Anda di halaman 1dari 12

Selasa, 7 April 2015

Soal 1
Jeweran buat Telkom
Sumber: Tempo online, 16 juni 2003
Siapa sangka, PT Telkom tersandung “batu besar” seperkasa Securities Exchange Commision
(SEC), yang berfungsi sebagai badan pengawas pasar modal di Amerika Serikat. Sementara
banyak perusahaan terpeleset karena “batu kerikil”, Telkom sebaliknya. Perusahaan pelat
merah ini tidak tergelincir di bursa Jakarta, tapi di bursa New York. Agak aneh memang,
namun itulah yang terjadi. Semua bermula pada 27 Mei 2003, ketika laporan keuangan
Telkom ditolak SEC. Belum lagi direksi Telkom yang menyiasati kejutan ini, saham Telkom
di New York Stock Exchange (bursa saham New York) sudah dihentikan perdagangannya,
Rabu 12 juni silam. Tentang sanksi ini, Komisaris Utama Telkom, Bacelius Ruru,
berkomentar, “Bukan suspend, tapi halted,” ujarnya. Mungkin yang dimaksudnya, sanksi itu
ringan sehingga tak perlu dikhawatirkan. Tapi bagaimana tidak khawwatir? Laporan
Keuangan Telkom tahun 2002 ditolak SEC tak lain karena laporan itu bukan hasil audit dari
kantor akuntan publik yang diakui SEC. PT Telkom lalu diberi waktu sampai 30 Juni 2003
untuk menyerahkan hasil audit ulangan. Berarti, hanya tersisa sekitar dua minggu. Direksi
Telkom pun meminta agar batas waktu itu diperpanjang. Dan, “kami kesulitan memenuhi
tenggat itu,” ujar Direktur Utama Telkom, Kristiono. Adapun laporan keuangan PT Telkom
yang ditolak itu dibuat oleh Eddy Pianto. Auditor ini semula mengaku memiliki hubungan
kerja dengan Grant Thornton, kantor akuntan publik yang terdaftar di Amerika. Ternyata
hubungan keduanya sudah berakhir. Eddy sendiri juga tak terdaftar atau memiliki asosiasi
dengan kantor akuntan lain yang terdaftar di SEC, sesuai dengan peraturan yang berlaku di
sana. “Cacat” Eddy bertambah karena, sebagai auditor Telkom, ia tak mendapat concern letter
dari PricewaterhouseCoopers (PWC), yang mengaudit Telkomsel-anak perusahaan Telkom.
PWC menolak menyerahkan surat penting itu karena menilai Eddy tak mampu melakukan
audit yang bisa diterima pengawas pasar modal Amerika. “Alasan itu tertera dalam surat SEC
kepada kami,” Kristiono mengungkapkan. Setelah itu, SEC masih memberi kesempatan bagi
Eddy untuk melakukan proses credential alias unjuk kebolehan ilmu audit sesuai dengan
standar Amerika. Sayangnya Eddy tak lulus. Vonis langsungd diketuk: Eddy tak memenuhi
syarat menjadi auditor bagi perusahaan yang mencatatkan sahamnya di bursa Amerika.
Seperti disebutkan pada awal tulisan ini, vonis SEC ditanggapi oleh pengelola bursa New
York dengan menghentikan sementara perdagangan saham Telkom, Rabu pekan lalu. Bahkan
saham Telkom, kabarnya, teranca, didepak dari Wall Street-nama beken bursa saham New
York. Ancaman delisting jelas bikin menggigil. Akibatnya, kemampuan Telkom menjaring
dana dari pasar modal internasional menurun. Padahal Telkom butuh duit untuk
mengembangkan jaringan lokal dan berekspansi di jaringan seluler demi mengantisipasi
rencana pemerintah yang mengizinkan masuknya pesaing asing. Reaksi panik kontan
melanda Jakarta. Investor ramai-ramai menjual saham Telkom; harganya pun turun 7 persen
mendekati Rp 4.350, rekor terendah dalam tiga pekan terakhir. Kejatuhan nilai saham Telkom
ini membuat indeks saham gabungan turun hingga 2,7 persen. Maklum, Telkom adalah
perusahaan dengan kapitalisasi terbesar di BEJ (sekitar Rp 42,5 triliun). Poltak Hotradero,
analis dari Dinamina Usaha Jaya Secutities, menilai gelombang panik itu terlalu berlebihan.
Menurut Poltak, jeweran SEC kepada Telkom adalah hal biasa. “Emiten sekelas American
On-Line (AOL) dan IBM juga pernah mengalaminya,” ujarnya. Setelah skandal Enron dan
WorldCom mengguncang dunia, SEC memang lebih galak memelototi laporan keuangan
perusahaan publik di bursa Amerika. Mereka diminta meningkatkan kualitas transparansi dan
akuntabilitasnya demi melindungi kepentingan investor. Poltak melihat masalah Telkom ini
disebakan status auditor, bukan lantaran manipulasi akuntansi. Memang muskil bagi Telkom
untuk menyerahkan perbaikan laporan keuangan sesuai denga tenggat SEC. tapi, bila tenggat
dilanggar, paling resikonya Cuma terkena denda. “Delisting itu sulit dan persyaratannya jauh
lebih banyak,” katanya. Secara fundamental, Telkom sebetulnya baik-baik saja. Tahun lalu
Telkom meraup laba Rp 8,35 triliun. Kontribusi terbesar diberikan Telkomsel, anak
perusahaannya di bisnis telepon seluler. “Di antara semua BUMN, kualitas manajemen dan
kinerja Telkom memang masih yang terbaik,” kata Poltak, memuji. Walaupun kini
bermasalah, dalam jangka panjang diperkirakan saham Telkom masih menjanjikan
keuntungan buat investor. Rekomendasi Poltak: belilah saham Telkom. “Terutama sekarang,
ketika harganya turun karena orang ramai-ramai menjual,” ujar Poltak tertawa. Nugroho
Dewanto
1. Menurut anda mengapa auditor yang mengaudit laporan keuangan Telkom tahun buku
2002 tidak diakui oleh SEC sebagai auditor yang terdaftar di SEC? Jelaskan secara
singkat!

Thornton AS tidak berafiliasi lagi dengan Grant Thornton Indonesia /KAP Eddy Pianto,
serta KAP Eddy Pianto tidak terdaftar atau memiliki asosiasi dengan kantor akuntan lain
yang terdaftar di SEC. Berdasarkan surat SEC kepada PT. Telkom tertanggal 27 Mei
2003, SEC menyatakan tidak dapat menerima Form 20-F yang disampaikan oleh PT.
Telkom dengan alasan-alasan sebagai berikut :

· Laporan Keuangan Konsolidasi PT. Telkom Tahun Buku 2002 belum mendapatkan
quality control dari Grant Thornton LL,P., selaku US Affiliate KAP Eddy Pianto
· PWC tidak memberikan ijin untuk dimasukkannya Laporan Auditnya atas Laporan
Keuangan PT. Telkomsel Tahun Buku 2002 dalam Form 20-F PT. Telkom

2. Laporan keuangan Telkom tahun 2002 diminta untuk diaudit ulang. Bagaimana tanggapan
anda mengenai audit ulang laporan keuangan suatu perusahaan untuk tahun buku yang
sama dan jenis penugasan audit yang sama?

Menurut saya mengenai audit ulang laporan keuangan suatu perusahaan untuk tahun buku
yang sama dan jenis penugasan audit yang sama seharusnya dapat dilakukan jika
diperoleh bukti audit yang cukup dan tepat. Serta menerapkan independensi dalam audit
ulang laporan keuangan suatu perusahaan dan tidak berpihak terhadap pihak tertentu.
Integritas dan kompetensi juga harus diterapkan dalam melaukan audit ulang laporan
keuangan suatu perusahaan untuk tahun buku yang sama dan jenis penugasan audit yang
sama.
3. Menurut anda apakah terdapat pelanggaran etika profesi dalam kasus Telkom ini? Jika
ada sebutkan pihak mana yang melanggar dan apa pelanggarannya!

a. Integritas
PWC melanggar kode etik integritas karena tidak menaati hukum secara profesional
yaitu dengan melanggar undang-undang nomor 5 tahun 1999 tentang Larangan
Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Hal itu dapat dilihat dari PWC
tidak memberikan kepada KAP Eddy Pianto laporan PT. Telkomsel yang pernah
diauditnya sehingga KAP Eddy Pianto harus memulainya lagi dari bawah tanpa tahu
dokumen-dokumen apa saja yang pernah di audit, dan menyembunyikan hasil audit
beserta opininya sehingga PT. Telkom melakukan inpermission atas hasil kerja PWC
yang saat itu waktunya sangat terbatas.

b. Objektivitas

PWC melanggar kode etik objektivitas karena mementingkan kepentingan KAP nya
sendiri dengan tujuan agar tidak mengalami kerugian. Akibatnya tindakan tersebut
menyebabkan kerugian pada berbagai pihak yaitu KAP Eddy Pianto, PT. Telkomsel
dan para pemegang saham.

4. Bagaimana peranan komite audit PT Telkom dalam kasus ini?

Dalam kasus PT Telkom, komite audit harus menelaah informasi keuangan yang akan di
keluarkan dari perusahaan dalam hal ini informasi keuangan PT Telkom itu sendiri.
Komite audit juga berperan dalam mengatur ketaatan perusahaan terhadap perundang-
undangan di bidang Pasar Modal dan perundang-undangan lainnya yang berhubungan
dengan kegiatan PT Telkom. Komite audit dapat memberikan sanksi dikarenakan laporan
keuangan yang dimiliki PT Telkom tidak dilakukan sesuai dengan undang-undang yaitu
dilakukan oleh Akuntan Publik yang sudah terpercaya obejektivitasnya dan
independensinya. Dalam hal ini KAP Eddy Pianto sebaiknya tidak diberikan kepercayaan
untuk melakukan audit terhadap laporan keuangan PT Telkom. Serta komite audit juga
memiliki peran untuk menjaga kerahasiaan dokumen, data dan informasi dari perusahaan
dalam kasus ini berarti milik PT Telkom.

5. Hasil re-audit terhadap laporan keuangan PT Telkom untuk tahun 2002 yang dilakukan
oleh PwC memiliki perbedaan yang signifikan dengan hasil audit KAP Eddy Pianto.
Menurut pendapat saudara mengapa hal ini dapat terjadi? Apakah hal ini berkaitan dengan
kompetensi, independensi dan integritas auditor yang melakukan audit tersebut?

Hasil re-audit terhadap laporan keuangan PT Telkom untuk tahun 2002 yang dilakukan
oleh PwC memiliki perbedaan yang signifikan dengan hasil audit KAP Eddy Pianto
karena KAP Eddy Pianto tidak memiliki kompetensi yang sesuai dalam mengaudit
laporan PT Telkom. Tidak kompetennya KAP Eddy Pianto merembet pada hasil audit
laporan keuangan tahun 2000 dan 2001 oleh HTM dan DTT. Selain itu hal ini juga
berkaitan dengan tidak integritasnya KAP Eddy Pianto karena setelah hubungannya
dengan Grant Thronton sudah berakhir, KAP Eddy Pianto meminta jaminan kepada KAP
Eddy Pianto akan keabsahan Iwan Mark yang bukan partner dari Thornton International.
KAP Eddy Pianto berdalih bahwa akan tetap menjadi Member Firm Thornton sampai
akhir Maret 2003, dengan demikian auditnya mendompleng nama Thornton. KAP Eddy
Pianto memberikan keyakinan dan jaminan bahwa SEC reviewer yang terlibat memiliki
kualifikasi dan kompetensi profesional serta memenuhi persyaratan SEC.

6. Sesuai aturan yang berlaku (PMK 17), bagaimanakah aturan mengenai


kerjasama/afiliasi antara kantor akuntan lokal dengan kantor akuntan asing atau
organisasi akuntan asing di Indonesia?
(1) KAP hanya dapat mencantumkan nama KAPA atau OAA pada nama kantor,
kepala surat, dokumen, dan media lainnya setelah mendapat persetujuan Sekretaris
Jenderal atas nama Menteri.
(2) Penulisan huruf pada nama KAPA atau OAA sebagaimana dimaksud pada ayat
(1), dilarang melebihi besarnya huruf nama KAP tersebut.
(3) Persetujuan pencantuman nama KAPA atau OAA sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) hanya diberikan apabila memenuhi ketentuan sebagai berikut:
a. melakukan perjanjian kerja sama secara langsung dengan satu KAPA atau OAA;
b. kerja sama bersifat berkelanjutan yaitu tidak terbatas hanya untuk suatu penugasan
tertentu yang dinyatakan dalam perjanjian kerja sama;
c. terdapat reviu mutu paling sedikit sekali dalam 4 (empat) tahun oleh KAPA atau
OAA yang dinyatakan dalam perjanjian kerja sama;
d. kerja sama yang dilakukan paling sedikit mencakup bidang jasa audit umum atas
laporan keuangan yang dinyatakan dalam perjanjian kerja sama;
e. tidak menggunakan nama KAPA atau OAA yang sedang digunakan oleh KAP lain;
f. perjanjian kerja sama sebagaimana dimaksud pada huruf a sampai dengan huruf e
harus disahkan notaris;
g. keanggotaan OAA paling sedikit diikuti oleh KAPA yang terdapat di 20 (dua
puluh) negara di dunia; dan
h. membuat Surat Permohonan, melengkapi formulir Permohonan Persetujuan
Pencantuman Nama KAPA atau OAA Bersama-sama dengan Nama KAP, dan
membuat surat pernyataan bermeterai cukup bahwa data persyaratan yang
disampaikan adalah benar dengan menggunakan Lampiran X sebagaimana terlampir
dalam Peraturan Menteri Keuangan ini.

Perjanjian kerja sama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, paling sedikit
memuat:
a. pihak-pihak yang melakukan perjanjian;
b. sifat dan ruang lingkup kerja sama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (3)
huruf b dan d;
c. hak dan kewajiban masing-masing pihak yang melakukan perjanjian kerja sama;
d. hak KAP untuk mencantumkan nama KAPA atau OAA;
e. penyelesaian sengketa dalam hal terjadi perselisihan;
f. kewajiban reviu mutu secara periodik oleh KAPA atau OAA; dan
g. pernyataan bahwa kerja sama pencantuman nama KAPA atau OAA hanya dengan
KAP tersebut.
Persetujuan pencantuman nama KAPA atau OAA sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dinyatakan tidak berlaku, apabila izin usaha KAP dinyatakan tidak berlaku.

7. Dalam kasus di atas dapat kita simpulkan bahwa di Indonesia masih langka auditor
yang dianggap dapat memenuhi standar kualitas dan kualifikasi SEC, Menurut
pendapat saudara langkah apakah yang harus diambil oleh Pemerintah dan IAI/IAPI
agar di kemudian hari auditor kita dapat dianggap sejajar dan memenuhi kualifikasi
dan kualitas sebagai auditor internasional/dunia?

Menurut pendapat saya, selaku Pemerintah ataupun IAI sebaiknya melakukan


peningkatan terhadap kualitas pekerjaan auditor seperti peningkatan kualifikasi
keahlian, ketepatan waktu penyelesaian pekerjaan dengan cara membuat suatu
peraturan yang berlaku untuk Kantor Akuntan Publik maupun Akuntan Publik di
Indonesia. Kualitas audit yang baik akan memberikan konsekuensi bagi pihak yang
diaudit (auditee). Salah satu bentuk konsekuensi tersebut adalah kepuasan auditee.

8. Dalam suatu general audit sejauh mana peranan auditor untuk mengungkap fraud
yang terjadi dalam perusahaan yang diauditnya?
Auditor yang melaksanakan audit berdasarkan SA bertanggung jawab untuk
memperoleh keyakinan memadai apakah laporan keuangan secara keseluruhan bebas
dari kesalahan penyajian material, yang disebabkan oleh kecurangan atau kesalahan.
Karena keterbatasan bawaan suatu audit, maka selalu ada risiko yang tidak
terhindarkan bahwa beberapa kesalahan penyajian material dalam laporan keuangan
mungkin tidak akan terdeteksi, walaupun audit telah direncanakan dan dilaksanakan
dengan baik berdasarkan SA. Dalam memperoleh keyakinan yang memadai, auditor
bertanggung jawab untuk menjaga skeptisisme profesional selama audit,
mempertimbangkan potensi terjadinya pengabaian pengendalian oleh manajemen, dan
menyadari adanya fakta bahwa prosedur audit yang efektif untuk mendeteksi
“kesalahan” mungkin tidak akan efektif dalam mendeteksi “kecurangan”.
Jika auditor merasa curiga, auditor dapat melakukan hal seperti:
 meminta keterangan dari manajemen atau audit internal pengetahuan tentang
kecurangan yg aktual, diduga, dicurigai berdapak pada entitas.
 memperoleh pemahaman tentang bagaimana pihak yang bertanggung jawab
terhadap tata kelola melakukan pengawasan terhadap proses yang diterapkan oleh
manajemen dalam mengidentifikasi dan merespons risiko kecurangan dalam
entitas dan pengendalian internal yg telah ditetapkan oleh manajemen untuk
mengurangi risiko tersebut.
 mengevaluasi apakah hubungan tidak biasa atau tidak terduga yang telah
diidentifikasi ketika melaksanakan prosedur analitis, termasuk yang terkait
dengan akun pendapatan, dapat mengindikasikan adanya risiko kesalahan
penyajian material yang diakibatkan oleh kecurangan.
 mengevaluasi apakah informasi yang diperoleh dari prosedur penilaian risiko lain
dari aktivitas terkait yang telah dilaksanakan mengindikasikan bahwa terdapat
satu atau lebih faktor risiko kecurangan.
Jika auditor mengidentifikasi adanya kesalahan penyajian baik material atau tidak,
dan auditor memiliki alasan untuk mempercayai bahwa itu mungkin merupakan atau
akibat dari kecurangan dan bahwa manajemen terlibat didalamnya, maka auditor
harus mengevaluasi ulang penilaian risiko kesalahan penyajian material yang
diakibatkan oleh kecurangan dan dampaknya terhadap sifat, saat, dan luas prosedur
audit untuk merespons risiko yang telah ditentukan. Auditor juga harus
mempertimbangkan apakah keadaan atau kondisi mengindikasikan adanya
kemungkinan kolusi yang melibatkan karyawan, manajemen, atau pihak ketiga ketika
mempertimbangkan kembali keandalan bukti audit
Jika auditor mengonfirmasikan bahwa, atau tidak dapat menyimpulkan tentang
apakah, laporan keuangan kesalahan penyajian secara material yang diakibatkan oleh
kecurangan, maka auditor harus mengevaluasi dampaknya terhadap audit.
Auditor dapat mengkomunikasikan hasil temuan tersebut kepada pihak yang
bertanggung jawab atas tata kelola jika ada indikasi manajemen yang melakukan
kecurangan. Selain itu, auditor juga dapat mengkomunikasikan hasil temuannya
kepada badan pengatur dan penegak hukum. Meskipun tugas profesional auditor
untuk menjaga kerahasiaan informasi klien mungkin menghalangi pelaporan tersebut,
tanggung jawab hukum auditor dapat mengabaikan tugas menjaga kerahasiaan
tersebut dalam beberapa kondisi seperti peraturan perundang-undangan (termasuk
keputusan pengadilan).
Jika sebagai akibat kesalahan penyajian yang disebabkan oleh kecurangan atau
dugaan kecurangan, auditor menghadapi keadaan luar biasa yang menyebabkan
kemampuan auditor untuk melanjutkan pelaksanaan audit dipertanyakan, maka
auditor harus;
 menentukan tanggung jawab profesional dan hukum yang dapat berlaku dalam
kondisi tersebut, termasuk apakah ada ketentuan bagi auditor untuk melaporkan
individu atau kelompok individu yang membuat perjanjian audit atau dalam
beberapa kasus, kepada pengatur.
 mempertimbangkan apakah sudah tepat untuk menarik diri dari perikatan, jika
penarikan diri dimungkinkan oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Jika auditor menarik diri dari perikatan, auditor harus membahas dengan tingkat
manajemen yg tepat dan pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola tentang
penerikan diri auditor dari perikatan dan alasannya dan menentukan apakah ada
ketentuan profesional atau hukum untuk “melapor” kepada individu atau
kelompok individu yang membuat perjanjian audit atau, dalam beberapa kasus,
kepada badan pengatur tentang penarikan diri auditor dari perikatan dan
alasannya
Selain itu auditor harus memperoleh “representasi tertulis” dari manajemen dan, jika
relevan, pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola, yang mengungkapkan
tentang:
– tanggung jawab mereka dlm merancang, implementasi, memelihara internal
control
– pengetahuan tentang penilaian manajemen atas risiko kesalahan akibat
kecurangan
– pengetahuan tentang kecurangan yg melibatkan manajemen dan karyawan
– pengetahuan adanya dugaan kecurangan yg berdampak kepada laporan
keuangan entitas, yang dikomunikasikan oleh karyawan, mantan karyawan,
analis, badan pengatur dan lainnya.
Kesimpulannya, auditor bertanggung jawab kepada kecurangan hanya sebatas
sepengetahuannya dalam proses audit, karena dalam audit laporan keuangan tidak
terdapat kewajiban untuk menelusuri kecurangan tersebut hanya sebatas menilai dan
melaporkan saja, karena untuk menelusuri kecurangan dibutuhkan teknik dan jasa
audit lain yang disebut audit investigatif.

9. Menurut anda apa gunanya seorang auditor memeriksa kejadian setelah tanggal
neraca (subsequent events) dalam melakukan pekerjaan audit?
Subsequent Events adalah peristiwa atau transaksi yang terjadi setelah tanggal neraca
tetapi sebelum diterbitkannya laporan audit yang mempunyai akibat yang material
terhadap laporan keuangan dan memerlukan penyesuaian atau pengungkapan dalam
laporan tersebut.
Subsequent event harus dilakukan pemeriksaan dengan tujuan:
 Menentukan keberadaan kejadian penting sesudah tanggal neraca yang
membutuhkan penyesuaian terhadap laporan keuangan atau memerlukan
pengungkapan dalam catatan atas laporan keuangan agar tidak menyesatkan
pengguna laporan keuangan
 Menentukan kemungkinan tertagihnya piutang
 Memastikan bahwa “barang dalam perjalanan” yang tercantum di neraca per
tanggal neraca, masih di perjalanan
 Untuk memastikan kewajiban dan beban yang masih harus dibayar yang
tercantum di neraca per tanggal neraca, merupakan kewajiban perusahaan yang
akan dilunasi pada saat jatuh temponya (sesudah tanggal neraca)
 Memastikan bahwa tidak ada kewajiban perusahaan yang belum dicatat per
tanggal neraca
10. Dalam pemberian tanggal audit report, kita mengenal istilah dual dating atau tanggal
ganda pada laporan audit. Apa yang dimaksud dengan tanggal ganda dan pada kondisi
apa auditor memberikan tanggal ganda?
Tanggal ganda (dual dating) merupakan salah satu metode yang dapat dipilih oleh
auditor untuk memberikan tanggal laporan auditnya, yang dilakukan jika auditor
menyadari suatu peristiwa kemudian material yang terjadi setelah selesainya
pekerjaan lapangan tetapi sebelum penerbitan laporan.
Soal 2
Jika anda memperhatikan laporan audit dengan opini wajar tanpa pengecualian dengan
seksama, anda akan melihat beberapa paragraf penting. Jelaskan mengapa paragraf atau
rangkaian kata tersebut yang dipilih, dan bukan alternative lainnya.
a. “Tanggung jawab kami adalah untuk menyatakan pendapat mengenai laporan
keuangan ini berdasarkan audit yang kami lakukan” dan bukannya “Tanggung jawab
kami adalah untuk mendeteksi kecurangan yang terjadi..”
Karena tugas auditor adalah untuk menilai kewajaran dari laporan keuangan yang di
audit yang di dasari pada SA yang sudah di atur bukan semata-mata untuk mendeteksi
kecurangan yang terjadi karna pada akhirnya hasil dari pemeriksaan audit adalah
berupa laporan audit yang berisikan keterangan atas wajar atau tidaknya laporan
keuangan dari perusahaan yang diaudit.
b. “Kami melakukan audit sesuai dengan standar auditing yang berlaku umum” dan
bukannya “kami melakukan audit sesuai dengan standar akuntansi keuangan dan
peraturan perpajakan yang berlaku”.
Karena standar akuntansi keuangan hanya digunakan untuk menyusun dan
mendistribusikan laporan keuangan dan peraturan perpajakan hanya mengatur
mengenai ketentuan-ketentuan pajak suatu entitas, sedangkan standar auditing
mengatur mengenai pelaksanaan auditing dan disusun untuk digunakan sebagai
pedoman auditor dalam menyatakan pendapatnya tentang kewajaran suatu laporan
keuangan.

c. “Laporan keuangan tersebut di atas menyajian secara wajar, dalam semua hal yang
material, posisi keuangan” dan bukannya “Laporan keuangan tersebut di atas
menyajikan secara benar”.
Karena auditor dalam melakukan audit hanya memeriksa berdasarkan sampel saja
(bukan keseluruhan data), dan juga karena dalam menyusun laporan keuangan,
akuntan dipengaruhi dengan estimasi dan professional judgement.
Soal 3
1. Jasa review laporan keuangan bukan merupakan jasa atestasi
Jasa Review
Sebuah penugasan jasa review memungkinkan keterlibatan akuntan dalam
memberikan assurance terbatas bahwa laporan keuangan telah sesuai degan SAK,
termasuk pengungkapan informatif yang tepat atau basis akuntansi komprehensif
yang lain seperti basis kas akuntansi. Akuntan publik harus independen dari klien
untuk dapat melakukan jasa review.
Prosedur yang Disarankan dalam Jasa Review
Bukti untuk penugasan jasa review tetrdiri atas tanya jawab atas proseedur analitis
dan manajemen, membutuhkan prosedur jauh lebih sedikit dibanding dengan audit.
Untuk jasa review, akuntan tidak memperoleh pemahaman tentang pengendalian
internal, pengendalian pengujian, atau melakukan pengujian substantif atas transaksi
atau saldo, seperti konfirmasi piutang dagang atau pemeriksaan persediaan secara
fisik.
PSAR merekomendasikan prosedur berikut untuk suatu jasa review:
 Memperoleh pengetahuan tentang prinsip-prinsip akuntansi dan praktik
industri klien. Akuntan dapat mempelajari panduan industri atau sumber lain
untuk mendapatkan pengetahuan tersebut. Tingkat pngetahuan yang
dibutuhkan sedikit dibawah audit.
 Memperoleh pemahaman mengenai klien. Informasi yang perlu diperoleh
antara lain mengenai sifat transaksi bisnis klien, pembukuan dan
karyawannya, dan isi dari laporan keuangan. Tingkat pengetahuan yang
dibutuhkan lebih sedikit dari audit.
 Melakukan tanya jawab dengan manajemen. Tanya jawab adalah prosedur
telaah yang paling penting. Tujuannya adalah untuk menentukan apakah
laporan keuangan disajikan secara wajar, dengan asumsi bahwa manajemen
tidak bermaksud untuk menipu akuntan. Pertanyaan harus dibuat dari personel
klien yang tepat dan biasanya melibatkan diskusi. Seperti contoh pertanyaan
berikut:
1. Jelaskan prosedur anda untuk mencatat, mengklasifikasikan, dan meringkas
transaksi serta mengungkapkan informasi dalam laporan.
2. Apa tindakan terpenting yang diambil pada rapat pemegang saham dan dewan
direksi tahun ini?
3. Apakah tiap akun pada laporan keuangan disajikan sesuai dengan GAAP dan
diterapkan secara konsisten?
 Melakukan prosedur analitis. Tindakan ini mengidentifikasi kaitan dan akun
individu yang tampak tidak wajar. Prosedur analisis yang tepat tidak berbeda
dengan yang elah dipelajari sebelumnya. Selain memperhatikan tren yang
tidak wajar tersebut, akuntan juga harus melakukan tanya jawab lebih lanjut
dengan personel klien untuk mendapatkan penjelasan dari tiap kaitan yang tak
terduga.
 Mendapatkan surat representasi. Akuntan diwajibkan untuk mendapatkan
surat representasi dari pihak manajemen yang memahami keangan.

Berdasarkan prosedur tersebut, skuntan bisa jadi akan memperhatikan bahwa terdapat
informasi yang tidak benar, tidak lengkap, atau tidak memuaskan. Jika demikian,
maka prosedur tambahan harus dilakukan sebelum akuntan menerbitkan laporan
standar jasa review.

2. Dalam memberikan opini, akuntan publik menggunakan kata wajar karena dalam
memeriksa bukti transaksi hanya berdasarkan sample bukan seluruh populasi
transaksi yang terjadi

1. Pendapat wajar tanpa pengecualian (Unqualified Opinion) --WTP


Pendapat wajar tanpa pengecualian menyatakan bahwa laporan keuangan
menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan, hasil
usaha, dan arus kas entitas tertentu sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku
umum di Indonesia. Ini adalah pendapat yang dinyatakan dalam laporan auditor
bentuk baku. Kriteria pendapat wajar tanpa pengecualian antara lain.

1. Laporan keuangan lengkap

2. Tiga standar umum telah dipenuhi

3. Bukti yang cukup telah diakumulasi untuk menyimpulkan bahwa tiga standar
lapangan telah dipatuhi

4. Laporan keuangan telah disajikan sesuai dengan GAAP (Generally Accepted


Accounting Principles)

5. Tidak ada keadaan yang memungkinkan auditor untuk menambahkan paragraf


penjelas atau modifikasi laporan

2. Opini Wajar Tanpa Pengecualian dengan Paragraf Penjelasan (Modified


Unqualified Opinion)-- WTP-DPP

Keadaan tertentu mungkin mengharuskan auditor menambahkan suatu paragraf


penjelasan (atau bahasa penjelasan yang lain) dalam laporan auditnya. Auditor
menyampaikan pendapat ini jika:

1. Kurang konsistennya suatu entitas dalam menerapkan GAAP

2. Keraguan besar akan konsep going concern Auditor ingin menekankan suatu
hal

3. Pendapat wajar dengan pengecualian (qualified opinion) --WDP

Pendapat wajar dengan pengecualian, menyatakan bahwa laporan keuangan


menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan, hasil
usaha, dan arus kas entitas tertentu sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku
umum di Indonesia, kecuali untuk dampak hal-hal yang berhubungan dengan yang
dikecualikan.
Suatu laporan yang diterbitkan dengan qualified opinion apabila auditor yakin
bahwa laporan keuangan secara keseluruhan telah disajikan secara wajar tetapi
ada pembatasan ruang lingkup audit atau data keuangan menunjukan kelalaian
dalam mengikuti GAAP/PSAK
3. Jumlah paragraf dalam laporan auit dengan opini wajar tanpa pengecualian dengan
paragraf penjelasan berjumlah 3 paragraf

Bagian dari laporan audit standar, yaitu:


1. Judul laporan. Standar auditing mengharuskan pemberian judul pada laporan
dan judul itu harus memuat kata`independen.`Misalnya, judul yang tepat adalah
“laporan`auditor independen” atau “kata independen” dimaksudkan untuk
meyakinkan pemakai bahwa dalam semua aspek penugasan auditing tersebut
tidak menyimpang.
2. Alamat yang dituju laporan auditing. Laporan ini biasanya ditujukan kepada
perusahaan bersangkutan, pemegantg saham, atau dewan direksinya. Dalam
beberapa tahun belakangan, makin sering laporan ini ditujukan kepada para
pemegang saham untuk menunjukkan bahwa auditor independen terhadap
perusahaan dan dewan direksi, dan komisarisnya.
3. Paragraf pendahuluan. Paragraf pertama dari laporan ini ditujukan untuk tiga
hal: pertama, paragraf ini merupakan pernyataan sederhana bahwa kantor
akuntan publik bersangkutan telah melaksanakan suatu audit. Hal ini
dimaksudkan untuk membedakan laporan tersebut dari laporan kompilasi atau
penelaahan. Kedua, paragraf itu mencantumkan laporan keuangan yang
diperiksa, termasuk tanggal neraca dan periode-periode akuntansi untuk laporan
rugi-laba dan laporan arus kas. Kata-kata dalam laporan tersebut harus sama
dengan laporan yang digunakan manajemen untuk laporan keuangan
itu. Ketiga, paragraf pendahuluan yang menyatakan bahwa laporan keuangan
tersebut merupakan tanggung jawab manajemen dan bahwa tanggung jawab
auditor adalah sebatas pada pendapat atas laporan yang diperiksa.
4. Paragraf ruang lingkup. Paragraf ruang lingkup adalah pernyataan faktual
mengenai apa yang dilakukan auditor di dalam auditing. Paragraf ini terlebih
dahulu menyatakan bahwa auditor bersangkutan mengikuti standar auditing
yang berlaku umum. Bagian selanjutnya menerangkan secara singkat mengenai
aspek-aspek penting dari suatu auditing.

Arens (2012) menyebutkan setidaknya ada lima penyebab adanya penambahan


paragraf penjelas maupun modifikasi kalimat:

1. Kurangnya penerapan standar akuntansi keuangan yang berlaku umum


secara konsisten

2. Keraguan substansial akan asumsi keberlanjutan (gong concern) entitas

3. Auditor menyetujui penyimpangan dari prinsip akuntansi yang berlaku


umum

4. Penekanan akan sebuah permasalahan

5. Laporan melibatkan auditor lain

Masih menurut Arens (2012) keempat penyebab pertama tadi mensyaratkan


pemberian paragraf penjelas. Paragraf penjelas ditulis pada sebuah paragraf
terpisah, setelah 3 (tiga) paragraf standar laporan hasil audit tanpa adanya
modifikasi. Hanya pada laporan yang melibatkan auditor lain diterapkan
modifikasi kalimat. Laporan jenis ini terdiri atas 3 (tiga) paragraf standar
laporan hasil audit, dan ketiganya diberikan modifikasi kalimat.
4. Opini terburuk adalah adverse opinion
Opini yang paling baik adalah Wajar Tanpa Pengeculian (Unqualified Opinion). Opini
ini diberikan karena auditor meyakini, berdasar bukti-bukti audit yang dikumpulkan,
laporan keuangan telah bebas dari kesalahan-kesalahan atau kekeliruan yang material.
Opini terbaik kedua adalah Wajar Dengan Pengecualian (Qualified Opinion). Opini
diberikan karena meskipun ada kekeliruan, namun kesalahan atau kekeliruan tersebut
secara keseluruhan tidak mempengaruhi kewajaran laporan keuangan.
Opini paling buruk adalah Tidak Wajar (Adverse Opinion). Opini diberikan karena
auditor meyakini, berdasar bukti-bukti yang dikumpulkannya, bahwa laporan
keuangan mengandung banyak sekali kesalahan atau kekeliruan yang material.
Artinya, laporan keuangan tidak menggambarkan kondisi keuangan secara benar.
Opini Tidak Memberikan Pendapat atau Menolak Memberikan Pendapat (Disclaimer
Opinion) tidak bisa diartikan bahwa laporan keuangan sudah benar atau salah. Opini
diberikan karena auditor tidak bisa meyakini apakah laporan keuangan benar atau
salah. Ini terjadi karena auditor tidak bisa memperoleh bukti-bukti yang dibutuhkan
untuk bisa menyimpulkan dan menyatakan apakah laporan sudah disajikan dengan
benar atau salah.
5. Laporan Keuangan yang telah diaudit ( audited financial statement) adalah
tanggungjawab akuntan public

Setuju, karena berdasarkan peraturan perundangan UU No 5 tahun 2011 ,bahwa


dengan menandatangani audit report , pihak Akuntan Publik dianggap setuju dengan
informasi-informasi keuangan yang tercantum dalam Laporan Keuangan sekalipun
sudah terdeteksi dan di adjust oleh Akuntan Publik tersebut maupun belum
6. Jika Internal Control suatu perusahaan tidak dapat diandalkan maka financial audit
tidak dapat dilakukan berdasarkan sampling

Setuju, karena hasil dari sampling nantinya menunjukkan insignificant sehingga


auditor akan kesulitan untuk memproses bukti-bukti audit sebagai dasar evaluasi
7. Tanggal yang tercantum dalam management letter harus sama dengan tanggal audit
report Tidak harus sama,karena salah satu syarat dari management letter adalah
timely/masih dalam periode audit bersangkutan ( namun sebaiknya disampaikan
bersamaan dengan audit report)

8. IAI adalah satu-satunya wadah yang menaungi akuntan public dan kantor akuntan
public yang ada di Indonesia

Tidak setuju, karena urusan akuntan public dan kantor akuntan public juga diatur oleh
institute yang berwenang yakni IAPI ( Institut Akuntan Publik Indonesia)