Anda di halaman 1dari 32

LAPORAN PENDAHULUAN

BRONKOPNEUMONIA

STASE KEPERAWATAN ANAK

DI SUSUN OLEH :

VARIDATUN TOYIBAH

18170100051

PEOGRAM NERS

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN INDONESIA MAJU

TAHUN 2018
BRONKOPNEUMONIA

A. KONSEP DASAR PENYAKIT PADA ANAK


1. Pengertian

Bronkopneumia disebut juga pneumonia loburalis yaitu suatu peradangan pada parenkim paru
yang terlokalisir yang biasanya mengenai bronkiolus dan juga mengenai alveolus disekitarnya,
yang disebabkan oleh bermacam-macam etiologi sperti bakteri, virus, jamur, dan benda-benda
asing (Bennete, 2013).

Bronchopneumonia adalah penyebaran daerah nfeksi yang berbercak dengan diameter sekitar 3
sampai 4 cm mengelilingi dan juga melibatkan bronchi ( Sylvia A. Price & Lorraine M. W.,
2007). Bronkopneumonia disebut juga pneumonia lobularis yaitu suatu peradangan pada
parenkim paru yang terlokalisir yang biasanya mengenai bronkiolus dan juga mengenai alveolus
disekitarnya, yang sering menimpa anak-anak dan balita, yang disebabkan oleh bermacam-
macam etiologi seperti bakteri, virus, jamur dan benda asing. Kebanyakan kasus pneumonia
disebabkan oleh mikroorganisme, tetapi ada juga sejumlah penyebab non infeksi yang perlu
dipertimbangkan. Bronkopneumonia lebih sering merupakan infeksi sekunder terhadap berbagai
keadaan yang melemahkan daya tahan tubuh tetapi bisa juga sebagai infeksi primer yang
biasanya kita jumpai pada anak-anak dan orang dewasa (Bradley et.al., 2011).

Bronkopneumonia adalah peradangan pada parenkim paru yang melibatkan bronkus atau
bronkiolus yang berupa distribusi berbentuk bercak-bercak (patchy distribution). Pneumonia
merupakan penyakit peradangan akut pada paru yang disebabkan oleh infeksi mikroorganisme
dan sebagian kecil disebabkan oleh penyebab non-infeksi yang akan menimbulkan konsolidasi
jaringan paru dan gangguan pertukaran gas setempat (Bradley et.al., 2011). Pneumonia
merupakan penyakit infeksi saluran napas bawah akut pada parenkim paru. Pneumonia
disebabkan oleh mikroorganisme seperti bakteri, virus, jamur, dan parasit (PDPI, 2014;
Djojodibroto, 2009). Peradangan pada paru yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis
tidak dikategorikan ke dalam pneumonia (Dahlana, 2014).
2. Anatomi Fisiologi

Sistem Pernafasan

Dengan bernafas setiap sel dalam tubuh menerima persediaan oksigennya dan pada saat yang
sama melepaskan produk oksidasinya. Oksigen yang bersenyawa dengan karbon dan hydrogen
dari jaringan memungkinkan setiap sel melangsungkan sendiri proses metabolismenya, yang
berarti pekerjaan selesai dan hasil buangn dalam bentuk karbondioksida dan air dihilangkan.
Pernafasan merupakan proses ganda, yaitu terjadinya pertukaran gas didalam jaringan atau
“pernapasan dalam” dan didalam paru-paru atau “pernapasan luar”.

Udara ditarik kedalam paru-paru pada waktu menarik napas dan didorong keluar paru-paru pada
waktu mengeluarkan napas (Pierce, 2009).

a. Anatomi

Struktur tubuh yang berperan dalam sistem pernafasan :

1) Saluran pernafasan bagian atas, antara lain :

a) Hidung (Nasal)

b) Faring (Tekak)

c) Laring (Pangkal Temggorokan)

2) Saluran pernafasan bagian bawah, antara lain :


a) Trakea (Batang Tnggorokan)

b) Bronkus (Cabang Tenggorokan )

c) Paru-paru

3) Struktur pernafasan

a. Hidung (Nasal)

Hidung merupakan saluran udara yang pertama, mempunyai dua lubang (kavum nasi)
dipisahkan oleh sekat hidung (septum nasi). Didalamnya terdapat bulu-bulu yag
berguna menyaring udara, debu, dan kotoran yang masuk kedalam lubang hidung.

Bagian-bagian hidung terdiri atas :

1) Bagian luar dinding terdiri dari kulit

2) Lapisan tengah terdiri dari otot-otot dan tulang rawan

3) Lapisan dalam terdiri dari selaput lendir yang berlipat-lipat dinamakan


karang hidung (konka nasalis) yang berjumlah 3 buah konka nasalis inferior
(karang hidung bagian bawah), konka nasalis media (karang hidung bagian
tengah), konka nasalis superior (karang hidung bagian bawah). Konka-konka
ini terdiri dari tiga buah lekukan yaitu superior, meatus medialis dan meatus
inferior. Meatus-meatus yang dilewati oleh udara pernafasan, sebelah dalam
terdapat lubang yang berhubungnan dengan tekak yang disebut koana. Dasar
dari rongga hidung dibentuk oleh tulang rahang atas, ke atas rongga hidung
berhubungan dengan beberapa rongga yang disebut sinus-sinus paranasalis
yaitu sinus maksilons ( pada rongga rahang atas), sinus frontalis (pada rongga
tulang dahi), sinus svenaidalis (pada rongga tulang baji), dan sinus etmoidalis
(pada rongga tepi).

Sinus etmoidalis keluar ujung saraf-saraf penciuman yang menuju ke konka


nasalis. Pada konka nasalis terdapat sel-sel penciuman, sel-sel tersebut
terutama terdapat dibagian atas. Pada hidung dibagian mukosa terdapat
serabut-serabut saraf atau reseptor-reseptor dari saraf penciuman disebut
nervus olfaktorius. Disebelah belakang konka bagian kiri kanan dan sebelah
atas dari langit-langit terdapat satu lubang pembuluh yang menghubungkan
rongga tekak dengan rongga pendengaran tengah, saluran ini disebut tuba
auditiria eustaci, yang menghubungkan telinga tengah dengan faring dan
laring. Hidung juga berhubungan dengan air mata disebut dengan tuba
lakrimalis (Hidayat, 2007).

Fungsi hidung terdiri dari :

a) Bekerja sebagai saluran udara pernafasan

b) Sebagai penyaring udara pernafasan yang dilakukan oleh bulu-bulu


hidung

c) Dapat menghangatkan udara pernafasan oleh mukosa

d) Pembunuh kuman-kuman yang masuk bersama-sama udara


pernafasan oleh leukosit yang terdapat dalam selaput lendir (mukosa)
atau hidung.

b. Faring (Tekak)

Menrut syaifuddin (2006), Faring merupakan tempat persimpangan antara jalan


pernafasan dan jalan makanan. Terdapat dibawah dasar tengkorak, dibelakang
rongga hidung dan mulut sebelah depan ruas tulang leher. Hubungan faring
dengan organ-organ lain : ke atas berhubungan dengan rongga hidung, dengan
perantaraan dengan lobang yang bernama koana, ke depan berhubungan dengan
rongga mulut, tempat hubungan ini bernama istimus fausium, ke bawah terdapat
dua lubang, kedepan lubnag laring, ke belakang lubang esophagus. Di bawah
selaput lendir terdapat jaringan ikat, juga dibeberapa tempat terdapat folikel getah
bening. Perkumpulan getah bening ini dinamakan adenoid. Disebelahnya terdapat
2 buah tonsil kiri dan kanan daritekak. Disebelah belakang terdapat epiglottis
(empang tenggorok) yang berfungsi menutup laring pada waktu menelan
makanan. Rongga tekak dibagi kedalam 3 bagian, antara lain :

1) Bagian sebelah atas yang sama tingginya dengan koana disebut


nasofaring
2) Bagian tengah yang sama tingginya dengan istmus fausium disebut
orofaring

3) Bagian bawah sekali dinamakan laringofaring

c. Laring

Laring (Tenggorokan) terletak di depan bagian terendah faring yang memisahkannya


dari kolumna vertebra, berjalan dari faring sampa ketinggian vertebra servikalis.
Laring terdiri dari kepingan tulang rawan yang diikat bersama oleh ligamen dan
membran. Yang terbesar diantarannya ialah tulang rawan tiroid, dan disebelah
depannya terdapat benjolan subkutaneus yang dikenal sebagai jakun, yaitu
disebelah depan leher. Laring terdiri atas dua lempeng atau lamina yang
bersambung di garis tengah. Di tepi atas terdapat lekukan berupa V. Tulang rawan
krikoid terletak dibawah tiroid, bentuknya seperti cincin mohor dengan mohornya
disebelah belakang (ini adalah tulang rawan satu-satunya yang berbentuk
lingkaran lengkap). Tulang rawan lainnya adalah kedua tulang rawan aritenoid
yang menjulang disebelah krikoid, kanan dan kiri tulang rawan kuneiform, dan
tulang rawan kornikulata yang sangat kecil. Terkait di puncak tulang rawan tiroid
terdapat epiglottis, yang berupa katup tulang rawan dan membantu menutup
laring sewaktu menelan. Laring dilapisi sejenis selaput lendir yang sama dengan
yang di trakea, kecuali pita suara an bagian epiglottis yang dilapisi sel epithelium
berlapis. Pita suara terletak disebelah dalam laring, berjalan dari tulang rawan
tiroid disebelah depan sampai di kedua tulang rawan aritenoid. Dengan gerakan
dari tulang rawan aritenoid yang ditimbulkan oleh otot laryngeal, pita suara
ditegangkan atau dikendurkan. Dengan demikian lebar sela-sela antara pita-pita
atau rima glotidis berubah-ubah sewaktu bernafas dan berbicara. Suara dihasilkan
karena getaran pita yang disebabkan udara yang melalui glottis. Berbagai otot
yang terkait pada laring mengendalikan suara, dan juga menutup lubang atas
laring sewaktu menelan (Pearce, 2009).

d. Trakea (Batang Tenggorokan)


Trakea atau batang tenggorok kira-kira Sembilan sentimeter panjangnya. Trakea
berjan dari laring sampai kira-kira ketinggian vertebratorakalis kelima dan
ditempat ini bercabang menjadi dua bronkus (bronki). Trakea tersusun atas enam
belas sampai dua puluh lingkaran tak lengkap berupa cincin tulang rawan yang
diikat bersama oleh jaringan fibrosa dan yang melengkapi lingkaran disebelah
belakang trakea, selain itu juga memuat berupa jaringan otot. Trakea dilapisi
selaput lendir yang terdiri atas epithelium bersilia dan sel cangkir. Silia ini
bergerak menuju keatas kearah laring, maka dengan gerakan ini debu dan butir-
butir halus lainnya yang turut masuk bersama dengan pernafasan dapat
dikeluarkan. Tulang rawan berfungsi mempertahankan agar trakea tetap terbuka,
karena itu,disebelah belakangnya tidak tersambung, yaitu ditempat trakea
menempel pada esophagus, yang memisahkannya dari tulang belakang Trakea
servikalis yang berjalan melalui leher disilang oleh istmus kelenjar tiroid, yaitu
belahan kelenjar yang melngkari sisa-sisa trakea. Trakea torasika berjalan
melintasi mediastnumdibelakang stenum menyentuh arteri inominata dan arkus
aorta. Usofagus terletak dibelakang trakea (Pearce, 2009).

e. Bronkus (Cabang Tenggorokan)

Bronkus merupakan lanjutan dari trakea, ada dua buah yang terdapat pada
ketiggian vertebratorakalis ke IV dan V mempunyai struktur serupa dengan trakea
dan dilapisi oleh jenis sel yang sama. Bronkus-bronkus itu berjalan kebawah dan
kesamping kearah tampak paru-paru. Bronkus kanan lebih pendek dan lebih besar
daripada bronkus kiri, terdiri dari enam-delapan cincin, mempunyai tiga cabang.
Bronkus kiri lbih panjang dan lebih ramping dari yang kanan, terdiri dari 9-12
cincin dan mempunyai 2 cabang. Bronkus bercabang-cabang, cabang yang paling
kecil disebut bronkiolus (bronkioli). Pada bronkioli terdapat gelembung
paru/gelembung hawa atau alveoli (Syaifuddin, 2006).

f. Paru-paru

Paru-paru merupakan ala pernafasan utama, paru-paru mengisi rongga dada.


Paru-paru ada dua bagian terletak disebelah kanan dan kiri yang dipisahkan oleh
jantung beserta pemulluh darah besarnya dan struktur lainnya yang terletak
didalam mediastrum. Paru-paru adalah organ berbentuk kerucut dengan apeks
(puncak) diatas dan muncul sdikit lebih tinggi daripada klavikula didalam dasar
leher. Pangkal paru-paru duduk diatas landai rongga toraks, diatas diafragma.
Paru-paru mempunyai permukaan luar yang menyentuh iga-iga, permukaan
dalam yahng memuat tampuk paru-paru, sisi belakang yang menyentuh tulang
belakang, dan sisi depan yang menutupi sebagian sisi depan jantung (Pearce,
2009).

g. Pembuluh Darah Dalam Paru-paru

Arteri pulmonalis membawa darah yang sudah tidak mengandung oksigen dari
ventrikel kanan jantung ke paru-paru, cabang-cabangnya menyentuh saluran-
saluran bronchial, bercabang dan bercabang lagi sampai menjadi arteriol halus,
arteriol itu membelah-belah dan membentuk jaringan kapiler dan kapiler itu
menyentuh dinding alveoli atau gelembung udara. Kapiler halus itu hanya
memuat sedikit, maka praktis dapat dikatakan sel-sel darah merah membuat baris
tunggal. Alirannya bergerak lambat dan dipisahkan dari dua dalam alveoli hanya
oleh dua membrane yang sangat tipis, maka pertukaran gas berlangsung dengan
difusi, yang merupakan fungsi pernafasan. Kapiler bersatu dan bersatu lagi
sampai mnjadi pmbuluh dara lebih besar dan akhirnya dua vena pulmonaris
meninggalkan setiap paru-paru membawa darah berisi oksigen ke atrium kiri
jantung untuk didistribusikan ke seluruh tubuh melalui aorta. Pembuluh darah
yang dilukiskan sebagai arteri bronkialis membawa darah berisi oksigen
langsung dari aorta toraksika ke paru-paru guna member makan dan
menghantarkan oksigen kedalam jaringan paru-paru sendiri. Cabang akhir arteri-
arteri ini membentuk pleksus kapiler yang tampak jelas dan terpisah dari yang
terbentuk oleh cabang akhir arteri pulmonaris, tetapi dari beberapa kapiler ini
akhirnya bersatu kedalam vena pulmonaris dan darahnnya kemudian dibawa
masuk kedalam vena pulmonaris. Sisa darah itu diantarkan dari setiap paru-paru
oleh vena bronkialis dan ada yang dapat mencapai vena kava superior. Maka
dengan demikian paru-paru mempunyai persediaan darah ganda ( Pearce, 209).
b. Fisiologi Pernafasan

Fungsi paru-paru ialah pertukaran gas oksigen dan karbondioksida. Pada pernafasan melalui
paru-paru atau pernafasan eksterna, oksigen di pungut melalui hidung dan mulut pada waktu
bernafas, oksigen masuk melalui trakea dan pipa bronchial ke alveoli, dan dapat berhubungan
erat dengan darah didalam kapiler pulmonaris. Hanya satu lapis membrane, yaitu membrane
alveoli kapiler, yang memisahkan oksigen dan darah. Oksigen menembus membrane ini dan di
pungut oleh hemoglobin sel darah merah dan dibawa ke jantung. Dari sini di pompa didalam
arteri ke semua bagian tubuh. Darah meniggalkan paru-paru pada tekanan oksigen 100 mmHg
dan pada tingkat ini hemoglobinnya 95% jenuh oksigen. Didalam paru-paru, karbondioksida,
salah satu hasil buangan metabolism, menembus membrane alveolar-kapiler dan kapiler darah
ke alveoli, dan setelah melalui pipa bronchial dan trakea, di nafaskan keluar melalui hidung
dan mulut. Empat proses yang berhubungan dengan pernafasan pulmoner atau pernafasan
eksterna :

1) Ventilasi pulmoner, atau gerak pernafasan yang meukar udara dalam alveoli darah
melaui paru-paru

2) Arus darah melalui paru-paru

3) Distribusi arus udara dan arus darah sedemikian sehingga dalam jumlah tepat dapat
mencapai semua bagian tubuh

4) Difusi gas menembus membrane pemisah alveoli dan kapiler, CO2 lebih mudah berdifusi
daripada oksigen.

Semua proses ini diatur sedemikian sehingga darah yang meninggalkan paru-paaru
menerima jumlah tepat karbondioksida dan oksigen. Pada waktu gerak badan, lebih banyak
darah dating ke paru-paru membawa terlalu bannyak karbondioksida dan terlampau sedikit
oksigen, jumlah karbondioksida tidak dapat dikeluarkan, maka konsentrasinya dalam darah
arteri bertambah. Hal ini merangsang pusat pernafasan dalam otak untuk memperbesar
kecepatan dan dalamnya pernafasan. Penambahan ventilasi ini mengeluarkan karbondioksida
dan memungut lebih banyak oksigen (Pearce, 2009).

3. Etiologi
Sebagian besar penyebab bronkopneumonia adalah mikroorganisme (virus, bekteri, jamur), dan
sebagian kecil oleh penyebab lain seperti hidrokarbon (minyak tanah, bensin, atau sejenisnya) dan
masuknya makanan, minuman, susu, isi lambung kedalam saluran pernafasan (aspirasi). Berbagai
penyebab bronkopneumonia tersebut dikelompokan berdasarkan golongan umur, berat ringannya
penyakit dan penyulit yang menyertainya (komplikasi). Mkroorganisme tersering sebagai
penyebab bronkopneumonia adalah virus dan bakteri yaitu Diplococcus pneumonia,
Streptococcus pneumonia, Virus Influenza.

Awalnya, mikroorganisme masuk melalui percikan ludah (droplet), kemudian terjadi penyebaran
mikroorganisme dari saluran nafas bagian atas ke jaringan (parenkim) paru dan sebagian kecil
karena penyebaran melalui aliran darah (Misnadiarly,2008).

Menurut Mansjoer (2008), etiologi terjadinya pneumonia diantaranya:

a) Bakteri

1) Pneumotorakokus, merupakan penyebab utama pneumonia. Pada orang dewasa


umumnya disebabkan oleh pneumokokus serotype 1 sampai dengan 8. Sedangkan
pada anak-anak serotype 14, 1, 6, dan 9. Insiden meningkat pada usia lebih kecil 4
tahun dan menurun dengan meningkatnya umur.

2) Steptokokus, sering merupakan komlikasi dari penyakit virus lain, seperti mobildan
varisela atau komlikasi penyakit kuman lainnya seperti pertusis, pneumonia oleh
pnemokokus.

3) Himiphilus influenza, pneumokokus aureginosa, tuberculosa.

4) Streptokokus, lebih banyak pada anak-anak dan bersifat progresif, resisten terhadap
pengobatan dan sering menimbulkan komplikasi

seperti : abses paru, empiema, tension pneumotoraks.

b) Virus

Virus respiratory syncytial, virus influenza, virus adeno, virus sistomegalik.

c) Aspirasi
Makanan, pada tetanus neonatorum, benda asing, koreson.

d) Pneumonia hipostatik

Penyakit ini disebabkan tidur terlentang terlalu lama, missal pada anak sakit dengan kesadaran menurun.

e) Jamur

Histoplasmamosis capsultatum candi dan abicans, biastomokasis, kalsedis mikosis, aspergilosis dan
aktino mikosis.

4. Web of caustion
5. Tanda dan Gejala

Menurut Arief Mansjoer (2008), manisfestasi klinis secara umum dapat dibagi menjadi :

a. Manifestasi nonspesifik infeksi dan toksisitas berupa demam, sakit kepala, iritabel,
gelisah, malaise, nafsu makan kurang, keluhan gastrointestinal.

b. Gejala umum pernafasan bahwa berupa batuk buruk, ekspektorasi sputum, cuping
hidung, sesak, sianosis.

c. Tanda pneumonia berupa peningkatan frekuensi nafas, suara nafas melemah, ronchi,
wheezing.

d. Tanda empiema berupa perkusi pekak, nyeri dada, kaku kuduk, nyeri abdomen.

e. Infeksi ekstrapulmonal.

6. Penatalaksanaan medis

Tujuan penatalaksanaan penderita pneumonia adalah menghilangkan infeksi dan mencegah


terjadinya komplikasi akibat infeksi tersebut. Penatalaksanaan pneumonia didasarkan kepada
organisme apa yang menyebabkan pneumonia tersebut (disebut engan terapi empirik).
Kebanyakan penderita membaik dengan terapi empirik ini.

Kebanyakan pasien dengan pneumonia ditatalaksana di rumah dengan pemberian antibiotik-


antibiotik oral. Penderita dengan faktor resiko untuk menjadi lebih berat dapat ditatalaksana
dengan perawatan di rumah sakit. Monitoring di rumah sakit termasuk kontrol terhadap frekuensi
denyut jantung dan pernafasan, temperatur, dan oksigenisasi. Penderita yang dirawat di rumah
sakit biasanya diberikan antibiotik intravena dengan dosis dan pemberian yang terkontrol.
Lamanya hari perawatan di rumah sakit sangat bervariasi tergantung bagaimana respon penderita
terhadap pengobatan, apakah ada penyakit penyerta/ sebelumnya, dan apakah ada masalah-
masalah medis lainnya yang dapat memperberat pneumonia yang dideritanya. Beberapa
penderita, termasuk penderita yang sebelumnya menderita kerusakan paru atau penyakit paru
berat lainnya, penderita dengan imunitas menurun, atau penderita dengan pneumonia yang
mengenai lebih dari 1 lobus (disebut multilobar pneumonia), dapat lebih lambat untuk membaik
atau mungkin membutuhkan perawatan lebih lama di rumah sakit Berbagai macam regimen
antibiotik tersedia untuk terapi pneumonia.

Pemilihan antibiotik mana yang baik digunakan bergantung pada banyak faktor, termasuk :

 Penyakit penyerta/ sebelumnya

 Terinfeksi dengan bakteri yang resisten antibiotik tertentu.

Penderita yang sebelumnya menggunakan antibiotik untuk terapi penyakit lain pada tiga bulan
terakir mempunyai faktor resiko yang lebih tinggi untuk terinfeksi bakteri yang resisten antibiotik
tertentu. Untuk semua regimen antibiotik, penting untuk menggunakan antibiotik tersebut sampai
selesai dan sesuai dengan prosedur penatalaksanaan. Diagnosis etiologi pneumonia sangat sulit
untuk dilakukan, sehingga pemberian antibiotik diberikan secara empirik sesuai dengan pola
kuman tersering yaitu Streptococcus pneumonia dan H. influenza. Bila keadaan pasien berat atau
terdapat empiema, antibiotik adalah golongan sefalosporin. Antibiotik parenteral diberikan
sampai 48-72 jam setelah panas turun, dilanjutkan dengan pemberian per oral selama 7 – 10 hari.
Bila diduga penyebab pneumonia adalah S.aureus, kloksasilin dapat segera diberikan. Bila alergi
terhadap penisilin dapat diberikan cefazolin, klindamisin, atau vancomycin. Lama pengobatan
untuk Stafilokokus adalah 3 – 4 minggu.

B. KONSEP DASAR TUMBUH KEMBANG ANAK USIA 1-3 TAHUN


Tahap Pertumbuhan Fisik Anak Umur 1-3 Tahun Menurut Nugroho (2009) Peningkatan ukuran
tubuh terjadi secara bertahap yang menunjukkan karakteristik percepatan atau perlambatan
pertumbuhan pada anak umur 1-3 tahun adalah sebagai berikut:
1. Tinggi Badan
Rata-rata tinggi badan batita bertambah tinggi sekitar 7,5 cm pertahun. Rata-rata tinggi anak usia
2 tahun sekitar 86,6 cm. Tinggi badan pada usia 2 tahun adalah setengah dari tinggi dewasa yang
diharapkan.
2. Berat Badan
Rata-rata pertambahan berat badan batita adalah 1,8 atau 2,7 kg pertahun. Rata-rata berat badan
batita umur 2 tahun adalah 12,3 kg. Pada usia 2,5 tahun berat badan batita mencapai 4 kali berat
badan lahir.
3. Lingkar Kepala
Pada usia 1-2 tahun ukuran lingkar kepala sama dengan lingkar dada. Total laju peningkatan
lingkar kepala pada tahun kedua adalah 2,5 cm kemudian berkurang menjadi 1,25 cm pertahun
sampai umur 5 tahun.

Tahap Perkembangan Anak usia 1-3 Tahun


Tahap perkembangan anak menurut Indiarti (2009) adalah sebagai berikut:
1. Umur 13-14 bulan
Pemahaman akan kata-kata umumnya dimulai saat bayi berusia delapan bulan. Bayi
menghasilkan kata-kata pertamanya pada umur 10-20 bulan. Namun, bayi hanya akan berbicara
pada konteks tertentu yang mudah dipahami, mudah diucapkannya dan sudah diketahui oleh
bayi. Kata-kata yang diucapkan merujuk pada kejadian secara keseluruhan, misalnya
mengucapkan “bapak” saat ia melihat bapaknya. Secara aktif, bayi sudah memperluas arti
sebuah kata untuk menerima perhatian ibunya dan bayi merasa yakin bahwa ibunya paham apa
yang dimaksudkan.
2. Umur 15-17 bulan.
Dalam usia ini bayi akan senang melakukan hal-hal sebagai berikut:
a. Menyimak adegan di TV.
b. Melaksanakan instruksi sederhana, seperti segera memberikan mainan yang dipegang
jika ibu memintanya.
c. Mengucapkan kalimat sederhana yang terdiri dari dua kata misalnya “dah bis” (sudah
habis).
d. Menyebutkan tiga anggota tubuhnya seperti mata, rambut, dan teling
3. Umur 18-20 Bulan
Perkembangan aktivitas dan motorik anak 18-20 bulan antara lain yaitu :
a. Berjalan mengeksplorasi rumah serta sekeliling rumah tanpa bantuan.
b. Menyusun 2-3 kotak.
c. Mampu mengatakan 5-10 kata.
d. Memperlihatkan rasa cemburu dan rasa saing.
4. Umur 20-24 Bulan
Sementara pada umur 20-24 bulan perkembangan aktivitas dan motorik yang terjadi pada anak
adalah sebagai berikut:
a. Mampu menyusun dua kata.

b. Menaruh minat pada apa yang dikerjakan orang dewasa.

c. Naik dan turun tangga.

d. Menunjuk mata dan hidungnya.

e. Belajar makan sendiri.

f. Menggaris di kertas atau pasir.

g. Mulai belajar mengontrol buang air besar dan buang air kecil.

5. Umur 24 -36 bulan


Saat memasuki umur tiga tahun anak terus mengalami perkembangan aktivitas dan motorik
antara lain sebagai berikut:
a. Belajar meloncat, memanjat, serta melompat dengan satu kaki.

b. Mempergunakan kata-kata “saya”, “bertanya” serta mengerti kata-kata yang ditujukan


kepadanya.

c. Mampu menggambar lingkaran.

d. Bermain bersama dengan anak lain dan menyadari adanya lingkungan lain diluar
keluarganya.

e. Mampu membuat jembatan dengan tiga kotak.

f. Mampu menyusun kalimat.

C. KONSEP DASAR HOSPITALISASI PADA ANAK USIA 1-3 TAHUN


Hospitalisasi adalah suatu keadaan di mana seseorang dalam menjalani perawatan di rumah sakit
(Dorland, 1994). Hospitalisasi merupakan suatu proses yang karena suatu alasan yang berencana atau
darurat, mengharuskan anak untuk tinggal di rumah sakit menjalani terapi dan perawatan sampai
pemulangannya kembali ke rumah. Hospitalisasi merupakan stressor baik bagi anak maupun
keluarga, yang diikuti ketidaktahuan, lingkungan yang asing serta kebiasaan berbeda, dan tersebut
menyebabkan anak dan keluarga tertekan (Supartini, 2004).
Selama proses tersebut bukan saja anak tetapi orang tua juga mengalami kebiasaan yang asing,
lingkungannya yang asing, orang tua yang kurang mendapat dukungan emosi akan menunjukkan
rasa cemas. Rasa cemas pada orang tua akan membuat stress anak meningkat. Dengan demikian
asuhan keperawatan tidak hanya terfokus pada anak tetapi juga pada orang tuanya (Alawin, 2008).

Stressor umum hospitalisasi pada masa toddler dan prasekolah


a. Pada Masa Toddler
Sakit dan dirawat di rumah sakit (hospitalisasi) merupakan krisis utama pada anak usia
toddler, serta stress akibat perubahan pada status kesehatan maupun lingkungan dalam
kebiasaan sehari-hari. Selain itu anak usia toddler juga mempunyai keterbatasan dalam
mekanisme koping untuk mengatasi masalah maupun kejadian-kejadian yang bersifat
menekan (Nur Salam, dkk, 2005). Akibatnya akan menimbulkan reaksi yang berbeda-beda,
yang bersifat individual dan sangat tergantung pada tahap perkembangan anak. Selain itu
ditambahkan oleh kennetlyen dan Zhang (2003), bahwa perawatan dirumah sakit juga bias
menjadi pengalaman yang menakutkan, baik bagi orang tua maupun bagi anak 2-3 tahun.
Anak usia toddler bereaksi terhaterhadap hospitalisasi karena cemas akibat perpisahan,
kehilangan kendali, serta luka pada tubuh dan rasa sakit atau nyeri (Supartini, 2004). Pada
umumnya reaksi anak terhadap adalah kecemasan karena perpisahan, kehilangan kontrol,
perlukaan tubuh dan nyeri. Pembatasan terhadap pergerakannya, anak akan kehilangan
kemampuannya untuk mengontrol diri dan kan menjadi tergantung pada lingkungannya.
Akibatnya, anak akan kembali pada kemampuan sebelumnya atau regresi. Terhadap
perlukaan yang dialami atau nyeri Yang dirasakan karena mendapatkan tindakan invasif,
seperti injeksi, infus, pengambilan darah, anak akan meringis, menggigit bibirnya dan
memukul. Walaupun demikian, anak dapat menunjukkan lokasi rasa nyeri dan
mengkomunikasikan rasa nyerinya (Supartini, 2004). Anak usia toddler bereaksi terhadap
hospitalisasi, sumber stressor yang utama adalah perpisahan. Reaksi anak terhadap
hospitalisasi dipengaruhi oleh perkembangan usia, pengalaman sebelumnya, support sistem
yang tersedia dan ketrampilan koping. Pada usia toddler (1-3 tahun) yang dirawat di rumah
sakit, respon kecemasan lebih tampak daripada anak usia prasekolah, yaitu anak rewel, tidak
mau ditinggal oleh ibu, minta digendong terus, takut terhadap lingkungan rumah sakit
termasuk pada dokter dan perawat yang merawatnya (Wong, 1995).
1) Kecemasan Akibat Perpisahan
Kecemasan akibat perpisahan, yaitu perpisahan dengan orang tua atau orang
terdekat bagi anak, respon anak toddler terhadap kecemasan perpisahan ini menurut
Nursalam (2005) dalam Asuhan Keperawatan Bayi dan Anak dibagi dalam 3 fase,
yaitu:
a) Fase protes (Ph Phase of protes), perilaku yang dapat dilihat pada anak
diantaranya :
 Menangis kuat.

 Menjerit.

 Memanggil ibunya.

 Menggunakan tingkah laku agresif, seperti menendang, menggigit, memukul,


mencubit, dan menolak perhatian orang lain.

 Secara verbal, anak menyerang orang asing dengan rasa marah (misalnya
dengan mengatakan “pergi”).

 Perilaku protes seperti menangis akan berlanjut dan hanya akan berhenti bila
anak merasa kelelahan.

 Berusaha secara fisik menahan orang tua untuk tetap tinggal.

 Pendekatan dengan orang asing yang tergesa-gesa akan meningkatkan protes.

Toddler secara verbal menangis kepada orang tua, menyerang orang lain
secara verbal atau fisik, berusaha untuk menemukan orang tua, memegang
orang tua erat-erat, dan tidak dapat ditenangkan (Muscari, 2005).

b) Fase putus asa (Phase of despair), perilaku yang tampak diantaranya :


 Tidak aktif, cenderung diam dan tidak mau beraktifitas.

 Menarik diri dari orang lain.


 Depresi, sedih (cenderung diam/murung dan tidak mau beraktifitas).

 Tidak tertarik pada lingkungan.

 Tidak komunikatif (tidak menjawab sapaan/menyapa).

 Regresi, keprilaku terdahulu seperti : menghisap jari, ngompol dan lainlain.

 Menolak makan minum.

 Tangis anak mulai berkurang.

 Menghindari kontak mata.

Toddler tidak tertarik dengan lingkungan dan permainan serta menunjukkan sikap
yang pasif, depresi, dan kehilangan nafsu makan (Muscari, 2005).
c) Fase menolak (Phase of denial), perilaku yang tampak diantaranya:
 Secara samar-samar anak menerima perpisahan.

 Mulai tertarik dengan apa yang ada di sekitarnya.

 Membina hubungan dangkal dengan orang lain.

 Anak mulai kelihatan gembira.

Toddler membuat keputusan yang dangkal dan menunjukkan minat dengan jelas.
Fase ini biasanya terjadi setelah perpisahan dalam waktu lama dan jarang terlihat
pada anak yang dirawat (Muscari, 2005).
d) Kehilangan Kendali/Kontrol
Toddler merupakan masa dimana anak mencari otonomi yang ditampakan dengan
tingkahlaku antaralain: ketrampilan motorik, permainan, hubungan interpersonal,
aktivitas sehari-hari dan komunikasi. Tetapi mereka sebaliknya menunjukan
reaksi negatifisme seperti tempertantrum karena sikap egosentris anak. Anak
merasa gagal dan kehilangan kendali jika ketrampilan yang disukainya tidak
dapat dilakukan. Hal ini akan menurunkan rasa percaya diri pada anak. Anak
yang sedang meningkatan aktivitas motoriknya akan merasa cemas jika
keterampilan yang disukainya tidak dapat dilakukan (Nur Salam 2004). Akibat
sakit/ dirawat dirumah sakit, anak usia toddler juga dapat bereaksi karena
kehilangan kendali. Anak akan kehilangan kebebasan dalam mengembangkan
otonominya, sehingga anak bereaksi negative terhadap ketergantungan yang
dialaminya, terutama anak menjadi cepat marah dan agresif.
Dengan adanya kehilangan fungsi sehubungan dengan terganggunya fungsi
motorik biasanya mengakibatkan berkurangnya percaya diri pada anak sehingga
tugas perkembangan yang sudah dicapai dapat terhambat. Hal ini membuat anak
menjadi regresi; ngompol lagi, suka menghisap jari dan menolak untuk makan.
e) Cidera Tubuh dan Nyeri
Anak sudah mampu mengkomunikasikan rasa nyeri yang mereka alami dan
mampu menunjukkan lokasinya (Nur Salam, dkk, 2005). Kecemasan akan
meningkat karena adanya rasa nyeri dan perasaan takut akan mati (Supratini,
2004). Anak akan mengalami penurunan keaktifan serta kemampuan dalam tahap
perkembangannya terhadap perlakuan yang dialami atau nyeri yang dirasakan
karena mendapatkan tindakan invasive, seperti injeksi, infuse, pengambilan
darah, anak akan menangis bahkan sampai menyerang, baik secara verbal
maupun secara fisik, seperti menggigit, memukul, mencubit, dan menentang
perawata (supratini.2004).
b. Pada Masa Prasekolah
Anak usia pra sekolah adalah anak yang berusia antara 3 sampai 6 tahun. Bagi anak usia pra
sekolah, sakit adalah sesuatu yang menakutkan. Selain itu, perawatan di rumah sakit dapat
menimbulkan cemas karena anak merasa kehilangan lingkungan yang dirasakanya aman,
penuh kasih sayang dan menyenangkan. Anak juga harus meninggalkan lingkungan rumah
yang dikenalnya, permainan, dan teman sepermainannya (Supartini, 2004).
Perilaku anak untuk beradaptasi terhadap sakit dan dirawat di rumah sakit dengan cara :
 Penolakan (Advoidance); perilaku dimana anak berusaha menghindar dari situasi yang
membuat anak tertekan, anak berusaha menolak treatment yang diberikan seperti :
disuntik, tidak mau dipasang infus, menolak minum obat, bersikap tidak kooperatif
kepada petugas medis.

 Mengalihkan perhatian (Distraction); anak berusaha mengalihkan perhatian dari pikiran


atau sumber yang membuatnya tertekan. Perilaku yang dilakukan anak misalnya meminta
cerita saat dirumah sakit, menonton tv saat dipasang infus atau bermain mainan yang
disukai.
 Berupaya aktif (active); anak berusaha mencari jalan keluar dengan melakukan sesuatu
secara aktif. Perilaku yang sering dilakukan misalnya menanyakan kondisi kepada tenaga
medis atau orang tuanya, bersikap kooperatif pada tenaga medis, minum obat secara
teratur dan beristirahat sesuai dengan peraturan yang diberikan.

 Mencari dukungan (Support Seeking); anak mencari dukungan dari orang lain untuk
melepaskan tekanan atas penyakit yang dideritanya. Anak biasanya akan meminta
dukungan pada orang yang dekat dengannya, misalnya orang tua atau saudaranya.
Biasanya anak minta di temani selama di rumah sakit, didampingi saat dilakukan
treatment padanya, minta dielus saat merasa kesakitan (Wahyunin, 2001).

 Kecemasan Terhadap Perpisahan

Saat anak prasekolah dirawat di rumah sakit, kondisi ini memaksa anak untuk berpisah
dari lingkungan rumah yang dirasakannya aman, penuh kasih sayang, dan menyenangkan
serta hilangnya waktu bermain bersama teman-teman sepermainannya. Adapun reaksi
terhadap perpisahan yang ditunjukkan anak usia prasekolah selama dirawat di rumah
sakit adalah dengan menolak makan, sering bertanya kepada orang tuanya tentang hal-hal
yang tidak dipahaminya, menangis dan tidak kooperatif terhadap petugas kesehatan.
Dampak dari perpisahan yang dialami anak prasekolah saat dirawat di rumah sakit akan
menimbulkan rasa kecemasan pada anak tersebut (Moersintowati, dkk, 2008).

Menurut Supartini (2004), perawatan di rumah sakit seringkali dipersepsikan anak


prasekolah sebagai hukuman sehingga anak merasa malu, bersalah, cemas dan takut.
Anak juga sering merasa takut pada hal-hal yang tidak logis, seperti takut gelap, monster,
dll. Berbagai perasaan yang sering muncul pada anak usia prasekolah yaitu cemas,
marah, sedih, takut dan rasa bersalah. Perasaan tersebut dapat timbul karena menghadapi
sesuatu yang baru dan belum pernah dialami sebelumnya, rasa tidak aman dan tidak
nyaman, perasaan kehilangan sesuatu yang dialaminya, dan sesuatu yang dirasakan
menyakitkan serta lingkungan rumah sakit (Wong, 2000).

 Kehilangan Kendali/ Kontrol


Selain kecemasan akibat perpisahan, anak juga mengalami cemas akibat kehilangan
kendali atas dirinya. Akibat sakit dan dirawat di rumah sakit, anak akan kehilangan
kebebasan dalam mengembangkan otonominya. Anak akan bereaksi negatif terhadap
ketergantungan yang dialaminya, terutama anak akan menjadi cepat marah dan agresif
(Nursalam, Susilaningrum, dan Utami, 2005). Kecemasan yang muncul merupakan
respon emosional terhadap penilaian sesuatu yang berbahaya, berkaitan dengan perasaan
tidak pasti dan tidak berdaya (Stuart & Sundeen, 1998). Sedangkan menurut Gunarso
(1995), kecemasan juga dapat diartikan rasa khawatir takut tidak jelas sebabnya.

Anak usia prasekolah merasa (kehilangan kendali) karena mereka mengalami ketakutan
mereka sendiri. Potter (2005) juga mengemukakan bahwa selama waktu sakit, anak usia
prasekolah mungkin kembali ngompol, atau menghisap ibu jari dan menginginkan orang
tua mereka untuk menyuapi, memakaikan pakaian dan memeluk mereka.

 Cidera Tubuh dan Nyeri

Apabila anak pernah mengalami pengalaman tidak menyenangkan dirawat di rumah sakit
sebelumnya akan menyebabkan anak takut dan trauma. Sebaliknya apabila anak dirawat
di rumah sakit mendapatkan perawatan yang baik dan menyenangkan anak akan lebih
kooperatif pada perawat dan dokter (Supartini, 2004). Sistem pendukung (support
system) yang tersedia akan membantu anak beradaptasi dengan lingkungan rumah sakit
dimana ia dirawat. Anak akan mencari dukungan yang ada dari orang lain untuk
melepaskan tekanan akibat penyakit yang dideritanya. Anak biasanya akan minta
dukungan kepada orang terdekat dengannya misalnya orang tua atau saudaranya. Perilaku
ini biasanya ditandai dengan permintaan anak untuk ditunggui selama dirawat di rumah
sakit, didampingi saat dilakukan treatment padanya, minta dipeluk saat merasa takut dan
cemas bahkan saat merasa kesakitan. Reaksi anak usia prasekolah terhadap rasa nyeri
sama seperti sewaktu masih bayi. Anak akan bereaksi terhadap nyeri dengan
menyeringaikan wajah, menangis, mengatupkan gigi, menggigit bibir, membuka mata
dengan lebar, atau melakukan tindakan agresif seperti menendang dan memukul. Namun,
pada akhir periode balita anak biasanya sudah mampu mengkomunikasikan rasa nyeri
yang mereka alami dan menunjukkan lokasi nyeri (Nursalam, Susilaningrum, dan Utami,
2005).
D. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN
1. Fokus Pengkajian
a. Keluhan utama : sesak nafas
b. Riwayat penyakit
Pneumonia virus : ditandai gejala-gejala infeksi saluran nafas, termasuk renitis dan batuk,
serta suhu tubuh lebih rendah dari pneumonia bakteri
Pneumonia bakteri : ditandai oleh infeksi saluran pernafasan akut atau bawah dalam
beberapa hari hingga seminggu, suhu tubuh tinggi, batuk, kesulitan bernafas.
c. Riwayat kesehatan dahulu
Sering menderita penyakit pernafasan bagian atas, riwayat penyakit peradangan pernafasan
dengan gejala bertahap panjang dan lama yang disertai wheezing.

d. Pengkajian fisik
1) Insperksi : perlu diperhatikan adanya takipnea, dypsnea, sianosis sirkumoral, pernafasan
cuping hidung, distensi abdomen, batuk semula non produktif menjadi produktif, serta
nyeri dada waktu bernafas, adanya retraksi dinding dada.
2) Palpasi : hati mungkin akan membesar, flemitus raba mungkin meningkat pada sisi yang
sakit dan megalami peningkatan denyut nadi.
3) Perkusi : suara redup pada sisi yang sakit Auskultasi : pada pneumonia akan terdengar
stridor suara nafas berjurang, terdengar suara nafas tambahan atau ronchi, kadang-kadang
terdengar bising gesek pleura.

e. Data fokus
1) Pernafasan
Gejala : takipnea, dipsnea, pernafasan dangkal
Tanda : bunyi nafas ronchi, halus, wajah pucat atau sianosis bibir atau kulit
2) Aktivitas atau istirahat
Gejala : kelemahan, keleehan insomnia
Tanda : penurunan intoleransi aktivtas, letargi
3) Integritas ego : banyaknya stressor
4) Makanan atau cairan
Gejala : kehilanngan nafsu makan, mual, muntah
Tanda : distensi abdomen, hiperperistaltik usus, kulit kering.
5) Nyeri dan kenyamanan
Gejala : sakit kepala, nyeri dada, maligna
Tanda : melindungi area yang sakit

2. Diagnose keperawatan yang muncul


a. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas b.d. peningkatan produksi

sputum

b. Pola nafas tidak efektif b.d. hiperventilasi

c. Gangguan pertukaran gas b.d. perubahan membran alveolar kapiler

d. Intoleransi aktivitas b.d. kelemahan

e. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d. mual muntah


3. Intervensi keperawatan
NO DIAGNOSE KEPERAWATAN KRITEIA HASIL INTERVENSI
(NIC) (NOC)
1 Ketidakefektifan bersihan jalan nafas setelah dilakukan tindakan keperawatan NIC :
b.d. peningkatan selama 3X24 jam diharapkan bersihan jalan
Airway management
nafas efektif, dengan kriteria hasil :
1. Auskultasi suara nafas, catat adanya suara nafas
1. Menunjukkan jalan nafas yang paten
tambahan

2. Ajarkan klien batuk efektif untuk memudahkan


2. Tidak ada suara nafas tambahan mengeluarkan secret

3. Berikan O2 nasal canul

3. TTV dalam batas normal 4. Gunakan alat yang steril dalam setiap tindakan

5. Anjurkan klien untuk istirahat dan nafas dalam

Monitor status oksigen pasien

7. Posisikan klien dalam posisi yang nyaman (semi


flowler)

8. Identifikasi klien perlunya pemasangan alat jalan nafas


buatan

9. Pasang mayo bila perlu


10. Lakukan suction pada mayo

11. Atur intake untuk cairan mengoptimalkan


keseimbangan

12. Monitor rspirasi dan status O2

2 Pola nafas tidak efektif b.d. setelah dilakukan tindakan keperawatan NIC
hiperventilasi selama 3X24 jam diharapkan pola nafas
Airway and Vital Sign Management
efektif. Dengan kriteria hasil :
1. Posisikan pasien kedalam semiflowler untuk
1. Menunjukkan suara nafas yang bersih
memaksimalkan ventilasi
2. TTV dalam batas normal
2. Identifikasi pasien perlunya pemasangan alat bantu
3. Menunjukkan jalan nafas yang paten jalan nafas

3. Lakukan fisioterapi dada jika perlu

4. Ajarkan teknik nafas dalam

5. Auskultasi suara nafas, catat adanya suara tambahan

6. Atur intake untuk cairan mengoptimalkan


keseimbangan

7. Pertahankan jalan nafas yang paten


8. Beri O2 sesuai kebutuhan menggunakan nasal canul

9. Monitor repirasi dan status O2

10. Monitor TTV

11. Monitor suara paru

12. Monitor pola pernafasan abnormal

13. Monitor warna dan kelembapan kulit

3 Gangguan pertukaran gas b.d. setelah dilakukan tindakan keperawatan NIC


perubahan membran alveolar kapiler selama 3X24 jam diharapkan tidak adanya
Airway management
gangguan pertukaran gas. Dengan kriteria
hasil : 1. Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi

1. TTV dalam batas normal 2. Identifikasi pasien perlunya pemasangan alat nafas
buatan
2. Menunjukkan peningkatan ventilasi dan
oksigenasi yang adekuat 3. Pasang mayo bila perlu

3. Menunjukkan tidak ada suara nafas 4. Lakukan fisioterapi dada bila perlu
tambahan
5. Ajarkan klien melakukan nafas dalam untuk
mengeluarkan secret Auskultasi suara nafas, catat adanya
suara nafas tambahan
7. Atur intake untuk cairan mengoptimalkan
keseimbangan

8. Monitor respirasi dan status O2

Respiratory Monitoring

1. Monitor rata-rata kedalaman, irama, dan respirasi

2. Catat pergerakan dada, anati kesimetrisan, penggunaan


otot tambahan,

retraksi otot supraclavicular dan intercostals

3. Monitor suara nafas, seperti dengkur

4. Monitor pola nafas : bradipena, takipnea, kussmaul,


hiperventilasi,

cheyne stokes, biot

5. Monitor kelemahan otot diafragma (gerakan


paradoksis)

6. Auskultasi suara nafas, catat area penurunan / tidak


adanya ventilasi dan suara tambahan

7. Tentukan kebutuhan suction dengan mengauskultasi


crakles dan
ronkhi pada jalan nafas utama

8. Auskultasi suara paru setelah tindakan untuk


mengetahui hasilnya

4 Intoleransi aktivitas b.d. kelemahan setelah dilakuka tindakan keperawatan NIC


selama 3 X 24 jam diharapkan klien dapat
Activity therapy
melakukan aktivitas secara mandiri. Dengan
1. Bantu klien untuk mengidentifikasi aktivitas yang
kriteria hasil :
mampu dilakukan
1. Mampu melakukan aktivitas secara
2. Monitor aktivitas klien
mandiri
3. Monitor respon fisik, emosi, social, dan spiritual
2. TTV dalam batas normal Mampu
berpindah : dengan atau tanpa alat bantuan 4. Anjurkan keluarga klien untuk selalu didekat klien

4. Status sirkulasi baik 5. Ajarkan klien untuk melakukan aktivitas yang ringan
terlebih dahulu
5. Status respirasi : pertukaran gas dan
ventilasi adekuat 6. Kolaborasikan dengan tenaga Rehabilitasi Medik dalam
merencanakan

program terapi yang tepat

7. Bantu untuk memilih aktivitas konsisten yang sesuai


dengan kemampuan fisik, psikologi, dan social
8. Bantu untuk mendapatkan alat bantuan aktivitas seperti
kursi roda, krek

9. Bantu untuk mengidentifikasi aktivitas yang disukai

10. Bantu klien untuk membuat jadwal latihan diwaktu


luang

11. Bantu pasien / keluarga untuk mengidentifikasi


kekurangan dalam

aktivitas

12. Bantu pasien untuk mengembangkan motivasi diri dan


penguatan

5 Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari setelah dilakukan tindakan keperawatan NIC


kebutuhan tubuh b.d. mual muntah selama 3 X 24 jam diharapkan kebutuhan
Nutrition management
nutrisi dapat terpenuhi. Dengan kriteria
hasil : 1. Kaji adanya alergi makanan

1. Adanya peningkatan berat badan 2. Anjurkan klien untuk meningkatkan intake Fe

2. Tidak ada tanda-tanda malnutrisi 3. Anjurkan klien untuk meningkatkan protein dan vitamin
C
3. Tidak terjadi penurunan berat badan yang
berarti 4. Yakinkan diet yang dimakan mengandung serat yang
4. Menunjukkan peningkatan fungsi tinggi untuk mencegah konstipasi
pengecapan dari menelan
5. Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi
5. Mampu mengidentifikasi kebutuhan nutrisi
6. Kolaborasikan dengan tim ahli gizi dalam menentukan
6. Berat badan ideal dengan tinggi badan diet klien

7. Berikan substansi gula

8. Berikan makanan yang terpilih ( sudah dikonsultasikan


dengan ahli gizi)

9. Ajarkan pasien bagaimana membuat catatan makanan


harian

10. Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori

11. Kaji kemampuan pasien untuk mendapatkan nutrisi


yang dibutuhkan

Nutrition Monitoring

1. BB psien dalam batas normal

2. Monitor adanya penurunan BB

3. Monitor tingkat aktivitas klien

4. Monitor mual dan muntah

5. Monitor pucat, kemerahan, dan kekeringan pada


konjungtiva

6. Monitor interaksi anak atau orang tua selama makan

7. Monitor lingkungan selama makan

8. Monitor kulit kering dan perubahan pigmentasi

9. Monitor turrgor kulit

10. Monitor kekeringan, rambut kusam, dan mudah patah

11. Jadwalkan pengobatan dan tindakan tidak selama jam


makan

12. Monitor kadar albumin, total protein, Hb, dan kadar Ht

13. Moitor pertumbuhan dan perkembangan

14. Monitor kalori dan intake nutrisi

15. Catat adanya edema, hiperemik, hipertonik papilla


lidah dan cavitas oral.
DAFTAR PUSTAKA

Amin, Hardhi. (2013). Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Medis & NANDA NIC-NOC (Jilid. 1).
Jakarta : Media Action Publishing.

Ardansyah, Muhammad. 2012. Medikal Bedah Untuk Mahasiswa. Jogjakarta. DIVA press Astuti, Widya
Harwina. (2010). Asuhan Keperawatan Anak dengan Gangguan Sistem Pernafasan. Jakarta : TIM
Carpenito, I. J. (2007). Buku Saku Diagnosis Keperaatan. (Edisi 10). Jakarta: EGC

Herdman, Heather. Diagnosa Keperawatan NANDA 2009-2011. Kumar, Vinay, Cotran S. R, dan Robbins
L. S. 2007. Buku Ajar Patologi Volume 2 Edisi 7. Jakarta. Buku Kedokteran EGC

Misnadiarly. (2008). Penyakit Infeksi Saluran Nafas Pnemonia Pada Anak Balita, Orang Dewasa, Usia
Lanjut Pnemonia Atypik dan Pnemoni Atypik Mikrobakterium. Jakarta : EGC

Muttaqin, Arif. (2009). Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Respirasi. Jakarta: Salemba Medika
Pearce C. Evelyn.(2011). Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis . (Edisi 33). (Terjemahan Sri Yuliani
Handoyo). Jakarta : PT Gramedia

Syaifuddin. (2006). Anatomi Fisiologi untuk Mahasiswa Keperawatan. Jakarta: EGC

Wilkinson, Ahern. (2011). Buku Saku Diagnosis Keperawatan. (Edisi 9).(Terjemahan Esty
Wahyuningsih). Jakarta : EGC