Anda di halaman 1dari 11

Fraktur Terbuka Tibia

Kelompok F7

10-2011-096 Septian Dwi Chandra

10-2013-007 Lusia Paramita

10-2013-553 Anisa Aulia Reffida

10-2014-021 Harisma Minarti Maakh

10-2014-086 Dewi Muna

10-2014-089 Julio Atlanta Chandra

10-2014-144 Indri Mendila

10-2014-249 Dede Andrianus Njoto Suhardjo

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Jl.Arjuna Utara No.6 Jakarta Barat 11510

i. Pendahuluan

Membahas tentang fraktur terbuka pada regio cruris 1/3 dextra tengah yang di alami
seorang laki-laki berusia 30 tahun. Fraktur terbuka merupakan suatu keadaan darurat yang
memerlukan penanganan yang terstandar untuk mengurangi resiko infeksi. selain mencegah
infeksi juga diharapkan terjadi penyembuhan fraktur dan restorasi fungsi anggota gerak.
beberapa hal yang penting untuk dilakukan dalam penanggulangan fraktur terbuka yaitu
operasi yang dilakukan dengan segera, secara hati-hati, debrideman yang berulang-ulang,

1
stabilisasi fraktur, penutupan kulit dan bone grafting yang dini serta pemberian antibiotik
yang adekuat.

Skenario
Seorang laki – laki berusia 30 tahun dibawa ke UGD RS dengan keluhan luka terbuka pada
kaki kanannya setelah mengalami kecelakaan sepeda motor 1 jam yang lalu. Menurut warga, saat
sedang mengendarai sepeda motornya, pasien tersebut ditabrak oleh mobil yang melaju dari arah kanan,
lalu pasien terlempar dari sepeda motornya dan sempat terguling beberapa meter. Saat mengendarai
sepeda motornya, pasien menggunakan helm

ii. Rumusan Masalah


Laki-laki berusia 30 tahun dengan keluhan luka terbuka pada kaki kanannya setelah
mengalami kecelakaan sepeda motor 1 jam yang lalu.

iii. Analisis Masalah

Mind map

Prognosis Anamnesis

Pencegahan Pemeriksaan

Komplikasi
Fisik Penunjang
Laki-laki berusia 30
tahun dengan keluhan
Penatalaksanaan luka terbuka pada kaki
kanannya

Working Diagnosis
Medika Medika
mentosa non Fraktur Terbuka Tibia Dextra
1
mentosa 3
tengah bagian ventral

Manifestasi klinik 2
Patofisiologi
Pembahasan Epidemiologi Etiologi

Anamnesis

Dalam anamnesis hal pertama yang perlu ditanyakan kepada pasien adalah mengenai
identitas pasien (tanyakan nama lengkap dan cocokkan dengan tabel nama, tanyakan tanggal
lahir atau umur, jenis kelamin, nama orang tua atau suami atau istri atau penanggung jawab,
pendidikan, pekerjaan, alamat, suku bangsa dan agama) dan pastikan bahwa setiap rekam
medis, catatan, hasil tes, dan sebagainya memang milik pasien tersebut. Tahap berikutnya
adalah anamnesis keluhan utama. Anamnesis keluhan utama biasanya memberikan informasi
terpenting untuk mencapai diagnosis banding, dan memberikan wawasan vital mengenai
gambaran keluhan yang menurut pasien paling penting.1
Riwayat penyakit sekarang juga sangat penting untuk ditanyakan kepada pasien.
Riwayat penyakit sekarang merupakan cerita yang kronologis yang berkaitan dengan keadaan
kesehatan pasien sejak sebelum keluhan utama sampai pasien datang berobat. Anamnesis
selanjutnya mengenai riwayat penyakit dahulu, obat dan alergi. Anamnesis bagian ini
memberikan kita informasi mengenai semua masalah medis yang pernah timbul sebelumnya
dan terapi yang pernah diberikan terhadap pasien, obat apa yang sedang atau sudah dikonsumsi
pasien, apakah pasien alergi terhadap sesuatu, dan apakah pasien merokok ataupun
mengkonsumsi alkohol. Setelah itu, seorang dokter juga penting untuk menanyakan riwayat
pribadi pasien yang mencakup data-data sosial, ekonomi, pendidikan, dan kebiasaan.
Selain riwayat pribadi, riwayat keluarga dan sosial serta riwayat bepergian juga sangat
penting untuk ditanyakan kepada pasien. Anamnesis ini membuat kita mendapat informasi
mengenai penyakit apa saja yang pernah diderita oleh kerabat pasien, latar belakang pasien
serta pengaruh penyakit yang mereka derita terhadap hidup dan keluarga mereka.1

Identitas : Seorang laki-laki umur 30 tahun


Keluhan utama : Fraktur terbuka pada region cruris dextra 1/3 tengah bagian ventral

Pemeriksaan fisik

3
pemeriksaan fisik harus dilakukan secara sistematis untuk menghindari kesalahan. Jika
mungkin, gunakan rungan yang cukup luas sehingga pasien dapat bergerak bebas saat
pemeriksaan gerakan atau berjalan. Tehnik inspeksi dan palpasi di lakukan untuk mengevaluasi
integritas tulang, postur tubuh, fungsi sendi, kekuatan otot, cara berjalan dan kemampuan
pasien melakukan aktivitas hidup sehari-hari. Dasar pengkajian bergantung pada keluhan fisik
pasien dan riwayat kesehatan dan semua petunjuk fisik yang ditemukan. Pemeriksaan harus
melakukan eksplorasi lebih lanjut. Hasil pemeriksaan fisik harus didokumentasikan dengan
cermat. Hal-hal yang perlu dikaji pada skelet tubuh yaitu adanya deformitas dan
ketidakkesejajaran yang dapat disebabkan oleh penyakit sendi pertumbuhan tulang abnormal,
hal ini dapat disebabkan oleh adanya tumor tulang, pemendekan ekstremitas, amputasi dan
bagian tubuh yang tidak sejajar secara anatomis. Angulasi abnormal pada tulang panjang,
gerakan pada titik bukan sendi, teraba krepitasi pada titik gerakan abnormal menunjukan ada
nya patah tulang. 2

Pemeriksaan penunjang

Sinar-X

Pemeriksaan sinar-X penting untuk mengevaluasi kelainan musculoskeletal. Sinar-X


menggambarkan kepadatan tulang, tekstur, erosi dan perubahan hubungan tulang. Sinar-X
multiple di perlukan untuk pengkajian paripurna struktur yang sedang diperiksa. Sinar-X
korteks tulang dapat menunjukan adanya pelebaran, penyempitan dan tanda iregularitas. Sinar-
X sendi dapat menunjukan adanya cairan, iregularitas, penyempitan dan perubahan struktur
sendi. Pemeriksaan sinar-X tulang tidak memerlukan persiapan khusus bagi pasien. 2

CT Scan

Computed tomography (CT scan) merupakan prosedur yang menunjukan rincian


bidang tertentu dari tulang yang sakit dan dapat memperlihatkan tumor jaringan lunak atau
cedera ligament atau tendon. Pemeriksaan ini di gunakan untuk mengidentifikasi fikasi lokasi
dan panjangnya patah tulang di daerah yang sulit di evaluasi misalnya asetabulum.
Pemeriksaan dilakukan dengan atau tanpa zat kontras dan berlangsung sekitar 1 jam. Pasien
perlu diberikan penjelasan bahwa akan terdengar suara mesin CT scan, dan bunyi ini tidak
berbahaya sehingga pasien tidak merasa takut saat pemeriksaan dilakukan. 2

MRI

4
Magnetic resonance imaging (MRI) adalah teknik pencitraan khusus yang non-invasif,
menggunakan medan magnet, gelombang radio dan computer untuk melihat abnormalitas
berupa tumor atau penyempitan jalur jaringan lunak, seperti otot, tendon dan tulang rawan.
Oleh karena yang di gunakan electromagnet, pasien yang mengenakan implant logam, brace
atau pacemaker tidak dapat menjalanin pemeriksaan ini. Perhiasan harus di lepas, pasien yang
menderita klaustrofobia biasanya tidak mampu menghadapi rungan tertutup pada peralatan
MRI tanpa penerangan.2

Penyebab fraktur tulang

penyebab fraktur tulang yang paling sering adalah trauma, terutama pada anak-anak
dan dewasa. Jatuh dan cedera olahraga adalah penyebab umum fraktur traumatic. Pada anak,
penganiayaan harus dipertimbangkan ketika mengevaluasi fraktur, terutama apabila terdapat
riwayat fraktur sebelumnya atau apabila riwayat fraktur saat ini tidak meyakinkan. Beberapa
fraktur dapat terjadi setelah trauma minimal atau tekanan ringan apabila tulang lemah. Hal ini
disebut fraktur patologis. Porosis atau individu yang mengalami tumor tulang, infeksi atau
penyakit lain. Fraktur stress dapat terjadi pada tulang normal akibat stress tingkat rendah yang
berkepanjangan atau berulang. Fraktur stress yang juga disebut fraktur keletihan (fatigue
fracture), biasanya menyertai peningkatan yang cepat tingkat latihan atlet atau permulaan
aktivitas fisik yang baru. Karena kekuatan otot meningkat lebih cepat dari pada kekuatan
tulang, individu dapat merasa mampu melakukan aktivitas melebihi tigkat sebelumnya
walaupun tulang mungkin tidak mampu menunjang peningkatan tekanan. 3

Kekerasan langsung menyebabkan patah tulang pada titik terjadinya kekerasan. Fraktur
demikian demikian sering bersifat fraktur terbuka dengan garis patah melintang atau miring.
Kekerasan tidak langsung menyebabkan patah tulang ditempat yang jauh dari tempat
terjadinya kekerasan. Yang patah biasanya adalah bagian yang paling lemah dalam jalur
hantaran vektor kekerasan. Patah tulang akibat tarikan otot sangat jarang terjadi, kekuatan
dapat berupa pemuntiran, penekukan, penekukan dan penekanan, kombinasi dari ketiganya,
dan penarikan. 3

Patofisiolgi

ketika tulang patah, sel tulang mati. Perdarahan biasanya terjadi di sekitar tempat tulang
yang patah dan ke dalam jaringan lunak di sekitar tulang tersebut. Jaringan lunak biasanya
mengalami kerusakan akibat cedera. Reaksi inflamasi iang intens terjadi setelah patah tulang.

5
Sel darah putih dan sel mast berakumulasi sehingga menyebabkan peningkatan aliran darah ke
area tersebut. Fagositosis dan pembersihan debris sel mati di mulai. Bekuan fibrin (hematoma
fraktur) terbentuk di tempat patah dan berfungsi sebagai jala untuk melekatnya sel-sel baru.
Aktivitas osteoblas segera terstimulasi dan bentuk tulang baru imatur, yang disebut kalkus.
Bekuan fibrin segera di reabsorbsi dan sel tulang baru secara perlahan mengalami remodeling
untuk membentuk tulang sejati. Tulang sejati menggantikan kalus dan secara perlahan
mengalami klasifikasi. Penyembuhan memerlukan waktu beberapa minggu sampai beberapa
bulan (fraktur pada anak sembuh lebih cepat). Penyembuhan dapat terganggu atau terlambat
apabila hematoma fraktur atau kalus rusak sebelum tulang sejati terbentuk, atau apabila sel
tulang baru rusak selama kalsifikasi dan pengerasan. 3

komplikasi yang dapat terjadi seperti delayed union atau mal-union tulang dapat terjadi
yang menimbulkan deformitas atau hilangnya fungsi. Sindrom kompartemen dapat terjadi di
tandai oleh kerusakan atau destruksi saraf dan pembuluh darah yang disebabkan oleh
pembengkakan dan edema fraktur. Dengan pembengkakan interstisial dan yang itens, tekanan
pada pembuluh darah yang menyuplai daerah tersebut dapat menyebabkan pembuluh darah
tersebut kolaps. Hal ini menimbulkan hipoksia jaringan dan dapat menyebabkan kematian saraf
yang mempesarafi daerah tersebut, embolus lemak dapat timbul setelah patah tulang, terutama
tulang panjang. Emboli lemak dapat timbul akibat pajanan sumsunm tulang atau dapat terjadi
akibat aktivitas sistem saraf simpatis yang menimbulkan stimulasi mobilisasi asam lemak
bebas setelah trauma. Embolus lemak yang timbul setelah patah tulang panjang sering
tersangkut di sirkulasi paru dan dapat menimbulkan gawat napas dan gagal napas.3

Jenis fraktur

Fraktur dapat dibagi menjadi dua macam yaitu, fraktur tertutup ( closed ), bila tidak
terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan hubungan dunia luar dan fraktur terbuka (
Open / Compound ), bila terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar karena
adanya perlukaan dikulit. Fraktur terbuka terbagi atas tiga derajat yaitu derajat I, Luka < 1 cm,
Kerusakan jaringan lunak sedikit, tak ada tanda luka remuk, Fraktur sederhana, tranversal,
oblik, atau kominutif ringan, Kontaminasi minimal. Derajat II, Laserasi > 1 cm, Kerousakan
jaringan lunak, tidak luas, fraktur kominutif sedang, kontaminasi sedang sedangkan derajat III,
terjadi kerusakan jaringan lunak yang luas, meliputi struktur kulit, otot dan neurovaskuler serta
kontaminasi derajat tinggi. Fraktur komplet patah pada seluruh garis tengah tulang dan
biasanya mengalami pergeseran. Fraktur tidak komplet patah hanya pada sebagian dari garis
6
tengah tulang. Fraktur tertutup fraktur tapi tidak menyebabkan robeknya kulit. Fraktur terbuka
fraktur dengan luka pada kulit atau membran mukosa sampai ke patahan tulang.4

1) Greenstick : Fraktur dimana salah satu sisi tulang patah, sedang sisi lainnya
membengkok.

2) Tranversal : Fraktur sepanjang garis tengah tulang.

3) Oblik : Fraktur membentuk sudut dengan garis tengah tulang.

4) Spiral : Fraktur memuntir seputar batang tulang

5) Kominutif : Fraktur dengan tulang pecah menjadi beberapa fragmen

6) Depresi : Fraktur dengan fragmen patahan terdorong kedalam

7) Kompresi : Fraktur dimana tulang mengalami kompresi

8) Patologik : Fraktur yang terjadi pada daerah tulang berpenyakit

9) Avulsi : Tertariknya fragmen tulang oleh ligament atau tendon pada perlekatannya

10) Epifiseal : Fraktur melalui epifisis

11) Impaksi : Fraktur dimana fragmen tulang terdorong ke fragmen tulang lainnya.

Fraktur tibia

tibia terpapar terhadap banyak jenis trauma kendaraan, industry, dan atletik. Karena
permukaan anterior tibia terletak subkutis diseluruh panjangnya, maka fraktur tibia sering
merupakan cedera terbuka. Juga karena lokasinya subkutis, maka suplai darah ke tibia kurang
dari pada untuk tulang lain, serta infeksi dan penyatuan tertunda dan non-union lebih lazim
ditemukan. Untuk fraktur korpus tibia yang tertutup, reduksi dicapai secara manual di bawah
anestesi umum atau spinalis serta imobilisasi yang diberikan oleh gips tungkai yang panjang.
Fluoroskopi membantu tercapainya reduksi. Reposisi bertujuan mendapatkan kembali panjang
serta mengoreksi keselarasan rotasi dan sudut. Dengan reduksi memuaskan, maka memikul

7
berat badan dapat di mulai dalam 3-4 minggu atau bila ada kalus fraktur yang adekua.
Penyembuhan padat bisa timbul dini 12 sampai 14 minggu pada pasien muda, tetapi penyatuan
sampai 6 bulan tidak jarang ditemukan. Untuk fraktur korpus tibia terbuka, debridement segera,
irigasi dan antibiotika diperlukan. Penutupan luka primer biasanya tidak diindikasikan.
Kehilangan kulit tidak jarang ditemukan pada pada trauma keras, serta penutupan tertunda
dengan graft sebagian ketebalan kulit, graft seluruh ketebalan kulit atau flap otot rotasi
mungkin di perlukan. Kebutuhan untuk perawatan luka ini bisa membuat penatalaksanaan gips
sulit di lakukan. Fiksasi dapat dicapai dengan pin rangka transversa di atas dan di bawah fraktur
yang diletakan ke rangka luar yang memungkinkan jalan ke luka. fiksasi bedah pada fraktur
tibia diindikasikan bila reduksi adekuat tidak dapat dicapai atau dipertahankan dengan metode
tertutup dan bila perawatan pasien keseluruhan akan dipermudah dengan ambulasi dini. Plat
dan batang intramedulla telah digunakan untuk fiksasi interna. Intervasi bedah untuk fraktur
tertutup memberikan resiko infeksi dan harus di pertimbangkan terhadap resiko terapi tertutup.
Karena pasien fraktur tibia dapat dimobilisasi segera menggunakan tongkat ketiak, maka
intervensi bedah kurang direkomendasikan.5

Penatalaksanaan

Untuk fraktur lengan atau tungkai, tindakan kedaruratan terdiri atas pembidaian
anggota gerak diatas dan di bawah bagian yang dicurigai mengalami fraktur, pembidaian ini
bertujuan untuk imobilisasi, kompres dingin untuk mengurangi rasa nyeri dan edema, elevasi
anggota gerak tersebut untuk megurangi rasa nyeri dan edema, penanganan fraktur berat yang
menyebabkan kehilangan darah meliputi, penekanan langsung untuk mengendalikan
pendarahan, penggantian cairan dengan memasanginfus secepat mungkin untuk mencegah atau
mengatasi syok hipovoemik. Sesudah memastikan diagnosi fraktur, penanganan dimulai
dengan reposisi. Reposisi tertutup meliputi, manipulasi manual, anestesi lokal (lidokain
[xylocaine]), obat analgenik (seperti penyuntikan morfin IM), obat relaksan otot (seperti
diazepam [valium] IV ) atau sedatif (seperti midazolam [versed]) untuk memudahkan
perengangan otot yang diperlukan untuk meuruskan tulang yang patah, kalau raposis tertutup
tudak memungkinkan dikerjakan maka tindaka reposisi terbuka dengan pembedahan meliputi,
imobilisasi fraktur dengan bantuan paku, plat atau skup dan pemasangan gips, terapi
profilaksis tetanus,terapi profilaksis antibiotic, pembedahan untuk memperbaiki kerusakan
pada jaringan lunak, pembersihan atau debridemen luka secara cermat, fisioterapi sesudah gips

8
dilepas untuk memulihkan mobilitas anggota gerak, kalau pemasangan bidai tidak berhasil
mempertahankan reposisi maka kita dapat melakukan imobilisasi yang memerlukan traksi kulit
atau skeletal dengan menggunakan beban dan katrol. Tindakan ini dapat meliputi, pemasangan
pembalut elastis dan tutup kulit domba untuk memasang alat traksi kulit pasien (traksi kulit),
pemasangan pen atau kawat pada ujng tulang di sebelah distal fraktur yang kemudian
disambung dengan beban untuk memungkinkan traksi dalam waktu lama ( traksi skeletal).
Pertimbangan khusus awasi timbulnya tanda-tand syok pada pasien fraktur terbuka tulang
panjang yang parah, seperti fraktur terbuka femur, pantau tanda-tanda vital dan waspadai
khususnya denyut nadi yang cepat, tekanan darah yang memurun, pasien yang tampak pucat,
serta kulit yang teraba dingin dan basah. Semua gejala ini dapat menunjukan bahwa pasien
berada dalam keadaan syok, beri infus cairan, tenteramkan kekhawatiran pasien yang mungkin
merasa takut dan nyeri, redakan rasa nyeri dengan obat analgetik jika diperlukan, bantu pasien
menetapkan tujuan pemulihan yang realistis. Jika fraktur tersebut memerukan imobilisasi yang
lama dengan pemasangan traksi, atur kembali posisi tubuh pasien dengan sering untuk
meningkatkan kenyamannanya dan mencegah dekubitus. Bantu pasien melakukan latihan otot
untuk mencegah atrofi. Dorong pasien agar mau bernafas dalam dan batuk untuk menghindari
peneumonia hipostatik. Anjurkan pasien agar mau minum dengan cukup untuk mencegah stasis
urine dan konstipasi. Awasi kemungkinan timbul tanda-tandan batu ginjal (sakit pinggang,
mual dan muntah). Lakukan perawatan gips yang baik dan sangga anggota gerak yang di gips
itu dengan bantal, dorong dan bantu pasien untuk secapat mungkin mulai bergerak menurut
kemampuanya, sesudah gips dibuka, rujuk pasien kepada petugas fisioterapi untuk memuihkan
mobilitas anggota gerakan.6

Komplikasi Dini

Komplikasi dini berupa Compartment syndrome, terutama terjadi pada fraktur


proksimal tibia tertutup. Komplikasi ini sangat berbahaya karena dapat menyebabkan
gangguan vaskularisasi tungkai bawah yang dapat mengancam kelangsungan hidup tungkai
bawah. Yang paling sering terjadi yaitu anterior compartment syndrome.

Penanganannya dalam waktu kurang dari 12 jam harus dilakukan fasiotomi.

9
Komplikasi Lanjut

1. Malunion:

Biasanya terjadi pada fraktur yang komunitif sedang imobilisasinya longgar, sehingga
terjadi angulasi dan rotasi. Untuk memperbaikinya perlu dilakukan osteotomi.

2. Delayed union:

Terutama terjadi pada fraktur terbuka yang diikuti dengan infeksi atau pada fraktur
yang komunitif. Hal ini dapat diatasi dengan operasi tandur alih tulang spongiosa.

3. Non union:

Disebabkan karena terjadi kehilangan segmen tulang tibia disertai dengan infeksi. Hal
ini dapat diatasi dengan melakukan bone grafting menurut cara Papineau.

4. Kekakuan sendi:

Hal ini disebabkan karena pemakaian gips yang terlalu lama. Pada persendian kaki dan
jari-jari biasanya terjadi hambatan gerak. Hal ini dapat diatasi dengan fisioterapi.

Prognosis

Prognosis dari fraktur region cruris untuk kehidupan adalah baik. Pada sisi fungsi dari
kaki yang cedera, kebanyakan pasien kembali ke perfoma semula,namun hal ini sangat
tergantung dari gambaran frakturnya, macam terapi yang dipilih, dan bagaimana respon tubuh
terhadap pengobatan.

Kesimpulan
Fraktur tulang panjang yang paling sering terjadi adalah fraktur pada tibia yang bisa
disebabkan oleh benturan keras oleh kecelakaan. Fraktur terbuka pada tibia termasuk luka
kompleks, sehingga tentunya penanganannya juga tidak sederhana. Sebagai dokter umum,
anamnesis dan pemeriksaan fisik yang lengkap diperlukan jika terjadi fraktur. Selain itu,

10
pemeriksaan radiologis juga penting .Penatalaksanaan dari fraktur tergantung dari kondisi
frakturnya, bisa dengan operatif maupun non operatif.

Daftar Pustaka

1. Gleadle J. At a glance anamnesis dan pemeriksaan fisik. Jakarta: Erlangga, 2007.h.11-


6.
2. Suratun, Heryati, Manurung S. Klien gangguan sistem musculoskeletal. Jakarta. EGC.
Cetakan 1; 2008. h. 18-26.
3. Corwin EJ. Patofisologi. Jakarta. EGC. Edisi 3. Cetakan 1; 2009. h. 336-8
4. Patel RP. Radiologi. Jakarta. Penerbit Erlangga. Edisi kedua; 2006. h. 222
5. David C. Buku ajar bedah. Jakarta. EGC. Cetakan pertama; 2005. h. 385
6. Kowalak JP, Welsh W, Mayer B. Buku ajar patofisiologi. Jakarta, EGC, Cetakan
pertama; 2011. h. 403-6

11