Anda di halaman 1dari 9

Nama : Titi elvia

Nim : D1D016071

Kelas : B

Kajian materi uu no.41,uu no.05,uu no.23 terkait tumpang tindih

No Regulasi Konten Tumpang tindih Gap


1. Uu no.41 -Pasal 5 ayat (2) UU Kehutanan juga -Terjadi ketidak konsistenan uu no.41 - Mendasar pada penafsiran ini, menjadi
memasukkan wilayah adat sebagai tahun 1999 tentang kehutanan dengan uu permasalahan kemudian, tidak semua
hutan negara. Ketentuan ini sejatinya no.5 tahun 1960 tentang peraturan dasar masyarakat hukum adat terorganisir dengan
bertentangan dengan semangat UU pokok-pokok agrarian (UUPA).Tumpang rapih. Bahkan, banyak sekelompok
Pokok Agraria yang mengakui tindih ada pada kedua undang-undang ini masyarakat adat di pedalaman yang sama
keberadaan masyarakat adat dengan ada pada klasifikasi status tanah. sekali tidak bisa baca tulis padahal justru
tanah hak ulayatnya. merekalah suku asli daerah setempat.
-UUPA mengklasifikasikan tanah
- PAsal 9 ayat (2) UU no.18/2004 menjadi tiga entinitas yaitu tanah - Dalam peraturan tersebut, pengelolaan hutan
tentang perkebunan yang negara,tanah ulayat dan tanah hak. dan eksploitasi pertambangan banyak yang
mensyaratkan untuk dapat diakuinya bertentangan dengan kebijakan hak atas tanah
suatu masyarakat hukum adat haruslah -uu kehutanan peraturan tersebut tidak sebagaimana yang telah diatur di dalam
masih dalam bentuk paguyuban, mengakui adanya hutan adat yang UUPA.Ketentuan dalam Undang-Undang
kelembagaan yang jelas, tata peradilan sejatinya merupakan bagian dari hak kehutanan tersebut, masih memunculkan
adat, wilayah yang jelas, dan adanya ulayat masyarakat hukum adat.dan hanya suatu sifat kepemilikan hutan negara yang
pengukuhan dengan peraturan adat. mengenal 2 jenis hutan yaitu hutan mirip dengan Domein Verklaring pada masa
- Pasal 38 ayat 4 diatur bahwa pada negara dan hutan hak. pemerintahan kolonial Belanda. Yang paling
kawasan hutan lindung dilarang diperdebatkan pada pertengahan tahun 2005
melakukan penambangan dengan pola ialah munculnya Peraturan Presiden No. 36
pertambangan terbuka. tahun 2005 tentang Pengadaan Tanah Bagi
Pelaksanaan Pembangunan Untuk
- penjelasan Pasal 38 ayat(1) Kepentingan Umum yang akan lebih
disebutkan kegiatan pembangunan di mempermudah masuknya investasi pemodal
luar kehutanan yang dapat asing ke Indonesia.Sehingga kekuatan
dilaksanakan didalam kawasan hutan modallah yang akan bermain dalam
lindung dan hutan produksi ditetapkan penguasaan tanah di Indonesia, tentunya akan
secara selektif. berimplikasi rusaknya kemakmuran rakyat
terutama rakyat tani, khususnya pencabutan
-Pasal 38 Undang-undang No. 41 hak atas tanah.dikhawatirkan semua yang
Tahun 1999 maka ruang gerak mengatur pengadaan tanah ini lebih
Keputusan Bersama antara Menteri difokuskan pada kepentingan swasta,bukan
Pertambangan dan Energi dengan kepentingan rakyat.Departmen Kehutanan
Menteri Kehutanan Nomor: hanya dapat memberikan hak pengusahaan
969.K/05/MDPE/1989 dan Nomor : dan hak pemungutan hasil hutan, sedangkan
429/Kpts-II/1989 tersebut semakin segala proses yang berkaitan dengan
menyempit yaitu kegiatan penguasaan atas tanah dilakukan oleh instansi
pertambangan di hutan lindung kaya lain (BPN). Maka penataan batas kawasan
untuk migas dan pertambangan hutan tidaklah menjadi batasan untuk tidak
terbuka di hutan produksi. menggunakan Undang Undang Pokok Agraria
no 5 tahun 1960, sebagaimana lazim
- Pasal 19 Undang-undang Nomor 41 dipraktekan saat ini.
Tahun 1999 tentang Kehutanan
beserta penjelasannya dapat
disimpulkan bahwa untuk kepentingan
diluar pembangunan kehutanan
dimungkinkan untuk melakukan
perubahan peruntukkan dan perubahan
fungsi kawasan. Namun perubahan
tersebut harus melalui serangkaian
penelitian terpadu yang melibatkan
instansi terkait yaitu LIPI selaku
Scientific Authority, lingkungan
hidup, Departemen yang terkait dan
penetapannya atas persetujuan Dewan
Perwakilan Rakyat.
- berdasarkan ketentuan Pasal 19
Undang-undang No. 41 tahun 1999 jo
ketentuan Pasal 2 ayat (3) butir 4c
Peraturan Pemerintah No. 25 tahun
2000 yang mengatur Kewenangan
Pemerintah dalam penetapan kawasan
hutan; perubahan status dan fungsi
kawasan hutan maka diterbitkan
Keputusan Menteri Kehutanan No.
70/Kpts-II/2001 tentang Penetapan
Kawasan Hutan, perubahan Status dan
Fungsi Kawasan Hutan.

2. Uu no.05 -BAB II Perlindungan Sistem - Undang-undang Pokok Agraria no 5 -Dengan lahirnya undang-undang No. 5
Penyangga Kehidupan tahun 1960 dan Undang-undang Tahun 1990 dan Undang-undang No. 41
-BAB IV Kawasan Suaka Alam Kehutanan no 41 tahun 1999 merupakan Tahun 1999 tentang Kehutanan,aktifitas yang
-BAB VI Pemanfaatan Secara Lestari dua perundang-undangan paling penting berkaitan dengan pertambangan umum dan
Sumber Daya Alam Hayati Dan yang dalam hirarki perundangan tanah migas menghadapi beberapa kendala baik
Ekosistemnya dan sumber daya alam menduduki urutan bagi investor yang telah melaksanakan
-BAB VII Kawasan Pelestarian Alam kedua setelah Konstitusi. Kedua aturan operasinya maupun bagi calon investor yang
-BAB IX Peran Serta Rakyat tersebut secara langsung mengatur akan bermaksud mencari deposit mineral di
-BAB X Penyerahan Urusan Dan pengelolaan dan distribusi sumber daya Indonesia.
Tugas Pembantuan alam.
- Undang Undang Nomor 5 Tahun - Undang-undang No. 5 Tahun 1967 dianggap
1990 Tentang Konservasi Sumber - Undang-Undang No. 5 tahun 1967 belum cukup memberikan landasan hukum
Daya Alam Hayati Dan Ekosistemnya; tentang Pokok-Pokok Kehutanan bagi perkembangan pembangunan kehutanan
- Undang Undang Nomor 5 Tahun sebagaimana telah diperbaharui dengan oleh karena itu perlu diganti sehingga
1994 Tentang Pengesahan United Undang-Undang No. 41 tahun 1999 dan memberikan landasan hukum yang lebih
Nations Convention On Biological Undang-Undang No. 11 tahun 1967 kokoh dan lengkap bagi pembangunan
Diversity. tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok kehutanan pada saat ini dan saat mendatang.
- Undang Undang Nomor 41 Tahun Pertambangan. Dalam peraturan tersebut,
1999 Tentang Kehutanan pengelolaan hutan dan eksploitasi
pertambangan banyak yang bertentangan
dengan kebijakan hak atas tanah
sebagaimana yang telah diatur di dalam
UUPA.
3. Uu no.23 - Undang-Undang Nomor 23 Tahun - Implementasi UU No. 23 Tahun 2014 -Politik hukum yang menempatkan
2014 tentang Pemerintahan Daerah tentang Pemerintah Daerah khususnya kewenangan urusan di bidang sumber daya
menegaskan dalam Pasal 14 (1) bahwa yang terkait dengan pengelolaan hutan, alam kepada pemerintah pusat yang juga
Penyelenggaraan Urusan perkebunan dan SDA masih tumpang tercermin dalam kewenangan pemerintah
Pemerintahan bidang kehutanan, tindih dari aspek kewenangan antara provinsi secara positif dapat dilihat sebagai
kelautan,energi dan sumber daya Pemerintah Kabupaten/Kota dan bentuk kontrol pemerintah pusat terhadap
mineral dibagi antara Pemerintah Pemerintah Provinsi. eksploitasi berlebihan yang dilakukan oleh
Pusat dan Daerah provinsi. - Tumpang tindih yang terjadi antara UU pemerintahan kabupaten/kota.
-ayat (2) menyatakan bahwa urusan 41 dan UU 23. -hadirnya UU Pemda membuat kewenangan
Pemerintahan bidang kehutanan yang yang dulunya dipegang pemerintah
berkaitan dengan pengelolaan taman - Undang-Undang No 23 Tahun 1997 kabupaten/kota beralih ke Provinsi, sehingga
hutan raya kabupaten/kota menjadi tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup permasalahan kehutanan menjadi tidak
kewenangan Daerah kabupaten/kota. (UU PLH) perlu direvisi karena tidak strategis, karena regulasi dengan keadaan di
-ayat (3) menyatakan Urusan sesuai dengan otonomi daerah. Akibatnya lapangan menimbulkan banyak problematika.
Pemerintahan bidang energi dan terjadi tumpang tindih dalam padahal pada tingkat pelaksana pengelola
sumber daya mineral yang berkaitan kewenangan pengawasan lingkungan, yaitu adanya Kesatuan Pengelolaan Hutan
dengan pengelolaan minyak dan gas sehingga mengakibatkan kerusakan (KPH) untuk memperpendek rentang kendali
bumi menjadi kewenangan Pemerintah lingkungan semakin parah. pengelolaan hutan tersebar di seluruh
Pusat. kabupaten kota
-dikatakan dalam ayat (4) bahwa -Dalam pengelolaan lingkungan hidup
urusan Pemerintahan bidang energi diIndonesia,sebetulnya telah ada -terdapat kerancuan dalam UU Nomor 23
dan sumber daya mineral yang peraturan perundangan di tingkat pusat Tahun 2014 terkait kewenangan pengelolaan
berkaitan dengan pemanfaatan maupun daerah.Pada level pemerintah hutan.Pengelolaan lingkungan tidak seperti
langsung panas bumi dalam Daerah pusat telah terbit berbagai produk yang diharapkan, pendapatan daerah yang
kabupaten/kota menjadi kewenangan perundangan mulai dari Keputusan besar untuk pengelolaan tersebut kembali ke
Daerah kabupaten/kota. Menteri,Peraturan Menteri,Keputusan pemerintah melalui Kementrian Keuangan
-Pasal 23 Pemanfaatan hutan Presiden,Peraturan Pemerintah hingga bukan kembali ke daerah untuk merehabilitasi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 Undang-Undang. kembali lingkungan hidup yang rusak.
hurufb,bertujuan memperoleh manfaat - Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997
yang optimal bagi kesejahteraan yang disempurnakan melalui penerbitan -Penafsiran berbagai pasal tentang
seluruh masyarakat secara berkeadilan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 kewenangan kabupaten dan kota dalam
dengan tetap menjaga kelestariannya. tentang Perlindungan dan Pengelolaan melaksanakan otonomi daerah telah berakibat
-Pasal 24 Pemanfaatan kawasan hutan Lingkungan Hidup. tidak ditaatinya lagi berbagai ketentuan UU
dapat dilakukan pada semua kawasan PLH.
hutan kecuali pada hutan cagar alam
serta zona inti dan zona rimba pada -terdapat celah yang cukup mencolok dalam
taman nasional. UU No. 32 Th. 2009, yaitu ketiadaan pasal
-Pasal 25 Pemanfaatan kawasan hutan dan ayat yang menyinggung tentang
pelestarian alam dan kawasan hutan komitmen para pemangku kepentingan untuk
suaka alam serta tamanburu diatur memperlambat, menghentikan dan
sesuai dengan peraturan perundang- membalikkan arah laju perusakan lingkungan
undangan yang berlaku.
-Pasal 26
(1) Pemanfaatan hutan lindung dapat
berupa pemanfaatan kawasan,
pemanfaatan jasa lingkungan, dan
pemungutan hasil hutan bukan kayu.
(2) Pemanfaatan hutan lindung
dilaksanakan melalui pemberian izin
usaha pemanfaatankawasan, izin usaha
pemanfaatan jasa lingkungan, dan izin
pemungutan hasil hutan bukan kayu.
-Pasal 27
(1) Izin usaha pemanfaatan kawasan
sebagaimana dalam Pasal 26 ayat.
(2) dapat diberikan kepada:
a. perorangan,b. koperasi.
(3) Izin usaha pemanfaatan jasa
lingkungan sebagaimana dalam Pasal
26 ayat.
-Dalam pasal 14,diatur tentang
penyelenggaraan urusan pemerintah
dalam bidang kehutanan dibagi antara
pemerintah pusat dan daerah provinsi
dengan perkecualian pengelolaan
taman hutan raya di kabupaten/kota
menjadi kewenangan dari daerah
kabupaten dan kota