Anda di halaman 1dari 4

Health Savety Environtment

Dikesempatan kali ini saya akan membahas tentang apa itu HSE (Health
Safety Environtment)?. Mengapa HSE? Saya sendiri mahasiswi Teknik Lingkungan,
walaupun terbilang maba, saya sudah tertarik ingin bekerja di bidang HSE, konsulat,
atau Audit Lingkungan. Sebelumnya, saya sendiri tidak begitu tahu tentang HSE
ataupun semacamnya. Setelah saya searching, dan bertanya ke beberapa mahasiswa
tingkat akhir di universitas lain mengenai apa itu HSE, apa tugas HSE, dasar hukum
HSE, standart tentang HSE, dsb.

Apa itu HSE?

HSE adalah singkatan dari Health, Safety, Environment.
HSE merupakan


salah satu bagian dari manajemen sebuah perusahaan.
Ada manejemen keuangan,
manajemen sdm, dan juga ada Manajemen HSE.
Di perusahaan, manajemen HSE
biasanya dipimpin oleh seorang manajer HSE, yang bertugas untuk merencanakan,
melaksanakan, dan mengendalikan seluruh program HSE.
Program HSE disesuaikan
dengan tingkat resiko dari masing-masing bidang pekerjaan.
Misal HSE Konstruksi
akan beda dengan HSE Pertambangan dan akan beda pula dengan HSE Migas.
(Berdasarkan artikel Migas-indonesia.com)
HSE di beberapa perusahaan juga disebut EHS, HES, SHE, K3LL (Keselamatan &
Kesehatan Kerja dan Lindung Lingkungan) dan SSHE (Security, Safety, Health,
Environment)

Tugas HSE

Di perusahaan, manajemen HSE biasanya dipimpin oleh seorang manajer


HSE, yang bertugas untuk merencanakan, melaksanakan, dan mengendalikan
seluruh program HSE. Program HSE disesuaikan dengan tingkat resiko dari masing-
masing bidang pekerjaan. Misal HSE Konstruksi akan beda dengan HSE
Pertambangan dan akan beda pula dengan HSE Migas.

HSE bukan merupakan suatu standard. Namun dalam menerapkan HSE kita perlu
mengadopsi beberapa standard. Untuk sektor minyak dan gas, beberapa standard
tentang HSE yang dapat dipakai adalah :
• API RP 750, tentang Process Safety Management
• OSHA CPR 119.10. 110, tentang Process Safety Management
• OHSAS 18001, tentang Occupational Health and Safety
• Kepmenaker tentang SMK3
• NFPA, National Fire Protection Association
• NEC, National Electrical Code
• LSC, Life Safety Code

HSE distrukturkan secara sistematis sebagai sebuah sistem manajemen sebuah


organisasi untuk mencapai tujuan, sasaran dan visinya dalam aspek Keselamatan dan
Kesehatan kerja serta Lingkungan. Sebagai sebuah sistem, maka ini adalah panduan
dan aturan main bagi semua jajaran baik tim manajemen maupun pekerja dan sub
lini organisasi yang ada dalam organisasi/perusahaan.

Beberapa perusahaan mengintegrasikan sistem manajemen HSE ini dengan Sistem


Manajemen Sekuriti (Security) dan/atau Mutu (Quality). Bahkan ada yang
mengintegrasikan dengan semua aspek, spt. HR, Finance, Marketing dll, sehingga
terkadang nama sebuah sistem tidak lah terlalu penting, karena yang essential
adalah refleksi dari sistem itu sendiri dalam implementasinya.

Sebagai sebuah sistem manajemen modern, maka dokumentasi untuk panduan dan
pengimplementasian harus disusun dan disahkan untuk digunakan. Jenis dan tipe
dokumen-dokumen tersebut tergantung dari ukuran organisasi, jenis usaha,
kompleksitas proses yg terlibat dalam organisasi tersebut, tetapi paling tidak secara
umum dokumen-dokumen tersebut adalah :

• Kebijakan HSE dan/atau Sekuriti dan/atau Mutu


• Proses-proses yang diperlukan untuk operasional perusahaan dan
pengendaliannya.
• Prosedur-prosedur yang dibutuhkan untuk mendukung point 2
• Panduan/guideline
• Form-form isian yang berguna untuk kerangka pencatatan sebuah aktifitas atau
bukti pencapaian sebuah proses tertentu.
Untuk hal di atas, sudah ada standard-standard International/National HSE seperti:
• ISO 14001 untuk Sisten Manajemen Environment
• OHSAS 18001 untuk Occupational Health and Safety.
• OSHA untuk Occupational Health and Safety
• K3 untuk Occupational Health and Safety (standard Depnaker – Indonesia)
• ISM – untuk Occupational Heath and Safety

Di beberapa Perusahaan besar dan Perusahaan Oil & Gas, fungsi HSE ditempatkan di-
leher Direktur atau Dir.Utama, tujuannya agar HSE tidak memihak ke-salah satu
fungsi dalam suatu organisasi / independent.

Di beberapa perusahaan HSE ini disebut pula SHE dibawah divisi QHSE. Mengapa?
Karena yang diutamakan adalah Safety First Jadi SHE merupakan singkatan dari
Safety, Health and Environment dengan motto "Safety 4 Business" dimana divisi
QHSE langsung dibawah kontrol Direktur.

Untuk dasar landasan HSE biasanya mengacu pada aturan sistem K3LH yang
dikeluarkan oleh Kemnaker dengan gabungan beberapa aturan yang dikeluarkan
oleh holding.

Dasar Hukum HSE


Dasar Hukum
Ada minimal 53 dasar hukum tentang K3 dan puluhan dasar
hukum tentang Lingkungan yang ada di Indonesia. Tetapi, ada 4 dasar hukum yang
sering menjadi acuan mengenai K3 yaitu:


Pertama, dalam Undang-Undang (UU) No. 1 Tahun 1970 Tentang


Keselamatan Kerja, disana terdapat Ruang Lingkup Pelaksanaan, Syarat Keselamatan
Kerja, Pengawasan, Pembinaan, Panitia Pembina K-3, Tentang Kecelakaan,
Kewajiban dan Hak Tenaga Kerja, Kewajiban Memasuki Tempat Kerja, Kewajiban
Pengurus dan Ketentuan Penutup (Ancaman Pidana). Inti dari UU ini adalah, Ruang
lingkup pelaksanaan K-3 ditentukan oleh 3 unsur:

• Adanya Tempat Kerja untuk keperluan suatu usaha,


• Adanya Tenaga Kerja yang bekerja di sana
• Adanya bahaya kerja di tempat itu.

Dalam Penjelasan UU No. 1 tahun 1970 pasal 1 Tambahan Lembaran Negara


Republik Indonesia Nomor 2918, tidak hanya bidang Usaha bermotif Ekonomi tetapi
Usaha yang bermotif sosial pun (usaha Rekreasi, Rumah Sakit, dll) yang
menggunakan Instalasi Listrik dan atau Mekanik, juga terdapat bahaya (potensi
bahaya tersetrum, korsleting dan kebakaran dari Listrik dan peralatan Mesin
lainnya).

Kedua, UU No. 21 tahun 2003 tentang Pengesahan ILO Convention No. 81


Concerning Labour Inspection in Industry and Commerce (yang mana disahkan 19
Juli 1947). Saat ini, telah 137 negara (lebih dari 70%) Anggota ILO meratifikasi
(menyetujui dan memberikan sanksi formal) ke dalam Undang-Undang, termasuk
Indonesia (sumber: www.ILO.org). Ada 4 alasan Indonesia meratifikasi ILO
Convention No. 81 ini, salah satunya adalah point 3 yaitu baik UU No. 3 Tahun 1951
dan UU No. 1 Tahun 1970 keduanya secara eksplisit belum mengatur Kemandirian
profesi Pengawas Ketenagakerjaan serta Supervisi tingkat pusat (yang diatur dalam
pasal 4 dan pasal 6 Konvensi tersebut) – sumber dari Tambahan Lembaran Negara RI
No. 4309.

Ketiga, UU No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, khususnya Paragraf


5 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja, pasal 86 dan 87. Pasal 86 ayat
1berbunyi: “Setiap Pekerja/ Buruh mempunyai Hak untuk memperoleh perlindungan
atas (a) Keselamatan dan Kesehatan Kerja.”

Aspek Ekonominya adalah Pasal 86 ayat 2: ”Untuk melindungi keselamatan Pekerja/


Buruh guna mewujudkan produktivitas kerja yang optimal diselenggarakan upaya
Keselamatan dan Kesehatan Kerja.”

Sedangkan Kewajiban penerapannya ada dalam pasal 87: “Setiap Perusahaan wajib
menerapkan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang terintegrasi
dengan Sistem Manajemen Perusahaan.”

Keempat, Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No. Per-05/MEN/1996 tentang


Sistem Manajemen K3. Dalam Permenakertrans yang terdiri dari 10 bab dan 12 pasal
ini, berfungsi sebagai Pedoman Penerapan Sistem Manajemen K-3 (SMK3), mirip
OHSAS 18001 di Amerika atau BS 8800 di Inggris.

Semoga pembaca dapat terbantu dengan tulisan ini.

Referensi mengenai HSE :

[ http://migas-indonesia.com/2012/10/apa-itu-hse.html ]

[ https://ahlannet99.wordpress.com/2011/11/06/hse-health-safety-environment/ ]

[ http://ergonomi-fit.blogspot.co.id/2011/04/apa-itu-hse.html ]