Anda di halaman 1dari 26

RINGKASAN MATERI KULIAH

AKUNTANSI PERBANKAN & LPD


(EKA 334 B2)

OLEH :

KELOMPOK 3

I KETUT MANDI WIRA PUTRA (1607531081)

IDA BAGUS GEDE WISWANTARA (1607531084)

I GEDE PRADANA JUNIARTA (1607531128)

I DEWA GDE NANDA NAROTAMA (1607531131)

I GEDE PUTRA SUBAWA (1607531145)

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS UDAYANA
2018
A. TABUNGAN

Tabungan adalah suatu simpanan yang berupa uang dari pihak ketiga (perorangan)
atau suatu badan usaha pada Bank, yang dimana penarikan uangnya dapat dilakukan setiap
saat dengan menggunakan media tertentu, tapi tidak dapat menggunakan bilyet giro, cek
ataupun alat-alat lainnya yang dipersamakan dengan itu. Produk tabungan pada prinsipnya
mengikuti ketentuan BI yang pada SK Dir. BI No. 22/63 Kep. Dir. Tanggal 01-12-1989

a. Pencatatan Transaksi Tabungan

Setiap setoran tabungan akan dicatat sebesar nilai nominal setoran dan selanjutnya
disajikan sebesar nilai kewajiban. Nilai kewajiban adalah saldo ditambah bunga yang
diperhitungkan dikurangi pajak. Setiap bunga yang diperhitungkan dikreditkan ke
rekening tabungan.

Contoh: Pada tanggal 1 Mei 2015 Andi membuka tabungan Prima pada Bank Duta Prima
Semarang dengan setoran berupa uang tunai Rp1.000.000, wesel yang telah jatuh tempo
dan telah diendos oleh Bank Maxi Cabang Cilacap sebesar Rp5.000.000, cek BNI
Semarang Rp.10.000.000. Inkaso dan kliring terhadap warkat tersebut dinyatakan berhasil
pada tanggal 1 Mei 2015. Biaya Inkaso Rp50.000, Biaya meterai untuk surat kuasa
Rp10.000. Maka jurnal pada tanggal 1 Mei 2015 adalah:

Keterangan Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)

Terima warkat inkaso Dr. RAR Warkat Inkaso Diterima 5.000.000

Inkaso berhasil . Cr. RAR warkat Inkaso diterima 5.000.000

Catat ke tabungan Dr. RAK. Cabang cilacap 5.000.000

Dr. giro BI 10.000.000

Dr. Kas 1.000.000

Cr. Pendapatan Inkaso 50.000

Cr. Bea materai 10.000

1
Cr. Tab. Prima-Mas Andi 15.940.000

Penyetoran tabungan tidak hanya bisa dilakukan pada bank tempat penabung
membuka tabungan, namun bisa dilakukan di kantor cabang yang lain. Bila hal ini terjadi
maka akan dicatat pada rekening antar kantor (RAK).

Contoh: Andi setor tunai untuk tabungan pada tanggal 5 Mei 2015 sebesar Rp 10.000.000
dari cabang Cirebon. Pencatatannya adalah:

Keterangan Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)

Cabang Dr. RAK. cabang Cirebon 10.000.000


Semarang

Cr. tabungan prima 10.000.000

Cabang Dr. kas 10.000.000


Cirebon

Cr. RAK cabang Semarang 10.000.000

b. Penarikan Tabungan

Penarikan tabungan hanya bisa dilakukan secara tunai di setiap counter-counter


cabang bank bersangkutan atau dengan menggunakan alat tertentu berupa kartu ATM.
Penarikan di cabang lain umumnya dibatasi maksimal plafond penarikannya, sedangkan di
cabang tempat membuka tabungan penarikan diijinkan sampai tabungan bersaldo minimal.
Kartu ATM merupakan kartu tunai (cash card) yang hanya bias digunakan untuk penarikan
tunai dengan menggunakan Automatic Teller Machine (ATM). Penarikan di cabang lain
akan dicatat pada Rekening Perhitungan Antar Kantor (RAK).

Contoh:

 10 Juni 2015 Andi melakukan penarikan tabungan di Cabang Semarang sebesar


Rp10.000.000
 25 Juni 2015 Andi mencairkan tabungan di Cabang Surabaya Rp15.000.000

2
Pencatatan transaksi di cabang Semarang maupun cabang Surabaya sebagai berikut:

Cabang semarang 10/5/2015 Dr. tabungan prima 10.000.000

Cr. kas 10.000.000

25/5/2015 Dr. tabungan prima 15.000.000

Cr. RAK. Cab. Surabaya 15.000.000

Cabang surabaya 25/5/2015 Dr. RAK. cab, Semarang 15.000.000

Cr. kas 15.000.000

daftar mutasi tabungan prima a/n Andi

Tgl Keterangan Debit Kredit Saldo

1/5/2015 Setor pembukaan 15.940.000 15.940.000

5/5/2015 Setordari cab. Cirebon 10.000.000 25.940.000

10/5/15 Penarikan tunai 10.000.000 15.940.000

25/5/2015 Penarikan tunai dari cab surabaya 15.000.000 940.000

c. Bunga Tabungan dan Perhitungannya

Bunga tabungan dihitung pada setiap akhir bulan dan langsung dikreditkan ke
rekening tabungan. Dengan demikian bunga tabungan akan menambah saldo tabungan.
Perhitungan bunga bisa dilakukan secara harian atau bulanan dengan mendasarkan pada
saldo terendah, suku bunga tetap atau berubah.

 Bunga diperhitungkan dengan dasar lamanya saldo mengendap dan tingkat suku
bunga berubah-ubah. Bila pendekatan ini yang digunakan, lamanya waktu mengendap
dihitungan sejak perubahan sampai terjadi perubahan bunga. Contoh perhitungan
waktu: tanggal 3 Juli 2007 sampai 7 Juli 2013, maka lama dana mengendap 7-3 = 4

3
hari. Hari pada tanggal 3 Juli 2013 diperhitungkan, sedangkan tanggal 7 Juli 2013
tidak diperhitungkan.
Contoh:
Perhitungan suku bunga pada Bank Omega Semarang berdasarkan floating. Tingkat
suku bunga tabungan pada bulan Juli adalah sebagai berikut :

Tanggal Tingkat Suku Bunga Tabungan

1 Juli 2013 3%

10 Juli 2013 4%

20 Juli 2013 3%

25 Juli 2013 5%

Bila diminta untuk menentukan bunga yang diperoleh Aditya pada bulan Juli 2007, maka
perhitungan bunganya adalah:

Waktu dana mengendap Hari Bunga Saldo Suku bunga Jumlah bunga

3/7 sampai 7/7 2013 4 4 9.494.00 3% 3.164,67

7/7 sampai 10/7 2013 3 14.494.000 3% 3.623,5

10/7 sampai 12/7 2013 2 14.494.000 4% 3.220,89

12/7 sampai 20/7 2013 8 11.994.000 3% 7.996

20/7 sampai 22/7 2013 2 11.994.000 3% 1.999

22/7 sampai 25/7 2013 3 6.994.000 3% 1.748,5

25/7 sampai 31/7 2013 6 6.994.000 5% 5.828,33

Jumlah 27.580,89

Keterangan: Perhitungan 4/360 x 9.494.000 x 3% = 3.164,67

Pencatatan bunga dan PPh sebesar 15% sebagai berikut:

4
Pelimpahan pajak Rekening Debit(Rp) Kredit (Rp)

Dr. BiayaBunga 27.580,89

Cr. Tabungan Simaskot 27.580,89

Pencatatan pajak Dr. Tabungan Simaskot 4.137,13


15%

Cr. Hutang PPh 4.137,13

Bila PPh disetor Dr. Hutang PPh 4.137,13


ke kas Negara

Cr. Giro Kantor Kas Negara 4.137,13

 Perhitungan bunga berdasarkan lamanya saldo mengendap dan tingkat suku bunga
tetap. Dengan mengunakan contoh sebelumnya dan tingkat suku bunga tetap 4%,
maka dapat ditentukan bunga sebagai berikut:
Tanggal Hari Bunga Saldo Suku Bunga Jumlah Bunga

3/7 sampai 7/7 2013 4 9.494.000 4% 4.219,56

7/7 sampai 12/7 2013 5 14.494.000 4% 8.052,22

12/7 sampai 22/7 2013 10 11.994.000 4% 13.326,67

22/7 sampai 31/7 2013 9 6.994.000 4% 6.994

Jumlah 32.592,45

 Perhitungan suku bunga tabungan berdasarkan saldo terendah dalam bulan yang
bersangkutan dengan suku bunga berjenjang.
Saldo Terendah Dalam Bulan Itu (Rp) SukuBunga (%)

0 sampai 10.000.000 2%

10.000.000 sampai 20.000.000 3%

20.000.000 sampai 50.000.000 4%

5
Lebihdari 50.000.000 5%

Perhitungan bunganya adalah: (31/360) x 6.994.000 x 2% = 12.045,22

d. Hadiah untuk Penabung

Bank sering menyelenggarakan tabungan berhadiah. Hadiah yang diberikan ini dalam
pandangan akuntansi dicatat sebagai biaya. Biaya ini umumnya diperhitungkan
proporsional dengan kemampuan suatu cabang dalam menghimpun dana melalui
tabungan. Kemampuan ini tercermin dari posisi saldo tabungan di neraca cabang. Semakin
besar suatu cabang menghimpun dana tabungan, maka semakin besar porsi biaya
hadiahnya. Sebaliknya semakin kecil saldo tabungan di neraca cabang maka semakin kecil
kontribusi untuk menanggung biaya hadiah.

B. DEPOSITO
Deposito merupakan simpanan masyarakat atau pihak ketiga yang penarikannya
dapat dilakukan pada waktu tertentu menurut perjanjian antara penyimpan dengan bank
yang bersangkutan. Penarikan deposito hanya boleh dilakukan pada saat tertentu menurut
jatuh temponya. Jatuh tempo deposito umumnya terdiri dari 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, 12
bulan, 18 bulan, dan 24 bulan. Pada kondisi bank membutuhkan dana likuiditas yang
ralatif besar, semakin lama jangka waktu deposito semakin tinggi tingkat bunganya.
Sebaliknya dalam kondisi longgar (ekonomi normal) tingkat suku bunga deposito akan
semakin kecil untuk deposito yang semakin berjangka waktu semakin lama.

a. Deposito Berjangka
Pembukaan Deposito

Untuk membuka deposito, deposan dapat menggunakan setoran tunai, dengan cek,
bilyet giro, bukti transfer masuk, wesel, atau warkat lain yang disepakati bank. Deposito
dicatat sebesar nilai nominal deposito yang tertera dalam perjanjian. Contoh: 31 Mei 2017
Reni membuka deposito berjangka di Bank Mitra Niaga Semarang dengan nominal
Rp50.000.000, bunga 18% pa, jangka waktu 3 bulan. Untuk itu Reni menyerahkan bilyet
giro atas nama Reni Rp20.000.000, Cek Bank Mitra Niaga Semarang yang ditarik oleh
Sinta sebesar Rp10.000.000, transfer masuk dari Bank Mitra Niaga Cabang Bandung

6
Rp10.000.000 dan kekurangannya dibayar tunai. Pajak bunga 15%. Pencatatan transaksi
ini adalah:

Tanggal Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)


31-Mei-17 Dr. Giro Reni 20.000.000
Dr. Giro Sinta 10.000.000
Dr. RAK. Cabang Bandung 10.000.000
Dr. Kas 10.000.000
Cr. Deposito Berjangka 50.000.000

Bunga Deposito Berjangka

Dalam perkembangan terakhir, beberapa bank memperhitungkan bunga harian


untuk deposito. Ini artinya berapa haripun deposito mengendap akan diberikan bunga
sebagaimana tabungan, hanya saja tetap terikat jangka waktu deposito. Perhitungan bunga
yang lazim adalah minimal mengendap satu bulan. Bank akan memberikan bunga setelah
deposito minimal mengendap satu bulan. Kalau yang menjadi pedoman ini, maka untuk
deposito yang dibuka pada tanggal akhir bulan bunga diperhitungkan pada akhir bulan
juga walaupun tanggalnya berbeda. Misalnya deposito dibuka tanggal 31 Januari, maka
jatuh tempo bunga tanggal 28 Februari atau 29 Februari, 31 Maret, 30 April dan
seterusnya. Tetapi kalau deposito dibuka tidak pada tanggal akhir bulan, maka jatuh
tempo bunga akan sama dengan tanggal pembukaan deposito. Contoh deposito dibuka
tangga 15 Januari untuk 3 bulan, maka jatuh tempo bunga pada tanggal 15 Februari 15
Maret, dan 15 April.

Contoh:

Dengan merujuk pada contoh di atas, dengan asumsi deposan mengambil bunga deposito
setiap tanggal 5 dan pajak bunga 15% dibayarkan setiap tanggal 10 kepada kantor kas
negara, maka pencatatan dan perhitungan bunganya adalah sebagai berikut:

7
Keterangan Tgl Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)
Bunga ke-1 30-Jun Dr. Biaya Bunga 750.000
Cr. Bunga DB Harus Dibayar 750.000

Penarikan Bunga 05-Jun Dr. Bunga DB Harus Dibayar 750.000


Cr. Hutang PPh 112.500
Cr. Kas/Giro 637.500

Pelimpahan Pajak 10-Jun Dr. Hutang PPh 112.500


Cr. Giro Kantor Kas Negara 112.500

Bunga ke-2 31-Jul Dr. Biaya Bunga 750.000


Cr. Bunga DB Harus Dibayar 750.000

Penarikan Bunga 05-Jul Dr. Bunga DB Harus Dibayar 750.000


Cr. Hutang PPh 112.500
Cr. Kas/Giro 637.500

Pelimpahan Pajak 10-Jul Dr. Hutang PPh 112.500


Cr. Giro Kantor Kas Negara 112.500

Bunga ke-3 dan Jatuh 31-Agu Dr. Biaya Bunga 750.000


Tempo Perpanj. Deposito Cr. Bunga DB Harus Dibayar 750.000

Dr. Deposito Berjangka-Reni 50.000.000


Cr. Deposito Berjangka Tlh Jth Tempo 50.000.000

Penarikan Bunga dan 05-Agu Dr. Bunga DB Harus Dibayar 750.000


Deposito Dr. DB Berjangka Tlh Jth Tempo 50.000.000
Cr. Hutang PPh 112.500
Cr. Kas 50.637.500

Pelimpahan Pajak 10-Agu Dr. Hutang PPh 112.500


Cr. Giro Kantor Kas Negara 112.500

Pencatatan Deposito Jatuh Tempo

Pada contoh diatas dinyatakan bahwa penarikan bunga dilakukan setia tanggal 5, dengan
deikian bank membukukan bunga dua kali yaitu saat jatuh tempo bunga dan saat
penarikan bunga. Hal ini sampai dengan jatuh tempo deposito. Oleh karena itu penarikan
deposito diasumsikan terjadi tanggal 5 juga. Pada kasus ini bank juga harus membukukan
dua kali yaitu saat jatuh tempo dan saat deposito ditarik. Bagaimana kalau bunga dan
deposito pada saat jatuh tempo ditarik tepat pada tanggal jatuh tempo? Bila ini yang
terjadi maka bank hanya membukukan sekali yaitu:

Keterangan Tgl Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)


Penarikan Bunga dan Deposito 31/08/2017 Dr. Deposito Berjangka 50.000.000
Dr. Biaya Bunga 750.000
Cr. Kas 50.637.500
Cr. Hutang PPh 112.500

8
Asumsi bunga pada bulan ke-1 dan ke-2 telah ditarik nasabah.

Perpanjangan Deposito Berjangka

Deposito yang telah jatuh tempo bisa diperpanjang dengan dua cara yaitu:

a) Perpanjangan Otomatis (Automatic Rollover)


Perpanjangan ini dilakukan karena permintaan deposan yang sudah dibuat atau
diperjanjikan pada saat pembukaan deposito. Dengan demikian bank tidak perlu
menghubungi deposan atau sebaliknya deposan tidak perlu lagi menghubungi bank
untuk memperpanjang deposito.
b) Perpanjangan Biasa
Perpanjangan ini terjadi bila ada kesepakatan antara bank dengan deposan di
kemudian hari saat jatuh tempo. Perpanjangan ini bisa inisiatif deposan atau insiatif
bank (home service) untuk nasabah deposan.

Kedua cara perpanjangan tersebut tidak berbeda pencatatannya. Bank akan mendebit
rekening deposito lama dan mengkredit rekening deposito baru. Nomor rekening deposito
dan bilyet deposito tetap sama (menggunakan yang lama). Kecuali suku bunga deposito
berubah ketika terjadi perpanjangan deposito. Contoh: Kalau deposito atas nama Reni
diperpanjang saat jatuh tempo (31/8-2017), maka bank akan mencatat:

Dr. Deposito Berjangka (Lama) Rp50.000.000


Cr. Deposito Berjangka (Baru) Rp50.000.000

Penarikan Deposito Berjangka Sebelum Jatuh Tempo

Penarikan deposito sebelum jatuh tempo dapat mengganggu likuiditas bank, sebab
idealnya bank akan menyiapkan dana untuk membayarkan sesuai dengan jadwal
pembayaran. Oleh karena itu bank umum (konvensional) mengenakan penalty tertentu
terhadap deposan bila penarikan dilakukan sebelum jatuh tempo. Penalty deposito dicatat
sebagai pendapatan lain-lain bank. Kebijakan mengenai penalty setiap bank berbeda-beda.
Namun secara umum adalah:

a. Penalty dihitung sekian persen tertentu dari bunga sebelum pajak.


b. Penalty dihitung sekian persen tertentu dari bunga setelah pajak.
c. Penalty dihitung sekian persen tertentu dari nominal deposito.

9
Contoh:

Intan Nawangsasi emiliki deposito berjangka di Bank Mitra Niaga Semarang nominal
Rp10.000.000, jangka waktu 6 bulan, suku bunga 18% pa. Deposito yang dibuka tanggal
31 Mei 2017, kemudian ditarik kembali oleh Intan Nawangsasi pada tanggal 30 Juni
2017. Perhitungan dan pencatatan jurnalnya bila:

Penalty dihitung 20% dari bunga sebelum pajak (pajak 15%)

No. Keterangan Jumlah


1 Bunga deposito = Rp10.000.000 x 18% x (1/12) 150.000
2 Pajak bunga = 15% x Rp 150.000 22.500
3 Bunga setelah pajak 127.500
4 Penalty = 20% x Rp 150.000 30.000
5 Bunga deposito yang dibayar bank 97.500

Jurnalnya adalah:

Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)


Dr. Deposito Berjangka 10.000.000
Dr. Biaya Bunga 150.000
Cr. Pendapatan Lain-Lain Penalty 30.000
Cr. Hutang PPh 22.500
Cr. Kas 10.097.500

Penalty dihitung 20% dari Bunga setelah Pajak (Pajak 15%)

No. Keterangan Jumlah


1 Bunga deposito = Rp10.000.000 x 18% x (1/12) 150.000
2 Pajak bunga = 15% x Rp 150.000 22.500
3 Bunga setelah pajak 127.500
4 Penalty = 20% x Rp 127.500 25.500
5 Bunga deposito yang dibayar bank 102.000

Jurnalnya adalah sebagai berikut:

Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)


Dr. Deposito Berjangka 10.000.000
Dr. Biaya Bunga 150.000
Cr. Pendapatan Lain-Lain Penalty 25.500
Cr. Hutang PPh 22.500
Cr. Kas 10.102.000

10
Penalty dihitung 1% dari nominal deposito.

No. Keterangan Jumlah


1 Bunga deposito = Rp10.000.000 x 18% x (1/12) 150.000
2 Pajak Bunga = 15% x Rp 150.000 22.500
3 Bunga setelah Pajak 127.500
4 Penalty = 1% x Rp10.000.000 100.000
5 Bunga deposito yang dibayar bank 27.500

Perpindahan Deposito Berjangka Antarkantor Cabang

Deposito yang telah dibuka di cabang bank tertentu dapat dipindahkan ke cabang bank
yang sama di kota lain. Perpindahan ini atas dasar permintaan deposan (misalnya karena
pindah domisili). Perpindahan deposito berjangka antarkantor cabang menimbulkan
hubungan rekening antarkantor. Di samping itu harus ada alokasi beban bunga yang sudah
berjalan. Alokasi beban bunga dapat diperhitungkan secara prorata berdasarkan lamanya
pengendapan deposito di suatu cabang.

Contoh:

Deposito berjangka waktu 6 bulan, nominal Rp10.000.000, telah dibuka di Bank Mitra
Niaga Semarang pada tanggal 31 Mei 2017 dengan suku bunga 18% pa. Pada tanggal 5
Juni 2017 deposito tersebut dipindahkan ke Bank Mitra Niaga Cabang Solo. Ketentuan
alokasi beban bunga perpindahan deposito di Bank Mitra Niaga adalah:

Lama Pengendapan Deposito Alokasi Beban Bunga di Cabang


1 sampai dengan 7 hari 25%
8 sampai dengan 15 hari 50%
16 sampai dengan 21 hari 75%
22 sampai dengan akhir bulan 100%

Bagaimana alokasi beban bunga dan pencatatan pada jurnal perpindahan deposito?

Kalau kita perhatikan hari bunga, tanggal pembukuan (31 Mei 2017) sampai tanggal
perpindahan (5 Juni 2017) atau selama 5 hari masih berada antara 1 sampai dengan 7 hari,
sehingga menjadi beban Bank Mitra Niaga Semarang sebesar 25% dari bunga per bulan.
Sedangkan untuk Bank Mitra Niaga Solo akan menanggung bunga juni 2017 sebesar 75%

11
dari total bunga Juni 2017. Untuk bulan selanjutnya di Cabang Solo adalah 10%.
Sedangkan perhitungan alokasi beban bunga adalah:

Kantor Cabang Perhitungan Hasil atau Jumlah


Bank Mitra Niaga Semarang Bunga = Rp10.000.000 x 18% x (1/12) x 25% 37.500
Pajak = 15% x Rp37.500 5.625
Bunga Setelah Pajak pada Bulan Juni 2017 31.875

Bank Mitra Niaga Solo Bunga = Rp10.000.000 x 18% x (1/12) x 75% 112.500
Pajak = 15% x 112.500 16.875
Bunga Setelah Pajak pada Bulan Juni 2017 95.625

Jurnal untuk transaksi ini adalah sebagai berikut:

Keterangan Tanggal Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)


Di Bank Mitra Niaga 31/05/2017 Dr. Kas 10.000.000
Semarang Cr. Deposito 10.000.000

05/06/2017 Dr. Deposito Berjangka 10.000.000


Dr. Biaya Bunga 37.500
Cr. Hutang PPh 5.625
Cr. RAK. Cabang Solo 10.031.875

Di Bank 05/06/2017 Dr. RAK. Cab. Semarang 10.031.875


Mitra Niaga Solo Cr. Deposito Berjangka 10.000.000
Cr. Bunga DB Harus Dibayar 31.875

30/06/2017 Dr. Biaya Bunga 112.500


Dr Bunga DB Harus Dibayar 31.875
Cr. Hutang PPh 16.875
Cr. Kas 127.500

b. Sertifikat Deposito
Sertifikat deposito pada prinsipnya sama dengan deposito berjangka yaitu
simpanan dana pihak ketiga/masyarakat dan terikat oleh jangka waktu (fixed time).
Perbedaannya adalah sertifikat deposito diterbitkan atas unjuk (pembawa), sedangkan
deposito berjangka diterbitkan atas tunjuk (nama). Sebagai deposito yang diterbitkan atas
pembawa berarti siapa saja boleh menarik sertifikat deposito selama bisa menunjukkan
sertifikat deposito tersebut kepada bank penerbit. Di samping itu sertifikat deposito dapat
diperdagangkan oleh masyarakat setelah mendapat izin dari Bank Indonesia. Perbedaan
yang lain dengan deposito berjangka adalah bahwa bunga sertifikat diperhitungkan dan

12
dibayarkan di muka. Dengan demikian deposan untuk sertifikat deposito pada saat
membuka deposit tersebut hanya membayar sebesar nilai tunai sertifikat deposito
ditambah sejumlah pajak bunga yang diperhitungkan di muka. Walaupun demikian
pencatatan sertifikat deposito tetap sebesar nilai nominalnya. Nilai tunai sertifikat
deposito ditentukan dengan rumus:

𝑃 𝑥 360
Nilai Tunai Sertifikat Deposito = 360+(𝑖 𝑥 𝑡)

Keterangan:

P = nilai nominal sertifikat deposito

i = tingkat suku bunga sertifikat deposito

t = jangka waktu (dalam hari)

Contoh:

Tanggal 1 Mei 2017 Diana membeli sertifikat Deposito Seri A sebanyak 10 lembar
@Rp10.000.000 secara tunai pada Bank Mitra Niag Semarang. Jangka waktu 3 bulan
dengan suku bunga 20% pa. Pajak bunga 15%.

No. Keterangan Jumlah


1 Nominal Sertifikat Deposito 100.000.000
2 Nilai Tunai = (Rp100.000.000 x 360)/(360 + (0,20 x 90)) 95.238.095
3 Bunga Dibayar di Muka (Diskonto) 4.761.905
4 Pajak Bunga = 15% x Rp4.761.905 714.286
5 Bunga Bersih yang Dibayar oleh Bank 4.047.619
Berdasarkan perhitungan tersebut, maka dapat diketahui jumlah yang harus dibayarkan ke
bank oleh deposan untuk membuka sertifikat deposito tersebut, yaitu: Rp100.000.000 -
Rp4.047.619 = Rp95.952.381. Jurnal transaksi ini adalah:

13
Keterangan Tanggal Rekening Debit (Rp) Kredit (Rp)
Penerbitan Sertifikat Deposito 01/05/2017 Dr. Kas 95.952.381
Dr. Biaya Bunga Dibayar di Muka 4.761.905
Cr. Hutang PPh 714.286
Cr. Sertifikat Deposito 100.000.000

Amortisasi Bunga 01/06/2017 Dr. Biaya Bunga 1.587.302


Cr. Biaya Bunga Dibayar di Muka 1.587.302

Amortisasi Bunga 01/07/2017 Dr. Biaya Bunga 1.587.302


Cr. Biaya Bunga Dibayar di Muka 1.587.302

Amortisasi Bunga dan Penarikan Sertifikat 01/08/2017 Dr. Biaya Bunga 1.587.302
Deposito Dr. Sertifikat Deposito 100.000.000
Cr. Biaya Bunga Dibayar di Muka 1.587.302
Cr. Kas/Giro Diana 100.000.000

C. PENJAMINAN SIMPANAN

Program penjaminan simpanan di Indonesia telah diberlakukan sejak tahun 2005


bagi semua lembaga perbankan yang beroperasi di Wilayah Indonesia. Program
penjaminan simpanan ini sebenarnya bertujuan untuk melindungi deposan dari kegagalan
opersasional bank. Praktik penjaminan simpanan dapat menimbulkan moral hazard di
kalangan perbankan karena risiko telah dialihkan ke lembaga penjamin simpanan. Namun
skema penjaminan di Indonesia dirancang untuk tetap memberikan insentif bagi deposan
untuk ikut mengawasi kinerja bank terutama oleh deposan besar (di atas Rp100.000.000)
yang tidak dijamin dan melindungi dana deposan kecil (di bawah Rp100.000.000).

Pemberlakuan program ini mempunyai konsekuensi pada biaya premi dan kewajiban
bank untuk memberikan laporan berkaitan dengan keikutsertaan dalam program ini. Biaya
premi sebenarnya bisa ditanggung oleh deposan saja, oleh bank saja atau oleh keduanya.
Praktik di Indonesia biaya premi penjaminan ditanggung oleh lembaga perbankan.
Sedangkan pelaporan posisi dana dan laporan keuangan diperlukan Lembaga Penjamin
Simpanan untuk mengendalikan risiko lembaga perbankan. Dengan demikian ada tugas
tambahan bagi lembaga perbankan, yaitu pembebanan biaya premi penjaminan dan
pelaporan akuntansi.

a. Simpanan yang Dijamin


Simpanan yang dijamin pada bank umum konvensional (berbasis bunga) meliputi
giro, deposito, sertifikat deposito, tabungan, dan/atau bentuk lain yang dipersamakan
dengan itu. Simpanan yang dijamin tersebut merupakan simpanan yang berasal dari

14
masyarakat, termasuk yang berasal dari bank lain. Nilai simpanan yang dijamin LPS
mencakup saldo pada tanggal pencabutan izin usaha bank. Saldo dimaksud berupa:
 pokok ditambah bunga yang telah menjadi hak nasabah, untuk simpanan yang
memiliki komponen bunga
 nilai sekarang per tanggal pencabutan izin usaha dengan menggunakan tingkat
diskonto yang tercatat pada bilyet, untuk simpanan yang memiliki komponen
diskonto.

Saldo yang dijamin untuk setiap nasabah pada satu bank adalah hasil penjumlahan
saldo seluruh rekening simpanan nasabah pada bank tersebut, baik rekening tunggal
maupun rekening gabungan (joint account). Untuk rekening gabungan, saldo rekening
yang diperhitungkan bagi satu nasabah adalah saldo rekening gabungan tersebut yang
dibagi secara prorata dengan jumlah pemilik rekening. Dalam hal nasabah memiliki
rekening yang dinyatakan secara tertulis diperuntukkan bagi kepentingan pihak lain
(beneficiary) yang bersangkutan.

Contoh :

Ali mempunyai tabungan atas nama pribadi di Bank XYZ dengan saldo sebesar Rp80 juta.
Ali juga mempunyai rekening gabungan dengan Budi dan Cici dalam bentuk giro di Bank
XYZ dengan saldo sebesar Rp225 juta. Selain itu, Budi mempunyai rekening atas nama
pribadi di Bank XYZ dengan saldo sebesar Rp25 juta. Sedangkan Cici mempunyai 1
(satu) rekening tabungan atas nama pribadi dengan saldo sebesar Rp65 juta dan 1 (satu)
rekening tabungan untuk kepentingan anaknya yang masih kecil bernama Titi
(beneficiary)dengan saldo sebesar Rp45 juta.

Apabila Bank XYZ dicabut izin usahanya pada tahun 2008 dengan asumsi pada saat itu
nilai simpanan yang dijamin per nasabah per bank paling tinggi sebesar Rp 100 juta, maka
perhitungan nilai simpanan yang dijamin untuk masing-masing nasabah tersebut adalah
sebagai berikut.

15
LPS akan membayar klaim penjaminan atas simpanan yang dijamin Rp100 juta kepada
Ali, sebesar Rp100 juta kepada Budi, dan sebesar Rp 145 juta kepada Cici. Simpanan yang
tidak dijamin sebesar Rp95 juta akan diselesaikan melalui proses likuidasi Bank XYZ.

Saldo yang dijamin untuk setiap nasabah pada satu bank adalah:

a) Seluruhnya, sejak tanggal 22 September 2005 sampai dengan 21 Mei 2006


b) Paling tinggi sebesar Rp5.000.000.000,00 (lima milyar rupiah), sejak tanggal 22
Maret 2006 sampai dengan 21 September 2006
c) Paling tinggi sebesar Rp1.000.000.000,00 (saty milyar rupiah), sejak tanggal 22
September 2006 sampai dengan 21 Maret 2007
d) Paling tinggi sebesar Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah), sejak tanggal 22
Maret 2007

b. Kewajiban Bank Peserta Penjaminan


Sebagai peserta penjaminan, setiap bank yang melakukan kegiatan usaha di Indonesia
perlu membayar kontribusi kepesertaan, membayar premi, dan menyampaikan laporan
secara berkala dalam format yang telah ditentukan. Kontribusi kepesertaan dibayar pada
saat bank yang bersangkutan menjadi peserta penjaminan yang besarnya ditetapkan 0,1%
dari:
a) Modal sendiri (ekuitas) bank per 31 Desember 2004, bagi bank yang telah
memperoleh izin usaha sebelum 1 Januari 2005.
b) Total modal sendiri (ekuitas) per 31 Desember 2004 dari bank-bank yang
melakukan penggabungan usaha, bagi bank hasil penggabungan usaha yang
dilakukan antara 1 Januari 2005 dan 22 September 2005.

16
c) Modal disetor bank, bagi bank yang mendapatkan izin usaha pada atau setelah 1
Januari 2005.

Modal sendiri (ekuitas) yang dimaksud dalam hal ini adalah selisih antara kekayaan dan
kewajiban bank. Kontribusi kepesertaan wajib disetor ke rekening Lembaga Penjaminan
Setoran.

c. Penghitungan, Pembayaran Premi, dan Akuntansinya


Penghitungan premi, baik premi pada awal periode maupun premi penyesuaian,
dilakukan sendiri oleh bank (self assessment). Premi penjaminan dibayarkan 2 (dua) kali
dalam 1 (satu) tahun untuk:
a) Periode 1 Januari sampai dengan 30 Juni, dan
b) Periode 1 Juli sampai dengan 31 Desember

Premi untuk setiap periode ditetapkan sebesar 0,1% dari rata-rata saldo bulanan total
simpanan dalam setiap periode. Proses pembayaran premi untuk setiap periode
dilaksanakan dengan tahapan sebagai berikut:

a) Pembayaran premi pada awal periode sebesar 0,1% dari rata-rata saldo bulanan
total simpanan periode sebelumnya, dan
b) Penyesuaian premi setelah akhir periode berdasarkan realisasi rata-rata saldo
bulanan total simpanan periode yang bersangkutan.

Pembayaran premi pada awal periode harus dilakukan paling lambat tanggal:

a) 31 Januari, untuk periode 1 Januari sampai dengan 30 Juni, dan


b) 31 Juli, untuk periode 1 Juli sampai dengan 31 Desember
Sedangkan penyesuaian premi dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:
a) Menghitung premi yang seharusnya dibayar berdasarkan realisasi rata-rata saldo
bulanan total simpanan pada periode yang bersangkutan
b) Menghitung kelebihan atau kekurangan premi yang dibayarkan pada awal periode
dengan premi yang seharusnya dibayar
c) Memperhitungkan kelebihan atau kekurangan terhadap premi yang dibayarkan
pada awal periode berikutnya, dengan ketentuan bahwa:
i. Dalam hal terdapat kelebihan premi, kelebihan tersebut menjadi pengurang
terhadap premi yang dibayarkan pada awal periode berikutnya, atau

17
ii. Dalam hal terdapat kekurangan premi, kekurangan tersebut menjadi
penambah terhadap premi yang dibayarkan pada awal periode berikutnya.

Dalam hal terdapat kelebihan pembayaran premi, kelebihan pembayaran tersebut


digunakan untuk pembayaran premi berikutnya, kecuali apabila bank yang bersangkutan
meminta agar kelebihan tersebut digunakan untuk membayar denda yang tertunggak
kepada LPS.

Contoh perhitungan premi penjaminan simpanan:

Bank ABC yang berdiri sejak 2003 mempunyai modal sendiri Rp10.000.000.000 dan
mulai 22 September 2005 mendaftar sebagai peserta penjaminan simpanan ke Lembaga
Penjamin Simpanan. Bank ini membayar kontribusi kepesertaan 0,1% dari modal sendiri
dan membayar premi penjaminan 0,1% dari rata-rata saldo bulanan total simpanan. Pada
17 September 2005 Bank ABC menyetor biaya premi penjaminan sebesar
Rp2.366.633.000. data saldo bulanan untuk simpanan di Bank ABC adalah sebagai
berikut:

Dasar perhitungan premi penjaminan adalah rata-rata saldo simpanan periode Juli 2005 s/d
Desember 2005 yaitu total simpanan dibagi 6 bulan atau Rp25.048.304.236 : 6 = Rp4.
174.717.373.

Bank ABC menjadi peserta penjaminan per 22 September 2005, sehingga premi yang
seharusnya periode 22 September 2005 s/d 31 Desember 2005 dapat ditentukan sebagai
berikut:
Jumlah hari mulai Juli s/d Desember 2005 (diperhitungkan sejak sampai dengan) adalah:
Juli = 31 hari
Agustus = 31 hari
September = 30 hari
Oktober = 31 hari
November = 30 hari

18
Desember = 31 hari
Jumlah = 184 hari

Sebagian jumlah hari sejak Bank ABC menjadi peserta penjaminan simpanan per 22
September 2005 sampai dengan 31 Desember 2005 (sejak sampai dengan) adalah:

September (30-21) = 9 hari


Oktober = 31 hari
November = 30 hari
Desember = 31 hari
Jumlah = 101 hari
Dengan demikian premi yang seharusnya adalah:

Jumlah Hari Penjaminan x Tarif Premi x Rata-Rata Saldo Simpanan = Premi Seharusnya

(101/184) x 0,1% x Rp4.174.717.373 = Rp2.291.556,82

Perhitungan penyesuaian premi semester 2 tahun 2005 (22 September s/d Desember 2005)
adalah:

Keterangan Jumlah (Rp)


Premi Seharusnya 2.291.556,82
Premi Awal Periode 22/9 s/d 31/12-2005 yang Telah Disetor per 17/11-2005 2.366.633,00
Penyesuaian Premi SEMESTER 2/2005 Kurang (Lebih) Setor -75.076,18

Perlu diketahui bahwa pada tahap pertama, sebagai peserta baru Bank ABC ketika
menyetor premi Rp.2.366.633.000 merupakan estimasi berdasarkan saldo rata-rata bulanan
total simpanan pada semester 1 (Januari s/d Juni) tahun 2005 (data di sini tidak
ditunjukkan). Pada akhir semester 2 (Juli s/d Desember) tahun 2005 ditemukan premi yang
seharusnya diperhitungkan sesuai saldo rata-rata bulan yang terjadi. Dengan demikian
Bank ABC membayar lebih dari yang seharusnya, yaitu lebih Rp75.076,18. Kelebihan
pembayaran ini tidak bisa ditarik oleh Bank ABC, tapi diperhitungkan sebagai pengurang
pembayaran premi pada periode berikutnya.

Pada periode berikutnya (semester 1 atau periode Januari s/d Juni tahun 2006), kita
bisa menghitung premi awal semester 1 tahun 2006 berdasarkan rata-rata saldo total
simpanan pada semester 2 (Juli s/d Desember) tahun 2005. Hasil perhitungan
menunjukkan Rp4.174.717,37. Bank menyetor premi Rp4.099.641,00 pada tanggal 26

19
Januari 2006. Dengan demikian rincian premi, penyesuaian dan kelebihan/kekurangannya
dapat dilihat sebagai berikut:

Premi awal semester (1 Januari s/d Juni) tahun 2006 adalah sifatnya prediktif dengan data
semester sebelumnya. Pada akhir semester harus disesuaikan dengan mendasarkan premi
yang seharusnya menurut saldo rata-rata total simpanan yang sesungguhnya terjadi pada
periode yang bersangkutan. Posisi simpanan periode Januari 2006 s/d Juni 2006 adalah
sebagai berikut:

Dengan dasar saldo simpanan periode Januari 2006 s/d Juni 2006, maka dapat
diperhitungkan penyesuaian premi periode 1 Januari 2006 s/d 30 Juni 2006 sebagai
berikut:

Dengan demikian kita bisa menentukan jumlah yang harus dibayar sebelum 31 Juli 2006
sebagai berikut:

20
Berdasarkan transaksi dan perhitungan premi di atas (sejak semester 2 tahun 2005 hingga
semseter Juli 2006), maka dapat dicatat dalam jurnal transaksi sebagai berikut:

Penjelasan :

Jurnal tanggal 22 September 2005 diperhitungkan dari Rp10.000.000.000 x 0,1% =


Rp10.000.000. sedangkan jurnal tanggal 17 November 2005 dan tanggal 31 Desember
2005 dapat ditentukan dari pembayaran dalam bentuk premi dibayar dimuka (piutang
premi) sebesar Rp2.366.633,00 – Rp2.291.556,82 = Rp75.076,18. Tanggal 30 Juni 2006
kita melakukan jurnal penyesuaian dengan cara mendebit rekening biaya premi dan
mengkredit piutang premi untuk mengakui biaya premi yang benar-benar telah terjadi

21
sampai dengan laporan keuangan semesteran. Perhitungannya yang didebit adalah Rp.
75.076,18 + Rp4.099.641,00 + Rp0,19 + Rp200.818,17 = Rp4.375.535,54. Sementara itu
tanggal 10 Juli 2006 kita mendebit hutang premi Rp200.818,36 (dari hutang premi Rp0,19
+ Rp200.818,17) dan mendebit piutang premi sebesar Rp4.450.611,74. Piutang premi ini
yang kita bayar sebesarnya penjumlahan dari premi sebenarnya Rp4.375.535,54 ditambah
kelebihan Rp75.076,20. Khusus untuk pendebitan Giro LPS diasumsikan bahwa lembaga
penjamin simpanan membuka rekening giro pada bank tersebut. Bila rekening Giro LPS
pada bank lain, maka harus ditampung kredit rekening bank-bank lain giro.

Dalam hal bank-bank melakukan penggabungan usaha sebelum berakhirnya periode,


maka:

a) Total dari seluruh premi yang telah dibayar pada awal periode oleh masing-masing
bank tersebut sebelum penggabungan usaha secara otomatis ditetapkan sebagai premi
yang telah dibayar pada awal periode oleh bank hasil penggabungan usaha.
b) Dalam rangka penyesuaian premi setelah akhir periode, jumlah saldo bulanan total
simpanan dari masing-masing bank sebelum penggabungan usaha diperhitungkan
sebagai saldo bulanan total simpanan bank hasil penggabungan usaha untuk periode
yang telah dilalui sebelum penggabungan usaha.
Dalam hal izin usaha bank dicabut oleh Lembaga Pengawas Bank (LPP) sebelum
berakhirnya periode, maka:
a) Penyesuaian premi tidak dilakukan.
b) LPS tidak mengembalikan bagian premi yang telah dibayar pada awal periode untuk
proporsi periode yang belum dilalui; dan
c) Semua tunggakan premi dan denda yang belum dibayar bank kepada LPS sampai
dengan tanggal pencabutan izin usaha tetap menjadi kewajiban yang harus dibayarkan
bank kepada LPS.

Dalam rangka perhitungan rata-rata saldo bulanan total simpanan, kewajiban bank dalam
valuta asing dikonversikan terlebih dahulu kedalam mata uang rupiah dengan
menggunakan kurs yang digunakan bank untuk penyampaian laporan bulanan.

d. Laporan Bank
Setiap bank wajib menyampaikan laporan secara berkala kepada LPS, yaitu:
a) Laporan posisi simpanan setiap akhir bulan, paling lambat tanggal 15 (lima belas)
bulan berikutnya.

22
b) Laporan keuangan bulanan, paling lambat pada akhir bulan berikutnya.
c) Laporan keuangan tahunan yang telah diaudit, atau laporan keuangan tahunan
yang disampaikan kepada LPP bagi bank yang tidak diwajibkan oleh LPP untuk
menyampaikan laporan keuangan tahunan yang telah diaudit, paling lambat
tanggal 31 Mei tahun berikutnya. LPP dalam hal ini adalah Bank Indonesia.

Selain menyampaikan laporan secara berkala tersebut, setiap bank juga harus
menyampaikan laporan susunan pemegang saham, direksi, dan komisaris bank setiap kali
ada perubahan pemegang saham, direksi, komisaris, atau kepemilikan, paling lambat 14
(empat belas) hari kalender setelah terjadi perubahan dimaksud dengan format sebagai
berikut:

23
Nama Bank
Laporan Susunan Direksi, Komisaris, dan Pemegang Saham
Per Tanggal.......Bulan.............Tahun..................

DIREKSI
No Nama No Nama
1
2
3
4

KOMISARIS
No Nama No Nama
1
2
3
4

PEMEGANG
SAHAM
Kepemilikan
No Nama
Nominal (Rp Juta) %
1
2
3
4
5
6
7

24
DAFTAR PUSTAKA

Taswan. 2015. Akuntansi Perbankan: Transaksi dalam Valuta Asing (Edisi III).
Yogyakarta: UPP STIM YKPN.