Anda di halaman 1dari 18

BAB I

ANALISA PERHITUNGAN PEMBEBANAN

1.1 Desain Jembatan Rangka

Gambar 1.1 Desain Jembatan Rangka


Spesifikasi jembatan:

PARAMETER KETERANGAN

Tipe Jembatan Through Warren Truss

Panjang Bentang Jembatan 8 meter

Jumlah Segmen 8 segmen

Tinggi Rangka Maksimum 1 meter

Lebar Jembatan 1,5 meter

1.2 Perhitunagan Struktur Jembatan

Dalam analisa perhitungan untuk pembebanan dapat dihitung dengan menggunakan


peraturan pembebanan untuk jembatan yaitu dengan RSNI T-02-2005 dan penggunaannya
harus disesuaikan dengan spesifikasi jembatan yang direncanakan. Pembebanan direncanakan
dengan permodelan yang sesuai dengan keadaan jembatan, beban di distribusikan dalam
bentuk beban area, beban garis, beban titik dan gaya momen pada model jembatan. Ada
beberapa aksi dan beban yang akan bekerja pada jembatan yaitu:

1. Dead Load (DL)


2. Super Dead Load (SDL)
3. Life Load (LL)

Material yang akan digunakan untuk struktur utama terdiri dari:


a) Profil siku dengan mutu bahan
 Profil yang digunakan : siku double 5mm x 50mm x 50mm
 Mutu Profil yang digunakan : BJ-37
 Tebal Plat : 5 mm
 E : 2 x 106 kg/cm2
 Fu : 370 MPa
 Fy : 240 MPa
 BJ Beton : 24 kN/m3
b) Baut
 Fu : 370 MPa
 Fy : 240 MPa
 Ø Baut : 10 mm
c) Breaching
 Profil yang digunakan : 3mm x 50mm x 50mm
 Tebal Plat : 5 mm

Pada program analisa struktur beban dimasukan pada lantai untuk kendaraan struktur
jembatan rangka

Gambar 1.2 Desain Struktur Jembatan Rangka Yang Akan Dihitung Menggunakan
Program.
Tahap perencanaan perhitungan beban menggunakan program yang akan digunakan dengna
membuat model dan pasang tumpuan rol dan sendi. Memasukan materil, dimensi lantai, profil
rangka yang akan digunakan.
Gambar 1.3 Memasukan Material Yang Akan Digunakan Pada Jembatan Rangka.

Definisi Beban

Gambar 1.4 Load Pattern


Gambar 1.5 Load Combination

Pembebanan
 Beban mati (DL)
 Pelat Beton
tepi = 2,4 x 0,08 x 0,5 x (1,5/2)
= 0,072 T
tengah = 2,4 x 0,08 x 1 x (1,5/2)
= 0,144 T
 Bondek
BI = 7,85 t/m3
Luas = 0,000486 m2
Tepi = 7,85 x 0,000486 x 0,5 x (1,5/2)
= 0,001430 T/m
Tengah = 7,85 x 0,000486 x 1 x (1,5/2)= 0,002861 T/m
Gambar 1.6 Pemodelan beban mati

 Beban mati tambahan (SDL)

 Railing
Tengah = 3,05 x 1 = 3,05 kg = 0,00305 T

Tepi = 3,05 x 0,5 = 1,525 kg = 0,00153 T

Gambar 1.8 Pemodelan beban SDL


 Beban hidup (LL)

 Motor

Tepi = 0,8 x 0,5 x 0,75 = 0,3 T

Tengah = 0,8 x 1 x 0,75 = 0,6 T

 Pejalan Kaki

Tepi = 0,5 x 0,5 x 0,75 = 0,1875 T

Tengah = 0,5 x 1 x 0,75 = 0,375 T

Gambar 1.9 Pemodelan beban SDL


1.3 Hasil Analisis
Dari analisis struktur lalu Kontrol Lendutan dan Berat Struktur. Untuk mengetahui
nilai lendutan jembatan yang dirancang digunakan software SAP2000 sebagai aplikasi
pembantu. Dari hasil cek uji lendutan, didapatkan nilai lendutan sebesar 0,8 mm

Gambar 1.9 Nilai Lendutan


1.4 Gaya Pada Batang

Gaya pada batang dianalisa menggunakan dengan SAP 2000 dan didapatkan gaya batang
maksimum dan minimum pada rangka jembatan sebagai berikut :

Gambar 1.10 Analisa Gaya Batang


a) Batang Tekan

Didapatkan nilai batang maksimum tekan pada jembatan sebesar

PU Tekan = 91,786 kN

Gambar 1.11 Axial Batang Tekan


b) Batang Tarik

Didapatkan nilai batang maksimum tekan pada jembatan sebesar

PU Tarik = 85,895 kN

Gambar 1.12 Axial Batang Tarik


Dipilih PU pada batang Tarik karena baut menjadi komponen utama penahan beban pada
sambungan. PU Tarik = 85,895 kN = 85895 N

1.5 Perhitungan Sambungan


Sambungan pada jembatan rangka ini menggunakan sambungan baut dan sambungan las,
yang mana untuk menentukan jumlah baut dan pembebanan yang akan diterima oleh
sambungan las adalah sebagai berikut:
Detail baut :
Mutu baut : A325
D Baut : 10 mm
1 1
Ab : 4 𝜋𝐷2 = 𝑥 𝜋 𝑥 102 = 78,54 mm2
4

Fu baut : 825 Mpa


R : 0,5 mm
m :2
Ø : 0,75
Detail Plat :
B : 50 mm
Tebal : 5 mm Ø leleh : 0,9
Fy : 240 Mpa Ø fraktur : 0,75
Fu : 370 Mpa

a. Baut
1) Kebutuhan baut
Vd = Ø x R x Fu x A baut x m x n
= 0,75 x 0,5 x 825 x 78,54 x 2 x 1
= 48596,51 N = 48,60 kN
85,895
Jumlah baut (n) = = 1,77 ≈ 3 buah
48,60

2) Pengecekan Sambungan Baut


a) Cek Kekuatan Baut
- Kekuatan Geser
n x Vd ≥ PU
3 x 48,60 ≥ 85,895 kN
145,8 kN > 85,895 kN (OKE)

- Kekuatan Tarik
Td = 0,75 x Ø x Fu x A baut x n
= 0,75 x 0,75 x 825 x 78,54 x 3
= 109342,4063 N = 109,34 kN
Td ≥ PU
109,34 kN > 85,895 kN (OKE)

- Kekuatan Tumpu
Rd = 2,4 x Ø x D x tebal plat x Fu x n
= 2,4 x 0,75 x 10 x 5 x 825 x 3
= 222750 N = 222,75 kN

Rd ≥ PU
222,75 kN > 85,895 kN (OKE)

b) Cek Kekuatan Plat


Ag = B x tebal plat x m = 50 mm x 5 mm x 2 = 500 mm2
An = Ag – (Luas lubang)
= 500 – [(2 x t) x (D+1)]
= 500 – [(2 x 5) x (10+1)]
= 390 mm2
Ae = 0,9 x An
= 0,9 x 390 = 351 mm2
S1 > 2Dbaut → S1 = 25 mm
S2 > 3Dbaut → S2 = 35 mm
1,5D < S < 3,5D → S = 30 mm
- Kuat Leleh
ØPn = 0,9 x Fy plat x Ag
= 0,9 x 240 x 500 = 108000 N = 108 kN
ØPn ≥ PU
108 kN > 85,895 kN (OKE)
- Kuat Fraktur
ØPn = 0,75 x Fu plat x Ae
= 0,75 x 370 x 351 = 97402,5 N = 97,40 kN
ØPn ≥ PU
97,40 kN > 85,895 kN (OKE)

c) Cek Block Shear


- Agt =2xSxt
= 2 x 30 x 5 = 300 mm2
- Ant = Agt – 2(0,5dt)
= 300 – 2(0,5 x (10+1) x 5) = 245 mm2
- Ags = 2 x (S1 +4S2) t
= 2 x (25 + 4 x 35) x 5 = 1650 mm2
- Ans = 1650 – 2(4,5 x 11 x 5) = 1155 mm2
- Kuat Tarik
Fu x Ant = 370 x 245 = 90650 N = 90,65 kN
- Kuat Geser
0,6 x Fu x Ans = 0,6 x 825 x 1155 = 571725 N = 571,725 kN

ØPn = Ø x (Fy plat x Agt + 0,6 x Fu baut x Ans)

= 0,75 x (240 x 300 + 0,6 x 825 x 1155)

= 482793,75 N = 482,79 kN

PU ≤ ØPn

85,895 kN < 482,79 kN (OKE)


Jumlah Baut

SAMBUNGAN Gaya (kN) n baut

A 53.358 2
B 26.386 2
C 68.804 2
D 28.302 2
E 85.895 3
F 11.319 2
G 85.895 3
H 9.002 2
I 75.236 3

3) Jumlah Baut Untuk Diafragma


Dari hasil SAP didapatkan gaya momen pada diafragma terbesar sebagai berikut :
Gaya momen = 0,3745 kNm

Gambar 1.13 Gaya Momen pada Diafragma


Untuk itu didapat gaya pada ujung diafragma sebesar gaya momen dibagi setengah lebar
jembatan.
0,3745 𝑘𝑁𝑚
𝑃𝐷𝑖𝑎𝑓𝑟𝑎𝑔𝑚𝑎 = = 0,50 𝑘𝑁
1,5 𝑚⁄2
Rd (Kuat Tumpu) = 2,4 x Ø x D x tebal plat x Fu x n
= 2,4 x 0,75 x 10 x 5 x 825 x 1
= 74250 N = 74,25 kN
Jumlah Baut Diafragma
0,50 𝑘𝑁
𝑛= = 0,0067 𝑏𝑢𝑎ℎ = 2 𝑏𝑢𝑎ℎ
74,25 𝑘𝑁

4) Jumlah Baut Untuk Bracing


Dari hasil SAP didapatkan gaya aksial terbesar pada bracing sebagai berikut :
Gaya Aksial Tarik = 13,773 kN

Gambar 1.14 Gaya Aksial Pada Bracing

Jumlah Baut pada Bracing

13,773 𝑘𝑁
𝑛= = 0,185 𝑏𝑢𝑎ℎ = 2 𝑏𝑢𝑎ℎ
74,25 𝑘𝑁
b. Las
1) Perhitungan pembebanan (per m)
a) q motor = 1,8 x 0,8 𝑘𝑁⁄𝑚 = 1,44 𝑘𝑁⁄𝑚
b) q orang = 1,8 x 0,5 𝑘𝑁⁄𝑚 = 0,9 𝑘𝑁⁄𝑚
c) q Bondek = 1,3 x 7,85 𝑘𝑁⁄𝑚 = 10,205 𝑘𝑁⁄𝑚
d) q Rangka Baja = 1,1 x 0,0377 𝑘𝑁⁄𝑚 = 0,0415 𝑘𝑁⁄𝑚
e) q Total = Q orang+motor + Q Beton Bertulang + Q Rangka Baja

= 2,34 𝑘𝑁⁄𝑚 + 10,205 𝑘𝑁⁄𝑚 + 0,0415 𝑘𝑁⁄𝑚

= 12,59 𝑘𝑁⁄𝑚

2) Mencari Ru

1 1
Vu =2 𝑥𝑞𝑥𝐿= 𝑥 12,59 𝑘𝑁⁄𝑚 𝑥 1,5 𝑚 = 9,44 𝑘𝑁
2

Vu = Ru  9,44 𝑘𝑁

3) Pengecekan Sambungan Las


a) Kuat Geser (Vn)

Ø Vn = Øfw x (0,707 x a) x Lw

= [0,75 x (0,60 x 425)] x (0,707 x 2) x [60 x 2]

= 32451,3 N ≥ (Ru = 9440 N)

b) Tahanan Geser (Rn)

Ø Rn = 0,9 x 0,6 Fy x Luas base metal

= 0,9 x (0,6 x 210) x 300

= 34020 N ≥ (Ru = 9440 N)


1.6 Cek Tingkat Keekonomisan Jembatan Terhadap Beban Yang Bekerja

A. Menggunakan Profil yang dikerjakan (Double Siku 50 x 50 x 5)

Warna yang dikeluarkan setiap elemen batang menunjukan rasio kekuatan batang terhadap
tegangan yang terjadi sesuai dengan peraturan AISC – LRFD 93. Batasan rasio warna yang
dikeluarkan sesuai dengan gambar diatas. Jika batang berwarna merah berarti rasio lebih besar
dari 1 atau over strenght.

Rasio Batang Terbesar pada batang tekan yaitu batang A4 dan A5 sebesar 0,647.
Rasio Batang Terbesar pada batang tekan yaitu batang D4 dan D5 sebesar 0,019

Jadi dapat disimpulkan bahwa dengan beban yang diperhitungkan sehingga menimbulkan
tegangan. Kekuatan bahan dari baja double siku 50 x 50 x 5 dominan warna yang ditunjukan
adalah hijau yang berarti rasio batang dominan kurang dari 0.5