Anda di halaman 1dari 17

KATA PENGANTAR

Om Swastyastu

Puji syukur senantiasa penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa.
Atas segala rahmat, petunjuk, dan karunia-Nya, akhirnya makalah ini dapat
penulis selesaikan dengan baik.

Adapun tujuan penulis dalam menyusun makalah ini adalah untuk


memaparkan “Kasus Kegawatdaruratan ARDS atau Acute Respiratory Distress
Syndrome”. Makalah ini juga penulis susun sebagai bukti fisik proses
pembelajaran khususnya mata kuliah Askep Gadar 1.

Dalam penyusunan makalah ini, penulis juga dibantu oleh berbagai pihak
dan dorongan dari orang-orang terdekat penulis seperti dosen pembimbing,
teman-teman, serta orang tua. Untuk itu, penulis menyampaikan terima kasih
kepada semua pihak yang telah mendukung sehingga makalah ini dapat penulis
selesaikan tepat waktu.

Penulis menyadari, bahwa dalam penulisan makalah ini jauh dari


kesempurnaan, sesuai dengan peribahasa “Tiada Gading Yang Tak Retak”. Oleh
karena itu, saran dan kritik yang membangun dengan cara yang benar dari
pembaca sangat penulis harapkan.

Om Santih, Santih, Santih Om

Denpasar, 31 Agustus 2018

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................. i

DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii

BAB I ...................................................................................................................... 1

PENDAHULUAN .................................................................................................. 1

1.1 Latar Belakang ......................................................................................... 1

1.2 Rumusan Masalah .................................................................................... 2

1.3 Tujuan ....................................................................................................... 2

BAB II ..................................................................................................................... 3

PEMBAHASAN ..................................................................................................... 3

2.1 Konsep Dasar ARDS (Acute Respiratory Distress Syndrome) ............... 3

2.1.1 Definisi Partus ARDS ....................................................................... 3

2.1.2 Etiologi ARDS .................................................................................. 3

2.1.3 Manifestasi Klinis ARDS.................................................................. 4

2.1.4 Klasifikasi ARDS .............................................................................. 4

2.1.5 Pathway ARDS ................................................................................. 5

2.1.6 Pemeriksaan Diagnostik ARDS ........................................................ 5

2.1.7 Penatalaksanaan Medis ARDS .......................................................... 6

2.1.8 Komplikasi ARDS ............................................................................ 7

2.2 Konsep Dasar Asuhan Keperawatan ARDS ............................................ 8

2.2.1 Pengkajian ARDS ............................................................................. 8

2.2.2 Diagnosa Keperawatan ARDS .......................................................... 9

2.2.3 Intervensi Keperawatan ARDS ......................................................... 9

2.2.4 Implementasi Keperawatan ARDS ................................................... 9

ii
2.2.5 Evaluasi Keperawatan ARDS ......................................................... 11

BAB III ................................................................................................................. 12

PENUTUP ............................................................................................................. 12

3.1 Kesimpulan .................................................................................................. 12

3.2 Saran ............................................................................................................ 12

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 13

iii
iv
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

ARDS Acute Respiratory Distress Syndrome adalah keadaan darurat medis


yang dipicu oleh berbagai proses akut yang berhubungan langsung ataupun
tidak langsung dengan kerusakan paru.( Aryanto,2006)

ARDS pertama kali digambarkan sebagai sindrom klinis pada tahun


1967.Diperkirakan ada 150.000 orang yang menderita ARDS tiap tahunnya
dan laju mortalitas tergantung pada etiologi dan sangat bervariasi.Tingkat
mortilitasnya 50 %.Sepsis sistemik merupakan penyebab ARDS terbesar
sekitar 50%, trauma 15 %, cardiopulmonary baypass 15 %, viral pneumoni 10
% dan injeksi obat 5 %.

Dari hasil survei, di Indonesia ARDS kurang lebih 150.000 sampai 200.000
pasien tiap tahun, dengan laju mortalitas 65% untuk semua pasien yang
mengalami ARDS. Faktor resiko menonjol adalah sepsis.Kondisi pencetus lain
termasuk trauma mayor, KID, tranfusi darah, aspirasi tenggelam, inhalasi asap
atau kimia, gangguan metabolik toksik, pankreatitis, eklamsia, dan kelebihan
dosis obat. Perawatan akut secara khusus menangani perawatan kritis dengan
intubasi dan ventilasimekanik (Doenges, 1999).

Langkah-langkah pendukung dalam penatalaksanaan ARDS meliputi


perhatian terhadap keseimbangan cairan, strategi transfusi restriktif, dan
minimalisasi obat penenang dan obat penghambat
neuromuskular.Bronkodilator inhalasi seperti nitrat oksida inhalasi dan
prostaglandin memberikan perbaikan jangka pendek tanpa efek yang terbukti
pada kelangsungan hidup, tetapi saat ini digunakan di banyak
pusat.Penggunaan kortikosteroid juga penting, dan penggunaan tepat waktu
yang tepat dapat mengurangi angka kematian

1
Metode oksigenasi sangat berguna sebagai terapi penyelamatan pada pasien
dengan hipoksemia yang sulit dipecahkan, meskipun manfaat kelangsungan
hidup belum, sampai saat ini telah ditunjukkan. Meskipun penelitian yang
sedang berlangsung intens pada patofisiologi dan pengobatan ARDS, angka
kematian tetap tinggi. Banyak farmakologis dan strategi yang mendukung telah
menunjukkan hasil yang menjanjikan, tetapi data dari uji klinis acak besar
diperlukan untuk sepenuhnya mengevaluasi efektivitas terapi ini.

Oleh karena itu,penanganan ARDS sangat memerlukan tindakan khusus


dari perawat untuk mencegah memburuknya kondisi kesehatan klien.Hal
tersebut dikarenakan klien yang mengalami ARDS dalam kondisi gawat yang
dapat mengancam jiwa klien.Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis,
membahas Asuhan Keperawatan Kegawatdaruratan pada pasien dengan
ARDS.

1.2 Rumusan Masalah

1.2.1 Bagaimanakah Konsep Dasar ARDS ?


1.2.2 Bagaimanakah Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Gawat Darurat
ARDS?

1.3 Tujuan

1.3.1 Untuk mengetahui Konsep Dasar ARDS


1.3.2 Untuk mengetahui Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Gawat Darurat
ARDS

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Konsep Dasar ARDS (Acute Respiratory Distress Syndrome)

2.1.1 Definisi Partus ARDS

Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) adalah terjadinya luka atau


inflamasi paru yang bersifat akut dan difus, yang mengakibatkan peningkatan
permeabilitas vaskular paru, peningkatan tahanan paru, dan hilangnya
jaringan paru yang berisi udara, dengan hipoksemia dan opasitas bilateral
pada pencitraan, yang dihubungkan dengan peningkatan shunting,
peningkatan dead space fisiologis, dan berkurangnya compliance paru
(Darmanto, 2007)

2.1.2 Etiologi ARDS

Menurut Darmanto (2007), etiologi atau penyebab ARDS Acute


Respiratory Distress Syndrome dapat dibagi menjadi dua faktor diantaranya :

1. Faktor Langsung

a. Pneumonia

b. Aspirasi isi lambung

c. Trauma Inhalasi

d. Vaskulitis paru

e. Kontusio paru

f. Tenggelam

2. Faktor tidak langsung

a. Sepsis non pulmonal

b. Trauma mayor

c. Luka Bakar berat

3
d. Overdosis obat

e. Tranfusi ( transfusion associated lung injury /TRALI )

2.1.3 Manifestasi Klinis ARDS

1. Fase eksudatif

Terjadi dalam 7 hari pertama ARDS, pada fase ini sel endotel
kapiler alveolar dan pneumosit tipe 1 rusak, sehingga barrier
alveolar rusak.Pasien masih mengalami dyspnea, tachypnea, dan
peningkatan usaha napas, sehingga dapat menyebabkan kelelahan
respirasi dan berakhir menjadi gagal napas.

2. Fase Fibroproliferatif

Terjadi setelah 7 hari, mulai terjadi resolusi penyakit. Pasien


masih mengalami dyspnea, tachypnea, kelelahan dan hipoksemia.
Sebagian besar pasien membaik secara klinis dan dapat lepas dari
ventilasi mekanik. Beberapa pasien mengalami fibrosis paru
sehingga perlu oksigenasi jangka Panjang atau dukungan ventilasi
mekanik sehingga dapat meningkatkan mortalitas.

2.1.4 Klasifikasi ARDS

Menurut Mutaqqim Klasifikasi ARDS dapat di kategorokan sebagai


berikut

Tabel 1. Klasifikasi ARDS menurut Mutaqqim (2013)

RINGAN Rasio PaO2 / FiO2 >200 sampai ≤ 300 mmHg dengan PEEP atau
CPAP≤ 5 cmH2O

SEDANG Rasio PaO2 / FiO2 >100 sampai ≤ 200 mmHg dengan PEEP atau
CPAP≥ 5 cmH2O

BERAT Rasio PaO2 / FiO2≤ 100 sampai dengan PEEP atau CPAP>= 5 cmH2O

4
2.1.5 Pathway ARDS

Terlampir

2.1.6 Pemeriksaan Diagnostik ARDS

Pemeriksaan laboraturium yang paling awal adalah hipoksemia, sehingga


penting untuk melakukan pemeriksaan gas-gas darah arteri pada situasi klinis
yang tepat, kemudian hiperkapnea dengan asidosis respiratorik pada tahap
akhir. Pada permulaan, foto dada menunjukkan kelainan minimal dan kadang-
kadang terdapat gambaran edema interstisial. Pemberian oksigen pada tahap
awal umumnya dapat menaikkan tekanan PO2 arteri ke arah yang masih
dapat ditolelir. Pada tahap berikutnya sesak nafas bertambah, sianosis
penderita menjadi lebih berat ronki mungkin terdengar di seluruh paru-paru.
Pada saat ini foto dada menunjukkan infiltrate alveolar bilateral dan tersebar
luas. Pada saat terminal sesak nafas menjadi lebih hebat dan volume tidal
sangat menurun, kenaikan PCO2 dan hipoksemia bertambah berat, terdapat
asidosis metabolic sebab hipoksia serta asidosis respiratorik dan tekanan
darah sulit dipertahankan.

Tabel 2. Kriteria Pemeriksaan Diagnostik pada ARDS

OKSIGENASI ONSET FOTO ABSENNYA HIPERTENSI


THORAKS ATRIUM KIRI

Rasio PaO2 / FiO2 >100 Akut Infiltrat alveolar PCWP <= 18 mmHg atau tidak
sampai ≤ 200 mmHg atau infiltrate adanya bukti klinis peningkatan
Interstistial tekanan atrium kiri.
bilateral

Keterangan : FiO2 = presentase insipirasi O2 ; PCO2 = tekanan parsial O2 arteri , PCWP =


Pulmonary capillary wedge pressure.

5
2.1.7 Penatalaksanaan Medis ARDS
ARDS harus dikelola di unit perawatan intensif tempat penderita dapat

mendapatkan pengawasan dan terapi kardiorespirasi yang sesuai. Tujuan

pengelolaan klinis adalah perawatan suportif, dengan tujuan utamnya

memberikan cukup oksigen untuk memenuhi kebutuhan metabolism jaringan.

Monitor yang sesuai meliputi penilaian hemodinamik invasive, seperti

kateterisasi arteri sistemik dan seringkali pemasangan kateter arteri

pulmonalis. Pengukuran fungsi paru dan pertukaran gas seperti gas darah

arteri, oksimetri pulse, CO2 akhir tidal dan mekanika paru digunakan untuk

menyesuaikan tekanan oksigen inspirasi dan penyesuaian tekanan oksigen

inpirasi dan penyesuaian ventilator untuk meningkatkan kecukupan

pemberian oksigen ke jaringan dan mengurangi komplikasi.

Sebagian besar penderita akan memerlukan intubasi endotracheal dan

ventilasi mekanik disamping PEEP bila mereka tidak mempertahankan PaO2

di atas 50 mmHg pada oksigen inspirasi 60%. PEEP tidak mengembalikan

oksigenasi normal pada semua penderita dan bahkan dapat memberikan

pengaruh yang merugikan pada fungsi jantung . Pemsangan PEEP harus

selalu disesuaikan dengan monitor berkelanjutan data klinis dan laboratorium.

Pada beberapa keadaan perlu digunakan tingkat PEEP yang sangat tinggi (10-

20cm H20). Namun hal ini dapat mengakibatkan barotraumas yang

membahayakan jiwa, ataupun gangguan aliran darah balik vena yang pada

akhirnya akan menurunkan curah jantung dan mengakibatkan hipotensi

sistemik. Perhatian khusus dan ketat harus ditujukan untuk mempertahankan

fungsi jantung, terutama bila digunakan PEEP tingkat tinggi karena stabilitas

6
curah jantung yang disertai manajemen cairan sangat penting untuk

penghantaran oksigen. Perubahan posisi yang sering ( posisi dekubitus

lateral) sangat dianjurkan karena dapat meningkatkan oksigenasi. Secara garis

besar penatalaksanaan pada pasien ARDS:

1. Ventilasi Mekanik,

2. Positif End Expiratory Breathing (PEEB)

3. Pemantauan Oksigen Arteri adekuat

4. Titrasi cairan

5. Penggunaan kortikosteroid.

6. Pemeliharaan jalan nafas

7. Mencegah infeksi

8. Dukungan nutrisi

(Somantri, 2007).

2.1.8 Komplikasi ARDS


1. Fibrosis paru.
2. Pneumothoraks.
3. Emboli paru.
4. Infeksi akibat pemasangan ventricular

7
2.2 Konsep Dasar Asuhan Keperawatan ARDS

2.2.1 Pengkajian ARDS

1. Primery Survey

1) Airway
a. Jalan napas tidak normal
b. Terdengar adanya bunyi napas ronchi
c. Tidak ada jejas badan daerah dada
2) Breathing
a. Peningkatan frekunsi napas
b. Napas dangkal dan cepat
c. Kelemahan otot pernapasan
d. Kesulitan bernapas: sianosis
3) Circulation
a. Penurunan curah jantung: gelisah, letargi, takikardia
b. Sakit kepala
c. Pingsan
d. berkeringat banyak
e. Reaksi emosi yang kuat
f. Pusing, mata berkunang-kunang
4) Disability
a. Dapat terjadi penurunan kesadaran
2. Secondary Survey
1) Riwayat kesehatan.
a. Riwayat kesehatan dahulu
b. Riwayat kesehatan sekarang
2) Riwayat dan mekanisme trauma.
3) Pemeriksaan fisik (head to toe)

8
2.2.2 Diagnosa Keperawatan ARDS

1. Gangguan pertukaran gas

2. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas

3. Pola nafas tidak efektif

2.2.3 Intervensi Keperawatan ARDS

Terlampir

2.2.4 Implementasi Keperawatan ARDS

1. Mempertahankan pertukaran gas yang adekuat melalui oksigen

(pertahankan terapi oksigen sesuai dengan pesanan dan pantau

tanda-tanda hipoksemia). Dengan dukungan ventilator, pertahankan

patensi jalan udara, jika terpasang jalan udara buatan ( missal, pipa

endotracheal atau tracheostomi), laukan perawatan yang diperukan.

Amankan posisi pipa untuk menghindari pergerakan baik ke luar

atau ke dalam dari posisi yang sudah dietetapkan. Posisikan klien

untuk mendapatkan oksigenasi yang optial biasanya dengan bagian

kepala tempat tidur dinaikkan 45 sampai 90 derajat. Auskultasi paru-

paru setiap jam untuk mengkaji letak endotracheal. Lakukan

pengisapan pipa endotracheal sesuai dengan yang dierlukan dan

periksa setting ventilator secara teratur.

2. Mempertahankan perfusi jaringan. Pemeliharaan perfusi jaringan yan

adekuat adalah tangung jawab keperawatan.

a. Pantau tekanan pulmonary capillary wedge. Beritahukan dokter

jika tekanan berada di atas atau di bawah rentang yang

9
ditetapkan. Jika tekanan lebih rendah dari rentang yang

ditetapkan, berikan plasma volume eskpander atau medikasi

hipotensif sesuai pesanan. Jika lebih tinggi berikan diuretic atau

vasodilator sesuai yang dipesankn.

b. Kaji halauran urine, tanda-tanda vital dan sktremitas setiap jam.

3. Menurunkan ansietas klien dan keluarganya.

a. Pastikan fungsi ventilator yang tepat untuk memberikan volume

tidal dan konsentrasi oksigen yang adekuat. Jika klien tampak

dalam distress pernafasan meski ventilator oksigen yang

adekuat. Jika klien tampak dalam situasi distress pernafasan

meski ventilator berfungsi dengan tepat, kaji kadar gas AGD.

b. Identifikasi cara-cara agar klien dapat mengkomunikasikan

kekhawatiran dan mengekspresikan perasaannya (jika tidak

mampu untuk mengungkapkan secara verbal karena intubasi,

coba alternative komunikasi .

c. Berikan penjelasan yang singkat dan dengan sederhana

mengenai prosedur, orientasikan klien terhadap lingkungan

sekitar, dan ulang penejalsan secara teratur.

d. Berikan penejelasan tentang rutinitas perawatan dan lingkungan

kepada keluarga klien. Dorong keluarga klien untuk mendekati,

berbicara dan menyentuh klien jika mereka mengkenhendaki

4. Mempertahankan nutrisi yang adekuat.

10
2.2.5 Evaluasi Keperawatan ARDS

Evaluasi adalah membandingkan suatu hasil / perbuatan dengan standar


untuk tujuan pengambilan keputusan yang tepat sejauh mana tujuan tercapai.

1. Evaluasi keperawatan : membandingkan efek / hasil suatu tindakan


keperawatan dengan norma atau kriteria tujuan yang sudah dibuat.

2. Tahap akhir dari proses keperawatan.

3. Menilai tujuan dalam rencana perawatan tercapai atau tidak.

4. Menilai efektifitas rencana keperawatan atau strategi askep.

5. Menentukan efektif / tidaknya tindakan keperawatan dan


perkembangan pasien terhadap masalah kesehatan.

11
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) adalah terjadinya luka atau


inflamasi paru yang bersifat akut dan difus, yang mengakibatkan peningkatan
permeabilitas vaskular paru, peningkatan tahanan paru, dan hilangnya jaringan
paru yang berisi udara, dengan hipoksemia dan opasitas bilateral pada
pencitraan, yang dihubungkan dengan peningkatan shunting, peningkatan
dead space fisiologis, dan berkurangnya compliance paru

Langkah-langkah pendukung dalam penatalaksanaan ARDS meliputi


perhatian terhadap keseimbangan cairan, strategi transfusi restriktif, dan
minimalisasi obat penenang dan obat penghambat neuromuskular

3.2 Saran

Dengan dibuatnya makalah ini, semoga dapat memberikan manfaat untuk


pembaca khususnya mahasiswa keperawatan agar dapat lebih memahami
konsep dasar dari dan Asuhan keperawatan ARDS.

12
DAFTAR PUSTAKA
Bulechrck, Goria M., dkk. 2013. Nursing Interventions Classification (NIC) Ed. 6.
United Kingdom: Elsevier

Darmanto, 2007. Buku Ajar Respirologi. Jakarta: EGC

Herdman, T Heater. 2015. Diagnosis Keperawatan : Definisi dan Klasifikasi


2015-2017. Jakarta : EGC

Moorhead, Sue., dkk. 2013. Nursing Outcomes Clasification (NOC) Ed.5. Uniteed
Kingdom : Elsevier

Mutaqqin, A. 2013. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem


Pernafasan. Jakarta: Salemba Medika

Omantri, I. 2007. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: Salemba Medika

Somantri, I. 2007. Keperawatan Medikal Bedah Asuhan Keperawatan Pada


Pasien Gangguan Sistem Pernafasan. Jakarta: Salemba Medika

13