Anda di halaman 1dari 5

Tasbih Cinta Dokter Solehah

“Qabiltu nikaha wataswijaha linasfi bi mahril madzkur haalan, ala manhaji


kitabillah wa sunnati Rasulillah!” Saya terima nikah dan kawin dia untuk diriku
dengan mahar yang telah disebut tadi kontan, di atas manhaj kitab Allah dan sunnah
Rasulullah.

Subhanallah… Walhamdulillah… Walaillahailallah… Wallahu Akbar… gemuruh


takbir di dalam hati ini membuncah penuh kebahagiaan yang luar biasa. Ijab Kabul
telah ia ucapkan dengan lantang. Ketika Kyai Hasan memimpin doa barakah untuk
kami, kupejamkan mata ini penuh khusyuk.
“Barakallahu laka wa baraka alaika wa jama’a bainakuma fi khair” Semoga berkah Allah
tetap keatasmu dan semoga Allah mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan. (HR.
Imam Tirmidzi, Abu Daud dan Ahmad)

Sambil mengamini, airmata yang sudah sejak tadi ada ditepi pelupuk mata,
tumpah.. Maha Suci Allah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Mulai detik ini, aku
bukan mahasiswi kedokteran yang biasa. Aku sekarang seorang istri dari seorang
ikhwan yg sholeh. Welcome my new world! Sungguh senyum merekah ini tak bisa
ditahan lagi. Aku sungguh bahagia. Dia berbalik menatapku aku pun dengan malu-
malu menatap wajahnya yang telah memberiku senyum simpul yang begitu manis. Aku
benar-benar bahagia.

Masih teringat jelas dalam memori ingatanku, hati ini sungguh bimbang.
Bimbang untuk mengambil keputusan menikah. Kala itu, ada seorang ikhwan sholeh
yang mengkhitbahku untuk menjadi teman hidupnya. Aku sudah lama mengenalnya.
Aku tahu betul tinggi ilmu agamanya, kesholehannya, keluarganya yang begitu Islami,
kecerdasan akademiknya, begitu banyak aktif di berbagai organisasi tingkat sekolah dan
nasional, bahkan dia sudah menyandang gelar hafidz ketika duduk dibangku SMA.
Meskipun aku begitu kagum padanya dan memendam rasa yang sama, tapi sungguh
amat sulit bagiku. Karena yang ada dibenakku, aku pasti tidak akan bisa lagi
berorganisasi, tidak bisa lagi focus belajar demi akademikku yang gemilang di fakultas
kedokteran, tidak bisa lagi berdakwah memberi kajian mentoring seperti biasa. Pasti
hanya terkunci dalam peraturan suami. Pasti seusai kuliah langsung pulang, memasak,
mencuci dan pekerjaan rumah tangga yang lain. Itu-itu saja. Tanpa bisa
mengembangkan diri seperti sebelum menikah.
Berbagai perang pemikiran berkecamuk dalam pikiranku. Aku pernah dengar seorang
seniorku di SMA. Dia seorang akhwat sholeha, kemudian memutuskan menikah ketika
menginjak semester 4, sama sepertiku. Dia tempat aku bertanya banyak hal. Dia juga
seorang murobi, sama sepertiku. Tapi setelah dia menikah, aku tak pernah
menemukannya lagi di serambi masjid Tanwirul ‘Ilmi di SMA kami seperti biasa setelah
kami memberikan materi mentoring kepada adik-adik kami. Atau di serambi masjid
Syuhada biasanya dia berbagi ilmu Qira’ahnya denganku. Ternyata dia tak lagi mengisi
kajian mentoring seusai menikah. Ada juga seorang mahasiswi kedokteran yang
menikah pada semester 7, kini sudah memiliki 3 anak yang masih sangat kecil.
Terdengar bahwa kuliahnya terbengkalai, sudah beberapa tahun ini tetapi kabarnya ia
belum juga lulus. Begitu banyak realita yang ada mengabarkan seperti itu, membuat
hati kecilku ciut untuk meneruskan niat ini, membuat hatiku menjadi keras, membuat
pikiranku terpaku pada kelulusan dan mengesampingkan sunnah Rasul-Nya ini.

Ternyata semua paradigmaku itu salah total. Realita yang kutemukan justru
sebaliknya. Kini, setiap malam, di waktu rasa malas datang, ada seseorang yang selalu
memberikan pelukan mesra untuk menambah semangat belajar. Juga dalam hal
organisasi, yang tadinya aku pikir akan serba terbengkalai dan tidak bisa lagi aktif, justru
sebaliknya. Aku jadi punya partner diskusi tentang organisasi yang aku ikuti dan
hasilnya? Subhanallah… justru lebih tertata, lebih mudah dijalankan dan lebih seru.
Betapa tidak? Dia sudah sangat berpengalaman dalam berbagai organisasi. Dia selalu
menjabat posisi penting di setiap organisasi yang ia tekuni. Mulai dari ROHIS, ia tak
hanya jadi ketuanya, tapi ketua Forum Antar Rohis se-Kabupaten daerah di SMA-nya
dulu. Di TONTI (Peleton Inti), dia bahkan menjabat sebagai komandan peleton atau
danton sekaligus sebagai ketuanya. Di OSIS, dia menjabat sebagai sekretaris. Di luar
sekolahnya, dia menjadi sekretaris redaksi sebuah majalah Islami, kemudian menjadi
wakil dari Forum anti narkoba di daerah sekolahnya. Kini, di Universitasnya, ia aktif di
Rohis Fakultasnya dan BEM. Dia selalu memberikan masukan untukku dalam
mengemban setiap amanah dalam berorganisasi. Dia juga sering menawarkan diri
mengantarku mencari segala hal menyangkut kepanitiaan yang aku ikuti.

Tak hanya itu, kami saling memberi semangat satu sama lain ketika salah satu
diantara kami merasa capek atau jenuh dalam kuliah atau organisasi. Sungguh indah
yang kami rasakan. Begitu pula dalam dakwah, yang tadinya aku pikir tidak akan bisa
lagi memberi kajian mentoring pada adik-adik tercintaku, tapi justru sebaliknya. Kini,
selalu ada yang mengantarkku menuju tempat mentoring. Sementara aku memberi
kajian mentoring, dia menungguku dengan setia sambil duduk di beranda masjid untuk
sholat sunnah dan tilawah Al-Qur’an hingga aku selesai memberikan materi. Benar-
benar suami idaman. Alhamdulillah. Cinta yang dibangun dalam kesucian pernikahan
sungguh indah dirasa. Begitu membuncah dalam dada. Keromantisannya pun terlihat
dan benar-benar membuatku meleleh. Tak pernah terpikir olehku, dia yang dulu begitu
kaku menghadapiku, selalu menundukkan pandangan, menelungkupkan tangan ketika
hendak berjabat, kini begitu lembut tutur katanya. Penuh mesra membimbingku setiap
harinya. Senyum manisnya selalu mengembang ketika menatapku, membuat degup
jantungku ini begitu cepat, dibalut rasa cinta yang luar biasa.

Kala itu, setelah walimatul ‘ursy diadakan di gedung Kahar Muzakir Universitas
Islam Indonesia, aku langsung diboyong ke rumah kami. Di rumah kami itulah rajut-rajut
cinta kami bangun penuh rasa syukur kehadirat-Nya. Di waktu sepertiga malam yang
terakhir, kini, aku tak lagi sendiri bermunajat kepadaNya. Ada sang imam yang turut
dalam belaian kasih sayang-Nya itu. Waktu itu, seusai sholat, aku mencium tangannya,
lama sekali tak kulepas. Aku larut dalam isak haru memiliki suami sepertinya. Suami yang
begitu sholeh, hafal qur’an, dari keluarga yang begitu Islami, begitu romantis, begitu
penuh kasih sayang, begitu perhatian, begitu sabar, cerdas akademik dan
organisasinya, dan penuh cinta.

Dia mengangkat kepalaku dengan lembut, memberi senyum manis lalu berkata
“Kenapa sayang?” ujarnya sambil menghapus airmataku dengan suara yang begitu lirih,
membuatku meleleh.

Aku tersenyum dan berkata “ Aku sungguh beruntung memilikimu, Mas”. Dia dekatkan
wajahnya ke wajahku, menatap bola mataku, lalu dengan penuh lembut ia berkata
“Dan tak ada ikhwan yang jauh lebih beruntung didunia ini selain aku yang memiliki
bidadari sepertimu. Seorang calon dokter sholeha, dari keluarga yang terpandang,
seorang aktivis dakwah yang mau mengorbankan masa mudanya bersamaku,
melabuhkan segenap cintanya untuk mengarungi bahtera hidup, berjihad bersamaku,
menerimaku apa adanya, menemani setiap hembusan nafasku hingga nafas yang
terakhir. Sungguh hanya engkau istriku, yang kelak menjadi ratu bidadari surgawi
bagiku, yang membuat iri bidadari surga yang lain”. Airmataku meleleh tak mau henti.
Nikmat Rabb-Mu yang manakah yang kau dustakan?
Dia begitu sabar menghadapiku, mendampingi setiap tapak langkah hidupku,
menemani setiap tangis dan tawaku, mendorong setiap ikhtiar akademikku. Hingga hari
yang benar-benar kunanti tiba… Aku kenakan jas putih kebanggaanku dan dengan
lantang bersama-sama mengikrarkan…

SUMPAH DOKTER MUSLIM

Saya Bersumpah Dengan Nama Allah yang Maha Besar :


1. Mengingat Allah dalam menjalankan profesi saya.

2. Melindungi jiwa manusia dalam semua tahap dan semua keadaan.


3. Melakukan semampu mungkin untuk menyelamatkan dari kematian, penyakit dan
kecemasan.

4. Memelihara kemuliaan manusia, menutupi pribadinya dan menyimpan rahasianya.


5. Dalam segala hal menjadi alat dari rahmat Allah, memberikan perawatan kedokteran
pada yang dekat dan yang jauh, yang saat dan yang berdosa, serta teman maupun
lawan.
6. Berjuang mengejar ilmu dan mempergunakannya untuk keuntungan bukan aniaya
bagi manusia.
7. Menghormati guru saya dan mengajari sejawat saya yang masih muda dan
menjadikan saudara bagi setiap anggota profesi kedokteran yang bersatu dalam
kesucian amal.
8. Memelihara kepercayaan saya dalam beribadah dan dalam masyarakat, menghindari
dari segala yang dapat menodai saya di mata Allah, NabiNya dan orang yang seaqidah
dengan saya. Allah menjadi saksi terhadap sumpah saya ini.

Subhanallah… Walhamdulillah…
Betapa indah yang kulalui semenjak memutuskan untuk menikah. Segala hal yang aku
anggap akan berubah menjadi tidak enak justru menjadi luar biasa. Aku masih bisa
berorganisasi bahkan selalu dibantu dan didukung sang suami. Aku masih bisa
berdakwah, menjalankan tugasku sebagai muslimah, bahkan dia pun tak pernah absen
mengantarku dalam berjihad dijalan-Nya itu. Aku masih bisa terus berprestasi dalam
akademik bahkan aku bisa menyelesaikan study dengan baik dan tepat waktu dengan
hasil yang memuaskan. Karena sejak awal, aku tak ingin jadi dokter biasa. Aku ingin jadi
dokter yang luar biasa. Tak hanya dokter yang cemerlang ilmu medisnya, tapi juga
gemilang dalam akhlak dan dakwah-Nya.

Terimakasih Ya Rabbi.. ya Rahman.. ya Rahim..


Karena limpahan rahmat dan rizki-Mu, aku memiliki suami yang begitu sholeh…

Segala Puji hanya bagi-Mu Ya Rabb… yang telah melimpahkan begitu banyak cinta
untuk kami…
Kumpulkan kami di Jannah-Mu yang terindah ya Rabb-ku…
Jadikan hamba Sholehah untuk suami.. dan buah hati kami… Yang tercinta…

Created By: Ai’dh Arriny