Anda di halaman 1dari 31

MAKALAH

RUANG LINGKUP BISNIS SYARIAH

Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah


“Manajemen Ekonomi Syariah”
Dosen Pengampu :
Dr. H. Mashudi, M.Pd.I

Disusun oleh :
BEKTI WIDYANINGSIH (12508174006)
DENNY RAKHMAD W.A (12508174008)

JURUSAN EKONOMI SYARIAH


P R O G R A M PA S C A S A R J A N A
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
TULUNGAGUNG
2017/2018
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam ekonomi modern manusia sering mengabaikan aspek-aspek syariah
dalam berbisnis dimana manusia di era globalisasi lebih mengedepankan sistem
ekonomi yang cenderung ke arah riba karna banyak sekali keuntungan yang di
tawarkanya seperti bunga yang besar dalam deposito dan ini jauh dari namanya
hukum ekonomi syariah melenceng dari ajaran dagang Islam dimana memakan
uang riba haram hukumnya. Belakangan ini bisnis berbasis Islam banyak diminati
dan digeluti oleh masyarakat luas. Khususnya di Indonesia, tidak hanya kaum
muslim saja namun kaum non muslim pun banyak yang berminat dalam bisnis
yang berbasis syariah ini. Karena dinilai menguntungkan karena banyaknya kaum
muslimin.
Dalam masyarakat riba tidak ada pungutan zakat, tidak ada unsur
membantu orang lemah. Variabel riba memiliki korelasi negatif terhadap zakat,
perdagangan dan tingkat kesejahteraan masyarakat, sering kali orang yang
terdesak tidak peduli dengan bunga yang besar padahal bunga yang besar itu
sangat merugikan apabila tidak bisa mengembalikan dengan tepat waktu dan amat
merugikan.
Dalam bisnis sering kali mengabaikan nilai-nilai islami karena dalam
berbisnis kita menjumpai banyak clien, partner dan costumer dan mereka punya
pedoman sendiri dalam berbisnis, maka dari itu kita sebagai orang Islam harus
memegang teguh nilai nilai islam dalam hal apapun agar mendapat barokkah dari
apa yang dilakukan.
Kita sebagai umat muslim dengan melihat realita ekonomi nasional dan
internasional yang mulai ke arah sistem ekonomi liberal yang diterapkan bangsa
barat yang tidak sesuai dengan kaidah Islam maka dari itu pentingnya
mengembalikan sistem ekonomi yang benar dan mensosialisasi kan untungnya
berbisnis secara syariah. Manusia tidak terlepas dari yang namanya bisnis maka
perlu sekali mengerti bisnis yang benar yang tidak merugikan salah satu pihak dan

1
mengandung unsur unsur yang menyejahterakan masyarakat baik secara langsung
ataupun tidak langsung simbiosis mutualisme dalam berbisnis harus ada unsur
syariahnya.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian Bisnis?
2. Bagaimana sejarah perkembangan bisnis?
3. Bagaimanakah Usaha Perusahaan?
4. Apa saja peluang-peluang yang disediakan bisnis?
5. Bagaimana motif pembelian?
6. Apakah bisnis dan dinamika masyarakat itu?
7. Apa kewirausahaan itu?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui tujuan dari bisnis.
2. Agar mengetahui sejarah dari perkembangan bisnis.
3. Agar memahami bagaimana usaha perusahaan itu.
4. Supaya mengetahui peluang-peluang yang disediakan oleh bisnis.
5. Agar mengetahui bagaimana motif pembelian itu.
6. Supaya memahami makna dan korelasi antara bisnis dan dinamika
masyarakat.
7. Mengetahu apa berwirausaha.

2
BAB II
PEMBAHASAN
1. Pengertian Bisnis
Dalam konteks pembicaraan umum, bisnis (business) tidak terlepas dari
aktivitas produksi, pembelian, penjualan, maupun pertukaran barang dan jasa
yang melibatkan orang atau perusahaan. Aktivitas dalam bisnis pada umumnya
punya tujuan menghasilkan laba untuk kelangsungan hidup serta mengumpulkan
cukup dana bagi pelaksanaan kegiatan si pelaku bisnis atau businessman itu
sendiri.1
Dalam ilmu ekonomi, bisnis adalah suatu organisasi yang menjual barang
atau jasa kepada konsumen atau bisnis lainnya, untuk mendapatkan laba. Secara
historis kata bisnis dari bahasa Inggris business, dari kata dasar busy yang berarti
"sibuk" dalam konteks individu, komunitas, ataupun masyarakat. Dalam artian,
sibuk mengerjakan aktivitas dan pekerjaan yang mendatangkan keuntungan. Atau
bisnis dalam arti luas adalah semua aktivitas oleh komunitas pemasok barang dan
jasa.
Dalam ekonomi kapitalis, dimana kebanyakan bisnis dimiliki oleh pihak
swasta, bisnis dibentuk untuk mendapatkan profit dan meningkatkan kemakmuran
para pemiliknya. Pemilik dan operator dari sebuah bisnis mendapatkan imbalan
sesuai dengan waktu, usaha, atau kapital yang mereka berikan. Namun tidak
semua bisnis mengejar keuntungan seperti ini, misalnya bisnis koperatif yang
bertujuan meningkatkan kesejahteraan semua anggotanya atau institusi
pemerintah yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Model bisnis
seperti ini kontras dengan sistem sosialistis, dimana bisnis besar kebanyakan
dimiliki oleh pemerintah, masyarakat umum, atau serikat pekerja. Secara
sederhana, bisnis adalah semua kegiatan yang dilakukan seseorang atau lebih yang
terorganisasi dalam mencari laba melalui penyediaan produk yang dibutuhkan
oleh masyarakat.2 Dari hasil penelitian George W. England terhadap 1.072

1
M. Fuad, Christin H, Nurlela, Sugiarto, Paulus, Y.E.F, Pengantar Bisnis, (Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama, 2000), hal. 1
2
Dr. Francis Tantri, Pengantar Bisnis, (Jakarta: Rajawali Pers, 2009), hal. 4

3
pimpinan perusahaan di Amerika Serikat, di peroleh pendapatan yang lebih
beragam tentang tujuan perusahaan, yaitu 3:
1. Profitability (menghasilkan keuntungan).
2. Produktivity (menghasilkan produk dengan kualitas atau jumlah tertentu).
3. Growth (tumbuh dan berkembang).
4. Employee (memuaskan karyawan).
5. Community interest (memenuhi kebutuhan masyarakat).
Namun, bagi usaha bisnis, tujuan utamanya adalah memperoleh keuntungan.
Di Indonesia, dari tujuan di atas agaknya masih dapat ditambahkan satu tujuan
lagi, yaitu untuk beribadah, karena, masyarakat Indonesia memiliki pandangan
religius atau keberagamaan yang kuat.4
Menurut para ahli:
1. Menurut Hughes dan Kapoor bisnis ialah suatu kegiatan usaha individu yang
terorganisasi untuk menghasilkan dan menjual barang dan jasa guna
mendapatkan keuntungan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat.
2. Menurut Brown dan Petrello bussines is an institution which produces goods
and services demanded by people.
Dapat disimpulkan bahwa pengertian bisnis adalah suatu lembaga yang
menghasilkan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan masyarakat/konsumen.
Bisnis berarti sejumlah total usaha yang meliputi pertanian, produksi, konstruksi,
distribusi, transportasi, komunikasi, usaha jasa dan pemerintahan yang bergerak
dalam bidang membuat dan memasarkan barang dan jasa konsumen.
Istilah bisnis umumnya ditekankan pada 3 hal:
a. Usaha perseorangan kecil-kecilan
b. Usaha perusahaan besar seperti pabrik, transport surat kabar, hotel, dsb.
c. Usaha dalam bidang struktur ekonomi suatu negara.5

3
Ibid, hal 9
4
Ibid, hal 10
5
Buchari Alma dan Donni Juni Priansa, Manajemen Bisnis Syariah, Bandung : Cv. Alfabeta,
2009, 115-116.

4
2. Sejarah Perkembangan Bisnis
Pada masa dulu, kegiatan bisnis ini dilakukan pada tingkat keluarga secara
tertutup. Usaha mereka terbatas hanya pada bidang yang sangat kecil dan belum
terpikirkan oleh mereka untuk membuat usaha dengan meminjam modal untuk
produksi dalam skala besar.
Kemudian muncul Revolusi Industri yang membawa perubahan secara
drastis dan sangat penting misalnya dengan adanya mesin uap, petani yang
awalnya membajak sawah menggunakan sapi/kerbau beralih menggunakan
traktor, lalu muncul pula tenaga kerja yang menerima upah dengan demikian
penghasilan keluarga bertambah. Dengan bertambahnya penghasilan keluarga ini,
mereka mampu memberi barang lain yang dibuat oleh orang lain pula. Akhirnya,
ekonomi tumbuh pesat dan memberi peluang berkembangnya pabrik-pabrik,
perdagangan besar, perdagangan eceran, dan perusahaan jasa baik perseorangan
maupun persekutuan.
Sekarang ini, zaman globalisasi, dunia yang makin transparan kita lihat
bagaimana hebatnya persaingan bisnis perusahaan nasional, multinasional, perang
ekonomi lewat perdagangan antar bangsa, yang saling berebut untuk menguasai
pasar dunia dalam bidang barang dan jasa.6
Di Indonesia sejak ratusan tahun lalu sebagian besar atau mayoritas
masyarakat Indonesia hidup dari pertanian. Hanya mereka yang hidup di daerah
pantai sering terlibat dengan perdagangan kecil-kecilan dan belum pernah
memasuki tingkat perdagangan internasional dengan ukuran skala ekonomis.
Menurut mereka bahwa pada zaman dahulu para pedagang Indonesia telah aktif
berdagang rempah-rempah sampai Gujarat, Teluk Arab, dan Madagaskar.
Kemudian muncul Revolusi industri yang membawa perubahan secara drastis dan
sangat penting. Adanya mesin uap menimbulkan perubahan; pada pertanian yang
tadinya menggunakan bajak, dengan tenaga sapi, kerbau, sekarang diganti dengan
traktor dan buldozer yang bertenaga luar biasa. Akhirnya ekonomi tumbuh pesat
dan memberi peluang berkembangnya pabrik-pabrik, perdagangan besar,
perdagangan eceran, dan perusahaan jasa baik perorangan atau pun persekutuan.

6
Ibid,116-117.

5
Pada zaman globalisasi, dunia yang paling transparan kita lihat bagaimana
hebatnya persaingan bisnis perusahaan nasional, multinasional, perang ekonomi
lewat perdagangan antar bangsa, yang saling berebut untuk menguasai pasar dunia
dalam bidang barang dan jasa. Oleh karena itu kita harus mulai mengembangkan
dan mencurahkan perhatian untuk membina generasi muda yang akan informasi
bidang bisnis ini.
Adapun sejarah bisnis secara garis besarnya meliputi beberapa hal berikut ini:
a. Era Industri
Era industri dengan pionirnya Henry Ford pemilik dari Ford industri mendapatkan
penghasilan sebesar 10 triliun pertamanya dalam kurun waktu karir kerja selama
25 tahun. Di masa ini barang siapa yang tidak bekerja maka dia tidak akan
mendapatkan penghasilan, namun bagi yang bekerja dengan keras dan dengan
prestasi yang cukup baik dalam ruang lingkup kerjanya akan mendapatkan
jaminan pensiunan dari perusahaan. Tentunya jaminan tersebut jauh dari cukup
karena sudah tidak bekerja lagi.
b. Era Teknologi
Era Teknologi, masa-masa di mana teknologi menjadi tolak ukur penghasilan
yang tak terbatas karena semakin bagus mutu dari suatu tekhnologi maka yang
menciptakan akan menciptakan suatu passive income yang tak terbatas dari hasil
karya yang diciptakan dan menghasilkan royalti. Di masa ini yang menjadi pionir
adalah Bill Gates pemilik Microsoft dengan penghasilan 10 triliun pertama setelah
12 tahun. Tentunya dengan menciptakan sebuah teknonogi komputer yang saat ini
terus berkembang dan akan terus menciptakan royalti terus menerus bagi Bill
Gates.
c. Era Infromasi
Era Informasi yang di awali pada awal tahun 1990-an dan terus berkembang pesat
sampai saat ini dan diyakini akan terus berkembang dari tahun ke tahun
selanjutnya. Kecepatan dunia informasi akan memegang penuh dalam
perkembangan dunia bisnis dimasa mendatang mulai dari industri kecil sampai
industri besar, rumahan hingga pabrik, toko, sekolah, organisasi, marketing dan
masih banyak lagi akan membutuhkan kecepatan dalam penyampaian bisnisnya.

6
Dalam hal ini bisa dikatakan melalui jaringan internet/website yang akan selalu
siap bersedia bekerja untuk Anda 24 jam non-stop tanpa upah akan bekerja untuk
Anda. Saat ini yang menjadi pionir di masa ini adalah Jeff Besos pemilik dari
amazon.com (Toko Online terbesar dunia) dengan penghasilan 10 triliun pertama
dalam kurun waktu 3 tahun perjalanan karir.
Bisnis Indonesia adalah surat kabar harian dengan segmentasi pemberitaan
bisnis dan ekonomi berbahasa Indonesia yang diterbitkan di Jakarta, Indonesia,
sejak 14 Desember 1985. Bisnis Indonesia diterbitkan oleh PT Jurnalindo Aksara
Grafika (PT JAG) yang merupakan kongsi bisnis empat pengusaha Sukamdani
Sahid Gitosardjono (Sahid Group), Ciputra (Ciputra Group), Anthony Salim
(Salim Group), dan Eric Samola. Pemimpin Redaksi saat ini adalah Arief
Budisusilo yang menggantikan Ahmad Djauhar sejak 2009, dengan Wakil Pemred
Y. Bayu Widagdo, yang menggantikan Linda Tangdialla sejak 2012. Setelah tidak
bertugas sebagai Pemred, Ahmad Djauhar menjabat sebagai Wakil Pemimpin
Umum dengan tetap sebagai Direktur Pemberitaan Bisnis Indonesia, sedangkan
Linda Tangdialla kini memimpin portal berita Kabar24.com selaku pemimpin
redaksi. Kabar24.com merupakan unit baru dalam kelompok media Bisnis
Indonesia.
Awalnya, koran Bisnis Indonesia berkantor di bekas bengkel reparasi mesin
jahit Singer di Jalan Kramat V/8, Jakarta Pusat. Koran yang fokus pada berita
bisnis, ekonomi, dan umum ini meroket berkat booming yang melanda lantai
Bursa Efek Jakarta pada tahun 1987 dan akibat maraknya industri perbankan
sebagai hasil penerapan kebijakan Paket Oktober (Pakto) 1988.
Pertumbuhan yang baik tersebut membuat koran ini mampu membangun
gedung sendiri dan kantor pun pindah ke Wisma Bisnis Indonesia (WBI) di Jalan
Letjen S. Parman Kav. 12A Slipi, Jakarta Barat, pada akhir 1990. Namun
kemacetan luar biasa di lokasi tersebut dan perhitungan bisnis pada masa depan
membuat koran ini kembali pindah ke wilayah Segitiga Emas Sudirman.
Mulai 1 Januari 2005 kegiatan operasional Bisnis Indonesia berpusat di
Wisma Bisnis Indonesia (WBI) lantai 5-8, Jalan KH Mas Mansyur No. 12A,
Karet Tengsin, Jakarta Pusat. Saat ini, Bisnis Indonesia memiliki kantor

7
perwakilan di sejumlah kota di Indonesia yakni di Medan, Pekanbaru, Batam,
Bandung, Semarang, Surabaya, Denpasar, Balikpapan, dan Makassar.
Sebagai lembaga pemberitaan, Bisnis Indonesia juga menjadi pemasok tetap
beberapa lembaga pemberitaan internasional seperti NewsNet Asia (yang
menerjemahkan berita Bisnis ke dalam bahasa Jepang, Factiva (usaha patungan
Dow Jones dan Reuters), dan ISI Emerging Markets (dari kelompok usaha
Euromoney Institutional Investor Group Co.), Xinhua (kantor berita China), dan
Bloomberg (kantor berita berbasis di New York, AS).
Sejarah perkembangan bisnis memanglah tidak pernah bisa diprediksi, oleh
karena itu kita sebagai generasi muda harus selalu memiliki kesiapan untuk
menjadi pengganti dari mereka yang telah berusaha keras sebelumnya.

2. Usaha perusahaan
Manusia adalah hamba Allah SWT, adalah makhluk sosial yang selalu ada
dalam pergaulan dengan manusia lainnya. Demikian pula dunia bisnis tidak bisa
melepaskan diri dari masyarakat. Rumah Tangga Perusahaan (RTP) sebagai
bagian dari bisnis berada di tengah masyarakat, dan harus menjaga hubungan
baik, dengan lembaga, organisasi dan dengan individu sebagai anggota
masyarakat. dengan terjalinnya relasi yang baik, terjalinlah hubungan sesama
manusia hablumminannaas di samping hablumminallah, tang akan memiliki efek
kumulatif meningkatkan ketakwaan muslim pengelola bisnis.
Hubungan yang berjalan terus menerus, antara perusahaan dan masyarakat,
dapat dilihat dari bagan berikut: 7

7
Ibid, 117-118.

8
Alam, tenaga, modal, manajemen

Harga tanah,upah, bunga, laba

RTP RTK

Permintaan efektif

Penyaluran barang dan jasa

Keterangan
RTP : Rumah Tangga Perusahaan, memerlukan tanah, modal, tenaga
kerja, dan tenaga ahli yang tersedia di masyarakat, ini disebut
faktor produksi.
RTK : Rumah Tangga Konsumsi, memerlukan barang, jasa dan uang yang
disediakan dan diberikan oleh perusahaan untuk memenuhi
kebutuhan hidup masyarakat.
Perusahaan membuat/memproduksi barang dan jasa dan berusaha
menjualnya sebagai usaha sehari–hari perusahaan. Masyarakat mengonsumsi
barang dan jasa tersebut dengan membelinya. Terdapat lima jenis RTP yang
menghasilkan barang dan jasa, yaitu8:
1. RTP agraris, yang mengolah pertanian, perkebunan, dan termasuk juga
peternakan dan perikanan.
2. RTP ekstratif, usaha dalam bidang pertambangan.
3. RTP industri, yaitu RTP yang mengolah bahan mentah menjadi produk baru.
4. RTP perdagangan, usaha yang memperjualbelikan dan menyalurkan barang
dari produsen sampai ke konsumen.

8
Ibid, 119.

9
5. RTP jasa, usaha yang bergerak dalam menghasilkan dan menjual jasa kepada
konsumen.
Dalam melaksanakan kegiatan bisnis pengusaha tidak terlepas dari
lingkungannya. Oleh sebab itu, setiap tidakkan harus berpola pada pandangan dan
ajaran Islam dan memperhatikan kepentingan masyarakat seperti yang
diriwayatkan oleh Abu Daud:
Ibnu Masud memberitakan: ketika kami bersama Rasulullah dalam
perjalanan dan Rasulullah pergi berhajat. Kami tangkap kedua anak
itu, kemudian induknya datang dan terbang diatas kami. Lalu dilihat
oleh Rasulullah dan berkata: siapakah yang menyusahkan burung ini
dan mengambil anaknya? Kembalikanlah anaknya ke induknya.
Kemudian Nabi melihat pula sarang semut terbakar, maka beliau
bertanya: siapakah yang membakar ini? Jawab kami, kami ya
Rasulullah. Bersabda Nabi: Sesungguhnya tidak patut menyiksa dengan
api kecuali Tuhan menjadikan api. (HR. Abu Daud)
Pada dasarnya bisnis apapun yang digeluti harus ada kaitannya dengan
kebutuhan masyarakat. Jika bisnis yang dilakukan tidak ada kaitannya dengan
kepentingan masyarakat, maka bisnis itu akan menjadi bisnis yang sekedar
menciptakan perubahan-perubahan. Intinya, perhatikan manfaat dari suatu bisnis
untuk masyarakat dalam hal berbisnis.9 Usaha perusahaan bergerak dalam bidang
memenuhi kebutuhan konsumen akan barang dan jasa. Usaha perusahaan ini ialah
memproduksi barang dan jasa, memproses bahan baku menjadi barang jadi, atau
barang setengah jadi. Usaha ini dapat pula berbentuk usaha jasa seperti bank dan
asuransi. Bermacam–macam bisnis ini akan makin berkembang sejalan dengan
perkembangan masyarakat. akhirnya terjadilah persaingan antara satu bisnis
dengan bisnis lainnya. Persaingan yang sehat akan menimbulkan beberapa
keuntungan, yaitu10 :
1. Harga bagi konsumen bisa lebih rendah, karena produsen berusaha bekerja
efisien dan menurunkan harga jual.
2. Bisnis berusaha meningkatkan pelayanan bagi konsumen.
3. Bisnis berusaha menciptakan barang baru dan dengan mutu yang baik.

9
Didin Hafidhuddin dan Hendri Tanjung, Manajemen Syariah Dalam Praktik, Jakarta: Gema
Insani Press, 2003, 93.
10
Buchari Alma dan Donni Juni Priansa, Manajemen Bisnis Syariah, 120.

10
4. Menghilangkan bisnis yang tidak mampu bekerja secara efisien dan yang
memboroskan sumber daya.
Dari hasil penjualan barang dan jasa, bisnis memperoleh laba. Dan tidak
dibenarkan mencari laba sebesar–besarnya tanpa memperhatikan kepentingan
masyarakat.

3. Peluang-peluang dalam Bisnis


Sebagai seorang manusia, kita ingin mendapat pekerjaan yang layak dan
mendapat kepuasan dari pekerjaan yang kita lakukan. Peluang untuk mendapatkan
hal tersebut disediakan bisnis secara luas. Bisnis menyediakan lapangan pekerjaan
dari berbagai tingkatan dan lapangan. Dunia bisnis sangat tanggap akan
kekurangan barang di pasar guna memenuhi kebutuhan manusia. Dan kegiatan ini
tidak ada henti – hentinya. Dunia bisnis tumbuh dan berkembang pesat, sehingga
sekarang di pasar dijumpai berjuta-juta macam barang dan jasa dihasilkan dan
membutuhkan berpuluh puluh juta tenaga kerja. Sekarang lapangan kerja tidak
hanya diarahkan ke bidang pemerintahan, atau karyawan perusahaan akan tetapi
mulai mengarah pada dunia bisnis.11
Di dalam klasifikasi organisasi bisnis yang bergerak dalam bidang komersial.
Ada 9 macam kegiatan bisnis yaitu:12
1. Usaha pertanian
Meliputi usaha peternakan,usaha perkebunan, pertanian, sawah, sayuran, buah-
buahan, perikanan, dsb.
2. Produksi bahan mentah
Meliputi usaha yang bergerak dalam bidang kehutanan, pertambangan dan juga
perikanan air tawar ataupun ikan laut.
3. Pabrik/Manufaktur
Merupakan suatu usaha yang mengolah barang mentah menjadi bahan baku
sampai menjadi hasil jadi.

11
Ibid, 121.
12
http://arisaputra18.blogspot.co.id/2014/03/contoh-makalah-ruang-lingkup-bisnis.html?m=1

11
4. Konstruksi
Merupakan suatu usaha yang bergerak dalam bidang pembangunan, seperti
pembangunan jalan, pembangunan gedung, rumah sakit, sekolah dan berbagai
bangunan lainnya.
5. Usaha perdagangan besar dan kecil.
Merupakan suatu usaha yang menunjang inti kegiatan sistem distribusi yang
menghubungkan antara produsen dengan konsumen.
6. Transportasi dan komunikasi
Merupakan suatu usaha yang dapat membantu kelancaran kegiatan bisnis dan
memudahkan kegiatan transaksi bisnis secara cepat dan efisien.
7. Usaha finansial, asuransi, dan real estate
Merupakan suatu usaha yang memberikan kemudahan kepada kegiatan bisnis.
Seperti memberi fasilitas kredit, membantu mengatasi resiko yang dihadapi dan
membantu membangun perumahan dengan perencanaan pengaturan lingkungan
yang sehat.
7. Usaha jasa
Merupakan suatu usaha yang kegiatannya dilakukan dengan menggunakan
jasanya untuk memuaskan kebutuhan orang lain. Seperti tukang cukur, salon
kecantikan, guru, dosen, pengacara, dokter, dsb.
8. Usaha yang dilakukan oleh pemerintah
Merupakan pembeli terbesar dari barang dan jasa, di samping itu juga berperan
dalam mengatur kegiatan bisnis dan menjaga kestabilan perekonomian.

4. Motif Pembelian
Saat konsumen melakukan pembelian barang atau jasa didorong oleh
berbagai motif antara lain motif rasional, motif selektif dan motif emosional.
Motif–motif yang mendorong seseorang untuk membeli banyak tergantung pada
buying habit (kebiasaan membeli) mereka.
Yang pertama adalah motif rasional maksudnya sebelum berbelanja seorang
individu memikirkan secara matang apa yang akan dibelinya, misalnya seseorang

12
merasa lapar maka secara rasional ia akan mencari makanan. Jika ia nanti memilih
suatu restoran dan menu tertentu maka ia sudah menggunakan motif selektif.
Sedangkan motif emosional ialah motif yang muncul seketika/tiba-tiba yang
mendorong seseorang berbelanja.
Kemudian mengenai keputusan untuk membeli, dipengaruhi oleh famili, kelas
sosial, kebudayaan, dan kelompok seperti kelompok arisan, klub olahraga, tenis,
dsb. Keputusan membeli ini kebanyakan dilakukan kaum ibu seperti yang
terkandung dalam ungkapan berikut : Behind every woman buyer is a shadow of
a man (di belakang tiap keputusan wanita pembeli ada bayangan seorang laki-
laki), artinya ibu adalah agen pembelian dari keluarga.13
Setiap keputusan pembelian pasti dilandasi dengan motif dibelakangnya. Motif
pembelian adalah sebuah dorongan atau keinginan untuk membeli produk. Penjual
yang ingin sukses harus dapat menemukan motif prospek dalam membeli
produk14.
1. Motif pembelian emosional
Motif pembelian emosional adalah motif membeli yang banyak dipengaruhi
oleh gejolak hati, misalnya membeli produk karena merasa nyaman atau
untuk kesenangan semata. Pengaruh emosional ini sangat luar biasa dan
banyak mendominasi motif pembelian.
2. Motif pembelian rasional
Motif pembelian rasional adalah motif membeli dengan pertimbangan
terlebih dahulu, misalnya membeli produk dengan mempertimbangkan
manfaatnya, ada garansi atau tidak.
3. Penjual perlu mengetahui motif seorang prospek sebelum membeli produk.
Jika ia menyukai diskon, prospek seperti ini berarti memiliki motif
emosional. Apabila prospek lebih mengutamakan layanan maka prospek lebih
bermotif rasional.

13
Ibid, 123-124.
14
Jenu Widjaja Tandjung, Menjadi penjual bermental harimau, ( Jakarta: 2009, PT Elex Media
Komputindo), hlm. 61.

13
Para pembeli memiliki motif-motif pembelian yang mendorong mereka untuk
melakukan pembelian. Mengenai buying motives ada 3 macam:15
1. Primary buying motive
Yaitu motif untuk membeli yang sebenarnya. Misalnya, kalau orang mau
makan ia akan mencari nasi
2. Selective buying motive
Yaitu pemilihan terhadap barang, ini berdasarkan ratio. Misalnya, apakah
ada keuntungan bila membeli karcis. Seperti seseorang ingin pergi ke
Jakarta cukup dengan membeli karcis kereta api kelas ekonomi, tidak perlu
kelas eksekutif. Berdasarkan waktu misalnya membeli makanan dalam
kaleng yang mudah dibuka, agar lebih cepat. Berdasarkan emosi, seperti
membeli sesuatu karena meniru orang lain. Jadi selective dapat berbentu
Rational Buying Motive, emotional buying motive atau impulse (dorongan
seketika)
3. Patronage buying motive
Ini adalah selective buying motive yang ditujukan kepada tempat atau toko
tertentu. Pemilihan ini bisa timbul karena layanan memuaskan, tempatnya
dekat, cukup persediaan barang, ada halaman parkir, orang-orang besar
suka berbelanja ke situ dsb.

5. Bisnis dan Dinamika Masyarakat


Dunia bisnis bersifat dinamis, kreatif, dan menantang. Bisnis tidak pernah
diam, orang bisnis selalu dinamis, selalu bergerak maju, banyak inisiatif, kreatif,
dan memberikan tantangan dalam menghadapi masa depan dengan penuh raa
optimis. Mobilitas tinggi, mereka bergerak dari satu daerah ke daerah lain, sesuai
dengan musim, sesuai dengan situasi dan waktu yang tepat di satu daerah dan
daerah.
Mobilitas tinggi, mereka bergerak dari satu daerah ke daerah lain, sesuai
dengan musim, sesuai dengan situasi dan waktu yang tepat dari satu daerah dan
daerah lain di mana orang membutuhkan barang (daerah minus). Memang inilah

15
Buchari Alma, pemasaran dan pemasaran jasa, (Bandung: 2006, Alfabet), hlm. 97.

14
antara lain kegiatan bisnis yaitu menyediakan barang yang pada waktu yang tepat,
jumlah yang tepat, mutu yang tepat dan harga yang tepat. Kegiatan semacam ini
sudah berjalan sejak orang-orang quraisy zaman dulu yang terlukis dalam surat al-
Quraisy. Masa globalisasi tingkat mobilitas para pedagang yang sangat tinggi,
transportasi demikian maju dan canggih. Seperti pada Q.S. al-Mulk: 15,

‫شوا ِفي َمنَا ِك ِب َها َو ُكلُوا ِم ْن ِر ْز ِق ِه َو ِإلَ ْي ِه‬ ْ َ‫ض ذَلُوال ف‬


ُ ‫ام‬ ْ ‫ُه َو الَّذِي َج َع َل لَ ُك ُم‬
َ ‫األر‬
‫ور‬
ُ ‫ش‬ ُ ُّ‫الن‬
Artinya: Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka
berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-
Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.

Dalil diatas menjadi landasan bagi manusia-manusia yang berjiwa perantau.


Mereka meninggalkan daerah kelahirannya, tidak terpaku pada suatu tempat, akan
tetapi mereka mengembara dengan niat mencari ilmu pengetahuan, menimba
pengalaman demi pengalaman, mencari rezeki ke tempat lain, dengan selalu
berpegang pada tali Allah SWT.
Perjalanan ini banyak dilakuan oleh orang-orang yang bergerak di bidang
bisnis, dibandingkan dengan orang-orang yang bekerja di kantor. Perjalanan orang
bisnis betul-betul mencari hubungan, relasi, jual beli yang mendatangkan rizki
bagi mereka. Orang yang bergerak dalam bidang bisnis dan berhasil, akan mampu
memberi sumbangan untuk pembangunan ekonomi, terutama melalui etos kerja,
mengembangkan sikap jujur dalam bisnis, orientasi dan perilaku yang merangsang
dan mendorong pembangunan, melalui aksi dan refleksi kegiatan usaha bisnisnya.
Muslim yang kreatif dan maju memiliki gairah bekerja dan taat melaksanakan
perintah agama, membantu masyarakat sekitar dengan sedekah, dan zakat
perdagangannya.16
Bisnis merupakan kegiatan yang berhubungan dan berkepentingan dengan
lingkungan, dengan kata lain bisnis merupakan kegiatan pengelolaan sumber-
sumber ekonomi yang disediakan oleh lingkungan. Di samping itu bisnis tidak
terlepas dengan adanya faktor-faktor lingkungan yang mendukung maupun yang
menghambat atas tujuan yang ingin dicapai bisnis. Di lain pihak lingkungan bisnis

16
Ibid, 124.

15
merupakan seluruh karakter dan faktor yang dapat mempengaruhi baik secara
langsung maupun tidak terhadap bisnis. Sebaliknya bisnis dapat secara langsung
maupun tidak dapat mempengaruhi atau menciptakan pengaruh terhadap
lingkungannya. Oleh karena itu interaksi antara bisnis dan lingkungannya atau
sebaliknya menjadi tema pencermatan yang cukup penting dan sangat urgen bagi
kegiatan bisnis terhadap masyarakat. Sehingga eksistensi bisnis layak diterima
atau memberikan pengaruh tertentu yang positif atau negatif terhadap
lingkungannya. Secara umum lingkungan bisnis dapat kita kelompokkan menjadi
dua bagian besar yaitu lingkungan eksternal dan lingkungan internal.
 Lingkungan Eksternal
Lingkungan Eksternal adalah semua faktor atau pihak-pihak atau variable dinamis
yang berada di luar bisnis atau perusahaan. Jika perusahaan didirikan di suatu
daerah atau Negara di dalam suatu system masyarakat, maka praktis perusahaan
ini merupakan bagian yang tak terpisahkan dengan masyarakat ini, dan merupakan
sub system masyarakat yang sudah tentu dituntut untuk berperilaku harmoni
dengan semua unsur di dalam masyarakat. Unsur-unsur tersebut dapat
dikelompokkan menjadi beberapa unsur :
1. Unsur Hukum yang berlaku di masyarakat
2. Unsur Budaya atau Kultur di masyarakat
3. Unsur Agama atau Kepercayaan
4. Unsur Politik Pemerintahan
5. Unsur Ekonomi Umum
6. Unsur Sosial atau Masyarakat
7. Unsur Geografik
8. Unsur Pendidikan.
Faktor/pihak yang bersifat Dinamis tersebut jelas akan ada pengaruhnya
baik bersifat langsung mapun tidak langsung terhadap bisnis. Dan dalam banyak
hal lingkunga eksternal ini merupakan variable strategis dan memiliki dimensi
jangka panjang dan secara strategis sering menentukan peluang maupun tantangan
yang akan dihadapi bisnis. Variabel atau faktor-faktor lingkungan eksternal ini

16
relatife sulit dapat dikendalikan oleh bisnis,lebih sering bisnis mengikuti dan
menyesuaikan terhadap perubahan atau dinamika dari variable eksternal ini.
 Lingkungan Internal
Lingkungan Internal merupakan sejumlah faktor, variable atau atribut-atribut yang
melekat pada variable atau faktor tersebut yang berada di lingkungan bisnis dan
cukup langsung mempengaruhi bisnis, antara lain yaitu Tenaga Kerja, Modal,
Alat-alat, Sistem Manajemen, sarana dan prasarana yang tersedia di dalam
perusahaan.
Dalam interaksinya mereka secara terorganisasi cepat dapat dikendalikan
oleh manajemen perusahaan dan secara langsung dapat dipengaruhi. Tingkat
pengendaliannya relative lebih mudah dilakukan, karena perusahaan memiliki
Bargaining Power yang cukup kuat untuk mempengaruhi variable-variabel ini
sesuai dengan sasaran dan tujuan perusahaan.
STRENGTH, WEAKNESS, OPPORTUNITY DAN TREATMENT
Lingkungan bisnis dapat dipilah-pilah secara lebih spesifik menurut
kepentingan tertentu yang orientasinya adalah dalam persfektif penyusunan
strategis yang secara garis besar terbagi dalam 4 kelompok besar :
1. Strength (Kekuatan);
Variabel-variabel yang masuk dalam kelompok ini mencerminkan kekuatan-
kekuatan internal yang dimiliki perusahaan, dan sering dijadikan andalan untuk
menetapkan dan menyusun strategi perusahaan, sehingga substansi strategi ini
benar-benar sesuai dengan fakta dan prediksi kekuatan yang dimiliki perusahaan.
2. Weakness (Kelemahan);
Sejumlah variable kelemahan ini juga bersifat internal, untuk lebih menjamin
keputusan manajerial lebih akurat berdasar fakta. Sehingga dengan mengetahui
kelemahan fasilitas dan kapasitas perusahaan tentu akan dilakukan rencana
strategi yang lebih baik.
3. Opportunity (Peluang/Kesempatan);
Lingkungan eksternal ini sangat dinamis dan sering terjadi berbagai perubahan di
mana perlu disesuaikan dengan keadaan lingkungan yang ada.
4. Treatment (Tantangan);

17
Treatment ini merupakan keadaan lingkungan eksternal yang merupakan
tantangan yang dihadapi perusahaan yang diprediksi akan menghambat
keberhasilan pengusaha dalam mencapai tujuan-tujuannya. Dalam hal ini untuk
meghadapi lingkungan demikian adalah mengkiati agar perusahaan dalam meraih
keberhasilan dan tujuan bisnis tidak sampai merusak apalagi menghancurkan
lingkungan. Pengetahuan mengenai SWOT hanya merupakan data dan informasi
yang dapat dijadikan sebagai bahan kebijakan perusahaan yang bijaksana dan fair
terhadap lingkungan ini. Kebijakan yang dilatar belakangi oleh informasi
lingkungan akan dijadikan sebagai masukan yang berharga dalam rangka
menyusun strategi perusahaan yang akan didukung oleh lingkungan dalam jangka
panjang.

6. Kewirausahaan dan Interpreneurship


Manusia adalah konsumen terbesar di muka bumi ini, bilamana kita sadar
keharusan membelanjakan uang kita kepada jalan Allah Swt. Bagaimanapun kita
disuruh berusaha gali sumber-sumber yang ada di bumi dan di perut bumi, olah,
proses, sehingga kita bisa memperoleh rezeki dan bersyukur atas rezeki yang
diterima. Menjaga umat islam tetap menjadi masyarakat pinggiran. Dengan
banyaknya wirausahawan muslim, diharapkan rezeki yang menumpuk akan
menetas ke bawah dan membawa kemakmuran bagi kaum duafa. Peluang untuk
berwirausaha sangat besar, karena PBB menyatakan bahwa suatu nnegara akan
mampu membangun apabila memiliki wirausaha sebanyak 2% dari jumlah
penduduknya.
Faktor Pendorong untuk Berwirausaha:
a. Personal, jujur, bisa bergaul dengan orang lain, percaya diri, mau kerja keras,
rajin, dan sebagainya.
b. Sicological, mereka yang mau membantu dan sangat menyokong kegiatan
wirausaha.
c. Ada pemutusan kerja (PHK) sehingga menganggur
d. Tidak puas dengan kondisi pekerjaan yang sekarang digeluti
e. Dorongan dari keluarga

18
f. Didesak kebutuhan hidup, mencoba-coba berwirausaha dan berhasil
g. Adanya peluang-peluang mengikukti famili yang sudah berhasil dalam bisnis
h. Ada teman yang mengajak berkongsi17

 Pengertian Kewirausahaan
Kewirausahaan berasal dari kata dasar Wirausaha18. Wirausaha dari segi
etimologi berasal dari kata wira dan usaha. Wira, berarti pejuang, pahlawan,
manusia unggul, teladan, berbudi luhur, gagah berani dan berwatak agung.
Usaha, berarti perbuatan amal, berbuat sesuatu. Sedangkan, Pengertian
Kewirausahaan (Inggris: Entrepreneurship) atau Wirausaha adalah proses
mengidentifikasi, mengembangkan, dan membawa visi ke dalam kehidupan.
Visi tersebut bisa berupa ide inovatif, peluang, cara yang lebih baik dalam
menjalankan sesuatu. Hasil akhir dari proses tersebut adalah penciptaan usaha
baru yang dibentuk pada kondisi risiko atau ketidakpastian. Jadi, secara umum
pengertian kewirausahaan adalah kegiatan penciptaan bidang usaha yg baru.
Istilah wirausaha sering dipadankan dengan istilah wirasawasta. Secara
etimologis, wiraswasta terdiri dari tiga kata: wira, swa, dan sta yang masing-
masing berarti berani, sendiri, dan berdiri. Adapun secara istilah, wiraswasta
berarti keberanian, keutamaan, serta keperkasaan dalam memenuhi kebutuhan
serta memecahkan permasalahan hidup dengan kekuatan yang ada pada diri
sendiri.19
Kewirausahaan disebut dengan istilah entrepreneurship dalam kamus sering
diartikan dengan istilah kewiraswastaan. Sedangkan entrepreneurship itu sendiri
diambil atau diserap dari dalam bahasa dari bahasa perancis yaitu entreprende
yang berarti melakukan atau dalam bahasa Inggris sering diartikan “in beetween
taker” di antara-pengambil dan “go-beetwen” menuju - antara.7 Disini di artikan
bahwa kewirausahaan adalah melakukan sesuatu dengan segala aspek yang ada
baik faktor produksi-lahan kerja, tenaga kerja, modal untuk mendapatkan sebuah

17
Ibid, 127.
18
Di ambil dari kamus besar bahasa Indonesia
19 6
Wasty soemanto, Sekuncup Ide Operasional Pendidikan Wiraswasta, Jakarta : Bumi Aksara,
1984, 43

19
peluang usaha baru baik berupa profit dan non profit. Sedangakan dalam
Lampiran Keputusan Menteri Koperasi dan Pembinaan Pengusaha Kecil Nomor
961/KEP/M/XI/1995, dicantumkan bahwa:
a. Wirausaha adalah orang yang mempunyai semangat, sikap, perilaku dan
kemampuan kewirausahaan.
b. Kewirausahaan adalah semangat, sikap, perilaku dan kemampuan seseorang
dalam menangani usaha atau kegiatan yang mengarah pada upaya mencari,
menciptakan serta menerapkan cara kerja, teknologi dan produk baru
dengan meningkatkan efisiensi dalam rangka memberikan pelayanan yang
lebih baik dan atau memperoleh keuntungan yang lebih baik.
Gambaran ideal manusia wiraswasta adalah orang yang dalam keadaan
bagaimanapun daruratnya, tetap mampu berdiri atas kemampuan sendiri untuk
menolong dirinya keluar dari kesulitan yang dihadapinya, termasuk mengatasi
kemiskinan tanpa bantuan instansi pemerintah atau instansi sosial. Dalam keadaan
yang biasa (tidak darurat) manusia-manusia wiraswasta bahkan akan mampu
menjadikan dirinya maju, kaya, dan berhasil lahir dan batin. Simpulannya adalah
wirausaha sama saja dengan wiraswasta, walaupun rumusnya berbeda-beda tetapi
isi dan karakteristiknya sama. Namun ada perbedaan penekanan antara kedua
istilah tersebut. Wirausaha lebih menekankan pada jiwa dan semangat yang
kemudian diaplikasikan dalam segala aspek kehidupan, sedangkan wiraswasta
lebih fokus pada obyek, pada usaha yang mandiri.
 Perkembangan Kewirausahaan
Kewirausahaan sering dibagi dalam beberapa periode untuk mengetahui
tahapan dan sejarah kewirausahaan. Untuk tahap pertama disebut dengan periode
awal. Periode awal ini di mulai Marco Polo yang mencoba pengembangkan route
perdagangan internasional. Dalam route perjalanan Marco Polo ini kerjasama
antara pedagang dan pengembara untuk memperluas pasar. Yang menjadi unik
dalam hal ini adalah bagaimana kreatifitas dan inovasi untuk memperluas pasar
dan juga terbentuk sistem bagi hasil.
Periode abad ke-17 yang dimulai adanya kerjasama antara John Law dengan
pemerintah Perancis. Kerjasama ini menghasilkan monopoli perusahaan The

20
Missisipi Company dan mengalami kebangkrutan perusahaan. Dengan kesalahan
itu maka pada tahun 1700-an Richard Cantillon (1755) mulai mengembangkan
teori kewirausahaan. Richard mengamati bahwa pengusaha adalah seseorang yang
harus mampu mengambil risiko. Richard Cantillon ini sering disebut sebagai
penemu istilah kewirausahaan (entrepreneurship)20.
Abad ke-18 ini merupakan abad banyaknya penemuan hasil penelitian.
Sehingga pada periode ini dimulainya kewirausahaan berbasis modal. Hasil
penelitian harus diimplementasikan dalam sebuah praktik dan dipasarkan seperti
penemuan dari Alfa Thomas Edison penemu bolam dan Eli Whitney penemu
mesin pemintal benang.
Abad ke-18 dan ke-19 sudah mulai ada inovasi dan kemutakhiran. Dalam
abad ini dua hal tersebut merupakan bagian yang integral dan tak terpisahkan
dengan kewirausahaan. Pada masa abad ini muncul nama nama Andrew Carnegie
yang tidak menemukan hal baru tetapi mengadaptasi dan mengembangkan
teknologi baru dalam industri baja21. Sehingga Carnegie bangkit menjadi orang
kaya baru yang disegani. Masih ada nama lain dalam abad ini yaitu Edward
Harriman yang mampu mengorganisasikan jalan kereta Ontorio dan John Pierpont
yang mengembangkan bank besar dalam pengembangan industri.
Istilah kewirausahaan telah dikenal sejak abad 16, sedangkan di Indonesia
baru dikenal pada akhir abad 20. Di Belanda kewirausahaan sering dikenal dengan
ondernemer, di Jerman dikenal dengan unternehmer. Pendidikan kewirausahaan
mulai dirintis sejak 1950-an di beberapa negara seperti Eropa, Amerika, dan
Kanada. Bahkan sejak 1970-an banyak universitas yang mengajarkan
kewirausahaan atau manajemen usaha kecil. Pada tahun 1980-an, hampir 500
sekolah di Amerika Serikat memberikan pendidikan kewirausahaan.
Isu pengajaran kewirausahaan menjadi tren di Perguruan Tinggi. Maksud
dan tujuan untuk mengakses perguruan tinggi adalah untuk memperbaiki kualitas
hidup. Lulusan Perguruan Tinggi berkontribusi terhadap tingginya angka
pengangguran terbuka. Untuk menjawab tantangan yang ada konten

20
Robert D. Hisrich, Entrepreneurship Kewirausahaan, Jakarta: Penerbit Salemba Barat 2008 , 6.
21
Ibid, 8.

21
kewirausahaan bisa menjadi kunci jawaban. Sehingga tindakan nyata sangat
dibutuhkan dan dengan demikian maka dengan semangat kewirausahaan
pemerintah tidak perlu menyediakan lapangan kerja. Secara otomatis lulusan
perguruan tinggi mampu membuka lapangan kerja bagi dirinya dan masyarakat.
Setiap konsentrasi pendidikan di perguruan tinggi akan membawa ke
khususan dalam model kewirausahaan. Sebagai contoh untuk fakultas teknologi
akan mampu membuka peluang tekhnopreneur seperti yang dikembangkan ITS.
Bisa juga mengembangkan kewirausahaan di konsentrasi pendidikan pertanian
dengan agropreneur. Di fakultas hukum bisa lebih fokus dalam lawpreneur, di
panti asuhan akan mengembangkan orphanpreneur, bidang sosial sering disebut
dengan istilah social entrepreneur. Bahkan bisa juga di konsentrasi agama akan
membuka peluang dalam bidang religipreneur.
Dengan definisa dan konsep di atas maka segala aspek dan segala sisi
kehidupan akan mampu membuka sebuah peluang tanpa harus disibukkan dengan
membuka peluang. Hal lain dengan konsep ini maka kewirausahaan merupakan
hal yang urgent dalam sebuah kehidupan berbangsa dan bernegara.
 Pentingnya Kewirausahaan Islam
Gagasan bahwa kewirausahaan dan pertumbuhan ekonomi sangat berkaitan
erat secara signifikan, tidak diragukan lagi telah berhasil sejak awal penelitian
yang dilakukan oleh Schumpeter (Aghion and Howitt’s,1998). Sehingga dengan
kewirausahaan akan mampu menjadikan ujung tombak pembangunan suatu
negara. Persentasi peningkatan kewirausahaan akan berpengaruh terhadap
ekonomi kecil karena akan sangat mendukung perekonomian masyarakat kecil.
Suatu peningkatan dalam jumlah wirausaha umumnya mengarah pada suatu
peningkatan dalam pertumbuhan ekonomi. Pengaruh ini sebagai suatu hasil nyata
dari peningkatan keterampilan mereka, dan lebih tepatnya lagi, kecenderungan
mereka untuk berinovasi (propensity to innovate). Dimana inovasi ini dimulai dari
pemikiran yang sering disebut kreatifitas untuk mendukung inovasi. Sehingga
antara kreatifitas dan inovasi menjadi dua hal yang tidak akan terpisahkan untuk
pembangunan ekonomi masyarakat.

22
Schumpeter (1963) telah menggambarkan aktivitas inovatif ini, yaitu
melaksanakan berbagai kombinasi baru dengan membedakan lima hal. Pertama
memperkenalkan suatu produk baru, yaitu produk yang belum dikenal konsumen,
atau suatu produk dengan kualitas baru. Kedua, memperkenalkan suatu metode
operasi baru, yaitu metode yang belum teruji secara empiris. Ketiga, membuka
pasar baru, yaitu pasar yang belum dimasuki perusahan atau cabang suatu
perusahaan tersebut. Keempat, merebut sumber pasokan baru berupa bahan
bakunatau barang setengah jadi, terlepas apakah pasokan baru ini sudah ada atau
harus dibuat terlebih dahulu. Kelima, melahirkan perusahaan baru dalam suatu
industri, seperti menciptakan suatu posisi atau penghentian posisi monopoli
melalui trustification (Schumpeter, 1963).
Melalui aktivitas inovatifnya, para wirausaha versi Schumpeterian berupaya
menciptakan peluang baru untuk memperoleh keuntungan. Peluang-peluang baru
ini dapat dihasilkan melalui peningkatan produktivitas, sehingga kaitan antara
produktivitas dengan pertumbuhan ekonomi akan nampak dengan jelas22.
Peningkatan produktifitas bukan hanya pada jumlah output perusahan lama, tapi
justru munculnya perusahaan-perusahaan baru.
Sehingga dengan adanya kreatifitas dan inovasi sebagai kekuatan dalam
berwirausaha akan mampu meningkatkan daya juang dan bertahan hidup
masyarakat dalam segala kondisi. Segala aset yang dimiliki baik sosial, alam ,
manusia, lingkungan dan finasial akan mampu dikembangkan dengan maksimal.
Kewirausahaan dan perdagangan dalam pandangan Islam merupakan aspek
kehidupan yang dikelompokkan ke dalam masalah muamalah. Masalah yang erat
kaitannya dengan hubungan yang bersifat horisontal, yaitu hubungan antar
manusia yang akan dipertanggungjawabkan kelak di akhirat.
Manusia diperintahkan untuk memakmurkan bumi dan membawanya ke arah
yang lebih baik serta diperintahkan untu berusaha mencari rizki. Dalam mencari
rizki maka harus mencari pintu yang terbuka lebar dan jumlah yang banyak yang

22
http://sbm.binus.ac.id/files/2013/04/Pentingnya-Kewirausahaan.pdf, diakses 21 September
2018

23
bagikan oleh Allah SWT. Pintu rizki yang banyak dan terbuka lebar adalah
melalui kewirausahaan.
Semangat kewirausahaan terdapat dalam QS. Hud ayat 61, QS. Al-Mulk ayat
15, dan QS. Al-Jumuh ayat 1023. Sehingga jelas bahwa dalam Alquran tidak
membedakan antara wirausaha dengan agama. Hal sebaliknya terjadi Alquran
sangat mendukung adanya peningkatan kualitas dalam kewirausahaan.
Kewirausahaan dalam Islam merupakan suatu ibadah yang akan mendapatkan
pahala apabila dilaksanakan dan salah satu penulis seminar internasional (Nur
Suhaili Ramli, Auckland, New Zealand dalam tulisan Islamic Entrepreneurship)24
mengatakan kewirusahaan merupakan fardhu kifayaah. Ketrampilan masing
masing individu wajib dikembangkan tetapi tidak semua orang harus memiliki
skill yang sama. Lebih detailnya Nur Suhaili mengatakan rumusan kewirausahaan
dalam Islam adalah :
1. Kewirausahaan merupakan bagian integral dari agama Islam.
2. Berdasarkan sifat manusia, para pengusaha Muslim 'khalifah' yang diutus
Allah (SWT) dan memiliki tanggung jawab mengembangkan kemakmuran
dan melihat bisnis sebagai bagian dari ibadah dan perbuatan baik.
3. Kewirausahaan sebagai Motivasi. Keberhasilan dalam Islam bukan hanya
diukur dengan hasil akhir tetapi juga cara dan sarana untuk mencapai mereka.
4. Kewirausahaan sebagai bagian dari Ibadah. kegiatan usaha adalah bagian dari
ibadah atau "perbuatan baik"
5. Posisi Kewirausahaan dan bisnis dalam Islam: - Islam mendorong umatnya
untuk menjelajah ke bisnis. Nabi Muhammad SAW mengatakan bahwa 9 dari
10 sumber rizki (livlihood) dapat ditemukan dalam bisnis.
6. Kewirausahaan merupakan bagian dari Sistem Ekonomi Islam.
Kewirausahaan Islam harus beroperasi dalam domain sistem EkonomiIslam
dan bertindak sebagai kendaraan menuju penerimaan global Sistem ini.
7. Prinsip-prinsip Kewirausahaan Islam diambil dari hasanah ilmu di Alquran
dan Alhadits.

23
http://ekonomi.kompasiana.com/wirausaha/2013/06/30/islamic-entrepreneurship-
kewirausahaanislam-569797.html diunduh pada tanggal 21 September 2018
24
http://www.slideshare.net/suhailiramli/islamic-entrepreneurship , diakses 21 September 2018

24
8. Etika kewirausahaan yang baik adalah etika kewirausahaan berdasarkan
perilaku teladan dari Nabi Muhammad SAW
 Peran dan Fungsi Kewirausahaan
Setidaknya ada beberapa peran dan fungsi mendasar yang mampu
mempengaruhi perilaku yang mengarah pengembangan kewirausahaan :
a. Mampu memberi semangat dan motivasi. Di sini dengan kewirausahaan hal
yang sulit sekalipun akan mampu diwujudkan menjadi kenyataan. Sehingga
segalanya akan mudah dilakukan agar relisasi dari kreatifitas.
b. Mampu mewujudkan mimpi. Dengan kewirausahaan segala mimpi harus
mampu diwujudkan. Sehingga yang semula hanya menjadi seorang karyawan
yang tidak mampu diwujudkan maka setelah dengan kewirausahaan mimpi
akan menjadi kenyataa. Hasil survey dalam bisnis berskala kecil tahun 1991
menunjukkan bahwa 38% dari orang-orang yang meninggalkan pekerjaannya
di perusahaan lain karena mereka ingin menjadi bos atas perusahaan sendiri.
Dengan kewirausahaan akan mampu memanage waktu secara fleksibel. Juga
akan mampu mengambil keputusan, menentukan arah masa depan dan
melihat begitu banyak orang yang tertolong karena memiliki penghasilan.
c. Mampu memberikan inspirasi. Dengan kewirausahaan maka akan
memberikan gambaran segala persoalan akan mampu diselesiakan.
d. Memberikan nilai positif dalam pembangunan. Secara tidak langsung maka
kewirausahaan akan meberikan sumbangan yang sangat besar terhadap
bangsa dan negara. Dengankewirausahaan maka akan membuka lapangan
kerja yang luas dan mampu menyerap banyak tenaga kerja. Sehingga tingkat
pengangguran akan berkurang atau malah akan hilang dinegeri tercinta ini.25
Ciri-ciri wirausahawan yang berhasil adalah sebagai berikut26 :
a. Memiliki visi dan tujuan yang jelas. Ini untuk mengetahuai langkah dan arah
yang pasti. Tanpa adanya keraguan dan keremangan dalam orientasi. Tujuan
pasti beserta langkah langkah yang harus dilakukan.

25
Irham Fahmi, Kewirausahaan, Bandung : Alfabeta, 2013. Hal 3.
26
Kasmir, Kewirausahaan, Jakarta: PT. Rajawali Press, 2013. Hal. 30

25
b. Inisiatif dan selalu profokatif. Para wirausaha mampu menjemput bola dan
menjadi inisiator dalam berbagai peluang yang ada. Segala kesempatan akan
menjadi peluang untuk melayani kehidupan. Dengan kata lain bahwa sesuatu
hal yang baru muncul untuk melengkapi dan sebagai fasilitas hidup.
c. Berorientasi pada prestasi. Segala kegiatan yang dilakukan diharapkan akan
memperoleh kemajuan. Kemajuan dalam bidang kewirausahaan adalah
bagaimana sebuah hasil atau produk selalu diterima masyarakat dengan nilai
gunanya. Evaluasi setiap hasil dan adanya peningkatan kualitas menjadi
prestasi setiap tahapan para wirausahawan.
d. Berani mengambil risiko. Hal ini merupakan sifat yang harus dimiliki seorang
pengusaha kapanpun dan dimanapun, baik dalam bentuk uang maupun waktu.
Segala hal dalam kegiatan memerlukan ciri ini. Tanpa adanya keberanian
maka kegiatan akan stagnan dan cenderung membosankan dan menagalami
kejenuhan dalam dunia kewirausahaan.
e. Kerja keras. Dalam dunia kewirausahaan tidak terbatas waktu, selalu
memikirkan kemajuan usahanya. Ide-ide baru akan mendorongnya untuk
bekerja keras merealisasikannya. Tidak ada kata tidak mungkin dalam
mewujudkan ide dalam kewirausahaan, tidak ada kata tidak apabila ada
sebuah permintaan pasar.
f. Bertanggung jawab terhadap segala aktivitas yang dijalankannya, baik
sekarang maupun yang akan datang. Dengan hal ini maka dunia
kewirausahaan akan lebih mampu menjalankan fungsi sosialnya. Di mana
tanggung jawab dan sosial akan mampu diwujudkan dalam satu langkah
tatkala kesuksesan diraih.
g. Komitmen pada berbagai pihak, ini merupakan ciri yang harus dipegang
teguh dan harus ditepati. Komitmen merupakan kewajiban untuk segera
ditepati dan direalisasikan.
h. Mengembangkan dan memelihara hubungan baik dengan berbagai pihak.
Dengan hal ini maka segala kegiatan akan meluas di berbagai aspek.
Perluasan akan menjadi lebih mudah apabila hubungan baik terjalin disegala
lingkup.

26
 Proses berwirausaha
Dalam mengembangkan kewirausahan maka diperlukan adanya proses.
Tulisan Bygrave yang mengutip dari Carol Noore bahwa sebuah kewirausahaan
diawali dari sebuah inovasi. Yang mana inovasi ini dapat dari dalam dirinya
maupun luar dirinya dar berbagai aspek kehidupan. Lingkungan pendidikan,
sosial, maupun psikologis. Dengan inovasi makan akan terbentuklah locus of
control, kretifitas keinovasian, implementasi, pertumbuhan dan menjadi
kewirausahaan.

Sumber : Wiliam D Bygrave, (1996) The Portable MBA Entrepreneurship, hal. 327
 Syarat menjadi wirausahawan
1. Jujur mengemukakan segala sesuatu dengan apa adanya sehingga tidak ada
dusta sebagai modal awal dalam sebuah kewirausahaan.
2. Mempunyai tujuan jangka panjang. Dalam agama Islam segala usaha
memiliki jangka waktu yang bisa membangun masa depan dan generasi
penerus. Tidak hanya satu atau dua periode saja.

27
http://ramalanhariini.blogspot.com/2013/10/model-proses-kewirausahaan.html.
diakses pada tanggal 21 September 2018

27
3. Berdoa dan bertawakkal. Setelah semua diusahakan dengan sungguh-sungguh
maka hasil tinggal dipasrahkan kepada Sang Pencipta. (Man proposes, God
disposes).
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Bisnis adalah suatu lembaga yang menghasilkan barang dan jasa untuk
memenuhi kebutuhan masyarakat/konsumen. Bisnis berarti sejumlah total usaha
yang meliputi pertanian, produksi, konstruksi, distribusi, transportasi, komunikasi,
usaha jasa dan pemerintahan yang bergerak dalam bidang membuat dan
memasarkan barang dan jasa konsumen.
Pada masa dulu, kegiatan bisnis ini dilakukan pada tingkat keluarga secara
tertutup. Kemudian muncul Revolusi Industri yang membawa perubahan secara
drastis dan sangat penting misalnya dengan adanya mesin uap, petani yang
awalnya membajak sawah menggunakan sapi/kerbau beralih menggunakan
traktor, lalu muncul pula tenaga kerja yang menerima upah dengan demikian
penghasilan keluarga bertambah. Pada zaman globalisasi, dunia yang makin
transparan kita lihat bagaimana hebatnya persaingan bisnis perusahaan
Perusahaan membuat/memproduksi barang dan jasa dan berusaha
menjualnya sebagai usaha sehari–hari perusahaan. Masyarakat mengonsumsi
barang dan jasa tersebut dengan membelinya.
Faktor Pendorong untuk Berwirausaha: Personal, jujur, bisa bergaul
dengan orang lain, percaya diri, mau kerja keras, rajin, dan sebagainya.
Sicological, mereka yang mau membantu dan sangat menyokong kegiatan
wirausaha. Ada pemutusan kerja (PHK) sehingga menganggur. Tidak puas dengan
kondisi pekerjaan yang sekarang digeluti. Dorongan dari keluarga. Didesak
kebuhan hidup, mencoba-coba berwirausaha dan berhasil.

28
DAFTAR PUSTAKA

Alma, Buchari dan Donni Juni Priansa. Manajemen Bisnis Syariah, Bandung: Cv
Alfabeta. 2009.
Hafidhuddin, Didin dan Hendri Tanjung. Manajemen Syariah Dalam Praktik.
Jakarta: Gema Insani Press. 2003.
M. Fuad, Christin H, Nurlela, Sugiarto, Paulus, Y.E.F, Pengantar Bisnis, Jakarta
Gramedia Pustaka Utama, 2000
Dr. Francis Tantri, Pengantar Bisnis, Jakarta: Rajawali Pers, 2009
Kamus Besar Bahasa Indonesia
Wasty soemanto, Sekuncup Ide Operasional Pendidikan Wiraswasta, Jakarta :
Bumi Aksara, 1984
Robert D. Hisrich, Entrepreneurship Kewirausahaan, Jakarta: Penerbit Salemba
Barat 2008
Irham Fahmi, Kewirausahaan, Bandung : Alfabeta, 2013
Kasmir, Kewirausahaan, Jakarta: PT. Rajawali Press, 2013
http://ramalanhariini.blogspot.com/2013/10/model-proses-kewirausahaan.html.
diakses pada tanggal 21 September 2018
http://sbm.binus.ac.id/files/2013/04/Pentingnya-Kewirausahaan.pdf, diakses 21
September 2018
http://ekonomi.kompasiana.com/wirausaha/2013/06/30/islamic-entrepreneurship-
kewirausahaanislam-569797.html diunduh pada tanggal 21 September
2018
http://www.slideshare.net/suhailiramli/islamic-entrepreneurship , diakses 21
September 2018
http://rigundharma.blogspot.com/2017/12/ruanag-lingkup-bisnis-syariah-
makalah.html

29
30