Anda di halaman 1dari 26

REFLEKSI KASUS JULI 2018

APENDISITIS AKUT

OLEH :
NAMA : MUZAMIL PUTRA RAMADHAN
NIM : N 111 16 053

PEMBIMBING KLINIK
dr. Muh. Ikhlas, Sp.B, M.Kes

BAGIAN ILMU BEDAH


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TADULAKO
RUMAH SAKIT UMUM ANUTAPURA
PALU
2018
BAB I
PENDAHULUAN

Apendisitis akut adalah salah satu penyebab nyeri abdomen akut yang
paling sering ditemukan. Hipotesis penyebab paling umum adalah adanya
obstruksi lumen yang berlanjut kerusakan dinding apendiks dan pembentukan
abses. [1]
Apendisitis dapat ditemukan pada laki-laki maupun perempuan dengan
risiko menderita apendisitis selama hidupnya mencapai 7-8%. Insiden tertinggi
dilaporkan pada rentang usia 20-30 tahun. Kasus perforasi apendiks pada
apendisitis akut berkisar antara 20- 30% dan meningkat 32-72% pada usia lebih
dari 60 tahun, sedangkan pada anak kurang dari satu tahun kasus apendisitis
jarang ditemukan. [1]
Diagnosis apendisitis ditegakkan dengan riwayat penyakit, pemeriksaan
fisik, pemeriksaan laboratorium, dan ultrasonography (USG). Pemeriksaan suhu
tubuh termasuk dalam salah satu kriteria pada skor alvarado untuk penegakkan
diagnosis apendisitis. Suhu tubuh <37°C didapatkan pada pasien apendisitis tanpa
komplikasi dan pada kasus perforasi terdapat demam tinggi dengan rata-rata
38,3°C. Kadar leukosit secara signifikan lebih tinggi pada kasus perforasi
dibandingkan dengan tanpa perforasi. Leukositosis pada pasien apendisitis akut
dapat mencapai 10.000-18.000 sel/mm3 dan jika >18.000 sel/mm3 maka
umumnya terjadi peritonitis akibat perforasi [1]
Penanganan standar apendisitis di dunia adalah operasi pengangkatan
apendiks yang disebut apendektomi dan dilakukan laparotomi jika sudah terjadi
perforasi. Angka mortalitas pada pasien yang dilakukan apendektomi mencapai
0,07-0,7% dan 0,5-2,4% pada pasien dengan atau tanpa perforasi. Walaupun
mortalitas apendisitis akut rendah tetapi angka morbiditasnya cukup tinggi.[1]

1
BAB II
TINDJAUAN PUSTAKA

A. Anatomi
Apendiks merupakan organ berbentuk tabung, panajngnya kira-kira 10
cm (kisaran 3-15 cm), dan berpangkal di sekum. Lumennya sempit di bagian
proksimal dan melebar di bagian distal. Namun demikian, pada bayi,
apendiks berbentuk kerucut, lebar pada pangkalnya dan menyempit kearah
ujungnya. Keadaan ini mungkin menjadi penyebab rendahnya insidens
apendisitis pada usia itu. [2]
Appendix vermiformis terletak di regio iliaca dextra, dan pangkal
diproyeksikan ke dinding anterior abdomen pada titik sepertiga bawah garis
yang menghubungkan spina iliaca anterior superior dan umbilicus (titik
McBurney). [3]

(Gambar 1. Titik McBurney)

Dasar appendix vermiformis melekat pada permukaan posteromedial


caecum, sekitar 1 inci (2.5 cm) dibawah junctura ileocaecalis. Bagian
appendix vermiformis lainnya bebas. Appendix vermiformis diliputi
seluruhnya oleh peritoneum, yang melekat pada lapisan bawah mesenterium
intestinum tenue melalui mesenteriumnya sendiri yang pendek,

2
mesoappendix. Mesoappendix berisi arteria, vena appendicularis dan saraf-
saraf. [3]

(Gambar 2. Anatomi Caecum dan Appendiks Vermivormis)

Pendarahan apendiks berasal dari arteri apendikularis yang merupakan


arteri tanpa kolateral. Jika arteri ini tersumbat, misalnya karena thrombosis
pada infeksi, apendiks akan mengalami gangrene. Persarafan parasimpatis
apendiks berasal dari cabang nervus vagus yang mengikuti arteri mesenterika
superior dan arteri apendikularis, sedangkan persarafan simpatis berasal dari
nervus torakalis X. Oleh karena itu, nyeri viseral pada apendisitis bermula di
sekitar umbilikus. [2]
Ujung appendix vermiformis mudah bergerak dan mungkin ditemukan
pada tempat-tempat berikut ini : (1) tergantung ke bawah ke dalam pelvis
berhadapan dengan dinding pelvis dextra; (2) melengkung di belakang
caecum, (3) menonjol ke atas sepanjang pinggir lateral caecum, dan (4) di
depan atau di belakang pars terminalis ileum. [3,4]

3
(Gambar 3. Variasi Anatomi Posisi Ujung Appendix Vermiformis)

B. Epidemiologi
Insidens apendisitis akut di negara maju lebih tinggi daripada di negara
berkembang. Namun dalam tiga hingga empat dasawarsa terakhir kejadiannya
menurun secara bermakna. Hal ini diduga disebabkan oleh meningkatnya
penggunaan makanan berserat dalam menu sehari-hari. [2]
Apendisitis dapat ditemukan pada semua umur, hanya pada anak kurang
dari satu tahun jarang dilaporkan karena apendiks pada bayi berbentuk
kerucut, lebar pada pangkalnya dan menyempit ke arah ujungnya. Keadaan
ini menyebabkan rendahnya insidens kasus apendisitis pada usia tersebut.
Setiap tahun rata-rata 300.000 orang menjalani apendektomi di Amerika
Serikat, dengan perkiraan lifetime incidence berkisar dari 7-14% berdasarkan
jenis kelamin, harapan hidup dan ketepatan konfirmasi diagnosis. Perforasi
lebih sering pada bayi dan pasien lanjut usia, yaitu dengan periode angka
kematian paling tinggi. Insiden pada perempuan dan laki-laki umumnya
sebanding, kecuali pada umur 20-30 tahun, ketika insiden pada laki-laki lebih
tinggi. [5]
Di Kota Palu pada tahun 2014, data rekam medis di Rumah Sakit
Umum Anutapura Palu mencatat ada 434 kasus pasien yang mengalami
apendisitis. Tingginya angka tersebut mengharuskan dokter untuk memiliki
kemampuan mendiagnosis apendisitis dengan cepat dan tepat.[1]

4
C. Etiologi
Apendisitis akut merupakan infeksi bakteri. Berbagai hal berperan
sebagai faktor pencetusnya. Sumbatan lumen apendiks merupakan faktor
yang diajukan sebagai faktor pencetusnya. Di samping hiperplasia jaringan
limfe, fekalit, tumor apendiks, dan cacing askaris dapat pula menyebabkan
sumbatan. Penyebab lain yang diduga dapat menimbulkan apendisitis ialah
erosi mukosa apendiks akibat parasit seperti E.histolytica. [2]
Penelitian epidemiologi menunjukkan peran kebiasaan makan makanan
rendah serat dan pengaruh konstipasi terhadap timbulnya apendisitis.
Konstipasi akan menaikkan tekanan intrasekal, yang berakibat timbulnya
sumbatan fungsional apendiks dan meningkatnya pertumbuhan kuman flora
kolon. Semuanya ini akan mempermudah timbulnya apendisitis akut. [2]

D. Patofisiologi
Patofisiologi dasar apendisitis adalah obstruksi lumen apendiks yang
diikuti oleh infeksi. Obstruksi ini dapat disebabkan oleh feses yang mengeras
(fekalit atau apendikolit), hiperplasia limfoid, parasite, atau neoplasma.
Obstruksi lumen apendiks menyebabkan pertumbuhan bakteri yang
berlebihan dan produksi mukus yang terus-menerus sehingga terjadi distensi
intraluminal dan peningkatan tekanan dinding apendiks. Distensi luminal
mengakibatkan sensasi nyeri visceral yang dirasakan oleh pasien sebagai
nyeri periumbilikal. Berkurangnya aliran vena dan limfatik selanjutnya
mengakibatkan terjadinya iskemia mukosa. Gabungan hal tersebut
mengakitbatkan proses inflamasi lokal yang dapat berkembang menjadi
gangren dan perforasi. Inflamasi peritoneum yang berdekatan menimbulkan
nyeri yang terlokalisasi pada kuadran kanan bawah. Perforasi biasanya terjadi
setidaknya 48 jam dari timbulnya gejala dan disertai dengan abses dinding
kavitas usus halus dan omentum. Perforasi apendiks ke rongga peritoneum
jarang terjadi, yang mungkin disertai peritonitis dan syok septik dan dapat
menyebabkan komplikasi pembentukan abses intraperitoneal multipel. [6]

E. Manifestasi Klinis

5
Nyeri perut merupakan gejala utama dari apendisitis akut. Gejala klasik
yaitu, nyeri dirasakan pertama kali di regio epigastrium atau umbilikal,
kualitas nyeri sedang hingga berat dan stabil, terkadang disertai dengan keram
yang hebat. Setelah 1 hingga 12 jam, namun biasanya 4 hingga 6 jam, nyeri
akan terlokalisir di regio kanan bawah. Namun pada beberapa pasien, nyeri
apendisitis bermula di regio kanan bawah dan menetap disana. Variasi
anatomi dari ujung apendiks berperan dalam menentukan lokasi nyerinya.[7]
Apendisitis juga sangat sering disertai dengan anorexia. Sangat sering
sehingga jika pasien tidak anorexia, diagnosisnya perlu dipertanyakan.
Meskipun muntah didapatkan pada sekitar 75% pasien, namun hal tersebut
tidak parah dan tidak berkepanjangan. Dan kebanyakan pasien hanya muntah
sekali atau dua kali. Muntah disebabkan oleh stimulasi saraf dan adanya ileus.
Kebanyakan pasien memiliki riwayat obstipasi sebelum adanya nyeri perut,
dan kebanyakan merasakan buang air besar akan menghilangkan nyeri perut.
[7]

Tanda dari apendisitis akut sangat bergantung dengan posisi anatomi


dari apendiks dan bergantung apakah apendiks telah rupture atau belum.
Tanda vital tidak mengalami perubahan signifikan pada apendisitis tanpa
komplikasi. Peningkatan suhu biasanya berkisar > 1⁰ C, dan frekuensi nadi
biasanya normal atau sedikit meningkat. Peningkatan tanda yang ekstrim
menunjukan telah terjadi komplikasi dan diagnosis lain harus
dipertimbangkan. [7]
Tanda klasik nyeri kuadran kanan bawah muncul jika apendiks berada
pada posisi anterior. Tenderness biasanya sangat terasa pada titik McBurney,
terkadang disertai dengan rebound tenderness. Rebound tenderness sangat
dirasakan di kuadran kanan bawah mengindikasikan adanya iritasi peritoneal
yang terlokalisir. Rovsing sign, yaitu nyeri yang terasa pada kuadran kanan
bawah saat palpasi dengan penekanan dilakukan pada abdomen regio kiri
bawah, juga mengindikasikan adanya iritasi peritoneal. Hiperestesia kutaneus
di regio kanan bawah disebabkan oleh rangsangan pada nervus spinalis T10,
T11, dan T12. [7]

F. Diagnosis

6
1. Anamnesis
Pada anamnesis, keluhan utama pasien adalah nyeri samar-samar
dan tumpul di daerah epigastrium dan sekitar umbilicus. Keluhan ini
sering disertai dengan mual dan muntah. Umumnya nafsu makan
menurun. Dalam beberapa jam, nyeri akan berpindah ke kanan bawah ke
titik McBurney. Di titik McBurney, nyeri dirasakan lebih tajam dan lebih
jelas letaknya. Kadang pasien tidak merasakan nyeri epigastrium, tetapi
terdapat konstipasi. Bila terdapat perangsangan peritoneum, biasanya
pasien merasakan sakit perut bila berjalan atau batuk. [2]

2. Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan tanda vital, pasien biasanya disertai demam
ringan dengan suhu sekitar 37.5⁰C – 38.5⁰C. Bila suhu lebih tinggi,
mungkin sudah terjadi perforasi. Pada inspeksi perut, tidak ditemukan
gambaran spesifik. Kembung sering terlihat pada penderita dengan
komplikasi perforasi. Penonjolan perut kanan bawah bias dilihat pada
massa atau abses periapendikuer. Pada palpasi, didapatkan nyeri yang
terbatas pada regio iliaka kanan, bisa disertai nyeri lepas. Defans
muscular menunjukkan adanya rangsangan peritoneum parietale. Nyeri
tekan perut kanan bawah ini merupakan kunci diagnosis. Pada penekanan
perut kiri bawah, akan dirasakan nyeri di perut kanan bawah yang disebut
tanda Rovsing. Pada apendisitis retrosekal atau retroileal, diperlukan
palpasi dalam untuk menentukan adanya rasa nyeri. Peristaltik usus
sering normal tapi juga dapat menghilang akibat adanya ileus paralitik
pada peritonitis generalisata yang disebabkan oleh apendisitis perforata.
[2]

Pemeriksaan colok dubur menyebabkan nyeri bila daerah infeksi


dapat dicapai dengan jari telunjuk, misalnya pada apendisitis pelvika.
Pada apendisitis pelvika, tanda perut sering meragukan, maka kunci
diagnosis adalah nyeri terbatas sewaktu colok dubur. [2]
Pemeriksaan uji psoas dan uji obturator merupakan pemeriksaan
yang lebih ditujukan untuk mengetahui letak apendiks. Uji psoas
dilakukan dengan rangsangan otot psoas lewat hiperekstensi sendi

7
panggul kanan atau fleksi aktif sendi panggul kanan, kemudian paha
kanan ditahan. Bila apendiks yang meradang menempel di otot psoas
mayor, tindakan tersebut akan menyebabkan nyeri. Uji obturator
digunakan untuk melihat bilamana apendiks yang meradang bersentuhan
dengan otot obturator internus yang merupakan dinding panggul kecil.
Gerakan fleksi dan endorotasi sendi panggul pada posisi terlentang akan
menimbulkan nyeri pada apendisitis pelvika. [2]

3. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan Laboratorium
 Darah Rutin
Pada apendisitis akut tanpa komplikasi, dapat terjadi
leukositosis ringan, berkisar antara 10.000 – 18.000 sel/mm 3.
Hitung jenis leukosit hasilnya dapat bervariasi, pada beberapa
pasien terjadi peningkatan neutrofil hingga >75%. Sangat tidak
biasa jika jumlah leukosit meningkat >18.000 sel/mm 3 pada
apendistitis tanpa komplikasi. Jika jumlah leukosit melebihi
nilai tersebut, meningkatkan kemungkinan adanya perforasi
apendiks dengan atau tanpa abses. [6,7]

 Urinalisis
Urinalisis dapat membantu untuk menyingkirkan saluran
kemih sebagai sumber infeksi. Meskipun mungkin ada sedikit
leukosit atau eritrosit akibat dari iritasi vesika urinaria yang
diakibatkan oleh peradangan apendiks. Bacteriuria pada
specimen urin yang diambil lewat kateter biasanya tidak ada
pada apendisitis akut. [7]
b. Pemeriksaan Radiologi
 Foto Polos Abdomen
Foto polos abdomen jarang membantu dalam menegakkan
diagnosis apendisitis akut. Namun foto polos abdomen dapat
membantu dalam menyingkirkan keadaan patologis lainnya.
Pada pasien dengan apendisitis akut, dapat terlihat tampakan
udara yang merupakan temuan tidak spesifik. Adanya fekalit

8
jarang ditemukan pada foto polos abdomen, namun jika ada,
sangat menunjang diagnosis apendisitis akut. [7]
 Ultrasonografi
Graded compression sonography telah diusulkan sebagai
cara yang akurat untuk menegakkan diagnosis apendisitis.
Diagnosis sonografi apendisitis akut memiliki sensitivitas dari 5-
96% dan spesifisitas 85-98%. Hasil scan dianggap positif jika
apendiks ≥6 mm pada arah anteroposterior. Penebalan dinding
apendik dan adanya cairan periappendiceal sangat sugestif.
Gambaran sonografi yang normal yaitu compressible, struktur
tabung blind-ending berukuran ≤5 mm, dapat menyingkirkan
diagnosis apendisitis akut [7]
 CT-Scan
CT-Scan sering digunakan dalam evaluasi pasien dewasa
dengan kecurigaan apendisitis akut. CT-Scan memiliki
sensitivitas 80%-90% dan spesifisitas 90% dalam mendiagnosis
pasien dengan keluhan nyeri perut. Temuan klasik pada CT-Scan
apendisitis akut yaitu distensi apendiks dengan diameter >7mm
dan terjadi penebalan dinding apendiks, yang mungkin
memberikan gambaran halo. Seiring proses peradangan, dapat
ditemukan edema, cairan peritoneal, phlegmon, atau abses
periapendikular. CT-Scan juga dapat mendeteksi apendikolith
pada sekitar 50% pasien dengan apendisitis. [6]

Meskipun dilakukan pemeriksaan dengan cermat dan teliti, diagnosis


klinis apendisitis akut masih mungkin salah pada sekitar 15-20% kasus.
Untuk menurunkan angka kesalah diagnosis apendisitis akut, bila diagnosis
meragukan, sebaiknya penderita diobservasi di rumah sakit dengan
frekuensi 1-2 jam. Pemeriksaan ultrasonografi dapat meningkatkan akurasi
diagnosis. [2]
Kemungkinan apendisitis dapat diyakinkan dengan menggunakan skol
Alvarado. Sistem skor dibuat untuk meningkatkan cara mendiagnosis
apendisitis. [7]

9
Tabel 1. Skor Alvarado
Skor Alvarado Skor
Gejala Perpindahan nyeri dari ulu hati ke 1
perut kanan bawah
Mual-muntah 1
Anoreksia 1
Tanda Nyeri di perut kanan bawah 2
Nyeri lepas 1
Demam diatas 37.5⁰C 1
Pemeriksaan Leukositosis 2
Hitung jenis leukosit Shift to the left 1
Laboratorium
Total 10
Interpretasi dari Skor Alvarado :
 0-4 : Kemungkinan apendisitis sangat kecil
 5-6 : ada kemungkinan, tapi bukan diagnosis apendisitis
 7-8 : Kemungkinan besar apendisitis
 9-10 : Hampir pasti menderita apendisitis
G. Penatalaksanaan
Bila diagnosis klinis sudah jelas, tindakan paling tepat dan merupakan
[2]
satu-satunya pilihan yang baik adalah apendektomi. Operasi emergensi
mungkin diperlukan untuk mencegah terjadinya peritonitis. Pemberian cairan
intravena diperlukan untuk mendapatkan output urin yang adekuat, dan
antibiotik yang tepat harus diberikan. Pemberian antibiotik dosis tunggal
sebelum tindakan operasi, terbukti dapat menurunkan terjadinya infeksi pada
luka post operatif dan mencegah terjadinya abses intraabdominal. Ketika
dicurigai terjadi peritonitis, antibiotik intravena untuk bakteri gram negatif
dan bakteri anaerob harus diberikan. [4]
Penggunaan antibiotik terbatas 24 sampai 48 jam dalam kasus
apendisitis akut. Sedangkan untuk apendisitis perforasi, dianjurkan terapi
diberikan selama 7 hingga 10 hari. Antibiotik intravena biasanya diberikan
sampai jumlah sel darah putih normal dan pasien tidak demam selama 24 jam.
[7]

Apendektomi dilakukan secara terbuka atau dengan laparoskopi. Bila


apendektomi terbuka, insisi McBurney paling banyak dipilih oleh ahli bedah.
Pada penderita yang diagnosisnya tidak jelas, sebaiknya dilakukan observasi
terlebih dahulu. Pemeriksaan laboratorium dan ultrasonografi dapat dilakukan

10
bila dalam observasi masih terdapat keraguan. Bila tersedia laparoskop,
tindakan laparoskopi diagnostik pada kasus meragukan dapat segera
menentukan akan dilakukan operasi atau tidak. [2]
H. Prognosis
Hasil dari apendektomi pada kasus apendisitis akut atau apendisitis
supuratif sangat baik. Rata-rata pasien dapan kembali beraktivitas seperti
semula dalam waktu 2 minggu. Perawatan di rumah sakit yang memanjang
dan tambahan pemeriksaan serta terapi mungkin dibutuhkan jika pasien
mengalami apendisitis perforasi. [8]

11
BAB III
LAPORAN KASUS

1. Identitas pasien
Nama : Nn.SR
Umur : 21 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Alamat : Jl. Zebra
Agama : Islam
Suku : Bugis
Tanggal pemeriksaan : 24 Mei 2018
Tempat : Ruang Teratai RSUD Undata Palu

2. Anamnesis (autoanamnesis)
a. Keluhan utama
Nyeri perut kanan bawah
b. Riwayat penyakit sekarang :
Pasien masuk dengan keluhan nyeri perut yang
dirasakan kurang lebih sejak 4 jam sebelum masuk
rumah sakit. Awalnya nyeri perut berasal dari bagian
ulu hati, namun kemudian nyeri terasa memberat dan
menetap di perut kanan bawah. Pasien juga mengeluh
demam yang dirasakan sejak 6 jam sebelum masuk
rumah sakit . Selain itu pasien juga merasakan mual,
namun tidak ada muntah. Pasien mengaku nafsu makan
menurun sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit.
Buang air kecil pasien lancar , warna urin kuning muda
dan buang air besar pasien lancar, darah tidak ada,
konsistensi padat. Pasien mengaku haid terakhir 2
minggu sebelum masuk rumah sakit, dan tidak ada
keluar darah melalui jalan lahir.

c. Riwayat penyakit dahulu :


Pasien baru pertama kali mengeluhkan penyakit seperti
ini, penyakit lain tidak ada

12
d. Riwayat penyakit keluarga :
Tidak ada keluarga yang mengalami hal serupa
e. Riwayat pengobatan :
Pasien tidak ada mengkonsumsi obat-obatan di rumah.

3. Pemeriksaan fisik
Status generalisata : sakit sedang, compos mentis, GCS :
E4M6V5
Tanda vital :
Tekanan darah : 110/70 mmhg
Nadi : 84 x/menit
Pernafasan : 18 x/ menit
Suhu aksilla : 37,8 C
Suhu Rectal : 38,0 C
Kepala : bentuk ; normochepal
Konjungtiva : anemis (-/-)
Sclera : ikterik (-/-)
Leher : pembesaran kelenjar getah bening (-)
Pembesaran kelenjar tiroid (-)
Thorax :
Paru paru :
inspeksi : simetris bilateral
palpasi : vocal fremitus kanan = kiri
perkusi : sonor
auskultasi : vesikuler (+/+), rhonki (-/-), wheezing (-/-)

jantung :
inspeksi : ictus cordis tidak tampak
palpasi : ictus cordis teraba pada SIC V linea midclavivula
sinistra
perkusi : batas jantung normal
auskultasi : bunyi jantung 1 dan 2 murni regular, gallop
(-), murmur (-)
abdomen :
Inspeksi : kesan datar, distensi (-), jejas (-) penonjolan
perut kanan bawah (-)
Auskultasi : peristaltik usus (+) kesan normal
Perkusi : timpani (+)
Palpasi : nyeri tekan Mc. Burney (+) rovsing sign (+)
blumberg sign (+)

13
teraba massa pada regio iliaca kanan (-) hepatomegali (-),
splenomegali(-)

Genitalia :tidak dilakukan pemeriksaan


Ekstremitas
Superior : akral hangat (+/+), edema (-/-)
Inferior : akral hangat (+/+), edema (-/-) Psoas sign (-)
Obturator sign (-)

4. Pemeriksaan penunjang
24 Mei 2018
Darah Lengkap
Pemeriksaan Angka Satuan Nilai Normal
Hemoglobin 12.7 gr/dl 12,00-16,00
Hematokrit 38.3 % 37,00-47,00
Leukosit 16.6 3
10 ul 4,0 – 10,0
Trombosit 261 103ul 150 – 400
Eritrosit 4,17 106ul 3,80-5,80
Neutrophil 78.2 % 2.00 – 7.5
Non
HbsAG Non reaktif
reaktif
Non
ANTI HCV Non reaktif
reaktif

Urinalisis
Parameter Hasil Satuan Nilai Normal
Protein Negatif g/L Negatif
Glukosa Negatif Mmol/L Negatif
Sedimen:
Leukosit 2 /LPB 0-2
Eritrosit 2 /LPB 0-1
silinder Negatif /LPB Negatif
Epitel Positif /LPB Positif
Kristal Negatif /LPB Negatif

14
Batu Negatif /LPB Negatif

USG Abdomen

15
- Pada regio iliaca dextra : tampak peradangan pada
dinding appendix dengan ukuran 0.77 cm
- Tampak : ren dextra et sinistra normal, VU normal,
uterus normal
Kesan : Appendisitis Akut, ukuran 0.77 cm

- Skor Alvarado :
Skor Alvarado Skor
Gejala Perpindahan nyeri dari ulu hati ke 1
perut kanan bawah
Mual-muntah 1
Anoreksia 1
Tanda Nyeri di perut kanan bawah 2
Nyeri lepas 1
Demam diatas 37.5⁰C 1
Pemeriksaan Leukositosis 2
Hitung jenis leukosit Shift to the left 1
Laboratorium
Total 10
Interpretasi dari Skor Alvarado :
 10 : Hampir pasti menderita apendisitis

5. Resume
• Pasien perempuan usia 21 tahun masuk RS dengan
keluhan nyeri perut kanan bawah yang di rasakan
sejak 4 jam sebelum masuk rumah sakit. Nyeri perut
awalnya dirasakan pada regio epigastrium, namun nyeri
dirasakan makin memberat menyebar ke regio iliaka
dextra. Febris (+) sejak 6 jam sebelum masuk rumah
sakit , nausea (+), anorexia (+) sejak 1 hari sebelum
masuk Rumah sakit
• Pemeriksaan fisik : Tanda vital : Suhu axilla 37.8⁰C, suhu
rektal 38.0⁰C, pada Pemeriksaan fisik abdomen kesan
datar (+), Nyeri tekan McBurney (+), Rovsing sign (+),
blumberg sign (+). Skor Alvarado : 10

16
• Pemeriksaan Penunjang : Leukosit : 16.6 x 103ul,
Neutrofil : 78.2%, USG Abdomen : Appendisitis Akut
ukuran 0.77 cm.

6. Diagnosis
Apendisitis akut

7. Penatalaksanaan
• IVFD Ringer Laktat 20 tpm
• Inj. Ceftriaxone 1gr/12jam/iv skin test (cocok)
• Inj. Ranitidin 50 mg /12jam/iv
• Rencanakan Operasi Appendektomi Cito

8. Follow Up
Hari/ Tanggal Follow Up
25 Mei 2018 S : Nyeri perut kanan bawah
(+),
O : TD 120/80 mmHg S :
37,6 C
N 82x/menit P :
20x/menit
Abdomen : Peristaltik (+),
Nyeri tekan McBurney (+),
Rovsing sign (+), blumberg
sign (+).
A : Appendisitis Akut
P:
Ivfd Ringer Laktat 20 tpm
Inj. Ceftriaxone 1gr/12jam/iv
Inj. Ranitidin 50 mg/12jam/iv
Rencana Operasi
appendektomi hari ini

17
Laporan Operasi Appendektomi
1. Pasien berbaring terlentang dengan posisi supinasi
2. Dilakukan anestesi spinal oleh ahli anestesi
3. Disinfeksi area kerja dan pasang doek steril
4. Insisi gridiron McBurney dilakukan dari kulit, lapis demi
lapis hingga peritoneum
5. Evakuasi sekum dan lumen apendiks
6. Lakukan apendektomi sesuai prosedur, pemotongan
apendiks
7. Penjahitan pada sekum
8. Tutup lapisan fascia hingga kulit lapis demi lapis
9. Bersihkan area kerja dengan NaCl
10. Operasi selesai

Instruksi Post operasi:


- Besok periksa Darah lengkap, elektrolit, albumin
- Puasakan hingga ada peristaltik usus
- Rawat Teratai
- IVFD Ringer Laktat 20 tpm
- Inj. Ceftriaxone 1gr/12jam/iv
- Drips Metronidazole 500mg/8jam/iv
- Inj. Ranitidin 50 mg/8jam/iv
- Inj. Ketorolac 30 mg/8jam/iv

26 Mei 2018 S : Nyeri perut bekas op (+),


mual (-) muntah (-) Flatus (+)

18
BAB (-)
O : TD 110/70 mmHg S :
36,6 C
N 84x/menit P :
20x/menit
Abdomen : Peristaltik (+)
normal
A : Post Op Appendektomi H-1
P:
IVFD Ringer Laktat 20 tpm
Inj. Ceftriaxone 1gr/12jam/iv
Drips Metronidazole
500mg/8jam/iv
Inj. Ranitidin 50 mg/8jam/iv
Inj. Ketorolac 30 mg/8jam/iv
Boleh minum perlahan
Sore boleh makan bubur biasa
Hasil pemeriksaan Laboratorium 26 Mei 2018
Darah lengkap
WBC : 7.4 x 103ul
RBC : 4.29 x 106ul
PLT : 222 x 103ul
HCT : 38.4 %
HGB : 12.4 gr/dl
Neut : 71.7 %
Elektrolit darah
Natrium : 140 mmol/L
Kalium : 4.2 mmol/L
Clorida : 103 mmol/L
Albumin : 3.8 g/dl
27 Mei 2018 S : Nyeri perut bekas op (+)
berkurang, mual (-) muntah (-)
Flatus (+) BAB (+)
O : TD 120/80 mmHg S :
36,5 C
N 82x/menit P :
18x/menit

19
Abdomen : Peristaltik (+)
normal
A : Post Op Appendektomi H-2
P:
IVFD Ringer Laktat 20 tpm
Inj. Ceftriaxone 1gr/12jam/iv
Drips Metronidazole
500mg/8jam/iv
Inj. Ranitidin 50 mg/8jam/iv
Inj. Ketorolac 30 mg/8jam/iv
Diet bubur biasa
Mobilisasi duduk
28 Mei 2018 S : Nyeri perut bekas op (+)
berkurang, mual (-) muntah (-)
Flatus (+) BAB (+)
O : TD 120/80 mmHg S :
36,5 C
N 74x/menit P :
20x/menit
Abdomen : Peristaltik (+)
normal
A : Post Op Appendektomi H-3
P:
IVFD Ringer Laktat 20 tpm
Inj. Ceftriaxone 1gr/12jam/iv
Drips Metronidazole
500mg/8jam/iv
Inj. Ranitidin 50 mg/8jam/iv
Inj. Ketorolac 30 mg/8jam/iv
Diet bubur biasa
29 Mei 2018 S : Nyeri perut bekas op (+)
berkurang, mual (-) muntah (-)
Flatus (+) BAB (+)

20
O : TD 110/70 mmHg S :
36,6 C
N 72x/menit P :
20x/menit
Abdomen : Peristaltik (+)
normal
A : Post Op Appendektomi H-4
P:
Cefadroxil 2x500 mg
Asam Mefenamat 3x500 mg
Ranitidin 2x150 mg
Diet bubur biasa
Rencana pulang besok jika KU
baik
30 Mei 2018 S : Nyeri perut bekas op (+)
berkurang, mual (-) muntah (-)
Flatus (+) BAB (+)
O : TD 120/70 mmHg S :
36,5 C
N 78x/menit P :
20x/menit
Abdomen : Peristaltik (+)
normal
A : Post Op Appendektomi H-5
P:
Cefadroxil 2x500 mg
Asam Mefenamat 3x500 mg
Ranitidin 2x150 mg
Boleh Pulang

21
BAB IV
PEMBAHASAN

Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang


yang telah dilakukan, maka pasien pada kasus ini didiagnosis dengan apendisitis
akut.
Pasien perempuan berusia 21 tahun masuk RS dengan keluhan nyeri
perut yang dirasakan kurang lebih sejak 4 jam sebelum masuk
rumah sakit. Awalnya nyeri perut berasal dari bagian ulu hati,
namun kemudian nyeri terasa memberat dan menetap di perut
kanan bawah. Perpindahan nyeri perut dari daerah periumbilical
ke perut kanan bawah ini sangat khas pada kasus apendisitis.
Nyeri perut yang dirasakan di daerah periumbilical merupakan
nyeri visceral akibat rangsangan pada peritoneum visceral. Pada
saat terjadi distensi apendiks akibat peningkatan tekanan
intralumen, maka peritoneum visceral akan teregang dan
memberikan sensasi rasa nyeri. Nyeri dari organ-organ yang
berasal dari midgut (jejunum hingga kolon transversum) akan
dirasakan di daerah periumbilical. Oleh karena apendiks dan usus
halus memiliki persarafan yang sama yaitu dipersarafi oleh
parasimpatis yang berasal dari nervus vagus yang mengikuti
arteri mesenterika superior dan arteri appendikularis, sedangkan
persarafan simpatis berasal dari nervus torakalis X, maka nyeri
visceral akan dirasakan mula-mula di daerah epigastrium dan
daerah periumbilical. Nyeri selanjutnya akan dirasakan di perut
kanan bawah merupakan nyeri somatik akibat proses
peradangan pada apendiks yang berlanjut ke peritoneum parietal
Selain itu pasien juga mengeluhkan anoreksia, nausea, dan
febris yang umumnya ditemukan pada apendisitis akut. Hampir
tujuh puluh lima persen penderita disertai nausea dan vomitus
akibat aktivasi N. Vagus, namun jarang menjadi berat dan
kebanyakan hanya sekali atau dua kali. Gejala lain yaitu demam

22
yang tidak terlalu tinggi, yaitu suhu antara 37.5⁰C – 38.5⁰C,
tetapi bila suhu lebih tinggi diduga telah terjadi perforasi.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan tanda vital teknaan
darah 110/70 mmhg, Nadi : 84 x/menit, Pernafasan : 18 x/ menit,
Suhu aksilla : 37,8 C, Suhu Rectal: 38,0 C, Nyeri tekan McBurney
(+), Rovsing sign (+), blumberg sign (+).Tenderness biasanya
sangat terasa pada titik McBurney, terkadang disertai dengan
rebound tenderness. Rebound tenderness (Blumberg Sign)
sangat dirasakan di kuadran kanan bawah mengindikasikan
adanya iritasi peritoneal yang terlokalisir. Rovsing sign, yaitu
nyeri yang terasa pada kuadran kanan bawah saat palpasi
dengan penekanan dilakukan pada abdomen regio kiri bawah,
juga mengindikasikan adanya iritasi peritoneal. Hiperestesia
kutaneus di regio kanan bawah disebabkan oleh rangsangan
pada nervus spinalis T10, T11, dan T12. Nyeri tekan perut kanan
bawah merupakan kunci diagnosis apendisitis. Pemeriksaan lain
seperti rovsing sign, Blumberg sign, psoas sign, dan obturator
sign dapat membantu penegakan diagnosis apendisitis.
Dari hasil pemeriksaan laboratorium, didapatkan hasil yaitu
leukosit 16.6 x 103ul dan neutrofil 78%. Hal ini sesuai dengan
teori dimana pada kasus apendisitis akut tanpa komplikasi,
umumnya dapat ditemukan adanya leukositosis antara 10.000-
18.000 ul. Pada hitung jenis leukosit, didapatkan adanya
peningkatan neutrofil lebih dari 75%. Pada pasien juga dilakukan
pemeriksaan ultrasonografi dengan kesan appendicitis akut
ukuran 0.77 mm. Hal ini sesuai dengan teori dimana pada hasil
USG apendisitis akut, akan didapatkan apendiks berukuran ≥6 mm pada
arah anteroposterior.
Untuk membantu menegakkan diagnosis appendicitis akut
pada pasien dengan nyeri perut kanan bawah dapat digunakan
Alvarado score. Nilai Alvarado score diatas tujuh menunjukkan

23
bawha kemungkinan pasien mengalami apendisitis akut.
Berdasarkan perhitungan maka pasien mendapat nila 10
sehingga pasien hampir pasti menderita apendisitis akut.
Penanganan utama pasien dengan apendisitis akut adalah
appendektomi. Pada kasus ini telah sesuai dengan teori dimana
dilakukan open appendektomi. Satu hari sebelum dilakukan
appendektomi, pasien telah mendapatkan terapi antibiotik
golongan cephalosporin. Menurut teori, pemberian antibiotik pra
operasi efektif mencegah komplikasi infeksi pada appendisitis.
Penggunaan antibiotik cephalosporin ideal untuk digunakan
karena keunggulan dari cephalosporin yaitu memiliki spektrum
aktivitas yang luas, rasio dosis terapeutik dan dosis toksiknya
baik, respon alergi rendah, mudah untuk diadministrasikan, dan
menguntungkan dari segi biaya. Selain antibiotik golongan
cephalosporin, juga digunakan antibiotik metronidazole bertujuan
untuk melawan bakteri anaerob serta bakteri Bacteroides fragilis
yang ditemui pada operasi gastrointestinal.

24
DAFTAR PUSTAKA
1. Windy, CS, Sabir, M, Perbandingan Antara Suhu Tubuh, Kadar Leukosit, Dan
Platelet Distribution Width (Pdw) Pada Apendisitis Akut Dan Apendisitis
Perforasi Di Rumah Sakit Umum Anutapura Palu Tahun 2014. Jurnal
Kesehatan Tadulako Vol 2. No. 2 Juli 2016
2. Sjamsuhidajat, Jong,D, 2011, Buku Ajar Ilmu Bedah, Penerbit Buku
Kedokteran EGC, Jakarta
3. Snell, R, 2006, Anatomi Klinik untuk Mahasiswa Kedokteran, Penerbit Buku
Kedokteran EGC, Jakarta
4. Willam NS, 2008, Bailey & Love’s Short Practice of Surgery, London,
Hodder Arnold
5. Thomas, G, Angka kejadian apendisitis di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou
Manado periode Oktober 2012 – September 2015, Jurnal e-clinic Vol 4, No 1,
Januari-Juni 2016
6. Towsend, CM, 2012, Sabiston Textbook of Surgery: The Biological Basis of
Modern Surgical Practice, Philadelphia, Elsevier
7. Brunicardi FC, 2010, Scwartz Principles of surgery, USA, McGrawhill
companies
8. Steven L, Inflammation of Vermiform Appendix. E-medicine.medscape.com.
November 2017

25