Anda di halaman 1dari 24

PEMBANGKIT LISTRIK

TENAGA DIESEL
≤ 5 MW
1. GENERATOR, SIRKIT DAN KENDALI

1. komponen-komponen utama

G MW ………………… Generator sinkron


% x d ………………. Sistem pembumian
t ……………………. Gawai kendali
I

In …………………… Hantaran

t …………………… Gawai kendali


I

In …………………. Panel Hubung Bagi

In …………………. Sirkit keluar

Pembangkit sampai dengan 5 MW termasuk pembangkit sedang


2. KETENTUAN BANGUNAN PLTD

2.1. Luas lahan sedikitnya 60 x 150 m²


(luas lahan total)
• Bangunan PLTD 30 x 32,5 m²
• Kantor, gudang, bengkel 10 x 40 m²
• Ruang minyak pelumas 10 x 20 m²
• Bak air/menara pendingin 10 x 20 m²
2.2. Ruang lahan bebas banjir
2.3. Mudah sarana transportasi bahan bakar
2.4. Cukup jauh dari tempat pemukiman dengan memperhatikan syarat
kebisingan.
3. SATUAN PEMBANGKIT DIESEL
3.1. Data mesin
• Rpm 750 – 1500
• Mesin 4 langkah diesel engine
• Mesin dengan daya alternator 5 MW atau gabungan pararel
beberapa generator sampai dengan total 5 MW misalnya : 3 x
1850 MW.
 Sistem pendingin :
 Dengan radiator
• Pendinginan langsung (misalnya dengan air sungai)
• Semua alat bantu dijalankan dengan motor listrik.
• Sistem bahan bakar dengan purifier atau langsung memakai
HSD.
• Panel kontrol terpisah dari mesin.
3.2. Perlengkapan listrik.
• Tegangan keluar generator 3000 Volt sampai dengan 6300 Volt,
maksimum 11.000 Volt.
• Pendingin generator dengan udara.
• Setiap satuan diesel generator dilengkapi dengan pemutus
tenaga sebagai pengaman.
Lanjutan 3.2.

● Panel hubung bagi dilengkapi dengan :


 Indikator
 Relais
 Gawai kendali
 Pemutus tenaga
3.3. Sistem pembumian.
● Sistem kelistrikan dibumikan langsung atau
melalui antara (impedansi)
3.4. Kontrol PLTD
3.4.1. Semua instalasi kontrol memakai kabel minimal 10 mm²
3.4.2. Kontrol bagian mekanis
• Kontrol unjuk kerja pompa-pompa bantu
• Kontrol tekanan filter fuel, filter udara
• Kontrol suhu sisi masuk, sisi keluar baik Untuk fluida atau
udara
Lanjutan 3.4.2.

• Kontrol pengukuran fluida


• Kontrol pengukuran moment
• Kontrol Rpm
• Kontrol jam operasi
• Kontrol batas beban
3.4.3. Kontrol bagian elektris.
• Pengukuran arus keluar (A)
• Pengukuran tegangan terminal (V)
• Pengukuran Frekwensi (c/s)
• Pengukuran daya watt
• Pengukuran cos 
• Pengukuran energi (meter KWH) KWH
(meter KVARH)
KVARH
• Kontrol suhu bantalan
• Peralatan sinkronisasi
Lanjutan 3.4.3.

3.5. Peralatan proteksi


Pengaman bagian elektris sedikitnya terdiri arah :
• Relai daya terarah (67/67G)
• Relai arus lebih (51)
• Relai differensial (87/87G)
• Relai tegangan lebih/tegangan kurang (27/59)
• Relai tanah tegangan lebih (64)
• Relai hilang medan (40)
• Relai putaran lebih/rendah (12/14)
• Relai putaran sinkron (13)
• Relai daya balik

Semua ikatan instalasi kontrol harus menggunakan sepatu kabel.


Lanjutan 3.5.

Contoh susunan peralatan panel kontrol dan switchgear

REL / BUS BAR

PEMISAH Syn

SINKROSKOP

PMT / CIRCUIT BREAKER

PEMISAH
RELAY
51 47 12 45 51 PROTEKSI

PENGHANTAR
PROTEKSI
A V KWH K
VAR F C
OS

PT
SISTEM
27 CT PENGUKURAN

SISTEM SISTEM
PENG UA
T PENGUAT
MEDAN MEDAN

DIESEL SET

SISTEM
PEMBUMIAN
Lanjutan 3.5.

3.6. Sirkit keluar generator


3.6.1. Hantaran
• Kuat hantar arus hantaran keluar minimal 115 % arus
nominal generator.
• Kabel harus mempunyai pelindung luar yang tahan
kimiawi dan temperatur tinggi
• Hantaran harus dilindungi dari kemungkinan gangguan
mekanis, konstruksi alat pelindung harus dilindungi dengan
pipa, terhadap pinggiran yang tajam.
• Panjang maksimum hantaran dari generator ke
panel hubung bagi sebesar 12 meter.
Lanjutan 3.6.1.

3.7. Rangkaian panel hubung bagi


3.7.1. Panel hubung bagi harus tahan terhadap :
Pengaruh daya hubung singkat pada rel / bus bar dan arus
beban maksimum.
3.7.2. Pada panel hubung bagi ditempatkan peralatan gawai kendali
yang dioperasikan baik secara remote atau manual.
3.7.3. Ketentuan teknis panel hubung bagi
• Kemampuan arus hubung singkat (kA)
• Frekwensi (HeRTZ)
• Tegangan perencanaan (Rated Voltege) (kV)
• Tegangan kerja (kV)
• Impulse wihastand voltage (kV)
• Power Frekwency withstand (kV)
• Short circuit making current (kA)
• Arus nominal (kA)
• Sistem pembumian (ohm)
Lanjutan 3.7.3.

3.7.4. Kuat hantar arus PHB


• Kuat hantar arus PHB minimum 125 % KHA penghantar
masuk
• Kemampuan hubung singkat PHB 125 % kemampuan hasil
hitungan kemampuan hubung singkat.
Contoh menghitung daya hubung singkat pada rel hubung
bagi generator.

G1 8 Generator dihubung paralel


Kubikel Hubung Bagi
G2 Kapasitas masing-masing 1824 kVA
Amp 167 A
G3 Cos  0.8
Rpm 1500
G4 Hz 50
Yd 16 %
U 6,3 kV
G8
Lanjutan 3.7.4.

+ Paralel = 8 x 1,825 MVA


Xg = Xd” x U2
s
Xg
I”k = 1,1U
√3 Xg
- Is = 1,8 √2 I”k KA

→ Is = 19,5KA

Dipilih kemampuan PHB 25 kA


(± 1,25 xIgs
Lanjutan 3.7.4.

Contoh Bagan Tunggal


PARALLELING SWITCHGEAR
Lanjutan 3.7.4.

3.8. Sistem Pembumian


3.8.1. Tahanan pentanahan sistem pembumian maksimal 1
ohm.
3.8.2. Pada terminal elektroda pentanahan harus diberi
fasilitas pengujian nilai tahanan pentanahan.
3.8.3. Sistem pembumian BKT atau titik netral sistem atau
hantaran proteksi, harus diikat dulu pada terminal
ikatan penyama potensial baru dihubungkan
keterminal pentanahan. Ikatan di lakukan dengan baut
tahan korosi minimum baut ukuran 10.
3.8.4. Elektroda pentanahan harus di cadangkan satu buah
sebagai cadangan pemeliharaan.

Ikatan Penyama Potensial

Elektroda Pentanahan
Lanjutan 3.8.4.
Lanjutan 3.8.4.

3.8.5. Elektroda pentanahan dapat dipilih yang sesuai dengan


kondisi setempat, terutama yang dituju adalah nilai
pentanahan (maksimum 1 ohm).
3.9. Prosedur pengujian laik operasi
3.9.1. Sebelum dioperasikan pembangkit perlu dilakukan uji
laik operasi berupa :
• Uji fisik
• Uji elektris
• Uji tahanan pembumian
• Uji pembebanan
• Uji emisi sambung
• Uji tingkat kebisingan
• Uji proteksi limbah
Pengujian dilakukan oleh badan penguji atau lembaga
yang terakreditasi.
Lanjutan 3.9.1.

Contoh
MATA UJI LAIK OPERASI
PEMBANGKIT TENAGA LISTRIK
( SK, Dirjen LDE No. 200-12/44/600.4/2003 tgl 1 Agustus 2003)

A. Review Dokument
1. Spesifikasi teknis
2. Spesifikasi material
3. Dokumen AMDAL atau UKL/UDL
B. Review Desain
1. Sistem pembumian titik netral
2. Short circuit level sistem
3. Sistem pengaman elektrikal
4. Sistem pengukuran
5. Setting relai koordinasi dengan grid.
Lanjutan 3.9.1.B.

C. Evaluasi hasil uji


1. Pengukuran tahanan pembumian
2. Pengujian individual utama
• Elektrikal
• Mekanikal
3. Pengujian fungsi peralatan proteksi dan kontrol
• Elektrikal
• Mekanikal
4. Pengujian unjuk kerja
• Pengaturan tegangan
• Pengaturan frekwensi
D. Pemeriksaan dan Pengujian
1. Pemeriksaan visual/fisik
• Data name plate (generator)
• Perlengkapan K3
• Perlengkapan pelindung terhadap benda bertegangan
Lanjutan 3.9.1.D.

• Perlengkapan perlindungan terhadap benda berputar


• Perlengkapan/peralatan sistem k-2 (keselamatan
ketenagalistrikan)
• Pemeriksaan pembumian peralatan
• Pemeriksaan fisik instalasi listrik
• Pemeriksaan clearance dan crepage distance
• Pemeriksaan kebocoran minyak trafo
2. Pengujian unjuk kerja
• Uji sinkronisasi
• Uji kapasitas pembangkit
• Uji pengaturan frekwensi
• Uji keandalan pembangkit (72 jam; 80 % -100%)
3. Pemeriksaan dampak lingkungan
• Uji tingkat kebisingan
• Uji emisi gas buang
• Uji limbah
Lanjutan 3.9.1.D.

Contoh Rangkaian Penguat Medan (Elektrostatic)


Lanjutan 3.9.1.D.

Penguat Tanpa Sikat (Brushless Exciter)


Lanjutan 3.9.1.D.

Penguat Tanpa Sikat (Brushless Exciter)


Lanjutan 3.9.1.D.