Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Seiring berkembangnya zaman di era globalisasi saat ini, terjadi peningkatan jumlah
penduduk baik populasi maupun variasinya. Keadaan ini memungkinkan adanya multikultural
atau variasi kultur pada setiap wilayah. Tuntutan kebutuhan masyarakat akan pelayanan
kesehatan yang berkualitas pun semakin tinggi. Hal ini menuntut setiap tenaga kesehatan
profesional termasuk perawat untuk mengetahui dan bertindak setepat mungkin dengan prespektif
global dan medis bagaimana merawat pasien dengan berbagai macam latar belakang kultur atau
budaya yang berbeda dari berbagai tempat di dunia dengan memperhatikan namun tetap pada
tujuan utama yaitu memberikan asuhan keperawatan yang berkualitas. Penanganan pasien dengan
latar belakang budaya disebut dengan transkultural nursing.
Tanskultural nursing adalah suatu daerah/wilayah keilmuan budaya pada proses belajar
dan praktek keperawatan yang fokusnya memandang perbedaan dan kesamaan diantara budaya
dengan menghargai asuhan, sehat dan sakit didasarkan pada nilai budaya manusia, kepercayaan
dan tindakan, dan ilmu ini digunakan untuk memberikan asuhan keperawatan khususnya budaya
atau keutuhan budaya kepda manusia (Leininger, 2002). Proses keperawatan transkultural
diaplikasikan untuk mengurangi konflik perbedaan budaya atau lintas budaya antara perawat
sebagai profesional dan pasien.
Keragaman budaya atau “cultural diversity” adalah keniscayaan yang ada di bumi
Indonesia sebagai Negara yang memiliki banyak pulau. Keanekaragaman atau yang sering
disebut dengan multikulturalisme adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan
pandangan seseorang tentang ragam kehidupan di dunia,ataupun kebijakan kebudayaan yang
menekankan tentang penerimaan terhadap adanyakeragaman, dan berbagai macam budaya
(multikultural) yang ada dalam kehidupanmasyarakat menyangkut nilai-nilai, sistem, budaya,
kebiasaan, dan politik yang mereka anut.Keanekaragaman bangsa Indonesia dilatarbelakangi
oleh jumlah suku-suku bangsa diIndonesia yang sangat banyak, dimana setiap suku bangsa
tersebut mempunyai ciri atau karakter tersendiri, baik dalam aspek sosial maupun budaya.
Suatu semboyan yang sejak dahulu dikenal dan melekat dengan jati diri bangsa Indonesia
adalah “Bhinneka Tunggal Ika ”. Semboyan tersebut terukir kokoh dalam cengkraman
Burung Garuda yang merupakan lambang bangsa Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Bhineka Tunggal Ika menunjukan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang heterogen,

1
yaitu bangsa yang mempunyai keanekaragaman, baik dalam aspek suku bangsa, budaya, ras
dan agama.
Sudah berlangsung cukup lama. Tanpa adanya persatuan dan kesatuan visi dan misi
dari seluruh bangsa Indonesia mustahil kita dapat keluar dari krisis tersebut.Kebhinnekaan
berupa sifat nyata bangsa Indonesia yang sering kita banggakan namun sekaligus juga sering
kita prihatinkan. Hal ini dikarenakan mengatur masyarakat yangheterogen jauh lebih sulit
dibandingkan dengan mengatur masyarakat homogen. Masyarakat yang heterogen tentu
mempunyai cita-cita, keinginan dan harapan yang jauh lebih bervariasi dibandingkan dengan
masyarakat homogen.Kebhinnekaan dapat menjadi tantangan atau ancaman, karena dengan
adanya kebhinnekaan tersebut mudah membuat orang menjadi berbeda pendapat yang pada
akhirnya dapat lepas kendali, memiliki rasa kedaerahan atau kesukuan yang sewaktu-waktu
bisa menjadi ledakan yang akan mengancam integrasi atau persatuan dan kesatuan bangsa

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan transkultural?


2. Bagaiman konsep dari transkultural?
3. Apa saja peran dan fungsi transkultural?
4. Bagaimana konsep dan prinsip dalam asuhan keperawatan transkultural?
5. Bagaiama cara melakukan pengkajian asuhan keperawatan budaya?
6. Apa saja instrumen pengkajian budaya?
7. Apa saja keunggulan bangsa Indonesia dengan keanekaragamannya?
8. Apa saja faktor penyebab keragaman budaya?
9. Apa saja dampak dari keanekaragaman yang dimiliki bangsa Indonesia?
10. Bagaimana peran masyarakat dalam menjaga keragaman budaya?

1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini diharapkan mahasiswa mampu
mengetahui indikasi – indikasi yang dapat menyebabkan diperlukannya tindakan sectio
caesar.

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Transkultural

Bila ditinjau dari makna kata, transkultural berasal dari kata trans dan culture, trans
berarti alur perpindahan, jalan lintas atau penghubung, sedangkan culture berarti budaya.
Menurut kamus besar bahasa indonesia; trans berarti melintang,menembus,melintas dan
melalui. Cultur berarti kebudayaan, cara pemeliharaan, kepercayaan, nilai-nilai dan pola
prilaku yang umum berlaku bagi suatu kelompok dan diteruskan pada generasi berikutnya,
sedangkan cultural berarti sesuatu yang berkaitan dengan kebudayaan.Jadi, transkultural
dapat diartikan sebagai pertemuan kedua nilai-nilai budaya yang berbeda melalui proses
interaksi sosial. Transkultural nursing merupakan suatu area kajian ilmiah yang berkaitan
dengan perbedaan maupun kesamaan nilai-nilai budaya. Menurut Leininger (1991).

2.2 Konsep Transkultural


Kazier Barabara (1983) dalam bukunya yang berjudul Fundamentals Of Nursing
Concept and Procedures mengatakan bahwa konsep keperawatan adalah tindakan perawatan
yang merupakan konfigurasi dan ilmu kesehatan dan seni merawat yang meliputi
pengetahuan ilmu humanistic,philosopi perawatan,praktik klinis keperawatan,komunikasi dan
ilmu sosial.konsep ini ingin memberikan penegasan bahwa sifat seorang manusia yang
menjadi target pelayanan dalam perawatan adalah bersifat bio,psiko,sosial,spiritual.Oleh
karenanya,tindakan perawatan harus didasarkan pada tindakan yang komferhensif sekaligus
holistik.
Budaya merupakan salah satu dari perwujudan atau bentuk interaksi yang nyata
sebagai manusia yang bersifat sosial.Budaya yang berupa norma,adat istiadat menjadi acuan
prilaku manusia dalam kehidupan dengan yang lain.Pola kehidupan yang berlangsung lama
dalam suatu tempat,selalu diulangi,membuat manusia terikat dalam proses yang
dijalaninya.Keberlangsungan terus-menerus dan lama merupakan proses internalisasi dari
suatu nilai-nilai yang mempengaruhi pembentukan karakter,pola pikir,pola interaksi prilaku
yang kesemuanya itu akan mempunyai pengaruh pada pendekatan intervensi
keperawatan(cultural nursing approach).

3
2.3 Peran Dan Fungsi Transkultural
Budaya mempunyai pengaruh luas terhadap kehidupan individu. Oleh sebab
itu,penting bagi perawat mengenal latar belakang budaya orang yang dirawat. misalnya
kebiasaan hidup sehari-hari,seperti tidur,makan,pekerjaan,pergaulan sosial dan lain-
lain.Kultur juga terbagi dalam subkultur. Subkultur adalah kelompok pada suatu kultur yang
tidak seluruhnya menganut pandangan kelompok kultur yang lebih besar atau memberi
makna yang berbeda. Nilai-nilai budaya timur,menyebabkan sulitnya wanita yang hamil
mendapat pelayanan dari dokter pria.dalam beberapa keadaan,lebih mudah menerima
pelayanan kesehatan dari dokter wanita dan bidan.Hal ini menunjukkan bahwa budaya timur
masih kental dengan hal-hal yang dianggap tabu.
Dalam tahun-tahun terakhir ini, makin ditekankan pentingnya pengaruh
kultur terhadap pelayanan perawatan. Perawatan transkultural merupakan bidang yang
relatif baru diberfokus pada studi perbandingan nilai-nilai dan praktik budaya tentang
kesehatan dan hubungan dengan perawatannya.Leinenger(1991) mengatakan bahwa
taranskultural nursing merupakan suatu area kejadian ilmiah yang berkaitan dengan
perbedaan maupun kesamaan nilai-nilai budaya.
Menurut Dr.Madelini Leininger,studi praktek pelayanan kesehatan transkultural
adalah berfungsi untuk meningkatkan pemahamanan atas tingkahlaku manusia dalam kaitan
dengan kesehatannya.Lininger berpendapat,kombinasi pengetahuan tentang pola praktek
transkultural dengan kemajuan teknologi dapat menyebabkan makin sempurnanya pelayanan
keperawatan dan kesehatan orang banyak dan berbagai kultur.

2.4 Konsep dan Prinsip dalam Asuhan Keperawatan Transkultural


Tuntutan kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan pada saat ini, termasuk
tuntutan terhadap asuhan keperawatan yang berkualitas akan semakin tinggi. Dengan adanya
globalisasi, dimana perpindahan penduduk antar negara menyebabkan adanya pergeseran
terhadap tuntutan asuhan keperawatan. Sehingga, perawat tidak hanya dituntut untuk bisa
berkembang pada masa kini tapi perawat pun harus berkembang dari masa lalu, seperti
kebudayaan klien, latar belakag klien, dan lain sebagainya.

4
Menurut J.N Giger dan Davidhizar konsep dan prinsip dalam asuhan keperawatan ada
beberapa, antara lain:
1. Budaya
Norma atau aturan tindakan dari anggota kelompok yang dipelajari, dan dibagi serta
memberi petunjuk dalam berfikir, bertindak dan mengambil keputusan.
2. Cultural
Seseorang yang memiliki pertentanan antara dua individu dari budaya, gaya hidup,
dan hukum hidup. Contohnya, Didin adalah anak yang dilahirkan dari pasangan suku
sunda dan batak.
3. Diversity
Diversity atau keragaman budaya adalah suatu bentuk yang ideal dari asuhan
keperawatan yang dibutuhkan untuk memberikan asuhan budaya individu,
kepercayaan, dan tindakan.
4. Etnosentris
Prsepsi yang dimiliki oleh individu yang menganggap bahwa budayanya adalah yang
terbaik diantara budaya-budaya yang dimiliki oleh orang lain.
5. Ras
Perbedaan manusia didasarkan pada asal muasal manusia.
6. Cultural shock
Suatu keadaan yang dialami klien pada suatu kondisi dimana perawat tidak mampu
beradaptasi dengan perbedaan nilai budaya dan kepercayaan. Hal ini dapat
menyebabkan munculnya rasa ketidaknyamanan, ketidakberdayaan dan beberapa
mengalami disorientasi.
7. Diskriminasi
Perbedaan perlakuan individu atau kelompok berdasarkan ras, etnik, jenis kelamin,
sosial, dan lain sebagainya.
8. Sterotyping
Anggapan suatu individu atau kelompok bahwa semua anggota dari kelompok budaya
adalah sama. Seperti, perawat beranggapan bahwa semua orang Indonesia menyukai
nasi.
9. Assimilation
Suatu proses individu untuk membangun identitas kebudayaannya, sehingga akan
menghilangkan budaya kelompoknya dan memperoleh budaya baru.
10. Perjudice

5
Adalah prasangka buruk atau beranggapan bahwa para pemimpin lebih suka untuk
menghukum terlebih dahulu suatu anggota.
Paradigma transcultural nursing (Leininger 1985) , adalah cara pandang, keyakinan, nilai-
nilai, konsep-konsep dalam asuhan keperawatan yang sesuai latar belakang budaya, terhadap
4 konsep sentral keperawatan yaitu :
1. Manusia
Manusia adalah individu, keluarga atau kelompok yang memiliki nilai-nilaidan
norma-norma yang diyakini dan berguna untuk menetapkan pilihan dan melakukan
pilihan.
2. Sehat
Kesehatan adalah keseluruhan aktifitas yang dimiliki klien dalam
mengisikehidupannya, terletak pada rentang sehat sakit. Kesehatan merupakan
suatukeyakinan, nilai, pola kegiatan dalam konteks budaya yang digunakan
untukmenjaga dan memelihara keadaan seimbang/sehat yang dapat diobservasidalam
aktivitas sehari-hari. Klien dan perawat mempunyai tujuan yang sama yaitu ingin
mempertahankan keadaan sehat dalam rentang sehat-sakit yang adaptif
3. Lingkungan
Lingkungan didefinisikan sebagai keseluruhan fenomena yang mempengaruhi
perkembangan, kepercayaan dan perilaku klien. Lingkungan dipandang sebagai suatu
totalitas kehidupan dimana klien dengan budayanya saling berinteraksi. Terdapat tiga
bentuk lingkungan yaitu : fisik, sosial dan simbolik. Lingkungan fisik adalah
lingkungan alam atau diciptakan oleh manusia seperti daerah katulistiwa,
pegunungan, pemukiman padat dan iklim seperti rumah di daerah Eskimo yang
hampir tertutup rapat karena tidak pernah ada matahari sepanjang tahun. Lingkungan
sosial adalah keseluruhan struktur sosial yang berhubungan dengan sosialisasi
individu, keluarga atau kelompok ke dalam masyarakat yang lebih luas. Di dalam
lingkungan sosial individu harus mengikuti struktur dan aturan-aturan yang berlaku di
lingkungan tersebut. Lingkungan simbolik adalah keseluruhan bentuk dan simbol
yang menyebabkan individu atau kelompok merasa bersatu seperti musik, seni,
riwayat hidup, bahasa dan atribut yang digunakan.
4. Keperawatan
Asuhan keperawatan adalah suatu proses atau rangkaian kegiatan pada
praktikkeperawatan yang diberikan kepada klien sesuai dengan latar belakang
budayanya. Asuhan keperawatan ditujukan memnadirikan individu sesuai dengan

6
budaya klien. Strategi yang digunakan dalam asuhan keperawatan adalah
perlindungan/mempertahankan budaya, mengakomodasi/negoasiasi budaya dan
mengubah/mengganti budaya klien.

2.5 Pengkajian Asuhan Keperawatan Budaya


Perawat dalam menjalankan tugasnya sering menghadapi klien yang memiliki latar
belakang etnik, budaya, dan agama yang berbeda. Untuk menghadapi situasi ini penting bagi
perawat untuk memahami bahwa klien memiliki pendangan dan interpretasi mengenai
penyakit dan kesehatan yang berbeda. Pandangan tersebut didasarkan pada keyakinan sosial-
budaya klien.
Perawat harus sensitif dan waspada terhadap keunikan warisan budaya dan tradisi
kesehatan klien dalam memberikan asuhan keperawatan kepada klien dari latar belakang
kebudayaan yang berbeda. Perawat harus mengkaji dan mendengarkan dengan cermat
tentang konsistensi warisan budaya klien. Pengakajian tentang budaya klien merupakan
pengkajian yang sisrematik dan komprehensif dari nilai-nilai pelayanan budaya, kepercayaan,
dan praktik individual, keluarga, komunitas. Tujuan engkajian budaya adalah untuk
mendapatkan informasi yang signifikan dari klien sehingga perawat dapat menerapkan
kesamaan budaya ( Leininger dan MC Farland, 2002).
Perawat dalam melakukan pengkajian terhadap kebudayaan klien dimulai dari
menentukan warisan kultural budaya klien, latar belakang organisasi sosial, dan keterampilan
bahasa serta menanyakan penyakit atau masalah untuk mengetahui klie mendapatkan
pengobatan rakyat secara tradisional baik secara ilmiah maupun mesogisoreligius atau kata
ramah, suci untuk mencegah dan mengatasi penyakit. Hal ini dilakukan untuk pemenuhan
komponen pengkajian budaya untuk menyediakan informasi yang bergunadalam
mengumpulkan data kebudayan klien. Model matahari terbit dari leininger menggambarkan
keberagaman budaya dalam kehidupan sehari-hari dan membantu melaksanakan pengkajiaan
budaya yang dilakukan secara komperhensif. Model ini beranggapan bahwa nilai – nilai
pelayanan budaya, kepercayan, dan masyarakat, konteks lingkungan bahasa dan riwayat etik
atau peristiwa bersejarah dari kelompok tertentu (Potter and Perry, Fundamental
Keperawatan ed 7, 187).
Tahapan pengkajian budaya dimulai dari mengetahui perubahan demografik populasi
pad lingkungan praktik komunitas yang disebut dengan data sensus. Data sensus didapatkan
dari data sensus lokal dan regional serta laporan pelayanan kesehatan. Langkah berikutnya
perawta menggunakan teknik wawancara yang terbuka, terfokus, dan kntras untuk

7
mendorong klien menceritakan nilai-ilai, kepercayaan, dan praktik dalam warisan budayanya(
Spradley, 1979). Dalam melaksanakan pengkajian budaya seorang perawt menjalin hubungan
dengan klien dan memiliki keterampilam dalam berkomuknikasi. Pengkajian budaya yang
komprehensif membutuhkan keterampilan, waktu hingga persiapan dan antisipasi sangat
diperlukan.

2.6 Beberapa Instrumen Pengkajian Budaya


Pada abad ke-21 ini,tuntutan terhadap asuhan keperawatan semakin besar, tak hanya
asuhan keperawatan yang melihat sisi medisnya saja, tetapi juga melihat dari sisi budaya. Jika
melihat dari sisi budaya, ini termasuk ilmu keperawatan yang memasuki level midle theory
range, yaitu teori transkultural nursing.
Tanskultural nursing adalah suatu daerah/wilayah keilmuan budaya pada proses
belajar dan praktek keperawatan yang fokusnya memandang perbadaan dan kesamaan
diantara budaya dengan menghargai asuhan, sehat dan sakit didasarkan pada nilai budaya
manusia, kepercayaan dan tindakan, dan ilmu ini digunakan untuk memberikan asuhan
keperawatan khususnya budaya atau keutuhan budaya kepada manusia (Leininger, 2002)
transkulturan nursing merupakan tahapan yang sama dengan proses keperawatan, antara lain
pengkajian, diagnosa, perencanaan, implementasi dan evaluasi. Pengkajian dalam
transkultural nursing memiliki instrumen atau komponen tersendiri antara lain : warisan
sejarah etnik, variasi biologis, religious, dan kepercayaan, organisasi sosial, komunikasi,
wakti, kepercayaan keperawatan dan prakteknya, serta pengalaman sebagai tenaga
proposional.
Warisan budaya dan sejarah etnik sering membawa pada nilai-nilai dan norma yang
berlaku pada suatu adat istiadat, ras klien, atau dalam hal ini dapat dikaji tentang persepsin
sehat dan sakit menurut budaya klien, keikutsertaan cara-cara budaya dalam proses
perawatan. Relijius dan kepercayaan ini dalah faktor yang sangat mempengaruhi karena
membawa motivasi tersendiri untuk menempatkan kebenaran di atas segalanya. Kajian
religious dapat meliputi agama yang dianut, sudut pandang pasien terhadap penyeban
penyakit, proses penyembuhannya serta sisi positif agama pasien yang dapat membantu
proses kesembuhanya. Variasi biologis, perbedaan biologis antara anggota kelompok kultur,
seperti struktur dan bentuk tubuh, warna kulit, variasi enzimatik dan genetik, kerentanan
terhadap penyakit, variasi nutrisi. Pengkajian organisasi sosial mengacu pada unit keluarga
dan kelompok sosial, dimana di lihat tentang keadaan soal keluarga seperti ekonomi,

8
pergaulan sosial. Sedangkan pada kelompok sosila klien dapat dilihat sejarah lingkungan dan
kondisi lingkungan.
Komunikasi adalah hal terpenting dalam pelangsanaakn proses asuhan keperawatan,
ketidak berhasilan komunikasi dapat menghambat proses diagnosis dan tindakaan serta dapat
membawa pada hasil yang trgis. Dalam hal ini perawat harus dapat melihat bahasa yang
digunakan pasien secra verbal maupun non verbal. Ruang personal menujukkan sikap klien yang
harus ditanggapi oleh perawat secara sensitive, sehingga kidatk menimbulkkan rasa ketidak
nyamanan pasien. Bukan hanya mengenai ruang personal yang harus menjadi pertimbangan
tetapi juga mengenai waktu ,orientasi waktu berbeda-deada dalam setiap ethic ada yang
memprioritaskan pada saat ini ada juga yang saat mendatang. Perbedaan orientasi waktu ini akan
membawa pada perencaan asuhan jangka panjang. Keyakinan perawtan klien juga menjadi factor
kajian, di sini perawat harus melihat bagai mana keyakinan dan praktik pengobatan tradisional
yang dipercai pasien dlam proses penyembuhannya apakah dapat membantu atau memperparah
penyakitnnya. Dan faktor kajian terakhir yang mempengaruhi adalah pengalaman profesional
perawatan itu sendiri dalam menanggapi atau dalam member asuhan keperawatan itu.

2.7 Keunggulan Bangsa Indonesia dengan Keanekaragamannya


Keunggulan Bangsa Indonesia dengan Keanekaragamannya Keragaman budaya di
Indonesia adalah sesuatu yang tidak dapat dipungkiri keberadaannya. Dalam konteks
pemahaman masyarakat majemuk, selain kebudayaan kelompok suku bangsa, masyarakat
Indonesia juga terdiri dari berbagai kebudayaan daerah. Kebudayaan daerah ini bersifat
kewilayahan yang merupakan pertemuan dari berbagai kebudayaan kelompok suku bangsa
yang ada di daerah tersebut. Pertemuan-pertemuan dengan kebudayaan luar juga
mempengaruhi proses asimilasi kebudayaan yang ada di Indonesia sehingga menambah
ragam dan jenis kebudayaan yang ada di Indonesia.

Berkembang dan meluasnya agama-agama besar di Indonesia juga turut mendukung


perkembangan kebudayaan Indonesia yang pada akhirnya memcerminkan kebudayaan agama
tertentu. Bisa dikatakan bahwa Indonesia adalah salah satu negara dengan tingkat
keanekaragaman budaya atau tingkat heterogenitasnya yang sangat tinggi. Tidak saja
keanekaragaman budaya kelompok suku bangsa namun juga keanekaragaman budaya dalam
konteks peradaban, tradisional hingga ke modern, dan kewilayahan.

Keanekaragaman kebudayaannya Indonesia dapat dikatakan suatu keunggulan jika


dibandingkan dengan negara lainnya, karena potret kebudayaannya lengkap dan bervariasi.

9
Dan yang tak kalah pentingnya, secara sosial budaya dan politik masyarakat Indonesia
mempunyai jalinan sejarah dinamika interaksi antar kebudayaan yang dirangkai sejak dulu.
Interaksi antar kebudayaan dijalin tidak hanya meliputi antar kelompok suku bangsa yang
berbeda, namun juga meliputi antar peradaban yang ada di dunia. Berlabuhnya kapal-kapal
Portugis di Banten pada abad pertengahan misalnya telah membuka diri Indonesia pada
lingkup pergaulan dunia internasional pada saat itu. Hubungan antar pedagang Gujarat dan
pesisir Jawa juga memberikan arti yang penting dalam membangun interaksi antar peradaban
yang ada di Indonesia. Singgungan-singgungan peradaban ini pada dasarnya telah
membangun daya elasitas bangsa Indonesia dalam berinteraksi dengan perbedaan. Di sisi
yang lain bangsa Indonesia juga mampu menelisik dan mengembangkan budaya lokal di
tengah-tengah singgungan antar peradaban itu.

Secara ringkas, keunggulan – keunggulan dari keaneragaman bangsa Indonesia,


antara lain :

a. Keanekaragaman kebudayaan sangat menarik dan dapat dijadikan objek pariwisata.


b. Keanekaragaman budaya daerah dapat membantu meningkatkan pengembangan
kebudayaan nasional yang berlandaskan Pancasila, sesuai Tap MPR No. II tahun
1998, yang berbunyi : Kebudayaan nasional yang berlandaskan Pancasila adalah
perwujudan cipta, karya dan karsa bangsa Indonesia dan merupakan keseluruhan daya
upaya manusia Indonesia untuk mengembangkan harkat dan martabat sebagai bangsa,
serta diarahkan untuk memberikan wawasan dan makna pada pembangunan nasional
dalam segenap bidang kehidupan bangsa
c. Tertanamnya sikap untuk saling menghormati dan menghargai antar suku yang
berbeda.
d. Indonesia memiliki bahasa daerah terbanyak didunia (ada lebih dari 746 bahasa
daerah).
e. Bangsa Indonesia memiliki keanekaragaman suku, agama dan budaya yang terdapat
dalam kehidupan masyarakatnya, dan keragaman tersebut dapat kita satukan dalam
satu kesatuan Bhineka Tunggal Ika.

2.8 Faktor Penyebab Keberagaman Budaya


Masyarakat Indonesia terdiri dari ratusan suku bangsa yang tersebardi lebih dari 13
ribu pulau. Setiap suku bangsa memiliki identitas social, politik, dan budaya yang berbeda-
beda, seperti bahasa, adat istiadat serta tradisi, sistem kepercayaan dan sebagainya. Dangan

10
idaentitas yang berbeda beda ini, kita dapat mengatakan bahwa Indonesia memiliki
kebudayaan local yang sangat beragam.

Ada beberapa faktor antara lain :

a. Keberagaman suku bangsa


b. Keberagaman bahasa dan dialek
c. Keberagaman agama
d. Keberagaman seni dan budaya
e. Faktor Pembentukan budaya
f. Faktor Perubahan budaya

2.9 Dampak dari Keanekaragaman yang Dimiliki Bangsa Indonesia

Keanekaragaman suku, budaya, ras dan agama yang yang ada pada diri bangsa
Indonesia merupakan keunggulan sekaligus tantangan. Tantangan-tantangan yang muncul
akibat keanekaraman bangsa Indonesia tersebut antara lain:

a. Konflik
Konflik adalah proses sosial disosiatif yang dapat menyebabkan perpecahan dalam
masyarakat karena ketidakselarasan dan ketidakseimbangan dalam suatu hubungan
masyarakat. Berdasarkan tingkatannya konflik dapat dibagi menjadi konflik horisontal dan
vertikal.
1) Konflik Horisontal
Konflik horisontal adalah konflik yang terjadi diantara kelompok-kelompok sosial
yang sifatnya sederajat. Konflik sosial horisontal dapat berupa konflik antar suku,
antar ras, agama, maupun konflik antar golongan.
 Konflik antar suku
Konflik antar suku pada umumnya disebabkan oleh primordialisme yang
berkembang menjadi etnosentrisme. Contoh : konflik antara suku Dayak dan
suku Madura yang terjadi di Sampit, konflik antara suku-suku kecil di Papua.
 Konflik antar ras
Konflik antar ras pada umumnya disebabkan oleh primordialisme yang
berkembang menjadi stereotipe. Contoh : Kekerasan terhadap etnis Tionghoa
pada Mei 1998, termasuk pemerkosaan dan pembunuhan terhadap lebih dari
100 wanita etnis Tionghoa.

11
 Konflik agama
Konflik masalah agama pada umumnya disebabkan oleh primordialisme yang
berkembang menjadi fanatisme. Konflik agama dapat berupa konflik internal
umat beragama misalnya konflik antar golongan pemeluk Islam murni dengan
golongan Ahmadiyah, maupun konflik antar umat beragama (konflik
eksternal) misalnya konflik masyarakat Ambon pemeluk Islam dengan
masyarakat Ambon pemeluk Kristen.
 Konflik antar golongan
Konflik antar golongan pada umumnya disebabkan oleh semangat in group
yang kuat sehingga dengan kelompok out group akan menimbulkan antipati.
Contoh : Peristiwa Kudatuli, dimana ada konflik antar pendukung Partai PDI
versi Megawati Soekarno putrid dan pendukung Partai PDI versi lainnya.
2) Konflik Vertikal Konflik
vertikal adalah konflik yang terjadi diantara lapisan-lapisan di dalam masyarakat.
Contoh konflik vertikal :
 Konflik antar kelas atas dengan kelas bawah, konflik antar kelas atas dengan
kelas bawah dapat berupa konflik kolektif dan individual. Konflik kolektif
misalnya konflik antara buruh dengan pimpinan perusahaan untuk menuntut
kenaikan gaji. Konflik individual misalnya konflik antara pembantu dengan
majikan yang berakibat pada kekerasan.
 Konflik antara pemerintah pusat dengan daerah, misalnya pemberontakan dan
gerakan seporadis seperti OPM, GAM, dll. Selain itu konflik vertikal bisa
diterjemahkan sebagai konflik antar pihak yang berkuasa dan penentangnya,
misalnya kasus penculikan aktivis ’98 , yang merupakan kasus pelanggaran
HAM tidak pernah selesai sampai saa tini.
 Konflik antara orang tua dan anak, konflik antara orang tua dan anak akan
menimbulkan hambatan dalam sosialisasi nilai dan norma dan terkadang
menimbulkan kenakalan remaja.
b. Integrasi Karena Keterpaksaan (Coersif)
Integrasi karena keterpaksaan terjadi karena suatu ketergantungan dan mau
tidak mau antar lapisan masyarakat harus saling berhubungan untuk memenuhi
kebutuhan. Namun dalam integrasi yang terjadi karena paksaan biasanya ada upaya
antar kelompok untuk mendominasi satu sama lain. Indonesia merupakan negara

12
multikultural yang terdiri dari bermacam-macam etnis, ras, agama, dan suku bangsa
yang masing-masing membawa bendera primordialismenya masing-masing. Apabila
masing-masing kelompok tidak bisa saling menghargai dan mengurangi
etnosentrisme, stereotype, dan fanatisme maka akan menimbulkan konflik SARA.
Integrasi karena keterpaksaan dilihat dari segi historis juga dapat dicontohkan pada
masa feodal. Dimana antara golongan pemerintah kolonial, golongan Asia Timur,
golongan kerabat kerajaan, dan bumiputera hidup dalam satu wilayah namun tidak
dapat membaur. Terdapat batas-batas yang tegas dan adanya upaya dari pemerintah
kolonial untuk terus menerus mendominasi dan menjajah. Contoh lain integrasi
karena keterpaksaan (coersif) dalam kehidupan sehari-hari terjadi pada saat
demonstrasi atau unjuk rasa yang ricuh, kemudian polisi akan memberikan peringatan
dengan gas air mata dengan tujuan mengatur para demonstran untuk menyampaikan
aspirasi secara tertib dan sesuai hukum.
c. Disintegrasi
Disintegrasi adalah suatu keadaan dimana tidak ada keserasian pada bagian-bagian
dari suatu kesatuan masyarakat. Disintegrasi atau kesenjangan merupakan akibat dari
adanya pembangunan dimana kelas atas menguasai pembangunan yang berperan
sebagai subjek sekaligus objek pembangunan, namun disisi lain kelas tengah dan
bawah hanya berperan sebagai objek pembangunan. Akibatnya kelas tengah dan
bawah akan mengalamai eksploitasi dan diskriminasi di bidang sosial, ekonomi, dan
politik. Kesenjangan inilah yang akan mempengaruhi pola hidup dan pola hubungan
antar kelompok.

2.10 Peran Masyarakat dalam Menjaga Keragaman Budaya

Peran masyarakat dalam menjaga keragaman dan keselaran budaya antara lain sebagai
berikut:
 Mengembangkan sikap saling menghargai terhadap nilai-nilai dan norma sosial yang
berbeda-beda dari anggota masyarakat, tidak mementingkan kelompok, ras, etnik atau
kelompok agamanya.
 Meninggalkan sikap primodialisme terutama yang menjurus pada sikap etnosentrisme
dan ekstrimisme(berlebih-lebihan)

13
 Menegakan supremasi hukun yang artinya sutau peraturan formal harus berlaku pada
semua warga negara tanpa memandang kedudukan sosial, ras, etnik dan agama yang
mereka anut.
 Mengembangkan rasa nasionalisme terutama melalui penghayatan wawasan
berbangsa dan bernegara namun menghindari sikap chauvimisme yang akan
mengarah pada sikap ekstrim dan menutup diri akan perbedaan yang ada dalam
masyarakat.
 Menyelesaikan semua konflik dengan cara yang akomodatif melalui mediasi,
kompromi dan ajudikasi.
 Mengembangkan kesadaran sosial. Contoh kongkritnya adalah di Bali sedang
digalakkannya program Ajeg Bali guna mempertahankan kebudayaan di dalam
kehidupan masyarakat Bali yang makin lama terlihat makin memudar karena

14
BAB III

PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Dengan keanekaragaman kebudayaannya Indonesia dapat dikatakan mempunyai
keunggulan dibandingkan dengan negara lainnya, karena Indonesia mempunyai potret
kebudayaan yang lengkap dan bervariasi. Kebhinnekaan telah menjadi kekayaan khusus bagi
bangsa Indonesia yang amat menarik, bagi bangsa Indonesia sendiri ataupun bagi bangsa-
bangsa lain yang dapat dapat menambah devisa melalui kunjungan wisata atau kunjungan
lainnya. Keanekaragaman suku, budaya, ras dan agama yang yang ada pada diri bangsa
Indonesia merupakan keunggulan sekaligus tantangan. Tantangan-tantangan yang muncul
akibat keanekaraman bangsa Indonesia tersebut antara lain terjadinya konflik, integrasi
karena keterpaksaan dan disintegrasi. Untuk menghadapi tantangan sebagai dampak
keanekaragaman yang dimiliki bangsa Indonesia, dapat dilakukan dengan upaya reintegrasi
dan menanamkan nilai-nilai pancasila yang merupakan ideologi yang menjadi dasar hidup
kenegaraan.

4.2 Saran
Perbedaan merupakan keniscayaan yang mesti dan harus diterima oleh semua orang
dalam kehidupannya. Fakta menunjukkan bahwa manusia memang makhluk unik dan khas.
Keunikan dan kekhasan ini dalam konteks bernegara, berbangsa, dan bermasyarakat akan
menimbulkan keragaman tatanan sosial dan kebudayaan. Keragaman ini yang ditunjukkan
oleh Indonesia antara lain terdiri atas beragam etnis, agama, dan bahasa. Keragaman ini perlu
dikelola secara serius dan sungguh-sungguh dalam suatu bentuk tatanan nilai yang
dapatdibagi bersama. Oleh karena itu, keanekaragaman yang ada dalam masyarakat Indonesia
sungguh merupakan tantangan yang menuntut upaya sungguh-sungguh dalam bentuk
transformasi kesadaran multikultural. Suatu kesadaran yang diarahkan kepada identitas
nasional, integrasi nasional, dan kesadaran menempatkan agama untuk kesatuan bangsa.
Dengan demikian, kesatuan Indonesia dapat ditegakkan sejalan dengan semangat
kebersamaan yang terkandung dalam semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”.

15