Anda di halaman 1dari 34

No Kode: DAR2/Profesional/001/2018

PENAMBANGAN
Modul 1: Penambangan Terbuka

Tim Penyusun:
Drs. Odih Supratman, ST., MT.

PPG DALAM JABATAN


KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
2018
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha
Esa, karena hanya atas karunia dan rahmat-Nya, penyusunan Bahan
Ajar Program Keahlian Geologi Pertambangan dapat diselesaikan dengan baik.
Penyusunan Bahan Ajar ini dilakukan untuk memberikan pembenaran
secara akademis dan sebagai landasan pemikiran dari materi pokok
Penambangan yang terdiri dari empat Kegiatan Pembelajaran (1) Tambang
Terbuka, (2) Tambang Bawah Tanah dan (3) Reklamasi Bekas Tambang.
Penyusunan bahan ajar ini didasarkan pada hasil kajian dan diskusi terhadap
substansi materi muatan yang terdapat di berbagai pelaksanaan perkembangan
di bidang Geologi Pertambangan. Adapun penyusunannya dilakukan
berdasarkan pengolahan dari hasil eksplorasi studi kepustakaan, pendalaman
materi secara komprehensif dengan para praktisi dan pakar di bidangnya, serta
diskusi internal tim yang dilakukan secara intensif.
Kelancaran proses penyusunan Bahan Ajar ini tentunya tidak terlepas dari
keterlibatan dan peran seluruh Tim Penyusun, yang telah dengan
penuh kesabaran, ketekunan, dan tanggung jawab menyelesaikan apa yang
menjadi tugasnya. Untuk itu, terima kasih atas ketekunan dan kerjasamanya.
Semoga Bahan Ajar ini bermanfaat bagi pembacanya.

Bandung, April 2018

Tim Penyusunan

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .............................................................................................................. i


DAFTAR ISI ............................................................................................................................ ii
DAFTAR GAMBAR .............................................................................................................. iii
DAFTAR TABEL ................................................................................................................... iv
KEGIATAN BELAJAR 1: PENAMBANGAN TERBUKA................................................... 6
A. PENDAHULUAN ................................................................................................ 6
1. Deskripsi Mata Kegiatan ...................................................................... 6
2. Relevansi Mata Kegiatan ...................................................................... 8
3. Petunjuk Belajar .................................................................................... 8
B. CAPAIAN PEMBELAJARAN ............................................................................ 9
C. SUB CAPAIAN PEMBELAJARAN ................................................................... 9
D. URAIAN MATERI .............................................................................................. 9
1. Contour Mining................................................................................... 12
2. Mountaintop removal method ............................................................. 17
3. Area mining method ........................................................................... 17
4. Open Pit .............................................................................................. 19
5. Open Cast / Open Mine / Open Cut .................................................... 20
6. Quarry ................................................................................................. 21
7. Strip Mine ........................................................................................... 24
8. Alluvial Mine ...................................................................................... 25
9. Manual mining .................................................................................... 28
E. RANGKUMAN ..................................................................................................31
F. DAFTAR PUSTAKA .........................................................................................33

ii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Conventional Contour Mining (Skelly and Loy, 1975) ........................... 13


Gambar 2. Block-Cut Contour Mining (Skelly and Loy, 1975) ................................ 14
Gambar 3. Teknik Haulback Truck Dengan Menggunakan Front-End Loader
(Skelly and Loy, 1975) ............................................................................................... 15
Gambar 4. Haulback Dengan Menggunakan Kombinasi Scraper Dan Truk
(Chironis, 1978) .......................................................................................................... 15
Gambar 5. Metode Box-Cut Contour Mining (Chironis, 1978) ................................. 16
Gambar 6. Mountaintop Removal Method (Chironis, 1978) ..................................... 17
Gambar 7. Conventional Area Mining Method (Chironis, 1978) .............................. 18
Gambar 8. Area Mining With Stripping Shovel (Chironis, 1978) .............................. 18
Gambar 9. Block Area Mining (Chironis, 1978) ........................................................ 19
Gambar 10. Open pit ................................................................................................... 20
Gambar 11. Open Cast / Open Mine / Open Cut ........................................................ 21
Gambar 12. Side hill ................................................................................................... 22
Gambar 13. Pit Type / Subsurface .............................................................................. 24
Gambar 14. Strip mine ................................................................................................ 25
Gambar 15. Alluvial mine ........................................................................................... 26

iii
DAFTAR TABEL

Tabel 1. Klasifikasi metode penambangan 12

iv
BIDANG KAJIAN PENAMBANGAN

Modul 1 Kegiatan Belajar Penambangan Terbuka

Selamat datang di Mata Kegiatan Belajar (Modul) Penambangan Terbuka. Kita bersama-
sama akan membahas tentang definisi metode penambangan terbuka, jenis-jenis metode
penambangan terbuka, dan keunggulan serta kekurangan dari metode penambangan
terbuka. Modul berjudul penambangan terbuka ini merupakan bagian dari kajian
penambangan yang wajib dipahami oleh peserta PPG bidang keahlian geologi
pertambangan.

5
KEGIATAN BELAJAR 1: PENAMBANGAN TERBUKA

A. PENDAHULUAN
1. Deskripsi Mata Kegiatan
Ilmu pertambangan merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan yang meliputi
pekerjaan penyelidikan, pencarian, studi kelayakan, persiapan penambangan,
penambangan, pengolahan dan penjualan mineral-mineral atau batuan yang
memiliki arti ekonomis (berharga).

Teknik penambangan merupakan ilmu untuk menentukan metode rencana dan


perancangan suatu tambang berdasarkan hasil penyelidikan, studi kelayakan dan
hasil eksplorasi mineral-mineral. Tujuan dari pemilihan metode perencanaan
tambang yaitu:

1. Memudahkan menambang badan bijih sehingga meminimalkan biaya


produksi persatuan berat logam.
2. Mengupayakan operasi penambangan berjalan nyaman (lebar jalan dan
jalan masuk).
3. Mengupayakan selalu tersedia singkapan bijih untuk mencegah kesalahan
data eksplorasi.
4. Memaksimalkan rancangan lereng pit sehingga memperkecil kemungkinan
terjadi kelongsoran.
5. Selalu siap terhadap perubahan strip tanpa pengerahan peralatan, tenaga,
maupun jadwal produksi.
6. Operasi berjalan logis sejak awal penjadwalan (pelatihan tenaga, peralatan,
logistik, dll). Hal ini untuk memperkecil resiko penundaan posisi cash flow
positif.
7. Mengupayakan tercapainya keuntungan ekonomi pada kondisi produksi
yang wajar dan mengupayakan COG alternatif.

6
Urutan keseluruhan kegiatan di pertambangan modern dilakukan dengan lima
tahapan dalam perencanaan tambang yaitu: prospeksi (prospecting), eksplorasi
(exploration), pengembangan (development), eksploitasi (exploitation), dan
reklamasi (reclamation).

Prospeksi dan eksplorasi, prekursor untuk penambangan, biasanya terkait dan


terkadang dapat digabungkan. Ahli geologi dan insinyur pertambangan sering
berbagi tanggung jawab untuk dua tahap ini, para ahli geologi lebih terlibat dalam
tahap awal, sedangkan insinyur pertambangan lebih banyak terlibat pada tahap
akhir. Demikian juga, pengembangan dan eksploitasi adalah tahapan yang saling
berkaitan; kedua tahap ini dapat dipertimbangkan sebagai tahapan utama dalam
penambangan dan merupakan bidang utama dari insinyur pertambangan.

Penutupan (closure) dan reklamasi lokasi tambang telah menjadi bagian penting dari
siklus hidup tambang karena tuntutan masyarakat untuk lingkungan yang lebih
bersih dan undang-undang yang lebih ketat yang mengatur pengabaian suatu
tambang. Keseluruhan proses pengembangan tambang dengan pemanfaatan lahan
di masa mendatang disebut sebagai pembangunan berkelanjutan.

Secara garis besar metode penambangan dikelompokkan menjadi 3, yaitu:

1. Tambang terbuka (surface mining) adalah metode penambangan yang segala


kegiatan atau aktivitas penambangannya dilakukan di atas atau relatif dekat
dengan permukaan bumi, dan tempat kerjanya berhubungan langsung dengan
udara luar.
2. Tambang dalam/tambang bawah tanah (underground mining) adalah metode
penambangan yang segala kegiatan atau aktivitas penambangannya dilakukan
di bawah permukaan bumi, dan tempat kerjanya tidak langsung berhubungan
dengan udara luar.
3. Tambang bawah air (underwater mining) adalah metode penambangan yang
kegiatan penggaliannya dilakukan di bawah permukaan air atau endapan
mineral berharganya terletak di bawah permukaan air.

7
2. Relevansi Mata Kegiatan
Teknik penambangan merupakan suatu pekerjaan akhir dari kajian geologi
pertambangan ini. Dari pengetahuan awal mengenai batuan dan mineral, Geologi
Struktur kemudian dilanjutkan oleh pemetaan eksplorasi, semuanya bermuara ke
Teknik penambangan. Teknik penambangan merupakan hal yang kompleks yang
berhubungan baik sebelum maupun saat serta setelah penambangan. Teknik
penambangan digunakan saat proses menemukan dan menentukan suatu sumber
daya mineral atau bahan galian dengan melakukan studi data sekunder dan
pengukuran menggunakan metode eksplorasi lansung maupun tidak langsung.

3. Petunjuk Belajar
Agar kita berhasil dengan baik dalam mempelajari bahan ajar ini berikut beberapa
petunjuk yang dapat anda ikuti:
a. Bacalah dengan cermat bagian pendahuluan modul ini sampai anda
memahami secara tuntas, untuk apa, dan bagaimana mempelajarinya.
b. Tangkaplah makna dari setiap konsep yang dibahas dalam modul ini melalui
pemahamam sendiri dan tukar pikiran dengan teman anda.
c. Upayakan untuk dapat membaca sumber-sumber lain yang relevan untuk
menambahkan wawasan anda menjadikan perbandingan jika pembahasan
dalam modul ini masih dianggap kurang.
d. Mantapkan pemahaman anda dengan latihan dalam modul dan melalui
kegiatan diskusi dengan mahasiswa atau dosen.

8
B. CAPAIAN PEMBELAJARAN

 Mampu menganalisis pemilihan metode penambangan terbuka

C. SUB CAPAIAN PEMBELAJARAN


 Mengetahui definisi metode penambangan terbuka
 Memahami metode penambangan terbuka
 Mampu memahami dalam memilih metode penambangan terbuka

D. URAIAN MATERI
Tambang terbuka (surface mining) adalah metode penambangan yang segala kegiatan
atau aktivitas penambangannya dilakukan di atas atau relatif dekat dengan permukaan
bumi, dan tempat kerjanya berhubungan langsung dengan udara luar.

Pemilihan metode penambangan pada awalnya didasarkan pada letak endapan relatif
terhadap permukaan dangkal/dalam dan setelahnya mengacu pada keuntungan terbesar
yang akan diperoleh serta mempunyai perolehan tambang yang terbaik dengan
memperhatikan karakteristik unik di daerah yang akan ditambang (meliputi: alam,
geologi, lingkungan, dll).

Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan metode tambang adalah sebagai berikut:

1. Karakteristik spasial dari endapan


Faktor ini bisa jadi penentu terpenting dalam pemilihan metode tambang karena
sangat mempengaruhi dalam pemilihan suatu daerah yang akan ditambang dengan
cara tambang terbuka atau tambang bawah tanah, laju produksi, pemilihan metode
penanganan material dan lay-out tambang seperti:
 Ukuran (dimensi: tebal dan penybaran)
 Bentuk (tabular, lentikular, massiv atau irregular)
 Attidute (inklinasi dan dip)
 Kedalaman (nilai: rata-rata dan ekstrim, nisbah pengupasan-SR)

9
2. Kondisi geologi dan hidrogeologi
Karakteristik geologi dari mineral dan batuan induknya sangat mempengaruhi
pemilihan metode penambangan, khususnya dalam pemilihan antara metode
selektif atau tidak. Hidrologi mempengaruhi sisten drainase dan pompa yang
diperlukan sedangkan mineralogy mempengaruhi cara pengolahan mineral.
Berikut adalah hal-hal yang harus diperhatikan untuk kondisi geologi dan
hidrogeologi:
 Mineralogi dan petrogafi (sulfida dan oksida)
 Komposisi kimia dan kwalitas (bahan tambang primer dan produk
samping, by product, untuk batu bara: CV, TM, Ash, S)
 Struktur geologi (lipatan, patahan, diskontiniu, itrusi)
 Bidang lemah (kekar, retakan, cleavage dalam endapan bijih atau cleats
dalam batu bara)
 Keseragaman, alterasi, oksidasi, erosi (zona dan batas)
 Air tanah dan hidrologi
3. Sifat-sifat geoteknik (mekanika tanah dan batuan)
Sifat mekanis dari material endapan dan batuan sekitarnya merupakan faktor kunci
dalam pemilihan peralatan pada tambang terbuka sedangkan pada tambang bawah
tana hal ini berpengaruh pada kelas metode yang dipilih seperti unsupported,
supported, atau caving. Berikut adalah hal-hal yang jadi pertimbangan dari sifat
geoteknik untuk pertambangan:
 Sifat elastik (kekuatan, modulus elastisitas, kekakuan, dll)
 Perilaku elastik atau viskoelastik (flow, creep)
 Keadaan tegangan (tegangan awal, induksi)
 Konsolidasi, kompaksi, dan kompetensi
 Sifat-sifat fisik lainnya (berat isi, specific gravity, angka pori, porositas,
permeabilitas, kadar air)

10
4. Konsiderasi ekonomi
Faktor ini mempengaruhi hasil, investasi, aliran kas, masa pengembalian dan
keuntungan. Berikut adalah hal-hal yang mempengaruhi kondisi ekonomi
pertambangan:
 Cadangan (tonase dan kadar / kwalitas)
 Laju produksi (produksi per satuan waktu)
 Umur tambang
 Produktivitas (produksi per satuan pekerja dan waktu, missal
ton/karyawan-shift)
 Perbandingan ongkos penambangan untuk metode penambangan yang
cocok
5. Faktor teknologi
Berikut adalah hal-hal yang berkaitan dengan faktor teknologi dalam pemilihan
metode penambangan:
 Perolehan tambang (mine recovery)
 Dilusi (jumlah waste yang dihasilkan dengan bijih / batubara)
 Kefleksibelan metode dengan perubahan kondisi
 Selektivitas metode untuk batubara dan waste
 Konsentrasi atau disperse dari pekerjaan
 Modal, pekerja, dan intensitas mekanisasi
6. Faktor lingkungan
Berikut adalah hal-hal yang berkaitan dengan faktor lingkungan dalam pemilihan
metode penambangan:
 Kontrol bawah tanah
 Penurunan permukaan tanah (subsidence)
 Kontrol atmosfir (kontrol kwalitas, kontrol panas dan kelembaban, serta
untuk tambang bawah tanah: ventilasi)
 Kekuatan pekerja (pelatihan, recruitment, kondisi kesehatan dan
keselamatan kerja, kehidupan dan pemukiman)

11
Klasifikasi metode menurut Hartman (1987) dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 1. Klasifikasi metode penambangan

Dalam penambangan mineral atau endapan bijih dengan metode tambang terbuka
ada beberapa cara, yaitu:

1. Contour Mining
Contour mining cocok diterapkan untuk endapan batubara yang relatif datar dan
tersingkap di lereng pegunungan atau bukit.

Cara penambangannya diawali dengan pengupasan tanah penutup (overburden) di


daerah singkapan di sepanjang lereng mengikuti garis ketinggian (kontur),
kemudian diikuti dengan penambangan endapan batubaranya. Penambangan
dilanjutkan ke arah tebing sampai dicapai batas endapan yang masih ekonomis bila
ditambang.

12
Karena keterbatasan daerah yang bisa digali, maka daerah menjadi sempit tetapi
panjang sehingga memerlukan alat-alat yang mudah berpindah-pindah. Umur
tambang biasanya pendek.

Menurut Robert Meyers, contour mining dibagi menjadi beberapa metode, antara
lain:

a. Conventional contour mining

Pada metode ini, penggalian awal dibuat sepanjang sisi bukit pada daerah
dimana batubara tersingkap. Pemberaian lapisan tanah penutup dilakukan
dengan peledakan dan pemboran atau menggunakan Dozer dan ripper serta
alat muat front end leader, kemudian langsung didorong dan ditimbun di
daerah lereng yang lebih rendah (Gambar 1).

Pengupasan dengan contour stripping akan menghasilkan jalur operasi yang


bergelombang, memanjang dan menerus mengelilingi seluruh sisi bukit.

Gambar 1. Conventional Contour Mining (Skelly and Loy, 1975)

13
b. Block-cut contour mining

Pada cara ini daerah penambangan dibagi menjadi blok-blok penambangan


yang bertujuan untuk mengurangi timbunan tanah buangan pada saat
pengupasan tanah penutup di sekitar lereng.

Gambar 2. Block-Cut Contour Mining (Skelly and Loy, 1975)

Pada tahap awal blok 1 digali sampai batas tebing (highwall) yang diijinkan
tingginya. Tanah penutup tersebut ditimbun sementara, batubaranya
kemudian diambil. Setelah itu lapisan blok 2 digali kira-kira setengahnya dan
ditimbun di blok 1. Sementara batubara blok 2 siap digali, maka lapisan tanah
penutup blok 3 digali dan berlanjut ke siklus penggalian blok 2 dan
menimbun tanah buangan pada blok awal. Pada saat blok 1 sudah ditimbun
dan diratakan kembali, maka lapisan tanah penutup blok 4 dipidahkan ke blok
2 setelah batubara pada blok 3 tersingkap semua. Lapisan tanah penutup blok
5 dipindahkan ke blok 3, kemudian lapisan tanah penutup blok 6 dipindahkan
ke blok 4 dan seterusnya sampai selesai (Gambar 2). Penggalian beruturan ini
akan mengurangi jumlah lapisan tanah penutup yang harus diangkut untuk
menutup final pit.

14
c. Haulback contour mining.

Gambar 3. Teknik Haulback Truck Dengan Menggunakan Front-


End Loader (Skelly and Loy, 1975)

Gambar 4. Haulback Dengan Menggunakan Kombinasi Scraper


Dan Truk (Chironis, 1978)

Metode haulback ini (Gambar 3 dan 4) merupakan modifikasi dari konsep


block-cut, yang memerlukan suatu jenis angkutan overburden, bukannya
langsung menimbunnya. Jadi metode ini membutuhkan perencanaan dan
operasi yang teliti untuk bisa menangani batubara dan overburden secara
efektif.

Ada tiga jenis peralatan yang sering digunakan, yaitu:

15
- Truk atau front-end loader

- Scrapers

- Kombinasi dari scrapers dan truk

d. Box-cut contour mining

Gambar 5. Metode Box-Cut Contour Mining (Chironis, 1978)

Pada metode box-cut contour mining ini (Gambar 5) lapisan tanah penutup
yang sudah digali, ditimbun pada daerah yang sudah rata di sepanjang garis
singkapan hingga membentuk suatu tanggul-tanggul yang rendah yang akan
membantu menyangga porsi terbesar dari tanah timbunan.

16
2. Mountaintop removal method

Gambar 6. Mountaintop Removal Method (Chironis, 1978)


Metode mountaintop removal method ini (Gambar 6) dikenal dan berkembang
cepat, khususnya di Kentucky Timur (Amerika Serikat). Dengan metode ini
lapisan tanah penutup dapat terkupas seluruhnya, sehingga memungkinkan
perolehan batubara 100%.

3. Area mining method


Metode ini diterapkan untuk menambang endapan batubara yang dekat permukaan
pada daerah mendatar sampai agak landai. Penambangannya dimulai dari
singkapan batubara yang mempunyai lapisan dan tanah penutup dangkal
dilanjutkan ke yang lebih tebal sampai batas pit.

Terdapat tiga cara penambangan area mining method, yaitu:

a. Conventional area mining method

Pada cara ini, penggalian dimulai pada daerah penambangan awal


sehingga penggalian lapisan tanah penutup dan penimbunannya
tidak terlalu mengganggu lingkungan. Kemudian lapisan tanah
penutup ini ditimbun di belakang daerah yang sudah ditambang
(lihat Gambar 7).

17
Gambar 7. Conventional Area Mining Method (Chironis, 1978)

b. Area mining with stripping shovel

Cara ini digunakan untuk batubara yang terletak 10–15 m di bawah


permukaan tanah. Penambangan dimulai dengan membuat bukaan
berbentuk segi empat.

Gambar 8. Area Mining with Stripping Shovel (Chironis, 1978)


Lapisan tanah penutup ditimbun sejajar dengan arah penggalian,
pada daerah yang sedang ditambang. Penggalian sejajar ini
dilakukan sampai seluruh endapan tergali (lihat Gambar 8).

18
c. Block area mining

Cara ini hampir sama dengan conventional area mining method,


tetapi daerah penambangan dibagi menjadi beberapa blok
penambangan. Cara ini terbatas untuk endapan batubara dengan
tebal lapisan tanah penutup maksimum 12 m (Gambar 9). Blok
penggalian awal dibuat dengan bull dozer. Tanah hasil penggalian
kemudian didorong pada daerah yang berdekatan dengan daerah
penggalian.

Gambar 9. Block Area Mining (Chironis, 1978)

4. Open Pit
Penambangan dengan cara open pit adalah penambangan terbuka yang dilakukan
untuk menggali endapan-endapan bijih metal seperti endapan bijih nikel, endapan
bijih besi, endapan bijih tembaga, dan sebagainya.

Penambangan dengan cara open pit biasanya dilakukan untuk endapan bijih atau
mineral yang terdapat pada daerah datar atau daerah lembah. Tanah akan digali ke
bagian bawah sehingga akan membentuk cekungan atau pit.

19
Cara pengangkutan pada open pit tergantung dari kedalaman endapan dan
topografinya. Pada dasarnya cara pengangkutannya ada 2 (dua) macam, yaitu:

 Cara konvensional atau cara langsung, yaitu hasil galian atau peledakan
diangkut oleh truck / belt conveyor / mine car / skip dump type rail cars, dan
sebagainya, langsung dari tempat penggalian ke tempat dumping dengan
menelusuri tebing-tebing sepanjang bukit.

Gambar 10. Open pit

 Cara inkonvensional atau cara tak langsung adalah cara pengangkutan hasil
galian / peledakan ke tempat dumping dengan menggunakan cara kombinasi
alat-alat angkut. Misalnya dari permuka/medan kerja (front) ke tempat crusher
digunakan truk, dan selanjutnya melalui ore pass ke loading point; dari sini
diangkut ke ore bin dengan memakai belt conveyor, dan akhirnya diangkut ke
luar tambang dengan cage.

5. Open Cast / Open Mine / Open Cut


Penambangan dengan cara ini hampir sama dengan cara penambangan open pit.
Namun, teknik penambangan ini dilakukan untuk daerah lereng bukit. Medan

20
kerja yang digali dari arah bawah ke atas atau sebaliknya (side hill type). Bentuk
tambang dapat pula melingkari bukit atau undakan, hal tersebut tergantung dari
letak endapan penambangan yang diinginkan.

Gambar 11. Open Cast / Open Mine / Open Cut

Cara pengangkutan endapan bijih atau mineral pada metode ini sama dengan
pengangkutan yang dilakukan pada metode open pit.

6. Quarry
Metode penambangan dengan cara quarry adalah penambangan terbuka yang
dilakukan untuk menggali endapan-endapan bahan galian industri atau mineral
industri, seperti batu marmer, batu granit, batu andesit, batu gamping, dll.

Bentuk tambang berdasarkan letak endapan bahan galian industri itu sendiri ada 2
(dua) macam, yaitu:

21
a. Side Hill Type

Side hill type merupakan bentuk penambangan untuk batuan atau bahan galian
indutri yang terletak dilereng-lereng bukit. Medan kerja dibuat mengikuti arah
lereng-lereng bukit itu dengan 2 (dua) kemungkinan, yaitu:

- Bila seluruh lereng bukit itu akan digali dari atas ke bawah, maka medan
kerja dapat dibuat melingkar bukit dengan jalan masuk (access road)
berbentuk spiral.
- Bila hanya sebagian lereng bukit saja yang akan di tambang atau bentuk
bukit itu memanjang, maka medan kerja dibuat memanjang pula dengan
jalan masuk dari salah satu sisisnya atau dari depan yang disebut straight
ramp.

Gambar 12. Side hill

22
Keuntungan penambangan dengan cara ini adalah:

- Dapat diusahakan adanya cara penirisan alamiah dengan membuat medan


kerja sedikit miring ke arah luar dan di tepi jalan masuk dibuatkan saluran
air.
- Alat-angkut bermuatan bergerak ke arah bawah yang berarti mendapat
bantuan gaya gravitasi. Dengan demikian waktu pengangkutannya (cycle
time) menjadi lebih singkat.

Sementara kerugian yang didapat jika menggunakan proses penambangan ini


adalah:

- Meterial penutup harus dikupas dan dibuang sekaligus sebelum


penambangan dilakukan, berarti diperlukan modal yang besar untuk
mengongkosi pengupasan material penutup.
- Karena jalan masuknya miring, kalau pengemudi-pengemudi alat-alat
angkut kurang hati-hati karena ingin dapat premi produksi, maka hal ini
akan dapat menyebabkan kecelakaan, terutama pada jalan masuk yang
berbentuk spiral.
b. Pit Type / Subsurface Type

Merupakan bentuk penambangan untuk batuan atau bahan galian industri


yang terletak pada suatu daerah yang mendatar. Dengan demikian medan
kerja harus digali ke arah bawah sehingga akan membentuk kerja atau
cekungan (pit). Bentuk medan kerja atau cekungan tersebut ada 2 (dua)
kemungkinan, yaitu:

- Kalau bentuk endapan kurang lebih bulat atau lonjong (oval), maka
medan kerja dan jalan masuk dibuat berbentuk spiral.
- Bila bentuk endapan kurang lebih empat persegi panjang atau bujur
sangkar, maka medan kerjapun di buat seperti bentuk-bentuk tersebut di

23
atas dengan jalan masuk dari sisi yang disebut straight ramp atau
berbentuk switch back.

Gambar 13. Pit Type / Subsurface

Bentuk-bentuk kuari (quarry) yang diuraikan diatas adalah bentuk-bentuk


dasar dari kuari yang tentu saja masih banyak lagi variasi-variasinya yang
pada umumnya diusahakan agar menyesuaikan bentuk-bentuk dasar tersebut
dengan keadaan dan bentuk endapan serta topografi daerahnya.

7. Strip Mine
Penambangan dengan sistem strip mine merupakan penambangan terbuka yang
dilakukan untuk endapan-endapan yang letaknya mendatar atau sedikit miring.
Dalam metode ini yang harus diperhitungkan adalah cara nisbah penguapan
(stripping ratio) dari endapan yang akan ditambang, yaitu perbandingan
banyaknya volume tanah penutup (m3 atau BCM) yang harus dikupas untuk
mendapatkan 1 ton endapan. Cara ini sering diterapkan pada penambangan
batubara, atau endapan garam-garam.

24
Gambar 14. Strip mine

8. Alluvial Mine
Tambang alluvial adalah tambang terbuka yang diterapkan untuk menambang
endapan-endapan alluvial, misalnya tambang bijih timah, pasir besi, emas dll.

25
Gambar 15. Alluvial mine

Berdasarkan cara penggaliannya, maka alluvial mine dapat dibedakan menjadi 2


(tiga) macam, yaitu:

a. Tambang Semprot (Hydraulicking)

Pada tambang semprot penggalian endapan alluvial dilakukan dengan


menggunakan semprotan air yang bertekanan tinggi yang berasal dari
penyemprotan yang disebut monitor atau water jet atau giant.

Tekanan aliran air yang dihasilkan oleh monitor dapat diatur sesuai
dengan keadaan material yang akan digali atau disemprot yang biasanya
bisa mencapai tekanan sampai 10 atm. Untuk memperbesar produksi
biasanya:

- Digunakan lebih dari satu monitor, baik bekerja sendiri-sendiri atau


bersama di satu permuka kerja.
- Monitor dibantu dengan alat mekanis seperti back hoe atau buldoser.

26
Untuk mengangkut material hasil galian atau semprotan ke instalasi
pengolahan digunakan air yang digerakkan dengan pompa. Jadi jika
digunakan cara penambangan tambang semprot harus tersedia cukup air,
baik untuk sperasi penambangan maupun untuk proses pengolahannya
(konsentrasi).

b. Penambangan dengan Kapal Keruk (Dredging).

Penambangan dengan kapal keruk (MGM = Mesin Gali Mangkok) ini


digunakan bila endapan yang akan digali terletak di bawah permukaan air,
misalnya di lepas pantai, sungai danau atau dia suatu lembah dimana
tersedia banyak air.

Berdasarkan macam alat-galinya, maka kapal keruk yang digunakan


untuk penambangan dapat dibedakan menjadi 3 (tiga), yaitu:

- Multi bucket dredge yaitu kapal keruk yang alat galinya berupa
rangkaian mangkok (bucket).
- Cutter suction dredge, yaitu kapal keruk dengan alat gali berupa
pisau pemotong yang menyerupai bentuk mahkota.
- Bucket wheel dredge, yaitu kapal keruk yang dilengkapi dengan
timba yang berputar (bucket wheel) sebagai alat-gali.
Sistem penggalian dengan kapal keruk dapat dibedakan menjadi 3 (tiga)
macam, yaitu:

- Sistem tangga (benches), yaitu cara pengerukan dengan membuat


atau membentuk tangga atau jenjang (benches).
- Sistem tekan, yaitu cara pengerukan dengan menekan tangga
(ladder) sampai pada kedalaman yang dikehendaki, kemudian maju
secara bertahap tanpa membentuk tangga.
- Sistem kombinasi, yaitu merupakan gabungan dari cara atau sistem
tangga dengan sistem tekan. Biasanya sistem tangga dipakai untuk

27
menggalikan tanah penutup, sedangkan sistem tekan untuk menggali
endapan bijihnya.

9. Manual mining
Manual mining atau penambangan secara sederhana adalah penambangan yang
menggunakan tanaga manusia atau hampir tidak menggunakan tenaga masin atau
alat mekanis.

Cara ini biasanya dilakukan oleh rakyat setempat atau kontraktor kecil untuk
menambang endapan yang:

- Ukuran atau jumlah cadangannya tidak besar.


- Letaknya tersebar dan terpencil.
- Tetapi endapannya cukup kaya.
Alat-alat konsetrasi yang biasanya digunakan pada manual mining ialah:

- Pan / batea / dulang


- Rocker (craddle)
- Sluice box

Pada penambangan terbuka ini, dibutuhkan tempat penimbunan yang direncanakan


dibeberapa tempat di lokasi tambang. Terdapat beberapa pertimbangan dalam
penentuan tempat penimbunan, baik dari segi meterial lokasi dan syarat syarat yang
lain, diantaranya adalah:

 Tempat penimbunan dapat dibagi menjadi dua, yaitu waste dump dan stockpile:

1. Suatu waste dump adalah suatu daerah dimana suatu operasi tambang
terbuka dapat membuang material kadar rendah dan / atau material
bukan bijih yang harus digali dari pit untuk memperoleh bijih /
material kadar tinggi.

2. Stockpile digunakan untuk menyimpan material yang akan digunakan

28
pada saat yang akan datang, material yang akan disimpan dibagi
menjadi:
a. Bijih kadar rendah yang dapat diproses pada saat yang akan datang.
b. Tanah penutup atau tanah pucuk yang dapat digunakan
untuk reklamasi.

 Rancangan waste dump sangat penting untuk perhitungan keekonomian. Lokasi


dan bentuk dari waste dump dan stockpile akan berpengaruh terhadap jumlah
gilir truk yang diperlukan, demikian pula biaya operasi dan jumlah truk dalam
satu armada yang diperlukan.

 Daerah yang diperlukan untuk waste dump pada umumnya luasnya 2 – 3 kali dari
daerah penambangan (pit), hal ini disebabkan beberapa faktor yaitu:

a. Material yang telah dibongkar (loose material) berkembang 30 – 45 %


dibandingkan dengan material in situ

b. Sudut kemiringan untuk suatu dump umumnya lebih landai dari pit

c. Material pada umumnya tidak dapat ditumpuk setinggi kedalaman dari pit.

Perbandingan tambang terbuka dan bawah tanah dapat diuraikan dalam beberapa
pertimbangan dalam penentuan tempat penimbunan, baik dari segi meterial lokasi dan
syarat syarat yang lain, diantaranya adalah:

 Tempat penimbunan dapat dibagi menjadi dua, yaitu waste dump dan
stockpile:

1. Suatu waste dump.


2. Stockpile
 Rancangan waste dump.
 Lokasi dan bentuk dari waste dump dan stockpile.
 Daerah yang diperlukan untuk waste dump pada umumnya luasnya
2 – 3 kali dari daerah penambangan (pit).

29
Keuntungan tambang terbuka antara lain:

1. Ongkos penambangan per ton atau per BCM bijih lebih murah karena tidak
perlu adanya penyangga, ventilasi dan pencahayaan.
2. Kondisi kerjanya lebih baik, karena berhubugnan langsung dengan udara luar
dan sinar matahari.
3. Penggunaan alat-alat mekanis dengan ukuran besar dapat lebih leluasa,
sehingga produksinya bisa lebih cepat.
4. Pemaiakian bahan peledak dapat lebih efisien, leluasa dan hasilnya lebih baik
karena adanya bidang bebas (free face) dan gas-gas beracun yang dapat
ditimbulkan akan langsung dihembuskan oleh angin dengan cepat (tidak
terakumulasi).
5. Perolehan tambang (mining recovery) lebih besar karena batas endapan dapat
dilihat dengan jelas.
6. Relatif lebih aman karena bahaya yang mungkin timbul terutama akibat
longsoran sedangkan pada tambang bawah tanah selain kelongsoran juga
dapat disebabkan oleh adanya gas-gas beracun, kebakaran, dll.
7. Pengawasan dan pengamatan mutu biji (grade control) lebih mudah

Kerugian tambang terbuka antara lain:

1. Para pekerja akan langsung dipengaruhi oleh keadaan cuaca dimana hujan
yang lebat atau suhu yang panas akan mengakibatkan efisien kerja menurun.
2. Kedalaman penggalian terbatas karena semakin dalam pengaalian akan
semakin banyak overburden harus dipindahkan.
3. Timbul masalah dalam mencari tempat pembuangan tanah penutup yang
jumlahnya cukup banyak.
4. Alat-alat mekanis letaknya tersebar.
5. Pencemaran lingkungan hidup relatif lebih besar.

30
E. RANGKUMAN
Tambang terbuka (surface mining) adalah metode penambangan yang segala kegiatan
atau aktivitas penambangannya dilakukan di atas atau relatif dekat dengan permukaan
bumi, dan tempat kerjanya berhubungan langsung dengan udara luar.

Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan metode tambang adalah sebagai berikut:

1. Karakteristik spasial dari endapan


2. Kondisi geologi dan hidrogeologi
3. Sifat-sifat geoteknik (mekanika tanah dan batuan)
4. Konsiderasi ekonomi
5. Faktor teknologi
6. Faktor lingkungan

Dalam penambangan mineral atau endapan bijih dengan metode tambang terbuka ada
beberapa cara, yaitu:

1. Contour mining
2. Mountaintop removal method
3. Area mining method
4. Open pit
5. Open cast
6. Quarry
7. Strip mine
8. Alluvial mine
9. Manual mining

Keuntungan tambang terbuka antara lain:

1. Ongkos penambangan per ton atau per BCM bijih lebih murah karena tidak perlu
adanya penyangga, ventilasi dan pencahayaan.
2. Kondisi kerjanya lebih baik, karena berhubugnan langsung dengan udara luar dan
sinar matahari.

31
3. Penggunaan alat-alat mekanis dengan ukuran besar dapat lebih leluasa, sehingga
produksinya bisa lebih cepat.
4. Pemaiakian bahan peledak dapat lebih efisien, leluasa dan hasilnya lebih baik
karena adanya bidang bebas (free face) dan gas-gas beracun yang dapat
ditimbulkan akan langsung dihembuskan oleh angin dengan cepat (tidak
terakumulasi).
5. Perolehan tambang (mining recovery) lebih besar karena batas endapan dapat
dilihat dengan jelas.
6. Relatif lebih aman karena bahaya yang mungkin timbul terutama akibat longsoran
sedangkan pada tambang bawah tanah selain kelongsoran juga dapat disebabkan
oleh adanya gas-gas beracun, kebakaran, dll.
7. Pengawasan dan pengamatan mutu biji (grade control) lebih mudah

Kerugian tambang terbuka antara lain:

1. Para pekerja akan langsung dipengaruhi oleh keadaan cuaca dimana hujan yang
lebat atau suhu yang panas akan mengakibatkan efisien kerja menurun.
2. Kedalaman penggalian terbatas karena semakin dalam pengaalian akan semakin
banyak overburden harus dipindahkan.
3. Timbul masalah dalam mencari tempat pembuangan tanah penutup yang
jumlahnya cukup banyak.
4. Alat-alat mekanis letaknya tersebar.
5. Pencemaran lingkungan hidup relatif lebih besar.

32
F. DAFTAR PUSTAKA

1. Thomas, Larry (2002)., Coal Geology, John Wiley & Sons.


2. Hartman, Howard L., (2002), Introductory Mining Engineering 2nd edition, John
Wiley & Sons.
3. Nurhakim., (2004), Tambang Terbuka, Draft Bahan Kuliah, Jurusan Teknik
Pertambangan Universitas Lambung Mangkurat.

33