilihan metode biaya persediaan. Hal ini akan menekan rasio lancar. Dalam praktik,
beberapa perusahaan dengan sukarela mengungkapkan biaya persediaan terkini,
biasanya pada catatan.

C. PENGENALAN ASET JANGKA PANJANG


Aset jangka panjang merupakan aset yang digunakan untuk menghasilkan penghasilan operasi
atau mengurangi biaya operasi untuk lebih dari satu periode. Asset jangka panjang yang paling
umum adalah asset tetap berwujud seperti bangunan, pabrik dan peralatan. Aset jangka panjang
juga mencakup aset tak berwujud seperti hak paten, merk dagang, copyright, dan goodwill.
3.1. Akuntansi Aset Jangka Panjang

a. Kapitalisasi, Alokasi, dan Penurunan Nilai


Proses akuntansi aset jangka panjang mencakup tiga aktivitas terpisah,
diantaranya kapitalisasi, alokasi, dan penurunan nilai. Kapitalisasi (capitalization)
merupakan proses penangguhan biaya yang terjadi pada periode berjalan, tetapi
manfaatnya diharapkan dapat berlangsung selama beberapa periode di masa depan.
Kapitalisasi ini yang menciptakan akun asset. Alokasi (allocation) merupakan proses
pembebanan biaya tangguhan (aset) secara periodic sepanjang satu atau lebih periode
amnfaat yang diharapkan. Proses alokasi ini dinamakna penyusutan untuk asset
berwujud, amortisasi untuk asset tak berwujud, dan deplesi untuk sumber daya alam.
Penurunan nilai (impairment) merupakan proses penurunan nilai buku asset saat arus
kas yang diharapkan tidak lagi cukup untuk menutupi biaya tersisa yan masih tercatat
pada neraca.
Kapitalisasi Aset jangka panjang diciptakan melalui proses kapitalisasi.
Kapitalisasi berarti menempatkan aset di neraca, bukan membebankan biayanya
dilaporan laba rugi. Untuk aset berwujud (hard asset) seperti Plant Property and
Equiptment (PPE), aset dicatat sesuai nilai perolehan. Sedangkan untuk aset tak
berwujud (soft asset) seperti litbang, iklan, biaya upah, kapitalisasi lebih bermasalah.
Semua aset ini tidak menghasilkan keuntugan di masa depan, meskipun dapat
ditempakan sebagai aset. Konsekuensinya, biaya aset tidak berwujud segera dibiayakan
dan tidak dicatat pada neraca.
Alokasi merupakan pembebanan biaya aset secara periodik sepanjang periode
manfaat yang diharapkan. Alokasi biaya disebut penyusutan (depreciation) jika terkait
dengan aset tetap, amortisasi (amortization) jika digunakan untuk aset tak berwujud,
dan deplesi (depletion) untuk sumber daya alam, ketiga istilah tersebut mengacu pada
alokasi. Alokasi biaya meruoakan proses untuk mengaitkan biaya aset dengan
manfaatnya dan bukan merupakan proses valuasi. Nilai tercatat aset (nilai kapitalisasi
dikurangi alokasi biaya kumulatif) tidak perlu mencerminkan nilai wajar.
Tiga faktor yang menentukan nilai alokasi biaya, yaitu periode manfaat, nilai sisa,
dan metode alokasi.
Penurunan Nilai (Impairment) Jika arus kas yang diharapkan (tidak didiskonto)
lebih kecil dibanding dengan nilai tercatat aset (biaya dikurangi akumulasi penyusutan),
aset perlu diturunkan nilainya dan dinyatakan sebesar nilai pasar wajar (jumlah diskonto
taksiran arus kas). Dampaknya adalah untuk mengurangi nilai tercatat aset pada neraca
dan mengurangi profitabilitas sebesar jumlah yang sama. Ada dua distorsi terkait
dengan penurunan aset, yaitu:
 Bias konservatif mendistorsi valuasi aset jangka panjang karena nilai aset dapat
diturunkan namun tidak dapat dinaikkan
 Pengakuan penurunan nilai aset memiliki dampak temporer besar yang
mendistorsi laba bersih sementara berpotensi untuk meningkatkan kegunaan nilai
aset pada neraca.
3.2. Kapitalisasi Versus Pembebanan
a. Dampak terhadap Laporan Keuangan dan Rasio
Kapitalisasi merupakan bagian penting dari akuntansi modern. Kapitalisasi
mempengaruhi baik laporan keuangan maupun rasionya. Kapitalisasi juga membuat
laba menjadi lebih unggul dibandingkan arus kas sebagai pengukuran kinerja keuangan.

b. Dampak Kapitalisai terhadap Laba


Kapitalisasi memiliki dua dampak terhadap laba. Pertama, kapitalisasi
menangguhkan pengakuan biaya. Sehingga menghasilkan laba yang lebih tinggi selama
periode akuisisi namun laba yang rendah pada periode berikutnya jika dibandingkan
dengan pembebanan biaya. Kedua, kapitalisasi menghasilkan serial perataan laba.

c. Dampak kapitalisasi terhadap Tingkat Pengembalian Investasi

Kapitalisasi mempengaruhi laba maupun basis investasi dari rasio tingkat


pengembalian investasi. Sebaliknya, membebankan biaya aset menghasilkan basis
investasi yang lebih rendah dan meningkatkan fliuktuasi laba. Peningkatan fliktuasi laba
diperbesar dengan digunakannya basis investasi, ayng mengarah pada rasio tingkat
pengembalian yang lebih berfluktuasi dan kurang bermanfaat. Pembebanan juga
menghasilkan bias terhadap pengukuran laba, karena laba dinyatakan terlalu rendah
pada tahun akuisisi dan terlalu tinggi pada tahun-tahun berikutnya.

d. Dampak Kapitalisasi terhadap Rasio Solvabilitas


Biaya aset secara langsung, rasio solvabilitas, seperti rasio utang terhadap ekuitas
mencerminkan kondisi perusahaan yang lebih buruk dari kondisi sebenarnya. Hal ini
terjadi karena pembebanan biaya langsung menyebabkan ekuitas dinyatakan terlalu
rendah untuk perusahaan yang memiliki aset produktif.

e. Dampak Kapitalisasi terhadap Arus Kas Operasi


Ketika biaya aset dibebankan langsung, biaya ini dilaporkan sebagai arus kas
keluar aktivitas operasi. Sebaliknya, jika aset dikapitalisasi, biaya ini dilaporkan sebagai
arus kas keluar aktivitas investasi. Hal ini berarti pembebanan langsung biaya aset akan
menyatakan arus kas keluar operasi yang terlalu tinggi dan arus kas keluar investasi
terlalu rendah pada tahun akuisisi dibandingkan dengan kapitalisasi biaya.

D. ASET TETAP DAN SUMBER DAYA ALAM


Properti, pabrik, dan peralatan (atau aset tetap) merupakan aset berwujud tak lancar yang
digunakan dalam proses menafkur, penjualan, atau jasa untuk menhasilkan pendapat dan arus kas
selama lebih dari satu periode. Oleh karena itu, aset ini memiliki periode manfaat yang diharapkan
(masa manfaat) yang meliputi lebih dari satu periode. Aset ini diperoleh untuk digunakan dalam
aktivitas operasi dan bukan untuk dijual pada aktivitas usaha biasa. Nilai atau potensi jasa yang
dimiliki akan berkurang karena digunakan, dan aset ini biasanya merupakan aset operasi yang
terbesar. Properti terkait dengan biaya real estate: pabrik mengacu pada bangunan dan struktur
operasi: dan peralatan mengacu pada mesin yang digunakan dalam operasi. Properti, pabrik, dan
peralatan disebut juga aset produktif, aset model, dan aset tetap.
4.1. Menilai Aset Tetap dan Sumber Daya Alam
a. Menilai Properti, Pabrik, dan Peraalatan
Biaya ini mencakup beban apapun yang diperlukan agar aset tersebut berada
dalam lokasi dan kondisi siap digunakan atau siap memberikan jasa seperti baiya
angkut, instalasi, pajak, dan biaya pemasangan (set up). Seluruh biaya akuisisi dan
persiapan dikapitalisasi pada saldo akun aset. Alasan digunakan biaya historis terutama
sehubungan dengan objektivitasnya. Penilaian aset tetap dengan biaya historis, jika
diterapkan secara konsisten, biasanya tidak menghasilkan distorsi yang serius. Bagian
ini akan mempertimbangkan beberapa masalah khusus yang akan terjadi saat menilai
aset.

b. Menilai Sumber Daya Alam


Sumber daya alam yang digunakan disebut aset yang dihabiskan (wasting asset),
merupakan hak untuk mengambil atau mengonsumsi sumber daya alam. Juga sering
kali terdapat biaya cukup tinggi untuk menemukan sumber daya yang dikapitalisasi
dalam neraca, dan biaya ini langsung dibebankan saat sumber daya tersebut kemudian
dipindahkan, dikonsumsi, atau dijual. Perusahaan biasanya mengalokasikan biaya
sumber daya alam pada jumlah estimasi unit cadangan yang tersedia.
4.2. Penyusutan
Prinsip dasar penyusutan laba adalah laba yang mendapatkan manfaat dari
penggunaan aset jangka panjang, harus menanggung bagian proporsional dan biaya aset
tersebut. Penyusutan merupakan alikasi biaya bangunan dan peralatan (tanah tidak
disusutkan) sepanjang masa manfaatnya.
Meskipun penambahan kembali dalam laporan arus kas atau nenan non kas,
penyusutan tidak menghasilkan dana bagi penggantian aset. Hal ini merupakan
kesalahan konsep yang umum terjadi. Pendanaan dari biaya modal dicapai melalui
kegiatan arus kas operasi maupun pendanaan.

4.3. Menganalisis Asset Tetap Dan Sumber Daya Alam


Valuasi asset tetap dan sumberdaya alam menekankan objektivitas biaya historis.
Namun, biaya historis tidak relevan dalam menilai asset pengganti. Juga biaya ini tidak
dapat dibandingkan untuk beberapa lapiran keuangan perusahaan, dan tidak terlalu
bermanfaat untuk mengukur biaya kesempatan atau dalam menilai kegunaan alternatif
dana. Dalam periode tingkat dana meningkat, biaya histori mencerminkan daya beli
yang bebeda.
Penilaian nilai asset tetap menjadi sebesar nilai pasar tidak diperbolehkan dalam
akuntansi. Namun, konservatisme mengizinkan adanya penghapusan nilai karena
penurunan nilai yang permanen. Penurunan nilai menghilangkan beban yang terkait
dengan aktivitas operasi pada periode masa depan.
Aturan akuntansi untuk menurunkan nilai asset jangka panjang mewajibkan
perusahaan untuk secara berkala menelaah kejadian atau perubahan kondisi yang
merupakan penurunan nilai. Penurunan asset setelahnya dapat mendistorsi hasil yang
dilaporkan. Jika taksiran arus kas tidak lebih kecil dari nilai yang tercatat asset,
maka nilai asset diturunkan. Kerugian penurunan nilai dihitung sebagai selisish nilai
tercatat asset dengan nilai wajarnya.

E. ASET TAK BERWUJUD


Asset tidak berwujud merupakan hak, istimewa, dan manfaat kepemilikan atau pengendalian.
Dengan karakteristik umum tingginya ketidak pastian masa manfaat dan tidak adanya wujud fisik.
Asset tidak berwujud sering kali tidak dapat dipisahkan dari suatu perusahaan atau segmennya,
masa manfaat yang tidak terhingga, dan mengalami perubahan penilaian yang besar karena kondisi
yang kompetitif.
Terdapat berbedaan penting antar akuntansi asset berwujid dan tak berwujud. Jika perusahaan
menggunakan bahan baku dan tenaga kerja untuk menciptakan asset berwujud, perusahaan akan
mengkapitalisasi biaya dan menyusutkannya sepanjang masa manfaat. Sebaliknya jika perusahaan
menghabisankan uang untuk mengiklankan suatu produk atau melatih agen penjualan perusahaan
tidak dapat mengkapitalisasi biaya ini meskipun terdapat manfaat masa depan.
5.1. Akuntansi Aset Tak Berwujud

a. Asset tak berwujud yang dapat diidentifikasikan merupakan asset tak berwujud
yang dapat diindenifikasi terpisah dan dikaitkan dengan hak tertentu atau
keistimewaaan selama periode manfaat yang terbatas.
b. Asset tidak berwujud yang tidak dapat diidentifikasikan merupakan asset yang
dapat dikembangkan secara internal atau dibeli namun tidak dapat diidentifikasikan
dan sering kali memiliki masa manfaat yang tak terhingga. Misalnya good
will, perusahaan harus membebankan biaya pengembangan, pemeliharaan dan
pemulihan asset tak berwujud saat terjadnya, kecuali goodwill.
c. Amortisasi aset tak berwujud Saat kapitalisasi biaya asset tak berwujud yang dapat
atau tidak dapat diidentifikasi, biaya tersebut selanjutnya harus diamortisasi
sepanjang periode masa manfaat asset. Jangka masa manfaat tergantung pada dari
jenis, kondisi permintaan, situasi kompetitif, hokum, kontrak, aturan atau batasan
ekonomis lainnya. Misalnya, hak paten merupakan hak eksekutif yang diberikan
pemerintah kepada investor selama periode tertentu.
5.2. Menganalisis Aset Tak Berwujud

Analisis sering kali mencurigai asset tak berwujud saat menilai laporan keuangan.
Asset tak berwujud sering kali merupakan salah satu asset berharga yang dimiliki
perusahaan dan sering kali terjadi kesalahan penilaian yang serius. Misalnya, good
will dicatat hanya pada saat akuisisi, sebagian besar good will mungkin terdapat pada
neraca. Namun, sering kali good will tercermin dalam kelebihan laba. Jika kelebihan
laba tidak terbukti, maka good will aik dibeli maupun tidak, hanyalah bernilai kecil atau
bahkan tidak bernilai.

Dalam menganalisis asset tidak berwujud, diperlukan suatu estimasi sendiri


mengenai penilaian asset. Analisis juga harus waspada terhadap komposisi, penilaian,
dan di posisi good will.Good will dihapus jika klebihan laba mendasari eksistensinya
tidak ada lagi.

5.3. Aset Tak Berwujud Tak Tercatat Dan Kontijensi


Salah satu asset penting dalam kategori ini adalah good will yang diciptakan secara
internal. Pengeluaran untuk menciptakan good will sering kali dibebankan saat
terjadinya. Jika good will diciptakan dan dapat dijual dan menghasilkan laba yang lebih
besar, laba saat ini terlalu rendah karena pembebanan penegmbangan.
Salah satu asset tak tercatat yang terkait dengan pembebanan yang terkait dengan
elemen jasa atau ide. Sebagai contoh adalah program televisi yang dicatat sebesar biaya
tersembunyi untuk menghasilkan penghasilan lisensi yang bernilai jutaan.
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. ANALISIS MODAL KERJA, RASIO LANCAR, DAN DEBT to EQUITY

Modal Kerja = Aset Lancar – Liabilitas Lancar

= Rp. 533.900.133.000,00 – Rp. 207.734.690.000,00

= Rp. 326.165.443.000

Rasio Lancar = Aset Lancar / Liabilitas Lancar

= Rp. 533.900.133.000,00 / Rp. 207.734.690.000,00

= 2,57

Debt to Equity Ratio = Debt / Equity

= Rp. 247.587.638.000 / Rp. 557.155.279.000

= 0,44

Pada laporan posisi keuangan atau neraca Sepatu Bata tahun 2016 disajikan jumlah aset lancar
sebesar Rp. 533.900.133.000,00 dan liabilitas lancarnya sebesar Rp. 207.734.690.000,00. Dari data
tersebut dapat diketahui bahwa aset lancar yang dimiliki oleh Sepatu Bata lebih besar dibandingkan
dengan jumlah liabilitas lancarnya, sehingga dapat dapat disimpulkan bahwa kemampuan Sepatu
Bata untuk memenuhi kewajiban atau membayar hutangnya sangat bagus. Sepatu Bata memiliki
aset lancar yang dapat dilikuidasi secara cepat yang kemudian nantinya hasil dari operasi aset lancar
akan digunakan untuk membayar liabilitas lancarnya.

Perhitungan mengenai rasio lancar diperoleh hasil sebesar 2,57 kali yang juga mendukung
pernyataan kami, bahwa dengan besarnya aset lancar yang dimiliki, Sepatu Bata memiliki
kemampuan untuk membayar liabilitas lancarnya.

Dari perhitungan di atas, diketahui bahwa modal kerja yang dimiliki oleh Sepatu Bata juga
besar, bahkan lebih besar modal kerja jika dibandingkan dengan jumlah liabilitas lancarnya yang
juga mengindikasikan bahwa modal kerja yang dimiliki didominasi dari aset lancar perusahaan.
Kami menyimpulkan bahwa perusahaan tidak terlalu bergantung pada hutang lancarnya untuk
membiayai aset lancar mereka.
Debt to Equity Ratio sebesar 0,44 tidak sepenuhnya menunjukkan bahwa Sepatu Bata lebih
banyak memanfaatkan dana dari para investor daripada pinjamannya, karena jumlah saham yang
tersaji dalam laporan posisi keuangan lebih kecil jika dibandingkan dengan pinjamannya. Oleh
karena itu, kami menyimpulkan bahwa persentase penggunaan dana dari pinjaman lebih dominan
dari pada dana dari investor. Jadi, perusahaan lebih megandalkan dana yang diperolehnya dari
pinjaman atau hutangnya.

B. ANALISIS ASET LANCAR


1. Analisis Kas dan Setara Kas
Rasio Kas = Kas dan Setara Kas / Total Aset
= Rp. 5.738.209.000,00 / Rp. 804.742.917.000,00
= 0,71 %

Kas dan Setara Kas yang dimiliki oleh Sepatu Bata adalah sebesar Rp. 5.738.209.000,00.
Setara Kas terdiri dari Kas Kecil, Giro di Bank, dan Setoran Dalam Perjalanan di Bank. Kas dan
Setara Kas yang dimiliki Sepatu Bata tidak digunakan sebagai jaminan atas hutang dan pinjaman
lainnya. Dari perhitungan rasio kas, kita bisa mengetahui persentase kas dan setara kas sebesar
0,71% terhadap total aset sehingga kita bisa melihat posisi kas dan setara kas dalam total aset yang
persentasenya sangat kecil yaitu kurang dari 1% dan aset perusahaan didominasi oleh aset jangka
panjangnya. Sehingga tingkat likuiditas kas dan setara kas sangat kecil. Rasio ini menunjukkan
bahwa kas dan setara kas yang dimiliki perusahaan sangat kecil jika dibandingkan dengan hutang
lancar yang harus segera dilunasi.

2. Analisis Piutang
Rasio Kolektibilitas
PT. Primarindo Asia Infrastructure, Tbk
Rasio Kolektibilitas = Piutang Usaha / Penjualan
= Rp. 15.142.829.214,00 / Rp. 172.109.865.924,00
= 0,088
= 8,8%

PT. Sepatu Bata, Tbk


Rasio Kolektibilitas = Piutang Usaha / Penjualan
= Rp. 31.799.752.000,00 / Rp. 999.802.379.000,00
= 0,032
= 3,2 %

Dari perhitungan rasio kolektibilitas di atas, dapat disimpulkan bahwa piutang PT. Sepatu
Bata, Tbk lebih kecil jika dibandingkan dengan PT. Primarindo Asia Infrastructure, Tbk. Angka
kolektibilitas tersebut menggambarkan profil resiko dari setiap nasabah peminjam, di mana tentu
saja kolektibilitas yang lebih besar (lebih buruk) menggambarkan resiko yang lebih besar. Itu
artinya, resiko yang dimiliki PT. Primarindo Asia Infrastructure, Tbk lebih besar jika dibandingkan
dengan PT. Sepatu Bata, Tbk.

3. Analisis Cadangan Kerugian Piutang Tak Tertagih PT. Sepatu Bata, Tbk.

Pada periode sebelumnya, tahun 2015 jumlah yang dicadangkan untuk penyisihan piutang tak
tertagih adalah Rp. 5.682.672.000,00 kemudian pada tahun 2016 cadangan kerugian piutang tak
tertagih diturunkan menjadi Rp. 5.454.893.000,00 yang kemudian berpengaruh terhadap laba/rugi
perusahaan. Dengan adanya penurunan cadangan kerugian piutang tak tertagih mengakibatkan laba
yang awalnya pada tahun 2015 sebesar Rp. 129.519.446.000,00 menjadi Rp. 42.231.663.000,00
atau mengalami penurunan sebesar 67%. Setelah dikoreksi pada laporan keuangan PT. Sepatu Bata,
Tbk, penurunan yang signifikan ini disebabkan karena adanya kerugian atas pelepasan aset yang
nilainya sangat material. Kemudian, penagihan piutang atau penerimaan kas atas pelunasan piutang
mengalami penurunan sebesar 42,42% padahal saldo piutang pada tahun 2016 mengalami kenaikan
sebesar 12% sehingga seharusnya ketika ada penurunan cadangan kerugian piutang, penerimaan
atas piutang juga ikut meningkat sehingga akan meningkatkan laba. Dengan adanya perbedaan ini,
maka kami menelusuri pada CALK bagian piutang dan menemukan pembagian umur piutang
secara rinci. Pada rincian tersebut, kami melihat bahwa piutang dengan umur lebih dari 90 hari pada
31 Desember 2016 lebih banyak proporsinya jika dibandingkan dengan proporsi piutang dengan
jangka waktu lebih dari 90 hari pada 31 Desember 2015. Jadi, kita bisa mengetahui bahwa dengan
adanya penurunan cadangan kerugian piutang tak tertagih, menyebabkan penurunan penagihan
piutang karena umur piutang yang lebih dari 90 hari lebih banyak proporsinya sehingga munculnya
piutang tak tertagih lebih besar terjadi.

4. Analisis Beban Dibayar Di Muka


Jumlah beban dibayar di muka PT. Sepatu Bata pada tahun 2016 adalah sebesar Rp.
87.304.524.000,00 yang terbagi menjadi sewa dibayar di muka sebesar Rp. 83.647.489.000,00 dan
beban lain-lain yang dibayar di muka sebesar Rp. 3.657.035.000,00. Sewa dibayar di muka dibagi
lagi yaitu lancar sebesar Rp. 56.019.104.000,00 dan tidak lancar sebesar Rp. 31.285.420.000,00.
Sewa dibayar di muka dalam kategori lancar yaitu biaya yang dikeluarkan untuk membayar sewa
yang bersifat pendek atau kurang dari 1 tahun dan yang berada dalam kategori tidak lancar yaitu
biaya yang dikeluarkan untuk membayar sewa jangka panjang.

5. Analisis Persediaan
Perbandingan Persediaan dengan Total Aset
= Persediaan / Total Aset
= Rp. 324.917.517.000,00 / Rp. 804.742.917.000,00
= 40,37%

Biaya Persediaan
Pembelian = HPP - Persediaan 2015 + Persediaan 2016

= Rp. 568.351.159.000,00 - Rp. 282.546.591.000,00 +

Rp. 324.917.517.000,00

= Rp. 610.722.085.000,00

Jadi, selama periode 2016 PT. Sepatu Bata, Tbk melakukan transaksi pembelian bahan baku
sebesar Rp. 610.722.085.000,00 untuk melakukan proses produksi. PT. Sepatu Bata, Tbk juga
menetapkan besarnya biaya persediaan sebesar Rp. 530.208.411.000,00 dan biaya tersebut
dimasukkan dalan Beban Pokok Penjualan yang kemudia dilaporkan dan mempengaruhi besarnya
laba yang diperoleh perusahaan dalam Laporan Laba Rugi tahun 2016. Besarnya biaya persediaan
pada tahun 2016 mengalami penurunan sebesar 9% yang kemudian mempengaruhi peningkatan
laba kotor perusahaan yaitu sebesar 5,7%. Jadi, penurunan biaya persediaan dapat meningkatkan
laba kotor perusahaan, karena beban pokok penjualan sebagai variabel pengurang laba juga
mengalami penurunan.

Persediaan dinilai berdasarkan nilai terendah antara biaya perolehan rata-rata atau nilai
realisasi neto. Biaya perolehan barang dalam proses produksi dan barang jadi termasuk bagian tetap
dan variabel dari beban produksi tak langsung.

C. ANALISIS ASET TIDAK LANCAR


1. Penyusutan
Estimasi Umur Manfaat:
Bangunan = 30 tahun
Mesin, Peralatan, dan Sarana PenunjangToko = 10 – 15 tahun
a. Bangunan
Rata-rata jangkauan waktu total = Nilai kotor aset bangunan / Beban penyusutan
periode berjalan

=Rp. 71.421.606.000,00 / Rp. 1.659.643.750,00

= 43,03 tahun

Umur rata-rata = Akumulasi penyusutan / Beban penyusutan periode berjalan

= Rp. 19.915.725.000,00 / Rp. 1.659.643.750,00

= 12 tahun

Umur sisa rata-rata = Nilai bersih bangunan / Beban penyusutan periode berjalan

= Rp. 51.505.881.000,00 / Rp. 1.659.643.750,00

= 31,03 tahun

b. Mesin, Peralatan, dan Sarana Penunjang Toko

Rata-rata jangkauan waktu total = Nilai kotor aset / Beban penyusutan periode
berjalan

= Rp. 320.908.143.000,00 / Rp.

13.903.211.917,00

= 23,08 tahun

Umur rata-rata = Akumulasi penyusutan / Beban penyusutan periode berjalan

= Rp. 166.838.543.000,00 / Rp. 13.903.211.917,00

= 12 tahun

Umur sisa rata-rata = Nilai bersih bangunan / Beban penyusutan periode berjalan

= Rp. 154.069.600.000,00 / Rp. 13.903.211.917,00

= 11,08 tahun
Bangunan diestimasikan umur manfaatnya selama 30 tahun oleh PT. Sepatu Bata, Tbk namun
ketika dihitung menggunakan rata-rata jangkauan waktu total, bangunan tersebut bisa dimanfaatkan
selama 40,03 tahun. Jadi menurut kami, PT. Sepatu Bata, Tbk kurang tepat dalam membuat
estimasi mengenai umur manfaat bangunan, sehingga yang seharusnya bangunan dapat
dimanfaatkan selama 40,03 tahun diestimasikan hanya bisa dimanfaatkan selama 30 tahun.
Kesalahan estimasi tersebut, kemudian akan berdampak pada laba perusahaan, karena semakin
singkat umur masa manfaat maka semakin besar beban penyusutan aset tersebut dan beban yang
besar tersebut dapat mengurangi laba. Jika perusahaan mengikuti perhitungan rata-rata jangkauan
waktu total maka beban penyusutan tentunya akan menjadi lebih kecil dan ketika beban tersebut
menjadi variabel pengurang laba tidak akan sebesar jika umur manfaatnya sesuai dengan estimasi
perusahaan. Tetapi, mungkin perusahaan mengambil kebijakan untuk menentukan umur masa
manfaat bangunan ini lebih singkat dari pada rata-rata jangkauannya adalah untuk alasan pajak,
karena semakin kecil laba maka pajak yang terutang atau yang harus dibayar juga akan semakin
kecil.