Anda di halaman 1dari 2

Kemoterapi pada pasien kanker hati stadium lanjut. Perlu atau tidak?

Chemotherapy for Advanced-Stage Hepatocelular Carcinoma (HCC) Patient. Is it


Necessary or not?

Gambaran Kasus :
dr. X adalah seorang dokter penyakit dalam di sebuah rumah sakit di sebuah daerah.
Suatu hari, dr. X memiliki pasien, yaitu tn. Y yang terdiagnosis kanker hepar stadium
lanjut. tindakan operatif tidak mungkin dilakukan karena kanker hati tersebut sudah
stadium lanjut, sehingga dr. X hanya memberikan pengobatan untuk mengurangi rasa
nyeri pada pasien tersebut. Sebenarnya, untuk kanker hati stadium lanjut, prosedur
kemoterapi dapat dilakukan dengan regimen sorafenib dan regimen tersebut sudah masuk
di Indonesia. Namun, dr. X tidak memberikan resep obat tersebut kepada tn. Y dengan
berbagai pertimbangan. Diantaranya adalah harga obat yang mahal dan tidak ditanggung
oleh BPJS.

One day, an internist called dr. X has a patient, tn. Y, with advance stage HCC.
Resection can’t be done for tn. Y because his HCC is in advance stage. The only
curative treatment for tn. Y is chemotherapy using a regimen called sorafenib. But,
dr. X decided to not give tn. Y the prescription even though this regiment exist in
Indonesia. Dr. X doesn’t give the prescription because this regimen very expensive
and can’t be buy with National Health Insurance (BPJS) and tn. Y is not from rich
family. But in the other side, curative treatment using sorafenib is the only option to
prolong the survival rate of HCC patient.

Diskusi :
Kanker hati, atau yang lebih sering disebut sebagai Hepatoceluler carcinoma
(HCC) adalah salah satu kanker yang paling sering menyerang. Menurut data, HCC
menduduki peringkat ke 6 kanker terbanyak yang diderita dan peringkat ke 3 tertinggi
penyebab kematian akibat cancer (cancer-related death). Kanker ini sering tidak memiliki
manifestasi awal yang khas pada awal prosesnya dan pada akhirnya terdiagnosis pada
stadium lanjur. Penanganan pada kasus ini yang sering digunakan adalah dengan reseksi
lobus hati dan kemoterapi menggunakan regimen. Reseksi lobus hati dapat dilakukan
hanya pada sebagian kecil bagian hepar dan tidak dapat dilakukan bila kedua lobus hepar
sudah rusak. Untuk kemoterapi, sorafenib merupakan regimen yang saat ini masih
banyak digunakan untuk pasien HCC.
Penggunaan regimen sorefenib merupakan satu-satunya terapi kuratif pada pasien
kanker sel hepar stadium lanjutan yang telah digunakan selama lebih dari 30 tahun di
seluruh dunia. Berbeda dengan kemoterapi yang menggunakan zat sitotoksik, sorafenib
akan menyerang secara spesifik ke kanker pada sel hepar. Sorafenib ditengarai mampu
memperpanjang masa hidup pasien, penelitian menunjukkan bahwa efek pemberian
sorefenib mampu memperpanjang usia hidup pasien hingga 2-3 bulan. Permasalahannya,
regimen tersebut belum ditanggung oleh BPJS Kesehatan sedangkan berdasarkan survei,
harga regimen tersebut cukup mahal.
Demografi pengguna BPJS Kesehatan per 1 Mei 2018 mengungkapkan sebanyak
46,7% rakyat Indonesia yang terdaftar sebagai pengguna BPJS merupakan Penerima
Bantuan Iuran (PBI) dimana kebanyakan berasal dari masyarakat dengan strata ekonomi
rendah. Fakta bahwa HCC dapat diidap oleh siapapun ditambah dengan mahalnya harga
regimen terapi HCC membuat dilemma, baik pada pasien maupun dokter. Pertimbangan
etik yang harus diambil oleh dokter menyangkut kesejahteraan pasien secara holistik dan
usia hidup pasien, antara memperpanjang usia hidup dengan memberikan terapi atau
membiarkan pasien sembari berharap yang terbaik.